• Homepage
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
  • About Me
Was ist los, Une?

Bagaimana jika diriku yang terbiasa freediving ini mencoba pengalaman baru, Scuba Diving? Wah, tentunya jadi pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan. Sebenarnya kegiatan ini nggak masuk dalam itineraryku saaat berkunjung ke Maratua, November 2025, namun, kak Anis sebagai guideku selama disana malah menawarkan dan menggodaku agar mencoba kegiatan Discovery Scuba Diving (DSD) di Green Nirvana Resort.

"Ayoklah, mumpung disini cobain aja semua. Lebih gampang loh daripada freediving. Aku aja kalo lagi banyak uang lebih pilih scuba,"

"Masa sih lebih gampang?" tanyaku. Asumsiku bakal ribet karena banyak peralatan yang dibawa saat menyelam.

"Ya gampang lah, kan kita nafas didalam laut pake regulator. Liat nih, mbak-mbak yang gak bisa renang aja udah berhasil," ujarnya sambil menunjukkan peserta DSD terdahulu yang katanya nggak bisa renang.

Wah, jiwa coba-cobaku makin menjadi. 

"Nah siapa tahu cocok kan, bisa ambil license open water next-nya."

Anis makin kompor melihat diriku yang tampaknya makin ngiler. Tanpa mendang-mending, langsung aku iyakan ajakannya.

"Boleh!"

"Bentar, aku nanya bang Willy bisa nggak besok," Bang Willy adalah suami dari Anis yang merupakan PADI dive instructor di Green Nirvana Resort. "Tapi agak mahal nggak apa-apa ya, 1,5 an per sesi menyelam."

"Yok gas aja," ucapku gak sabar. Ah, uang kan bisa dicari, tapi kesempatan itu kadang lebih susah dicari, bukan?

Jadi, DSD itu semacam trial scuba diving bagi orang yang belum memiliki license scuba diving minimal open water, jadi ya perkenalan, coba-coba siapa tahu cocok ambil license gitu kan. Selama DSD kita diajarkan skill dasar, seperti hand sign descend atau ascend, lalu survive seperti mask dan regulator clearing. Untuk pengoperasian alat-alat full dari dive instructornya. Jadi jangan khawatir untuk tenggelam atau kecelakaan dalam air karena kita pasti dikawal 100% oleh instructornya. Untuk kedalaman maksimal yang dicoba sekitar 10-12 meter.

Hari H pun tiba. Cukup deg-degan juga ya karena belum pernah mencoba hal ini. Anis selalu menyemangatiku, namun sial aku menderita selesma ringan yang lendir di hidung belum terlalu banyak. Duh kira-kira aman nggak ya saat equalize di kedalaman? Aku cobain equalize di darat sih nggak ada masalah, masa sampai sejauh ini batal sih nyobain discovery scuba diving?

Image

Untuk kegiatan DSD ini dilakukan di perairan dibawah dermaga Green Nirvana Resort. Siapa sih yang mengelak kalau perairan Maratua itu pristine dan visibilitasnya paling oke ?

Oke, aku mengabaikan selesma yang membuatku agak kepikiran ini. Bang Willy, yang notabene suami dari Anis bakal jadi dive instructorku hari ini. Beliau PADI dive instructor. Awalnya aku ditawarin mau pakai wetsuit atau nggak, aku mengiyakan, penasaran gimana rasanya pake wetsuit biar kayak pro aja. Setelah itu perkenalan diri, lalu mengenalkan peralatan yang akan aku pakai, seperti tabung oksigen, regulator, BYD, mask dan fins. Oh ya, plus belt weight yang kupakai ada sekitar 4 kg an.

"Ini serius seberat ini kak? Pakai tabung di dalam air apa nggak makin berat?" selidikku.

"Nggak sama sekali kok."

Oke, aku nurut. Penjelasannya aku simak baik-baik dan tak lama kemudian langsung berlatih basic skill di dalam air.

Image

"Kalau freedive naik ke permukaan dengan cepat aman aja kan, nah kalau di scuba diving ascendnya harus perlahan, bertahap, biar nggak bahaya. Sekarang kakaknya belajar nafas dulu pakai regulator ya. Cara nafasnya sama aja kayak pakai snorkel, nafas kayak biasa."

Aku coba nafas di permukaan, awalnya aman sih. Tapi begitu masuk kedalam air, rasanya kok sesak nafas, eh ternyata aku auto tahan nafas, nggak nafas sama sekali.

"Lho kenapa tahan nafas, ini bukan freedive loh. Nafas aja kayak biasa dari mulut." seru Bang Willy geli. "Pantas kulihat gak ada gelembung yang keluar dari regulator."

"Eh, iya iya. Maaf bang kebiasaan freediving kebawa juga." belaku. Reflek mamalia saat nyelam kan gitu, tahan nafas.

Setelah nafas dengan regulator 'lumayan' bisa, selanjutnya lanjut ke survival skill lainnya, yaitu mask clearing. Skill ini dilakukan saat mask kita ngembun atau kemasukan air. Biar nggak kena mata atau mengganggu visibilitas, maka perlu dilakukan mask clearing.

