<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Irham on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Irham on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*avvDsijNTfGYJBssHE_7dQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Irham on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 10:20:59 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@m.irhamarrasyid/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Olah Aja, Olah Terus]]></title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid/olah-aja-olah-terus-999c5dbcf1e1?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/999c5dbcf1e1</guid>
            <category><![CDATA[youth]]></category>
            <category><![CDATA[quran]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Irham]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 14 Jan 2026 13:53:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-14T13:53:08.573Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*t5Ydy6ZcrhXgXUKrqIAiNQ.png" /></figure><p>Hari ini, kita hidup di zaman di mana kata-kata bergerak sangat cepat. Ketika janji diucapkan dengan mudah, prinsip diumumkan dengan lantang, sikap moral ditampilkan dengan rapi, baik di ruang diskusi, media sosial, maupun percakapan sehari-hari. Namun, sering kali yang tercepat bukanlah tindakan, melainkan narasi tentang diri sendiri.</p><p>Di tengah fenomena ini, Al-Qur’an menghadirkan satu ayat yang terasa sangat relevan, bahkan menampar dengan tenang:</p><blockquote>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ</blockquote><blockquote>“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan”<br>(QS. Ash-Shaff: 2–3)</blockquote><p>Ayat ini tidak ditujukan kepada orang yang tidak beriman. Justru sebaliknya, ia menyapa mereka yang sudah memiliki identitas iman, nilai, dan prinsip. Teguran ini bukan tentang kurangnya pengetahuan, tetapi tentang ketidaksinkronan antara kata dan laku.</p><p>Banyak anak muda hari ini sangat piawai merangkai kata. Bahasanya olah-olah barang. Banyak anak muda sekarang mampu menjelaskan prinsip dengan elegan, mengkritik ketidakadilan dengan fasih, dan mendefinisikan nilai hidup dengan kalimat yang terdengar matang. Namun, di saat yang sama, tidak sedikit dari kita yang kesulitan berdiri tegak di atas kata-kata itu sendiri.</p><p>Prinsip yang diucapkan kemarin, hari ini direvisi. Janji yang dibuat di hadapan orang lain, perlahan dilonggarkan dengan berbagai alasan. Nilai yang dulu diperjuangkan, kini dinegosiasikan demi kenyamanan.</p><p>Bukan karena kita sepenuhnya munafik, tetapi karena kita hidup di zaman yang memberi ruang luas untuk merasionalisasi inkonsistensi. Selalu ada pembenaran. Selalu ada narasi baru. Selalu ada alasan mengapa kali ini berbeda.</p><p>Menariknya, QS. Ash-Shaff: 2–3 tidak memulai dengan ancaman. Kedua ayat ini dimulai dengan sebuah pertanyaan:</p><blockquote>“Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”</blockquote><p>Pertanyaan ini sederhana, tetapi sulit dijawab dengan jujur. Karena ia memaksa kita berhenti sejenak dan bercermin, bukan pada orang lain, tetapi pada diri sendiri.</p><p>Allah S.W.T. melalui ayat ini seakan ingin mengingatkan bahwa masalah terbesar iman bukan selalu pada niat buruk, melainkan pada kesenjangan kecil yang dibiarkan terus-menerus. Kesenjangan antara apa yang kita klaim dan apa yang kita jalani. Kesenjangan yang, jika dibiarkan, perlahan membentuk karakter yang rapuh.</p><p>Bagi banyak anak muda, menjaga konsistensi bukan perkara mudah. Dunia bergerak cepat. Tekanan sosial tinggi. Lingkungan sering kali menuntut fleksibilitas, bahkan dalam hal prinsip. Dalam kondisi seperti ini, integritas terasa mahal, dan kadang dianggap tidak realistis.</p><p>Namun Al-Qur’an tidak meminta kita menjadi sempurna. Ayat ini tidak menuntut kesempurnaan tindakan, tetapi kejujuran dalam komitmen. Jika belum sanggup menjalankan, jangan terlalu cepat mengucapkan. Jika belum siap menanggung konsekuensi, jangan terlalu lantang menjanjikan.</p><p>Karena menurut ayat ini, kata bukan sekadar ekspresi, tetapi amanah.</p><p>QS. Ash-Shaff: 2–3 mengajak kita, terutama anak muda, untuk menurunkan volume kata dan menaikkan bobot tindakan. Untuk tidak terlalu sibuk membangun citra moral, tetapi mulai membangun kebiasaan kecil yang konsisten.</p><p>Hari ini, mungkin refleksinya sederhana:</p><blockquote>Prinsip apa yang pernah aku ucapkan, tapi belum sungguh-sungguh kujalani?</blockquote><blockquote>Janji apa yang kubuat, namun kini coba kuolah ulang dengan alasan?</blockquote><blockquote>Apakah aku berani menunda bicara, demi memberi ruang pada tindakan?</blockquote><p>Karena pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang nilai. Yang langka adalah mereka yang membiarkan hidupnya menjadi penjelasan paling jujur atas kata-katanya sendiri.</p><p>Dan barangkali, di situlah iman diuji. Bukan pada seberapa indah ia diucapkan, tetapi pada seberapa setia ia dijalani. <em>Wallahu a’lam bissawab</em>.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=999c5dbcf1e1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Belumkah Datang Waktunya?]]></title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid/belumkah-datang-waktunya-eb754aeafa39?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eb754aeafa39</guid>
