<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Doinggoodforothers on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Doinggoodforothers on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@dgforothers?source=rss-d8112bf6aa05------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*P_jk9waQQ8Hbbz62w7DxDA.png</url>
            <title>Stories by Doinggoodforothers on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@dgforothers?source=rss-d8112bf6aa05------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 16 May 2026 17:45:34 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@dgforothers/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Ever feel like you never achieve anything?]]></title>
            <link>https://medium.com/@dgforothers/ever-feel-like-you-never-achieve-anything-c8a1e13bd65a?source=rss-d8112bf6aa05------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c8a1e13bd65a</guid>
            <category><![CDATA[atomic-habit]]></category>
            <category><![CDATA[bahasa-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Doinggoodforothers]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 23 Nov 2025 05:49:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-23T05:49:22.534Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ever feel like you never achieve anything?</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*FGGyeVWzzhILdjX949sMeg.png" /></figure><p><strong>Menjelang akhir tahun, biasanya kita mulai menyusun berbagai target untuk tahun depan, sambil bertanya-tanya dalam hati: “Kok rasanya nggak ada satu pun goal tahun ini yang benar-benar tercapai, ya?” Di artikel kali ini, kami mencoba menggali lebih dalam masalah ini berdasarkan buku Atomic Habits karya James Clear</strong></p><h3><strong>The value of making small improvements on a daily basis</strong></h3><p>Kita semua pasti mengalami banyak hambatan maupun tantangan dalam hidup. James Clear, penulis Atomic Habits, buku terlaris New York Times selama lebih dari lima tahun, mengalahkan tantangan-tantangan terbesar dalam hidupnya dengan membangun habit/kebiasaan baik setiap hari.</p><p>Menurutnya, sebuah evolusi bertahap, serangkaian panjang kemenangan kecil dan terobosan sangat kecil adalah satu-satunya cara membuat dirinya maju.</p><p>Jujur deh, kita seringkali membebani diri kita dengan keinginan membuat perubahan yang radikal, serba cepat dan sempurna. Padahal menurut Clear, perbaikan 1% jauh lebih bermakna, terutama dalam jangka panjang.</p><p>Berikut penjelasan matematikanya: kalau kita bisa menjadi 1% lebih baik tiap hari selama 1 tahun, akhirnya kita akan 37 kali lebih baik pada akhir tahun tersebut. Sebaliknya, kalau kita 1% lebih buruk tiap hari dalam setahun, pelan-pelan kita malah turun terus sampai hampir nggak ada kemajuan sama sekali. Yang berawal dari satu kemenangan kecil atau satu kemunduran remeh, dapat terakumulasi menjadi jauh lebih besar.</p><blockquote><strong>Pengaruh habit/kebiasaan menjadi berlipat-lipat sewaktu kita mengulang-ulang kebiasaan tersebut.</strong></blockquote><p>Membuat pilihat 1% lebih baik atau 1% lebih buruk memang terkesan tidak bermakna disaat ini. Tapi dalam rentang waktu panjang, pilihan-pilihan tersebutlah yang bisa menentukan perbedaan antara siapa kita sekarang dan siapa kita nanti.</p><h3>Goals are about the results you want to achieve. Systems are about the processes that lead to those results.</h3><p>Jatuh cintalah pada sistem/proses, bukan hasil semata, supaya kita bisa memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk bahagia. Kita bisa bahagia dan merasa puas ketika sistem kita berjalan, hasilnya mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang kita bayangkan pertama kali, dan itu nggak apa-apa.</p><blockquote>You do not rise to the level of your goals.</blockquote><blockquote>You fall to the level of your systems.