<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Raysa Arma on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Raysa Arma on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@raysaarma?source=rss-ea24acb0fbbe------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*HlQ8WDSCgMCjZIrhICRsvw.jpeg</url>
            <title>Stories by Raysa Arma on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@raysaarma?source=rss-ea24acb0fbbe------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 31 May 2026 22:05:59 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@raysaarma/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Bukan Lelah, Hanya Ingin Pulih]]></title>
            <link>https://medium.com/@raysaarma/bukan-lelah-hanya-ingin-pulih-86eff6906163?source=rss-ea24acb0fbbe------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/86eff6906163</guid>
            <category><![CDATA[personal-growth]]></category>
            <category><![CDATA[burnout]]></category>
            <category><![CDATA[career-pause]]></category>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <category><![CDATA[productivity]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raysa Arma]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 04 Jul 2025 13:04:53 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-04T13:04:53.797Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*pNKdtlmB2rJOSKZy" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@seffen99?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Sven Brandsma</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><blockquote>Pernah terlalu yakin bisa menyelesaikan skripsi sambil bekerja penuh waktu. Awalnya kupikir aku tangguh, multitasking, dan tahu apa yang harus aku lakukan. Dalam perjalanannya aku hilang arah. Skripsi bukan cuman soal menulis laporan. Dia menyeretku ke ruang sunyi yang memaksaku menatap cermin dan berkata “sebenarnya aku sedang menghindari diriku sendiri”</blockquote><p>Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang juga bekerja <em>full time. </em>Sebenarnya aku sudah berkomitmen untuk lulus 3,5 tahun. Ada hal yang menuntutku untuk segera mandiri. Mau tidak mau aku harus segera bekerja. <em>Qodarullah</em>, aku tidak bisa lulus 3,5 tahun dan terpaksa harus menjalani setengah tahun terakhir kuliah sambil bekerja.</p><p>Awalnya aku merasa mampu membagi waktu, <em>toh hanya tinggal skripsi saja kok, bisalah dikerjakan sambil kerja,</em> pikirku saat itu. Aku tetap <em>meeting, </em>kerja <em>remote, deadline </em>kantor, dan dinas keluar kota. Semua kujalani seperti biasa, sambil sesekali membuka dokumen skripsi — yang makin lama makin terasa jauh.</p><p>Kupikir aku cukup disiplin untuk menyusun waktu, mengatur jadwal, dan tetap produktif. Ternyata, mengerjakan skripsi bukan hanya soal mencuri waktu di tengah kesibukan — tapi soal memberi ruang penuh untuk berpikir, merasa, dan menyelami diri. Aku terlalu memandang sebelah mata.</p><p>Semakin lama, rasanya seperti kehabisan bensin. Rasanya seperti jalan di tempat di tengah perlombaan waktu yang terus bergerak. Sementara teman-temanku sudah mendapatkan jadwal sidang, aku masih berkutat dengan data yang belum juga menjawab pertanyaan penelitianku. Revisi mandek, bimbingan yang tak kunjung jalan, dan tekanan yang terus menumpuk — seperti dihujani batu.</p><p>Titik balik datang saat aku dinas ke luar kota — ke Jogja. Beberapa hari di sana, tubuhku tetap bekerja seperti biasa, tapi pikiranku semakin kacau. Di sela-sela waktu, aku merasa benar-benar hampa. Aku menatap kalender ponselku, <em>deadline </em>semakin dekat.</p><p><em>“Kalau aku terus memaksakan semuanya, yang selesai hanya pekerjaan. Skripsiku hanya kumpulan kata tanpa arah”</em></p><p>Sepulang dari Jogja, aku membuat keputusan yang awalnya terasa berat — <strong>aku mengajukan cuti dari pekerjaanku.</strong> Rasanya seperti mundur. Seperti melepaskan sesuatu yang selama ini aku banggakan. Tapi justru saat itulah aku mulai menemukan hal yang lebih penting: <em>diriku sendiri.</em></p><p>Cuti kerja bukan pelarian. Itu adalah ruang hening yang memberiku kesempatan untuk benar-benar duduk, diam, dan bertanya ulang <em>sebenenarnya apa yang kukejar? Kenapa aku selalu merasa tertinggal, padahal aku sudah berlari?</em></p><p>Selama masa itu, aku mulai mengurai benang kusut. Mulai mengerjakan skripsi dengan lebih sadar. Aku mulai memahani bahwa skripsi bukan cuma dokumen akademik, tapi proses pendewasaan. Di dalamnya ada perjuangan, pengakuan, luka, dan pelan-pelan penyembuhan.</p><p>Aku menulis, mengulang, memperbaiki, menangis, merenung. Siklusnya selalu berputar disitu, tapi perlahan maju. Aku juga mulai merasa lebih utuh. Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk menjadi “produktif”, seolah-olah diam adalah sebuah dosa.</p><p>Aku lupa aku punya <em>limit. </em>Aku lupa bahwa tubuh bisa lelah, pikiran bisa jenuh, dan hati bisa kehilangan arah. Aku kira kalau terus bergerak, semuanya akan selesai. Ternyata yang selesai hanya daftar tugas. Sementara, aku sendiri semakin menjauh dari diriku yang sebenarnya.</p><p>Selama ini aku membanggakan kemampuan untuk <em>multitasking</em>, bekerja keras, dan terlihat “sibuk”. Tapi pada akhirnya, yang aku kejar bukan hanya pekerjaan — aku sedang mencoba membuktikan bahwa aku cukup. Dan ternyata, itu sangat melelahkan.</p><blockquote>Baru saat aku mengambil langkah mundur, aku bisa benar-benar melihat bahwa batas bukan kelemahan. Batas adalah tanda bahwa aku manusia. Mengenali batas diri adalah bentuk paling jujur dari keberanian.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=86eff6906163" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>