<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by hira on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by hira on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@howbwrite?source=rss-634863e6f20e------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*uNfftGu3U8pP2xKiyBdfdw.jpeg</url>
            <title>Stories by hira on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite?source=rss-634863e6f20e------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 07:34:22 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@howbwrite/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Di Manakah Letak Regulasi di Tiap-Tiap Jalan yang Kita Lewati? : Membaca Peran Pemerintah]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/di-manakah-letak-regulasi-di-tiap-tiap-jalan-yang-kita-lewati-membaca-peran-pemerintah-158c073973af?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/158c073973af</guid>
            <category><![CDATA[membacaperan]]></category>
            <category><![CDATA[goverment]]></category>
            <category><![CDATA[opinion]]></category>
            <category><![CDATA[policy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 09 May 2026 00:01:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-06-05T00:45:58.457Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*aJUnqrS8gvRf679NCGXVlw.jpeg" /><figcaption>Suasana Jalan Raya Margonda yang Padat, cr: dokumen pribadi</figcaption></figure><p>Tulisan ini hadir di sela-sela perjalanan menuju Kota Bogor melalui Jalan Raya Bojong Gede. Sebuah jalur yang paling mudah diakses, tetapi pada hakikatnya tidak begitu memadai. Meski menyandang status “Jalan Raya”, fisiknya tidak benar-benar pantas disebut jalan utama. Jalanan ini cukup kecil, lebarnya pas-pasan, cukup dilewati dua mobil dari arah berlawanan yang harus saling menurunkan kecepatan demi keselamatan. Motor-motor di belakang mobil harus piawai membaca <em>timing </em>kapan menyalip atau harus menunggu dan terjebak di belakang mobil. Belum lagi, jalanan kerap kali terhambat dengan drama berhentinya angkot yang tiba-tiba atau justru yang tiba-tiba juga jalan tanpa melihat sebelah kanannya sudah ada mobil yang hendak mendahului. Ya, cukup kita umpat mereka dengan kata “<em>sialan!”</em></p><p>Perihal jalanan ini masih kerap menjadi pertanyaan besar bagiku. Bukan perihal sempitnya jalan, tetapi lebih ke ranah keamanan dan siapa yang sebetulnya bertanggung jawab di sini? Jalan ini adalah wilayah abu-abu; dari Bojong Gede hingga Cilebut masuk wewenang Pemerintah Kabupaten Bogor, lalu Cilebut hingga Bogor perlahan masuk ke area Pemerintah Kota Bogor. Namun, pembagian administratif itu seolah hanya menjadi alasan untuk saling lempar <em>perhatian. </em>Jalan ini diapit dua hal yang menyeramkan, dari arah Bojong Gede ke Bogor, sebelah kiri merupakan rel kereta aktif yang sama-sama menuju Bogor, sementara itu sebelah kanan merupakan jurang dengan sungai yang posisinya lebih rendah dari jalan. Sumber kemacetannya pun kompleks, mulai dari banyaknya persimpangan jembatan hingga belokan yang tidak tertata.</p><p>Perihal longsor, tak ayal, sepertinya berita ini selalu ku dengar. Kalaupun tidak ada beritanya, maka tiap aku melewatinya sudah ada garis polisi yang menutupi bagian jurang sebagai pertanda hati-hati dan mengurangi kecepatan. Kejadian longsor paling parah yang cukup ku ingat itu menimpa rel kereta di sebelah kiri, hingga beberapa hari perjalanan kereta terhambat karena yang berfungsi hanya satu jalur. Kejadian lainnya yang cukup menyeramkan adalah ketika bagian jurang longsor hingga amblas. Jalanan mau tidak mau ditutup, dialihkan entah ke mana, menimbulkan kemacetan baru karena menyelip di antara gang-gang dan juga rumah-rumah.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*lLhrgNXpc6_2VkPv_kPxpA.jpeg" /><figcaption>Dokumentasi terbaru perihal lagi-lagi jalan dipresempit akibat adanya longsor (27/4/26)</figcaption></figure><p>Rasanya gelisah sekali ketika melewati jalan tersebut. Terhitung sejak aku SMP, hitunglah dari 2013, jalan itu masih begitu-begitu saja tidak ada perkembangan yang mumpuni untuk membuat jalan yang aman. Sampai saat ini, masih kerap kali kutemui tanda garis polisi untuk peringatan longsor atau justru tiba-tiba di tengah jalan hanya berfungsi satu jalur karena yang satu amblas longsor. Aku pikir, rentang 10 tahun lebih ini merupakan waktu yang cukup lama untuk sebuah kecemasan. Namun, asumsi ini patah saat mengobrol dengan kakakku.</p><p>Ternyata, jalan raya yang menjelma “maut” ini sudah jadi santapan hariannya sejak ia masih SD, padahal ia kelahiran ’92. Artinya, ancaman longsor yang menyelimuti Cilebut usianya jauh melampaui usia hidupku sendiri. Coba dibayangkan, jalan raya yang berperan vital bagi ribuan pelaju dibiarkan dalam kondisi <em>“tidak aman”, “bahaya” pun “darurat</em>” selama puluhan tahun. Kita ini, seperti dipaksa mewarisi keresahan dan ketakutan yang sama secara turun-temurun, seolah-olah keselamatan merupakan barang mewah yang tidak mampu dibeli oleh regulasi pemerintah kita sendiri.</p><p>Entah, pajak-pajak yang kita bayarkan demi ketenangan hidup atau kemudahan hidup ini dilarikan ke mana? Berbentuk apa? Dan seperti apa pula pertanggung jawabannya tidak terlihat nyata di depan mata. Ketakutan yang diwariskan ini akhirnya membentuk sebuah normalisasi yang mengerikan. Lagi-lagi, kita –masyarakat kecil — ini diminta untuk menerima, <em>maklum dengan jalan rusak, </em>sampai akhirnya <strong>pemakluman </strong>itu memakan korban jiwa yang nyata.</p><p>Tahun 2016, dari lubang besar di Grand Depok City yang sempat mencelakai kakakku dan saudaraku. Bayangkan, kawasan yang cukup elite dan lebar itu masih ada lubang besar yang menganga seolah sedang menunggu mangsa. Dan kakakku bersama saudaraku kecelakaan di sana, menambah daftar panjang orang-orang yang setor luka hanya perkara aspal yang nggak kunjung dibenahi. Jalan yang berada di kawasan tanggung jawab Pemerintahan Kota Depok semestinya diperhatikan lebih baik.</p><p>Sialnya lagi, di belahan peta lain, bayar mahal pun tidak menjamin kita bisa lewat dengan tenang. Saat perjalanan pulang dari Magelang ke Bogor beberapa waktu lalu, Tol Semarang — yang berada pada kawasan regulasi nasional itu — harusnya jadi jalur bebas hambatan, justru menjadi arena uji nyali. Lubang-lubang di sana muncul tiba-tiba di tengah kecepatan tinggi; sebagai penumpang yang biasanya duduk di bagian depan bus tentu rasanya bikin jantung mau copot dan gak tenang. Lubang-lubang itu hanya ditandai <em>cone-cone</em> oranye menyala yang kadang terlihat baru di jarak dekat, tak jarang juga <em>cone-cone</em> itu ditemukan sudah meleyot terlindas, atau berada di tengah-tengah jalan yang justru menjadi petaka bagi sopir-sopir kendara. Ironis banget, kita bayar tarif tol untuk kenyamanan, tetapi nyatanya kita tetap bertaruh nyawa di atas aspal yang nggak keruan itu.