Penyuka Hujan

Saya “Penyuka Hujan”.

Entah kenapa, tetapi sederas apapun hujan, saya tetap menyukainya. Bahkan, ketika ditemani oleh petir dan geledeg sekalipun, tetap saja saya menyukainya.

Penyuka Hujan
Jalan Wahid Hasyim Depan Morrysey, 04 Desember 2025

Begitu sukanya, bahkan ketika hujan mengakibatkan banjir di rumah, walau ada bete karena harus membersihkan rumah, saya suka sekali berkecipak kecipuk di genangan air.

Saya gemar nongkrong di teras dan memandangi air yang turun dari langit.

Hujan bagi saya tidak pernah gagal membawa suasana teduh, nyaman, dan menenangkan. Suara rintik di gentengnya pun, sering menjadi alunan yang membuat saya merasa damai.

Hari ini pun, hujan deras turun saat saya sedang berangkat ke stasiun dan terpaksa repot di tengah jalan harus memakai jas hujan, saya tidak bisa membencinya. Padahal, pakaian jadi agak basah.

Tetap saja, saya menikmati ketika hujan menerpa muka dan membasahi diri.

Mungkin karena itulah, saya begitu menyukai drakor Hospital Playlist. Selain karena alurnya berupa slice of life yang terkesan datar, juga karena 2 orang tokohnya, Chae Song Hwa dan Lee Ik Jun memiliki hobi yang sama, yaitu memandang hujan.

Mereka juga penyuka hujan dan banyak adegan yang menggambarkan hal itu.

Saya merasa tambah relate karena memiliki hobi yang sama, memandang hujan.

Terkesan bodoh karena bagi banyak orang, hujan merepotkan. Memang sih tidak salah karena saya juga mengalami berbagai kerepotan yang sama ketika air berlimpah atau turun di saat saya hendak berangkat atau pulang kerja.

Namun, tetap saja saya tidak bisa membencinya atau memaki kedatangannya.

Karena, saya adalah penyuka hujan dan akan tersenyum ketika hujan turun.

Jakarta, 29 Januari 2026

Rel Yang Benar

Seorang kawan karib, setidaknya begitulah pandangan saya, mengatakan malam ini, bahwa saya sebagai orangtua sudah bisa tenang.

Ia merujuk pada situasi si Kribo, Arya, yang setelah lepas kuliah memilih untuk berbisnis dan bukan mencari kerja kantoran.

Kawan tersebut melihat bahwa usaha yang sedang digeluti si Kribo dan beberapa kawannya itu menunjukkan perkembangan yang pesat.

Meskipun secara materi belum menghasilkan sesuatu yang luar biasa, ia memandang bahwa si bocah yang dulu selalu nemplok di punggung, sudah berada di “rel” yang benar.

Memang kebetulan si Kribo badung ini, memutuskan dengan lantang, saat ia selesai kuliah untuk tidak mau melamar pekerjaan. Ia ingin berdiri sendiri dan berwirausaha. Jadi, perkembangan usaha yang dijalankannya, dipandang oleh kawan tersebut sudah sesuai jalur yang dikehendakinya.

Sudah Di Rel Yang Benar
Foto lupa dimana dan kapannya. Cuma kayaknya di tahun 2024

Terselip rasa senang mendapatkan pengakuan, validasi dari kawan yang juga memiliki usaha sendiri itu.

Dalam hati saya pun, tidak terhindarkan ada “rasa” yang sama bahwa dengan situasi sekarang, si Kribo memang sudah berada di jalur yang tepat.

Namun, tetap saja, di dalam hati ini ada juga rasa ragu dan khawatir. Cemas.

Bagaimanapun, sebagai seorang yang sudah hidup berpuluh tahun, saya tahu sekali bahwa dunia nyata itu keras dan penuh dengan hambatan.

Saya tahu bahwa si Kribo akan tetap berada di jalan yang berliku dan penuh hambatan. Dan, oleh karenanya, rasa cemas itu tidak bisa 100% pergi dari hati.

Tetapi, saya sadar saya harus bisa mengatasi rasa itu.

Semua itu karena saya tahu, rasa itu hadir karena saya sudah menjadi orangtua dan orangtua memiliki kebiasaan untuk selalu mengkhawatirkan anaknya.

Saya tidak boleh menghambat si Kribo hanya karena kekhawatiran dan harus percaya bahwa ia akan bisa mengatasi tantangan dan hambatan di jalannya.

Bogor, 21.20 (Saat si Yayang sudah di peraduan dan anak-anak LB Digital belum kembali dari bertugas)

Tiada Pertemuan Tanpa Perpisahan

Pepatah mengatakan “Tidak ada pesta yang tidak berakhir”.

Segala sesuatu pasti ada akhirnya karena pepatah ini mencerminkan kodrat manusia yang fana.

Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Tiada Pertemuan Tanpa Perpisahan
Reuni Smansa Bogor Angkatan 89 – 6 Desember 2024

Saya tidak menyangkal kebenaran dan kemutlakan yang ada di dalam pepatah itu. Namun, tetap saja saya tidak menyukainya.

Perpisahan, terutama dengan orang-orang yang dikenal dan berhubungan baik dengan kita, apalagi yang dekat, akan selalu menyisakan rasa “tidak nyaman” di hati.

Begitulah rasa yang ada ketika 2 orang, 1 dari LB Digital, dan 1 dari Tanabumbu, yang notabene “anak didik” saya mengatakan resign, kemarin dan hari ini.

