<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Dann SR on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Dann SR on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@dannsr?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*8jbu8Kvo7OKQ9PYOeyMJjA.jpeg</url>
            <title>Stories by Dann SR on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@dannsr?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Mon, 25 May 2026 07:44:17 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@dannsr/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Kenapa Amerika Nyerang Iran? Kenapa Ia Selalu Bersikap Brutal? Terus Gimana Cara Menghentikannya?]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/kenapa-amerika-nyerang-iran-kenapa-ia-selalu-bersikap-brutal-terus-gimana-cara-menghentikannya-8783e238848e?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8783e238848e</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 05 Mar 2026 12:00:51 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:45:48.746Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya programnya <em>Elite-Elite</em> Amerika dari dulu itu sama-sama aja. Yaitu menjajah &amp; menghegemoni Negeri-Negeri lain, terutama yang cukup strategis, yang ada potensi cuannya, mencegah ancaman gangguan agendanya, &amp; cukup memungkinkan untuk dikuasai sesuai keperluannya.</p><p>Itu udah <em>by system</em>, konsekuensi dari ideologi yang dianut. Bukan karena siapa Presidennya. Karena dari dulu sama aja, mau itu Trump, Joe Biden, George Bush, Obama, dll.</p><p>Partai Republik, Partai Demokrat, itu 11–12, cuman beda gaya aja.</p><p>Dan tentu saja, salah satu target <em>Elite-Elite</em> Amerika itu adalah: Iran.</p><p>Mereka pingin bisa mengontrol Iran lebih totalitas.</p><p>Termasuk biar Iran jangan ‘macem-macem’ dengan Isrewel, anak haramnya Amerika.</p><p>Memang sih sebelumnya Iran itu udah cukup banyak menguntungkan agenda Amerika juga.</p><p>Kayak pas Amerika mau menguasai Iraq, Iran termasuk membantu Amerika. Waktu di Afganistan, Iran juga jadi pendukung utama Penguasa Boneka di sana, pas era Hamid Karzai.</p><p>Dan juga di tempat lainnya, Iran bantu Bashar Assad di Suriah, ‘panas-panasin’ konflik di Yaman, dll.</p><p>Tapi meski begitu, bukan berarti Iran itu anteknya Amerika. Ibarat kata, istilahnya Iran itu sekadar “Satelit” yang beredar di orbitnya Amerika.</p><p>Pas tahun 2015 Obama &amp; negara Eropa kan juga kan sempat ngasih izin ke Iran buat pengayaan nuklir sampe 3,67%.</p><p>Nah tapi tampaknya Elite-Elite Amerika masih nggak puas sampai di situ.</p><p>Terutama Trump, Trump pingin Iran ini jadi lebih dekat &amp; lebih nurut ke Amerika. Trump pingin Iran itu ‘naik level’ dari sekadar “Satelit” menjadi “Full-Time Agen”.</p><p>Tapi justru Iran nggak mau. Iran pingin independen, nggak mau jadi Agennya (alias Anteknya) Amerika. Makanya juga Iran tertarik jalin hubungan sama China.</p><p>Nah maka serangan Amerika itu termasuk caranya Amerika untuk mengubah warna Rezim di Iran, agar Rezim Iran berubah pikiran mau tunduk-patuh sama Amerika, atau muncul Rezim baru yang bisa tunduk sama Amerika.</p><p>Maka, pelajaran yang pertama, yaa begitulah karakter sistem politik Luar Negerinya Amerika.</p><p>Dia juga nggak segan-segan menurunkan Mitra-Mitra dia yang udah nggak sejalan, meskipun udah banyak berkontribusi, kayak yang terjadi ke Saddam Husein, Khadafi, Bashar Assad, Husni Mubarak, dll..</p><p>Pelajaran kedua, itulah resiko konsep <em>Nation State</em>.</p><p>Padahal Umat Islam punya ajaran tentang Khilafah, yang bisa menyatukan berbagai Negeri-Negeri Muslim, Iran, Turki, Pakistan, dst tanpa memandang sekat kebangsaan; sehingga mereka menjadi besar, kuat, mandiri; &amp; <em>make sense</em> untuk jihad membebaskan Palestina, mampu mengusir Isrewel, &amp; jadi tandingan yang menggentarkan Amerika.</p><p>Tapi dengan konsep <em>Nation State</em>, maka masing-masing Negara Muslim cuman bisa kerahin mayoritas <em>resources </em>mereka untuk Negaranya masing-masing. Nggak bisa <em>all-out</em> kerahin dana APBN, alutsista, dlsb hampir 100% untuk ngurusin masalah Negara lain.</p><p>Ketika Negeri Muslim lain diserang Amerika, maka Para Penguasa Negeri Muslim yang lain nggak mau bantu secara <em>all-out</em> kayak mengerahkan kekuatan militernya, karena jelas nggak ada untungnya buat mereka secara nasional.</p><p>Paling banter kasih donasi, pidato prihatin, &amp; pidato mengutuk. Tapi yaa kerjasama bisnisnya masih jalan, Korban yang jatuh masih muncul nggak berhenti kan.</p><p>الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا</p><p>“Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan itu kepunyaan Allah” (TQS an-Nisa’ [4]: 139).</p><p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : «لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ. كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ</p><p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)</p><p>Pelajaran ketiga, tapi di sisi lain, justru di sini ada peluang untuk munculnya sistem baru yang menjadi alternatif dari sistem yang diterapkan hari ini.</p><p>Lihatlah, betapa nggak kredibel &amp; nggak bisa diandalkannya sistem &amp; tatanan dunia hari ini. Jualan HAM, jualan demokrasi, jualan hukum internasional, ternyata itu cuman kedok alat instrumen Penjajah.</p><p>Kenyataannya itu semua konsep yang gagal, bobrok, cuman dongeng &amp; belenggu dogma yang layak dipertimbangkan untuk diganti.</p><p>Kami yakin banget, sebenarnya Orang-Orang sekarang itu secara nggak sadar rindu dengan sosok seorang Khalifah yang membela Korban yang ditindas Pelaku kedzaliman kayak Amerika &amp; Anaknya Haramnya Isrewel.</p><p>Makanya ketika ada ntah Iran kek, ntah China kek, ntah Rusia kek, atau siapapun yang pokoknya mau melawan &amp; berseberangan dengan Amerika &amp; Isrewel; itu Orang-Orang pada <em>happy</em>.</p><p>Tapi yaa sulit untuk mengandalkan mereka secara total karena mereka punya kepentingannya masing-masing, berbasis kepentingan nasional mereka (terutama kita bicara <em>Elite-Elite</em>-nya yaa, kayak Rezimnya, belum tentu semua Warga biasanya, soalnya suka ada yang salah paham, ini kan konteksnya kita bahas geopolitik, bukan bahas motivasi &amp; sifat individu-individu Warga, hehehe).</p><p>Karena mereka bukan Khilafah yang kepentingannya memang murni ngejalanin hukum syara’.</p><p>Tapi karena belum ada Khilafah, jadinya yaa mata Orang-Orang ke Iran dst yang ada udah action battle itu tadi.</p><p>Tapi kalau masih nggak kapok masih mau dikibulin dengan hukum sekuler, hukum liberal, demokrasi, konsep HAM, nation state, dlsb, yaa kita nggak maksa juga sih.</p><p>Silahkan pilih sendiri. Yang penting siap untuk menerima konsekuensi dari penerapan konsep yang dipilih…</p><p><em>Wallahua’lam bishshawab….</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8783e238848e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Indonesia gabung BRICS, apa aja plus-minus-nya? Banyakan untungnya atau justru banyakan ruginya?]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/indonesia-gabung-brics-apa-aja-plus-minus-nya-banyakan-untungnya-atau-justru-banyakan-ruginya-adb469d0a8ff?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/adb469d0a8ff</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 15 Jan 2025 12:00:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T03:02:48.554Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://bravevoyagers.blogspot.com/">Beranda</a> Indonesia gabung BRICS, apa aja plus-minus-nya? Banyakan untungnya atau justru banyakan ruginya?</p><p>Indonesia gabung BRICS, apa aja plus-minus-nya?</p><p>Banyakan untungnya atau justru banyakan ruginya?</p><p>Kuy kita bahas.. 