</p><p>Semua kekesalan ini akhirnya memuncak jadi rasa ngeri yang terasa nyata, ketika aku membaca berita dari Tangerang baru-baru ini. Seorang driver ojol yang berusaha menghindari lubang di jalanan malah oleng, dan nahasnya, penumpangnya justru terlempar lalu terlindas truk. Lalu pembicaraan ini ramai, karena pihak korban menggugat driver. Dan di titik itu aku sadar, ada yang begitu salah, ada pihak yang hilang, ada pihak yang tidak tersorot. Padahal, jika kita menilik regulasi, dalam UU №22 Tahun 2009, Pasal 273, secara gamblang disebutkan bahwa penyelenggara jalan wajib segera memperbaiki jalanan rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Jika belum bisa diperbaiki, mereka wajib memberi tanda atau peringatan. Namun nyatanya, <strong><em>peringatan</em></strong> itu sering kali hanya berupa garis polisi atau <em>cone</em> meleyot yang justru datang terlambat. Di titik ini juga aku sadar, kalau lubang di jalanan bukan lagi sekadar “kerusakan kecil” atau “masalah estetika kota”. Lubang-lubang itu perlahan menjadi mesin pembunuh yang dilegalkan oleh pengabaian pemerintah.</p><p>Pada akhirnya, setiap aspal yang kita lalui adalah bukti fisik dari hadir atau absennya negara. <em>Kita tidak membutuhkan permintaan maaf ketika jatuh, tetapi kita butuh kepastian bahwa perjalanan pulang tidak akan menjadi perjalanan mengenaskan hanya karena satu lubang yang diabaikan.</em> Selama pemerintah masih saling lempar tanggung jawab, atau bahkan abai, selama itu pula regulasi hanya menjadi setumpuk kertas. Sementara itu, kita yang merupakan masyarakat kecil ini tetap harus menjadi tumbal di jalan raya. Jadi, sampai kapan nyawa harus menyelinap di antara celah regulasi yang bocor? <em>Di manakah letak regulasi di tiap-tiap jalan yang kita lewati?</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=158c073973af" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Malam Tetap Kumpul di Meja Panjang: Harap, Doa-doa, juga Putus Asa]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/malam-tetap-kumpul-di-meja-panjang-harap-doa-doa-juga-putus-asa-6db43c68446b?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6db43c68446b</guid>
            <category><![CDATA[writing-life]]></category>
            <category><![CDATA[sal-priadi]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 21 Mar 2026 15:34:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-21T15:34:46.851Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tlnw0DwZq3vdD6eJVfFNKw.jpeg" /><figcaption>Ilustrasi Meja Panjang di Warung Pelan-Pelan, Jogja</figcaption></figure><blockquote>Malam tetap kumpul di meja panjang<br>Ruang makan kita<br>Berbincang tentang hari yang panjang<br>Kita usahakan rumah itu<br>Dari depan akan tampak sederhana<br>Tapi penerangannya<br>Diracik begitu romantis</blockquote><p>Beberapa waktu lalu (sebetulnya sudah cukup lama), Sal, penyanyi lagu ini, merilis video klip Kita Usahakan Rumah Itu hasil kolaborasinya dengan Yandy Laurens. Soal kualitas tak usah diragukan. <em>Tapi tunggu —</em> ada kapabilitas apa kita berbicara mengenai kualitas ketika kita-kita ini hanya orang biasa saja alias penikmat karya? Tapi, baiklah, menurutku, video klip itu sungguh menyentuh. Adegan per adegan mampu mempresentasikan lirik lagu itu sendiri, sampai-sampai tak sadar air mata sudah terjun tanpa diminta. Lagu ini hangat, selain diajak untuk berencana, lagu ini penuh dengan banyak harap. Harap-harap perihal rumah yang terkadang belum tentu rumah, dan ada hal-hal yang bukan rumah menjadi rumah.</p><blockquote>Boleh kamu keliling dunia<br>Dan temukan banyak tempat-tempat ‘tuk singgah<br>Sementara<br>Kamu boleh namai itu rumah<br>Selama ada m’reka yang kamu cinta<br>Di dalamnya</blockquote><p>Penggalan lirik ini juga tidak kalah magisnya. Beberapa waktu lalu (juga), trend mengenai lagu ini sempat berseliweran di mana-mana. Aku bisa menemukannya di platform sosial media manapun. Berisikan foto-foto bersama orang-orang yang dianggap rumah. Ternyata, bagi sebagian orang, rumah yang kokoh dan terbentuk dari batu bata bukanlah semata-mata rumah.</p><p>Namun, pemahaman tentang bagaimana perasaan itu menyelimuti orang lain tetap bisa tertangkap dengan jelas. Hingga pada suatu hari, dalam perjalanan sepanjang 12 km menuju urusan-urusan dewasa, barulah segalanya mulai terasa nyata.</p><p>Hari itu–</p><p>Belakangan,<em> tercerai-berai sudah keberaniannya perihal dicintai</em>. Tersedu-sedu dia di jalan, perihal takutnya dirinya di masa depan. Tergores-gores sudah hatinya. Jangankan untuk merasa pedih, reaksinya saja hanya <em>oh, ya, biasanya begini.</em></p><p>Sialnya, walaupun begitu, itu pertama kalinya dia babak belur. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Barangkali masih bisa dibantu rakitnya lagi, tetapi akan aneh bentuknya. Seperti yang pernah Sal tuliskan di liriknya,</p><blockquote>Hari ini aku coba merakitnya lagi<br>Meski kalau diamati<br><strong>Agak aneh bentuknya</strong></blockquote><p>Tapi, sebetulnya perasaan ini hadir bukan karena Titik-titik di Ujung Doa, melainkan, sejak awal, ini perihal Kita Usahakan Rumah Itu.</p><p>Saat itu, detik itu, dia terisak sampai ingusnya <em>meler-meler</em> tak tertahankan. Air matanya sudah jatuh turun mengenai hidung, hingga masuk ke sela–sela bibir. <em>Asin. </em>Belum lagi, dandanan di wajahnya juga ikut turun, alias luntur. Dadanya sesak tak terhingga, tetapi gilanya dia masih harus berfokus-fokus hikmat dengan jalan raya di depannya.</p><p>Sialnya, di titik itu juga, ia merasa Tuhan seperti sedang mengabulkan karmanya yang sudah bertahun-tahun lalu coba ia kubur. Sialnya, itu juga ternyata yang menjadi pertanda bahwa<strong><em> cintanya tak akan tumbuh.</em></strong></p><p><em>Akankah ia bertemu perihal rumah yang dihuni dengan penuh cinta? </em>Seperti penggalan lagu Sal di atas itu.</p><p>Atau justru, dirinya akan sibuk melancong kesana-kemari? Terbesit-besit memenuhi perasaan di hatinya. Mengemis-ngemis cinta di pinggir jalan hingga terperosok di dalam kubangan saluran air yang bau dan jorok?</p><p>Karena, pada titik itu dirinya sulit sekali merasa percaya. Sudah terseok-seok kakinya. Dan ketika tersadar, kakinya sudah dipenuhi lebam-lebam dari warna biru hingga ungu. Belum lagi, telapak tangannya yang sudah tidak terbentuk akibat lecet sana-sini. Tergerus. Atau bisa jadi sudah tergores berkali-kali. <em>Nah, </em>kalau perihal hatinya sudah tidak perlu dijelaskan kembali. Sudah aneh bentuknya.</p><p>Baginya,</p><p><strong><em>Persetan dengan rumah.</em></strong></p><p>Jika saja; adegan-adegan di meja panjang, adegan-adegan duduk di sofa ternyaman, adegan-adegan gelak tawa menuju tengah malam,<br>bisa saja terkhianati dan dibohongi.</p><p>Tetapi, jauuhhhhh sekali di dalam hatinya–apalagi ketika lagu Kita Usahakan Rumah Itu tersetel di perjalanan–dirinya melebur berkali-kali; mengemis dan membayangkan. <em>Apa bisa ia merasakan hangat itu tanpa perlu lagi rasa takut terbayang-bayang di belakangnya?</em></p><p>Detik itu pula, harap dan doanya berubah. Ia merajuk dan memohon kepada Yang Kuasa, untuk senantiasa cintai dirinya yang begitu kecil di hadapan-Nya. Dia, tidak lagi meminta bahwa akan ada cinta tulus manusia yang datang. Dia, tidak lagi (besar berharap) bahwa akan ada yang datang lalu menunjukkan cinta (walaupun tetap ingin). Dia hanya meminta, tetap sayangi dia melalui belaian Tuhan-Nya, Tuhan Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.</p><p>Walaupun,</p><p>Pertanyaan itu masih bertengger di kepala; <em>jadi sebetulnya untuk apa membangun cinta kalau ternyata semisal-misalnya itu bohongan?</em></p><p>Naas.<br>Kepercayaannya kandas. Hilang.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6db43c68446b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Berteman dengan Kesepian]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/berteman-dengan-kesepian-8fb558f232e9?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8fb558f232e9</guid>
