<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by simpul papua on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by simpul papua on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@simpulpapua?source=rss-c890a281989a------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*iVw-AbmUMIqFLQ3EgplEiQ.jpeg</url>
            <title>Stories by simpul papua on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua?source=rss-c890a281989a------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 27 May 2026 12:20:10 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@simpulpapua/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[MENGKRITIK PEMERINTAАН ADALAH CINTA KITA UNTUK NEGARA]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/mengkritik-pemerinta%D0%B0%D0%BD-adalah-cinta-kita-untuk-negara-1278dc3ede94?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1278dc3ede94</guid>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 15 Oct 2025 15:17:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-15T15:26:00.431Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>MENGKRITIK PEMERINTAH ADALAH CINTA KITA UNTUK NEGARA</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Ts-SZBiyrV0K6zH7GPc3rA.jpeg" /></figure><p>Saya ambil Bingkainya pemikiran John Locke &amp; Thomas Paine.</p><p>Banyak yang merasa kritik terhadap pemerintah itu sebuah pembangkangan atau tindakan yang tidak cinta pada negara.</p><p>Namun jika kita belajar Sejarah, justru berani mengkritik pemerintah adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta dan kepedulian terhadap negara<br>Anggaplah merauke ini adalah rumah kita bersama. Pemerintah adalah pihak yang kita beri kepercayaan dan amanah untuk merawat dan mengelola rumah tersebut. Jika kita melihat ada atap yang bocor, dinding yang retak, atau pengelolaan keuangan yang tidak beres, apakah kita akan diam saja? Tentu tidak. Kita pasti akan bersuara, menegur, dan menuntut perbaikan. Kita melakukan itu bukan karena kita benci pada rumah kita, tetapi justru karena kita sangat mencintainya dan tidak ingin rumah itu rusak.</p><p>Untuk memperkuat argumen ini, mari kita tengok gagasan dua filsuf besar yang pemikirannya menjadi fondasi banyak negara demokrasi modern: John Locke dan Thomas Paine.</p><p>John Locke seorang filsuf dari Inggris pada abad ke-17, memperkenalkan konsep yang revolusioner pada masanya, yaitu kontrak sosial. Menurut Locke, manusia secara alamiah memiliki hak-hak dasar yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun, yaitu hak atas hidup, kebebasan, dan kepemilikan. Lalu, mengapa kita butuh pemerintah? Locke berpendapat bahwa kita sebagai rakyat, secara sukarela setuju untuk membentuk sebuah pemerintahan dengan satu tujuan utama: untuk melindungi hak-hak alamiah kita tersebut. Jadi, kekuasaan yang dimiliki pemerintah pada dasarnya adalah mandat atau pinjaman dari rakyat.</p><p>Konsekuensinya sangat jelas. Jika pemerintah justru bertindak sewenang-wenang, merampas kebebasan, atau gagal melindungi hak milik warganya, maka pemerintah tersebut telah melanggar kontrak sosial. Dalam kondisi seperti ini, rakyat tidak hanya berhak, tetapi juga memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan kritik, menuntut pertanggungjawaban, dan memastikan pemerintah kembali ke jalur yang benar.</p><p>Thomas Paine, salah satu arsitek intelektual Amerika Serikat, bahkan lebih tajam dalam memandang pemerintah. Dalam pamfletnya yang sangat berpengaruh, Common Sense, ia menulis kalimat yang terkenal:</p><p>&quot;MASYARAKAT DALAM KONDISI APA PUN ADALAH SEBUAH BERKAH, TETAPI PEMERINTAH, BAHKAN DALAM KONDISI TERBAIKNYA, HANYALAH KEJAHATAN YANG PERLU (A NECESSARY EVIL); DALAM KONDISI TERBURUKNYA, DIA ADALAH KEJAHATAN YANG TAK TERTAHANKΑΝ.&quot;</p><p>Apa maksud Thomas Paine?<br>la percaya bahwa manusia secara alami cenderung untuk bekerja sama dalam masyarakat. Namun, karena adanya segelintir orang yang mungkin berbuat jahat, kita memerlukan sebuah sistem (pemerintah) untuk menjamin keamanan dan ketertiban. Namun, sifat dasar dari kekuasaan itu sendiri adalah cenderung korup dan meluas.</p><p>Karena kecenderungan berbahaya inilah, pemerintah tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan. Pemerintah harus selalu dicurigai, dipertanyakan, dan dikritik. Bagi Paine, memberikan kepercayaan buta kepada pemerintah adalah sebuah kenaifan yang akan berujung pada hilangnya kebebasan.</p><p>Mencintai pemerintah, menurutnya, adalah sebuah kesalahan. Yang harus kita cintai adalah negara, bangsa, dan kebebasan kita. Sikap kita terhadap pemerintah seharusnya adalah kewaspadaan abadi. Kritik adalah wujud nyata dari kewaspadaan tersebut.</p><p>Patriot sejati bukanlah orang yang selalu memuji pemerintah, melainkan orang yang memastikan pemerintah tidak pernah melupakan tuannya, yaitu rakyat.</p><p>Jadi, ketika kita melihat ada kebijakan yang tidak pro-rakyat, ada anggaran yang diselewengkan, atau ada hukum yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah, lalu kita bersuara, kita tidak sedang menjadi pembangkang. Justru sebaliknya, kita sedang menjalankan tugas kita sebagai warga negara yang patriotik.</p><p>Pemerintah dan negara itu berbeda, mengkritik pemerintah bukan berarti membenci negara, Pemerintah adalah pelayan rakyat. Kritik adalah cara rakyat memastikan pelayannya bekerja dengan benar. Kekuasaan cenderung korup. Kritik adalah rem untuk mencegah absolutisme.</p><p>Pemerintah akan silih berganti, tetapi bangsa akan tetap ada. Rasa cinta kita pada bangsa inilah yang mendorong kita untuk tidak pernah lelah mengawal dan mengawasi siapa pun yang sedang memegang amanah kekuasaan.</p><p>Diam saat melihat kekeliruan bukanlah bentuk kesetiaan; itu adalah bentuk pembiaran yang akan merugikan kita semua dalam jangka panjang.</p><p>🍃🍂...</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1278dc3ede94" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[ : " " () - …]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/-6e358928a5f0?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6e358928a5f0</guid>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 28 Sep 2025 04:19:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-28T12:22:19.732Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>𝙍𝙚𝙫𝙞𝙚𝙬 𝙁𝙞𝙡𝙢: &quot;𝙅𝙪𝙣𝙜𝙡𝙚 𝘾𝙝𝙞𝙡𝙙&quot; (𝘿𝙨𝙘𝙝𝙪𝙣𝙜𝙚𝙡𝙠𝙞𝙣𝙙) - 𝙆𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙉𝙮𝙖𝙩𝙖 𝘼𝙣𝙖𝙠 𝙍𝙞𝙢𝙗𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪𝙖𝙝𝙖𝙢 𝙏𝙪𝙖𝙧𝙚 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙎𝙖𝙗𝙞𝙣𝙚<br>ᴏʟᴇʜ:🍃🍂</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*9qAeUJOD3quFb6dr7j15tw.jpeg" /></figure><p>Ini film Jerman tahun 2011 yang diadaptasi dari buku otobiografi Sabine Kuegler, berjudul 𝘿𝙨𝙘𝙝𝙪𝙣𝙜𝙚𝙡𝙠𝙞𝙣𝙙 (ᴀɴᴀᴋ ʜᴜᴛᴀɴ) . Saya sudah baca bukunya sekaligus nonton film nya dan saya memutuskan untuk review kisah ini dengan bahasa sederhana, seperti cerita sehari-hari, supaya mudah dipahami buat teman-teman yang penasaran sama Papua dan petualangan nya. Ayo, kita bahas pelan-pelan!</p><h3>Apa Isi Cerita Film Ini?