<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by ayna. on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by ayna. on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@aynadays?source=rss-b46c217e64f0------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*C5CZb6uV3ZprplMkDTnpNg.jpeg</url>
            <title>Stories by ayna. on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@aynadays?source=rss-b46c217e64f0------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 14:18:05 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@aynadays/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Numbers Trap]]></title>
            <link>https://medium.com/@aynadays/numbers-trap-acd0e858a350?source=rss-b46c217e64f0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/acd0e858a350</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayna.]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 27 Jan 2023 02:13:34 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-02-02T10:00:54.719Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*jN8GOMdSVKQn4D6C7FRj9w.jpeg" /></figure><p>Kosong.</p><p>Matanya menatap pemandangan di luar sana dengan pandangan kosong. Entah apa yang ada di pikirannya. Sepertinya cukup berkecamuk hingga ia mengabaikan minuman yang ada di hadapannya sejak 30 menit yang lalu.</p><p>Namanya Lulani Azure, mahasiswa tingkat 3 dari salah satu universitas kenamaan Indonesia. Duduk diam di sebuah kafe yang berada dekat dengan kampusnya adalah sebuah kebiasaan yang ia miliki sejak lulus SMA. Sejak ia memutuskan untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi tahun depan setelah gagal telak di semua ujian yang ia ikuti pada tahun itu. Kafe inilah yang membuatnya bertemu dengan Kevandra. Sosok yang tak pernah ia sangka akan sangat setia mendampingi dan membantunya terlebih sejak menduduki bangku universitas.</p><p>Kejadian pagi ini membuatnya memutuskan untuk datang ke tempat ini. Meja nomor 1 lantai 2 Kopi Kawan. Tempat duduk dengan meja yang menempel ke dinding sehingga pelanggan akan langsung dihadapkan dengan pemandangan luar. Biasanya ia akan menggunakan tempat ini untuk mengerjakan tugas atau sekedar menyesap kopi di antara hari-harinya yang sibuk. Namun, kali ini dia hanya butuh waktu sendiri untuk mengurai pikirannya yang rumit.</p><p>Kevandra — walaupun lahir di tahun yang sama dengannya — telah lulus tepat setelah menyelesaikan sidang skripsinya pada minggu pertama Januari lalu. Ia telah mulai bekerja sebagai <em>intern</em> di sebuah perusahaan sambil menunggu waktu wisudanya. Memantapkan hati Lula untuk datang ke Kopi Kawan karena Kevandra pasti tidak akan berada di sana dan tidak harus melihat dirinya yang berantakan. Jujur, ia tampaknya membenci hari-harinya belakangan ini, terutama setelah nilainya yang turun semester lalu dan kalah dalam perebutan KRS* semester ini. Padahal ia telah berada di semester 6 kuliahnya dan semester depan seharusnya menjadi semester terakhirnya jika ia ingin lulus dalam waktu 3.5 tahun.</p><blockquote>*KRS : Kartu Rencana Studi, daftar rencana mata kuliah yang akan diambil seorang mahasiswa pada satu semester.</blockquote><p>“<em>Slow down</em>, La … Nggak ada yang ngejar kamu kecuali pikiran kamu sendiri,” ucap Kevandra pada satu waktu saat menemukan Lula menangis di kafenya.</p><p><em>Slow down.</em> <em>Slow down. Slow down. </em>Ia berusaha untuk mengulangi kata-kata itu dalam benaknya. Terkadang, harus ia akui bahwa ia sering tergesa-gesa dalam hidupnya. Tertinggal satu tahun dari teman seumurnya membuatnya keras pada diri sendiri untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Di satu sisi Lula ingin membuktikan bahwa satu tahun tersebut adalah langkah yang ia ambil sebagai batu pijakan untuk maju lebih jauh. Namun, di sisi yang lain, ia menyadari kapasitas dirinya dan merasa lelah dan kalah untuk dapat berlomba dengan teman sebayanya.