<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Ode Ardika on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Ode Ardika on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@odeardika?source=rss-fc4bc3fd83a9------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*_a1uXFRSYxP3ouRfsihB1g.png</url>
            <title>Stories by Ode Ardika on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@odeardika?source=rss-fc4bc3fd83a9------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 13:30:18 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@odeardika/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Ikut-ikutan yang Nggak Selalu Berakhir Buruk]]></title>
            <link>https://medium.com/@odeardika/ikut-ikutan-yang-nggak-selalu-berakhir-buruk-b0be29e1bbdf?source=rss-fc4bc3fd83a9------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b0be29e1bbdf</guid>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[programing]]></category>
            <category><![CDATA[careers]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[fomo]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ode Ardika]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 05 May 2026 09:53:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-05T10:13:10.985Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pernah nggak sih kalian ngerasa pengen ikut melakukan sesuatu yang orang-orang di sekitar kalian lakukan? Entah itu teman dekat, atau orang yang sering muncul di timeline. Aku sering ngerasain itu. Dan beberapa kali, kegiatannya terasa cukup menarik sampai aku akhirnya ikut terjun juga.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*USzrJevnn9KysKN-ML2onA.png" /></figure><p>Waktu itu aku lagi nongki sama beberapa teman yang juga baru lulus barengan. Di tengah-tengah ngobrol, salah satu temanku tiba-tiba mamerin website portofolio yang baru dia garap. Habis itu dia cerita soal plannya, gimana dia mau memaksimalkan masa pengangguran dengan berprogress tiap hari. Belajar, ngoding, apply kerja, semuanya jalan bersamaan.</p><p>Aku dengerin dengan sedikit lebih serius, karena aku juga nganggur pas itu. 😁</p><p>Sambil cerita, dia buka profil GitHub-nya dan nunjukin kotak-kotak kecil yang mulai berubah hijau. Buat yang belum tahu, GitHub itu tempat programmer menyimpan kode, dan kotak hijau itu muncul setiap kita aktif ngoding hari itu. Makin konsisten, makin hijau profilnya. Kayak streak di Duolingo, tapi yang ini bisa dilihat semua orang.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*8DwuuWsMgf21Ti0wbkaj5Q.png" /><figcaption>Btw, Ini contoh Github streak yang ku maksud guys</figcaption></figure><p>Besoknya, karena kebetulan lagi nggak ada kerjaan, yah namanya juga nganggur, memang nggak ada kerjaan lah wkwk.</p><p>Jadinya aku nyoba ngelakuin apa yang temenku lakuin. Aku mulai dengan mapping kondisiku saat itu, project-project lama yang belum selesai, ide project yang sempat kepikiran, sama portofolio website yang udah lama mau ku remake. Dari situ aku mulai milih mau ngerjain apa duluan.</p><p>Setelah nentuin project apa yang mau dikerjain, baru aku mulai ngoding sambil belajar hal-hal yang diperluin buat project itu. Di waktu senggang atau habis sesi belajar, baru aku buka-buka lowongan. Kebetulan loker di bidangku tuh nyari satu orang, tapi requirementnya udah kayak nyari satu departemen IT. 😭 Jadi tiap nemu loker yang menarik, aku suka ngelist skill apa aja yang mereka butuhin, buat tahu kira-kira skill apa yang worth dipelajari berikutnya. Biar belajarnya lebih terarah dan nggak random.</p><p>Setelah beberapa bulan ngelakuin itu, portofolioku lumayan solid. Sudah beberapa kali interview juga. Dan akhirnya aku dapat kerja, yang menurutku cukup bagus untuk ukuran fresh graduate, kerja remote di perusahaan Malaysia.</p><p>Kalau dipikir-pikir, FOMO ngikutin temenku ada untungnya juga ternyata. Aku jadi punya portofolio buat apply, dan bahkan sampai dapat kerjaannya juga.</p><p>Tapi nggak semua FOMO berakhir sebaik itu.</p><p>Waktu itu aku sering denger-denger soal Bitcoin. Katanya harganya bakal terus naik, karena jumlahnya memang sudah dibatasi dan nggak akan bertambah lagi. Kedengarannya masuk akal. Jadi aku mulai nyisihin sedikit uang tiap bulan buat nabung Bitcoin, pakai metode averaging, beli rutin biar harga rata-ratanya terjaga.</p><p>Yang nggak aku perhitungkan, Bitcoin waktu itu sudah di harga tertingginya. Situasi global juga lagi nggak stabil, berbagai isu yang mengarah ke perang dunia ketiga sempat bikin semua orang panik. Harga makin nggak stabil, dan puncaknya di bulan Februari aku putuskan untuk cutloss.</p><p>Average-ku ada di sekitar $120k, dan melihat situasi global yang nggak kunjung membaik waktu itu, feelingku bilang harga ini bakal terus turun. Jadi aku putusin buat cutloss dengan minus 10%. Sedih sih, tapi ngeliat harganya sekarang yang sekitar $70k, kayaknya itu bukan keputusan yang buruk juga wkwk. Kalau masih ku simpen, bisa minus 42% sekarang. 😭</p><p>Mungkin bukan soal FOMO-nya yang salah. Tapi soal seberapa siap aku waktu ikut terjun ke dalamnya, seberapa matang risetnya, seberapa jernih kepalanya. Atau ya, bisa jadi memang cuma hoki doang, kebetulan ikut-ikutan ngoding malah dapet kerja beneran, ikut-ikutan invest malah rugi wkwk.</p><p>Btw, aku mulai iseng nulis di Medium ini juga karena FOMO. 😇</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b0be29e1bbdf" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Saya Menyimpan Segalanya, Tapi Tidak Pernah Menggunakannya]]></title>
