Bagaimana jika diriku yang terbiasa freediving ini mencoba pengalaman baru, Scuba Diving? Wah, tentunya jadi pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan. Sebenarnya kegiatan ini nggak masuk dalam itineraryku saaat berkunjung ke Maratua, November 2025, namun, kak Anis sebagai guideku selama disana malah menawarkan dan menggodaku agar mencoba kegiatan Discovery Scuba Diving (DSD) di Green Nirvana Resort.
"Ayoklah, mumpung disini cobain aja semua. Lebih gampang loh daripada freediving. Aku aja kalo lagi banyak uang lebih pilih scuba,"
"Masa sih lebih gampang?" tanyaku. Asumsiku bakal ribet karena banyak peralatan yang dibawa saat menyelam.
"Ya gampang lah, kan kita nafas didalam laut pake regulator. Liat nih, mbak-mbak yang gak bisa renang aja udah berhasil," ujarnya sambil menunjukkan peserta DSD terdahulu yang katanya nggak bisa renang.
Wah, jiwa coba-cobaku makin menjadi.
"Nah siapa tahu cocok kan, bisa ambil license open water next-nya."
Anis makin kompor melihat diriku yang tampaknya makin ngiler. Tanpa mendang-mending, langsung aku iyakan ajakannya.
"Boleh!"
"Bentar, aku nanya bang Willy bisa nggak besok," Bang Willy adalah suami dari Anis yang merupakan PADI dive instructor di Green Nirvana Resort. "Tapi agak mahal nggak apa-apa ya, 1,5 an per sesi menyelam."
"Yok gas aja," ucapku gak sabar. Ah, uang kan bisa dicari, tapi kesempatan itu kadang lebih susah dicari, bukan?
Jadi, DSD itu semacam trial scuba diving bagi orang yang belum memiliki license scuba diving minimal open water, jadi ya perkenalan, coba-coba siapa tahu cocok ambil license gitu kan. Selama DSD kita diajarkan skill dasar, seperti hand sign descend atau ascend, lalu survive seperti mask dan regulator clearing. Untuk pengoperasian alat-alat full dari dive instructornya. Jadi jangan khawatir untuk tenggelam atau kecelakaan dalam air karena kita pasti dikawal 100% oleh instructornya. Untuk kedalaman maksimal yang dicoba sekitar 10-12 meter.
Hari H pun tiba. Cukup deg-degan juga ya karena belum pernah mencoba hal ini. Anis selalu menyemangatiku, namun sial aku menderita selesma ringan yang lendir di hidung belum terlalu banyak. Duh kira-kira aman nggak ya saat equalize di kedalaman? Aku cobain equalize di darat sih nggak ada masalah, masa sampai sejauh ini batal sih nyobain discovery scuba diving?
Untuk kegiatan DSD ini dilakukan di perairan dibawah dermaga Green Nirvana Resort. Siapa sih yang mengelak kalau perairan Maratua itu pristine dan visibilitasnya paling oke ?
Oke, aku mengabaikan selesma yang membuatku agak kepikiran ini. Bang Willy, yang notabene suami dari Anis bakal jadi dive instructorku hari ini. Beliau PADI dive instructor. Awalnya aku ditawarin mau pakai wetsuit atau nggak, aku mengiyakan, penasaran gimana rasanya pake wetsuit biar kayak pro aja. Setelah itu perkenalan diri, lalu mengenalkan peralatan yang akan aku pakai, seperti tabung oksigen, regulator, BYD, mask dan fins. Oh ya, plus belt weight yang kupakai ada sekitar 4 kg an.
"Ini serius seberat ini kak? Pakai tabung di dalam air apa nggak makin berat?" selidikku.
"Nggak sama sekali kok."
Oke, aku nurut. Penjelasannya aku simak baik-baik dan tak lama kemudian langsung berlatih basic skill di dalam air.
"Kalau freedive naik ke permukaan dengan cepat aman aja kan, nah kalau di scuba diving ascendnya harus perlahan, bertahap, biar nggak bahaya. Sekarang kakaknya belajar nafas dulu pakai regulator ya. Cara nafasnya sama aja kayak pakai snorkel, nafas kayak biasa."
Aku coba nafas di permukaan, awalnya aman sih. Tapi begitu masuk kedalam air, rasanya kok sesak nafas, eh ternyata aku auto tahan nafas, nggak nafas sama sekali.
"Lho kenapa tahan nafas, ini bukan freedive loh. Nafas aja kayak biasa dari mulut." seru Bang Willy geli. "Pantas kulihat gak ada gelembung yang keluar dari regulator."
"Eh, iya iya. Maaf bang kebiasaan freediving kebawa juga." belaku. Reflek mamalia saat nyelam kan gitu, tahan nafas.
Setelah nafas dengan regulator 'lumayan' bisa, selanjutnya lanjut ke survival skill lainnya, yaitu mask clearing. Skill ini dilakukan saat mask kita ngembun atau kemasukan air. Biar nggak kena mata atau mengganggu visibilitas, maka perlu dilakukan mask clearing.