</h3><p>Film ini bercerita tentang keluarga Kuegler, orang Jerman yang pindah ke hutan lebat Papua Barat kemungkinan Mamberamo raya atau sarmi (Indonesia) tahun 1979. Ayahnya, Klaus (diperankan Thomas Kretschmann), adalah ahli bahasa yang ingin belajar bahasa suku Fayu suku kecil yang baru ditemukan, hidup seperti zaman batu, tanpa listrik, atau kontak sama dunia luar. Dia bersama istrinya Doris (Nadja Uhl) dan tiga anak: Judith, Christian, dan Sabine yang berusia 8 tahun (diperankan Stella Kunkat sebagai anak kecil, Sina Tkotsch sebagai remaja).</p><p>Singat cerita, Sabine langsung jatuh cinta sama kehidupan rimba. Dia tidak main boneka lagi, tapi main ular, busur panah asli, dan makan serangga atau kelelawar panggang bukan permen karet! Hari-harinya penuh petualangan seperti berburu, berenang di sungai, dan berteman sama anak-anak Fayu yang polos tapi tangguh. Tapi tidak semuanya senang ibu dan kakaknya susah adaptasi sama makanan aneh, serangga, dan konflik suku Fayu yang kadang brutal (mereka punya sejarah perang antar kelompok). Keluarga ini tinggal di rumah kayu sederhana dekat kampung Fayu, dan ayahnya atur-atur: jangan ikut campur urusan suku biar aman. Ceritanya campur bahagia, susah, dan pelajaran budaya, sampai Sabine umur 17 tahun dan harus pindah ke Swiss—di situ dia kaget sekali sama dunia modern! Ini kisah nyata, berdasarkan buku Sabine yang best-seller, dan filmnya menunjukkan bagaimana hidup di dua dunia: hutan liar vs kota ramai.</p><p>Bukan fiksi Hollywood, tapi cerita asli dari Papua! Kamu akan melihat keindahan hutan, suku Fayu yang ramah tapi misterius, dan bagaimana Sabine belajar cara hormati alam. Cocok buat yang suka cerita survival seperti The Revenant, tapi lebih hangat dan edukatif. Ini bikin kita berpikir: apa arti &quot;rumah&quot; sebenarnya? Sabine bilang di bukunya, &quot;𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢&quot;.</p><p>Pemainnya natural, terutama Stella Kunkat sebagai Sabine kecil—keliatan polos dan berani. Visual hutan Papua indah sekali, hijau lebat, sungai deras, dan suara alam bikin imersif. Sutradara Roland Suso Richter pintar campur adegan lucu (main ular) sama serius (konflik suku), tanpa berlebih-lebihan. Ada aktor orang asli Papua juga seperti McPolly Koima sebagai kepala suku Fayu, yang bikin autentik. Film ini mengajarkan kita untuk berpikir bahwa—jangan menghakimi budaya lain. Keluarga Kuegler belajar dari suku Fayu soal hidup sederhana, tapi juga sisi gelap seperti perang suku. Film ini menunjukkan kekayaan adat, tapi juga tantangan modernisasi.</p><p>Durasi filmnya 2,5 jam, awalnya pelan sekali untuk menunjukkan adaptasi keluarga. Kalau kamu suka action cepat, bisa bosan di bagian harian seperti masak atau jalan di hutan. filmnya tidak se-detail buku asli, dan endingnya agak sentimentil. Ada adegan kekerasan suku (perang, cedera), kematian hewan, dan trauma adaptasi—termasuk pikiran bunuh diri Sabine saat pindah ke Eropa. Dan film ini romantisasi hidup suku Fayu, tanpa bahas pelanggaran hak asasi di Papua oleh pemerintah Indonesia, seperti penebangan hutan dan lainya sebagainya (pasca-1969).</p><h3>ᴋᴇʀɪɴᴅᴜᴀɴ Tuare ᴜɴᴛᴜᴋ sᴀʙɪɴᴇ</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/440/1*9ffzb7TM2I5GRSjgRkV31w.jpeg" /></figure><p>Film &quot;Jungle Child&quot; (2011) memang indah sekali menceritakan kisah Sabine, seorang gadis kecil Jerman yang tumbuh besar di belantara Papua pada tahun (1979-1980-an), di tengah suku Fayu. Film ini, yang diangkat dari otobiografi Sabine Kuegler, memperlihatkan hutan sebagai rumah, sungai sebagai taman bermain, dan anak-anak Fayu sebagai saudara sejati. Sabine berlari telanjang kaki, memanah, berburu, dan tertawa lepas bersama kami, anak-anak Papua, di rimba yang belum tersentuh. Ia makan serangga, memanjat pohon raksasa, dan belajar bahasa serta adat kami. Di mata kami, Sabine bukan orang asing, tapi &quot;anak rimba&quot; yang sama seperti kami. Tapi kini Sabine suda kembali ke dunia asalnya, meninggalkan hutan, meninggalkan kami. Dan kini, setelah puluhan tahun berlalu, kami yang dulu bermain bersamanya, kini sudah dewasa. Hutan yang dulu jadi saksi tawa dan air mata kami pun sudah banyak berubah.</p><blockquote>Sabine... apakah engkau masih ingat?<br>Masihkah engkau ingat suara tawa kami saatkita mengejar babi hutan?<br>Masihkah engkau ingat bagaimana aku mengajarimu membedakan buah hutan yang boleh dimakan dan yang beracun?<br>Masihkah engkau ingat hangatnya api unggun di malam hari, saat kami bercerita tentang roh hutan dan nenek moyang?<br>Masihkah engkau ingat sungai tempat kita berenang, yang airnya dingin dan jernih seperti cermin?</blockquote><p>Kami di sini, anak-anak Papua yang dulu bermain bersamamu, kini sudah menua. Kami melihat hutan yang dulu begitu luas dan perkasa, perlahan mengecil. Pohon-pohon raksasa yang dulu jadi pelindung kita dari panas dan hujan, kini banyak yang tumbang, digantikan jalan-jalan baru dan kebun-kebun yang asing. Sungai yang dulu jernih, kadang keruh oleh bekas galian tanah.</p><blockquote>Sabine, apakah engkau rindu kami?<br>Apakah engkau rindu bau tanah basah setelah hujan, yang selalu menenangkan hatimu?<br>Apakah engkau rindu suara burung-burung yang tak pernah diam, yang dulu adalah musik pengantar tidur kita?</blockquote><p>Kami selalu rindu. Rindu saat-saat kita berbagi ubi bakar, rindu saat kita saling menjaga dari bahaya rimba. Rindu saat itu, ketika hutan masih hutan, dan kami semua adalah satu keluarga di dalamnya.</p><p>Kami sering bertanya, di mana kah engkau sekarang? Apakah di sana, di duniamu yang penuh gedung tinggi dan cahaya terang, engkau masih melihat kami dalam mimpimu? Apakah engkau masih merasakan sentuhan tanah Papua di telapak kakimu?</p><p>Kerinduan kami bukan hanya pada dirimu, Sabine. Kerinduan kami juga pada hutan itu sendiri. Hutan yang kini terancam, tempat roh nenek moyang kami bersemayam, tempat anak cucu kami seharusnya bermain seperti kita dulu. Hutan yang mengajarkan kami tentang kesederhanaan, keberanian, dan kehidupan. Kami berharap, Sabine, di mana pun engkau berada, engkau tidak melupakan kami. Tidak melupakan hutan yang telah membesarkanmu. Kami berharap, suara hatimu yang terikat pada rimba ini, bisa sampai ke dunia luar. Menceritakan bahwa hutan Papua, dan suku-suku seperti kami, butuh perlindungan. Bahwa kenangan masa kecilmu, kenangan kita bersama, adalah bukti betapa berharganya kehidupan di sini.</p><p>Mungkin hutan itu tak akan kembali sepenuhnya seperti dulu. Tapi harapan kami, semoga semangat persahabatan kita, semangat cinta pada alam, bisa terus hidup. Agar anak-anak Papua di masa depan, masih bisa punya hutan untuk disebut rumah, punya sungai untuk disebut taman bermain.</p><p>Sabine, ingatlah selalu... Kami, anak-anak Papua, masih di sini. Dan hutan kami, meski banyak yang hilang, masih menyimpan kenanganmu, dan menunggu rindu yang tak pernah padam.</p><p>Selesai…….</p><p>Kalau teman-teman mau akses film ini di pacebro.com/YouTube ini sub Indo, bagus buat kita, tapi kualitasnya HD standar (bukan 4K). Kalau linknya mati, coba cari di platform legal seperti Netflix atau LK21. Film asli bahasa Jerman, subnya akurat tapi kadang cepat.