<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Tyas Palar on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Tyas Palar on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@tyas.palar?source=rss-96270bb653c5------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*DwXQQZdgQ5-o5adPVg0Hmg.jpeg</url>
            <title>Stories by Tyas Palar on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar?source=rss-96270bb653c5------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 04 Jun 2026 22:02:18 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@tyas.palar/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Sedikit catatan tentang 86 -eighty-six- volume 3 edisi bahasa Indonesia]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/sedikit-catatan-tentang-86-eighty-six-volume-3-edisi-bahasa-indonesia-77ff9b2b69da?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/77ff9b2b69da</guid>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[translation]]></category>
            <category><![CDATA[86-eighty-six]]></category>
            <category><![CDATA[indonesian-language]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 16 Dec 2024 04:41:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-16T04:41:06.053Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="Rows of light novels on the shelves of a Gramedia store." src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*6RH66334PoY3byZ91VW0Ew.jpeg" /></figure><p>Beberapa hari lalu saya iseng memasuki salah satu cabang Gramedia, dan terkagum-kagum sejenak menatap berderet-deret <em>light novel </em>edisi bahasa Indonesia terpampang di sejumlah rak. Sampai beberapa tahun lalu, rasanya melihat yang seperti ini masih impian saja. Senang sekali sekarang semakin banyak <em>light novel </em>yang diterbitkan, termasuk salah satu serial yang paling saya sukai, <em>86 -eighty-six-</em>. Secara garis besar, terjemahannya bagus dan enak dibaca. Angkat topi juga untuk penerjemahnya, yang sepertinya harus cukup banyak melakukan riset istilah-istilah militer dan peperangan yang bertaburan di dalam cerita. Namun, izinkan saya memberikan catatan juga ya soal terjemahannya, terutama untuk volume 3 kali ini.</p><p>Menurut saya, penerjemah (dan tentunya juga penyunting, karena buku yang telah jadi seharusnya juga telah melewati tangan penyunting) seharusnya bisa lebih luwes dalam menerjemahkan agar tidak perlu sampai menambahkan catatan-catatan kaki yang tidak perlu. Iya, catatan kaki memang sangat bisa membantu ketika ada istilah-istilah yang tidak bisa diakali dalam teks. Akan tetapi, ketika harus sering-sering menoleh ke catatan kaki, apalagi kalau ternyata catatan kakinya bukan hal yang penting-penting amat atau sebenarnya bisa ditambahkan ke dalam teks dengan bantuan tanda pisah, misalnya, pembacaan bisa jadi cukup terganggu karenanya.</p><p>Berikut saya beri dua contoh, ya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*mapizju2BiFXPUXTOGeKoQ.jpeg" /></figure><p>Menurut hemat saya, daripada menambahkan catatan kaki yang toh juga kemungkinan tidak banyak berarti bagi orang yang tidak menguasai bahasa Jepang, cukup menerjemahkan surat Nina dengan gaya anak-anak yang masih salah-salah menulis dalam bahasa Indonesia. Bukan salah dicari-cari begitu. Perhatikan bahwa kalimat-kalimatnya sendiri sebenarnya cukup formal dan susah untuk anak umur 6 tahun. Kalau dalam bahasa Jepang bagian tersebut terlihat sebagai tulisan anak karena tidak pakai kanji susah, ya seharusnya dalam bahasa Indonesia dipikirkan apa yang secara wajar menunjukkan surat itu hasil tulisan anak. Tidak perlu ada catatan kaki menerangkan aslinya dalam bahasa Jepang apa. Seharusnya dari terjemahan saja pembaca bisa menangkap “sudut pandang anak kecil” itu tanpa perlu mengecek catatan kaki segala.</p><p>Ngomong-ngomong, dalam edisi bahasa Inggris, bagian ini ditulis begini: “<em>There was a </em>nyooz <em>report on TV about the situation in the </em>westin <em>front and how the </em>Federasee millytawy <em>pushed back a lot of Legion that attacked it</em>.” Kalimatnya cenderung sederhana, tapi mengandung salah-salah eja khas anak-anak.</p><p>Ini contoh lain yang cukup mengganggu saya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*h1PoBvYbjFZegKvgAdj-AQ.jpeg" /></figure><p>‘Senpai’ tetap dipakai, disertai catatan kaki yang menerangkan bahwa itu sebutan untuk senior di Jepang. Iya, tetapi ini bukan di Jepang? Ini di Federasi Giad? Asato Asato menggunakan kata ‘senpai’ jelas karena dia menulis dalam bahasa Jepang. Ketika diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia, ya yang harus dipikirkan adalah: cerita ini tidak berlatar di Jepang, sehingga menggunakan istilah-istilah khas Jepang begitu justru jadi janggal. Ya disesuaikan dong seharusnya. Sekaku-kakunya penggunaan sapaan ‘senior’ dalam bahasa Indonesia, memakai istilah tersebut tidak akan membuat Giad mendadak menjadi Jepang, dan, sekali lagi, tidak perlu ada catatan kaki. (Tentu saja yang lebih wajar adalah kakak atau semacamnya bila latarnya adalah sekolah atau perguruan tinggi, tapi justru jadi tidak wajar ketika perwira militer masih saling memanggil ‘kakak’.)</p><p>Selain itu, ada sejumlah istilah asing seperti <em>assault rifle </em>yang terus terang saja saya bingung kenapa masih dipergunakan terus, padahal ada padanan bahasa Indonesianya. Kenapa tidak pakai ‘senapan serbu’ saja agar mengurangi juga frekuensi kata yang harus dicetak miring karena merupakan kata/istilah asing?</p><p>Yah, moga-moga ke depannya penerjemahan dan penyuntingan serial ini semakin baik, agar membacanya juga jadi lebih enak. Apalagi, selepas volume tiga, cerita memasuki teritori yang tidak (belum??) diadaptasi menjadi anime. Jadi, ayo terus <em>run through the battlefront!</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=77ff9b2b69da" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Sabikui Bisco volume 1, 2]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-sabikui-bisco-volume-1-2-9e1793bc69b2?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9e1793bc69b2</guid>
            <category><![CDATA[shinji-chobkubo]]></category>
            <category><![CDATA[adventure]]></category>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[fantasy]]></category>
            <category><![CDATA[buddy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 31 Aug 2022 08:51:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-08-31T08:51:29.714Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pengarang: Shinji Chobkubo</p><p>Ilustrasi: K Akagishi</p><p>Art konsep dunia: mocha</p><p>Penerjemah: Jake Humphrey</p><p>Penerbit: <a href="https://yenpress.com/9781975336820/sabikui-bisco-vol-1-light-novel/#book-description-full">Yen Press</a></p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://www.periplus.com/product/Search?filter_category_id=0&amp;filter_name=sabikui+bisco">Periplus Online</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*hLbtlVqQGkivRHfw.jpg" /><figcaption>Cover of Sabikui Bisco volume 1</figcaption></figure><p>Ketika terpikir oleh saya untuk menulis ulasan <strong><em>Sabikui Bisco</em></strong><em> </em>volume 2, saya baru sadar bahwa saya bahkan belum mengulas volume 1. Jadi baiklah, kita bahas saja keduanya sekaligus di sini.</p><p>Anda mungkin sudah cukup akrab dengan judul yang satu ini melalui anime-nya, yang hanya meliputi cerita di buku pertama. Saya sendiri lebih menikmati membaca bukunya daripada animenya. Meskipun kualitas visual anime cukup menawan, rasa-rasanya <em>pacing</em>-nya berantakan dibandingkan bukunya. Ada bagian-bagian yang bagi saya terasa penting, setidak-tidaknya bagi pengaturan <em>pacing</em>, yang malah diperpendek atau dibuang dalam anime; sementara itu, bagian-bagian lain diperpanjang atau ditambahkan, dan tidak semuanya malah menjadi semakin bagus karenanya. (Walaupun demikian, episode pertama yang membolak-balik urutan cerita kemunculan Bisco dan Milo di dalam buku adalah episode yang sangat bagus, dan ketika dirilis sangat melambungkan harapan akan kualitas animenya.)