</p><p>Tepat saat ia mengusap wajahnya kasar dan memutuskan untuk meminum segelas Americano yang tak terjamah sejak tadi, sebuah suara memanggil bersama dengan tangan yang menautkan jemarinya pada tangan kiri Lula yang menganggur di atas meja.</p><p>“Hai,” sapa Kevandra dengan senyuman bulan sabitnya. Lula menatapnya terkejut. Matanya membelalak, tak menyangka sosok yang ia rindukan akan hadir di hadapannya sekarang. Dengan tatapan yang bingung, ia menurunkan gelasnya dan membalas tautan tangan kirinya dengan kedua tangannya erat. Menggenggam tangan Kevandra dengan kedua tangannya erat sembari mengelusnya pelan dengan ibu jarinya.</p><p>“Halo! Tumben kesini sore, kamu udah pulang?” Lula membuka percakapan sembari membalas senyuman sang tuan di hadapannya. “Udah,” jawab Kevandra yang membalas genggaman tangan Lula erat dengan kedua tangannya juga. “Kalau kamu lupa, ini hari Jumat, Sayang ….” Lula hanya terkekeh mendengar itu, “Iya ya ….”</p><p>“Kamu sendiri, tumben kesini nggak ngabarin aku, hm?”</p><p>“Emang nggak niat mampir … tadi tiba-tiba pengen aja. Kamu juga kan biasanya kalau pulang langsung rumah nggak mampir-mampir dulu.”</p><p>“Iya, sih. Hari ini aku ke kafe soalnya stok barang mau dateng. Terus, mama nitip <em>pastry</em>. Waktu mau ngambil di lantai bawah, Jo ngabarin ada kamu di atas. Aku samperin, deh.”</p><p>Joan adalah sepupu sekaligus sahabat Kevandra yang memiliki minat yang tinggi terhadap kopi. Bahkan mereka berdua yang mencetuskan untuk membangun Kopi Kawan pada tahun pertama kuliah. Harus Lula akui bahwa itu juga salah satu hal yang ia kagumi dari Kevandra. Berani untuk memulai hal baru dan mengambil resiko yang besar.</p><p>“Kamu kenapa?” Kevandra memecah lamunan Lula yang hanya memandangi tangannya yang bertaut pada tangan Kevandra.</p><p>“Capek, ya?” Kevandra melepaskan genggaman mereka di atas meja dan mulai mengelus kepala Lula pelan. “Retoris banget ya pertanyaanku? Padahal dari muka kamu udah kelihatan capek …,” lanjut Kevandra sembari mengelus pipi Lula, mengusap ibu jarinya pada kantung mata Lula.</p><p>Lula yang sebelumnya diam akhirnya tersenyum hambar dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kevandra. “Capek, tapi biasa aja kok … kayaknya perlu adaptasi lagi habis liburan, hehe.”</p><p>“Oh iya, gimana minggu pertama kuliahnya?”</p><p>“Hm ….” Lula menimbang ragu, “<em>Not so good, if I can be honest. </em>Karena kalah rebutan jadinya hari Kamis ada empat matkul, dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Setidaknya Jumat cuman satu matkul jam 8 si, jadi bisa santai dikit ….”</p><p>“Wah, kalau gitu tiap Jumat bisa dong jalan sama aku … Kita <em>self reward</em> karena udah bisa ngelewatin hari Kamis,” canda Kevandra sambil menyandarkan kepalanya pada tangan kirinya di atas meja menghadap Lula sambil tersenyum.</p><p>“Nggak gitu juga, masa tiap minggu <em>self reward</em>, sih. Tapi kalau <em>quality time</em> sama kamu, mau … aku suka,” jawab Lula malu-malu, “Tapi tapi, aku nggak begitu suka sama dosenku hari Jumat, deh. Dapat nilainya susah banget ternyata. Perasaan tadi waktu disuruh presentasi ide essai dadakan aku ngerasa ide aku bagus, tapi dosennya masih kurang puas, terus cuman dapat nilai 70. Ada sih yang dapat 80 bahkan 100, tapi temen-temenku yang lain juga ada yang malah dapat 50, 40 … sadis banget.”</p><p>Kevandra kembali mengelus kepala Lula pelan, mencoba menyalurkan rasa tenang dari tiap usapan yang ia berikan. <em>“Oh ini yang bikin Lula bete.”</em></p><p>“<em>I hope you will never trapped in numbers</em>, La,” ucap Kevandra di tengah elusannya yang dijawab dengan tatapan bingung dari Lula.