Departures (おくりびと) (2008)

Departures 1

Daigo Kobayashi: “The right of encoffinment is to prepare the deceased for a peaceful departure.”

Kematian. Mungkin sebagian besar orang sering menganggapnya menakutkan, tapi tidak sedikit pula yang menganggap kematian adalah ‘gerbang’ menuju kehidupan baru. Tak jarang, upacara pemakaman dibuat sedemikian rupa agar yang hendak disemayamkan dapat meninggalkan orang-orang terdekatnya dalam kondisi yang apik. Ada banyak orang-orang yang berprofesi untuk mempersiapkan jenazah sebelum ‘keberangkatan’nya, salah satunya adalah Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki), seorang pemain cello yang pindah dari Tokyo ke kampung halamannya di Sakata untuk mencari pekerjaan baru, dan berujung pada pekerjaan yang dilihatnya di koran, yakni menjadi seorang perias jenazah.

Pada awalnya, pekerjaan yang dianggap tabu ini tidaklah diketahui oleh sang istri, Mika (Ryôko Hirosue), dan juga oleh orang-orang dekat Daigo. Namun pada akhirnya mereka mengetahui pekerjaan Daigo dan perlahan-lahan menjauhinya, termasuk Mika. Tak menghiraukan cemooh masyarakat, Daigo tetap melakukan pekerjaannya sambil terus dimotivasi oleh atasannya, Ikuei Sasaki (Tsutomu Yamazaki) dan memainkan cello miliknya di sela-sela pekerjaan untuk mengingatkannya pada memori masa kecil dirinya. Daigo menjalani pekerjaannya sekaligus menemukan arti sesungguhnya dari kehidupan.

Departures 2

Pemenang piala Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film ini memang berkutat dengan tema utamanya yakni kematian, tapi suasana yang dibangun di film ini tidaklah mengerikan dan gelap melainkan menenangkan. Yôjirô Takita sebagai sutradara di film ini berhasil meyakinkan penonton bahwa kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti, melainkan merupakan saat terakhir orang yang akan pergi dapat bertemu kembali dengan orang-orang terdekatnya untuk kali terakhir. Bagaimana tidak? Seluruh upacara pelepasan jenazah digambarkan sedemikian indah sehingga tidak terbayangkan adanya perasaan yang takut saat melihat pekerjaan semacam ini, melainkan timbul respect terhadap orang yang loyal dengan pekerjaan mereka sebagai perias jenazah.

Pasangan bos-anak buah Daigo-Ikuei memang cocok diperankan oleh Masahiro dan Yamazaki. Keduanya saling melengkapi dan ada chemistry khusus saat keduanya berada dalam satu frame yang sama. Tapi tak begitu nasibnya dengan Hirosue yang berperan sebagai Mika. Wajahnya terlalu cengo dan tidak ekspresif seperti yang dibutuhkan pada scene-scene tertentu seperti saat dirinya meninggalkan Daigo atau saat mengikuti upacara pemakaman.

Satu hal lain yang membuat film ini seakan hidup dan memiliki soul yang kuat adalah scoring yang mengalun merdu, terutama cello yang bikin merinding. Settingnya yang di pinggiran kota Jepang dengan tempat-tempat tradisional khas Jepang juga menambah keindahan Departures, apalagi tonenya bikin adem saat nonton. Tempo film ini ga cepet, tapi bisa tetap mempertahankan konsentrasi penonton buat ngikutin kisah Daigo selama kurang lebih 130 menit. Film yang mungkin bagi banyak orang akan menyentuh karena nantinya akan mengalami di kemudian hari, tapi gw sendiri anehnya ga tersentuh-tersentuh amat pas nontonnya (kayanya emang gw ga berperasaan). Yang jelas, film ini mengubah cara pandang gw terhadap kematian yang selama ini sering dipandang sebelah mata.

4 hearts

The Evil Dead (1981)

The Evil Dead 1

Linda: “We’re going to get you. We’re going to get you. Not another peep. Time to go to sleep.”

Film horor dengan unsur setan dan kawan-kawannya memang sudah menjadi formula paling sering ditemui di jagad perfilman. Begitu juga dengan The Evil Dead, Sam Raimi nekat membuat film ini di kala berumur 21 tahun dengan dana seadanya yang bisa dibilang minim banget yakni sekitar $375.000. Meminjam quote dari lagu Shonichi, “Usaha keras itu tak akan mengkhianati.”, Sam Raimi berhasil membuat sebuah film yang kelak menjadi cult dengan basis penggemarnya sendiri.