Bang Willy mempraktikkan terlebih dahulu, memasukkan sedikit air kedalam masknya lalu menghembuskan dengan hidung. Aku mencobanya dan ternyata nggak mudah. Pertama kali coba, air laut malah bikin perih mata, lalu selanjutnya sudah mulai bisa. Skill lain yang dicoba adalah regulator clearing, caranya adalah melepas regulator dari mulut dan ditekan hingga keluar gelembung udaranya. Kalau regulator clearing nggak terlalu masalah sih.

Lanjut, kita mulai turun ke 5 meter terlebih dahulu untuk pembiasaan dan latihan hand signal. Baru turun beberapa meter rasanya mulai sesak nafas, takut nafas pakai regulator karena refleks alamiku kan tahan nafas kalau masuk kedalam air, haha. Otomatis aku mengacungkan jempol tanda minta naik ke permukaan. 

Dan itu terjadi berkali-kali, aku minta naik ke permukaan.

"Sesak bang rasanya nggak bisa nafas," keluhku yang masih parno nafas pakai regulator dan udara dari tabung.

"Loh kenapa? nafas aja kayak biasa. Ini jauh lebih mudah lo dari freediving. Tenang dulu, lalu kita turun lagi."

"Sabar ya bang," Bang Willy cuma bisa mengangguk berusaha sabar melihat ibu-ibu anak satu ini.

Percobaan yang kesekian kalinya, akhirnya aku berhasil turun dengan bernafas agak berat dan cepat karena masih sedikit panik. Equalize sejauh ini aman, dan berharap kedepannya tetap aman. Bang Willy sedikit lega melihat kemajuanku, wkwk. Tapi refleks freedivingku mulai lagi, yaitu finning terus sehingga badanku naik keatas secara otomatis.

Image

"Kak, kalau scuba diem aja kakinya, tenang. Pertahankan bouyancy. Kalau finning terus ya otomatis tubuhmu bakal naik ke permukaan."

"Maaf maaf bang. Kebiasaan freedivingku terbawa lagi."

Kami masuk lagi, dan ternyata kagok banget harus diam dalam air lihat-lihat ikan. Karena aku udah mulai bisa tenang dan terkontrol, serta equalize yang aman, Instructor memberikan hand sign untuk turun lebih dalam lagi. Aku memberikan sinyal oke, dan kami tos dalam air.

Image

Di perairan dibawah Green Nirvana, terdapat beberapa moda transportasi yang sengaja ditenggelamkan untuk pelestarian terumbu karang. Aku sempat foto disana. 

Ketika sang instructor menilaiku sudah aman terkendali, seperti melakukan mask clearing dengan mandiri dan equalize, maka kami turun lebih dalam lagi. Bang Willy menunjukkan divecom yang ia pakai sudah di kedalaman 10 meter, dan hendak turun ke 12 meter.

Nah, dikedalaman ini, aku udah merasa di titik paling enjoy. Bisa kesana kemari sendiri dengan percaya diri, dan instructor pun mulai bisa melepasku bermain sendiri sama ikan dan terumbu karang (disini ternyata cantik banget) tapi diawasi dari jauh, nggak dipepet terus. Dan bener ternyata, scuba diving jauh lebih mudah dari freediving. Turunnya dibantu pakai alat apa itu namanya, BCD? (nggak perlu duck dive) dan bisa nafas sehingga santai didalam air. Waduh bahaya ini kalau keasyikan👺 nanti malah nggak mau freedive lagi!

Namun, sempat aku sekali equalize agak sulit, sedikit kupaksa dan tiba-tiba dahiku terasa nyeri tajam banget. Ngilu, tapi kuabaikan apa yang terjadi.

Image

Setelah puas fun diving, akhirnya kami naik ke permukaan. Kalau ditanya nagih? ya Nagih lah karena seseru itu. Pengen ambil license open water? Hmm...aku masih mikir lagi, karena menurutku scuba itu lebih diperlukan untuk pekerjaan dibawah laut, seperti fotografi, penelitian, atau lain sebagainya. Kalau cuma lihat-lihat, freediving sudah cukup,  sekalian melatih nafas untuk permainan fluteku ini.

"Gimanaa...seru kan scuba?" sapa Anis ketika aku berada di pelataran Green Nirvana.

"Bangeet ! Lebih gampang daripada freediving !"

"Ambil lah license, biar makin puas dan bisa diving dimanapun!"

Aku berdehem dan senyum malu-malu. Eh, seketika aku terkesiap, darah apa ini?

"Kak! itu hidungnya mimisan!" kata Bang Willy. Apakah aku panik? Enggak lah, santai aja sambil membersihkan darah yang berleleran di sekitar mulut. Hidungku buntu total, suaraku sengau. Rasanya setelah scuba, selesmaku makin menjadi.

"Tadi agak flu ya, kalau berlendir sinusnya emang bakal agak terganggu saat equalize karena terhalang lendir di rongga sinus. Tapi aman kan?"

"Aman," jawabku sengau. Mudah-mudahan aman. Sebenarnya sudah tahu sih sejak pelajaran freediving Agustus lalu. Tapi bandel aja. 

"Kamu pertama scuba tapi bouyancynya udah bagus loh ini," puji Anis sambil melihat videoku didalam air.

"Ehehe, cocok nih langsung ambil license,"

Image

Image

Senja sore itu sedikit tertutup awan. Badanku memang sedikit meriang, tapi pengalaman hari ini tetap menyenangkan dan tak terlupakan.