👇🏻</p><p>BRICS ini kan isinya kumpulan beberapa Negara maju &amp; Negara berkembang, mereka bekerjasama dalam koteks ekonomi. Negara maju itu punya teknologi &amp; modal, sementara Negara berkembang banyak jumlah penduduknya yang notabene di sana potensi Pasarnya bagus, &amp; kadang juga kaya sumber daya alamnya. Sehingga, bisa terjadi investasi dari Negara Maju ke Negara Berkembang.</p><p>Nah manfaat bagi Indonesia, yaa adanya investasi itu.</p><p>Termasuk nanti bisa dapat akses berbagai teknologi yang lebih bagus, dapat devisi, cetak lapangan pekerjaan, terbuka pasar baru kayak Luar Negeri sana (harapannya), dll.</p><p>Tapi sayangnya, sisi negatifnya juga nggak kalah besar.</p><p>Kita kan udah punya track record kerjasama dengan Cina misalnya, yang di situ kita juga banyak ruginya. Kerjamasama dengan BRICS-nya memang baru, tapi dengan Cinanya kan udah lama, udah sering.</p><p>Misal, Sumber Daya alam kita pasti lebih banyak menguntungkan mereka, upah Buruh yang murah, belum lagi dampak kerusakan lingkungannya, belum lagi kasus di Rempang yang sampai hari ini masih terus bergejolak, polemik ekspor nikel yang udah pernah kita bahas tahun lalu (https://www.instagram.com/p/C2m5Sz6pvXD/) , dll.</p><p>Dan kalau berdasarkan track record juga, produk jadi kita itu kan masih susah untuk masuk ke pasar luar negeri. Biasanya sumber daya alam kita yang dibawa ke sana.</p><p>Jadi yaa jangan heran, kayak itu tadi, eksploitasi alam misalnya, akan semakin mengkhawatirkan. Beberapa yang udah ada jalan kan gitu, eksploitasi sumber daya alam. Banyak ngerusaknya, banyak ruginya.</p><p>Negara Cina aja dari dulu sampai sekarang produk-produknya udah terlalu dominan, dan diduga kuat mematikan industri dalam Negeri.</p><p>Yaa kayak Sritex kemarin kan salah satu penyebabnya secara eksternal (disamping ada faktor internal yang soal utang itu) karena pasar-pasar tekstil itu udah didominasi oleh Negara Cina.</p><p>Itu salah satu contoh, baru soal tekstil.</p><p>Jadi Indonesia bakal lebih menjadi objek daripada jadi subjek.</p><p>Jadi hegemoni Negara Cina menguasai aspek ekonomi &amp; politik di Indonesia yaa bakal makin kuat. Mereka yang paling cuan sih.</p><p>Seolah kayak mereka yang lebih berdaulat, bisa nyetir arah pembangunan Indonesia jadi kayak gimana.</p><p>Itu baru Cina, belum lagi Negara lain.</p><p>🗣: “Nggak juga ah Bang, bukan itu latar belakang berdirinya BRICS…”</p><p>Iya sih, walaupun memang kalau kita bicara latar belakangnya BRICS ini kan sebenarnya untuk nandingin kekuatan tatanan ekonomi global dari Amerika. Biar nggak Amerika aja yang dominan berkuasa.</p><p>Jadi tampaknya memang ini persaingan politik global, Antara Amerika, dengan beberapa Negara-Negara yang tergabung di BRICS itu.</p><p>Salah satu praktisnya, nanti BRICS ini bakal buat mata uang baru yang berlaku kayak Euro di Uni Eropa gitu, buat nandingin dolar.</p><p>Tapi, itu kan nggak gampang juga diwujudin.</p><p>Nyatuin satu mata uang buat nandingin dolar AS, itu kalau kondisi sekarang masih susah.</p><p>Soalnya kondisi Negara-Negara di BRICS itu nggak semuanya sehat, macem-macem tingkat kesehatannya.</p><p>Makanya di awal pasti ada pengokohan dulu secara politik &amp; ekonomi.</p><p>Jadi ujung-ujungnya, yaa tetep aja kayak yang selama ini terjadi, cuman jadi rebutan antara Negara-Negara maju kayak Amerika &amp; Cina.</p><p>Sehingga nggak mandiri kebijakannya, bakal diatur-atur oleh mereka. Malah ke depannya bakal semakin parah.</p><p>Itulah akibatnya kurang punya ideologi yang kuat.</p><p>Itulah pula sebabnya Gw sering sampaikan ideologi Islam, karena itu bisa menjadi alternatif untuk membangun kekuatan sendiri kayak Khilafah yang pernah sering jaya &amp; mandiri selama sekitar 13 abad lebih.</p><p>Wallahu A’lam bishawab…</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=adb469d0a8ff" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mungkin Nggak Sih Bangun Negara Tanpa Pajak?]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/mungkin-nggak-sih-bangun-negara-tanpa-pajak-a9e6c7f9e7be?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a9e6c7f9e7be</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 30 Nov 2024 12:00:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T03:00:07.577Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Bisa banget dong. 😉 Kalau pakai sistem ekonomi Islam, pakai syariah Islam.</p><p>Dalam sistem ekonomi Islam, ada banyak banget sumber pemasukan APBN:</p><ul><li>Harta rampasan perang (anfâl, ghanîmah, fai dan khumûs)</li><li>Pungutan dari tanah kharaj</li><li>Pungutan dari Non-Muslim (jizyah)</li><li>Harta milik umum (tambang, laut, &amp; sumber daya alam lainnya)</li><li>Harta yang ditarik dari perdagangan luar negeri (‘usyr)</li><li>Harta yang disita dari pejabat dan pegawai negara karena diperoleh dengan cara haram;</li><li>Zakat</li><li>Dan lain-lain [1].</li></ul><p>Tapi kali ini kita coba bahas yang bagian harta milik umum (milkiyyah ‘âmah) aja dulu dech, nggak usah yang lainnya.</p><p>Termasuk sumber daya alam yang ada di Negeri-Negeri Muslim, itu aja udah banyak banget.</p><p>Atau nggak usah bahas Negeri-Negeri Muslim lainnya dulu dech, kita coba bahas Indonesia aja dulu, itu udah banyak banget sebenarnya.</p><p>Nanti bakal ketahuan, itu aja udah cukup banget.</p><p>Dari penjelasan di atas, salah satu sumber terbesar dalam APBN Khilafah Islam adalah harta milik umum . Terkait harta milik umum ini Rasulullah ﷺ bersabda:</p><blockquote><em>النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ</em></blockquote><blockquote><em>“Manusia berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api (energi).” (HR Abu Dawud)</em></blockquote><p>Tapi kali ini kita coba bahas yang bagian harta milik umum (milkiyyah ‘âmah) aja dulu dech, nggak usah yang lainnya.</p><p>Termasuk sumber daya alam yang ada di Negeri-Negeri Muslim, itu aja udah banyak banget.</p><p>Atau nggak usah bahas Negeri-Negeri Muslim lainnya dulu dech, kita coba bahas Indonesia aja dulu, itu udah banyak banget sebenarnya.</p><p>Nanti bakal ketahuan, itu aja udah cukup banget.</p><p>Dari penjelasan di atas, salah satu sumber terbesar dalam APBN Khilafah Islam adalah harta milik umum. Terkait harta milik umum ini Rasulullah ﷺ bersabda:</p><p>Selain air, padang rumput, &amp; api (energi); yang termasuk harta milik umum itu ada juga tambang.</p><blockquote><em>عَنْ أَبْيَضَ بْنِ حَمَّالٍ أَنَّهُ وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَقْطَعَهُ الْمِلْحَ فَقَطَعَ لَهُ فَلَمَّا أَنْ وَلَّى قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ أَتَدْرِى مَا قَطَعْتَ لَهُ إِنَّمَا قَطَعْتَ لَهُ الْمَاءَ الْعِدَّ. قَالَ فَانْتَزَعَهُ مِنْهُ</em></blockquote><blockquote><em>“Dari Abyad bin Hammal, ia mendatangi Rasulullah ﷺ , dan meminta Beliau ﷺ agar memberikan tambang garam itu kepadanya. Rasul ﷺ pun memberikan tambang itu ke dia.</em></blockquote><p>Ketika Abyad bin Hamal udah pergi, ada Seorang Laki-Laki yang ada di Majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir (al-maa’ al-‘idd)”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Kemudian Rasulullah ﷺ mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya.”. (HR. Abu Dawud dan Timidzi)</p><p>Dari kedua hadis ini Para Ulama menyimpulkan bahwa semua sumber daya alam, di antaranya tambang, yang depositnya melimpah, adalah milik umum. [2][3][4]</p><p>Harta milik umum ini wajib dikelola oleh Negara. Lalu semua hasilnya lalu diberikan kepada seluruh Rakyat, bisa secara langsung ataupun nggak langsung.</p><p>Harta milik umum ini haram diserahkan kepada Swasta gitu, apalagi Asing &amp; Aseng kayak America &amp; China.</p><p>Dalam konteks Indonesia, harta milik umum itu jelas bisa banget ngasih penerimaan besar, jika Negara mau &amp; bisa optimal ningkatin nilai tambah komoditas itu.