<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Peladi Press &amp; Publishing on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Peladi Press &amp; Publishing on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@peladipress?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*EE64htCJ60eerri0FWznCA.jpeg</url>
            <title>Stories by Peladi Press &amp;amp; Publishing on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@peladipress?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 03 Jun 2026 09:10:48 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@peladipress/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Pulang Kerja]]></title>
            <description><![CDATA[<div class="medium-feed-item"><p class="medium-feed-image"><a href="https://medium.com/@peladipress/pulang-kerja-58913f907da0?source=rss-17ef0da9f6d4------2"><img src="https://cdn-images-1.medium.com/max/2600/1*knqQRS2BLQ9-Xr-yJp2JcA.jpeg" width="3508"></a></p><p class="medium-feed-snippet">Ditulus oleh Muhammad Faathir Fachrozi, 11/15/2025</p><p class="medium-feed-link"><a href="https://medium.com/@peladipress/pulang-kerja-58913f907da0?source=rss-17ef0da9f6d4------2">Continue reading on Medium »</a></p></div>]]></description>
            <link>https://medium.com/@peladipress/pulang-kerja-58913f907da0?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/58913f907da0</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 03:41:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-15T03:41:32.387Z</atom:updated>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Delapan Belas Febuari]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/delapan-belas-febuari-6ee4a29e51e7?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6ee4a29e51e7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 18 Feb 2025 13:48:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-15T03:01:59.995Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh M Faathir Fachrozi, 18 Febuari 2025</p><p>Hari ini…. tepat 18 Febuari, hari yang selalu mengingatkanku dan ibu sebagai salah satu momen terberat dalam hidup kami, hari dimana ku terbangun dalam rasa ketidakpercayaan bahwa ibu dalam keadaan tak berdaya, ia terlentang di karpet depan TV dengan setengah dari bagian tubuh tak dapat digerakkan dan kesulitan untuk berbicara, yang ada dibenakku saat itu hanyalah apakah ini adalah mimpi atau cobaan yang sebentar saja, yang besok atau minggu depan akan kembali normal dengan sendirinya? rupanya tidak demikian, kehidupan tak seperti berada di videogame dan aku tak sekuat itu, hanya manusia biasa yang suka mengalihkan pandangan dan berandai-andai saat cobaan datang walau itu tepat didepan mata kepala sendiri, ya itu benar. Sudah 5 tahun sejak hari itu berlalu, ibu sekarang dalam keadaan sehat, bisa berjalan walau dengan menggunakan tongkat, ia bisa memasak dan aku bisa merasakan masakannya kembali setelah sekian lama serta melakukan banyak aktifitas hanya dengan tangan kanannya, harus benar-benar sangat bersyukur untuk ini. Keadaan ibu sekarang sebenarnya sudah sangat jauh lebih baik dari pada 5 tahun lalu terutama ketika ia pertama kali masuk rumah sakit, walau nyata tidak kembali normal seperti semula dalam artian tidak dapat se-sempurna sebelum 18 febuari 2020, sebelum ia menderita stroke berat.</p><p>Selama 5 tahun ini banyak hal berat yang harus kami lewati dan lewatkan terutama perihal merelakan dan melupakan harapan-harapan kami masing-masing, termasuk pada kesembuhan total ibu. Harus merelakan sayap-sayap kami patah, rontok dan tak pernah bisa tumbuh kembali, ya sudah tak akan jadi masalah lagi. Sekarang kami hanyalah menjalani hari sekuat yang kami bisa dan lakukan tanpa terikat lagi harapan-harapan kemarin, mungkin benar masalah kami berat dan banyak pengalaman terutama proses bukan main yang telah kami lewati dan masih harus kami lewati, akan tetapi tetap harus berfikir banyak diluar sana yang sama beratnya atau lebih berat hanya berbeda frekuensi cerita atau masalahnya saja. Tidak boleh memiliki pemikiran bahwa merasa diri paling berat juga di dunia ini.</p><p>Jika sedikit bercerita yang terberat tahun awal ibu sakit, dimana hari-hari ia laluin dengan penuh semangat dan harapan akan kesembuhannya, senang sekaligus sedih walau terkadang kerapuhan muncul secara reflek seperti mengucapkan <strong><em>‘’kapan ya saat ibu bisa jalan normal kembali’’</em></strong><em> </em>atau <strong><em>‘’ibu menunggu saat dimana bisa normal kembali’’</em></strong><em>, </em>ego dan angan-angan ku sebenarnya sangatlah besar akan masa depan, terlebih lagi dengan ibu sakit aku juga harus merelakan dan membuang banyak keinginan masa depanku ke tempat pembuangan harapan di alam bawah sadarku untuk tetap dapat disini, dirumah ini, dikampung halamanku yang sebenarnya tidak ku cintai, demi untuk merawat dan menjaganya seorang diri akan tetapi saat ia mengutarakan harapan kesembuhan totalnya seketika hatiku jatuh pecah berkeping-keping dan mungkin tak bisa di satukan kembali. Terkadang aku memikirkannya saat terjaga dimalam hari setelah ia membangunkanku dulu saat masih perlu bantuan untuk buang air kecil di kursi rodanya, bukan tidak ngantuk aku sengaja tidak tidur lagi meratapi banyak hal yang seharusnya tidak kulakukan karena ini jalan yang sunyi, jalan yang hanya yang ku mengerti yang benar tau rasanya, tenang saja terkadang diri perlu begini sehingga besoknya aku bisa kuat kembali.</p><p>Yang berat dari menjadi manusia adalah hidup dengan sedikit atau bahkan banyak harapan yang harus ditumpulkan lalu melawan kecemasan dan ketakutan dimasa kini dan mendatang yang harus di halau dan di tepis seperti bermain tennis atau bulu tangkis selamanya. Jangan pernah ingin mati atau berkata mati, setiap orang ada karena dibutuhkan untuk orang lain, aku ada untuk ibu, dan ibu ada untukku sampai batas yang diberikan oleh yang maha kuasa. Aku harus kuat walau tak sekuat itu, walau akan ada naik turun termasuk emosi yang mungkin ada saatnya tidak setabil dan perlu distabilkan kembali, inilah manusia bukan mesin atau teknologi lainnya, punya rasa, punya pikiran dan punya keinginan tersembunyi akan banyak hal yang bahkan ia tutupi ke dirinya sendiri. Aku ikhlas dan berusaha ikhlas, tidak untuk mengharapkan pahala ataupun surga, hanya tidak ingin adanya penyesalan suatu saat nanti, tidak ingin menyalakan diri sendiri dan tidak ingin melupakan apa yang ibu telah lakukan untukku terutama untuk passionku itu semua atas dukungan dia dan saat dimana aku sakit hanya ia yang selalu ada untukku, di saat aku down dan tak bersemangat ia yang tak pernah lelah dan menyerah untuk mendukungku walau tetes demi tets mata mengalir dia tetaplah wanita kuat.