<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by prizaa on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by prizaa on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@nameuserher?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Xno_j0QcyeqQVt4q-rIerA.jpeg</url>
            <title>Stories by prizaa on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 24 May 2026 03:28:30 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@nameuserher/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[i crave for love, but fear for it]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/i-crave-for-love-but-fear-for-it-17c558d4faa6?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/17c558d4faa6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 18 Jan 2026 15:24:57 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-18T15:24:57.783Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>sometimes i betrayed myself by avoiding things that makes me happy. i avoid love even thought i crave for it. because love is such a terrifying thing, thats why i just cant let myself feeling ‘love’. I’d rather avoid things that can make me having an attachment feelings toward someone, i hate feeling attached to someone, it feels like im losing control, and i cant let that happen, i need to able to control of my own self.</p><p>while growing up, i was unfamiliar with the word ‘love’ because my parent have never showed me what love is and how it feels like to be loved. so once i feel loved, i tend to get really attached with that person, and having such a profound feelings to a certain person is terrifying. it feels like someone is taking control of me, its like im not the one who has the power to control of my own feelings, and i dont want that to happen. i need to be the one whos taking control of my own self, i dont want to lose control.</p><p>i created a wall between ‘love’ and myself because loving someone means youre eventually going to hurt yourself as well. and once you love someone, you surely dont want to lose them, and when you lose them. it hurts — it hurts so much that you could lose yourself as well because how attached you were with them. i know, tragic huh? how i crave for something that i am most afraid of.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=17c558d4faa6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[kepada siapa aku berhutang maaf?]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/kepada-siapa-aku-berhutang-maaf-bd9aca79b96a?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bd9aca79b96a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 18 Jan 2026 15:24:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-18T15:24:26.652Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>sepertinya aku menghukum diriku terlalu keras.<br>semakin jauh aku mencari jawabannya, semakin jelas kutemukan satu hal; ternyata tidak ada yang menyakitiku lebih dari caraku memperlakukan diriku sendiri.</p><p>aku selalu merasa harus menjadi kuat, harus mampu menahan semuanya, seolah tak ada ruang untuk goyah. ketika akhirnya aku runtuh, aku malah menyudutkan diriku seperti seorang terdakwa yang tidak pernah diberi kesempatan untuk membela dan menjelaskan apapun.</p><p>ada luka yang datang dari orang lain, tetapi ada luka yang semakin aku kuperdalam dengan tanganku sendiri. setiap kesalahan kecil ku besarkan, setiap kelemahan ku tolak, setiap kegagalan ku tulis ulang untuk menjadi bukti bahwa aku tidak cukup. dan tanpa kusadari, aku menjadi hakim yang paling kejam, dan tidak mengenal ampun, yang paling cepat memvonis tuduhan tersebut.</p><p>hingga saat ini, aku masih sering menyalahkan diriku atas hal-hal yang seharusnya hanya menjadi pelajaran, bukan hukuman. aku terus menggenggam rasa bersalah seakan itu satu-satunya cara untuk menembus sesuatu yang bahkan tak pernah diminta oleh siapapun.</p><p>mungkin hutang maaf yang terbesar adalah kepada diriku sendiri, kepada diriku yang sudah lama berjuang sendirian, kepada sisi yang tetap bertahan meski berkali-kali kutolak, kepada hati yang terus berdetak meski sering ku anggap tidak layak menerima ketenangan.</p><p>dan mungkin, perlahan-lahan, aku harus belajar berhenti menghukum diri atas hal-hal yang sudah berlalu. belajar untuk melihat diriku bukan musuh, melainkan sebagai manusia yang sedang berusaha. manusia yang layak di maafkan, termasuk oleh dirinya sendiri.