Lompat ke isi

Filsafat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Filsuf)
Foto patung Auguste Rodin Sang Pemikir
Patung Sang Pemikir karya Auguste Rodin merupakan simbol pemikiran filosofis.[1]

Filsafat (dari Bahasa Yunani Kuno philosophía terj. har.'cinta kebijaksanaan') adalah kajian sistematis atas pertanyaan-pertanyaan umum dan mendasar mengenai tema-tema seperti eksistensi, pengetahuan, pikiran, rasio, bahasa, dan nilai. Filsafat merupakan penyelidikan rasional dan kritis yang merefleksikan metode serta asumsi-asumsinya sendiri.

Secara historis, banyak ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, seperti fisika dan psikologi, pada mulanya merupakan bagian dari filsafat. Namun, dalam pengertian modern, disiplin-disiplin tersebut dipandang sebagai bidang akademik yang terpisah. Tradisi-tradisi berpengaruh dalam sejarah filsafat meliputi Barat, Arab–Persia, India, dan Tiongkok. Filsafat Barat berakar di Yunani Kuno dan mencakup spektrum subbidang filsafat yang luas. Salah satu tema sentral dalam filsafat Arab–Persia adalah relasi antara rasio dan wahyu. Filsafat India memadukan persoalan spiritual tentang bagaimana mencapai pencerahan dengan penelaahan hakikat realitas dan jalan-jalan untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat Tiongkok terutama berfokus pada persoalan praktis mengenai tata laku sosial yang benar, pemerintahan, dan kultivasi diri.

Cabang-cabang utama filsafat adalah epistemologi, etika, logika, dan metafisika. Epistemologi mengkaji apa itu pengetahuan dan bagaimana cara memperolehnya. Etika menyelidiki prinsip-prinsip moral dan apa yang membentuk tindakan yang benar. Logika adalah studi tentang penalaran yang benar serta menelaah bagaimana argumen yang baik dapat dibedakan dari yang keliru. Metafisika meneliti ciri-ciri paling umum dari realitas, keberadaan, objek, dan properti. Subbidang lainnya meliputi estetika, filsafat bahasa, filsafat pikiran, filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat sejarah, dan filsafat politik. Di dalam setiap cabang, terdapat beragam aliran filsafat yang mengemukakan dan menganjurkan prinsip, teori, atau metode yang berbeda-beda.

Para filsuf menggunakan berbagai metode untuk mencapai pengetahuan filosofis. Metode-metode tersebut mencakup analisis konseptual, ketergantungan pada akal sehat dan intuisi, penggunaan eksperimen pikiran, analisis bahasa sehari-hari, deskripsi pengalaman, serta pertanyaan kritis. Filsafat berhubungan erat dengan banyak bidang lain, seperti ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial, matematika, bisnis, hukum, dan jurnalisme. Filsafat menyediakan perspektif interdisipliner serta mengkaji ruang lingkup dan konsep-konsep fundamental dari bidang-bidang tersebut. Ia juga menelaah metode-metode dan implikasi etisnya.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata filsafat berakar dari kata-kata Bahasa Yunani Kuno φίλος (philos) 'cinta' dan σοφία (sophia) 'kebijaksanaan'.[2][a] Sejumlah sumber menyatakan bahwa istilah ini dicetuskan oleh filsuf pra-Sokratik Pythagoras, meskipun hal tersebut tidak dapat dipastikan.[4]

Ukiran kayu Isaac Newton di bawah pohon apel
Fisika pada mulanya merupakan bagian dari filsafat, seperti pengamatan Isaac Newton tentang bagaimana gravitasi memengaruhi apel yang jatuh.

Kata tersebut memasuki bahasa Inggris terutama melalui Bahasa Prancis Kuno dan Anglo-Norman sekitar tahun 1175 M. Istilah Prancis philosophie sendiri merupakan serapan dari bahasa Latin philosophia. Istilah filsafat kemudian memperoleh makna sebagai "kajian mendalam atas perkara-perkara spekulatif (logika, etika, fisika, dan metafisika)", "kebijaksanaan yang mendalam yang berakar pada kecintaan akan kebenaran dan kehidupan yang berbudi luhur", "pembelajaran mendalam sebagaimana diwariskan oleh para penulis kuno", serta "studi tentang hakikat dasar pengetahuan, realitas, dan eksistensi, beserta batas-batas pokok pemahaman manusia".[5]

Sebelum era modern, istilah filsafat digunakan dalam arti yang sangat luas. Ia mencakup sebagian besar bentuk penyelidikan rasional, termasuk berbagai ilmu pengetahuan sebagai subdisiplinnya.[6] Sebagai contoh, filsafat alam merupakan salah satu cabang utama filsafat.[7] Cabang ini meliputi berbagai bidang yang luas, termasuk disiplin-disiplin seperti fisika, kimia, dan biologi.[8] Salah satu contoh penggunaan ini adalah buku tahun 1687 berjudul Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica karya Isaac Newton. Judul tersebut merujuk pada filsafat alam, tetapi dewasa ini karya tersebut dipandang sebagai buku fisika.[9]

Makna filsafat mengalami perubahan menjelang akhir periode modern ketika istilah ini memperoleh pengertian yang lebih sempit sebagaimana lazim dipahami dewasa ini. Dalam pengertian baru tersebut, istilah ini terutama dikaitkan dengan disiplin-disiplin seperti metafisika, epistemologi, dan etika. Di antara berbagai pokok bahasannya, filsafat mencakup kajian rasional tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Ia dibedakan dari disiplin penyelidikan rasional lainnya seperti ilmu-ilmu empiris dan matematika.[10]

Konsepsi filsafat

[sunting | sunting sumber]

Konsepsi umum

[sunting | sunting sumber]

Praktik filsafat ditandai oleh sejumlah ciri umum: ia merupakan suatu bentuk penyelidikan rasional, berupaya bersifat sistematis, serta cenderung merefleksikan secara kritis metode dan praanggapan-praanggapannya sendiri.[11] Filsafat menuntut perenungan yang panjang dan cermat atas persoalan-persoalan yang menggugah, pelik, dan abadi yang menjadi pusat kondisi manusia.[12]

Upaya filosofis untuk mengejar kebijaksanaan melibatkan pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang umum dan mendasar. Ia sering kali tidak menghasilkan jawaban yang lugas, tetapi dapat menolong seseorang untuk memahami topik secara lebih mendalam, menelaah kehidupannya sendiri, menyingkirkan kekaburan, serta mengatasi prasangka dan gagasan-gagasan menipu diri yang melekat pada akal sehat.[13] Sebagai contoh, Sokrates menyatakan bahwa "hidup yang tak teruji tak layak dijalani" guna menegaskan peran penyelidikan filosofis dalam memahami keberadaan diri.[14][15] Dan menurut Bertrand Russell, "manusia yang tidak tersentuh oleh filsafat menjalani hidupnya terpenjara dalam prasangka-prasangka yang bersumber dari akal sehat, dari keyakinan yang lazim pada zamannya atau bangsanya, serta dari kepercayaan yang tumbuh dalam pikirannya tanpa kerja sama ataupun persetujuan dari nalarnya yang sadar dan reflektif."[16]

Definisi akademik

[sunting | sunting sumber]

