<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Forensic Studio on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Forensic Studio on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@forensicstudio?source=rss-940e216bdbf8------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*OP8Jr5C42qbeNywmdrJ1BA.png</url>
            <title>Stories by Forensic Studio on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@forensicstudio?source=rss-940e216bdbf8------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 16 May 2026 05:29:08 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@forensicstudio/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Cerpen: Mereka yang Mati, Mereka yang Hidup]]></title>
            <link>https://medium.com/@forensicstudio/cerpen-mereka-yang-mati-mereka-yang-hidup-b2b6f9fc7f97?source=rss-940e216bdbf8------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b2b6f9fc7f97</guid>
            <category><![CDATA[cerpen]]></category>
            <category><![CDATA[sastra]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Forensic Studio]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 09 Jul 2025 07:54:17 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-09T07:54:17.429Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Negpp4QJhm9dYiiw5b7g5g.png" /></figure><p>Sunyi pada pedesaan datang saat mimpi yang adalah realita itu datang. Segala cara telah ditempuhnya untuk membuat keramaian, baik dalam kegelisahan maupun yang nampak pada kedua bola mata. Demi keramaian, usikan terhadap orang lain telah berkilo-kilo meter dilalui. Bahkan di tengah kegelapan, ketika lelap menjadi makan malam bagi orang-orang lain, ia malah terbangun dari tidurnya. Matanya hendak keluar dan bergetar hebat kedua tangannya.</p><p>Ia mengusakan diri menapakkan kedua kaki telanjangnya pada tanah untuk membopong tubuh lemahnya. Sesekali ia menahan sesak di dada dan membuka katup bibirnya untuk mengambil nafas. Meski usianya telah usang, kehendak dalam dirinya tak pernah usang. Mengambil langkah dan terus lari, melarikan sesuatu.</p><p>Di sisi yang lain, masih pada desa yang sama, seorang gadis berusaha menjadi pencuri bagi rumahnya sendiri. Membawa bekal makanan cukup banyak dan sepasang pakaian sebagai cadangan, ia merusak jendela kayunya bergegas masuk ke dalam hutan.</p><p>Belum sampai pada hutan yang nampak jelas di depannya, ia melihat seseorang lebih dulu masuk ke dalam hutan, mengendap-endap tanpa lentera, seperti ia adalah ratu bagi hewan-hewan malam. Gadis itu mengikutinya, penuntun takdir, pikirnya. Namun saat cahaya rembulan yang berhasil memasuki hutan memperlihatkan penuntun takdir, gadis itu ragu bahwa ia mengenalnya dengan sebutan sang nenek.</p><p>Penduduk desa kerap membicarakan seseorang yang sudah satu abad tinggal di desa itu. Meski bukan pendiri desa, orang-orang berbincang bahwa ia pendiri keabadian. Orang-orang yang telah ia liat pertama kali saat datang ke desa, semuanya telah tiada. Entah karena terpeleset saat mencuci baju, dimakan hewan buas, terkena sakit-penyakit, tenggelam di sungai, tersesat dan tak pernah kembali, tersambar petir, hukuman gantung, ataupun mati dalam lelap mimpinya. Tersisalah sang nenek sebagai tetua desa yang menerima koin tanpa bekerja.</p><p>Oleh karena rasa penasaran, gadis itu mengikuti sang nenek hingga pada tujuannya. Sesampainya di tengah lapang diantara rimbun pepohonan, sang nenek menghentikan langkahnya. Tak jauh dari situ, gadis itu mengintip dari balik pohon mengamati dan menebak perbuatan sang nenek selanjutnya.</p><p>Dengan susah payah, sang nenek menegakkan punggungnya dan menengadah pada langit malam. Dengan hati-hati sang nenek berucap “<em>abracadabra</em>”. Para binatang malam seketika keluar dari persembunyiannya. Hasrat berburu memuncak pada kehendak paling tinggi. Antara pembebasan atau perbudakan, rasanya samar-samar bagi para binatang. Bahkan malam gelap yang sebelumnya dapat mereka lihat, sesungguhnya membutakan. Demikian pula pada penglihatan sang nenek. Gelap malam pada langit ataukah gelap pada mata itu sendiri, sang nenek tak tahu.