            <category><![CDATA[loneliness]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[adulting]]></category>
            <category><![CDATA[kesepian]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 09 Jan 2026 15:42:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-09T15:42:31.523Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*a-m_Wqco5x6AU3NTubZ5eg.jpeg" /><figcaption>foto pribadi</figcaption></figure><p>Aku menatap kosong langit depan balkon. Kunci yang tertengger di pintu kamar indekos sebelah masih bergoyang-goyang. Beberapa saat lalu, suanana riuh masih ku dengar di sela-sela mengetik lembar persembahan di laptop. <em>Pagi sekali</em>, ujar seorang teman melalui pesan ketika mengetahui aku membalas pesannya di jam setengah enam pagi. Itu semua karena aku ingin menyaksikan kepergian seseorang. Lalu, tak lama seorang teman mengucapkan selamat tinggal dengan tergopoh-gopoh membawa barang bawaan di tangannya.</p><p>“Aku pulang dulu ya, kamu hati-hati di kos. Semangat!” ujarnya, yang membuatku langsung berdiri mengantar dirinya menuju tangga. Juga mengucapkan salam perpisahan,</p><p>“Iya, hati-hati di jalan, ya. Semoga selamat sampai tujuan.”</p><p>Dan hening melanda. Lalu tiba-tiba suara sayup-sayup kejauhan bisa ku dengar. Tiba-tiba juga, aku mampu mendengar tetes air dari keran <em>sink </em>yang mulai bocor. Juga, tiba-tiba aku mampu mendengar detak jantungku sendiri.</p><p>Aku menghela napas panjang. bersiap berteman dengan kesepian.</p><p>Sebetulnya, sudah lama sekali aku merasa kesepian. Dan itu ketika aku menjejaki kota M untuk menyelesaikan tanggung jawab studi, di bulan kesembilan kemarin. Melihat kanan dan kiri, temanku perlahan-lahan pergi. Mungkin mereka memang tidak berniat hilang, tapi kehidupan mengharuskan mereka melangkah ke tempat baru yang belum ku jamah.</p><p>Sebetulnya lagi, aku paham betul mengenai fase ini. Jauh-jauh hari, bulan, bahkan fase ini, Uni sudah menitip pesan bahwa aku harus baik-baik berteman dengan sepi. Bahwa aku harus bersiap menemui sepi dan juga mengetahui harus apa dengan sepi.</p><p>Tetapi yang tidak ku ketahui adalah <em>ternyata memang sesepi ini.</em></p><p>Aku menatap tembok kamar indekos yang putih-putih, kosong. Begini ternyata, menjalani sebagai mahasiswa akhir dengan tas ransel berisi laptop (lengkap dengan printilan), draft-draft revisi, juga buku catatan kecil kemana-mana.</p><p>Terkait teman, ya aku tidak begitu sendiri, sih. Masih bisa ku temui satu-dua teman yang menjadi tempat keluh kesah. Itupun, selalu terselip pembahasan, <em>sebenarnya kemana teman-teman kita pergi? ku lihat mereka masih di kota M, tapi tidak tampak batang hidungnya.</em></p><p>Lagi, memang sepertinya semua orang mengalami fase ini. Fase yang tiba-tiba ingin menghilang dari peradaran. Atau memang menghilang karena menjejaki fase baru. <em>Toh, </em>wajar, yang tidak wajar adalah aku yang masih mencari-cari teman dengan memerhatikan deretan kontak siapa saja yang bisa ku hubungi. Ahahaha, ada yang sama?</p><p>Kemudian, rasa sepi juga semakin-makin ku rasa ketika acara seremonial pelepasan akhir tahun kemarin. Ku perhatikan, di periode itu banyak sekali orang-orang baik yang ku kenal menyelesaikan studinya. Melangkah ke jenjang baru. Juga berpindah ke tempat asal.</p><p>Ketika acara selesai dan perlahan orang-orang meninggalkan tempat, itu menyisakan ruang sepi. Bukan hanya di kampus, tetapi juga di hatiku. Hatiku gelisah menuju indekos. Rasa-rasanya aku bisa bayangkan sesampainya nanti aku akan termenung lama, menangis, dan tidak siap bertemu sepi. Ku putuskan untuk memutar balik (padahal sudah jam delapan malam), menjemput teman, dan memilih duduk-duduk bersama di pinggir jalan raya.</p><p>Kami berdua sibuk membahas banyak hal. Dari bagaimana merasa jatuh dengan kota M hingga topik tidak menyangkanya bahwa kami sudah di titik ini. Aku melirik jam di ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku belum pulang dari jam sepuluh pagi. Ku tengok teman ku di sebelah, matanya sudah mulai berat, ku perhatikan juga dia sudah beberapa kali menguap — mengantuk.</p><p>“Pulang, yuk! udah malam, nanti ibu kos lo ngunciin lagi” ajakku.</p><p>Temanku menoleh, “udah siap emang?”</p><p>“Siap apa?”</p><p>“Siap bertemu dengan kesepian”</p><p>Aku termenung sepersekian detik. Menghela napas (lagi). Aku tau juga, kalau aku tidak akan pernah bisa menghindari sesuatu yang terjadi. Lebih baik aku pulang, menghadapi sepi, untuk menghargai ramai.</p><p>“Siap. Pulang nanti gue mandi biar segar. Terus nulis deh, biar lega juga.”</p><p>“Nah, bagus. Atau kalau mau, sekalian ditangisin aja. Palingan kalo udah nangis, lega tuh”</p><p>Aku tertawa kecil. <br>Sesampainya di kos, aku justru mengambil waktu lama barang untuk menyalakan lampu kamar. Berdiam lama di balik pintu. Menatap putih-putih itu lagi.</p><p><em>bun, alangkah benarnya hidup ini begitu sepi. bagaimana denganmu?</em></p><p>Sesuai saran temanku, aku memilih untuk menangis. Sambil menulis. Tetapi, ternyata, tidak cukup energi untuk menangis. Karena, ya, hari seremonial pelepasan itu cukup baik, cukup menyenangkan, dan tentu cukup hangat. <em>Apa yang perlu aku sesalkan hingga menjadi bersedih-sedih ria?</em> Aku jadi tertawa-tawa sendiri, mengetahui aku begitu <em>lebay </em>menghadapi kesepian ini. <em>Toh</em>, ya, kan, sudah waktunya?</p><p>Ternyataa begitu berteman dengan sepi, tuh. Tidak menakutkan tapi bukan berarti menyenangkan. Hingga detik aku menulis ini, aku sedang kesepian di indekos karena hanya ada aku dari 8 kamar. Dan, ya, aku gak papa. Tapi bukan berarti tidak kesepian. Jelas, aku kesepian. Tadi sore hingga jam sembilan malam sibuk mencari kontak-kontak yang bisa dihubungi. Ada rasa gelisah menjalar, mengetahui sebagai perempuan memiliki jatah kosakata yang harus dikeluarkan, dan sepertinya hari ini belum terpenuhi.</p><p>Tapi ya sudah, toh, bisa apa dengan kesepian.</p><p><em>Ya, bisa berteman(?)</em></p><p>Seperti saat ini juga aku mencoba berteman dengan kesepian melalui alunan musik (dengan sedikit iklan) yang kuputar, juga melalui tulisan yang mungkin kini sedang kamu baca.</p><p>Namun, ku harap kamu tidak pernah memaksa untuk berteman dengan kesepian. Ku dengar-dengar, sepi dapat membunuh jati diri kita. Kalau berkenan, hubungi teman terdekat — ganggu mereka dengan cerita anehmu. Kalau berkenan juga, lakukan kegiatan yang kamu suka, apapun. Kalau berkenan juga, keluar, menyentuh rumput, menghirup udara segar, bertemu orang-orang di jalan, seyogyanya kamu tidak sendiri dan tidak sepi. Terakhir, kamu juga bisa menghubungi ku ketika sepi datang melanda.</p><p>Bukannya, sebagai manusia, kita itu makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8fb558f232e9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Nasi Goreng Penutup]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/nasi-goreng-penutup-5b650f5b4b16?