            <category><![CDATA[time]]></category>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <category><![CDATA[quran]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Irham]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 13 Jan 2026 12:11:02 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-14T04:15:04.103Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Yc-H-DT8Hlauh-RDGZ4qkw.jpeg" /></figure><p>Umat Islam hari ini kerap kali berada di bawah sorotan. Hukum Islam dianggap keras, gagasan Islam dicap tidak inklusif, dan kaum muslimin kerap diasosiasikan dengan kekerasan dan terorisme. Menariknya, stigma ini tidak hanya datang dari luar Islam, tetapi juga dari sebagian umat Islam sendiri yang merasa tidak nyaman dengan wajah Islam yang tampak kaku, marah, dan konfrontatif.</p><p>Namun, di tengah berbagai tudingan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur:</p><blockquote>Apakah gambaran tersebut benar-benar lahir dari Al-Qur’an, atau dari cara manusia membacanya, dan membawanya ke ruang publik?</blockquote><p>Sebab jika seseorang benar-benar membuka Al-Qur’an dengan hati yang jujur, ia akan menemukan bahwa wahyu tidak selalu datang dalam bentuk kemurkaan, ancaman, atau perintah keras. Al-Qur’an juga berbicara dengan kelembutan, empati, dan bahasa yang sangat manusiawi. Salah satu contoh paling kuat adalah QS. Al-Hadid ayat 16.</p><blockquote>اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ</blockquote><blockquote>“Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik”</blockquote><p>Ayat ini menarik bukan hanya karena isinya, tetapi karena kepada siapa dan bagaimana ia disampaikan.</p><p>Allah SWT dalam ayat ini tidak sedang menegur orang-orang kafir.<br>Bukan pula mereka yang secara terang-terangan menolak kebenaran.<br>Yang ditegur justru adalah orang-orang yang beriman, mereka yang secara identitas sudah berada di dalam ‘kebenaran’ itu.</p><p>Dan cara menegurnya pun jauh dari kesan keras.<br>Tidak ada ancaman neraka. Tidak pula ada kalimat yang menghakimi.<br>Allah SWT pun tidak berkata, “Mengapa kalian lalai?” atau “Mengapa hati kalian keras?”</p><p>Sebaliknya, Allah SWT memilih satu bentuk bahasa yang sangat lembut, namun menghunjam.</p><blockquote>“Belumkah datang waktunya…?”</blockquote><p>Pemilihan kata ini bukan kebetulan.<br>Kalimat ini tidak memaksa, tetapi mengajak.<br>Tidak menghardik, tetapi menyadarkan.<br>Tidak pula menyudutkan, tetapi memanggil nurani.</p><p>Seolah Allah SWT sedang berdiri sangat dekat dengan hamba-Nya, lalu bertanya dengan penuh perhatian: <em>“Sampai kapan?”</em></p><p>Dalam satu pertanyaan ini, Allah SWT mengakui sesuatu yang sering kita lupakan.</p><p>Allah SWT mengakui bahwa iman bisa melelah, bahwa hati bisa mengeras perlahan, bukan karena penolakan, tetapi karena kebiasaan, bahwa seseorang bisa dekat dengan agama, namun jauh dari ketundukan batin.</p><p>Allah SWT bahkan tidak mengatakan bahwa hati itu keras sejak awal. Yang disebut justru bahwa <strong>waktu yang berlalu terlalu lama</strong> membuat hati menjadi keras. Artinya, masalahnya bukan pada kebenaran yang ditolak, tetapi pada <strong>kebenaran yang terlalu lama didengar tanpa benar-benar dihidupi</strong>.</p><p>Di titik inilah ayat ini menjadi cermin yang tidak nyaman.</p><p>Mungkin masalah umat Islam hari ini bukan karena ajarannya terlalu keras, tetapi karena hati kita sendiri yang mulai kebal. Terlalu sering membaca ayat tanpa berhenti merenung. Terlalu sering berbicara atas nama agama tanpa terlebih dahulu ditundukkan olehnya. Terlalu sibuk membela Islam secara simbolik, tetapi lalai membiarkan Islam membentuk akhlak dan kelembutan jiwa.</p><p>QS. Al-Hadid ayat 16 mengajak kita untuk berhenti sejenak sebelum menunjuk ke luar, dan bertanya ke dalam.</p><blockquote>Apakah selama ini kita membaca Al-Qur’an untuk mencari pembenaran, atau untuk ditantang?<br>Apakah kita merasa sudah ‘cukup beriman’, sehingga lupa untuk benar-benar tunduk?<br>Apakah kita sibuk mengoreksi orang lain, tetapi menunda perubahan diri sendiri?</blockquote><p>Ayat ini tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya menuntut kejujuran hati.</p><p>Kejujuran untuk mengakui bahwa mungkin waktunya sudah lama datang,<br>waktu untuk melembutkan hati,<br>waktu untuk berhenti bersikap reaktif,<br>waktu untuk membiarkan iman tidak hanya terlihat di luar, tetapi terasa di dalam.</p><p>Dan barangkali, jika umat Islam lebih sering berhenti di ayat-ayat seperti ini, maka wajah Islam yang hadir ke dunia pun akan berbeda. Tidak kehilangan prinsip, tetapi juga tidak kehilangan kasih.</p><p>Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan bukanlah suara yang paling keras, melainkan hati yang paling tunduk.<em> Wallahu a’lam bissawab</em>.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eb754aeafa39" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ketika yang Dicintai Harus Dilepaskan]]></title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid/ketika-yang-dicintai-harus-dilepaskan-a6e2bf053b42?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a6e2bf053b42</guid>
            <category><![CDATA[self-love]]></category>
            <category><![CDATA[quran]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Irham]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 12 Jan 2026 12:33:40 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-12T15:02:38.591Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/474/0*S_8soV1hCP9iOJSZ" /></figure><p>Hari kedua dari edisi <em>qur’an journaling </em>ini membawaku pada satu ayat yang tidak terasa menenangkan sejak awal membacanya. Jika di hari-hari tertentu Al-Qur’an datang dengan kelembutan yang meneduhkan, maka hari ini ayat yang kutemui justru bersikap jujur bahkan agaknya konfrontatif, seperti halnya negara yang menggunakan sifat realisme. Sikap tersebut dilakukan Allah SWT melalui Al-Qur’an terhadap cara manusia memahami hidup.</p><p>Ayat itu adalah Surah Al-Baqarah ayat 216.