<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Mrs. Chang on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Mrs. Chang on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@_dabelyu?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*n5jreeO4hPquoVgeLjgSGA.jpeg</url>
            <title>Stories by Mrs. Chang on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 14 May 2026 10:49:39 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@_dabelyu/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[— karena pada dasarnya, membaca buku yang sama untuk kedua kalinya, tidak akan merubah ending dari…]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/karena-pada-dasarnya-membaca-buku-yang-sama-untuk-kedua-kalinya-tidak-akan-merubah-ending-dari-21d700785110?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/21d700785110</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 05 Jan 2026 09:31:21 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-05T09:31:21.912Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>— karena pada dasarnya, membaca buku yang sama untuk kedua kalinya, tidak akan merubah ending dari ceritanya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=21d700785110" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[UNO; Delapanbelas]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/uno-delapanbelas-0ca1168fdab8?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0ca1168fdab8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 14:16:19 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-15T14:16:19.381Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*BPQ6-Z8aXmtt9TSBpw3NmQ.jpeg" /><figcaption>Delia, Thara, Dhara [Dari kiri kekanan]</figcaption></figure><p><em>Hompimpah alaiung gambreng.</em></p><p><em>Sesuatu itu ada, sesuatu itu melihat, dan sesuatu itu nyata</em>. <em>Dan sesuatu itu tersenyum, saat aku mengetik cerita ini dalam ketakutan.</em></p><p>Based on true story. UNO; Delapanbelas.</p><p>“Tunggu disini, aku nyari adik dulu.” Kami — Delia dan aku hanya mengangguk, sembari membuka bungkusan rujak yang masih segar karena baru dibeli tadi.</p><p>Seperginya Thara — aku dan Delia memakan rujak itu, sembari bercengkrama mengenai HTS ku, Endra.</p><p>Setelah sekian lama, akhirnya Thara kembali pulang bersama adiknya. Ia kemudian duduk melingkar bersama kami, dengan posisi dikiri-ku Thara dan disisi kananku Delia — jadi aku ditengah-tengah.</p><p>Merasa jenuh karena tidak ada kesibukan, kami mencoba bermain UNO sembari makan (meski itu dilarang) dan aku mulai mengocok kartu yang agaknya sudah lama tidak disentuh — terlihat dari debunya yang menempel ditanganku.</p><p>“Yang kalah lima kali post story!” Ujar Delia, kami mengangguk dan menyanggupi tantangan itu — aku cukup optimis karena aku lumayan hoki dalam permainan seperti ini.</p><p>Aku membagikan mereka kartu UNO tersebut, Thara 6, aku 6 dan Delia 6. “Udah? 6, kan itu?” Tanyaku pada mereka. Mereka menghitung kartu mereka masing-masing, lalu mengangguk.</p><p>“Hompimpah alaiung gambreng!” Ujarku, kemudian Thara mengawali permainan dengan mengeluarkan kartu 7. Awalnya memang asik, kami bercanda ria, dan tertawa ketika salah satu dari kami kalah. Sampai akhirmya… semuanya terasa aneh.</p><p>“Kita kalahnya berurutan, ya?” Ujar Thara sembari terlihat takut. Kami saling menatap, lalu kemudian aku berbicara. “Udahlah, apa sih kalian.” Ujarku agak kesal karena menganggap itu sebagai sebuah kebetulan.</p><p>Namun, sepanjang permainan… Kami menyadari ini semua mulai terasa janggal. Cara kartu itu berputar, cara kami kalah berurutan, dan cara… kartu plus yang keluar selalu dalam angka 18.</p><p>“Ini mulai aneh, Ra…” Thara menyebut namaku dalam ketakutan yang terpancar dari bilah matanya. Aku — Dara, meneguk ludahku kecil sebelum akhirnya bicara.</p><p>“Udah tiga kali kita ngambil kartu sebanyak 18, kan? Kalah kita selalu berurutan… Ini — ”</p><p>“Tukar posisi. Tukar posisinya.” Delia berkata dengan nada pelan, jelas ia juga takut. Apalagi dengan keadaan mendung dan petir yang bergemuruh. “Kalo misalkan kalahnya masih tetep sama, ini emang aneh.”</p><p>Kami akhirnya menukar posisi kami, dengan aku di tempat Thara dan Thara ditempat Delia — sehingga Delia duduk ditempatku.</p><p>Aku kembali memberikan mereka kartu, kali ini dengan suara lirih aku berkata. “<em>Hompimpah alaiung gambreng</em>…”</p><p>Dunia terasa menyempit. Aku merasakan getaran kengerian saat bibirku berucap kata itu, rasanya… sesuatu ikut berbisik, ikut bicara.</p><p>Aku mengabaikan perasaan tidak nyaman itu, kami mulai bermain — sampai akhirnya, Delia kalah. “Meleset.”