</p><p>Hari ini akan selalu ku ingat bukan untuk diratapi saja atau sebagai pengingat hal sedih atau mengecewakan dalam hidup ini, akan tetapi sebagai pengingat perjuangan kami dan bersyukur kami masih ada, hidup dan tetap menjalaninya dengan sekuat hati walau hanya diri yang paling tau, harus bersyukur dan selalu belajar menerima apapun itu seberat apapun itu. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkanku kembali akan hal ini, yang harus kubaca dan telaah kembali saat diri mulai down dan proses <em>trial and error</em> kembali. Semua orang layak hidup dan bahagia terutama memberikan dan menerima kebahagian dari orang lain dan berusaha mengingatnya sebelum saat dimana kita bertambah usia semakin tua dan lupa. Kehidupan memang benar tak bermakna atau tak berarti tetapi kita dapat membuat makna untuk diri kita sendiri, hidup kita, bersama dengan orang yang kita cintai seperti apa yang dikatakan oleh filsuf Albert Camus.</p><p>Sekian, terimakasih telah membaca tulisan saya… sampai jumpa kembali…</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6ee4a29e51e7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Asing]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/asing-135f09a9bfc3?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/135f09a9bfc3</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 31 Oct 2024 08:12:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-10-31T08:16:56.104Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis Apin 30 Oktober 2024</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*nZPxvZir4pHiiRfKYmB9aA.jpeg" /></figure><p>Asing…. dahulu aku siapa? dan kau siapa? diperkenalkan, dijumpakan oleh sebuah tali yang jauh nan tipis yang mungkin sewaktu-waktu bisa saja merenggang atau bahkan putus, tetapi hari demi hari minggu demi minggu dan bulan demi bulan tali itu semakin mendekat, menebal dan menguat. Walau ada hal yang sedikit menyangkut seperti rasa takut, cemas dan banyak pikiran-pikiran lain yang berasal dari hal lalu yang sudah berlalu, bercampur aduk yang satu demi satu sedikit demi sedikit mengurang, bahkan terlupakan dengan tidak mencampuradukkan, dimana kata asing itu sendiri menjadi semakin kehilangan maknanya, pergi dan terlupakan bagai sudah lama berkenal dan mengenal bagi teman lama yang berjumpa kembali. Tak perlu ada ketakutan lagi dan diragukan lagi, dimana tali yang ada menjadi genggaman tangan kita berdua, ciuman dan pelukan erat yang tak ingin terlepaskan lewat harapan-harapan yang semakin bermunculan seperti kata-kata telah dan akan terus terutarakan yang diriingi oleh banyak perasaan naik turun positif dan negatif yang siri berganti dan melebur bagikan musim dan cuaca yang tak tentu, cerah, panas, berawan, dingin, hujan dan terkadang setelahnya muncul pelangi yang indah, siap tidak siap suka tidak suka harus dapaat dihadapi dan dilewati bersama untuk dapat saling mengenal, mengingatkan dan menguatkan satu dengan lainnya untuk selalu menjadi usaha yang dapat mempertahankan tali hubungan yang ada.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=135f09a9bfc3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ekosistem kreatif yang sehat di Lingkungan kampus dan di luar kampus untuk dapat belajar dan…]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/ekosistem-kreatif-yang-sehat-di-lingkungan-kampus-dan-di-luar-kampus-untuk-belajar-dan-9cc2dec92c0c?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9cc2dec92c0c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Sep 2024 12:33:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-24T14:49:44.149Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Ekosistem kreatif yang sehat di Lingkungan kampus dan di luar kampus untuk dapat belajar dan mengembangkan diri secara mandiri maupun kolektif</strong></h3><p>Ditulis M Faathir Fachrozi, 17 September 2024</p><p>Topik pembahas ini dibuat karena adanya keresahan oleh banyak pihak yang tertuju pada ekosistem kreatif kota Medan yang kurang mendukung untuk perkembangan SDM, dikerucutkan pada lingkungan akademik (kampus/perkuliahan) yang tidak secepat kemajuan di pulau Jawa terkhusu pada kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta ataupun Surabaya.<br> <br>Topik pembahasan kali ini sebenarnya hal benar-benar biasa saja akan tetapi karena melihat kondisi dan situasi di kota Medan yang belum terlaksanakan dengan baik (masih jauh sekali) sehingga menjadi topik pembahasan yang cukup hangat dan penting untuk didiskusikan, berfokus pada dua pokok bahasan yaitu <strong>di dalam kampus </strong>dan <strong>di luar kampus</strong>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*SOqx8FzaPqphRu0rwuIDYA.jpeg" /></figure><p><strong>A. Di dalam Kampus</strong><br> <br> 1. <strong>Kita tidak dapat bergantung kepada tenaga pengajar saja, harus terus menggali dan update perkembanggan ilmu diluar dari apa yang diberikan dan diajarkan di perkuliahan</strong><br>Berbeda dengan jurusan formal lain, untuk kampus kreatif seperti seni dan desain terkhusus DKV atau Desain Grafis, membutuhkan beberapa tenaga pengajar yang lebih ekstra karena menuntut sekiranya memiliki skill (<em>soft skill/hard skill</em>), pengalaman serta update perkembangan jaman yang dapat dibuktikan secara nyata, bukan sekedar teori verbal saja, ada pembuktian dan hal yang membuat mahasiswa tergerak, tercerahkan atau termotivasi untuk bersemangat dalam bidang pendidikan yang diembannya saat ini dan nanti.