</p><p>“<em>Sure, numbers exist to define things</em>. Ada 3 mobil, misalnya. Terus, 100 itu artinya sempurna. Tetapi, bukan berarti kalau nggak dapat 100 kamu nggak pantas bahagia. Jangan sampai kebahagiaan kamu ditentuin sama angka aja, La. 70 itu bagus, kok, tapi itu artinya ada ruang untuk berkembang. Entah idenya yang dikemas lebih unik lagi atau pembawaan kamu yang menurut Dosennya kurang. Aku nggak ngomong kamu jelek loh ya karena dapat nilai 70. <em>Try to think that you have a place for improvement and prove your lecturer that you are actually improving</em>. Ujung-ujungnya kita kuliah untuk belajar, kan? Coba kamu deketin dosennya dan tanya kira-kira apa lagi yang bisa dikembangin dari essai yang kamu buat.”</p><p>Lula mulai menatap Kevandra dengan mata yang berbinar. Kevandra benar. Hanya karena ia tidak mendapat nilai sempurna bukan berarti ia tidak pantas untuk bahagia atau malah tidak bersyukur. Ia harus lebih sering berterima kasih pada dirinya sendiri yang telah mampu melewati masalah yang ada hingga saat ini.</p><p>“Hm, aku paham …. Jadi, jangan sampai aku terjebak untuk mengejar angka padahal angka itu nggak bakal ada habisnya, ya? Sama kayak, jangan sampai aku buru-buru ngejar untuk dapet semua di umurku sekarang sampai ngerasa sedih atau marah kalau aku nggak dapat semua itu ….”</p><p>“Iya. Punya target itu bagus loh ya, La. Jangan sampai kamu jadi males dan nggak punya target karena pernah ngerasa gagal. Tetapi, jangan sampai target itu jadi patokan kebahagiaan kamu. Misal, kamu mau punya mobil sendiri di umur 23, kalau ternyata umur 23 baru kekumpul sebagian bukan berarti kamu gagal. <em>It’s just … it needs more time but you already did well. Keep on track, but don’t forget to slow down.</em> Ada banyak hal baik di dunia yang bisa kamu lihat dan syukuri kalau kamu nikmatin prosesnya,” ujar Kevandra yang kini sudah duduk tegap di posisinya, menandakan kalau ia serius dengan ucapannya.</p><p><em>“</em>He’s such a gentleman<em>,” </em>batin Lula. Bicaranya logis, namun tidak terkesan menggurui. Lembut, tapi tersampaikan dengan baik. Jangan lupakan senyuman manisnya yang akan membuatmu betah mendengarkan tiap tutur katanya.</p><p>“<em>I guess you’re right. I do trapped in numbers</em>, hehe …. Iya, aku pengen jadi <em>high-achiever</em>, tapi kayaknya aku sampai lupa buat nikmatin hidup dan lebih bahagia sama proses dan progres yang aku buat.”</p><p>Kevandra tersenyum lalu menggenggam tangan Lula di sampingnya, “<em>It’s okay, </em>La. <em>If you’re trapped there, don’t worry … I’ll hold your hand like this and help you to get through it.</em>”</p><p>“Hm,” gumam Lula sambil mengangguk pasti, “<em>Me too, Dra. I’ll hold your hand and help you to get through it if you face any</em>.”</p><p>“Haha, iya … pulang, yuk? Udah mau malam, nih. Kamu balik ke apart kan?”</p><p>“Iya.”</p><p>“Mampir <em>drive-thru </em>dulu, ya. Ada promo aplikasi, loh. Lumayan, potongan kalau beli dua eskrim sama burger. Mau nggak?”</p><p>“MAU!!!” Lula menjawab dengan penuh semangat dan mulai mengemasi barangnya.</p><p>“ Eh, Andra .…”</p><p>“Hm?”</p><p>“Makasih, ya.”</p><p>“Santai aja, Sayang. <em>I love you</em>,” ucap Kevandra sambil menawarkan tangannya kepada Lula.</p><p>“<em>I love you more</em>,” jawab Lula sambil menggandeng tangan Kevandra erat menuju pintu keluar kafe.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/596/1*ZMR0kQrPoN26zozV-4aK5w.png" /></figure><blockquote>To the person who makes me feel the luckiest in the world,</blockquote><blockquote>I love you.</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*kUpwmgvLol0D8_k7z679YA.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=acd0e858a350" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Scattered Into Pieces]]></title>