Jadi, siapkah kamu untuk melihat lautan yang lebih luas?

0
Share

Apa yang sebenarnya kupikirkan saat itu, awalnya iseng-iseng menggali informasi tentang wisata bahari di peramban, takdir mempertemukan dengan salah satu web freediving course pertama di Indonesia, Let's Freedive yang berdomisili di Jakarta. Namanya juga si Une tukang penasaran, ya saya kepoin mati-matian itu webnya dan lirak-lirik akun instagramnya walaupun aku belum berani follow. 

Dan akhirnya dengan kesadaran penuh aku kontak salah satu instruktur yang tertera disitu via pesan singkat.  Dan dibalas dong selang beberapa menit.

Deg-degan. Ngapain sih Une? Iseng banget👻

Ya cuma nanya informasi, coursenya ngapain saja, apa yang perlu disiapkan. Biayanya berapa, terus jadwalnya kapan, ya pokoknya seolah-olah minggu depan aku langsung ikutan gitu.

"AIDA 2 itu basic. Gak perlu persiapan apa-apa kok. Cuma bawa diri , handuk dan shampoo aja."

Bodoh...bodoh lah si Une. Malah bikin nggak bisa tidur semalaman karena penasaran mencari alasan kenapa aku harus ikutan course ini, dan tertantang gara-gara coachnya cuma bilang kayak gitu. Web dan video yang membahas tentang pengalaman AIDA 2 aku baca berulang kali, memastikan bahwa apa yang dikatakan coachnya bener. Jangan-jangan dia udah menganggapku jagoan di air, padahal, duh hanya bisa glidang-gliding seadanya pakai buntut duyung warna tosca, latihan sendiri modal yutub, miris lah pokoknya karena memang nggak ada komunitas freedive ini di Bontang.

"Dan yang penting nyaman pas berada di air. Nggak panikan." aku berulang kali membaca chat dan menggaris bawahi kalimat itu dari calon coach yang saat itu aku hubungi, Jason Hakim. 

Huh, nyaman? Iya sih, aku sering latihan renang seadanya, dan bagiku berada di air tidak membuatku panik takut tenggelam. Dikit-dikit bisa lah, nggak bodo-bodo amat.

Lantas, apa yang memacuku untuk membulatkan tekad nekad ikut course ini? Karena aku merasa rugi, masa kecil di Maluku, belum bisa renang. 2014 selama 4 bulan aku On Job Training di Labuan Bajo, masih belum bisa renang. 2016 ke Derawan, belum bisa renang juga. Dan 2022 babymoon ke Bunaken, sudah bisa renang tapi nggak berani nyelam karena hamil muda, dan belum tahu teknik yang aman. Rugi lah...rugiiii! Dan juga aku ini suka bermain alat musik tiup flute, dengan harapan mengikuti course ini bisa memperbaiki tone projection dan bisa stabil dan konstan saat meniup nada. 

Begitulah kira-kira alasan yang aku jelasin ke coach Jason saat pertemuan pertama.

Jadi, AIDA itu apa? Sebenarnya itu adalah singkatan dari bahasa Perancis, kalau dibahasa Inggriskan kurag lebih "The International Association for the Development of Apnea", organisasi yang berfokus di edukasi atau kompetisi khusus freediving sejak tahun 1992. Sebenarnya banyak sih agen freediving lain seperti SSI, PADI, atau Molchanovs tapi aku lebih condong ke AIDA karena SSI dan PADI itu awal membesarkan namanya dari Scuba Diving, dan Molchanovs juga fokus ke freediving namun masih terbilang baru. AIDA sendiri ada 4 tahapan yang perlu ditempuh sebelum jadi instruktur, yaitu AIDA 1, 2, 3, dan 4. Dan ternyata bisa langsung AIDA 2, hehe.👅

Tampaknya Allah membukakan jalan dan jawaban atas keinginanku. Karena saat itu pekan depan ada jadwal tugas ke Jakarta selama sehari (25 Agustus 2025), maka tanpa pikir panjang aku mengajukan cuti tambahan selama tiga hari dan menghubungi coach untuk daftar dan melakukan pembayaran.

Oke, sudah transfer. Dan...serius nih nggak ada isi-isi form atau apa gitu buat daftar? Cuma ditanyakan ukuran kaki berapa cm karena bakal dipinjami bifins selama course.

Jiah mati aku, pakai bifins aja belum pernah.

Hari-hari berlalu, waktu course makin dekat dan belum ada info lanjut. Aku tetap terdiam, bingung mau tanya apa. Sesekali aku coba cek-cek di instagram, beberapa reels anak-anak Jakarta yang ikut course dan rajin latihan bersama komunitas, masih ada yang belum lolos persyaratan AIDA 2. Ya Allah...apalagi saya yang skill kentang ini. Jarang latihan, nggak punya teman, open water seadanya pakai buntut mermaid. Disitulah titik penyesalan kenapa aku buru-buru daftar, kalau ternyata nggak semudah itu. Nggak mungkin kan aku minta refund gara-gara aku takut. Malu-maluin Bontang aja, haha.

Dan hal-hal itu sukses membuatku susah tidur.  Nggak main instagram dulu biar nggak makin galau.