</p><p>Ujar Delia ketika permainan itu selesai, kami sempat menghela nafas lega — mengira semua ketakutan itu tidak berdasar dan hanya kebetulan belaka. Namun, tubuhku membeku saat Thara kembali berucap. “…Posisinya. Memang seharusnya — Dara yang kalah, Del. Dan kamu… duduk diposisi Dara.”</p><p>Seketika itu kami meluncur masuk ke ruang tamu rumah Thara. Jantung kami berpacu dengan kencang, mata Delia berkaca-kaca, apalagi saat menyadari bahwa… jumlah kami kalah — masih dengan angka yang sama. Delapan.</p><p>“Kita kalah berapa kali? Aku dua, Thara tiga, Delia tiga… Enam tambah dua? Delapan…” Bisikku ketakutan. Saat itu, hancur sudah tameng pemberani yang aku sering pasang — ini terlalu menyeramkan.</p><p>Mataku berkaca-kaca saat aku mulai menyuarakan apa yang menjadi kejanggalan selama kita bermain. “Kartu yang kita ambil 18, kalah berurutan, dan jumlah kartu… Del, 6 kali 3 berapa?”</p><p>Saat itu juga kami mengecek kalkulator, mengetikkan angka-angka yang menjadi tanda tanya. Kami seketika membeku, lidah kami kelu, saat angka yang terpampang nyata di depaan kami. Delapanbelas. Angka sialan yang terus terusan muncul.</p><p>“Ini salahku, guys… Seharusnya aku ga ngasih kartu 6.” Aku berucap lirih, namun pernyataan itu ditepis oleh Thara.</p><p>“Ini berawal dari karyu 8,8,7 itu. Selamaa kita main kartu ini, Dara gapernah salah.” Thara berucap dengan suara bergetar. Memang benar, aku tadi tanpa sengaja memberikan mereka kartu 8, sementara kartu milikku adalah 7.</p><p>Disana aku tidak merasa aneh, aku hanya mengambil satu kartu lagi dan kemudian memainkannya tanpa perasaan apapun.</p><p>“Remi. Ayo main remi. Siapa tahu kejanggalannya cuma ada di UNO, kan?” Delia berkata, kami segera kembali ke teras , mengambil kartu remi dan berharap bahwa semua itu hanyalah kejadian. Meski… semuanya terasa aneh.</p><p>Aku segera mengambil kartu itu, lalu kemudian mengacaknya dan memberikan mereka masing-masing enam kartu. “Harusnya Thara yang kalah sekarang…” Ujar Delia.</p><p>Aku hanya mengangguk, karena jujur saja — aku takut. Lalu kami mulai memainkan kartu itu, kartu demi kartu berlalu — akhirnya kami sampai di kartu terakhir.</p><p>Karena aku yang memenangkan kartu terakhir, maka aku mengeluarkan kartu 10 Wajik. Lalu kemudian, Delia mengeluarkan kartu 5 wajik. Dan Thara… 3 wajik.</p><p>Jelas hal itu membuatku takut. Wajahku memucat saat aku memotong perdebatan mereka. “Guys… 10 tambah 5 tambah 3… Delapanbelas?”</p><p>Seketika itu kami langsung berlari sekuat tenaga menuju ruang tamu. Aku menatap mereka dengan wajah pucat. Semua energiku tampak terserap. “Thara… Thara kalah.”</p><p>Bisikan Delia membuat tubuhku semakin merinding. Bahkan, saking merindingnya — saat mengetik kalimat ini… <em>sesuatu</em> itu menghembuskan nafasnya disampingku. Tepat disampingku — <em>lagi</em>.</p><p>Lupakan.</p><p>Anggap bahwa itu hanyalah angin, ya?</p><p>Aku hampir menangis. Rasanya… kenapa harus kita bertiga? Kenapa aku? Kenapa Thara? Kenapa Delia? Kenapa kami?</p><p>Pada akhirnya, kami pindah bermain di kamar adik Thara — Wulan. Kami terus mencoba disana. Pernah mendenhar kalimat… <em>rasa penasaran membunuhmu? </em>Ya, itu yang mereka rasakan.</p><p>Aku — sudah mencoba untuk membuat mereka berhenti bermain. Untuk membiarkan kondisi ini kondusif terlebih dahulu.</p><p>Aku akhirnya menyerah saat mereka meminta bermain remi lagi. Kali ini dengan kedua adik Thara yang ada dalam ruangan yang sama.</p><p>Dan, ya. Teror itu berakhir? Oh, tentu tidak. Malahan… ini adalah awal, dari semua yang aku — Dhara alami. Ya, aku. Sang penulis. Sang pemberi kartu. Dan sang… dealer.</p><p>Kepulangan kami pukul 4 sore kala itu. Aku bersama Delia satu motor, dengan ia membawa motorku.</p><p>Singkat waktu, singkat cerita. Delia sudah pulang kerumahnya dengan dijemput oleh ayahnya. Disatu sisi aku lega karena akhirnya Delia pulang dengan selamat, namun disatu sisi aku takut… aku takut pada <em>mereka</em>.</p><p>Pukul enam sore. Waktu yang lezat untuk mereka berkeliaran, aku mengambil kunci — hendak mencari laundry. Saat membungkuk, sesuatu menyentuh tengkukku — sehingga aku menjadi merinding.</p><p>Sedari awal. Aku tahu… mereka mengikutiku. Bukan karena aku penakut, karena aku berani. Mereka tahu bahwa aku <em>peka</em>, sangat <em>peka</em> akan kehadiran mereka.</p><p>Aku tak menghiraukan kejadian itu, dan menganggap semuanya angin lalu. Aku tidak memceritakan apapun pada Delia dan Thara — takut membuat mereka semakin takut.</p><p>Kamu kira… semuanya berakhir disini? Kamu kira, mereka sudah hilang? Tidak…</p><p>Mereka tahu aku menulis cerita tentang teror ini, tentang mereka. Mereka menyaksikan, mereka tertawa terbahak-bahak saat aku mengetik cerita ini penuh keraguan akibat gangguan mereka.