</p><p>Yang jelas-jelas patut diacungi jempol dari <em>Sabikui Bisco</em> adalah <em>world building </em>yang ugal-ugalan dan terasa menyegarkan. Ketika banyak cerita fantasi lain yang terasa agak malas membangun dunia dan seolah mengandalkan keakraban pembaca dengan genre fantasi pada umumnya saja, <em>Sabikui Bisco </em>menghancur-leburkan Jepang dan menegakkan dunia baru yang bagi kita penuh ketidaklaziman. Kisah pasca-apokalips di mana Tokyo hancur? Yap, banyak cerita yang berlatar seperti itu. Sekarang tambahkan badai karat, padang pasir, berbagai jamur berefek heboh dan para pemelihara mereka, kepiting raksasa, helikopter siput, dan berderet hal lain yang membuat dunia <em>Sabikui Bisco </em>bagaikan mimpi surealis.</p><p>Protagonis <em>Sabikui Bisco </em>adalah dua orang cowok, dengan nama yang sama-sama diambil dari nama penganan manis masa kini: <strong>Bisco</strong> dan <strong>Milo</strong>. <em>Sabikui Bisco</em> tergolong ke dalam subgenre(?) <em>buddy</em>, dan apabila Anda sudah punya cukup pengalaman dengan subgenre<em> </em>ini, tentunya Anda tahu mengenai ambiguitas yang biasanya mewarnai hubungan sepasang <em>buddy </em>yang menjadi karakter utama. <em>Are they brothers? Are they in romance?</em> Ya okelah, <em>bromance</em>, bro! Dan <em>bromance</em> atau apa pun namanya itu, digenjot habis-habisan dalam <em>Sabikui Bisco. </em>Sebelum Anda mau protes, ya, benar, saya juga tahu bahwa hubungan-hubungan yang melibatkan Bisco jauh lebih pelik daripada “hanya” daya tarik sejenis kelamin dengan Milo — seperti yang akan tampak di volume-volume berikutnya. Tapi cobalah Anda gambarkan sendiri hubungan antara Bisco dan Milo tanpa tutup mata terhadap dialog-dialog mereka yang kerap membuat wajah panas karena seperti membaca sesuatu yang sangat intim.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*0jT3UTWTe919uYqp.jpg" /><figcaption>Cover of Sabikui Bisco volume 2</figcaption></figure><p>Perkenalan, petualangan, dan perkembangan hubungan mereka berdua membuat volume 1 diawali dengan seru, dan diakhiri dengan seru pula. Dalam volume 2, <em>world building </em>masih gila, cerita masih meluncur dengan kecepatan luar biasa, namun bagi saya, logika dalam cerita sendiri menjadi agak janggal. Saya berusaha untuk tidak <em>spoiler </em>— dan sinopsis cerita bisa dilihat di situs <a href="https://yenpress.com/9781975336820/sabikui-bisco-vol-1-light-novel/#book-description-full">Yen Press</a> — tapi kira-kira begini hal yang mengusik saya. Cerita di buku kedua berlangsung di sebuah wilayah di mana kekuasaan terbagi di antara lima orang yang masing-masing bercokol di sebuah menara. Padahal ada serbuan zombie dan segala macam keributan di satu menara, tapi di menara-menara lain semua berlangsung biasa-biasa saja, tidak ada persiapan berarti kalau-kalau mereka yang menjadi sasaran berikutnya. Aneh mengingat seharusnya para pemimpin menara masih waswas akan kembalinya karakter antagonis utama buku kedua, <strong>Kelshinha</strong>. Malahan ada menara yang tidak disorot selain “keburu jatuh ke tangan lawan”. Walhasil, menara-menara itu menjadi seperti <em>dungeon</em> dalam game saja. Asal <em>dungeon</em> sebelumnya sudah dilewati, <em>dungeon</em>-<em>dungeon</em> berikutnya akan terbuka, siap dimasuki kapan saja, seolah <em>dungeon</em> sebelumnya tidak berpengaruh apa-apa selain jadi prasyarat <em>unlocking.</em></p><p>Hal lain lagi: dibandingkan buku pertama, tingkat kekerasan di buku kedua meningkat tajam. Membacanya kadang bikin lumayan ngilu. Hal ini membuat saya berpikir, <em>Jangan-jangan gara-gara ini sulit mengadaptasi lebih dari buku pertama menjadi anime. </em>Eh, ini saya hanya membatin saja ya, bukan fakta tentang alasan di balik keputusan mengadaptasi satu volume buku saja untuk satu musim anime. Mana tahu besok-besok musim kedua diumumkan, kan?</p><p>Jadi apakah <em>Sabikui Bisco </em>masih direkomendasikan untuk diikuti? Masih <em>banget</em>, kalau Anda memang suka cerita petualangan, fantasi, dan aksi yang berkecepatan tinggi. Buku ketiga sudah bisa dipesan saat ulasan ini saya tulis, dan saya berharap meski buku kedua agak terseok, serial ini akan terus melaju dengan gigi tinggi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9e1793bc69b2" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Onmyoji and Tengu Eyes: The Spirit Hunters of Tomoe]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-onmyoji-and-tengu-eyes-the-spirit-hunters-of-tomoe-72388287ffb5?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/72388287ffb5</guid>
            <category><![CDATA[onten]]></category>
            <category><![CDATA[review]]></category>
            <category><![CDATA[fantasy]]></category>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[buddy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 25 Jul 2022 14:57:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-07-25T14:57:42.521Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Judul asli: 陰陽師と天狗眼</p><p>Pengarang: Utamine Yoshiko</p><p>Ilustrator: Kazuki Yone</p><p>Penerjemah: Kai Sadler</p><p>Penerbit: Cross Infinite World</p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://books.google.co.id/books?id=jDZ2EAAAQBAJ&amp;sitesec=reviews&amp;hl=en">Google Play</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1000/1*qD16KmnoO85FaS6LDXKsHQ.jpeg" /></figure><p>Tomoe adalah sebuah kota kecil dan sepi di prefektur Hiroshima, di mana banyak terdapat rumah-rumah yang telah kosong ditinggal pemiliknya. Tidak perlu repot-repot mencoba mencarinya di peta (seperti yang sempat saya lakukan…) karena kota ini adalah kota imajiner yang lahir di benak penulis novel ini, <strong>Utamine Yoshiko</strong>.</p><p>Di Tomoe dan sekitarnya, yang supernatural masih meraja, bebas berkeliaran. Oleh karena itulah pemerintah kota ini memiliki divisi tersendiri yang khusus menangani peristiwa-peristiwa ‘abnormal’ terkait arwah dan siluman. Pegawai-pegawai di divisi ini berasal dari berbagai aliran kepercayaan, dengan kemampuan masing-masing dalam menghadapi makhluk-makhluk dari ‘dunia sana’. Di awal cerita, mereka ketambahan satu orang baru, seorang <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Onmy%C5%8Dji"><strong>onmyoji</strong></a> berambut panjang yang lantas pindah ke kota itu setelah diterima bekerja di divisi tersebut.</p><p>Ada pegawai kantor pemerintah yang gondrong di Jepang mungkin bisa disebut keanehan (kita kesampingkan dulu jabatan dan tugasnya). Namun yang memulai cerita ini adalah suatu <em>kebetulan</em>. <strong>Miyazawa Misato</strong>, si pemuda berambut dikuncir berkekuatan supernatural, mendapati bahwa apartemen yang seharusnya ia tempati ternyata <em>double booked</em>, sudah keburu diambil oleh orang lain. Misato yang tadinya bersiap menyambut hidup baru di kota yang asing baginya, malah terancam menjadi tidak punya tempat tinggal.</p><p>Status terombang-ambingnya itu bertahan sebentar saja, karena mendadak muncul pemuda bergaya mencolok — rambut berwarna pirang, deretan anting, dan lain sebagainya — yang menawarkan kamar kosong di rumahnya untuk ditinggali Misato. <strong>Karino Ryouji</strong>, pemuda itu, tidak kalah uniknya dari Misato: ia memiliki mata yang disebut ‘mata tengu’, yang memungkinkannya melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain.</p><p>Klop sekali, bukan? Dua orang berkekuatan psikis, kebetulan bertemu, yang satu punya rumah besar yang banyak kamar kosongnya, yang satu terancam menjadi tuna wisma. Tapi tentu saja cerita tidak berhenti sampai di situ, karena mereka berdua juga masing-masing menyimpan rahasia dari satu sama lain… termasuk identitas asli mereka berdua. Dari awalnya mereka saling menutup-nutupi, perlahan-lahan berubah menjadi saling percaya. Selain menengok masa lalu Misato yang membebaninya hingga kini, tentu saja kita juga menengok pergulatan Misato saat ini dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai pegawai pemerintah bergaji kecil. Hal tersebut termasuk juga menghadapi pandangan sinis sebagian orang — termasuk teman sekolahnya dulu yang juga bekerja di kantor pemerintahan Tomoe.