<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Anna Rain on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Anna Rain on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@anna-rain?source=rss-f7c40501e645------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*YOOw-sr_dfGIdjLsOXmkUA.png</url>
            <title>Stories by Anna Rain on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@anna-rain?source=rss-f7c40501e645------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 27 May 2026 04:22:28 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@anna-rain/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Sangat Cepat]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/sangat-cepat-097b98ad3c4a?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/097b98ad3c4a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 30 Apr 2026 00:06:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-30T00:16:17.254Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*msfEMihVrCl2jyBIXldLGA.png" /></figure><p><em>a kind of reminder about</em></p><p><strong><em>dzikrullah</em></strong></p><p>.</p><p>.</p><p>.</p><p>Beberapa waktu belakangan ini, aku cukup memperhatikan peristiwa laka lantas di beberapa sumber berita. Aku turut berduka atas luka dan kepergian para korban. Semoga Allah berikan ketabahan kepada keluarga beserta kerabat.</p><p>Mulai dari salah satu kejadian laka pemotor VS truk tronton di jalan raya. CCTV menyorot kejadian nahas itu. Seorang pemotor wanita, lengkap dengan jaket dan helm, sedang melintas di samping sebuah truk tronton yang sama-sama berjalan pelan. Aku tidak begitu ingat detailnya, entah karena jalan berlubang atau karena bersenggolan dengan badan truk, akhirnya pemotor wanita itu jatuh dari motornya. Jatuh <strong><em>tepat </em></strong>di bawah truk tronton dan <strong><em>tepat </em></strong>di area <em>blind spot. </em>Narasi berita itu pun mengatakan: pemotor wanita itu tewas. Ia berpulang ke sisi-Nya — tanpa berisik, tak butuh waktu berjam-jam, hanya hitungan detik.</p><p>Lalu, satu kejadian laka lainnya, yang baru terjadi dua hari lalu, yakni tabrakan kereta listrik (KRL) dengan kereta api (KA) Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Aku sempat <em>lupa </em>pada kemungkinan laka kereta, bahwa kereta adalah transportasi yang cukup aman, minim kecelakaan, karena tidak bisa kebut-kebutan ataupun saling senggol seperti motor-mobil di jalan raya. Tapi tidak. Allah mengingatkan bahwa: <em>jika Allah berkehendak, maka terjadilah.</em></p><p>Aku melihat satu video ketika salah satu penumpang yang terluka diwawancara. Dia mengatakan: <em>‘keretanya menabrak sangat kencang, sehingga tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri’.</em></p><p>Kejadian laka lainnya, terjadi di jalan dengan lampu merah di Sulawesi Selatan. Seorang pria sedang berhenti di jalan karena lampu sedang merah. Nahas, <em>with no sign</em>, seorang pengendara motor lainnya hilang kendali, kemudian menabrak pria tadi yang berhenti hingga kendaraan mereka hancur. Sang pria yang tak bersalah itu telah dibawa ke rumah sakit, namun ternyata nyawanya tak tertolong. <em>With no sign. </em>Kadang, kecelakaan terjadi ketika kita sudah hati-hati, namun orang lain yang tidak. Siapa yang mengatur itu semua? Allah. Maka mintalah pertolongan selalu kepada-Nya.</p><p>Dari tiga kejadian itu, aku menyoroti satu hal: <strong><em>sangat cepat </em>peristiwa laka itu terjadi. <em>Sangat cepat </em>kematian itu menjemput kita.</strong></p><p>Allah berfirman dalam QS Al-’Ankabut: 57</p><blockquote>كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ ۝٥٧<br>“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”</blockquote><p><em>Unexpectable time, unexpectable place, unexpectable moment — </em>kita tidak akan pernah tahu persis sampai kapan batas waktu hidup kita di dunia. Kita sedang apa, sedang di mana, sedang bersama siapa, dan apakah pada saat itu amal ibadah kita sudah cukup untuk dihadapkan kepada Allah?</p><p>Satu hal yang pasti untuk dipersiapkan selama kita hidup di dunia: kematian.</p><p>Bismillah. Kembali diingatkan akan pemutus segala nikmat di dunia ini, yakni kematian. Semoga Allah selalu dekatkan kita dengan taubat. <em>Ya Rabb, mudahkanlah hamba-Mu untuk beristighfar sesegera mungkin ketika melakukan kesalahan, baik itu baru sampai di pikiran ataupun perbuatan.</em></p><p>Selalu minta pertolongan kepada Allah, agar Allah selalu mudahkan kita untuk selalu mengingat-Nya di manapun dan kapanpun, agar setiap yang kita kerjakan niatnya lurus, Allah menerima semua amal ibadah kita. Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam:</p><blockquote><em>اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ</em></blockquote><blockquote>“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)</blockquote><p>Langitkan selalu harapan kita melalui doa — dengan penuh harap dan cemas — kepada Sang Pemilik jiwa, Allah ‘Azza Wa Jalla.</p><p>Depok, 29 April 2026 / 11 Dzulqa’dah 1447 H</p><p>With love,</p><p>Anna Rain</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=097b98ad3c4a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tetap Semangat Karena Kita ‘Tidak Lupa’]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/tetap-semangat-karena-kita-tidak-lupa-abba979974de?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/abba979974de</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 18 Apr 2026 10:35:03 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-18T10:35:03.283Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Boleh jadi, ketidakpercayaan diri itu muncul karena <em>lupa. </em>Lupa terhadap target besar yang pernah diikrarkan dalam hati.</blockquote><p>Teringat salah satu nasihat dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri <em>hafidzahullah </em>terkait salah satu masalah yang terjadi ketika seseorang sedang mengejar keutamaan 10 malam terakhir di Ramadan. Permasalahan tersebut adalah <strong><em>mengantuk.</em></strong></p><p>Beliau memberikan perumpamaan yang sangat mudah diingat dan dipahami.</p><p>Bayangkan kamu sedang menunggu pesawat di bandara. Tiba-tiba, kantuk yang teramat sangat pun datang. Singkat cerita, kamu pun <em>ketiduran. </em>Tak berapa lama, kamu terbangun karena mendengar panggilan terakhir dari pesawat yang akan kamu tumpangi. Apakah <em>ngantuk </em>tadi jadi hilang? <em>Ya! </em>Bahkan bangun-bangun langsung lompat, bukan? :’)</p><p>Sama halnya dengan semangat ibadah kita di 10 hari terakhir Ramadan.</p><p>Ustadz Nuzul menjelaskan, ketika kita tidak ingat bahwa <em>lailatul qadar</em> keutamaannya seperti 1000 bulan, maka ngantuk itu akan tetap tereksekusi menjadi tidur.</p><blockquote><strong>Ketika manusia ingat, maka <em>azzam </em>(tekad)-nya jadi kuat.</strong></blockquote><p>Hal ini <em>align </em>dengan firman Allah dalam Al Quran. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman dalam surah Thaha: 115,</p><blockquote><em>وَلَقَدْ عَهِدْنَآ إِلَىٰٓ ءَادَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِىَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُۥ عَزْمًۭا ١١٥</em></blockquote><blockquote>“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.”</blockquote><p>Hal yang dapat kuambil dari ayat dan penjelasan tersebut adalah bahwasanya <strong>kita dapat menjadikan ‘lupa’ ini sebagai ‘tanda’</strong>.</p><p>Misalnya, pada awal Ramadan kamu sudah berikrar untuk memperjuangkan 10 hari terakhir sebagai puncak ibadah. Kamu sudah <em>prepare</em> kopi dan meniatkan setiap tidur siang agar malam dapat terjaga. Namun, <em>qadarullah</em> pada malam ke-21, kantuk datang. Katamu, <em>“Ah, sebentar deh </em>merem<em> 10 menit..”</em></p><p>Dan, ya. Tiba-tiba mikrofon masjid membangunkanmu untuk sahur. Entah hilang kemana kesadaran itu :’)</p><p><em>“Astaghfirullah,” </em>Katamu sambil mengusap wajah<em>. “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”</em></p><p>Seketika pagi itu hatimu sesak. Kamu melewatkan malam ke-21 dari target-target yang sudah kamu rencanakan.</p><p>Saat <em>case</em> seperti ini muncul dalam aktivitasku, aku akan mengartikannya sebagai tanda untuk mengecek kembali: <em>Apakah aku sudah bersungguh-sungguh dalam berniat dan bertekad?</em></p><p>Sejak aku menyadari hikmah ini, aku menyiapkan rencana agar kedepannya bisa lebih baik memanajemen diri. Semoga Allah meridhoi.</p><p>How Did I Learn?</p><p><strong>Pertama</strong>, aku mengidentifikasi bahwa masalah yang dapat diselesaikan adalah terkait <strong>lupa.</strong></p><p>Maka, <em>flows</em>-nya akan seperti ini:</p><p><em>Tidak lupa terhadap keutamaan amalan shalih → Semangat beribadah tinggi</em></p><p><strong>Kedua</strong>, aku mencoba untuk ambil salah satu amalan saja terlebih dahulu untuk dicoba dalam menerapkan ini.</p><p>Karena saat ini masih di bulan Syawal, <em>vibes syahru qur’an</em>-nya masih berasa, dan aku ingin coba istiqomahkan, maka aku pilih amalan tilawah <em>one day one juz</em>.