</p><p>Gadis berani itu seketika ketakutan. Ia yakin bahwa tak hanya para binatang yang keluar. Ia tahu jelas bagaimana perasaannya kini. Belum sempat bergumul dengan rasa sesal, sesak di dada membuatnya tak bisa berpikir. Mulutnya menganga, entah hendak meminta pertolongan atau mengambil nafas, tak ada yang tahu. Dalam sedetik tubuhnya menjadi amat kaku tak terkendali. Ia jatuh tertangkap tanah. Sesekali menjadi kejang. Kedua matanya menjadi amat panas hingga merah darah menjadi tangis laranya. Ia melihat seorang gadis lain, dengan wajah tak asing, telah ada disampingnya, dengan tatapan amat tua.</p><p>***</p><p>Sudah menjadi rahasia umum bila kejayaan, kedudukan, kekayaan, dan berlimpah pujian menjadi modal utama bagi kebahagiaan umat manusia. Nilai tambah lain adalah naluri bergairah pada lawan jenis, entah pada satu atau pada sepuluh atau tujuh puluh. Kemudian estetika menjadi jiwa yang mesti melekat padanya. Hal-hal demikianlah membikin penduduk kota kecil bernama Improbus hidup.</p><p>Kota itu berdiri diantara dua bukit, Zeba dan Fanya, dan tak jauh dari lembah Kidron. Meski kecil, manusia-manusia di dalamnya tetaplah besar. Sebesar gedung opera yang kini orang-orang sedang antri panjang membeli tiket. Bahkan beberapa penduduk dari kota jauh rela menempuh perjalanan sehari untuk duduk di kursi merah dan mendengar gelora kejayaan, kedudukan, kekayaan, dan keindahan dalam dua jam kedepan.</p><p>Beberapa orang mengeluh oleh karena duduk yang telah penuh sehingga harus datang minggu depan. Namun beberapa orang lain nekat masuk dengan berpura-pura menjadi penjaga atau pelayan tamu hanya untuk mendengar.</p><p>Saat penonton telah dalam keadaan tenang, tak terdengar suara bisik sekalipun, dan tatapan mereka lurus pada panggung yang gelap, lampu sorot menyala. Seorang gadis berdiri disana. Bergaun putih nan apik, rambut hitam bergelombang dengan bunga melati sebagai hiasannya, dengan kulit putih bersih, tatapan penuh binar, tegak berdiri, dan jari-jari tangan kanannya memegang anggun jari-jari tangan kirinya, dan perlahan membuka bibirnya.</p><p>Keelokan dan geloranya menyihir para penonton. Tiada mata yang berkedip, nafas pun seolah tak ada, mereka menjadi mati demi sang gadis yang berdiri di atas sana. Segalanya terdiam kecuali musik dari violin. Dari satu gelora ke gelora yang lain, tiada henti para penonton menatap kemegahan panggung berlapis emas dengan gadis berparas cantik bernyanyi sebagai pemeran utama.</p><p>Saat nyanyiannya telah selesai dikumandangkan, penonton bersorak ramai sembari dengan lantang bertepuk tangan. Beberapa lainnya yang lebih dekat dengan panggung melempar banyak bunga sebagai tanda bahagia dan pujian. Panggung dan sang gadis adalah kesatuan tubuh yang menghidupkan dan menyelamatkan jiwa mereka.</p><p>Saat segalanya telah usai dan sepi, jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sang gadis bergegas berganti pakaian yang lebih nyaman dan pulang menaiki kereta kudanya. Di tengah perjalanan, seorang pria dengan usia hampir kepala tiga dan pakaian lusuh oleh kegemarannya berlayar, menghadang dengan tiba-tiba. Kuda beserta sang kusir amat terkejut.</p><p>“Hei! Kau boleh bertemu dengannya, tetapi jangan membuat orang jantungan!” sentak sang kusir. Pria itu tersenyum pada gadis di dalam kereta kuda, seolah tak pernah mendengar sentakan sang kusir.</p><p>“Tunggulah dengan sabar,” pinta sang gadis dengan lembut, sembari membuka pintu dan turun perlahan. Pria itu bergegas menjemput dan meraih tangan lembut sang gadis.