Behind the Scenes of a ‘Fine’ Life: A Mother’s Perspective

Image

I often heard “Sazki & Menik” do just fine. 
And some times that’s enough to make people stop asking.

They saw that the house is still standing. The child still goes to the private school. The work continues, and usually look fun and fine. And of course, routines stay neat.

There’s no chaos to hide, no visible wounds. Everything resembles a life that’s been handled well. All about being an adult, responsible, and even sometimes.. admirable. People say it often: they are strong, impressive, and extraordinary.

But “fine” doesn’t always mean nothing was lost. Sometimes it only means we do surviving in our own wat. There are many things in life that appear safe & settled, yet are quietly paid for with silence.

As a mother, I learned quickly that life doesn’t pause just because something collapses. I have a daughter that still need to be raised. Days still need to be lived. So I did what made the most senses: I stood up, worked, organize, and made sure everything kept moving.

And for a couple of years, I know that Menik learned something different. That a home stays safe as long as she doesn’t become a burden. That staying quiet can feel more useful than asking questions. That strength is something you learn earlier than you should.

We live in the same space, under the same circumstances, but experienced it in an entirely different ways.

So behind the image of “being fine”, there’s exhaustion that never found a name. There is a love expressed in ways that were misunderstood. There are good intentions colliding, not because love was lacking, but because honesty had no room to breathe.

I feel that “big decisions”, whatever their form, never belong to just one person. Children and adults often survive side by side, unknowingly protecting each other in ways that slowly wear them down.

And maybe that’s what “fine” really means. Not the absence of pain, but the quiet decision to keep going, even when no one can what it cost behind.

Starting Again, Quietly

I used to write every day.
Not for work. Not for visibility.
Just because words used to come easily to me, sometimes too easily.

Somewhere along the way, life asked for more than reflection. It asked for survival, responsibility, and constant presence. I learned how to keep going. I learned how to hold things together. And without making a conscious decision, I stopped writing.

Not because I had nothing to say.
But because everything felt too heavy to shape into sentences.

For a long time, writing belonged to a version of myself I didn’t know how to return to. So I didn’t try. I let silence do what it needed to do.

Now, I’m here again. Not with a plan. Not with a promise of consistency or clarity. Just with a quiet intention to make space for words.

This isn’t a comeback.
It’s not reinvention, either.

It’s a pause long enough to notice what has changed and what hasn’t.

I’m still a woman navigating single parenting and motherhood, work, values, and the invisible weight of everyday decisions. I’m still learning when to push forward and when to stop. The difference now is that I’m allowing myself to write without needing it to mean anything more than this moment.

Some pieces here may feel unfinished. Some thoughts may wander. That’s intentional. I’m not writing to arrive at conclusions. I’m writing to listen again.

So this is me, starting quietly.
Making room for words.
Seeing what happens when I let them come back.

Sampai Takut Bermimpi

Pernah nggak merasa ‘kecil’ sampai nggak berani berharap apapun?

Dulu, Bapak pernah bilang “mereka nggak berani mimpi, kak. Di dalam pikiran mereka cuma gimana caranya besok ada makanan di rumahnya”

Never once come to my senses, I will be at that kind of stage. Saya lagi takut buat bermimpi. Yang ada di dalam pikiran saya cuma gimana caranya saya bisa memastikan Menik mendapatkan pendidikan yang baik, bisa membantu dia ajeg dalam hidupnya, dan make sure Menik bisa makan, punya baju dan sepatu yang cukup.

Dulu punya angan-angan, bakal begini dan begitu dalam mendidik Menik. Sekarang cuma yang penting Menik bisa sekolah. Nggak apa2 banyaaakk cicilannya, semuanya buat menik seorang. Dan support di rumah juga.

Mimpi sekolah lagi? Udah masuk di dasar banget.
Mimpi punya mobil? Masuk dasar juga.
Mimpi punya rumah? Udah nggak pernah dibayangin.

Kadang kalo ada kesempatan beli sepatu atau baju, itu karena disupport kantor. Hahaha, orang kayaknya nggak percaya, karena kebetulan saya memang dapat didikan seperti itu. Padahal beneran banget, kalo nggak dipaksa dan dikasih bantuan sama kantor, saya gak akan bisa punya ini dan itu baru. Lucu banget kalo orang bilang “lu masih enak, kok”. Kadang pengin bilang “HAHAHHAA, IF ONLY YOU KNOW”. Saya nggak boleh nunjukkin kesusahan, beresin semua masalah dalam diam, make sure gak buka aib orang lain, dan diri sendiri. Nggak boleh ngeluh, karena disuruh inget-inget kalo masih banyak itu yang lebih susah dari pada diri kita.

Padahal kalo dipikir-pikir, sama dengan cantik atau ganteng, susah atau mudah itu relatif dan gelas ukur tiap orang berbeda.

Tadi siang curhat sama Anya, trus pas bilang “apa gua balik siaran, ya, Nya?” ini maksudnya buat nambah keran pemasukkan. Terus kata Anya “Badan lu cuma satu, ya, Kiii” ahahahaha.. tapi beneran, saya tuh udah gak mimpiin apapun buat diri saya sendiri. Tapi saya butuh melakukan banyak hal supaya banyak keran yang terbuka buat mewujudkan rencana saya untuk Menik.

This is why parenting should be done together. Tapi kan di cerita bagian saya nggak begitu kenyataannya. I have to put all of it on my own shoulder. And I think I have to accept it all. It’s okay. It’s okay. It’s okay.