The Evil Dead dimulai dengan perjalanan Ash (Bruce Campbell) beserta 4 orang temannya yang hendak berlibur di sebuah pondokan yang disewanya dengan harga murah. Ketika tiba di sana, suasana yang tidak enak dan membuat bulu kuduk berdiri sudah muncul mengiringi mereka masuk ke dalam pondokan tersebut. Di dalamnya, mereka menemukan sebuah buku misterius dengan tulisan dan gambar aneh yang tidak mereka mengerti. Selain itu, ada juga perekam suara yang ditemukan bersama dengan buku tersebut.

Penasaran dengan isi dari rekaman suara yang mereka temui, malah petaka yang dijumpai. Rekaman tersebut ternyata berisi voice log dari orang sebelum mereka yang berada di tempat tersebut dan berhasil menerjemahkan tulisan yang ada di buku tersebut. Setelah terjemahannya terucap lewat rekaman suara, kekuatan gaib muncul dan merasuki mereka satu per satu, dan pada akhirnya terjebak dalam pondokan tersebut tanpa ada jalan keluar bagi mereka.

The Evil Dead 2

cilukbaaa…

The Evil Dead bisa dibilang proyek nekat tapi sukses bagi Sam Raimi sekaligus batu loncatan dia untuk terjun jadi sutradara kawakan Hollywood. Sam Raimi sempet kekurangan dana dalam penyelesaian film ini, dan melakukan banyak hal supaya The Evil Dead bisa selesai dan dirilis secara umum (walau akhirnya banyak dilarang tayang di beberapa negara). Walau begitu, film ini menjadi salah satu film horor dengan tingkat apresiasi paling tinggi dan digemari banyak orang, sampai diremake oleh Fede Alvarez di tahun ini dengan judul Evil Dead.

Dibuat dengan special effects yang pas-pasan dan bikin ketawa geli kalau dibandingin sama special effects zaman sekarang, The Evil Dead punya 2 unsur utama dalam film horor: Scoring dan momen ngagetin yang tepat. Scoringnya bikin bulu kuduk merinding dan dipadukan dengan adegan ngagetin yang nampol. Sayang, terkadang editingnya berasa kasar dan mengganggu kenyamanan nonton.

Akting pemain-pemainnya bisa dibilang standar dan ga ada yang spesial, bahkan sebagian besar pemainnya ninggalin proyek The Evil Dead ini di tengah jalan (mungkin gara-gara pesimis). Harus diakui, Sam Raimi bisa bikin film horor yang ‘menghantui’ penontonnya di masanya, bahkan di masa kini juga dengan gw sebagai contohnya. Ga tau kenapa dikasih rating NC-17, mungkin gara-gara di tahun segitu belom ada film horor yang sebangsat The Evil Dead.

Ya, The Evil Dead emang bangsat. Kalo ditonton, mungkin akan terucap serentet kata kasar dari mulut siapa saja. Bagi yang ngaku-ngaku pecinta horor, kayanya belom sah kalo belom nonton film yang satu ini. Penuh adegan di luar akal sehat, penuh darah dan susu yang keluar dari mulut mayat dan juga adegan cewe diho-ohin sama pohon, bakalan melekat banget sama film ini. Ga kebayang Raimi bisa banting setir dari film horor ke trilogi Spider-Man. *geleng-geleng*

4 hearts

Lost in Translation (2003)

Lost in Translation 1

Bob: “The more you know who you are, and what you want, the less you let things upset you.”

Tokyo, kota modern yang tak pernah tidur ini memang menjadi kota impian bagi banyak orang, termasuk gw sendiri. Tapi tak begitu halnya dengan seorang wanita muda bernama Charlotte (Scarlett Johansson) yang terjebak di Tokyo dan harus menjalani hari-hari yang kosong karena seringkali ditinggal suaminya untuk bekerja. Begitupun halnya dengan Bob Harris (Bill Murray), seorang aktor asal AS yang terbang ke Tokyo untuk menjalani syuting dan photoshoot untuk sebuah produk whisky dan merasa tidak berada dalam zona nyamannya selama berada di sana. Bob juga dipusingkan dengan istrinya yang terlalu tergantung dengan dirinya.

Masing-masing pribadi dari kedua orang ini memang berbeda dan tidak mengenal satu sama lain, tapi mereka berdua memiliki 1 kesamaan, yakni merasa ada kekosongan dalam diri mereka. Bob dan Charlotte tinggal di satu gedung yang sama, dan sempat beberapa kali berpapasan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menghilangkan rasa penat mereka di malam hari dengan berkeliling kota Tokyo di malam hari dan melakukan hal-hal yang dapat menghilangkan rasa jenuh mereka. Kedua sahabat baru ini menjalani hubungan tidak biasa dan akhirnya dihadapkan pada satu kenyataan: Suatu saat mereka harus berpisah satu sama lain.