</p><p>“Baik, nona,” jawab sang kusir saat sang gadis berhasil menapakkan kakinya pada tanah. Tersenyumlah sang kusir padanya. Tersenyumlah pula sang gadis membalasnya.</p><p>Mereka berjalan menjauhi kereta kuda, saling berbincang dengan seksama. Hasrat yang lama terpendam mereka gali dan ambil, kemudian mereka bagikan. Segala hal mereka perbicangkan begitu mendalam, mulai dari roti panggang yang selalu berakhir hitam, hujan yang membikin ikan keluar dari kolam dan mati, perjalanan jauh seorang awak kapal, putri duyung yang ternyata adalah ikan duyung, hingga sang kapten kapal yang selalu membawa kelincinya kemanapun ia pergi, ke kamar mandi sekalipun. Bahkan di hari yang begitu dini, demikian pula rasa mereka yang terus tumbuh sejak mereka dini. Pemberhentian mereka, jembatan yang menghubungkan kota dengan hutan, menjadi saksi bisu perjalanan mereka. Tak usai-usai jua pertanyaan dan cerita, baik dari tanah basah maupun samudera yang terik.</p><p>“Lalu bagaimana dengan paus? Apakah kau sudah menemukan dan mengukurnya?”</p><p>“Kau tak kan pernah percaya, kami menemukan hal yang lebih bagus.”</p><p>“Perihal apakah hingga kau menyanjungnya?”</p><p>“Mutiara aeternum. Menghilang beribu tahun lalu dan kini telah ditemukan,” ucapnya dengan bangga sembari menunjukkan mutiara dengan semburat kemerah-merahan</p><p>“Kau mencuri?”</p><p>“Kutemukan sendiri saat sedang singgah di sebuah pulau asing. Sang kapten dan awak sibuk dengan koin-koin emas. Saat itulah kutemukan mutiara ini di dalam air terjun tak jauh dari goa harta karun.”</p><p>“Aku percaya.”</p><p>“Sudah kupasang tali hitam, maukah engkau mengenakannya?” Sang gadis menundukkan kepalanya sebagai tanda iya. Mereka tersenyum dan menatap dalam begitu lama. Dibawah rembulan, mereka mengadu rindu kemudian saling mendekap, tak ingin hilang, baik waktu maupun tubuh pujaan hatinya.</p><p>Belum usai dengan peraduan kasihnya, suara tembakan disertai jerit lara kuda yang seketika itu mati membikin gundah hati. Pria itu bergegas hendak melihat hal apakah yang telah terjadi, tetapi sang gadis dengan sigap menggenggam lengan pria itu, menatap tajam sembari menggeleng.</p><p>“Dia dalam masalah.”</p><p>“Sudah waktunya bagi sang kusir. Tidak bagimu.”</p><p>“Percayalah, tunggulah disini, aku akan kembali,” kata pria itu meyakinkan sang gadis yang masih terus menggenggam erat lengannya sembari menggeleng. Tembakan-tembakan lain mulai terdengar, pria itu dengan paksa melepas dan bergegas lari menuju sumber suara.</p><p>Sang gadis menangis sejadi-jadinya, tetapi tangisnya tak dapat mengalahkan suara tembakan-tembakan yang kini saling beradu dan bertambah jumlah tembakannya. Mengetahui suara tembakan yang semakin mendekat, sang gadis menyudahi tangisannya dan berlari ke dalam hutan mengintip dari balik pohon. Orang-orang bertubuh besar, hitam, dan kuat itu menembaki orang-orang lain dengan brutal, ada pula sebagian lainnya menebas dengan pedang, memenggal kepala mereka, membikin darah tertumpah tanpa peduli apakah orang itu pemilik gelora kejayaan, kedudukan, kekayaan, dan keindahan tertinggi di kota itu atau bukan.</p><p>Pertumpahan darah pula tawa-tawa mereka, memadu bagai kasih. Lama dalam lembah Kidron, kini rindu mereka gali, ambil, dan bagikan di kota Improbus. Masih haus, mereka membakar rumah-rumah hingga menjadi abu, meratakan tanah yang ada.</p><p>Tak ada yang pernah tahu, siapakah pendosa sejatinya. Pada dini hari, di langit malam yang begitu gelap, mereka melihat dengan kebutaan. Rembulan berkabung memuntahkan merah darah berharap fajar segera menggantikannya. Namun sang gadis, sepertinya tak berharap demikian. Kedua matanya terbelak melihat segalanya. Segala yang ada di hadapannya, maupun yang tidak.