</p><p><strong>Ketiga</strong>, di sinilah penerapannya. Aku menuliskan beberapa keutamaan memperbanyak tilawah Quran dalam buku catatanku.</p><p><em>Plan</em> selanjunya, aku juga akan membuat satu poster berisi satu quotes saja yang dapat membuat aku teringat terhadap seluruh keutamaan tersebut.</p><p>Harapannya, diri ini akan selalu mengingat keutamaan memperbanyak tilawah, sehingga selalu bersemangat untuk tetap istiqomah.</p><p>Dan yang paling penting, gantungkan harapan kita kepada Rabbul ‘alamin ^-^</p><p>Depok, 8 Syawal 1447 H</p><p>Best Regards,</p><p>Anna Rain</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=abba979974de" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Aku Suka]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/aku-suka-ed5dfdc57bc0?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ed5dfdc57bc0</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 10 Nov 2025 00:26:24 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-10T00:26:24.931Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>bekerja dalam keadaan berpuasa.</p><p>Ada dua hal yang menjadi alasannya.</p><p>Pertama, ketika berpuasa <strong>ketergantunganku terhadap sesuatu jadi nihil.</strong> Saat mengantuk, aku biasanya mengandalkan kopi. Namun, jika berpuasa, aku lebih banyak menggantungkan harapanku kepada Dzat Yang Mahamenyayangiku untuk menjauhi kantuk tersebut.</p><p>Selain kantuk, ketika berpuasa, aku pun menggantungkan<em> </em>hasil pekerjaanku<em> </em>kepada-Nya. <em>Apapun kondisiku, aku harap kepada-Mu, Ya Rabb, bahwa urusan-urusanku akan jauh lebih mudah selesai. </em><strong><em>Bukan</em></strong><em> karena </em>I’m in a good mood<em>, sehingga pekerjaanku jadi mudah selesai.</em></p><p>Kedua, <strong>terkait keberkahan</strong>. Semakin kita berjuang, berbeda dari orang lain, maka yakinlah bahwa Allah juga punya catatan khusus untuk amal kita. Kita kerja, menuju kantor dengan perjalanan puluhan kilometer, bekerja hingga malam, tentu menjadi rutinitas yang tidak boleh menghalangi kita untuk berpuasa, ‘kan?</p><p>Ketika kita memilih untuk berpuasa sunnah, walaupun tahu akan letih, maka yakinlah Allah melihatnya dan menyimpan ‘hadiah’ terbaik untuk keikhlasan niat kita. Salah satu prinsipku, <em>semakin berat maka akan semakin berkah.</em></p><p>#JadiMakinSemangat 🔥</p><p>Pagi hari di Jakarta Selatan,</p><p>November 10th, 2025th.</p><p>Anna Rain</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ed5dfdc57bc0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[you have some reason to calm down your mind.]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/you-have-some-reason-to-calm-down-your-mind-cb098abdfc2f?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cb098abdfc2f</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 19 Jul 2025 22:53:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-19T22:59:38.925Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*LN4y2OihiFK7qnzl1LtFXQ.jpeg" /></figure><h4>#1 problems near you</h4><p><em>“Hakikat kehidupan adalah berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain. maka ilmu sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan ini.”</em> [Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri <em>hafidzahullah</em>]</p><p><em>Timeline </em>kehidupan setiap orang <strong>pasti </strong>berbeda-beda dan <strong>pasti </strong>ada ujian di setiap tingkatannya.</p><p>Tenanglah..</p><p>Setiap keistiqomahan pasti pernah menemukan celah.</p><p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah </em>berkata,</p><blockquote>“Setiap usaha istiqomah pasti ada celahnya, pasti ada kekurangannya. Dan celah itu hanya bisa ditambal dengan istighfar.”</blockquote><p>Jika ujian datang menemui dirimu, percayalah bahwa kamu mampu. Allah memberikan ujian tersebut karena Dia tahu bahwa kamu bisa melewatinya. Tak henti-hentinya lupa terhadap QS Al Baqarah/2: 286,</p><p><em>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..”</em></p><h4>#2 imperfect person and istighfar</h4><p>Kalau kata Ustadz Firanda Andirja <em>hafidzahullah, </em><strong><em>sudahi overthinking-mu — mari perbanyak istighfar :)</em></strong></p><p>Hal ini sangat sejalan dengan sabda <em>uswatun hasanah </em>kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam,</p><p><em>“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” </em>[HR. Ahmad dari Ibnu Abbas]</p><p>Terkait istighfar juga, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah </em>berkata,</p><p><em>“Istighfar adalah sebaik-baik amal kebaikan, dan pintunya sangat luas. Barangsiapa merasakan kekurangan dalam ucapannya, amalnya, rezekinya, atau hatinya yang tidak tenang, maka hendaklah ia memperbanyak istighfar.”