Ditengah kegalauan ini, aku teringat salah satu rekan di Samarinda yang pernah foto-foto ala freediving juga. Aku coba kontak dia, mungkin dia bisa memberi solusi atau membesarkan hati. Sebut saja dia si Nyot. Kurang lebih beginilah percakapan kami.

"Kamu pernah ikut AIDA 2 gak Nyot?"

"Pernah, di Bontang sama Jason. Pas itu Pak Fadli juga ikut, Ne."

"Lah, kok bisa kesini dia? Aku juga sama dia, (Jason)"

"Iya, karena pas itu 2016 peminatnya banyak, jadi orangnya bisa dipanggil kesini. Kamu mau ikutan juga?"

"Iya, emang diapain aja Nyot?"

"Disuruh nyelam 16 m, tahan nafas STA minimal 2 menit. Dynamic min 40 meter tanpa napas."

Modyar, pikirku saat itu. STA 2 menit, aku satu menit aja udah mau tewas.🙈

"Waduh,"

"Saranku kamu latihan aja dulu, bukan nakut-nakutin, cuma ngingetin sayang duitnya kalau gagal. Apalagi kamu ke Jakarta butuh akomodasi besar kan. Dulu aku pernah nyoba di Bali kurang 2 meter aja gak lolos."

"Tapi Jason cuma bilang gak perlu siapin apa-apa, cuma suruh bawa handuk dan shampo aja." kataku membela diri.

"Terus kamu sekarang punya modal apa buat ikut AIDA 2?"

"Modal duit aja Nyot, hehe..."

"Kamprettt~!"

"Hahahaha...kalau nggak ada duit juga gak bisa ikutan ini!" aku tertawa getir. Sesusah itu ya? Tapi jika aku terlalu memikirkan kemungkinan terburuk, itu akan membuatku tetap rebahan dan nggak mau mencoba. Tenanglah, Une! Nanti kamu juga diajarin teknik yang benar, nggak langsung ujian, kan?

"Nggak apa-apa, kalau Jason udah ngomong gitu. Kamu pasti diajarin sampai bisa, orangnya sabar dan telaten kok. Dulu ada temenku dari nol diajarin sampai bisa."

"Oh gitu ya,"

"Udah daftar aja, cobain. Kamu disana kan juga latihan sendiri, biar safety."

"Hmm...aku udah bayar Nyot."

H-1 aku diingetin untuk course dan meeting point di stadion akuatik Senayan. Tenang...tenanglah Une, walaupun semalam aku deg-degan parah. Jadwal kursus ini dijadwalkan selama empat hari, tapi jika hanya 3 hari lolos maka sesi selesai.


Hari Pertama - Selasa, 26 Agustus 2025

Hari pertama masih teori selama dua jam, mengenai fisiologi, psikologi, kajian ilmiah secara biologi, fisika, apa yang terjadi di tubuh kita selama menyelam, larangan selama menyelam, disiplin dalam freedive dan peralatan selam bebas. Setelahnya ada waktu rehat dan disilakan untuk mengganti pakaian untuk berenang di kolam Senayan. 

Image

Disiplin pertama yang diujikan adalah static apnea (STA). Dimana tubuh kita menghadap air (posisi telungkup) sambil menahan nafas selama mungkin (untuk AIDA 2 adalah dua menit). Jadi tubuh kita harus dalam posisi rileks, semua otot-otot rileks, dan pikirkan hal-hal yang membuatmu tenang. 

Ini adalah ujian yang paling aku takutin buat gak lulus, wkwkkw.

"Une, tenang ya. Ada buddy yang jaga. Kalau kamu ngerasa kontraksi, gak apa-apa, ditahan aja. Kamu kan masih punya cadangan oksigen sekitar 75-80%, masih banyak itu." coach Jason menjelaskan dan menenangkan. Dan gak lama-lama aku langsung persiapan dan akhirnya melakukan static apnea.

Percobaan pertama tampaknya gagal, aku masih grogi. Dan aku disuruh coba lagi.

Image

Percobaan kedua. Coach Jason menyemangatiku, "Bagus...bagus sekali Une. Ini kamu udah mulai kontraksi, tapi aku tahu kamu bisa tahan lebih lama. Oksigen di tubuhmu masih banyak sekali."

Hal yang kupikirkan saat STA adalah bermain dengan si kecil, lari-lari di padang rumput yang luas, sambil memejamkan mata. Berdoa.

Dan terasa mulai sesak aku mengambil ancang-ancang untuk naik ke permukaan. Tak dapat kupercaya 2,5 menit aku bisa tahan nafas, dengan teknik yang sudah diajarkan.

"Hah, masa sih?" 
"Biarkan stopwatch dan recording yang berbicara," ujarnya. Dan aku diberikan kesempatan sekali lagi dengan waktu relaksasi yang lebih panjang, dan hasilnya lima detik lebih lama.

"Tuh kamu bisa, satu ujian udah lolos ini!"

Hatiku lega bin berbunga-bunga. 

Latihan selanjutnya adalah rescue blackout saat STA, dan berjalan cukup lancar. Lalu latihan menggunakan bifins. Awalnya kagok banget karena baru pertama pakai. Badanku belum lurus dan pantatnya masih kaku. Tapi pelan-pelan bisa, walau setengah mati juga belajarnya biar bisa meluruskan badan, hehe. Setelah bisa belajar duck dive, biar bisa renang vertikal ke dalam air.

