Filsafat
| Filsafat |
|---|
| Cabang |
| Tradisi |
| Zaman |
| Kepustakaan |
| Filsuf |
| Daftar |
|
|
Filsafat (dari Bahasa Yunani Kuno philosophía terj. har. 'cinta kebijaksanaan') adalah kajian sistematis atas pertanyaan-pertanyaan umum dan mendasar mengenai tema-tema seperti eksistensi, pengetahuan, pikiran, rasio, bahasa, dan nilai. Filsafat merupakan penyelidikan rasional dan kritis yang merefleksikan metode serta asumsi-asumsinya sendiri.
Secara historis, banyak ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, seperti fisika dan psikologi, pada mulanya merupakan bagian dari filsafat. Namun, dalam pengertian modern, disiplin-disiplin tersebut dipandang sebagai bidang akademik yang terpisah. Tradisi-tradisi berpengaruh dalam sejarah filsafat meliputi Barat, Arab–Persia, India, dan Tiongkok. Filsafat Barat berakar di Yunani Kuno dan mencakup spektrum subbidang filsafat yang luas. Salah satu tema sentral dalam filsafat Arab–Persia adalah relasi antara rasio dan wahyu. Filsafat India memadukan persoalan spiritual tentang bagaimana mencapai pencerahan dengan penelaahan hakikat realitas dan jalan-jalan untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat Tiongkok terutama berfokus pada persoalan praktis mengenai tata laku sosial yang benar, pemerintahan, dan kultivasi diri.
Cabang-cabang utama filsafat adalah epistemologi, etika, logika, dan metafisika. Epistemologi mengkaji apa itu pengetahuan dan bagaimana cara memperolehnya. Etika menyelidiki prinsip-prinsip moral dan apa yang membentuk tindakan yang benar. Logika adalah studi tentang penalaran yang benar serta menelaah bagaimana argumen yang baik dapat dibedakan dari yang keliru. Metafisika meneliti ciri-ciri paling umum dari realitas, keberadaan, objek, dan properti. Subbidang lainnya meliputi estetika, filsafat bahasa, filsafat pikiran, filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat matematika, filsafat sejarah, dan filsafat politik. Di dalam setiap cabang, terdapat beragam aliran filsafat yang mengemukakan dan menganjurkan prinsip, teori, atau metode yang berbeda-beda.
Para filsuf menggunakan berbagai metode untuk mencapai pengetahuan filosofis. Metode-metode tersebut mencakup analisis konseptual, ketergantungan pada akal sehat dan intuisi, penggunaan eksperimen pikiran, analisis bahasa sehari-hari, deskripsi pengalaman, serta pertanyaan kritis. Filsafat berhubungan erat dengan banyak bidang lain, seperti ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial, matematika, bisnis, hukum, dan jurnalisme. Filsafat menyediakan perspektif interdisipliner serta mengkaji ruang lingkup dan konsep-konsep fundamental dari bidang-bidang tersebut. Ia juga menelaah metode-metode dan implikasi etisnya.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Kata filsafat berakar dari kata-kata Bahasa Yunani Kuno φίλος (philos) 'cinta' dan σοφία (sophia) 'kebijaksanaan'.[2][a] Sejumlah sumber menyatakan bahwa istilah ini dicetuskan oleh filsuf pra-Sokratik Pythagoras, meskipun hal tersebut tidak dapat dipastikan.[4]

Kata tersebut memasuki bahasa Inggris terutama melalui Bahasa Prancis Kuno dan Anglo-Norman sekitar tahun 1175 M. Istilah Prancis philosophie sendiri merupakan serapan dari bahasa Latin philosophia. Istilah filsafat kemudian memperoleh makna sebagai "kajian mendalam atas perkara-perkara spekulatif (logika, etika, fisika, dan metafisika)", "kebijaksanaan yang mendalam yang berakar pada kecintaan akan kebenaran dan kehidupan yang berbudi luhur", "pembelajaran mendalam sebagaimana diwariskan oleh para penulis kuno", serta "studi tentang hakikat dasar pengetahuan, realitas, dan eksistensi, beserta batas-batas pokok pemahaman manusia".[5]
Sebelum era modern, istilah filsafat digunakan dalam arti yang sangat luas. Ia mencakup sebagian besar bentuk penyelidikan rasional, termasuk berbagai ilmu pengetahuan sebagai subdisiplinnya.[6] Sebagai contoh, filsafat alam merupakan salah satu cabang utama filsafat.[7] Cabang ini meliputi berbagai bidang yang luas, termasuk disiplin-disiplin seperti fisika, kimia, dan biologi.[8] Salah satu contoh penggunaan ini adalah buku tahun 1687 berjudul Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica karya Isaac Newton. Judul tersebut merujuk pada filsafat alam, tetapi dewasa ini karya tersebut dipandang sebagai buku fisika.[9]
Makna filsafat mengalami perubahan menjelang akhir periode modern ketika istilah ini memperoleh pengertian yang lebih sempit sebagaimana lazim dipahami dewasa ini. Dalam pengertian baru tersebut, istilah ini terutama dikaitkan dengan disiplin-disiplin seperti metafisika, epistemologi, dan etika. Di antara berbagai pokok bahasannya, filsafat mencakup kajian rasional tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Ia dibedakan dari disiplin penyelidikan rasional lainnya seperti ilmu-ilmu empiris dan matematika.[10]
Konsepsi filsafat
[sunting | sunting sumber]Konsepsi umum
[sunting | sunting sumber]Praktik filsafat ditandai oleh sejumlah ciri umum: ia merupakan suatu bentuk penyelidikan rasional, berupaya bersifat sistematis, serta cenderung merefleksikan secara kritis metode dan praanggapan-praanggapannya sendiri.[11] Filsafat menuntut perenungan yang panjang dan cermat atas persoalan-persoalan yang menggugah, pelik, dan abadi yang menjadi pusat kondisi manusia.[12]
Upaya filosofis untuk mengejar kebijaksanaan melibatkan pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang umum dan mendasar. Ia sering kali tidak menghasilkan jawaban yang lugas, tetapi dapat menolong seseorang untuk memahami topik secara lebih mendalam, menelaah kehidupannya sendiri, menyingkirkan kekaburan, serta mengatasi prasangka dan gagasan-gagasan menipu diri yang melekat pada akal sehat.[13] Sebagai contoh, Sokrates menyatakan bahwa "hidup yang tak teruji tak layak dijalani" guna menegaskan peran penyelidikan filosofis dalam memahami keberadaan diri.[14][15] Dan menurut Bertrand Russell, "manusia yang tidak tersentuh oleh filsafat menjalani hidupnya terpenjara dalam prasangka-prasangka yang bersumber dari akal sehat, dari keyakinan yang lazim pada zamannya atau bangsanya, serta dari kepercayaan yang tumbuh dalam pikirannya tanpa kerja sama ataupun persetujuan dari nalarnya yang sadar dan reflektif."[16]
Definisi akademik
[sunting | sunting sumber]Upaya untuk merumuskan definisi filsafat yang lebih presisi bersifat kontroversial[17] dan dikaji dalam metafilsafat.[18] Sejumlah pendekatan berpendapat bahwa terdapat seperangkat ciri esensial yang dimiliki bersama oleh seluruh bagian filsafat. Pendekatan lain melihat hanya kemiripan keluarga yang lebih longgar atau bahkan beranggapan bahwa filsafat hanyalah istilah payung yang kosong.[19] Definisi yang presisi sering kali hanya diterima oleh para teoretikus yang termasuk dalam suatu gerakan filsafat tertentu dan, menurut Søren Overgaard dkk., bersifat revisionistis karena banyak bagian yang lazim dianggap sebagai filsafat tidak lagi layak menyandang sebutan tersebut apabila definisi itu benar.[20]
Sebagian definisi mencirikan filsafat berdasarkan metodenya, seperti penalaran murni. Yang lain berfokus pada pokok bahasannya, misalnya sebagai kajian atas pola-pola terbesar dari dunia secara keseluruhan atau sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan besar.[21] Pendekatan semacam ini dianut oleh Immanuel Kant, yang berpendapat bahwa tugas filsafat dipersatukan oleh empat pertanyaan: "Apa yang dapat aku ketahui?"; "Apa yang seharusnya aku lakukan?"; "Apa yang boleh aku harapkan?"; dan "Apakah manusia itu?"[22] Kedua pendekatan tersebut menghadapi persoalan bahwa biasanya ia terlalu luas—dengan memasukkan disiplin nonfilsafat—atau terlalu sempit—dengan mengecualikan sebagian subdisiplin filsafat.[23]
Banyak definisi filsafat menekankan relasinya yang erat dengan ilmu pengetahuan.[24] Dalam pengertian ini, filsafat kadang dipahami sebagai suatu ilmu yang otonom. Menurut sebagian filsuf naturalis, seperti W. V. O. Quine, filsafat merupakan ilmu empiris namun abstrak yang berkenaan dengan pola-pola empiris yang luas alih-alih pengamatan-pengamatan partikular.[25] Definisi berbasis sains biasanya menghadapi persoalan untuk menjelaskan mengapa filsafat sepanjang sejarahnya yang panjang tidak mengalami kemajuan sejauh atau dengan cara yang sama seperti ilmu-ilmu lainnya.[26] Persoalan ini dihindari dengan memandang filsafat sebagai ilmu yang belum matang atau bersifat sementara, yang subdisiplinnya berhenti menjadi filsafat setelah berkembang sepenuhnya.[27] Dalam pengertian ini, filsafat kadang digambarkan sebagai "bidan bagi ilmu-ilmu pengetahuan".[28]
Definisi lain berfokus pada kontras antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Tema umum di antara banyak konsepsi tersebut ialah bahwa filsafat berkaitan dengan makna, pemahaman, atau klarifikasi bahasa.[29] Menurut salah satu pandangan, filsafat adalah analisis konseptual, yang melibatkan pencarian syarat perlu dan cukup bagi penerapan konsep-konsep.[30] Definisi lain mencirikan filsafat sebagai berpikir tentang berpikir untuk menekankan sifatnya yang reflektif dan kritis terhadap diri sendiri.[31] Pendekatan lebih lanjut menyajikan filsafat sebagai terapi linguistik. Menurut Ludwig Wittgenstein, misalnya, filsafat bertujuan melenyapkan kesalahpahaman yang rentan dialami manusia akibat struktur yang membingungkan dari bahasa sehari-hari.[32]
Para fenomenolog, seperti Edmund Husserl, mencirikan filsafat sebagai "ilmu yang ketat" yang menyelidiki esensi.[33] Mereka mempraktikkan penangguhan radikal atas asumsi-asumsi teoretis mengenai realitas untuk kembali pada "hal-hal itu sendiri", yakni sebagaimana mula-mula diberikan dalam pengalaman. Mereka berpendapat bahwa taraf dasar pengalaman ini menyediakan fondasi bagi pengetahuan teoretis tingkat lanjut, dan bahwa pemahaman atas yang pertama diperlukan untuk memahami yang kedua.[34]
Suatu pendekatan awal yang ditemukan dalam filsafat Yunani Kuno dan filsafat Romawi memandang filsafat sebagai praktik spiritual untuk mengembangkan kapasitas rasional seseorang.[35] Praktik ini merupakan ungkapan cinta sang filsuf terhadap kebijaksanaan dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan dengan menjalani kehidupan yang reflektif.[36] Sebagai contoh, kaum Stoa memandang filsafat sebagai latihan untuk mendisiplinkan jiwa dan dengan demikian mencapai eudaimonia serta berkembang dalam kehidupan.[37]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sebagai suatu disiplin, sejarah filsafat bertujuan menyajikan pemaparan yang sistematis dan kronologis mengenai konsep serta doktrin filosofis.[38] Sebagian teoretikus memandangnya sebagai bagian dari sejarah intelektual, namun bidang ini juga menelaah persoalan-persoalan yang tidak tercakup dalam sejarah intelektual, seperti apakah teori-teori para filsuf masa lampau benar dan tetap relevan secara filosofis.[39] Sejarah filsafat pada dasarnya berkenaan dengan teori-teori yang bertumpu pada penyelidikan dan argumentasi rasional; sebagian sejarawan memahaminya dalam arti yang lebih longgar dengan mencakup mitos, ajaran keagamaan, dan kearifan peribahasa.[40]
Tradisi-tradisi berpengaruh dalam sejarah filsafat meliputi Barat, Arab–Persia, India, dan Tiongkok. Tradisi filsafat lainnya ialah filsafat Jepang, filsafat Amerika Latin, dan filsafat Afrika.[41]
Barat
[sunting | sunting sumber]
Filsafat Barat berawal di Yunani Kuno pada abad ke-6 SM melalui para pra-Sokratik. Mereka berupaya memberikan penjelasan rasional mengenai kosmos secara keseluruhan.[43] Filsafat sesudah mereka dibentuk oleh pemikiran Sokrates (469–399 SM), Plato (427–347 SM), dan Aristoteles (384–322 SM). Mereka memperluas cakupan topik ke persoalan seperti bagaimana manusia seharusnya bertindak, bagaimana memperoleh pengetahuan, serta apakah hakikat realitas dan pikiran.[44] Bagian akhir periode kuno ditandai oleh munculnya berbagai gerakan filsafat, misalnya Epikureanisme, Stoisisme, Skeptisisme, dan Neoplatonisme.[45] Periode abad pertengahan dimulai pada abad ke-5 M. Fokusnya tertuju pada tema-tema keagamaan, dan banyak pemikir memanfaatkan filsafat kuno untuk menjelaskan serta mengembangkan doktrin Kristen.[46][47]
Periode Renaisans dimulai pada abad ke-14 dan ditandai oleh bangkitnya kembali minat terhadap mazhab-mazhab filsafat kuno, khususnya Platonisme. Pada masa ini pula muncul humanisme.[48] Periode modern bermula pada abad ke-17. Salah satu perhatian utamanya adalah bagaimana pengetahuan filosofis dan ilmiah dibentuk. Perhatian khusus diberikan pada peran rasio dan pengalaman indrawi.[49] Banyak dari pembaruan ini dimanfaatkan dalam gerakan Pencerahan untuk menantang otoritas tradisional.[50] Pada abad ke-19 dilakukan berbagai upaya untuk mengembangkan sistem filsafat yang komprehensif, misalnya oleh idealisme Jerman dan Marxisme.[51] Perkembangan berpengaruh dalam filsafat abad ke-20 meliputi kemunculan dan penerapan logika formal, penekanan pada peran bahasa serta pragmatisme, dan berbagai gerakan dalam filsafat kontinental seperti fenomenologi, eksistensialisme, dan pascastrukturalisme.[52] Abad ke-20 menyaksikan ekspansi pesat filsafat akademik, baik dari segi jumlah publikasi filosofis maupun jumlah filsuf yang bekerja di institusi akademik.[53] Terjadi pula peningkatan yang nyata dalam jumlah filsuf perempuan, meskipun mereka masih tetap kurang terwakili.[54]
Arab–Persia
[sunting | sunting sumber]
Filsafat Arab–Persia tumbuh pada awal abad ke-9 M sebagai tanggapan terhadap perdebatan dalam tradisi teologis Islam, yakni kalam. Masa klasiknya berlangsung hingga abad ke-12 M dan sangat dipengaruhi oleh para filsuf Yunani kuno. Gagasan-gagasan mereka dimanfaatkan untuk menguraikan dan menafsirkan ajaran Al-Qur'an.[55]