            <link>https://medium.com/@aynadays/scattered-into-pieces-520f51d40d67?source=rss-b46c217e64f0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/520f51d40d67</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayna.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 14 Aug 2022 04:52:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-08-21T14:48:40.848Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>cw // mention of blood</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*SBUJ2VSz-FJYbZbCRt3gjA.jpeg" /></figure><p>Berbeda dengan konser pada dua hari pertama yang diadakan di dalam stadion, konser pada hari terakhir ini hanya diadakan di dalam sebuah<em> </em>teater dengan kapasitas yang lebih kecil. Konsep ini dicetuskan oleh The Cloud agar penampilan mereka terasa lebih intim, terutama dengan para penggemar yang telah menemani mereka selama belasan tahun.</p><p>Konser ini juga lebih banyak ditemani oleh petikan gitar dan alunan piano dibandingkan musik yang lantang. Malam itu benar-benar dihabiskan dengan mengenang masa-masa awal debut mereka hingga akhirnya dapat berdiri kembali dihadapan penggemar mereka bahkan setelah puluhan tahun berlalu. Pada malam ini pula, tiap anggota secara terbuka menyampaikan isi hati mereka, tentang bagaimana kabar mereka setelah The Cloud bubar, bagaimana kabar mereka selama 12 tahun terakhir, dan bagaimana rencana yang sudah mereka siapkan di masa depan. Tentu, cerita tentang bagaimana mereka berkeluarga tidak dapat dilewatkan.</p><p>“Nah, kalau ini yang paling lucu nih. Kale pertama ketemu sama istrinya waktu lagi di stasiun.” Matt bercerita yang membuat seluruh penonton bersorak ricuh. “Coba dong, cerita … kok bisa tuh?”</p><p>“Ya … bisa .…” Kale menjawab malu dengan telinga yang memerah enggan melanjutkan ceritanya.</p><p>“Eh, sob, cerita dong gimana rasanya punya anak kembar?” Noah bersuara, mengajukan pertanyaan pada Matteo yang memiliki anak kembar tidak identik, perempuan dan laki-laki.</p><p>“Waduh, susah ternyata,<em> bro</em>. Semuanya harus ada dua … kalau nggak yang satu bisa nangis. Berantemnya juga banyak, semuanya <em>double</em> deh pokoknya,” jawab Matt sambil terkekeh pelan disela bicaranya sambil membayangkan kedua anaknya yang akan menginjak usia lima tahun pada bulan Oktober nanti.</p><p>“PAPAAA!” Suara lantang tiba-tiba datang dari arah belakang panggung. Yuna — anak bungsu Matteo — memasuki area panggung dengan membawa sekotak permen diikuti oleh beberapa anak lain yang diketahui adalah anak-anak dari personil The Cloud lainnya. Para staff pun mulai menempatkan beberapa kursi tambahan untuk para anak laki-laki yang tampak ogah dipangku oleh ayahnya.</p><p>“Kenalan dong, <em>aunty</em> sama <em>uncle</em> disini mau kenalan,” ujar Matt sambil menatap binar Yuna yang berada di pangkuannya.</p><p>“Nama aku Yuna, anaknya Papa Matt. Aku punya satu saudara, namanya Yuan.” Mik pun digilir satu per satu mempersilahkan yang lain untuk berkenalan juga. “Halo semuanya, kenalin, nama aku Yuan, anaknya Papa Matt juga dan saudaranya Yuna.”</p><p>“Hai, aku Deanish. Umurku enam tahun, sekarang sudah masuk Sekolah Dasar.” Mik pun sekarang berpindah pada anak laki-laki di sebelah Deanish yang tampak menggandeng tangan ayahnya erat. “<em>Hello! My name is Dion, I am from New York. It’s nice to see you all.</em>” Dion, yang tinggal di luar negeri sejak lahir, juga memperkenalkan dirinya. Kini, mik mengarah pada Daisy yang senantiasa mengeratkan pelukannya di atas pangkuan Kale. Kale pun akhirnya berinisiatif untuk memegang mik tersebut dan membujuk Daisy untuk memperkenalkan diri.