Rabu, 23 Juli 2025

Kabel Listrik Semrawut di Tangerang Selatan

Kabel listrik yang menjuntai dan semrawut di sepanjang jalan masih menjadi pemandangan umum di sejumlah wilayah Kota Tangerang Selatan. Di kawasan padat seperti Ciputat, Pamulang, hingga Serpong, kabel-kabel yang tidak tertata dengan baik menggantung rendah di atas jalan, menempel di pohon, bahkan melilit tiang-tiang listrik yang sudah berkarat. Kondisi ini bukan hanya mengganggu estetika kota, tapi juga membahayakan keselamatan warga.

Masalah kabel berselewiran sebenarnya bukan hal baru. Sudah bertahun-tahun warga mengeluhkan kondisi ini, namun belum terlihat adanya upaya serius dari pemerintah kota maupun pihak terkait untuk menanganinya secara tuntas. Kabel listrik, telepon, hingga jaringan internet seringkali terpasang tanpa perencanaan matang dan dibiarkan menumpuk begitu saja.

Selain membahayakan pengguna jalan, kabel yang semrawut juga menghambat pemangkasan pohon, merusak pemandangan, dan memperburuk citra kota yang sedang menuju “smart city”.

Sudah banyak kasus di berbagai kota lain di Indonesia yang menunjukkan bahwa kabel listrik yang menjuntai bisa menyebabkan kecelakaan, kebakaran, bahkan korban jiwa. Di Tangsel, potensi bahaya ini semakin tinggi, apalagi saat musim hujan disertai angin kencang. Jika kabel-kabel tersebut putus atau tersambar petir, dampaknya bisa fatal bagi masyarakat sekitar.

Salah satu solusi jangka panjang yang pernah diterapkan di kota besar seperti Jakarta dan Bandung adalah memindahkan kabel utilitas ke bawah tanah. Meski membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak sebentar, solusi ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko kebakaran, mempercantik wajah kota, dan memperbaiki kualitas layanan infrastruktur.

Selain itu, pemerintah juga bisa mulai dengan penertiban dan audit menyeluruh terhadap kabel-kabel yang sudah tidak aktif, mengajak kerja sama dengan pihak PLN, provider internet, dan operator telekomunikasi untuk menata ulang jaringan mereka.

Tangerang Selatan sebagai kota yang terus berkembang semestinya tidak lagi membiarkan persoalan kabel semrawut menjadi bagian dari wajah kotanya. Diperlukan tindakan nyata dan terkoordinasi dari semua pihak untuk menciptakan lingkungan kota yang aman, nyaman, dan tertib. Karena kota yang baik bukan hanya soal gedung tinggi dan jalan mulus, tapi juga bagaimana infrastruktur kecil seperti kabel ditata dengan rapi dan aman untuk semua.

Selasa, 22 Juli 2025

100 Hari Benyamin-Pilar di Tangsel: Janji yang Masih Menggantung?

Sudah lebih dari 100 hari sejak pasangan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan kembali menjabat sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan untuk periode kedua. Seharusnya, ini menjadi momentum mempercepat realisasi program prioritas dan menunjukkan arah baru kepemimpinan yang berkelanjutan. Namun, apakah warga Tangsel benar-benar merasakan perubahan?

Masalah Klasik Masih Jadi PR

Sampai hari ini, persoalan lama seperti banjir, pungli di sekolah, tumpukan sampah, dan korupsi masih membayangi wajah kota. Skandal dugaan korupsi di Dinas Lingkungan Hidup menambah daftar catatan merah dalam tata kelola birokrasi. Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh dan pembenahan total dalam sektor pengawasan dan pelayanan publik.

Layanan Kesehatan Gratis: Apresiasi Tapi Belum Merata

Salah satu program yang mendapat apresiasi adalah layanan cek kesehatan gratis, terutama untuk lansia dan masyarakat pra-sejahtera. Meski bermanfaat, layanan ini belum menjangkau seluruh lapisan warga, terutama mereka yang tinggal di wilayah padat atau pinggiran. Pemerintah perlu memperluas jangkauan dan memastikan informasi tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.

Penataan Pasar Tradisional: Langkah Positif tapi Perlu Konsistensi

Upaya penertiban Pasar Ciputat patut diapresiasi karena mengurangi ketegangan antara pedagang dan aparat hingga 40%. Tapi tantangannya tidak berhenti di situ. Pemerintah harus menjamin penataan ini berjalan adil, tidak hanya indah di atas kertas, dan tetap melindungi ekonomi rakyat kecil.