Lost in Translation 2

Sofia Coppola, anak dari sutradara legendaris era 70an Francis Ford Coppola ini memang mewarisi bakat di bidang gambar bergerak dari ayahnya. Sofia menulis naskah dan menyutradarai film yang memang pada awalnya ditujukan pada Bill Murray untuk peran Bob Harris. Lost in Translation punya tempo yang sangat lambat, dan malah bikin gw ikut depresi dan kosong kayak Bob-Charlotte selama nonton film ini (is that good or bad?)

Lost in Translation membawa nama Scarlett Johansson melambung lebih tinggi lagi lewat perannya sebagai Charlotte, dan begitu juga dengan Bill Murray yang berkat aktingnya berhasil memberikannya nominasi sebagai Best Actor di Academy Awards 2004. Figur Bob Harris yang berada di usia-usia 40-50an juga tergambar jelas lewat aktingnya yang yahud dan bisa bener-bener bikin penonton ngerasa si Bob itu emang lagi stres dan jenuh banget sama hidupnya. Tapi penonton berasa ‘digantung’ sama relationship yang nanggung antara Bob-Charlotte, apakah mereka cuma temen biasa, atau ada hubungan spesial?

Didukung dengan setting lokasi yang menurut gw cakep banget, yakni 2 sisi Tokyo yang berbeda, di satu waktu ada Tokyo dengan billboard elektronik yang terang di mana-mana, di waktu lain ada juga kuil Tokyo yang asri dan emang ‘adem’ banget suasananya. Teknik pengambilan gambar yang ciamik jadi kelebihan lain dari film nominasi Best Picture Oscar 2004 ini. Salah satu motivasi awal gw buat nonton film ini emang karena settingnya di Tokyo, dan ga berekspektasi bahwa filmnya bakal sedepressing ini. Mungkin kalo settingnya bukan di Tokyo, gw ga bakal kuat nonton Lost in Translation sampai habis.

Soundtrack yang asik dari berbagai musisi (termasuk Bill Murray) menambah suasana Jejepangan yang kental di film ini. Adanya culture shock yang cukup ketara juga menjadi kelebihan dari film ini. Yang gw sayangkan cuma 1, ya itu tadi, temponya terlalu lambat dan bikin gw mengalihkan perhatian beberapakali dari layar laptop dan suka ga fokus nontonnya. Keputusan tepat dari Sofia untuk menjalani proyek ini dengan kamera film konvensional sehingga menghasilkan film look yang memang tidak dapat dimunculkan lewat kamera digital. Ending yang cakep (banget) ditambah rahasia kata-kata yang dibisikkan Bob ke Charlotte sebelum pergi jadi klimaks yang pas banget. Scarlett Johansson, aku padamu :*

4 hearts

Juno (2007)

juno 1

Juno MacGuff: “It started with a chair.”

HIdup itu penuh konsekuensi dan pilihan. Kehidupan remaja yang penuh dengan pilihan-pilihan yang berdampak besar ke depan tentunya akan dialami setiap orang. Juno MacGuff (Ellen Page), gadis belia yang masih berada di masa-masa paling enerjiknya, harus menerima kenyataan bahwa ia kini hamil setelah berhubungan dengan Bleeker (Michael Cera). Tak mau dipenuhi masalah, tanpa pikir panjang Juno langsung mencoba untuk melakukan aborsi, tapi mengurungkan niatnya dan memilih untuk tetap mempertahankan si jabang bayi.

Dengan bantuan temannya, Leah (Olivia Thirlby), Juno mencari orang yang tepat untuk menjadi orangtua asuh dari calon anaknya. Junopun bertemu dengann Vanessa (Jennifer Garner) dan Mark (Jason Bateman), pasangan mapan dan serasi yang tidak memiliki anak walau sudah bertahun-tahun menikah. Juno harus berhadapan dengan tantangan yang akan dihadapinya, serta mencoba menjadi seorang wanita dewasa dan lepas dari sifat kekanak-kanakannya.

juno 2

“All babies have fingernails!”

Unik dan menghibur sekaligus bikin terenyuh. Kalo biasanya film-film dengan tema remaja yang hamil di luar nikah bernuansa agak dark dan suram, Juno dapat menjadi film yang segar dan menyenangkan. Sosok Juno yang ramah dan masih tampak seperti bocah jauh tidak seperti gadis-gadis di film lain yang mengalami nasib serupa seperti Juno. Ia tetap melihat ke depan dan berhasil menemukan jalan terbaik menurut dirinya.

