<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Novan Adrian on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Novan Adrian on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@novan?source=rss-a8a409bef383------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Al-qeSCWP8dWRIN9Z4KRHQ.png</url>
            <title>Stories by Novan Adrian on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@novan?source=rss-a8a409bef383------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 16 May 2026 09:32:21 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@novan/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[From Burn to Earn: How One Woman Rebuilt Our Business Model and Saved The Company]]></title>
            <link>https://medium.com/novan/from-burn-to-earn-how-one-woman-rebuilt-our-business-model-and-saved-the-company-4909723728f6?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4909723728f6</guid>
            <category><![CDATA[startup]]></category>
            <category><![CDATA[investment]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 23 Jun 2025 03:41:15 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-06-23T03:41:15.384Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>In late 2016, we launched <a href="https://www.qasir.id">Qasir</a> with a mission to empower micro and small businesses across Indonesia. The journey was exciting – and like many startups in their early days, we ran fast, broke things, and yes… we burned cash.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*XP3tn1YLi8FVwwXCszIv9Q@2x.jpeg" /></figure><p>By 2018, we had successfully closed our second round of funding. That’s when Tya (the woman in the photo) joined us as our Finance Manager. With a solid background in finance and auditing from one of the Big Four, she brought with her a sharp eye for numbers – and a whole lot of questions.</p><p>Tya was shocked.</p><p>The company, like many others in the ecosystem at the time, was prioritizing growth over financial sustainability. Her professional instincts were screaming, “This isn’t healthy.”</p><p>She tried to warn us, but was told, “This is how everyone does it.” Burning cash was the norm. So, she chose to hold her thoughts and play along.</p><p>Fast forward four years later, we hit a wall. Our runway was dangerously thin. Every financial report looked like a red flag waving in the wind.</p><p>Tya didn’t say much.</p><p>But her face said it all: “I told you so.”</p><p>That was the turning point.</p><p>I still remember when Angga (my co-founder) and I turned to her and said:</p><p>“You take the lead. Let’s do it your way.”</p><p>And she did – with ruthless focus and clarity.</p><p>Tya’s core principle was really simple yet powerful:</p><p>👉 <strong>Cut costs as low as possible</strong></p><p>👉 <strong>Drive revenue as high as possible</strong></p><p>The moment she stepped up as COO, she rolled up her sleeves and rebuilt the business model from the ground up. She eliminated non-essential spending, scrutinized every line item, and realigned the team around real, revenue-generating outcomes. She made bold – sometimes unpopular – decisions that required discipline, resilience, and leadership.</p><p>In 9 months, Qasir transformed from a cash-burning machine into a financially sustainable business.</p><p>And in the first 6 consecutive months of 2025, we’ve consistently run a monthly surplus.</p><p><strong>The lesson?</strong></p><p>💡 Sustainable growth requires the courage to challenge the status quo.</p><p>💡 Sometimes the quietest voice in the room is the one that saves the company.</p><p>💡 And no – finance isn’t just about cutting costs. It’s about designing a business that earns more than it burns.</p><p><strong>To fellow founders:</strong> If you’re lucky enough to have someone like Tya on your team – <strong>listen</strong>.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4909723728f6" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/novan/from-burn-to-earn-how-one-woman-rebuilt-our-business-model-and-saved-the-company-4909723728f6">From Burn to Earn: How One Woman Rebuilt Our Business Model and Saved The Company</a> was originally published in <a href="https://medium.com/novan">Novan Adrian</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Layoff: Langkah Pahit Menuju Sehat]]></title>
            <link>https://medium.com/novan/layoff-langkah-pahit-menuju-sehat-8112b4cc981d?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8112b4cc981d</guid>
            <category><![CDATA[startup-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[layoffs]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 24 May 2025 02:45:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-24T02:45:58.638Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*12H1E1YpwN01u2Nx" /></figure><p>Sejak 2020, kita mulai melihat berita tentang startup yang melakukan layoff sebagai bagian dari langkah efisiensi. Langkah pahit yang seringkali menoreh luka terhadap mereka yang terdampak. Sosial media ramai dengan berbagai cerita sedih mereka yang terdampak ditengah gempuran ekonomi yang memburuk.</p><p>Mereka yang terdampak merasakan ketakutan yang sangat nyata. Kepikiran…</p><p>😢 Cicilan KPR yang belum lunas,<br>😢 Biaya sekolah anak yang harus dibayar,<br>😢 Tabungan yang makin menipis</p><p>Sementara pekerjaan pengganti belum tentu ada minggu depan. Mereka bukan cuma kehilangan pekerjaan. Mereka kehilangan rasa aman. Dalam sudut cerita ini, tentu saja pihak yang melakukan layoff seringkali menjadi pihak yang terlihat buruk dengan serangkaian stigma negatif yang disematkan pada startup tersebut.</p><p>Pelaksanaan layoff pun tidak ada yang pernah baik-baik saja, selalu menuai kritik, selalu ada yang teriak “harusnya bisa dilakukan dengan lebih baik!”