Al-Kindi (801–873 M) lazim dipandang sebagai filsuf pertama dalam tradisi ini. Ia menerjemahkan dan menafsirkan banyak karya Aristoteles serta para Neoplatonis dalam upayanya menunjukkan adanya keselarasan antara akal dan iman.[56] Ibnu Sina (980–1037 M) melanjutkan tujuan tersebut dan mengembangkan suatu sistem filsafat yang menyeluruh guna memberikan pemahaman rasional tentang realitas, yang mencakup sains, agama, dan mistisisme.[57] Al-Ghazali (1058–1111 M) merupakan pengkritik tajam terhadap gagasan bahwa akal dapat mencapai pemahaman yang benar tentang realitas dan Tuhan. Ia menyusun kritik atas filsafat secara terperinci dan berupaya menempatkan filsafat pada posisi yang lebih terbatas di samping ajaran Al-Qur'an dan penyingkapan mistik.[58] Setelah Al-Ghazali dan berakhirnya periode klasik, pengaruh penyelidikan filosofis pun mengalami kemunduran.[59] Mulla Sadra (1571–1636 M) kerap dipandang sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh pada periode berikutnya.[60] Meningkatnya pengaruh pemikiran dan institusi Barat pada abad ke-19 dan ke-20 melahirkan gerakan intelektual modernisme Islam, yang berupaya memahami relasi antara keyakinan Islam tradisional dan modernitas.[61]
India
[sunting | sunting sumber]
Salah satu ciri khas filsafat India adalah integrasinya antara penelaahan hakikat realitas, cara-cara memperoleh pengetahuan, dan pertanyaan spiritual tentang bagaimana mencapai pencerahan.[62] Tradisi ini bermula sekitar 900 SM ketika Weda dituliskan. Weda merupakan kitab suci dasar Hinduisme dan merenungkan persoalan hubungan antara diri dan realitas tertinggi, serta pertanyaan mengenai bagaimana jiwa terlahir kembali berdasarkan perbuatannya di masa lampau.[63] Periode ini juga menyaksikan kemunculan ajaran non-Weda, seperti Buddhisme dan Jainisme.[64] Buddhisme didirikan oleh Siddhartha Gautama (563–483 SM), yang menentang gagasan Weda tentang diri yang kekal dan mengajukan suatu jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan.[64] Jainisme didirikan oleh Mahavira (599–527 SM), yang menekankan tanpa kekerasan serta penghormatan terhadap segala bentuk kehidupan.[65]
Periode klasik berikutnya dimulai kira-kira pada 200 SM[b] dan ditandai oleh kemunculan enam mazhab ortodoks Hinduisme: Nyāya, Vaiśeṣika, Sāṃkhya, Yoga, Mīmāṃsā, dan Vedanta.[67] Mazhab Adwaita Vedanta berkembang pada tahap lanjut periode ini. Ia disistematisasi oleh Adi Shankara (ca 700–750 M), yang berpendapat bahwa segala sesuatu adalah satu dan bahwa kesan tentang alam semesta yang terdiri atas banyak entitas berbeda merupakan suatu ilusi.[68] Perspektif yang agak berbeda dikemukakan oleh Ramanuja (1017–1137 M),[c] yang mendirikan mazhab Vishishtadvaita Vedanta dan berargumen bahwa entitas individual sungguh nyata sebagai aspek atau bagian dari kesatuan yang mendasarinya.[70] Ia juga turut memopulerkan gerakan Bhakti, yang mengajarkan devosi kepada Yang Ilahi sebagai jalan spiritual dan berlangsung hingga abad ke-17 sampai ke-18 M.[71] Periode modern bermula kira-kira pada 1800 M dan dibentuk oleh perjumpaan dengan pemikiran Barat.[72] Para filsuf berupaya merumuskan sistem-sistem komprehensif untuk menyelaraskan beragam ajaran filosofis dan keagamaan. Sebagai contoh, Swami Vivekananda (1863–1902 M) menggunakan ajaran Adwaita Vedanta untuk menegaskan bahwa semua agama yang berbeda merupakan jalan-jalan yang sah menuju Yang Ilahi yang satu.[73]
Tiongkok
[sunting | sunting sumber]
Filsafat Tiongkok secara khusus menaruh perhatian pada persoalan-persoalan praktis yang berkaitan dengan tata laku sosial yang benar, pemerintahan, dan pengembangan diri.[74] Banyak aliran pemikiran muncul pada abad ke-6 SM dalam upaya yang saling bersaing untuk mengatasi gejolak politik pada masa itu. Yang paling menonjol di antaranya adalah Konfusianisme dan Taoisme.[75] Konfusianisme didirikan oleh Konfusius (551–479 SM). Ajarannya berpusat pada berbagai bentuk kebajikan moral dan menelaah bagaimana kebajikan-kebajikan itu menuntun pada harmoni dalam masyarakat.[76] Taoisme dirintis oleh Laozi (abad ke-6 SM) dan mengkaji bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam dengan mengikuti Dao atau tatanan alam semesta.[77] Aliran awal lain yang berpengaruh adalah Mohisme, yang mengembangkan bentuk awal konsekuensialisme altruistik,[78] serta Legalisme, yang menekankan arti penting negara yang kuat dan hukum yang tegas.[79]
Buddhisme diperkenalkan ke Tiongkok pada abad pertama M dan kemudian berkembang menjadi bentuk-bentuk baru Buddhisme.[80] Sejak abad ke-3 M, mazhab Xuanxue muncul dengan menafsirkan karya-karya Taois terdahulu, dengan penekanan khusus pada penjelasan-penjelasan metafisis.[80] Neo-Konfusianisme berkembang pada abad ke-11 M. Ia menyistematisasi ajaran Konfusianisme sebelumnya dan berupaya mencari landasan metafisis bagi etika.[81] Periode modern dalam filsafat Tiongkok dimulai pada awal abad ke-20 dan dibentuk oleh pengaruh serta tanggapan terhadap filsafat Barat. Kemunculan Marxisme Tiongkok—yang berfokus pada perjuangan kelas, sosialisme, dan komunisme—mengakibatkan perubahan besar dalam lanskap politik.[82] Perkembangan lain adalah lahirnya Konfusianisme Baru, yang berupaya memodernisasi dan menafsirkan kembali ajaran Konfusius guna menelaah kesesuaiannya dengan cita-cita demokrasi dan ilmu pengetahuan modern.[83]
Tradisi lainnya
[sunting | sunting sumber]Filsafat Jepang tradisional mengasimilasi dan mensintesiskan gagasan dari berbagai tradisi, termasuk agama pribumi Shinto serta pemikiran Tiongkok dan India dalam bentuk Konfusianisme dan Buddhisme, yang keduanya memasuki Jepang pada abad ke-6 dan ke-7. Praktiknya dicirikan oleh interaksi aktif dengan realitas, alih-alih telaah yang terlepas dan berjarak.[84] Neo-Konfusianisme menjadi aliran berpengaruh pada abad ke-16 dan pada Zaman Edo berikutnya, serta mendorong perhatian yang lebih besar pada bahasa dan dunia alam.[85] Mazhab Kyoto muncul pada abad ke-20 dan memadukan spiritualitas Timur dengan filsafat Barat dalam telaahnya atas konsep-konsep seperti ketiadaan mutlak (zettai-mu), tempat (basho), dan diri.[86]
Filsafat Amerika Latin pada periode pra-kolonial dipraktikkan oleh peradaban pribumi dan menelaah persoalan tentang hakikat realitas serta peran manusia.[87] Ia memiliki kemiripan dengan filsafat pribumi Amerika Utara, yang mengangkat tema-tema seperti keterhubungan segala sesuatu.[88] Filsafat Amerika Latin pada masa kolonial, sejak sekitar 1550, didominasi oleh filsafat keagamaan dalam bentuk skolastisisme. Topik-topik berpengaruh pada periode pascakolonial mencakup positivisme, filsafat pembebasan, serta penelaahan atas identitas dan kebudayaan.[89]
Filsafat Afrika awal pada mulanya dijalankan dan diwariskan secara lisan. Ia berfokus pada komunitas, moralitas, dan gagasan tentang leluhur, mencakup folklor, pepatah bijak, ajaran keagamaan, serta konsep-konsep filosofis seperti Ubuntu.[90] Filsafat Afrika yang sistematis muncul pada awal abad ke-20. Ia membahas tema-tema seperti etnofilsafat, négritude, pan-Afrikanisme, Marxisme, pascakolonialisme, peran identitas kultural, relativisme, epistemologi Afrika, serta kritik terhadap Eurocentrisme.[91]
Cabang-cabang utama
[sunting | sunting sumber]Pertanyaan-pertanyaan filosofis dapat dikelompokkan ke dalam beberapa cabang. Pengelompokan ini memungkinkan para filsuf untuk memusatkan perhatian pada sekumpulan topik yang serupa serta berinteraksi dengan pemikir lain yang menaruh minat pada pertanyaan yang sama. Epistemologi, etika, logika, dan metafisika terkadang dicantumkan sebagai cabang-cabang utama.[92] Terdapat banyak subbidang lain di luar keempat cabang tersebut, dan pembagian-pembagian yang ada tidaklah lengkap maupun saling terpisah secara eksklusif. Sebagai contoh, filsafat politik, etika, dan estetika terkadang dipertautkan di bawah tajuk umum teori nilai karena bidang-bidang tersebut menyelidiki aspek-aspek normatif atau evaluatif.[93] Lebih jauh lagi, penyelidikan filosofis terkadang tumpang tindih dengan disiplin ilmu lain dalam ilmu alam dan sosial, agama, serta matematika.[94]
Epistemologi
[sunting | sunting sumber]Epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji pengetahuan. Bidang ini juga dikenal sebagai teori pengetahuan dan bertujuan untuk memahami apa itu pengetahuan, bagaimana ia muncul, apa batasan-batasannya, serta nilai apa yang dimilikinya. Bidang ini lebih jauh menelaah hakikat kebenaran, kepercayaan, pembenaran, dan rasionalitas.[95] Beberapa pertanyaan yang dibahas oleh para epistemolog meliputi "Dengan metode (apa) seseorang dapat memperoleh pengetahuan?"; "Bagaimana kebenaran ditetapkan?"; dan "Dapatkah kita membuktikan hubungan kausal?"[96]
Epistemologi terutama menaruh minat pada pengetahuan deklaratif atau pengetahuan tentang fakta, seperti mengetahui bahwa Putri Diana meninggal pada tahun 1997. Namun, ia juga menyelidiki pengetahuan praktis, seperti mengetahui cara mengendarai sepeda, dan pengetahuan melalui pengenalan, sebagai contoh, mengenal seorang selebritas secara pribadi.[97]
Salah satu area dalam epistemologi adalah analisis pengetahuan. Area ini berasumsi bahwa pengetahuan deklaratif merupakan kombinasi dari bagian-bagian yang berbeda dan berupaya untuk mengidentifikasi apa saja bagian-bagian tersebut. Sebuah teori yang berpengaruh di area ini mengklaim bahwa pengetahuan memiliki tiga komponen: ia adalah kepercayaan yang dibenarkan dan benar. Teori ini bersifat kontroversial dan kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengannya dikenal sebagai masalah Gettier.[98] Pandangan alternatif menyatakan bahwa pengetahuan memerlukan komponen tambahan, seperti ketiadaan faktor keberuntungan; komponen yang berbeda, seperti manifestasi keutamaan kognitif alih-alih pembenaran; atau mereka menyangkal bahwa pengetahuan dapat dianalisis dalam istilah fenomena lain.[99]
Area lain dalam epistemologi mempertanyakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Sumber-sumber pengetahuan yang sering didiskusikan adalah persepsi, introspeksi, memori, inferensi, dan kesaksian.[100] Menurut kaum empiris, semua pengetahuan didasarkan pada suatu bentuk pengalaman. Kaum rasionalis menolak pandangan ini dan berpegang bahwa beberapa bentuk pengetahuan, seperti pengetahuan bawaan, tidak diperoleh melalui pengalaman.[101] Masalah regresi adalah isu umum yang berkaitan dengan sumber pengetahuan dan pembenaran yang ditawarkannya. Masalah ini didasarkan pada gagasan bahwa kepercayaan memerlukan semacam alasan atau bukti agar dapat dibenarkan. Masalahnya adalah bahwa sumber pembenaran itu sendiri mungkin membutuhkan sumber pembenaran yang lain. Hal ini mengarah pada regresi tak terbatas atau penalaran melingkar. Kaum fundasionalis menghindari kesimpulan ini dengan berargumen bahwa beberapa sumber dapat memberikan pembenaran tanpa memerlukan pembenaran bagi dirinya sendiri.[102] Solusi lain diajukan oleh kaum koherentis, yang menyatakan bahwa suatu kepercayaan dibenarkan jika ia koheren dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang dimiliki orang tersebut.[103]
Banyak diskusi dalam epistemologi menyinggung topik skeptisisme filosofis, yang mengangkat keraguan mengenai sebagian atau seluruh klaim pengetahuan. Keraguan-keraguan ini sering kali didasarkan pada gagasan bahwa pengetahuan menuntut kepastian mutlak dan bahwa manusia tidak mampu untuk memperolehnya.[104]
Etika
[sunting | sunting sumber]
Etika, juga dikenal sebagai filsafat moral, mengkaji apa yang membentuk perilaku yang benar. Ia juga menaruh perhatian pada evaluasi moral atas sifat-sifat karakter dan institusi. Ia mengeksplorasi apa yang menjadi standar moralitas dan bagaimana menjalani hidup yang baik.[106] Etika filosofis membahas pertanyaan-pertanyaan dasar seperti "Apakah kewajiban moral bersifat relatif?"; "Manakah yang menjadi prioritas: kesejahteraan atau kewajiban?"; dan "Apa yang memberi makna pada hidup?"[107]
Cabang-cabang utama etika adalah metaetika, etika normatif, dan etika terapan.[108] Metaetika mengajukan pertanyaan abstrak mengenai hakikat dan sumber moralitas. Ia menganalisis makna konsep-konsep etis, seperti tindakan yang benar dan kewajiban. Ia juga menyelidiki apakah teori-teori etika dapat menjadi benar dalam arti mutlak dan bagaimana memperoleh pengetahuan mengenainya.[109] Etika normatif mencakup teori-teori umum mengenai bagaimana membedakan antara perilaku yang benar dan yang salah. Ia membantu memandu keputusan moral dengan menguji kewajiban moral dan hak apa saja yang dimiliki manusia. Etika terapan mengkaji konsekuensi dari teori-teori umum yang dikembangkan oleh etika normatif dalam situasi spesifik, sebagai contoh, di tempat kerja atau untuk perawatan medis.[110]
Dalam etika normatif kontemporer, konsekuensialisme, deontologi, dan etika keutamaan merupakan mazhab pemikiran yang berpengaruh.[111] Kaum konsekuensialis menilai tindakan berdasarkan konsekuensinya. Salah satu pandangan tersebut adalah utilitarianisme, yang berpendapat bahwa tindakan harus meningkatkan kebahagiaan secara keseluruhan sembari meminimalkan penderitaan. Kaum deontolog menilai tindakan berdasarkan apakah tindakan tersebut mematuhi kewajiban moral, seperti menahan diri dari berbohong atau membunuh. Menurut mereka, yang penting adalah bahwa tindakan tersebut selaras dengan kewajiban-kewajiban itu, bukan apa konsekuensi yang ditimbulkannya. Para teoretikus keutamaan menilai tindakan berdasarkan bagaimana karakter moral agen diekspresikan. Menurut pandangan ini, tindakan harus sesuai dengan apa yang akan dilakukan oleh agen yang berbudi luhur secara ideal dengan memanifestasikan keutamaan seperti kedermawanan dan kejujuran.[112]