</p><blockquote>كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</blockquote><blockquote>“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)”</blockquote><p>Sebuah ayat yang sejak kalimat pertamanya sudah mengakui satu kenyataan penting bahwa tidak semua perintah, jalan hidup, atau keputusan akan terasa nyaman bagi manusia. Dan bahwa rasa benci, berat, atau enggan bukanlah sesuatu yang asing dalam perjalanan iman. Ayat ini justru mengajakku merasa baik-baik saja. Ayat ini justru mengajakku berpikir ulang tentang apa yang selama ini kuanggap baik dan buruk.</p><p>Apabila dicari tahu <em>asbabun nuzul</em>-nya, ayat ini turun di Madinah, pada fase ketika kaum Muslimin baru saja diperintahkan untuk berperang secara defensif. Setelah bertahun-tahun mengalami penindasan di Mekah, dimana kaum Muslimin disiksa, diusir, dirampas haknya, mereka akhirnya diizinkan, bahkan diwajibkan, untuk melawan.</p><p>Namun perintah ini tidak disambut dengan euforia. Justru sebaliknya, banyak sahabat merasa berat, takut, dan enggan. Mereka beranggapan bahwa dengan adanya perang maka mereka bisa saja kehilangan nyawa, keluarga, dan harta.</p><p>Menariknya, ayat ini tidak menghakimi perasaan itu. Melalui ayat ini, Allah SWT tidak berkata, “Mengapa kalian takut?” Allah SWT justru mengakui secara terbuka “boleh jadi kamu membenci sesuatu.”. Pengakuan ini terasa sangat manusiawi. Seolah Allah SWT berkata kepada kaum Muslimin bahwa Allah SWT juga mengerti kalau kondisinya berat. Allah SWT mengerti bahwa kondisinya tidak menyenangkan.</p><p>Namun setelah pengakuan itu, ayat ini membongkar asumsi paling mendasar dalam diri manusia, bahwa perasaan tidak selamanya berperan sebagai penunjuk kebenaran, bisa jadi sesuatu yang dibenci justru membawa kebaikan besar, dan sebaliknya, sesuatu yang disukai justru membawa keburukan yang tidak disadari.</p><p>Penutup ayat ini menjadi kunci dari semuanya.</p><blockquote>وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</blockquote><blockquote>“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”</blockquote><p>Ini bukan kalimat yang merendahkan manusia, melainkan kalimat yang membebaskan. Ia membebaskan manusia dari tuntutan untuk selalu mengerti sekarang, untuk selalu merasa yakin, dan untuk selalu nyaman.</p><p>Hal ini diperkuat oleh para <em>mufassir</em> yang menegaskan bahwa ayat ini bukanlah glorifikasi perang. Ini merupakan pendidikan mental dan spiritual, bahwa iman menuntut kepercayaan pada hikmah Allah SWT, bahkan ketika emosi dan logika jangka pendek kita menolak.</p><p>Ayat ini terasa sangat personal bagiku ketika aku mengingat masa di mana aku begitu mencintai satu mimpi, <strong>berkuliah di Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada</strong>.</p><p>Saat itu, diriku mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Aku mempelajari sistem seleksinya, berlatih terus-menerus, beribadah siang-malam, dan merelakan waktu terakhir di masa SMA-ku bersama teman demi belajar. Dalam bayanganku, aku sudahmelihat diriku menempuh pendidikan di sana, bahkan membayangkan kemungkinan meraih gelar <em>double degree</em>. Membayangkan satu almamater dengan Ibu Menlu Retno yang kubanggakan. Ketika waktunya tiba, aku mencoba semua jalur yang ada. Jalur kelas internasional kutempuh hingga tiga kali. Jalur mandiri melalui UTUL pun kucoba. Aku sudah berusaha sejauh yang kubisa.</p><p>Namun Allah SWT berkehendak lain. Aku tidak diterima. Saat itu, kegagalan ini terasa sangat berat. Bukan hanya karena tidak diterima di kampus impian, tetapi karena aku harus melepaskan sesuatu yang sudah lama kubangun dalam pikiran dan harapan. Sesuatu yang benar-benar kucintai.</p><p>Namun di situlah ayat ini menemukan tempatnya dalam hidupku. Allah SWT kemudian membukakan jalan lain, aku diterima di HI Universitas Airlangga. Awalnya, aku berpikir bahwa ini tidak seperti jalan yang kubayangkan, sepertinya akan tidak seindah itu. Namun perlahan, aku mulai memahami makna ayat ini bukan sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman nyata.</p><p>Aku masuk melalui jalur UTBK, yang membuat beban biaya kuliah keluargaku jauh lebih ringan dibandingkan jika aku masuk kelas internasional. Di sana, aku justru bisa berproses dengan tenang. Aku dapat meraih predikat <em>cumlaude</em>, sesuatu yang mungkin saja sulit kudapatkan jika aku berada di lingkungan yang berbeda. Aku bertemu dengan pertemanan yang luar biasa baik. Aku diberi kesempatan berproses dan memimpin di organisasi politik, sebuah pengalaman yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya, namun justru menjadi ladang pembelajaran dan pembentukan diri.</p><p>Lebih dari itu, aku juga menyadari bahwa banyak juga keberkahan yang menyertainya. Keberkahan masih dikelilingi orang-orang <em>shalih</em>, keberkahan dipertemukan dengan lingkungan yang menuntunku tetap berada di jalan Allah SWT, keberkahan urusan orangtuaku yang tetap diberi kelancaran, sebagian karena beban pendidikan yang lebih ringan, dan masih banyak keberkahan lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu.</p><p>Dan di titik ini, aku mulai mengerti, sesuatu yang dulu terasa sangat ingin kumiliki, ternyata bukan satu-satunya jalan menuju kebaikan.</p><p>Ayat ini mengajarkan bahwa iman tidak selalu hadir dalam bentuk ketenangan. Kadang ia hadir dalam bentuk kehilangan, atau dalam bentuk kegagalan, atau bahkan dalam bentuk harus melepaskan sesuatu yang sangat kita cintai.</p><p><em>Qur’an journaling </em>hari ke-2 ini mengajarkanku bahwa tidak semua kebaikan datang dengan rasa nyaman, dan tidak semua rencana terbaik adalah rencana kita sendiri. Ada hikmah yang baru bisa dipahami setelah diriku berhenti menggenggam terlalu erat.