</p><p>Jujur, awalnya novel ini agak lambat, dan terasa agak melompat-lompat. Seperti ada banyak yang sengaja tidak dijelaskan atau dieksplorasi. Akan tetapi, di satu sisi jadi terasa juga kehidupan di kota kecil yang lamban, agak membosankan kalau bukan gara-gara siluman yang cukup sering muncul mengganggu. Akan tetapi, semakin ke belakang, seiring semakin banyak rahasia terungkap yang mengerucut kepada identitas Karino Ryouji sebenarnya, cerita terasa semakin seru. (Ya dari awal apa tidak terpikir, kenapa ada cowok bergaya abang-abang kota besar punya rumah <em>gede</em> yang dikelilingi rumah-rumah lain yang kosong di sebuah kota terpencil, jauh dari keramaian…)</p><p>Satu hal yang saya sesalkan dari novel ini adalah, meski ilustrasi sampulnya indah sekali, tetapi di dalamnya tidak ada ilustrasi. Padahal ada adegan-adegan yang membuat saya berpikir, <em>Aaah! Ingin sekali melihat visualisasi adegan yang membuat deg-degan ini! </em>Untungnya, sekarang ada <a href="https://www.comic-brise.com/contents/onten/"><strong>versi komiknya</strong></a> (alias ‘comicalyze’). Sejauh yang saya lihat — sampai bab lima yang merupakan bab terbaru saat saya menulis ini — cerita komiknya mengikuti cerita novel, namun entah mengapa rasanya <em>pacing</em>-nya malah jadi terasa lebih pas.</p><p>Dan yak, tentu saja saya tidak sabar menantikan buku keduanya dirilis dalam bahasa Inggris. Kan penasaran dong ingin mengetahui kelanjutan cerita kedua, ahem, <em>buddy </em>ini.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/317/0*u3X5xA2QGV_DFqhs.jpg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=72388287ffb5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Little Mushroom (小蘑菇) — Judgment Day]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-little-mushroom-%E5%B0%8F%E8%98%91%E8%8F%87-judgment-day-eddbb2b18f4a?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eddbb2b18f4a</guid>
            <category><![CDATA[danmei]]></category>
            <category><![CDATA[science-fiction]]></category>
            <category><![CDATA[review]]></category>
            <category><![CDATA[shisi]]></category>
            <category><![CDATA[novel]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 29 Jun 2022 15:00:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-29T15:00:07.023Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Ulasan: Little Mushroom (小蘑菇) — Judgment Day</h3><p>Pengarang: Shisi</p><p>Penerjemah: Xiao</p><p>Terbit: 22 Februari 2022</p><p>Penerbit: Peach Flower House</p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://www.peachflowerhouse.com/store/p/little-mushroom-volume-one">Situs penerbit</a> (versi ebook)</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/500/0*AyIm-8oTNk-9HmkE" /></figure><p>Pengalaman saya dengan <em>danmei</em> minim sekali, sehingga bila Anda meminta saya menilai novel ini dalam konteks <em>danmei </em>secara luas — misalnya, gaya penulisannya mirip siapa? Apakah mirip dengan cerita yang anu? Lebih bagus mana daripada yang itu? dan lain sebagainya — maka saya terus terang tidak bisa menjawabnya. Maka itu, izinkanlah saya membahasnya sebatas pengetahuan dan pengalaman saya sebagai pembaca.</p><p>Dua hal tentang novel ini menarik saya untuk membaca. 1) Buku ini didaulat sebagai pemenang penghargaan perak untuk ‘Best Original Novel’ dalam <a href="https://locusmag.com/2021/10/xingyun-awards-winners-2/"><strong>Xingyun Awards 2021</strong></a>, yang dianugerahkan oleh World Chinese Science Fiction Association. 2) Seperti yang terpampang di judul, tokoh utama novel ini adalah seorang… eh… sebuah… sebatang… jamur. Iya, jamur.</p><p>Alkisah seorang manusia bernama An Ze kehilangan nyawanya di alam liar, di antara makhluk-makhluk hasil mutasi akibat hantaman radiasi kosmik yang menghambur membanjiri Bumi yang sempat kehilangan medan elektromagnetiknya. Sosok An Ze lantas disalin oleh jamur yang kita sebut saja <strong>An Zhe</strong>. An Zhe punya kepentingan untuk mendatangi permukiman manusia, demi mencari sporanya yang hilang ‘diculik’ seorang pria yang hanya menyisakan selongsong peluru sebagai petunjuk bagi si jamur.</p><p>Menyusup bukan perkara mudah, karena manusia di zaman itu sepertinya hanya tersisa di dua kota yang berpenjagaan ketat demi mencegah monster-monster ‘eksogenik’ masuk dan membunuhi manusia. Siapa pun yang hendak masuk ke kota manusia harus melalui pemeriksaan saksama untuk memastikan mereka belum terinfeksi monster. Yang tidak lolos pemeriksaan langsung di…<em>binasakan </em>di tempat. Kekuasaan terbesar untuk menghabisi siapa saja yang dicurigai ada di tangan sang Arbiter, seorang laki-laki bernama <strong>Lu Feng</strong>. Kebanyakan orang takut kepada Lu Feng, yang sangat jeli dalam mengenali orang-orang yang terinfeksi dan tidak segan langsung menembak mati mereka. Namun jalan An Zhe berpotongan terus dengan Lu Feng (yang kebetulan tampan sekali, ha); mulai dari Lu Feng yang sempat mencurigai statusnya sebagai manusia di perbatasan, sampai berbagai peristiwa lain yang berkali-kali mempertemukan mereka. An Zhe kerap jengkel, kerap takut, tapi Lu Feng juga sepertinya memegang kunci yang ia perlukan untuk menemukan sporanya. Alias, mau tidak mau An Zhe harus berusaha dekat-dekat dengan Lu Feng. Ataukah sebenarnya Lu Feng yang ingin dekat-dengan dengan An Zhe? Ha (lagi).</p><p>Satu hal yang saya suka adalah perkembangan hubungan An Zhe dan Lu Feng tidak terburu-buru — meskipun ada kebetulan-kebetulan, rasanya tetap realistis. Yang diburu-buru itu hati saya yang membaca, karena kejadian mencekam susul-menyusul menimpa umat manusia yang bertahan hidup di permukiman utara tempat cerita berlangsung. Sebenarnya sih di dalam novel waktu berlalu dalam hitungan mingguan, bahkan bulanan. Namun ya kebayang tidak, baru juga sebulan tenang, tahu-tahu sudah dapat kabar lagi ada serbuan monster? Barangkali yang paling parah adalah yang sampai memicu terjadinya ‘Hari Penghakiman’ — <em>Judgment Day</em>, yang menjadi anak judul buku pertama ini. Hari ketika Lu Feng harus mengadili manusia seolah tidak putus-putus akibat sebuah serbuan monster besar-besaran yang menginfeksi sedemikian banyak orang. Saya yang membacanya saja lelah. Kengerian yang tersaji dalam <em>setting </em>apokalips dan upaya-upaya mengenaskan masyarakat manusia untuk bertahan hidup memang pantas membuat novel ini diganjar penghargaan fiksi ilmiah.</p><p>Hal lain yang juga saya suka — bahkan sampai gemas dibuatnya — adalah bagaimana An Zhe si jamur tidak sepenuhnya paham dan bisa merasakan emosi yang sama dengan manusia. Seperti kata salah seorang karakter lain kepadanya, An Zhe terasa seperti seorang pengamat yang tidak punya kemelekatan dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Namun sebagai pembaca kita tahu bahwa banyak hal yang terjadi di dalam pikiran An Zhe selama pergaulannya dengan manusia, khususnya Lu Feng — meski tidak semuanya sudah ia mengerti betul.</p><p>Lalu — eh, eh, kok sudah habis bukunya. Padahal umat manusia lagi-lagi berada di ujung tanduk — sementara An Zhe harus mengambil keputusan untuk kembali ke fitrahnya sebagai jamur di alam liar atau tidak. Ya bisa apa saya selain menunggu buku kedua terbit.</p><p>Saat ini, sambil menunggu, saya akan menenggelamkan diri dulu dalam obsesi tidak sehat: ingin diadili Lu Feng. Iya, tidak sehat memang, tolong jangan hakimi saya… H̶a̶n̶y̶a̶ ̶L̶u̶ ̶F̶e̶n̶g̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶b̶o̶l̶e̶h̶ ̶m̶e̶n̶g̶h̶a̶k̶i̶m̶i̶ ̶s̶a̶y̶a̶</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eddbb2b18f4a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Ishura, Volume 1: The New Demon King War]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-ishura-volume-1-the-new-demon-king-war-6929c8af49cf?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6929c8af49cf</guid>
            <category><![CDATA[ishura]]></category>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[adventure]]></category>
            <category><![CDATA[keiso]]></category>