</p><h3>Kesimpulan dan Rekomendasi saya</h3><p>Secara keseluruhan, Jungle Child ini film bagus 7.5/10 buat genre drama petualangan. Bukan hiburan ringan, tapi cerita nyata yang bikin hati tersentuh—terutama buat yang cinta Papua atau pengen tahu suku Fayu yang hampir punah (sekarang cuma 400 orang). Ini tribute buat kehidupan sederhana di rimba, tapi juga mengingatkan kita soal budaya yang terancam. Kalau kamu dari Merauke atau suka cerita adat Papua, pasti relate sekali! Nonton ya di linkmu, tapi siapkan tisu buat bagian emosionalnya. Heheh… Kalau sudah nonton atau mau diskusi lebih lanjut soal Papua asli vs film, cerita saja.</p><p>Saya ucapkan terimaksih kepada Tn. Roland Suso Richter yang telah mendedikasikan film ini untuk kami anak-anak papua. Harapan kami ada kelanjutan dari film ini apakah kehidupan suku Fayu dan Sabine masi sama?</p><p>Terimakasih….</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6e358928a5f0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sekumpulan prosa “Imajiner” masa depan]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/sekumpulan-prosa-imajiner-masa-depan-5fb4c1cec888?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5fb4c1cec888</guid>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 28 Sep 2025 03:47:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-28T04:22:18.931Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh: 🍃🍂</h4><p>𝙈𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙎𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1000/1*yTnuEolNggOw133rIp9y9A.jpeg" /></figure><p>𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟭: 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗦𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮<br>Bayangkan, kita punya segala macam alat dan cara untuk memenuhi kebutuhan dasar. Makanan berlimpah, tempat tinggal ada, obat-obatan makin canggih. Tapi, coba lihat sekitar kita. Apa ini yang namanya dunia impian? Jauh sekali!<br><br>Seorang ibu, tangannya kurus, mendekap anaknya yang kelaparan. Di sisi lain, makanan dibuang begitu saja. Orang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terimpit. Sakit sedikit, langsung sekarat, karena belum semua penyakit ada obatnya. Kebebasan bicara? Hanya untuk mereka yang punya kekuatan, yang minoritas tetap bungkam. Perang terus berkecamuk, menghancurkan masa depan anak-anak tak berdosa.<br><br>Sistem ekonomi kita, yang disebut kapitalis, seringkali malah bikin orang-orang kecil menderita. Korupsi merajalela, dan semua keuntungan besar dinikmati segelintir orang. Belum lagi ancaman paling besar: pemanasan global. Bumi kita semakin panas, es mencair, cuaca makin kacau. Ini bukan Cuma masalah kita, tapi juga anak cucu kita. Manusia dari dulu memang selalu mencari hidup yang sempurna, tanpa kelaparan, tanpa sakit, tanpa khawatir. Tapi sampai sekarang, mimpi itu belum juga tercapai.<br><br>𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟮: 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗣𝗮𝗿𝗮“𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴”</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/600/1*-yg-ij5fCO2xgE9T4_AvEw.jpeg" /></figure><p>Nah, karena itulah, manusia harus terus maju. Dan kunci utamanya adalah teknologi. Mari kita lihat ke depan, bagaimana para “orang penting” di dunia ini, seperti World Economic Forum, sudah punya rencana besar. Lewat pandemi kemarin, di tahun 2020, mereka bikin acara namanya “Great Reset”. Ini seperti merombak ulang dunia kita.<br><br>Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang dan perusahaan paling berpengaruh di dunia, para kapitalis kelas kakap yang menggerakkan ekonomi. Mereka mau mengubah banyak hal: ekonomi kita, cara kita bersosialisasi, hubungan antarnegara, lingkungan, teknologi, bisnis, sampai kehidupan pribadi kita.<br><br>Terserah kita mau setuju atau tidak, tapi masa depan kita memang akan dibentuk oleh para pemimpin negara besar dan para kapitalis ini. Mereka sudah punya rencana untuk merombak dunia. Salah satu alasan terbesarnya adalah pemanasan global. Ini akan mengubah dunia kita secara besar-besaran dalam beberapa puluh tahun ke depan. Mereka ingin sistem ekonomi yang lebih manusiawi, bukan Cuma menguntungkan segelintir orang, yang justru merusak masa depan kita.<br><br>𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟯: 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*7EcTgupzy14ALynHg-uTWQ.png" /></figure><p>Bagaimana dengan makanan? Akan ada teknologi baru, bioteknologi, yang bikin produksi makanan lebih efisien, biar kita tak lagi takut kelaparan karena cuaca yang makin tak menentu. Sistem ekonomi akan lebih terbuka, harapannya korupsi bisa berkurang. Pemerintahan juga jadi lebih transparan, memberikan harapan akan kesetaraan dan keadilan bagi semua.<br><br>Di era baru ini, kita semua akan punya “ID Digital”. Jadi, siapa pun yang berinternet, punya identitas jelas. Ini akan mengurangi kejahatan di dunia maya. Pandemi yang kita alami kemarin, mau tak mau, jadi momentum untuk memperbaiki sistem pemerintah dan ekonomi yang sudah bobrok ratusan tahun. Tujuannya? Menciptakan peradaban yang lebih peduli pada manusia dan alam. Dampaknya diharapkan mulai terasa sekitar tahun 2050.<br><br>Tapi ini semua bisa terwujud kalau kita semua, seluruh umat manusia, mau sepakat dan bekerja sama. Karena apa? Perpecahan dan perebutan kekuasaan selalu jadi masalah manusia sejak dulu. Kita terlalu terlena memikirkan diri sendiri, seolah tidak mendengar tangisan bumi yang sebentar lagi hancur.<br><br>Jadi, anggap saja pemanasan global ini jadi “peringatan keras” yang menyatukan kita, seperti perang besar di masa lalu. Kalau ini berhasil, mungkin kita punya harapan, tidak berakhir kacau balau kembali ke zaman batu. Kita bisa terus melaju ke arah dunia impian beberapa abad ke depan.<br><br>𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟰: 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮𝗮𝗻</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*2k9hxbUPhDgQ_zkD78VNWA.jpeg" /></figure><p>Tapi ada syaratnya, digarisbawahi tebal-tebal: dunia impian ini hanya bisa tercapai kalau semua manusia punya tujuan yang sama. Tanpa membedakan kaya-miskin, budaya, bahkan agama. Kalau tidak ada kesetaraan dan tujuan yang sama, jangan harap dunia impian itu akan terjadi. Bukankah kita sudah belajar dari sejarah?<br>Yang lebih aneh lagi, di masa depan, mungkin pemerintahan tidak lagi dijalankan oleh manusia. Kendali akan diserahkan pada “komputer pintar” atau AI. AI ini diprogram berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan alam semesta yang terbukti sudah bekerja jutaan tahun. Ini menunjukkan bahwa tanpa manusia pun, alam akan baik-baik saja. Ini bedanya ciptaan manusia yang sementara, dengan ciptaan Tuhan yang abadi. Manusia, dengan segala egonya, terbukti sering merusak, bertengkar satu sama lain. Sudah banyak sistem pemerintahan kita coba—kerajaan, sosialis, demokrasi—tapi selalu ada saja yang ingin berkuasa sendiri.<br>Jadi, AI yang memerintah mungkin lebih baik, karena tidak punya kepentingan pribadi, adil untuk semua makhluk. Tapi, saat semua manusia sepakat untuk bersatu di bawah kendali AI ini, itu juga akan jadi era yang menakutkan.