Pepatah itu terngiang lagi, tetapi tetap saja saya tidak bisa menghindari rasa tidak nyaman di hati.

Karena, saya sadari juga hal ini, saya tetaplah manusia.

Jakarta, 27 Januari 2026.

Terlalu Banyak Pilihan : Membingungkan

Fotografi bisa dipergunakan untuk berbagai hal. Bisa untuk menampilkan keindahan, bisa menampilkan cerita, bisa untuk merekam peristiwa, dan banyak hal lainnya.

Ada begitu banyak pilihan yang bisa diambil seseorang.

Terlalu Banyak pilihan
Stasiun Cilebut, Bogor, 24 September 2025

Bagi banyak orang, banyaknya pilihan menjadi sebuah berkah, tetapi bagi saya, seorang fotografer amatir, adanya begitu banyak pilihan itu menyusahkan dan membingungkan.

Terkadang, saya bingung harus menampilkan yang mana. Apakah keindahan yang harus dimasukkan dalam frame? Atau cerita? Atau emosi? dan berbagai atau lainnya.

Banyaknya pilihan menjadi sebuah jebakan tersendiri dan menghadirkan masalah yang seringnya berujung pada kompromi, yaitu berusaha tetap menampilkan keindahan dalam sebuah dokumentasi, dan dibumbui dengan sebuah kisah.

Sayangnya, kompromi seperti itu terkadang tidak memberikan hasil yang diharapkan. Mereka yang melihat foto seperti menangkap kebingungan si pemotret, sehingga mereka ikut terjebak dalam pilihan yang ada,.

Butuh cukup lama, sampai saya menyadari bahwa fotografi, sama dengan hidup, adalah tentang membuat pilihan. Yang manapun yang diambil, ada kelebihan dan kekurangannya, ada bagus dan jeleknya.

Dan, saya memilih untuk memotret saja yang saya suka tanpa harus memikirkan keindahan atau cerita atau emosi, atau yang lainnya.

Karena dengan begitu, saya menjadi bebas beban dan mendapatkan hasil berupa rasa senang dan bahagia kalau fotonya bagus (setidaknya menurut saya). Tidak peduli yang dikatakan orang lain.

Met Tahun Baru Ya! Maaf Telat!

Udah basi sih sebenarnya, tetapi tak apalah. “Met Tahun Baru, Yah!”

Harap dimaklum karena meskipun di akhir tahun 2025 yang lalu, saya mendapatkan libur selama 12 hari, tepatnya, dimulai tanggal 24 Desember 2025 sampai 4 Januari 2026, tetap saja saya tidak bisa “libur”.

Hanya 1-2 hari saja saya benar-benar bisa istirahat di rumah.

Selebihnya, saya masih harus membantu si Kribo untuk mengurus cafe Tanabumbu Coffee & Kitchen.

Hasilnya, libur yang tidak terasa seperti musim liburan. Bedanya hanya dari jenis pekerjaan yang dikerjakan saja.

Image
Labuan Bajo Mei 2025

Sebagai akibatnya adalah blog ini pun terabaikan sejenak karena perhatian yang tersita.

Jadi, meskipun sudah hampir 9 hari lewat, daripada tidak sama sekali, saya ingin mengatakan “Met Tahun Baru”. Itu saja.

Sekaligus pertanda, saya akan mulai kembali lagi ke dunia blog. Tahun ini, saya memang sudah meniatkan hati untuk full aktif sebagai blogger lagi.

Toh juga ternak blog saya semakin sedikit. Juga, si Kribo dan kawan-kawannya sudah semakin mahir mengurus bisnis mereka. Saya pikir sudah saatnya sedikit demi sedikit melepas mereka.

Dengan begitu, saya akan kembali punya waktu untuk diri sendiri, dan menjadi blogger kembali.

Mudah-mudahan saja bisa terealisasi, walau agak terlambat dari schedule yang ditetapkan.

Satu Lagi, RIP Kawan Lamaku

Terus terang, saya tidak tahu harus bertindak bagaimana ketika menerima kabar, seorang kawan lama, teman semasa SMA dulu berpulang ke Rahmatullah kemarin.

Saat menerima kabar via Whatsapp, saya hanya bisa mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Itu saja.

Image
Penumpang Commuter Line di peron stasiun Gondangdia 26 Nopember 2025

Tidak bisa lebih dari itu.

Kami sudah lama tidak bertemu. Bahkan, saya tidak begitu ingat apakah dia hadir pada acara Reuni 35 tahun Angkatan 89 SMA Negeri 1 Bogor, 7 Desember 2024 yang lalu.

Mungkin karena sudah terlalu lama berpisah, “ikatan” kami sebagai kawan sudah memudar, sehingga saya tidak merasakan banyak hal. Jadi, hanya kalimat doa singkat itu saja yang tercetus dan terucap.

Saya juga tidak mau terlalu terlibat dalam percakapan tentang kepergian kawan tersebut di grup WA alumni kelas yang penuh dengan berbagai ucapan doa. Bagi saya, doa tidak perlu diucapkan di sebuah grup wa dan tidak perlu orang lain tahu bahwa saya berdoa.

Hanya satu hal lagi yang muncul di kepala. Selalu begitu setiap mendengar ada kawan lama wafat.

Satu lagi “pergi”.

RIP Kawan Lamaku! Selamat beristirahat dan semoga amal ibadahmu diterima oleh NYA. Juga semoga segala dosamu diampuni.