<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Amiruloh on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Amiruloh on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@amiruloh?source=rss-b046711cbf08------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Qc6JqMvorbyn-E7ZoWSJiA.jpeg</url>
            <title>Stories by Amiruloh on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@amiruloh?source=rss-b046711cbf08------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 14:27:30 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@amiruloh/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Aku 1 dari 11.010.514]]></title>
            <link>https://medium.com/@amiruloh/aku-1-dari-11-010-514-9e2f89efda57?source=rss-b046711cbf08------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9e2f89efda57</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Amiruloh]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 05 May 2026 16:54:57 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-05T16:54:57.590Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Suasana gelap malam disertai hujan gerimis yang lambat laun kian mereda, sorot lampu cukup untuk membuatku terlihat ada, bintik bintik air dari pepohonan ditaman ini memang dapat membuat barang-barangku basah, walau tidak sampai membuatku khawatir akan merusak, tidak ada siapa-siapa ditaman ini, terkadang aku membayangkan ada seseorang yang menodongku dengan senjata dan memaksaku memberikan semua harta yang aku punya, namun jika itu terjadi jika tida bisa teriak minta tolong aku akan pasrah, lagipula harta apa yang aku punya, buku seharga 130 ribu rupiah yang belum selesai ku baca? terserah lah, lagipula aku menemukan judul buku yang sama tempo hari yang membuatku menyesal mengeluarkan 10% gajiku, buku di negara ini memang cukup mahal, kadang aku merasa jika desain dari negara ini memang membiarkan rakyatnya bodoh supaya tidak ada yang sadar akan realita dimana penguasa membiarkan rakyatnya untuk tetap ada di garis tidak lapar dan tidak sejahtera tapi cukup untuk membuat siapapun enggan memberontak.</p><p>Menatap jalan layang yang dilalui Bus Transjakarta yang sesak oleh pekerja yang hilir mudik melintasi provinsi untuk tetap hidup aku melihatnya, mereka manusia, apakah pemangku kebijakan di negeri ini dapat melihat seperti yang aku lihat?, kadang rasanya hanya kami yang sama-sama dibawah yang dapat melihat sesama sebagai manusia, aku yakin pejabat-pejabat itu hanya melihat mereka dan diriku sebagai satuan angka, barangkali jika Bus itu terjun dari jalan layang perkara jalan layang yang sudah lama rusak namun tak kunjung di perbaiki yang akan tampil ditelevisi dan dilihat orang-orang atas itu adalah satuan jumlah yang kemudian mereka akan hitung dan tetapkan sebagai variabel yang akan mempengaruhi elektabilitas mereka dalam karir politiknya.</p><p>Barangkali jarang yang merenung jika dalam satu bus penuh yang memuat tiga puluh orang ada tiga puluh cerita disana, tiga puluh masalah, tiga puluh orang yang sama-sama mencari uang barangkali ada puluhan cerita cinta, ada puluhan prespetive soal dunia, ada puluhan rahasia, dan semua cerita mereka ada dalam satu atap bernama Jakarta, disinilah aku, aku satu cerita dari jutaan cerita warga sipil di Jakarta, dalam sibuk dan cepatnya aktivitas di kota ini, mencari tempat yang sunyi, sejuk dengan tamaram lampu taman, memandang ntah kemana, menarik nafas panjang mencium aroma basahnya tanah yang terkena air hujan, terkadang aku ingin memgang tangan hangat seseorang, bertanya bagaimana masa kecilnya, masa remajanya, semua seluk beluk cerita soal hidupnya untuk menganggumi satu kisah panjang yang utuh dari satu orang manusia, aku ingin dia tahu aku disini menyadari kamu ada, dan aku juga ingin berbagi cerita untuk kamu sadari jika aku ada, aku 1 dari 11.010.514 kisah di kota Jakarta.</p><p>Jakarta — 5 May 2026</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9e2f89efda57" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Perpustakaan DPR RI]]></title>