Logika
[sunting | sunting sumber]Logika adalah studi tentang penalaran yang tepat. Ia bertujuan untuk memahami bagaimana membedakan argumen yang baik dari yang buruk.[113] Ia biasanya dibagi menjadi logika formal dan logika informal. Logika formal menggunakan bahasa buatan dengan representasi simbolis yang presisi untuk menyelidiki argumen. Dalam pencariannya akan kriteria yang pasti, ia menelaah struktur argumen untuk menentukan apakah argumen tersebut benar atau tidak. Logika informal menggunakan kriteria dan standar non-formal untuk menilai kebenaran argumen. Ia bergantung pada faktor-faktor tambahan seperti konten dan konteks.[114]
Logika mengkaji beragam argumen. Argumen deduktif terutama dipelajari oleh logika formal. Sebuah argumen dikatakan valid secara deduktif jika kebenaran premis-premisnya menjamin kebenaran kesimpulannya. Argumen yang valid secara deduktif mengikuti aturan inferensi, seperti modus ponens, yang memiliki bentuk logika berikut: "p; jika p maka q; oleh karena itu q". Contohnya adalah argumen "hari ini adalah hari Minggu; jika hari ini adalah hari Minggu maka saya tidak perlu pergi bekerja hari ini; oleh karena itu saya tidak perlu pergi bekerja hari ini".[115]
Premis-premis argumen non-deduktif juga mendukung kesimpulannya, meskipun dukungan ini tidak menjamin bahwa kesimpulan tersebut benar.[116] Salah satu bentuknya adalah penalaran induktif. Ia bermula dari serangkaian kasus individual dan menggunakan generalisasi untuk sampai pada hukum universal yang mengatur semua kasus. Contohnya adalah inferensi bahwa "semua gagak berwarna hitam" berdasarkan pengamatan terhadap banyak gagak hitam secara individual.[117] Bentuk lainnya adalah penalaran abduktif. Ia bermula dari sebuah pengamatan dan menyimpulkan bahwa penjelasan terbaik atas pengamatan ini pastilah benar. Hal ini terjadi, misalnya, ketika seorang dokter mendiagnosis penyakit berdasarkan gejala yang diamati.[118]
Logika juga menyelidiki bentuk-bentuk penalaran yang tidak tepat. Bentuk-bentuk ini disebut kesesatan (fallacies) dan dibagi menjadi kesesatan formal dan kesesatan informal berdasarkan apakah sumber kesalahan hanya terletak pada bentuk argumen atau juga pada konten dan konteksnya.[119]
Metafisika
[sunting | sunting sumber]
Metafisika adalah studi tentang fitur-fitur paling umum dari realitas, seperti eksistensi, objek dan sifat-nya, keseluruhan dan bagian-bagiannya, ruang dan waktu, peristiwa, dan sebab-akibat.[120] Terdapat perbedaan pendapat mengenai definisi yang tepat dari istilah ini dan maknanya telah berubah sepanjang zaman.[121] Para ahli metafisika berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar termasuk "Mengapa ada sesuatu daripada ketiadaan?"; "Apakah hakikat terdalam yang menyusun realitas?"; dan "Apakah manusia itu bebas?"[122]
Metafisika terkadang dibagi menjadi metafisika umum dan metafisika khusus atau spesifik. Metafisika umum menyelidiki ada sebagai ada. Ia menelaah fitur-fitur yang dimiliki bersama oleh semua entitas. Metafisika khusus menaruh minat pada berbagai jenis keberadaan, fitur-fitur yang dimilikinya, dan bagaimana mereka berbeda satu sama lain.[123]
Area penting dalam metafisika adalah ontologi. Beberapa teoretikus mengidentifikasikannya dengan metafisika umum. Ontologi menyelidiki konsep-konsep seperti keberadaan, kemenjadian , dan realitas. Ia mengkaji kategori ada dan mempertanyakan apa yang eksis pada tingkat paling mendasar.[124] Subbidang lain dari metafisika adalah kosmologi filosofis. Ia menaruh minat pada esensi dunia secara keseluruhan. Ia mengajukan pertanyaan termasuk apakah alam semesta memiliki permulaan dan akhir serta apakah ia diciptakan oleh sesuatu yang lain.[125]
Topik kunci dalam metafisika menyangkut pertanyaan apakah realitas hanya terdiri dari hal-hal fisik seperti materi dan energi. Saran alternatifnya adalah bahwa entitas mental (seperti jiwa dan pengalaman) dan entitas abstrak (seperti angka) eksis terpisah dari hal-hal fisik. Topik lain dalam metafisika menyangkut masalah identitas. Satu pertanyaan adalah seberapa banyak suatu entitas dapat berubah namun tetap menjadi entitas yang sama.[126] Menurut satu pandangan, entitas memiliki fitur esensial dan aksidental. Mereka dapat mengubah fitur aksidentalnya namun mereka berhenti menjadi entitas yang sama jika kehilangan fitur esensial.[127] Pembedaan sentral dalam metafisika adalah antara partikular dan universal. Universal, seperti warna merah, dapat eksis di lokasi yang berbeda pada waktu yang sama. Hal ini tidak berlaku bagi partikular, termasuk individu orang atau objek spesifik.[128] Pertanyaan metafisika lainnya adalah apakah masa lalu menentukan sepenuhnya masa kini dan apa implikasinya bagi eksistensi kehendak bebas.[129]
Cabang-cabang utama lainnya
[sunting | sunting sumber]Terdapat banyak subbidang filsafat lain di luar cabang-cabang intinya. Beberapa yang paling menonjol adalah estetika, filsafat bahasa, filsafat budi, filsafat agama, filsafat ilmu, dan filsafat politik.[130]
Estetika dalam pengertian filosofis adalah bidang yang mengkaji hakikat dan apresiasi terhadap keindahan serta sifat-sifat estetis lainnya, seperti keagungan.[131] Walaupun sering diperlakukan bersama dengan filsafat seni, estetika merupakan kategori yang lebih luas yang melingkupi aspek pengalaman lainnya, seperti keindahan alam.[132] Dalam pengertian yang lebih umum, estetika adalah "refleksi kritis mengenai seni, budaya, dan alam".[133] Pertanyaan kunci dalam estetika adalah apakah keindahan merupakan fitur objektif dari entitas atau aspek subjektif dari pengalaman.[134] Para filsuf estetika juga menyelidiki hakikat pengalaman estetis dan penilaian. Topik lebih lanjut meliputi esensi karya seni dan proses yang terlibat dalam penciptaannya.[135]
Filsafat bahasa mengkaji hakikat dan fungsi bahasa. Ia menelaah konsep makna, referensi, dan kebenaran. Ia bertujuan menjawab pertanyaan seperti bagaimana kata-kata berhubungan dengan benda-benda dan bagaimana bahasa memengaruhi pemikiran serta pemahaman manusia. Ia berhubungan erat dengan disiplin logika dan linguistik.[136] Filsafat bahasa menjadi sangat menonjol pada awal abad ke-20 dalam filsafat analitik berkat karya-karya Frege dan Russell. Salah satu topik sentralnya adalah memahami bagaimana kalimat memperoleh maknanya. Terdapat dua kubu teoretis yang luas: mereka yang menekankan kondisi kebenaran formal kalimat[d] dan mereka yang menyelidiki keadaan yang menentukan kapan suatu kalimat layak digunakan, yang mana kelompok terakhir ini diasosiasikan dengan teori tindak tutur.[138]
Filsafat budi mengkaji hakikat fenomena mental dan bagaimana mereka berhubungan dengan dunia fisik.[139] Ia bertujuan untuk memahami berbagai jenis keadaan mental sadar dan bawah sadar, seperti kepercayaan, hasrat, intensi, perasaan, sensasi, dan kehendak bebas.[140] Intuisi yang berpengaruh dalam filsafat budi adalah bahwa terdapat perbedaan antara pengalaman batin akan objek dan keberadaannya di dunia luar. Masalah budi-tubuh adalah masalah dalam menjelaskan bagaimana kedua jenis hal ini—budi dan materi—saling berhubungan. Tanggapan tradisional utama adalah materialisme, yang berasumsi bahwa materi lebih fundamental; idealisme, yang berasumsi bahwa budi lebih fundamental; dan dualisme, yang berasumsi bahwa budi dan materi adalah jenis entitas yang berbeda. Dalam filsafat kontemporer, pandangan umum lainnya adalah fungsionalisme, yang memahami keadaan mental dalam hal peran fungsional atau kausal yang dimainkannya.[141] Masalah budi-tubuh berkaitan erat dengan masalah sukar kesadaran, yang mempertanyakan bagaimana otak fisik dapat menghasilkan pengalaman subjektif secara kualitatif.[142]
Filsafat agama menyelidiki konsep dasar, asumsi, dan argumen yang berkaitan dengan agama. Ia merefleksikan secara kritis apa itu agama, bagaimana mendefinisikan ilahi, dan apakah satu atau lebih dewa itu ada. Ia juga mencakup diskusi mengenai pandangan dunia yang menolak doktrin agama.[143] Pertanyaan lebih lanjut yang dibahas oleh filsafat agama adalah: "Bagaimana kita harus menafsirkan bahasa agama, jika tidak secara harfiah?";[144] "Apakah kemahatahuan ilahi selaras dengan kehendak bebas?";[145] dan, "Apakah keragaman besar agama-agama dunia dalam beberapa hal dapat diselaraskan meskipun terdapat klaim teologis yang tampaknya bertentangan?"[146] Ia mencakup topik dari hampir semua cabang filsafat.[147] Ia berbeda dari teologi karena perdebatan teologis biasanya terjadi di dalam satu tradisi keagamaan, sedangkan perdebatan dalam filsafat agama melampaui himpunan asumsi teologis tertentu mana pun.[148]
Filsafat ilmu mengkaji konsep mendasar, asumsi, dan masalah yang berkaitan dengan sains. Ia merefleksikan apa itu sains dan bagaimana membedakannya dari pseudosains. Ia menyelidiki metode yang digunakan oleh para ilmuwan, bagaimana penerapannya dapat menghasilkan pengetahuan, dan pada asumsi apa metode tersebut didasarkan. Ia juga mempelajari tujuan dan implikasi sains.[149] Beberapa pertanyaannya adalah "Apa yang terhitung sebagai penjelasan yang memadai?";[150] "Apakah hukum ilmiah lebih dari sekadar deskripsi tentang keteraturan?";[151] dan "Dapatkah beberapa ilmu khusus dijelaskan sepenuhnya dalam istilah ilmu yang lebih umum?"[152] Ini adalah bidang luas yang umumnya dibagi menjadi filsafat ilmu alam dan filsafat ilmu sosial, dengan subdivisi lebih lanjut untuk setiap ilmu individu di bawah tajuk-tajuk ini. Bagaimana cabang-cabang ini berhubungan satu sama lain juga merupakan pertanyaan dalam filsafat ilmu. Banyak masalah filosofisnya tumpang tindih dengan bidang metafisika atau epistemologi.[153]
Filsafat politik adalah penyelidikan filosofis terhadap prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan mendasar yang mengatur sistem politik dan masyarakat. Ia mengkaji konsep dasar, asumsi, dan argumen di bidang politik. Ia menyelidiki hakikat dan tujuan pemerintahan serta membandingkan bentuk-bentuknya yang berbeda.[154] Ia lebih jauh mempertanyakan dalam keadaan apa penggunaan kekuasaan politik itu sah, alih-alih sekadar bentuk kekerasan biasa.[155] Dalam hal ini, ia menaruh perhatian pada distribusi kekuasaan politik, barang sosial dan material, serta hak hukum.[156] Topik lainnya adalah keadilan, kebebasan, kesetaraan, kedaulatan, dan nasionalisme.[157] Filsafat politik melibatkan penyelidikan umum mengenai masalah normatif dan dalam hal ini berbeda dari ilmu politik, yang bertujuan memberikan deskripsi empiris tentang negara-negara yang benar-benar ada.[158] Filsafat politik sering kali diperlakukan sebagai subbidang etika.[159] Mazhab pemikiran yang berpengaruh dalam filsafat politik adalah liberalisme, konservatisme, sosialisme, dan anarkisme.[160]
Metode
[sunting | sunting sumber]Metode filsafat adalah cara-cara dalam melakukan penyelidikan filosofis. Metode ini mencakup teknik-teknik untuk sampai pada pengetahuan filosofis dan membenarkan klaim-klaim filosofis, serta prinsip-prinsip yang digunakan untuk memilih di antara teori-teori yang saling bersaing.[161] Beragam metode telah digunakan sepanjang sejarah filsafat. Banyak di antaranya berbeda secara signifikan dari metode yang digunakan dalam ilmu alam karena tidak menggunakan data eksperimental yang diperoleh melalui peralatan pengukuran.[162] Pemilihan metode biasanya memiliki implikasi penting baik bagi bagaimana teori-teori filosofis dibangun maupun bagi argumen-argumen yang dikutip untuk mendukung atau menentangnya.[163] Pilihan ini sering kali dipandu oleh pertimbangan epistemologis mengenai apa yang membentuk bukti filosofis.[164]
Ketidaksepakatan metodologis dapat menyebabkan konflik di antara teori-teori filosofis atau mengenai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis. Penemuan metode-metode baru sering kali memiliki konsekuensi penting baik bagi cara para filsuf melakukan penelitian mereka maupun bagi klaim-klaim apa yang mereka pertahankan.[165] Beberapa filsuf melakukan sebagian besar penyusunan teori mereka menggunakan satu metode tertentu, sementara yang lain menggunakan metode yang lebih beragam berdasarkan metode mana yang paling sesuai dengan masalah spesifik yang sedang diselidiki.[166]
Analisis konseptual adalah metode yang umum dalam filsafat analitik. Ia bertujuan untuk memperjelas makna konsep dengan menganalisisnya menjadi bagian-bagian komponennya.[167] Metode lain yang sering digunakan dalam filsafat analitik didasarkan pada akal sehat. Metode ini bermula dari kepercayaan yang diterima secara umum dan mencoba menarik kesimpulan tak terduga darinya, yang sering kali digunakan dalam pengertian negatif untuk mengkritik teori-teori filosofis yang terlalu jauh dari cara orang kebanyakan memandang masalah tersebut.[168] Hal ini mirip dengan bagaimana filsafat bahasa sehari-hari mendekati pertanyaan filosofis dengan menyelidiki bagaimana bahasa sehari-hari digunakan.[169]

Berbagai metode dalam filsafat memberikan arti penting khusus pada intuisi, yaitu, kesan non-inferensial mengenai kebenaran klaim spesifik atau prinsip umum.[171] Sebagai contoh, intuisi memainkan peran penting dalam eksperimen pikiran, yang menggunakan pemikiran kontrafaktual untuk mengevaluasi konsekuensi yang mungkin terjadi dari situasi yang dibayangkan. Konsekuensi yang diantisipasi ini kemudian dapat digunakan untuk mengonfirmasi atau menyangkal teori-teori filosofis.[172] Metode ekuilibrium reflektif juga menggunakan intuisi. Metode ini berupaya membentuk posisi yang koheren mengenai isu tertentu dengan menguji semua kepercayaan dan intuisi yang relevan, yang beberapa di antaranya sering kali harus dikesampingkan atau dirumuskan ulang untuk sampai pada perspektif yang koheren.[173]