Upaya untuk merumuskan definisi filsafat yang lebih presisi bersifat kontroversial[17] dan dikaji dalam metafilsafat.[18] Sejumlah pendekatan berpendapat bahwa terdapat seperangkat ciri esensial yang dimiliki bersama oleh seluruh bagian filsafat. Pendekatan lain melihat hanya kemiripan keluarga yang lebih longgar atau bahkan beranggapan bahwa filsafat hanyalah istilah payung yang kosong.[19] Definisi yang presisi sering kali hanya diterima oleh para teoretikus yang termasuk dalam suatu gerakan filsafat tertentu dan, menurut Søren Overgaard dkk., bersifat revisionistis karena banyak bagian yang lazim dianggap sebagai filsafat tidak lagi layak menyandang sebutan tersebut apabila definisi itu benar.[20]

Sebagian definisi mencirikan filsafat berdasarkan metodenya, seperti penalaran murni. Yang lain berfokus pada pokok bahasannya, misalnya sebagai kajian atas pola-pola terbesar dari dunia secara keseluruhan atau sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan besar.[21] Pendekatan semacam ini dianut oleh Immanuel Kant, yang berpendapat bahwa tugas filsafat dipersatukan oleh empat pertanyaan: "Apa yang dapat aku ketahui?"; "Apa yang seharusnya aku lakukan?"; "Apa yang boleh aku harapkan?"; dan "Apakah manusia itu?"[22] Kedua pendekatan tersebut menghadapi persoalan bahwa biasanya ia terlalu luas—dengan memasukkan disiplin nonfilsafat—atau terlalu sempit—dengan mengecualikan sebagian subdisiplin filsafat.[23]

Banyak definisi filsafat menekankan relasinya yang erat dengan ilmu pengetahuan.[24] Dalam pengertian ini, filsafat kadang dipahami sebagai suatu ilmu yang otonom. Menurut sebagian filsuf naturalis, seperti W. V. O. Quine, filsafat merupakan ilmu empiris namun abstrak yang berkenaan dengan pola-pola empiris yang luas alih-alih pengamatan-pengamatan partikular.[25] Definisi berbasis sains biasanya menghadapi persoalan untuk menjelaskan mengapa filsafat sepanjang sejarahnya yang panjang tidak mengalami kemajuan sejauh atau dengan cara yang sama seperti ilmu-ilmu lainnya.[26] Persoalan ini dihindari dengan memandang filsafat sebagai ilmu yang belum matang atau bersifat sementara, yang subdisiplinnya berhenti menjadi filsafat setelah berkembang sepenuhnya.[27] Dalam pengertian ini, filsafat kadang digambarkan sebagai "bidan bagi ilmu-ilmu pengetahuan".[28]

Definisi lain berfokus pada kontras antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Tema umum di antara banyak konsepsi tersebut ialah bahwa filsafat berkaitan dengan makna, pemahaman, atau klarifikasi bahasa.[29] Menurut salah satu pandangan, filsafat adalah analisis konseptual, yang melibatkan pencarian syarat perlu dan cukup bagi penerapan konsep-konsep.[30] Definisi lain mencirikan filsafat sebagai berpikir tentang berpikir untuk menekankan sifatnya yang reflektif dan kritis terhadap diri sendiri.[31] Pendekatan lebih lanjut menyajikan filsafat sebagai terapi linguistik. Menurut Ludwig Wittgenstein, misalnya, filsafat bertujuan melenyapkan kesalahpahaman yang rentan dialami manusia akibat struktur yang membingungkan dari bahasa sehari-hari.[32]

Para fenomenolog, seperti Edmund Husserl, mencirikan filsafat sebagai "ilmu yang ketat" yang menyelidiki esensi.[33] Mereka mempraktikkan penangguhan radikal atas asumsi-asumsi teoretis mengenai realitas untuk kembali pada "hal-hal itu sendiri", yakni sebagaimana mula-mula diberikan dalam pengalaman. Mereka berpendapat bahwa taraf dasar pengalaman ini menyediakan fondasi bagi pengetahuan teoretis tingkat lanjut, dan bahwa pemahaman atas yang pertama diperlukan untuk memahami yang kedua.[34]

Suatu pendekatan awal yang ditemukan dalam filsafat Yunani Kuno dan filsafat Romawi memandang filsafat sebagai praktik spiritual untuk mengembangkan kapasitas rasional seseorang.[35] Praktik ini merupakan ungkapan cinta sang filsuf terhadap kebijaksanaan dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan dengan menjalani kehidupan yang reflektif.[36] Sebagai contoh, kaum Stoa memandang filsafat sebagai latihan untuk mendisiplinkan jiwa dan dengan demikian mencapai eudaimonia serta berkembang dalam kehidupan.[37]

Sebagai suatu disiplin, sejarah filsafat bertujuan menyajikan pemaparan yang sistematis dan kronologis mengenai konsep serta doktrin filosofis.[38] Sebagian teoretikus memandangnya sebagai bagian dari sejarah intelektual, namun bidang ini juga menelaah persoalan-persoalan yang tidak tercakup dalam sejarah intelektual, seperti apakah teori-teori para filsuf masa lampau benar dan tetap relevan secara filosofis.[39] Sejarah filsafat pada dasarnya berkenaan dengan teori-teori yang bertumpu pada penyelidikan dan argumentasi rasional; sebagian sejarawan memahaminya dalam arti yang lebih longgar dengan mencakup mitos, ajaran keagamaan, dan kearifan peribahasa.[40]

Tradisi-tradisi berpengaruh dalam sejarah filsafat meliputi Barat, Arab–Persia, India, dan Tiongkok. Tradisi filsafat lainnya ialah filsafat Jepang, filsafat Amerika Latin, dan filsafat Afrika.[41]

Patung dada Aristoteles
Aristoteles merupakan tokoh utama dalam filsafat kuno dan mengembangkan suatu sistem pemikiran komprehensif yang mencakup metafisika, logika, etika, politik, dan ilmu alam.[42]

Filsafat Barat berawal di Yunani Kuno pada abad ke-6 SM melalui para pra-Sokratik. Mereka berupaya memberikan penjelasan rasional mengenai kosmos secara keseluruhan.[43] Filsafat sesudah mereka dibentuk oleh pemikiran Sokrates (469–399 SM), Plato (427–347 SM), dan Aristoteles (384–322 SM). Mereka memperluas cakupan topik ke persoalan seperti bagaimana manusia seharusnya bertindak, bagaimana memperoleh pengetahuan, serta apakah hakikat realitas dan pikiran.[44] Bagian akhir periode kuno ditandai oleh munculnya berbagai gerakan filsafat, misalnya Epikureanisme, Stoisisme, Skeptisisme, dan Neoplatonisme.[45] Periode abad pertengahan dimulai pada abad ke-5 M. Fokusnya tertuju pada tema-tema keagamaan, dan banyak pemikir memanfaatkan filsafat kuno untuk menjelaskan serta mengembangkan doktrin Kristen.[46][47]

Periode Renaisans dimulai pada abad ke-14 dan ditandai oleh bangkitnya kembali minat terhadap mazhab-mazhab filsafat kuno, khususnya Platonisme. Pada masa ini pula muncul humanisme.[48] Periode modern bermula pada abad ke-17. Salah satu perhatian utamanya adalah bagaimana pengetahuan filosofis dan ilmiah dibentuk. Perhatian khusus diberikan pada peran rasio dan pengalaman indrawi.[49] Banyak dari pembaruan ini dimanfaatkan dalam gerakan Pencerahan untuk menantang otoritas tradisional.[50] Pada abad ke-19 dilakukan berbagai upaya untuk mengembangkan sistem filsafat yang komprehensif, misalnya oleh idealisme Jerman dan Marxisme.[51] Perkembangan berpengaruh dalam filsafat abad ke-20 meliputi kemunculan dan penerapan logika formal, penekanan pada peran bahasa serta pragmatisme, dan berbagai gerakan dalam filsafat kontinental seperti fenomenologi, eksistensialisme, dan pascastrukturalisme.[52] Abad ke-20 menyaksikan ekspansi pesat filsafat akademik, baik dari segi jumlah publikasi filosofis maupun jumlah filsuf yang bekerja di institusi akademik.[53] Terjadi pula peningkatan yang nyata dalam jumlah filsuf perempuan, meskipun mereka masih tetap kurang terwakili.[54]