<br><br>𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟱: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗧𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗦𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮 𝗜𝘁𝘂 𝗠𝗲𝗻𝗮𝗸𝘂𝘁𝗸𝗮𝗻</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*1YKo29iBfGd084vHLYy-OA.jpeg" /></figure><p>Teknologi akan luar biasa canggih. Hidup kita akan berubah total: transportasi, cara kita bersosialisasi, bisnis, industri, bahkan eksistensi kita. Semua akan setara. Kita bisa hidup awet muda dengan teknologi regenerasi sel super canggih. Kematian hanya tinggal pilihan, bukan takdir.<br><br>Bahkan bayi bisa dilahirkan di luar rahim ibu, semua gizi disediakan teknologi. Genetikanya dimodifikasi sempurna, tidak ada lagi cacat. Di dunia impian ini, manusia hanya sibuk mengejar mimpi dan imajinasi. Segala sensasi yang diinginkan bisa dirasakan langsung berkat teknologi neurosains canggih. Merasakan sukses puncak, populer, jatuh cinta, tanpa perlu berusaha keras. Kamu bisa jadi apa saja yang kamu mau, batasan hanya imajinasimu sendiri. Ini seperti surga, di mana kita tidak lagi terikat oleh tubuh fisik. Fisika pun bisa diubah-ubah, kita bisa menciptakan versi baru diri sendiri, sampai menulis ulang takdir hidup.<br><br>Tapi, benarkah manusia di fase ini benar-benar bahagia dan menemukan arti hidup? Ketika mereka bahkan tidak lagi punya harapan, karena semuanya sudah sempurna? Ketika mereka tidak tahu lagi apa yang mereka inginkan, karena semua keinginan langsung terpenuhi?<br><br>Teknologi memang dibuat untuk mempermudah. Tapi, kalau semua proses diambil alih oleh teknologi, tidak ada lagi yang tersisa untuk manusia. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada manusia yang selalu mendapatkan apa saja dengan mudah. Kalau semua keinginan langsung terpenuhi, segalanya jadi tidak berarti. Nilai itu muncul karena proses. Semakin sulit prosesnya, semakin tinggi nilainya. Semakin terbatas suatu hal, semakin berharga dia. Dan di dunia yang serba sempurna ini, di mana segalanya berlimpah dan instan, manusia justru merasa kosong, tenggelam dalam kemewahan yang mematikan jiwa.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5fb4c1cec888" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Diskusi Jurnal Wacana; “Tangan-Tangan Tidak berdaya”: Menafsir Teka-Teki Pesan Leluhur , Melampaui…]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/diskusi-jurnal-wacana-tangan-tangan-tidak-berdaya-menafsir-teka-teki-pesan-leluhur-melampaui-606c34fa42d0?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/606c34fa42d0</guid>
            <category><![CDATA[antropologia-social]]></category>
            <category><![CDATA[papua]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 Mar 2024 08:58:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-17T02:40:09.410Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>“Tangan-Tangan Tidak berdaya”: Menafsir Teka-Teki Pesan Leluhur , Melampaui Kemelut Sejarah Papua</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*0P3-IcXTqi68Tt9o2j450g.png" /><figcaption>Flayer diskusi simpul papua</figcaption></figure><p>Dari sejumlah artikel yang berfokus pada studi kritis ekologi berkaitan dengan kebijakan dan skema semu politik perampasan tanah di Indonesia, satu artikel yang tak kala menarik untuk diperbincangkan adalah “Tangan-Tangan Tidak Berdaya”: Menafsir Teka-Teki atas Pesan Leluhur, Melampaui Kemelut Sejarah Papua” (Haryanto Cahyadi, 2020). Paper ini bagian dari edisi Jurnal Wacana yang diterbitkan oleh INSISTPress pada 2020 lalu. Namun kelindan atas soal-soal itu masih tetap relevan dengan konteks Papua kiwari.</p><p>Menariknya, paper ini justru memilih sejarah sebagai “pintu masuk” untuk memotret persoalan Papua lebih jauh. Kami mencoba membaca, merenungi, dan mendiskusikannya dengan beragam perspektif kawan-kawan yang datang saat diskusi sp kemarin. Setiap detail dari kemelut Papua dipetakan satu persatu oleh si penulis. Mulai dari mitologi sampai sejarah orang Papua itu sendiri.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*56Z1tgQxQPwAVp87zZwpSA.jpeg" /><figcaption>Peserta diskusi simpul papua/doc pribadi</figcaption></figure><p>Sejarah lantas menjadi penyanggah utama dalam memahami bangunan penceritaan yang utuh tentang orang Papua dan mitologinya yang selama ini direduksi habis-habisan oleh peradaban kolonialisme di Papua. Masalah yang kita hadapi hari ini adalah; siapa dan bagaimana sejarah orang Papua itu kemudian ditulis? Pertanyaan ini sedikit banyak telah disentil dalam bagian lain paper ini oleh si penulis.</p><p>Penulis tak hanya merangkum buah pikir seorang Dirk J. Vlasblom dengan terang, tetapi juga memberikan argumentasi pemantik yang dilengkapi dengan literatur tambahan yang cukup berguna untuk ditelusuri lebih lanjut dalam mendalami persoalan Papua pada pra maupun pascakolonial. Terutama dimana banyak literatur tentang Papua yang tersedia kini justru bukan untuk memperjelas, namun mengaburkan sejarah orang Papua itu sendiri. Dan tentu saja ketelatenan semacam itu membantu kami untuk melihat Papua lebih jernih.</p><p>Menyitir Cahyadi: uraian tulisan ini berhasil “melampaui” klaim dari kalangan itu untuk orang Papua di tanah mereka: membentuk sejarah sebagai kekuatan anamnesis (ingatan) dalam rangka melampaui amnesia (kelupaan) dan out of action (ketakberdayaan) (p.261).</p><p>Terima kasih dan sampai bertemu lagi, kawan’s. Dormom!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=606c34fa42d0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[NGOPI dan NOBAR “The Young Karl Marx”]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/ngopi-dan-nobar-the-young-karl-marx-a7081ce98a85?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a7081ce98a85</guid>
            <category><![CDATA[the-young-karl-marx]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 Mar 2024 08:49:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-14T08:49:20.400Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><strong>NGOPI dan NOBAR “The Young Karl Marx”</strong></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Cm57oAEBs1DO2F-6KXyNcw.png" /><figcaption>flayer diskusi simpul papua</figcaption></figure><p>Dalam film ini, Marx digambarkan sebagai sosok tegas dan kritis. Suatu ketika, Marx mengkritik rekan-rekannya — saat hendak ditangkap — dengan pertanyaan menohok: “kalian pikir kalian Free Thinkers. Dasar badut! Tidak, Ruge! Aku lelah bertarung dengan jarum. Aku butuh palu godam! cukup sudah hipokrit, pembodohan, dan otoritas yang brutal.” Kritik Marx ini muncul seketika menepis tudingan rekan-rekannya yang menganggap penangkapan mereka itu disebabkan oleh tulisan-tulisan Marx yang kritis terhadap rezim despotik Prusia. Mereka kemudian ditangkap dan pemerintah menutup koran Rheinische Zeitung. Meski begitu, pemikiran-pemikiran Marx tetap hidup berkembang melintasi zaman.