</p><p>Mungkin hari ini, ayat ini mengajak diriku bertanya.</p><blockquote>Apa yang sedang sulit aku lepaskan?</blockquote><blockquote>Mimpi apa yang terasa gagal, tapi mungkin sedang diarahkan ulang oleh Allah SWT?</blockquote><blockquote>Apakah aku berani percaya dengannya, meski belum sepenuhnya mengerti?</blockquote><p>Karena pada akhirnya, ada satu kalimat yang terus menggema dari ayat ini. Allah SWT mengetahui, sedang kita tidak mengetahui. Dan terkadang, itu sudah lebih dari cukup. <em>Wallahu a’lam bissawab.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a6e2bf053b42" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kebebasan yang Menipu dan Penjara yang Membebaskan]]></title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid/kebebasan-yang-menipu-dan-penjara-yang-membebaskan-d4d42164390d?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d4d42164390d</guid>
            <category><![CDATA[paradox]]></category>
            <category><![CDATA[quran]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Irham]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 11 Jan 2026 12:06:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-14T04:22:58.214Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang datangnya bulan Ramadhan tahun ini, aku ingin menantang diriku sendiri untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an dengan melakukan <em>qur’an journaling</em>. Bukan sekadar membaca ayat-ayatnya, tetapi meluangkan waktu untuk berhenti, meresapi, dan menuliskan bagaimana ayat-ayat tersebut sedang membicarakan juga tentang hidup saat ini. Mungkin dalam jurnal ini, aku gak akan terlalu menafsirkan secara ilmiah, tapi lebih ke ingin berdialog antara quran dan pengalaman diriku saat ini.</p><p>Salah satu ayat yang cukup mengusikku saat memulai proses ini adalah Surat Yusuf ayat 33.</p><blockquote>قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ<br>“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. (QS. Yusuf: 33)”</blockquote><p>Kalau dibaca sekilas, sikap yang dilakukan oleh Nabi Yusuf A.S. bisa dibilang ekstrim banget. Mungkin kalau kita lihat, penjara ini kayak akan bikin Nabi Yusuf gak bebas, kehormatannya hilang, dan masa depannya juga semakin gak jelas. Tapi, kalo dipikir-pikir, justru di situlah letak kejernihan moral Yusuf. Ayat ini bukan sekadar kisah keshalihan personal di masa lampau, tapi juga tentang potret abadi dari kerapuhan manusia, tekanan lingkungan, dan makna kebebasan yang sesungguhnya. Sebuah tema yang terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini.</p><p>Hal yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana cara Nabi Yusuf A.S. memposisikan dirinya. Ia tidak berkata, “Aku kuat menolak,” atau “Aku kebal dari godaan.” Sebaliknya, ia berdoa. Ia mengakui kelemahannya dan memohon perlindungan Allah. Ini penting. Iman Nabi Yusuf A.S. bukan berdiri di atas rasa superioritas moral, melainkan kesadaran diri. Ia memahami bahwa berada terlalu lama di lingkungan yang rusak, bahkan bagi orang <em>shalih</em> sekalipun, dapat mengikis hati sedikit demi sedikit. Doa Nabi Yusuf A.S. mengajarkan bahwa iman bukan tentang merasa aman dari dosa, tetapi tentang tahu kapan harus berlindung sebelum terlambat.</p><p>Dalam kisah Nabi Yusuf A.S., penjara dianggapnya sebagai aib sosial. Penjara dapat menghapus reputasi dan menutup masa depan. Masuk penjara berarti menerima kehinaan yang terlihat oleh semua orang. Dari kisah tersebut, mari kita coba maknai dengan kisah hari ini. Saat ini, penjara mungkin dapat menjadi bentuk lain dari sel dan jeruji, dimana justru penjara tersebut berada di dalam aksi-aksi kita sendiri.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*lYI0mDHIGLjzWOlh" /></figure><p>Mungkin beberapa diantara kita pernah ada yang takut tersingkir dari pekerjaan karena menolak praktik tidak etis. Atau ada juga yang takut kehilangan peluang naik jabatan karena gak mau ikut permainan kotor dalam bisnis atau politik. Atau mungkin takut menjauh dari pertemanan yang <em>toxic</em> demi menjaga nilai dan prinsip yang dipegang oleh diri sendiri. Atau ada juga yang takut memilih kesendirian karena enggan berkompromi dengan keburukan yang dinormalisasi. Apabila kita telisik, banyak ancaman dari penjara-penjara ini yang memang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata, bisa berupa kesepian, ketidakpastian ekonomi, dan keterasingan sosial. Karena itulah banyak orang hari ini lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan arah hidup.</p><p>Ayat ini secara halus membongkar cara kita menyusun rasa takut. Kita bisa saja sangat waspada terhadap risiko yang kasat mata, seperti dipecat, dikucilkan, atau gagal secara materi. Namun, sering kita abai terhadap risiko yang tak terlihat. Rusaknya nurani, kaburnya batas benar dan salah, dan hilangnya kejujuran pada diri sendiri menjadi sifat-sifat <em>syaitan</em> yang mengelilingi diri. <em>Naudzubillahimindzalik.</em></p><p>Sering kali, diantara kita lebih mudah takut pada hukuman sistem daripada takut menjadi manusia yang tidak lagi kita kenali. Namun, Nabi Yusuf A.S. membalik hirarki ketakutan itu. Baginya, tubuh yang terpenjara lebih baik daripada jiwa yang terbelenggu. Tubuh yang bebas tetapi terikat oleh kebohongan, utang moral, dan kompromi tanpa akhir sejatinya hidup dalam ketakutan yang terus-menerus.