</p><p>Aku menghentikan tulisanku disini. Cukup. Ini semua sudah cukup. Tapi… apakah mereka sudah merasa cukup?</p><p>Ini semua belum berakhir.</p><p>—Dhara Maryana</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0ca1168fdab8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Isvara, wanita lumpuh.]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/isvara-wanita-lumpuh-7e335a2fe4be?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7e335a2fe4be</guid>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 08 Mar 2025 03:53:27 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-08T03:53:27.951Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Jika aku berakhir ditelantarkan, maka aku lebih memilih untuk tinggal di panti asuhan dan di rawat selayaknya seorang anak.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*8UlXC75o2hWlQoRBQ1E_mg.jpeg" /><figcaption>London, Life, Love</figcaption></figure><p>“Maaf…” Isvara lagi-lagi meminta maaf saat Agra membantu Isvara memakai kaos kaki. Mata cokelat itu menatap mata hitam legam milik Agra.</p><p>“Untuk apa?” Agra bertanya dengan lembut, perawat pribadi Isvara itu menatap Isvara dengan tatapan penuh kasih sayang.</p><p>“Lumpuh… kamu pasti kesusahan merawatku yang lumpuh ini.” Isvara berbicara dengan pelan, tangannya saling meremat satu sama lain.</p><p>“Tidak. Untuk apa aku kesusahan? Aku ikhlas melakukannya demi kamu, Ra.” Agra memegang bahu Isvara, memberikannya remasan pelan.</p><p>Isvara terdiam, ia memutar kursi rodanya itu, membuat Agra menghela nafas. “Seharusnya kamu terima saja tawaran bekerja di Rumah Sakit itu. Jadi kamu tidak perlu susah-susah merawat gadis cacat sepertiku, Agra.”</p><p>Isvara meremat gaun merah mudanya, ia menatap taman luas kediaman Hutson. “Gadis cacat sepertiku, memang cocok hidup sendiri, Agra.”</p><p>“Cukup, Isvara.” Agra memotong, membuat Isvara mendongak dan menatap Agra dengan mimik wajah terkejut.</p><p>“Aku menerima tawaran bekerja Tuan Fernandez dan Nyonya Savannah itu murni karena aku mau. Bukan terpaksa.” Agra berkata dengan nada dalam, membuat Isvara terpaku dan memalingkan wajahnya kembali.</p><p>“Agra… aku tahu semua ini bukan karena kamu ikhlas, tapi karena kamu menyukaiku!” Isvara menyentak pelan, meringis saat kepalanya kembali berdenyut sakit.</p><p>“Kamu menyukai gadis cacat, Agra.” Isvara menunduk, menahan tangis yang mengancam keluar. “Aku tidak mengerti kenapa kamu menyukai gadis lumpuh sepertiku, apa yang kamu cari di dalam diriku?”</p><p>“Fera, wanita yang menyukaimu itu bahkan lebih sempurna ketimbang aku! Aku hanya mampu terduduk terpaku di kursi roda, sementara Fera, wanita yang mengejarmu itu jelas-jelas memiliki karir gemilang! Dia sempurna — ”</p><p>“Isvara Hutson, berhenti mengatakan kalimat omong kosong.” Agra memotong dengan kalimat tegas, ia memegang dagu Isvara dan mengusap bulir air mata yang jatuh.</p><p>“Aku menyukaimu, dan aku tidak perduli dengan kekuranganmu. Dengar itu, sayang…” Agra berbicara lirih, matanya penuh obsesi saat menatap Isvara.</p><p>Isvara mengalihkan perhatiannya kala ia melihat notifikasi di handphone miliknya. Tangannya terulur mengambil handphonenya itu.</p><p>Pupilnya melebar, tangannya bergetar saat matanya mengeluarkan buliran bening. Isvara terpaku terdiam. Agra yang melihat keanehan Isvara langsung mengambil handphone Isvara begitu saja.</p><p>[Isvara? Papa sama mama tinggal di Inggris untuk waktu yang tidak ditentukan. Kita minta maaf sama kamu ya? Kita tidak bisa ajak kamu karena kita mendadak tinggal disini. Papa akan memberikan kamu uang bulanan, jaga diri kamu baik-baik. See you, honey.]</p><p>Agra menggeram pelan, hampir saja melemparkan handphone milik Isvara jika tidak melihat bahu bergetar Isvara. Isvara tidak bodoh jika ia dibuang oleh kedua orangtuanya begitu saja, Isvara sangat menyadari bahwa kedua orangtuanya abai saat ia berakhir lumpuh saat kecelakaan.</p><p>Agra merengkuh tubuh bergetar itu, mengecup keningnya dengan pelan dan memberikan kata-kata penenang. <em>“Shh… tidak apa-apa, Isvara. Kamu punya aku, aku akan merawatmu dengan baik, tidak seperti kedua orangtuamu itu.”</em></p><p>Isvara menangis dipelukan Agra, ia tidak menyangka akan kehidupannya saat ini. Ia dulu sangat disayangi oleh ibu panti, meskipun ia nakal, ibu panti akan tetap menyayanginya.</p><p>“Agra… untuk apa aku diadopsi jika akhirnya aku terlantar kembali?”</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*6yFO5b5yDBLyBnhXnFSzCQ.jpeg" /><figcaption>26th January 2025</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7e335a2fe4be" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Abitha, pemenang.]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/london-love-life-b451567b9988?