Permisi, permisi.. Setelah lama dianggurin, akhirnya blog ini ada urgensi untuk diupdate sebagai postingan pengingat. Bukanlah kejadian lain selama ini ga penting untuk diabadikan dalam sebuah postingan, tapi lebih ke prioritas mikir dan ngetik dipakai buat yang lain (kerjaan) haha.. Sekarang karena lagi cuti dan saya gabut nunggu pesanan makanan datang, mari menulis saja.
Jadi di Hari Guru tahun ini alhamdulillah keluarga kecil kami dapat member baru. Dengan tempat, metode, dokter dan alur yang kurang lebih sama seperti si anak pertama, si adik lahir dengan selamat. Karena ini bukan pengalaman pertama, di satu sisi saya lebih tegang karena tau what to expect (doh habis ini diginiin, sakitnya bakal begini lalalala…). Di sisi lain saya dan suami lebih santai karena tau apa yang harus dilakukan.
Saya SC eracs yang diklaim pemulihannya akan lebih cepat. Nambah dikit biayanya ga apa dah. Karena memang rujukan faskes 1, biaya SC rawat obat dll full ditanggung BPJS. Cuma yang obat eracs aja ditanggung pribadi. Total sampai saya dan bayi keluar RS habis sekitar 2,7jt.
Eracs ini bener amazing dah efeknya. Habis dipindah ke ruang rawat inap, bener loh saya bisa dengan lancar latihan miring kanan kiri. Sampai sekitar 6 jam setelahnya udah bisa duduk tanpa sakit walau masih keleyengan. Operasi pagi, malamnya saya udah bisa berdiri dan jalan ke kamar mandi. Duh padahal dulu buat latihan berdiri aja rasanya Masya Alloh. Tetap sakit senut-senut sih, tetep sakit mah tetep, tapi ga separah dulu. Bahkan saya latihan berdiri dan jalan pun sambil bobodoran sama suami, sementara di bed sebelah kayaknya bingung ini pasangan macam apa istri habis lahiran kok malah ngelawak :))
Oh tapi boy, dibalik nyamannya eracs ini, ada satu hal yang ga saya expect. Obatnya sakit banget, Gusti… Selama sebelum dan 24 jam pasca SC, untuk eracs ini ada obat yang dimasukkin via saluran infus. Jadi masuk langsung ke pembuluh darah kan, rasanya mantap… Obatnya disuntik setiap 4 atau 6 jam sekali entah. Di saya efek setiap suntikan bisa kerasa selama setengah jam. Mana sempat bengkak pula itu, jadilah tangan kanan kiri ditusuk. Makin mantap. Suami? Saya cengkram ajah biar ga kabur haha…
Selain itu, yang beda dari si anak pertama adalah 1 hari di ruang rawat sebelum room in dengan si bayi. Waktu anak pertama ga sabar banget pengen si bayi buru-buru dibawa ke kamar. Kalau yang kedua ini saya dan suami memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum si bayi datang. And I’m glad we did that.
Long story short. Kami sudah beremepat. Tantangan setiap anak tentu berbeda. Kalau si kakak lancar jaya mengAsihinya sejak hari pertama, si adik ini lumayan struggling baik emak maupun anaknya. Kalau anak pertama full perhatian semua ke bayi, sekarang kami berusaha seimbang antara si adik dan si kakak. Itulah kenapa anak kedua ini saya enggan woro-woro atau apalah. Seminggu pertama pun menolak untuk dikunjungi atau dibantu ini itu. Karena kami berempat perlu waktu sendiri. Perlu sama-sama menyesuaikan diri dan kehadiran orang lain malah akan jadi distraksi.
Alhamdulillah.. mari sama-sama jalani peran baru ini dan mari tetap excited dengan apa yang akan terjadi. Sehat-sehat yuk semua!