Masukan Konstruktif untuk Pemerintah Tangsel

  1. Transparansi Anggaran dan Proyek
    Warga, khususnya generasi muda, semakin kritis. Pemerintah perlu membuka akses data proyek-proyek publik, mulai dari anggaran hingga proses lelang.

  2. Libatkan Anak Muda dalam Inovasi Kota
    Buat ruang partisipasi Gen Z dalam perencanaan program kota, seperti forum aspirasi daring, kompetisi ide, atau pelibatan komunitas kreatif.

  3. Prioritaskan Infrastruktur Dasar
    Jalan rusak, drainase buruk, dan minimnya ruang terbuka hijau masih jadi keluhan utama. Pemerintah perlu menunjukkan komitmen pada pembangunan yang inklusif dan merata.

  4. Tangani Sampah dan Lingkungan dengan Teknologi dan Edukasi
    Kolaborasi dengan startup dan sekolah bisa jadi jalan keluar dari krisis pengelolaan sampah, dibanding hanya mengandalkan anggaran rutin.


Seratus hari pertama bukan untuk menyelesaikan segalanya, tapi seharusnya cukup untuk menunjukkan arah dan niat serius perubahan. Warga Tangsel, khususnya generasi muda, tidak ingin sekadar dijadikan data statistik atau simbol politik—tapi ingin ikut membangun kota yang inovatif, inklusif, dan berintegritas.

Jika pemerintah ingin membuktikan bahwa mereka layak dipercaya untuk lima tahun ke depan, transparansi, kolaborasi, dan keberpihakan kepada rakyat kecil adalah harga mati.

Referensi:

  • BeritaTangsel.com (2025), Menyoal 100 Hari Kerja Benyamin-Pilar

  • ParlemenBanten.com (2025), GMNI Soroti Janji Pemerintah Kota Tangsel

  • KPU Kota Tangerang Selatan, Data Partisipasi Pemilih Pilkada 2024

  • Kompas.com, Tantangan Kota Satelit di Tengah Perubahan Generasi

Jumat, 18 Juli 2025

Pilkada Tangsel Lewat Kacamata Gen Z: Apa yang Sudah, Apa yang Kurang?

Pilkada Kota Tangerang Selatan yang digelar pada 27 November 2024 menghasilkan kemenangan pasangan petahana Benyamin Davnie – Pilar Saga Ichsan dengan perolehan suara sebesar 62,46%. Di balik hasil itu, terdapat dinamika menarik: keterlibatan signifikan generasi muda, khususnya Gen Z, dalam proses demokrasi lokal.

Menurut data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tangsel dan sejumlah media, Gen Z (usia 17–27 tahun) mencakup sekitar 22,4% dari total daftar pemilih tetap (DPT). Jika digabungkan dengan pemilih milenial (~34%), totalnya mencapai lebih dari 56% dari keseluruhan pemilih. Artinya, pemilih muda mendominasi kontestasi demokrasi kota ini secara jumlah.

Namun, tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024 tercatat menurun menjadi 57,1%, lebih rendah dibanding Pilkada 2020 yang mencapai 61%. Fenomena ini memperlihatkan bahwa meskipun komposisi Gen Z sebagai pemilih sangat besar, belum seluruhnya tergerak untuk hadir ke tempat pemungutan suara.

Padahal, sejak pertengahan 2024, KPU Tangsel telah melakukan berbagai pendekatan langsung ke sekolah dan kampus melalui program “Goes to School” dan literasi digital untuk menyasar Gen Z. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran politik sebagian pemuda, namun belum berhasil mendongkrak partisipasi secara menyeluruh.

Salah satu hambatan yang muncul adalah kejenuhan politik akibat pemilu yang terlalu sering, serta kurangnya figur atau program yang benar-benar dirasa relevan oleh pemilih muda. Di sisi lain, partisipasi Gen Z lebih menonjol di ranah digital, terutama melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, yang dimanfaatkan untuk menyebarkan konten edukatif, kampanye anti-hoaks, serta diskusi tentang visi dan misi calon kepala daerah.