Paling cuma berdoa, minta aamiin, ya, mau minta tolong ke Allah SWT supaya dikuatkan dan disembuhkan buat segala rasa yang saya simpan sendiri dan nggak bisa didiskusikan dengan siapapun.

Hingga kuat untuk terus berjalan. Hingga berani untuk kembali punya mimpi untuk diri sendiri.

Budaya Pembatalan di Korea Selatan

Waw, judulnya resmi sekali! Hahaha.. welcome back, Saz! Thank you banget ini ada kasus KSH yang bikin saya selama 6 hari penuh memantau social media dengan keyword #kimSeonHo dan akhirnya membaca beberapa essay soal Cancel Culture di KS. Dan akhirnya, saya kembali ke sini, untuk menulis ulang apa yang sudah saya tulis di IG Story kemarin.

Sebelum mulai, saya mau cerita dulu sedikit aja, kenapa kemudian saya menulis soal Cancel Culture, ya. Selama 8 minggu terakhir, Sabtu dan Minggu saya diisi dengan Hometown Cha Cha Cha, sebuat serial drama Korea yang tayang di Netflix. Jujur, sudah lamaaaa sekali saya nggak nonton on-going drama dengan alasan; sibuk kerja. Soalnya saya takut uring-uringan kalau ketinggalan dan akhirnya cuma bisa nonton di IG via spoiler hahaha.

Nah, 17 Oktober lalu, merupakan hari final alias episode terakhir. Happy sekali nontonnya. Walaupun hari itu cukup melelahkan secara emosional karena ada problemaa~~ hehe! But again, Gongjin Family just made me happy. Sampai keesokan paginya muncul berita skandal KSH yang mendapat tuduhan dari seseorang yang mengaku sebagai mantan pacarnya.

Image

There gone my good Monday. Hahahaha.. Karena baru sekali ini nonton drakor terus pemerannya kena skandal dan dicancel se-Korea, jujur kaget banget. Ya kalau pemeran utama dicancel, kami mesti bagaimana? Begitu terjadi pembatalan oleh wargi Korea, promo pasca tayang dihentikan. SADNESS! Jadi kayak lagi main di Disneyland, dan happy banget. Pas besoknya mau balik, nggak bisa karena wahana favorit mendadak ditutup selamanya.

And that leads me to do a lil research about Cancel Culture in South Korea.

Sebuah pembatalan biasa terjadi dalam relasi sosial. Dari mulai keluarga hingga kenegaraan, semua bisa terkena pembatalan jika tidak mengikuti aturan dan norma yang berlaku dalam lingkungan sosial tersebut. Sebagai contoh, kalau ada salah satu anggota keluarga kita tidak mengikuti norma yang berlaku di keluarga, orang ini pasti akan ‘dikeluarkan’ atau ‘mengeluarkan’ diri dari keluarganya. Dari mulai keluar rumah, lost contact, hingga yang paling ekstrem minta suaka ke negara lain karena memang sudah merasa tidak diterima lagi oleh keluarganya. Kalau mau ambil contoh yang agak besar soal pembatalan dan memang sudah terjadi bisa cek suku Baduy, yang ada Baduy Luar dan Baduy Dalam. Jika terbukti melanggar aturan, maka orang tersebut akan dikeluarkan. Tentu ini ada urutan pelanggaran dan konsekuensinya, ya.

Jadi sebetulnya, Cancel Culture ini nggak cuma terjadi di KorSel, kok. Semua satuan sosial punya cara sendiri untuk membatalkan atau pembatalan sebuah relasi, terkait dengan pelanggaran norma yang berlaku. Namun, kalau mau berbicara spesial di Korea Selatan, mereka punya sebuah nilai yang disebut dengan 기분 (Kibun). Ini secara harfiah, artinya ‘mood’. Tapi secara norma, Kibun ini merupakan sebuah nilai yang dianut dan diresapi dalam setiap aspek kehidupan individu in terms of pride, face, mood or state of mind, and feelings. Kalau mau ditarik lebih jauh sedikit, ini berkaitan sama Confucian Values yang melekat dengan kehidupan Korea Selatan. Dan saat ini yang menjadi sorotan tentu Cancel Culture yang diaplikasikan kepada selebriti di KorSel.

Confucian values memiliki prinsip “one should respect authority, behave with virtue, work diligently, avoid extremes, and to live fairly.” Kalau dicek di sini, the practice of Confucian Values: respect for parents, loyalty to government, and keeping to one’s place in society—farmers should remain farmers, and practice the ethics of farming. Kita cek bagian konsep-nya, ya. Untuk Western Concept boleh dijadikan catatan sampingan.

Image
Confucian Ethics, Governance and Corporate Social Responsibility
Patrick KimCheng LowSik-Liong Ang

Dalam praktik kehidupan, setiap individu harus perform dengan baik dan sesempurna mungkin, sehingga dirinya berkembang maksimal, dan lingkungannya pun ikut merasakan hasil dari kerja kerasnya mewujudkan kesempurnaan tersebut. Ini tidak hanya berlaku untuk artis, ya. Tapi untuk semua masyarakat, dengan level tanggung jawab sesuai posisinya. Seorang anak harus bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik, dalam hal ini adalah nilai dan grade di sekolah. Bukan jadi rahasia lagi, kalau pelajar di Korea Selatan biasa belajar lebih dari 15 jam sehari untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan diterima di tiga Universitas terbaik. Masih ingat dengan drama Sky Castle yang kemudian membuat beberapa pelajar Korea Selatan merilis video Youtube membenarkan bahwa beban yang mereka tanggung terasa sangat berat?