            <category><![CDATA[fantasy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 23 Jun 2022 07:29:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-23T07:29:12.155Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pengarang: Keiso</p><p>Ilustrasi: Kureta</p><p>Penerjemah: David Musto</p><p>Penerbit: Yen Press</p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://www.periplus.com/p/9781975337865/ishura-vol-1-the-new-demon-king-war?filter_name=ishura&amp;filter_category_id=0">Periplus Online</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*fMLCpG0Zux2gjwvd.jpg" /></figure><p><em>Don’t judge a book by its cover</em>, kata orang. Tapi ya, bagaimana dong. Tidak bisa dimungkiri, yang namanya sampul sering kali membuat kita tertarik untuk membaca atau membeli suatu buku, atau malah jadi malas untuk menengoknya. Saya sendiri jadi tertarik mencoba-coba membaca <em>Ishura </em>karena terpikat sampulnya yang tampak ramai namun elegan dan bergaya khas. Sewaktu membaca sinopsis — yang juga merupakan sarana menarik minat pembaca — rasanya sih biasa-biasa saja. Sekilas seperti banyak kisah fantasi pada umumnya. Ternyata, begitu saya mulai membaca bukunya, wah, susah berhenti!</p><p>Saya suka karena sedari awal kita seperti dilempar begitu saja ke dalam dunia tempat <em>Ishura </em>berlangsung. Kita langsung diseret-seret menyaksikan kehancuran sebuah kota, dengan berbagai istilah dan potongan sejarah dilemparkan kepada kita seolah-olah kita sudah paham semua itu. Namun dengan mengikuti narasi cerita kita pun bisa belajar mengenali dunia tersebut, tanpa harus selalu disuguhi berparagraf-paragraf penjelasan panjang-lebar. Meskipun, seperti yang nanti akan saya singgung, ada sejumlah informasi yang memang masih ditahan oleh si pengarang, membuat kita penasaran.</p><p>Latar waktu cerita di buku pertama ini juga cukup unik, yaitu berada di antara dua peristiwa besar — satu yang telah terjadi, dan satu lagi yang gelagatnya akan menjadi fokus volume-volume berikutnya. Cerita buku pertama — perselisihan wilayah baru merdeka Lithia dan kerajaan Aureatia — tampaknya <em>bukan </em>bagian dari peristiwa besar itu sendiri, melainkan lebih terasa sebagai prolog bagi peristiwa besar “yang akan datang”. Dan dalam “prolog” ini, kita diajak berkenalan dengan banyak karakter dan menyaksikan bagaimana mereka membentuk kemitraan-kemitraan (bila boleh disebut begitu) untuk kelak menempuh ujian guna menjadi “Pahlawan Sejati” yang dicari-cari di dunia tersebut. Siapa yang akan terus bertahan sampai ke ujian tersebut, Anda harus cari tahu sendiri dengan membaca buku ini.</p><p>Karakter-karakter yang menarik — meski sekilas para calon <em>hero </em>ini <em>overpowered </em>semua — adalah salah satu kunci kekuatan <em>Ishura. </em>Penulisnya sendiri, di kata penutup, mengatakan bahwa <em>Ishura </em>memiliki banyak protagonis. Tidak seorang pun dari mereka sudah dibubuhi cap “pasti baik” dan “pasti jahat” sedari awal— satu hal yang juga saya sukai. Sosok mereka bermacam-macam — dari minia (‘manusia biasa’), mayat hidup, <em>wyvern </em>bertangan tiga, jerangkong yang hidup kembali, sampai manusia-manusia dari dunia lain, yang dalam terjemahan bahasa Inggris disebut ‘Visitor’. Lho, dari dunia lain? Ini cerita <em>isekai</em>, dong? Yaaa… mungkin bisa dibilang begitu. Berdasarkan deskripsi tentang beberapa karakter yang merupakan Visitor, sepertinya memang mereka adalah orang-orang yang berasal dari dunia kita. Dengan satu catatan: Mereka dilemparkan ke dunia <em>Ishura </em>karena mereka terlalu kuat dan janggal untuk berada di dunia kita, di mana hukum-hukum fisika harus selalu dipatuhi. Penggambaran dunia lain dalam <em>Ishura </em>mungkin lebih mendekati penggambaran dalam <em>Juuni Kokki</em>, atau <em>DRIFTERS</em> — tidak lupa dengan teknologi dunia kita yang ikut terbawa ke dunia sana dan memengaruhi perkembangan dunia tersebut.</p><p>Selesai membaca buku pertama, saya menutupnya dengan rasa tidak percaya. Kok nasibnya si anu begitu? Kok si itu wassalam terima kasih? <em>Kirain </em>si ini bakal jadi karakter penting, kok malah si ono yang iya? Intinya, banyak <em>kecele</em>, tapi puas karena cerita yang disajikan seru sekali dan membuat saya penasaran menantikan kelanjutannya. Masih banyak yang memang sengaja belum diungkap oleh si penulis — sang “Raja Iblis Sejati”, misalnya. Sosoknya seperti menghantui keseluruhan cerita di buku pertama, meskipun dari sudut pandang buku tersebut, ia adalah karakter di masa yang sudah lewat, telah ditaklukkan oleh sang “Pahlawan Sejati”. Dari penggalan obrolan orang-orang, kita bisa tahu bahwa sang raja iblis telah memorak-porandakan dunia, menyisakan pengaruh dan luka yang masih dirasakan betul oleh penduduk dunia tersebut. Namun seperti apa dia sebenarnya? Potongan-potongan informasi yang diberikan kepada kita di buku pertama tidak cukup untuk menyusun gambaran utuh tentangnya.</p><p>Ah, bahkan sosok sang Pahlawan Sejati rupa-rupanya tidak diketahui oleh siapa pun! Benarkah ia sosok yang nyata ada? Kalau iya, siapakah dia sebenarnya? Dalam kekosongan yang mereka tinggalkan, berbagai pihak pun berlomba-lomba menjadi sang pahlawan, atau bahkan sang raja iblis, baru. Siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Semua masih merupakan pertanyaan menggantung di ujung buku pertama, yang menggoda kita untuk melanjutkan membaca ke volume-volume berikutnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6929c8af49cf" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Hello, I Am a Witch and My Crush Wants Me to Make a Love Potion! (2 volume)]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-hello-i-am-a-witch-and-my-crush-wants-me-to-make-a-love-potion-2-volume-74999045ef45?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/74999045ef45</guid>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[romance]]></category>
            <category><![CDATA[mutsuhana-eiko]]></category>
            <category><![CDATA[review]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 23 May 2022 10:20:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-05-23T10:20:08.530Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pengarang: Mutsuhana Eiko</p><p>Ilustrasi: Vient</p><p>Penerjemah: Charis Messier</p><p>Penerbit: Cross Infinite World</p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Hello_I_am_a_Witch_and_my_Crush_Wants_me_to_Make_a?id=3i3tDwAAQBAJ&amp;hl=en&amp;gl=US">Google</a> <a href="https://www.google.co.id/books/edition/Hello_I_am_a_Witch_and_my_Crush_Wants_me/-voWEAAAQBAJ?hl=en&amp;gbpv=0">Play</a></p><figure><img alt="A picture of Harij and Rose eating together at a table next to windows that let sunshine in" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/920/0*R64ZEi7-cGy_YZ-g" /></figure><p>Akhirnya, setelah agak reda panas-dingin saya gara-gara membaca kedua buku ini, bisa juga saya menata pikiran untuk dituangkan dalam ulasan. Tentu saja ini bukan cerita bergenre romansa pertama yang saya baca, tapi tetap saja kok saya deg-deg-serrr membacanya. Apakah ceritanya orisinal? Ya tidak juga, pada dasarnya gadis X suka pada jejaka Y tapi terjadi kesalahpahaman di antara mereka, sehingga cerita pun tidak cepat selesai semata dengan pernyataan cinta. Sekilas mungkin kelihatan biasa ya, klise bahkan barangkali, tapi cara sang penulis mengolah cerita dan kelihaian penerjemah membuat saya sulit berhenti membaca <em>Hello, I Am a Witch</em>.</p><p><strong>Rose</strong>, sang tokoh utama, adalah seorang <em>witch</em>, yang padanannya dalam bahasa Indonesia barangkali adalah tukang tenung. Untuk mudahnya kita gunakan saja istilah <em>witch</em>, ya. Di dunia tempat Rose tinggal, <em>witch</em> dianggap berbeda dari manusia; mereka tidak hidup menuruti aturan manusia, tidak dekat dengan mereka, bahkan dianggap sosok menakutkan dan culas. Oh… kalau yang ini tidak jauh berbeda dengan di dunia kita sendiri sih mungkin.