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*H6yfLhz9Eop-qujAVsS5MA.png" /><figcaption>simpul papua/doc pribadi</figcaption></figure><p>Saat ini, revolusi industri telah mengubah total kondisi manusia modern/poscamodern dan dengan sendirinya menciptakan kelas-kelas (elit) sosial baru. Batas antara penjajahan dan eksploitasi nyaris tipis. Lantas bentuk-bentuk normalisasi baru atas kondisi yang ada kian menguat di tengah masyarakat kita tanpa sedikit pun niatan untuk mempertanyakan ulang kondisi tersebut.</p><p>Film ini sedikit membantu kita untuk sadar bahawa kesadaran akan ketertindasan, ketidakadilan, eksploitasi, marginalisasi dan seterusnya adalah “denyut” utama penderitaan orang Papua yang disebabkan oleh kebijakan politik yang pincang. Karena itu, dalam sebuah perjuangan diperlukan kerja-kerja [intelektual] kolektif yang konsisten. Kerja-kerja demikian tentu tak berhenti pada visi kosong yang miskin ide dan konsep. Dengan lain kata, perjuangan tanpa literasi yang kuat adalah ilusi belaka.</p><p>Lihat bagaimana pekerja garmen abad 18–19 umumnya adalah para istri yang mesti membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, janda, dan perempuan tua yang melajang. Namun kapitalis garmen tak menggaji mereka dengan pantas dengan alasan begitu banyak orang yang jadi penjahit saat itu. Belum lagi mereka yang tak memahami cara menegosiasikan gaji karena belum ada inisiatif untuk membentuk serikat.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*d02YKx7IdFD4h26wSvQ9rw.jpeg" /><figcaption>simpul papua/doc pribadi</figcaption></figure><p>Di Papua, kondisi serupa juga terjadi di banyak tempat. Dua tahun lalu sejak Indonesia dilanda pandemi covid-19, banyak perusahaan merumahkan sebagian besar kariyawannya.</p><p>Salah satunya PT. Freeport Indonesia yang kemudian mem-PHK-an hampir seribu kariyawannya. Kondisi ini tentu bukan sebuah kebetulan belaka. Di era masyarakat kapitalisme baru, eksploitasi adalah hal yang lumrah terjadi di hampir seluruh belahan dunia meskipun terus melahirkan pertentangan di mana-mana.</p><p>Terima kasih kawan-kawan, sudah datang. Sampai ketemu lagi pada diskusi sp berikutnya!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a7081ce98a85" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[NOBAR: Film The Social Dilemma]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/nobar-film-the-social-dilemma-c90c1a60cc42?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c90c1a60cc42</guid>
            <category><![CDATA[the-social-dilemma]]></category>
            <category><![CDATA[paradoks]]></category>
            <category><![CDATA[ai]]></category>
            <category><![CDATA[teknologi-informasi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 Mar 2024 08:41:44 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-14T08:41:44.168Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*NNyqvJ7UBvcY77aK_hZN4g.png" /><figcaption>Flayer diskusi simpul papua</figcaption></figure><p>Kemajuan teknologi-informasi [yang mesti ditakar secara serius] saat ini hadir bagai dua sisi mata uang; ia memberi kemudahan sekaligus menawarkan fantasi [hasrat utk…] yang berlebih. Itu sebabnya, tak mengherankan bila relasi sosial yang dijahit oleh perkembangan teknologi mutakhir ini kerap kali menjadi rapuh bila tak diimbangi dengan literasi yang mumpuni.</p><p>Hidup kita kini hampir tak pernah berjarak dari gawai yang digenggam sehari-hari. Kita bahkan menggenggamnya dari bangun tidur hingga petang hari. Entah saat sedang makan, berbelanja di pasar, saat berkendara sepeda motor/mobil, bersekolah/kuliah hingga aktivitas Ber-doa sekali pun. Perangkat tersebut seolah menubuh dengan rutinitas manusia kontemporer — gen Z. Fenomena itu kian menguat terutama saat pandemi covid-19 menghantam berbagai penjuru dunia, tak pelak Indonesia. Mulai dari aktivitas perkuliahan; sekolah/kuliah; acara diskusi; serta acara keagamaan nyaris berlangusung secara virtual tanpa terkecuali.</p><p>Setuju-tak setuju, relasi sosial yang serba termediasi itu telah melahirkan jenis masyarakat baru — masyarakat yang dikontrol oleh algoritma. Sebuah kenyataan atas kondisi normalisasi baru yang tak terelakan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*h5z_UW4Oboh_A3gTbGqwEQ.jpeg" /><figcaption>Diskusi simpul papua di Asrma Putri, Merauke, Yogyakarta/Doc Pribadi</figcaption></figure><p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=uaaC57tcci0">Film The Social Dilemma </a>sedikit banyak mengulas itu; apa yang terjadi dengan perkembangan teknologi-AI yang begitu cepat dan bagaimana pengaruhnya terhadap mental dan psikologi manusia sekarang. Perkembangan teknologi sendiri tak hanya berkaitan dengan pengertian tenologi secara <em>An sich</em>, tapi lebih dari itu, ia melibatkan intelektualitas manusia yang secara sadar berupaya memasukan dan merekayasa pemikiran manusia itu sendiri, sehingga pada titik tertentu kita nyaris sulit membedahkan lagi bahwa apakah kita sedang menggunakan teknologi atau teknologi itulah yang sedang menggunakan kita atas nama <em>ussers</em>.</p><p>Relasi sosial yang semula bersandar pada kehidupan komunikasi verbal maupun fisik antar indivindu/komunitas tak lagi berfungsi secara nyata, melainkan sebabilknya, ia membentuk pola komunikasi baru yang justru menjadikan subjek kehilangan otonomi diri (<em>self</em>). Paling tidak, kita bisa mulai dari perkara menyangkut kepercayaan diri (<em>confidence</em>) sesorang.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*YDhAiFLC7tFLN0ajsjn7Mg.jpeg" /><figcaption>Diskusi simpul papua di Asrma Putri, Merauke, Yogyakarta/Doc Pribadi</figcaption></figure><p>Orang tak lagi mampu memanfaatkan kapasitas diri untuk tampil dalam ruang publik untuk membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan yang unik dalam bidang tertentu dan seterusnya. Sebaliknya, berbagai <em>platform</em> media sosial yang bermunculan rupanya menjawab kecemasan akut semacam itu. Percaya diri (yang semu) diproyeksikan melalui berbagai emoji dan fitur editing gambar/foto pada beragam aplikasi medsos pun mampu mengatasi hal itu, hingga orang yang <em>introvert</em> sekali pun dapat mengekspresikan perasaannya di media sosial.</p><p>Medsos lantas menjadi alat validasi paling efektif bagi sebagian orang untuk membuktikan eksistensinya dalam realitas sosial-kontemporer, dari “<em>I think therefore I am</em>” menjadi “<em>I click therefore I am</em>”. Sampai di titik ini, kita menyadari betul bahwa menguatnya andil teknologi dalam setiap jengkal hidup manusia sudah seharusnya menjadi titik balik manusia tu sendiri dalam memaknai ulang apa yang disebut dengan “interkasi sosial” itu.</p><p>Barangkali, kita mesti bertanya-tanya; apakah memang manusia ditakdirkan untuk menerima kondisi demikian sebagai solusi akhir atas merosotnya ruang sosial-publik yang serba termediasi itu?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c90c1a60cc42" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Lumbung Pangan atau, Lumbung Petaka?:]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/lumbung-pangan-atau-lumbung-petaka-2674eeef31e2?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2674eeef31e2</guid>
            <category><![CDATA[food-estate]]></category>
            <category><![CDATA[merauke]]></category>
            <category><![CDATA[pangan-lokal]]></category>