Walau digarap hanya dengan budget sekitar $7,500,000, sutradara Jason Reitman dapat membawa sosok fiktif karangan Diablo Cody menjadi sangat real dan menyatu dengan baik dengan karakter-karakter yang ada di film ini. Tidak perlu kisah cinta yang berlebihan dan adegan-adegan yang bikin cewek-cewek bilang ‘awww…’ sepanjang film, Jason Reitman bisa membuat kisah romantis versi dia sendiri, dan terbukti, gw (yang notabene ga terlalu tertarik dengan film cinta-cintaan) berhasil dibuat terpikat dengan kisah cinta unik Juno-Bleeker yang gak biasa, bahkan terharu banget bisa liat sosok Bleeker yang emang cuek dan seakan gak peduli, bisa jadi romantis lewat caranya sendiri.

Ellen Page yang namanya melambung berkat perannya di film Hard Candy dan X-Men: The Last Stand, menjadi makin dikenal publik lewat karakter Juno, dan mungkin jika ada nama Ellen Page tercetus oleh seseorang, orang-orang akan lebih mengenal Ellen Page sebagai seorang Juno. Karakteristik Juno yang tengil dan childish menyatu dengan wajah imut Ellen Page menghasilkan satu karakter yang unik dan membawa Ellen Page ke nominasi Best Actress di Academy Awards 2008. Michael Cera yang tampangnya rada-rada cengo juga pas dengan Bleeker yang cool dan introvert. Pemilihan pemain untuk beradu akting di film ini dirasa sangat klop dan ada chemistry yang kuat antara satu orang dengan yang lainnya.

Soundtrack yang enak dan enjoyable ditambah opening credits yang unik dan digambarkan seperti sketch menjadi hal lain yang merupakan keunggulan dari film ini. Walau bergenre komedi, tapi gw sendiri ga gitu banyak ketawa dan lebih terbawa dengan suasana drama dan intrik antara Juno dan orang-orang di dekatnya. Juno mendapat 1 piala Oscar lewat kategori Best Screenplay, dan menjadi kandidat dari Best Picture, Best Director, dan Best Actress di ajang yang sama. Salah satu film yang bisa bikin gw terharu dan bisa memainkan emosi sepanjang 96 menit. Cakep deh pokoknya.

4 hearts

Swing Girls (スウィングガールズ) (2004)


swing girls 2

Yuta Nakamura: “Um, there are no guitars or basses in a brass band.”

Liburan musim panas memang paling asik diisi dengan liburan bersama teman atau keluarga, apalagi setelah menjalani kegiatan sekolah yang padat. Tapi kenyataan emang pahit. Sejumlah anak sekolah yang mengikuti kelas tambahan matematika di sekolahnya harus berjuang menjadi pengganti grup marching band sekolah mereka karena kasus keracunan makanan. Namun ketika mereka sudah merasa siap untuk menggantikan marching band yang sakit, anggota-anggota marching band sekolah mereka malah muncul di saat-saat terakhir dalam kondisi sehat sentosa dan tidak jadi digantikan.

Dari sekian banyak anggota marching band dadakan, ada Tomoko (Juri Ueno), Yoshie (Shihori Kanjiya), Sekiguchi (Yuika Motokariya), dan Tanaka (Yukari Toyoshima) yang memang ingin lebih mendalami dunia musik walaupun tidak ada pengalaman sebelumnya. DImulai dengan membeli alat musik bekas, mereka belajar bersama Nakamura (Yûta Hiraoka), seorang anggota marching band yang tidak ahli di posisinya sebagai pemain simbal, tapi memiliki kemampuan lebih dalam bermain piano. Mereka memulai suatu grup musik jazz bernama Swing Girls and a Boy yang menjadi salah satu grup musik yang mendapat banyak perhatian dari orang-orang.

swing girls 1

rame-rame jadi tukang parkir bis.

Swing Girls adalah sebuah film ringan yang mampu mengundang gelak tawa karena komedi slapsticknya yang ditempatkan dengan pas dan tidak berlebihan. Gw sendiri jarang melihat film Jepang yang gak menyisipkan unsur fantasi di dalamnya, atau film yang bertemakan kehidupan nyata tapi di luar kisah cinta-cintaan anak muda. Shinobu Yaguchi selaku sang sutradara bisa mengemas Swing Girls sebagai suatu film simpel tapi mengena di hati sekaligus menghibur tapi tidak menggurui.

Pemain-pemainnya bukanlah aktor-aktris papan atas Jepang, tapi tiap orang mempunyai ciri khas karakternya masing-masing dan makin tampak jelas seiring berjalannya cerita. Sayangnya, pemeran-pemeran pendukung seringkali tampak kaku dalam berakting, terutama adik Tomoko yang malah senyum-senyum pas PS2nya dijual kakaknya (bego nih adeknya). Naoto Takenaka yang jadi guru matematika juga kelihatan cocok dengan muka tua dan seriusnya tapi berubah ketika murid-muridnya tau kalau dia ternyata penggemar musik jazz juga.

