#dariFB : How to train your……

How to train your dragon
Not! Hahaha *garing*

Melanjutkan postingan dengan tema #dariFB yaa..
Buat yang mau baca seri pertamanya bisa klik disini langsung.

Jadi beberapa hati ini timeline FBku lagi hangat dishare : anak SD yang dipukulin sama anak SD dan ada videonya. Lalu anak SD yang nonton bokep disekolah lalu bercumbu massal, ada anak yang gak ikutan lalu melaporkan dan dialah yang jadi bulan-bulanan..

Aduh.. mau jadi apa negaraku kalo kayak gini kualitas anak mudanyaaaa… dan ada berita di koran JP hari ini, 2 anak Mts (setara SMP) dibunuh dengan keji setelah dinodai oleh teman FBnya…

Kenapa sih bisa kejadian kaya gini?.. apakah nyawa begitu murahnya?.. apakah anak-anak nggak punya rasa kasih terhadap sesama?..

Tadi pagi di Selamat Pagi Indonesia, bu Elly Risman berbagi sedikit tentang kenapa anak sekarang bisa kaya gitu.. aku kutip ya..

Itu (kekerasan yang dilakukan anak-anak) terjadi karena anak-anak diusia dini sudah dihadapkan pada aneka les. Membaca, bahasa, matematika, dan banyak lagi. Sementara otak anak dibawah usia 7 tahun adalah otak perasa jadi jaih lebih baik bila anak diajarkan berempati pada orang lain
, kasih sayang terhadap sesama, dan berbagi. Juga bermain untuk melatih motoriknya!.

Ajari anak mengaji, membaca, berhitung atau apapun dengan fun. Biarkan anak belajar karena memang suka bukan karena dipaksa.

Sedih ya..
Bu Elly bilang anak yang dari kecil dipenuhi dengan les ina ini itu dan anaknya nggak fun itu ibarat kue yang masuk oven yang terlalu panas. Kuenya bantet. Bisa gosong.

Jaman sekarang sepertinya banyak orang tua yang berpendapat bahwa sukses itu : cukup secara materi. Jadi orang kaya.  Banyak tujuan hidup yang bergeser.. kalau jaman dulu punya rumah dan mobil itu sukses. Jaman sekarang punya lebih dari satu baru sukses. Liburan keliling dunia baru sukses. Jabatan tinggi baru sukses. Ketika kesuksesan diukur dari jumlah nol yang dimiliki..

Otomatis waktu yang diinvestasikan pada anak juga berkurang. Ayah sibuk dikantor, kadang ibu juga. Sisa waktu dimanfaatkan untuk bersosialisasi in the name of i-deserve-this-i-have-been-working-like-a-horse. Terus kapan waktu yang tersisa buat anak?.. waktu yang tersisa buat anak masih dibagi dengan tangan yang memegang hp.. jadi anak dapat apa?.. sisa waktu kita?.. sisa kemarahan kita?..

I’m not saying that working mom bad or vice versa.. what i’m trying to underline here are : we PRAY to have them (while they’re not praying to have us as their parents), they are our responsibility. Ingatlah bahwa cara kita mendidik anak adalah gambaran 2 generasi kebawah!! Mau revolusi mental?.. ya lakukan sekarang dong 🙂
Luangkan waktu lebih efektif buat anak2 kita!

Bisa gaak?

Yang bodoh siapa?

image

foto ini diambil pada selasa 9 september 2014 pas ulang tahun pak SBY lalu.
Mobil aku (name : SOLEH) yang paling depan.

Jadi ya waktu itu aku baru pulang dari ketemuan sama temen-temen ODOJ disebuah hotel.
Pulang dari situ melewati daerah yang aku tau mata polisinya bak elang semua, jadi aku udah waspada banget untuk ada di jalur yang bener karena aku kan bakal belok kanan lalu ambil jalan kiri. Jadi aku dah ambil ancang-ancang.