Hal ini lagi-lagi kembali pada kepercayaan Confucianism & Buddhism. Budaya di Korea ini menekankan pada diligence, modesty, stoicism, and keeping the family intake. And that’s why they have 기분 (Kibun) as their way of life. Kibun punya prinsip “one should respect authority, behave with virtue, work diligently, avoid extremes, and to live fairly (on their own field of work)“. Orang Korea Selatan harus memastikan hidupnya akan respectful, berwibawa, santun, gallant, dan bertanggung jawab untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuat diri sendiri, memalukan keluarga, dan lingkungan sosialnya.

Semakin besar orangnya, semakin terkenal mukanya, maka semakin besar tanggung jawabnya. Ada harapan kesempurnaan yang ditanggung oleh diri si public figure ini. Tidak hanya artis, idol, tapi semua orang dengan berbagai pekerjaan yang dikenal oleh banyak orang. Jika mau disambung dengan keadaan ekonomi Korsel, terkait dengan krisis ekonomi yang pernah menghantam SK di tahun 1997, mereka merasa harus sempurna dalam bekerja sehingga economy collapse tidak terjadi lagi. So yes, people in South Korea are mostly worried about the economy. Seperti dikutip dari JRSM “while it is important that people are aware of the economic dangers of another crash and are taking steps to prevent it, South Korea’s work and school cultures are lethally toxic.”

Let’s move on to the cancelation itself for SK Celebrities. Seiring dengan bergesernya beberapa nilai, dari hukuman pengasingan, meminta maaf sambil berlutut karena tidak berhasil memenuhi ekspektasi kesempurnaan, mabuk-mabukan, hingga bunuh diri, budaya pembatalan terhadap artis yang dianggap memiliki skandal dan bikin malu negara bisa dicancel oleh warganet alias netizen. They will bash the celebrity inside and out while waiting for the agency or the celebrity confirmation. Sentimen negatif yang naik akan menjadi alasan utama brand untuk menghentikan kerjasama terkait dengan citra brand, bahkan jika drama-nya masih on-going tidak menutup kemungkinan akan dihentikan penayangannya. Karena nila setitik, rusa susu sebelanga. Karena sebuah skandal yang hadir dari satu orang, ada banyak pihak yang terkena imbasnya. Lagi-lagi ini yang menjadi alasan, hidup sebagai public figure di KS tidak mudah, ada harapan kesempurnaan yang tersemat. As if they are a saint, and not allowed to have a sin. Padahal kita tahu, ya, manusia adalah tempatnya kesalahan. Ya, walau kita juga tahu ada jenis kesalahan harus diproses secara hukum sesuai aturan negaranya.

IMHO, jika memang harus diproses secara hukum, ya sudah jelas posisi. Nah, yang perlu jadi perhatian adalah ketika ada kesalahan, tapi dihukumnya oleh society. Ini jelas lebih berat dari pada dihukum oleh negara. Jika kita melakukan deviansi, maka konseskuensinya adalah pengasingan. As for today’s, they can cancel people. Secara taktis, individu yang dianggap bikin malu dan tidak pure lagi boleh dihukum secara adat.

Kalau secara urutan, ketika ada gossip yang keluar, maka diselidiki, lalu diproses secara hukum, ke pengadilan, lalu divonis bersalah atau tidak, kemudian menjalankan hukuman. The thing in SK, waktu ada sebuah berita yang dianggap skandal, tanpa perlu proses pengadilan, masyarakat bisa teriak “CANCEL HIM/HER” lalu habislah karir seseorang. Kalaupun, ya, nanti terjadi penyanggahan kemudian ada proses hukum karena pencemaran nama baik dan lainnya, tetap saja kerugian pada masa si artis di-backlash nggak bisa dicancel. Sementara ituuu, saat seorang artis dicancel, maka ada penalti yang harus dibayar. Karena dalam masa kontrak ada pasal soal moral, and this one is quite highlighted. Dan tentu kalau kita tarik lagi lebih jauh, sama dengan di Indonesia, media pun memanfaatkan keadaan ini untuk meningkatkan traffic dan click. Media di sana juga mendapatkan keuntungan dengan mengangkat cerita saat ada selebriti yang dicancel. Mereka tinggal cek sentimen, dan riding the wave from there. Memang seperti lingkaran setan, huhu.

At this moment, kita bisa sambungin sama tingginya angka bunuh diri, tingginya konsumsi alkohol -soalnya lebih murah minum alkohol daripada berobat ke psikiater, tingginya angka operasi plastik, hingga pelegalan aborsi. Ini semua terkait dengan tekanan yang cukup tinggi diikuti dengan ekspektasi yang juga tinggi terhadap dirinya. Sungguh, ya, membaca bebrapa essay tentang hal ini aja bikin saya sedih. Takut sendiri. Ekspektasi yang tinggi bukan hanya hadir dari lingkungan tapi juga dari dirinya sendiri.