. Sayangnya, belum ada yang menemukan cara yang lebih baik. Layoff yang dilakukan dengan cepat hanya dalam 1 hari atau hitungan jam dituding kejam karena terlalu mendadak. Layoff yang dilakukan dalam waktu beberapa hari setelah pengumuman dikomentari “Masa udah di PHK masih disuruh kerja? Manajemennya sehat?”.</p><p>Sejauh ini, belum ada cara layoff yang bisa nyenengin semua pihak. Yang ada cuma dua: <strong>cara yang bertanggung jawab, atau yang lari dari tanggung jawab.</strong> Gimana pun eksekusinya pasti akan menimbulkan luka. Bukan hanya buat yang terdampak layoff, buat manajemen juga. Di Qasir sendiri udah ngalamin 4 kali layoff dan setiap kali layoff pasti ada dari teman-teman yang terdampak maupun manajemen yang nangis. It was a very painful process.</p><p>Nggak banyak yang tahu, kecuali pihak yang melakukan layoff tentunya, kalau pihak manajemen yang melakukan layoff juga mengalami kepahitan yang sama. Saat melakukan layoff, tentunya setelah pertimbangan yang cukup panjang dan alot, manajemen harus berhadapan dengan resiko yang nggak kalah bikin deg-degan dan bikin susah tidur.</p><p>⛽️ Ketersediaan “bensin” alias funding yang bakal berkurang drastis karena harus bayar pesangon,</p><p>🤲 Masih harus menenangkan mereka yang kena layoff sekaligus mencarikan mereka pekerjaan di tempat lain, sementara di saat yang bersamaan juga harus menjaga mental orang-orang yang masih stay karena pastinya mereka juga jadi ikutan cemas khawatir bakal kena layoff juga nantinya,</p><p>😰 Operasional dan pengembangan produk berpotensi tidak stabil karena ada banyak talenta terbaik perusahaan yang harus dilepas,</p><p>🔥 Tim berpotensi burn out menghadapi skala bisnis yang nggak sebanding dengan jumlah orang yang tersisa</p><p>Artinya setelah menjalani layoff, startup akan menghadapi dua kemungkinan: berhasil survive dengan kondisi struggling atau berhenti di tengah karena kehabisan bensin. Keduanya sama-sama nggak enak. Berhasil survive masih tetap harus menghadapi situasi yang tidak kondusif:</p><p>😨 Kegelisahan tim yang masih stay sehingga berpotensi menurunkan produktivitas,</p><p>🔺 Tekanan dari investor untuk bisa sustain,</p><p>📉 Operasional yang tidak stabil karena manpower menyusut,</p><p>👎🏻 Dan kepercayaan user yang menurun karena pengembangan produk yang terganggu.</p><p>Sementara kalau harus berhenti di tengah jalan artinya investasi milyaran rupiah berpotensi menguap tanpa hasil yang sepadan. Tentunya ini berdampak ke reputasi para founders.</p><p>Namun kadang dibalik kejadian layoff tersebut kadang ada keberkahannya. Ini bagian yang jarang diceritakan.</p><p>💼 Ada yang dapat pekerjaan dengan benefit yang lebih baik,</p><p>🚀 Ada yang sukses bikin usaha sendiri dengan uang pesangon,</p><p>🎥 Ada yang berhasil jadi content creator yang dapat endorsement,</p><p>📈 Performa startup justru lebih sehat setelah restrukturisasi</p><p>Layoff mungkin terlihat negatif, tapi sebenarnya bisa jadi “menyehatkan” bagi semua pihak yang terlibat selama disikapi dengan positif. Karena layoff bukan akhir dari segalanya. Kadang, itu titik balik. Asal dilakukan dengan empati. Diterima dengan lapang. Dan dijadikan pelajaran buat tumbuh.</p><p>Semangat untuk teman-teman yang terdampak layoff dan sedang berjuang untuk mencari pekerjaan. Semangat juga buat teman-teman founders yang masih berjuang menyehatkan perusahaan pasca layoff. Semoga kita semua mendapatkan rejeki yang menjadi hak kita di saat yang tepat.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8112b4cc981d" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/novan/layoff-langkah-pahit-menuju-sehat-8112b4cc981d">Layoff: Langkah Pahit Menuju Sehat</a> was originally published in <a href="https://medium.com/novan">Novan Adrian</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[ APA YANG LO LAKUIN KALAU NYAWA STARTUP TINGGAL 3 BULAN?]]></title>
            <link>https://medium.com/novan/apa-yang-lo-lakuin-kalau-nyawa-startup-tinggal-3-bulan-453068b9126e?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/453068b9126e</guid>
            <category><![CDATA[startup]]></category>
            <category><![CDATA[funding]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 09 May 2025 01:22:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-09T01:22:23.187Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*HPjTVvdRyX1-DFXK2JUXNg.png" /></figure><p>Apa yang sempat dilalui Gibran di tahun 2018 lalu itu bagi sebagian orang adalah situasi yang bener-bener bikin mules. Udah nyampe Series A, runway udah mau finish, uang di rekening udah mau abis. Gimana kalau ini terjadi di startup kita? Kira-kira apa yang bisa kita lakukan buat “bertahan hidup”? 😁</p><p>Kalau kita mau “bertahan hidup” secara sehat, mungkin cara-cara berikut ini bisa jadi jalan keluar:</p><p>1️⃣ <strong>Efisiensi Ekstrim yang Terukur</strong></p><p>🔍 Bedah burn rate — hapus semua biaya non-core (event glamor, merch mahal) agar runway bertambah 3–6 bulan.</p><p>💰 Fokuskan dana pada R&amp;D dan tim sales yang langsung menghasilkan revenue.</p><p>2️⃣ <strong>Hybrid Remote-First Model</strong></p><p>🏠 Idealnya full-remote, tapi kalau belum siap, terapkan hybrid. Misalnya:</p><ul><li>Tim dev bisa remote</li><li>Tim ops &amp; sales tetap ngantor</li></ul><p>3️⃣ <strong>Asset-Light Office &amp; Capex Control</strong></p><p>🏢 Negosiasi ulang sewa kantor atau pindah ke coworking (hemat 20–30% burn)</p><p>☁️ Pilih <strong>mixed-cloud</strong>: on-premise untuk core, burst compute AWS/GCP saat peak (hemat sampai 70% opex cloud).</p><p>4️⃣ <strong>Phased Shutdown &amp; Fair Downsizing</strong></p><p>🚪 Tutup lini bisnis non-core dengan <strong>phased shutdown</strong> agar gangguan minimal.</p><p>🤝 Kalau PHK terpaksa, sediakan <strong>outplacement</strong> &amp; honor pro‑rata untuk jaga moral tim.</p><p>5️⃣ <strong>Bridge Funding via Convertible Instruments</strong></p><p>💡 Pitch <strong>convertible note / SAFE</strong> ke existing investor — dapat runway 6–9 bulan untuk deliver MVP &amp; traction.</p><p>Pada kondisi tersulit biasanya kita mendadak punya “super power” ⚡ yang bikin kita jadi super kreatif, tapi ada baiknya “super power” itu pakai akal sehat juga. Lalu gimana kalau cara-cara di atas ngga ada yang berhasil? Kalau kita udah coba lakukan yang terbaik, maka sisanya diserahkan ke Penguasa Alam Semesta aja 🙏✨</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=453068b9126e" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/novan/apa-yang-lo-lakuin-kalau-nyawa-startup-tinggal-3-bulan-453068b9126e">🚨 APA YANG LO LAKUIN KALAU NYAWA STARTUP TINGGAL 3 BULAN?</a> was originally published in <a href="https://medium.com/novan">Novan Adrian</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kenapa kita marah ke Gibran? Ini bukan cuma soal fraud]]></title>