Arab–Persia

[sunting | sunting sumber]
Potret Ibnu Sina pada vas perak
Potret Ibnu Sina, salah satu filsuf paling berpengaruh pada Zaman Keemasan Islam

Filsafat Arab–Persia tumbuh pada awal abad ke-9 M sebagai tanggapan terhadap perdebatan dalam tradisi teologis Islam, yakni kalam. Masa klasiknya berlangsung hingga abad ke-12 M dan sangat dipengaruhi oleh para filsuf Yunani kuno. Gagasan-gagasan mereka dimanfaatkan untuk menguraikan dan menafsirkan ajaran Al-Qur'an.[55]

Al-Kindi (801–873 M) lazim dipandang sebagai filsuf pertama dalam tradisi ini. Ia menerjemahkan dan menafsirkan banyak karya Aristoteles serta para Neoplatonis dalam upayanya menunjukkan adanya keselarasan antara akal dan iman.[56] Ibnu Sina (980–1037 M) melanjutkan tujuan tersebut dan mengembangkan suatu sistem filsafat yang menyeluruh guna memberikan pemahaman rasional tentang realitas, yang mencakup sains, agama, dan mistisisme.[57] Al-Ghazali (1058–1111 M) merupakan pengkritik tajam terhadap gagasan bahwa akal dapat mencapai pemahaman yang benar tentang realitas dan Tuhan. Ia menyusun kritik atas filsafat secara terperinci dan berupaya menempatkan filsafat pada posisi yang lebih terbatas di samping ajaran Al-Qur'an dan penyingkapan mistik.[58] Setelah Al-Ghazali dan berakhirnya periode klasik, pengaruh penyelidikan filosofis pun mengalami kemunduran.[59] Mulla Sadra (1571–1636 M) kerap dipandang sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh pada periode berikutnya.[60] Meningkatnya pengaruh pemikiran dan institusi Barat pada abad ke-19 dan ke-20 melahirkan gerakan intelektual modernisme Islam, yang berupaya memahami relasi antara keyakinan Islam tradisional dan modernitas.[61]

Lukisan Adi Shankara
Adi Shankara mengembangkan pandangan monistik dalam Adwaita Vedanta, yang menyatakan bahwa keberadaan beragam entitas yang berbeda merupakan suatu ilusi.

Salah satu ciri khas filsafat India adalah integrasinya antara penelaahan hakikat realitas, cara-cara memperoleh pengetahuan, dan pertanyaan spiritual tentang bagaimana mencapai pencerahan.[62] Tradisi ini bermula sekitar 900 SM ketika Weda dituliskan. Weda merupakan kitab suci dasar Hinduisme dan merenungkan persoalan hubungan antara diri dan realitas tertinggi, serta pertanyaan mengenai bagaimana jiwa terlahir kembali berdasarkan perbuatannya di masa lampau.[63] Periode ini juga menyaksikan kemunculan ajaran non-Weda, seperti Buddhisme dan Jainisme.[64] Buddhisme didirikan oleh Siddhartha Gautama (563–483 SM), yang menentang gagasan Weda tentang diri yang kekal dan mengajukan suatu jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan.[64] Jainisme didirikan oleh Mahavira (599–527 SM), yang menekankan tanpa kekerasan serta penghormatan terhadap segala bentuk kehidupan.[65]

Periode klasik berikutnya dimulai kira-kira pada 200 SM[b] dan ditandai oleh kemunculan enam mazhab ortodoks Hinduisme: Nyāya, Vaiśeṣika, Sāṃkhya, Yoga, Mīmāṃsā, dan Vedanta.[67] Mazhab Adwaita Vedanta berkembang pada tahap lanjut periode ini. Ia disistematisasi oleh Adi Shankara (ca700–750 M), yang berpendapat bahwa segala sesuatu adalah satu dan bahwa kesan tentang alam semesta yang terdiri atas banyak entitas berbeda merupakan suatu ilusi.[68] Perspektif yang agak berbeda dikemukakan oleh Ramanuja (1017–1137 M),[c] yang mendirikan mazhab Vishishtadvaita Vedanta dan berargumen bahwa entitas individual sungguh nyata sebagai aspek atau bagian dari kesatuan yang mendasarinya.[70] Ia juga turut memopulerkan gerakan Bhakti, yang mengajarkan devosi kepada Yang Ilahi sebagai jalan spiritual dan berlangsung hingga abad ke-17 sampai ke-18 M.[71] Periode modern bermula kira-kira pada 1800 M dan dibentuk oleh perjumpaan dengan pemikiran Barat.[72] Para filsuf berupaya merumuskan sistem-sistem komprehensif untuk menyelaraskan beragam ajaran filosofis dan keagamaan. Sebagai contoh, Swami Vivekananda (1863–1902 M) menggunakan ajaran Adwaita Vedanta untuk menegaskan bahwa semua agama yang berbeda merupakan jalan-jalan yang sah menuju Yang Ilahi yang satu.[73]

Lukisan Konfusius
Ajaran Konfusius tentang etika dan masyarakat membentuk arah perkembangan filsafat Tiongkok selanjutnya.

Filsafat Tiongkok secara khusus menaruh perhatian pada persoalan-persoalan praktis yang berkaitan dengan tata laku sosial yang benar, pemerintahan, dan pengembangan diri.[74] Banyak aliran pemikiran muncul pada abad ke-6 SM dalam upaya yang saling bersaing untuk mengatasi gejolak politik pada masa itu. Yang paling menonjol di antaranya adalah Konfusianisme dan Taoisme.[75] Konfusianisme didirikan oleh Konfusius (551–479 SM). Ajarannya berpusat pada berbagai bentuk kebajikan moral dan menelaah bagaimana kebajikan-kebajikan itu menuntun pada harmoni dalam masyarakat.[76] Taoisme dirintis oleh Laozi (abad ke-6 SM) dan mengkaji bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam dengan mengikuti Dao atau tatanan alam semesta.[77] Aliran awal lain yang berpengaruh adalah Mohisme, yang mengembangkan bentuk awal konsekuensialisme altruistik,[78] serta Legalisme, yang menekankan arti penting negara yang kuat dan hukum yang tegas.[79]

Buddhisme diperkenalkan ke Tiongkok pada abad pertama M dan kemudian berkembang menjadi bentuk-bentuk baru Buddhisme.[80] Sejak abad ke-3 M, mazhab Xuanxue muncul dengan menafsirkan karya-karya Taois terdahulu, dengan penekanan khusus pada penjelasan-penjelasan metafisis.[80] Neo-Konfusianisme berkembang pada abad ke-11 M. Ia menyistematisasi ajaran Konfusianisme sebelumnya dan berupaya mencari landasan metafisis bagi etika.[81] Periode modern dalam filsafat Tiongkok dimulai pada awal abad ke-20 dan dibentuk oleh pengaruh serta tanggapan terhadap filsafat Barat. Kemunculan Marxisme Tiongkok—yang berfokus pada perjuangan kelas, sosialisme, dan komunisme—mengakibatkan perubahan besar dalam lanskap politik.[82] Perkembangan lain adalah lahirnya Konfusianisme Baru, yang berupaya memodernisasi dan menafsirkan kembali ajaran Konfusius guna menelaah kesesuaiannya dengan cita-cita demokrasi dan ilmu pengetahuan modern.[83]