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b451567b9988</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 07 Mar 2025 04:39:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-07T04:39:42.760Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*bRsS6rePjpTwgJdnMv0QwQ.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life.</figcaption></figure><h4>| Sebanyak apapun kamu berharap, masa lalu tetap pemenangnya. |</h4><p>Suara mesin jahit terdengar di kesunyian pasar. Aneh memang. Pasar seharusnya ramai, namun entah kenapa atmosfer pasar terasa berbeda, dingin dan canggung.</p><p>Sebenarnya bukan pasarnya yang bermasalah, tapi Abitha. Ia terduduk canggung di kursi yang disediakan. Keningnya berkerut kesal. <em>Demi Tuhan, kenapa ia harus bertemu Banyu?!</em></p><p>Banyu Cakra Widongso, mantan kekasih Abitha. Abitha tidak tahu menahu tentang Banyu yang ternyata meneruskan usaha jahit ibunya. Jika bukan karena Bi Meli yang menyuruhnya menjahit disini, Abitha juga <em>ogah </em>bertemu Banyu. Masih teringat masa lalu.</p><p><em>“Cah ayu, tolong bawa rok bibi ke Mas Wid!”</em></p><p>Abitha, ‘kan tidak tahu kalau ternyata Mas Wid adalah Banyu!</p><p>“Canggung sekali, ya, Cah.” Suara Banyu memecah keheningan, Abitha refleks mendongak, mata gelapnya bertenu dengan mata bernetra coklat itu.</p><p>“E-eh, iya, Mas…” Abitha menjawab dengan gugup. Ia mengalihkan perhatiannya kesembarang arah. “Mas Banyu, kenapa masih panggil aku Cahaya?”</p><p>Banyu terkekeh pelan, ia tampak membuka kacamatanya, mengusap matanya pelan sebelum kembali memakai kacamata. Banyu menatap Abitha dengan senyuman lembut. “Abitha Cahaya Jelita, itu namamu, ‘kan?”</p><p>Abitha tertegun, postur tubuhnya menunjukkan bahwa ia gugup. “Panggil saja Abitha, Mas.” Ujar Abitha dengan menggigit bibir bawahnya, kebiasaan buruk yang sering dilakukan.</p><p>“Kebiasaan.” Banyu menyentak dengan suara dalamnya, membuat Abitha melepaskan gigitannya. “Lagipula, apa salahnya Mamas panggil kamu, Cahaya?”</p><p>Banyu terkekeh, sebelum kembali memasukan benang putih ke mesin jahit. “Lagipula nama Cahaya bagus, kok. Kenapa kamu tidak suka?”</p><p><em>“Karena itu panggilan sayang Mamas ke aku!”</em> Abitha membentak, namun ia hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Bibir Abitha kelu sejenak, sebelum menjawab dengan nada pelan.</p><p>“Bukan begitu, Mas…”</p><p>“Sebenarnya Mamas ingin menjelaskan langsung waktu itu ke kamu, Cah.” Abitha mendongak, menatap Banyu dengan mata yang berkaca-kaca.</p><p>“Lantas? Kenapa Mamas tidak jadi menjelaskan? Cahaya sedih waktu itu! Cahaya — ”</p><p>“ — Mamas malu, Cah. Mamas cuma anak tukang jahit, Mamas mau bilang apa ke keluarga kamu? Keluarga kamu orang berada, apalagi Mbak Trisna menikah dengan orang kaya Jerman.”</p><p>Abitha menghela nafas gusar, ia memijit keningnya dengan rasa kesal yang menjalar.</p><p>“Mas… ini bukan tentang uang. Ibu sama Bapak cuma mau yang terbaik buat aku. Apapun yang buat aku bahagia, bahkan Mamas sekalipun, mereka bakalan setuju.”</p><p>Abitha menjawab dengan suara lirih, ia terduduk lesu di kursi. Banyu terdiam, ia ternyata memang pengecut.</p><p>“Maafkan Mamas, Cahaya… Mamas memang pengecut.” Banyu tersenyum kecut, hatinya seperti ditusuk ribuan jarum jahit.</p><p>Abitha tidak menjawab, biarlah matanya yang menjawab. Keheningan terdengar, baik Abitha maupun Banyu tidak kembali bercengkrama. Suara derak mesin jahitpun tidak lagi terdengar, menyisakan keheningan yang semu.</p><p>“Mas…”</p><p>“Cahaya…” Keduanya mendongak, saling bersitatap dengan perasaan campur aduk. “Mamas duluan.” Ucap Abitha mengalah.</p><p>“Kamu sudah menikah dengan Genta?” Tanya Banyu, ia kembali menjahit rok Bi Meli, menyelesaikannya sebelum bercakap-cakap dengan Abitha.</p><p>“Maksud… Mamas?” Abitha mengerutkan kening bingung, kenapa Banyu malah membawa-bawa Genta?</p><p>“Kemarin, Mamas lewat rumah kamu. Genta dan kedua orangtuanya kesana, Mamas mau nanya, cuma Mamas buru-buru.” Banyu menghentikan injakan pada mesin jahitnya, ia memotong benang-benang yang kelebihan.</p><p>“Genta? Genta kesana mau ngelamar Juwita.” Jawab Abitha sekenanya. “Oh? Juwita sudah pulang?” Banyu tampak terkejut dengan jawaban itu, ia menatap Abitha.</p><p>“Iya, pulang minggu lalu.” Jawab Abitha. “Kamu mau bilang apa, Cah?”</p><p>Abitha menatap keluar, dimana orang-orang sedang tawar menawar dengan harga sadis. Ia menghela nafas. “Aku rindu dengan kita yang dulu.”</p><p>Banyu terkekeh, ia mengambil plastik dan mewadahi rok Bi Meli. “Kalau boleh Mamas bilang, saya juga rindu.”</p><p>Banyu melepaskan kacamatanya, ia mengerjap sejenak lalu menatap Abitha dengan senyuman tipis. “Mamas pengen kita kaya dulu, tapi… sepertinya susah, ya?”