            <category><![CDATA[marind-anim]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 Mar 2024 08:17:39 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-17T05:22:54.636Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Lumbung Pangan atau, Lumbung Petaka?: Menimbang Program “Food Estate” dan “Kearifan Lokal” di Kabupaten Merauke, Papua Selatan</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ULC621RNaY4wIIRv2GbjZw.png" /><figcaption>Flayer diskusi simpul papua/doc pribadi</figcaption></figure><p>Proyek cetak sawah di Kabupaten Merauke (kini, Provisni Papua Selatan) tidak ujuk-ujuk hadir begitu saja. Kita menyadari betul bahwa gagasan cetak sawah ini semula dikenalkan Belanda melalui pembangunan <em>rice bedrifjk</em> (perusahaan padi; 1955) di Merauke. Salah satu tujuan Belanda membangun perusahaan padi di wilayah itu agar dapat mengekspor beras ke wilayah Pasifik Selatan. Namun, upaya tersebut gagal karena konstelasi politik internasional yang menyababkan Belanda harus angkat kaki dari bumi Papua (1962).</p><p>Pasca 1962, bersamaan dengan gelombang transmigrasi besar-besaran (Jawa ke Papua), ‘<em>blueprint’</em> cetak sawa itu dilanjutkan Indonesia dengan “<em>packaging</em>” yang tampak lebih menjanjikan. Gagasan tersebut muncul pertama kali di bawah rezim pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 dengan istilah Merauke <em>Integrated Rice Estate</em> (MIRE) dan kini berubah menjadi Merauke <em>Integrated Food and Energy Estate</em> (MIFFE) di rezim pemerintahan Joko Widodo.</p><p>Wacana swasembada pangan kian menguat di rezim Jokowi. Anehnya, meski didapuk sebagai negara agraris dan miritim terluas dengan corak budaya yang beragam, mengapa di negara ini pula ada upaya penyeragaman [untuk tidak bilang pemaksaan] dalam pola pangan hari-hari ini di banyak wilayah? Lebih dari sekadar heterogenitas pangan, efek perluasan wilayah budidaya padi di Merauke juga telah mengubah cara orang Papua di Merauke dalam hal produksi dan konsumsi.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*FjREHpVxbdQtECkVTfiQ6Q.jpeg" /><figcaption>Pesera diskusi simpul papua di Asrama Putri Merauke, Yogyakarta/Doc Pribadi</figcaption></figure><p>Perihal produksi sagu orang Marind, misalnya, sebagai salah satu pangan lokal, prosesnya cukup rumit dan panjang. Dibutuhkan ketelatenan untuk mengelolanya menjadi sagu siap saji. Biasanya, batang pohon sagu dibersikan terlebih dahulu, kemudian ditebang, ditokok (dihaluskan), dan selanjutnya diperas secara bertahap. Hasil perasan tersebut kemudian didiamkan untuk beberapa saat hingga mengendap menjadi tepung sagu yang siap untuk dikonsumsi (lihat film The Mahuzez). Semua alat produksi sagu orang Marind diperoleh dari hutan-alam. Begitu pula dengan tradisi orang Muyu dan Wambon di Boven Digoel, sagu yang ditebang harus ditanam kembali sebagai bentuk “syukur” kepada alam semesta yang memberi penghidupan kepada mereka. Itu sebabnya orang Papua menyebut tanah sebagai “Mama”.</p><p>Demikian juga praktik meramu. Bila sang kepala keluarga hendak meramu rusa atau babi hutan, maka ia mesti menyiapkan seluruh perkakas berburu (busur, panah, dan tombak) dengan baik, mengidentifikasi cuaca, arah angin, dan lain-lain agar ia tak pulang dengan tangan hampa — tanpa hasil buruan. Praktik semacam ini, paling tidak, mengonfirmasi satu hal bahwa, pragmatisme yang disokong oleh gagasan industrialisasi sama sekali tak menciri-khas-kan budaya kerja orang Papua di Merauke.</p><p>Perkebunan sayur perempuan Arfak melalui konsep <em>igya ser hanjob</em> adalah satu contoh menarik dalam melihat bagaimana budaya berkebun orang Papua itu berlangsung. Sebagai konsep kearifan lokal, <em>igya ser hanjob</em> mengatur zonasi wilayah pertanian dan pemanfaatannya untuk melestarikan alam. Konsep tersebut mengatur wilayah kelola yang tepat untuk keperluan pertanian subsisten dan menjamin keberlanjutan lingkungan serta keberlanjutan pangan bagi keluarga (Toansiba dkk, 2021). Praktik ini selanjutnya disosialisasikan turun-temurun oleh perempuan Arfak sebagai penjaga pengetahuan adat masyarakat Arfak.</p><p>Kita juga bisa menengok praktik OPRA (Organisasi Perempuan Adat) suku Namblong di Lembah Grime, Jayapura, Papua dalam memanfaatkan <em>kiwaji</em> — sebutan untuk peran perempuan yang ikut memberi pertimbangan dalam memutuskan sesuatu dalam adat (Sulastri dkk, 2021) dan masih banyak contoh lainnya. Kuncinya adalah ‘kesadaran’ untuk berkebun, sebab dengan berkebun itulah orang Papua “hidup.” Kesadaran dalam arti tertentu tak melulu dari atas (<em>top down</em>) melalui skema/program (seperti MIFFE) yang nampak digdaya namun sarat akan nuansa kolonialismenya — gastrokolonialisme. Karena itu program demikian tak akan berarti apa-apa bila tiang penyangganya tidak didasarkan pada pengetahuan adat orang Papua itu sendiri.</p><p>Di Merauke — dan mungkin di tempat lain — hal ini justru berbanding terbalik. Kita barangkali akan kesulitan melihat generasi muda Papua di sana — walau tak semua — yang mau berkebun lagi. Entah menanam sayur, buah, kacang-kacangan, umbi-umbian atau sagu. Berkebun seolah menjadi tugas para orang tua (Bapa dan Mama) dan bukan lagi urusan mereka: generasi muda itu. Entah kenapa penyebab budaya berkebun itu kini tak semenarik dulu, laiknya orang tua kita yang mencintai kebun.</p><p>Mengutip Kompas, Kampung Zanegi memiliki kerentanan pangan paling tinggi, terutama karena ketersediaan pangan di alam yang berkurang karena sebagian hutan mereka telah dikonversi menjadi HTI. Di sisi lain, kemampuan ekonomi mereka juga paling lemah dengan harga bahan pangan lebih mahal. Situasi ini menyebabkan buruknya kondisi kesehatan gizi masyarakat. Kasus gizi buruk pada anak-anak ditemukan di Zanegi tiap tahun, sebagian di antaranya meninggal dunia dengan berbagai komplikasi kesehatan (Nasrun Katingka, Kompas, 2023).</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2674eeef31e2" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[MASALAH PENDIDIKAN DI KABUPATEN MAPPI]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/masalah-pendidikan-di-kabupaten-mappi-f3108dd80e38?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f3108dd80e38</guid>
            <category><![CDATA[pendidikan]]></category>
            <category><![CDATA[papua]]></category>