</p><p>“Halo semua, nama aku Daisy …” ada jeda diantara kalimatnya sebelum Daisy melanjutkan perkenalannya, “aku sekarang 5 tahun,” lanjutnya malu-malu dengan menunjukkan kelima jarinya ke arah penonton yang sontak membuat para penonton bersorak gemas. Diantara yang lain, Daisy adalah satu-satunya yang belum pernah berada di atas panggung. Orangtuanya sepakat untuk tidak menampakkan wajah Daisy terlebih dahulu kepada publik.</p><p>— ❁ —</p><p>Sisa acara malam itu dihabiskan dengan nyanyian dan cengkerama akrab antara anggota The Cloud dan anak-anaknya di atas panggung. Dion, Deanish, Yuan, dan Yuna pun sudah tampak menikmati atmosfer panggung, tak terkecuali Daisy yang mulai ikut bernyanyi dan bertepuk tangan walau tidak mau lepas dari pangkuan ayahnya.</p><p>Waktu berlalu hingga tak terasa konser ini harus segera berakhir. Para personil pun mulai mengucap sepatah dua patah kata, berterima kasih akan kehadiran setiap orang disini, bersyukur akan setiap kru dan staff yang membantu mereka, juga anggota lain dan penggemar yang senantiasa hadir dalam tiap fase kehidupan mereka. Suasana berubah emosional dengan beberapa penonton yang hadir juga mulai menitikkan air mata. Malam itu pun ditutup dengan lagu “Dear My Family”.</p><p>Namun, saat alunan instrumental mulai terdengar, Daisy tiba-tiba mengeratkan cengkamannya pada baju Kale. “Tangan Day sakit …,” keluh Daisy di sela rintihan menahan tangis. Kale yang mendengar itu hanya mengelus tangan kanan anaknya pelan, sembari meniupnya seolah dapat menghilangkan rasa perih yang dirasakan putrinya itu. Sayang, bukannya membaik, saat ini telinga Daisy mulai terasa berdengung dengan rasa sakit yang semakin menjalar di tangannya. “Ayah, sakit ….” Daisy mulai menangis. Kale pun semakin terkejut saat melihat Daisy menangis dengan darah yang perlahan menetes dari hidungnya. Ia pun menoleh ke arah samping panggung, memberi sinyal untuk meminta bantuan kepada para staff sementara ia menggunakan sapu tangan yang tersimpan di balik saku jasnya untuk menghentikan pendarahan dari hidung Daisy.</p><p>“SAKIIIT!” Day berteriak lantang membuat semua orang terkejut. Anggota The Cloud yang sedari tadi hanya mencuri pandang ke arah Kale sekarang benar-benar menghentikan kegiatannya, instrumen pun berhenti mengalun setelah beberapa detik. Keadaan saat itu benar-benar sepi dengan Kale yang berusaha menenangkan Daisy.</p><p>Lalu sedetik kemudian, sebuah cahaya kuning tiba-tiba memancar terang dari tangan Daisy, yang seolah disambut oleh cahaya putih entah datang dari mana, memenuhi isi ruangan. Semua terjadi begitu cepat. Peralatan listrik mulai memercikkan api, pemadaman listrik harus dilakukan sebelum hal yang lebih buruk dapat terjadi. Riuh dari arah penonton membuat para staff dengan sigap mengarahkan mereka ke arah pintu darurat dengan pencahayaan seadanya dari <em>lightstick</em> atau gawai yang mereka bawa. Para anggota juga dengan tergesa-gesa mengarahkan anak mereka untuk ikut keluar. Begitu pun dengan Kale yang sudah lebih dulu berlari keluar menuju ambulans dengan Daisy yang sudah tidak sadarkan diri di dalam dekapannya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=520f51d40d67" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[The Parameter]]></title>
            <link>https://medium.com/@aynadays/the-parameter-257767d9e552?source=rss-b46c217e64f0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/257767d9e552</guid>
            <category><![CDATA[fiction]]></category>
            <category><![CDATA[fiction-writing]]></category>