            <link>https://medium.com/novan/kenapa-kita-marah-ke-gibran-ini-bukan-cuma-soal-fraud-fbd16a3d12eb?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fbd16a3d12eb</guid>
            <category><![CDATA[efishery]]></category>
            <category><![CDATA[startup]]></category>
            <category><![CDATA[fraud]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 27 Apr 2025 17:42:57 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-27T17:42:57.698Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/628/0*ugj1WhJ3-42jxOVq" /></figure><p>Setelah Gibran angkat bicara, kemarahan orang-orang terhadapnya bukan mereda, tapi malah makin menjadi-jadi. Saking marahnya publik terhadap dia, banyak orang yang kemudian memaki-maki dia dengan kata-kata kasar yang sampe bikin gue mikir, “mengapa kita segitu marahnya ke Gibran?”</p><p>“Dia itu melakukan fraud!”. Memang betul itu kesalahan besar. Tapi apa kesalahan tersebut itu merugikan kita, yang notabene nggak ada sangkut pautnya sama efishery, sampe perlu segitu marahnya hingga memaki? Think again.</p><p>Tindakan Gibran “bertahan hidup” dengan memalsukan angka, bukan cuma kegaduhan soal kriminalitas finansial. Kegaduhan ini membuat kepercayaan internal hancur dan PHK massal terhadap &gt; 90% karyawan eFishery nggak bisa dihindari. Kalo pun harus memaki, rasanya cuma karyawan eFishery dan stakeholder terkait yang berhak.</p><p>Lalu apa alasan yang tepat untuk kita marah? Kalau kita telaah lebih dalam, ada dua hal fatal yang bikin orang-orang meradang, khususnya startup founder di Indonesia.</p><p>1️⃣ Kepercayaan Investor Makin Runtuh</p><p>Bayangkan ini: tahun 2024, DealStreet menyebutkan total dana VC di SEA anjlok ke titik terendah empat tahun, padahal tahun sebelumnya sempat meroket. Bahkan di Q4 2024, volume transaksi VC di SEA mencapai rekor terendah enam tahun terakhir.</p><p>Di kuartal I‑2025 saja, jumlah deal turun 43% dan nilai investasi anjlok 46% dibanding periode sama tahun lalu.</p><p>Hasil riset juga menyebutkan kalo skandal eFishery jadi salah satu “catalyst” kehati‑hatian investor. Akibatnya, beberapa tahun ke depan bisa terjadi “kekeringan” investasi bagi startup.</p><p>2️⃣ Menodai Citra Founder Lain</p><p>Lalu muncul kalimat yang bikin perih saat dia ditanya soal praktik yang dia lakukan. Gibran bilang “They said that they massage the numbers, that they have some ‘growth hacking’ initiatives that they do and usually they do it prior to the fundraising”.</p><p>Artinya, dia ngeklaim bahwa memalsu angka itu hal biasa di kalangan founder lain — seolah ingin menorehkan noda ke semua startup Indonesia.</p><p>Padahal banyak dari kita berjuang dengan jujur: membangun produk, cari pelanggan, lalu pitching ke investor tanpa tipu-tipu. Sekali reputasi kita tercemar, susah banget balikin kepercayaan modal asing — otomatis pendanaan makin sempit, exit sulit, dan pertumbuhan ekosistem terhambat.<br> — -<br>Marahnya kita bukan cuma karena masalah fraud, tapi karena ada satu orang founder yang lagi main kotor sehingga membuat citra ekosistem startup Indonesia jadi jelek, lalu melemparkan kotoran tersebut ke founder-founder lain juga.</p><p>Semoga ini jadi wake‑up call: kita perbaiki transparansi, tata kelola, dan tunjukkan ke dunia bahwa integritas adalah nyawa ekosistem startup Indonesia.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fbd16a3d12eb" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/novan/kenapa-kita-marah-ke-gibran-ini-bukan-cuma-soal-fraud-fbd16a3d12eb">Kenapa kita marah ke Gibran? Ini bukan cuma soal fraud</a> was originally published in <a href="https://medium.com/novan">Novan Adrian</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[‘Bertahan Hidup’ di eFishery: Antara Egoisme dan Kepedulian Kolektif]]></title>
            <link>https://medium.com/novan/bertahan-hidup-di-efishery-antara-egoisme-dan-kepedulian-kolektif-830a0685a95c?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/830a0685a95c</guid>
            <category><![CDATA[startup]]></category>
            <category><![CDATA[efishery]]></category>
            <category><![CDATA[fraud]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 16 Apr 2025 09:10:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-16T09:10:42.726Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/731/1*0gHXo57TpMXX0cQpcKDf_g.png" /><figcaption>Foto dari <a href="https://katadata.co.id/digital/startup/67fee691e14f1/alasan-dan-awal-mula-gibran-poles-angka-kinerja-bisnis-efishery-bertahan-hidup">Katadata</a></figcaption></figure><p>Gibran eFishery akhirnya buka suara, dan langsung bikin heboh dengan kalimat “bertahan hidup” yang dipakenya sebagai alasan. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai upaya bertahan hidup pribadi yang terkesan egois banget — padahal selama ini Gibran sering nongol di podcast dan publikasi dengan cerita-cerita inspiratif soal kepemimpinan. Bertahan hidup dengan cara ngelakuin fraud itu sama aja dengan perilaku koruptor, nggak etis, dan jelas kebangetan.