Keterlibatan Gen Z dalam Pilkada Tangsel 2024 mencerminkan kebangkitan kesadaran politik generasi muda, meski belum sepenuhnya optimal dari sisi partisipasi langsung. Dominasi jumlah pemilih muda telah terbukti, namun tantangannya kini adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan partisipasi aktif mereka, tidak hanya saat pemilu berlangsung, tetapi juga dalam mengawal jalannya pemerintahan dan kebijakan daerah ke depan.

Referensi:

  1. KPU Kota Tangerang Selatan. (2025). Hasil Resmi Pilkada 2024

  2. Bidiktangsel.com. (Desember 2024). Rekapitulasi Suara Pilkada Tangsel 2024.

  3. PosRakyat.id. (September 2024). Gen Z dan Milenial Dominasi DPT Tangsel.

  4. Tangsel.JawaPos.com. (2024). KPU Lakukan Sosialisasi Politik di SMA/SMK.

  5. Wikipedia. (2025). 2024 South Tangerang Mayoral Election.

Rabu, 16 Juli 2025

Identifikasi Faktor Penyebab Tingginya Tingkat Pengangguran di Kota Tangerang Selatan

Tingkat pengangguran di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2023 tercatat mencapai 7,5% (BPS Tangsel, 2023), jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka sekitar 5,32% pada tahun yang sama. Angka ini menandakan adanya tantangan serius yang perlu segera diatasi, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang layak dan merata bagi seluruh masyarakat.

Masalah pengangguran di Tangsel tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Ada beberapa faktor struktural dan sektoral yang saling berkaitan dan memperburuk kondisi ini.

  1. Ketimpangan antara Lapangan Pekerjaan dan Jumlah Penduduk : Tingginya jumlah penduduk usia produktif tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Banyak lulusan SMA, SMK, bahkan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena terbatasnya sektor industri dan layanan yang menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan.
  2. Keterbatasan Infrastruktur dan Transportasi Publik : Akses transportasi yang belum merata membuat sebagian warga kesulitan untuk menjangkau lokasi kerja, terutama mereka yang tinggal di pinggiran kota. Hal ini juga menjadi penghambat bagi perusahaan dalam merekrut tenaga kerja dari wilayah-wilayah tertentu.
  3. Tata Ruang dan Infrastruktur Ekonomi yang Kurang Efisien : Beberapa kawasan di Tangsel belum memiliki perencanaan tata kota yang mendukung pertumbuhan ekonomi secara optimal. Minimnya pusat ekonomi baru di kawasan pemukiman membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan kerja di sekitar tempat tinggalnya.

Tingginya pengangguran tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi rumah tangga, tapi juga memengaruhi kesejahteraan sosial secara keseluruhan. Semakin banyak warga yang tidak bekerja, semakin tinggi potensi masalah sosial seperti kemiskinan, kriminalitas, dan ketimpangan ekonomi.

Menurut sejumlah studi (Annisa & Sujipto, 2017), masalah ini juga berkaitan erat dengan sistem tata kota yang belum sepenuhnya mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif. Banyak kawasan potensial yang belum dikembangkan sebagai pusat produktivitas baru, sehingga potensi ekonomi masyarakat tidak tergarap dengan maksimal.

Mengatasi pengangguran di Tangsel tidak cukup hanya dengan membuka pelatihan kerja atau menambah lowongan pekerjaan semata. Diperlukan pendekatan holistik, yaitu langkah-langkah strategis yang mencakup:

  • Reformasi tata ruang agar lebih mendukung sektor produktif.

  • Perluasan dan pemerataan transportasi publik yang terjangkau.

  • Pembangunan kawasan ekonomi baru yang dekat dengan permukiman.

  • Kolaborasi pemerintah, swasta, dan komunitas untuk membuka peluang usaha.

Masalah pengangguran di Kota Tangerang Selatan merupakan persoalan kompleks yang memerlukan penanganan lintas sektor. Dengan perencanaan kota yang lebih terintegrasi dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat, Tangsel bisa mengubah tantangan ini menjadi peluang besar untuk menciptakan kota yang lebih inklusif, produktif, dan sejahtera.


Tangerang Selatan dan Tantangan Membangun Masa Depan Gen Z

Menurut data BPS tahun 2024, jumlah Gen Z di Kota Tangerang Selatan mencapai sekitar 450 ribu jiwa. Itu artinya, sepertiga dari total penduduk Tangsel adalah anak muda berusia 10 sampai 27 tahun.

Angka ini seharusnya menjadi kekuatan besar bagi pembangunan kota. Namun, faktanya justru sebaliknya: anak muda di Tangsel belum benar-benar mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang dan berkarya.