</p><p>Contohnya, kayak minyak mentah bisa meningkat nilainya sampe lebih dari 10–25 kali lipat kalau diolah menjadi produk-produk industri petrokimia, kayak polyethylene yang menjadi bahan baku kemasan, botol, pipa dan kabel.</p><p>Ada juga bijih nikel (0,9–1,8%) seharga USD 30,5 per ton, kalau diolah menjadi High-Purity Nickel (99,9) seharga USD 24,293, bisa meningkatkan nilainya jadi 796 kali lipat. [5]</p><p>Menurut salah Seorang Ekonom Muslim, Pak Muhammad Ishak (2024), potensi pendapatan Negara dari kekayaan sumber daya alam negeri ini adalah sebagai berikut:</p><h3>1. Minyak Mentah</h3><p>Dengan produksi 223,5 juta barel, harga rata-rata USD 97 per barel, nilai tukar Rp 15.600/USD, serta gross profit margin 54,1%, maka laba yang diperoleh sebesar Rp 183 triliun.</p><h3>2. Gas Alam</h3><p>Dengan produksi 2,5 miliar MMBTU, harga rata-rata USD 6,4 per MMBTU, nilai tukar Rp 15.600/USD, serta gross profit margin 54,1%, maka laba yang diperoleh sebesar Rp 136 triliun.</p><h3>3. Batubara</h3><p>Dengan produksi 687 juta ton, harga rata- rata 345 per ton, dan nilai tukar Rp 15.600/USD, serta gross profit margin 57,4% maka laba yang diperoleh yaitu sebesar Rp 2.002 triliun.</p><h3>4. Emas</h3><p>Dengan produksi 85 ton, harga rata-rata USD 63,5 juta per ton, nilai tukar Rp15.600/USD, serta gross profit margin 34,9%, maka laba yang diperoleh bisa sebesar Rp 29 triliun.</p><h3>5. Tembaga</h3><p>Dengan produksi 3,3 juta ton, harganya rata-rata USD 8.822 per ton, nilai tukar Rp15.600/USD, serta gross profit margin 34,9%, maka laba yang diperoleh sebesar Rp 159 triliun.</p><h3>6. Nikel</h3><p>Dengan produksi bijih nikel yang setara dengan 1,8 juta ton nikel, harga rata-rata USD 2.583 per ton, nilai tukar Rp 15.600/USD, serta gross profit margin 26,6%, maka laba yang diperoleh sebesar Rp 189 triliun.</p><h3>7. Hutan</h3><p>Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup (2022), luas hutan di Indonesia mencapai 120,26 juta hektar. Menurut perhitungan Prof. Dr. Ing. Amhar (2010) [6], dengan asumsi luas hutan 100 juta hektar serta untuk menjaga kelestariannya dengan siklus 20 tahun, maka cuman 5% dari tanaman yang dipanen setiap tahunnya.</p><p>Kalau dalam 1 hektar hutan, paling nggak ada 400 pohon, berarti cuman 20 pohon per hektar yang ditebang setiap tahunnya. Kalau nilai pasar kayu dari pohon berusia 20 tahun itu Rp 2 juta, terus keuntungan bersihnya Rp 1 juta, berarti nilai ekonomis dari hutan tersebut adalah 100 juta hektar x 20 pohon perhektar x Rp 1 juta perpohon = Rp 2.000 Triliun. Tapi, karena pertimbangin deforestasi dan illegal logging, Beliau perkirakan Rp 1.000 triliun bisa diperoleh setiap tahunnya.</p><h3>8. Kelautan</h3><p>Dengan luas wilayah Indonesia yang 75% merupakan laut, maka potensi ekonomi berbasis sektor kelautan (blue economy) sangat besar.</p><p>Beberapa sumber pendapatan kelautan dan perikanan yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti perikanan tangkap, budidaya, pengolahan hasil perikanan, bioteknologi kelautan, serta industri dan jasa maritim.</p><p>Potensi pendapatan juga diperoleh dari energi dan mineral, pariwisata bahari, transportasi laut, dan coastal forestry. Kepala Bappenas memperkirain nilai tambah ekonomi berbasis perairan atau ekonomi biru bakal mencapai US$ 30 triliun pada 2030. Menurut perhitungan Dahuri (2018) sumber-sumber itu bisa ngasilin pendapatan per tahun itu sebesar USD 1,33 triliun per tahun. Nilai itu setara dengan Rp 20.795 triliun dengan kurs 15.600/USD. Kalau 10% dari potensi itu bisa dikelola oleh Perusahaan Negara maka potensi penerimaannya mencapai Rp 2.079 triliun. Kalau diasumsikan harga pokok produksi mencapai 50%, maka laba dari sektor kelautan yang masuk ke APBN mencapai sekitar Rp. 1.040 triliun.</p><p>Nah, berdasarkan perhitungan atas beberapa sumber penerimaan APBN itu, maka potensi pendapatan dari delapan harta milik umum doang (batubara, minyak mentah, gas, emas, tembaga, nikel, Hutan, dan laut) bisa diperoleh laba sebesar Rp 5.510 triliun (melebihi kebutuhan APBN yang hanya sekitar Rp 3.000 triliun malah) lhooo.</p><p>Padahal masih ada 12 sumber pendapatan lain yang juga memiliki potensi penerimaan yang cukup besar. Jadinya Negara nggak perlu memungut pajak dari rakyat atau ngutang ke Luar Negeri. Syaratnya yaa satu: semua itu harus dikelola berdasarkan syariah Islam dong. [7]</p><p>Nah, maka kita mesti bener-bener balik pakai syariah Islam lagi di semua aspek kehidupan.</p><p>Allah udah jelasin, keberkahan pasti turun kalau kita ta’at. Termasuk salah satunya soal ekonomi, mengelola sumber daya alam itu full oleh Negara, bukan malah dikasih ke Swasta, apalagi Asing &amp; Aseng.</p><p>Lihat aja gimana pelayanan masyarakat di masa Khilafah, soal pendidikan, kesehatan, dsb itu keren-keren kan. Nggak ada pakai PPN 12%, hehehe.</p><p>Cuman yaa balik ke kita lagi lah, kitanya mau apa nggak pakai sistem Islam?</p><p>WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.</p><p>1. <a href="https://s.shopee.co.id/AKQqljGwZy">Syaikh Abdul Zallum, Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah</a>, hlm. 30</p><p>2. <a href="https://s.shopee.co.id/AKQqljGwZy">Syaikh Abdul Qadim Zallum, Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah</a>, hlm. 48–66</p><p>3. As-Sarkhasi, Al-Mabsûth, 3/355</p><p>4. <a href="https://s.shopee.co.id/6AbHndv36v">Ibnu Qudamah, Al-Mughni</a>, 12/131</p><p>5. Shanghai Metal Market. <a href="https://price.metal.com/Nickel.">https://price.metal.com/Nickel.</a> 16 Juli 2023</p><p>6. <a href="http://www.fahmiamhar.com/2010/04/mencoba-meramu-apbn-syariah.html">www.fahmiamhar.com/2010/04/mencoba-meramu-apbn-syariah.html</a></p><p>7. Muis, Al-Waie, Edisi Maret 2024</p><p><em>Note: beberapa link di atas terdapat link affiliate</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a9e6c7f9e7be" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tutorial Berpikir]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/tutorial-berpikir-d8209c58458d?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d8209c58458d</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 21 Sep 2024 12:00:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:58:52.448Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Untuk bisa berpikir, syaratnya perlu ada 4 komponen. Yaitu:</p><ol><li>Harus ada fakta.</li><li>Harus ada indera.</li><li>Harus ada otak.</li><li>Harus ada informasi terdahulu, yang tersimpan di memori otak.</li></ol><h3>1. Harus Ada fakta</h3><p>Pertama, yaa harus ada fakta. Fakta itu yaa semua hal yang ada di sekeliling kita. Bisa berupa benda-benda, aktivitas- aktivitas, kejadian-kejadian. Misalnya: ini ada <em>HP</em>, ada <em>tissue</em>, ada pensil, ada buku, ada lampu, di sana ada si Budi dia lagi makan, di situ ada si Anto lagi tidur, di luar cuacanya cerah mataharinya terik, dan lain-lain.</p><p>Nah itu semua fakta.</p><p>Jadi itu yang pertama, harus ada fakta, agar kita bisa berikir. Tanpa ada fakta, yaa kita nggak bisa berfikir.</p><h3>2. Harus Ada Indera</h3><p>Kemudian komponen yang kedua, harus ada indera. Atau, lebih tepatnya, indera yang sehat. Yang berfungsi normal. Yaitu:</p><ul><li>Mata untuk melihat</li><li>Telinga untuk mendengar</li><li>Hidung untuk menghirup</li><li>Lidah untuk merasa (mengecap)</li><li>Dan kulit untuk meraba</li></ul><p>Kalau inderanya nggak ada, atau nggak normal, atau nggak sehat, maka dia akan sulit untuk berfikir.</p><p>Misalnya, mohon maaf yaa, kalau ada orang yang dia itu cacat, tunanetra, tunarungu, nah itu akan kesulitan diajak berpikir.</p><p>Misalnya kita ajak ngobrol, <em>“Langitnya mendung yaa.”</em> Nah itu kalau misalnya dari lahir dia nggak tahu gimana gambaran langit yang mendung, yang cerah, itu yaa sulit dia mencerna faktanya.</p><p>Maka agar bisa berpikir, harus ada indera, dan harus normal, yang sehat, yang optimal fungsi inderanya.