</p><p>Tapi, di sisi lain, ada perspektif yang lebih luas. Kita bisa lihat “bertahan hidup” di sini sebagai usaha untuk mempertahankan perusahaan. Di balik efishery, ada ribuan pegawai termasuk keluarganya yang nafkahnya tergantung di perusahaan ini, ada petani yang kelangsungan usahanya bergantung pada teknologi, pendanaan, dan sistem distribusi eFishery yang ujung-ujungnya mempengaruhi hidup konsumen dan usaha yang bergantung pada petani tersebut. Kalau perusahaan ini gagal, dampaknya domino ke banyak pihak — bukan cuma tentang satu individu yang mau “selamat” dari tekanan pasar, tapi tentang hidup ribuan orang yang udah bekerja keras dan berharap pada inovasi yang mereka yakini.</p><p>Kita sebagai orang awam, tentunya cuma mendapat gambaran dari apa yang disajikan media, nggak lengkap tapi cuma itu yang kita tahu. Belum tentu kita tahu keseluruhan faktanya. Memang mudah untuk mengumpat dan mencela apa yang Gibran atau pihak eFishery lakukan tapi bagi orang-orang yang pernah atau sedang berada dalam posisi founder, bagi gue pribadi yang sudah ngerasain beratnya ngebangun usaha, itu sama sekali nggak wise. Nggak etis mencibir founder lain yang sedang dalam kondisi buruk karena sebagai founder kita nggak tahu kapan giliran kita berada di posisi buruk. Jangan sampe ucapan buruk kita berbalik ke diri kita sendiri. Amit-amit.</p><p>Jadi mending kita mendoakan aja semoga semua yang terdampak — baik itu pegawai, keluarga mereka, dan para petani — bisa tetap bertahan dan mendapatkan solusi yang adil.</p><p><em>Ingat, hidup itu penuh kontradiksi. Kadang yang kelihatan salah bisa punya alasan di baliknya, dan pelajaran terbesar sering datang dari situ. Yuk, terus belajar dan mencari kebenaran, sambil saling mendoakan agar semua yang terjebak dalam badai ini bisa selamat dan bangkit lagi.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=830a0685a95c" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/novan/bertahan-hidup-di-efishery-antara-egoisme-dan-kepedulian-kolektif-830a0685a95c">‘Bertahan Hidup’ di eFishery: Antara Egoisme dan Kepedulian Kolektif</a> was originally published in <a href="https://medium.com/novan">Novan Adrian</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cloud Exit: Manuver beresiko demi hemat biaya]]></title>
            <link>https://medium.com/novan/cloud-exit-manuver-beresiko-demi-hemat-biaya-30cb3664bf83?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/30cb3664bf83</guid>
            <category><![CDATA[infrastructure]]></category>
            <category><![CDATA[servers]]></category>
            <category><![CDATA[migration]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 30 Jan 2025 03:32:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-30T03:32:00.994Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Jalanin aplikasi di cloud itu sebuah kenyamanan bagi startup: gampang, praktis, tinggal klik ini-itu langsung jalan. Tapi di balik kenyamanan itu, ada tagihan bulanan yang makin lama makin membengkak dan ini bikin gue dan tim di Qasir keringat dingin di akhir 2022 yang lalu. Ini adalah sebuah cerita menegangkan tentang pengalaman kami memindahkan server keluar dari cloud.</p><p>Di Oktober 2022, <strong>David Heinemeier Hansson (DHH)</strong>, menulis tentang <a href="https://world.hey.com/dhh/why-we-re-leaving-the-cloud-654b47e0">kenapa dia memilih untuk keluar dari cloud</a>. Bagi yang nggak tahu, DHH adalah seorang racer, creator of Ruby on Rails, co-owner &amp; CTO of 37signals (perusahaan dibalik aplikasi Basecamp &amp; HEY). Lalu ada juga tweet dari <strong>X Engineering</strong> yang bercerita <a href="https://x.com/XEng/status/1717754398410240018">gimana mereka bisa menurunkan biaya cloud hingga <strong>60% per bulan</strong></a> dengan mindahin beberapa layanan mereka ke on premise (pengelolaan mandiri server fisik di data center). Dua tulisan tersebut mendorong kami untuk mulai merencanakan keluar dari cloud untuk menghemat biaya infrastruktur. Kami mulai coba riset dan cari tahu sana-sini tentang gimana keluar dari cloud dan apa aja resikonya.</p><p>Sekitar pertengahan 2023, DHH kembali merilis tulisan <a href="https://world.hey.com/dhh/we-have-left-the-cloud-251760fb"><em>We Have Left The Cloud</em></a> yang bercerita kalau perusahaannya berhasil hemat <strong>$1,5 juta atau sekitar Rp24 M per tahun</strong>. Gokil, kan? Dari situ kami mulai mantap untuk mindahan layanan kami ke on premise juga.</p><p>Awalnya kami coba cari layanan baremetal server yang ada biar lebih simple. Tapi dari beberapa pilihan terbaik yang ada, sepertinya tidak memenuhi budget kami. Jadi kami memutuskan untuk membangun infrastruktur secara mandiri:</p><ol><li>Menyewa server rack</li><li>Langganan internet</li><li>Menyewa perangkat server</li></ol><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/600/1*1BBM7aPX3bJ67YQhzxjkBQ.jpeg" /></figure><p>Untuk itu, kami menggandeng <a href="https://bd-dc.com/"><strong>Bersama</strong> <strong>Digital Data Center (BDDC)</strong></a> sebagai mitra data center berkualitas premium yang juga menyediakan layanan koneksi internet, dan menyewa perangkat server dari penyedia terpercaya dengan harga yang terjangkau.</p><p>Hasilnya? Biaya infrastruktur kami turun sampai <strong>72%!</strong> Sebuah pencapaian yang membanggakan.. tapi dengan proses yang membagongkan 😅</p><h3>Proses Migrasi: Kayak Pindahan Rumah, Tapi Lebih Ribet</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*4BebuulxSyrXYeSgDbUP-Q.jpeg" /></figure><p>Migrasi server itu tentu aja nggak kayak pindah rumah yang cuma butuh kardus dan pick-up. Juga nggak kayak mindahin software yang kita download dari satu komputer ke komputer lain. Ini serius, menantang, dan ya… bikin pusing. Kami mulai dari layanan paling aman dengan biaya cloud cukup tinggi: <strong>kubernetes</strong>. Biar nggak terlalu berisiko, kubernetes dijalankan paralel di cloud dan on premise. Jadi kalau ada apa-apa, kubernetes di cloud masih bisa jadi backup.