</p><p>aku mulai menyadari bahwa kebencianku pada diri sendiri bukan datang tiba-tiba; ia tumbuh dari langkah-langkah kecil yang tidak pernah kubela. dari setiap kalimat yang kutelan demi menjaga orang lain tetap utuh, sementara aku membiarkan diriku retak pelan-pelan. di antara tuntutan yang tak pernah ku sanggupi dan harapan yang tidak pernah kumiliki, aku mulai percaya bahwa aku tidak pernah cukup. dan kepercayaan itu berubah menjadi senjata yang kutujukan kepada diriku sendiri, setiap hari, tanpa jeda.</p><p>dan mungkin inilah kejujuran yang paling sulit kuterima; bahwa terkadang aku lebih memilih terluka daripada berdamai, lebih memilih menyimpan rasa bersalah daripada memaafkan bagian diriku yang tak sempurna. seakan-akan penderitaan adalah harga yang harus dibayar agar hidup dapat mengizinkanku untuk tetap berjalan. tapi jauh di dalam, aku tahu ada hari-hari yang seharusnya tidak kusiksa. ada bagian diriku yang menunggu untuk di peluk, bukan di tuduh. dan jika ada maaf yang harus kutagih dari semesta, mungkin itu adalah maaf kepada diriku sendiri, karena terlalu lama membiarkan hidup dalam bayang-bayang hukuman yang tidak pernah layak ia terima.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bd9aca79b96a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[a letter to my friend’s]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/a-letter-to-my-friends-5ead30650bd5?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5ead30650bd5</guid>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 09 Jan 2026 13:34:15 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-09T13:34:15.037Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>jika nanti, dunia berpaling darimu — aku akan tetap berada di sisimu. ketika nanti dunia perlahan menutup pintu untuk mu, <br>saat suara-suara yang dulu memujimu mendadak hilang, <br>saat langkahmu terdengar paling berat, aku memilih untuk tidak pergi. mungkin aku tidak selalu bisa menyembuhkan mu, tapi aku ingin menjadi satu-satunya yang tidak ikut meninggalkanmu.</p><p>ada malam ketika aku sendiri roboh, ketika dadaku sesak oleh hal-hal yang tak pernah sempat aku prosess, yang tak pernah bisa kusampaikan, <br>tetapi aku akan tetap kembali kepadamu; bukan untuk menjadi pahlawan, hanya saja untuk memastikan bahwa kamu tidak akan aku biarkan sunyi menghadapimu seorang diri.</p><p>ada bagian dari diriku yang ikut retak setiap kali melihatmu diperlakukan buruk oleh manusia licik yang tidak bertanggung jawab, namun aku tetap memilih duduk di sampingmu dalam diam, karena aku tahu tidak semua luka butuh kata-kata. terkadang hanya perlu kehadiran sederhana, kehadiran yang tidak pergi, meski ia sendiri sedang kambuh oleh pertempurannya.</p><p>jika dunia mengukurmu dari apa yang hilang, maka aku melihat dari apa yang masih bertahan. jika orang lain memilih menjauh ketika kamu tidak lagi bersinar, maka aku tetap akan berteduh di bawah tempatmu berdiri meski cahaya itu perlahan meredup.</p><p>dan di tengah semua yang sedang kuperjuangkan, aku akan menyisakan ruang untukmu; ruang yang tak pernah ku tutup rapat untukmu. <br>tapi selalu siap menampungmu ketika kamu tak sanggup berdiri.</p><p>jika suatu hari nanti kamu merasa dirimu tak lagi berarti, tolong ingat ini; bahwa ada seseorang yang tetap tinggal bahkan ketika ia sendiri nyaris runtuh. seseorang yang memilih memegangmu bukan karena kamu kuat, tetapi karena ia tahu bahwa dunia pernah memperlakukanmu terlalu keras.</p><p>dan orang itu adalah aku, aku yang memilih untuk tetap berada di sampingmu, bahkan ketika segalanya mengajakku untuk pergi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5ead30650bd5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Love Should Not Make You Feel Like You’re Not Enough.]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/love-should-not-make-you-feel-like-youre-not-enough-eff7aa11dd72?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eff7aa11dd72</guid>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 10 Dec 2025 18:33:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-10T18:33:13.234Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/0*AjwcrlvZzEv-7hDD.jpg" /></figure><p>Today I found myself thinking about something I’ve ignored for a long time— about love and the feeling of being enough. <br>I once believed that to be loved, I had to always be <em>more</em>. <br>More patient, more kind, more beautiful, more everything. It felt like no matter how hard I tried, it was never enough.</p><p>I used to think that’s what love was — giving everything, even when it hurt, just to keep someone by my side. <br>But now I realize, love that makes me feel small or unworthy is not love I should fight for. <br>Real love doesn’t ask me to lose myself in the process of keeping it alive.