<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Adelia Tan on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Adelia Tan on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@sweet.tan?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*t3kGWZyKR62NZr7GHLInFg.jpeg</url>
            <title>Stories by Adelia Tan on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@sweet.tan?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 24 May 2026 07:58:09 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@sweet.tan/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[As a final.]]></title>
            <link>https://medium.com/@sweet.tan/as-a-final-21a24cf8d06b?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/21a24cf8d06b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Adelia Tan]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 02 Apr 2026 13:40:17 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-02T13:40:17.777Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ZqVXC9EurCOZkTOd55j8Ww.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@karlhornfeldt?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Karl Hörnfeldt</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/a-couple-sitting-on-a-bench-sGuhhUw8k5E?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Letting you go was never an option. But hurting each other because we didn’t have the energy to do right by each other wasn’t an option, either. I had to stop chasing your love and start giving it to myself — and I suspected you needed to do the same.</p><p>If you asked me something, I’d tell you I did it all on my own. And this is my final act of love for you. So that you have the space to heal and continue your journey, reach your dream, I’m letting you go.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=21a24cf8d06b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[MINTUNA]]></title>
            <link>https://medium.com/@sweet.tan/mintuna-ca2ed4d60d99?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ca2ed4d60d99</guid>
            <category><![CDATA[romance]]></category>
            <category><![CDATA[lovestory]]></category>
            <category><![CDATA[mate]]></category>
            <category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
            <category><![CDATA[classics]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Adelia Tan]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 25 Dec 2022 06:31:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-12-06T09:47:47.188Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>– <em>A classic romantic trope from Java</em></blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Nr5j79ve6uNiDGWAMDB0uA.jpeg" /><figcaption>Tugu Jogja via Unsplash</figcaption></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*vErUryNBMc3QQh14-xNKfQ.jpeg" /><figcaption>Mintuna / horsheshoe crab via Unsplash</figcaption></figure><p>To fall in love is easy, even to remain in it is not difficult; our human loneliness is cause enough. But it is a hard quest worth making to find a comrade through whose steady presence one becomes steadily the person one desires to be. Ada ujaran dari orang Jawa yang kurang lebih seperti ini, “<em>Dadio pasangan pindha Mimi lan Mintuna</em>”, <em>“Sejatinya, pasangan itu, selalu bersama-sama, tak terpisahkan oleh ruang dan waktu, saling menjaga hingga maut memisahkan”.</em></p><p>— — —</p><p>Writing about <strong>Tenor</strong> Kama Rahargi has always been a fun activity for <strong>Reta</strong>nia Kana Lukali to do. Because there, Tenor will always end up being hers. Without exception. This is just two lovers were never meant for each other, but destiny found its way anyway. This is a story of winter coming after autumn, which will bring a cold blustery day, or even a blizzard.