            <category><![CDATA[mappi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 17 Aug 2023 06:43:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-08-17T06:43:37.932Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*hxpYWLq6gt_AoAADkn_GBA.jpeg" /><figcaption>Foto bersama kelompok diskusi. Doc, Simpul Papua</figcaption></figure><p>Pada tanggal 12 Agustus 2023 lalu, bertempat di Asrama Putri Merauke, Simpul Papua (SP) kembali mengadakan diskusi mingguan. Kali ini, materi dibawakan oleh kawan-kawan mahasiswa dari Kabupaten Asmat. Pendidikan adalah topik yang pilih sebagai fokus pembahasan. Paulus Koci Yawon dan Dikson Randongkir dipercayakan oleh kawan-kawan Mappi untuk membawakan materi. Mereka merupakan mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Diskusi sore itu diawali dengan pemaparan terkait letak geografis dan masalah-masalah pendidikan yang berhasil mereka identifikasikan berdasarkan pengalaman selama bersekolah dulu. Berdasarkan hasil indentifikasi, mereka menyimpulkan, ada delapan masalah dalam bidang Pendidikan di Kabupaten Mappi. Masalah-masalah tersebut yang didiskusikan bersama kawan-kawan di Simpul Papua.</p><p>Sebelum masuk ke uraian atas delapan masalah, alangkah baiknya kita mengenal Kabupaten Mappi secara singkat. Kabupaten Mappi merupakan pemekaran dari Kabupaten Merauke pada tahun 2002. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kepi, distrik Obaa. Kabupaten ini memiliki penduduk pada tahun 2021 sebanyak 108.285 jiwa, dengan penduduk terbanyak di distrik atau kecamatan Obaa, dan paling sedikit di kecamatan Yakomi. (Wikipedia)</p><p>1. KEKURANGAN GURU SEKOLAH DASAR</p><p>Kurangnya tenaga pendidik menjadi suatu masalah yang serius di Kabupaten Mappi. Mengapa demikian, karena jika tidak ada guru maka siswapun akan meninggalkan sekolah dan tidak masuk sekolah dalam kurun waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan secara serius ketersediaan guru-guru Sekolah Dasar.</p><p>2. GEDUNG SEKOLAH YANG DI PALANG</p><p>Pemalangan gedung sekolah sering terjadi disebakan oleh kurangnya pemahaman dari masyarakat setempat dan komunikasi yang kurang efektif dari dinas terkait dan pihak sekolah. Selain itu jika ada masalah antar guru dan orang tua siswa yang mempunyai hak wilayah tanah adat yang dijadikan sebagai tempat berdirinya gedung sekolah, maka sekolah tersebut akan dipalang. Untuk itu perlu ada negosiasi serta musyawara bersama agar dapat membuka kembali pemalangan sekolah tersebut.</p><p>3. GURU PNS TIDAK BERADA DI TEMPAT TUGAS</p><p>Keberadaan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tidak selalu berada di tempat tugas disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, tidak ada tempat tinggal (rumah guru). Kedua, kurangnya bahan makanan. Ketiga, tidak ada alat transportasi yang memadai. Keempat, ketidaknyamanan lingkungan tempat tinggal, serta berbagai macam alasan urusan dinas dan lain sebagainya.</p><p>4. TIDAK ADA RUMAH GURU</p><p>Rumah guru menjadi aspek penting bagi guru untuk tetap tinggal dan fokus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik di tempat tugas. Namun, realitas di lapangan berbeda. Banyak kasus menunjukkan, ketidaktersedianya rumah guru menjadi salah satu penyebab guru tidak betah di tempat tugas. Ada beberapa kasus di mana para guru yang bekerja di kampung, harus menggunakan ruang kelas yang kosong sebagai tempat tidur mereka. Untuk itu, pemerintah harus lebih memperhatikan fasilitas perumahan untuk para guru.</p><p>5. KURANGNYA KUNJUNGAN DARI DINAS PENDIDIKAN KE SEKOLAH</p><p>Kurangnya kunjungan dari Dinas pendidikan ke kampung-kampung menjadi persoalan serius. Dinas terkait akhirnya tidak mengetahui secara jelas faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar mengajar tidak berjalan dengan maksimal. Untuk itu, dinas terkait harus lebih memperhatikan dan melengkapi berbagai macam kebutuhan dan kekurangan yang adadi sekolah agar dapat memperlancar kegiatan belajar mengajar di sekolah.</p><p>6. MINIMNYA BAHAN MAKANAN</p><p>Kurangnya bahan makanan menjadi hambatan bagi parah pendidik dalam menjalankan tugas. Bahan makanan yang dimaksud ialah beras dan keperluan dapur lainnya. Biasanya, salah satu faktor yang mempengaruhi keterlambatan pengiriman kebutuhan pokok adalah medan yang sulit dan biaya transportasi yang mahal.</p><p>7. KEBERADAAN SISWA SELALU DI HUTAN</p><p>Keberadaan siswa yang selalu di hutan disebabkan oleh beberapa faktor seperti guru tidak di tempat tugas, kurangnya fasilitas sekolah seperti kursi dan meja serta ruang kelas yang belum begitu baik. Selain itu, siswa banyak yang memilih untuk bekerja membantu orang tua mereka. Orang tua berpikir, buat apa anak-anak mereka pergi ke sekolah. Toh, gurunya saja tidak ada di tempat tugas. Alangkah baiknya anak-anak mengikuti orang tua mereka bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang berharga.</p><p>8. KURANGNYA FASILITAS DI DALAM KELAS</p><p>Sarana dan prasarana menjadi aspek penting dalam menunjang dan memperlancar proses pembelajaran di sekolah. Faktanya, banyak sekolah belum memiliki saranan-prasarana yang mendukung pembelajaran. Sarana-prasarana yang dimaksud ialah, kurangnya ruang kelas, kekurangan meja dan kursi, buku-buku cetak serta LKPD “Lembar Kerja Peserta Didik” dan papan tulis yang baik. Hal ini juga menjadi suatu permasalahan yang perlu diperhatikan dan dibenahi oleh Dinas Pendidikan.</p><p>Terima kasih. Dormom</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f3108dd80e38" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kerusakan Lingkungan (hutan) dan Masyarakat Adat di Boven Digoel]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/kerusakan-lingkungan-hutan-dan-masyarakat-adat-di-boven-digoel-8a0bea557f66?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8a0bea557f66</guid>
            <category><![CDATA[boven-digoel]]></category>
            <category><![CDATA[papua]]></category>
            <category><![CDATA[masyarakat-adat]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 16 Aug 2023 17:55:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-08-16T17:55:37.022Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*_heVynNOBrG_Ro0Qi7Slig.jpeg" /><figcaption>foto bersama peserta diskusi Simpul Papua. Doc. Simpul Papua</figcaption></figure><p>Sabtu, 05 Agustus 2023 kemarin, SP kembali mengadakan diskusi di Asrama Putri Merauke, Yogyakarta. Diskusi kali ini dibawakan oleh kawan-kawan mahasiswa dari paguyuban Boven Digoel, Kota Studi Yogyakarta. Topik yang dibahas mengenai Kerusakan Lingkungan dan Masyarakat Adat di Boven Digoel. Kerusakan lingkungan yang dimaksud ialah kehadiran perusahaan-perusahaan sawit yang merusak hutan dan budaya masyarakat adat. Fenomena tersebut menjadi masalah serius di Papua. Khususnya di wilayah adat Anim-Ha dan terlebih khusus di Boven Digoel. Kehadiran perusahaan-perusahaan secara masif berdampak pada hilangnya hutan primer. Tak hanya itu, hutan yang merupakan tempat dilaksanakan segala ritual kepercayaan pun turut hancur. Selain itu, kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut berdampak pada tercemarnya lingkungan.</p><p>Wiliam Kerok selaku pemateri menjelaskan, sebagian masyarakat masih bergantung pada alam. Bagi masyarakat Papua, hutan adalah mama yang memberikan hidup. Jika hutan dirusak, maka mereka akan kehilangan sumber kehidupan. Tambahnya, hutan bukan cuma pemberi kehidupan, melainkan tempat bersemayam kebudayaan manusia Papua. Pemerintah mempunyai peran penting untuk melindungi hutan dan manusia yang tinggal di dalamnya. Dalam diskusi kali ini, disoroti pula bagaimana mudahnya izin-izin dikeluarkan untuk perusahaan. Pada titik ini, mereka mempertanyakan alasan gampangnya izin-izin dikeluarkan untuk perusahaan beroperasi. Selain itu, disoroti pula minimnya (jika tak mau dibilang tidak ada) komunikasi antara pemerintah dan masyarakat adat sebelum mengeluarkan izin kepada perusahaan yang akan beroperasi di wilayah adat mereka. Kejadian tersebut dapat dilihat dari sikap masyarakat adat Auyu dalam menggugat Perusahaan PT. Indo Asiana Lestari.