Semangkuk – Nurbait

Lagi suka banget sama lagu satu ini. Liriknya sih gue ga relate yah, tapi bagian

Tenang aku hanya ingat /
Sekedar rindu sejenak /
Bukan kamu peran utamanya

bikin “Nah, gitu dong!” hahaha..

Anyway, yang bikin gue suka sama lagu ini adalah vibesnya. Dengernya tuh kayak lagi nyanyi di tongkrongan bangor-tapi-pinter. Bisa jadi efek dari personality (atau persona?) Dzawin. Tapi sebagai orang yang pernah merasa nyaman berada di tongkrongan seperti itu, lagu ini jadi punya nilai lebih buat gue. YTTA :)

Accidents Happen Now and Again

Bagi yang punya anak dengan ketertarikan pada kereta Thomas pasti akan menyanyikan judul di atas. Lagu Thomas and Friends yang satu ini memorable banget buat gue karena jadi reminder untuk stay calm ketika anak melakukan hal-hal ajaib.

Pernah keluarga besar lagi makan di suatu restoran. Anak gue yang usianya sekitar 4 tahun waktu itu ga sengaja menumpahkan segelas penuh es teh manis yang belum lama diantarkan pramusaji ke meja kami. Ambyar lah itu teh dan es-esnya ke penjuru meja. Gue lalu nyanyiin lagu Thomas ini,

“Accidents happen now and again, sometimes just by chance
You gotta pick yourself up and dust yourself down
Put it down to experience
Accidents happen now and again
Just don’t take it all to heart
If you don’t concentrate on the thing that you’re doing
Accidents will happen, just like that!”

Nyanyinya sih terlihat seperti buat anak gue yah, tapi sebetulnya lebih untuk menenangkan hati emaknya. Anak gue ikut nyanyi, terus gue minta dia untuk panggil pramusaji supaya mejanya bisa dibersihkan. Setelah itu anak gue minta maaf sama pramusajinya karena sudah menumpahkan minuman. Gue bilang mau pesan lagi 1 es teh manis, tapi kata pramusajinya, “ga apa-apa nanti kami ganti yang baru.” Wah, rejeki anak sholeh..

Step berikutnya ya normal aja nanya ke anak gue apa yang barusan terjadi, apa dampaknya, dan apa yang harus dilakukan lain kali. Anak gue bukan toddler lagi, jadi sudah paham.

Waktu itu, yang paling mengejutkan adalah respon dari kakak ipar gue.  Dia cuma bilang ke gue “I like how calm you handled it” yang kemudian ditanggapi nyokap dengan, “Yes, she’s very calm and patient. If it was me, I would already yell at him (anak gue).” Such a boomer, no? hehe..

Anyways, ternyata apresiasi langsung seperti yang dilakukan kakak ipar gue dan nyokap tadi (di depan keluarga besar) sangat bermakna buat gue as a mom.

Orang kadang fokus pada kelakuan sang anak dan mengabaikan “perjuangan” orang tuanya. Next time kita lihat ada orang tua yang melakukan hal baik untuk meregulasi emosi dirinya, jangan lupa apresiasi!

Untuk memperjelas konteks: Kakak ipar gue bukan orang Indonesia, tidak tinggal di Indonesia, dan hanya bertemu keluarga besar dalam mode liburan. Ponakan gue laki-laki dan saat kejadian ini usianya 1,5 tahun. Accident dia “hanya” menyelupkan tangan kanan ke mangkok penuh sambal. Ga ada teriakan maupun amarah, kakak gue ajak si anak ke tempat cuci tangan.