</p><p>Setelah itu, kita pindahin <strong>layanan pendukung dan monitoring</strong> — redis, airflow, grafana, promotheus, fluentbit, intinya semua yang bikin aplikasi bisa tetap “melek” dan bisa dipantegin di “rumah” yang baru. Tantangan mulai muncul pas giliran migrasi beberapa virtual machine yang digunakan untuk menjalankan non-container based application. Tantangannya adalah virtual machine di on premise harus tetap bisa fleksibel seperti di cloud, bisa auto-scale kalau kondisi beban lagi tinggi. Nah, sampe sini masih aman nih.</p><p>Lalu drama terjadi pas mindahin <strong>database</strong>. Ini kayak mindahin gajah yang beratnya berton-ton dari dari satu pulau ke pulau lain. Rencananya adalah database di on premise dijadikan <strong>slave database</strong> dulu dan disinkronisasikan datanya untuk nanti di promote jadi <strong>master</strong>. Masalahnya, proses setup slave database ini membutuhkan proses <strong>dump and restore</strong> dan saat melakukan proses tersebut data di master nggak boleh bergerak. Ini artinya apa? Layanan Qasir harus berhenti total selama proses tersebut berjalan**! 😱** Untuk melakukan dumping data butuh beberapa jam dan restore juga serupa. Jadi proses setup slave database ini butuh maintenance dengan down time terlama yang pernah kami lakukan. Meski sudah persiapan matang, tetap ada detik-detik horor saat nunggu proses dump dan restore nya selesai. Itu kalau selesai, kalau gagal? Ya ngulang lagi besoknya 😭 Dan proses migrasi data ini sempat gagal sekitar 5 kali sebelum akhirnya migrasi data selesai dilakukan. Meskipun proses ini dilakukan di dini hari, tetap aja ada user yang ngomel-ngomel karena memang ada beberapa user yang masih beroperasi sampe lewat tengah malam.</p><p>Walaupun proses terberatnya sudah dilewati, tetap aja kondisi menegangkan dimana database server di on premise ternyata punya performa yang lebih rendah dari cloud, sehingga kadang database menjadi lambat dan kadang membuat layanan Qasir tidak bisa diakses untuk beberapa saat. Ini tidak cuma terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali. Tentunya disertai dengan komplen keras dari pelanggan. Semua orang lelahnya luar biasa. Tim Qasir lelah melayani komplen, vendor lelah menstabilkan server, pelanggan juga lelah komplen terus. Bener-bener menguras tenaga hingga ke titik nol!</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tSR21ldTOZKAGuCdc2cTow.jpeg" /><figcaption>Migrasi server Qasir dibantu olehtim Trinix Systems</figcaption></figure><p>Puncaknya di akhir Desember 2023, kami akhirnya berhasil melakukan promote database di on premise menjadi database master, sementara database di cloud menjadi slave. Dan itulah momen dimana proses migrasi dianggap sudah selesai walaupun masih ada printilan yang tersisa.</p><p>Semua tahapan proses di atas butuh waktu 3 bulan untuk eksekusi karena memang harus ekstra hati-hati dengan observasi ketat. Tapi bukan berarti berjalan mulus. Tetap aja ada gangguan pada saat layanan sudah pindah ke on premise. Jadi setelah migrasi pun, masih ada proses tuning untuk menyamakan performance di on premise dengan di cloud. Kadangkala, beberapa layanan terpaksa “dikembalikan” ke cloud untuk sementara karena konfigurasi di on premise yang masih belum optimal. Proses tuning ini sendiri memakan waktu 3 bulan dengan berbagai drama gangguan yang membuat rating kami di Play Store merosot drastis.</p><h3>Apa yang Kami Pelajari dari Migrasi Ini?</h3><p>Setelah 3 bulan eksekusi, plus 3 bulan lagi buat tuning up, akhirnya migrasi ini selesai. Gue akui proses migrasinya nggak mulus dan banyak kesalahan yang terjadi karena keterbatasan biaya, tenaga, waktu, dan pengetahuan dari sisi kami. Berbagai hal tidak nyaman dihadapi oleh tim. Ada guncangan, ada stress, ada ketegangan, kami lelah selelah-lelahnya.</p><p>Tapi kabar baiknya, selain biaya infrastruktur turun drastis, biaya infrastruktur kami jadi lebih stabil, nggak ada lagi kenaikan atau lonjakan biaya yang bikin deg-degan tiap bulannya. Dan ternyata jalanin server di luar cloud ternyata enggak semenakutkan itu selama lo punya mitra yang tepat. Untungnya, kami punya mitra jagoan infra seperti <a href="https://www.trinix.systems/"><strong>Trinix Systems</strong></a>, yang sudah bantu kelola infrastruktur kami dengan keahlian mereka yang unik dalam menangani server bertahun-tahun sejak pertama kali Qasir diluncurkan. Kalau nggak ada mereka, mungkin kami sudah nyerah di tengah jalan.</p><p>Migrasi on premise sebenarnya nggak perlu dilakukan secara keseluruhan. Kita tetap bisa jalanin layanan kita secara hybrid, sebagian di cloud dan sebagian di on promise. Keuntungannya adalah kalau resources di on premise sudah menipis, maka kita bisa scale-out ke cloud sambil menunggu waktu yang tepat untuk pengadaan server tambahan.</p><h3>Worth It, Tapi Butuh Nyali</h3><p>Keputusan Qasir untuk keluar dari cloud memang berat dan penuh resiko, tapi hasilnya jelas worth it. Kita berhasil hemat biaya besar-besaran dan membuat biaya bulanan untuk infrastruktur jadi stabil. Satu hal yang perlu dicatat, migrasi ke on premise ini tidak cocok buat semua startup. Kalau skala lo masih kecil, traffic masih minim, atau biaya cloud lo belum tembus puluhan juta, maka cloud akan selalu jadi pilihan terbaik. Tapi kalau lo merasa tagihan cloud lo sudah lebih mirip angka telepon, mungkin ini waktu yang tepat untuk lo siapkan nyali, tenaga, dan kopi yang banyak, karena migrasi ke on premise akan jadi perjalanan menantang dan penuh aktivitas berbahaya 😄</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=30cb3664bf83" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/novan/cloud-exit-manuver-beresiko-demi-hemat-biaya-30cb3664bf83">Cloud Exit: Manuver beresiko demi hemat biaya</a> was originally published in <a href="https://medium.com/novan">Novan Adrian</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Setiap Baris Kode Itu Berarti]]></title>