Tradisi lainnya

[sunting | sunting sumber]

Filsafat Jepang tradisional mengasimilasi dan mensintesiskan gagasan dari berbagai tradisi, termasuk agama pribumi Shinto serta pemikiran Tiongkok dan India dalam bentuk Konfusianisme dan Buddhisme, yang keduanya memasuki Jepang pada abad ke-6 dan ke-7. Praktiknya dicirikan oleh interaksi aktif dengan realitas, alih-alih telaah yang terlepas dan berjarak.[84] Neo-Konfusianisme menjadi aliran berpengaruh pada abad ke-16 dan pada Zaman Edo berikutnya, serta mendorong perhatian yang lebih besar pada bahasa dan dunia alam.[85] Mazhab Kyoto muncul pada abad ke-20 dan memadukan spiritualitas Timur dengan filsafat Barat dalam telaahnya atas konsep-konsep seperti ketiadaan mutlak (zettai-mu), tempat (basho), dan diri.[86]

Filsafat Amerika Latin pada periode pra-kolonial dipraktikkan oleh peradaban pribumi dan menelaah persoalan tentang hakikat realitas serta peran manusia.[87] Ia memiliki kemiripan dengan filsafat pribumi Amerika Utara, yang mengangkat tema-tema seperti keterhubungan segala sesuatu.[88] Filsafat Amerika Latin pada masa kolonial, sejak sekitar 1550, didominasi oleh filsafat keagamaan dalam bentuk skolastisisme. Topik-topik berpengaruh pada periode pascakolonial mencakup positivisme, filsafat pembebasan, serta penelaahan atas identitas dan kebudayaan.[89]

Filsafat Afrika awal pada mulanya dijalankan dan diwariskan secara lisan. Ia berfokus pada komunitas, moralitas, dan gagasan tentang leluhur, mencakup folklor, pepatah bijak, ajaran keagamaan, serta konsep-konsep filosofis seperti Ubuntu.[90] Filsafat Afrika yang sistematis muncul pada awal abad ke-20. Ia membahas tema-tema seperti etnofilsafat, négritude, pan-Afrikanisme, Marxisme, pascakolonialisme, peran identitas kultural, relativisme, epistemologi Afrika, serta kritik terhadap Eurocentrisme.[91]

Cabang-cabang utama

[sunting | sunting sumber]

Pertanyaan-pertanyaan filosofis dapat dikelompokkan ke dalam beberapa cabang. Pengelompokan ini memungkinkan para filsuf untuk memusatkan perhatian pada sekumpulan topik yang serupa serta berinteraksi dengan pemikir lain yang menaruh minat pada pertanyaan yang sama. Epistemologi, etika, logika, dan metafisika terkadang dicantumkan sebagai cabang-cabang utama.[92] Terdapat banyak subbidang lain di luar keempat cabang tersebut, dan pembagian-pembagian yang ada tidaklah lengkap maupun saling terpisah secara eksklusif. Sebagai contoh, filsafat politik, etika, dan estetika terkadang dipertautkan di bawah tajuk umum teori nilai karena bidang-bidang tersebut menyelidiki aspek-aspek normatif atau evaluatif.[93] Lebih jauh lagi, penyelidikan filosofis terkadang tumpang tindih dengan disiplin ilmu lain dalam ilmu alam dan sosial, agama, serta matematika.[94]

Epistemologi

[sunting | sunting sumber]

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji pengetahuan. Bidang ini juga dikenal sebagai teori pengetahuan dan bertujuan untuk memahami apa itu pengetahuan, bagaimana ia muncul, apa batasan-batasannya, serta nilai apa yang dimilikinya. Bidang ini lebih jauh menelaah hakikat kebenaran, kepercayaan, pembenaran, dan rasionalitas.[95] Beberapa pertanyaan yang dibahas oleh para epistemolog meliputi "Dengan metode (apa) seseorang dapat memperoleh pengetahuan?"; "Bagaimana kebenaran ditetapkan?"; dan "Dapatkah kita membuktikan hubungan kausal?"[96]

Epistemologi terutama menaruh minat pada pengetahuan deklaratif atau pengetahuan tentang fakta, seperti mengetahui bahwa Putri Diana meninggal pada tahun 1997. Namun, ia juga menyelidiki pengetahuan praktis, seperti mengetahui cara mengendarai sepeda, dan pengetahuan melalui pengenalan, sebagai contoh, mengenal seorang selebritas secara pribadi.[97]

Salah satu area dalam epistemologi adalah analisis pengetahuan. Area ini berasumsi bahwa pengetahuan deklaratif merupakan kombinasi dari bagian-bagian yang berbeda dan berupaya untuk mengidentifikasi apa saja bagian-bagian tersebut. Sebuah teori yang berpengaruh di area ini mengklaim bahwa pengetahuan memiliki tiga komponen: ia adalah kepercayaan yang dibenarkan dan benar. Teori ini bersifat kontroversial dan kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengannya dikenal sebagai masalah Gettier.[98] Pandangan alternatif menyatakan bahwa pengetahuan memerlukan komponen tambahan, seperti ketiadaan faktor keberuntungan; komponen yang berbeda, seperti manifestasi keutamaan kognitif alih-alih pembenaran; atau mereka menyangkal bahwa pengetahuan dapat dianalisis dalam istilah fenomena lain.[99]

Area lain dalam epistemologi mempertanyakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Sumber-sumber pengetahuan yang sering didiskusikan adalah persepsi, introspeksi, memori, inferensi, dan kesaksian.[100] Menurut kaum empiris, semua pengetahuan didasarkan pada suatu bentuk pengalaman. Kaum rasionalis menolak pandangan ini dan berpegang bahwa beberapa bentuk pengetahuan, seperti pengetahuan bawaan, tidak diperoleh melalui pengalaman.[101] Masalah regresi adalah isu umum yang berkaitan dengan sumber pengetahuan dan pembenaran yang ditawarkannya. Masalah ini didasarkan pada gagasan bahwa kepercayaan memerlukan semacam alasan atau bukti agar dapat dibenarkan. Masalahnya adalah bahwa sumber pembenaran itu sendiri mungkin membutuhkan sumber pembenaran yang lain. Hal ini mengarah pada regresi tak terbatas atau penalaran melingkar. Kaum fundasionalis menghindari kesimpulan ini dengan berargumen bahwa beberapa sumber dapat memberikan pembenaran tanpa memerlukan pembenaran bagi dirinya sendiri.[102] Solusi lain diajukan oleh kaum koherentis, yang menyatakan bahwa suatu kepercayaan dibenarkan jika ia koheren dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang dimiliki orang tersebut.[103]

Banyak diskusi dalam epistemologi menyinggung topik skeptisisme filosofis, yang mengangkat keraguan mengenai sebagian atau seluruh klaim pengetahuan. Keraguan-keraguan ini sering kali didasarkan pada gagasan bahwa pengetahuan menuntut kepastian mutlak dan bahwa manusia tidak mampu untuk memperolehnya.[104]