</p><p>Raut kecewa langsung tertampil diwajah Abitha, ia menunduk dan menatap ujung sepatunya. Bibirnya yang bergincu pink pastel itu ia gigit kencang. “Kenapa tidak bisa…?”</p><p>Banyu menghela nafas, ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Abitha, kemejanya ia lipat sesiku, menampilkan lengan kekarnya.</p><p>“Mamas mau lihat masa depan, bukan kembali ke masa lalu. Cahaya… maafin, Mamas ya?” Tangan kapalan itu mengelus pipi lembut Abitha.</p><p>Tangis Abitha pecah begitu saja. Ia memeluk tubuh Banyu melampiaskan rasa sedih dan bahagianya. “Cahaya… Mamas mau menata masa depan, maukah Cahaya menemani Mamas?”</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*ZsR-zoNmRSgSkYUWno2Skg.jpeg" /><figcaption>7th March 2025</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b451567b9988" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Semarun, wanita pendendam]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/semarun-wanita-pendendam-ebbd163d754c?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ebbd163d754c</guid>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 22 Jan 2025 09:31:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-22T09:31:20.238Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Mencari kedamaian di negara orang.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*8UlXC75o2hWlQoRBQ1E_mg.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life</figcaption></figure><p>“Jadi, kamu memutuskan untuk pergi?” Helaan nafas terdengar perih. Bibir sepucat mayat itu tampak terbuka, melirih pelan.</p><p>“Lantas, aku harus kemana? Adri selingkuh, orangtuaku pergi. Didunia ini aku hanya punya Adri, La. Aku ga mungkin terus-terusan ngerepotin kamu.” Semarun menjawab dengan pelan, ia tampak tenahan perih didadanya.</p><p>“Apalagi Adri berselingkuh dengan adikku sendiri. Gimana caraku untuk tetap ikhlas?” Semarun melanjutkan ucapannya. Shalla — wanita tadi tampak terpaku, mengangguk sejenak dan matanya tetap menyendu.</p><p>“Lalu, dengan pergi… kamu merasakan kebebasan, begitu?” Shalla bertanya, seolah-olah memberatkan Semarun untuk pergi.</p><p>“La… aku udah lama hidup sendiri. Aku, dan anak orangtuaku, Kesya, sudah merasakan pahitnya hidup. Aku bisa bertahan, La.”</p><p>Shalla tersentak, ia menyadari betapa bencinya Semarun kepada Kesya, bahkan lidahnya tidak sudi menyebut Kesya sebagai adik kandungnya.</p><p>“Terserah kamu, Mar. Tapi jika kamu butuh bantuan, datang lagi ke Bandung, ya? Temui aku, aku dan Mas Andra akan tetap mau menampung kamu.” Shalla merengkuh tubuh Semarun, memeluknya erat.</p><p>…</p><p>Hiruk pikuk jalan raya tampak kontras dengan banyaknya orang-orang yang berlalu lalang. Jepang, negara yang kini Semarun tinggali, sebuah tempat dimana ia bisa merasakan kebebasan yang ia dambakan.</p><p>“<em>Babe? C’mon</em>.” Suara khas tampak meresap ke telinga Semarun, ia terperanjat, menatap sang suami — Ichiro Takida — dengan senyuman lembut.</p><p>Setelah bertahun-tahun menetap dan bekerja di Jepang, Semarun bertemu dengan Ichiro disebuah kedai roti. Keduanya saling dekat dan akhirnya memutuskan untuk menikah di bulan Maret.</p><p>Semarun menggandeng lengan suaminya, ia akan berangkat ke Indonesia, lebih tepatnya ke Bandung karena ia ingin bertemu dengan Kala dan Mas Andra.</p><p>Selama bertahun-tahun itu pula, Semarun benar-benar tidak mau tahu tentang kehidupan saudarinya itu, Kesya.</p><p>Bahkan ia memblokir kontak Kesya dan Andri dari handphonenya. Ia tidak mau berurusan dengan orang yang sebelumnya menghancurkan dirinya menjadi beberapa keping. Ia sudah muak dengan semua itu.</p><p>Penerbangan tidak memakan waktu yang sangat lama, mereka transit di Jakarta dan langsung meluncur ke Bandung.</p><p>Mereka akhirnya sampai di Bandung, lebih tepatnya didepan rumah bernuansa klasik. Rerumputan tampak memanjang karena belum dipangkas, banyak bunga-bunga yang layu karena tidak sering disiram.</p><p>Semarun langsung mengetuk pintu rumah itu, ia tampak tersenyum lembut kearah Mbok Asih — salah satu pembantu disana.</p><p>“Oh, Nyonya Shalla? Ada, kok, saya panggilkan dulu ya.” Mbok Asih langsung pergi membiarkan Semarun dan Ichiro duduk di sofa.</p><p>Seorang wanita berusia 40-an tampak berlari kecil dan langsung memeluk Semarun, Shalla Abimanyu, wajah wanita itu tetap sama seperti sedia kala.</p><p>Andra yang peka terhadap kondisi mengajak Ichiro berkeliling, beruntungnya Andra fasih berbahasa Jepang, sehingga ia tidak kesulitan berkomunikasi dengan Ichiro.</p><p>“Sudah bertahun-tahun, Mar… aku kangen.” Shalla memeluk Semarun dengan erat, menyalurkan rasa rindunya itu.</p><p>Mereka berbincang dengan canda tawa, keduanya tenggelam dalam percakapan yang tiada habisnya.