Image

A bit about today’s SK Cancellation of course about Kim Seon Ho. Aktor yang lagi naik daun ini, tiba-tiba kaya jatuh ke jurang dengan munculnya cerita dari mantan pacarnya di sebuah forum. Tulisannya naik tepat ketika drama yang dibintanginya selesai tayang. And the table just turned. Dari dipuja jadi dihina, yang paling sedih adalah terhentinya promo pasca tayang (ini saya, sih, yang sedih, haha). Tapi yang menggelitik, biasanya dari backlash yang bergulir akan muncul cerita-cerita pendukung kelakuan buruk si artis, dan ini tidak (belum) terjadi di kasus KSH. Justru yang muncul adalah cerita-cerita baik dari orang-orang yang mengaku teman sekampus atau teman saat wamil, teman-teman dari drama terakhirnya juga tidak ada yang menurunkan foto bersama KSH, bahkan setelah 6 hari dari munculnya tulisan mbak mantan, beberapa crew upload foto KSH dengan caption yang cukup tersirat. Tentu semua orang yang menulis atau mengunggah foto dan cerita ini juga harus berhati-hati, karena itu tadi, jika nantinya ada gossip miring, mereka juga bisa kena imbasnya.

Living in an egg shell in the name of “The Culture of Purity”, dan karena ini sudah jadi belief, sulit untuk diubah atau bisa berubah. Jika nanti ada yang bisa selamat dari budaya pembatalan-pun, pasti sudah babak belur dulu di awal. Pas baca beberapa pendapat kalau KSH akan jadi game changer dalam kultur pembatalan, to be honest, ini sulit untuk jadi kenyataan. Kalau KSH bisa kembali (just like other celebrities yang come back setelah skandalnya) dan dalam waktu yang tidak lama misalnya, ya, (karena biasanya kalau mau come back ada jeda waktu sekitar 3-5 tahun), maka KSH akan menjadi kasus anomali. Bukan jadi titik perubahan.

I won’t talk much about KSH here, karena memang saya jauh sekali dari sumber terpercaya untuk bisa mendapatkan data dari kedua belah pihak. But thanks to KSH, saya jadi banyak membaca soal Cancel Culture di Korea Selatan.

In the end, membicarakan tentang budaya, perubahan, dan penyesuaian, tidak semudah menunggu matahari terbit setelah semalaman digempur petir dan hujan badai. Dan sebagai orang yang tinggal di luar lingkungan dengan budayanya, ya nggak bisa mau ikut mencoba mengubah :’) Dari luar, justru kita bisa belajar. Sampai situ aja, sih.

Nggak nyangka gara-gara KSH, saya jadi membaca lebih banyak soal Cancel Culture di KorSel. Tadinya nggak terlalu menarik hati, tapi ternyata pas kena sama aktor yang dramanya baru beres saya tonton, lumayan bikin saya penasaran. Mungkin nanti kalau saya jadi nerusin sekolah, Cancel Culture ini bisa jadi salah satu bahasan diskusi bareng dosennya (hahaha, aamin!)

Oh iya, mau ngingetin, there’s always two sides of the same coin. Kalau ada cerita buruk tentang seseorang, baiknya kita cross check langsung ke orang tersebut. Kalau nggak ada akses, baiknya diam aja, bukan beropini dan manas-manasin keadaan.

Until next time, people!

Memori Kamper

Memori yang melekat pada tubuh saya ini banyak sekali. Ada banyak momen yang tanpa sengaja membuat saya berhenti sepersekian detik untuk menarik nafas, kemudian berusaha untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman. Kenapa bisa tidak nyaman? Karena ada sekelebat rasa yang tiba-tiba merasuk dan terasa nyata. Rasa-rasa yang selama setahun setengah ini ingin saya hilangkan.

Saya sedang belajar menghilangkan kelekatan untuk hal-hal yang menempel pada saya sejak 18 tahun lalu. Well, to be honest, the hardest part to be erased was the last 10 years. Dari mulai belajar tidur di semua bagian -tidak hanya di bagian kiri saja, memutar ulang playlist berisi lagu-lagu kesayangan tanpa mengingat memori di balik lagunya, mencuci piring dengan tenang tanpa bayangan peluk dari belakang, hingga menghalau perasaan kurang nyaman saat meletakkan kamper di kamar mandi -hanya karena aromanya bisa menarik mundur saya ke rumah susun di bilangan daerah Jakarta Selatan 9 tahun lalu.

Memori tubuh ini merupakan salah satu penyebab yang membawa saya pada diagnosa distimia. Ceritanya ada di sini. Jadi, ada banyaaaakkk sekali hal-hal yang akan menarik saya mundur, inilah yang kemudian membuat saya malas melakukan apapun. Soalnya sekelas kamper aja bisa bikin mood drop dan ujungnya jadi nggak kepengin mandi. Mau di kamar aja, diam, nggak melakukan apa-apa.

Ribet, ya?

But I live with this now. I should be okay. People usually don’t see it dan bilang “nggak mungkin, lah, si Sazki terlihat baik-baik aja. Lihat aja Instagramnya”, ahahahaha.. ngakuuu? Pasti banyak yang ngerasa gitu. Padahal udah sering banget, nih, seliweran kalimat ini:

“Just because you don’t see it, doesn’t mean it’s not there”

Tulisan ini saya buat juga untuk meyakinkan diri, bahwa semua pada akhirnya akan baik-baik saja. Ya, memang, anginnya masih terasa cukup kencang, dan nggak kebaca arahnya. Tapi selama kita punya keyakinan pada pertolongan dari yang maha memperbaiki segala urusan, yakinlah tiap hembusan nafas kita ini berharga dan berguna.