</p><p>“Bila masa depan ada seperti demikian, kan kubiarkan ia menjadi astronot. Melarikan diri dari tanah bumi,” pilunya dalam hati. Sang gadis tahu jelas bagaimana perasaannya kini. Belum sempat bergumul dengan pengtahuan di kepalanya, sesak di dada membuatnya tak bisa berpikir. Mulutnya menganga, entah hendak meminta pertolongan atau mengambil nafas, tak ada yang tahu. Dalam sedetik tubuhnya menjadi amat kaku tak terkendali. Sang gadis jatuh tertangkap tanah. Sesekali menjadi kejang. Kedua matanya menjadi amat panas hingga merah darah menjadi tangis laranya. Sang gadis melihat pada seorang gadis lain yang tiba-tiba ada disampingnya. Menerka-nerka apakah ia benar seorang gadis atau bukan, sebab tatapannya amat tua.</p><p>***</p><p>Gadis itu sekarat. Ia tak bisa mengingat apapun selain kemarahan pada ayah dan ibunya yang bunuh diri. Meninggalkannya dalam kesendirian. Seolah mengetahui yang hendak terjadi, ia berpasrah dalam kesakitannya. Matanya menjadi sangat kabur tak dapat melihat apapun. Namun dengan jelas ia rasakan sebuah besi tipis, amat dingin, dan amat tajam menyentuh lehernya, menambah lara. Dengan jelas pula ia masih dapat mendengar.</p><p>“Kau tak boleh melupakan kebohongan kekasihmu,” ucap gadis lain sembari menebas leher gadis itu membikin mati dan darah membasahi tanah, “dan siapa dirimu sebenarnya,” lanjutnya sembari menatapnya lekat dan tersenyum kecil.</p><p>Seketika suara tembakan memekakkan telinga. Orang-orang bertubuh besar, hitam, dan kuat itu menembaki orang-orang desa dengan brutal, ada pula sebagian lainnya menebas dengan pedang, memenggal kepala mereka, membikin darah tertumpah tanpa peduli betapa miskin dan melaratnya mereka. Masih lapar, mereka membakar rumah-rumah hingga menjadi abu, meratakan tanah yang ada.</p><p>Tak ada yang pernah tahu, siapakah pendosa sejatinya. Pada dini hari, di langit malam yang begitu gelap, mereka melihat dengan kebutaan. Rembulan berkabung memuntahkan merah darah berharap fajar segera menggantikannya. Namun sang gadis, sepertinya tak berharap demikian. Kedua matanya terbelak melihat segalanya. Segala yang ada di hadapannya, maupun yang tidak.</p><p>Gadis lain itu membalikkan badannya. Kedua matanya bertemu dengan mata sang nenek. Ia melangkahkan kakinya mendekat, tetapi matanya lekat terus menatap sang nenek. Di bawah sinar bulan kemerahan oleh darah, mata mereka menjadi lebih lekat dan dekat.</p><p>“Engkau tak akan pernah rindu rumah,” ucap sang nenek sembari melepas kalung mutiara aeternum miliknya, “pakailah.”</p><p>“Engkau akan mati bila menyerahkannya,”</p><p>Tetap memakaikan kalung mutiara itu pada gadis itu, sang nenek tersenyum kecil. Bersamaan mereka berkata, “mereka yang mati, mereka yang hidup.”</p><p>Bulan menjadi hitam, langit hitam, begitu pula kedua mata mereka, hitam sepenuhnya.</p><p>-Maret, 2021</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b2b6f9fc7f97" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cerpen: Manu-sia dan Perjamuan-Perjamuan]]></title>
            <link>https://medium.com/@forensicstudio/cerpen-manu-sia-dan-perjamuan-perjamuan-5bf72dd6ae4f?source=rss-940e216bdbf8------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5bf72dd6ae4f</guid>
            <category><![CDATA[cerpen]]></category>
            <category><![CDATA[sastra]]></category>
            <category><![CDATA[manusia]]></category>
            <category><![CDATA[dosa]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Forensic Studio]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 09 Jul 2025 07:50:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-09T07:50:26.909Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*PHfAToTfG9rUF4eKSn_OsA.png" /></figure><p>Pada jalanan ramai, ia tulis demikian, mereka terlalu bising untuk hidup berkelimpahan dan sejahtera. Langit ikut murung memandangnya. Tak peduli pagi atau malam, matahari atau rembulan, tak lagi muncul sejak malam yang bergelimang bintang. Kini jalanan mesti suram dan ketakutan menundukkan muka-muka mereka. Semakin masam hari mereka saat harus mengenang malam-malam sebelumnya. Itulah kesenangan.