Are you OK ? let me know
3 Sep 2025
8 Jan 2022
Curang Berjuang
Panjang. Akupun ikut berdiri memandangi kerumunan orang membentuk barisan yang rapi sedari pagi. Di tengah kerumunan itu beragam usia sedang menunggu, terlihat pasangan lansia yang tersenyum saling memandang, berdiri lelah bersimpah peluh menanti giliran.
Aku melangkah mendekati barisan yang ada didepan, anak-anak muda berada disana, bahkan beberapa remaja menggunakan kaos idola sedang asyik tertawa seperti sedang membicarakan topik yang mereka suka.
Kucoba menghitung berapa banyak yang sedang mengantri, namun hitunganku pun tidak pernah menjadi akurat karena mereka bergerak seperti ombak dalam keadaan terdesak. Melihat dari luar, barisan kerumunan perlahan-lahan sudah tidak membentuk garis lurus, mereka berbaur dan bercampur. Namun sebagian dari mereka tetap tertawa, bercerita walaupun teriknya matahari sudah menyelekit mencubit kulit.
Sebuah panggung sederhana kulihat lengkap dengan mic, speaker dan peralatan panggung lainnya, semua penyelenggara sibuk wara wiri membawa barang-barang dan sibuk berkoordinasi. Aku sudah didepan namun aku tidak dalam barisan. Aku hanya takjub memperhatikan penuhnya kerumunan, dari kejauhan pun kulihat seorang anak kecil berada di atas pangkuan bahu sang ayah, sambil mencengkram rambut sang ayah untuk menjaga kestabilan. Mengerikan, aku khawatir anak itu hilang keseimbangan.
"Tes Tes!!" ujar bapak yang memegang mic.
Bapak dari atas panggung itu mulai mengawali pembukaan dan memberikan sambutan. Semua menyambut riuh gembira. Tepukan tangan pun beberapa kali berbunyi kompak meriah. Riak massa terus bergerak membentuk gelombang. Terdengar teriakan kencang mengatakan
"Yang sudah dapat! bisa segera keluar dari barisan"
Sudah waktunya ucapku lirih, segera ku berlari menuju antrian bergerak maju untuk menjadi bagian instant dari barisan dan mendorong kerumunan dengan bahuku. Gelak tawa dan senyum lebar yang mereka tunjukkan sebelumnya seketika berubah menyeringai penuh juang, akupun akhirnya berhasil memotong jalan masuk dengan berbuat curang.
Akupun berhasill, sudah kudapatkan akhirnya nasi kotak yang dibagikan.
6 Jan 2022
Ujian
Satu persatu alat tulis kukeluarkan dari kolong meja. Tangan kiriku penuh dengan keringat menggengam ibu jari dengan erat didalam keempat jari yang lainnya, perlahan kugerakkan ibu jariku keatas dan kebawah secara beraturan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.25.
"5 menit lagi" ucapku dalam hati.
Tangan kanan yang memegang pensil 2B itu kini mulai bergerak mengetukkan ujung pensil diatas meja, tidak berapa lama kemudian terdengar lantang suara dari ujung depan.
"Waktunya dimulai!"
Bunyi kertas dibalik pun serempak terdengar. Terbaca olehku dengan jelas tulisan "MATEMATIKA" di kolom pertama dan suasana kelas pun menjadi hening, semua berkutat diatas kertas ujiannya masing masing.
Ujian ini penentu kehidupanku. Ujian dasar yang harus kulewati untuk bisa membangun mimpi atas gambar-gambar bangunan yang pernah kugambar saat itu. Sayangnya tolak ukur atas gambar yang kukerjakan harus dilengkapi dengan kelulusan mata kuliah standar dengan rumus-rumus dasar yang tercantum dalam pelajaran ini. "Sial!" ujarku dalam hati
"10 menit lagi!"
Suara itu mengingatkan lagi waktu tersisa yang kumiliki dan seketika tubuh dan pikiranku sudah menunjukkan kecemasan. Kulihat kembali nomor-nomor yang masih ragu kulingkari, bola mataku pun mulai melirik kanan kiri. Tidak ada waktu lagi, perlahan kuberanikan diri melingkari jawaban-jawaban yang tak kuyakini.
Akhirnya sudah selesai, langkah kakiku kuarahkan keluar dari ruangan itu, kutarik nafas panjang dalam balutan maskerku sambil mengadahkan kepalaku keatas langit.
"Bro, gimana tadi bisa ga?"
Seorang kawan seketika datang dan bertanya, sambil menyodorkan pembersih tangan ke arah ku. Aku memandangnya terpaku.
"Sebentar aku ke kamar mandi dulu" jawabku singkat.