Ini tulisan pertama saya di peringatan hari kesehatan mental sedunia. Semoga kita semakin peduli akan kesehatan mental, ya. Seperti kita peduli pada penyakit-penyakit lainnya yang sudah sering disebutkan. Jika ada yang terasa kurang baik, jangan ragu untuk konsultasi ke psikolog atau psikiater. Hindari mendiagnosa diri sendiri agar bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.

“Keep taking time for yourself until you’re you again” -Lalah Delia.

Jangan lupa bernafas, ya.
🙂

Belajar Mengaji di Alif Iqra

Image

Sebelum pandemi, saya sudah beberapa kali mencari guru ngaji untuk Menik. Sedihnya, belum ketemu yang pas. Dari mulai waktu hingga harganya. Kondisiny, saya bekerja full time, jadi saya harus yakin dulu dengan guru yang akan membantu Menik belajar mengaji. Sedangkan untuk menitipkan Menik ke masjid dekat rumah, belum bisa juga karena kondisi satu dan lain hal. 

Karena perkara memilih guru mengaji, bukan menjadi hal yang main-main buat saya. Saya nggak kepengin Menik ‘cuma’ dapat membaca huruf Arab dan belajar membaca Al-Quran, tapi saya butuh guru yang bisa memberikan pengetahuan tentang indahnya agama Islam yang kami anut. 

Thankfully, we live in a matter of social media. Seperti orang-orang yang berenang di media sosial, saya pasti dihantui oleh algoritma. Lagi cari guru ngaji, yang muncul tentunya berbagai macam tempat mengaji :)) Pretty scary tapi mau gimana lagi. Anggap aja ini salah satu keuntungan, hehe, soalnya baru dipikirin, udah muncul di depan mata. 

Salah satu laman profil yang menarik perhatian saya adalah @alifiqrabandung

Pas pertama kali banget nanya, masih belum masuk pandemi. Jadi udah siap-siap buat trial di rumah, dan ngajakin teman se-geng Menik biar ngaji bareng. Pengalaman ngaji bareng itu menurut saya menyenangkan, sih. Karena ada momen berbagi pengetahuan bersama guru dan teman, plus nanti bisa tahu pasti ada perbedaan-perbedaan kecil dari pemahaman ajaran agama, baik itu dari teman maupun gurunya. Menghargai keberagaman ini juga akan memperkaya rasa Menik. Jadi emang nggak se-simple itu milih guru ngaji.

Image

Akhirnya, pas masuk bulan Juli, saya kembali menghubungi Alif Iqra, karena sudah tidak bisa ditunda lagi. Umur Menik terus bertambah, pengetahuan agamanya harus ditambah, dan karena keadaan, saya sedang tidak bisa maksimal menjadi madrasah utamanya Menik. Proses daftar-nya menyenangkan, karena ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, kemudian memilih jadwal les, baru setelah itu dijadwalkan untuk trial.

And Menik was falling in love with Miss Robi at the very first time. Walau online, tapi Miss Robi berhasil menarik perhatian Menik dan membuat Menik merasa senang ketika belajar. Miss Robi dengan cepat beradaptasi dengan profil Menik yang senang bercerita. Singkatnya, setelah trial, Menik cocok dengan Miss Robi dan set jadwal rutin mengaji.

Karena situasi pandemi, saya memilih untuk les secara daring. Ternyata, kelasnya bisa tetap berjalan menyenangkan. Dalam kelas berdurasi 90 menit, ada banyak materi yang diberikan. Mulai dari berkenalan dengan huruf Hijaiyah, hafalan dan isi Juz Amma, beberapa cerita pendek tentang sejarah agama islam, sampai mendengarkan curhatan Menik perihal pelajaran agamanya di sekolah. Ada beberapa buku dan perlengkapan mengaji juga yang dikirim ke rumah. Metode fun learning-nya bisa membuat anak enjoy selama proses belajar.

Sungguh senang, deh, ketemu tempat yang kooperatif. Karena ada hari-hari Menik agak ngadat les, Miss Robi bisa akomodir dan mencari selah agar pelajaran tetap masuk, walau tidak sesuai jadwal. Padahal saya ngerti banget, les ngaji online itu nggak mudah.

Oh, iya. Untuk saat ini, saya ambil paket mengaji saja dan dalam bahasa Indonesia. Nah, sebetulnya Alif Iqra ini juga ada program bilingual-nya, tapi saya tidak ambil, ya. Alasannya? Sesimpel karena saya memang masih berbahasa utama Bahasa Indonesia. Dan saya ingin Menik fokus mengaji. Itu aja, sih. Mungkin nanti kalo ngajinya udah lancar, bisa aja upgrade ke Bahasa Inggris. Walau inginnya, ya, Menik belajar bahasa Arab aja sekalian, biar pageuh baca Al-Qurannya dan informasi lain yang memakai bahasa Arab.

Overall, belajar mengaji online bersama kakak-kakak di Alif Iqra menjadi salah satu kegiatan bermanfaat semasa pandemi ini. Kelas ini, tuh, seperti mengingatkan, bahwa belajar bisa dari mana saja, dan kapan saja. Walau situasi belajarnya sedang tidak ideal karena pandemi sehingga tidak bisa bertatap muka, tapi penanaman akidah islam dan belajar membaca Al-Qurannya tetap bisa berjalan. Terlebih kondisi saya yang juga bekerja, Aliq Iqra benar-benar membantu saya untuk memastikan Menik bisa belajar baca Al-Quran, dan mengerti betapa indahnya agama Islam.

Thank you so much, Alif Iqra!

Yang Paling Dirindukan…

Image

Saat ini, yang paling dirindukan adalah membuka pintu.