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*sO51z7EK7bE3ciftcUwmxg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qfJtYbD-QQsyRYok3zZEZA.jpeg" /></figure><p>Meski demikian bagaimanapun kita tidak dapat hanya bergantung dan berharap pada kampus dan tenaga pengajar saja, <strong>mahasiswa tetap harus (wajib) mencari ilmu dan mengembangkan diri secara mandiri dan kolektif diluar kelas dan bahkan luar kampus sebanyak apapun</strong> dari apa yang telah disampaikan atau diajarkan (teori dan teknis) di kelas. Dan lain hal jangan pernah menyalahkan fasilitas yang ada juga, karena ujung-ujungnya kita pasti akan menggunakan perangkat pribadi untuk mengerjakan tugas dan kerjaan dirumah, hanya persoalnya pola pikir dan diri kita saja.</p><p><strong>2. Penting untuk selalu berkompetisi dan memiliki rival yang sehat, menjadikan tugas sebagai projek awal portfolio kalian sebelum benar-benar terjun ke industri (dunia pekerjaan)</strong><br>Tugas-Tugas kuliah sewajarnya tidak sekedar menjadi tugas saja, jadikan sebagai ajang kompetisi untuk menjadi yang terbaik (lebih baik) dari teman sekelas lainnya maupun dengan teman/sahabat dikelas berbeda atau bahkan diluar kampus. Harus memiliki rasa malu (rendah diri) jika tugas atau hasil karya yang kalian telah kerjakan tidak sebanding dengan teman lain hasilkan. Dengan adanya pola seperti ini kita tergerak untuk <strong>terus belajar dan menggembangkan skill secara tidak langsung. Adanya rasa dikalahkan dan mengalahkan atau rasa tidak mau kalah dalam konteks yang positif </strong>yang harus menetap, hidup, tumbuh dan berkembang.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/960/1*Y7a_hsPIyApcluDzVbEpEg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*g3Kf6fzAoTq4ahLqrDs7Aw.jpeg" /></figure><p><strong>Membuat dan mengerjakan suatu karya bukan karena ada tugas saja</strong> harus dapat berfikir bahwa semuanya akan menjadi portfolio dan modal awal kalian untuk nantinya masuk ke industri (dunia kerja) yang sebenarnya, jangan pernah mengganggap sepele atau ingin selalu dimudahkan atau digampangkan. Terlepas dari kalian mau apa dan akan jadi apa atau bahkan banting stir sekalipun.</p><p><strong>3. Tumbuh dan ciptakan budaya atau kebiasaan lain yang positif di lingkungan kampus <br></strong>Menumbuhkan budaya seperti apa? pastinya banyak dan sangat bervariasi sekali, mungkin se-simpel barteran (tukaran), memang barteran seperti apa? tukaran stiker, tukaran <em>artwork</em>, tukaran poster, zine dan lain sebagainya jika bertemu teman/rekan di kampus dan luar kampus. Dan juga bisa dengan berjualan (berwirausaha), seperti jualan <em>merchandise</em> atau apapun (terlepas dari laku tidak lakunya) yang dapat <strong>menumbuhkan rasa untuk menggerakkan yang lain sehingga dapat membuat hal dan aktifitas lebih juga, menjadi ingin ikutan juga (terikut), fomo yang baik dan sehat.</strong></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*KBn_IhvFTVIhfnpl0PNacg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/960/1*92wEB70I21MBgAys4pInmQ.jpeg" /></figure><p>Hal-hal kecil seperti ini juga menumbuhkan kebiasaan untuk cetak-mencetak bukan karena tugas saja seperti yang dikatakan di poin sebelumnya, mencetak tugas sambil mencetak yang lain-lain yang sifatnya personal (karya sendiri). Ini juga akan berguna suatu saat nantinya dalam/pada ranah pekerjaan atau industri, karena kita jadi mengetahui hal lebih (<em>insight)</em> perihal cetakan, bahan, harga serta vendor-vendor cetak yang rekomen yang suatu saat nanti akan berguna atau kita gunakan di ranah pekerjaan atau mencari uang lebih.</p><p><strong>4. HIMA, BEM, UKM penting tetapi adanya komunitas-komunitas atau grup-grup kecil (kolektif) lain yang sehat di kampus juga tak kalah penting </strong><br>Dengan adanya berbagai komunitas atau grup kecil pergerakan mahasiswa di kampus menjadi lebih banyak dan beragam (variatif). Tak perlu menunggu gerakan resmi seperti HIMA, BEM, dan UKM untuk membuat kegiatan dikampus dan luar kampus, <strong>mahasiswa dapat bergerak sendiri-sendiri secara mandiri dan kolektif tanpa terikat oleh hal formal ataupun batasan-batasan senioritas </strong>(dalam konteks yang positif dan negatif)<strong>.</strong></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*HSOvZY2XrJP3oJRP5I9DBQ.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*5YdMg6UmBn02Ap99pRsstg.jpeg" /></figure><p>Dan tentunya tercipta juga sudut pandang lain yang beragam (variatif) di kampus, mungkin akan terjadi problem yang tak dapat dihindari/dihindarkan akan tetapi hal ini harus ada, terlewati, tetap hidup, tumbuh dan berkembang juga.</p><p><strong>5. Jangan biarkan kampus mati, terus hidupkan kegiatan sekecil apapun </strong><br>Pada poin ini adalah lanjutan dari poin-poin sebelumnya terutama nomor 3 dan 4, usahakan terus-menerus untuk membuat pergerakan dan kegiatan dikampus sekecil apapun, dengan tetap belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelum (yang lalu), apa yang kurang dan belum pernah diadakan/dibuat dikampus, jangan ragu untuk membuat inovasi atau pembaharuan, bagaimana dapat hemat biaya dan bekelanjutan yang tentunya selain seru/asik dapat juga bermanfaat atau memiliki nilai positif yang dapat diterima mahasiswa kedepannya. Memanglah susah tetapi ini tantangan yang melatih kalian untuk dapat kreatif dan berkreasi mencari solusi yang bermanfaat kedepannya, lagi-lagi nantinya untuk persiapan masuk ke industri (dunia kerja).</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*yZzALrlKh-yNx1Fws4vscg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*E9NkSZx4TbtnE6PNMmhBuA.jpeg" /></figure><p><strong>Usahakan ada pihak lain diluar kampus yang selalu ikut mengisi dan meramaikan kegiatan/acara, jangan yang taumenahu teman-teman dekat anak kampus sendiri saja.</strong> Dan terus tetap usahakan mencari link, kenalan dan media partner sebanyak-banyaknya dari cara apapun atau manapun selama positif dan tidak mencurangi.</p><blockquote><strong>Jadi dari semua poin dia atas intinya bukan masalah kampus, tenaga pengajar atau bahkan fasilitas, jangan hanya mengeluh akan keadaan saja, sebisa mungkin maksimalkan SDM yang ada saja, edukasikan, hidupkan dan kembangkan pola belajar dan berkegiatan secara mandiri dan kolektif.