</em> [Majmu al-Fatawa (11/698)]</p><p>Kita (manusia) tidak dituntut untuk menjadi sempurna, namun kita dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Karena sejatinya manusia memang makhluk yang lemah dan <strong>sangat </strong>membutuhkan pertolongan Rabb-nya.</p><p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p><p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ</p><p>“<em>Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji</em>.” (QS. Fathir: 15)</p><h4>#3 limitless negative thoughts and dua</h4><p>Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata,</p><p><em>“Tidaklah Allah Ta’ala memerintahkanmu untuk berdoa, melainkan karena Dia hendak mengabulkannya untukmu.”</em> [Syarh Riyadush Shalihin 1/893]</p><p>Lalu, dengan narasi yang sama, Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Seandainya Allah tidak menginginkan mengabulkan doamu, Dia tidak akan mengilhamkan untuk berdoa.” </em>[Uddatus Shobirin 60]</p><p>Akhir kata, semoga hadits ini senantiasa menyemangati kita <em>for every single step.</em></p><p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p><p>الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ</p><p><em>“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. </em><strong><em>Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah</em></strong><em>. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” </em>[HR. Muslim]</p><p>Depok, July 20th 2025th / 24 Muharram 1447 H</p><p><em>/juga terinspirasi dari diskusi with someone</em></p><p>Best regards,</p><p>Anna Rain</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cb098abdfc2f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[My Stress Management]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/stress-management-in-my-opinion-d699fcbb7875?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d699fcbb7875</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 03 May 2025 00:13:05 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-03T04:53:36.905Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*dzohWtkoYgbNeL47X9_wgQ.png" /></figure><p>Bismillah. Halo, gais!</p><p>Beberapa hari lalu, aku sempat ada di tahap yang dipenuhi oleh <em>anxiety</em> alias kecemasan. Bahkan nggak bisa berucap apa-apa kecuali istighfar.</p><p>Di momen itu, aku coba untuk <em>let it flow</em> dan memahami diri sambil terus istighfar. Setelah cukup tenang, <em>I found </em>sebuah kalimat yang sepertinya memang Allah takdirkan sebagai hikmah dari kejadian itu ☺️</p><p><em>My deepest heart said,</em></p><blockquote>“Jangan cuma dipikirin ya, <em>better to start with small things</em> yang bisa kamu kerjain, Feb..”</blockquote><p>Alhamdulillah. Seketika kecemasan itu benar-benar berangsur hilang. Habis itu tapi nangis dikit wkwk, <em>gapapa</em> ^^</p><p>Selain itu, aku juga coba <em>recall</em> hal-hal yang jadi penenang aku di saat cemas, setelah <em>dzikrullah</em>, yang masih rutin kulakukan. Berikut <em>the list </em>nya! 🌠</p><h3>#1 Journaling</h3><p>Menurutku, menulis itu alternatif dari bicara secara langsung. Aku gak sepandai itu dalam bicara, gais :D <em>So</em> biasanya, kalo beban di kepala terasa banyak banget, aku coba tuangkan dengan tulisan tangan.</p><p>Kita yang saat ini lagi di masa-masa produktif biasanya memang dipenuhi <em>to-do-list</em> yang terkadang membebani kepala, kan? :D</p><p>Coba deh tulis apa yang ada di pikiranmu, ga harus <em>acitivity</em> sih, bisa juga <em>ideas</em> yang tiba-tiba muncul, atau kadang juga evaluasi yang tiba-tiba kepikiran. <em>We need to provide book and pen</em> aja.</p><p><em>Kenapa ga di HP or digital media lain?</em> Kalo aku lebih cocok pakai buku dan pena. Karena <em>stress release-</em>ku bisa terjadi ketika tanganku nulis, hehe. Kalo di HP lagi atau laptop lagi, bukannya <em>stress release</em> malah nanti kepikiran yang lain :”</p><h3>#2 Principle when having to-do-list</h3><p>Nah, ini nih penting banget juga! &gt;&lt;</p><blockquote>Kamu ga harus menyelesaikan semua hal di to-do-list kamu, kok! ^^</blockquote><p>Pastiin yang terpenting adalah kamu <strong><em>enjoying the process.