</blockquote><h3>Habits Memegang Peran yang Paling Besar dalam Menentukan Identitas Diri Kita</h3><p>Proses membangun habit, sama dengan proses menjadi diri sendiri. Identitas terbentuk sedikit demi sedikit, hari demi hari, kebiasaan demi kebiasaan. Cara yang paling praktis untuk mengubah sebuah identitas diri adalah mengubah habit / kebiasaan yang kita lakukan. Tentukan dulu, kita mau jadi orang yang seperti apa, misalnya: mau jadi orang yang sehat atau mau jadi orang yang disiplin. Setelah itu, buktikan lewat tindakan kecil setiap hari. Bukan dengan kata-kata atau mimpi saja, tapi dengan “kemenangan kecil”, misalnya:</p><ul><li>Mau jadi orang sehat → hari ini kita mulai deh jalan kaki 15 menit keliling komplek perumahan.</li><li>Mau jadi orang disiplin → hari ini beneran selesaikan tugas atau hal-hal yang sudah kita tunda lama, stop procrastinating start doing.</li></ul><p>Mulai dari identitas (“kita mau jadi orang seperti apa”), lalu setiap hari buktikan dengan langkah-langkah kecil yang konsisten.</p><p>Lebih jauh Clear menyebutkan: “The key to building lasting habits is focusing on creating a new identity first. Your current behaviors are simply a reflection of your current identity. What you do now is a mirror image of the type of person you believe that you are (either consciously or subconsciously).”</p><p>Kita memiliki kekuasaan untuk mengubah keyakinan kita terhadap diri sendiri. Setiap saat kita punya pilihan. Kita bisa memilih identitas yang ingin kita perkuat setiap hari dengan habit/kebiasaan-kebiasaan yang kita pilih hari ini. Ingat, mulai dari hal sangat kecil supaya kita nggak perlu pikir dua kali untuk konsisten.</p><p>Sumber: Atomic Habits, James Clear</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c8a1e13bd65a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Everything I Wish I Knew About Love Earlier]]></title>
            <link>https://medium.com/@dgforothers/everything-i-wish-i-knew-about-love-earlier-0fde8f70c1bb?source=rss-d8112bf6aa05------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0fde8f70c1bb</guid>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[jay-shetty]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Doinggoodforothers]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 17:03:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-16T08:41:57.691Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ocMMzbQ6pw_2ZehhpJ1gRA.png" /></figure><p><em>I used to think love means you don’t fight. Now I know it means you know how to repair.</em></p><p><em>I used to think love was proven by grand gestures. Now I know it’s built in the small, consistent ones.</em></p><p><em>I used to think love was about never changing. Now I know it’s about growing and still choosing each other.</em></p><p><em>I used to think love was how loud they said it. Now I know it’s how clearly they show it.</em></p><p>Dalam tulisan kali ini, kami mencoba membandingkan pandangan Jay Shetty dengan sebuah pendapat akademik lainnya</p><h3>Unhealthy Ideas About Love</h3><p>Saat jantung kamu berdebar kencang dekat seseorang, kita sering berfikir, “wah jangan-jangan dia jodoh gue.” Padahal, riset menunjukkan kita sering keliru mengartikan rasa excited, cemas, atau bahkan rasa nggak aman sebagai tanda “ketertarikan”.</p><p>Richard Schwartz, profesor di Harvard Medical School (HMS) mengatakan, selain bikin kita merasa senang, cinta juga bisa “mematikan” jalur saraf yang mengatur emosi negatif, seperti rasa takut dan kepiawaian menilai orang lain.</p><p>Perasaan positif dan negatif ini berjalan melalui dua jalur saraf yang berbeda. Jalur yang berhubungan dengan emosi positif menghubungkan korteks prefrontal (our thinking brain) dengan nucleus accumbens. Jalur yang berhubungan dengan emosi negatif menghubungkan nucleus accumbens dengan amigdala(<em>emotional brain</em> atau <em>fear center)</em>.</p><p>Kalau kita lagi jatuh cinta, bagian otak yang biasanya dipakai untuk menilai dan mengkritik orang lain , termasuk menilai pasangan sendiri, menjadi tidak aktif. “That’s the neural basis for the ancient wisdom ‘love is blind’’, kata Schwartz.</p><h3>Jangan Terlalu Baper</h3><p>Merasa sangat tertarik pada seseorang bukan selalu berarti dia adalah satu-satunya orang yang tepat buat kamu. Itu artinya sistem saraf kamu lagi terpicu, bukan selalu tanda “this is the one”.