Lalu aku berlari dengan langkah menggebu, sudah tidak bisa tertahan lagi aku sudah menahannya sejak pagi. Saat sudah masuk kedalam kamar mandi, kusandarkan punggungku dipintu kamar mandi. Mengatur nafas dan menenangkan diri.
Kubuka ruas jari dari genggaman tangan kiri yang kukepal sejak pagi. Akhirnya, rumus rumus phytagoras, integral dan beberapa catatan yang kugenggam dengan erat di tangan kiri tadi sudah hilang karena sudah kucelupkan dalam bilasan sabun dan air yang kucampur tadi.
"Aku berhasil kan?"
7 Jul 2017
LUPA
Kapan terakhir kali berada di tempat yang tenang hanya sekedar untuk menulis?. Seingat gue, terakhir kali menulis saat kepagian sampai kantor, saat cuma baru Office Boy yang datang. Kayanya sudah puluhan ribu hari yang lalu. Tidak heran sekarang blog ini isinya jadi kosong melompong begini. Walaupun mungkin belum tentu ada yang baca juga si. π
Menulis di blog itu rasanya seperti menampilkan bagian diri gue yang lain, karena gue bisa merekam semua hal yang gue lihat, hal yang gue lakukan, hal yang berkesan, syukur-syukur kalau bisa membantu atau menjadi inspirasi orang lain. Alasan gue nge-blog sebenarnya bukan hanya sekedar kesenangan semata, karena secara pribadi gue merasa banyak terbantu dengan blog-blog yang gue kunjungi. Dengan membaca tulisan tulisan para blogger itulah, gue jadi punya banyak info, ide, dan rasanya hidup jadi lebih menyegarkan karena ada banyak hal baru yang ditemukan. Dengan alasan itulah gue suka berharap mungkin gue bisa melakukan hal yang sama untuk orang lain π
Gue juga lupa π
Kapan terakhir kali menghabiskan membaca buku untuk refresh pola pikir dan sudut pandang. Waktu seperti tergerus teknologi smart phone. Waktu jadi ter-addicted di depan gawai. Gimana ngga?, beli dan baca buku online aja bisa diakses via phone sekarang.
Tidak jelek juga, kita memang harus mengakui dengan adanya gawai banyak banget membantu hidup kita jadi lebih mudah, tapi dengan mengakses segala macam hal melalui smartphone, kadang gue jadi suka merasa banyak melakukan random activity, apa ini terjadi juga sama kalian kah? atau mungkin ini cuma terjadi di gue doang.
Misalnya awalnya baca buku online, *bosen* buka instagram *bosen lagi buka yang lain* begitu aja terus muter-muter dari satu aplikasi ke aplikasi yang lain. Kadang kalau lagi bener kita niat matiin sih, tapi entar ngga berapa lama dibuka lagi (emang kurang teguh aja sih iman kita). π
Esensi membaca buku menurut gue tetep ngga terkalahkan oleh smartphone, bahkan hanya dengan melihat orang membaca buku disaat lagi menunggu sesuatu, kayanya lebih mewah aja dibandingkan dengan pemandangan rutin yang lagi asyik scroll-scroll
Apa rutinitas yang gue lakuin sekarang menggerus banyak hal yang sangat menyenangkan? atau memang gue nya yang mulai mengabaikan hal yang menyenangkan tersebut?
Doakan saja ya. Semoga bisa semangat buat nge-blog lagi π
24 Feb 2015
Social Media
Facebook (check) / Twitter (check) / Instagram (check)
Others ? masih ada juga pastinya. Blog ini juga salah satu kan?
Tapi apa iya semuanya diupdate ?
Scroll, scroll dan dengan berat hati: Unfriend/ Unfollow...KLIK!
No Wonder.
Kalo orang tua kita terkadang melontarkan kalimat : "haduh, anak jaman sekarang"
Karena gue pribadi pun saat ini pernah merasa melontarkan kalimat yang sama beberapa kali.
Jadi, apa penulisan kalimat di social media harus dijaga? well depends.
Tulisan kadang bisa jadi cerminan diri, tapi kadang juga cuma jadi bentuk pencitraan.
note : makan-apa-sih-hari-ini-sok-iye-banget-otak-gue
Others ? masih ada juga pastinya. Blog ini juga salah satu kan?
Tapi apa iya semuanya diupdate ?
Kalo pertanyaannya ditujukan ke gue, jawabannya : "Tentu tidak kakak"
Masih banyak hal yang lebih urgent buat dilakukan. Ngga melulu soal sosmed, banyak hal yang lebih penting #baca-pdf-50-shades-of-grey-misalnya #uhuk
Honest! dalam satu hari pun social media bisa jadi bahan kunjungan yang menyenangkan. Buat gue malah kadang bisa jadi me time dikala kerjaan mulai longgar, urusan rumah beres atau saat anak sedang bermimpi asyik main di ragunan.