I’m Home

Ini judulnya kembali ke cinta pertama. Kembali ke Oom Takuya Kimura di dorama. Dan Nino deh. Ini tuh tadinya draft tahun 2015 pas selesai nonton dorama I’m Home nya si Oom. Dan sekarang diposting karena apa? karena di Netflix ada Good Luck!! dong.. dan Black Pean, dan Le Grande Masion Tokyo, dan Ryusei no Kizuna, dan Vivant. Setelah sebelumnya I’m Home juga tayang. Lalu di primevideo juga ada Tang and Me serta The Legend and Butterfly. Ciamik. Semoga semakin banyak menyusul dorama-dorama dan J-movie lain di 2 platform ini. Senang sekali akhirnya bisa nonton mereka di platform yang halal, hehe.

Alhamdulillah yah sekarang saya udah punya waktu lebih untuk menggeluti hobi. Mari kembali mengarungi perdoramaan dan perfilman Jepang karena Arashi hiatus kagak muncul-muncul hilalnya, Janis juga udah ga tau lagi persebarannya. Untung si Oom dan Nino tetep guanteng acting dan doramanya. Sukak. Pak Guru pun mulai teracuni dikit-dikit. Memang pesona si Oom dan Nino belum tertandingi. Jangan pensiun dulu ya..

Sekian dan sampai bertemu di postingan jejepangan lain.

2nd Born

Permisi, permisi.. Setelah lama dianggurin, akhirnya blog ini ada urgensi untuk diupdate sebagai postingan pengingat. Bukanlah kejadian lain selama ini ga penting untuk diabadikan dalam sebuah postingan, tapi lebih ke prioritas mikir dan ngetik dipakai buat yang lain (kerjaan) haha.. Sekarang karena lagi cuti dan saya gabut nunggu pesanan makanan datang, mari menulis saja.

Jadi di Hari Guru tahun ini alhamdulillah keluarga kecil kami dapat member baru. Dengan tempat, metode, dokter dan alur yang kurang lebih sama seperti si anak pertama, si adik lahir dengan selamat. Karena ini bukan pengalaman pertama, di satu sisi saya lebih tegang karena tau what to expect (doh habis ini diginiin, sakitnya bakal begini lalalala…). Di sisi lain saya dan suami lebih santai karena tau apa yang harus dilakukan.

Saya SC eracs yang diklaim pemulihannya akan lebih cepat. Nambah dikit biayanya ga apa dah. Karena memang rujukan faskes 1, biaya SC rawat obat dll full ditanggung BPJS. Cuma yang obat eracs aja ditanggung pribadi. Total sampai saya dan bayi keluar RS habis sekitar 2,7jt.

Eracs ini bener amazing dah efeknya. Habis dipindah ke ruang rawat inap, bener loh saya bisa dengan lancar latihan miring kanan kiri. Sampai sekitar 6 jam setelahnya udah bisa duduk tanpa sakit walau masih keleyengan. Operasi pagi, malamnya saya udah bisa berdiri dan jalan ke kamar mandi. Duh padahal dulu buat latihan berdiri aja rasanya Masya Alloh. Tetap sakit senut-senut sih, tetep sakit mah tetep, tapi ga separah dulu. Bahkan saya latihan berdiri dan jalan pun sambil bobodoran sama suami, sementara di bed sebelah kayaknya bingung ini pasangan macam apa istri habis lahiran kok malah ngelawak :))

Oh tapi boy, dibalik nyamannya eracs ini, ada satu hal yang ga saya expect. Obatnya sakit banget, Gusti… Selama sebelum dan 24 jam pasca SC, untuk eracs ini ada obat yang dimasukkin via saluran infus. Jadi masuk langsung ke pembuluh darah kan, rasanya mantap… Obatnya disuntik setiap 4 atau 6 jam sekali entah. Di saya efek setiap suntikan bisa kerasa selama setengah jam. Mana sempat bengkak pula itu, jadilah tangan kanan kiri ditusuk. Makin mantap. Suami? Saya cengkram ajah biar ga kabur haha…

Selain itu, yang beda dari si anak pertama adalah 1 hari di ruang rawat sebelum room in dengan si bayi. Waktu anak pertama ga sabar banget pengen si bayi buru-buru dibawa ke kamar. Kalau yang kedua ini saya dan suami memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum si bayi datang. And I’m glad we did that.