Bang Willy mempraktikkan terlebih dahulu, memasukkan sedikit air kedalam masknya lalu menghembuskan dengan hidung. Aku mencobanya dan ternyata nggak mudah. Pertama kali coba, air laut malah bikin perih mata, lalu selanjutnya sudah mulai bisa. Skill lain yang dicoba adalah regulator clearing, caranya adalah melepas regulator dari mulut dan ditekan hingga keluar gelembung udaranya. Kalau regulator clearing nggak terlalu masalah sih.
Lanjut, kita mulai turun ke 5 meter terlebih dahulu untuk pembiasaan dan latihan hand signal. Baru turun beberapa meter rasanya mulai sesak nafas, takut nafas pakai regulator karena refleks alamiku kan tahan nafas kalau masuk kedalam air, haha. Otomatis aku mengacungkan jempol tanda minta naik ke permukaan.
Dan itu terjadi berkali-kali, aku minta naik ke permukaan.
"Sesak bang rasanya nggak bisa nafas," keluhku yang masih parno nafas pakai regulator dan udara dari tabung.
"Sabar ya bang," Bang Willy cuma bisa mengangguk berusaha sabar melihat ibu-ibu anak satu ini.
Percobaan yang kesekian kalinya, akhirnya aku berhasil turun dengan bernafas agak berat dan cepat karena masih sedikit panik. Equalize sejauh ini aman, dan berharap kedepannya tetap aman. Bang Willy sedikit lega melihat kemajuanku, wkwk. Tapi refleks freedivingku mulai lagi, yaitu finning terus sehingga badanku naik keatas secara otomatis.
"Kak, kalau scuba diem aja kakinya, tenang. Pertahankan bouyancy. Kalau finning terus ya otomatis tubuhmu bakal naik ke permukaan."
"Maaf maaf bang. Kebiasaan freedivingku terbawa lagi."
Kami masuk lagi, dan ternyata kagok banget harus diam dalam air lihat-lihat ikan. Karena aku udah mulai bisa tenang dan terkontrol, serta equalize yang aman, Instructor memberikan hand sign untuk turun lebih dalam lagi. Aku memberikan sinyal oke, dan kami tos dalam air.
Di perairan dibawah Green Nirvana, terdapat beberapa moda transportasi yang sengaja ditenggelamkan untuk pelestarian terumbu karang. Aku sempat foto disana.
Ketika sang instructor menilaiku sudah aman terkendali, seperti melakukan mask clearing dengan mandiri dan equalize, maka kami turun lebih dalam lagi. Bang Willy menunjukkan divecom yang ia pakai sudah di kedalaman 10 meter, dan hendak turun ke 12 meter.
Nah, dikedalaman ini, aku udah merasa di titik paling enjoy. Bisa kesana kemari sendiri dengan percaya diri, dan instructor pun mulai bisa melepasku bermain sendiri sama ikan dan terumbu karang (disini ternyata cantik banget) tapi diawasi dari jauh, nggak dipepet terus. Dan bener ternyata, scuba diving jauh lebih mudah dari freediving. Turunnya dibantu pakai alat apa itu namanya, BCD? (nggak perlu duck dive) dan bisa nafas sehingga santai didalam air. Waduh bahaya ini kalau keasyikan👺 nanti malah nggak mau freedive lagi!
Namun, sempat aku sekali equalize agak sulit, sedikit kupaksa dan tiba-tiba dahiku terasa nyeri tajam banget. Ngilu, tapi kuabaikan apa yang terjadi.
Setelah puas fun diving, akhirnya kami naik ke permukaan. Kalau ditanya nagih? ya Nagih lah karena seseru itu. Pengen ambil license open water? Hmm...aku masih mikir lagi, karena menurutku scuba itu lebih diperlukan untuk pekerjaan dibawah laut, seperti fotografi, penelitian, atau lain sebagainya. Kalau cuma lihat-lihat, freediving sudah cukup, sekalian melatih nafas untuk permainan fluteku ini.
"Gimanaa...seru kan scuba?" sapa Anis ketika aku berada di pelataran Green Nirvana.
"Bangeet ! Lebih gampang daripada freediving !"
"Ambil lah license, biar makin puas dan bisa diving dimanapun!"
Aku berdehem dan senyum malu-malu. Eh, seketika aku terkesiap, darah apa ini?
"Kak! itu hidungnya mimisan!" kata Bang Willy. Apakah aku panik? Enggak lah, santai aja sambil membersihkan darah yang berleleran di sekitar mulut. Hidungku buntu total, suaraku sengau. Rasanya setelah scuba, selesmaku makin menjadi.
"Tadi agak flu ya, kalau berlendir sinusnya emang bakal agak terganggu saat equalize karena terhalang lendir di rongga sinus. Tapi aman kan?"
"Aman," jawabku sengau. Mudah-mudahan aman. Sebenarnya sudah tahu sih sejak pelajaran freediving Agustus lalu. Tapi bandel aja.
"Kamu pertama scuba tapi bouyancynya udah bagus loh ini," puji Anis sambil melihat videoku didalam air.
"Ehehe, cocok nih langsung ambil license,"
Senja sore itu sedikit tertutup awan. Badanku memang sedikit meriang, tapi pengalaman hari ini tetap menyenangkan dan tak terlupakan.
Jadi, siapkah kamu untuk melihat lautan yang lebih luas?





.jpeg)


