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5b650f5b4b16</guid>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 19 Nov 2025 06:08:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-23T09:49:22.502Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*MxT5W5NF65iQr7D4Yqs-gw.jpeg" /></figure><p>Ini pukul delapan malam, aku terduduk setengah malas sekaligus kelaparan. Mataku penuh harap-harap gila pada gerobak di depan, tajam kepada sang koki yang memasak. Hujan masih terdengar sama rintiknya dari jam lima sore tadi. Nyaman sekali ku pikir, masih di bentuk rintik yang sama, konsisten — layaknya apa, ya? Layaknya perasaan yang ternyata hingga detik itu masih sama kepadamu, kekasih tak sampai.</p><p>Duh, sialan!</p><p>Apa yang menjadi sialan adalah hari ini yang begitu banyak rasa sial. Terbangun tidur tadi, angin dengan hikmat masih menusuk tulang-tulang. Tetapi, aku harus beranjak untuk berangkat menuju pertemuan terakhir bersama teman. Sialnya, justru bukan dia yang ingin ku temui, tapi kamu.</p><p>Sayang,<br>beribu sayang, dirimu enggan barangkali Rei.</p><p>Aku masih ingat, sebelum akhirnya setengah tujuh berangkat, aku sempatkan melongok ruang hijau. Sudah biru di sana. Begitu bingung apa yang seharusnya menjadi lega, tapi aku sungguh lega, setidaknya kamu membaca pesanku. Setidaknya, barangkali, setelah membaca itu di pikiranmu dipenuhi aku, di perjalanan pulang, di rumah, bahkan ketika dirimu merebah.</p><p>Bah!<br>masih cukup kejam diriku mengharap pada dirimu. Bahkan di detik pembuktian kalau kamu enggan terhadap diriku, Rei.</p><p>Sebetulnya, beberapa malam sebelum akhirnya tenggelam, aku sudah menyadarinya ketika jam dua malam. Kalau tidak segera terpejam, maka rindu akan datang dengan kejam. Lalu dengan pikir pendek melakukan hal gila-gila yang paling ku hindari. Berujuk dengan seonggok pesan terkirim, setelah akhirnya bersusah payah menghapus — menyimpan kontakmu, lalu membuka ruang pesan dengan kata sandi, juga ketik-ketik pesan yang terkesan goyah. Pada akhirnya aku kembali mengirim pesan aneh, tidak berbobot, dan mungkin menyebalkan di sudut pandangmu.</p><p>Lupakan.<br>Pagi itu setelah berbincang-bincang singkat di atas motor bersama seorang teman, kami melipir di sebuah tempat makan. Penuh syukur, setidaknya itu bukan tempat makan yang pernah ku kunjungi bersama siapapun sehingga tidak perlu repot-repot menata pikiran juga kenangan.</p><p>Temanku bilang, <em>“kita makan yang hangat-hangat, agar perasaannya tetap hangat.”</em> Aku tertawa receh, yang belakangan ku sadari itu tipuan dari rasa kecut yang tiba-tiba membludak di hati. Ternyata di detik ketika semangkuk hangat tersaji di depan mata, aku masih mengharap yang duduk di depanku adalah kamu, Rei.</p><p>Tarik napas.</p><p>Percakapan kami hangat, membahas kemarin-kemarin yang sempat terlewat. Hebatnya, ya, menurutku, di antara kami tidak ada yang mencoba membahas hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Tidak dengan aku yang mempertanyakan bagaimana temanku itu dengan perempuan yang didekati, juga tidak dengan dia yang mempertanyakan bagaimana aku denganmu, Rei. Wajarlah kalau hingga detik ini, temanku dijuluki orang yang cukup baik hatinya dan berlapang dada luas.</p><p>Tapi, ujung lidahku gatal membawa percakapan ke ranahmu. Pikiranku beputar kesana-kemari,</p><p>“Sudah pulang, ya? Atau masih di indekos? Kemarin dia bahas aku gak? Kemarin dia mempertanyakan tentang aku, gak?”</p><p>Tapi ku urungkan niatku dengan mati-matian. Sebelum akhirnya aku memberanikan pertanyaan implisit,<br>“Tadi sebelum berangkat, di indekos ada siapa saja?” <br>sebuah pertanyaan yang menjurus <em>‘di mana keberadaanmu sekarang?’</em></p><p>Temanku menjawab dengan menyebut beberapa nama, yang sialnya hingga akhir tidak ada namamu, Rei. Baik, ku ketahui dirimu sudah kembali ke rumah. Sudah merebah badan. Sudah memikirkan banyak hal lain yang tentunya tidak ada aku.</p><p>Benar juga kata temanku yang lain, kalau aku perlu cukup mendoakan dirimu baik-baik. Karena seharunya yang perlu didoakan adalah aku sendiri, dengan bahagia, senang, sehat, juga tenang.</p><p>Namun, perasaan tetaplah perasaan. Ketika tidak lagi aku mendengar namamu, aku tersenyum kecut. Jadi, apa ya, mengetahui, kalau hingga akhir tidak tergerak juga hatimu untuk aku. Mengetahui, kalau ya, hingga akhir ternyata memang sudah selesai dari lalu.</p><p>“<em>Monggo</em>, Mba” persilakan dari abang-abang nasi goreng menyadarkanku dari lamunan. Sepiring nasi goreng hangat tersaji di mejaku. Aku menghela napas panjang.</p><p>Mari cukupi kesialan ini dengan nasi goreng yang ku pesan pedas, tapi tidak cukup pedas. Cukupi dengan seporsi nasi goreng hangat, untuk mengakhiri pikiranku mengenai dirimu. Cukupi dengan segelas teh hangat — yang jarang sekali ku pesan — sebagai peralihan pikiranku mengenai dirimu, Rei.</p><p>Setidaknya, nasi goreng cukup menjadi penghangat. Juga penghibur, di banyaknya rasa sial yang menumpuk di hati.</p><p>November 19, 2025</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5b650f5b4b16" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ternyata]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/ternyata-817da5b9976a?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/817da5b9976a</guid>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 28 Sep 2025 15:45:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-28T15:49:39.113Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>#7 Sepekan sebelum berlayar</p><p>Mencapai titik ini bukan hal yang mudah bagiku, bagi orang yang tidak pernah mendapat perhatian sebesar itu darimu Rei.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ykiAA_4DdNzKXzFgHtygqQ.png" /></figure><p>Malam ini aku coba putuskan kalau ini menjadi tulisan terakhir tentangmu, yang sekiranya perlu kamu ketahui. Malam ini, ditemani angin malam kota M, di indekos yang belum pernah kau kunjungi, juga di jam-jam yang biasanya kita berdua sedang berkelana, aku memulai kisahmu…</p><p>Kemarin, selepas mengantarkanmu di dermaga — ternyata kata orang lebih tepat disebut pelabuhan — aku pulang dengan pening di kepala. Tidak lama, demam datang tanpa diminta.</p><p>Aku meminta bantuan seorang teman, membelikan sebungkus tangki es penuh cinta untuk menurunkan panas, juga tawa-tawa yang dia bungkus dengan rapih dan menggelitik perut. Aku bermalam, hingga 11 atau 12. Sialnya, itu jam-jam biasanya aku bercengkrama berdua denganmu di pinggir kota M. Sembari menatap luas hamparan langit gelap, disambut cahaya-cahaya kota. Oh, tentu, terima kasih Rei sudah memperkenalkan tempat itu padaku.</p><p>Rei, terima kasih sudah mengajak ku berkelana. Memperkenalkan sudut-sudut kota,</p><p><em>Ini, biasanya aku basket di sini tiap sore. Kalau kamu mau ikut, bilang aja.</em></p><p>Lantas aku menggerutu, <em>ngapain? aku nonton doang?</em></p><p><em>Kalau bisa bermain, ya boleh.</em> Aku tertawa lebar, kamu senang.</p><p>Kemarin bersama seorang teman aku juga sempatkan mengitar kota M. Asing sekali Rei, biasanya dirimu akan melirik diriku dari kaca spion sebelah kanan, lalu memberi reaksi berlebihan, <em>kenapa tersenyum?</em> Padahal kamu tau betul, aku terlalu senang diajakmu berkelana.</p><p>Kini, tidak lagi ada lirikan itu. Kaca spion sebelah kanan masih bisa kujumpai dimanapun aku mau, bersama siapapun aku jumpa, tapi kini tidak ada lagi wajahmu juga di sana. Tidak ada lagi pundak lebar yang suka rela menjadi sandaran tanganku yang tidak bisa diam ketika berbicara dari a sampai z, lalu kamu akan rela memutar, mutar, mutar lagi menyusuri jalan hingga aku bilang <em>udah yuk ah, pulang.