Membuka pintu yang sangat dikenal, tanpa perlu mengecek kunci.

Masuk ke dalam, meletakkan tas, membuka baju, ke kamar mandi, mengenakan kaos paling nyaman, dan celana pendek yang warnanya sudah suram.

Minum segelas air hangat cenderung panas.

Masuk ke kamar.

Merebahkan tubuh.

Tidak ada suara apapun.

Tidak ada panggilan dari siapapun.

Tidak ada suara sedikitpun.

Sunyi.

Hanya itu yang saat ini paling dirindukan.

Cegah Gigi Berlubang Bersama Sasha!

Semenjak Menik kecil, kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu hal yang menyedot perhatian saya. Teringat sekali pesan dokter anak tersayang yang mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut agar gigi susu terjaga dan mulut siap menerima kehadiran gigi tetap.

Dulu di usia 5 tahun, Menik pernah kena karies di dua gigi seri-nya, lalu kemudian dilakukan perawatan dan diwanti-wanti sama dokternya agar si gigi tetap terjaga kesehatannya.

Image
Menik dan Dokter Rizka, 2016

Sekarang menjelang usia 9 tahun, tahu sendiri, dong, kalau makannya anak ini lagi banyak-banyaknya. Belum lagi kalau udah kena cemilan biskuit coklat kesayangannya, hadeeehh, susah disuruh berhentinya. Dan kebiasaan ngemil ini harus diperhatikan, deh, soalnya kadang malam sudah sikat gigi, trus timbul keinginan untuk cemil-cemil. Nah, kebiasaan ini, nih, yang kadang bikin rutinitas sikat gigi berantakan dan akhirnya sia-sia.

Jangan sampai lupa untuk selalu menyikat gigi dua kali sehari, sesudah sarapan, dan sebelum tidur. Soalnya kalau sampai lupa, gigi kita berpotensi jadi rusak dan berlubang. Tahu, dong, kalau gigi berlubang itu karena ada tumpukan makanan yang didiamkan semalaman dan berubah menjadi asam yang bisa merusak enamel pelindung gigi dan akhirnya membuat gigi berlubang.

Kalau gigi udah berlubang, udah, sih, beres urusan. HA HA HA. Kata Meggy-Z juga, sakit gigi lebih PEDIH daripada sakit hati. Makanya, kita harus jagain si gigi supaya nggak sampai rusak dan berlubang. Salah satu pencegahan yang bisa kita lakukan adalah menyikat gigi dengan pasta gigi yang bisa memberikan perlindungan maksimal. Pilihan saya ada di SASHA Pencegah Gigi Berlubang yang mengandung siwak asli, fluoride, dan kalsium. Siwak asli ini bisa melawan bakteri penyebab plak, perlindungan ganda untuk gigi dan rongga mulut. Kandungan siwak, fluoride, dan kalsium ini bisa menjaga kekuatan akar gigi, mencegah karies, dan mencegah gigi berlubang.

By the way, yang tidak boleh dilupakan adalah memilih sikat gigi yang sesuai usia, dan jangan lupa juga untuk menyikat gigi dengan benar. Pertama, perhatikan posisi sikat gigi agar tidak menempel ke seluruh permukaan bulu sikat di gigi. Kemudian sikat gigi dengan gerakan melingkar berlawanan jarum jam selama 20 detik untuk setiap bagian. Jangan buru-buru, ya. Pastikan semua bagian rongga mulut dan gigi tersikat dengan baik. Oh iya, bagian lidah juga harus dibersihkan, dan terakhir berkumur sampai bersih. 

Image

Nah, SASHA Pencegah Gigi Berlubang ini jadi pilihan pasta gigi saya dan Menik. Aman buat anak-anak karena tidak mengandung alkohol dan tidak mengandung bahan hewani. 

Ini penting banget, sih, karena biasanya saya beli dua pasta gigi, satu untuk saya, satunya lagi untuk Menik. Tentunya dengan berbagai pertimbangan agar yang dipakai Menik aman untuk digunakan dan halal. Pas ketemu sama pasta gigi SASHA, langsung klik! Dari mulai kandungan siwak asli yang sebetulnya bikin saya lumayan kaget, soalnya nggak nyangka juga, siwak yang saya kira harus digunakan dalam bentuk kayu, ternyata bisa jadi dalam bentuk pasta gigi, sehingga lebih mudah untuk digunakan, hingga kandungan fluoride dan kalsiumnya yang penting untuk menjaga kesehatan rongga mulut dan gigi.

Image
Habis makan siang di kantor, nggak boleh lupa sikat gigi!

Sebagai umat muslim, udah tahu, dong, kenapa kita disarankan untuk bersiwak?

Menurut HR. Bukhari dan An Nasa’i, “Bersiwak itu membersihkan mulut dan merupakan sesuatu yang mendatangkan ridha Rabb”.

Dan dengan menggunakan SASHA yang menjadi pasta gigi halal pertama di Indonesia, dan sudah mendapatkan Sistem Jaminan Halal. Ini ibaratnya diaudit, udah teruji di semua lini, dari mulai tim produksi hingga ke tim manajemen. 