</em></strong> Jangan sampai ga bisa nafas ya gegara ngejar predikat “<em>done</em>” :’</p><p>Nah ini ada korelasinya juga sama <em>‘kenapa write down-nya pake tulis tangan’ </em>karena memori kita jauh lebih lekat kalo kita nulis pakai tangan, gais. Jadi, kalau semisal <em>task</em> yang kita tulis gak <em>done</em> di hari itu, kita bisa lebih ingat untuk <em>reschedule to another day</em> or using metode ‘cicil’ ^^</p><h3>#3 Focus on your own track</h3><p>Kamu boleh tengok progres orang lain, tapi bukan untuk ngebandingin ya ^^</p><p>Percaya deh bahwa setiap orang itu unik; termasuk cara-caranya untuk menyelesaikan misi kehidupannya. Orang lain kecepatannya boleh 50 km/jam, kamu juga boleh ‘kok 30 km/jam aja, karena kamu juga nyambi aktivitas lain, kan? ^^</p><h3><strong>#4 Understand yourself first, please.</strong></h3><p>Pahami kapasitas diri sendiri dulu, ya. Kamu harus yakin bahwa kamu sudah jadi orang terdekat yang sangat paham sama dirimu sendiri. Siapa lagi yang ngenalin <em>the main character</em> kamu selain dirimu sendiri? :D</p><p>PR buat kita bersama, yaa.</p><h3>#5 Selalu bersyukur ✨️</h3><p><em>Last but not least, </em>kamu harus yakin bahwa kamu tetap setiap waktunya selalu ber-<em>progress</em>, syukuri tiap <em>progress</em> itu, sekalipun baru masukin <em>task ke to-do list </em>:D</p><p>Kalaupun masih belum sepuas itu dengan progres diri sendiri, bolelah tuliskan ketidakpuasan tersebut sebagai bahan evaluasi. <em>InsyaaAllah</em> suasana hati kita akan jauh lebih baik karena kita yakin masih ada <em>next chance</em> untuk memperbaiki itu secara perlahan-lahan.</p><p>Alhamdulillaah, <em>allahul musta’an </em>🌸</p><p>Jangan lupa <em>to always prioritize </em>minta tolong sama Allah dulu, yaa. Semoga bermanfaat buat kita semua ^^</p><p>Best regards, Anna Rain 🌌</p><p><em>5 Dzulqa’dah 1446 H | 3 Mei 2025</em></p><p>🛤 Depok, West Java</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d699fcbb7875" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sehat sebelum Sakit]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/sehat-sebelum-sakit-1aa70a559d62?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1aa70a559d62</guid>
            <category><![CDATA[motivation]]></category>
            <category><![CDATA[health]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 09 Apr 2025 01:06:19 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-09T01:06:19.684Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*IcF_nxeUV0bH9J-debIX3A.png" /></figure><p>Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wassallam bersabda dalam dua riwayat hadits,</p><blockquote>“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)</blockquote><blockquote>“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341)</blockquote><p>Saudaraku, tidakkah peringatan dari <em>uswatun hasanah </em>kita ini menjadi tamparan keras bagi kita yang masih lalai dalam kehidupan ini?</p><p>Hal ini saya rasakan sendiri saat beberapa hari yang lalu saat Allah memberikan ujian berupa sakit. Saya merasakan bahwa banyak pekerjaan dan amanah yang menumpuk saat itu, namun tidak bisa saya kerjakan karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. <em>Qadarullah, </em>walaupun dipaksakan, sepertinya juga tak bisa, karena kemampuan fokus dan konsentrasi yang berkurang.</p><p>Saya teringat dengan dua hadits di atas, bahwa Rasulullaah telah mewanti-wanti umatnya agar selalu memanfaatkan waktu dengan baik. Nyatanya memang sehat tidak akan berlangsung selamanya, waktu akan terus berjalan, dan tidak akan bisa kembali.</p><p><em>Bismillah. </em>Mulai detik ini, <em>yuk </em>manfaatkan segala kenikmatan yang telah Allah berikan dengan semaksimal mungkin ദ്ദി(˵ •̀ ᴗ — ˵ ) ✧</p><p><em>10 Syawal 1446 H / 9 April 2025</em></p><p><em>Depok city, West Java</em></p><p><em>Anna Rain</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1aa70a559d62" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Di Balik Sebuah Kemudahan]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/di-balik-sebuah-kemudahan-995822bb2f09?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/995822bb2f09</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 26 Dec 2024 06:37:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-26T06:37:58.714Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*XwiIVNYKX9AweXJNr4mTcA.png" /></figure><p>Ditanyakan kepada Ustadz,<br>“Saya sedang diuji oleh Allah, istri dan anak saya sakit, bisnis saya diambang kebangkrutan, tabungan saya habis. Apa nasihat Ustadz kepada saya?”</p><p><em>Then</em>, Ustadz jawab: <br>“Bagaimana kalau dibalik: ‘istri dan anak saya sehat wal afiat, bisnis saya sukses, tabungan saya numpuk’ <em>bukankah itu ujian juga</em>?