Image

Setelah itu coach Jason ngetes kemampuan ekualisasiku di kedalaman 5 meter. Dia lega karena pas teori aku sudah bisa ekualisasi frenzel, dan awalnya cukup khawatir sih, tapi akhirnya bisa juga! Walau sempat telat ekualisasi dan telingaku sakit banget kayak ditusuk jarum, hiks😔 Namun percobaan selanjutnya aku berhasil, dan diminta fokus ekualisasi saat bertambah kedalaman.

Lanjut hari kedua ~


Hari Kedua, Rabu, 27 Agustus 2025

Masih di stadion akuatik Senayan. Menuju kesini dari tempatku nginap di Kemang, sangat mudah. Cukup naik MRT dari Cipete Raya Tuku dan turun di Istora Mandiri. Dari Istora Mandiri tinggal jalan sejauh kurang lebih 900 meter. Kukira Jakarta sangat gerah, ternyata jalan siang hari masih terasa hangat, jauuuh lebih panas di Bontang !

Image

Image

Hari kedua kami janjian di pukul sepuluh pagi. Masuk ke kolam Senayan hanya perlu tap e-money senilai  Rp 110,000 ,- dan hanya diberi waktu berenang selama dua jam. Anak sekampung aku kaget dong, kok bisa semahal ini, hiks! Tapi memang sebanding dengan fasilitas kolamnya yang luaaas banget dan kamar mandi yang bersih!

Untuk hari ini, waktunya belajar duck dive dengan benar, dan lanjut renang vertikal kebawah mengikuti arah tali. Wajib lurus ! ini untuk belajar constant weight training (CWT) dan apakah semudah itu? Tidak dong, masih belak belok, disorientasi, muter-muter, pokoknya drama terus lah. 

"Masih banyak mikir nih. Dah, lepaskan aja Ne. Kepalamu jangan lihat lantai, fokus ke tali. Nunduk aja pas udah masuk air." coach memberi masukan.

"Iya coach, aku paham sebenarnya di kepalaku. Tapi kenapa refleks saja kepalaku ndongak, jadinya belok deh."

"Coba lagi. Ayo jangan sia-siakan waktu cuti dan uang pesawatmu."

Kata-katanya membuat semangatku kembali meletup. Otakku membuat perhitungan singkat, bener juga. Tiket 1,7 juta, penginapan semalam 400 ribu, belum jajan. Masa Une nggak berhasil membawa pulang si AIDA2. Hahaha😋

Image

Percobaan demi percobaan aku lalui. Ada sedikit progress, agak lurus walau pinggangku masih agak nungging. Dan....saat berhasil lurus, ketika dicoba lagi malah kembali ke jalan yang salah. Kesel! Kesel!

Tapi Une pantang menyerah. Masih semangat mencoba sampai akhirnya bisa walau masih nungging dikit hahaha.

Setelah latihan CWT (agak) sukses, maka selanjutnya disuruh melanjutkan berenang lurus sepanjang kolam di dasar kedalaman 5 meter itu. Aduh, kuat nggak ya renang tanpa nafas sejauh 40 m di kedalaman 5 meter😓

Tentunya dua kali percobaan gagal, tengah jalan aku udah naik duluan. Coach kembali memberi masukan saktinya, pokoknya setiap diberi masukan aku langsung bisa. Nggak salah sepertinya memilih coach freediving pertama di Indonesia untuk melatihku yang kocak ini😆

Image

"Kamu renang tangannya gini," ia mempratikkan tangan streamline, dua tangan dijadikan satu membentuk torpedo sehingga lebih aerodinamis. "Kalau tanganmu terbuka ya berat lah, gak efisien. Terus kamu renangnya menyentuh lantai aja, biar jadi patokan tetep stay dibawah."

"Oiya iya,"

"Dan ingat, tetap rileks. Kalau rileks dan tenang, nafasmu makin hemat. Ada buddy disini. Kamu fokus aja sama finning yang efisien."

Betulan dong, setelah kena petuah sakti aku sukses renang 40 m didasar kolam. Dan ketika naik nafasku terasa masih tersisa banyak, rasanya nambah 10 meter masih bisa, haha. Apakah ini yang dinamakan the power of kata-kata sakti😂

"Nah bisa kan. Aku tahu sebenarnya kamu bisa. Kalau 5 meter lancar, yakin aku besok bisa langsung 10-12 meter ini. Udah, balik lagi sana dangan cara seperti tadi."

Aku mencoba dengan percaya diri. Sukses dong😎

Practice selanjutnya adalah ilmu yang wajib dikuasai tapi jangan dipraktikkan, yaitu rescue teman yang blackout di kolam. Siapa yang direscue? Ya coach Jason lah, karena saat itu hanya kami berdua.

Aku jadi ingat kata-kata Nyot, dia pernah ngerescue Jason dari kedalaman 13 meter. Sampai permukaan dia lemes dan pengen direscue juga. Apakah kali ini aku berhasil?

Image

Awalnya aku disuruh jadi korban dan disuruh pura-pura pingsan didasar kolam. Setelahnya gantian, aku rescue coach. Untuk percobaan awal membawa ke permukaan sukses, cuma nggak berhasil bawa ke tepi kolam. Percobaan kedua mulai lancar walaupun kagok banget bawa korban ke tepi kolam. Berat ternyata! Sampai bahu kiriku terkilir😒😓

"Kalau di laut gimana coach?"