Kaum pragmatis menekankan signifikansi konsekuensi praktis yang konkret untuk menilai apakah suatu teori filosofis itu benar.[174] Menurut maksim pragmatis sebagaimana dirumuskan oleh Charles Sanders Peirce, gagasan yang dimiliki seseorang tentang suatu objek tidak lebih dari totalitas konsekuensi praktis yang mereka asosiakan dengan objek ini. Kaum pragmatis juga telah menggunakan metode ini untuk menyingkap ketidaksepakatan yang hanya bersifat verbal semata, yaitu, untuk menunjukkan bahwa ketidaksepakatan tersebut tidak membuat perbedaan nyata pada tingkat konsekuensi.[175]
Para fenomenolog mencari pengetahuan tentang ranah penampakan dan struktur pengalaman manusia. Mereka bersikeras pada karakter orang-pertama dari semua pengalaman dan melanjutkannya dengan menangguhkan penilaian teoretis mengenai dunia luar. Teknik reduksi fenomenologis ini dikenal sebagai "pemberian tanda kurung" (bracketing) atau epoché. Tujuannya adalah untuk memberikan deskripsi yang tidak bias mengenai penampakan benda-benda.[176]
Naturalisme metodologis memberikan penekanan besar pada pendekatan empiris dan teori-teori yang dihasilkan yang ditemukan dalam ilmu alam. Dengan cara ini, ia kontras dengan metodologi yang memberikan bobot lebih pada penalaran murni dan introspeksi.[177]
Hubungan dengan bidang-bidang lain
[sunting | sunting sumber]
Filsafat berhubungan erat dengan banyak bidang lain. Ia terkadang dipahami sebagai metadisiplin yang memperjelas hakikat dan batasan bidang-bidang tersebut. Ia melakukan ini dengan menguji secara kritis konsep dasar, asumsi latar belakang, dan metodenya. Dalam hal ini, ia memainkan peran kunci dalam memberikan perspektif interdisipliner. Ia menjembatani kesenjangan antarberbagai disiplin dengan menganalisis konsep dan masalah apa yang mereka miliki bersama. Ia menunjukkan bagaimana disiplin-disiplin tersebut saling tumpang tindih sekaligus membatasi ruang lingkupnya.[178] Secara historis, sebagian besar ilmu pengetahuan individu bermula dari filsafat.[179]
Pengaruh filsafat terasa di beberapa bidang yang menuntut keputusan praktis yang sulit. Dalam kedokteran, pertimbangan filosofis yang berkaitan dengan bioetika memengaruhi isu-isu seperti apakah embrio sudah merupakan pribadi dan dalam kondisi apa aborsi diperbolehkan secara moral. Masalah filosofis yang berkaitan erat adalah bagaimana manusia harus memperlakukan hewan lain, sebagai contoh, apakah dapat diterima untuk menggunakan hewan non-manusia sebagai makanan atau untuk eksperimen penelitian.[180] Berkaitan dengan bisnis dan kehidupan profesional, filsafat telah berkontribusi dengan menyediakan kerangka kerja etis. Kerangka kerja ini memuat panduan mengenai praktik bisnis mana yang dapat diterima secara moral dan mencakup isu tanggung jawab sosial perusahaan.[181]
Penyelidikan filosofis relevan bagi banyak bidang yang menaruh perhatian pada apa yang harus dipercayai dan bagaimana memperoleh bukti bagi kepercayaan seseorang.[182] Ini adalah isu kunci bagi sains, yang memiliki penciptaan pengetahuan ilmiah sebagai salah satu tujuan utamanya. Pengetahuan ilmiah didasarkan pada bukti empiris, namun sering kali tidak jelas apakah pengamatan empiris bersifat netral atau sudah memuat asumsi teoretis. Masalah yang berhubungan erat adalah apakah bukti yang tersedia memadai untuk memutuskan di antara teori-teori yang bersaing.[183] Masalah epistemologis yang berkaitan dengan hukum meliputi apa yang terhitung sebagai bukti dan seberapa banyak bukti yang diperlukan untuk menyatakan seseorang bersalah atas suatu kejahatan. Isu terkait dalam jurnalisme adalah bagaimana memastikan kebenaran dan objektivitas saat melaporkan peristiwa.[178]
Dalam bidang teologi dan agama, terdapat banyak doktrin yang diasosiasikan dengan eksistensi dan hakikat Tuhan serta aturan yang mengatur perilaku yang benar. Isu kuncinya adalah apakah orang yang rasional harus memercayai doktrin-doktrin ini, sebagai contoh, apakah wahyu dalam bentuk kitab suci dan pengalaman keagamaan akan yang ilahi merupakan bukti yang cukup bagi kepercayaan-kepercayaan ini.[184]
Filsafat dalam bentuk logika telah berpengaruh dalam bidang matematika dan ilmu komputer.[185] Bidang-bidang lain yang dipengaruhi oleh filsafat meliputi psikologi, sosiologi, linguistik, pendidikan, dan seni.[186] Hubungan erat antara filsafat dan bidang lain pada periode kontemporer tecermin dalam fakta bahwa banyak lulusan filsafat yang kemudian bekerja di bidang terkait alih-alih di bidang filsafat itu sendiri.[187]
Di bidang politik, filsafat membahas isu-isu seperti bagaimana menilai apakah kebijakan pemerintah itu adil.[188] Gagasan-gagasan filosofis telah mempersiapkan dan membentuk berbagai perkembangan politik. Sebagai contoh, cita-cita yang dirumuskan dalam filsafat Pencerahan meletakkan dasar bagi demokrasi konstitusional dan berperan dalam Revolusi Amerika serta Revolusi Prancis.[189] Filsafat Marxis dan pemaparannya mengenai komunisme adalah salah satu faktor dalam Revolusi Rusia dan Revolusi Komunis Tiongkok.[190] Di India, filsafat nirkerasan Mahatma Gandhi membentuk gerakan kemerdekaan India.[191]
Contoh peran kultural dan kritis filsafat ditemukan dalam pengaruhnya terhadap gerakan feminis melalui para filsuf seperti Mary Wollstonecraft, Simone de Beauvoir, dan Judith Butler. Filsafat telah membentuk pemahaman konsep-konsep kunci dalam feminisme, misalnya, makna gender, bagaimana ia berbeda dari seks biologis, dan peran apa yang dimainkannya dalam pembentukan identitas pribadi. Para filsuf juga telah menyelidiki konsep keadilan dan kesetaraan serta implikasinya sehubungan dengan perlakuan prasangka terhadap wanita dalam masyarakat yang didominasi pria.[192]
Gagasan bahwa filsafat berguna bagi banyak aspek kehidupan dan masyarakat terkadang ditolak. Menurut salah satu pandangan semacam itu, filsafat terutama dijalankan demi filsafat itu sendiri dan tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap praktik yang ada atau tujuan eksternal.[193]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Istilah Yunani Kuno philosophos ('filsuf') itu sendiri kemungkinan dipinjam dari istilah Mesir Kuno mer-rekh (mr-rḫ) yang berarti 'pencinta kebijaksanaan'.[3]
- ↑ Periodisasi yang tepat masih diperdebatkan; sebagian sumber menyatakan bahwa periode ini dimulai sejak 500 SM, sementara yang lain berpendapat bahwa ia baru bermula sekitar 200 M.[66]
- ↑ Tarikh ini lazim dikutip, namun sejumlah sarjana mutakhir berpendapat bahwa masa hidupnya berlangsung dari 1077 hingga 1157.[69]
- ↑ Kondisi kebenaran sebuah kalimat adalah keadaan atau kondisi ihwal di mana kalimat tersebut akan bernilai benar.[137]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑
- Pratt 2023, hlm. 169
- Morujão, Dimas & Relvas 2021, hlm. 105
- Mitias 2022, hlm. 3
- ↑
- Hoad 1993, hlm. 350
- Simpson 2002, Philosophy
- Jacobs 2022, hlm. 23
- ↑
- Herbjørnsrud 2021, hlm. 123
- Herbjørnsrud 2023, hlm. X
- ↑
- Bottin 1993, hlm. 151
- Jaroszyński 2018, hlm. 12
- ↑
- OED staff 2022, Philosophy, n.
- Hoad 1993, hlm. 350
- ↑
- Ten 1999, hlm. 9
- Tuomela 1985, hlm. 1
- Grant 2007, hlm. 303
- ↑
- Kenny 2018, hlm. 189
- Grant 2007, hlm. 163
- Cotterell 2017, hlm. 458
- Maddy 2022, hlm. 24
- ↑
- Grant 2007, hlm. 318
- Ten 1999, hlm. 9
- ↑
- Cotterell 2017, hlm. 458
- Maddy 2022, hlm. 24
- Regenbogen 2010, Philosophiebegriffe
- ↑
- Grayling 2019, Philosophy in the Nineteenth Century
- Regenbogen 2010
- Ten 1999, hlm. 9
- AHD Staff 2022
- ↑
- ↑ Perry, Bratman & Fischer 2010, hlm. 4.
- ↑
- Russell 1912, hlm. 91
- Blackwell 2013, hlm. 148
- Pojman 2009, hlm. 2
- Kenny 2004, hlm. xv
- Vintiadis 2020, hlm. 137
- ↑ Plato 2023, Apology.
- ↑ McCutcheon 2014, hlm. 26.
- ↑
- Russell 1912, hlm. 91
- Blackwell 2013, hlm. 148
- ↑
- Quinton 2005, hlm. 702
- Regenbogen 2010, Philosophiebegriffe
- ↑ Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. vii, 17.
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 20, 44, What Is Philosophy?
- Mittelstraß 2005, Philosophie
- ↑
- Joll
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 20–21, 25, 35, 39, What Is Philosophy?
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 20–22, What Is Philosophy?
- Rescher 2013, hlm. 1–3, 1. The Nature of Philosophy
- Nuttall 2013, hlm. 12–13, 1. The Nature of Philosophy
- ↑
- Guyer 2014, hlm. 7–8
- Kant 1998, hlm. A805/B833
- Kant 1992, hlm. 9:25
- ↑ Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 20–22, What Is Philosophy?.
- ↑ Regenbogen 2010, Philosophiebegriffe.
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 26–27, What Is Philosophy?
- Hylton & Kemp 2020
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 25–27, What Is Philosophy?
- Chalmers 2015, hlm. 3–4
- Dellsén, Lawler & Norton 2021, hlm. 814–815
- ↑
- Regenbogen 2010, Philosophiebegriffe
- Mittelstraß 2005, Philosophie
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 27–30, What Is Philosophy?
- ↑
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 34–36, What Is Philosophy?
- Rescher 2013, hlm. 1–2, 1. The Nature of Philosophy
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 20–21, 29, What Is Philosophy?
- Nuttall 2013, hlm. 12–13, 1. The Nature of Philosophy
- Shaffer 2015, hlm. 555–556
- ↑
- Overgaard, Gilbert & Burwood 2013, hlm. 36–37, 43, What Is Philosophy?
- Nuttall 2013, hlm. 12, 1. The Nature of Philosophy
- ↑
- Regenbogen 2010, Philosophiebegriffe
- Joll, Lead Section, § 2c. Ordinary Language Philosophy and the Later Wittgenstein
- Biletzki & Matar 2021
- ↑
- Joll, § 4.a.i
- Gelan 2020, hlm. 98, Husserl's Idea of Rigorous Science and Its Relevance for the Human and Social Sciences
- Ingarden 1975, hlm. 8–11, The Concept of Philosophy as Rigorous Science
- Tieszen 2005, hlm. 100
- ↑ Smith, § 2.b.
- ↑
- ↑ Grimm & Cohoe 2021, hlm. 236–237.
- ↑ Sharpe & Ure 2021, hlm. 76, 80.
- ↑
- Copleston 2003, hlm. 4–6
- Santinello & Piaia 2010, hlm. 487–488
- Verene 2008, hlm. 6–8
- ↑
- Laerke, Smith & Schliesser 2013, hlm. 115–118
- Verene 2008, hlm. 6–8
- Frede 2022, hlm. x
- Beaney 2013, hlm. 60
- ↑
- Scharfstein 1998, hlm. 1–4
- Perrett 2016, Is There Indian Philosophy?
- Smart 2008, hlm. 1–3
- Rescher 2014, hlm. 173
- Parkinson 2005, hlm. 1–2
- ↑
- Smart 2008, hlm. v, 1–12
- Flavel & Robbiano 2023, hlm. 279
- Solomon & Higgins 2003, hlm. xv–xvi
- Grayling 2019, Contents, Preface
- ↑ Shields 2022, Lead Section.
- ↑
- Blackson 2011, Introduction
- Graham 2023, Lead Section, 1. Presocratic Thought
- Duignan 2010, hlm. 9–11
- ↑
- Graham 2023, Lead Section, 2. Socrates, 3. Plato, 4. Aristotle
- Grayling 2019, Socrates, Plato, Aristotle
- ↑
- Long 1986, hlm. 1
- Blackson 2011, Chapter 10
- Graham 2023, 6. Post-Hellenistic Thought
- ↑
- Duignan 2010, hlm. 9
- Lagerlund 2020, hlm. v
- Marenbon 2023, Lead Section
- MacDonald & Kretzmann 1998, Lead Section
- ↑
- Grayling 2019, Part II: Medieval and Renaissance Philosophy
- Adamson 2019, hlm. 3–4
- ↑
- Parkinson 2005, hlm. 1, 3
- Adamson 2022, hlm. 155–157
- Grayling 2019, Philosophy in the Renaissance
- Chambre et al. 2023, Renaissance Philosophy
- ↑
- Grayling 2019, The Rise of Modern Thought; The Eighteenth-century Enlightenment
- Anstey & Vanzo 2023, hlm. 236–237
- ↑
- Grayling 2019, The Eighteenth-Century Enlightenment
- Kenny 2006, hlm. 90–92
- ↑ Grayling 2019, Philosophy in the Nineteenth Century.
- ↑
- Grayling 2019, Philosophy in the Twentieth Century
- Livingston 2017, 6. 'Analytic' and 'Continental' Philosophy
- Silverman & Welton 1988, hlm. 5–6
- ↑ Grayling 2019, Philosophy in the Twentieth Century.
- ↑ Waithe 1995, hlm. xix–xxiii.
- ↑
- Adamson & Taylor 2004, hlm. 1
- EB Staff 2020
- Grayling 2019, Arabic–Persian Philosophy
- Adamson 2016, hlm. 5–6
- ↑
- Esposito 2003, hlm. 246
- Nasr & Leaman 2013, 11. Al-Kindi
- Nasr 2006, hlm. 109–110
- Adamson 2020, Lead Section
- ↑
- Gutas 2016
- Grayling 2019, Ibn Sina (Avicenna)
- ↑
- Adamson 2016, hlm. 140–146
- Dehsen 2013, hlm. 75
- Griffel 2020, Lead Section, 3. Al-Ghazâlî's "Refutations" of Falsafa and Ismâ'îlism, 4. The Place of Falsafa in Islam
- ↑
- Grayling 2019, Ibn Rushd (Averroes)
- Kaminski 2017, hlm. 32
- ↑
- Rizvi 2021, Lead Section, 3. Metaphysics, 4. Noetics — Epistemology and Psychology
- Chamankhah 2019, hlm. 73
- ↑
- Moaddel 2005, hlm. 1–2
- Masud 2009, hlm. 237–238
- Safi 2005, Lead Section
- ↑
- Smart 2008, hlm. 3
- Grayling 2019, Indian Philosophy
- ↑
- Perrett 2016, Indian philosophy: A Brief Historical Overview, the Ancient Period of Indian Philosophy
- Grayling 2019, Indian Philosophy
- Pooley & Rothenbuhler 2016, hlm. 1468
- Andrea & Overfield 2015, hlm. 71
- 1 2
- Perrett 2016, The Ancient Period of Indian Philosophy
- Ruether 2004, hlm. 57
- ↑
- Perrett 2016, The Ancient Period of Indian Philosophy
- Vallely 2012, hlm. 609–610
- Gorisse 2023, Lead Section
- ↑
- Phillips 1998, hlm. 324
- Perrett 2016, Indian Philosophy: A Brief Historical Overview
- Glenney & Silva 2019, hlm. 77
- ↑
- Perrett 2016, Indian Philosophy: A Brief Historical Overview, The Classical Period of Indian Philosophy, The Medieval Period of Indian Philosophy
- Glenney & Silva 2019, hlm. 77
- Adamson & Ganeri 2020, hlm. 101–102
- ↑
- Perrett 2016, The Medieval Period of Indian Philosophy
- Dalal 2021, Lead Section, 2. Metaphysics
- Menon, Lead Section
- ↑ Ranganathan, 1. Rāmānuja's Life and Works.
- ↑ Ranganathan, Lead Section, 2c. Substantive Theses.