</p><p><em>“Sejak awal memang kamu, Ta. Ini semua mudah diucapkan daripada dilakukan. Tapi semua benar adanya: titik perjalanan aku dimulai dari kamu. Aku menginginkan kamu dengan cara apapun aku bisa mendapatkan kamu. Aku akan terus memilih dan mengejar kamu bahkan di kehidupan manapun yang Tuhan beri untuk aku. Kamu yang buat duniaku lebih berwarna, dan aku ingin menjadi orang yang cukup beruntung, untuk bisa menjaga kamu selama sisa hidupku.” — Tenor</em></p><blockquote>Adelia Tan; 2024</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ca2ed4d60d99" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[DISCOVER THE UNKNOWN — Malino]]></title>
            <link>https://medium.com/@sweet.tan/discover-the-unknown-malino-bbc223464cb5?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bbc223464cb5</guid>
            <category><![CDATA[explore]]></category>
            <category><![CDATA[sulawesi-tengah]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Adelia Tan]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 23 Oct 2022 15:14:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-08-01T16:37:36.559Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>DISCOVER THE UNKNOWN — Malino</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*oXBbFWaLDFdpSsF7E5E8xg.jpeg" /><figcaption>Tarik Sampan di Pelabuhan Malino</figcaption></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*DdzUX5eeS5LTN74Zd8UrJQ.jpeg" /><figcaption>Laut Sulawesi</figcaption></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tsPd7ij5Wn7Ul6qbrVJKbQ.jpeg" /><figcaption>Pulau Papan</figcaption></figure><p>Hallo semuanya! <em>Flashback</em> bareng yuk!! Ini sedikit agak telat sih, tapi aku pengen cerita nih pengalaman aku selama KKN di Sulawesi Tengah. Yuk simak sedikit ceritaku!</p><p>Aku bersama tim ku melaksanakan KKN di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Tojo Una-Una, kecamatan Batudaka, sub unit Desa Malino. Kepulauan Togean merupakan wilayah kepulauan yang terletak di Teluk Tomini. Oh ya! sekarang ini Kepulauan Togean berencana untuk bermekar menjadi Kabupaten DOB atau Daerah Otonomi Baru, Kabupaten Pulau Togean, loh!</p><p>Desa Malino, merupakan desa yang terbentuk sekitar tahun 2003 dimana desa ini pada awal merupakan daerah hutan, namun masih berada dalam wilayah Desa Molowagu sebagai desa induk sebelum pemekaran. Desa Malino terletak di Kecamatan Batudaka, Kabupaten Tojo Una-Una yang mana memiliki luas wilayah ± 25.401 km² yang terbagi dalam 2 dusun.</p><p>Di sana masyarakatnya terdiri dari campuran berbagai suku. Dimulai dari paling banyak Suku Ta’, lalu suku Bare’e, suku Kaili, suku Mandar, dan suku Gorontalo.</p><p>Kehangatan masyarakat dan kekayaan alamnya yang sangat luar biasa melimpah menyambutku ketika pertama kali aku dateng ke sana.</p><p>Banyak sekali kegiatan yang kita lakukan di sana. Semua dari 8 anak yang melaksanakan KKN di Desa Malino memiliki sekurang-kurangmya 5 program kerja yang dijalankan. Kami memetik banyak sekali pengalaman dan pembelajaran dari baik setiap kali program maupun kegiatan lain yang kami lakukan bersama dengan penduduk setempat. Untuk aku sendiri, aku berhasil menjalankan 5 program dengan 3 program pokok tema dan 2 program kerja non tema.</p><p>Pertengkaran, rasa marah, kesal, tangis, haru, canda, gelak tawa, dan berbagai hal random lainnya menjadi bumbu yang rasanya sangat umami jika dirasakan selama hampir 50 hari merasakan tinggal di tempat yang indah dan penuh kehangatan ini.</p><p>Ini adalah keseruanku ketika aku melaksanakan KKN bersama teman-teman dan warga Desa Malino.</p><p>Yuk ikutin ceritaku selama 50 hari di Malino!! Jangan lupa untuk baca part selanjutnya dari sini ya!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bbc223464cb5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Eps. 1 —aku, kamu, dan semua yang harusnya terjadi di antara kita]]></title>