            <link>https://medium.com/@amiruloh/perpustakaan-dpr-ri-6857b0d8f6e3?source=rss-b046711cbf08------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6857b0d8f6e3</guid>
            <category><![CDATA[places]]></category>
            <category><![CDATA[libraries]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Amiruloh]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 21 Jun 2024 06:59:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-21T07:02:26.494Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu rintangan yang perlu dihadapi ketika belajar di rumah adalah, letak geografis rumah yang tidak menguntungkan, contohnya di pinggir jalan yang dilalui banyak kendaran, pinggir rel kereta, di sebuah pemukiman industri, atau di tempat dimana tetangga adalah seorang pecinta musik sehingga ia sangat gembira ketika memutar musik dengan volume yang sangat tinggi dengan tujuan membuat telinga dirinya dan orang disekeliling nya juga menjadi gembira.</p><p>Niat yang baik tapi jika kita paham akan kondisi yang bersangkutan mungkin akan lebih baik untuk mengalah, dan jika memang tidak suka kita perlu bekerja keras sampai kita mampu membeli sebuah rumah di komplek, dengan keadaan yang kondusif, tapi bagaimana jika kita tidak mampu memiliki hunian dan lingkungan yang kondusif? maka perpustakaan mungkin bisa jadi jawaban nya.</p><p>Salah satu privillege saya adalah tinggal di kota besar bernama Jakarta, sehingga saya dapat pergi ke Perpustakaan Nasional agar dapat belajar, namun Provinsi Jakarta ini cukup luas, walau provinsi terkecil di Indonesia, Perpustakaan Nasional dan tempat tinggal saya itu berbeda Kota, saya Jakbar dan Perpusnas ada di Jakpus, akhirnya saya mencari lokasi dimana perpustakaan terdekat.</p><p><strong>Perjalanan</strong>,</p><p>Di google maps akhirnya saya menemukan Perpustakaan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (Perpustakaan DPR RI), dari websitenya saya mendapati informasi jika ini adalah perpustakaan yang terbuka untuk umum dengan koleksi buku kebanyaak Ilmu Sosial dan Politik.</p><blockquote><em>“Perpustakaan DPR RI merupakan salah satu perpustakaan khusus yang terkait dengan isu-isu pembangunan dan politik Indonesia. Selain didirikan sebagai sarana penunjang aktivitas DPR RI, perpustakaan ini juga terbuka sebagai pusat ilmu pengetahuan dan pembelajaran bagi masyarakat umum dengan layanan terbatas hanya dapat dibaca di tempat.”</em></blockquote><blockquote><em>Footer Tentang Kami di perpustakaan.dpr.go.id</em></blockquote><p>Ketika membaca ulasan di Google Maps saya menemukan ada komentar seperti ini,</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/387/0*XiXfR3jkv24Pn4Nm" /></figure><p>Saya gagal di UTBK, skor UTBK saya di sub test penalaran membaca itu cukup buruk, UTBK menururt saya akurat ketika saya tidak dapat memahami informasi diatas, sehingga saya kebingungan dan bertanya-tanya, Apakah saya bisa meminjam buku di DPR?, dan apakah saya akhirnya menemukan tempat yang bisa saya jadikan sebagai ruang kelas dimana saya bisa belajar disana? apalagi transportasi ke Perpustakaan DPR itu cukup mudah untuk saya ketimbang Perpusnas, karena saya dapat menggunakan angkot Jak Lingko yang tarifnya Rp 0,-.