</strong></blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*4yvmfv3oouJI24DuH-OfPA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*1QI6Y0o1CA4AJ4aNeqG8Kg.jpeg" /></figure><p><strong>B. Di luar kampus</strong></p><p><strong>1. Berkenalan dan berteman dengan rekan kampus lain atau siapapun diluar kampus</strong><br>Penting untuk bertemu dan berkenalan dengan orang luar (banyak orang), jangan biasakan puas pada diri dan kampus sendiri, <strong>boleh berkelompok dan memiliki kelompok sendiri akan tetapi tetap usahakan memiliki kelompok lain diluar kelompok utamamu.</strong> Bagaimana caranya memiliki banyak kelompok dengan tetap menjaga kelompok lama/utama.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*YLUVOVcTs6kHSob4zy0aTg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ySXRLtCJC5SrfHLuLOVAdg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*-T62zAO06d_L2bCYJtVszA.jpeg" /></figure><p>Tumbuhkan link, ikatan dengan anak kampus lain, paksakan diri untuk berkenalan/mengenalkan diri sehingga tau dan mendapatkan perspektif baru yang mungkin<em> fresh</em> dan berbeda/lain dari apa yang kita ketahui dan pahami yang ada di lingkungan kampus<strong>.</strong> Banyak talenta-talenta lebih diluar kemampuan kita, <strong>jangan pernah jadi katak dalam tempurung</strong>, selain itu kita membutuhkan kenalan, link untuk kedepannya yang mungkin saja dapat mempermudah kita mendapatkan pekerjaan, projek, client atau apapun yang membuahkan uang, pengalaman dan peningkatan. Maka dari itu <strong>sangat penting memperbanyak teman/kenalan/relasi didalam ranah desain dan diluar ranah desain</strong>.</p><p><strong>2. Jika mempunyai waktu dan uang lebih tidak ada salahnya sering nongkrong &amp; perbanyak diskusi<br></strong> Lanjutan dari point pertama, tidak masalah untuk mengeluarkan sedikit kocek/uang untuk memperluas relasi, memang apapun perlu modal asal tidak berlebihan/dipaksakan dan gimana seefektifnya saja, karena s<strong>aat kuliah waktu untuk bergaul dan bermain sangatlah banyak</strong> dan belum terikat beberapa/banyak tuntutan, kalian akan mengerti setelah tamat dari perkuliahan dan bekerja. Semakin dewasa akan ada masalah-masalah yang akan dihadapi diluar ekspektasi kalian sehingga <strong>puas-puaskan (maksimalkan) masa kuliah kalian dengan sebaik mungkin, jangan di sia-siakan dan jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari.</strong></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*FDYwBrYSjbsHNI5ixT7y3Q.jpeg" /></figure><p>Jangan lupa juga untuk tetap membawa merchandise atau apapun yang dapat dibagi, diberikan dan dibarterkan dengan dengan teman-teman dan kenalan lama maupun baru untuk dapat disimpan dan diingat. Masa kuliah adalah waktu untuk dimana kalian mencari dan berusaha menemukan dan menggali apa yang menjadi minat, selera dan potensi kalian semaksimal mungkin.</p><p><strong>3. Carilah mentor yang tepat</strong><br>Ini penting untuk di cari dan ditemukan sebenarnya selingan dari poin nomor 1 dan 2 tetapi lebih kepada menemukan orang yang bertindak sebagai penasihat atau pelatih yang dapat bertanggung jawab untuk memberikan pengetahuan seputar <em>skill </em>profesional dari perspektif yang lebih berpengalaman. Tidak perlu punya banyak mentor, cukup 1 atau beberapa saja karena mentor yang baik membuat kita berkembang, dan salah memilih mentor membuat sebaliknya, <strong>berkembang yang dimaksud bukan dari skill teknis saja tetapi dari banyak hal termasuk sudut pandang/cara kita memandang, <em>attitude</em> dan etika dan hal lainnya. </strong>Dengan perkembangan dunia sekarang sudah sangat mudah untuk belajar skill teknis akan tetapi kita membutuhkan hal lain diluar ini yang tidak dapat diajarkan oleh tutorial dan t<em>ips &amp; trick</em> di sosial media ataupun platform digital lainnya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*c_IjdJvzjtORRX-yubRa1Q.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/640/1*YEtxKoC9oDFtxQS7dgkKtg.jpeg" /></figure><p>Bisa dari mencari sendiri melalui kenalan atau sosial media yang kalau bisa se-kota lalu mencoba dari chat atau DM untuk mengajakanya bertemu berkenalan langsung atau bisa mencari tempat magang yang tepat dan orangnya dirasa dapat untuk membantuk mengembangkan dan meningkatkan diri kita.</p><p><strong>4. Ikuti kegiatan atau buat kegiatan diluar kampus</strong><br>Untuk poin ini mohon maaf mungkin kembali melalukan perbandingan, kita tau sendiri kota Medan seperti apa, beda dengan pulau Jawa terutama Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya yang mungkin setiap minggunya memiliki banyak acara/kegiatan terbilang sangat cukup baik membuat kita sampai bingung untuk menghapiri yang mana atau bisa <em>tour</em> acara-acara dalam sehari (kalau tidak capek) yang kebalikan dari kota Medan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*USR6JzMnYxsM_5mymN5acQ.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*PTXEjdRS8ZQqcdDUGOlwaw.jpeg" /></figure><p>Sehingga kita harus membuat dan menghidupkan acara/kegiatan sendiri, kita harus memberi inovasi dan t<strong>idak mengulangi kekurangan acara-acara sebelumnya, jangan jadikan<em> template</em> yang sekedar buat acara atau asik-asikan saja, harus memberikan manfaat (dampak positif) bagi audiensi, </strong>bagaimana biar simpel hemat dana tetapi teerlihat berbeda,seperti apa yang dikatakan di poin-poin di dalam kampus, mungkin ini akan menjadi PR kita bersama sekarang dan kedepannya.</p><p><strong>5. Miliki hobi/minat lain diluar ranah desain untuk memperkuat intuisi dan taste </strong><br>Ini penting untuk memperluas pandangan atau cara kita berfikir, karena desain adalah jembatan, kita tetap akan terus dihadapakan dengan berbagai lintas disiplin, <strong>diperlukan intuisi yang berasal dari keilmuan lain untuk dapat memberikan kita ide lebih dalam penyelesaian masalah serta dengan campuran bubu dari <em>taste</em> yang baik pula</strong>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*yfETvHaTIytwE-HKBRfVEg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*SMqJ7Y2ay3a4wJXkZWf7dw.jpeg" /></figure><p><strong>Jika hanya belajar desain sebatas desain saja apa yang akan/telah kita ciptakan tidaklah begitu hidup</strong> bagai ciptaan komputer yang tak bernyawa dan akan tergerus oleh perkembangan AI. Harus ada hal yang membuat kita spesial diluar <em>hard skill </em>atau skill yang dapat diasah hanya dengan latihan rutin saja. Bagaimana membuat diri kita berbeda atau spesial dengan teman-teman lain atau khalayak ramai diluar sana, sehingga orang lain tau mencari kita kenapa dan karena apa.