Di tengah era digital, Gen Z dihadapkan pada banyak tantangan yang tidak ringan. Tingkat literasi yang masih rendah membuat sebagian besar anak muda mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Maraknya kasus perundungan, tekanan dari media sosial, hingga jebakan pinjaman online yang menjanjikan uang cepat menjadi ancaman nyata.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah semakin masifnya judi online di kalangan anak muda. Banyak yang awalnya iseng, ikut-ikutan teman, sampai akhirnya kecanduan. Judi online bukan hanya menghancurkan keuangan pribadi, tapi juga merusak mental dan mengikis semangat produktif. Ketika anak muda lebih sibuk mengejar keberuntungan semu, maka kesempatan untuk berkarya dan membangun masa depan jadi terabaikan.

Semua ini menunjukkan bahwa banyak anak muda yang belum benar-benar tahu apa tujuan hidup mereka, belum menemukan apa yang mereka suka, dan tidak memiliki cukup akses untuk mengembangkan potensi.

Tangerang Selatan dikenal sebagai kota pendidikan dan teknologi. Tapi ironisnya, anak muda sebagai bagian penting dari kota ini justru belum banyak dilibatkan dalam proses pembangunan. Mereka memiliki banyak ide, bakat, dan energi, tapi minim panggung untuk menunjukkan semua itu.

Masih jarang ada tempat atau kegiatan yang secara khusus memberi ruang untuk seniman muda, kreator lokal, pelaku ekonomi kreatif pemula, atau komunitas digital. Banyak yang jago melukis, bikin konten, desain, musik, atau produk lokal, tapi tidak tahu di mana bisa menampilkan hasil karya mereka.

Ruang publik yang ramah ekspresi masih sangat terbatas. Perpustakaan banyak yang tidak aktif. Kegiatan kreatif masih terpusat di titik-titik tertentu saja. Sementara di tingkat lingkungan, kegiatan untuk anak muda cenderung bersifat formal dan seremonial, bukan berbasis minat dan ekspresi.

Masalah ini tidak bisa selesai hanya dengan acara tahunan atau lomba formal. Perlu strategi serius dan melibatkan semua pihak, terutama anak muda sendiri. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Libatkan anak muda sejak awal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Mereka harus dilibatkan dalam Musrenbang, forum warga, dan kegiatan komunitas.

  2. Bangun ruang terbuka dan ruang ekspresi anak muda di lingkungan sendiri. Bisa berupa panggung kecil, area mural, lapangan multifungsi, taman komunitas, atau rumah kreatif.

  3. Adakan pelatihan ekonomi kreatif dan digital yang relevan dengan dunia sekarang. Fokus pada konten digital, desain, produk lokal, fotografi, pemasaran daring, dan literasi keuangan.

  4. Perkuat literasi di tingkat lingkungan. Hidupkan kembali perpustakaan RT/RW, buat program baca bareng, diskusi film, dan akses perpustakaan digital gratis.

  5. Bentuk komunitas anti-judi online dan edukasi keuangan digital. Jangan hanya menyuruh menjauhi, tapi tawarkan aktivitas positif dan dukungan nyata agar anak muda tidak terjebak pada godaan seperti pinjol dan judi daring.

  6. Adakan event rutin untuk menampilkan karya dan talenta anak muda. Misalnya Festival Pemuda Tangsel, Hari Karya Lokal, atau Pekan Ekspresi Kreatif RT/RW.

Anak muda tidak boleh terus dijadikan penonton dalam pembangunan kota. Mereka harus diberi ruang untuk bicara, tempat untuk mencoba, dan kesempatan untuk gagal dan belajar.

Tangerang Selatan punya potensi besar untuk menjadi kota kreatif dan berdaya saing tinggi. Tapi itu semua tidak akan tercapai kalau satu pertiga penduduknya, yaitu anak muda tidak diberdayakan.

Gen Z butuh ruang, bukan hanya konten. Mereka butuh dukungan, bukan sekadar aturan. Mereka butuh teman kolaborasi, bukan sekadar penonton.

Jika Tangsel ingin masa depan yang cerah, maka masa depan itu harus mulai dibangun dari sekarang bersama anak mudanya.