Gambar John Stuart Mill
"Doktrin utilitarian menyatakan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang diinginkan, dan satu-satunya hal yang diinginkan, sebagai tujuan akhir; segala hal lainnya diinginkan hanya sebagai sarana menuju tujuan akhir tersebut." — John Stuart Mill, Utilitarianisme (1863)[105]

Etika, juga dikenal sebagai filsafat moral, mengkaji apa yang membentuk perilaku yang benar. Ia juga menaruh perhatian pada evaluasi moral atas sifat-sifat karakter dan institusi. Ia mengeksplorasi apa yang menjadi standar moralitas dan bagaimana menjalani hidup yang baik.[106] Etika filosofis membahas pertanyaan-pertanyaan dasar seperti "Apakah kewajiban moral bersifat relatif?"; "Manakah yang menjadi prioritas: kesejahteraan atau kewajiban?"; dan "Apa yang memberi makna pada hidup?"[107]

Cabang-cabang utama etika adalah metaetika, etika normatif, dan etika terapan.[108] Metaetika mengajukan pertanyaan abstrak mengenai hakikat dan sumber moralitas. Ia menganalisis makna konsep-konsep etis, seperti tindakan yang benar dan kewajiban. Ia juga menyelidiki apakah teori-teori etika dapat menjadi benar dalam arti mutlak dan bagaimana memperoleh pengetahuan mengenainya.[109] Etika normatif mencakup teori-teori umum mengenai bagaimana membedakan antara perilaku yang benar dan yang salah. Ia membantu memandu keputusan moral dengan menguji kewajiban moral dan hak apa saja yang dimiliki manusia. Etika terapan mengkaji konsekuensi dari teori-teori umum yang dikembangkan oleh etika normatif dalam situasi spesifik, sebagai contoh, di tempat kerja atau untuk perawatan medis.[110]

Dalam etika normatif kontemporer, konsekuensialisme, deontologi, dan etika keutamaan merupakan mazhab pemikiran yang berpengaruh.[111] Kaum konsekuensialis menilai tindakan berdasarkan konsekuensinya. Salah satu pandangan tersebut adalah utilitarianisme, yang berpendapat bahwa tindakan harus meningkatkan kebahagiaan secara keseluruhan sembari meminimalkan penderitaan. Kaum deontolog menilai tindakan berdasarkan apakah tindakan tersebut mematuhi kewajiban moral, seperti menahan diri dari berbohong atau membunuh. Menurut mereka, yang penting adalah bahwa tindakan tersebut selaras dengan kewajiban-kewajiban itu, bukan apa konsekuensi yang ditimbulkannya. Para teoretikus keutamaan menilai tindakan berdasarkan bagaimana karakter moral agen diekspresikan. Menurut pandangan ini, tindakan harus sesuai dengan apa yang akan dilakukan oleh agen yang berbudi luhur secara ideal dengan memanifestasikan keutamaan seperti kedermawanan dan kejujuran.[112]

Logika adalah studi tentang penalaran yang tepat. Ia bertujuan untuk memahami bagaimana membedakan argumen yang baik dari yang buruk.[113] Ia biasanya dibagi menjadi logika formal dan logika informal. Logika formal menggunakan bahasa buatan dengan representasi simbolis yang presisi untuk menyelidiki argumen. Dalam pencariannya akan kriteria yang pasti, ia menelaah struktur argumen untuk menentukan apakah argumen tersebut benar atau tidak. Logika informal menggunakan kriteria dan standar non-formal untuk menilai kebenaran argumen. Ia bergantung pada faktor-faktor tambahan seperti konten dan konteks.[114]

Logika mengkaji beragam argumen. Argumen deduktif terutama dipelajari oleh logika formal. Sebuah argumen dikatakan valid secara deduktif jika kebenaran premis-premisnya menjamin kebenaran kesimpulannya. Argumen yang valid secara deduktif mengikuti aturan inferensi, seperti modus ponens, yang memiliki bentuk logika berikut: "p; jika p maka q; oleh karena itu q". Contohnya adalah argumen "hari ini adalah hari Minggu; jika hari ini adalah hari Minggu maka saya tidak perlu pergi bekerja hari ini; oleh karena itu saya tidak perlu pergi bekerja hari ini".[115]

Premis-premis argumen non-deduktif juga mendukung kesimpulannya, meskipun dukungan ini tidak menjamin bahwa kesimpulan tersebut benar.[116] Salah satu bentuknya adalah penalaran induktif. Ia bermula dari serangkaian kasus individual dan menggunakan generalisasi untuk sampai pada hukum universal yang mengatur semua kasus. Contohnya adalah inferensi bahwa "semua gagak berwarna hitam" berdasarkan pengamatan terhadap banyak gagak hitam secara individual.[117] Bentuk lainnya adalah penalaran abduktif. Ia bermula dari sebuah pengamatan dan menyimpulkan bahwa penjelasan terbaik atas pengamatan ini pastilah benar. Hal ini terjadi, misalnya, ketika seorang dokter mendiagnosis penyakit berdasarkan gejala yang diamati.[118]

Logika juga menyelidiki bentuk-bentuk penalaran yang tidak tepat. Bentuk-bentuk ini disebut kesesatan (fallacies) dan dibagi menjadi kesesatan formal dan kesesatan informal berdasarkan apakah sumber kesalahan hanya terletak pada bentuk argumen atau juga pada konten dan konteksnya.[119]

Metafisika

[sunting | sunting sumber]
Inkunabula yang memperlihatkan permulaan Metafisika karya Aristoteles
Permulaan Metafisika karya Aristoteles dalam sebuah inkunabula yang dihiasi dengan miniatur lukisan tangan

Metafisika adalah studi tentang fitur-fitur paling umum dari realitas, seperti eksistensi, objek dan sifat-nya, keseluruhan dan bagian-bagiannya, ruang dan waktu, peristiwa, dan sebab-akibat.[120] Terdapat perbedaan pendapat mengenai definisi yang tepat dari istilah ini dan maknanya telah berubah sepanjang zaman.[121] Para ahli metafisika berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar termasuk "Mengapa ada sesuatu daripada ketiadaan?"; "Apakah hakikat terdalam yang menyusun realitas?"; dan "Apakah manusia itu bebas?"[122]

Metafisika terkadang dibagi menjadi metafisika umum dan metafisika khusus atau spesifik. Metafisika umum menyelidiki ada sebagai ada. Ia menelaah fitur-fitur yang dimiliki bersama oleh semua entitas. Metafisika khusus menaruh minat pada berbagai jenis keberadaan, fitur-fitur yang dimilikinya, dan bagaimana mereka berbeda satu sama lain.[123]

Area penting dalam metafisika adalah ontologi. Beberapa teoretikus mengidentifikasikannya dengan metafisika umum. Ontologi menyelidiki konsep-konsep seperti keberadaan, kemenjadian , dan realitas. Ia mengkaji kategori ada dan mempertanyakan apa yang eksis pada tingkat paling mendasar.[124] Subbidang lain dari metafisika adalah kosmologi filosofis. Ia menaruh minat pada esensi dunia secara keseluruhan. Ia mengajukan pertanyaan termasuk apakah alam semesta memiliki permulaan dan akhir serta apakah ia diciptakan oleh sesuatu yang lain.[125]

