Beberapa kali di blog ini saya cerita kalo saya adalahย anak ke-10 dari 11 bersaudara dari SATU IBU dan… anak ke-15 dari 16 bersaudara dari SATU AYAH. Yup! Ibu saya mengandung dan melahirkan 11 (SEBELAS) anak. Punya saudara banyak, enak dong. Minimal kalo lebaran rameeee banget macem kumpul di kelurahan, trus kalo ada masalah kita enak lah ya, bisa gotong royongย menyelesaikan. Abaikan dulu drama-drama yang terjadi. Apa kerennya keluarga, kalo tak ada drama, kan? Hahaha. Cuma, salah satu nggak enaknya bersaudara banyak -selain jatah makanan dan baju sangat minimal- ๐ adalah kurangnya waktu saya untuk bermanja-manja dengan Ibu. Apalagi sejak Bapak meninggal di tahun 1983 (saat saya masih berumur 4 tahun dan adik saya baru 7 bulan), beliau harus banting tulang menjadi single parent hingga praktis tak banyak sisa waktu beliau untuk saya.
Saya nyaris tak pernah merasakan nikmatnya dimandiin, dipakein baju, disuapin, ditemenin belajar atau diajak main oleh Ibu, saking sibuknya beliau saat saya kecil dulu. Dan bukan, saya bukan mau menyalahkan ibu, kok. Hormat dan salut saya nggak akan pernah habis untuk beliau yang puluhan tahun berjuang membesarkan 16 anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun. Iya, tanpa bantuan siapapun. Nggak ada pembantu di rumah kami. Mungkin karena Ibu tak punya uang untuk menggaji seorang pembantu. Semua beliau kerjakan sendiri. Wow! Bisa? Ternyata bisa. Mana tuh, em(b)ak-em(b)ak yang suka merepet repotnya ngurus tiga anak (doang?) itu, hah? *tunjuk muka sendiri* ๐ Bertahan hidup secara ekonomi dengan bermodalkan kepandaian untuk menjual padi, hasil kebun, dan… tanah warisan Bapak doang ya, Bu!ย ๐ Jadi, meskipun bisa dibilang saya ini dibesarkan oleh kakak-kakak saya, tapi saya tak pernah lupa, siapa ibu saya.ย Tetiba inget sama neng Jihan yang sejak kecil diasuh oleh ART karena ibunya bekerja, tapi tak pernah sedikitpun dia lupa kepada siapa dia harus memanggil ”mama”—> meletin lidah ke orang yang nyinyir pada ibu bekerja
Cuma ya, kalo saja boleh memilih, TENTU SAJA saya akan memilih untuk memiliki (lebih) sedikit sodara, atau bahkan jadi anak tunggal, supaya waktu Ibu lebih banyak untuk saya. SENDIRI. SEMUAAAA waktu yang beliau punya itu. Egois? Tidak. Itu buah pikiran seorang kanak-kanak yang iri liat betapa enak hidup teman-temannya yang kalo makan disuapin ibu, mandi dan pake baju ditemani Ibu, mengerjakan PR dibantu Ibu, dan hal remeh temeh lain dilakukan bersama Ibu. Tetapi, saat itu, saya -dan Ibu- memang tak punya pilihan lain. Situasi-kondisi memaksa kami harus hidup dalam segala keterbatasan. Seandainya saja ada pilihan yang lain…
Saya, nggak pernah sekalipun mendengar Ibu mengeluh tentang beratnya hidup yang beliau jalani sejak bapak meninggal dunia. Saya bahkan tak ingat sama sekali, kapan terakhir kali saya melihat beliau marah, atau ngomelin anak-anaknya yang jumlahnya lebih dari cukup untuk bikin kesebelasan sepak bola itu. Samar-samar, saya hanya ingat beliau sesekali menangis di malam hari selesai sholat tahajud. Dan biasanya, isak tangis-nya akan terdengar lebih lama di malam takbiran Idul Fitri atau Idul Adha.ย Ah, cuma mengetik ini saja tetiba mata saya basah. ๐ฆ