            <link>https://medium.com/@odeardika/saya-menyimpan-segalanya-tapi-tidak-pernah-menggunakannya-3878ff5f2ad1?source=rss-fc4bc3fd83a9------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3878ff5f2ad1</guid>
            <category><![CDATA[productivity]]></category>
            <category><![CDATA[books]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[personal-development]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ode Ardika]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 07:48:10 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-29T07:48:10.742Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya ratusan postingan tersimpan di Instagram. Ada folder “ide desain”, “ide project”, “tonton nanti”, dan beberapa folder lain yang bahkan saya lupa pernah buat. Di YouTube, playlist “Watch Later” saya sudah tidak bisa saya hitung. TikTok? Sama saja. Setiap kali menemukan sesuatu yang menarik, refleks saya selalu sama: simpan dulu, nanti lihat lagi. Dengan keyakinan penuh bahwa suatu saat hal itu akan berguna. Tapi “suatu saat” itu tidak pernah datang. Semua tersimpan rapi, terorganisir bahkan, tapi tidak pernah disentuh lagi. Persis seperti dulu waktu saya main Minecraft. Setiap kali menjelajah jauh membuka wilayah baru, saya selalu membawa pulang banyak barang dari perjalanan itu. Batu, kayu, ore yang “mungkin berguna nanti.” Tapi pada akhirnya semua hanya memenuhi peti penyimpanan di base saja.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*kb5fhAJFz3Q7oTOynWzhHg.png" /></figure><p>Tapi kenapa kita melakukan ini?</p><p>Saya rasa bukan karena malas, dan bukan juga karena tidak punya niat. Masalahnya lebih halus dari itu. Ada semacam kepuasan tersendiri saat menekan tombol simpan. Seolah dengan menyimpan sesuatu, kita sudah selangkah lebih dekat untuk melakukannya. Padahal kita belum melakukan apa-apa. Kita hanya memindahkan sesuatu dari “di luar sana” ke “suatu tempat yang terasa lebih dekat.” Dan otak kita merasa itu sudah cukup.</p><p>Ini yang membuat kebiasaan ini susah disadari. Karena rasanya seperti produktif. Folder tersusun rapi, playlist terorganisir, inventory penuh. Semua terasa terkendali. Tapi kalau dilihat lebih jujur, tidak ada satu pun dari semua itu yang benar-benar kita gunakan.</p><p>Sampai beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku berjudul Building a Second Brain karya Tiago Forte.</p><p>Awalnya saya tertarik karena rekomendasi bahwa buku ini bagus untuk memaksimalkan catatan dan mengurangi beban mengingat. Saya memang bukan orang yang kuat di ingatan, jadi dari dulu saya lebih suka mencatat daripada mengandalkan kepala. Tapi ternyata mencatat saja tidak cukup, karena masalah saya bukan di sana. Catatan saya banyak, tapi nasibnya sama saja dengan folder Instagram dan peti Minecraft tadi. Tersimpan rapi, tidak pernah dibuka lagi.</p><p>Yang saya temukan di buku ini justru berbeda dari yang saya ekspektasikan. Buku ini bukan tentang cara menyimpan lebih banyak. Ini tentang cara berpikir ulang kenapa kita menyimpan sesuatu sejak awal. Forte menulis bahwa apapun yang kita simpan hanya berguna kalau kita punya niat untuk menggunakannya untuk sesuatu. Bukan disimpan karena “mungkin nanti berguna.” Tapi disimpan karena “ini relevan dengan sesuatu yang sedang atau akan saya kerjakan.”</p><p>Perbedaannya terdengar kecil. Tapi buat saya, itu cukup menggeser cara pandang.</p><p>Setiap kali menemukan sesuatu yang menarik, pikiran saya selalu berhenti di satu titik yang sama: simpan dulu. Tidak ada kelanjutannya dan pada akhirnya hanya menumpuk saja.</p><p>Forte menyebutnya dengan ide yang sederhana: sesuatu yang kita simpan seharusnya punya rumah yang jelas, bukan sekadar tempat parkir sementara. Dan “rumah yang jelas” itu bukan soal nama folder atau kategori yang rapi. Tapi soal apakah kita tahu kapan dan untuk apa kita akan kembali ke sana.</p><p>Koleksi Instagram saya sudah terbagi rapi, ada AI, desain, programming, tips, dan beberapa topik lain. YouTube, TikTok, platform lainnya juga sama. Artikel, video, reels, semua tersimpan dengan pikiran yang sama “mungkin akan berguna nanti”. Tapi disaat sesuatu benar-benar dibutuhkan, saya tidak pernah terpikir untuk membukanya. Pada akhirnya hanya menumpuk saja.</p><p>Saya tidak akan bilang bahwa setelah membaca buku ini semuanya langsung berubah. Folder Instagram saya masih ada. Playlist YouTube saya masih panjang. Peti Minecraft saya, kalau saya buka lagi, mungkin masih penuh dengan ore yang tidak pernah dipakai.</p><p>Tapi ada yang bergeser. Sekarang saya mulai bisa menentukan apa yang benar-benar perlu disimpan, bukan sekadar yang terasa sayang kalau dilewat. Saya mulai memikirkan di mana menyimpannya agar mudah ditemukan, bukan hanya asal masuk folder. Dan yang paling penting, saya mulai tahu bagaimana cara mencarinya kembali disaat benar-benar dibutuhkan.</p><p>Mungkin itu terdengar sederhana. Tapi buat saya yang dulu menyimpan segalanya tanpa tujuan, itu sudah cukup jadi awal.</p><p>Menyimpan itu mudah. Tapi apa akan kamu gunakan?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3878ff5f2ad1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>