- ↑
- Ranganathan, 4. Rāmānuja's Soteriology
- Kulke & Rothermund 1998, hlm. 139
- Seshadri 1996, hlm. 297
- Jha 2022, hlm. 217
- ↑
- Perrett 2016, Indian Philosophy: A Brief Historical Overview, the Modern Period of Indian Philosophy
- EB Staff 2023
- ↑
- Banhatti 1995, hlm. 151–154
- Bilimoria 2018, hlm. 529–531
- Rambachan 1994, hlm. 91–92
- ↑
- Smart 2008, hlm. 3, 70–71
- EB Staff 2017, Lead Section, § Periods of Development of Chinese Philosophy
- Littlejohn 2023
- Grayling 2019, Chinese Philosophy
- Cua 2009, hlm. 43–45
- Wei-Ming, Lead Section
- ↑
- Perkins 2013, hlm. 486–487
- Ma 2015, hlm. xiv
- Botz-Bornstein 2023, hlm. 61
- ↑
- EB Staff 2017, Lead Section, § Periods of Development of Chinese Philosophy
- Smart 2008, hlm. 70–76
- Littlejohn 2023, 1b. Confucius (551–479 B.C.E.) of the Analects
- Boyd & Timpe 2021, hlm. 64–66
- Marshev 2021, hlm. 100–101
- ↑
- EB Staff 2017, Lead Section, § Periods of Development of Chinese Philosophy
- Slingerland 2007, hlm. 77–78
- Grayling 2019, Chinese Philosophy
- ↑
- Grayling 2019, Chinese Philosophy
- Littlejohn 2023, 1c. Mozi (c. 470–391 B.C.E.) and Mohism
- Defoort & Standaert 2013, hlm. 35
- ↑
- Grayling 2019, Chinese Philosophy
- Kim 2019, hlm. 161
- Littlejohn 2023, 2a. Syncretic Philosophies in the Qin and Han Periods
- 1 2
- Littlejohn 2023, § Early Buddhism in China
- EB Staff 2017, § Periods of Development of Chinese Philosophy
- ↑
- Littlejohn 2023, 4b. Neo-Confucianism: The Original Way of Confucius for a New Era
- EB Staff 2017, § Periods of Development of Chinese Philosophy
- ↑
- Littlejohn 2023, 5. The Chinese and Western Encounter in Philosophy
- Jiang 2009, hlm. 473–480
- Qi 2014, hlm. 99–100
- Tian 2009, hlm. 512–513
- ↑
- Van Norden 2022, § 6. Influence
- Redse 2015, hlm. 21–22
- Makeham 2003, hlm. 94–95
- ↑
- Kasulis 2022, Lead Section, § 3.2 Confucianism, § 3.3 Buddhism
- Kasulis 1998, Lead Section
- ↑
- Kasulis 2022, § 4.3 Edo-period Philosophy (1600–1868)
- Kasulis 1998, Lead Section
- ↑
- Davis 2022, Lead Section, § 3. Absolute Nothingness: Giving Philosophical Form to the Formless
- Kasulis 2022, § 4.4.2 Modern Academic Philosophies
- ↑
- Gracia & Vargas 2018, Lead Section, § 1. History
- Stehn, Lead Section, § 1. Indigenous Period
- Maffie
- ↑
- Arola 2011, hlm. 562–563
- Rivera Berruz 2019, hlm. 72
- ↑
- Gracia & Vargas 2018, Lead Section, § 1. History
- Stehn, Lead Section, § 4. Twentieth Century
- ↑
- Grayling 2019, African Philosophy
- Chimakonam 2023, Lead Section, 6. Epochs in African Philosophy
- Mangena, Lead Section
- ↑
- Chimakonam 2023, Lead Section, 1. Introduction, 5. The Movements in African Philosophy, 6. Epochs in African Philosophy
- Bell & Fernback 2015, hlm. 44
- Coetzee & Roux 1998, hlm. 88
- Wiredu 2005, hlm. 12
- Chimakonam & Ogbonnaya 2021
- ↑
- Brenner 1993, hlm. 16
- Palmquist 2010, hlm. 800
- Jenicek 2018, hlm. 31
- ↑
- Kenny 2018, hlm. 20
- Lazerowitz & Ambrose 2012, hlm. 9
- ↑
- Martinich & Stroll 2023, Lead Section, The Nature of Epistemology
- Steup & Neta 2020, Lead Section
- Truncellito, Lead Section
- Greco 2021, Article Summary
- ↑ Mulvaney 2009, hlm. ix.
- ↑
- Steup & Neta 2020, Lead Section, 2. What Is Knowledge?
- Truncellito, Lead Section, 1. Kinds of Knowledge
- Colman 2009a, Declarative Knowledge
- ↑
- Martinich & Stroll 2023, The Nature of Knowledge
- Truncellito, Lead Section, 2. The Nature of Propositional Knowledge
- ↑
- Ichikawa & Steup 2018, § 3. The Gettier Problem, § 11. Knowledge First
- Truncellito, § 2d. The Gettier Problem
- ↑
- Steup & Neta 2020, 5. Sources of Knowledge and Justification
- Truncellito, Lead Section, 4a. Sources of Knowledge
- ↑
- ↑
- Steup & Neta 2020, 4. The Structure of Knowledge and Justification
- Truncellito, 3. The Nature of Justification
- ↑ Olsson 2021, Lead Section, § 1. Coherentism Versus Foundationalism.
- ↑
- Steup & Neta 2020, 6. The Limits of Cognitive Success
- Truncellito, 4. The Extent of Human Knowledge
- Johnstone 1991, hlm. 52
- ↑ Mill 1863, hlm. 51.
- ↑
- Audi 2006, hlm. 325–326
- Nagel 2006, hlm. 379–380
- Lambert 2023, hlm. 26
- ↑ Mulvaney 2009, hlm. vii–xi.
- ↑
- Dittmer, 1. Applied Ethics as Distinct from Normative Ethics and Metaethics
- Jeanes 2019, hlm. 66
- Nagel 2006, hlm. 379–380
- ↑
- Dittmer, 1. Applied Ethics as Distinct from Normative Ethics and Metaethics
- Jeanes 2019, hlm. 66
- Nagel 2006, hlm. 390–391
- Sayre-McCord 2023, Lead Section
- ↑
- Dittmer, 1. Applied Ethics as Distinct from Normative Ethics and Metaethics
- Barsky 2009, hlm. 3
- Jeanes 2019, hlm. 66
- Nagel 2006, hlm. 379–380, 390–391
- ↑
- Dittmer, 1. Applied Ethics as Distinct from Normative Ethics and Metaethics
- Nagel 2006, hlm. 382, 386–388
- ↑
- Dittmer, 1. Applied Ethics as Distinct from Normative Ethics and Metaethics
- Nagel 2006, hlm. 382, 386–388
- Hursthouse & Pettigrove 2022, 1.2 Practical Wisdom
- ↑
- Hintikka 2019
- Haack 1978, Philosophy of Logics
- ↑
- Blair & Johnson 2000, hlm. 94–96
- Walton 1996
- Tully 2005, hlm. 532
- Johnson 1999, hlm. 265–267
- Groarke 2021
- ↑
- Velleman 2006, hlm. 8, 103
- Johnson-Laird 2009, hlm. 8–10
- Dowden 2020, hlm. 334–336, 432
- ↑
- Dowden 2020, hlm. 432, 470
- Anshakov & Gergely 2010, hlm. 128
- ↑
- Vickers 2022
- Nunes 2011, hlm. 2066–2069, Logical Reasoning and Learning
- Dowden 2020, hlm. 432–449, 470
- ↑
- Douven 2022
- Koslowski 2017, hlm. 366–368, Abductive Reasoning and Explanation
- Nunes 2011, hlm. 2066–2069, Logical Reasoning and Learning
- ↑
- Hansen 2020
- Dowden 2023
- Dowden 2020, hlm. 290
- Vleet 2011, hlm. ix
- ↑
- van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023
- Craig 1998
- Audi 2006, § Metaphysics
- ↑ van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, Lead Section.
- ↑ Mulvaney 2009, hlm. ix–x.
- ↑
- ↑
- Haaparanta & Koskinen 2012, hlm. 454
- Fiet 2022, hlm. 133
- Audi 2006, § Metaphysics
- van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
- ↑
- Audi 2006, § Metaphysics
- Coughlin 2012, hlm. 15
- ↑ Audi 2006, § Metaphysics.
- ↑
- ↑
- Lowe 2005, hlm. 683
- Kuhlmann 2010, Ontologie: 4.2.1 Einzeldinge und Universalien
- ↑
- ↑
- Stambaugh 1987, Philosophy: An Overview
- Phillips 2010, hlm. 16
- Ramos 2004, hlm. 4
- Shand 2004, hlm. 9–10
- ↑
- Smith, Brown & Duncan 2019, hlm. 174
- McQuillan 2015, hlm. 122–123
- Janaway 2005, hlm. 9, Aesthetics, History Of
- ↑
- Nanay 2019, hlm. 4
- McQuillan 2015, hlm. 122–123
- ↑
- Kelly 1998, hlm. ix
- Riedel 1999
- ↑
- ↑
- Smith, Brown & Duncan 2019, hlm. 174
- McQuillan 2015, hlm. 122–123
- ↑
- Audi 2006, § Philosophy of Language
- Russell & Fara 2013, hlm. ii, 1–2
- Blackburn 2022, Lead Section
- ↑ Birner 2012, hlm. 33.
- ↑
- Wolf 2023, §§ 1.a-b, 3–4
- Ifantidou 2014, hlm. 12
- ↑
- Lowe 2000, hlm. 1–2
- Crumley 2006, hlm. 2–3
- ↑
- Audi 2006, § Philosophy of Mind
- Heidemann 2014, hlm. 140
- ↑
- ↑
- ↑
- Taliaferro 2023, Lead Section, § 5.2
- Burns 2017, hlm. i, 1–3
- Audi 2006, § Philosophy of Religion
- Meister, Lead Section
- ↑ Taliaferro 2023, § 1.
- ↑ Taliaferro 2023, § 5.1.1.
- ↑ Taliaferro 2023, § 6.
- ↑
- Taliaferro 2023, Introduction
- Audi 2006, § Philosophy of Religion
- ↑
- Bayne 2018, hlm. 1–2
- Louth & Thielicke 2014
- ↑
- Audi 2006, § Philosophy of Science
- Kitcher 2023
- Losee 2001, hlm. 1–3
- Wei 2020, hlm. 127
- Newton-Smith 2000, hlm. 2–3
- ↑ Newton-Smith 2000, hlm. 7.
- ↑ Newton-Smith 2000, hlm. 5.
- ↑ Papineau 2005, hlm. 855–856.
- ↑
- Papineau 2005, hlm. 852
- Audi 2006, § Philosophy of Science
- ↑
- Molefe & Allsobrook 2021, hlm. 8–9
- Moseley, Lead Section
- Duignan 2012, hlm. 5–6
- Bowle & Arneson 2023, Lead Section
- McQueen 2010, hlm. 162
- ↑
- Molefe & Allsobrook 2021, hlm. 8–9
- Howard 2010, hlm. 4
- ↑ Wolff 2006, hlm. 1–2.
- ↑ Molefe & Allsobrook 2021, hlm. 8–9.
- ↑
- Moseley, Lead Section
- Molefe & Allsobrook 2021, hlm. 8–9
- ↑ Audi 2006, § Subfields of Ethics.
- ↑
- Moseley, Lead Section, § 3. Political Schools of Thought
- McQueen 2010, hlm. 162
- ↑
- McKeon 2002, Lead Section, § Summation
- Overgaard & D'Oro 2017, hlm. 1, 4–5, Introduction
- Mehrtens 2010, Methode/Methodologie
- ↑
- ↑
- Overgaard & D'Oro 2017, hlm. 1, 3–5, Introduction
- Nado 2017, hlm. 447–449, 461–462
- Dever 2016, 3–6
- ↑
- Daly 2010, hlm. 9–11, Introduction
- Overgaard & D'Oro 2017, hlm. 3, Introduction
- Dever 2016, hlm. 3–4, What Is Philosophical Methodology?
- ↑
- Daly 2015, hlm. 1–2, 5, Introduction and Historical Overview
- Mehrtens 2010, Methode/Methodologie
- Overgaard & D'Oro 2017, hlm. 1, 3–5, Introduction
- ↑
- Williamson 2020
- Singer 1974, hlm. 420–421
- Venturinha 2013, hlm. 76
- Walsh, Teo & Baydala 2014, hlm. 68
- ↑
- ↑
- ↑
- Mehrtens 2010, Methode/Methodologie
- Parker-Ryan, Lead Section, § 1. Introduction
- EB Staff 2022
- ↑
- Woollard & Howard-Snyder 2022, § 3. The Trolley Problem and the Doing/Allowing Distinction
- Rini, § 8. Moral Cognition and Moral Epistemology
- ↑
- Daly 2015, hlm. 11–12, Introduction and Historical Overview
- Duignan 2009
- ↑
- Brown & Fehige 2019, Lead Section
- Goffi & Roux 2011, hlm. 165, 168–169
- Eder, Lawler & van Riel 2020, hlm. 915–916
- ↑
- Daly 2015, hlm. 12–13, Introduction and Historical Overview
- Daniels 2020, Lead Section, § 1. The Method of Reflective Equilibrium
- Little 1984, hlm. 373–375
- ↑
- McDermid, Lead Section
- Legg & Hookway 2021, Lead Section
- ↑
- McDermid, Lead Section, § 2a. A Method and A Maxim
- Legg & Hookway 2021, Lead Section, § 2. The Pragmatic Maxim: Peirce
- ↑
- Cogan, Lead Section, § 5. The Structure, Nature and Performance of the Phenomenological Reduction
- Mehrtens 2010, Methode/Methodologie
- Smith 2018, Lead Section, § 1. What Is Phenomenology?
- Smith, Lead Section, § 2.Phenomenological Method
- ↑
- Fischer & Collins 2015, hlm. 4
- Fisher & Sytsma 2023, Projects and Methods of Experimental Philosophy
- Papineau 2023, § 2. Methodological Naturalism
- 1 2 Audi 2006, hlm. 332–337.
- ↑
- Tuomela 1985, hlm. 1
- Grant 2007, hlm. 303
- ↑
- Dittmer, Lead Section, § 3. Bioethics
- Lippert-Rasmussen 2017, hlm. 4–5
- Uniacke 2017, hlm. 34–35
- Crary 2013, hlm. 321–322
- ↑
- Dittmer, Lead Section, § 2. Business Ethics, § 5. Professional Ethics
- Lippert-Rasmussen 2017, hlm. 4–5
- Uniacke 2017, hlm. 34–35
- ↑ Lippert-Rasmussen 2017, hlm. 51–53.
- ↑
- Bird 2010, hlm. 5–6, 8–9
- Rosenberg 2013, hlm. 129, 155
- ↑
- Clark 2022, Lead Section, § 1. Reason/Rationality
- Forrest 2021, Lead Section
- Dougherty 2014, hlm. 97–98
- ↑
- Kakas & Sadri 2003, hlm. 588
- Li 2014, hlm. ix–x
- Nievergelt 2015, hlm. v–vi
- ↑
- Audi 2006, hlm. 332–37
- Murphy 2018, hlm. 138
- Dittmer, Lead Section, Table of Contents
- Frankena, Raybeck & Burbules 2002, § Definition
- ↑ Cropper 1997.
- ↑
- Dittmer, Lead Section, § 6. Social Ethics, Distributive Justice, and Environmental Ethics
- Lippert-Rasmussen 2017, hlm. 4–5
- ↑ Bristow 2023, Lead Section, § 2.1 Political Theory.
- ↑
- Pipes 2020, hlm. 29
- Wolff & Leopold 2021, § 9. Marx's Legacy
- Shaw 2019, hlm. 124
- ↑
- Singh 2014, hlm. 83
- Bondurant 1988, hlm. 23–24
- ↑
- McAfee 2018, Lead Section, 2.1 Feminist Beliefs and Feminist Movements
- Ainley 2005, hlm. 294–296
- Hirschmann 2008, hlm. 148–151
- McAfee et al. 2023, Lead Section, 1. What Is Feminism?