            <category><![CDATA[nct-au]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[ayna.]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 08 Jul 2022 04:04:21 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-01-09T15:48:31.881Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*dLtWY6_6q1CbKIvMr3K_pg.png" /></figure><p><em>“By this, we regret the glorification of zero waste lifestyle. Thank you and vote for our side.”</em> Helen menutup pidatonya mantap tepat di menit 6.57 sebelum penjaga waktu <em>(timekeeper)</em> mengetuk meja dua kali tanda waktu tersisa 20 detik dari total waktu 7.20 yang diberikan. Ia hanya tersenyum sekilas sebelum berjalan balik menuju tempat duduknya. Entah bagaimana senyum itu harus ditafsirkan, senyuman puaskah? Atau ternyata senyuman pahit memandang dirinya miris? Bagaimanapun, sebagai pembicaraan pertama dari timnya, ia harus cepat memberitahu rekan timnya materi apa saja yang belum sempat ia bawa dan bersiap untuk maju lagi sebagai pembicara terakhir, <em>reply speaker</em>.</p><p>Jujur, pikiran Helen saat ini sangat bercabang. Satu pada sesi debat ini yang sedang mengangkat mosi tentang lingkungan, satu pada kamar kos yang ia lupa apakah lampunya sudah dimatikan atau belum, dan satu pada lelaki yang berada di bangku belakang memperhatikan perdebatan ini dengan wajah serius dan tangan terlipat.</p><p>“Ayo dong, Len … ini <em>Asian Parliamentary</em>, jadi butuh tiga orang buat satu tim. Gua udah terlanjur janji sama Kak Dian buat dateng hari ini, kan pas banget lu <em>first*</em>.” Helen ingat betul rengekan Ivy tadi pagi yang pada akhirnya ia setujui demi traktiran kopi dan <em>toast</em> selepas latihan. Demi Tuhan, andai Helen tahu akan bertemu dengan lelaki itu lima menit lebih awal, maka ia tidak akan berpikir dua kali untuk berbalik arah dan pulang ke kamarnya untuk kembali menikmati akhir pekan dengan damai. Helen terus merutuki nasibnya hari itu hingga tanpa ia sadari pembicara pertama dari tim oposisi telah menyelesaikan menit pertama pidatonya yang ditandai dengan satu kali ketukan dari <em>timekeeper</em>.</p><blockquote>*first : sebutan untuk pembicara pertama</blockquote><p><em>Maaf, gua gatau bakal ada Rey, Len :(</em></p><p>Ivy, si pembicara kedua, meletakkan secarik post-it pada kertas catatannya yang membuat Helen menoleh dan tersenyum lesu. Sudahlah, saat ini ia harus fokus untuk memperkuat argumen timnya sekaligus menutup perdebatan ini sebagai pembicara terakhir nanti. Tidak ada waktu untuk wisata masa lalu atau penyesalan tiada ujung seperti yang sedang menghampirinya saat ini.</p><p><em>Tahan, sebentar aja … selesai verba** kita pulang.</em></p><blockquote>**verba : evaluasi dari adjudicator (juri) mengenai jalannya debat.</blockquote><p>— ❁ —</p><p><em>“Therefore, I’ll give the victory point to the government team,” </em>tutur salah satu diantara dua senior yang berperan untuk menjadi juri perdebatan mereka pada sesi ini. Walaupun ini hanya sebuah latihan biasa, Ivy bertepuk tangan bahagia dan berterima kasih kepada Kak Dian yang berperan besar sebagai pembicara ketiga tadi. Ia juga menepuk Helen yang dari tadi melamun dengan tatapan kosong untuk melakukan tos dengannya.</p><p>“<em>You guys can approach me through my WhatsApp for the personal verba</em>, ya … Maaf banget ini ternyata kelar sampai jam enam dan ruangannya mau dikunci, padahal tadi kalau belum gelap mau gue ajakin makan bareng sekalian <em>welcoming party</em> kecil-kecilan buat Rey. Yaudah, sekarang pulang aja nanti kita jadwalin lagi. Terima kasih banyak buat yang udah datang, ” lanjut senior yang sama dengan yang tadi mengevaluasi debat pada hari ini.</p><p>“Len, kamu nggak apa?” tanya Ivy dengan wajah khawatir saat orang-orang mulai bubar dan meninggalkan ruang debat. “<em>I’m alright.