Long story short. Kami sudah beremepat. Tantangan setiap anak tentu berbeda. Kalau si kakak lancar jaya mengAsihinya sejak hari pertama, si adik ini lumayan struggling baik emak maupun anaknya. Kalau anak pertama full perhatian semua ke bayi, sekarang kami berusaha seimbang antara si adik dan si kakak. Itulah kenapa anak kedua ini saya enggan woro-woro atau apalah. Seminggu pertama pun menolak untuk dikunjungi atau dibantu ini itu. Karena kami berempat perlu waktu sendiri. Perlu sama-sama menyesuaikan diri dan kehadiran orang lain malah akan jadi distraksi.

Alhamdulillah.. mari sama-sama jalani peran baru ini dan mari tetap excited dengan apa yang akan terjadi. Sehat-sehat yuk semua!

Intim.

Kirain Ramadan tahun lalu udah yang paling beda. Ternyata yang tahun ini lebih luar biasa. Alhamdulillah, lebih intim.

Semoga keheningan dan keintiman Ramadan ini menjadi bekal untuk terbiasa merendahkan hati dan mengendalikan emosi. Menjaga kebersihan lahir dan batin. Mempersiapkan kehidupan normal yang baru. Kehidupan yang tidak hanya harus dihadapi, tapi dapat dijalani dan dinikmati.

Bismillah. Kirim doa untuk para pejuang di masa pandemi. Kita semua.

Selamat Idul Fitri 1441 H.

Jalan Lain

Tidak mau posting terkait pandemi saat ini, sebetulnya. Takut terlalu emosional. Tapi sungguh untuk yang satu ini rasanya perlu untuk dibuat catatan, terutama untuk diri sendiri. Betapa saya merindu media (termasuk media sosial) yang mencari jalan lain yang “halal” dan mengolahnya jadi sebuah informasi bermakna. Bukan dengan permainan kata-kata.

Image

Image Image


Data pemakaman, seperti juga cerita rekan yang dapat bocoran bahwa sejak Februari lalu laporan kasus Pneumonia melonjak tajam di data BPJS Kesehatan, apa pernah terlintas di pikiran para jurnalis atau netizen yang terhormat? Atuhlah.. jangan kritik nyinyir doang yang diasah. Ketika tidak puas dengan apa yang tersedia, ketika merasa ada yang harus diketahui orang banyak dari apa yang disembunyikan. Pakai pendekatan, cari jalan lain yang halal.

Stayhome. Stayalert. Staycalm.
Sumpah susah.. Sabar. Sabar.

Artikel bisa diakses di sini

2020

Mengawali tahun dengan meler, skip sana-sini, perang dingin, dan panik.

Tapi juga dengan happy, bonding, kuatkan diri, dan cinta tulus tak tertandingi.

Banyak yang tidak terlaksana di 2019.

Semoga bisa dilakukan di 2020.

Selamat mengisi tahun yang baru!

涙そうそう

Membatasi diri dari sosial media selama beberapa bulan terkahir ini ternyata bikin penasaran juga. Tapi, pas buka twitter keblinger, buka facebook “huh?”, buka instagram “yaelah”. Sesungguhnya hanya IG yang rutin gue akses buat hiburan dan cari info, tapi entah gara-gara apa dan siapa isi tab explore jadi banyak postingan super ga penting, sebal. Jadi tadi berakhir di youtube demi fangirling setitik. Lalu sampailah ke video ini

Kok kayak familiar ya.. Oh, ternyata dari salah satu film Jepang yang beberapa scenenya cukup berbekas. Gara-gara film ini gue dulu jadi cari tau tentang Tsumabuki Satoshi dan maraton film-filmnya. Jauh sebelum akang-akang pelangi menyerang.

Balik lagi ke video tadi, baca komennya, dan ternyata mereka suami-istri. WOW!

Udah, cukup segitu aja.