</p><p>Para <em>witch </em>semuanya perempuan; mereka tidak menikah (sehingga Rose tidak mengerti tradisi manusia yang satu ini). Bagaimana mereka bisa beranak pinak? Pokoknya dapat ‘benih’, hamil, melahirkan, tidak ada urusan lagi dengan laki-laki sesudahnya. Rose pun tumbuh dalam keluarga yang hanya ada perempuan saja — dan Rose akhirnya sendirian setelah ibu dan neneknya meninggal. Rose, yang melanjutkan bisnis turun-temurun membuat ramuan (yang tetap dibeli juga oleh manusia meskipun mereka menyatakan benci kepada para <em>witch</em>), suatu hari pergi ke kota dan jatuh hati pada seorang ksatria. Lebih karena kata-katanya yang mengandung pembelaan kepada para <em>witch</em>, yang ia lontarkan kepada orang lain tanpa mengetahui bahwa di dekatnya saat itu memang ada seorang <em>witch </em>sungguhan yang lantas merasa terharu berat. Tampan hanyalah bonus. Bonus besar, tepatnya, karena sang ksatria yang bernama <strong>Harij Azm</strong> ini digambarkan gantengnya sepertinya melebihi pangeran-pangeran istana sekali pun.</p><figure><img alt="Cover of Hello, I Am a Witch and My Crush Wants Me to Make a Love Potion volume 1, showing Harij holding Rose’s hand as if making a request while Rose blushes" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*FzIVjhQqjPk34JL0" /></figure><p>Nah… sekarang bayangkan, sudah lima tahun diam-diam memendam rasa suka kepada ksatria tampan yang bahkan tidak tahu dirinya ada. Eh, tahu-tahu sang ksatria muncul di pondok Rose karena hendak memesan ramuan cinta. Bagaimana tidak <em>mangkel</em>? Rose pun dengan sengaja menyuruh Harij untuk mencari bahan-bahan untuk ramuan cinta yang sulit dicari dan menjadikan pembuatan ramuan cinta itu molor berbulan-bulan lamanya, sampai-sampai Harij kehilangan kesabaran. Di sisi lain, dia kaget mendapati sang <em>witch </em>hidup dengan sangat tidak teratur; makan saja jarang-jarang dan menunya pun paling-paling hanya daun selada yang ia tumbuhkan sendiri. Harij pun jadi rajin menyambangi pondok sang <em>witch </em>sambil membawa makanan. Waktu bersantap berdua lantas menjadi masa-masa istimewa bagi mereka.</p><p>Bagaimana akhirnya kesalahpahaman di antara mereka berakhir, akan kita ketahui setelah membaca momen demi momen yang menimbulkan efek-efek seperti geregetan, dengkul lemas, cekikikan geli, deg-degan, sampai terkadang juga geram. (Habisnya kok dua-duanya bisa bego banget begitu sih…)</p><figure><img alt="Cover of Hello, I Am a Witch and My Crush Wants Me to Make a Love Potion volume 2, showing Harij and Rose dancing together" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*5xQDLRUnpjuPMHx3" /></figure><p>Buku kedua tidak serapat buku pertama, dan banyak bermain dengan kegagapan Rose membiasakan diri dengan kehidupan manusia. Tetap saja, banyak momen menggelitik dan membuat gemas karena Rose yang masih saja malu-malu kucing sementara Mas Harij sudah semakin mendekati batas. Tidak seseru buku pertama karena toh kita sudah tahu akhirnya bakal seperti apa, tapi lumayan lah tetap bikin cengar-cengir sendiri.</p><p>Tidak ada adegan yang benar-benar eksplisit. Malah kedua buku ini seharusnya menyandang cap besar-besar UNRESOLVED SEXUAL TENSION di bagian sampul. Untuk sebagian orang yang mengharapkan lebih, mungkin keputusan <strong>Mutsuhana Eiko</strong> ‘menggantung’ kita dengan cerita cinta yang terasa panas dan bergairah tapi tetap suci-sebelum-menikah akan terasa kurang memuaskan. Kalau untuk saya sih, pas-pas saja. Malah memang bagian mulas perut itu yang paling saya nikmati.</p><p>Yen Press telah mengabarkan akan menerbitkan versi manga dari <em>light novel </em>ini, dan saya sudah tidak sabar untuk menyaksikan kembali belit-belit cinta Harij dan Rose dalam versi grafik!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=74999045ef45" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: 86 –Eighty-Six– volume 1–7]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-86-eighty-six-volume-1-7-63cf3e63ba16?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/63cf3e63ba16</guid>
            <category><![CDATA[asato-asato]]></category>
            <category><![CDATA[review]]></category>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[86-eighty-six]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 May 2022 07:27:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-05-08T07:27:48.964Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pengarang: Asato Asato</p><p>Ilustrasi: Shirabii</p><p>Desainer mekanik: I-IV</p><p>Penerjemah: Roman Lempert</p><p>Penerbit: Yen Press</p><p>Di mana saya membelinya: Periplus, Kinokuniya</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/298/0*6oOBBBlPf3DlvYNq" /></figure><p>Sampai sekarang juga saya masih terbayang-bayang anime <strong><em>86 –Eighty-Six–</em></strong>, yang kalaupun tidak kita nilai dari statusnya sebagai adaptasi <em>light novel </em>tetap merupakan sebuah anime yang memukau. Kata orang-orang yang sudah membaca <em>light novel</em>-nya: Para penggemar <em>light novel </em>lain boleh iri karena <em>86</em> dapat adaptasi yang sebagus ini. Anime <em>86 </em>menggarap materi dasar yang memang sudah mantap menjadi semakin mantap.</p><p>Saya sih tidak bisa membanding-bandingkannya dengan judul-judul LN lain ataupun adaptasinya, berhubung saya merasa belum membaca dan mengonsumsi cukup banyak untuk bisa berkomentar. Yang saya tahu pasti, anime <em>86 </em>memang membuat saya bersemangat membaca LN-nya. Sempat terpaksa harus mencari ke sana-sini karena beberapa nomor awal sempat habis di pasaran, akhirnya saya berhasil juga memperoleh keseluruhan volume yang sudah terbit sejauh ini. Saya menuangkan pikiran saya berdasarkan yang sudah saya baca saja, yaitu volume 1 sampai 7, meskipun volume 8 dan 9 masih duduk manis di rak menanti mendapat giliran dibuka dan volume 10 masih berstatus pra-pesan saat saya menulis ulasan ini.</p><p><em>86 </em>lahir dari tangan <strong>Asato Asato</strong>, seorang penulis perempuan yang dengan sama lancarnya menulis soal pertempuran <em>mecha</em>, romansa yang timbul di medan perang, dan daya tarik <em>garter </em>yang dikenakan perempuan. Didukung desain mekanik oleh <strong>I-IV</strong> yang menghadirkan <em>mecha </em>unik berbentuk seperti laba-laba dan deretan Legion (mesin-mesin lepas kendali yang menjadi lawan para manusia dalam perang yang digambarkan di dalam <em>86</em>), Asato Asato mengajak kita menyelami dunia di mana karakter-karakternya harus bertahan hidup bukan hanya menghadapi Legion yang mengerikan, tapi juga rasisme dan diskriminasi dari sesama manusia.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/298/0*HzxWYyzhshanyYhr" /></figure><p>Cerita dasarnya mungkin Anda sudah tahu, tapi marilah saya jabarkan sedikit di sini, dalam cara yang moga-moga bebas <em>spoiler</em>. Di sebuah benua yang berantakan akibat perang melawan Legion, sebuah negara bernama Republik San Magnolia memilih cara busuk untuk mempertahankan diri (yang sebenarnya sudah sangat terjepit): kebijakan rasis yang menjadikan Colorata, orang-orang ‘berwarna’, tumbal bagi Republik. Mereka dimasukkan kamp, lalu dikirim ke garis depan untuk melawan Legion dalam mesin-mesin perang bobrok, dipandu oleh seorang ‘Handler’. Dengan cara ini, Republik bisa menjaga kaum mayoritas — orang-orang Alba, yang berambut dan bermata berwarna perak — tetap ‘aman’ dalam dunia kecil mereka, sementara orang-orang lain meregang nyawa agar surga khayalan itu tidak diterabas dan dihancur-leburkan Legion. Orang-orang lain itu, yang dicabut hak-haknya sebagai manusia, diberi julukan ‘86’ sesuai nomor distrik tempat mereka dikumpulkan seperti sapi siap dijagal. Karena kaum 86 tidak lagi dianggap manusia, Republik pun bisa menepuk dada bahwa tidak ada korban jiwa dalam peperangan melawan Legion.