            <link>https://medium.com/@sweet.tan/eps-1-aku-kamu-dan-semua-yang-harusnya-terjadi-di-antara-kita-b8c42b47382a?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b8c42b47382a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Adelia Tan]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 01 Sep 2022 04:20:50 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-09-06T15:42:00.116Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*7ULxxmVOWWruXMR_YEEWPA.jpeg" /><figcaption>Togean Island, Sulawesi Tengah</figcaption></figure><p>“Dhista pergi ke ujung samudera untuk melarikan diri, namun dia justru bertemu dengan Harris−seorang Ketua Mapala yang tengah melakukan riset di sana; sekaligus bekas senior SMA yang pernah menolak perasaannya.”</p><p>— -</p><p>Pukul 02.00 dini hari. Dhista mematikan layar komputer yang terakhir kali ia pakai untuk mengunggah “<em>Makanan Berserat, Kunci Menua dengan Sehat… Katanya</em>” pada laman yang sering dia gunakan untuk unjuk kebolehannya dalam bercerita tentang banyak sekali hal menjadi sebuah karya tulisan.</p><p>Perasaan gelisah menyeruak. Dia belum sempat menyiapkan berbagai keperluan keberangkatannya kali ini mengikuti ekspedisi ke Sulawesi Tengah. Salah satu tempat yang sudah sejak lama ingin ia kunjungi pada tahun lalu, namun karena satu dan banyak hal ia gagal mendapat izin menjalankan ekspedisi tersebut. Alhasil, ia harus berangkat ke Bali pada saat itu, tempat yang sudah sangat sering dia kunjungi walaupun sekedar untuk berlibur ataupun memang ada sesuatu yang sedang dicari di sana. Namun hal itu tidak menjadi masalah besar baginya. Menurut Dhista, keindahan yang disajikan oleh Pulau Dewata selalu bisa membuatnya takjub akan isi dunia seberapa kalipun dia datang berkunjung ke tempat tersebut.</p><p>Dhista menghela napas gusar. Pasalnya dia baru dapat menyiapkan keperluan untuk keberangkatannya itu 3 jam sebelum jadwal penerbangan. Biasanya dia sudah selesai melakukan <em>packing</em> satu hari sebelum pergi. Akan tetapi, sialnya tiga hari terakhir, tugas dari kampusnya tidak bisa dihindari. Revisi proposal dari tugas akhirnya membuatnya ingin meledak. Dhista adalah penulis yang cukup handal. Dia beberapa kali menyabet piala dalam berbagai kejuaraan menulis seperti esai dan karya tulis ilmiah. Namun tetap saja. Tugas akhir adalah kasus yang berbeda dan tidak bisa dihindari. Maka dari itu, perlu usaha ekstra untuk Dhista bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Belum lagi target tulisan pada laman blognya yang harus dia unggah terakhir kali sebelum kehilangan jaringan saat pergi nanti.</p><p>Tetapi di sini lah sekarang Dhista. Ia dan timnya baru saja menjejakkan kaki di terminal <em>Yogyakarta International Airport</em>. Melirik ke sekitar, Dhista mencoba mencari keberadaan Sean, salah satu temannya dari Yogyakarta yang ikut dalam perjalanan kali ini. Tapi melihat ke sudut manapun, yang ditunggu-tunggu tidak juga menunjukkan dirinya.</p><p>— -</p><p>Dhista memiliki daftar panjang nama orang-orang yang tidak ingin ditemuinya lagi hingga ajalnya datang. Ada satu nama teratas yang berada pada puncak <em>list</em> tersebut. Manusia yang kini berada tepat di depannya, Dhista masih ingat dengan pasti wajah orang itu, <em>selalu</em>.