</p><p>Pada jalanan sepi, ia tulis pada lembar berikutnya, mereka tak menjadi diam karena akhirnya dapat bergerak pada lorong-lorong bawah tanah, mengubur dalam tubuh mereka, memamah muntahan sendiri, dan menjadi gila. Saat pagi tanpa matahari datang, segera mereka menata panggung, membuat properti-properti yang lebih bagus, mempersiapkan setiap kostum, memasang lampu-lampu sesuai titik sorot yang diperlukan, dan berdirilah mereka di atas panggung itu. Kadang membosankan, kadang menyenangkan harus membikin naskah yang berbeda tiap harinya.</p><p>Ia tutup buku hariannya dan meletakkannya dalam saku jaket. Bila melihat dimana ia berpijak sekarang, sebagian besar orang akan berteriak dan mengeluarkan kata-kata jangan bunuh diri, hidupmu berharga, pikirkanlah orang-orang yang menyayangimu, dan alasan-alasan lain yang bagi dirinya hanya omong kosong.</p><p>Berdirilah ia pada pinggiran gedung paling atas. Dua puluh enam lantai tingginya. Dengan jelas ia dapat melihat lampu-lampu kota dan gedung-gedung lain. Saat banyak orang harus takut dengan kematian, ia menikmati kematian. Setiap potongan kematian ia cicipi, dari rasa manis hingga pahit. Pakaiannya yang serba hitam ikut menyambut kematian yang datang tiap-tiap harinya di tiap-tiap perjamuan. Tatapannya yang kosong dan senyum manisnya memberi tanda bahwa telah usai perjamuan yang harus ia hadiri.</p><p>***</p><p>“Berita terkini, berjumlah tujuh perjamuan telah berakhir tragis. Kedua mempelai lagi-lagi ditemukan menggantung sesaat setelah pintu gerbang perjamuan dibuka untuk mempersilakan tamu memasuki ruangan. Masyarakat menuai berbagai protes kepada pemerintah di sosial media. Para calon pengantin yang hendak memegahkan pernikahannya membatalkan jadwal dan terus mendesak pihak berwajib menemukan pelaku. Pemerintah terus melakukan penyelidikan, tetapi berujung nihil.”</p><p>***</p><p>Dengan manis ia duduk menonton berita, mengamati setiap perkembangan dan pergerakan pemerintah juga media. Perjamuan-perjamuan yang ia siapkan tentu bukan yang pertama. Sangat jelas ia merasakan kebosanan saat tanpa rencana ia harus menyelenggarakan sebuah perjamuan di sebuah rumah mewah di pinggir kota.</p><p>Saat itu ia hanyalah bocah lelaki SMA berumur 17 tahun. Kesendiriannya tanpa orang tua, hidup dalam sebuah panti asuhan usang yang terancam tutup, berkerja keras untuk mendapat beasiswa, tak menyurutkan semangatnya dalam menuliskan naskah dan membuat panggung. Ia memiliki cukup teman dan seorang yang jenius.</p><p>“Ratu, besok malam datanglah ke rumahku. Kakak perempuanku akan menikah. Pemberkatannya di pagi hari, tapi kau harus sekolah. Datanglah malam hari saat perjamuannya ya, oke?” ajak Dana dengan semangat dan senyum cerahnya.</p><p>“Na, yang menikah bukan kau, mengapa aku harus datang?”</p><p>“Wah, kau jahat sekali. Kami sudah menganggapmu sebagai keluarga sendiri,” ungkap Dana kecewa.</p><p>“Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda.”</p><p>Keduanya tersenyum dan tertawa. Berpisahlah mereka saat bel sekolah berbunyi menandakan usai sudah jam sekolah mereka.</p><p>Keesokan harinya, saat malam tiba, di hadapan para tamu, kedua mempelai tengah asik dengan kebahagiaanya sebagai pengantin baru. Datanglah Ratu Adil dengan pakaian jas hitam yang harus ia pinjam dari temannya yang lain. Matanya takjub dengan berbagai dekorasi perak dan emas, seperti kerajaan kekal yang selama ini ia bayangkan. Sempurna seperti bintang-bintang malam ini.</p><p>“Woaahh, kau pinjam jas siapa?” tanya Dana dengan nyaring membuyarkan ketakjuban Ratu.</p><p>“Tidak bisakah kau rahasiakan bahwa ini jas pinjaman?” pinta Ratu berbisik. Dana tertawa kecil sembari mengangguk.</p><p>“Mari masuk ke dalam.”