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan kepada perempuan berusia 70 tahun di samping saya inilah, saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran…
Anyway.. Kemaren sore di perjalanan pulang dari daycare, si bontot Amartha muntah-muntah. Lalu semalem badannya panaaaas, sampe susah tidur dan saya yang nemenin mau nggak mau jadi kebolak balik bangun untuk mastiin dia nggak apa-apa *ngetik dengan kepala kliyengan* ๐ฆ Dan seperti biasa, kalo lagi nggak enak badan begitu dia makin nempeeelll ke ibunya. Maunya dikelonin, dan kalo saya gerak atau jalan sedikit, doi ngintil kemanapun saya pergi. Berhubung ada setrikaan yang harus dibereskan, saya ajak dia ke atas, jadi sambil nyetrika, saya kudu bagi konsentrasi juga menjawab dan menimpali semua ocehan penting nggak penting yang kenapa sih sayang, kalo lagi sakit malah makin banyak ocehanmuuu…? ๐ Nggak lama, si tengah nyusul naik, trus TANPA DIMINTA, doi mijitin kaki adiknya yang tiduran di sofa samping meja setrikaan. Nah itu tuh, salah satu bukti betapa baiknya si tengah kami ini. ๐
Dan kemudian terjadilah percakapan yang kurang lebih isi-nya begini:
” Bu, tadi pas di daycare ya Bu, ada temenku yang bilang kalo Nay*a pacaran sama Bang Andro…”
Hahhhh? Appaaaaa…??? Saya nyaris kesenggol setrikaan saking kagetnya. Oke, tenang Fit. Muka panik tidak akan banyak membantu di saat-saat seperti ini. Tenaaangg! Tenaaanggg!
” Bu, pacaran itu apa, sih..? “
Seakan-akan belum cukup shock yang saya alami, ada suara si bontot yang menambahi. Aduh! Nggak mungkin kan, saya teriak panggil Baginda Raja dan mendisposisikan pertanyaan mereka ke beliau? Jatuh dong, harga diri saya di depan para krucils. ๐
” Ehm.. pacaran itu, buat suami istri yang udah nikah, sayang. Kalo Nay*a sama bang Andro kan belum nikah, jadi mereka bukan pacaran, tapi berteman…” cuma jawaban itu yang terbersit di otak udang saya ini.
” Ooohhh, kayak Ayah sama Ibu ya, Bu…” jawab Aura sambil senyum-senyum. Adiknya ikutan senyum.
” Iya. Kayak Ayah dan Ibu…” Fiuuuhhh. *usap keringet di dahi*
” Ehm… Suami istri itu apa sih, Bu..? “
Aduh! Kenapa kalian nggak tanya soal yang lain sih, Naaakkk…? Lagi setrika, iniiii…! Dan itulah kenapa saat ALLAH menurunkan kalian ke dalam perut Ibu, SEHARUSNYA IA kirimkan juga manual book komplit yang berisi jawaban tentang semuaaa pertanyaan ajaib kalian itu. ๐
” Suami istri itu… *ulur-ulur waktu* …. orang yang sudah menikah. Contohnya Ayah sama Ibu. Karena Ayah dan Ibu sudah menikah, jadi sekarangย Ayah itu sudah jadi suaminya Ibu. Nah kalo Ibu, sudah jadi istrinya Ayah…”
Aura masih keliatan mikir.
” Ooohh… Kalo gitu, aku mah nanti nikahnya mau sama Dik Amartha aja deh, Bu… “
Ibunya pengen pingsan di tumpukan baju. ๐
” Eh, nggak boleh, sayang. Dik Amartha kan adiknya mbak Aura. Kalo kakak-adik itu, nggak boleh nikah…”
” Kenapa, Bu? Kan aku sayang sama dik Amartha…”
” Aku juga sayang sama mbak Auraaaa…” si bocah yang badannya lagi panas itu menyela sambil cengar cengir. Lalu mereka saling ketawa. Ish! Kalian ini, ya…!
” Karena mbak Aura sama dik Amartha kan kakak-adik. Satu keluarga. Kalo masih satu keluarga, berarti nggak boleh nikah..”