Disaat lampu udah hijau dan aku dah jalan, eh ada motor langsung motong jalur kiri jalan ke kanan dan dia menerobos lampu merah, PAS DIDEPAN POLISI JAGA. Pinter bener gak?!
Jadilah ya langsung aja tu motor nabrak mobilku, sampe pengendaranya kelempar, dan jatoh.
Imii duduk di carseat dan udah liyer-liyer mau tidur sampe nangiiiis karena kaget aku ngerem! Alhamdulillah aku pake sabuk pengaman dan Imii pake carseat, kalo nggak pasti kelempar tu anak.
Akhirnya digiring minggir tu motor, mobilku dan 2 mobil lagi dibelakangku.

Ternyata dibelakangku ada mobil yang menghindari mobilku jadi banting setir ke kiri, jadi mobil dia belakangnya ditabrak sama mobil belakangnya.
Jadilah tabrakan beruntun. Dengan 3 kesamaan. Semua mobil yang terlibat MASIH BARU. mobil kinyis-kinyis smua.

Yang menyebabkan?.. anak SMA umur 16 tahun tanpa sim tanpa ktp melanggar lampu merah dan motong jalur.
Waktu ditanya apa dia bisa menyelesaikan katanya nggak bisa karena gak punya uang.
2 mobil dibelakangku saling bayarin uang klaim asuransi, so the problem is clear here.. yang mobil aku?.. Kata anak SMA itu orang tuanya cuma jualan. Dia minta jangan diproses ke polisi. Terus aku kudu piye?!…

Aku cuma bisa bilang sama anak itu dan aku ulang berkali-kali “kamu bisa mati nak kalau naik motor kaya gitu, nyawa gak ada yang jual!”
Maksud aku ya, nyawa itu pemberian Allah tapi apa nggak sayang dibuang-buang dengan ugal-ugalan naik motor?!..

Sedih lihatnya, banyak anak di Indonesia apalagi yang kalangan menengah kebawah, yang kurang background pendidikannya tapi gede gengsinya kayaknya bangga banget kalau anaknya udah bisa naik motor di usia belia. Anaknya SD naik motor?, gak apa, keren!
Udah gitu harga motor cicilannya lebih murah daripada naik angkutan, kalau gak bisa bayar trus ditarik leasing ya tinggal ambil kreditan lain! *tepok jidat* *jidate sales motor*

Sayang sekali bila pengguna jalan dengan aturan yang baik dan benar terpaksa mengalami kerugian dari perbuatan anak yang macam begini!

it takes a village to raise a child terngiang terus dikepalaku. Jalan terbaik adalah dengan gerakan massive dan terstruktur untuk menolak anak dibawah umur mengendarai kendaraan bermotor!
Mari dimulai dari diri sendiri dan orang-orang terderlkat!!

#18 dari kak Sondang : seandainya waktu bisa diputar ulang, ada hal berbeda yg ingin kau lakukan ke duo ganteng?

Seandainya waktu bisa diputar, aku ingin mengubah diriku, berpikir ulang sebelum mengambil keputusan, dan mencoba lebih baik untuk menjadi ibu mereka berdua.
Aku akan mendidik diriku sebelum aku mendidik anakku, karena anak-anak sudah sangaaaat sempurna dikirimkan Allah buatku 🙂

Aku sering banget mandangin mereka berdua ketika mereka tidur, dan aku seriing nangis…. kenapa aku? Kenapa aku dengan segala keburukanku dapat anak-anak semanis, sebaik dan sesempurna mereka? Aku yakin Allah sangaaat sayang sama aku hingga percaya dan menitipkan anak-anak itu ke aku, supaya mereka berdua bisa jadi guruku dalam melanjutkan kehidupan ini. Bener loh, ada 2 anak ini aku jadi ingin jadi orang yang lebih baik!

Kadang aku sedih banget kalau anak-anak mengalami sesuatu, atau tidak mendapatkan sesuatu. Kesanggupan kecewaku emang rendah kok hahahaha.. kalo kata Toge aku ini harusnya belum layak jadi orang dewasa!
Tapi dari pencarianku, aku menemukan bahwa aku nggak bisa selamanya menyimpan anak-anakku dibawah ketekku, karena mereka harus dan pasti akan tumbuh besar, jadi dewasa dan punya keluarga sendiri. Gimana mereka bisa jadi laki-laki dewasa dan bertanggung jawab atas keluarga mereka kalau mereka aja gak bisa berjuang?
Gimana kalau kelak aku tinggalkan? Mereka bisa gak tanpa aku dan ayahnya? Dari situ aku memupuk kesanggupan kecewaku, ketika aku siap, maka akupun bisa mengajari mereka. Sampai sekarang aku masih jatuh bangun, apalagi mereka, tapi -as i said- mereka sering jadi guruku untuk pelajaran tentang hidup.