</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tcf3dpvUODpcTqc8wl99XQ.png" /></figure><p>Kemarin, seorang teman mengapresiasiku dengan hebat. Tidak satu, melainkan dua, lalu disusul yang lainnya. Mereka bilang, aku cukup hebat dapat melihatmu berlayar, datang ke pelabuhan, serta tidak merusuh dan memaksa keadaan untuk <em>menahan lenganmu</em> menaiki tangga menuju kapal.</p><p>Kata mereka, aku lebih kuat dari yang ku pikirkan. Memangnya iya ya? Padahal detik di mana aku melihat foto dirimu tersenyum lebar, hatiku semakin retak bertubi-tubi. Mempertanyakan hal, memangnya aku pantas untuk diperlakukan seperti ini denganmu? Bukannya aku berhak mendapatkan sebuah penjelasan juga penutup? Bukannya pada terakhir kali kita jumpa, kita baik-baik saja?</p><p>Siapa sangka, di tanggal enam bulan Oktober tahun lalu adalah menjadi perjalanan terakhir menyusuri kota M hingga kota S, dari jam dua siang hingga jam sebelas malam, dari tangan yang menghindar hingga menggenggam, dari heningnya pembicaraan hingga <em>sing along</em> bersama penyanyi kesukaan.</p><p>Walaupun masih ada keretakan yang menjalar, aku berterima kasih padamu karena pada saat itu kamu mau. mau bertemu. mau berteman. mau menemani.</p><p>— seharusnya hari itu ku pertanyakan saja banyak hal bodoh perihalmu.</p><p>Rei, terima kasih sudah membuat banyak mimpi di kota ini. Selalu mengajak ku untuk mencoba hal-hal baru. Terima kasih sudah memberanikan diri mendekat, berbicara, hingga menggenggam erat. Hari di mana kita bertengkar hebat, esoknya dengan mudah egomu kau turunkan karena musibah terjadi padaku. Waktu itu, waktu itu… waktu memang gak pernah berpihak sama kita, waktu gak pernah kasih kesempatan buat kamu memahami, juga buat aku memberi paham dirimu.</p><p>Rei —</p><p><em>ternyata aku mencintaimu secara dalam…</em></p><p>lagi untuk kesekian kalinya aku menulis tentangmu.</p><p>Belakangan aku masih dan seperti bernegosiasi dengan Tuhan. Ku bilang, aku harap bisa melakukan apapun dengan imbalan tetap bisa bertemu denganmu. Tapi rasanyam cukup <em>hina</em>, seorang hamba meminta hamba yang lain, karena seharusnya ku minta cinta yang besar dari Pencipta, bukan?</p><p>Belakangan otak ku sulit dikerja sama. Selalu saja hadir skenario <em>‘seandainya’</em> yang dapat ku ketahui pasti <strong>tidak akan pernah terjadi.</strong></p><p>Namun, tetap, dengan lirih… ku kembali melangitkan satu doa itu untuk dirimu. Semoga tetap bisa bertemu. Semoga bisa jumpa. <em>Semoga bisa tetap jua.</em></p><p>Jauhhhhh sekali, ku rasa aku sudah cukup aman melepasmu berlayar. Ke — entah — kota mana yang akan kau tuju. Tujuan seperti apa yang ingin kau raih. Rencana mengenai apa yang mungkin belum tentu ada akunya.</p><p>Tapi, hatiku kembali melebur dan hampir patah untuk ke sekian kalinya — itu ketika aku berdiri di tengah-tengah deretan pintu lemari pendingin dengan berbagai macam minuman. Biasanya dirimu akan bicara dari belakang tubuhku dan bilang,</p><p>“Bingung, ya?”</p><p>Aku tertawa, membalas, “sekmen paling bikin pusing dan lama! Padahal aku maunya sekmen ngobrol yang lebih lama bersamamu.”</p><p>“Eleh.” cibirmu. Lalu tak lama membawa satu minuman atas rekomendasimu, supaya aku tidak terlalu lama memilih. Dan aku menurut.</p><p>Aku cukup lama terdiam, sebelum akhirnya ada seseorang menginterupsi kennagan itu. Aku berdehem, menoleh, <em>mundur perlahan.</em></p><p>Ku kembali mempertanyakan doa yang ku langitkan.<br>Apa benar pantas meminta? Tapi kan aku hanya hamba, yang berserah karena tau tidak memiliki segala.</p><p>Aku berusaha meyakini sebuah takdir yang epik dan mungkin terjadi untuk kita berdua.</p><p>Mungkin nanti, kita bisa bersama. Tak perlu lagi malu-malu kucing memperlihatkan cinta ke khalayak umum. Tak perlu merasa resah, karena pada akhirnya kita senantiasa bersisisan. Tidak perlu lagi merajuk, karena aku bisa mengelilingi kota bersammu kapanpun aku mau. Tak perlu lagi merasa gusar, karena kucingmu manja padamu, karena ku yakin dia akan manja juga padaku. Ahahaha, yaampunn, mimpi gila yang sulit ku bicarakan kepada orang-orang.</p><p>Maka, Tuhan… perdengarkan suara hati ini. Harap-harap, berikan jawaban terbaiknya juga…</p><p>Untuk kali ini aku kembali melangitkan doa untukmu. Tuhan, tolong… dengarkan… pertimbangkan… aku akan meraung-raung juga merajuk.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*0O-pjzXditdtbhOwXb9N4Q.png" /></figure><p><em>aku ingin, berikan kesempatan, jumpa, di jalan tepat, semoga itu jalanMu.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=817da5b9976a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Funngg! Selamat Berlayar~]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/funngg-selamat-berlayar-a7f3dc4608d5?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a7f3dc4608d5</guid>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 27 Sep 2025 16:43:15 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-23T09:54:31.699Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>#6 Sepekan sebelum berlayar</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/480/1*wKlwGtqpH3aqDNBgk-2TVA.jpeg" /><figcaption>cr: pinterest</figcaption></figure><p>Bisa ku bayangkan dini harimu sedikit gedebak-gedebuk, dilanjut sahut-menyahut dari orangorang terdekat. Riuhhh sekali. Lalu kamu terburu-buru membalut tubuhmu, hitam-hitam, aksen biru, kuning, merah… sungguh menawan di mataku (tadi).</p><p>Bisa ku bayangkan, dirimu sebagai bungsu akan manut dengan banyak hal. Memulai hari dengan tawa juga celoteh-celoteh aneh. Seperti, sepertii, seperti bersiap dengan keberangkatan. Seperti memang harihari yang kamu tunggu.</p><p>Sedangkan aku, terbangun dengan matahari sudah muncul secara sempurna. Terdiam lama menatap kain-kain putih juga biru. Aku bayangkan, aku terbalut seperti itu dengan kamu di sisiku. Tapi aku berjanji dengan diriku untuk tidak menemuimu, <em>barang sedetik, barang sengaja,</em> aku janji.</p><p>Aku bilang dengan seorang teman, di dermaga nanti aku tidak mau mengucap selamat tinggal untukmu. Aku, aku hanya ingin ikut berdiri di riuhnya banyak keluarga melepas di dermaga. Aku hanya pingin begitu. Tapi semakin lama, ada rasa berat di hatiku yang semakin buatku hampir kehilangan pegangan.</p><p>Aku sedang bertanya-tanya,</p><p>apa benar bisa, ya, nanti, aku cukup memberi tatapan legowo? Apa benar sudah siap persiapanku melepasmu berlayar? Aku rasa sih sudah cukup, sebelum pada akhirnya…</p><p>Tuhan berkata lain…</p><p>Dirimu yang paling ku hindari, paling tak ingin ku temui, paling matang persiapan dalam melepaskan, justru dirimu yang paling pertama untuk ku tatap dalam riuhhhhnya banyak keluarga di dermaga.</p><p>Tubuhku kaku. Degup jatungnya tak berirama. Meledak. Napasku tergagap. Aku balik badan. Mundur.</p><p><em>Gagal.</em></p><p>Aku gagal, barang memberi tatapan legowo itu Rei, maaf…</p><p>Aku justru memilih mundur, memutar balik, menghindari mata dari wajahmu. Aku gagal.</p><p>Ternyata, berantakan juga semua persiapan yang persiapkan matang-matang. Ternyata aku juga manusia, yang masih kerap berharap di banyak-banyak hal ketidakmungkinan.</p><p>Aku hampir goyah. Aku hampir berbalik badan lagi. Aku hampir mengejarmu. Menahanmu menaiki kapal. Menarik lenganmu. Menggenggam tanganmu erat. Jangan pergi.</p><p>Tapi aku tersadar,</p><p>kalau kamu mau; <em>kamu akan bergerak ke arah yang sama kepadaku bukan?