Keduanya masih bengong. Nampak belum paham. Oke, kudu dicari kalimat yang lain, kalo begitu
” Jadi, kalo nanti mbak Aura nikah, berarti mbak Aura akan punya keluarga yang baru, trus punya anak. Sama kayak Ayah dan Ibu, sekarang punya anak Bang Andro, Mbak Aura, sama Dik Amartha…” Kalian juga nggak boleh nikah, karena nikah dengan kakak atau adik itu sama saja dengan insest, dan insest itu dilarang oleh agama karena dosa… bla, bla, bla… Kalimat terakhir tentu cuma saya ucapkan dalam hati. ๐
” Ooohh, gituuuu…”
Saya masih kurang yakin sih, Aura beneran ngerti atau pura-pura ngerti dalam rangka menyelamatkan muka panik saya. Entah gimana pula adiknya. Tapi biasanya, doi pasti ngikut aja apa kata mbak-nya. Haha. Tapi lumayan lah, saya jadi bisa narik nafas dan ngelanjutin nyetrika.
” Ehm.. Bu… tapi nanti aku anaknya mau 2 aja, deh. Eh, nggak ding. Mau 1 aja. Iya, aku mau punya 1 anak aja…”
Eh? Apa? Saya spontan menghentikan tangan, meletakkan setrikaan di posisi berdiriย dan menatap langsung mata si anak gadis. Perasaan saya kok mendadak jadi nggak enak, ya?
” Loh, kok cuma 1..?”
” Nanti, kalo anaknya 3, jadi sama kayak Ibu, dong! REPOT. Kan kalo bang Andro pengen ditemenin Ibu belajar, trus aku minta ditemenin main, trus dik Amartha pengen sama Ibu juga, Ibu jadi repot. Gimana, dooonggg…? “ lalu dia nyengir supeeerrr lebarrrrr dengan mata makin membulat lucu.
Plak, plak, plak! Perih ya, kalo ditampar anak sendiri. Perih, tapi kan mana boleh marah, Buuuu…? Coba ya, Fit. Mulai dari sekarang, di rem itu mulut lebarmu. Jangan sedikit-sedikit ngeluh repot. Sedikit-sedikit ngeluh capek. Sedikit-sedikit ngomel kerjaan rumah nggak habis-habis. Ada CCTV berjalan yang 24 jam mengawasi, loh! Lupakan sebentar kenyataan bahwa jadi ibu memang melelahkan. Ingat, apapun yang kita ucapkan, akan mereka dengar. Apapun yang kita lakukan, akan mereka lihat. Apapun yang kita keluhkan, akan mereka rasakan. Dan apapun yang kita nilai atas mereka sekarang, akan seperti itu pula-lah mereka nanti. Untuk seorang Ibu, ucapan katanya doa, ya? Jadi hati-hati dengan mulutmu. Jaga baik-baik apapun kalimat yang keluar, terutama di saat marah. Repot, ya? Emang. Ribet, ya? Iya. Tapi adaย benernya juga kok, kata bu Elly Risman. Nggak mau repot…? Jangan punya anak!
Duh, mbak Aura, mbak Aura. Makin lama kok kamu emang makin mirip Ibu, sih? Keren!—> bapaknya langsung protes. Woiii, ada saham ogud juga disitu, woiiii! ๐
Dan karena Ibu tahu betapa polos pikiranmu, Ibu jadi yakin kalimatmu itu bukan untuk menyindir Ibu, apalagi men-diskredit-kan ibu-ibu yang punya anak lebih dari 1. Soalnya kan masih ada ibu-ibu beranak banyak, yang tetep (bisa) hepi. Kamu kenal kan, samaย Budhe Tituk yang ber-anak 4 lalu budhe Titi yang buntutnya 5,ย dan tante El yang anaknya 6 itu? ๐
Trus, gimana dengan Baginda Ratu? Anak 3 biji, semua manis, kok. *kalo lagi manis* ๐ Suami juga baik-penyayang-penuh-pengertian-sabar-rajin-mijitin: apa lagi yang kurang? Nggak ada. Alhamdulillah! ๐
Jadi.. tak apa-apa lah, Nduk. Soal jumlah anak ini masih bisa kita diskusikan lagi saat kau sudah menemukan suami yang baik dan bertanggungjawab -minimal seperti ayahmu- dan selanjutnya kita akan pikirkan bersama-sama, seberapa besar kans-mu untuk jadi duta BKKBN nanti, ya! ๐

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha…
ย