</p><p>Selain itu, ayat ini juga mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukanlah ketiadaan batas, melainkan keutuhan diri. Seseorang bisa saja terlihat sukses, bergerak bebas, dan memiliki kuasa. Namun, bisa saja banyak hal di hidupnya yang berada dalam kegelisahan. Ia takut aibnya terbongkar, takut kehilangan, takut keluar dari sistem yang sudah terlanjur kotor. Sebaliknya, penjara Nabi Yusuf A.S. justru menjadi ruang penjagaan iman. Secara lahiriah ia terkungkung, tetapi batinnya utuh. Nilai-nilainya tidak retak, identitasnya tidak terpecah. Dan justru dari keutuhan inilah, kelak, ia dipercaya, diangkat, dan dimuliakan.</p><p>Menjelang Ramadhan tahun ini, ayat ini tidak hanya layak dikagumi, tetapi ditanggapi. Ia mengajakku bertanya dengan jujur.</p><blockquote>Kompromi apa yang sudah aku anggap biasa?<br>Diam apa yang selama ini aku benarkan?<br>Nilai apa yang aku tunda demi kenyamanan?</blockquote><p>Mungkin panggilan ayat ini bukan untuk mencari penderitaan, melainkan untuk melatih keberanian kecil. Berani menulis kegelisahan aku. Berani mengakui tekanan yang aku hadapi. Berani memilih integritas, meski konsekuensinya tidak ringan. <em>Wallahu a’lam bissawab</em>.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d4d42164390d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Dilema Indonesia di BRICS]]></title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid/dilema-indonesia-di-brics-14f6dbff8303?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/14f6dbff8303</guid>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[foreign-affairs]]></category>
            <category><![CDATA[international-relations]]></category>
            <category><![CDATA[2025]]></category>
            <category><![CDATA[brics]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Irham]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 12 Jan 2025 06:14:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-12T06:14:13.988Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Cerita sedikit pengalaman ke Kemlu kemarin…</h4><p>Pada awal tahun ini, Indonesia diumumkan menjadi bagian dari salah satu forum ekonomi internasional bernama BRICS. BRICS, yang mulanya bernama BRIC, merupakan sebuah pengelompokan negara-negara secara informal yang pada saat ini telah mengubah statusnya menjadi <em>intergovernmental organization</em>, dimana yang anggota tetapnya menjadi akronim dari nama BRICS itu sendiri, yakni Brazil, Rusia, India, China, and South Africa. Pertama kali diyakini oleh Jim O’neil melalui Goldman Sachs, terdapat empat negara yang diyakini akan melejit ekonominya apabila secara konsisten mempertahankan peningkatan ekonomi mereka, maka akan menjadi kekuatan baru dalam sistem internasional, dari sini lah BRICS bermula.</p><p>Dengan kapasitas yang dimilikinya, BRICS memiliki tujuan untuk membendung kekuatan ekonomi dan politik global yang dikuasai oleh Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat, melalui <em>World Bank</em> dan <em>International Monetary Fund </em>(IMF). Dalam pertemuan pertamanya, BRICS mengumumkan visinya di tahun 2009, dimana mereka menjunjung tinggi non-intervensi dan menawarkan sebuah mata uang baru untuk menjadi alternatif dari dolar AS. Banyak yang meyakini bahwa BRICS akan menjadi wadah bagi negara-negara selatan untuk dapat unjuk gigi dalam perhelatan internasional yang selalu didominasi oleh negara utara. Walaupun Rusia dan China merupakan negara utara, akan tetapi posisi mereka yang merupakan kontra AS dijadikan modal bagi BRICS untuk melawan hegemon AS di sistem internasional.</p><p>Sekarang BRICS negara anggotanya menjadi 10 setelah Indonesia pada tanggal 6 Januari 2025 secara resmi bergabung dengan BRICS sebagai anggota penuh yang diumumkan oleh Brazil selaku pemegang keketuaan BRICS tahun ini. Pada awalnya, Indonesia hanya dijadikan sebagai negara mitra BRICS, namun setelah pergantian presiden di Indonesia, Indonesia memutuskan untuk bergabung ke BRICS. Indonesia dipilih oleh BRICS karena melihat kapabilitas Indonesia secara sumber daya alam dan manusia. Terutama Indonesia yang akan mencapai bonus demografi di tahun 2045, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Lantas, apa yang mendasari Indonesia bergabung dengan BRICS?</p><h4><strong>Kenapa Indonesia Gabung BRICS?</strong></h4><p>Dalam pernyataannya di kantor Kementerian Luar Negeri RI, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menjelaskan bahwa ia mengetahui banyaknya pendapat kontra dan meragukan akan bergabungnya Indonesia ke dalam aliansi ekonomi ini. Ia melanjutkan bahwa melalui BRICS, Indonesia dapat memiliki daya tawar lebih tinggi dengan menjadi representasi negara selatan, yang sebagian besar merupakan negara berkembang. Hal ini juga dijelaskan melalui kanal Kementerian Luar Negeri RI bahwa partisipasi Indonesia di BRICS merupakan perwujudan dari amanat konstitusi untuk berperan aktif dalam menjaga tatanan global. Membaca berbagai pandangan tersebut membuat saya agak sedikit kebingungan dengan posisi Indonesia pada saat ini, karena banyak sekali pertimbangan yang seharusnya dipikirkan secara matang-matang. Oleh karena itu, untuk menelisik lebih lanjut saya mencoba untuk bertanya kepada salah satu diplomat RI dalam kesempatan saya berkunjung ke Kementerian Luar Negeri RI kemarin.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*s7yY_2Wo7hlczXqZO3Si0A.jpeg" /><figcaption>Saya menghadiri jamuan di Kementerian Luar Negeri RI (9/1/2025)</figcaption></figure><h4><strong>Pengalaman Saya Saat Mampir Sejenak ke Kementerian Luar Negeri RI</strong></h4><p>Pada hari Kamis kemarin (9/1/2024), saya diundang jamuan di Kementerian Luar Negeri RI dalam rangka pelepasan direktur saya saat magang di Dit. Keamanan Diplomasi, Pak Agung Sumirat. Dalam jamuan ini, terdapat salah satu agenda bernama <em>Masterclass</em>, dimana kami, staf magang Kemlu RI, diberikan kebebasan untuk bertanya kepada diplomat yang tersedia, yang pada kesempatan ini saya bertanya kepada Pak Imam (lupa nama panjangnya), selaku diplomat yang pernah ditempatkan sebagai Staf Khusus Kemlu untuk DPR Komisi I dan Kemenkumham. Salah satu isu yang dibahas adalah mengenai bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS.</p><p>Ketika itu, saya bertanya mengenai kejelasan Indonesia dalam menjaga status bebas-aktifnya dalam hubungan internasional, dimana sudah dituliskan di cover tulisannya M. Hatta, bahwa bebas-aktif itu tidak memihak ke mana pun. Hal ini tentu berkontradiksi dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS, yang mana membuat bingung negara-negara lain terkait posisi Indonesia dalam tatanan internasional. Hal ini dengan tegas dijawab oleh Pak diplomat dengan pertanyaan,</p><blockquote>“Dimana kami memihaknya (axis Rusia-China)?”</blockquote><p>Menurutnya, bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS tidak menjadikan Indonesia bergabung ke blok baru. Keadaan kontemporer berbeda dengan era Perang Dunia dan Perang Dingin dimana secara jelas posisi setiap negara terlihat. Namun, keadaan saat ini membuat posisi negara abstrak, tidak pasti negara A memihak ke blok A atau ke blok B. Hal ini tentunya memaksa kita, selaku aktor Hubungan Internasional, untuk lebih teliti dalam kebijakan luar negeri suatu negara. Hal-hal apa saja yang mereka hanya bekerja sama atau memihak, merupakan dua hal yang harus dibedakan. Oleh karena itu, diplomat dan analis dituntut untuk lebih teliti dalam memahami konteks Hubungan Internasional.</p><p>Saya melanjutkan menanggapi permasalahan lain dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS, baik secara eksternal maupun internal BRICS. Secara eksternal, AS mengancam tarif impor barang dari negara BRICS ke AS sebesar 100%. Secara internal, anggota BRICS sendiri memiliki permasalahan tersendiri. Seperti yang kita ketahui, Rusia, India, dan China memiliki sengketa wilayah yang masih berlangsung hingga saat ini. Dalam hal ini, respon Indonesia dalam isu ini menjadi pertanyaan saya. Pertanyaan saya dijawab oleh Pak Imam bahwa Indonesia akan dituntut lebih waspada dengan kondisi sekitarnya. Ia menyatakan bahwa mereka mengetahui bahwa Indonesia dalam kondisi yang lebih rentan. Namun, ia kembali menegaskan bahwa posisi Indonesia pada saat ini merupakan implementasi dari misi Indonesia semenjak zaman pasca kemerdekaan, dimana kerja sama melalui selatan-selatan yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno tetap menjadi pedoman kebijakan. Ia menyatakan bahwa dengan begitu maka posisi Indonesia yang kian terpojokkan dari tahun ke tahun dapat berubah.</p><p>Salah satu alasan yang membuat Indonesia memutuskan untuk bergabung ke BRICS adalah kondisi internasional yang selalu tidak menguntungkan Indonesia selaku negara berkembang dalam ekonomi internasional, dimana Indonesia selalu dipersulit dalam hal ekspor ke AS dan negara Barat sementara sebaliknya, barang-barang asal AS dan negara Barat dengan mudahnya masuk ke pasar Indonesia. Ketidakadilan ini lah yang membuat Indonesia jengah dan bergabung ke BRICS untuk mendapatkan posisi yang lebih terlihat dan dihormati secara internasional. Bergabung ke BRICS tidak menjadikan Indonesia memutus hubungan dengan AS begitu saja. Tentu saja, dengan bergabung ke BRICS, Indonesia harus melakukan <em>balancing</em> dengan mempertajam hubungan bilateral dengan AS. Indonesia jelas memiliki nilai jual untuk AS, yang mana AS tentunya tidak akan secara serta merta rela untuk melepaskan hubungan dengan Indonesia. Terutama, melihat kecenderungan kebijakan luar negeri Donald Trump yang lebih menyukai hubungan unilateral dan bilateral dibandingkan dengan multilateral menjadikan keputusan Indonesia bergabung ke BRICS sembari mempertajam hubungan bilateral dengan AS pada saat ini menjadi keputusan yang tepat.</p><p><strong>Pendapat kontra para ahli Hubungan Internasional</strong></p><p>Setelah pulang dari Kemlu, saya kembali membaca artikel-artikel di sosial media, mengenai pendapat kontra terhadap keputusan Indonesia bergabung ke BRICS. Gelombang pendapat kontra ramai dilontarkan di sosial media, salah satunya melalui dosen saya, Mas Raditya. Dalam X nya, ia tidak hanya membagikan opininya saja, ia juga me-<em>retweet </em>cuitan dari akun lain, yang bisa dibilang pandangannya dia juga. Jadi, terdapat beberapa alasan yang menurutnya bergabungnya Indonesia ke BRICS ini tidak cocok dengan kondisi saat ini. BRICS, yang beranggotakan negara yang masih cenderung mengandung konflik satu sama lain, dianggap hanya berusaha untuk menutupi kekurangan masing-masing negara. Brazil, mata uangnya kolaps 20% dibanding dolar AS dalam setahun terakhir. Rusia, masih berperang dengan Ukraina. China, masih memiliki sengketa wilayah LCS dan Taiwan, serta permasalahan ketenagakerjaan yang ada. India, mengalami lonjakan besar SDM membuat sulitnya lapangan kerja yang ada. Afrika Selatan, permasalahan Xenophobia. Indonesia pada kepemimpinan Prabowo dianggap sedang di tahapan carut-marutnya (let’s say PPN 12%, ketidakadilan hukum, kesulitan kontrol menteri). Dengan bergabung ke BRICS maka Indonesia dianggap sebagai negara yang ambil bagian dalam kelompok negara carut-marut.</p><p>Salah satu statement dari Direktur Asia Pasifik dan Afrika, Pak Abdulkadir Jailani, ia menyatakan:</p><blockquote>“Mempertahankan kesucian prinsip penghormatan terhadap kedaulatan nasional, BRICS tidak mendukung tindakan dan intervensi sepihak terhadap negara mana pun.”