            <link>https://novan.medium.com/setiap-baris-kode-itu-berarti-a4515d07b034?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a4515d07b034</guid>
            <category><![CDATA[software-bugs]]></category>
            <category><![CDATA[software-engineering]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 13 Jan 2025 03:32:02 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-13T03:32:02.142Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar istilah “kode itu puisi”? Mungkin terdengar romantis, tapi bagi programmer, itu kenyataan. Setiap baris kode yang kita tulis adalah sebuah keputusan — kadang cerdas, kadang… ya, mari kita bilang “eksperimental.” Namun, di balik layar text editor yang monoton itu, baris-baris kode tersebut punya dampak besar, bahkan sampai ke kehidupan orang lain. Ini cerita gue tentang memahami sebuah kalimat klise, “setiap baris kode itu berarti”</p><h3>Mahalnya Satu Baris Kode</h3><p>Setelah lulus kuliah, gue kerja di salah satu software house yang punya klien perusahaan Telco di Indonesia. Gue kebagian kerjaan untuk mengintegrasikan sistem billing mereka dengan payment gateway untuk pembelian pulsa lewat ATM. Setelah pengerjaan sekitar satu bulan, project tersebut di-launching dan semua terlihat aman.</p><p>Tiga hari kemudian, di suatu pagi gue dapat telepon dari bos gue dan pas gue angkat dia langsung ngamuk sengamuk-ngamuknya. Ada bug dari kode gue yang bikin transaksi pembelian pulsa tidak berhasil tapi pulsanya masuk. Dan bug ini terjadi karena ada satu baris kode yang salah diterjemahkan oleh payment gateway sehingga pembayaran dinyatakan gagal. Secara teknis gue nggak salah karena gue mengikuti technical document yang disepakati sementara dari sisi sana sepertinya melewatkan detil kecil tersebut. Tapi gara-gara detil kecil, gara-gara satu baris kode, perusahaan telco tersebut merugi 800 juta. Ya, satu baris kode itu melenyapkan uang 800 juta dari perusahaan telco tersebut. “GIMANA KITA BAYARNYA??”, jerit bos gue sebelum nutup telepon.</p><p>Sebagai seorang junior programmer pada saat itu, gue berasa ditampar keras dengan sebuah pengalaman berharga setara senior programmer. Sejak saat itu, gue sepenuhnya paham arti kalimat <strong>“setiap baris kode itu berarti”</strong>.</p><h3>Ketika Kode Menentukan Nasib Orang Lain</h3><p>14 tahun kemudian, di perusahaan gue sendiri — <a href="http://Qasir.id">Qasir.id</a>, mengalami hal yang kurang lebih sama. Ceritanya, ada bug kecil di aplikasi kami yang membuat satu transaksi terlihat seperti kesalahan input. Bug ini, lagi-lagi, berasal dari SATU baris kode. Kelihatannya remeh, kan? Tapi efeknya?</p><p>Pemilik usaha yang memakai aplikasi kami mengira salah satu pegawainya menggelapkan uang hasil penjualan karena karena jumlah uang yang diterima tidak cocok dengan nominal yang ada di aplikasi. Akibatnya pegawai tersebut pun dipecat. Ketika kami menyadari ada bug di sistem, semuanya terlambat. Meski akhirnya masalah diklarifikasi, tetap saja tidak bisa memperbaiki keadaan. Hari itu kami semua di <a href="http://Qasir.id">Qasir.id</a> belajar: <strong>kode yang kita tulis bisa mempengaruhi hidup orang lain.</strong></p><p>Pada kondisi yang lebih ekstrim, <a href="https://skift.com/2024/01/29/boeings-737-max-problems-skift-timeline/">salah satu bencana besar dalam dunia penerbangan yang terjadi sekitar 2018–2019 yang menewaskan total 346 orang</a> membawa fakta bahwa kecelakaan terjadi karena ada <a href="https://www.theregister.com/2020/01/17/boeing_737_flaw/">bug pada software yang dijalankan di pesawat Boeing 737 Max</a>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/884/1*PeETH8MwcJFQscGGnOSLrQ.jpeg" /></figure><p>Mungkin kita sebagai programmer merasa kerja di belakang layar, tapi dampaknya? Nyata banget. Entah itu membuat bisnis lancar, orang-orang bahagia, atau… yah, membuat mereka kehilangan pekerjaan bahkan nyawa. Jadi, next time lo menulis kode, ingatlah: baris kode itu bisa jadi sesuatu yang berarti, atau malah bisa jadi tragedi.</p><p>Tulislah kode lo dengan hati(-hati) karena di ujung sana ada orang yang mungkin nggak tahu nama kita tapi hidupnya bakal berubah karena satu baris kode yang kita tulis.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a4515d07b034" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Rahasia Sukses: Antara Kerja Keras dan Keberuntungan]]></title>
            <link>https://novan.medium.com/rahasia-sukses-antara-kerja-keras-dan-keberuntungan-701f97ed49be?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/701f97ed49be</guid>
            <category><![CDATA[success-tips]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[success]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 07 Jan 2025 03:54:14 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-07T03:54:14.549Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*0f-hZvaDOjA0zwBAJWUAAg.jpeg" /><figcaption>Taken from unsplash.com</figcaption></figure><p>Kita semua tahu cerita klasik tentang sukses: kerja keras, jatuh bangun, terus semangat, dan voilà, mimpi jadi nyata. Tapi ternyata, sukses itu nggak cuma soal keringat yang bercucuran dan malam tanpa tidur. Ada satu elemen yang sering kita lupa: <em>luck</em> alias keberuntungan.</p><p>Nah, di salah satu <a href="https://youtu.be/3LopI4YeC4I?si=Gh4j2Y1J_sfyUMUO">video dari Veritasium</a> yang insightful banget (dan lumayan mind-blowing), konsep ini dikupas tuntas. Ternyata, sukses itu ibarat resep rahasia: kerja keras dan keberuntungan adalah bahan utamanya. Tapi tunggu dulu, ini bukan keberuntungan biasa yang datang tiba-tiba seperti menang undian mobil. Keberuntungan ini bisa kita bentuk, dan kerja keras juga ada cara mainnya. Gimana tuh?