</p><p>Studi Harvard tersebut juga melaporkan bahwa fase awal cinta bisa menaikkan kortisol (hormon stres) sekaligus menurunkan kadar serotonin, sehingga muncul campuran “excited tapi cemas”.</p><p>Seiring berjalannya waktu, ketika hubungan mulai stabil dan komitmen meningkat, produksi kortisol justru menurun, maka kadar stress kita pun akan hilang.</p><p>Sayangnya, turunnya kadar stress inilah yang sering kita salah artikan dengan bosan, no more spark, etc. When actually, it’s peace!</p><h3>The Core Idea : Conflict Doesn’t Ruin Relationships</h3><p>Avoiding it does. Jay Shetty said: “Relationship are a space for growth, not for comfort. Relationships are meant to challenge you. If relationship just about comfort, then you are not going anywhere. They make you realize how important to think about someone else, they are meant to make you more emotionally intelligent. Healthy couples don’t avoid conflict, they manage it with repair.”</p><h3>Everlasting Love</h3><p>Masih dalam studi Harvard tadi, prof. Richard Schwartz menyebutkan bahwa rasa jatuh cinta itu bukan hanya karena usaha atau drama hubungan semata, tapi juga karena ada mekanisme biologis alami di dalam diri kita, seperti cara kerja otak, hormon (seperti dopamin, oksitosin, dll) serta sistem saraf kita. “There is an inevitable change over time from passionate love to what is typically called compassionate love. Love that is deep but not as euphoric as that experienced during the early stages of romance. That does not, however, mean that the spark of romance is quenched for long-married couples.” Literatur Islam mengenal konsep ini sebagai sakinah, mawaddah, warahmah.</p><p>Sebuah studi lain di tahun 2011 dari Stony Brook University di New York menunjukkan bahwa seseorang masih bisa “jatuh cinta setengah mati” pada pasangannya bahkan setelah puluhan tahun menikah. Tim peneliti, termasuk di dalamnya seorang biological anthropologist Helen Fisher, melakukan MRI pada banyak pasangan yang sudah menikah rata-rata 21 tahun. Hasilnya, bagian otak yang kaya dopamin (zat kimia yang bikin kita merasa senang dan nagih) masih menyala dengan intensitas yang mirip seperti otak pasangan yang baru jadian.</p><p><em>If they make your heart race, but never your mind rest, that’s adrenaline not alignment.</em></p><p><em>If you only feel seen when you’re perfect, that’s performance not partnership.</em></p><p><em>If they hype your highs but disappear in your lows, that’s entertainment not commitment.</em></p><p>Sumber: Harvard Medical School: Love and the Brain &amp; Jay Shetty Podcast</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0fde8f70c1bb" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Doing Good for Others]]></title>
            <link>https://medium.com/@dgforothers/doing-good-for-others-2557a08baeeb?source=rss-d8112bf6aa05------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2557a08baeeb</guid>
            <category><![CDATA[mindfulness]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[doing-good-for-others]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Doinggoodforothers]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 12:13:10 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-15T12:24:00.266Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Lh4mJM9vKLOLRj0HSeZU9Q.png" /><figcaption>Baca artikel “Morning Routine” di instagram @doinggoodforothers</figcaption></figure><p>Buat yang belum kenalan, DGFO adalah sebuah community-based platform yang berfokus pada mental health awareness dan self-improvement.<br>Lahir pada bulan Agustus 2021, awalnya kami bernama Jendela Jiwa Publication (JJP), sebuah penerbit buku yang berfokus pada mental health awareness.