"Ya udah bawa sampai pinggir, entah itu pantai atau kapal."

Aku cuma bisa berdoa, semoga dijauhkan dari hal-hal seperti itu.

Lanjut hari ketiga ~


Hari Ketiga - Kamis, 28 Agustus 2025

Hari ketiga adalah waktunya untuk berlatih di kolam dalam Tribuana Dive Center, untuk adaptasi kedalaman dan beberapa displin lain seperti Free Immersion (FIM). Kolam terdalam adalah 16 m, dan target kelulusan AIDA2 yang awalnya 16 sudah diturunkan menjadi 12 meter. Haah...lucky Une.

Image

"Gimana, Une, tidurnya cukup?" aku dapat pertanyaan yang cukup seram pagi ini. Duh kayaknya ngeri.

Latihan hari ini bersama dua peserta wanita lain yang merupakan murid dari coach Jason juga. Akhirnya ada temannya ya, dan kami memiliki kekurangan masing-masing seperti duck dive dan ekualiasasi, jadi saling melengkapi lah, wkwk.

Pertama kami pemanasan dulu duck dive di kedalaman 5 meter. Aku melakukan dengan cukup lancar karena ada dinding kolam sebagai patokan. Setelahnya latihan free immersion (FIM) di kedalaman 10 meter. Tujuannya adalah untuk latihan ekualisasi, dengan cara menarik tali yang menjuntai ke dasar kolam yang terikat dengan buoy. FIM adalah salah satu disiplin yang aku sukai karena minim gerakan sehingga irit nafas dan hanya fokus ekualisasi sambil tarik tali. Percobaan pertama lumayan sukses tapi hanya lupa menghadap tali ketika kembali ke permukaan. Percobaan kedua sukses, ekualisasi aman, hanya saja agak telat ekualisasi mask sehingga rasanya mataku seperti disedot keluar.👀

Image

Image

Latihan kedua adalah FIM di kedalaman 16 meter. Sebenarnya 12 meter sudah cukup sih, tapi aku penasaran juga dengan blue hole alias bagian terdalam di TDC. Aku kuat-kuatin hanya mentok di 12,8 meter aja, bukan karena ekualisasi tapi karena nafasku yang sudah mulai memburu. Harusnya bisa ya, karena aku kurang rileks aja rasanya. Lalu coba dive ke 16 meter juga belum sukses, hanya di 12 meter saja, hiks...nggak apa-apa yang penting sudah memenuhi standar kelulusan lah, lain kali kalau ke Jakarta bisa dicoba lagi😊

Setelah sesi latihan selesai, waktunya untuk main-main! Nah aku  diminta untuk turun menyentuh bendera merah putih di kedalaman 8 meter, sambil dibantu videokan coach Jason, wah seru pokoknya sesi main-main ini, karena udah rileks dan nggak ada target lain, haha. Sayang waktu kami di TDC hanya terbatas, sehingga segera berkemas dan kembali pulang.

Image

Jadii...jadi gimana Une lulus nggak dalam tiga hari ini? Alhamdulillah, atas ijin Allah aku lulus, berhasil dapat license AIDA2, nggak sia-sia cuti dan uang akomodasiku. Aku terharuuu....nggak nyangka ! Dan Allah juga menjaga waktu-waktu latihanku dari chaos yang terjadi di daerah Senayan, nggak bayangin kalau  hari ini aku masih di Senayan dan terperangkap dalam demo besar disana😟

Image

Dengan memegang lifetime license ini, aku jadi makin percaya diri untuk menyelam, dan takut kalau menyelam sendiri, karena motto anak-anak diving adalah never freedive alone.

Mau tanya-tanya atau daftar course freediving, cek instagram : letsfreedive_indonesia atau website di : www.letsfreedive.com.




0
Share

 Holiday almost over ! Mumpung masih di kampung halaman, mbahnya si bocyl nawarin untuk ke Cimory Dairyland di Prigen, yang jaraknya hanya satu jam via tol dari Surabaya. Ya kali gak kuy, itu kan wahananya bocyl banget !😺 Penuh warna dan figur hewan-hewan yang unyu kalau sekilas lihatnya.

Sebenarnya dulu sempat hampir ke Cimory, sayang pas pandemi jadi tutup terus. Jadi alhamdulillah tahun ini diberikan kesempatan ulang bersama keluarga, minus ayahnya bocyl karena sudah balik duluan ke perantauan. Karena Cimory buka pukul 09.00 WIB, jadi berangkat dari Surabaya bisa pukul 08.00 WIB nunggu bocyl mandi dan sarapan dulu biar nggak tantrum.

Image

Image

Image

Image

Image


Prigen itu daerah sejuk, angin sepoi-sepoi menampar kami saat berjalan di area Dairyland. Kalau disini lebih fokus ke edukasi mengenai persusuan dan persapian. Pengetahuan mengenai sejarah pengolahan susu hingga pasteurisasi, serta pengenalan produk Cimory alias Cisarua Mountain Dairy. Tempatnya lucu banget sih, karena bisa foto-foto dengan sapi yang beraneka gaya !