Tapi sebenarnya penting ngga sih bersosial media?
Kalo hal ini gue ngga bisa nyimpulin secara pasti karena masing-masing orang punya urgensitas yang beda beda. Ada beberapa orang yang mungkin merasa hal ini cukup penting karena punya fungsi sebagai salah satu media promosi untuk mata pencariannya atau juga bisa "terasa" penting jika akun yang di follow adalah akun-akun yang cukup berkualitas untuk menambah wawasan, mencari ide atau meluangkan kreatifitas dan mengasah bakat, tapi ya balik lagi semua tergantung siapa dan apa yang kita follow.
Iseng-iseng melihat list pertemanan di salah satu akun di sosial media gue, ternyata banyak yang ngga gue kenal juga. Zona pertemananan mungkin saat itu di approve karena "oh dia temennya A, atau temen dari temen nya si A" secara hirarki pohon pertemananan, kita emang TEMEN, tapi temen jauh banget kayanya. In a real life "mohon map ini siapa yak ?"
Scroll, scroll dan dengan berat hati: Unfriend/ Unfollow...KLIK!
Bukan bermaksud sombong sok-sok milih temen, tapi kadang gue pengen lihat timeline dengan isi-isi yang menyenangkan dan menyegarkan, tanpa harus melihat isi jeroan orang yang awalnya ngga pengen gue tau, dan berujung-ujung malah jadi kepo maksimal. Gue juga pengen membatasi hal hal yang menurut gue sifatnya personal dan ngga semua hal personal bisa jadi konsumsi khalayak ramai. Jadi ya mohon mengerti aja kalo akun-akun sosmed gue mostly digembok.
Kadang kita merasa social media hal yang cukup menyenangkan, tapi ternyata ada kalanya bisa jadi bumerang buat diri kita sendiri. Ada berbagai macam usia yang menjadi teman kita, mereka pembaca atas apa yang kita tulis. ada yang open minded, ada yang sepemikiran, ada juga yang tidak sependapat. Mungkin dengan orang yang satu generasi dengan kita, menganggap apa yang kita tulis tidak jauh berbeda dengan pola pemikiran yang kita jalanin, tapi gimana dengan teman yang memang generasinya muncul diawal kita? yang kadang merasa ucapan yang biasa kita gunakan, mungkin bukanlah bentuk ucapan yang layak dijamannya.
No Wonder.
Kalo orang tua kita terkadang melontarkan kalimat : "haduh, anak jaman sekarang"
Karena gue pribadi pun saat ini pernah merasa melontarkan kalimat yang sama beberapa kali.
Jadi, apa penulisan kalimat di social media harus dijaga? well depends.
Tulisan kadang bisa jadi cerminan diri, tapi kadang juga cuma jadi bentuk pencitraan.
So how to react kalo ada hal yang tidak sependapat ?
- Diemin aja kah? layaknya "lo lo gue gue ?"
- Atau harus bereaksikah ?
Speechless, kadang hal kaya gini bikin jadi serba salah sendiri
Mengutip kalimat seorang sahabat :
"Jika ada yang menegur kita melalui social media, bukankah itu reaksi dari apa yang sudah kita tulis ?" my own conclusion bukan reaksinya yang bermasalah. Bermasalah jika menimbulkan aksi yang negatif sebagai gambaran reaksi.
Mengutip kalimat seorang sahabat :
"Jika ada yang menegur kita melalui social media, bukankah itu reaksi dari apa yang sudah kita tulis ?" my own conclusion bukan reaksinya yang bermasalah. Bermasalah jika menimbulkan aksi yang negatif sebagai gambaran reaksi.
note : makan-apa-sih-hari-ini-sok-iye-banget-otak-gue
18 Sep 2014
Gagal Tegas
Anak kecil yang menjelang 2 tahun ini hari ini lagi asyik mewek di depan pintu rumah
"EDA IBU...AIN EDA" (read : Sepeda ibu, main sepeda)
REMINDER :
Bingung mode on π
Pak suami, coba menunjukkan bahasa isyarat lewat mukanya :
"EDA IBU...AIN EDA" (read : Sepeda ibu, main sepeda)
REMINDER :
Perjanjian yang di buat anak kecil ini dengan ayahnya adalah, sepeda boleh keluar rumah saat :
1. Pagi hari sebelum anter ibu berangkat kerja
2. Sore hari sehabis mandi, dengan rentang waktu main sampai dengan setengah jam sebelum maghrib. Penjelasan kepada si anak diberikan setiap hari dengan bahasa yang mudah dimengerti si anak tentunya
Tapi hari ini jam 06.30pm, si buah hati ganteng, tiba-tiba kekuh minta keluar rumah dengan sepeda kecilnya, gara-gara diluar rumah masih banyak anak kecil yang seliweran pake sepeda
But rule still a rule right ?