</blockquote><p>Menurut dosen saya, hal ini tentu sama hipokritnya dengan apa yang dilakukan oleh anggota BRICS itu sendiri, Rusia, yang hingga detik ini masih berperang dengan Ukraina. Apabila Indonesia benar-benar ingin mempertahankan kesucian prinsip tersebut maka Indonesia juga harus menekan BRICS yang salah satu anggotanya melanggar prinsip tersebut. Apabila Indonesia bergabung ke aliansi ini, justru negara lain menganggap Indonesia sama saja hipokritnya dengan negara-negara Barat.</p><p>Menanggapi alasan masuknya BRICS, melalui retweetnya, dosen saya beranggapan bahwa tujuan utamanya masuk ke kelompok ini bukan untuk menjadi aspirator negara0-negara selatan (<em>global south</em>), akan tetapi justru dijadikan motor penggerak bagi Presiden Prabowo Subianto untuk mendekati (baca: menjilat) kepada Putin dan Xi Jinping. Bagi saya, hal ini menjadi jalan rasional untuk Indonesia, mengingat duit kita sedang habis-habisnya, hingga ingin menaikkan PPN menjadi 12%. Mendatangkan investor melalui BRICS menjadi salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam mendatangkan investor. Namun, perlu diketahui juga bahwa Indonesia merupakan bagian dari ASEAN, di mana ASEAN terdapat prinsip non-intervensi. Memang bergabung ke dalam BRICS tidak melanggar hukum internasional yang ada, akan tetapi perlu digarisbawahi juga apabila Indonesia bergabung ke BRICS maka Indonesia akan dianggap membelakangi negara-negara tetangga, terutama pasca tidak jadinya pertemuan Presiden Prabowo dengan PM Malaysia, Anwar Ibrahim, dengan alasannya yang sempat tidak jelas. Pada zaman Soeharto, negara tetangga Indonesia yakni negara-negara Asia Tenggara menjadi lingkaran konsentris bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Dengan sikap acuh-tak-acuh seperti ini justru akan membuat kepercayaan mereka kepada Indonesia selaku kakak di ASEAN menurun. Hubungan Indonesia dan ASEAN harus dijaga dan tentunya berhati-hati apabila bergabung dengan BRICS. Maka dari itu, saya sepakat dengan pernyataan Pak Imam, bergabung ke BRICS, perkuat hubungan bilateral dengan AS, dan tentunya menjadikan ASEAN sebagai penggerak menuju kemajuan bersama.</p><p><strong>Perbandingan dengan posisi negara lainnya</strong></p><p>Selain membahas kebijakan Indonesia, kita juga perlu mengetahui bagaimana negara lain memposisikan diri dalam sistem internasional kontemporer. Negara-negara di ASEAN, yang sebagian besar merupakan negara berkembang, masih melakukan sikap <em>balancing</em> dan <em>bandwagoning</em>. Vietnam menurut saya yang secara jelas melakukan sikap tersebut, di mana posisi mereka saat ini masih bergantung dengan China. Namun, mereka menghadapi ancaman teritorial dengan China, yang mana perlu untuk melakukan balancing untuk mengurangi deterensi dengan China. Oleh karena itu, mereka mendekat dengan AS, mereka menjalin hubungan ekonomi spesial, dan yang terbaru, NVIDIA sepakat untuk membangun industri di Vietnam. Indonesia yang juga digadang-gadang menjadi pusat industri NVIDIA saja kalah dengan Vietnam. Sikap kepastian ini lah yang dibutuhkan Indonesia. Tidak hanya bergabung ke BRICS, tetapi memastikan suntikan dana investasi itu masuk ke negara kita.</p><p>Bersamaan dengan masuknya Indonesia ke dalam BRICS, Singapura dan Malaysia bekerja sama dalam <em>joint development</em> di Johor-Singapore Economic Zone. Hal ini juga dapat dilihat sebagai penurunan penawaran Indonesia dalam Selat Malaka. Padahal, sebelumya terdapat proyek ambisius Sijori (Singapura-Johor-Riau) yang digadag-gadang akan meningkatkan konektivitas melalui data lewat fiber optik, sektor energi, dan pembangunan infrastruktur fisik. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, keputusan Indonesia masuk ke dalam BRICS seakan-akan membelakangi negara-negara tetangga, dan salah satunya adalah tidak dimasukkannya Riau dalam kerja sama ini. Ini merupakan alarm nyata untuk Indonesia.</p><p>Menurut saya, Indonesia perlu untuk mencontoh India. India sudah lebih dahulu bergabung ke BRICS dibandingkan dengan Indonesia. Mereka tentunya juga mendapatkan ancaman serupa, hilangnya kepercayaan dari AS dan negara-negara Barat lainnya. Namun, India ternyata tetap dapat melakukan <em>balancing</em>, sembari menjalin hubungan spesial di BRICS, India juga masih melakukan beberapa kerja sama pertahanan dengan AS. Salah satu yang baru diratifikasi pada Agustus 2024 kemarin adalah <em>Security of Supply Arrangement</em> (SOSA) yang berfokus pada jual-beli suplai senjata dan peralatan keamanan lain diantara kedua negara. Permainan dua kaki seperti ini menjadi jawaban jitu dalam situasi internasional saat ini. Namun, penting juga bagi kita untuk terus teliti, utamanya dalam keuntungan yang kita dapat apabila menjalin kerja sama. Jangan sampai terulang kembali kejadian serupa yang dirasakan oleh Sri Lanka.</p><p><strong>Harapan kepada pemerintah Indonesia</strong></p><p>Bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS membawa potensi strategis yang besar, terutama dalam meningkatkan daya tawar dan pengaruhnya di panggung internasional. Namun, keputusan ini juga harus diimbangi dengan langkah-langkah strategis agar tidak merugikan hubungan regional dan global Indonesia. Berikut beberapa harapan saya kepada pemerintah Indonesia:</p><ol><li>Indonesia harus memastikan bahwa keanggotaannya di BRICS tidak mengurangi komitmennya pada prinsip non-intervensi dan solidaritas ASEAN. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan negara-negara tetangga yang sudah lama terikat dalam tali persahabatan yang kuat.</li><li>Indonesia dapat menggunakan BRICS untuk memperjuangkan isu-isu yang relevan bagi negara-negara berkembang, seperti akses teknologi, reformasi keuangan global, dan perubahan iklim.