</p><p>JJP telah menerbitkan lima buah buku, salah satunya berjudul <em>Semesta Luruh Semesta Tumbuh</em> karya Dedy Kurniawan, co-founder Koolastuffa. Buku ini cukup mendapat sambutan, terutama dari media-media besar seperti Koran Kompas yang meliputnya sebesar hampir setengah halaman! Selain itu ada Kompas.com serta Detik.com yang meliput secara serius. Senang sekali rasanya buku tersebut mendapat eksposur luas. Sedikit cerita nih, walaupun JJP merupakan penerbit baru, sebenarnya kami sudah pernah membuat penerbit buku sebelumnya pada tahun 2003 dengan nama Terrant Books. Kala itu kamilah yang menerbitkan novel fenomenal <em>Eiffel… I’m in Love</em> (yang akhirnya diangkat ke layar lebar, sekarang masih ada di Netflix deh filmnya) serta puluhan buku novel khusus remaja lainnya. Iya, menerbitkan buku khusus untuk remaja saja.</p><p>Kadang meringis sendiri, even back then, kami sangat fokus (atau idealis ya?) dalam berbisnis. Waktu itu belum banyak brand yang mengkhususkan diri pada satu segmentasi saja.</p><p>Setelah 12 tahun, Terrant Books hiatus pada tahun 2015. Baru pada 2021, Pak Haidar Bagir, founder Mizan Group, mengajak kami kembali ke dunia penerbitan buku, kali ini bekerja sama dengan Mizan.</p><p>Kami berpikir, apa sulitnya bikin penerbit buku lagi, toh kami sudah pernah punya Terrant Books dan bertahan tanpa suntikan modal selama 12 tahun. Tapi alamak! Kalau dulu kami hanya berjuang membakar semangat remaja untuk menulis, di tahun 2021 mencari penulis remaja justru bukan main sulitnya, karena anak muda sekarang malah tidak membaca buku, apalagi menulis? Setelah genap satu tahun, kami memilih untuk tidak meneruskan kontrak dengan Mizan dan ingin berfokus membangun community terlebih dahulu. Mungkin nanti kerjasama lagi ketika kami sudah cukup pede dan memiliki komunitas sendiri, begitu pikir kami.</p><p>Kelahiran DGFO berawal dari diselenggarakannya sebuah event bertajuk sama di sebuah kafe kecil bernama Kopi Jendela Jiwa milik Pak Haidar yang dipinjamkan kepada kami selama dua hari, Jumat dan Sabtu. Di acara tersebut kami mengumpulkan banyak komunitas yang memiliki minat dan fokus yang sama. Event ini kami gagas dan eksekusi nyaris tanpa modal. Komunitas-komunitas yang hadir membuka booth berupa meja-meja yang ditata dan dihias sendiri. Semua tidak dibayar, dua diantaranya adalah lembaga psikologi profesional yang berbaik hati menghadirkan para psikolognya untuk memberikan edukasi seputar masalah kesehatan mental. Ada pula Teruntuk Project milik Ghassani Salsabilla (Salbi) yang membuka konsultasi psikologi gratis untuk semua yang hadir. Oh iya, para pengisi acara pun tidak dibayar (hatur nuhun Mas Henry Manampiring dan Mbak Dinda Puspitasari) kalaupun ada, hanya transport yang didukung oleh SMA Lazuardi Global Compassionate School waktu itu. Sampai sekarang suka senyum sendiri, mengingat betapa semangatnya kami memasang sendiri spanduk dan poster eventnya di pinggir jalan kompleks Graha Cinere, itu pun support dari Yayasan Amal Khair Yasmin! Alhamdulillah, event dua hari di kafe di ujung Cinere ini dihadiri lebih dari 150 peserta, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Bekasi dan Tangerang! Buat kamu yang ingin tahu lebih lanjut, sila cek Instagram @doinggoodforothers deh buat cek keseruannya!</p><p>Ah, memang benar nama adalah doa. Niat kami menamakan event tersebut dengan Doing Good for Others adalah semata untuk give back to society, khususnya remaja, dan menyebarkan mental health awareness seluas-luasnya. Nyatanya, semua yang mendukung betul-betul ikhlas membantu dan berjuang bersama. Tanpa dibayar.</p><p>Atas dasar itulah, kami mengubah nama JJP menjadi Doing Good for Others. Nama ini somehow benar-benar resonate dengan kami. Walau belum profit, kami tetap semangat membuat konten-konten edukasi seputar mental health, membaca banyak sekali buku-buku self-improvement, podcast-podcast kesehatan mental, jurnal-jurnal science (supaya isi konten yang kami buat tetap valid dan sebisanya science based), hingga lari-larian mengejar narasumber untuk diwawancarai untuk sharing ilmunya buat komunitas DGFO. “Biar semesta yakin dulu, kita serius!” begitu petuah sang guru stoik, Henry Manampiring.</p><p>Terus, nanti akan bikin penerbit buku lagi nggak? Menurut kamu gimana?</p><p>Follow IG kita yuk: @doinggoodforothers</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2557a08baeeb" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>