</p><p>Jangan lihat suatu ujian berdasarkan hal-hal yang konotasinya negatif saja, <strong>manusia juga diuji dengan kemudahan dan kelapangan</strong>.”</p><p>-Ust. M. Nuzul Dzikri hafidzahullah</p><p>Dec 21st, 2024th.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=995822bb2f09" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Memaknai Kehilangan]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/memaknai-kehilangan-55cf94b7cbc9?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/55cf94b7cbc9</guid>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <category><![CDATA[sad]]></category>
            <category><![CDATA[allah]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 10 Oct 2024 08:54:02 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-10-10T08:57:18.820Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*KFgx52Hm_z9PNk40ed6N8Q.png" /></figure><p>Kala itu, engkau duduk termenung, meratapi langit-langit, yang seakan hampa nan dingin. Air mata mengalir, membasahi pipi, sesak dada seketika.</p><p>Engkau marah, kesal, sedih; bercampur jadi satu dalam satu emosi yang pilu. Tak ada satu pun manusia yang ingin kau temui saat itu. <em>Biarlah</em>, <em>biarlah emosi ini menghabiskan sumbunya sendiri, </em>katamu<em>.</em></p><p>Tak lama, kau teringat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassallam, bahwa untuk mengatasi panasnya emosi ini adalah dengan merubah posisi menjadi lebih rendah. Engkau pun membaringkan tubuh; masih terasa pedih diingatan, namun engkau mencoba mengelak untuk membayangkan.</p><p>Seketika, engkau pun teringat sebuah firman Allah,</p><blockquote>مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)</blockquote><blockquote>“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22–23)</blockquote><p>Saat itu juga, kau pun menangis, bukan karena kesal yang berlanjut, namun karena terharu dengan firman-Nya.</p><p>***</p><p>Janganlah berlarut-larut berduka karena kehilangan sesuatu. Pasti Allah punya rencana indah dari setiap rintangan hamba-Nya.</p><p>Sebagaimana nasihat dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p><blockquote>وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ</blockquote><blockquote>“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” <a href="https://rumaysho.com/1215-jangan-berputus-asa-terhadap-sesuatu-yang-luput-darimu.html#_ftn15"><em>[</em></a><em>HR. Ahmad 5/185]</em></blockquote><p>Semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita sudah masuk dalam rangkaian rencana Allah ‘Azza Wa Jalla. Bukankah Dia adalah Sang Maha Adil?</p><p>Sebagaimana keterangan dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p><blockquote>كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ</blockquote><blockquote>“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” <em>[HR. Muslim no. 2653]</em></blockquote><p>Dalam hadits lainnya disebutkan,</p><blockquote>إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ</blockquote><blockquote>“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qolam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya” <em>[HR. Tirmidzi no. 2155]</em></blockquote><p>Teruntuk jiwa yang sedang bersedih, jangan pernahlah kita luput dari mengingat-Nya. Sebab, inilah kunci keluarnya kita dari kesedihan tersebut. Dengan iman dan takwa-lah hidup kita menjadi jauh lebih tenang.</p><p>Sebuah penutup, ada sebuah perkataan emas <em>uswatun hasanah </em>kita yang sangat membekas, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><blockquote>عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ</blockquote><blockquote>“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.”<em> [HR. Ahmad, 3:117]</em></blockquote><p>Referensi: yufid.com</p><p>Best Regards,</p><p>Anna Rain</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=55cf94b7cbc9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[A Gift from Allah, The Rain]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/a-gift-from-allah-the-rain-c0262bf214ba?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c0262bf214ba</guid>
            <category><![CDATA[rain]]></category>
            <category><![CDATA[allah]]></category>