</p><p>Berbagai macam bentuk perak dan emas memanjakan mata setiap orang yang datang. Air mancur berada di tengah rumah itu. Begitu jernih dengan ikan-ikan hias yang begitu indah. Aroma daging sapi panggang, ayam bakar, rica-rica babi, kentang goreng, salad buah, dan yang paling menonjol, anggur perjamuan, benar-benar memanjakan indra penciuman dan setiap perut-perut yang lapar. Pohon-pohon berukuran sedang dan berbagai tanaman asli ikut memeriahkan dengan menjadi peneduh dalam rumah ini.</p><p>“Aku tidak tahu bahwa kau sekaya ini.”</p><p>“Benarkah? Apa aku terlalu merendahkan diriku?”</p><p>“Tidak jadi. Aku tidak jadi menyanjungmu.”</p><p>Dana tertawa puas mendengar jawaban dari Ratu, “ya, beginilah sahabatku,” sembari tersenyum kecil pada Ratu, begitupun sebaliknya.</p><p>Kedua mempelai beranjak dari singgasana mereka untuk berganti busana lain. Dengan arahan penata busana, mereka dengan nyaman bersiap di ruang khusus ganti. Begitu bahagia hingga mereka kerap saling menggenggam tangan, saling bertatap mata, dan tersenyum manis. Seperti permen kapas yang manis, demikianlah mereka dipandang.</p><p>Sembari menanti waktu untuk mereka dapat keluar, mereka terus berbincang tak menyadari bahwa waktu berlalu lebih lama. Dengan jaket, celana, sepatu boots, sarung tangan, topi, masker, dan tas punggungnya yang serba hitam, lelaki itu telah siap dengan pisau di tangan kanannya. Ia telah menanti dari balik celah lain dalam ruangan itu.</p><p>Dengan tepat ia menancapkan pisau itu dari jauh ke tengkuk belakang pengantin lelaki. Seketika ia tak bernyawa lagi. Pengantin wanita itu begitu terkejut dan membeku, matanya membelak menatap pelaku yang membunuh lelaki yang baru saja ia nikahi pagi tadi. Dengan sigap tangan kanan pelaku menggenggam erat leher pengantin wanita, menghambat pernapasan pengantin wanita, dan menghantamkan kepalanya pada tembok. Wanita itu benar-benar sekarat.</p><p>Pelaku mengambil pisau yang menancap pada tengkuk pengantin lelaki dan menusuk dengan sembarang pada tubuh pengantin wanita. Sorot matanya begitu fokus menatap dan kosong. Rasa kesenangan ada dalamnya, tetapi ia sadar akan kesalahannya bahwa pisau yang ia lempar haruslah menancap kepada tenggorokan pengantin wanita terlebih dahulu. Setidaknya berkelahi dengan pengantin lelaki akan cukup menyenangkan.</p><p>Bergegas ia membelah perut kedua mempelai, memasukkan perak dan emas kedalamnya, setelahnya ia jahit untuk menutupnya. Ia tali kedua tubuh itu menggantung dan bergegas pergi.</p><p>Satu jam setengah berlalu sejak kedua pengantin meninggalkan singgasananya. Penata busana tiba-tiba menghilang tanpa jejak, ruang busana terkunci dari dalam. Perasaan tak enak menyertai hati orang tua kedua mempelai. Terkejutlah mereka menemukan kedua anaknya tak bernyawa. Jerit dan tangis pecah. Pencarian pelaku berujung nihil. Berita tersebar dengan cepat. Seminggu kemudian, penata busana ditemukan menggantung diri di studio busana miliknya dengan banyak darah tercecer di lantai. Polisi juga menemukan perak dan emas di dalam tubuh penata busana. Namun kali ini, jantung dan paru-parunya tidak ada. Kasus ini memanas hingga berbulan-bulan lamanya, hingga akhirnya penyelidikan dihentikan.</p><p>“Bagaimana kabarmu, Ratu?”</p><p>“Kakakmu sudah damai.”</p><p>“Aku tidak tahu apa masalahnya.”</p><p>Itulah percakapan terakhir mereka, selebihnya mereka menatap cemara yang bergoyang oleh angin. Pada minggu selanjutnya, tak terlihat lagi batang hidung Dana.</p><p>***</p><p>Pada Dana, ia tulis demikian, perak dan emasmu sungguh disayangkan. Perut dapat kenyang dalam setahun dengan memilikinya, tetapi hanya berlaku pajangan bagi keluargamu. Kepulangan awal menjadi untung meski membosankan. Demikianlah panggung akan beralih menjadi gedung teater.</p><p>Sebagai Ratu Adil, ia tulis demikian, penghakiman akan datang pada perjamuan-perjamuan mendatang. Di atas gedung ini, selangkah saja maju kedepan maka kematian yang engkau datangi. Demikianlah lelaki dan wanita yang selangkah lebih maju ke depan pelaminan dengan perak dan emas, kematianlah yang mereka datangi. Itulah kenikmatan tertinggi, perak dan emas dalam perut, akan terus berwujud ketakutan yang menundukkan muka. Lima tahun belalu, sejak malam berbintang itu, langit akan terus suram. Terhitung tak pernah lagi matahari dan rembulan dan bintang-bintang dengan jelas muncul.</p><p>-April, 2021</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5bf72dd6ae4f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cerpen: Pria dengan Martil di Tangan Kirinya]]></title>