</em></p><p>kalau kamu mau; <em>kamu tentu akan menyambut erat lenganku bukan?</em></p><p>Tapi kalau begitu,</p><p>Aku tidak pernah memberikan waktu untuk diri kita berdua <em>tumbuh</em> bukan?</p><p>Kalau begitu, aku dan kamu tidak pernah belajar untuk berpergian bukan?</p><p>Aku urung. Aku mengurungkan niatku.</p><p>Tiket itu, sudah di tangan. Tiket itu sudah diperiksa oleh petugas penjaga keamanan. Tiket itu, sudah mempersilakan mu untuk segera naik ke kapal.</p><p>Sedangkan aku,</p><p>Di balik pagar pembatas antara pengantar dan penumpang. Tapi apalah aku, permasalahannya adalah aku juga bukan pengantar. Karena aku tidak dengan suka rela melepasmu berlayar. Aku hanya <em>orang</em> <em>asing</em> yang memang sibuk menonton kepergian yang lain– salah satunya dirimu Rei.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/279/1*h7ajC5iPRceqKjniI3Rouw.jpeg" /><figcaption>cr: pinterest</figcaption></figure><p><em>Selamat berlayar~</em></p><p>Masih terasa berat di hatiku. Tetapi setelahnya langkahku ringan. Senyumku melebar. Turut senang, senang sekali dengan dirimu. Tuhan, terima kasih, setidaknya aku bisa melihat wajahnya sumringah lebar sembari menyambut pelukan hangat dari kerabat terdekat.</p><p>Rei, seyogyanya rencana Tuhan tidak pernah salah bukan? Ia selalu berhasil mengatur skenario antara pergi dan datang. Ia selalu tau pelajaran apa yang sekiranya bisa kami ambil bukan?</p><p>Ku pasrahkan kembali pada Tuhan, setelah dengan mabuk kepayang dengan harap bisa melupakanmu sejenak dan melepas sedih. Namun, justru, aku menemukan tenang yang <em>semoga abadi</em>–seperti kata Perunggu.</p><p>Kita perlu bertumbuh Rei, dengan, dengan sedikit pedih untuk tidak saling mengabari. Dengan sedikit jeda. Dengan sedikit banyak kekosongan. Dengan sedikit perasaan perlu rela dengan angan-angan di antara kita.</p><p>Tapi ya sudah Rei,</p><p>Aku sudah lelah. Benar kata seorang teman, seharian ini energiku sudah terkuras habis berpapasan banyak orang di dermaga. Begitu gila jika aku masih memiliki energi untuk menangisi kepergianmu.</p><p><em>Selamat berlayar~</em></p><p>Selamat menyambut luasnya lauttttt, birubiru sepanjang mata, burungburung bebas berterbangan di langit.</p><p>Ah ya lupa,</p><p>Sudah ku usahakan menabur perasaanku di atas laut, di samping kapalmu, tepat sebelum pada akhirnya jangkar kapal dilepas dan dirimu siap berlayar.</p><p>Sampai jumpa di kesempatan yang lain. Di pulau sebrang. Di musim berbeda. <em>Kalau memang Tuhan mengizinkannya</em>.</p><p>*boleh dengarkan lagu Niki — Magnets</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a7f3dc4608d5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sorai-sorai Sebelum Keberangkatan]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/sorai-sorai-sebelum-keberangkatan-8eb39d91322f?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8eb39d91322f</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[worship]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[love-letters]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 26 Sep 2025 15:46:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-26T15:47:36.438Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>#5 Sepekan sebelum berlayar</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/1*lut_PYnVCYhjtXNUnd7GdQ.jpeg" /><figcaption>cr: pinterest/riskialdi6655</figcaption></figure><p>Bagaimana harimu, Rei? Aku cukup baik, dunia semakin gila berpacu dengan waktu. Aku bisa gila jika tidak mengingat Tuhan. Aku bisa gila kalau abai dengan langit yang mudah saja berubah-ubah.</p><p>Aku cukup baik, sebelum pada akhirnya aku menyadari bahwa ku perlu menulis kembali. Dalam rangka menyiapkan logistik. Tau aku, pasti kamu sudah mulai muak dengan kata logistik, karena akupun juga.</p><p>Aku memulainya dengan baik, dengan harap hatiku kian mantap melepasmu berlayar. Eh- sebentar, baru ku sadar, aku melihat laut. Laut, kapal, matahari menuju tenggelam, biru- biru, kelabu, putih-putih awan menyempil, hijau-hijau jauhhhh di sana hampir tak terlihat. Oh, mungkin kelak seperti itu aku akan melihatmu berlayar, Rei.</p><p>Iya, ke sana, yang jauh, yang tidak ada akunya.</p><p>Bagaimana hatimu, Rei? Senang sudah? Karena badanmu terbalut hitam-hitam. Kepalamu terhias topi kebanggaanmu. Aku bisa membayangkan senyum mu melebar, dengan sedikit celetukan aneh. Itu pasti.</p><p>Bagaimana perasaanmu, Rei? Riang? Besok akan semeriah apa ya… melihat dirimu bersisian dengan Indung, Bapak, juga yang lain. Lalu bersorai-sorai, melambai-lambai jauh di atas kapal sana, perlahan menjauh dari dermaga.</p><p>Turut senang, walaupun aku menghindari kesenanganmu. Menurutku keputusan-keputusan kemarin adalah yang terbaik, memang pantaslah kalau disebut sebagai salah satu logistik persiapan melepasmu berlayar. Sedikit tenang, banyak cemas dan gegapnya, tapi tak apa karena yang ini urusanku dengan hatiku.</p><p>Walaupun,</p><p>Sesak itu masih kerap hadir tiba-tiba. Rasa aneh itu masih menjalar dengan hebat. Dengan kuat. Membuatku enggan berbuat apa-apa. Lalu, air mataku meluncur bebas begitu saja. Sesak memenuhi dada. Lagi, lirih sekali aku rapal namamu Rei. nama yang masih ku minta berkali-kali dengan Tuhan yang ternyata hingga per hari ini Ia masih enggan menjawab atau mengabulkannya, Rei.</p><p>Benar… benar… aku adalah orang yang tidak beruntung, karena kesempatan kedua kalinya tidak hadir baik di antara aku atau kamu.</p><p>Tadi, seorang teman datang memastikan apa benar tidak ada yang perlu ku persiapkan lagi? Aku masih mantap menjawab tidak. Sepertinya bertatap dan berhadapan denganmu enggan Rei. aku hanya perlu berdiri di antara orang-orang dermaga. Riuh, bersiul-siul melepasmu pergi, aku di sana, diam saja cukup. Lagi, hanya memberi tatapan legowo sebagai pertanda aku bersiap.</p><p>Lucunya, seorang teman yang lain datang untuk memastikan yang lain. Dia memastikan agar aku tidak menuju dermaga, dia bilang <em>“buat apa?”</em> aku hanya tertawa terbahak menjawab, <em>kan dia mau pergi jauh masa tidak salam jumpa. </em>Tau apa yang membuatku akhirnya tersadar? Temanku bilang,</p><p><em>Punyamu nanti ada masanya. Ada bahagianya. Ada riuhnya. Jangan datang ke pesta kepergian seseorang di atas penderitaanmu. Toh, dia tidak tau dirimu letak harganya di mana.</em></p><p>Keputusan tepat Rei, memberi tatapan legowo itu tepat Rei. sungguh tepat!</p><p>Ah ya, aku keliru menghitung hari. Besok sudah kepergian dirimu, dan aku masih menulis dirimu di… di mana… eh, ini ke lima. Ya ke lima. Harusnya ke-enam? Eh kurang tau juga. Memang sudah keliru dari awal. Kok terkesan ternyata ini keliru ya mengenai dirimu, padahal kan aku memiliki kesadaran penuh atas tulisan ini.</p><p>Berarti bukan sepekan sebelum, tapi ya sudah akan tetap ku genapkan sampai tujuh. Tujuh, tujuh, tujuan, oh biar tertuju. Tertuju ke tujuanku, juga tujuanmu, masing-masing. Karena sudah tidak satu tujuan, setuju bukan?</p><p>Berarti masih ada keharusan menulis tentang dirimu bahkan ketika dirimu pergi, Rei, ahahahaha kejamnya–aku karena aku yang keliru. Aku tetap berkabar di sini, ketika dirimu entah berkabar di bagian mana. Aku tetap berusaha memberikan informasi terbaru, sedangkan kamu memberi informasi baru itu pada orang lain.</p><p>Tapi Rei,</p><p>ku pelajari memang sudah masanya kita tidak saling berkabar. Seperti yang sudah ku duga-duga, dengan tetapnya kita berusaha ‘menyalakan’ sesuatu, justru kita semakin terjebak di masa-masa lalu yang berhak untuk ditinggalkan.</p><p>Aku belum tentu bisa tumbuh, pun denganmu. Dengan begini, kita tumbuh. Dirimu berlayar jaauuuhhh, aku bersiap untuk mungkin berlayar juga atau mungkin aku terbang, ahahah janji Tuhan kepada hambanya tidak pernah bohong dan gagal.</p><p>Tapi Rei, lagi ada yang perlu kamu ketahui.</p><p>Kita adalah ‘hampir’. Kita adalah ‘seandainya’ yang masih kerap menggebu-gebu.</p><p>Melepasmu berlayar adalah salah satu upaya agar aku tetap <em>hidup</em>, tetap <em>tumbuh</em>, juga tetap melanjutkan <em>perjalanan.</em></p><p>September 26, 2025</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8eb39d91322f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kantong Plastik, Ransel, Buku-Buku, dll.]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/kantong-plastik-ransel-buku-buku-dll-329fcccc8a31?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/329fcccc8a31</guid>