</p><p>“Mar… tentang Kesya — ” Semarun me ngalihkan pandangan, ia tampak menatap arah lain dengan dengusan pelan. “ — dengarkan dulu Mar. Aku tahu kamu tidak perduli dengan adikmu lagi. Tapi jika bukan kamu, siapa lagi, Mar?”</p><p>“Setelah kamu memutuskan merantau, Kesya memutuskan menikah dengan Adri. Mereka menetap dirumah Adri. Kamu tahu, Mar? Setiap hari Kesya diperlakukan tidak baik oleh mertuanya. Selalu dikata-katai oleh ibu mertua, dicaci maki. Adri? Jangan berharap, Mar. Setiap hari ia memukuli Kesya jika tidak diberi uang untuk melakukan judi <em>online</em>.”</p><p>“Namun pada akhirnya, Kesya hamil. Berita itu disambut dengan baik oleh Adri, Adri mulai memperlakukan Kesya seperti seorang ratu. Klimaksnya, saat ibu mertua Kesya membuat Kesya keguguran. Ibu mertua mencampur makanan Kesya dengan obat — ”</p><p>“La, aku tidak perduli dengan pelacur itu. Aku, tidak akan pernah memaafkannya, La.” Potong Semarun dengan dengusan. Ia tampak mengeluarkan beberapa gepok uang, lalu menaruhnya diatas meja.</p><p>“Kasih wanita itu. Biarkan dia hidup sendirian. Bila perlu, seret dia, tampar dia dengan uang, dia hanya mengincar uang Adri sedari awal. Wajar Bu Ela begitu kepadanya.”</p><p>Kala menghela nafasnya, ia tampak menunduk, menatap Semarun yang keluar dari rumahnya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*6yFO5b5yDBLyBnhXnFSzCQ.jpeg" /><figcaption>January, 22th 2025</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ebbd163d754c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Lana, wanita pembunuh.]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/lana-wanita-pembunuh-4be705934017?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4be705934017</guid>
            <category><![CDATA[friends]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 24 Dec 2024 11:27:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-24T11:27:13.299Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Aku juga ingin mati tak berdosa, tapi ditanganku sendiri.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*bRsS6rePjpTwgJdnMv0QwQ.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life</figcaption></figure><p>“Kalo bunuh diri ga dosa gue juga mau kali, Na.” Ungkap Saraya dengan helaan nafas, ia menghisap nikotinnya lalu menghembuskannya.</p><p>“Sialnya itu berdosa.” Jawab Lana kaku, ia belum membiasakan diri dengan bahasa gaul Saraya karena ia anak pindahan.</p><p>Saraya memutar bola matanya dengan malas, ia tampak menatap Lana dengan wajah serius. “Seputus apapun lo, jangan bunuh diri, Na.”</p><p>Lana tertawa, ia tampak memegang perutnya yang sakit karena tertawa sehabis mengejek Saraya. “Menurutmu? Jika bukan aku yang menolongmu dijembatan kemarin, kamu akan tetap hidup?”</p><p>Saraya memutar bola matanya malas, tampak berdecak karena sudah melakukan hal bodoh. Lana menyeruput tehnya yang manis karena pemanis buatan itu.</p><p>“Saraya, kita harus tetap hidup ya?”</p><p>Begitu… lucu. Kini Lana berdiri didepan Saraya memegang pistol dengan tangan gemetar, ia tampak mengacungkan pistol itu didepan Saraya.</p><p>Bertahun-tahun berlalu setelah percakapan itu, Lana dan Saraya memutuskan pergi mencari pekerjaan mereka. Lana menjadi pembunuh bayaran dan Saraya yang menjadi seorang pebisnis terkenal.</p><p>Sialnya, Lana ditugaskan untuk membunuh Saraya di pelabuhan. Lana yang sebelumnya tidak tahu targetnya mengiyakan dengan cepat, tanpa tahu bahwa S. Mara adalah Saraya Mara yang sama yang telah menyuruhnya untuk tetap hidup.</p><p>“Seenggaknya gue mati ditangan lo, Na.” Suara Saraya mengudara, ia tampak melambaikan tangannya ke arah Lana.</p><p>Lana menatap Saraya dengan wajah yang penuh dengan kesedihan, ia tampak menangis karena rasa bodoh.</p><p>“Agent L, killl her.”</p><p>Suara tembakan terdengar saat Lana akhirnya menarik pelatuk, menembak dada kiri Saraya yang langsung membunuhnya ditempat.</p><p>“Saraya!”</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*3mvgZL_24FcFswHgY1Mtfg.jpeg" /><figcaption>December 24th, 2024</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4be705934017" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Jivara, wanita yang khawatir.]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/jivara-wanita-yang-khawatir-e4e18d84766e?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e4e18d84766e</guid>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 22 Dec 2024 14:04:16 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-22T14:32:19.109Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Namun akhirnya aku harus dengan tegas mempertanyakan, apa kamu masih rindu dengan mantanmu?</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*bRsS6rePjpTwgJdnMv0QwQ.