Dengan manis ibu kasih pengertian : "Ngga ya Nak, udah malem, tadi sore kan udah"
Udah ketauan lah ya, ngomong dengan anak umur belum nyampe 2 tahun, denger kalimat NGGA aja dia udah tau itu penolakan, alhasil NANGIS LAHHHHHHHHHHHHHHHH
Gue pun masih tetep membujuk dengan kalimat : "eh, kok nangis....NGGA ya sayang kan ina inu ina inu... inunu...inanananinani" sambil mencoba mengalihkan perhatian ke yang lain-lain. Tapi berhubung suara anak-anak yang main di luar lebih seru ketimbang suara ibu yang asyik ribet mengalihkan perhatian, jadi udah pasti nangis anak ini makin banter ya kan plus air mata nya jadi keluar beneran.
Bingung mode on π
Pak suami, coba menunjukkan bahasa isyarat lewat mukanya :
Gimana-nich-bolehin-ngga ? (alis mata naik sekali).
Gue pun... coba nunjukkin dengan muka gue :
lha-kan-kamu-yang-buat-rule, ya-jangan-lah! (alis mata mengkerut, menunjukkan penekanan)
Pak Suami masih kekeh :
ya-udahlah-dia-masih-kecil-ini. (alis mata naik sekali lagi, dagu ikutan naik)
Gue pun.. masih nunjukkin :
justru-dari-kecil-kudu-disiplin / -ini-dia-lagi-nyoba-kita-nih-kalo-nangis-dikasih-ngga? / kalo-kita-kasih-nanti-aksi-nangis-bisa-jadi-habbit
(Alis mata mengkerut, bibir misuh misuh, pala geleng kanan kiri *muka mulai ngga sinkron lah ya*)
Tiba-tiba pak suami dengan lantang nya bilang :
"Udah mas jangan nangis lagi. Hayo bilang lagi sama ibu boleh ngga?"
(Alis mata mengkerut, bibir misuh misuh, pala geleng kanan kiri *muka mulai ngga sinkron lah ya*)
Tiba-tiba pak suami dengan lantang nya bilang :
"Udah mas jangan nangis lagi. Hayo bilang lagi sama ibu boleh ngga?"
ZONKKKKKKKK (misuh misuh dalam hati) kenapi jadi suruh tanya gue lagi sik?
Anak kecil ini pun nyamperin gue dengan muka sendu nya :
"IBU EDA IBU...AIN AIN EDA" (read : Ibu, sepeda ibu.. main main sepeda)
Ibu ngga kalah lantang ngomong sama pak suami "Ayah bolehin ngga anaknya main ?"
Ayah : "Lha kamu boleh ngga?... Kalo kamu boleh aku boleh"
Ngga nyampe hitungan semenit. udah bisa ketebak kan :
"YA UDAH MAS DITEMENIN AYAH 10 MENIT AJA YA! HABIS ITU MASUK....."
Dan mereka pun kembali SETENGAH JAM KEMUDIAN (krik...krik...krik)
Masih belum bisa strict juga ya, masih harus banyak belajar lagi ternyata π
Anak kecil ini pun nyamperin gue dengan muka sendu nya :
"IBU EDA IBU...AIN AIN EDA" (read : Ibu, sepeda ibu.. main main sepeda)
Ibu ngga kalah lantang ngomong sama pak suami "Ayah bolehin ngga anaknya main ?"
Ayah : "Lha kamu boleh ngga?... Kalo kamu boleh aku boleh"
Ngga nyampe hitungan semenit. udah bisa ketebak kan :
"YA UDAH MAS DITEMENIN AYAH 10 MENIT AJA YA! HABIS ITU MASUK....."
Dan mereka pun kembali SETENGAH JAM KEMUDIAN (krik...krik...krik)
Masih belum bisa strict juga ya, masih harus banyak belajar lagi ternyata π
Langganan:
Komentar (Atom)
Labels
31 Challenge
ASI
B'day
Baby
Bestie
Blogger
Breastfeeding
Challenge
Chat
Culture
Diet
Fiction
Giveaway
Home
Honey Moon
KMC
KUA
Knowledge
Lintang
Lyrics
MPASI
Manga
Marriage
Others
Pre-Wed
Pregnancy
Random
Recipe
Ring
Seserahan-Mahar
Song
Stroller
This Us
Treatment
Undangan
Vacation
Wedding Preparation
Wedding Review