Membiasakan Menik untuk memilih produk halal merupakan salah satu kebiasaan di rumah. Jadi ketika kami menggunakan SASHA Pencegah Gigi berlubang, Menik bilang “halal, nih, bu, jadi nggak deg-degan”. Setelah sebulan kami memakai SASHA, terasa perbedaannya. Karena bahannya alami dan berkualitas, jadi busanya tidak banyak, dan kesegarannya, tuh, enak banget. Mulut terasa lebih bersih, dan saya bisa bilang ke Menik, asal rajin sikat gigi setiap pagi dan malam, InsyaAllah, gigi Menik akan sehat dan tidak berlubang.

Image

Memakai SASHA Pencegah Gigi Berlubang, tuh, kayak sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Bahan-bahannya asli, dijamin kehalalannya, dan manfaatnya tentu maksimal untuk mencegah gigi berlubang. Harganya juga terjangkau, deh. Kemasan 150gr dibandrol Rp10.500, dan kalau beli di KINO STORE sekarang, lagi ada harga spesial jadi cuma Rp9.500! 

Coba cek ke Instagram @sashaindonesia atau ke Facebook-nya untuk cari info lebih lanjut.

Nggak boleh lagi abai sama kesehatan gigi dan rongga mulut. Beneran, deh, urusan kesehatan gigi dan mulut ini bisa merambat ke kesehatan lain yang ujungnya jadi panjang. Padahal semudah rutin menyikat gigi setiap pagi dan sebelum tidur menggunakan SASHA Pencegah Gigi Berlubang, kita sudah menjaga kesehatan tubuh kita.

Yuk, kita rawat gigi dan rongga mulut kita sekarang juga!

Cerita Operasi Menik

“Menik, ibu boleh ceritain tentang operasi Menik di Instagram ibu?”

“Boleh, Bu!”

**Akhirnya, sih, cerita di blog, karena ternyata nggak cukup tempatnya kalo di caption aja hahaha.

Image

Sesuai janji, ini dia cerita tentang hari paling menyeramkan selama 8 tahun jadi ibu. Ya bayangin aja, anak saya satu-satunya akan dibuat tidak sadar dan dibedah. KALO NGGAK BANGUN LAGI GIMANA, SAYANG? 

Iya, separno itu. 

Berawal dari menemukan bisul di ketiak kanan Menik di pertengahan tahun 2019. Dengan treatment kompres, kasih salep, lalu akhinya kempis. Eh, tiba-tiba muncul lagi sekitar bulan Desember, dan atas rekomendasi dokter Hedy, dibawalah si Menik ke dokter bedah anak di RS langganan. Namun, sama dokternya nggak disarankan insisi karena hanya akan menyebabkan trauma. Jadi dirawat aja di rumah, dengan betadine dan lainnya. Dan memang (terlihat) sembuh setelah pecah. 

Tapi di akhir Januari 2020, muncul lagi, dong! Dan cepat sekali membesarnya, lalu pecah. Akhirnya dibawa ke IGD sebuah Rumah Sakit, dan akhirnya dikonsul ke dokter bedah anak. Lumayan kaget karena harus konsultasi ke dokter bedah dulu, kirain bakalan langsung diinsisi aja di IGD 😂 makloomm, dulu pas saya kecil ada kejadian mirip-mirip, dibawa ke RS tentara, langsung dibelek saat itu juga, si rasa sakitnya nempel sampai sekarang 😝

Nah, pas udah ketemu dokter bedah anak, akhirnya disarankan untuk dibersihkan, namun dibius total. 

IYA, BIUS TOTAL. Alasan dokternya, usia dan karakter Menik nggak cocok dengan bius lokal, kalau nggak sengaja kena jaringan yang nggak kebius, bakal sakit, anaknya goyang, dan panjang urusannya. 

But actually, “I got the feeling” gituuu. Rasanya ini bukan sekadar bisul biasa, yatapi kan di sini bukan dokter, jadi saya percayakan pada diagnosa dokter bedahnya Menik yang baik hati. 

Long story short, tiba di hari bedahnya. Menik masih sekolah sebelumnya, tapi sudah puasa, sore ke rumah sakit, prep dikit di IGD, lalu naik ke ruang operasi.

Image

Memang jadi ibu itu artinya naik kelas ke level artis Hollywood, ya. Acting di depan anak sambil menenangkan, ajakin baca majalah, ngobrol, seolah-seolah everything’s going to be just fine, dan biasa aja cerita, padahal dada bergemuruh, jantung rasanya udah turun ke dengkul. 

“Bu, nanti boleh nemenin Menik sampe beres dibius, ya. Sesudahnya silakan tunggu di luar, dan akan dipanggil saat sudah selesai.”

Dan pas liat Menik udah dibius, hati saya beneran mencelos. Kembali ke pertanyaan di atas, “Kalau nggak bangun lagi, gimanaaa?”

Rapalan ayat mulai terangkai di dalam hati, sambil menghitung waktu yang katanya operasi kecil ini hanya akan memakan waktu 15 menit.

15 menit yang rasanya kayak 15 jam berlalu, nggak ada tanda dipanggil dari dalam. Doa yang tadinya masih bernada positif, mulai ganti jadi “Ya Allah, saya aja yang diambil, jangan Menik” -sungguh, nggak main-main perasaan acak dalam hati. 

37 Menit kemudian, yes, I did count it, akhirnya terdengar “Orang tua Anak Galuh”, nggak pakai lama, langsung berdiri, pamit sama Eycan, Kungpang, dan adek, lalu langsung masuk ke ruangan lagi.

Pedih nggak lihat muka begini?

Image

Ini udah sadar, sih, pas saya masuk sebetulnya masih tidur. Susternya minta tolong saya untuk mulai bangunin Menik perlahan. Dan kalau anaknya mual, disuruh lapor.