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life</figcaption></figure><p>Jivara menatap nanar sebuah postingan yang sempat di sukai oleh kekasihnya itu, Alvaro. Terketik disanna dengan rapi bahwa sang pemilik video dengan rela melepas seseorang yang seharusnya menjadi miliknya.</p><p>Jivara menyimpan video itu, ingin bertanya kepada sang kekasih apakah Alvaro masih merindukan mantannya itu? Yang Jivara ketahui putus secara baik-baik, demi Tuhan, Jivara akan melepas Alvaro jika memang benar begitu.</p><p>Mata yang sempat terpejam sejenak itu urung tertutup kembali karena memikirkan hal itu. Jivara tidak siap kehilangan Alvaro, banyak kenangan yang sudah tertoreh di hati gadis itu. Namun Jivara tidak ingin egois, ia tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Alvaro jika itu akhirnya menyakiti mereka berdua.</p><p>Alvaro memang akhir-akhir ini sempat khawatir kepadanya, hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan. Meski begitu, mereka tampak saling mencintai dan mengkhawatirkan keadaan satu sama lain, apalagi setelah pertemuan terakhir mereka yang tidak terlupakan.</p><p>Jivara memegang kepalanya yang mulai berdenyut menyakitkan itu, ia memegang meja karena matanya menggelap secara tiba-tiba. Kembali ia memikirkan yang aneh-aneh, bagaimana jika Alvaro selingkuh diluar sana? Bagaimana jika Alvaro ternyata hanya — cukup Jivara, kamu berlebihan.</p><p>Nyatanya… Alvaro juga merasa begitu. Ia penasaran mengapa akhir-akhir ini Jivara mengabaikannya. Bukan, bukan mengabaikannya secara terang-terangan, namun secara halus. Seperti lambat membalas pesan, tidak excited, dan beralasan bahwa ia sedang sibuk. Hal itu berdampak pada hubungan keduanya, ia mulai merasa hubungannya hambar dan tawar, tidak seperti dulu.</p><p>Terlebih lagi karena ia sempat melihat Jivara tengah asik berbalas pesan dengan seseorang yang tidak diketahui. Meski Jivara sudah memberikan alasan kuat bahwa itu adalah nomornya, tidak memberikan alibi bahwa… Jivara akan selingkuh dibelakangnya, ‘kan?</p><p>Alvaro dan Jivara itu, tidak bisa hidup sendiri, mereka akan merindukan satu sama lain. Sama seperti Jivara yang akan mengatakan ia <em>kangen</em> dengan Alvaro, maka aku juga merindukanmu. Sama seperti Jivara mengkhawatirkan Alvaro, maka aku juga sama mengkhawatirkanmu. Sering-seringlah memberi pesan meskipun aku tahu bahwa duniamu bukan hanya aku, dan sering-seringlah bertingkah lucu dan membuatku tertawa karena membaca pesanmu itu, karena itu membuat hari-hariku semakin berwarna. Jadi, aku mau egois kali ini, jadikan aku satu-satunya gadismu.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*3mvgZL_24FcFswHgY1Mtfg.jpeg" /><figcaption>December 22th, 2024</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e4e18d84766e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tiffany, wanita bisu]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/tiffany-wanita-bisu-6c0cf77b434c?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6c0cf77b434c</guid>
            <category><![CDATA[knowledge]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Dec 2024 13:52:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-22T14:31:27.265Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Aku pasrah jika uang sudah berbicara, aku berdosa.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*bRsS6rePjpTwgJdnMv0QwQ.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life</figcaption></figure><p>Tiffany tampak menatap amplop tebal didepan wajahnya itu dengan raut nestapa. Ia melirik kearah wanita yang tersenyum sinis seraya menunjukkan emas-emasnya itu.</p><p>“Bagaimana, Ibu Guru? Bisakan anak saya naik kelas? Saya yakin uang itu bisa membuat hidup anda nyaman.” Jelas wanita itu congkak.</p><p>Mulut Tiffany terkunci rapat, seolah-olah dilakban oleh uang. Ia menarik amplop tersebut, menaruhnya di laci lalu menyoret rapor Vian dari tidak naik kelas menjadi naik kelas.</p><p>“Aduh, gini dong dari tadi.” Ujar wanita itu sebelum menarik rapor anaknya dengan kasar, ia tampak melenggokkan pinggulnya dengan angkuh.</p><p>Wanita kedua datang, kali ini agak lusuh. Pakaiannya compang-camping, ia tampak berjalan dengan segan karena kakinya yang kotor. Senyum Tiffany mengembang, ia tampak menyuruh ibu itu duduk dengan sopan.</p><p>Berbincang cukup lama, ibu itu tampak mengerutkan keningnya, ia ragu untuk menanyakam hal yang mengganjal dihatinya itu.</p><p>“Sepertinya ibu ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja, ibu.” Ujar Tiffany dengan lembut.</p><p>“E-eh, ini… anak saya kemarin diumumkan menjadi juara 1 kenapa turun menjadi juara 2?”</p><p>Tiffany membeku, ia meremat rok spannya itu dengan gugup. “Ah… begini ibu, kemarin ada kesalahan teknis, saya seharusnya menyebut Aldo sebagai juara 1, dan Ifran menjadi juara 2.”