            <category><![CDATA[moslem]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 05 Jan 2024 16:10:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-01-05T16:14:33.317Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>A Gift from Allah, The Rain.</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*QHtGudiCcvdFkryBmfQ_TQ.png" /></figure><p>Hujan dalam Al-Quran disebutkan dalam dua kata, yakni المطر dan الغيث. Walaupun artinya sama-sama “hujan”, tapi maknanya beda, <em>lho </em>(O_O)!</p><p>Secara spesifik, kata<strong> المطر</strong> bermakna hujan <strong>pembawa petaka, tanpa tanda, </strong>dan<strong> merupakan sumber bencana</strong>.</p><p>Kata المطر disebutkan sekitar 15 kali dalam 9 surah. Salah satunya di dalam surah Huud ayat 82,</p><blockquote>وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ مَّنضُودٖ</blockquote><blockquote>“Dan Kami hujani mereka dengan <strong>hujan</strong> batu yang bertubi-tubi.”</blockquote><p>Lalu, untuk kata <strong>الغيث </strong>bermakna hujan yang merupakan <strong>pembawa kebaikan</strong>. Kata ini disebutkan 6 kali dalam 5 surah. Salah satunya dalam surah Asy Syura ayat 28,</p><blockquote>وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥۚ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ٱلۡحَمِيدُ</blockquote><blockquote>“Dan Dia-lah Allah yang menurunkan hujan sesudah mereka manusia berputus asa, dan Dia menyebarkan Rahmat-Nya, Dia maha melindungi dan maha terpuji.”</blockquote><p>So, mari kita bahas tentang<strong> hujan yang penuh kebaikan ini!</strong> (◍•ᴗ•◍)❤</p><h4>Hujan memberikan banyak-banyak kebaikan pada orang yang beriman</h4><p>Bagi orang beriman, Allah memberikan empat hal melalui hujan. Penasaran? <em>Check this out </em>•ᴗ•</p><p><em>&gt;&gt;&gt; hujan itu..</em></p><p><em>Kesatu</em>, Menyucikan hati -`♡´-</p><p><em>Kedua, </em>Menguatkan hati ⋆˙⟡♡</p><p><em>Ketiga, </em>Menghilangkan gangguan setan ૮ ˙Ⱉ˙ ა</p><p><em>Keempat, </em>Mengokohkan pijakan ˗ˏˋ ★ ˎˊ˗</p><p>Empat hal ini didasari oleh firman-Nya. Allah berfirman dalam QS. Al-Anfāl ayat 11,</p><blockquote>إِذۡ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةٗ مِّنۡهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذۡهِبَ عَنكُمۡ رِجۡزَ ٱلشَّيۡطَٰنِ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ</blockquote><blockquote>“Dan ingatlah saat Allah menjadikan kamu mengantuk dalam peperangan itu (Badr) sebagai suatu <strong>penentram untuk hatimu</strong> dari Nya, dan saat itu Dia menurunkan hujan dari langit yang dengan nya untuk <strong>mensucikan hatimu</strong>, <strong>menghilangkan </strong>darimu dekil-dekil <strong>ganguan setan</strong>, juga <strong>menguatkan hatimu</strong>, serta <strong>memperkokoh pijakan</strong> kakimu.”</blockquote><p><strong>STOP </strong>ngomong bahwa hujan turun karena <em>ini, itu</em>, A B C D dst! (๑•̀ ᴖ •́)૭ Hujan turun dari Allah. Dia yang Maha Menentukan segala bentuk tujuan dari turunnya hujan tersebut.</p><p>Ini <em>nih </em>salah satu penguat bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan itu! Allah berfirman,</p><blockquote>أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا</blockquote><blockquote>“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya…” (QS. Ar-Ra‘d: 17)</blockquote><h4>Hujan dapat membuat seseorang beriman, dan disaat yang sama, menjadi kafir?!</h4><p><em>Kok bisa?!</em></p><p>Dari Zahid Al juhani, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,</p><p>أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ</p><blockquote>“Pada satu pagi, ada di antara hamba Ku yang beriman dan kafir. Orang yang ia berkata, <strong>kita di beri hujan dengan karunia Allah </strong>dan Rahmat nya, itulah orang yang <strong>beriman kepada Ku </strong>dan kafir kepada bintang-bintang.</blockquote><blockquote>Sedangkan orang yang mengatakan, <strong>kita diberi hujan karena bintang ini dan ini</strong>, maka itulah orang yang <strong>kafir kepada-Ku</strong> dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim)</blockquote><p>Karena, ketentuan datangnya hujan ditentukan hanya oleh Allah. Berikut ayatnya,</p><p>Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman menjelaskan lima hal ghaib yang <strong>Dia sendiri yang tahu hal itu</strong>,</p><blockquote>إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ …. ٣٤</blockquote><blockquote>“Di sisi Allah saja ilmu tentang hal ghaib itu, baik terkait dengan waktu <strong>hari kiamat</strong>, ilmu tentang <strong>turunnya hujan</strong>, dan Dia saja yang tau terkait <strong>rahim</strong>, dan tidak lah seorang itu tau <strong>apa yang dikerjakan esok</strong>, serta tidak pula ada seorang pun yang akan tau di <strong>bumi yang mana</strong> <strong>ia akan mati</strong>.” (QS. Luqmān: 34)</blockquote><h4>Salah satu waktu mustajab dalam berdoa: <em>when the rain comes! </em>☔☕︎</h4><p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p><blockquote>و نزول الغيث.