Topik kunci dalam metafisika menyangkut pertanyaan apakah realitas hanya terdiri dari hal-hal fisik seperti materi dan energi. Saran alternatifnya adalah bahwa entitas mental (seperti jiwa dan pengalaman) dan entitas abstrak (seperti angka) eksis terpisah dari hal-hal fisik. Topik lain dalam metafisika menyangkut masalah identitas. Satu pertanyaan adalah seberapa banyak suatu entitas dapat berubah namun tetap menjadi entitas yang sama.[126] Menurut satu pandangan, entitas memiliki fitur esensial dan aksidental. Mereka dapat mengubah fitur aksidentalnya namun mereka berhenti menjadi entitas yang sama jika kehilangan fitur esensial.[127] Pembedaan sentral dalam metafisika adalah antara partikular dan universal. Universal, seperti warna merah, dapat eksis di lokasi yang berbeda pada waktu yang sama. Hal ini tidak berlaku bagi partikular, termasuk individu orang atau objek spesifik.[128] Pertanyaan metafisika lainnya adalah apakah masa lalu menentukan sepenuhnya masa kini dan apa implikasinya bagi eksistensi kehendak bebas.[129]

Cabang-cabang utama lainnya

[sunting | sunting sumber]

Terdapat banyak subbidang filsafat lain di luar cabang-cabang intinya. Beberapa yang paling menonjol adalah estetika, filsafat bahasa, filsafat budi, filsafat agama, filsafat ilmu, dan filsafat politik.[130]

Estetika dalam pengertian filosofis adalah bidang yang mengkaji hakikat dan apresiasi terhadap keindahan serta sifat-sifat estetis lainnya, seperti keagungan.[131] Walaupun sering diperlakukan bersama dengan filsafat seni, estetika merupakan kategori yang lebih luas yang melingkupi aspek pengalaman lainnya, seperti keindahan alam.[132] Dalam pengertian yang lebih umum, estetika adalah "refleksi kritis mengenai seni, budaya, dan alam".[133] Pertanyaan kunci dalam estetika adalah apakah keindahan merupakan fitur objektif dari entitas atau aspek subjektif dari pengalaman.[134] Para filsuf estetika juga menyelidiki hakikat pengalaman estetis dan penilaian. Topik lebih lanjut meliputi esensi karya seni dan proses yang terlibat dalam penciptaannya.[135]

Filsafat bahasa mengkaji hakikat dan fungsi bahasa. Ia menelaah konsep makna, referensi, dan kebenaran. Ia bertujuan menjawab pertanyaan seperti bagaimana kata-kata berhubungan dengan benda-benda dan bagaimana bahasa memengaruhi pemikiran serta pemahaman manusia. Ia berhubungan erat dengan disiplin logika dan linguistik.[136] Filsafat bahasa menjadi sangat menonjol pada awal abad ke-20 dalam filsafat analitik berkat karya-karya Frege dan Russell. Salah satu topik sentralnya adalah memahami bagaimana kalimat memperoleh maknanya. Terdapat dua kubu teoretis yang luas: mereka yang menekankan kondisi kebenaran formal kalimat[d] dan mereka yang menyelidiki keadaan yang menentukan kapan suatu kalimat layak digunakan, yang mana kelompok terakhir ini diasosiasikan dengan teori tindak tutur.[138]

Filsafat budi mengkaji hakikat fenomena mental dan bagaimana mereka berhubungan dengan dunia fisik.[139] Ia bertujuan untuk memahami berbagai jenis keadaan mental sadar dan bawah sadar, seperti kepercayaan, hasrat, intensi, perasaan, sensasi, dan kehendak bebas.[140] Intuisi yang berpengaruh dalam filsafat budi adalah bahwa terdapat perbedaan antara pengalaman batin akan objek dan keberadaannya di dunia luar. Masalah budi-tubuh adalah masalah dalam menjelaskan bagaimana kedua jenis hal ini—budi dan materi—saling berhubungan. Tanggapan tradisional utama adalah materialisme, yang berasumsi bahwa materi lebih fundamental; idealisme, yang berasumsi bahwa budi lebih fundamental; dan dualisme, yang berasumsi bahwa budi dan materi adalah jenis entitas yang berbeda. Dalam filsafat kontemporer, pandangan umum lainnya adalah fungsionalisme, yang memahami keadaan mental dalam hal peran fungsional atau kausal yang dimainkannya.[141] Masalah budi-tubuh berkaitan erat dengan masalah sukar kesadaran, yang mempertanyakan bagaimana otak fisik dapat menghasilkan pengalaman subjektif secara kualitatif.[142]

Filsafat agama menyelidiki konsep dasar, asumsi, dan argumen yang berkaitan dengan agama. Ia merefleksikan secara kritis apa itu agama, bagaimana mendefinisikan ilahi, dan apakah satu atau lebih dewa itu ada. Ia juga mencakup diskusi mengenai pandangan dunia yang menolak doktrin agama.[143] Pertanyaan lebih lanjut yang dibahas oleh filsafat agama adalah: "Bagaimana kita harus menafsirkan bahasa agama, jika tidak secara harfiah?";[144] "Apakah kemahatahuan ilahi selaras dengan kehendak bebas?";[145] dan, "Apakah keragaman besar agama-agama dunia dalam beberapa hal dapat diselaraskan meskipun terdapat klaim teologis yang tampaknya bertentangan?"[146] Ia mencakup topik dari hampir semua cabang filsafat.[147] Ia berbeda dari teologi karena perdebatan teologis biasanya terjadi di dalam satu tradisi keagamaan, sedangkan perdebatan dalam filsafat agama melampaui himpunan asumsi teologis tertentu mana pun.[148]

Filsafat ilmu mengkaji konsep mendasar, asumsi, dan masalah yang berkaitan dengan sains. Ia merefleksikan apa itu sains dan bagaimana membedakannya dari pseudosains. Ia menyelidiki metode yang digunakan oleh para ilmuwan, bagaimana penerapannya dapat menghasilkan pengetahuan, dan pada asumsi apa metode tersebut didasarkan. Ia juga mempelajari tujuan dan implikasi sains.[149] Beberapa pertanyaannya adalah "Apa yang terhitung sebagai penjelasan yang memadai?";[150] "Apakah hukum ilmiah lebih dari sekadar deskripsi tentang keteraturan?";[151] dan "Dapatkah beberapa ilmu khusus dijelaskan sepenuhnya dalam istilah ilmu yang lebih umum?"[152] Ini adalah bidang luas yang umumnya dibagi menjadi filsafat ilmu alam dan filsafat ilmu sosial, dengan subdivisi lebih lanjut untuk setiap ilmu individu di bawah tajuk-tajuk ini. Bagaimana cabang-cabang ini berhubungan satu sama lain juga merupakan pertanyaan dalam filsafat ilmu. Banyak masalah filosofisnya tumpang tindih dengan bidang metafisika atau epistemologi.[153]

Filsafat politik adalah penyelidikan filosofis terhadap prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan mendasar yang mengatur sistem politik dan masyarakat. Ia mengkaji konsep dasar, asumsi, dan argumen di bidang politik. Ia menyelidiki hakikat dan tujuan pemerintahan serta membandingkan bentuk-bentuknya yang berbeda.[154] Ia lebih jauh mempertanyakan dalam keadaan apa penggunaan kekuasaan politik itu sah, alih-alih sekadar bentuk kekerasan biasa.[155] Dalam hal ini, ia menaruh perhatian pada distribusi kekuasaan politik, barang sosial dan material, serta hak hukum.[156] Topik lainnya adalah keadilan, kebebasan, kesetaraan, kedaulatan, dan nasionalisme.[157] Filsafat politik melibatkan penyelidikan umum mengenai masalah normatif dan dalam hal ini berbeda dari ilmu politik, yang bertujuan memberikan deskripsi empiris tentang negara-negara yang benar-benar ada.[158] Filsafat politik sering kali diperlakukan sebagai subbidang etika.[159] Mazhab pemikiran yang berpengaruh dalam filsafat politik adalah liberalisme, konservatisme, sosialisme, dan anarkisme.[160]