</p><blockquote><strong>Jadi dari semua point dia atas intinya ada kemauman dan dapat memaksakan dan menyempatkan diri untuk aktif bergerak/tergerak mencari ilmu dan kenalan di luar kampus secara mandiri dan kolektif untuk kedepannya, tidak menyia-nyiakan masa-masa kuliah yang ada.</strong></blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*JgnG90dhH5tl4pLeRUix_A.jpeg" /></figure><p>Mungkin masih banyak lagi hanya saja dibataskan pada 5 poin saja agar pembahas tidak terlalu luas dan kemana-mana. Dokumentasi berupa foto diatas diambil dari arsip pribadi saat aktif berkegiatan di masa perkuliahan pada priode 2015–2018 sebelum balik ke kota asal Medan.</p><p>Terimakasih telah menyempatkan untuk membuka dan membaca, semoga mudah dipahami, bermanfaat dan memberikan dampak yang baik sekrang atau nanti (kedepannya).</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9cc2dec92c0c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Nearly]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/nearly-424c09e32365?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/424c09e32365</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 01 Jul 2024 07:50:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-07-02T06:34:22.669Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh MFF, 20/06/2024</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*t8h1ejyo4MVbYLgft5QqVQ.jpeg" /><figcaption>Illustration oleh MFF Internal Reality Studio</figcaption></figure><p>Sebagian dari kami terlahir kalah walau tak mengalah, dimana keberuntungan adalah hal yang asing dan tak perlu untuk ditunggu-tunggu atau bahkan mengemis kepada-nya, walau diiringi rasa iri yang tak pernah usai pada kenangan-kenangan palsu yang tak pernah jadi nyata, pada ekspektasi-ekspektasi buruk yang tetap saja membuai kekecewaan, bagai serpihan debu tak berarti yang tetap saja mengenai matamu, pedih, perih dan berair.</p><p>Dan terus bertanya, kenapa sebagian dari mereka menyia-nyiakan keberuntungan yang didapat secara cuma-cuma lalu seketika membuangnya secara kasar, sementara kami disini mengutipnya di waktu yang tak pernah tepat, barang terlihat berharga yang telah terbuang dan tetap tak akan pernah menjadi milik kami.</p><p>Selalu ada kontradiktif dimana kebencian tertutupi oleh rasa sayang dan ketidakbermaknaan hari menjadi nostalgia. Kebenaran yang dilupakan dan kesalahan yang dihiraukan. Kembali menjalani hari kosong dengan melanjutkan kebohongan tanpa hati dan jiwa agar dapat berbaur dengan sekitar.</p><p>Apakah besok akan menjadi hari yang cerah? tak berharap, hanya cukup bertahan dan menjalankan saja seperti hari-hari biasa yang dilewat dan terlewatkan tanpa hadirnya seseorang, dimana kebahagiaan dan kesedihan yang sebenarnya tidaklah benar ada, hanya kita manusia yang menciptakannya demi memuaskan kebutuhan-kebutuhan tertentu termasuk kepuasan untuk menyakiti diri.</p><p>Walau keberuntungan tak berpihak, kita dapat mencari dan membuatnya bagai makna hidup yang sebenarnya tak ada.</p><p>Dan kebebasan yang sebenarnya adalah menerima dan merelakan…</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=424c09e32365" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tol Nyasar]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/tol-nyasar-62a69410ec34?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/62a69410ec34</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 13 May 2024 13:59:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-20T11:41:21.312Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>oleh MFF</p><h3>Pertemuan dan pertemanan lama yang singkat dan terlewatkan begitu saja, yang berarti dan tak berarti, yang terlupakan dan tak terlupakan diantara ambang semu antara nyata dan tak nyata pada tumpukan puzzle cerita kehidupan kita.</h3><p>Bahwa kita semua sempat saling mengenal dan lalu tak mengenal kembali, apa yang dirasakan waktu itu hanya sesaat bagai khayalan yang kenyataannya dibuktikan oleh sedikit foto nostalgia yang hanya disimpan oleh sebagian dari kami, begitu juga dengan kerinduan yang ada.</p><p>Tak sangka keakraban saat itu dimulai dari ospek dan momen nyasar di tol yang menjadi nama kami adalah Tol Nyasar dan rupanya keakraban itu benar singkat yang ditahun berikut sebagian dari kami memisahkan diri dan saling menjalani kesedihan dan kegembiraan dengan teman baru yang benar-benar teman dengan drama kehidupan yang selalu menyertai kita semua.</p><p>Apa kabar kalian semua? Apakah kita semua dapat bertemu dan berkumpul bersama kembali? sebelum kita semua benar-benar menghilang.… bercerita dan tertawa saling mengingatkan kenangan lama tersebut….</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*K8OzjVcIWyQow0Kx9wN2Wg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*HFVx28fn_DzuLetz61uTEg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Cns8FLdS7NL9w8kZ_zLuDw.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/960/1*cGaQc9YwynS-dN8EuydjvA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/960/1*f0G8WrNnCSylcpTLalLUkQ.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/960/1*5axuxVG2fEZJSllCNgfbuA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ENDa3V4b5aXwd2-lx-glMg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*EkXxcNBa7b8LJ58nm7CZow.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*3AuVIYd7VVWNRvKEmivE7g.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*as1HFE_UlXDkOJcCMFXrAw.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*n8lOBmh3_mrIzNHU-A_wVA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*1IV1acSEeooN0KgQjnYCVg.