</p><p>Strategi ini sepintas cerdas dan menguntungkan bagi orang-orang Alba; akan tetapi, strategi tersebut mengandalkan kepercayaan bahwa para Legion akan <em>shut down </em>sendiri setelah lewat masa operasinya. Tinggal tunggu saja sampai masa itu tiba, dan tutup mata dan telinga kepada penderitaan para 86, bukan begitu? Sayangnya, perkiraan itu meleset. Legion menemukan cara memperpanjang keberadaan mereka (alasan mengapa mereka doyan mencari kepala utuh dari manusia-manusia korban mereka…), sementara jumlah 86 terus berkurang, seiring terus terbantainya mereka di medan perang…</p><p>Di tengah-tengah itu semua-lah cerita utama <em>86 </em>digulirkan: <strong>Lena</strong>, seorang Handler, belajar saling mengenal dengan sekelompok 86 yang dikenal sebagai Skuadron Spearhead yang dipimpin oleh <strong>Shin</strong>, yang terkenal sebagai dewa kematian yang selalu lolos dari setiap pertempuran yang ia lalui. Kita pun dibawa mengikuti kisah mereka, tidak hanya di garis depan peperangan San Magnolia melawan Legion, namun juga ke berbagai negara lain, yang ternyata masih ada namun sempat tidak bisa saling bertukar kabar akibat diputusnya komunikasi oleh Legion. Mereka harus berupaya bukan hanya menundukkan Legion, melainkan juga saling memahami dan mengatasi rasa saling curiga dan luka hati.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/298/0*yDibdx7_E0ur0Y_N" /></figure><p><em>86 </em>berlatar dunia yang boleh dibilang antah-berantah. Meskipun demikian, kita sedikit-banyak bisa mengenali negara-negara di dunia kita yang menjadi ilham bagi sejumlah negara yang telah dimunculkan di <em>86</em>. Ditambah lagi, Asato Asato memanfaatkan haknya sebagai pengarang untuk memasukkan unsur-unsur dari dunia kita ke dalam <em>86</em> — mulai dari nama-nama penulis yang memang ada sampai kutipan-kutipan dari Akitab — diiringi pesan agar kita jangan terlalu banyak memikirkan “Kok bisa”. Ini dunia lain kok, tapi ya… anggaplah unsur-unsur itu juga ada di sana, entah bagaimana ceritanya. Pokoknya ceritanya bisa jalan. Masalah-masalah yang dibahas — seperti rasisme — juga hal yang sayangnya masih jamak di dunia kita, dan patut disoroti juga dalam fiksi. Hanya, bagi saya, tidak perlu membaca terlalu jauh dan mempas-paskan detail-detail di <em>86 </em>dengan di alam nyata: kalau tidak, bingung nanti, kok karakter-karakter berambut pirang juga digambarkan tertindas sementara kalau di dunia nyata mereka yang sering kali jadi biangnya rasisme ke orang-orang berkulit berwarna. Yah, ini dunia <em>86</em>, di mana ada orang-orang berambut dan bermata merah, sementara ras yang disebut mendominasi di San Magnolia berambut dan bermata putih keperakan.</p><p>Hal-hal lain yang menjadikan <em>86 </em>menarik untuk dibaca antara lain adalah penggambaran pertempuran demi pertempuran yang menegangkan dan jejeran karakter yang memikat. Asato Asato tidak main-main ketika memutuskan bahwa serial LN-nya ini akan bermuatan <em>mecha</em>, dan peperangan yang digambarkan bukan sekadar tempelan, bukan sesuatu yang semata di ‘latar belakang’. Perkembangan cerita dan karakter tidak bisa dilepaskan dari pertempuran-pertempuran yang terjadi. Mengapa para karakter berpendirian dan berperilaku seperti itu, mengapa mereka berinteraksi sedemikian, sampai romansa antara Shin dan Lena, semua bisa begitu ya ‘berkat’ (atau gara-gara?) peperangan tersebut.</p><p>Dalam setiap volume, ada-ada saja yang harus dilalui para <em>86</em>: mulai dari melawan musuh yang bersembunyi di lorong-lorong klaustrofobik di bawah tanah, sampai berupaya merebut benteng yang telah jatuh ke tangan Legion sementara ada sejumlah manusia yang masih bertahan di dalam. Beberapa kali pula saya dibuat terpekur atau bergidik sendiri membaca sejumlah adegan yang memuakkan atau mengerikan, yang terus terhubung dengan apa yang bagi saya adalah pertanyaan besar yang dikulik <em>86</em>: Apa itu ‘manusiawi’?</p><p>Paling-paling yang sering terasa mengganjal bagi saya adalah narasi yang kerap diulang-ulang untuk menegaskan sejumlah hal dengan penyampaian yang serupa. Terkadang dalam satu volume, beberapa kali kita harus membaca soal “Bagi 86 yang tersisa hanyalah rasa bangga” atau soal Shin yang tidak punya tujuan hidup. Miriplah dengan bagaimana Tanaka Yoshiki getol betul mengingatkan kita dalam <em>Ginga Eiyuu Densetsu</em> bahwa Reinhart sangat tampan dan berambut pirang sementara von Reuenthal memiliki sepasang mata berbeda warna. Menimbulkan rasa gatal ingin menyahut “Iya, sudah tahu”. Itulah salah satu alasan mengapa saya sengaja tidak membaca <em>86 </em>dengan ‘ngebut’: Saya khawatir kalau membaca terlalu banyak volume dalam waktu berdekatan, repetisi itu akan semakin terasa dan membuat jemu.</p><p>Dan satu lagi saja sih yang membuat saya penasaran: Mengapa di terjemahan berbahasa Inggris, <em>Bloody Regina </em>menjadi <em>Bloody Reina</em>, ya?</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/298/0*SkBR7TkUUqMYwCp-" /></figure><p>Terlepas dari dua hal tersebut, bila Anda menyukai anime <em>86 </em>dan penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya setelah buku ketiga (volume terakhir yang diadaptasi): silakan, cobalah baca novelnya dulu, terutama selama tidak ada kepastian apakah akan ada <em>season </em>lanjutan atau tidak. Bagi yang sama sekali tidak tahu soal <em>86 </em>sebelumnya pun, saya menyarankan serial <em>light novel </em>ini untuk dicoba oleh mereka yang menyukai 1) cerita perang, 2) cerita <em>mecha</em>, dan 3) romansa tarik-ulur (boleh suka salah satu saja, boleh dua, lebih bagus lagi tiga-tiganya sekaligus).</p><p>Sesungguhnya, banyak hal yang ingin saya bahas dari <em>86</em>, tapi untuk kali ini, cukuplah sampai di sini dulu. Lain kali, setelah membaca volume-volume lanjutan, barangkali pikiran-pikiran saya itu bisa saya susun dalam tulisan yang lebih mendalam.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=63cf3e63ba16" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Seraph of the End — Guren Ichinose]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-seraph-of-the-end-guren-ichinose-fcee0bc313c3?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fcee0bc313c3</guid>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[seraph-of-the-end]]></category>
            <category><![CDATA[review]]></category>
            <category><![CDATA[owari-no-seraph]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 17 Apr 2022 04:17:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-04-17T04:17:32.448Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Ulasan: Seraph of the End — Guren Ichinose</strong></h3><p>Judul lengkap: Seraph of the End — Guren Ichinose: Catastrophe at Sixteen (4 volume terbitan bahasa Inggris), Resurrection at Nineteen (2 volume terbitan bahasa Inggris)</p><p>Pengarang: Kagami Takaya</p><p>Ilustrasi: Yamamoto Yamato (Catastrophe at Sixteen), Asami Yo (Resurrection at Nineteen)</p><p>Penerjemah: James Balzer</p><p>Penerbit: Vertical</p><p>Di mana saya membelinya: Periplus, Kinokuniya</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/751/0*VHyTJRuvCRz2iHJu.jpg" /></figure><p>Kalau saya ditanya, “Eh, kenapa sih kok jadi baca <em>light novel</em>, padahal tadinya kayaknya nggak pernah menyentuh satu judul pun?” maka saya bisa memberikan jawaban pasti namun mungkin dengan suara kecil, “Gara-gara <em>light novel</em>-nya <strong>Ichinose Guren</strong>…”</p><p>Ya, berangkat dari perasaan kecantol anime/manga <strong><em>Seraph of the End</em></strong> (alias <em>Owari no seraph</em>)<em> </em>dan kesengsem pada Ichinose Guren — atau Guren Ichinose, menurut cara penulisan nama dalam bahasa Inggris; yang mana saja lah, pokoknya si Guren — saya pun memburu novel-novel Guren yang merupakan prekuel dari <em>Seraph of the End</em>. Lagipula, pikir saya, saya senang pada tim Guren, yang semuanya sudah berusia dewasa di <em>timeline </em>utama <em>Seraph of the End</em>. Saya juga ingin tahu dong bagaimana ceritanya tim mereka sampai terbentuk, seperti bagaimana tim Yuu terbentuk.</p><p>Mana saya tahu kalau ternyata membaca novel-novel Guren akan membuat saya mengerang-erang pedih karena ternyata tim Guren di masa remaja sungguh… sungguh labil.</p><p>Oke, mungkin itu agak berlebihan, karena saya tidak melulu mengerang-erang. Saya juga menikmati novel-novel itu, kok. Bagaimana pun novel-novel itu merupakan prekuel <em>Seraph of the End, </em>yang menyajikan banyak informasi serta peristiwa yang tidak/belum ditampilkan di manga, dan memperlengkap gambaran kita tentang semesta <em>Seraph of the End. </em>Malah, di beberapa bagian, novel-novel ini bisa dibilang merupakan <em>spoiler</em> bagi sejumlah hal di manga. Jadi, tergantung bagaimana urutan Anda membaca manga dan novel, Anda mungkin jadi tahu duluan soal beberapa hal yang baru kemudian Anda temukan di dalam manga-nya.