Metode filsafat adalah cara-cara dalam melakukan penyelidikan filosofis. Metode ini mencakup teknik-teknik untuk sampai pada pengetahuan filosofis dan membenarkan klaim-klaim filosofis, serta prinsip-prinsip yang digunakan untuk memilih di antara teori-teori yang saling bersaing.[161] Beragam metode telah digunakan sepanjang sejarah filsafat. Banyak di antaranya berbeda secara signifikan dari metode yang digunakan dalam ilmu alam karena tidak menggunakan data eksperimental yang diperoleh melalui peralatan pengukuran.[162] Pemilihan metode biasanya memiliki implikasi penting baik bagi bagaimana teori-teori filosofis dibangun maupun bagi argumen-argumen yang dikutip untuk mendukung atau menentangnya.[163] Pilihan ini sering kali dipandu oleh pertimbangan epistemologis mengenai apa yang membentuk bukti filosofis.[164]

Ketidaksepakatan metodologis dapat menyebabkan konflik di antara teori-teori filosofis atau mengenai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis. Penemuan metode-metode baru sering kali memiliki konsekuensi penting baik bagi cara para filsuf melakukan penelitian mereka maupun bagi klaim-klaim apa yang mereka pertahankan.[165] Beberapa filsuf melakukan sebagian besar penyusunan teori mereka menggunakan satu metode tertentu, sementara yang lain menggunakan metode yang lebih beragam berdasarkan metode mana yang paling sesuai dengan masalah spesifik yang sedang diselidiki.[166]

Analisis konseptual adalah metode yang umum dalam filsafat analitik. Ia bertujuan untuk memperjelas makna konsep dengan menganalisisnya menjadi bagian-bagian komponennya.[167] Metode lain yang sering digunakan dalam filsafat analitik didasarkan pada akal sehat. Metode ini bermula dari kepercayaan yang diterima secara umum dan mencoba menarik kesimpulan tak terduga darinya, yang sering kali digunakan dalam pengertian negatif untuk mengkritik teori-teori filosofis yang terlalu jauh dari cara orang kebanyakan memandang masalah tersebut.[168] Hal ini mirip dengan bagaimana filsafat bahasa sehari-hari mendekati pertanyaan filosofis dengan menyelidiki bagaimana bahasa sehari-hari digunakan.[169]

Diagram yang menggambarkan kereta troli yang mengarah ke sekelompok orang. Ada jalur alternatif dengan hanya satu orang dan sebuah tuas wesel untuk mengubah jalur.
Masalah troli adalah eksperimen pikiran yang menyelidiki perbedaan moral antara melakukan dan membiarkan bahaya. Isu ini dieksplorasi dalam situasi imajiner di mana seseorang dapat mengorbankan satu orang dengan mengalihkan kereta troli demi menyelamatkan sekelompok orang.[170]

Berbagai metode dalam filsafat memberikan arti penting khusus pada intuisi, yaitu, kesan non-inferensial mengenai kebenaran klaim spesifik atau prinsip umum.[171] Sebagai contoh, intuisi memainkan peran penting dalam eksperimen pikiran, yang menggunakan pemikiran kontrafaktual untuk mengevaluasi konsekuensi yang mungkin terjadi dari situasi yang dibayangkan. Konsekuensi yang diantisipasi ini kemudian dapat digunakan untuk mengonfirmasi atau menyangkal teori-teori filosofis.[172] Metode ekuilibrium reflektif juga menggunakan intuisi. Metode ini berupaya membentuk posisi yang koheren mengenai isu tertentu dengan menguji semua kepercayaan dan intuisi yang relevan, yang beberapa di antaranya sering kali harus dikesampingkan atau dirumuskan ulang untuk sampai pada perspektif yang koheren.[173]

Kaum pragmatis menekankan signifikansi konsekuensi praktis yang konkret untuk menilai apakah suatu teori filosofis itu benar.[174] Menurut maksim pragmatis sebagaimana dirumuskan oleh Charles Sanders Peirce, gagasan yang dimiliki seseorang tentang suatu objek tidak lebih dari totalitas konsekuensi praktis yang mereka asosiakan dengan objek ini. Kaum pragmatis juga telah menggunakan metode ini untuk menyingkap ketidaksepakatan yang hanya bersifat verbal semata, yaitu, untuk menunjukkan bahwa ketidaksepakatan tersebut tidak membuat perbedaan nyata pada tingkat konsekuensi.[175]

Para fenomenolog mencari pengetahuan tentang ranah penampakan dan struktur pengalaman manusia. Mereka bersikeras pada karakter orang-pertama dari semua pengalaman dan melanjutkannya dengan menangguhkan penilaian teoretis mengenai dunia luar. Teknik reduksi fenomenologis ini dikenal sebagai "pemberian tanda kurung" (bracketing) atau epoché. Tujuannya adalah untuk memberikan deskripsi yang tidak bias mengenai penampakan benda-benda.[176]

Naturalisme metodologis memberikan penekanan besar pada pendekatan empiris dan teori-teori yang dihasilkan yang ditemukan dalam ilmu alam. Dengan cara ini, ia kontras dengan metodologi yang memberikan bobot lebih pada penalaran murni dan introspeksi.[177]

Hubungan dengan bidang-bidang lain

[sunting | sunting sumber]
Foto Judith Butler
Judith Butler adalah salah satu filsuf yang bertanggung jawab atas pengaruh kultural filsafat terhadap gerakan feminis.

Filsafat berhubungan erat dengan banyak bidang lain. Ia terkadang dipahami sebagai metadisiplin yang memperjelas hakikat dan batasan bidang-bidang tersebut. Ia melakukan ini dengan menguji secara kritis konsep dasar, asumsi latar belakang, dan metodenya. Dalam hal ini, ia memainkan peran kunci dalam memberikan perspektif interdisipliner. Ia menjembatani kesenjangan antarberbagai disiplin dengan menganalisis konsep dan masalah apa yang mereka miliki bersama. Ia menunjukkan bagaimana disiplin-disiplin tersebut saling tumpang tindih sekaligus membatasi ruang lingkupnya.[178] Secara historis, sebagian besar ilmu pengetahuan individu bermula dari filsafat.[179]

Pengaruh filsafat terasa di beberapa bidang yang menuntut keputusan praktis yang sulit. Dalam kedokteran, pertimbangan filosofis yang berkaitan dengan bioetika memengaruhi isu-isu seperti apakah embrio sudah merupakan pribadi dan dalam kondisi apa aborsi diperbolehkan secara moral. Masalah filosofis yang berkaitan erat adalah bagaimana manusia harus memperlakukan hewan lain, sebagai contoh, apakah dapat diterima untuk menggunakan hewan non-manusia sebagai makanan atau untuk eksperimen penelitian.[180] Berkaitan dengan bisnis dan kehidupan profesional, filsafat telah berkontribusi dengan menyediakan kerangka kerja etis. Kerangka kerja ini memuat panduan mengenai praktik bisnis mana yang dapat diterima secara moral dan mencakup isu tanggung jawab sosial perusahaan.[181]