            <category><![CDATA[friendship]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 26 Sep 2025 04:15:02 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-26T04:15:02.504Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>#4 Sepekan sebelum berlayar</h4><p>Maaf, sedikit–banyak terlambat untuk melaporkan bagaimana persiapanku sejauh ini.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/418/1*49DapxjFrMfoLlQBn-1vlg.jpeg" /><figcaption>cr: pinterest</figcaption></figure><p>Huft, waktu menunjukkan pukul 10:44, seharusnya di jam yang persis, namun tadi malam, aku sudah mempublikasikannya untukmu.</p><p>Kemarin hari yang padat, Rei…</p><p>Ku kira akan lebih mudah mempersiapkan banyak hal untukmu. Karena aku sudah sejauh ini. Karena sudah terlalu banyak juga yang ku lakukan untuk dirimu. Tapi ternyata, sial, aku juga gak tau harus menamai apa itu? Musibah– ujian atau mungkin langkah?</p><p>Perlu kamu tau, aku bukan menghindar, bukan kabur, bukan sengaja. Kayaknya alih-alih terkesan kabur, kemarin seperti sebuah persiapan yang lebih matang.</p><p>Tiba-tiba ponselku harus ranap di rumah sakitnya. Dengan kondisi aku sudah membeli tiket untukmu–kini di genggaman tangan, juga ruang-ruang berbagi cerita yang sudah ku kosongkan. Ahahaha, sepertinya semesta mendukung untuk mempersiapkan kepergianmu bukan? Ku pikir lebih jauh, nantinya di hari keberangkatanmu berarti aku tidak bisa mengabadikan apapun. Senyum, mata, atau bahkan suaramu.</p><p>Sialan,</p><p>Pada beberapa hal aku senang dan bersukaria untuk didukung, tapi kali ini aku bingung. Perlukah aku bersyukur atau justru mengumpat dengan banyak kata kotor?</p><p>Seharian suntuk ku melalui teriknya kota M, di jalan memikirkan dirimu, dengan lagi-lagi degup jantung yang tidak biasa. Dilanjut mengalihkan pikiran dengan projek-projek tulisan dengan aku penanggungjawabnya, juga salah satunya projek tulisan mengenai dirimu.</p><p>Semalam,</p><p>mataku sulit terpejam dengan tenang. Padahal aku tau persis, tubuhku lelah, tidak henti-hentinya menguap karena kekurangan oksigen, seharian menerjang panasnya bumi, tapi aku sulit terpejam. Tiap kali mataku memutuskan untuk terpejam, skenario-skenario gila itu muncul.</p><p>Misal,</p><p>ternyata aku berharap berpapasan denganmu. Ternyata aku berharap bisa memberimu ‘lebih’ dari sekedar tatapan legowo. Ternyata aku berharap bisa mendekapmu erat, mengelus punggungmu sebagai bentuk banggaku, juga kembali menyebut namamu</p><p><em>Rei… selamat ya.</em></p><p>Sialan, kan? Karena aku jadi merasa persiapanku yang kemarin tidak berarti apa-apa.</p><p>Maka dari itu, tidak lagi ku sanggup menulis semalam. Karena aku sibuk berkompromi dengan tubuh untuk beristirahat.</p><p>Lagi, sialnya, tiap mata ku terpejam</p><p>aku masih ingat bagaimana tawamu masuk ke kupingku dengan hangat, diikuti suara angin malam, dinginnya kota M, juga jalanan yang sepi.</p><p>Tapi aku sadar, aku gak bisa begini terus, Rei. Aku perlu menyiapkan yang lain.</p><p>Cinta-cinta dan rasanya sudah kupersiapkan masuk ke kantong plastik. Ku pastikan nanti ku buang dengan menaburnya di laut, di sebelah kapalmu, sebelum berlayar.</p><p>Memori-memori lama denganmu sudah ku susun rapih di ransel. Ku pastikan nanti tas itu ku tinggalkan di tempat penitipan dermaga. Kelak, tidak akan ku ambil. Lalu petugas dermaga akan memasukkannya ke daftar barang temuan atau hilang. Lalu setelah 40 hari karena tak ada yang kunjung memberi informasi, maka akan dilepas, dibuang, dijual, atau barangkali <em>dilelang</em>.</p><p>Buku-buku berisikan tulisan tentangmu sudah ku susun rapih dan ku ikat. Ku pastikan nanti buku itu ku taruh di toko rongsok kertas di terminal lama kota M, samping bukit T yang pernah menjadi tempat mimpi kita berdua. Yang pernah menjadi tempat tujuan kita berdua membeli sepasang ikan hias untuk menemani ku di Kos milik Indung Semang.</p><p>Yang perlu ku bawa ketika kepergianmu mungkin antara lain, obat-obatan yang membantuku untuk tetap tenang menatapmu. Sedikit kudapan penuh cinta dari orang terdekat yang meyakini kalau aku bisa lebih baik, kalau aku bisa menemukan hal baik selain kamu. Juga, air putih agar aku tetap terhidrasi.</p><p>Biru-biru yang besok membalut tubuhku, semoga dia bersinar cantik.</p><p>Semoga aku bisa tersenyum melihatmu dengan hitam-hitam dengan aksen kuning-merah di tubuhmu, yang memberi pertanda dirimu selesai berjuang <em>di sini.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=329fcccc8a31" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mempersiapkan, duh, yang Justru Bukan Buatmu]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/mempersiapkan-duh-yang-justru-bukan-buatmu-07aa90441509?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/07aa90441509</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 24 Sep 2025 17:00:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-24T17:00:42.519Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>#3 Sepekan sebelum berlayar</h4><p>Duh, hari sudah malam. Aku rasa, semakin ke sini hari begitu berjalan dengan cepat, Rei...</p><p>dan aku mulai kelimpungan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qfF7VjwTk3D_-kTGEP0r4Q.jpeg" /></figure><p>Rasanya tadi masih cukup fajar, terbangun entah karena apa. Aku memutuskan untuk merapal, yang ujungnya ragu-ragu kusebut namamu, Rei. Perlu aku doakan agar perjalananmu lancar? Atau justru aku yang perlu didoakan agar tetap pijar? —selagi kepergian dirimu.</p><p>Tapi yang jelas rasanya aku semakin bersiap, Rei. Melihat rangkaian kain-kain tersusun, menyambung, terikat satu sama lain. Putih di sana, putih di sini, gedung tinggi, serta singgasana yang mulai dihitung juga diatur.</p><p>Ada,<br>ada sekaliiiii rasa sesak melihatnya. Pelan ku lewati, sambil ku dongakan kepala ke atas.<br>Putih.<br>Putih.<br>Kosong.<br>Tidak terasa hening.<br>Ah, nantinya di hari keberangkatan itu akan ramai. Akan bewarna. Biru, merah, hitam, kuning, merah muda.</p><p>Nah, aku jadi bertanya-tanya, warna apa yang akan membalut badanmu. Juga warna apa yang mengelilingi dirimu. Yang, duh, sebetulnya, aku lebih bertanya, siapa saja yang ada di kelilingmu, nanti.</p><p>Aku belum sanggup memikirkan itu ke sana, Rei. Pikirku, melepas dirimu saja sudah perlu banyak persiapan. Apalagi aku perlu menyiapkan skenario gila –yang ada orang lain laginya– itu, yang ada aku tidak kunjung berdamai.