            <link>https://medium.com/@forensicstudio/cerpen-pria-dengan-martil-di-tangan-kirinya-8d3e2883775f?source=rss-940e216bdbf8------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8d3e2883775f</guid>
            <category><![CDATA[dosa]]></category>
            <category><![CDATA[sastra]]></category>
            <category><![CDATA[manusia]]></category>
            <category><![CDATA[cerpen]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Forensic Studio]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 09 Jul 2025 07:31:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-09T07:45:43.167Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*CLw5bChLSQut3ZuanLOT0g.png" /></figure><blockquote>“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”<br> –Roma 3:23</blockquote><p>Tiap-tiap hari ia dengar jerit tangis keluarga korban. Namun semakin menjadi-jadi jua gairah dalam dirinya. Mata-mata memandangnya gangguan jiwa, hati-hati iba atas ketidaknormalannya, tetapi ada jua yang mendendam. Di atas kursi roda, ia hanya dapat duduk. Pandangannya jauh kepada pohon besar di atas bukit tak jauh dari tempatnya berdiam diri. Sesekali, tak seorang tahu ia sedang kewalahan menahan tawanya. Bayangannya liar kepada perawat-perawat bertubuh ramping, pasien-pasien lain yang lalu lalang bergumam tak jelas, dan para dokter yang keluar masuk ke dalam ruangannya. Tiba matahari harus lari terbirit-birit oleh datangnya gelap, ia lebih memilih membaringkan badannya.</p><p><strong>Pukul 21.00 WIB.</strong></p><p>Tepat pada waktunya, ia pulang kepada tubuhnya. Siang yang riuh berganti menjadi malam sunyi, yang artinya para dokter telah menyuntikkan cairan bening itu pada tiap-tiap pasien, terkecuali dirinya. Sebab tenang, tak perlu ia harus duduk di kursi roda. Kedua kakinya sudah cukup.</p><p><strong>Pukul 21.15 WIB.</strong></p><p>Dengan mengenakan setelan jas hitam, ia pergi berkendara dengan mobil mewah. Kali ini ia tak perlu menahan tawanya. Jerit dan tangis keluarga korban bercampur aduk dengan gejolak dalam dirinya. Menerka-nerka gelandangan manakah yang memakinya,</p><p><strong>Pukul 21.25 WIB.</strong></p><p>Rambu lalu lintas menunjukkan warna merah cerah, ia berhentikan mobilnya. Berderinglah ponsel dengan nama “harmatia” tertera.</p><p>“Bulan, bintang, burung hantu, koordinat mana yang ingin kau ketahui?”</p><p>“Bulan indah di pandang, akan kesepian tanpa bintang.”</p><p>“-7.805439, 110.362703”</p><p>“Tempat yang menarik.”</p><p>Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia tak dapat sembunyikan senyumnya. Bayangannya seratus kali lebih liar, hatinya tak tertahankan, nafsunya tak terbendung, desahan keluar dari mulutnya, kemudian terkikih-kikih dan menggoncangkan badannya sendiri.</p><p><strong>Pukul 21.50 WIB.</strong></p><p>Kini martil di tangan kirinya. Sesekali mengintip pada spion, kemudian pada sebuah kediaman tak jauh dari tempatnya berada. Dering ponsel kembali muncul dengan nama “pesha”.</p><p>“Aku sudah mengirim seratus miliar ke dalam rekeningmu dan kau tak menjawab teleponku!” bentak keras suara dari ponsel. Sebab kesal, ia memandang geram pada ponselnya sendiri, kemudian menutupnya.</p><p><strong>Pukul 21.53 WIB.