</p><h3>3. Harus Ada Otak</h3><p>Kemudian komponen yang ketiga, harus ada otak. Nah ini jelas yaa. Karena otak ini kan semacam hardware-nya yaa. Dia yang mengoperasikan proses <em>input </em>dan <em>output</em>.</p><p>Walaupun mungkin lebih tepatnya bukan harus ada otak sih, tapi harus ada otak yang bekerja dengan normal. Yang sehat. Sehingga bisa berfungsi dengan baik dan optimal.</p><p>Karena kalau misalnya, mohon maaf lagi yaa, kayak tadi ada orang yang cacat, yaa itu otaknya ada kan, tapi nggak berfungsi dengan normal dan optimal. Kalau seperti itu, yaa dia akan kesulitan berpikir. Ada yang penyebabnya ntah karena dia itu pernah cedera, kecelakaan, kurang nutrisi, dan lain-lain.</p><p>Selain itu juga mungkin kalau ada yang lahir prematur, atau mungkin juga stunting, atau mempunyai keterbelakangan mental, itu bisa termasuk juga yang fungsi otaknya nggak optimal, sehingga susah berpikir bahkan nggak bisa berpikir.</p><p>Ada juga di kasus kalau dia mabuk setelah minum miras, itu juga akan kesulitan berpikir.</p><p>Nah jadi itu komponen yang ketiga, syaratnya harus ada otak yang sehat yaa.</p><h3>4. Harus Ada Informasi Terdahulu</h3><p>Nah kemudian komponen keempat, yaitu harus ada informasi terdahulu. Atau istilah lainnya, previous information, atau ma’lumat ats-tsabiqah. Yang tersimpan di memori otak kita.</p><p>Informasi sebelumnya ini berfungsi untuk memahami fakta yang sudah kita indera sebelumnya. Atau bisa juga menilai, atau menjustifikasi, atau menjelaskan, atau menafsirkan.</p><p>Itu semua pasti pakai informasi terdahulu yang tersimpan di memori otak kita.</p><p>Kalau nggak ada informasi terdahulu, yaa kita nggak bisa memahami atau menilai fakta yang udah kita indera.</p><p>Misalnya kayak Tarzan gitu, dia tinggal di Hutan sejak bayi.</p><p>Kalau selama hidupnya di Hutan, dia nggak pernah lihat <em>smartphone</em>, maka ketika dia ketemu <em>smartphone</em>, yaa dia nggak bisa membahas smartphone itu apa.</p><p>Contoh lain, kalau ada orang yang ngomong pakai bahasa asing (Bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, dll) sementara kita nggak bisa bahasa asing itu, pasti kita nggak akan ngerti maksud omongan orang itu apa.</p><p>Karena yaa kita nggak punya informasi terdahulu terkait kosa kata-kosa kata bahasa asing itu.</p><p>Coba aja nonton film Luar Negeri, di Netflix gitu misalnya, tapi jangan diaktifkan <em>subtitle </em>terjemahan bahasa Indonesia. Yaa susah ngikutinnya kan.</p><p>Termasuk Gw kan orang Medan aslinya, pas baru pertama kali ke Aceh, Bandung, Jogja, Semarang, Gw diajak ngomong pakai bahasa daerah gitu, nggak ngerti Gw. <em>“Ha? Apa?”</em> Yaa karena Gw nggak punya informasi terdahulu terkait kosa kata bahasa Aceh, bahasa Jawa, &amp; bahasa Sunda.</p><p>Nah maka, setelah kita mengetahui 4 komponen yang harus ada agar bisa berpikir, berarti bisa kita simpulkan bahwa, yang disebut berpikir itu adalah:</p><ul><li>Penginderaan fakta melalui panca indera.</li><li>Kemudian mentransfer gambaran fakta itu ke otak.</li><li>Lalu gambaran fakta itu dihubungkan dengan informasi terdahulu yang tersimpan di memori otak.</li><li>Kemudian dengan menggunakan informasi terdahulu itu kita bisa memahami, menilai, menjastifikasi, menjelaskan, dan menafsirkan fakta yang kita indera tadi itu.</li></ul><p>Yaa kalau dibuat versi singkatnya, berpikir itu adalah upaya menilai suatu fakta. Menilai suatu fakta gitu lah.</p><p>Nah jadi ini lah, yang disebut berpikir. Setiap makhluk yang punya kemampuan seperti ini yang disebut punya akal.</p><p>Justifikasi terhadap fakta itu yang disebut pemikiran.</p><h3>Simulasi Berpikir</h3><p>Sekarang kita coba masuk ke contoh berfikir. Kita simulasiin.</p><p>Misalnya, ini ada fakta benda. Ini kan fakta ini kan yaa.</p><p>Kemudian kita gunakan panca indera kita.</p><p>Kita raba nih benda ini. Terus, kita lihat nih dengan mata. Terus, kita hirup nih dengan hidung. Bahkan sampai kita cicipi nih.</p><p>Kemudian setelah kita indera, hasil penginderaan itu dikonekin ke otak, untuk dikonekin lagi ke informasi terdahulu yang ada di otak kita.</p><p>Kemudian muncullah berbagai informasi terdahulu untuk menilai fakta ini:</p><blockquote>“Ooh ini bentuknya begini, warnanya coklat, aromanya enak. Ini namanya roti! Enak banget ini!”</blockquote><blockquote>“Harganya roti ini kemarin dibeli Rp 7.000. Bisa dibeli di Minimarket. Ini halal. Kalau mau dimakan silahkan, tapi hati-hati ini karbohidratnya 24 gram, gulanya 8 gram, kalau dimakan 5 potong itu udah 40 gram, sementara rekomendasi Kemenkes konsumsi gula harian kita maksimal 50 gram, kalau standar WHO malah 25 gram, atau kadang tergantung tiap individu yaa beda-beda kan kondisi tubuhnya… nah maka kalau mau dimakan ini roti, silahkan, karena roti ini halal, rasanya enak, aromanya nikmat, tapi sebaiknya dibatasi per hari jangan berlebihan. Dan seterusnya..”</blockquote><p>Nah jadi seperti itu yang disebutlah dengan berpikir, atau akal.</p><p>Kita mengindera fakta, lalu kita menjastifikasi fakta tersebut berdasarkan informasi terdahulu di otak kita.</p><p>Yang notabene akal dan kemampuan berpikir ini cuma dimiliki oleh manusia. Kalau hewan, nggak punya akal, nggak bisa berpikir begini.</p><p>Makanya selama kita bisa berpikir, kita bisa memilih sikap seperti apa yang kita lakukan terhadap suatu fakta.</p><p>Misal, ketika kita udah punya pengetahuan di memori otak kita bahwa <em>“Korupsi itu buruk. Nggak boleh”</em>, tentu ketika kita dihadapkan ada fakta peluang untuk melakukan korupsi, maka akan auto-connect ke otak kita yang sudah paham <em>“Korupsi itu buruk. Nggak boleh”</em> untuk dijastifikasikan ke fakta peluang korupsi itu.</p><p>Nah dari sini bisa juga diambil banyak pelajaran.</p><p>Misalnya, pentingnya kita mendalami fakta sebelum kita mengomentari sesuatu. Kalau kita tahu khamr itu haram, tapi ketemunya etanol, metanol, isopropil alkohol, dll. Maka kita harus dalami dulu fakta etanol dsb itu, apakah sesuai dengan makna khamr yang tersimpan di memori otak kita.</p><p>Terus, pelajaran berikutnya, berarti penting kan kita untuk menuntut ilmu, dan mengajak orang lain juga agar mau menuntut ilmu.</p><p>Karena, ilmu yang kemudian menjadi informasi terdahulu yang tersimpan di memori otak itu bakal menentukan banget sikap dan kepribadian seseorang itu jadi gimana.</p><p>Termasuk itulah pentingnya adanya dakwah, dan pentingnya mewaspadai ‘perang pemikiran’.</p><p>Dari sini juga kita jadi bisa cari solusi kalau ada orang yang suka susah memahami pelajaran di Sekolah &amp; Kampus. Bisa jadi, yaa masalah di seputar 4 komponen itu.</p><p>Misalnya, ada orang yang nggak paham soal “resesi ekonomi”. Meski udah dijelasin definisi resesi ekonomi itu adalah suatu keadaan dimana sebuah negara tercatat mengalami kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.</p><p>Biasanya, dikarenakan orang nggak paham “kontraksi” itu apa, &amp; ada juga sebagian yang nggak paham “kuartal” itu apa.</p><p>Nah coba tebak, masalahnya apa? Dan solusinya apa? Yups, masalahnya di informasi terdahulunya yang kurang. Maka, solusinya mestinya dia ‘balik mundur’ dulu, cari tahu dulu apa itu “kontraksi”, &amp; apa itu “kuartal”. Nah barulah ketika balik bahas “resesi ekonomi”, maka dia bisa menjadi paham.</p><p>Begitu juga kadang kalau ada rumus Fisika tertentu, kadang ada orang yang susah menerima kalau ‘filosofi’ kenapa rumusnya begitu dia nggak paham.</p><p>Biasanya penyebab orang kurang informasi terdahulu, mungkin karena di kelas sebelumnya dia nggak hadir, atau nggak fokus, tidur, melamun, dll.</p><p>Di contoh kasus lain, ada juga Murid yang nggak paham, karena Guru/Dosennya cuman ngejelasin teori, tapi nggak memberikan contoh atau kurang memberikan contoh.</p><p>Contoh itu berfungsi sebagai fakta. Kalau nggak ada contoh, cuman teori/rumus/dsb doang, kadang orang bakal susah paham. Maka perlu ada contoh (fakta).