Terus nggak lama dokternya masuk, dan mulailah menjelaskan kenapa operasi kecil yang katanya nggak sampai 15 menit itu, jadi berlangsung lebih panjang.

Image

Awalnya, dokter bilang, tindakannya adalah membuka si bisul, lalu menyedot cairannya, kemudian ditutup. Tapi ternyata, pas udah dibuka, ditemukan si kista, sehingga tindakan penyedotan diganti jadi pengangkatan. Jahitan yang tadinya dikira hanya ada 2, berganti jadi 5. Lalu jaringan yang diangkat ini akan dibiopsi, -ini sudah dan tidak ditemukan sifat kanker di dalamnya. ALHAMDULILLAH.

Begitu ceritanya, gaes! Yang lucu dari kejadian ini, semua terjadi setiap saya mau dinas ke luar kota. ‘Kan asem banget, ya! Pertama kali pecah bisul, besoknya jadwal saya ke Yogja. Pas mau operasi, jadwalnya 3 hari sebelum saya harus ke Medan. Sungguh sebuah cobaan, hehehee.. emang ada-ada aja, ya kan!

Anyway, sebuah bonus, luka Menik nggak langsung nutup karena jaringan yang diangkat cukup dalam. Jadi dari waktu perkiraan seminggu, molor jadi sebulan, lengkap dengan peralatan ganti perban yang cukup complicated :)) Alhamdulillah, ada Eycan yang bantu kontrol kebersihan luka, jadi akhirnya, di minggu ke-4, luka dinyatakan sembuh, jahitan kering dan bisa dicabut. The end.

Udah, ya, Nik! Semoga nggak ada lagi operasi-operasi lagi. Dan semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, ya 😀

All is not well but everything is going to be just fine

Today, I will tell you guys about “dysthymia”. Ini merupakan bentuk kronis dari depresi. Biasanya yang terkena distimia akan merasa kehilangan hasrat terhadap aktivitas hariannya, merasa tidak punya harapan hidup, produktivitas menurun, kepercayaan diri yang rendah, dan biasanya merasa tidak layak.

Nggak mudah, nih, untuk nulis di sini and being this wide open. But here we go!

Saya didiagnosa menderita distimia di pertengahan tahun 2018 lalu. Saya bertemu psikolog, kemudian dirujuk ke psikiater, lalu kembali menjalani konseling total 21 kali bersama psikolog tersayang di daerah Dago Atas.

Kebayang nggak? Saya yang biasanya memiliki rasa percaya diri, tiba-tiba hanya ingin tidur-tiduran di atas kasur, tapi masih bisa ngebayangin serunya window shopping bareng Menik, dan ujungnya jajan di Pepper Lunch dan minum Es Kopi Susu.

Tidak mudah menerima keadaan ini, tapi kalau tidak diobati, mungkin saya tidak akan memiliki keberanian untuk menulis seperti ini. Distimia hadir dalam hidup saya, karena saya terbentur sebuah masalah besar yang tidak pernah saya bayangkan. Setelah sadar dari benturan, ternyata memarnya berkepanjangan :’))

Namun, berkat konseling, akhirnya perasaan ini berangsur pulih. Kepercayaan diri kembali datang, walau akhirnya terjadi sebuah perubahan sudut pandang dalam hidup. Tadinya penuh rencana, penuh mimpi, dan cukup ambisius. Kali ini, saya cukup langsam. Nggak gas-pol, heheh.. I just live in present.

“Jadi nggak ada tujuan? Mimpi? Cita-cita?”
Oh, bukan gitu.. semuanya tetap ada, tapi benar-benar disimpan di loker mimpi dan harapan yang paling atas. Sementara itu, saya sedang belajar untuk menikmati proses yang ada di depan mata dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjalani hari yang sedang berjalan.

And how about tomorrow?

Tomorrow will be fine, hopefully 😉

Walau kadang di tengah perjalanan, sangat mungkin sekali spektrumnya naik dan kembali mengacak-acak mental, tapi semuanya bisa diatas, kok. Karena kita udah konsul dan tahu apa yang harus dilakukan. Kalau saya, biasanya jadi mudah mengantuk, dan ingin tidur di manapun. Ini karena alam bawah sadar saya sedang ingin menghilangkan rasa-rasa yang mendadak menggangu dan membuat spektrum distimia kembali meluas. Setiap orang beda-beda, sih, that’s why penting untuk memeriksakan diri, supaya nggak salah treatment.

Jadiiii, kalau misalnya ada yang sedang merasa tidak mengenali dirinya sendiri saat ini, ada baiknya untuk konsul ke ahli, ya. Jangan pernah mendiagnosa diri sendiri, karena percayalah, rekan-rekan kita yang sekolah dan lulus di bidang psikiatri atau psikologi akan jauh lebih mumpuni dibanding periksa dan tanya ke G**gle :’))

Nggak usah malu, toh bayar sendiri juga! Ingat, kesehatan mental adalah yang utama. Eh, di beberapa aplikasi kesehatan juga sudah bisa konsul ke psikolog atau psikiater. Mungkin ini bisa jadi langkah awal kalau misalnya belum berani tatap muka langsung, apalagi di musim pandemi gini. Better safe than sorry!

Daripada nggak tahu dan nggak diobati, mendingan dicari tahu, diterima, kemudian diatasi 🙂

Maybe, for some of us, all is not well but I know everything is going to be just fine.

Have a good rest!