Sungguh aku ingin aku dan ayahnya juga kung dan titinya diberi umur panjang supaya kami sama-sama bisa menyaksikan anak-anak kelak menjadi orang besar, amin

Kadang, diam itu lebih baik..

Anak datang pada kita bagai selembar kertas putih.. jadi tulisan baik atau buruk, jadi berwarna, bergambar atau tercoret adalah tugas kita.. ingat.. cuma AWALNYA itu tugas kita karena kelak anak juga harus mulai memegang penanya sendiri.
Apa yang ingin ditanamkan dibenak anak? Ingin dibuat seperti apakah anak? 

Children Learn What They Live
By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Sepatah kata yang kita lontarkan, tidak terasa bahkan kadang kita lupakan, tapi apakah iya itu benar dilupakan oleh anak? Ada beberapa kondisi yang disebut sebagai kondisi hypnosis suka atau tidak, kata-kata yang keluar dari kita akan menjadi sugestif buat anak dan tertanam bahkan akan jadi believe buat anak, salah satunya falam keadaan marah, menangis, dan buat beberapa orang.. most of the time mereka berada dalam kondisi itu!!
Mau gak anak merasa dirinya bodoh? Merasa dirinya takut? Merasa dirinya cengeng? Dan semua karena kata-kata kita???

Kadang diam memang lebih baik. Marah? Tinggalkan anak, istighfar, cuci muka rambut dan tengkuk.. kalau perlu tinggalkan sebentar agar anak dan kita sama-sama menenangkan diri dulu..

Jadi seperti apakah kita ingin anak kita memandang dunia?

Letter to Zua #5

image

Bang…
Lagi disekolah ya?
Bunda tiba-tiba kangen abang.. gara-gara video yang dikasih onti Lya ituloh bang…

Maaf ya bang kemaren bunda marahin abang gara-gara banyak orang dan abang main beranteman ama dek Arya trus kalian jadi berantem beneran.. kan kasihan adek Arya dicubit mimi sementara abang kan nggak dicubit.. jangan diganggu lah bang anak itu cuma anak kecil aja loh..
Maaf juga bunda marah sama abang waktu abang maksa mau potong kue di ultahnya Arya.. abang belom pernah dirayakan ultah pake nyanyi dan seru kaya gitu ya? Abang ingin? Kemaren bunda liat abang happy banget pas ultah Arya.. bunda kepingin nangis jadinya.. sementara abang ultah “cuma” makan ngajak 1 teman aja harus mengalami sesuatu yang nggak enak dulu.. abang, if only i could, i will wipe all the tears i’ve caused..

Many things happen to you since the day you came to my womb. Everyday worth to be remember! Karena kamu istimewa nak sayangku..
Zua yang dibilang cengeng cuma Zua yang lembut hati dan penuh kasih. Zua yang dibilang nggak tegas cuma Zua yang memikirkan perasaan orang lain sebelum memutuskan sesuatu. Zua yang dibilang suka cerewet cuma Zua yang rasa ingin tahunya besar. Zua yang suka membantah cuma Zua yang mengungkapkan perasaannya. Zua yang dibilang suka menuntut cuma Zua yang suka disayang-sayang..

Bunda minta maaf tidak mendengar Zua, bunda minta maaf tidak membaca bahasa tubuh Zua, bunda minta maaf mengabaikan ketidak nyamanan Zua.. mulai sekarang bunda berusaha lebih peka ya nak.. bunda senang tadi pagi Zua bilang Zua marah sama bunda karena bunda marah sama Zua didepan orang.. bunda bangga Zua bisa mengucapkan isi hati Zua, melabeli perasaan Zua

Nak, insya Allah dengan ridho Allah pada keluarga kita, masih panjaaang dan masih banyak waktu yang akan kita lalui berempat.. kita -ayah, bunda, abang dan Imii- masih akan teruuus saling sayang dan berpegang. Kalau yang satu terjatuh, yang lain akan mengangkat, kalau yang satu lemah, yang lain akan menguatkan.. semoga apa yang terjadi menguatkan kamu, menguatkan bunda, menguatkan Imii dan juga menguatkan ayah ya nak..