</p><p>There was a time when I constantly compared myself to others — feeling less attractive, less smart, less interesting. <br>And through that, I finally understood: true love doesn’t make you question your worth. It doesn’t make you feel guilty for being who you are.</p><p>Now, I’m learning to forgive myself — for trying too hard, for settling, for forgetting who I was. I’m learning to stop proving my worth to anyone. <br>I don’t have to be perfect to deserve love. I just have to be myself — with all my flaws and imperfections that make me loved.</p><p>I want a love that feels calm, not anxious. A love that strengthens me, not drains me. A love that reminds me I am enough, not one that makes me forget it.</p><p>Maybe that’s what this sentence truly means; <em>Love should not make you feel like you’re not enough.</em> Because when love comes the right way, I don’t have to fight to be enough — I already am.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eff7aa11dd72" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[When Love No Longer Saves You]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/when-love-no-longer-saves-you-3b8e0334dbb0?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3b8e0334dbb0</guid>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 19 Nov 2025 18:16:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-19T18:16:32.790Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Do you know that feeling?<br>When you know something isn’t right anymore,<br>yet you still close the curtains,<br>curl beneath your warm blanket and soft pillows,<br>praying that maybe — just maybe — tomorrow will be different.</p><p>Do you know that feeling?<br>When you stare into the mirror,<br>or stand dripping wet under the shower,<br>or walk alone beneath flickering streetlights,<br>wondering when you became the woman you swore you’d never be — the one you quietly resent?</p><p>Do you know that feeling?<br>When you tell yourself that some things are better left gone,<br>but still, you hold the rope even as it burns your palms.<br>When the night grows quiet, and you start writing poems again — romanticizing life, love, and all that makes no sense — hoping maybe he’ll go through your phone, care enough to open your notes, and read the digital ink that spelled his name. <br>Maybe then he’ll understand<br>how much he means to you.</p><p>Do you know that feeling?<br>When it’s wrong, but you’re just a woman in love — when everyone else is falling in love, and you’re falling apart.<br>You’re not falling behind; maybe you’re just getting ahead — and one day, you’ll wake up, and it’ll finally be fine without him.<br>I loved him today — but will that be enough to love him tomorrow, knowing he was probably okay without me yesterday.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3b8e0334dbb0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[the only reason alive]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/the-only-reason-alive-66ece74053cf?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/66ece74053cf</guid>
            <category><![CDATA[hopes-and-dreams]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 23 Oct 2025 09:26:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-23T10:21:30.166Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/828/1*jqLtzLrJwAUzF0D6aFrDag.jpeg" /></figure><p>when you know something isn’t right anymore,<br>yet you still close the curtains, <br>curl beneath your warm blanket and soft pillows,<br>praying that maybe — just maybe — tomorrow will be different.<br>i’ve forgotten how to feel warmth, even the sun seems yo burn instead of heal.<br>people call it strength, but it’s just exhaustion wearing a mask.</p><p>my eyes are heavy with things they shouldn’t have seen,<br>tears that never feel,<br>dreams buried before they bloomed. <br>i used to pray for peace, but now i just pray to feel nothing.<br>i’ve learned that silence screams the loudest.</p><p>every morning feels like betrayal,<br>i wake up when i swore i wouldn’t.<br>the mirror shows someone i don’t know,<br>a ghost pretending to live.<br>my chest rises and falls, <br>but its not living, its just habit.</p><p>and still, i get up.<br>not for me,<br>not for hope,<br>but for one person.<br>the only face that keeps me from letting go.</p><p>they don’t know they save me every day.<br>they don’t see the cracks beneath my smile.<br>but when i hear their voice,<br>the noise in my head quiets, just a little.