- ↑
- Jones & Bos 2007, hlm. 56
- Rickles 2020, hlm. 9
- Lockie 2015, hlm. 24–28
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Adamson, Peter; Ganeri, Jonardon (2020). Classical Indian Philosophy. A History of Philosophy Without Any Gaps. Vol. 5. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-885176-9. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Adamson, Peter; Taylor, Richard C. (2004). The Cambridge Companion to Arabic Philosophy. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-49469-5. Diakses tanggal 7 June 2023.
- Adamson, Peter (2020). "Al-Kindi". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 May 2019. Diakses tanggal 7 June 2023.
- Adamson, Peter (2022). Byzantine and Renaissance Philosophy. A History of Philosophy Without Any Gaps. Vol. 6. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-266992-6. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Adamson, Peter (2019). Medieval Philosophy. A History of Philosophy Without Any Gaps. Vol. 4. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-884240-8. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Adamson, Peter (2016). Philosophy in the Islamic World. A History of Philosophy Without Any Gaps. Vol. 3. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-957749-1. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Adler, Mortimer J. (2000). How to Think About the Great Ideas: From the Great Books of Western Civilization. Open Court. ISBN 978-0-8126-9412-3. Diakses tanggal 10 November 2023.
- "Philosophy". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2023. Diakses tanggal 7 July 2023.
- Ainley, Alison (2005). "Feminist Philosophy". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Andrea, Alfred J.; Overfield, James H. (2015). The Human Record: Sources of Global History, Volume I: To 1500. Cengage Learning. ISBN 978-1-305-53746-0. Diakses tanggal 10 June 2023.
- Anshakov, Oleg M.; Gergely, Tamás (2010). Cognitive Reasoning: A Formal Approach. Springer Science & Business Media. ISBN 978-3-540-68875-4. Diakses tanggal 17 July 2023.
- Anstey, Peter R.; Vanzo, Alberto (2023). Experimental Philosophy and the Origins of Empiricism. Cambridge University Press. ISBN 978-1-009-03467-8. Diakses tanggal 2 June 2023.
- Arola, Adam (2011). "40 Native American Philosophy". Dalam Garfield, Jay L.; Edelglass, William (ed.). The Oxford Handbook of World Philosophy. Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780195328998.003.0048. ISBN 978-0-19-532899-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 November 2023. Diakses tanggal 14 November 2023.
- Audi, Robert (2006). "Philosophy". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. 7: Oakeshott - Presupposition (Edisi 2.). Thomson Gale, Macmillan Reference. ISBN 978-0-02-865787-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2022. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Banhatti, G. S. (1995). Life and Philosophy of Swami Vivekananda. Atlantic Publishers & Dist. ISBN 978-81-7156-291-6. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Banicki, Konrad (2014). "Philosophy As Therapy: Towards a Conceptual Model". Philosophical Papers. 43 (1): 7–31. doi:10.1080/05568641.2014.901692. ISSN 0556-8641. S2CID 144901869. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Barsky, Allan E. (2009). Ethics and Values in Social Work: An Integrated Approach for a Comprehensive Curriculum. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-971758-3. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Bayne, Tim (2018). The Philosophy of Religion: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-875496-1.
- Beaney, Michael (2013). The Oxford Handbook of The History of Analytic Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-166266-9. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Bell, Richard H.; Fernback, Jan (2015). Understanding African Philosophy: A Cross-cultural Approach to Classical and Contemporary Issues. Routledge. ISBN 978-1-135-94866-5. Diakses tanggal 15 June 2023.
- Biletzki, Anat; Matar, Anat (2021). "Ludwig Wittgenstein". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 3.7 The Nature of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2018. Diakses tanggal 11 February 2022.
- Bilimoria, Puruṣottama (2018). History of Indian Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-415-30976-9.
- Bird, Alexander (2010). "The Epistemology of Science—a Bird's-eye View". Synthese. 175 (S1): 5–16. doi:10.1007/s11229-010-9740-4. S2CID 15228491.
- Birner, Betty J. (2012). Introduction to Pragmatics. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-34830-7. Diakses tanggal 21 August 2023.
- Blackburn, Simon W. (2022). "Philosophy of Language". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2021. Diakses tanggal 18 July 2023.
- Blackburn, Simon W. (2008). The Oxford Dictionary of Philosophy (Edisi 2). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-954143-0.
- Blackson, Thomas A. (2011). Ancient Greek Philosophy: From the Presocratics to the Hellenistic Philosophers. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-9608-9. Diakses tanggal 28 May 2023.
- Blackwell, Kenneth (2013). The Spinozistic Ethics of Bertrand Russell. Routledge. ISBN 978-1-135-10711-6. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Blair, J. Anthony; Johnson, Ralph H. (2000). "Informal Logic: An Overview". Informal Logic. 20 (2). doi:10.22329/il.v20i2.2262. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
- Bondurant, Joan Valérie (1988). Conquest of Violence: The Gandhian Philosophy of Conflict (Edisi New rev.). Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02281-9.
- Bottin, Francesco (1993). Models of the History of Philosophy: From Its Origins in the Renaissance to the 'Historia Philosophica': Volume I: From Its Origins in the Renaissance to the 'Historia Philosophica'. Springer Science & Business Media. ISBN 978-0-7923-2200-9. Diakses tanggal 7 July 2023.
- Botz-Bornstein, Thorsten (2023). Daoism, Dandyism, and Political Correctness. State University of New York Press. ISBN 978-1-4384-9453-1. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Bowle, John Edward; Arneson, Richard J. (2023). "Political Philosophy". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2021. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Boyd, Craig A.; Timpe, Kevin (2021). The Virtues: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-258407-6. Diakses tanggal 13 June 2023.
- Brenner, William H. (1993). Logic and Philosophy: An Integrated Introduction. University of Notre Dame Press. ISBN 978-0-268-15898-9. Diakses tanggal 5 July 2023.
- Bristow, William (2023). "Enlightenment". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 December 2017. Diakses tanggal 4 September 2023.
- Brown, James Robert; Fehige, Yiftach (2019). "Thought Experiments". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 November 2017. Diakses tanggal 29 October 2021.
- Burns, Elizabeth (2017). What Is This Thing Called Philosophy of Religion?. Routledge. ISBN 978-1-317-59546-5. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Chalmers, David J. (2015). "Why Isn't There More Progress in Philosophy?". Philosophy. 90 (1): 3–31. doi:10.1017/s0031819114000436. hdl:1885/57201. S2CID 170974260. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2022. Diakses tanggal 27 February 2022.
- Chamankhah, Leila (2019). The Conceptualization of Guardianship in Iranian Intellectual History (1800–1989): Reading Ibn ʿArabī's Theory of Wilāya in the Shīʿa World. Springer Nature. ISBN 978-3-030-22692-3. Diakses tanggal 9 June 2023.
- Chambre, Henri; Maurer, Armand; Stroll, Avrum; McLellan, David T.; Levi, Albert William; Wolin, Richard; Fritz, Kurt von (2023). "Western Philosophy". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2021. Diakses tanggal 30 May 2023.
- Chimakonam, Jonathan O. (2023). "History of African Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 June 2023. Diakses tanggal 14 June 2023.
- Chimakonam, Johnathan O.; Ogbonnaya, L. Uchenna (2021). "Toward an African Theory of Knowledge". African Metaphysics, Epistemology and a New Logic. doi:10.1007/978-3-030-72445-0_8. ISBN 9783030724474.
- Clark, Kelly James (2022). "Religious Epistemology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2022. Diakses tanggal 21 September 2022.
- Coetzee, Pieter Hendrik; Roux, A. P. J. (1998). The African Philosophy Reader. Psychology Press. ISBN 978-0-415-18905-7. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Cogan, John. "Phenomenological Reduction, The". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 April 2020. Diakses tanggal 27 February 2022.
- Colman, Andrew M. (2009a). "Declarative Knowledge". A Dictionary of Psychology. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-953406-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 March 2023. Diakses tanggal 16 April 2023.
- Copleston, Frederick (2003). History of Philosophy Volume 1: Greece and Rome. Continuum. ISBN 978-0-8264-6895-6. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Cotterell, Brian (2017). Physics and Culture. World Scientific. ISBN 978-1-78634-378-9. Diakses tanggal 25 August 2023.
- Coughlin, John J. (2012). Law, Person, and Community: Philosophical, Theological, and Comparative Perspectives on Canon Law. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-987718-8. Diakses tanggal 16 July 2023.
- Craig, Edward (1998). "Metaphysics". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 August 2023. Diakses tanggal 15 July 2023.
- Crary, Alice (2013). "13. Eating and Experimenting on Animals". Dalam Petrus, Klaus; Wild, Markus (ed.). Animal Minds & Animal Ethics. transcript Verlag. doi:10.1515/transcript.9783839424629.321 (tidak aktif 12 July 2025). ISBN 978-3-8394-2462-9. Diakses tanggal 10 November 2023. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
- Cropper, Carol Marie (1997). "Philosophers Find the Degree Pays Off in Life and in Work". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 January 2017. Diakses tanggal 2 May 2016.
- Crumley, Jack S (2006). A Brief Introduction to the Philosophy of Mind. Rowman & Littlefield Publishers. ISBN 978-0-7425-7212-6. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Cua, Antonio S. (2009). "The Emergence of the History of Chinese Philosophy". Dalam Mou, Bo (ed.). History of Chinese Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-203-00286-5.
- Dalal, Neil (2021). "Śaṅkara". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2022. Diakses tanggal 19 June 2023.
- Daly, Christopher (2015). "Introduction and Historical Overview". The Palgrave Handbook of Philosophical Methods. Palgrave Macmillan UK. hlm. 1–30. doi:10.1057/9781137344557_1. ISBN 978-1-137-34455-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Daly, Christopher (2010). "Introduction". An Introduction to Philosophical Methods. Broadview Press. ISBN 978-1-55111-934-2. Diakses tanggal 7 June 2022.
- Daniels, Norman (2020). "Reflective Equilibrium". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 February 2022. Diakses tanggal 28 February 2022.
- Davis, Bret W. (2022). "The Kyoto School". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2023. Diakses tanggal 7 November 2023.
- Defoort, Carine; Standaert, Nicolas (2013). The Mozi as an Evolving Text: Different Voices in Early Chinese Thought. Brill. ISBN 978-90-04-23434-5. Diakses tanggal 21 June 2023.
- Dehsen, Christian von (2013). Philosophers and Religious Leaders. Routledge. ISBN 978-1-135-95102-3. Diakses tanggal 28 May 2023.
- Dellsén, Finnur; Lawler, Insa; Norton, James (2021). "Thinking about Progress: From Science to Philosophy". Noûs. 56 (4): 814–840. doi:10.1111/nous.12383. hdl:11250/2836808. S2CID 235967433.
- Dever, Josh (2016). "What Is Philosophical Methodology?". Dalam Cappelen, Herman; Gendler, Tamar Szabó; Hawthorne, John (ed.). The Oxford Handbook of Philosophical Methodology. Oxford University Press. hlm. 3–24. doi:10.1093/oxfordhb/9780199668779.013.34. ISBN 978-0-19-966877-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 December 2020. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Dittmer, Joel. "Ethics, Applied". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 June 2023. Diakses tanggal 2 July 2023.
- Dougherty, Trent (2014). "Faith, Trust, and Testimony". Religious Faith and Intellectual Virtue: 97–123. doi:10.1093/acprof:oso/9780199672158.003.0005. ISBN 978-0-19-967215-8.
- Douven, Igor (2022). "Abduction and Explanatory Reasoning". Oxford Bibliographies. Oxford University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 February 2023. Diakses tanggal 18 January 2023.
- Dowden, Bradley H. (2023). "Fallacies". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 June 2019. Diakses tanggal 22 January 2023.
- Dowden, Bradley H. (2020). Logical Reasoning (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 June 2023. Diakses tanggal 17 July 2023. (for an earlier version, see: Dowden, Bradley H. (1993). Logical Reasoning. Wadsworth Publishing Company. ISBN 978-0-534-17688-4. Diakses tanggal 17 July 2023.)
- Duignan, Brian (2009). "Intuitionism (Ethics)". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 28 February 2022.
- Duignan, Brian (2010). Ancient Philosophy: From 600 BCE to 500 CE. The Rosen Publishing Group, Inc. ISBN 978-1-61530-141-6. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Duignan, Brian, ed. (2012). The Science and Philosophy of Politics. Britannica Educational Publishing. ISBN 978-1-61530-748-7. Diakses tanggal 21 July 2023.
- "Chinese Philosophy". Encyclopædia Britannica. 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 May 2015. Diakses tanggal 12 June 2023.
- "History and Periods of Indian Philosophy". Encyclopædia Britannica. 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 June 2023. Diakses tanggal 10 June 2023.
- "Islamic Philosophy". Encyclopædia Britannica. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 June 2023. Diakses tanggal 7 June 2023.
- "Philosophy". Encyclopædia Britannica. 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 February 2021. Diakses tanggal 29 May 2022.
- "Philosophy of Common Sense". Encyclopædia Britannica. 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 27 February 2022.
- "Ordinary Language Analysis". Encyclopædia Britannica. 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 28 February 2022.
- Eder, Anna-Maria A.; Lawler, Insa; van Riel, Raphael (2020). "Philosophical Methods Under Scrutiny: Introduction to the Special Issue Philosophical Methods". Synthese. 197 (3): 915–923. doi:10.1007/s11229-018-02051-2. ISSN 1573-0964. S2CID 54631297.
- Espín, Orlando O.; Nickoloff, James B. (2007). An Introductory Dictionary of Theology and Religious Studies. Liturgical Press. ISBN 978-0-8146-5856-7. Diakses tanggal 16 July 2023.
- Esposito, John L. (2003). The Oxford Dictionary of Islam. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512559-7. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Fischer, Eugen; Collins, John (2015). Experimental Philosophy, Rationalism, and Naturalism: Rethinking Philosophical Method. Routledge. ISBN 978-1-317-50027-8. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Fisher, Eugen; Sytsma, Justin (2023). "Projects and Methods of Experimental Philosophy". Dalam Bauer, Alexander Max; Kornmesser, Stephan (ed.). The Compact Compendium of Experimental Philosophy. Walter de Gruyter GmbH & Co KG. ISBN 978-3-11-071702-0. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Fiet, James O. (2022). The Theoretical World of Entrepreneurship. Edward Elgar Publishing. ISBN 978-1-80037-147-7. Diakses tanggal 16 July 2023.
- Flavel, Sarah; Robbiano, Chiara (2023). Key Concepts in World Philosophies: A Toolkit for Philosophers. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-16814-5. Diakses tanggal 19 August 2023.
- Forrest, Peter (2021). "The Epistemology of Religion". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2022. Diakses tanggal 21 September 2022.
- Frankena, William K.; Raybeck, Nathan; Burbules, Nicholas (2002). "Philosophy of Education". Dalam Guthrie, James W. (ed.). Encyclopedia of Education (Edisi 2nd). Macmillan Reference. ISBN 978-0-02-865594-9.
- Frede, Michael (2022). The Historiography of Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-884072-5. Diakses tanggal 24 May 2023.
- Gelan, Victor Eugen (2020). "Husserl's Idea of Rigorous Science and its Relevance for the Human and Social Sciences". The Subject(s) of Phenomenology. Contributions to Phenomenology. Vol. 108. Springer International Publishing. hlm. 97–105. doi:10.1007/978-3-030-29357-4_6. ISBN 978-3-030-29357-4. S2CID 213082313. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 March 2022. Diakses tanggal 27 February 2022.