Evaluasi dan Solusi atas Kualitas Infrastruktur Publik di Kota Tangerang Selatan

Kota Tangerang Selatan terus tumbuh menjadi salah satu kawasan penyangga ibu kota yang padat penduduk. Namun, seiring pertumbuhan tersebut, muncul tantangan besar dalam penyediaan infrastruktur publik dan fasilitas umum yang layak dan merata. Banyak warga mengeluhkan minimnya fasilitas publik seperti taman bermain, toilet umum, hingga sarana olahraga yang bisa diakses secara gratis.

Saat ini, meskipun di beberapa wilayah seperti BSD atau Alam Sutera sudah memiliki ruang publik yang cukup baik, banyak kawasan lain yang belum tersentuh pembangunan fasilitas serupa. Di beberapa kelurahan, anak-anak masih kesulitan menemukan tempat bermain yang aman. Warga yang ingin berolahraga di ruang terbuka juga seringkali tidak menemukan fasilitas yang layak dan terawat.

Untuk menjawab tantangan ini, Pemerintah Kota Tangerang Selatan mulai mengambil langkah nyata melalui program percepatan pembangunan infrastruktur publik. Salah satu fokus utamanya adalah pembangunan trotoar dan jalur sepeda yang ramah lingkungan.

Target pemerintah adalah membangun trotoar baru sepanjang 50 kilometer di wilayah Ciputat, Serpong, dan Pondok Aren hingga tahun 2026. Ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki, terutama di kawasan padat aktivitas.

Selain itu, jalur sepeda aman juga akan dibangun sepanjang 30 kilometer sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup sehat dan mobilitas non-motoris yang lebih ramah lingkungan. Pembangunan ini menjadi langkah penting untuk mengurangi polusi serta kemacetan yang semakin parah di sejumlah titik kota.

Tak hanya itu, Pemerintah Kota juga menargetkan pembangunan satu taman aktif di setiap kelurahan, agar seluruh warga memiliki akses yang setara terhadap ruang terbuka hijau. Taman ini nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas bermain, olahraga, dan area bersantai yang bisa digunakan oleh semua kalangan.

Di wilayah Serpong dan Pamulang, direncanakan juga akan dibangun fasilitas olahraga publik baru, seperti lapangan serbaguna dan tempat gym terbuka. Pemerintah juga merencanakan penyediaan toilet umum di area strategis, seperti pasar, taman, dan pusat transportasi, demi menunjang kenyamanan dan kebersihan kota.

Evaluasi ini menunjukkan bahwa meskipun masih banyak kekurangan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan sudah mulai bergerak ke arah yang tepat. Komitmen dalam membangun infrastruktur publik yang inklusif dan ramah lingkungan harus terus diawasi dan didukung oleh masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan warga.

Peran Strategis Pemuda dalam Mengoptimalkan Pembangunan Daerah Menuju Kota Tangerang Selatan yang Inovatif, Inklusif, dan Berintegritas

Kota Tangerang Selatan, sebagai salah satu kota penyangga ibu kota, menghadapi tantangan serius dalam pembangunan transportasi dan infrastruktur publik. Minimnya akses transportasi umum, kemacetan parah, polusi udara, serta tingginya angka pengangguran merupakan isu strategis yang membutuhkan perhatian serius. Dalam menghadapi tantangan ini, peran pemuda sangat vital untuk mendorong perubahan yang inovatif, inklusif, dan berintegritas.

Pertama, mari kita soroti kondisi aksesibilitas transportasi publik. Saat ini, Tangerang Selatan masih menghadapi tantangan besar. Akses transportasi umum masih jauh dari ideal. Infrastruktur terbatas, kemacetan parah, dan polusi udara menjadi penghambat utama mobilitas warga. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan transportasi juga minim, padahal ini adalah kunci utama menciptakan solusi yang berkelanjutan dan inklusif.

Kedua, kualitas infrastruktur publik dan fasilitas umum juga masih belum memadai. Walaupun ada taman bermain, toilet umum, dan fasilitas olahraga di beberapa wilayah, jumlahnya sangat terbatas. Pemerintah menargetkan pembangunan trotoar sepanjang 50 km dan jalur sepeda sepanjang 30 km hingga tahun 2026, serta pembangunan taman aktif di setiap kelurahan dan fasilitas olahraga publik di Serpong dan Pamulang. Ini adalah langkah yang baik, namun perlu diawasi dan dioptimalkan oleh kita semua. (Fasikhi, Eni dan Sudarwani, 2023)

