Kota Tangerang Selatan, sebagai salah satu kota penyangga ibu kota,
menghadapi tantangan serius dalam pembangunan transportasi dan infrastruktur
publik. Minimnya akses transportasi umum, kemacetan parah, polusi udara, serta
tingginya angka pengangguran merupakan isu strategis yang membutuhkan perhatian
serius. Dalam menghadapi tantangan ini, peran pemuda sangat vital untuk
mendorong perubahan yang inovatif, inklusif, dan berintegritas.
Pertama, mari kita soroti kondisi aksesibilitas
transportasi publik. Saat ini, Tangerang Selatan masih menghadapi tantangan
besar. Akses transportasi umum masih jauh dari ideal. Infrastruktur terbatas,
kemacetan parah, dan polusi udara menjadi penghambat utama mobilitas warga.
Partisipasi masyarakat dalam perencanaan transportasi juga minim, padahal ini
adalah kunci utama menciptakan solusi yang berkelanjutan dan inklusif.
Kedua, kualitas infrastruktur publik dan fasilitas
umum juga masih belum memadai. Walaupun ada taman bermain, toilet umum, dan
fasilitas olahraga di beberapa wilayah, jumlahnya sangat terbatas. Pemerintah
menargetkan pembangunan trotoar sepanjang 50 km dan jalur sepeda sepanjang 30
km hingga tahun 2026, serta pembangunan taman aktif di setiap kelurahan dan
fasilitas olahraga publik di Serpong dan Pamulang. Ini adalah langkah yang
baik, namun perlu diawasi dan dioptimalkan oleh kita semua. (Fasikhi, Eni dan
Sudarwani, 2023)
Ketiga, tingkat pengangguran di Kota Tangerang Selatan
juga masih menjadi masalah serius. Angkanya mencapai 7,5% pada tahun 2023,
lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,32% (BPS Tangsel, 2023; Utami,
Nurfalah dan Dermawan, 2022). Ketimpangan antara jumlah lapangan kerja dan
populasi, keterbatasan infrastruktur serta ketidakefisienan tata ruang menjadi
faktor penyebab utama. Sebuah pendekatan holistik yang mencakup perbaikan di
sektor ketenagakerjaan, transportasi, dan reformasi tata ruang sangat
dibutuhkan. (Annisa dan Sujipto, 2017)
Keempat, sektor transportasi berkontribusi besar
terhadap polusi udara. Polusi udara di Tangerang Selatan telah mencapai tingkat
yang mengkhawatirkan. Kendaraan bermotor tanpa kontrol emisi memicu dampak
negatif yang luas. Solusi yang dapat diterapkan antara lain peningkatan
transportasi publik, uji emisi rutin, penerapan kendaraan listrik, pembatasan
kendaraan bermotor, dan pengembangan infrastruktur ramah pejalan kaki dan
pesepeda. (Rixson, Risni dan Santoso, 2016)
Kelima, saatnya kita merumuskan kebijakan transportasi
yang inovatif, inklusif, dan berintegritas. Tantangan-tantangan seperti minimnya
akses transportasi publik, penerangan jalan yang terbatas, kondisi jalan
berlubang, kabel berseliweran, dan ketimpangan lapangan pekerjaan harus dijawab
dengan kebijakan konkret:
- Pembangunan
infrastruktur berkelanjutan, yang ramah lingkungan dan inklusif.
- Penyediaan
transportasi publik yang terintegrasi berbasis teknologi.
- Digitalisasi
layanan pemerintahan agar lebih transparan dan efisien.
- Pelatihan
keterampilan dan kolaborasi pendidikan dengan industri.
Kesimpulannya, analisis
yang dilakukan terhadap berbagai aspek di Kota Tangerang Selatan menunjukan
bahwa aksebilitas transportasi masih menjadi tantangan utama. Meskipun terhadap
beberapa Infrastruktur transportasi, masih ada kekurangan dalam hal
keterjangkauan dan kenyamanan masyarakat, terutama di daerah-daerah tertentu
yang jauh dari pusat kota. Evaluasi kualitas Infrastruktur publik dan fasilitas
umum juga menunjukan adanya ketidakseimbangan sarana dan prasarana publik yang
memadai.
Selain itu, faktor
penyebab tingginya tingkat pengangguran di Kota Tangerang Selatan dapat
dikaitkan dengan kurngnya penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan
kualifikasi penduduk, serta kurangnya pelatihan keterampilan yang relevan
dengan kebutuhan pasar kerja local. Dalam hal polusi udara, sektor transportasi
memegang peranan penting sebagai salah satu penyumbang utama emisi gas buang
yang berkontribusi pada tingkat polusi yang tinggi di Kota ini. Oleh karena
itu, pengembangan sektr transportasi yang lebih ramah lingkungan perlu
prioritas. Untuk itu, perumusan strategi kebijakan transformasi kota yang
Inovatif, Inklusif dan berintegritas menjadi sangat penting.
Hal ini mencakup
pengembangan sistem transportasi yang lebih efesien dan ramah lingkungan,
peningkatan kualitas infrastruktur publik. Serta pemberdayaan masyarakat untuk
meningkatkan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran, Kebijakan ini
diharapkan dapat menciptakan Kota Tangerang Selatan yang berkelanjutan dan
dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi seluruh lapisan masyarakat. Kita sebagai pemuda memiliki peran penting, tidak
hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan. (2023).
Profil Ketenagakerjaan Tangsel 2023.
Fasikhi, E., Eni, R., & Sudarwani, N. (2023).
Pembangunan Fasilitas Publik Berbasis Lingkungan di Kota Tangerang Selatan.
Jurnal Tata Kota, 11(2), 44–52.
Rixson, A., Risni, D., & Santoso, T. (2016).
Dampak Transportasi Terhadap Kualitas Udara Perkotaan. Jurnal Lingkungan dan
Energi, 8(1), 23–31.
Annisa, M., & Sujipto, D. (2017). Evaluasi Peran
Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Lokal. Jurnal Ekonomi Daerah, 9(3),
65–72.
Utami, A., Nurfalah,
S., & Dermawan, H. (2022). Ketimpangan Tenaga Kerja di Wilayah Peri-Urban.
Jurnal Ketenagakerjaan, 7(4), 33–40.