</em>” Helen hanya bisa tersenyum palsu. Ivy yang sejujurnya mengetahui alasan di balik segala keresahan yang sedang dialami Helen hanya bisa menggenggam tangannya erat dan mengelusnya seolah menyalurkan semangat. “Traktirannya besok aja, ya? Hari ini kita langsung pulang, nanti gua telepon Arion biar bawa mobil,” usul Ivy dengan nada penyesalan dalam tiap tuturnya.</p><p>— ❁ —</p><p>Saat ini Helen dan Ivy sedang berdiri menunggu pacar Ivy, Arion di halte dekat Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang katanya akan sampai dalam waktu tiga menit. Helen mencoba mengatur napas dan menenangkan detak jantungnya yang mungkin telah berdetak lebih keras dari suara buaya tick-tock dalam film Peterpan. Siapa sangka pertemuan tak terduga dengan sosok yang selama setahun ini menghilang dari pandangannya akan datang tepat saat ia bersumpah tidak akan menaruh hati dan pikiran lagi kepada sang lelaki? Siapa sangka, tak peduli seberapa jatuh dan sakit Helen saat itu, saat manik matanya menatap milik sang tuan, hatinya jatuh lagi tanpa aba-aba? Bagaimanapun, rasanya pertemuan mereka tak pantas untuk dirayakan.</p><p>“Elen!”</p><p>Suara itu … sama persis dengan suara yang ia ingat setahun yang lalu. Bedanya, dibandingkan hati yang berdebar bahagia, Helen merasa seperti ada hujaman mata pisau tak kasat mata yang membuat hatinya sakit. “Elen!” Rey memanggilnya lagi sembari berlari kecil ke arah Helen. “Pulangnya … mau sama gue aja nggak?” tanya Rey sambil menggaruk kecil kepalanya berusaha menutupi nada gugup dan ragu-ragu yang mengisi kecanggungan diantara keduanya.</p><p>Ivy sontak menarik Helen ke belakang tubuhnya dan mengeratkan genggaman tangannya. “Nggak usah, Rey. Helen nanti bareng gua naik mobilnya Rion,” jawab Ivy mewakili Helen. Rey pun tidak menyerah dan tetap menatap Helen untuk menuntut jawaban darinya. “Elen ….” Rey memanggil pasrah.</p><p>“Eh Len, itu Rion udah deket!” Ivy berseru berusaha mengalihkan fokus Helen sewaktu mobil Yaris putih milik Rion mendekat.</p><p><em>“Wait,”</em> seru Rey sambil menahan tangan Helen. <em>“El, I am soo sorry for what happened and what you went through. I owe you an explanation. Can we talk?”</em> tanya Rey dengan sorotan mata penuh penyesalan. Saat itu, pikiran Helen nampaknya kacau sekali lagi setelah bertatapan dengan netra hitam milik Rey dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, walau tertutup gengsi, Helen juga ingin menuntut penjelasan. “<em>Fine.</em> Tapi jam 8 gua udah harus sampai kos,” jawab Helen final.</p><p>— ❁ —</p><p>Rey mengemudikan mobilnya menuju salah satu kafe langganan mereka dulu. Kafe tersebut berada di dekat area kos Helen dan sering menjadi alasan saat mereka ingin mengulur waktu lebih lama berdua, dulu. Ironisnya tempat ini juga merupakan tempat terakhir mereka saling bertatap muka, tepat setahun yang lalu, sebelum Rey pergi ke Australia tanpa berpamitan dengan Helen.</p><p>Saat ini mereka telah duduk berhadapan di meja nomor tiga dengan segelas americano dingin untuk Rey dan latte hangat untuk Helen. Meja nomor tiga ini adalah saksi bisu dari hubungan keduanya. Mulai dari awal kedekatan mereka, tiap pertengkaran kecil yang terjadi diantara mereka, hingga puncaknya saat mereka bertegang karena Helen yang menanyakan kepastian hubungan mereka. Sejak itu, meja nomor tiga ini sesekali hanya diisi oleh sang puan untuk mengerjakan tugas atau untuk sekedar melepas rindu dengan secangkir kopi dan roti bakar yang menemaninya.</p><p>“Eh iya,” celetuk Rey berusaha memecah keheningan, “gue suka sama <em>statement</em> yang lu bawa tadi soal <em>zero waste lifestyle</em> adalah sebuah privilese karena nggak semua orang siap dan mampu buat nerapin itu, jadi parameter yang lu bawa lebih ke <em>healthy lifestyle, toxic lifestyle,</em> dan karakteristik <em>zero waste lifestyle</em> saat ini,” komentar Rey soal perdebatan tadi.