</p><p>Makanya kadang kalau belajar di Lab, apalagi sampai ada simulasi, itu biasanya materinya lebih mudah dipahami, karena ada contohnya langsung.</p><p>Di contoh kasus lain, ada juga orang yang karena matanya minus terus dia lupa bawa kaca mata, jadinya dia susah menyimak. Nah berarti problemnya di indera yang kurang optimal.</p><p>Dan lain-lain, masih banyak pelajaran lainnya.</p><p>Kalau Anda tertarik mendalami pembahasan seperti ini, Anda bisa coba baca buku <a href="https://s.shopee.co.id/9fFhfx4H0G"><em>Hakikat Berpikir</em> karangan Taqiyuddin an-Nabhani</a> berikut ini <a href="https://s.shopee.co.id/9fFhfx4H0G">https://s.shopee.co.id/9fFhfx4H0G</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*vfzIbTn5qjy9zlyv7bSTXA.png" /><figcaption>Buku <a href="https://s.shopee.co.id/9fFhfx4H0G"><em>Hakikat Berpikir</em></a> karangan Taqiyuddin an-Nabhani: <a href="https://s.shopee.co.id/9fFhfx4H0G">https://s.shopee.co.id/9fFhfx4H0G</a></figcaption></figure><p><em>Ilustrasi oleh </em><a href="https://www.instagram.com/clarionastudio"><em>@ClarionaStudio</em></a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d8209c58458d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[“Mirip” Itu Bukan “Sama”]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/mirip-itu-bukan-sama-bc7fac7a3e84?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bc7fac7a3e84</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 20 Aug 2024 12:00:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:41:41.990Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Anda pernah denger kalimat yang kurang-lebih begini nggak?:</p><ul><li>“Islam itu sama kayak sosialisme, karena sama-sama ada aturan sumber daya alamnya yang depositnya besar itu nggak boleh diprivatisasi, karena itu milik umum.”</li><li>“Musyawarah itu sama dengan demokrasi, karena sama-sama mau mendengarkan &amp; mempertimbangkan opini orang lain sebelum membuat keputusan.”</li><li>Dan sebagainya?</li></ul><p>Memang sekilas bakalan tampak sama, kalau kita cuman ngelihat sepotong-sepotong aja. Tapi kalau kita lihat secara keseluruhan, pasti jadinya bakal beda. Nggak sama.</p><p>Misalnya, kalau aturan Islam, itu ‘lahir’ dari aqidah Islam. Sumber hukumnya Al-Qur’an &amp; hadits. Metodologinya khas, yaitu ushul fiqih. Standar perbuatan yang dihasilkan adalah hukum syara’, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh, &amp; haram.</p><p>Sementara kalau di sosialisme, nggak begitu tentunya. Biasanya, semua aturan dalam sosialisme lahir dari aqidah materialisme. Keimanannya terhadap hal ghaib belum tentu pasti, melainkan sekadar semacam preferensi &amp; pengalaman pribadi yang dianggap subjektif. Yang lebih penting itu dialektika materi.</p><p>Jadi, kalau dilihat secara keseluruhan, jelas Islam &amp; sosialisme itu berbeda.</p><p>Kemudian soal musyawarah &amp; demokrasi, juga bakal tampak sama kalau dilihat secara sepotong-sepotong juga. Tapi kalau dilihat secara keseluruhan, maka jelas berbeda.</p><p>Misalnya, kalau musyawarah dalam Islam, itu adalah sebuah teknis yang dianjurkan, untuk mencari suatu pendapat yang terbaik.</p><p>Sementara kalau demokrasi, adalah sebuah sistem pemerintahan yang kedaulatannya berada di ‘tangan’ rakyat, &amp; kekuasaannya berada di ‘tangan’ rakyat. Kedaulatan itu maksudnya hak membuat hukum, sementara kekuasaan itu maksudnya hak mengangkat pemimpin.</p><p>Jadi, dalam demokrasi itu, nggak boleh hukum itu cuman dibuat oleh satu orang aja, sebagaimana dalam sistem pemerintahan kerajaan yang kedaulatannya ada di ‘tangan’ Raja. Nggak boleh juga yang menentukan pemimpin berikutnya cuman satu orang aja, sebagaimana Raja yang mengangkat putra mahkotanya menjadi Raja berikutnya.</p><p>Termasuk, dalam demokrasi itu, bukan Tuhan yang memiliki kedaulatan mutlak untuk membuat hukum yang mengatur masyarakat. Renaisans yang berusaha menghentikan <em>dark ages</em> di Eropa dulu juga punya <em>spirit </em>begitu kan, karena di sana waktu itu Raja bekerjasama dengan Agamawan mengatur urusan politik dengan dalih perintah Tuhan.</p><p>Kalau pun ada hukum agama yang diterapkan di Negeri bersistem demokrasi, itu bukan karena Tuhan memiliki kedaulatan, tapi karena kebetulan mayoritas rakyat di saat itu lagi pingin mengambil salah satu atau beberapa hukum yang bersumber dari agama.</p><p>Jadi tetep aja, di demokrasi; yang berdaulat itu rakyat, bukan Tuhan. Buktinya, di Negeri bersistem demokrasi; bisa aja hukum yang baku wajib dalam agama ditinggalkan apabila rakyat nggak setuju dengan hukum itu. Dan bisa aja hukum yang baku haram dalam agama justru malah dipraktekkan apabila rakyat setuju dengan hukum itu. Jadi, kewajiban agama itu masih terbuka peluangnya untuk ditinggalkan, dan larangan dalam agama itu masih terbuka peluangnya untuk justru dipraktekkan. Aturan baku dalam agama, belum tentu baku dalam demokrasi. Dalam demokrasi, yang baku adalah apa yang dikehendaki rakyat, bukan yang dikehendaki Tuhan. Memang kehendak Tuhan belum tentu dieliminasi sama sekali, bisa aja ada, tapi tetep harus lewat ‘acc’ dari rakyat dulu, nggak bisa otomatis langsung diterapkan. Karena yaa itu tadi, kedaulatan ada di tangan rakyat, bukan di tangan Tuhan.</p><p>Nah, sementara, dalam musyawarah, pastinya nggak begitu. Dalam musyawarah, nggak ada penafian terhadap kedaulatan Allah.</p><p>Misalnya, kita bisa musyawarah sebagai Panitia sebuah acara, kira-kira besok saat hari H, <em>dress code</em> Panitia mau gimana? Mau pakai baju batik? Baju koko? Mau warna putih? Itu boleh dimusyawarahkan. Karena semua opsinya itu hukumnya mubah. Nggak ada meninggalkan yang wajib, nggak ada melakukan yang haram. Tapi, dalam konsep musyawarah, kita nggak boleh musyawarah kira-kira besok sholat subuh atau nggak. Karena kewajiban sholat subuh itu baku, udah jelas. Kita juga nggak bakal boleh musyawarah apakah cocok membangun Kasino &amp; melegalkan judi untuk menambah pemasukan negara, karena itu udah jelas baku haram.</p><p>Jadi, musyawarah itu dibatasi pada hal-hal yang mubah, nggak bisa menafikan kewajiban yang baku &amp; keharaman yang baku.</p><p>Nah tapi sebenarnya di tulisan ini saya bukan mau bahas soal sosialisme, demokrasi, musyawarah, dan sebagainya. Itu cuman contoh aja. Yang mau saya bahas adalah suatu cara berpikir. Yakni, “mirip” itu bukan berarti “sama”.</p><p>Jangan mengambil kesimpulan dua hal itu sama cuman karena ada kemiripan. Kalau ada kemiripan, maka sebut saja “mirip”, bukan ‘sama”.</p><p>Kalau mau dibilang mirip, yaa mungkin bisa dibilang sedikit-sedikit aja ada miripnya, kalau dilihat secara sebagian-sebagian, bukan dilihat secara keseluruhan.</p><p>Misalnya, manusia (homo sapiens) &amp; simpanse (Pan troglodytes), itu pasti ada kemiripannya. DNA-nya mirip, sama-sama jalan pakai dua kaki, sama-sama punya dua mata di wajah, sama-sama makan pakai tangan, dan seterusnya. Tapi, apakah sama? Yaa nggak sama. Nanti kalau dibilang sama, simpansenya tersinggung. Bercanda ding, hehehe.</p><p>Jelas manusia &amp; simpanse ada perbedaan di anatomi, kognisi, dan budayanya.</p><p>Jadi kalau mau dibilang manusia mirip simpanse, bisa jadi iya. Tapi kalau manusia sama dengan simpanse, yaa nggak sama lah.</p><p>Apa pentingnya bahas ini? Karena nanti ada implikasinya yang serius.</p><p>Misalnya, ada dua anak kembar. Si A, dan si B. Kebetulan si A &amp; si B ini mirip banget wajahnya &amp; bentuk badannya. Rambutnya sama-sama hitam &amp; lurus, alisnya sama-sama tebal, hidungnya sama-sama mancung, badannya sama-sama kurus, dan kulitnya sama-sama putih. Cuman beda warna favoritnya aja, kalau si A sukanya merah, makanya dia sering pakai baju warna merah, sementara kalau si B sukanya biru, makanya dia sering pakai baju warna biru.