</strong></p><p>Ia putuskan masuk ke dalam sebuah kediaman dengan martil di tangan kirinya. Ia menekan bebapa angka dan pintu gerbang terbuka. Langkahnya tanpa ragu seolah itulah rumahnya. Mengitari rumah sembari melihat dengan seksama.</p><p>“Bukankah dari belakang memiliki sensasi lebih daripada dari depan?” batinnya.</p><p><strong>Pukul 22.10 WIB.</strong></p><p>Kediaman itu begitu sepi dengan beberapa lampu reduh menyala. Sang putri sedang lelap dalam mimpinya. Saat itulah sang pangeran menjemputnya. Namun, langkahnya terhenti pada sosok di balik pintu lainnya.</p><p>“Bulan, bintang, mereka tak pernah lari dari langit gelap. Matahari yang selalu bersembunyi dari gelap.”</p><p>Bayangannya kembali liar pada sosok dari balik pintu. Baginya, putra mahkota akan jauh lebih menyenangkan.</p><p><strong>Pukul 22.15 WIB.</strong></p><p>Kini ia tepat di hadapan putra mahkota. Betapa menyenangkannya saat ia harus menikmati dirinya sendiri yang haus akan hawa nafsunya. Ia sadar betul pada momen-momen demikian. Masih dengan martil di tangan kirinya, dengan sigap ia suntikkan cairan bening pada leher putra mahkota.</p><p>***</p><p>Ruangan itu penuh dengan bekas-bekas darah. Lampu-lampu pada atap menyala merekah. Kini bukan hanya martil, berbagai bentuk pisau, parang, pedang, kapak, gunting besar, bahkan bola besi tertata rapi disana. Sebut saja tempat itu penjagalan.</p><p>Ia menggenggam martil di tangan kirinya, menatapnya, kemudian tertawa terbahak-bahak sembari meloncat kegirangan. Amat senangnya hingga menyadarkan putra mahkota. Rasa gugup dan takut seketika menyerangnya. Tangannya diikat kebelakang dan berada di ruangan aneh. Seorang pria menggengam martil dan ada bekas darah.</p><p>“Ketahuilah, aku memiliki kebiasaan banyak bicara saat aku senang. Apakah kau pernah melihatku?” tanyanya pada putra mahkota sembari membalikkan badan, menunjukkan muka pada putra mahkota.</p><p>Berpikir begitu keras, putra mahkota tak dapat mengingatnya dengan baik.</p><p>“Bagaimana bisa kau melupakanku?” nadanya semakin meninggi.</p><p>“Baiklah, namaku Dan. Ayahku pemilik perusahaan terbesar di negara ini. Bahkan negara ada di bawah kakinya,” tiba-tiba ia berhenti berbicara, dan tertawa terbahak-bahak, “karena itulah aku bisa menuruti hawa nafsuku, ha…ha…ha…ha….”</p><p>Ia menghela napas, mendekatkan dirinya pada putra mahkota.</p><p>“Hanya ada satu putra mahkota di negara ini, yaitu aku. Dan kau, meremukkan kepalamu, mengulitimu, mengambil jantungmu, dan meminum darahmu, ahh…. kau sungguh menggoda.”</p><p>“Kau tidak waras!”</p><p>“Ya, memang demikian, aku tidak waras. Aku membenci orang-orang yang bahagia dan sempurna.”</p><p>Setelah menyelesaikan kalimatnya, seketika ia hantamkan martil pada kepalanya. Teriakan menggema pada ruang penjagalan. Ia ambil pisau dan menusuk dengan sembarang. Ia berlumur darah dan tertawa terbahak-bahak.</p><p>***</p><p><strong>Pukul 21.00 WIB.</strong></p><p>Ia tertawa sejadi-jadinya. Tak seorang pun datang padanya, sebab mereka tahu bahwa bayangannya menjadi liar pada malam-malam tertentu. Tiap kali mendengar jerit tangis keluarga korban, maupun korban itu sendiri, kesadarannya akan pertumpahan darah tak akan pernah usai. Tubuh, jiwa, dan rohnya tak berjalan semestinya. Ia terus mengejar hawa nafsunya. Tak hanya pada perbuatan, pikiran dan hatinya pula keruh. Ia berjalan menurut kebenaran yang ia anggap benar. Tak hanya pada pembunuhan berantai anak konglomerat, pembunuhan akan dirinya sendiri, penipuan akan dirinya sendiri ia lakukan jua. Tragisnya, ayah semata wayangnya menggantung diri sebab malu akan perilaku anaknya.</p><p><strong>Pukul 21.05 WIB.</strong></p><p>Ia tertawa dan tak seorang pun tahu,</p><p>matanya mulai berkaca-kaca.</p><p>“Adakah Juruselamat? Aku tak bisa menyelamatkan diriku sendiri.”</p><p>-Mei, 2021</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8d3e2883775f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>