</p><p>Saya tidak tahu mengapa membaca masa remaja tim Guren dan tim Yuu terasa sedemikian berbeda bagi saya. Apakah karena memang mereka hidup di masa yang berbeda? Masa remaja tim Yuu berlangsung setelah kehancuran dunia (peristiwa yang, ngomong-ngomong, bisa dibaca dengan lebih mendetail di novel-novel Guren), sehingga mereka bertumbuh besar dalam kondisi berat dan keras. Sebagian besar dari mereka harus memikirkan soal cara sintas di dunia tanpa kehadiran orang dewasa. Sementara tim Guren bertumbuh besar di dunia yang masih ‘biasa-biasa saja’ (miriplah dengan dunia kita, terlepas dari adanya vampir dan organisasi-organisasi macam Hyakuya dan Mikado no Oni). Mereka masih sempat bermain <em>game </em>bersama-sama sepanjang malam, ngomong jorok, dan bolak-balik <em>horny</em>. Yah, mungkin masa remaja yang mirip-mirip saja dengan masa remaja kita sendiri, namun yang ketika kita baca tentangnya saat kita sudah (jauh lebih) dewasa, membuat kita mengernyit geli sambil bergidik, “Uwaaagh, bociiiil.”</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/751/0*AyVYy13cAAoqpZ3h.jpg" /></figure><p>Kemungkinan lain yang juga terpikir oleh saya adalah perbedaan format dan penerbit. Manga <em>Seraph of the End </em>diterbitkan oleh Shueisha, sementara novel ringan Guren oleh Kodansha. Apakah ada perbedaan pasar yang disasar manga Shueisha dan novel ringan Kodansha? Apakah memang <em>light novel </em>sengaja dibuat lebih bernuansa <em>chuunibyou</em>? Sejauh mana campur-tangan editor? Apakah perbedaannya pada formatnya itu? Kalau begitu, bagaimana dengan novel ringan <em>Seraph of the End </em>yang diterbitkan oleh Shueisha — yang berfokus pada <strong>Ferid Bathory</strong>, <strong>Crowley Eusford</strong>, dan <strong>Mikaela</strong>: apakah berbeda atmosfernya dari novel ringan Guren terbitan Kodansha? (Novel-novel <em>Mikaela</em>, sayangnya, belum diterbitkan dalam bahasa Inggris, sementara saya belum juga kelar-kelar membaca versi bahasa Jepang-nya, jadi saya belum bisa membandingkan.)</p><p>Singkatnya, saya hanya bisa manggut-manggut (dan, oke, mengerang) membaca <em>kurorekishi </em>alias sejarah gelap tim Guren saat masih remaja ini. Saya hanya bisa bertanya-tanya, kok ya semua cewek (plus <strong>Hiiragi Shinya</strong>) ini sukanya Guren, kok ya bisa-bisanya <strong>Hiiragi Mahiru</strong> jatuh cinta setengah mati ke Guren sejak mereka berusia lima tahun, kok ya bisa-bisanya Mahiru yang masih berusia lima tahun sudah merencanakan jauh ke depan… Saya menutup buku sejenak dan berpikir, “Sudahlah, toh di dunia ini ada vampir dan senjata yang mengandung iblis.” Lalu saya melanjutkan membaca lagi.</p><p>Saya tidak ingat ada hal-hal besar yang perlu diprotes dari terjemahannya. Paling-paling saya bingung mengapa sekte Hyakuya (百夜教) diterjemahkan menjadi “the Brotherhood of a Thousand Nights” karena <em>hyaku </em>sebenarnya berarti ‘seratus’. Selain itu, saya agak terganggu karena satuan-satuan seperti kilometer justru diubah menjadi mil menuruti sistemnya Amerika. Ya aneh saja rasanya kok karakter Jepang, sedang berkendara di Jepang, tahu-tahu mengomongkan kecepatan dalam mil. Selebihnya sih enak-enak saja dibaca.</p><p>Kalaupun niat Anda suci ingin menggali lebih banyak tentang dunia <em>Seraph of the End </em>dan tidak peduli soal lika-liku remaja labil pada umumnya dan tim Guren pada khususnya, membaca novel-novel ini masih akan tetap dapat banyak faedah, kok. Yang jelas, membantu agar lebih memahami alur manga-nya, meski saya tidak bilang bahwa membaca novel-novel ini (beserta adaptasi manganya) wajib karena sejauh yang saya tangkap, manga-nya dirancang sedemikian rupa agar dibaca sebagai karya tunggal pun bisa. Dalam novel-novel ini, antara lain, kita bisa mengetahui secara lebih mendalam perihal intrik-intrik antar-keluarga dalam Mikado no Oni (Imperial Demons), urutan peristiwa yang membuat Guren menjadi kepala keluarga Ichinose, dan bagaimana ceritanya Guren dan (piiiip) sampai bisa berkomplot. Selain itu, satu pertanyaan yang timbul dalam benak saya sewaktu membaca <em>Seraph of the End </em>terjawab: Katanya dalam peristiwa kehancuran dunia saat Natal 2012, sebagian besar orang dewasa tewas? Lantas jenazah mereka diapakan oleh anak-anak yang tersisa, kan lama-kelamaan jenazah pasti membusuk dan berbau? Dalam adegan-adegan yang menjawab pertanyaan saya itu, kita pun bisa melihat bagaimana <strong>Hiiragi Kureto</strong> memamerkan bakatnya sebagai calon tiran dan orator unggul. Tentunya, tidak lupa, dengan membaca novel-novel ini kita jadi bisa lebih memahami mengapa Guren dewasa nantinya… <em>begitu</em>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/751/0*euLOtG30vvY95AMS.jpg" /></figure><p>(<em>Disclaimer</em>: Ketika tulisan ini dibuat, sebenarnya saya telah berpindah ke lain hati di <em>Seraph of the End</em>, yaitu ke Crowley Eusford; seandainya bisa, mungkin Bapak Ichinose Guren sudah saya jual di <em>marketplace</em>. Tapi mohon jangan menganggap ulasan ini upaya cuci tangan dari kelakuan <em>fangirling </em>Guren di masa lalu. Gatal-gatal saya otentik, begitu pula halnya kegirangan saya membaca detail-detail yang saya baru ketahui dalam dunia <em>Seraph of the End </em>dalam novel-novel ini.)</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fcee0bc313c3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: Full Metal Panic! Volume 1: Fighting Boy Meets Girl]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-full-metal-panic-volume-1-fighting-boy-meets-girl-49fa6c6cbd2f?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/49fa6c6cbd2f</guid>
            <category><![CDATA[full-metal-panic]]></category>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[comedy]]></category>
            <category><![CDATA[mechas]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 13 Apr 2022 12:49:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-04-13T12:52:02.793Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pengarang: Gatou Shouji</p><p>Ilustrasi: Shikidouji</p><p>Penerjemah: Elizabeth Ellis</p><p>Penerbit: J-Novel Club</p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Shouji_Gatou_Full_Metal_Panic_Volume_1?id=EY6ODwAAQBAJ&amp;hl=en_US&amp;gl=US">Google Play</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/350/0*ca4lD3ZkdhVLZ1lh.jpg" /></figure><p>Belakangan saya banyak membaca buku yang menghibur saya. Yang membuat deg-degan, yang membuat girang, yang membuat kesengsem… Tapi <em>Full Metal Panic! </em>Volume 1 adalah yang mengingatkan saya betapa sebuah cerita bisa menjadi sangat seru sekaligus lucu sampai membuat diri ingin ketawa nungging.</p><p>Saya memutuskan untuk membaca FMP karena alasan nostalgia juga. Kebetulan novel dari dua anime yang dulu sangat saya sukai — FMP dan <em>Majutsushi Orphen </em>— telah diterbitkan (lagi) dalam bahasa Inggris dan tersedia dalam bentuk digital di Google Play. Namun dulu maklumlah namanya masih berkuliah, menonton anime sering disambi mengerjakan tugas-tugas kuliah dan lain sebagainya. Akhirnya banyak anime yang hanya sebagian besar teringat sebagai judul yang pernah ditonton, namun ceritanya tepatnya bagaimana saya sudah tidak ingat. Oleh karena itu, membaca versi novelnya juga salah satu cara bernostalgia, meski mungkin isi novel tidak tepat sama dengan adaptasi animenya.</p><p>Daya pikat FMP tentunya tidak lepas dari sang tokoh utama, <strong>Sagara Sousuke</strong>. Dibesarkan di medan perang, Sousuke yang masih remaja adalah ‘tentara profesional’. Kini bekerja untuk organisasi rahasia <strong>Mithril</strong>, Sousuke piawai menggunakan berbagai macam persenjataan, dan juga mahir mengendarai <strong>Arm Slave</strong> — sebutan untuk mecha yang digunakan untuk berperang di dunia FMP. Namun, begitu ia ditarik keluar dari medan perang, dan diperintah untuk menyamar menjadi anak sekolah demi mengawal seorang gadis bernama <strong>Chidori Kaname</strong>, Sousuke langsung korslet. Megap-megap seperti ikan dikeluarkan dari air. Dia langsung berubah menjadi culun dan bego.