</p><p>Suatu hari, ada Polisi yang mendapatkan aduan bahwa si A telah berbuat kriminal. Sehingga, para polisi itu mencari si A untuk ditangkap. Tapi, setelah dicari-cari, nggak ketemu. Yang ditemukan malah si B, kembarannya si A.</p><p>Nah, karena si A susah ditemukan, adanya si B, maka para polisi itu akhirnya menangkap si B.</p><p>Loh? Kenapa gitu? Yaa mungkin karena Polisi itu mikirnya sama aja, rambutnya sama-sama lurus, alisnya sama-sama tebal, hidungnya sama-sama mancung, badannya sama-sama kurus, dan kulitnya sama-sama putih. Jadi tangkap si B aja.</p><p>Nah, tapi yaa nggak bisa begitu kan. Itu kan si B, dia pakai baju warna biru. Bukan si A. Si A dia pakai baju warna merah. Yang berbuat kriminal kan si A, bukan si B. Jadi yang ditangkap harusnya si A, bukan si B.</p><p>Nah begitulah kira-kira gambaran resiko &amp; keanehan kalau sekadar “mirip” dianggap “sama”.</p><p>Maka dari itu, ada baiknya kita coba biasakan melihat secara komprehensif &amp; proporsional, agar semoga kita bisa menilai &amp; bersikap secara adil.</p><p>Semoga bermanfaat.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bc7fac7a3e84" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Percuma Dakwahi Orang-Orang Besar, Karena Mereka Nggak Mau Denger?]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/percuma-dakwahi-orang-orang-besar-karena-mereka-nggak-mau-denger-a64561f1cf08?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a64561f1cf08</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 06 Aug 2024 12:00:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:24:10.688Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>🗣: “Percuma Bang dakwahi orang-orang, apalagi orang-orang besar; emangnya mereka mau dengerin kita?”</p><p>Hehehe, cara mikirya bukan begitu sih…</p><p>“Dakwah itu perintah Allah, dan perintah Allah itu harus berusaha kita jalani, sebagaimana salat fardu, puasa Ramadan, serta menafkahi istri dan anak-anak, termasuk dakwah.”</p><blockquote>عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ</blockquote><blockquote>“Dari Huzhaifah bin Al-Yaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ‘Demi dzat yang jiwaku di tangan-Nya hendaknya engkau melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, atau jika tidak, Allah hampir mengirim azab-Nya, kemudian engkau berdoa tetapi tidak dikabulkan.’” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)</blockquote><p>Nanti di Akhirat Allah akan menghisab kita, kita bakal dimintai pertanggungjawaban: apakah udah menjalani perintahNya atau nggak?</p><p>Kalau nggak, kenapa nggak mau?</p><p>Kalau kita jawab, “Alhamdulillah udah ya Allah, saya udah sholat fardhu, udah puasa Ramadhan, udah menafkahi keluarga, udah dakwah, dll…” maka insyaAllah kita bakal selamat di Akhirat.</p><p>Tapi kalau ternyata perintah Allah nggak dijalani, nggak mau sholat fardhu, nggak puasa Ramadhan, nggak nafkahi keluarga, nggak dakwah, dll… Nah itu hati-hati… Bisa jadi nanti malah disuruh mampir ke Neraka…</p><p>Soal orang mau mendengar atau nggak, itu urusan dia.</p><p>Soal orang dapat hidayah taufiq, itu urusan Allah.</p><p>Urusan kita itu udah menjalani kewajiban dengan baik atau nggak.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/538/1*v-C4Mn1mJySlZ1EB7QA6VQ.png" /></figure><p>Fokus aja ke hal yang bisa kita kontrol, yang bisa kita kuasai, yang bisa kita pilih. Yang notabene hal bisa kita kontrol, kuasai, &amp; pilih itu akan dimintai pertanggungjawaban.</p><p>Sementara, hal-hal yang di luar kontrol, di luar kuasa, yang nggak bisa kita pilih; itu nggak akan dimintai pertanggungjawaban.</p><p>Tapi sedikit tambahan: walaupun di sisi lain, kita tetep nggak boleh melupakan evaluasi terhadap materi, metode, strategi, taktik, &amp; teknik dari dakwah kita yaa.</p><p>Kalau orang nggak mau dengerin kita, yaa <em>either</em> coba lagi, atau ganti materi/metode/strategi/taktik/tekniknya, juga lakukan evaluasi.</p><p>Bukan berarti “yang penting dakwah” aja, “asal-asalan”, nggak mau empati, nggak mau memahami isi pikiran orang lain, nggak mau memahami perasaan orang lain, nggak evaluasi &amp; coba materi/metode/strategi/taktik/teknik lainnya yaa. Ikhtiarnya yaa tetep harus optimal &amp; maksimal, hehehe.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a64561f1cf08" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kadang dakwah kita nggak efektif sampai ke orang, kalau kita nggak ramah]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/kadang-dakwah-kita-nggak-efektif-sampai-ke-orang-kalau-kita-nggak-ramah-f89f272c1267?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f89f272c1267</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 28 Mar 2024 12:00:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:10:12.467Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<ul><li>Kalau ada yang berkata, “Ge<em>ble</em>k loe!!! Harus sholat dong! Masak gak sholat sih?! Bakal gosong loe nanti!”, di situ ada kebenaran, tapi nggak ada keramahan.</li><li>Kalau ada yang berkata, “Nggak usah sholat nggak apa-apa kok Hina-chan… Walaupun nggak pernah sholat, yang penting kita rajin sedekah…”, di situ nggak ada kebenaran, tapi ada keramahan.</li><li>Kalau ada yang berkata, “G<em>bl</em>k loe!! Ngapain sholat!! Kurang kerjaan!!! Nggak penting itu sholat!!”, di situ tidak ada kebenaran dan ngga kada keramahan.</li><li>Kalau ada yang berkata, “Assalamu’alaikum brader, sholat yuk brader~,” di situ ada kebenaran dan keramahan.</li></ul><p>Yang terbaik adalah yang benar <em>plus </em>ramah. Jangan sekadar benar tapi nggak ramah, atau ramah tapi nggak bener, apalagi nggak bener dan nggak ramah.</p><p>Meski begitu, kadang tetep ada yang menyanggah:</p><ul><li>“Ah, yang penting kan kita menyampaikan kewajiban!”</li><li>“Nggak apa-apa nggak ramah! Katakan kebenaran meskipun pahit!”</li><li>“Jangan mengalihkan topik pembicaraan jadi bahas gaya komunikasi orang!”</li><li>“Cuman orang rendahan yang memperhatikan gaya bahasa tapi melupakan esensi pesan!”</li><li>“Lu mau bilang adab dulu sebelum ilmu ya? Kata-kata kayak gitu mah cuman tameng buat Pengecut untuk menutupi kesalahannya!”</li></ul><p>Iya bisa jadi sanggahan-sanggahan itu ada benernya juga sih, tergantung konteks &amp; topik yang mau dibahas apa dulu. Kalau yang di khusus tulisan ini, konteks &amp; topik yang mau saya bahas sesuai judulnya <em>“Kadang dakwah kita nggak efektif sampai ke orang, kalau kita nggak ramah”</em>. Jadi yang menjadi fokus saya bahas di kesempatan kali ini adalah gimana agar efektif sampainya itu.</p><p>Nah, maka dari itu, kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya <em>mindset</em>-nya jangan sekadar “Pokoknya aku udah menyampaikan kewajiban!”, tapi baiknya <em>mindset</em>-nya itu “Bagaimana opsi menyampaikan kewajiban yang seefektif &amp; seoptimal mungkin?”.</p><p>Karena kadang berusaha benar <em>plus </em>berusaha ramah itu lebih efektif &amp; optimal daripada sekadar benar tapi males ramah, <em>at least </em>kalau kita menyasar target orang-orang tertentu.</p><p>Salah satu referensi <em>legend</em> yang udah bahas ini adalah buku <em>How to Win Friends and Influence People</em> karya Dale Carnegie.</p><p>Meski tentu saja di sisi lain kita nggak memungkiri, soal orang lain mau nerima dakwah kita atau nggak itu nggak sepenuhnya ada di dalam kontrol kita. Kalau soal hidayah, itu urusan Allah. Kalau soal menerima dakwah, itu urusan orang lainnya itu. Tentu tetep aja ada kemungkinan dakwah kita ditolak meski kita udah sangat argumenatif &amp; super-duper ramah.</p><p>Tapi di sisi lain juga, tetep aja kan, soal mendakwahinya itu urusan kita. Kita subjeknya. Yang namanya ikhtiar upaya itu kalau kita mampu <em>deliver </em>yang paling optimal, yaa coba lah <em>deliver </em>yang paling optimal, sesuai kapasitas kita. Upaya optimal atau nggak optimal itu ada di dalam kontrol kita.