Image

Tiket masuk dibagi menjadi beberapa paket, seperti paket satuan, 2 wahana, dan 4 wahana. Untuk paket 4 wahana per orang dikenakan Rp 95,000 ,- itu sudah seluruh wahana (Dairyland, Milk Museum, Museum Lulu, dan Windmills) kecuali naik ATV didalam. Setelah pembayaran masing-masing pengunjung mendapatkan kartu untuk tap ke masing-masing wahana dan akan dikembalikan saat keluar. Anak diatas 2 tahun atau diatas 80 cm bayar penuh Masing-masing tiket sudah gratis cimory yoghurt stick dan kupon diskon ice tea atau ice cream. Untuk mbah buyut nggak ikut jalan kedalam karena kondisi kaki yang sudah nggak bisa jalan jauh, jadi cuma tunggu di restoran saja.

Image

Image

Image

Image

Salah satu wahana yang tidak bisa kami nikmati secara penuh adalah The windmills, yang merupakan wahana di lereng berundak-undak yang dipenuhi dengan kincir plastik mini berwarna-warni yang berputar jika ditiup angin. Agak susah bawa balita karena jalannya naik turun dan juga nggak bisa diperuntukkan untuk kereta dorong. Jadi kami hanya menikmati hanya sebentar dari atas. 

Image

Image

Image

Disini tak hanya edukasi tentang sapi, tapi juga ada tentang aneka unggas unik dan kandang-kandang burung hantu beserta namanya masing-masing. Beberapa satwa non Indonesia juga ditemukan disini, seperti Alpaka dan Domba mungil morino. Selain itu ada wahana seperti kolam renang, rainbow slide dan bermain dengan kelinci. Salah satu wahana yang terbaru adalah wahana jejepangan yang dikelilingi dengan pohon sakura buatan dan disana disediakan persewaan baju kimono untuk bergaya.

Image

Image

Puas mengelilingi area Cimory Dairyland, kami makan siang di Cimory Resto. Resto ini bisa menikmati panorama secara 360 derajat berupa penanggungan dan kebun-kebun di kaki bukit. Siang itu anginnya cukup kencang, dan sukses mengibarkan hijab dan menerbangkan topi kami. 
Bagi pengunjung yang membawa anak, disediakan lembar mewarnai bergambar hewan untuk mengisi waktu. Masakan disini enak! Apalagi sup iganya, bocyl doyan sih. Ada beberapa menu ala western berupa produk sosis dan nugget yang bekerjasama dengan salah satu produsen merk terkenal.

Dan yang paling penting, sebelum pulang adalah belanja produk Cimory yang terkenal lezat dan legit! Salah satunya adalah moomoo roll yang baru pertama aku cobain. Mau beli banyak sayangnya produknya tidak tahan lama di suhu ruang, padahal mau kubawa terbang ke perantauan.

Hari ini menyenangkan! Bocyl senang dan kenyang, emaknya pun juga begitu !

0
Share

 Sejak kecil, si bocyl memang sudah kubiasakan untuk mengenal makhluk ciptaan Allah selain manusia, seperti flora dan fauna. Buat apa? Ya supaya si kecil makin tumbuh rasa sayang dan peduli terhadap sesama makhluk, tidak menyakiti, makin mengenal dan mengasihi, cieeilah, haha. Tapi betul loh, semua pola pikir itu bisa ditanamkan sejak dini, salah satunya dengan cara mengajak ke kebun binatang seperti ini. Jika belum sempat ke kebun binatang, maka solusinya adalah bercerita singkat dengan gambar di poster atau menggambar hewan-hewan di buku gambar. Jadinya si bunda harus pinter gambar sih, biar si bocyl nggak bingung ini hewan apa.😁

Image

Perjalanan mengenal aneka satwa dimulai saat setelah libur idul fitri. Memang sengaja dijadwalkan cuti sesaat setelah cuti bersama berakhir untuk menghindari keramaian di jalanan maupun tempat wisata. Untuk kali ini, pengenalan satwa dilakukan di Batu Secret Zoo, Jawa Timur Park II. Aku terakhir kesini pas jaman kuliah, naik motor dari Surabaya pas jaman masih liar. Sekarang sudah ada yang jagain dan ada yang dijagain juga. 
Image

Tidak banyak yang berubah dari tahun 2012, pas masih baru- barunya dibuka. Satwanya masih terawat dengan baik dan sehat. Lokasi juga bersih dan nggak banyak sampah. Desain kandangnya dibuat mirip dengan habitat asli sehingga mereka tetap happy. Karena Batu sedang musim hujan, terutama setelah dhuhur pasti hujan deras, maka pagi-pagi jam setengah sembilan kami langsung berangkat dari villa yang kami sewa yang berjarak hanya 5 menit saja. Hari masih cerah dan hangat!

Kami membeli tiket terusan senilai Rp 170,000 ,- sudah meliputi Batu Secret Zoo, Museum Satwa, dan Eco Green Park. Untuk wahana di  Bagi temen-temen yang bawa balita, sangat disarankan membawa kereta dorong atau trike karena jalannya lumayan jauh dan kalau nggak mau encok gendong. Lagipula di sana tempatnya sudah sangat wheelchair friendly. Bawa stroller yang ada kanopi dan bisa reclining seat lebih enak, karena biasanya saat jalan-jalan si bocyl merasa capek atau memasuki waktu istirahatnya jadi bisa tidur. Sudah sesuai dugaanku, saat berjalan baru satu jam si bocyl malah tidur sekitar 1,5 jam, ia melewatkan aneka satwa yang ia kenal, seperti hyena alias dubuk, gajah, maupun para satwa penghuni savana. 