Film ini juga meraih beberapa penghargaan, di antaranya adalah Newcomer of the Year dan Most Popular Film di Awards of the Japanese Academy dan Yokohama Film Festival. Tidak banyak film tentang musik yang dibawakan dengan ceria dan ringan (jangan hiraukan High School Musical dan film-film sejenisnya), apalagi dibuat oleh sineas Jepang. Dengan menampilkan banyak pemandangan daerah pedesaan Jepang yang adem dan bikin pengen berkunjung ke sana, Swing Girls emang gak boleh dilewatin.

4 hearts

Iron Man 3 (2013)

Iron Man 3 - 1

Tony Stark: “Things are different now, I have to protect the one thing that I can’t live without. That’s you.”

Tony Stark (Robert Downey Jr.) berada dalam bahaya. Dirinya terjebak antara obsesinya dengan armor-armor Iron Man miliknya dan kekasihnya, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) yang kini hidup bersamanya dan merasa Tony lebih banyak menghabiskan waktu dengan temuannya dibandingkan dengan dirinya. Di Amerika Serikat (iya settingnya lagi-lagi Amerika),  seorang teroris bernama Mandarin (Ben Kingsley) mengancam kedamaian dengan serangkaian ledakan  bom yang didalangi olehnya, sebagai bentuk pelajaran bagi Amerika dan membentuk Amerika sesuai dengan keinginannya.

Aldrich Killian (Guy Pearce), seorang teman lama Pepper Potts, muncul dan mengenalkan sebuah teknologi baru bernama Extremis, yakni sebuah virus yang diinjeksikan ke otak manusia dan dapat meregenerasi bagian tubuh yang terluka. Extremis ini sendiri adalah proyek yang dibuat bersama Maya Hansen (Rebecca Hall), dan masih disempurnakan semenjak 12 tahun yang lalu. Sosok Kolonel Rhodes (Don Cheadle) yang menjadi orang di balik War Machine kini berkostum Iron Patriot, seorang pelindung Amerika yang juga dikembangkan oleh AIM, perusahaan milik Killian. Pada suatu malam, ledakan bom Mandarin membuat Happy Hogan (Jon Favreau) menjadi salah satu korban Mandarin, yang membuat Tony murka dan menyatakan perang terbuka antara dirinya dan Mandarin (keren gak tuh).

Iron Man 3 - 2

santai dulu..

Bukan penutup yang spektakuler, namun  Iron Man 3 dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menjadi akhir trilogi Iron Man yang baik. Perubahan di bangku sutradara dari Jon Favreau ke Shane Black memberi atmosfer yang berbeda pada film ini. Iron Man 3 lebih terkesan seperti film tactical espionage layaknya video game Splinter Cell ataupun film-film tentang agen rahasia, walaupun penonton tetap disuguhi aksi Tony Stark dengan pakaian super canggihnya. Dari keseluruhan film, hal inilah yang agak mengusik hati gw selama menonton, bukan dari twist yang banyak dianggap sebagai kelemahan utama film ini—yang akhirnya banyak dicaci maki oleh orang-orang.

Image Tony Stark yang flamboyan memang sudah melekat dalam image Robert Downey Jr., bahkan jika melihat Robert, hal yang pertama kali ada di pikiran banyak orang adalah sosok Tony Stark yang flamboyan dan cuek. Kembali lagi, installment Iron Man bisa hidup (dan sukses) berkat sosok Robert Downey Jr. yang harus diapresiasi sedemikian rupa sehingga membentuk sosok Tony Stark yang memorable, mungkin bagi dunia film Marvel bertahun-tahun ke depan. Sir Ben Kingsley yang memerankan tokoh Mandarin juga berhasil menjadi sosok mengerikan yang ditakuti banyak orang, ditambah Gwyneth Paltrow yang juga menampilkan tokoh Peppert Potts yang biasanya dianggap lemah dan cuma sebagai pemanis menjadi Potts yang garang dan disegani. Satu lagi yang ga boleh kelewatan, Paul Bettany! Suara dengan aksen khas Inggris ditambah efek robotic bikin Jarvis jadi karakter yang terasa hidup banget walaupun ga keliatan sosoknya di depan layar. Gw juga ngerasa Don Cheadle gak gitu cocok meranin Rhodes yang mukanya kurang berwibawa buat jadi seorang kolonel US Army.