</p><p>Untuk mengetahui itu semua dan memastikan bagaimananya sayapun mengunjungi Perpustakaan DPR pada 14 Agustus, tidak sampai 20 menit saya bisa tiba di stasiun palmerah, disana saya membuka Google Maps dan agak terkejut, kenapa perlu memutar seperti itu? bukannya gedungnya itu dekat?</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*PxCu3jV8GgDOEh9N" /></figure><p>Saya mengikuti petunjuk dari google maps, dan bisa saya bisa bilang “Itu jauh oyyy, kok bisa malah disuruh jalan lewat sini kenapa gak lewat jalan itu” gumam saya, tapi saya tetap ikuti hingga akhirnya saya bingung ketika disuruh belok tapi hanya ada gerbang dengan pejangga.</p><p>Dari sini pada akhirnya saya tidak fokus ke Maps lagi dan bertanya pada penjaga “Saya mau ke perustakaan, kemana ya?” sayapun diarahkan ke gerbang penjalan kaki dan setelah sampai sayapun ditanya “ada perlu apa?” saya jawab kalau saya ingin berkunjung ke perpustkaan, pertamanya si mas penjaga bilang kalau perpustakaan itu hanya di khususkan untuk mereka yang ada di situ namun sepertinya dia kurang yakin dan mengarahkan saya ke meja dengan ibu berseragam sama seperti mas penjaga yang tugasnya sepertinya lebih ke administrasi atau catatan tamu seperti itu.</p><p>Sayapun mengutarakan niat dan tujuan saya, diawal ibu penjaga bilang kalau ingin berkunjung ke perpustakaan harus ada penanggung jawab atau semacam itulah, namun sepertinya si ibu juga kurang yakin sehingga dia bertanya ke rekan nya “Perpustakaan sudah dibuka untuk Umum ya?” yang kemudian dijawab oleh rekan nya “Iya sudah”.</p><p>Akhirnya saya di izinkan masuk, si ibu bertanya saya dari Universitas mana, dia meminta KTP atau tanda pengenal saya dan ditukarkan nya dengan tanda “Tamu” yang biasa digantungkan di leher.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*JW1MU58b72vh8Srk" /></figure><p>Saya terkejut karena saya tidak mengira dan tidak mencerna tulisan di websitenya, saya baru tahu jika Perpustakaan ini berada di dalam Komplek DPR RI yang terkenal dengan komplek senayan itu ketika sudah mendapatkan tanda “Tamu” seperti diatas, saya pikir perpustakaan nya seperti Perpusnas yang ada di jalan umum, dan ternyata saya salah</p><p><strong>Perpustakaan DPR RI</strong></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*7qRrDDRf7Eg3VB-c" /></figure><p>Saya bertanya kepada pustkawan nya (yang bekerja di dalam perpustakaan saya sebut demikian, maaf jika saya salah dan silahkan koreksi di kolom komentar), “Apakah umum bisa meminjam buku di perpustakaan ini?” ternyata tidak, pengunjung umum hanya bisa membaca buku di tempat saja, koleksi bukunya di lantai 2, saya masuk dan bertemu dengan 2 orang pustkawan yang berjaga, dan sebelum masuk lebih jauh saya mengisi daftar tamu, online ya dengan form google form yang linknya ada di QR di meja pustkawan.</p><p>Seperti informasi yang saya dapatkan dari Google Maps kebanyakan buku adalah buku Ilmu Sosial dan Politik, ada juga bagian khusus “Terbitan DPR” sebelum masuk dan bertemu pustakawan, tempatnya sangat bersih dan rapih, bagian Multimedia Center disediakan tempat duduk yang nyaman, di ruangan itu juga ada meja dan kursi yang nyaman juga, ada buku berbahasa inggris, dan ada beberapa buku yang menarik tapi saya urungkan niat saya untuk membaca nya karena ketika itu waktu menunjukan jam 14:45 WIB, berdasarkan informasi dari pustakawan, perpustakaanya itu tutup jam 16:00 WIB, yang pada akhirnya saya pakai waktunya untuk membaca buku yang saya pinjam dari Perpustakaan Nasional yang belum saya selesaikan bacanya.</p><p>Amiruloh, 15 Juli 2023</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6857b0d8f6e3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>