</p><p>“<em>Your detail and speech improve a lot in a year</em>, El …”</p><p>“Rey.” Helen menjauhkan gelasnya dan mengusap wajahnya kasar, “<em>I’m not here for this.</em>”</p><p>“Setahun yang lalu … sebenarnya kenapa? Gua nggak bisa berhenti nyalahin diri gua sendiri karena lu pergi tepat seminggu setelah kita mulai jauh. Gua salah banget ya Rey, nanya soal kejelasan hubungan kita waktu itu?” tanya Helen dengan nada yang mulai emosional.</p><p>“Ellen ….”</p><p>“<em>Please</em> … jangan panggil gua Ellen.”</p><p>“Gue telat banget ya, Len sampai nggak bisa manggil lu Ellen lagi?”</p><p>“Iya.” Lagi, Helen menjawab singkat. <em>“Gua takut jadi nangis pengen meluk elo padahal itu bukan tanggung jawab lo sama sekali kalau gua sampai kangen, Rey,”</em> batin Helen yang diikuti dengan tarikan napas panjang darinya.</p><p>&quot;Setahun yang lalu, lu inget kan, Len kita disini habis latihan debat kayak gini juga?” Rey memulai ceritanya, “waktu itu gue kesindir pas lu bawa parameter hubungan yang sehat butuh <em>compromise and trust</em>. Malamnya waktu lu nanya soal hubungan kita, <em>I reflect to myself a lot</em> … selama ini gue selalu ngehindar kalau ditanya soal perasaan gue, tapi nggak pernah mengelak juga kalau ada yang bilang kita pacaran.”</p><p>“<em>I was horrible.</em> Malam itu harusnya gue ngasih tau soal rencana studi gue ke Australia buat <em>double degree</em> karena gue kelas inter,” lanjut Rey. Ada jeda diantara kalimatnya sebelum ia mulai menatap mata Helen yang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya, “<em>but it feels like, I can’t assure you to trust me and wait. So I go</em> … gue ngerasa bersalah sama lu, tapi nggak berani buat ngomongin ini langsung. <em>The thing is … I’m so sorry,</em> Len.”</p><p>Helen menyesap habis minumannya dan menatap Rey lagi. Perlahan, ia mulai bisa menghubungkan benang merah dari tiap rangkaian kejadian yang mereka alami setahun yang lalu. Jam saat ini telah menunjukkan pukul 7.45, waktu yang cukup untuk menyelesaikan pembahasan ini. Ia meremas tangannya erat di bawah meja sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lagi.</p><p>“<em>Then why did you come back?</em>”</p><p>“<em>Cause I miss you.</em>” Telak, pertahanan Helen mulai jatuh dan pandangannya mulai kabur dengan air mata yang tertahan.</p><p>“<em>At what parameter?</em>”</p><p>“<em>At the parameter of how much I miss you</em>, gue nggak bisa berhenti mikirin skenario apa aja yang bakal terjadi kalau gue cerita malam itu, semua catatan gue penuh dengan lu, dengan kita, dan gue nggak bisa mikirin perempuan lain selain lu, Len. Gue kerja keras sampai detik ini, biar setidaknya gue masih punya muka buat ngomong di depan lu.”</p><p>“<em>If it is a scale from one to a hundred, it’s a hundred and one</em>,” lanjut Rey menutup jawabannya.</p><p>“<em>Then makes me feels like so,</em>” tukas Helen, “buat gua ngerasa lu se-kangen itu sama gua karena setahun bukan waktu yang singkat untuk membuat gua nerima lu lagi kayak dulu.”</p><p>“Di mata gua sekarang, lu keliatan lebih berkomitmen buat pergi daripada buat tinggal.” Helen mulai mengemasi barangnya dan bersiap untuk berdiri, “Maaf, tapi gua pamit duluan ya, Rey. Makasih traktirannya.” Helen pergi meninggalkan Rey yang terdiam dan mereka ulang pembicaraan mereka malam itu.</p><p>— ❁ —</p><p><em>Ting!</em></p><p>Sebuah notifikasi dari Rey berbunyi saat Helen ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur,</p><p>“Berapa peluang gue buat ngeyakinin lu kalau gue serius?”</p><p>“<em>A Million to one.</em>”</p><p>“<em>Then, let me be the one.</em>”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=257767d9e552" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>