</p><p>Rei,<br>seorang teman kembali mempertanyakan dirimu, juga diriku. Dia tanya,</p><p>&quot;Eh, Ra, apa kamu begitu yakin tidak perlu logistik lainnya?&quot;</p><p>Aku tertawa. Tidak cukup lebar. Namun, cukup terbahak. Tidak bisa lama-lama juga, karena palsu.</p><p>&quot;Tidak. Yang ini sudah cukup. Aku hanya perlu menyiapkan tatapan paling legowo untuknya (alias kamu Rei).&quot;</p><p>&quot;IH! Temui dirinya saja lah, sekalian. Ayo. Kamu kan berhak.&quot;</p><p>Aku tersenyum simpul. Sekali lagi menggeleng.</p><p>Duh, Rei...</p><p>Tau tidak sih yang paling lucu pada hari ini itu apa?</p><p>Aku justru mempersiapkan logistik yang lain. Yang lebih siap. Yang lebih apik. Tapi... bukan buatmu...</p><p>Bukan, bukan karena aku tidak mau, bukan juga karena bukan kamu orangnya —karena selalu kamu— tapii ya memang ada hal yahg kurasa perlu aja sih.</p><p>Rei, Rei,<br>seyogyanya, semisal, kita nanti jumpa, aku harap tatapan legowoku sudah cukup jadi bekal di antara kita berdua. Untuk melepaskanmu berlayar. Untuk aku yang ditinggal berlayar.</p><p>Sialannya Rei, waktu memang mungkin tidak berpihak pada kita. Karena kini sudah jam 11:48, beberapa menit lagi sudah berganti hari, dan aku perlu menyelesaikan tulisan ini sebagai salah satu persiapan logistik melepasmu.</p><p>Sialannya Rei,<br>benar kata seseorang yang mampu disebut orang tua,<br>kesempatan kedua tidak hadir pada banyak orang. Dia hadir bagi yang beruntung. Dan aku, barangkali tidak beruntung.</p><p>Dan,<br>dan,<br>dan— sebentar, aku mulai sesak mengingat namamu—<br>aku perlu cukup. Perlu cukup atas penutup. Perlu cukup tau kalau, kalau, ya, aku sudah begitu lama dilepas. Atau barangkali didepak.</p><p>Reii, <br>ku harap dirimu tetap berkabar baik denganku. Boleh saja nanti datang pamerkan kebahagiaanmu. Boleh saja nanti datang memaki-makiku. Boleh saja nanti datang, barangkali, memulai yang baru.</p><p>Aih sialan<br>Sudah 11:51, aku perlu sudahi.<br>Dan makin lama tulisanku tidak mencerminkan atas persiapan ku melepas dirimu. Sialan. Sialannnn!!!!</p><p>Barangkali, besok aku mungkin lebih siap.<br>Akan kupersiapkan logistik lainnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=07aa90441509" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Logistik, sudah aman belum?]]></title>
            <link>https://medium.com/@howbwrite/logistik-sudah-aman-belum-5d5ea33b892c?source=rss-634863e6f20e------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5d5ea33b892c</guid>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[hira]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 23 Sep 2025 16:42:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-23T16:42:46.220Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>#2 Sepekan sebelum berlayar</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Um4KrsY191QgIRgkUvJ3HA.jpeg" /></figure><p>Aku terbangun dengan ponsel di genggaman tangan. Hampir tersentak jatuh, kepalaku sedikit pusing. Menatap ponsel di genggaman tangan, sedikit bingung juga, &quot;kenapa harus di tangan? Ketiduran?&quot;</p><p>Ternyata, <br>Layarnya masih menampilkan bukti pembelian tiket yang sudah ku pesan semalam. Aku menghela napas panjang. Masih banyak yang sekiranya perlu kupersiapkan.</p><p>Bangun, meregangkan badan juga pikiran. Merapihkan sekenanya yang aku bisa. Meminum air putih sebagai pertanda aku sudah bangun. Tanganku bergerak beralih membuka aplikasi pesan.</p><p>Uhuk!<br>Tersedak.<br>Sialan.</p><p>Ruang obrolanku denganmu terbuka di sana, di aplikasi pesan. Sialan. Pasti semalam aku ada keinginan mengirim pesan-pesan aneh lagi.</p><p>Untunglah, ternyata itu hanya ruang kosong— yang kemarin sengaja ku kosongkan. Lega.</p><p>Aku butuh pegangan lebih untuk menyadarkan diri. Aku berdiri, menyentuh tembok dan sekitar yang ku bisa.</p><p>Sabar. Sabar. Masih banyak yang perlu ku persiapkan sebelum tanggalnya. Melirik kalender, masih ada 6, eh 5? EH, celaka! Aku salah memperhitungkan tanggal.</p><p>Tiba-tiba degup jantungku meningkat. Gugup. Aku menyadari bahwa ternyata keberangkatannya semakin dekat dan aku belum menyiapkan apapun lagi selain mengetahui tiket itu berangkat kapan.</p><p>Mataku menyusuri ruangan. Apa ya, apa yang sekiranya perlu kupersiapkan. Apa ya, baju terbaik? Surat perpisahan? Hadiah sebagai selebrasi?</p><p>Tidak, tidak, aku berjanji pada diriku untuk tidak menyiapkan apapun yang spesial. Aku berjanji untuk diriku yang lebih tenang, lebih lega, lebih legowo, maka tidak membawa dan menyiapkan apapun.</p><p>Duh,<br>Asal kamu tau... bahwa aku terseok-seok menyiapkan banyak hal. Harus ada logistik yang dipersiapkan, tapi permasalahannya aku gatau harus mulai dari mana.</p><p>Ah iya, dimulai dari...</p><p>Menghapus nomormu perlahan, menyingkirkan pesan-pesan yang sekiranya membuatku sakit hati. Berat sekali jari-jariku mengklik setuju atas penghapusan pesan itu.</p><p>Menghela napas. Baik, sudah satu logistik yang kulakukan.</p><p>Beralih ke media sosial lainnya.<br>Di tempat yang mana kamu selalu bangga-banggakan itu. Di tempat yang menjadi alasan aku memulainya. Di tempat yang mana kamu rajin mengirim hal-hal lucu yang ku suka. Di tempat yang... ah sudahlah... sungguh menyiksa. Karena di sana adalah saksi di mana kita mati-matian untuk tetap menyalakan perasaan. Yang hingga kini, hangus, hilang, mungkin menjadi abu...</p><p>Tidak lagi ada alasan untuk kami berdua bukan? Tidak ada alasan lagi untuk membalsa lagi bukan? Aku tau. <br>Aku tau, maka ku putuskan menghapusmu dari temanku.</p><p>Huft. Satu terlaksanakan, aku menghela napas panjang (lagi).</p><p>Mana lagi ya?</p><p>Oh yang di sana,<br>Aku mengunjungi laman pesan kita berdua. <br>Sialan, ahahahah,<br>Kamu bilang, kamu mau bersamaku sampai akhir...</p><p>Gimana? Masih ingin? Atau sudah pupus harapanmu? Atau memang kamu tidak ingin memperjuangkannya?</p><p>Ya sudah, biar aku duluan yang ambil langkah. Yang ini, alih-alih menghapusmu, aku putuskan untuk menyembunyikanmu. Nanti-nanti, bagaimana selebrasimu aku tak perlu tau. Nanti-nanti, jika ada berita baik tentangmu aku tak perlu sakit. Namun, namun sejujurnya, jauhhh di lubuk hatiku tentu aku doakan bahagiamu selalu.</p><p>Hm, sepertinya sudah banyak logistik yang ku lakukan. Masih kurang, tapi diriku sudah cukup berkeringat. Waktunya mengalihkan pikiran ke pertemuan lainnya, yang kini, tidak ada lagi kamunya.</p><p>Hei...<br>Sebetulnya aku ga pernah benar-benar tau bagaimana rasanya sengaja menghapus seseorang dalam kehidupan lalu melanjutkan hidup tanpa memori tentangnya. Karena aku selalu ingin mengabadikan sesuatu. Bahkan menyakitkan sekalipun.<br>Ku tata baik-baik. Ku biarkan dia ada di memori awan, abadi selamanya di sana.</p><p>Tapi kali ini berbeda... <br>Walaupun dirasa berat, aku rasa aku perlu melakukannya. Biar tidak menghambat hal-hal baik yang ingin datang.</p><p>Kata temanku,<br>Hal-hal baik bukan berarti kamu melulu.<br>Tapi, bagaimana ya,<br>Aku rasa kamu lebih dari banyak hal.</p><p>Ah ya sudah, kalau begini, sia-sia saja logistik yang perlu kupersiapkan.</p><p>Besok aku persiapkan lagi sesuatu yang lebih besar agar mantap perjalanannya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5d5ea33b892c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>