</blockquote><blockquote>“Dan berdoa di saat turun hujan.” (HR. Baihaqi)</blockquote><p>Satu lagi, hadits yang menerangkan bahwa hujan adalah waktu terbaik dalam berdoa adalah sebagai berikut.</p><p>Dari Sahl bin Sa’d <em>rahimahullah</em>, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><blockquote>ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ</blockquote><blockquote>“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika <strong>ketika turunnya hujan</strong>.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>. Lihat <em>Shohihul Jaami’</em> no. 3078)</blockquote><p><em>Ssst, jangan lupa ucapkan doa ini ketika turun hujan, ya!</em></p><h4>اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً</h4><h4>“<em>Allahumma shoyyiban naafi’aa</em> [<em>Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].</em>” ₊˚⊹♡</h4><p>Semoga Allah mudahkan aku, kamu, dan kita semua untuk memanfaatkan kesempatan emas ketika hujan ini, agar dapat sebanyak-banyaknya berdzikir kepada Allah •ᴗ• <em>Aamiin allahumma aamiin</em></p><p>With Love,</p><p>Anna Rain (づ๑•ᴗ•๑)づ♡</p><p>[footnote]</p><p><em>sources:</em></p><p>Ustadz Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary حفظه الله تعالى dalam grup WhatsApp Sabilul Khayr Al-Ibana (SKAI) Akhwat</p><p><a href="https://rumaysho.com/1695-turun-hujan-berdoa.html#_ftn3">https://rumaysho.com/1695-turun-hujan-berdoa.html#_ftn3</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c0262bf214ba" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Obat Futur, InsyaaAllah.]]></title>
            <link>https://anna-rain.medium.com/obat-futur-insyaaallah-eb523041d2d6?source=rss-f7c40501e645------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eb523041d2d6</guid>
            <category><![CDATA[quran]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anna Rain]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 12 Nov 2023 16:12:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-11-12T16:12:38.294Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*HQFduyOCapcpOgUNAvGVuA.png" /></figure><blockquote>وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا</blockquote><blockquote>“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Q.S. Al-Israa’/17: 82)</blockquote><p><strong>Al-Quran adalah obat. </strong>Berikut adalah ayat-ayat Al-Quran yang menurutku dapat membangun semangat beribadah kepada Rabbul ‘Alamin.</p><p>—</p><p>Langit dan bumi, makhluk Allah yang sangat besar penciptaannya daripada manusia. Berdasarkan firman Allah,</p><blockquote>لَخَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ اَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ النَّاسِ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ</blockquote><blockquote>“Sungguh, <strong>penciptaan langit dan bumi itu lebih besar</strong> daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” <em>(Q.S. Ghafir/40: 57)</em></blockquote><p>Namun, mereka datang kepada Allah dengan kepatuhan, sepenuh hati, <em>bukan </em>keterpaksaan. Allah berfirman,</p><blockquote>ثُمَّ اسۡتَـوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡاَرۡضِ ائۡتِيَا طَوۡعًا اَوۡ كَرۡهًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَيۡنَا طَآٮِٕعِيۡنَ</blockquote><blockquote>“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, <strong>“Kami datang dengan patuh.”</strong> <em>(Q.S. Fussilat/41: 11)</em></blockquote><p><em>Ya Rabb, langit dan bumi datang kepada-Mu, beribadah kepada-Mu tanpa keterpaksaan, lalu mengapa aku tidak?</em></p><p><em>Padahal penciptaan diri ini tak sebesar langit dan bumi, mengapa tak tergerak hati untuk bertasbih kepada-Mu, yaa Rabbi?</em></p><p>Dan.. Inginkah kita berjumpa dengan Allah di surga-Nya nanti?</p><p>Allah berfirman,</p><blockquote>“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri,” (22) “memandang Tuhannya.” (23) <em>(Q.S. Al-Qiyamah/75: 22–23)</em></blockquote><p>Tidakkah pertemuan hari itu sungguh mengharukan? Pertemuan dengan Tuhan semesta alam, pemilik segalanya, dengan wajah penuh keceriaan, di tempat yang hanya penuh akan kebahagian, <em>limitless hapiness that I called ‘happy ending’.</em></p><p>Best regards,</p><p>Anna Rain</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eb523041d2d6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>