</p><p>Ya sedih sih sebenarnya, soalnya Sousuke jadi seperti itu kan karena tidak pernah merasakan hidup normal sebagai seorang remaja. Namun siapa yang tidak tertawa membaca tentang ketololan Sousuke membawa senjata ke sekolah dan kena razia? Atau omongannya yang selalu tidak nyambung dengan orang-orang lain di sekitarnya? Atau ketika ia mengaku sebagai penggemar SMAP, padahal ia tidak mengerti musik sama sekali? Atau saat ia melompat keluar dari kereta…</p><p>Tentunya kisah FMP tidak melulu soal kecanggungan Sousuke sebagai anak sekolah jadi-jadian. Ada alasan kenapa Chidori harus dikawal. Intrik-intrik ala perang dingin yang diwarnai pertarungan mecha bergulir cepat, tetap dengan diselingi hal-hal yang membuat saya sering tidak bisa menahan tawa. Di buku pertama ini pula kita berkenalan dengan <strong>Arbalest</strong>, Arm Slave yang akan menjadi AS utama Sousuke.</p><p>Saking serunya, tidak terasa tahu-tahu saja buku pertama sudah selesai saya baca. Jujur, seandainya hitung-hitungan anggaran bukan halangan, sudah saya sikat semua volume <em>Full Metal Panic!</em> yang tersedia di Google Play, dan langsung saya gas baca sampai volume terbaru yang tersedia. Yang jelas, saya akan melanjutkan membaca serial ini. Angkat jempol juga untuk terjemahan enak hasil kerja Elizabeth Ellis yang membuat FMP sangat enak dinikmati. Kalau terjemahannya tidak seenak itu, mungkin tertawa saya juga tidak bakal sepuas ini.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=49fa6c6cbd2f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ulasan: My Happy Marriage (vol. 1)]]></title>
            <link>https://medium.com/@tyas.palar/ulasan-my-happy-marriage-vol-1-bbd12c991cf?source=rss-96270bb653c5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bbd12c991cf</guid>
            <category><![CDATA[my-happy-marriag]]></category>
            <category><![CDATA[romanc]]></category>
            <category><![CDATA[light-novel]]></category>
            <category><![CDATA[agitogi-akumi]]></category>
            <category><![CDATA[tsukioka-tsukiho]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Tyas Palar]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 09 Apr 2022 13:17:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-04-09T13:17:18.452Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Judul asli: わたしの幸せな結婚</p><p>Pengarang: Agitogi Akumi</p><p>Ilustrasi: Tsukioka Tsukiho</p><p>Penerjemah: Kiki Piatkowska</p><p>Penerbit: Yen Press</p><p>Di mana saya membelinya: <a href="https://global.bookwalker.jp/de00f75788-b24e-4c1a-a178-09656b8852b8/my-happy-marriage-vol-1/">Bookwalker</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*G7OcJdDDegTPszQF.jpg" /></figure><p>Wah, apa ini yang sedang <em>trending </em>di Twitter Jepang?</p><p>Oh, <em>Watashi no shiawase na kekkon </em>mau diangkat menjadi anime oleh studio Kinema Citrus? Eh, rasanya ini sudah pernah diterbitkan dalam bahasa Inggris deh baru-baru ini? Coba saya cari…</p><p>Eh iya betul, ada. Baru terbit awal 2022, dengan judul <strong><em>My Happy Marriage</em></strong>.</p><p>Baiklah, coba baca yuk, untuk persiapan menonton animenya juga. <em>Trailer</em>-nya keren, sih.</p><p>Hmmm… Wuauw, awalnya sinetron banget nih. <strong>Saimori Miyo</strong> (punten, saya memilih menggunakan urutan nama Jepang) yang bertahun-tahun diperlakukan laksana babu oleh keluarganya sendiri, ternyata dijodohkan dengan <strong>Kudou Kiyoka</strong>, yang berkedudukan tinggi dan terkenal karena susah betul didekati perempuan. Konon, calon-calon pengantinnya, belum tiga hari pun sudah cabut dari rumahnya…</p><p>Ya, ya ya… Rupa-rupanya Miyo dan Kiyoka sama-sama berasal dari keluarga yang memiliki kekuatan supernatural dengan bakat warisan paling sederhana berupa kemampuan melihat makhluk-makhluk mengerikan yang… <em>Eh, apa?</em></p><p>Lah, saya kira serial ini akan jadi semacam romansa perjodohan ala-ala <em>Haikara-san ga tooru </em>atau <em>Taisho otome otogibanashi</em>! Ternyata ada unsur supernaturalnya?</p><p>Oke, kalau dipikir-pihik, memang agak mustahil keluarga yang menindas Miyo untuk waktu lama malah mengirimnya untuk dinikahi pemuda tampan dan kaya kalau bukan ada alasannya. Penjelasan yang ditawarkan oleh <em>My Happy Marriage </em>berakar pada intrik di antara keluarga-keluarga pewaris kekuatan supernatural demi menjaga kelangsungan keberadaan bakat istimewa itu dalam garis keturunan mereka.</p><p>Kerumitan di keluarga Saimori sendiri begini: ayah Miyo sebelumnya punya kekasih yang saling cinta dengannya. Namun apa daya, ayah Miyo terpaksa menikah tanpa cinta dengan perempuan dari keluarga sesama pewaris bakat istimewa. Sayangnya, perempuan yang melahirkan Miyo itu meninggal dunia saat Miyo masih sangat kecil, dan Miyo sendiri bertumbuh tanpa bakat istimewa. Jangankan di mata ibu tirinya (kekasih lama sang ayah yang lantas dinikahi setelah ia menduda) dan adik tirinya, di mata sang ayah ia pun seperti tidak ada harganya. Sebagusnya ia disingkirkan saja secepatnya dari rumah keluarga dengan dijodohkan dengan Kiyoka. Harapan mereka adalah Kiyoka yang bereputasi sadis <em>emoh </em>dijodohkan dengan gadis yang kumal dan kurang gizi sehingga malah mengusirnya, dan Miyo yang tidak akan berani pulang ke rumah keluarganya akan terlunta-lunta.</p><p>Buku pertama masih berfokus pada kisah Miyo dan Kiyoka dalam mencapai keputusan sadar bahwa mereka memang ingin menikahi satu sama lain, bukan karena sekadar dijodohkan oleh keluarga. Hal yang cukup berat, mengingat Miyo punya trauma besar yang harus ia atasi; belum lagi keluarganya yang masih juga merongrong hidupnya meski pada dasarnya mereka sudah berniat memutus hubungan dengan Miyo begitu dia melangkah keluar dari rumah Saimori menuju rumah Kudou.</p><p>Keluarga Miyo salah perkiraan. Mereka pikir Kiyoka akan membenci gadis yang begitu rendah diri sehingga minta maaf melulu meski tidak bersalah dan tidak berani berangan-angan bahwa laki-laki seperti Kiyoka mau menerimanya. Sayangnya untuk mereka, Kiyoka justru sudah muak didekati perempuan-perempuan kelas tinggi yang kelihatan betul berupaya menjadi istrinya demi harta dan kedudukannya.</p><p>Nah, klop sekali bukan? Kiyoka mendapatkan gadis yang tidak sekadar mengincar status sosialnya, Miyo mendapatkan laki-laki yang bisa melindunginya dan membantunya berkembang. Ya… saking klopnya, saya tidak merasa deg-degan membaca perjalanan cinta mereka. Perkembangan tensi cerita dan penyelesaiannya ya ‘lurus-lurus’ saja, malah di beberapa bagian kok rasanya <em>ngebut</em>. Padahal menurut saya, asyiknya membaca romansa ya, meskipun kita tahu bahwa nantinya dua orang ini bakal resmi menjadi kekasih, adalah perasaan berdebar-debar yang timbul akibat ramuan cerita menuju ujung yang ‘bisa ditebak’ itu.</p><p>Tapi, ets, tunggu dulu, namanya juga volume satu. Perjalanan cerita masih panjang ke depan. Soal kekuatan misterius garis keturunan ibu Miyo belum banyak disentuh, padahal keluarga sang ibu terkenal sebagai yang memiliki bakat istimewa paling mengerikan di antara semua macam bakat. Yang jelas, sekarang Miyo tidak akan sendiri lagi karena sudah ada Mas Kiyoka yang mendampinginya mengarungi seluk-beluk kehidupan. Sedap…</p><p>Kembali ke soal animenya yang akan datang, latar zaman cerita ini pun bisa (dan memang sudah sering) diangkat menjadi anime indah. Saya belum tahu akan berapa volume novel yang diangkat menjadi<em> </em>anime, meskipun rasa-rasanya isi buku pertama sulit dipanjang-panjangkan menjadi satu <em>season</em>. Mungkin dengan penulisan naskah yang andal, dan juga materi yang berasal dari lebih daripada satu volume, animenya nanti bisa menyajikan cerita yang lebih membuat deg-degan disertai visual yang indah. Semoga saja!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bbd12c991cf" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>