</li><li>Indonesia perlu memanfaatkan keanggotaannya di BRICS untuk menarik investasi dan meningkatkan perdagangan, sembari terus menjaga hubungan baik dengan mitra utama seperti AS dan Uni Eropa.</li><li>Agar dapat bersaing di BRICS, Indonesia perlu memperkuat sektor domestiknya, termasuk infrastruktur, pendidikan, dan teknologi. Hal ini akan memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengikut, tetapi juga pemain utama dalam forum internasional ini.</li><li>Pemerintah Indonesia dapat lebih teliti dan berhati-hati dalam meratifikasi perjanjian internasional, terutama yang menyangkut aliansi atau kerja sama strategis seperti BRICS. Ratifikasi ini harus melalui kajian mendalam, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dan mempertimbangkan kepentingan nasional jangka panjang, agar keputusan yang diambil tidak hanya memperkuat posisi Indonesia secara internasional tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi rakyat Indonesia</li></ol><p>Sekian tulisan saya yang seperti curhat. Saya yakin dengan pendekatan yang strategis dan konsisten, Indonesia dapat memastikan bahwa keputusannya bergabung ke BRICS membawa manfaat jangka panjang bagi kepentingan nasional dan kawasan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=14f6dbff8303" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[14 Tahun yang Sia-Sia?]]></title>
            <link>https://medium.com/@m.irhamarrasyid/14-tahun-yang-sia-sia-7b93bd6ffa29?source=rss-58bfe85e0d03------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7b93bd6ffa29</guid>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[critical-thinking]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Irham]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 15 May 2023 00:29:19 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-01-30T14:29:10.292Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*YY9GqdrukN_KjDi--u26MA.jpeg" /></figure><p>Obrolan pagi ini dengan kakek-kakek random di pagi hari di kereta Mutiara Selatan mengingatkanku kepada sosok kakung. Kakek-kakek random yang sedang menikmati masa pensiunnya bersama istri dan cucunya, secara tiba-tiba menghampiriku yang duduk sendirian di sebelah jendela yang memberikan view Gunung Liman yang dengan kokohnya berdiri di sebelah kananku.</p><p>Pada awalnya, kakek random itu hanya menanyakanku seputar pertanyaan biasa layaknya orang berkenalan di Indonesia. Namun, setelah melewati serangkaian pertanyaan general, kakek random tersebut memberikan pertanyaan kritis di pagi hari dengan mempertanyakan definisi dari kata sukses. Ekspresi canggung dan kebingungan pun kutunjukkan kepada kakek itu karena aku saja tidak tahu apa yang mau aku jawab dan tidak pernah terlintas olehku ada kakek random menghampiriku di pagi ini sambil menggendong cucunya. Aku yang baru saja menyelesaikan paper TPI hanya bisa menjawab seadanya saja sesuai dengan persepsiku sendiri. Namun, kakek tersebut justru menyalahkan hal tersebut dan mengatakan kalau seorang mahasiswa, apalagi FISIP, seharusnya sudah bisa menjelaskan sesuatu secara ilmiah yang mana ada rumusnya meskipun itu abstrak. Aku, yang hanya seorang mahasiswa dungu, hanya bisa meng-iya kan saja pernyataan tersebut.</p><p>Kakek random itu pun belum habis dengan pertanyaannya. Dia menghampiriku dengan pertanyaan lain. Kali ini ia bertanya kepadaku tentang agama. Lantas kujawab, “Saya islam, Pak.”. Beliau pun bertanya lagi, “Lalu, apakah sampean bisa baca Al-Fatihah?”. Tentunya aku yang sudah sekolah Islam sejak TK hingga SMA sudah lancar membaca Al-Qur’an, baik menggunakan nada rendah dan nada tinggi, apalagi untuk surat Al-Fatihah yang secara pengalaman sudah berkali-kali aku lafalkan, bisa membaca surat yang mudah untuk dihafalkan itu. Untuk pertanyaan tersebut, aku bisa menjawabnya dengan pasti, “Nggih, saya bisa Pak.”. Namun, lagi-lagi kakek random tersebut berhasil membisukan mulutku dengan memberikan statement kalau membaca Al-Fatihah saja, cucunya yang berumur 3 tahun pun bisa. Lalu aku bertanya maksud dari pertanyaan bapak tadi. Kakek random itu mengatakan kalau yang dia maksud itu adalah apakah aku yang sudah dicekoki ilmu Islam selama 14 tahun dapat mencerna Al-Fatihah secara baik. Apakah seorang Irham dapat menafsirkan Al-Fatihah secara ilmiah. Kakek random itu pun lagi-lagi berhasil membisukan mulutku lagi.</p><p>Dari percakapan tersebut, aku langsung merefleksikan diri tentang apa saja yang sudah kulakukan selama 14 tahun sekolah agama? apa saja yang kudapatkan? lagi-lagi rasa kecewa akan diri sendiri menghampiri diriku dengan berandai kalau masih ada kakungku di hidup ini. Kakung yang seorang agamis, seorang intelek, dan seorang hakim, pasti dengan nalar kritisnya dapat menyalurkan paradigma yang luar biasa kepadaku. Aku tidak akan membisu di pagi hari saat ditanya oleh kakek random di kereta Mutiara Selatan jalur Bandung-Surabaya Gubeng ini. Aku juga tidak akan merasa sia-sia belajar 14 tahun di sekolah agama. Aku juga tidak akan mempermalukan diri sendiri sendirian di kereta ini. Andai saja kakung masih hidup, aku ingin sekali berdiskusi dengannya, tentang apa pun. Namun, perasaan tersebut hanya akan menjadi penyesalan jika tidak diberikan solusi yang konkrit. Tentunya tanpa kakung, aku harus bisa survive di hidup ini layaknya perspektif realisme yang menyatakan dalam sistem internasional yang anarki, negara-negara saling bertentangan untuk dapat survive di dunia. Jadi, pada tulisan ini aku ingin mengatakan kalau aku rindu kakung yang telah meninggalkanku 15 tahun yang lalu dan aku tidak akan berhenti untuk belajar dan bernalar kritis.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7b93bd6ffa29" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>