Image

Image

Image

Image

Awal masuk, kami disuguhi dengan aneka primata, ada lemur, marmoset, dimana si bocyl hanya menyebut dengan satu kata, "monyet" ditambah dengan kata sifat "monyet besar" "kecil" atau kata kerja "Monyet bobok" atau "monyetnya lari-lari" antusias lah dia pokoknya melihat aneka monyet, kalau dirumah kan hanya ada satu spesies monyet ekor panjang aja yang sering garuk-garuk tong sampah.

Image

Image

Saat si bocyl bobok, akhirnya aku dan suami bergantian menikmati wahana permainan yang berada disana, seperti kursi terbang, animal coaster, tsunami, dan octopus. Beberapa wahana gak aman buat penderita asam lambung, hahaha.

Karena pengunjung masih sepi, maka praktis hanya aku seorang diri yang mencoba masing-masing wahana. Teriak-teriak sambil diliatin orang cuek aja, toh yang penting si bocyl masih nyenyak.

Untuk wahana yang aman buat anak-anak ada kereta mini, dan flying elephant. Ada juga playground dan mini farm yang lucu banget dan sayang untuk dilewatkan, karena kami dibawa berkeliling dengan kereta model vintage dan melihat aktivitas patung sapi, kambing, babi yang sedang beraktivitas sambil bergoyang-goyang. Ini emaknya juga senang, haha.

Image

Image

Nah, karena mendung mulai merayap turun, kami buru-buru menyelesaikan perjalanan dan segera menuju ke museum satwa yang full indoor. Namun saat keluar hujan semakin deras, sehingga kami melewatkan pass ke eco green park, sedih banget lo aku, karena aku belum pernah dan lihat referensi kok tempatnya bocyl friendly banget.

Image

Image

Image

Nah, sebenarnya ada mall lantai 3 di Batu Secret Zoo yang menampilkan aneka atraksi virtual reality. Kami pilih salah satu pertunjukan Metaverse yang menceritakan tentang kehidupan bawah laut, dimana pengunjung duduk dibawah dan melihat layar di sekeliling, dan seakan-akan memasuki dunia bawah laut betulan. Kalau yang ini bocyl sudah teriak-teriak bosan pengen keluar. 

Image


Oh iya ada beberapa tips saat berkunjung ke Batu Secret Zoo.

1. Bawa stroler / trike saat berkunjung dengan balita. Jika tidak ada bisa menyewa electric bike disana.

2. Perhatikan ramalan cuaca  saat berkunjung, agar puas explore nya !

3. Tidak mengganggu hewan, memberi makan sembarangan dan memasukkan anggota badan.

4. Menjaga kebersihan

5. Bawa cemilan favorit bocil. Bawa minum agar tidak dehidrasi

0
Share
Older Posts Home

AUTHOR

AUTHOR
Seorang wanita yang seperti kera sakti : Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati dan hanya hukuman yang dapat menghentikannya.

Labels

Berkeluarga INFLIGHT ITALY JAWA TENGAH Jambi KALIMANTAN TIMUR KUTAI TIMUR Lumajang NETHERLAND NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR Perancis SULAWESI SELATAN SUMATERA BARAT Sulawesi Utara Yogyakarta deutschland jakarta jawa barat jawa timur kalimantan selatan rusia

Popular Posts

  • Image
    Berbagi Pengalaman Ketika Aku Joinan Tes D3 ITS-PLN
    Oy...sebelumya si Une minta maaf dulu, fotonya dibuat kayak hantu biar gak ada pemalsuan identitas, penghubungan alamat, walaupun aku pun...
  • Image
    ABOUT ME | ÜBER MICH
    "Allah menciptakanku saat sedang tersenyum, begitu pula ibu melahirkanku dengan senyum pula." Terlahir di Surabaya, 20 Juni ...
  • Image
    #1 Babak Kedua Gunung Gergaji : Mengulang Pengembaraan di Barisan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
     "Maaf ya, jika pesanmu baru bisa aku balas kira-kira hari Jumat."  Sejenak aku mengetik pesan terakhir padamu sebelum melanjutkan...
  • Image
    Merindukan Otot Lelah dan Bau Hutan : Puncak Batu Putih, Kaliorang
    Alasan yang paling kuat untuk menjelajah Kutai Timur sebenarnya sederhana : Pandemi COVID-19. Yang awalnya memiliki rencana untuk terbang ke...
  • Image
    Deutschland für Anfänger (Pameran Jerman Untuk Pemula)
    Guten tag Leute :) Sebenarnya jujur, kejadian ini udah berlangsung sekitar sebulan yang lalu, tetapi nggak sempat ceritanya karena bentro...
  • Image
    PORTOFOLIO (BOOKS)
    Kategori : Nonfiksi - Travel  Judul : Bekerja, Tidur, dan Berjalan di Kutai Timur Penulis : Unesia Drajadispa Penerbit : Stiletto Indie Book...

INSTAGRAM : @FRAUNESIA

Copyright © 2015 Was ist los, Une?

Created By ThemeXpose

Advertisement