Penyelidikan filosofis relevan bagi banyak bidang yang menaruh perhatian pada apa yang harus dipercayai dan bagaimana memperoleh bukti bagi kepercayaan seseorang.[182] Ini adalah isu kunci bagi sains, yang memiliki penciptaan pengetahuan ilmiah sebagai salah satu tujuan utamanya. Pengetahuan ilmiah didasarkan pada bukti empiris, namun sering kali tidak jelas apakah pengamatan empiris bersifat netral atau sudah memuat asumsi teoretis. Masalah yang berhubungan erat adalah apakah bukti yang tersedia memadai untuk memutuskan di antara teori-teori yang bersaing.[183] Masalah epistemologis yang berkaitan dengan hukum meliputi apa yang terhitung sebagai bukti dan seberapa banyak bukti yang diperlukan untuk menyatakan seseorang bersalah atas suatu kejahatan. Isu terkait dalam jurnalisme adalah bagaimana memastikan kebenaran dan objektivitas saat melaporkan peristiwa.[178]

Dalam bidang teologi dan agama, terdapat banyak doktrin yang diasosiasikan dengan eksistensi dan hakikat Tuhan serta aturan yang mengatur perilaku yang benar. Isu kuncinya adalah apakah orang yang rasional harus memercayai doktrin-doktrin ini, sebagai contoh, apakah wahyu dalam bentuk kitab suci dan pengalaman keagamaan akan yang ilahi merupakan bukti yang cukup bagi kepercayaan-kepercayaan ini.[184]

Filsafat dalam bentuk logika telah berpengaruh dalam bidang matematika dan ilmu komputer.[185] Bidang-bidang lain yang dipengaruhi oleh filsafat meliputi psikologi, sosiologi, linguistik, pendidikan, dan seni.[186] Hubungan erat antara filsafat dan bidang lain pada periode kontemporer tecermin dalam fakta bahwa banyak lulusan filsafat yang kemudian bekerja di bidang terkait alih-alih di bidang filsafat itu sendiri.[187]

Di bidang politik, filsafat membahas isu-isu seperti bagaimana menilai apakah kebijakan pemerintah itu adil.[188] Gagasan-gagasan filosofis telah mempersiapkan dan membentuk berbagai perkembangan politik. Sebagai contoh, cita-cita yang dirumuskan dalam filsafat Pencerahan meletakkan dasar bagi demokrasi konstitusional dan berperan dalam Revolusi Amerika serta Revolusi Prancis.[189] Filsafat Marxis dan pemaparannya mengenai komunisme adalah salah satu faktor dalam Revolusi Rusia dan Revolusi Komunis Tiongkok.[190] Di India, filsafat nirkerasan Mahatma Gandhi membentuk gerakan kemerdekaan India.[191]

Contoh peran kultural dan kritis filsafat ditemukan dalam pengaruhnya terhadap gerakan feminis melalui para filsuf seperti Mary Wollstonecraft, Simone de Beauvoir, dan Judith Butler. Filsafat telah membentuk pemahaman konsep-konsep kunci dalam feminisme, misalnya, makna gender, bagaimana ia berbeda dari seks biologis, dan peran apa yang dimainkannya dalam pembentukan identitas pribadi. Para filsuf juga telah menyelidiki konsep keadilan dan kesetaraan serta implikasinya sehubungan dengan perlakuan prasangka terhadap wanita dalam masyarakat yang didominasi pria.[192]

Gagasan bahwa filsafat berguna bagi banyak aspek kehidupan dan masyarakat terkadang ditolak. Menurut salah satu pandangan semacam itu, filsafat terutama dijalankan demi filsafat itu sendiri dan tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap praktik yang ada atau tujuan eksternal.[193]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Istilah Yunani Kuno philosophos ('filsuf') itu sendiri kemungkinan dipinjam dari istilah Mesir Kuno mer-rekh (mr-rḫ) yang berarti 'pencinta kebijaksanaan'.[3]
  2. Periodisasi yang tepat masih diperdebatkan; sebagian sumber menyatakan bahwa periode ini dimulai sejak 500 SM, sementara yang lain berpendapat bahwa ia baru bermula sekitar 200 M.[66]
  3. Tarikh ini lazim dikutip, namun sejumlah sarjana mutakhir berpendapat bahwa masa hidupnya berlangsung dari 1077 hingga 1157.[69]
  4. Kondisi kebenaran sebuah kalimat adalah keadaan atau kondisi ihwal di mana kalimat tersebut akan bernilai benar.[137]
  1. Perry, Bratman & Fischer 2010, hlm. 4.
  2. Plato 2023, Apology.
  3. McCutcheon 2014, hlm. 26.
  4. Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. vii, 17.
  5. Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 20–22, What Is Philosophy?.
  6. Regenbogen 2010, Philosophiebegriffe.
  7. Smith, § 2.b.
  8. Grimm & Cohoe 2021, hlm. 236–237.
  9. Sharpe & Ure 2021, hlm. 76, 80.
  10. Shields 2022, Lead Section.
  11. Grayling 2019, Philosophy in the Nineteenth Century.
  12. Grayling 2019, Philosophy in the Twentieth Century.
  13. Waithe 1995, hlm. xix–xxiii.
  14. 1 2
  15. Ranganathan, 1. Rāmānuja's Life and Works.
  16. Ranganathan, Lead Section, 2c. Substantive Theses.
  17. 1 2
    • Littlejohn 2023, 4b. Neo-Confucianism: The Original Way of Confucius for a New Era
    • EB Staff 2017, § Periods of Development of Chinese Philosophy
    • Davis 2022, Lead Section, § 3. Absolute Nothingness: Giving Philosophical Form to the Formless
    • Kasulis 2022, § 4.4.2 Modern Academic Philosophies
  18. Schroeder 2021, Lead Section: "In its broadest sense, 'value theory' is a catch-all label used to encompass all branches of moral philosophy, social and political philosophy, aesthetics, and sometimes feminist philosophy and the philosophy of religion – whatever areas of philosophy are deemed to encompass some 'evaluative' aspect.".
  19. Mulvaney 2009, hlm. ix.
  20. Olsson 2021, Lead Section, § 1. Coherentism Versus Foundationalism.
  21. Mill 1863, hlm. 51.
  22. Mulvaney 2009, hlm. vii–xi.
    • Dittmer, 1. Applied Ethics as Distinct from Normative Ethics and Metaethics
    • Nagel 2006, hlm. 382, 386–388
  23. van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, Lead Section.
  24. Mulvaney 2009, hlm. ix–x.
  25. Audi 2006, § Metaphysics.
  26. Birner 2012, hlm. 33.
  27. Taliaferro 2023, § 1.
  28. Taliaferro 2023, § 5.1.1.
  29. Taliaferro 2023, § 6.
  30. Newton-Smith 2000, hlm. 7.
  31. Newton-Smith 2000, hlm. 5.
  32. Papineau 2005, hlm. 855–856.
  33. Wolff 2006, hlm. 1–2.
  34. Molefe & Allsobrook 2021, hlm. 8–9.
  35. Audi 2006, § Subfields of Ethics.
  36. 1 2 Audi 2006, hlm. 332–337.
  37. Lippert-Rasmussen 2017, hlm. 51–53.
  38. Cropper 1997.
  39. Bristow 2023, Lead Section, § 2.1 Political Theory.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]