</p><p>Selain itu, kadang bonusnya: kalau orang lain berhasil menerima dakwah kita, terus dia berubah dan beramal sholeh melalui perantara kita, maka insyaAllah kita dapat pahala jariyah dong, kayak <em>passive income</em>.</p><p><em>So</em>, mendingan yang mana nih? Mau sekadar pahala udah menunaikan kewajiban aja? Atau mau <em>plus </em>‘potensi bonus’ pahala jariyah yang melimpah?</p><blockquote>“Siapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (hidayah), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR Muslim).</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f89f272c1267" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[8 Jenis Lelah yang Disukai Allah & Rasul-Nya]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/8-jenis-lelah-yang-disukai-allah-rasul-nya-dc7cf20319b7?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/dc7cf20319b7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 28 Oct 2023 12:00:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:53:50.358Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Capek itu manusiawi.</p><p>Abis kerja seharian, capek. Ngurus anak dari pagi sampai malem, capek. Olahraga sampai keringetan, juga capek. Itu respons normal tubuh yang minta istirahat. Nggak ada yang aneh.</p><p>Tapi ada hal yang menarik.</p><p>Ternyata nggak semua capek itu sama. Di dalam Islam, ada jenis-jenis lelah yang memang <em>disukai</em> Allah dan Rasulullah. Bukan sekadar capek biasa. Tapi capek yang nilainya istimewa, mulia, bahkan bernilai pahala di sisi-Nya.</p><p>Lalu, capek yang kayak gimana itu?</p><p><strong>1. Capek Berjihad di Jalan Allah</strong></p><p>Jihad itu artinya berjuang sungguh-sungguh. Dan dalam konteks ini, berperang di jalan Allah.</p><p>Allah sendiri yang jamin ini di QS. At-Taubah ayat 111, bahwa Allah <em>membeli</em> diri dan harta orang-orang mukmin dengan surga. Mereka berperang di jalan-Nya, membunuh atau terbunuh.</p><p><strong>2. Capek Berdakwah</strong></p><p>Dakwah itu capek. Ngajak orang ke kebaikan, nggak selalu diterima dengan baik. Kadang malah dimusuhi, diolokin, dianggap sok suci.</p><p>Tapi Allah udah jawab di QS. Fushshilat ayat 33 , <em>“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?”</em></p><p>Nggak ada. Itu udah yang paling bagus.</p><p>Jadi kalau capek karena dakwah, itulah capek yang paling worth it.</p><p><strong>3. Capek Beribadah dan Beramal Saleh</strong></p><p>Sholat lima waktu tiap hari. Tahajud di sepertiga malam. Puasa Ramadan sebulan penuh. Secara logika, semua itu capek kan.</p><p>Tapi Allah udah jelas bilang di QS. Al-’Ankabut ayat 69, orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari ridha-Nya, <em>bener-bener</em> bakal Allah tunjukkin jalan-jalan-Nya. Dan Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.</p><p><strong>4. Capek Mengandung, Melahirkan, Menyusui, sampai Mendidik Anak</strong></p><p>Ini khusus buat para ibu.</p><p>Hamil itu berat. Melahirkan, lebih berat lagi. Belum menyusui, merawat, mendidik, yang nggak ada habisnya. Capeknya itu berlapis-lapis, tiap hari, bertahun-tahun.</p><p>Allah sendiri yang akuin itu di QS. Luqman ayat 14 , ibu mengandung dalam keadaan <em>lemah yang bertambah-tambah</em>. Makanya anak diwajibkan bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orangtuanya.</p><p><strong>5. Capek Mencari Nafkah yang Halal</strong></p><p>Berangkat pagi, pulang malem. Kerja keras buat keluarga. Itu insya Allah termasuk capek yang worth it juga.</p><p>Allah ngasih arahan jelas di QS. Al-Jumu’ah ayat 10 , setelah shalat, bertebarlah di muka bumi, cari karunia Allah, dan banyak-banyak ingat Allah supaya beruntung.</p><p>Jadi nggak ada tuh dikotomi antara “urusan dunia” dan “urusan agama” kalau niatnya bener dan caranya halal. Nyari nafkah itu bagian dari ibadah juga.</p><p><strong>6. Capek Ngurusin Keluarga</strong></p><p>Nyuci, nyapu, ngepel, masak, belanja, ngurus suami atau istri, ngasuh anak. Nggak ada habisnya, nggak ada liburnya.</p><p>Tapi, Allah ingatkan di QS. At-Tahrim ayat 6 , <em>“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”</em></p><p>Capek ngurusin keluarga itu bukan capek yang sia-sia. Itu capek yang sangat sangat worth it buat jangka panjang.</p><p><strong>7. Capek Belajar dan Menuntut Ilmu</strong></p><p>Belajar itu capek. Baca, ngafalin, mikir, diskusi, kadang frustrasi karena nggak ngerti-ngerti. Capek banget.</p><p>Tapi Allah kasih penghargaan luar biasa buat orang yang mau terus belajar dan mengajarkan ilmu. Itu disebutin di QS. Ali-Imran ayat 79. Jadilah pengabdi Allah karena selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya.</p><p>Jadi, capek belajar itu kayak investasi. Returnnya berlipat-lipat, termasuk dapat pahala dari-Nya.</p><p><strong>8. Capek karena Sakit, Kesusahan, dan Kekurangan</strong></p><p>Ini yang paling berat.</p><p>Kalau sekarang lagi diuji sakit, kesusahan bertubi-tubi, atau kekurangan yang nggak ada ujungnya. Bisa jadi itu tanda kita spesial.</p><p>Allah sendiri yang bilang di QS. Al-Baqarah ayat 155, <em>“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu.”</em></p><p>Jadi yaa, begitulah.</p><p>Capek itu nggak masalah. Capek itu bisa jadi justru tanda kita udah di jalan yang bener. Yang penting niatnya bener &amp; caranya halal.</p><p>Semoga bermanfaat. 🤲</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=dc7cf20319b7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[7 Penyesalan Setelah Kematian]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/7-penyesalan-setelah-kematian-a57a5fd376d8?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a57a5fd376d8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Oct 2023 12:00:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:55:02.485Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<ol><li><strong>Menyesal udah memilih teman akrab yang salah</strong></li></ol><blockquote>“Celakalah aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” <strong>(TQS. Al-Furqan: 28)</strong></blockquote><p><strong>2. Menyesal udah berbuat syirik</strong></p><blockquote>“Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.” <strong>(TQS. Al-Kahfi: 42)</strong></blockquote><p><strong>3. Menyesal karena maksiat</strong></p><blockquote>“Wahai, kiranya dahulu kami ta’at kepada Allah dan ta’at pula kepada Rasul… .” <strong>(TQS. Al-Ahzab: 66)</strong></blockquote><p><strong>4. Menyesal hidup sebagai manusia</strong></p><blockquote>“Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah… .” <strong>(TQS. An-Naba: 40)</strong></blockquote><p><strong>5. Menyesal nggak memanfaatkan kekuatannya dengan benar</strong></p><blockquote>“Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku, Kekuasaanku telah hilang dariku..” <strong>(TQS. Al-Haqqah: 29)</strong></blockquote><p><strong>6. Menyesal udah menolak kebenaran ajaran Islam</strong></p><blockquote>“Seandainya Kami dikembalikan (ke Dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman…” <strong>(TQS. Al-An’am: 27)</strong></blockquote><p><strong>7. Menyesal karena nggak mau sholat</strong></p><blockquote>“Apa yang menyebab kamu masuk ke dalam Neraka Saqor? Mereka menjawab, “Kami termasuk orang-orang yang tidak melaksanakan sholat, juga tidak memberi makan orang miskin, kami biasa berbincang (untuk tujuan yang bathil), bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan.” <strong>(TQS. Al-Muddatsir: 42–46)</strong></blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a57a5fd376d8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[6 Ghibah Yang Diperbolehkan]]></title>