</p><p>Hati nurani Tiffany seolah-olah diremas kencang, kembali uang berbicara. Ibu Aldo sebelumnya protes mengapa anaknya mendapat juara 2, sementara anak petani mendapat juara 1. Ibu Aldo menyogok Tiffany dengan uang, ia tidak bisa berkata-kata, membiarkan atau jabatannya sebagai guru yang harus direnggut secara paksa.</p><p>Ibu Ifran mengangguk tampak kecewa, ia akhirnya mengambil rapor anaknya lalu pergi meninggalkan ruangan Tiffany.</p><p><em>“Maaf, bu. Zaman sekarang… uang menentukan segalanya.”</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*3mvgZL_24FcFswHgY1Mtfg.jpeg" /><figcaption>December 17th, 2024</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6c0cf77b434c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kala, wanita buta.]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/seharusnya-kala-diseret-saja-8304904a1ca7?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8304904a1ca7</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Dec 2024 12:26:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-22T14:30:24.892Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Cinta itu buta, Kala salah satu contohnya.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*bRsS6rePjpTwgJdnMv0QwQ.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life</figcaption></figure><p>Denging telinga Kala terasa menyakitkan saat Juan dengan teganya menjambak dan menghantamkan kepala Kala ke dinding, <em>lagi</em>.</p><p>Kala sudah biasa mendapatkan perlakuan tidak enak ini, bagaimanapun juga, Kala mencintai Juan. Juan menghantam kepala Kala berkali-kali, menyalurkan rasa amarah yang ia rasakan. Bibir semerah buah persik itu berkali-kali meminta ampun, namun tidak dihiraukan oleh sang empu.</p><p>“A-ampun, Juan…” Lirih itu tidak terdengar di telinga Juan yang tersumpal amarah, dengan kejinya ia menendang punggung Kala hingga terjerembab dan menghantam ujung meja.</p><p>Bercak darah ada dimana-mana, hidung, kepala, bahkan mulut Kala memuntahkan darah saking kerasnya hantaman Juan.</p><p>Juan meludah, ia berdecih kesal saat Kala sudah kehabisan tenaga padahal ia belum selesai menjadikan Kala samsak pribadinya.</p><p>“Kamu cinta aku, ‘kan, Kala? Bangun, sayang… Aku belum selesai…” Teriakan pilu kembali terdengar, Juan menarik kuat rambut Kala hingga beberapa rambutnya tercabut dan mengeluarkan darah segar.</p><p>Selalu seperti ini, Kala bahkan sampai hafal apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah memukulinya, Juan akan mengobatinya dan meminta maaf, berdalih bahwa ia melakukan itu secara tidak sadar. Bodohnya, Kala memaafkan Juan.</p><p>Tubuh Kala ambruk kelantai yang dingin saat Juan akhirnya memberikan tamparan terakhir dan menninggalkan Kala begitu saja. Iya, cinta itu… buta, ‘kan?</p><p>— Kalana Abiraya, Selasa 17 Desember 2004-Selasa 17 Desember 2024.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*3mvgZL_24FcFswHgY1Mtfg.jpeg" /><figcaption>December 17th, 2024</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8304904a1ca7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tessa, wanita celaka.]]></title>
            <link>https://medium.com/@_dabelyu/untuk-apa-khawatir-jika-akhirnya-tessa-yang-menghancurkan-semua-c00d6864f9de?source=rss-37fdc2e4fae3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c00d6864f9de</guid>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Mrs. Chang]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Dec 2024 07:34:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-22T14:29:06.581Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>— Untuk apa khawatir jika akhirnya Tessa yang menghancurkan semua?</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*bRsS6rePjpTwgJdnMv0QwQ.jpeg" /><figcaption>London, Love, Life</figcaption></figure><p>Jemari Tessa yang hendak mengetik berhenti diudara, ia tampak merasakan setitik penyesalan dalam nadinya. Ia selalu mewanti-wanti kekasihnya agar tidak berselingkuh dibelakangnya.</p><p>Namun apa? Tessa dengan teganya menyelingkuhi kekasihnya dengan alasan yang tidak masuk akal, bosan. Manik cokelat itu menyendu, ia akhirnya menutup aplikasi Telegram-nya. Jarinya menekan aplikasi WhatsApp, menekan kontak dengan nama, <em>Kesayangan.</em></p><p>Seluruh pesan-pesan penuh kasih sayang langsung tetlihat. Namun jauh dalam lubuk hati Tessa, ia mulai bertanya-tanya, apa ia benar-benar mencintai Shaka…? Atau hanya sekedar cinta sesaat?</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*3mvgZL_24FcFswHgY1Mtfg.jpeg" /><figcaption>December 17th, 2024</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c00d6864f9de" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>