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*KmauImFguhmp1XgRFl70LA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qCfs1txp5DMvpSzAebRRdQ.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ciJcKw0FNQ0qqfaTSTFjBA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*EfLSyQA6GKWh2C_Nvul4SA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*eTBysDrSf27s6jYuu3ueqQ.jpeg" /></figure><p>Terimakasih…..</p><p>30/05/2024</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=62a69410ec34" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Benci untuk Jatuh Hati]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/benci-untuk-jatuh-hati-4586708903ff?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4586708903ff</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 10 Feb 2024 14:28:40 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-12T14:44:46.154Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Aku benci untuk jatuh hati dan benci untuk dapat menuliskan tulisan ini yang ku tulis dan kalian baca saat ini.</p><p>Saat kau benar-benar jatuh hati kau tak benar-benar mendapatkannya dan saat kau berpura-pura untuk jatuh hati atau sekedar menjalankannya kau mendapatkannya (?), mendapatkan yang tak benar-benar kau inginkan dan harapkan.</p><p>Kau bisa mendapatkan hal jika berpura-pura, dan hidup memanglah tempat untuk berpura-pura termasuk berpura-pura untuk jatuh hati, kita suka melakukan terhadap orang lain dan diri kita sendiri.</p><p>Sudah menjadi hal yang wajar di dunia dewasa ini, kau harus hidup dengan menyadarinya dan lama kelamaan menerimanya.</p><p>Merindukan momen-momen asmara yang sebenarnya tidak jadi terjadi atau tidak benar-benar terjadi.</p><p>Kapankah kita benar-benar dapat saling mencintai dan dicintai dengan setulus hati? jika kita selalu mendambakan orang lain saat sedang bersama yang lain.</p><p>Apakah kita nantinya akan bersama hanya karena sebatas ikatan tanggung jawab?</p><p>shit….. sekali lagi,</p><p>aku benci untuk jatuh hati….</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4586708903ff" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Keterbosanan, Kekecewaan dan Rasa Nostalgia]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/keterbosanan-kekecewaan-dan-rasa-nostalgia-7dcbc395e160?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7dcbc395e160</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 02 Feb 2024 16:10:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-27T15:30:56.071Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh Internal Reality, 28 Januari 2024</p><p>Mungkin dimulai dari cerita latar belakang penulis yaitu seorang yang sempat berkuliah DKV, mengikuti kegiatan-kegiatan dan beberapa komunitas, serta bekerja di kota kembang dalam kurun waktu 5 tahun, yang setelahnya harus balik ke kota asal Medan dengan berbagai alasan dan tanggung jawab. Mungkin sudah kebiasaan atau terbiasa suka untuk berkenalan dan mencari kenalan dengan sesama minat dan bidang pekerjaan, dahulu saat dikampus kadang bebebapa minggu sekali kami membuat kegiatan pada saat malam hari di kampus untuk sharing berbagai hal, ikut beragam kegiatan diluar, rajin mengunjungi pameran atau<em> talkshow</em>, dan saat dahulu bekerja kadang seminggu sekali bertemu dan ngobrol sesama designer yang berbeda pekerjaan dan kampus dan juga sesama penggiat zine di kota kembang tanpa memandang finansial, status sosial, dan lain sebagainya. Sungguh hari-hari yang menyenangkan, banyak<em> insight</em> dan perspektif baru yang selalu didapatkan sekaligus (+) mendapatkan keramatamaahan dan kehangatan dalam pertemanan.</p><p>Hanya saja semua itu kebalikannya saat balik ke kota asal Medan, saat mengatakan kebalikannya pasti sudah kebayang ada tolak ukur yang sangat pesat dan berbeda dari paragraf pertama. Mungkin kita tidak membahas dahulu soal acara, pameran, dan lain-lainnya (mungkin akan dibahas ditulisan lain saja) kita akan berfokus pada orang-orangnya (kebanyakan/tidak semua). Singkatnya, aku terkaget-kaget saat bertemu dan berkenalan dengan beberapa designer di kota ini yang pada konteksnya baru ketemu atau baru kenalan yang sudah membicarakan banyak hal tentang dirinya sendiri serta ilmu dan pengalamannya dan terkadang tanpa balik bertanya (pembicaraan 1 arah) hahaha yang diliat dari hasil kerjanya dan keilmuannya masih jauh dibawah standart saat aku berada di kota kembang dan berpandang luas (orientasi dalam referensi) pada pulau jawa terkhusus Jakarata serta keilmuan design eropa. Dan lagi, beberapa dari mereka sudah membicarakan uang dan kesuksesannya hahaha yang lebih ironinya juga ada beberapa orang yang baru kenal sudah menyuruh-nyuruh <em>‘’kamu harus gini harus gitu biar sukses biar dapat duit banyak dari design bla-bla’’</em> dan menggangkap kita seperti apa dalam konteks pengartian yang benar-benar salah, sungguh lucu sekali. Mereka belum mengenal sama sekali dengan kita sudah langsung mengajari (menggurui), yang sebenarnya ini termasuk attitude dan etika yang sangat buruk sekali.</p><p>Jadi teringat saat dulu ikut kegiatan di kota Kembang dan Jakarta, <strong>beberapa designer yang terbilang sukses secara materi, sukses secara hasil designnya dan usaha lainnya tidak pernah menceritakan dirinya apalagi keilmuan dan pengalamannya kalau tidak kita tanyakan atau tidak kita pancing berbicara atau kalau sudah mulai ada kedekatan dalam perteman atau hal lainnya, </strong>begitu juga seniman, phgotographer, illustrator dan pekerjaan kreatif lainnya. Teringat dahulu bertemu beberapa Illustrator yang salah satunya dengan nama pena MFAXII, ia bilang dirinya <em>‘’hanya suka gambar-gambar dan pengangguran’’</em> hahaha padahal banyak band metal yang top dan naik daun sudah pernah ia kerjakan. Banyak momen dimana kenal atau berkenalan dengan beberapa orang mereka tidak akan cerita mereka dari/punya studio apa atau apa pekerjaan sebenarnya mereka kalau belum sampai di obrolan tertentu atau yang lebih lanjut. Dan teringat juga seperti mas Iki Monoponik yang saat itu ketua ADGI Bandung, bg Aulia Akbar (Beshot) dari Pot Branding dan designer lainnya kita bisa duduk di meja dan kursi yang sama untuk bercanda gurau, menanyakan dan membahas banyak hal mulai dari topik seputar design sampai diluar dari itu seperti gimana sih proses perpanjang STNK LOL, serta yang terpenting tidak merasakan adanya kesenjangan dibanyak aspek. Ya aku rindu ini semua…. tidak ada kesombongan dan keangkuhan yang terlihat atau diperlihatkan. Dan percakapan dengan mereka selalu terasa dua arah, tidak satu arah seperti berbicara dengan insan kreatif di kota Medan ini.