</p><p>Dia mana mungkin lupa dengan manusia yang pernah menolak cintanya dulu sewaktu masih sekolah menengah atas. Sekalipun orang itu kini berpenampilan sebagai pria matang berusia tiga puluh tahunan, tapi <em>tetap saja</em>. Sorot tajam yang berpendar dari balik kacamatanya masih sama seperti yang <em>dulu</em>. Sama halnya dengan senyuman yang sialnya membuat Dhista terjebak dalam cinta monyet memuakkan hingga dia berakhir seperti budak cinta yang mengejar-ngejar Harris Setya Bramantyo seperti orang bodoh. Mengingatnya saja membuat Dhista merasa ingin muntah oleh ingatan-ingatan tentang betapa noraknya dia saat itu.</p><p>Tidak ada yang berani menyangka, terulangnya kembali pertemuan yang sangat dia hindari. Dhista tidak tahu arah berlari. Pun seakan lupa bagaimana cara dia mengangkat kaki — seperti pertama kali mulai bisa merangkak saat masih kecil, dirinya bungkam dan mematung. Manusia itu berjalan ke arahnya, “Permisi Kak, apa Anda juga merupakan tim ekspedisi ke Sulawesi Tengah? Mohon maaf lancang bertanya karena saya melihat Anda memakai <em>co card</em> yang sama dengan saya, jadi saya pikir– “.</p><p>“Bukan,” Dhista menanggapi sapaan orang yang baru saja ia temui sesampainya ia di bandara tersebut. “Sepertinya Anda salah orang”.</p><p>“Oh ya kah? Kalau begitu, maaf saya sudah salah or-”</p><p>“Dhis!! Tim ekspedisi udah pada naik ke lantai 3, lo ke mana aja dari tadi gue cari ngga ketemu-ketemu?!” <em>Sial, sial, sial</em>, rapalnya di dalam hati. Dhista seakan ingin menerkam temannya yang dengan seenaknya datang dalam kondisi yang sangat memalukan ini. Rencananya untuk berpura tidak mengenali orang yang mengajaknya berbicara ini gagal. Dhista rasanya ingin mengubur dirinya dalam-dalam, langkah kakinya hampir saja terangkat untuk kembali pulang dan menyisakan penyesalan untuk sekali lagi mengorbankan tujuan ekspedisi yang sudah sejak lama dia nanti-nanti, hingga suara seseorang terlebih dahulu menginterupsi niatnya.</p><p>“Gendhista Canti Maheswari, 11 MIPA 2. Lama ngga ketemu, Dhis. Ini gue Harris, masih inget kan?”. Tubuhnya kaku. Namun senyum manis yang pria tampan itu tampakkan nyatanya mampu membuat jantungnya ingin meledak. Tatapan hangat lelaki itu tepat bersirobok dengan matanya. Jabatan tangan yang pria itu ulurkan, sekali lagi Dhista sambut tanpa dapat berpikir dengan rasional. Rasanya ia ingin sekali memaki orang yang berdiri tepat didepannya sekarang. Dia ingin mengatakan bahwa ia telah berusaha melupakannya dengan susah payah hingga nekat mencoba memacari orang lain tanpa rasa sayang. Ia ingin sekali berteriak kepadanya betapa ia marah, ia <em>rindu</em>.</p><p>Sejak awal Dhista tahu, pertemuannya dengan Harris adalah buah dari kesialan semesta. Namun ketika semesta menawarkan Dhista untuk menjauh dan pergi dari pemuda itu, Dhista justru dengan bodohnya memutuskan untuk terlibat lebih jauh.</p><p>— -</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b8c42b47382a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[TOGEAN “BETWEEN” US — Draft, 2022.]]></title>
            <link>https://medium.com/@sweet.tan/togean-between-us-draft-2022-b3fa92e3137e?source=rss-ad9bd578fab0------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b3fa92e3137e</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Adelia Tan]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 22 Aug 2022 12:48:59 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-08-22T12:48:59.496Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>TOGEAN “BETWEEN” US <strong>— Draft, 2022.</strong></h3><blockquote><strong><em>at, into, or across the space separating; in the time, space, or interval that separates; in intermediate relation to; serving to connect or unite in a relationship; in confidence restricted to;</em></strong></blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*J30pRQ_imI9rZlV7gqmJew.