Iron Man 3 masih berkarakter sebagai film superhero yang asyik dinikmati tapi ga tolol, ditambah percakapan humoris khas Tony Stark yang lebih banyak dan bikin ketawa lebih lepas dibanding film-film sebelumnya. Sosok Tony Stark udah dikembangkan sedemikian rupa sehingga lebih ‘dapet’ setelah melewati 3 film yang berhasil menaikkan pamor Robert Downey Jr. di kancah perfilman Hollywood. Satu hal lagi yang disayangkan, yakni format 3D yang terlalu dipaksakan karena tidak terasa baik itu efek layeringnya dan efek out-of-screen (lebih sebagai kritik terhadap studio yang haus keuntungan aja sih). Kembalinya Jon Favreau sebagai Happy juga melengkapi kehadiran karakter-karakter di 2 film sebelumnya, walaupun Jon keliatan lebih gemuk di film ini dan beda banget dibanding di Iron Man & Iron Man 2.

Sebagai penggemar komik Marvel, Iron Man 3 ga boleh dilewatkan jika mau liat Tony Stark yang udah stres pasca kejadian di The Avengers, tapi ekspektasi juga ga boleh ketinggian takutnya ga sesuai selera (hehe). Post credits scene yang khas film Marvel Studios juga menjadi kunci dari Marvel Cinematic Universe Phase Two yang menggambarkan relasi antara Tony Stark-Bruce Banner, tapi ga memberi petunjuk pada film yang akan tayang selanjutnya (Thor: The Dark World). Jujur, gw sendiri sangat menikmati ini walaupun ada satu-dua kekecewaan dari segi cerita (bukan dari twist), dan mungkin kebantu ekspektasi yang udah agak diturunin gara-gara komentar-komentar negatif dari orang yang udah nonton ini sebelom gw. Seri Iron Man masih jauh lebih baik dibandingkan dengan film-film produksi Marvel Studios yang lain (kecuali the Avengers). Eksekusi Iron Man 3 ala Shane Black yang keren in his own way. Adegan slow-mo Pepper Potts pake armor Mark XVII keren!

4 hearts

Movie 43 (2013)

Movie 43 1

Julie: “Will you poop on me?”

Movie 43 mengisahkan  JJ (Adam Cagley) dan Calvin (Mark L. Young) 2 orang anak muda bego yang berencana membalas keisengan April Mop Baxter (Devin Eash), dengan cara membajak laptopnya dan mengalihkan perhatiannya dengan membual bahwa ada film terlarang bernama “Movie 43”. Film ini sendiri terdiri atas film-film pendek dengan cast papan atas seperti Hugh Jackman, Kate Winslet, Halle Berry, Richard Gere, Gerard Butler, dan masih banyak lagi. Film-film pendek tersebut adalah Movie 43 palsu yang beredar di internet, yang kebanyakan absurd dan bikin dahi mengerenyit.

Movie 43 2

*facepalm*

Tolol sih sebenernya, film yang dicaci banyak kritikus ini kayaknya emang sekedar pencarian sensasi oleh otak di balik film ini. Aktor-aktris top diminta buat main film semacam ini (dan herannya mau aja), dan mereka juga ga banyak membantu film ini buat lebih bagus. Dan yang lebih parah, Chloë Grace Moretz ikut terlibat dalam proyek film ini. *facepalm*

Dari segi cerita, hampir semuanya ga biasa (that’s good), tapi dieksekusinya ga bagus dan hasilnya malah nanggung-mengarah ke ancur. Gw pribadi sih merasa ga ada segmen yang bagus, bahkan segmen Middleschool Date yang ada Chloënya pun emang ga karuan (biasanya personally ngasih nilai lebih ke film yang ada doi). Kecuali Liev Schreiber yang terlihat sebagai orang biasa (selama ini ga pernah liat dia berperan jadi orang normal).

Anthologi yang kacau balau, ga keliatan niat buat digarap, dan cuma menjual nama bintang top Hollywood sebagai titik tumpu utamanya. Direkomendasikan untuk kamu-kamu yang pengen liat bijinya Hugh Jackman (tapi bijinya di leher), atau liat Richard Gere jualan cewek yang fungsi utamanya muter musik.

Jimmy Bennett you lucky bastard.

1 heart

The Imposter (2012)

the imposter 1

Frédéric Bourdin: “And I knew that eventually they would have to put me into a children’s home… and that’s all I wanted.”

The Imposter mengisahkan perjalanan Frédéric Bourdin, pemuda asal Perancis yang memang memiliki kebiasaan menjelma menjadi orang lain—terutama anak-anak hilang—sebagai bentuk pelariannya dari orang sekitar yang tidak menerima keberadaannya. Pada 1997, Bourdin kembali melakukan aksinya dengan menyamar menjadi Nicholas Barclay, seorang bocah asal Texas yang menghilang pada tahun 1993. Bourdin melakukan berbagai cara supaya orang-orang dapat percaya bahwa dirinya adalah Nicholas yang telah menghilang selama 3 tahun.