</p><p>Mudahnya pemberian izin disinyalir sebagai bentuk dukungan pemerintah, baik daerah maupun pusat, terhadap perusahaan yang merusak hutan di Papua. Melihat fenomena tersebut, terang masyarakat tak sepakat. Bagi masyarakat, hutan telah memberi mereka hidup. Mereka bertanya, jika hutan digundulkan, mereka harus berharap ke siapa? Apakah pemerintah dapat memberi mereka makan setiap saat? Apakah pemerintah dapat memenuhi segala kebutuhan hidup mereka? Pertanyaan tersebut hadir, karena bagi masyarakat adat, hutan telah mencukupi kebutuhan hidup mereka selama ini.</p><p>Perlu diingat, kerusakan alam di wilayah adat Anim-Ha bukanlah hal baru. Kerusakan tersebut telah terjadi sekitar tahun 1990-an. Sejak saat itu, secara perlahan, hutan-hutan di wilayah adat Anim-Ha mulai dibabat habis untuk kepentingan bisnis.</p><p>Wiliam Kerok selaku pemateri pada diskusi kali ini mengatakan, mahasiswa Papua, khususnya mahasiswa wilayah adat Anim-Ha harus membangun kesadaran terkait realita yang terjadi di Papua dan secara khusus di wilayah adat Anim-Ha Kabupaten Boven Digoel. Dia menjelaskan, mahasiswa harus serius belajar pada bidang yang telah diambil dan dikontekstualkan pada persoalan di daerah. Dia berpesan, untuk generasi Papua di manapun berada, agar tidak abai terhadap situasi yang terjadi di daerah. Dormom</p><p>Yogyakarta, Asmer 05 Agustus 2023</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8a0bea557f66" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pendidikan di Kabupaten Asmat]]></title>
            <link>https://medium.com/@simpulpapua/pendidikan-di-kabupaten-asmat-5d6b066f610d?source=rss-c890a281989a------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5d6b066f610d</guid>
            <category><![CDATA[asmat]]></category>
            <category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
            <category><![CDATA[papua]]></category>
            <category><![CDATA[pendidikan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[simpul papua]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 15 Aug 2023 07:21:54 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-08-15T07:21:54.242Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*U1Wg_mUqVeT5e1AJDvIpvg.jpeg" /><figcaption>foto bersama Simpul Papua. Sumber: Simpul Papua</figcaption></figure><p>Sabtu, 29 Juli 2023 kemarin, SP kembali mengadakan diskusi di Asrama Putri Merauke, Yogyakarta. Masih dengan topik yang sama, pendidikan. Diskusi kali ini dibawakan oleh kawan-kawan Paguyuban Asmat. Siapa yang tak kenal Asmat, sebuah wilayah di ujung selatan Papua yang dijuluki “kota seribu papan” itu penuh dengan tangan-tangan perkasa. Kota dengan manusianya yang mampu menyulap bongkahan kayu menjadi buah maha karya yang dahsyat. Karya-karyanya bahkan telah malang-melintang dari Papua hingga Eropa.</p><p>Kabupaten Asmat memiliki kontur geografi yang menarik sekaligus penuh tantangan. Di kota ini, kamu akan melihat pejabat eksekutif dan legislatif berjalan kaki persis di depan batang hidungmu. Mereka tidak menggunakan Pajero atau Honda Jazz lazimnya kota-kota lain di Indonesia. Sebab kota ini dibangun di atas permukaan air dengan ribuan bilahan papan — meski upaya untuk “membetonisasi Asmat” kini datang dari segala sisi.</p><p>Nyaris 20 tahun pemerintahan Kabupaten Asmat berjalan sebagai daerah otonomi baru. Namun masih menyisakan hal serius yang paling mendasar seperti pendidikan. Indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Asmat tahun 2021 adalah 51,29 dan 52,22 pada 2022 (BPS Indonesia, 2021–2022), di bawah rata-rata angka maksimum. Meski begitu, IPM tersebut harus diakui bisa dipicu oleh beragam faktor. Sebab hampir semua wilayah Anim-Ha (dan mungkin tanah Papua) cenderung punya corak persoalan yang beragam, kendati dalam satu isu: pendidikan. Dalam konteks Asmat, salah duanya adalah infrastruktur dan geografi wilayah yang kerap menjadi satu tantangan tersendiri.</p><p>Lena Aitan, mahasiswa psikologi asal Kabupaten Asmat dalam diskusi SP kemarin menyebut; kalau rata-rata siswa putus sekolah di Kabupaten Asmat berada pada usia sekolah dasar. Dalam studinya tentang pendidan di Asmat, ia menemukan bahwa rata-rata siswa putus sekolah sebanyak 25 persen (Nafi’an, idntimes 2022) dari total 136 sekolah dasar di Kabupaten Asmat (Dapodik Kemendikbudristek, 2022/2023). Alasan yang kerap ditemui adalah tidak adanya dukungan dari keluarga; orang tua.</p><p>Lena bilang, kalau nilai jual gaharu yang realtif ‘tinggi’ kerap menjadi salah satu penyebab orang tua menjadi tidak fokus terhadap pendidikan anak. Sehingga tidak jarang para orang tua justru melibatkan anak untuk mencari gaharu atau meramu. Sementara waktu yang dihabiskan bahkan bisa setahun di dalam hutan. Akibatnya, anak mereka ketinggalan mata pelajaran dan itu artinya harus mengulang pada kelas yang sama dengan usia yang relatif sudah menjelang 14 hingga 18 tahun. Kondisi ini acap kali berdampak pada serapan tenaga kerja di Kabupaten Asmat, terutama bila itu berkaitan kerja-kerja birokrasi dan perusahaan yang menuntut legalitas administratif seperti ijazah. Sehingga, biasanya untuk mengejar ketertinggalan semacam itu, maka pilihan yang paling mungkin adalah mengikuti penyetaraan atau paket: A, B, C dst.</p><p>“Kalau dirunut akar maslahahnya itu ada pada kelaurga,” ucap Lena. Menurutnya, sejak kecil anak itu tidak diberikan kesempatan untuk mengakses sumber-sumber bacaan dan tulisan. Sehingga faktor lingkungan dan mindset orang tua juga berkontribusi pada perkembangan belajar anak kedepannya dengan baik. Misal, beberapa tahapan dalam literasi yang seharusnya dicapai oleh anak-anak, seperti: pengenalan alfabet termasuk bagaimana suatu huruf itu dibunyikan dan seperti apa bentuknya dst. Tahap berikutnya yaitu, penguasaan terhadap kosa kata, kelancaran membaca, hingga pemahaman terhadap suatu bacaan nyaris masih belum bisa.</p><p>Meski demikian, Lena pun mengaku kalau pola belajar anak-anak Asmat tak dapat disamakan dengan anak pada umumnya. Jika menggunakan metode pembelajaran secara umum yang mengharuskan siswa duduk 3–4 jam di dalam kelas, justru membuat mereka cepat merasa lelah dan bosan. Pada titik ini, pendidikan itu seperti kata Psikolog Amerika, Lee Shulman: “bila filsafat bermula dari rasa ingin tauh, pedagogi biasanya bermula dari frustrasi.” Namun yang membuatnya paling menjengkelkan adalah jarangnya waktu dan pelatihan yang diberikan kepada para guru untuk memahami lebih banyak tentang hal tersebut; konteks dst.</p><p>“Anak-anak Asmat tidak terbiasa berdiam diri untuk waktu lama di kelas, dan tentu itu sangat membosankan bagi mereka,” ucap Lena. Menurutnya, kebiasaan itu memang terbentuk dari kondisi lingkungan dimana tempat anak-anak Asmat bermain dan hidup; memancing ikan, bermain perahu, mengikuti orang tua meramu dst. Bermain dan belajar di ruang terbuka adalah dunia mereka, anak-anak Asmat itu.</p><p>Dormom</p><p>Yogyakarta, ASmer 29 Juli 2023.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5d6b066f610d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>