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*cXOuc5jpl098jAq-AHQtDw.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tGMPV4OyJ76SnNpT7Va_uA.jpeg" /><figcaption>Togean, Sulawei Tengah, Indonesia</figcaption></figure><blockquote>“Katanya, pertemuan pertama selalu adalah bentuk kebetulan. Namun, bagaimana cara menjelaskan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya? Bukan aku atau kamu. Karena pada akhir cerita ini, mengucap selamat tinggal bukanlah berarti apa-apa. Dalam rentang waktu dan ruang, setelah semua pertanyaan dan perpisahan, memang adakah pertemuan selanjutnya antara kita? Apapun itu, kapanpun itu, di manapun itu, aku sampaikan terima kasih dan rindu itu sekarang.”</blockquote><blockquote><strong>LOCATION</strong></blockquote><p>1. Togean, Sulawesi Tengah</p><p>2. Yogyakarta</p><blockquote><strong>MAIN CAST</strong></blockquote><p><strong>Kaelendra Nalen Prahasta — KAEL</strong></p><p>“Jatuh cinta itu perkara timing, tapi komitmen adalah sampah” — Kaelendra Nalen Prahasta, rekor pacaran terlama; dua bulan sebagai pria cadangan. Kesimpulan, brengsek.</p><p><strong>Matheo Anangku Respati — THEO</strong></p><p>“Saya siap ngajak anak tante keliling dunia tanpa lecet” — Matheo Anangku Respati, pernah ditolak cintanya di lapangan sekolah saat SMA; rekor pacaran terlama; 3 tahun kandas baik-baik karena saling bosan. Kesimpulan, menantu idaman ibu mertua.</p><p><strong>Harris Setya Bramatyo — HARRIS</strong></p><p>“Orang-orang jatuh cinta dengan cara yang aneh dan misterius.” — Harris Setya Bramantyo, mengutip penggalan terjemah lagu Thinking Out Loud dan dirombak sedikit agar tidak terlihat <em>copy paste</em>. Kesimpulan, pria payah.</p><p><strong>Noah Dias Jatmiko — JATMIKO</strong></p><p>“Mengerjakan segala sesuatu harus berorientasi masa depan walaupun kadang tidak menghasilkan apa-apa” — Noah Dias Jatmiko, <em>motto</em> hidup seseorang yang masih bisa tersenyum manis dengan lesung pipitnya meski anjing sudah mengambil daging <em>barbeque</em>nya. Kesimpulan, si<em> perfectionist</em>.</p><p><strong>Sean Galuh Alodie — SEAN</strong></p><p>“Dahyatnya pesona pria matang” — Sean Galuh Alodie, si paling cantik nan molek, pintar memasak, terakhir pacaran SMA, ada darah Bali dari Ibu. Kesimpulan, serba anggun.</p><p><strong>Gendhista Canti Maheswari — DHISTA</strong></p><p>“Orang dulu bilang, kalau bisa niup biji dandelion dengan satu tarikan napas, maka orang yang kita suka akan balas perasaan kita” — Gendhista Canti Maheswari, si cantik dari Jogja, banyak yang suka tapi milih yang ngga ada kejelasan. Kesimpulan, baperan.</p><p><strong>Natasha Diandra Auli— NATASHA</strong></p><p>“Jangan pernah membiarkan seseorang menjadi prioritas kamu sementara kamu jadi pilihan mereka.” — Natasha Diandra Auli, si cewek bumi yang galak minta ampun, pernah jadi pilihan kedua, hobi godain banyak orang termasuk temen-temennya sendiri. Kesimpulan, genit.</p><p><strong>Riri Sieva Diana — RIRI</strong></p><p>“Gak ada bahu pacar masih ada bahu jalan buat nyandar” — Riri Sieva Diana, si paling estetis, si paling true love, si paling misterius, manusia yang kalau banyak kerjaan pasti cemberut, kalau ngga ada kerjaan senyum terus :) Kesimpulan, <em>she just is.</em>.</p><blockquote><strong>NOTES</strong></blockquote><ul><li>Fiction;</li><li>Narration, semi-baku;</li><li>Might contain: harsh words, sad scenes, trigger warning;</li><li>Please leave your feedback, it will be much appreciated;</li><li>Additional notes &amp; other casts will be revealed as the story progresses.</li></ul><blockquote>ENJOY!!!</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b3fa92e3137e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>