Bunda sayang sekali sama Zua.. nanti malam kita peluk2an yuk bang!

Cara lain untuk belajar

20110527-155920.jpg

Sejak balik ke Surabaya, Zua aku les-in piano. Aku ngotot banget Zua les piano ini karena aku tahu manfaatnya musik untuk perkembangan otaknya, bisa menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan, juga IQ dan EQ. Aku sendiri besar dikeluarga yang suka musik! Papaku pemain gitar yang handal, adik-adiknya penyanyi, satu omku penyanyi seriosa, dan pakde-ku kebetulan penyanyi balada jaman dulu, Leo Kristi namanya.. Lumayan kan darah musik yang mengalir hehehe.. Aku sendiri dulu pemain biola, walau sekarang lama nggak main lagi. Terbersit sih keinginan untuk main lagi atau ngajar buat green class.

Sejak awal aku udah pengen ngelesin Zua piano diujung jalan rumah mama-papa. Tadinya aku kira kursusan informal biasa, ternyata bukan bok!! Namanya Sforzando ini ternyata kursusannya ada ujiannya, ada kurikulumnya juga, jadii bukan kursusan tepatnya, tapi sekolah musik.
Kenapa aku pih sforzando? Karena sejak awal aku tahu metode pengajaran yang digunakan. Fyi, sforzando ini menerima anak-anak berkebutuhan khusus loh, bisa kebayan kan seperti apa teachernya 🙂 dan bukan cuma untuk belajar, tapi mereka menerima musik untuk terapi. UBER COOL!!
Zua sendiri pertamanya masuk di kelas Mozart, dan karena sendirian, jatuhnya dia privat. Teachernya adalah miss Indah, i heart her, sangat suka dengan metode dan pendekatannya terhadap Zua, sabar sekalii.. Dan untuk mencoba sebuah ketukan baru, tekniknya fun!!

Setelah 1.5 bulan Zua naik ke kelas Schubert. Disini mulai serius, mulai banyak berinteraksi dengan piano (which is aku dan ayahnya belom beli piano huhuhu mahalnyaaaaa) dan treng..teng.. Membaca not balok.
“kaki dibawah.. Tangan kiri.. Kaki diatas.. Tangan kanan” itu salahsatu cara miss Indah mengajar Zua. Alhamdulilla, Zua udah mulai bagus rhytm-nya. Aku melatih zua pakai metronom sendiri sih kalo yang itu.. Dan ditepuk2in jarinya ke kertas.. Atau main pakai piano kecilnya dia, semoga deh banyak rejeki tar akhir tahun beli piano ya nak!

Oh iya, beberapa kali Zua sekelas dengan anak-anak berkebutuhan khusus ini. I adore their mothhers. Memang ya, orang tua yang spesial diberi anak yang spesial juga. Sabarnya itu banyaaaaaak banget. Ada satu anak, umurnya lebih tua setahun dari Zua, dia autis, mamanya lagi hamil besaaar sekali, mamanya sabar banget nungguin, udah gitu nemenin.. Adalagi anak lain, u urnya 14-an, ah aku seneng banget sama anak ini dan mamanya!! Mamanya sampai kursus supaya bisa jadi terapis SEFT dan menterapi anaknya, malah Zua pernah juga diterapi waktu aku bilang Zua lagi nggak enak tidur.

Dengan les piano disini, Zua melihat bahwa ada “dunia lain” yang tidak seperti miliknya, bahwa tiap apa yang dia mili harus disyukuri. Pernah loh satu anak agak “ngamuk”, setelah ditelusuri itu terjadi karena jam lesnya diganti maghrib, sementara biasanya jam 3. Anak dengan kebutuhan khusus sangat peka dengan rutunitas, waktu, dan cahaya. Anak ini keliatan sangat terganggu dengan tidak adaanya cahaya matahari dari jendela.
Bukan cuma Zua ternyata yang belajar, tapi aku juga!!