</p><p>Balik lagi, masalah kelas juga entah kenapa disini kerasa designer terkesan orang yang harus hype, berkelas, LOL semuanya tampil secara visual diluar, toh designer-designer yang dulu kutemui kebanyakan memakai baju dan celana polosan yang penting rapi, enak diliat dan minimal harum misal. Kalau disini terkesan kalau pakaian bermerek, suka gimmick, bawa mobil atau motor bagus dan mac terbaru di hargai dan orang-orang pada segan, padahal isi designnya kosong melompong hahaha. Dan mereka yang sudah merasa banyak mengerjakan projek dan baik secara materi kerasa angkuhnya (ada keangkuhan) dan ada jarak ke kelas/insan kreatif lainnya, merasa sudah merasa hebat dan jeleknya lingkungan (orang yang dikenal) menganggap begitu lalu memperlakukan mereka seperti itu juga dan membesar-besarkan namanya yang membuat mereka semakin-makin percaya diri dan menganggap diri mereka jauh lebih hebat dari anggapan sebelumnya dan perlu bahkan butuh untuk diseganin.</p><p>Disini juga banyak yang mengaku-ngaku dalam artian baru belajar design, photo, video dan lain sebagainya baru sebentar sudah nulis dan cap dirinya sendiri <em>Art Director, Creative Director, Principal Design</em> dan lain sebagainya padahal mereka tidak mengerti apa arti kata tersebut juga, dan baru bisa-bisa aplikasi sudah ngerjain client sudah membuka studio dan agency sendiri semua serba instan dan nekat. Tidak apa-apa sebenarnya cuma miris saja, beda sekali dengan kenalanku dahulu yang tidak mengecap dirinya sendri secara langsung, secara logis mereka kuliah sarjana yang sesuai jalurnya, sudah ngerjain projek dari sebelum lulus kuliah dan setelah kuliah makin-makin dan punya studio/agency yang sukses dan bahkan usaha lain di luar design juga tetapi tetap butuh waktu lama sampe mereka berani menulis atau cap dirinya apa, dan itu juga sudah melalui proses panjang serta pengakuan oleh banyak pihak yang pengaruhnya baik. Ada juga yang masih nulis atau cap dirinya Graphic Designer padahal sudah lebih dari art director dari segi pengalaman, hasil yang dikerjakan dan memang dipekerjaan lainnya jabatannya ia memang art director LOL. Banyak juga misal tidak mau dicap seniman karena seniman berat, mending dicap illustrator saja atau bahkan lainnya gak mau dicap apa-apa karena seniman. terkesan sangat berat dan beban yang ditanggung dengan cap tersebut sangatlah besar, mereka merasa belum mencapai banyak tahap atau tahap tersebut. <strong>Di kota Medan ini semua dianggap sepele, sepele memandang orang lain, sepele terhadap apa yang ditekunin (pekerjaan/cap), hasil kerja dan lainnya, semuanya dianggap dapat dilakukan dan diraih atau dinobatkan secara instans/gampang. </strong>Semua dipadang secara keren-kerenannya saja dalam artian kulit luarnya saja, lupa, tidak memahami atau bahkan tidak tahu sama sekali esensi sebenarnya dari cap dan yang mereka pampangkan dan pekerjaan yang mereka embankan dalam artian fundamentalnya.</p><h3>Tidak ada yang bisa menjadi acuan, tidak ada yang benar-benar mengerti, tidak ada yang bisa dianggap rival, tidak ada yang membuat iri yang memacu ketersemangatan lebih dalam konteks positif berproduktifitas.</h3><p>Mungkin kata-kata diaatas inti apa yang benar-benar dirasakan pada perasaan keterbosanan, kekecewaan dan rasa nostalgia. Masih banyak lagi yang dapat dibahas hanya jika dituliskan semua mungkin akan terlalu panjang.</p><p>Terimakasih telah membaca….</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7dcbc395e160" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kota Bodoh, dan Orang-Orangnya lebih Bodoh]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/kota-bodoh-orang-orangnya-lebih-bodoh-18d17c52d283?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/18d17c52d283</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 15 Jan 2024 10:45:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-17T11:40:37.138Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh M Faathir Fachrozi, Januari 2024</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*j5wP-ot6tpMRDrlO06hHiA.jpeg" /></figure><p>Sebenarnya malas untuk menuliskan tulisan yang kalian baca saat ini dan suka mencoba berdamai dengan kota yang dibenci dan dengan orang-orangnya juga. Hanya saja selalu ada halangan yang melintang, seperti paling mudah untuk memancing sepercik api kemarahan yaitu dimulai dari berkendara, kita pasti tak terlepas dari berkendara atau berada dikendaraan (transportasi) mau itu pergi kerja, <em>meeting client</em>, bertemu teman atau pacar, mengunjukin sodara yang sakit dan lain sebagainya akan tetapi ada saja yang bikin kita emosi, mulai dari penggendara lain yang mengklakson terus menerus, gak ada apa-apa ngklakson, lampu merah klakson, macet klakson, mungkin kalau supir angkot yang orang kalangan bawah dan tidak berpendidikan mungkin kita masih dapat memakluminnya, hanya saja sering sekali seperti mobil mewah yang mungkin pengendaranya orang berkelas/kaya, mungkin berpendidikan S2, pekerjaannya psikolog, dan lain sebagainya (analogi) sungguh ironi dimana intinya mereka berpendidikan tetapi tidak terdidik atau tidak mendidik dirinya sendiri dengan benar.</p><p>Mereka tidak tau fundamental klakson itu fungsinya untuk apa?. Ada momen ironi lainnya dan sering terjadi dimana, salah satunya kita dihadapkan lampu merah dan didepan ada mobil dan motor yang sedang lewat atau momen dimana kita memang harus berhenti karena jika kita teruskan akan menabrak /ditabrak kendaraan didepan yang terkadang truck muatan besar sedang melaju ke arah lain dan pengendara dibelakang kita mengklakson-klakson suruh untuk kita bergerak, apakah hidup kalian begitu penting? apa yang sebenarnya kalian kejar? sampe lupa dan tidak mempedulikan keselamatan orang lain? apa kalian terlalu dungu untuk dapat mengerti etika dan atitude dalam berkendara.