- Glenney, Brian; Silva, José Filipe (2019). The Senses and the History of Philosophy. Routledge. ISBN 978-1-351-73106-5. Diakses tanggal 16 June 2023.
- Goffi, Jean-Yves; Roux, Sophie (2011). "On the Very Idea of a Thought Experiment". Thought Experiments in Methodological and Historical Contexts. Brill: 165–191. doi:10.1163/ej.9789004201767.i-233.35. ISBN 978-90-04-20177-4. S2CID 260640180. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 October 2021. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Gorisse, Marie-Hélène (2023). "Jaina Philosophy". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 February 2023. Diakses tanggal 19 November 2023.
- Gracia, Jorge J. E. (1999). Metaphysics and Its Task: The Search for the Categorial Foundation of Knowledge. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-4214-2. Diakses tanggal 16 July 2023.
- Gracia, Jorge J. E.; Vargas, Manuel (2018). "Latin American Philosophy". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 June 2018. Diakses tanggal 7 November 2023.
- Graham, Jacob N. (2023). "Ancient Greek Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 August 2022. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Grant, Edward (2007). A History of Natural Philosophy: From the Ancient World to the Nineteenth Century. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-86931-7. Diakses tanggal 7 July 2023.
- Grayling, A. C. (2019). The History of Philosophy. Penguin UK. ISBN 978-0-241-98086-6. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Greco, John (2021). "Epistemology". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 July 2023. Diakses tanggal 14 July 2023.
- Griffel, Frank (2020). "Al-Ghazali". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 May 2023. Diakses tanggal 19 June 2023.
- Grimm, Stephen R.; Cohoe, Caleb (2021). "What Is Philosophy as a Way of Life? Why Philosophy as a Way of Life?". European Journal of Philosophy. 29 (1): 236–251. doi:10.1111/ejop.12562. ISSN 1468-0378. S2CID 225504495. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Groarke, Leo (2021). "Informal Logic". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 January 2022. Diakses tanggal 31 December 2021.
- Gutas, Dimitri (2016). "Ibn Sina [Avicenna]". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2023. Diakses tanggal 7 June 2023.
- Guyer, Paul (2014). Kant. Routledge. ISBN 978-1-135-01563-3. Diakses tanggal 9 July 2023.
- Haack, Susan (1978). "1. 'Philosophy of Logics'". Philosophy of Logics. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29329-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
- Haaparanta, Leila; Koskinen, Heikki J. (2012). Categories of Being: Essays on Metaphysics and Logic. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-989057-6. Diakses tanggal 16 July 2023.
- Hacker, P. M. S. (2013). Wittgenstein: Comparisons and Context. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-967482-4. Diakses tanggal 10 July 2023.
- Hadot, Pierre (1995). "11. Philosophy as a Way of Life". Philosophy as a Way of Life: Spiritual Exercises From Socrates to Foucault. Blackwell. ISBN 978-0-631-18033-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Hansen, Hans (2020). "Fallacies". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2021. Diakses tanggal 18 March 2021.
- Heidemann, Dietmar H. (2014). Kant and Non-conceptual Content. Routledge. ISBN 978-1-317-98155-8. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Heil, John Fergusson (2013). Philosophy of Mind: A Contemporary Introduction (Edisi 3rd). Routledge. ISBN 978-0-415-89175-2.
- Herbjørnsrud, Dag (2021). "The Quest for a Global Age of Reason". Dialogue and Universalism. 31 (3): 113–131. doi:10.5840/du202131348. ISSN 1234-5792.
- Herbjørnsrud, Dag (2023). "Preface". Dalam Lee, Ralph; Worku, Mehari; Belcher, Wendy Laura (ed.). The Hatata Inquiries. De Gruyter. hlm. IX–XIV. doi:10.1515/9783110781922-203. ISBN 978-3-11-078192-2.
- Hetherington, Stephen. "Knowledge". Internet Encyclopedia of Philosophy. § 3c. Knowing Purely by Thinking. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2022. Diakses tanggal 22 July 2023.
- Hintikka, Jaakko J. (2019). "Philosophy of Logic". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2015. Diakses tanggal 21 November 2021.
- Hirschmann, Nancy (2008). "8. Feminist Political Philosophy". Dalam Kittay, Eva Feder; Alcoff, Linda Martín (ed.). The Blackwell Guide to Feminist Philosophy. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-470-69538-8. Diakses tanggal 8 July 2023.
- Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN 0-19-283098-8.
- Howard, Dick (2010). The Primacy of the Political: A History of Political Thought From the Greeks to the French and American Revolutions. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-13595-5.
- Hursthouse, Rosalind; Pettigrove, Glen (2022). "Virtue Ethics". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 June 2023. Diakses tanggal 20 August 2023.
- Hylton, Peter; Kemp, Gary (2020). "Willard Van Orman Quine: 3. The Analytic-Synthetic Distinction and the Argument Against Logical Empiricism". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 February 2021. Diakses tanggal 27 February 2022.
- Ichikawa, Jonathan (2011). "Chris Daly: An Introduction to Philosophical Methods". Notre Dame Philosophical Reviews. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 22 February 2022.
- Ichikawa, Jonathan Jenkins; Steup, Matthias (2018). "The Analysis of Knowledge". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 May 2022. Diakses tanggal 15 November 2023.
- Ifantidou, Elly (2014). Pragmatic Competence and Relevance. John Benjamins Publishing Company. ISBN 978-90-272-7037-5. Diakses tanggal 21 August 2023.
- Ingarden, Roman (1975). "The Concept of Philosophy as Rigorous Science". On the Motives which led Husserl to Transcendental Idealism. Phaenomenologica. Vol. 64. Springer Netherlands. hlm. 8–11. doi:10.1007/978-94-010-1689-6_3. ISBN 978-94-010-1689-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2022. Diakses tanggal 27 February 2022.
- Jacobs, James M. (2022). Seat of Wisdom: An Introduction to Philosophy in the Catholic Tradition. Catholic University of America Press. ISBN 978-0-8132-3465-6. Diakses tanggal 7 July 2023.
- Janaway, C. (2005). "Aesthetics, History of". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Jaroszyński, Piotr (2018). Metaphysics or Ontology?. Brill. ISBN 978-90-04-35987-1. Diakses tanggal 7 July 2023.
- Jeanes, Emma (2019). A Dictionary of Organizational Behaviour. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-252756-1. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Jenicek, Milos (2018). How to Think in Medicine: Reasoning, Decision Making, and Communication in Health Sciences and Professions. CRC Press. ISBN 978-1-351-68402-6. Diakses tanggal 5 July 2023.
- Jha, Meenakshi (2022). Subaltern Saints in India: Women and Sudras in Bhakti Movement. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-4299-1. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Jiang, Xinyan (2009). "Enlightenment Movement". Dalam Mou, Bo (ed.). History of Chinese Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-203-00286-5.
- Johnson, Ralph H. (1999). "The Relation Between Formal and Informal Logic". Argumentation. 13 (3): 265–274. doi:10.1023/A:1007789101256. S2CID 141283158. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Johnson-Laird, Phil (2009). "Deductive Reasoning". WIREs Cognitive Science. 1 (1): 8–17. doi:10.1002/wcs.20. ISSN 1939-5078. PMID 26272833. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 January 2023. Diakses tanggal 17 July 2023.
- Johnstone, Albert A. (1991). Rationalized Epistemology: Taking Solipsism Seriously. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-0787-5. Diakses tanggal 14 July 2023.
- Joll, Nicholas. "Metaphilosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 May 2019. Diakses tanggal 1 February 2022.
- Jones, Campbell; Bos, René ten (2007). Philosophy and Organization. Routledge. ISBN 978-1-134-19659-3. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Kakas, Antonis C.; Sadri, Fariba (2003). Computational Logic: Logic Programming and Beyond: Essays in Honour of Robert A. Kowalski, Part II. Springer. ISBN 978-3-540-45632-2. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Kaminski, Joseph J. (2017). The Contemporary Islamic Governed State: A Reconceptualization. Springer. ISBN 978-3-319-57012-9. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Kane, Robert (2009). "Free Will". Dalam Kim, Jaekwon; Sosa, Ernest; Rosenkrantz, Gary S. (ed.). A Companion to Metaphysics. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-0853-2. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Kant, Immanuel (1992) [1800]. Lectures on Logic. Diterjemahkan oleh J. Michael Young. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-36013-5.
- Kant, Immanuel (1998). Paul Guyer and Allen W. Wood (ed.). Critique of Pure Reason. Diterjemahkan oleh Paul Guyer and Allen W. Wood. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-35402-8.
- Kasulis, Thomas P. (1998). "Japanese philosophy". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2023. Diakses tanggal 7 November 2023.
- Kasulis, Thomas P. (2022). "Japanese Philosophy". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 August 2023. Diakses tanggal 7 November 2023.
- Kelly, Michael, ed. (1998). Encyclopedia of Aesthetics. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-511307-5.
- Kenny, Anthony (2004). A New History of Western Philosophy, vol.1: Ancient Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-875272-1.
- Kenny, Anthony (2006). The Rise of Modern Philosophy. A new history of Western philosophy. Clarendon Press. ISBN 978-0-19-875277-6.
- Kenny, Anthony (2018). An Illustrated Brief History of Western Philosophy, 20th Anniversary Edition. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-119-45279-9. Diakses tanggal 5 July 2023.
- Kim, Sungmoon (2019). Theorizing Confucian Virtue Politics: The Political Philosophy of Mencius and Xunzi. Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-57739-7. Diakses tanggal 14 June 2023.
- Kitcher, Philip S. (2023). "Philosophy of Science". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 June 2023. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Koslowski, Barbara (2017). "Abductive Reasoning and Explanation". International Handbook of Thinking and Reasoning. Routledge. doi:10.4324/9781315725697. ISBN 978-1-315-72569-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 January 2022. Diakses tanggal 17 July 2023.
- Kuhlmann, Meinard (2010). "Ontologie: 4.2.1 Einzeldinge und Universalien". Dalam Sandkühler, Hans Jörg (ed.). Enzyklopädie Philosophie (dalam bahasa Jerman). Meiner. ISBN 978-3-7873-3545-9.
- Kulke, Hermann; Rothermund, Dietmar (1998). A History of India. Psychology Press. ISBN 978-0-415-15482-6. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Laerke, Mogens; Smith, Justin E. H.; Schliesser, Eric (2013). Philosophy and Its History: Aims and Methods in the Study of Early Modern Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-985716-6.
- Lagerlund, Henrik, ed. (2020). Encyclopedia of Medieval Philosophy: Philosophy Between 500 and 1500 (Edisi 2nd). Springer. ISBN 978-94-024-1663-3.
- Lambert, Joseph (2023). Translation Ethics. Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-84163-3. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Lazerowitz, Morris; Ambrose, Alice (2012). Philosophical Theories. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-080708-0. Diakses tanggal 5 July 2023.
- Legg, Catherine; Hookway, Christopher (2021). "Pragmatism". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2020. Diakses tanggal 22 February 2022.
- Li, Wei (2014). Mathematical Logic: Foundations for Information Science. Springer. ISBN 978-3-0348-0862-0. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Lippert-Rasmussen, Kasper (2017). "The Nature of Applied Philosophy". Dalam Lippert-Rasmussen, Kasper; Brownlee, Kimberley; Coady, David (ed.). A Companion to Applied Philosophy. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-86911-6.
- Little, Daniel (1984). "Reflective Equilibrium and Justification". Southern Journal of Philosophy. 22 (3): 373–387. doi:10.1111/j.2041-6962.1984.tb00354.x. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Littlejohn, Ronnie (2023). "Chinese Philosophy: Overview of History". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 June 2023. Diakses tanggal 12 June 2023.
- Livingston, Paul M. (2017). "Twentieth-century philosophy". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 November 2023. Diakses tanggal 14 November 2023.
- Lockie, Robert (2015). "Is Philosophy Useless?". The Philosophers' Magazine (71): 24–28. doi:10.5840/tpm20157197. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 August 2023. Diakses tanggal 11 July 2023.
- Long, A. A. (1986). Hellenistic Philosophy: Stoics, Epicureans, Sceptics. University of California Press. ISBN 978-0-520-05808-8. Diakses tanggal 28 May 2023.
- Losee, John (2001). A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-870055-5. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Louth, Andrew; Thielicke, Helmut (2014). "Relationship to Philosophy Theology". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 August 2020. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Lowe, E. Jonathan (2000). An Introduction to the Philosophy of Mind. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-65428-9. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Lowe, E. Jonathan (2005). "Particulars and Non-particulars". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Ma, Licheng (2015). Leading Schools of Thought in Contemporary China. World Scientific. ISBN 978-981-4656-40-5. Diakses tanggal 23 August 2023.
- MacDonald, Scott; Kretzmann, Norman (1998). "Medieval philosophy". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 May 2023. Diakses tanggal 28 May 2023.
- Maddy, Penelope (2022). A Plea for Natural Philosophy: And Other Essays. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-750885-5. Diakses tanggal 25 August 2023.
- Maffie, James. "Aztec Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 January 2023. Diakses tanggal 14 November 2023.
- Makeham, J. (2003). New Confucianism: A Critical Examination. Springer. ISBN 978-1-4039-8241-4. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Mangena, Fainos. "Hunhu/Ubuntu in Traditional Southern African Thought". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2023. Diakses tanggal 7 November 2023.
- Marenbon, John (2023). "Medieval Philosophy". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari asli tanggal 26 March 2023. Diakses tanggal 27 May 2023.
- Marshev, Vadim I. (2021). History of Management Thought: Genesis and Development From Ancient Origins to the Present Day. Springer Nature. ISBN 978-3-030-62337-1. Diakses tanggal 21 June 2023.
- Martinich, A. P.; Stroll, Avrum (2023). "Epistemology". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2019. Diakses tanggal 22 June 2020.
- Masud, Muhammad Khalid (2009). Islam and Modernity: Key Issues and Debates. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-3794-2. Diakses tanggal 10 November 2023.
- McAfee, Noëlle (2018). "Feminist Philosophy". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 June 2023. Diakses tanggal 8 July 2023.
- McAfee, Noëlle; Garry, Ann; Superson, Anita; Grasswick, Heidi; Khader, Serene (2023). "Feminist Philosophy". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 June 2023. Diakses tanggal 6 November 2023.
- McCutcheon, Russell T. (2014). Studying Religion: An Introduction. Routledge. ISBN 978-1-317-49166-8. Diakses tanggal 10 November 2023.
- McDermid, Douglas. "Pragmatism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 May 2019. Diakses tanggal 22 February 2022.
- McKeon, R. (2002). "Methodology (Philosophy)". New Catholic Encyclopedia. Gale Research Inc. ISBN 978-0-7876-4004-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- McQueen, Paddy (2010). Key Concepts in Philosophy. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-137-09339-4. Diakses tanggal 21 July 2023.
- McQuillan, J. Colin (2015). Early Modern Aesthetics. Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-78348-213-9. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Meister, Chad. "Philosophy of Religion". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 August 2023. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Menon, Sangeetha. "Vedanta, Advaita". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 June 2023. Diakses tanggal 16 June 2023.
- Mehrtens, Arnd (2010). "Methode/Methodologie". Dalam Sandkühler, Hans Jörg (ed.). Enzyklopädie Philosophie (dalam bahasa Jerman). Meiner. ISBN 978-3-7873-3545-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 March 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Mill, John Stuart (1863). Utilitarianism. Parker, Son, and Bourn. OCLC 78070085. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2022. Diakses tanggal 5 November 2022.
- Mitias, Michael H. (11 March 2022). The Philosophical Novel as a Literary Genre. Springer Nature. ISBN 978-3-030-97385-8. Diakses tanggal 4 December 2023.
- Mittelstraß, Jürgen (2005). "Philosophie". Enzyklopädie Philosophie und Wissenschaftstheorie (dalam bahasa Jerman). Metzler. ISBN 978-3-476-02107-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 October 2021. Diakses tanggal 27 February 2022.