Ketiga, tingkat pengangguran di Kota Tangerang Selatan juga masih menjadi masalah serius. Angkanya mencapai 7,5% pada tahun 2023, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,32% (BPS Tangsel, 2023; Utami, Nurfalah dan Dermawan, 2022). Ketimpangan antara jumlah lapangan kerja dan populasi, keterbatasan infrastruktur serta ketidakefisienan tata ruang menjadi faktor penyebab utama. Sebuah pendekatan holistik yang mencakup perbaikan di sektor ketenagakerjaan, transportasi, dan reformasi tata ruang sangat dibutuhkan. (Annisa dan Sujipto, 2017)

Keempat, sektor transportasi berkontribusi besar terhadap polusi udara. Polusi udara di Tangerang Selatan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Kendaraan bermotor tanpa kontrol emisi memicu dampak negatif yang luas. Solusi yang dapat diterapkan antara lain peningkatan transportasi publik, uji emisi rutin, penerapan kendaraan listrik, pembatasan kendaraan bermotor, dan pengembangan infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda. (Rixson, Risni dan Santoso, 2016)

Kelima, saatnya kita merumuskan kebijakan transportasi yang inovatif, inklusif, dan berintegritas. Tantangan-tantangan seperti minimnya akses transportasi publik, penerangan jalan yang terbatas, kondisi jalan berlubang, kabel berseliweran, dan ketimpangan lapangan pekerjaan harus dijawab dengan kebijakan konkret:

  • Pembangunan infrastruktur berkelanjutan, yang ramah lingkungan dan inklusif.
  • Penyediaan transportasi publik yang terintegrasi berbasis teknologi.
  • Digitalisasi layanan pemerintahan agar lebih transparan dan efisien.
  • Pelatihan keterampilan dan kolaborasi pendidikan dengan industri.

Kesimpulannya, analisis yang dilakukan terhadap berbagai aspek di Kota Tangerang Selatan menunjukan bahwa aksebilitas transportasi masih menjadi tantangan utama. Meskipun terhadap beberapa Infrastruktur transportasi, masih ada kekurangan dalam hal keterjangkauan dan kenyamanan masyarakat, terutama di daerah-daerah tertentu yang jauh dari pusat kota. Evaluasi kualitas Infrastruktur publik dan fasilitas umum juga menunjukan adanya ketidakseimbangan sarana dan prasarana publik yang memadai.

Selain itu, faktor penyebab tingginya tingkat pengangguran di Kota Tangerang Selatan dapat dikaitkan dengan kurngnya penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi penduduk, serta kurangnya pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja local. Dalam hal polusi udara, sektor transportasi memegang peranan penting sebagai salah satu penyumbang utama emisi gas buang yang berkontribusi pada tingkat polusi yang tinggi di Kota ini. Oleh karena itu, pengembangan sektr transportasi yang lebih ramah lingkungan perlu prioritas. Untuk itu, perumusan strategi kebijakan transformasi kota yang Inovatif, Inklusif dan berintegritas menjadi sangat penting.

Hal ini mencakup pengembangan sistem transportasi yang lebih efesien dan ramah lingkungan, peningkatan kualitas infrastruktur publik. Serta pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran, Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan Kota Tangerang Selatan yang berkelanjutan dan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi seluruh lapisan masyarakat. Kita sebagai pemuda memiliki peran penting, tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak.


Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan. (2023). Profil Ketenagakerjaan Tangsel 2023.

Fasikhi, E., Eni, R., & Sudarwani, N. (2023). Pembangunan Fasilitas Publik Berbasis Lingkungan di Kota Tangerang Selatan. Jurnal Tata Kota, 11(2), 44–52.

Rixson, A., Risni, D., & Santoso, T. (2016). Dampak Transportasi Terhadap Kualitas Udara Perkotaan. Jurnal Lingkungan dan Energi, 8(1), 23–31.

Annisa, M., & Sujipto, D. (2017). Evaluasi Peran Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Lokal. Jurnal Ekonomi Daerah, 9(3), 65–72.

Utami, A., Nurfalah, S., & Dermawan, H. (2022). Ketimpangan Tenaga Kerja di Wilayah Peri-Urban. Jurnal Ketenagakerjaan, 7(4), 33–40.

Kabel Listrik Semrawut di Tangerang Selatan

Kabel listrik yang menjuntai dan semrawut di sepanjang jalan masih menjadi pemandangan umum di sejumlah wilayah Kota Tangerang Selatan. Di k...