Bourdin mengaku sebagai Nicholas yang telah diculik dan dijadikan budak seks di Spanyol, dan berhasil menipu berbagai pihak polisi serta rumah penampungan. Meski penyamarannya berhasil menipu banyak orang termasuk keluarga dekat dari Nicholas, pada akhirnya pihak berwajib menyadari ada yang aneh dari diri ‘Nicholas’. FBI dan detektif berhasil mengungkap identitas sebenarnya dari si bunglon ini. Kisah hidup kriminal buruan interpol ini digambarkan dengan menakjubkan, tentunya dengan konflik spikologis yang menarik.

the imposter 2

Bourdin starts to imitate a young boy.

Keren. Banget. Dokumenter yang disajikan tidak seperti dokumenter, apalagi dengan aspect ratio 2.39:1 (yang biasanya dokumenter disajikan dengan aspect ratio 1.85:1) membuat film ini tidak nampak seperti dokumenter, dan membuat bertanya “ini dokumenter apa bukan sih?”. Editing yang keren ditambah tone gelap plus shot-shot yang keren bikin The Imposter jadi dokumenter yang gak biasa.

Tempo yang dibangun juga pelan tapi pasti. Makin ke belakang, tensi makin tinggi dan berasa kayak film thriller. Sang sutradara Bart Layton juga dengan lihainya bisa membuat dokumenter ini tampak seperti feature film dengan reka adegan yang keren. Padahal tadinya gw akan menganggap film ini jatuhnya akan jadi seperti dokumenter lainnya.

Sosok Bourdin yang merupakan bunglon kelas kakap ditampilkan dengan gamblang di film ini. Modus operandinya saat ia sedang mengincar orang yang akan dia curi identitasnya merupakan kejeniusan yang jarang ditemui—bahkan jarang ada banyak orang yang berani melakukan jika membayangkan konsekuensinya. Sosok dinginnya juga tidak mengindahkan perasaan keluarga yang dia tumpangi jika mereka tahu apabila sosoknya bukanlah anggota keluarga yang telah lama hilang.

Tidak heran, The Imposter sempat mendarat di berbagai festival film ternama seperti Sundance Film Festival dan Warsaw International Film Festival, serta menempati posisi nominasi Best Documentary di beberapa event, dan pada akhirnya menyabet gelar ‘Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer’ di BAFTA Awards dan Best Documentary di British Independent Film Awards. Akan sangat disayangkan jika dokumenter yang satu ini dilewatkan begitu saja, karena punya feel yang berbeda saat menontonnya.

4 hearts

Dark Shadows (2012)

Dark Shadows 1

Barnabas Collins: “My name is Barnabas Collins. Two centuries ago, I made Collinwood my home… until a jealous witch cursed me, condemning me to the shadows, for all time.”

Film yang diangkat dari serial tv berjudul serupa ini menceritakan kisah hidup keluarga Collins yang lekat dengan kutukan karena cinta Angelique (Eva Green) bertepuk sebelah tangan karena Barnabas Collins (Johnny Depp) tidak mencintainya (ceilah). Karena itu, Angie yang ahli dalam ilmu hitam membunuh kedua orangtua Barnabas serta menghipnotis kekasih Barnabas saat itu, Josette (Bella Heathcote) agar bunuh diri di Widow’s Hill. Angie juga mengutuk Barnabas sehingga ia menjadi vampir dan akhirnya dikubur hidup-hidup oleh warga setempat gara-gara provokasi Angie.

Singkat cerita, Barnabas akhirnya ditemukan kembali setelah 200 tahun, dan mencari mansion keluarga Collins. Di Collinswood, tinggallah keluarga jauh Barnabas, yakni Elizabeth (Michelle Pfeiffer), Carolyn (Chloë Grace Moretz), Roger (Jonny Lee Miller), David (Gulliver McGrath), Willie (Jackie Earle Haley), Mrs. Johnson (Ray Shirley), dan Dr. Julia Hoffman (Helena Bonham Carter). Barnabas bertekad untuk mengembalikan kejayaan keluarga Collins serta membebaskan kutukan yang sudah menghantui keluarganya. Tapi Barnabas yang telah berubah menjadi vampir tentu tidak akan mudah menjalani gaya hidup yang berbeda sejak 200 tahun dikurung di peti mati, apalagi banyak rahasia yang ditutup-tutupi oleh Barnabas.