</p><p>Belum lagi ada momen-momen dimana penggendara lain yang salah dan membahayakan nyawa kita seperti jalan kita lalui lampu hijau dan ada pengendara yang melanggar lampu merah dan hampir saja menabrak kita, dan malah ending marah ke kita dan menyalahkan kita LOL. Rasanya kita pengen meneriakkan ‘’kontol sama kelen semua’’. Kota panas, orang-orangnya lebih panas, belum meninggal tetapi sudah merasa tinggal disalah satu neraka. Mungkin kita tidak perlu bahas dahulu perihal skena atau hal lain, hanya membahas jalanan dan pengendaranya sudah dapat kita simpulkan kalau ‘’kota ini bodoh dan orang-orangnya lebih bodoh’’. Dan jika terus dituliskan tulisan ini akan terlalu panjang karena banyak lagi selain point-point diatas.</p><p>Sama dari sini kita bisa coba persepsikan secara veknakular sifat kebanyakan orang Medan (tidak semua) melalui cara berkendaranya yaitu merasa paling benar/paling jago/paling penting, tidak sabaran, egois, kurang atau bahkan tidak empatis (tidak peduli), primitif dan lain sebagainya.</p><p>Terimakasih……</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=18d17c52d283" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Bakat itu Benar Ada dan Benar juga Tiada]]></title>
            <link>https://medium.com/@peladipress/bakat-itu-benar-ada-dan-benar-juga-tiada-889986664fea?source=rss-17ef0da9f6d4------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/889986664fea</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Peladi Press & Publishing]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 26 Oct 2023 14:59:51 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-04-19T11:24:12.113Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh M Faathir Fachrozi, 26 Oktober 2023</p><p>Banyak influencer yang berkata bahwa bakat itu tidak ada, kalau kita usaha kita akan mendapatkan… mungkin pernyataan ini tidaklah tepat, bakat itu tetaplah ada, dan tidak bakat jugalah ada.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*f_MqOOTQ79KgJ2a0.jpg" /></figure><p>Mengapa demikian? mungkin dimulai dari cerita dan pengalaman personal saya sebagai penulis, sewaktu kuliah ada beberapa teman yang tidak pernah menggunakan medium tertentu semisal cat air dan digital painting tetapi saat melakukan mereka langsung bisa tanpa ada belajar atau latihan sebelumnya sama sekali, dan hasilnya seperti orang yang telah menekuninya dalam waktu tahunan, nah ini yang dinamakan bakat, sesuatu hal kasat yang tidak adil. Bakat jika di analogikan dalam game adalah seorang yang bermain langsung di level 10 atau bagi pemain era 2000an PS1 mungkin bakat itu bagaikan menggunakan game shark atau jika main dota pake cheat ‘’iseedeadpeople’’ hahaha menuju step tinggi tanpa harus melakukan atau melewati secara bertahap dalam artian latihan keras.</p><p>Apakah bakat itu segalanya? tidak, mereka mungkin sudah mencapai step tinggi akan tetapi jika tidak dilatih dan dikembangkan akan tetap di level segitu-segitu saja dan akan di lewati oleh seorang yang dengan usaha. Banyak kenalan saya yang memilki bakat lebih akan tetapi karena tidak di imbanginya dengan mengikuti perkembangan jaman, tidak update referensi, tidak memiliki selera tertentu dan tidak dilatih pula akhirnya sibakat menjadi stuck dan juga disalip oleh orang-orang sekitarnya lalu kata berbakat itu juga memudar dan dilupakan.</p><p>Usaha.. mungkin banyak orang menganggap jika banyak hal bisa dicapai atau diraih dengan usaha salah satunya bakat, kita bisa mendapatkan bakat dengan usaha? jawaban tidak juga. Mengapa demikian? selain bakat, setiap orang memiliki yang dinamakan tidak bakat, maksudnya ada hal-hal yang benar-benar kita tidak bisa lakukan dengan baik atau tidak dapat benar-benar kita raih. Contohnya: saya tidak berbakat dalam bidang olahraga, mau saya latihan usaha sedemikian rupa saya tidak akan pernah mencapai atau menyeimbangin teman-teman saya. Mungkin permainan saya dapat membaik atau meningkat dari pada sebelumnya, akan tetapi tidak pernah mencapai level bakat atau mengalahkan bakat. Contoh lainnya saya tidak berbakat menyanyi, mau saya latihan sesering apapun atau segiat apapun, suara saya tetap tidak bagus dan tidak enak untuk didengar. Ini contoh yang lebih jelas, mungkin kita bisa liat di acara awal Indonesia Idol pencarian artis di beberapa kota, cuma banyak yang gak sadar diri saja hahaha</p><p>Jadi jelas ada yang namanya bakat dan ada yang namanya tidak bakat. Oleh karena itu usaha pun juga harus diimbangin dan bekali dengan pengetahuan tentang diri sendri, kita harus tau apa yang kita suka, dan bisa untuk dikembangkan jika dilatih. Kita dapat mencapai level tertentu akan tetapi juga harus melakukan yang basicnya emang kita bisa cuma masih kurang saja dari pada orang lain. Contohnya, saya suka dan bisa gambar akan tetapi gambar saya terkesan masih kaku dan kurang ekspresi, jika dilatih tiap hari dan diimbangin dengan les atau kuliah seni gambar saya bisa sangat meningkat dan naik terus secara bertahap dan akhirnya bisa mencapai level atas. Beda hal dengan bidang yang memang tidak bakat, mau latihan dan kuliah tidak benar memperbaiki skill yang ada.</p><p>Dan usaha pun harus ada batasnya, jika memang kita tidak bisa meraihnya kita harus tau untuk stop karena banyak waktu yang sudah buang yang seharusnya dapat mengejar hal-hal lain. Beberapa kenalan saya tetap berada dijalan yang ia suka akan tetap tidak dibekali kemampuan yang memumpuni dan ia juga tidak menyadarinya, akhirnya ia menghabiskan waktu sia-sia, terlanjur tua dan menyesal.</p><p>Oleh karena itu balik kembali semuanya harus dibekali pengetahuan tentang diri sendiri, apa yang bener-benar bisa, bisa, tidak bisa dan benar-benar tidak bisa. Usaha tidak hanya sekedar usaha, jangan pernah terpengaruh influencer yang asal ngomong demi konten saja.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=889986664fea" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>