            <link>https://dannsr.medium.com/6-ghibah-yang-diperbolehkan-f130e09a5267?source=rss-4d7f36d1b573------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f130e09a5267</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dann SR]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 12 Sep 2023 12:00:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-26T02:21:43.828Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua tahu ghibah itu haram. Ngomongin orang di belakangnya, nyebut-nyebut aib seseorang, itu udah jelas ada larangannya.</p><p>Tapi, ternyata ada kondisi-kondisi tertentu di mana menyebut nama orang atau menceritakan keburukan seseorang itu justru diperbolehkan. Bahkan dalam sebagian kasus, bisa jadi wajib.</p><p>Nah, apa aja kondisi-kondisinya? Ini berdasarkan kitab <em>Syarah &amp; Terjemahan Riyadhus Shalihin</em> yang saya baca.</p><h3>1. Mengadukan kezdaliman</h3><p>Misalnya kalau Anda didzalimi seseorang. Ntah dicurangi, dirugikan, atau diperlakukan nggak adil. Lalu Anda lapor ke pihak yang berwenang , ntah itu hakim, Penguasa, atau siapapun yang punya kemampuan buat menyelesaikan masalah itu.</p><p>Dalam kondisi begitu, Anda boleh bilang, <em>“Si Anu itu dia udah nipu saya, parah banget, kemarin dia itu begini-begini, terus dia gini-gini…”</em>.</p><h3>2. Meminta bantuan untuk mengubah kemunkaran</h3><p>Kondisi kedua, kalau ada seseorang yang berbuat maksiat, dan Anda minta bantuan kepada pihak yang berwenang untuk menghentikannya.</p><p>Misalnya Anda ketemu fakta ada orang yang menyebarkan obat-obatan terlarang, melakukan perbuatan ilegal, dan sebagainya; nah itu Anda boleh bilang ke orang yang kira-kira bisa nyelesain masalah itu, termasuk untuk menegakkan hukum dengan memberikan sanksi.</p><p>Tapi memang yang perlu diperhatikan, tujuannya mesti memang murni untuk menghilangkan kemunkaran yaa. Bukan buat menjatuhkan orang karena dendam pribadi.</p><blockquote>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq bahwasanya ia mendengar Zaid bin Arqam berkata; “Pada suatu ketika, kami pernah pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan jauh yang pada saat itu para sahabat banyak yang mengalami kesulitan. Kemudian Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temannya; ‘Janganlah kalian memberikan perbelanjaan kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah agar mereka meninggalkan Rasulullah.’ Zuhair berkata; ‘Lafaz ‘Haulihi’ (dengan kasrah pada huruf lam) yaitu menurut bacaan yang paling rajih. Abdullah bin Ubay berkata; ‘Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, maka orang-orang yang kuat benar-benar akan dapat mengusir orang-orang yang lemah.’ (Qs. Al Munaafiquun (63): 8). Zaid bin Arqam berkata; ‘Lalu saya pergi menghadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberitahukan tentang ucapan Abdullah bin Ubay tersebut kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepada Abdullah bin Ubay untuk menginterogasinya. Namun, ternyata Abdullah bin Ubay bersumpah bahwa ia tidak pernah berkata seperti itu! Dan ia berkata; ‘Zaid telah membohongi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Zaid bin Arqam berkata; <strong>Tentu saja ucapan orang-orang munafiq itu membuat hati saya menjadi jengkel</strong>, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat yang membenarkan sikap saya yang berbunyi: ‘Apabila orang-orang munafik datang kepadamu… (Qs. Al Munaafiquun (63): 1)’. Zaid bin Arqam berkata; ‘Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil mereka, orang-orang munafik, untuk dimintakan ampunan kepada Allah, tetapi mereka malah membuang muka.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: <strong>‘Orang-orang munafik itu seolah-olah kayu yang tersandar…’</strong> (Al Munaafiquun (63): 4). Zaid bin Arqam berkata; ‘Mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang secara zhahir kelihatan mempesona.’ <em>(HR. Muslim)</em></blockquote><h3>3. Meminta fatwa</h3><p>Kalau yang ini, misalnya ada orang yang dia punya masalah sama seseorang, ntah mungkin sama suaminya, orang tuanya, saudaranya, atau yang lain, terus dia butuh nanya ke Ulama soal hukumnya.</p><p>Nah, maka dia boleh bilang misalnya, <em>“Aku disakiti oleh orang dekatku. Apakah pantas dia berbuat begitu? Bagaimana cara saya memperoleh hak saya?”</em>.</p><p>Meski begitu, Para ulama menyarankan, kalau bisa sih, lebih baik tanpa menyebut nama. Misalnya cukup bilang aja, <em>“Apa pendapat Anda kalau misalnya ada seorang laki-laki yang dia itu begini-begini?”.</em> Selama memang itu cukup untuk mencapai tujuan &amp; mengatasi masalahnya. Tapi kalau memang perlu nyebut nama untuk memperjelas masalah, itu boleh juga.</p><blockquote>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah radliallahu ‘anha, bahwa Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang pelit. Maka apakah aku berdosa bila mengambil sesuatu dari hartanya yang dapat menutupi kebutuhanku dan juga anakku?” beliau menjawab: “Ambillah dengan cara yang wajar.” (HR. Bukhari)</blockquote><h3>4. Mengingatkan orang-orang dari perbuatan buruk</h3><p>Ini termasuk kondisi yang bisa bikin ghibah jadi <em>wajib</em>, bukan sekadar boleh.</p><p>Contohnya, menunjukkan ‘cacatnya’ (kekurangan keterampilan &amp; keburukan sifat) seorang perawi hadits atau saksi. Kalau ada perawi yang diketahui sering bohong atau bermasalah kredibilitasnya, maka menyebutkan hal itu adalah bagian dari menjaga ‘kemurnian’ ilmu.</p><blockquote>Dari Aisyah radiyallāhu ‘anhā, ia berkata, Rasulullah -shallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, <strong>“Aku tidak yakin si fulan dan si fulan tahu sedikit pun tentang agama kita.”</strong> Al-Lais bin Sa’ad, salah seorang perawi hadis ini berkata, “Kedua orang tersebut adalah dua orang dari kaum munafik.” <em>(HR. Bukhari)</em></blockquote><blockquote>“Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “<strong>Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (bersifat keras).</strong>”.” <em>(HR. Bukhari-Muslim)</em></blockquote><h4>5. Orang yang udah terang-terangan berbuat fasik</h4><p>Kalau ada orang yang udah terang-terangan, udah diketahui orang-orang, nggak malu-malu berbuat kemaksiatan di depan umum, misalnya minum khamar di tempat terbuka, suka curang kalau lagi ngitung duit saat ngerjain proyek &amp; bisnis, nyuri duit orang, korup, dan sebagainya; maka boleh menyebutkan perbuatannya itu.</p><p>Tapi tentunya catatan, yang fokus dibahas cuman satu atau beberapa aktivitas keburukannya yang udah terang-terangan itu aja, bukan kayak menggali-gali aib lain yang tersembunyi.</p><blockquote>Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah saya mendengar Ibnu Al Munkadir dia mendengar ‘Urwah bin Az Zubair bahwa Aisyah radliallahu ‘anha pernah mengabarkan kepadanya, katanya: “Seorang laki-laki meminta izin kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau lalu bersabda: “<strong>izinkanlah dia masuk, amat buruklah saudara ‘Asyirah (maksudnya kabilah) ini atau amat buruklah Ibnul Asyirah (maksudnya kabilah) ini.</strong>” Ketika orang itu duduk, beliau berbicara kepadanya dengan suara yang lembut, lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, anda berkata seperti ini dan ini, namun setelah itu anda berbicara dengannya dengan suara yang lembut, Maka beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kekejiannya.” <em>(HR. Bukhari)</em></blockquote><h3>6. Memperkenalkan seseorang yang udah dikenal dengan julukannya</h3><p>Kondisi terakhir ini lebih soal konteks pengenalan identitas. Ada orang-orang yang memang udah dikenal di masyarakat dengan julukan tertentu, misalnya (mohon maaf yaa) “yang buta itu”, “yang tuli itu”, dan sebagainya.</p><p>Kalau menyebut julukan itu memang satu-satunya cara untuk mengidentifikasi orang tersebut, dan nggak ada niat merendahkan, maka diperbolehkan. Tapi tentu saja, kalau ada cara lain yang lebih baik untuk memanggilnya, itu lebih bagus.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f130e09a5267" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>