Dark Shadows 2

*mimisan*

Kolaborasi Tim Burton dan Johnny Depp yang ke-8 ini memang tidak jauh-jauh dari kesan dark dan gloomy khas Burton. Meski mengusung genre komedi dan fantasi, tapi tidak banyak adegan yang bisa bikin gw ketawa lepas, paling banter ya cuma senyum-senyum geli aja. Layaknya film-film Tim Burton yang lain, kayanya yang lebih ditekankan adalah pengembangan karakter, tapi jalan cerita ga dikemas dengan menarik. CGI di beberapa scene juga kadang-kadang keliatan kasar.

Nah, yang harus dikasih bogem mentah adalah Eva Green, yang kayanya karakter Angelique pas banget diperanin sama doi. Angelique yang ambisius dan rese menyatu banget sama si Eva Green. Sebel sih, tapi keren. Chloë seperti biasa, tampil menawan dan cantik menggelegar *halah*. Karakter si Carolyn yang masih labil-labilnya pas remaja cocok banget sama Chloë, apalagi bibirnya yang seksi banget :3.

Ada feel beda saat nonton Dark Shadows, ga berasa kayak nonton film, tapi lebih mirip nonton serial tv. Scoring di akhir-akhir film lumayan asik, terutama pas scene si Willie dikejar-kejar massa. Sosok vampir seutuhnya juga ada di film ini, bukan vampir sparkly kayak di film itu tuh *uhuk*. Akhir kata, Dark Shadows bukan film terbaik Tim Burton, tapi wajib ditonton kalo mau liat Chloë yang cakepnya nampol. *kecup Chloë*

3 hearts

Saw (2004)

saw

Dr. Lawrence Gordon: “He doesn’t want us to cut through our chains. He wants us to cut through our feet!”

2 orang terbangun dan terjebak dalam sebuah kamar mandi tua. Adam (Leigh Whannell), dan dr. Lawrence Gordon (Cary Elwes), tidak tahu apa yang terjadi sehingga mereka dapat berada di tempat tersebut. Hanya ada sesosok mayat dan 2 kaset beserta pemutarnya yang menegaskan bahwa mereka berada dalam sebuah permainan antara hidup dan mati. Setelah dirunut-runut, ternyata mereka berdua adalah korban permainan dari seseorang yang dikenal sebagai Jigsaw killer, di mana ia akan ‘menghukum’ orang-orang yang tidak menghargai hidupnya dan akan dihadapkan pada situasi menegangkan ini.

Mereka berdua bukanlah korban pertama Jigsaw. Ada beberapa orang lain yang telah menjadi korban Jigsaw yang dianggapnya tidak menjalani hidup dengan baik. Adam dan Gordon harus menjalani serangkaian aturan yang dibuat Jigsaw untuk tetap hidup, dan memenangkan permainan mematikan ini. Is your life worth living?

saw 2

Hello.. I want to play a game.

Saw adalah debut penyutradaraan Hollywood bagi James Wan. Sutradara asal Kuching, Malaysia ini mengangkat film pendeknya yang berjudul sama ke layar lebar bersama Leigh Whannell, yang tidak lain adalah aktor utama dalam film ini. Psychological thriller yang kelak franchisenya menjadi hits dan digemari para pecinta gore ini menonjolkan unsur cerita dan emosi dari Adam – Gordon ketimbang unsur darah seperti seri-seri selanjutnya.

Walau udah pernah nonton Saw sebelumnya dan tau garis besar cerita dan twistnya yang kelas kakap, tapi harus diakui kolaborasi James Wan – Leigh Whannell ini memang jempolan dari segi cerita. Penonton bisa dibuat teriak “Bangsat! Ternyata bla bla bla” gara-gara mereka berdua. Bukan twist yang cheesy dan gampang ketebak sih kalo menurut gw.

Akting dari pemainnya bisa dibilang standar-standar aja, terutama si Whannell yang rada kaku. Tapi Cari Elwes aktingnya keren menjelang akhir film. Tone film yang disajikan juga dirasa cocok dengan suasana hati para pemain yang kakinya dirantai di pipa. Satu hal yang patut dikasih jempol juga adalah sosok Billy the Puppet yang ikonik sekaligus nyeremin.

Sempat dikasih rating NC-17 oleh MPAA, Saw emang gory dan penuh darah, tapi fondasi utama film ini bukan di darah yang diekspos. Pengembangan cerita yang bagus dari awal sampai akhirlah yang menjadikan film ini salah satu pengaruh besar terhadap film-film sejenis. Salut deh buat James Wan, bisa bikin film gore kayak gini dengan cerdas dan ga cuma ekspos darah dan violencenya.

4 hearts