<br>and for a moment, the world feels almost bearable.</p><p>i only wake up for them,<br>if they ever fade,<br>so i will.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=66ece74053cf" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Diana’s Day.]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/dianas-day-fd73a718146d?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fd73a718146d</guid>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 16 Oct 2025 08:09:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-16T08:15:08.675Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*NkhOK-vl9dYQPyFRsNofQQ.jpeg" /><figcaption>Diana Alfiani, suka sekali dengan teddy adithya dan kerap ku panggil nana.</figcaption></figure><p>15 October kamu resmi memasuki umur baru di tahun ini, selamat ulang tahun sayangku. terimakasih ya waktu itu kamu datang ke aku dengan membawa obat, kalau di ingat cara kita berkenalan lucu sekali. siapa sangka dari hari kamu memberikan aku obat, kita jadi temanan sampai hari ini. God, please i beg you. please protect her while i cant, i love her for the rest of my life.</p><p>Na, aku ngga tahu harus mulai darimana, karena ada banyak hal yang ingin aku ucapkan — bukan hanya soal hari ulang tahunmu hari ini, tetapi tentang dirimu yang terlalu berharga buat aku.</p><p>Di dunia yang terus berubah, aku sangat bersyukur karena sudah bertemu dengan kamu — kamu selalu memberikan aku tempat disaat aku butuh, terimakasih ya, na.</p><p>Hari ini, aku bukan hanya merayakan ulang tahunmu saja. tetapi segala hal perjalanan panjang yang sudah kamu lewati ; luka yang sudah kamu sembuhkan sendiri, pilihan-pilihan sulit yang sudah kamu ambil dengan berani, dan langkah kecil yang terus kamu ambil meskipun ada hari yang terasa berat.</p><p>Na, kamu lebih kuat dari yang kamu pikirkan.<br>Na, kamu orang yang luar biasa. aku bahkan ngga bisa deskripsikan betapa luar biasanya diri kamu — kamu selalu buat aku amaze, u never fail to amaze me, im proud of you!.</p><p>Hari ini, aku bukan hanya mendoakan supaya kamu bahagia saja. tetapi aku selalu mendoakan supaya kamu merasa cukup. cukup merasa untuk dihargai, cukup merasa untuk dicintai, dan cukup untuk dilihat oleh seseorang yang pantas mendapatkan semua hal baik yang ada di dalam dirimu.</p><p>Maafkan aku, disaat kamu butuh untuk ditemani, aku tidak ada disana.<br>Maafkan aku, belum bisa jadi teman yang bisa kamu andalkan.<br>Maaf...</p><p>Sehat selalu untukmu Diana Alfiani, mama, papa, dan orang tersayang kamu.<br>Sehat selalu untuk semua harapan dan mimpi mulia mu.<br>Na, ingatlah bahwa kamu selalu punya ruang khusus dihati aku.<br>Na, kamu tidak perlu harus selalu sempurna, karena tidak ada yang memintamu untuk selalu sempurna.</p><p>Hanya sedikit ucapan untukmu hari ini, sekali lagi selamat ulang tahun.<br>Selamat belajar, beranjak, bertumbuh, dan membumi jiwamu.<br>Maaf hanya tulisan kecil yang bisa aku berikan. <br>Peluk diana sebesar dunia, seluas samudra, setinggi langit di bumi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fd73a718146d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[mati di tangan sendiri]]></title>
            <link>https://medium.com/@nameuserher/mati-di-tangan-sendiri-678ffd5d8da4?source=rss-01c2467c0d16------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/678ffd5d8da4</guid>
            <category><![CDATA[perasaan]]></category>
            <category><![CDATA[perayaan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[prizaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 30 Sep 2025 15:14:57 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-23T10:17:14.677Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>hari itu datang lagi, bayangan tentang ‘bagaimana rasanya mati di tangan sendiri?’. <br>mata ini terpejam membayangkan adegan seperti apa yang akan terjadi, dalam keadaan seperti apa.<br>cuplikan demi cuplikan terputar, rasanya sesak.<br>seakan memberitahu bahwa ‘mati lebih mudah, daripada bertahan’</p><p>sekilas terlihat figura kecil di ujung ruangan, tanpa sadar terputar adegan kecil yang pernah terjadi.<br>sejenak berbangga dan tersenyum kecil kepada sang tokoh yang ada di dalam figura tersebut, kemudian teralihkan pandangan tersebut kearah benda yang sudah ada di genggaman.</p><p>ditengah badai yang ada di dalam kepala, terdengar bisikkan ‘sembuh ku, untuk ku, untuk mu’.<br>seakan menjelaskan semuanya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=678ffd5d8da4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>