</p><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fembed%2F3LopI4YeC4I%3Ffeature%3Doembed&amp;display_name=YouTube&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3D3LopI4YeC4I&amp;image=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2F3LopI4YeC4I%2Fhqdefault.jpg&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=youtube" width="854" height="480" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/c8ef486f31451a4dd07070ebbca3e8a9/href">https://medium.com/media/c8ef486f31451a4dd07070ebbca3e8a9/href</a></iframe><h3>Kerja Keras: Antara Optimisme dan Keikhlasan</h3><p>Bayangkan kamu lagi mendayung perahu di sungai. Kamu yakin banget kalau sungai ini bakal mengarah ke air terjun yang cantik. Jadi, kamu dayung terus, pantang menyerah, meski tangan pegal luar biasa. Tapi gimana kalau ternyata sungainya malah buntu? Atau air terjunnya cuma mitos?</p><p>Nah, inilah pelajaran pertama: kerja keras itu harus dibarengi <em>keyakinan penuh</em>. Kalau kamu nggak yakin sama apa yang dikerjakan, gimana energi kamu bisa tersalurkan sepenuhnya? Tapi, <em>spoiler alert</em>, meski kamu yakin banget, nggak semua rencana berjalan sesuai harapan. Maka, pelajaran kedua adalah <em>keikhlasan</em>. Terima kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi, dan siap beradaptasi. Jangan lupa, perjalanan adalah bagian dari cerita suksesmu.</p><h3>Keberuntungan: Bukan Soal “Hoki-Hokian”</h3><p>“Keberuntungan itu nggak bisa dibuat,” mungkin kamu mikir begitu. Tapi tunggu dulu. Dalam video ini, ada satu konsep menarik: kamu bisa meningkatkan keberuntunganmu… dengan cara membantu orang lain meningkatkan keberuntungan mereka.</p><p>Ibaratnya kayak lampu yang memancarkan cahaya. Kalau kamu bantu orang lain menemukan peluang, memberi inspirasi, atau bahkan sekadar mendukung ide mereka, dunia seperti membalas dengan membuka peluang serupa untukmu. Jadi, keberuntungan itu bukan soal pasif menunggu, tapi aktif menciptakan jaringan kebaikan.</p><p>Barulah di sini kita jadi sadar, ternyata sedekah sebesar itu dampaknya buat kesuksesan kita!</p><h3>Kolaborasi Kerja Keras dan Keberuntungan</h3><p>Pernah nggak, kamu merasa semua kerja kerasmu seolah mentok? Mungkin ini saatnya mengevaluasi: sudahkah kamu yakin penuh pada tujuanmu? Sudahkah kamu siap menerima kegagalan sebagai bagian dari proses? Dan yang paling penting, sudahkah kamu membantu orang lain dalam perjalanan mereka?</p><p>Karena, seperti yang dibilang di video itu, hidup ini nggak cuma tentang kita. Kadang, dengan membantu orang lain sukses, kita tanpa sadar membuka pintu keberuntungan untuk diri sendiri. Itu yang bikin hidup ini menarik, penuh kejutan, dan layak diperjuangkan.</p><p>Jadi, kalau ada satu hal yang bisa kamu ambil dari video Veritasium ini, itu adalah: sukses adalah kombinasi kerja keras yang terarah dan keberuntungan yang kita ciptakan lewat memberi dampak positif bagi orang lain. Kalau kamu bisa menyeimbangkan keduanya, siapa tahu kamu bakal jadi cerita sukses selanjutnya. Siap mendayung perahu keberuntunganmu?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=701f97ed49be" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[2024: Rollercoaster Qasir dan Berkah di Balik Tantangan]]></title>
            <link>https://novan.medium.com/2024-rollercoaster-qasir-dan-berkah-di-balik-tantangan-0e3c6212eced?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0e3c6212eced</guid>
            <category><![CDATA[startup-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[startup]]></category>
            <category><![CDATA[collaboration]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 02 Jan 2025 07:01:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-02T07:01:38.846Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2024 bagi Qasir bisa dibilang seperti naik <em>rollercoaster</em>. Dimulai dengan tantangan berat di penghujung 2023, diakhiri dengan pencapaian yang membanggakan. Mari saya ceritakan.</p><p>Akhir 2023, kami memutuskan untuk melakukan migrasi server dengan objektif yang sudah nggak bisa ditawar lagi: menekan biaya operasional. Selain prosesnya yang memakan waktu lebih dari tiga bulan, manuver ini menyebabkan turbulance yang cukup parah pada layanan Qasir. Bisa dibilang, ini adalah titik terendah kami. Bayangkan, pengguna ramai-ramai melayangkan protes, rating aplikasi terjun bebas, dan seluruh tim — bahkan vendor kami — bekerja ekstra keras untuk menstabilkan situasi. Lelah? Pasti. Tapi di balik awan gelap tersebut, ternyata ada cahaya terang. Kami berhasil mencatatkan <em>annual revenue</em> tertinggi sepanjang sejarah Qasir dan penurunan <em>operational cost</em> yang signifikan!</p><p>Memasuki tahun 2024, turbulence belum berhenti karena masih harus beradaptasi dengan lingkungan server yang baru dengan segala keterbatasan yang ada. Hal ini memaksa kami untuk mengalokasikan seluruh fokus tim teknis ke perbaikan sistem dan menghentikan pengembangan fitur. Di akhir kuartal pertama 2024, akhirnya kami berhasil merilis perbaikan yang menstabilkan aplikasi di server baru. Tapi, perjuangan belum berhenti di situ. Kami masih punya ‘hutang’ teknis dari dua tahun sebelumnya yang mendesak untuk diselesaikan. Berkat kerja keras dan dedikasi tim, di akhir kuartal kedua 2024, ‘hutang’ tersebut berhasil dilunasi, membuat layanan Qasir jauh lebih nyaman digunakan, bahkan saat jam sibuk sekalipun.</p><p>Dibalik hiruk pikuk permasalahan yang sedang kami hadapi, kami justru mendapatkan kejutan yang tak terduga. Di awal 2024, Qasir terpilih sebagai satu-satunya <em>startup</em> yang lolos seleksi inkubasi TINC Batch 8! Ini adalah pencapaian yang sangat berarti bagi kami, setelah beberapa kali mencoba mengikuti program serupa. Tak hanya itu, di akhir kuartal kedua 2024, kami juga <a href="https://www.bankbsi.co.id/news-update/berita/bsi-gandeng-qasirid-dorong-digitalisasi-24-ribu-umkm">menjalin kemitraan strategis dengan BSI</a> untuk mendorong digitalisasi UMKM. Puncaknya, di kuartal keempat 2024, Qasir berhasil masuk 10 besar program Axel Arc dari BNI Venture, <a href="https://www.instagram.com/bniventures/p/DDEXgNLSVF6/?img_index=1">membuka akses ke ekosistem luas yang dimiliki BNI</a>. Kolaborasi dengan dua bank besar ini tentu saja sangat menggembirakan, karena sejalan dengan visi kami untuk berkolaborasi dengan ekosistem perbankan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*MDZ5MgJ1NaxYNpJh" /><figcaption>Signing Ceremony antara Qasir dengan BNI Agen</figcaption></figure><p>Tahun 2024 mengajarkan kami bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Seperti yang tertulis dalam surat Al-Insyirah ayat 5 &amp; 6. Semoga di tahun 2025 akan ada lebih banyak hal baik yang menyertai kita semua, terutama pertumbuhan ekonomi yang lebih baik agar UMKM dapat bangkit kembali.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0e3c6212eced" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Menemukan Partner Ideal untuk Startup Kita]]></title>
            <link>https://novan.medium.com/menemukan-partner-ideal-untuk-startup-kita-1ac9d96d93b3?source=rss-a8a409bef383------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1ac9d96d93b3</guid>
            <category><![CDATA[startup]]></category>
            <category><![CDATA[founder-advice]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 01 Jan 2025 23:58:10 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-01T23:58:10.819Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Tepat 10 tahun lalu, saya pertama kali bertemu dengan partner saya, Angga. Lalu sebuah hal impulsif mengubah arah hidup saya. Setelah dua kali bertemu dengan Angga, seorang yang saat itu nyaris asing, sebuah ide gila melintas: ‘Gimana kalau kita bikin bisnis bareng?’ Padahal, bisnis apa pun belum terbayang. Tapi ada <em>feeling</em> kuat, obrolan kami ‘klik’, dan keyakinan bahwa kami bisa bikin sesuatu bareng. Setahun kemudian, lahirlah cikal bakal Qasir.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Aq8jwYszEh-Z7uAswL5xrw.jpeg" /></figure><p>Perjalanan Qasir membuka mata kami tentang satu hal krusial: memilih <em>co-founder</em> bukan sekadar formalitas, tapi fondasi keberlangsungan <em>startup</em>. Kami menyaksikan sendiri bagaimana beberapa <em>startup</em> kandas karena konflik internal antar <em>founder</em>. Ada yang menelantarkan startupnya gara-gara sidejob, ada yang menggelapkan uang, ada yang omongannya nggak sejalan sama tindakan, sehingga ujung-ujungnya berantem dan bubar.</p><p>Dari pengalaman pahit mereka — dan tentu saja, pengalaman kami sendiri — ada beberapa pelajaran berharga tentang kriteria <em>co-founder</em> ideal. Pilihlah co-founder yang..</p><p><strong>⭕️ Dari luar lingkungan pertemanan</strong></p><p>Mengapa mencari <em>co-founder</em> di luar lingkaran pertemanan? Jawabannya sederhana: objektivitas. Dalam pertemanan, seringkali ada ‘sungkan’ yang menghambat komunikasi jujur dan pengambilan keputusan rasional. Belum lagi potensi ‘baper’ jika urusan profesional bercampur dengan sentimen personal di masa lalu. Mencari di luar zona nyaman membuka peluang kolaborasi yang lebih profesional dan fokus pada visi bersama.</p><p><strong>☯️ Saling Mengimbangi Karakter dan Emosi</strong></p><p>Orang yang impulsif, sebaiknya didampingi partner yang lebih tenang dan analitis. Atau orang yang punya mimpi besar sebaiknya didampingi partner yang lebih “menapak ke bumi”. Keserasian karakter dan emosi ini seringkali bikin bounding lebih kuat selama keduanya sadar masing-masing pihak punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, nggak ngerasa lebih baik dari yang lain.</p><p><strong>🛠 Bisa Melengkapi Kebutuhan Skill</strong></p><p>Tak ada manusia sempurna. Jika kita merasa ada celah dalam <em>skill</em> yang dibutuhkan <em>startup</em>, itulah area yang harus diisi oleh <em>partner</em>. Latar belakang saya di bidang teknis kurang begitu akrab dengan angka dan finansial. Beruntung, Angga hadir dengan keahlian di bidang keuangan, perbankan, penjualan, dan pemasaran. Kami saling melengkapi, seperti kepingan <em>puzzle</em> yang pas. Saya ngerti cara bikin produknya, sementara Angga lebih ngerti gimana cara ngejual dan memasarkannya.</p><p><strong>👁 Punya Visi Jangka Panjang yang Selaras</strong></p><p>Kesamaan visi bukan sekadar impian muluk, tapi kompas yang menuntun arah <em>startup</em>. Visi yang sama memastikan semua <em>founder</em> berjalan ke tujuan yang sama, bahkan ketika jalan terjal menghadang. Saya pernah melihat <em>startup</em> bubar karena <em>founder</em>-nya punya prioritas berbeda: satu ingin menciptakan produk hebat, satu lagi hanya fokus pada keuntungan materi. Visi yang selaras adalah perekat yang kuat.</p><p><strong>⚡️ Punya Integritas dan Komitmen Kerja Tinggi</strong></p><p>Integritas dan komitmen adalah fondasi kepercayaan. Ini bukan sekadar ‘omong doang’, tapi keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Willing to walk the talk. Bahkan ketika partner memiliki keterbatasan skill, integritas dan komitmen akan mendorongnya untuk terus belajar dan berkembang. Bagi founder sebuah startup, komitmen ini seringkali berarti pengorbanan personal — waktu, tenaga, bahkan materi — demi keberlangsungan perusahaan.</p><p>Keputusan impulsif untuk membangun Qasir bersama Angga adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. Semoga kisah ini menginspirasi kalian yang sedang mencari <em>partner</em> ideal. Percayalah, <em>co-founder</em> yang tepat adalah investasi terbaik untuk masa depan <em>startup</em> kalian.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*dueHfHk34iWK45OtSQUvvA.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1ac9d96d93b3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>