- Moaddel, Mansoor (2005). Islamic Modernism, Nationalism, and Fundamentalism: Episode and Discourse. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-53333-9. Diakses tanggal 23 August 2023.
- Molefe, Motsamai; Allsobrook, Christopher (2021). Towards an African Political Philosophy of Needs. Springer Nature. ISBN 978-3-030-64496-3. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Morujão, Carlos; Dimas, Samuel; Relvas, Susana (7 September 2021). The Philosophy of Ortega y Gasset Reevaluated. Springer Nature. ISBN 978-3-030-79249-7. Diakses tanggal 4 December 2023.
- Moseley, Alexander. "Political Philosophy: Methodology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2009. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Mulvaney, Robert J. (2009). Classical Philosophical Questions (Edisi 13th). Prentice Hall. ISBN 978-0-13-600652-7.
- Murphy, P. Karen (2018). Rediscovering the Philosophical Roots of Educational Psychology: A Special Issue of educational Psychologist. Routledge. ISBN 978-1-135-06617-8. Diakses tanggal 14 November 2023.
- Nado, Jennifer (2017). "How to Think About Philosophical Methodology". Journal of Indian Council of Philosophical Research. 34 (3): 447–463. doi:10.1007/s40961-017-0116-8. ISSN 2363-9962. S2CID 171569977. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Nagel, Thomas (2006). "Ethics". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Encyclopedia of Philosophy. 3: Determinables–Fuzzy Logic (Edisi 2nd). Thomson Gale, Macmillan Reference. ISBN 978-0-02-866072-1.
- Nanay, Bence (2019). Aesthetics: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-882661-3.
- Nasr, Seyyed Hossein; Leaman, Oliver (2013). History of Islamic Philosophy. Routledge. ISBN 978-1-136-78043-1. Diakses tanggal 7 June 2023.
- Nasr, Seyyed Hossein (2006). Islamic Philosophy From Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-6800-5. Diakses tanggal 7 June 2023.
- Newton-Smith, W. H. (2000). "Introduction". Dalam W. H. Newton-Smith (ed.). A Companion to the Philosophy of Science. Blackwell. ISBN 978-0-631-23020-5.
- Nievergelt, Yves (2015). Logic, Mathematics, and Computer Science: Modern Foundations With Practical Applications (Edisi 2nd). Springer. ISBN 978-1-4939-3222-1.
- Nunes, Terezinha (2011). "Logical Reasoning and Learning". Dalam Seel, Norbert M. (ed.). Encyclopedia of the Sciences of Learning. Springer Science & Business Media. ISBN 978-1-4419-1427-9. Diakses tanggal 17 July 2023.
- Nuttall, Jon (2013). "1. The Nature of Philosophy". An Introduction to Philosophy. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-7456-6807-9. Diakses tanggal 15 February 2022.
- "Philosophy, n.". Oxford English Dictionary (Edisi 3rd). Oxford University Press. 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2023. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Olsson, Erik (2021). "Coherentist Theories of Epistemic Justification". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2023. Diakses tanggal 5 September 2023.
- "Philosophy". Lexico. University of Oxford Press. 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 28 March 2019. Diakses tanggal 28 March 2019.
- Overgaard, Søren; D'Oro, Giuseppina (2017). "Introduction". The Cambridge Companion to Philosophical Methodology. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-54736-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Overgaard, Søren; Gilbert, Paul; Burwood, Stephen (2013). "What Is Philosophy?". An Introduction to Metaphilosophy. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-19341-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Palmquist, Stephen (2010). Cultivating Personhood: Kant and Asian Philosophy. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-022623-2. Diakses tanggal 5 July 2023.
- Papineau, David (2005). "Science, Problems of the Philosophy of". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy (Edisi 2nd). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2023. Diakses tanggal 13 July 2023.
- Papineau, David (2023). "Naturalism". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2018. Diakses tanggal 5 November 2023.
- Parker-Ryan, Sally. "Ordinary Language Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 28 February 2022.
- Parkinson, G. H. R., ed. (2005). IV. The Renaissance and Seventeenth-Century Rationalism. Routledge History of Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-203-02914-5.
- Perkins, Dorothy (2013). Encyclopedia of China: History and Culture. Routledge. ISBN 978-1-135-93562-7. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Perrett, Roy W. (2016). An Introduction to Indian Philosophy. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-85356-9. Diakses tanggal 9 June 2023.
- Perry, John; Bratman, Michael; Fischer, John Martin (2010). Introduction to Philosophy: Classical and Contemporary Readings (Edisi 5th). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-539036-0. Diakses tanggal 9 July 2023.
- Phillips, D. C. (2010). "What Is Philosophy of Education?". Dalam Bailey, Richard; Barrow, Robin; Carr, David; McCarthy, Christine (ed.). The SAGE Handbook of Philosophy of Education. SAGE. ISBN 978-1-4462-0697-3. Diakses tanggal 21 August 2023.
- Phillips, Stephen H. (1998). Classical Indian Metaphysics: Refutations of Realism and the Emergence of New Logic. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1488-2. Diakses tanggal 29 March 2024.
- Pipes, Richard (2020). "Reflections on the Russian Revolution". Dalam Stockdale, Melissa K. (ed.). Readings on the Russian Revolution. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-03743-4. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Plato (2023) [1871]. "Apology". Dialogues. Diterjemahkan oleh Jowett, Benjamin. Standard Ebooks. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 November 2023. Diakses tanggal 14 November 2023.
- Pojman, Louis P. (2009). "I. What Is Philosophy?". Dalam Pojman, Louis P.; Vaughn, Lewis (ed.). Philosophy: The Quest for Truth (Edisi 7th). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-998108-3.
- Polger, Thomas W. "Functionalism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2019. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Pooley, Jefferson D.; Rothenbuhler, Eric W. (2016). The International Encyclopedia of Communication Theory and Philosophy, 4 Volume Set. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-29073-6. Diakses tanggal 16 June 2023.
- Pratt, Menah (15 September 2023). "The Personal Evolution of a Critical Black Girl Feminist Identity: A Philosophical Autoethnographic Journey". Dalam Grant, Alec (ed.). Writing Philosophical Autoethnography. Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-95761-7. Diakses tanggal 4 December 2023.
- Qi, Xiaoying (2014). Globalized Knowledge Flows and Chinese Social Theory. Routledge. ISBN 978-1-134-69162-3. Diakses tanggal 14 June 2023.
- Quinton, Anthony Meredith (2005). "Philosophy". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Rambachan, Anantanand (1994). The Limits of Scripture: Vivekananda's Reinterpretation of the Vedas. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1542-4. Diakses tanggal 16 June 2023.
- Ramos, Christine Carmela R. (2004). Introduction to Philosophy. Rex Bookstore, Inc. ISBN 978-971-23-3955-4. Diakses tanggal 21 August 2023.
- Ranganathan, Shyam. "Ramanuja". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2020. Diakses tanggal 7 September 2023.
- Redse, Arne (2015). 'Justification by Grace Alone' Facing Confucian Self-Cultivation: The Christian Doctrine of Justification Contextualized to New Confucianism. Brill. ISBN 978-90-04-30258-7. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Regenbogen, Arnim (2010). "Philosophiebegriffe". Dalam Sandkühler, Hans Jörg (ed.). Enzyklopädie Philosophie (dalam bahasa Jerman). Meiner. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 March 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Rescher, Nicholas (2014). Metaphilosophy: Philosophy in Philosophical Perspective. Lexington Books. ISBN 978-0-7391-9978-7. Diakses tanggal 15 June 2023.
- Rescher, Nicholas (2013). "1. The Nature of Philosophy". On the Nature of Philosophy and Other Philosophical Essays. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-032020-6. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Reynolds, Jack (2010). "Common Sense and Philosophical Methodology: Some Metaphilosophical Reflections on Analytic Philosophy and Deleuze". The Philosophical Forum. 41 (3): 231–258. doi:10.1111/j.1467-9191.2010.00361.x. hdl:10536/DRO/DU:30061043. ISSN 0031-806X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Rickles, Dean (2020). What Is Philosophy of Science?. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-5095-3418-0. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Riedel, Tom (1999). "[Review:] Encyclopedia of Aesthetics" (PDF). Art Documentation. 18 (2). doi:10.1086/adx.18.2.27949030. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 February 2006. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Rini, Regina A. "Morality and Cognitive Science". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 September 2023. Diakses tanggal 7 September 2023.
- Rivera Berruz, Stephanie (2019). "The Quest for Recognition: the Case of Latin American Philosophy". Comparative Philosophy. 10 (2). doi:10.31979/2151-6014(2019).100206.
- Rizvi, Sajjad (2021). "Mulla Sadra". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 May 2023. Diakses tanggal 8 June 2023.
- Robertson Ishii, Teresa; Atkins, Philip (2023). "Essential vs. Accidental Properties". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Lead Section. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2022. Diakses tanggal 16 July 2023.
- Rosenberg, Alex (2013). Philosophy of Science: A Contemporary Introduction. Routledge. ISBN 978-1-134-74350-6. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Ruether, Rosemary Radford (2004). Integrating Ecofeminism, Globalization, and World Religions. Rowman & Littlefield Publishers. ISBN 978-1-4616-3822-3. Diakses tanggal 10 June 2023.
- Russell, Bertrand (1912). The Problems of Philosophy. H. Holt and Company. OCLC 542749.
- Russell, Gillian; Fara, Delia Graff (2013). Routledge Companion to Philosophy of Language. Routledge. ISBN 978-1-136-59407-6. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Safi, Omid (2005). "Modernism: Islamic Modernism". Encyclopedia of Religion. Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865733-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2023. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Santinello, Giovanni; Piaia, Gregorio (2010). Models of the History of Philosophy: Volume II: From Cartesian Age to Brucker. Springer Science & Business Media. ISBN 978-90-481-9507-7. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Sartwell, Crispin (2022). "Beauty". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Lead Section, 1. Objectivity and Subjectivity. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 February 2022. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Sayre-McCord, Geoff (2023). "Metaethics". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 July 2023. Diakses tanggal 1 November 2023.
- Scharfstein, Ben-Ami (1998). A Comparative History of World Philosophy: From the Upanishads to Kant. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-3683-7. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Schroeder, Mark (2021). "Value Theory". Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Spring 2021). Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2021. Diakses tanggal 27 March 2021.
- Seshadri, Kandadai (1996). "Ramanuja: Social Influence of His Life and Teaching". Economic and Political Weekly. 31 (5): 292–298. ISSN 0012-9976. JSTOR 4403749. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 October 2023. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Shaffer, Michael J. (2015). "The Problem of Necessary and Sufficient Conditions and Conceptual Analysis". Metaphilosophy. 46 (4/5): 555–563. doi:10.1111/meta.12158. ISSN 0026-1068. JSTOR 26602327. S2CID 148551744. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
- Shand, John (2004). Fundamentals of Philosophy. Routledge. ISBN 978-1-134-58831-2. Diakses tanggal 21 August 2023.
- Sharpe, Matthew; Ure, Michael (2021). Philosophy as a Way of Life: History, Dimensions, Directions. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-10216-3. Diakses tanggal 15 November 2023.
- Shaw, Yu-ming (2019). Changes and Continuities in Chinese Communism: Volume I: Ideology, Politics, and Foreign Policy. Routledge. ISBN 978-0-429-71285-2. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Shields, Christopher (2022). "Aristotle". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 December 2021. Diakses tanggal 6 November 2023.
- Shiraev, Eric (2010). A History of Psychology: A Global Perspective: A Global Perspective. SAGE. ISBN 978-1-4129-7383-0. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Kane, Robert (2013). "7.1 Incompatibilism". Dalam Sider, Theodore; Hawthorne, John; Zimmerman, Dean W. (ed.). Contemporary Debates in Metaphysics. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-71232-0. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Silverman, Hugh J.; Welton, Donn (1988). Postmodernism and Continental Philosophy. State University of New York Press. ISBN 978-0-88706-521-7. Diakses tanggal 15 November 2023.
- Simpson, John A. (2002). "Philosophy". Oxford English Dictionary: Version 3.0 : Upgrade Version. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-521889-3.
- Singer, Marcus G. (1974). "The Many Methods of Sidgwick's Ethics". Monist. 58 (3): 420–448. doi:10.5840/monist197458326.
- Singh, Rana P. B. (2014). "3. Rethinking Development in India". Dalam Simon, David; Narman, Anders (ed.). Development as Theory and Practice: Current Perspectives on Development and Development Co-operation. Routledge. ISBN 978-1-317-87658-8. Diakses tanggal 14 November 2023.
- Slingerland, Edward (2007). Effortless Action: Wu-wei As Conceptual Metaphor and Spiritual Ideal in Early China. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-987457-6. Diakses tanggal 30 June 2023.
- Smart, Ninian (2008). World Philosophies (Edisi Rev. 2nd). Routledge. ISBN 978-0-415-41188-2.
- Smith, David Woodruff (2018). "Phenomenology: 1. What Is Phenomenology?". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 June 2020. Diakses tanggal 20 September 2021.
- Smith, Joel. "Phenomenology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 May 2020. Diakses tanggal 10 October 2021.
- Smith, Matthew J.; Brown, Matthew; Duncan, Randy (2019). More Critical Approaches to Comics: Theories and Methods. Routledge. ISBN 978-0-429-78275-6. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Solomon, Robert C.; Higgins, Kathleen M. (2003). From Africa to Zen: An Invitation to World Philosophy. Rowman & Littlefield Publishers. ISBN 978-0-7425-8086-2. Diakses tanggal 19 August 2023.
- Stambaugh, Joan (1987). "Philosophy: An Overview". Dalam Eliade, Mircea; Adams, Charles J. (ed.). The Encyclopedia of Religion. Macmillan. ISBN 978-0-02-909480-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 June 2023. Diakses tanggal 5 July 2023.
- Stehn, Alexander V. "Latin American Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 June 2023. Diakses tanggal 7 November 2023.
- Steup, Matthias; Neta, Ram (2020). "Epistemology". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 July 2020. Diakses tanggal 30 June 2020.
- Taliaferro, Charles (2023). "Philosophy of Religion". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2023. Diakses tanggal 6 September 2023.
- Ten, C. L. (1999). Routledge History of Philosophy: The nineteenth century. Psychology Press. ISBN 978-0-415-05604-5. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Tian, Chenshan (2009). "Development of Dialectical Materialism in China". Dalam Mou, Bo (ed.). History of Chinese Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-203-00286-5.
- Tieszen, Richard L. (2005). Phenomenology, Logic, and the Philosophy of Mathematics. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-83782-8. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Truncellito, David A. "Epistemology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 January 2022. Diakses tanggal 14 July 2023.
- Tully, Robert (2005). "Logic, Informal". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Tuomela, Raimo (1985). Science, Action, and Reality. Springer Science & Business Media. ISBN 978-90-277-2098-6. Diakses tanggal 6 July 2023.
- Uniacke, Suzanne (2017). "The Value of Applied Philosophy". Dalam Lippert-Rasmussen, Kasper; Brownlee, Kimberley; Coady, David (ed.). A Companion to Applied Philosophy. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-86911-6.
- Vallely, Anne (2012). "Jainism". Dalam Juergensmeyer, Mark; Roof, Wade Clark (ed.). Encyclopedia of Global Religion. SAGE. ISBN 978-0-7619-2729-7. Diakses tanggal 10 June 2023.
- van Inwagen, Peter; Sullivan, Meghan; Bernstein, Sara (2023). "Metaphysics". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2018. Diakses tanggal 6 September 2023.
- Van Norden, Bryan (2022). "Wang Yangming". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2023. Diakses tanggal 23 August 2023.
- Velleman, Daniel J. (2006). How to Prove It: A Structured Approach. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-67599-4. Diakses tanggal 17 July 2023.
- Venturinha, Nuno (2013). The Textual Genesis of Wittgenstein's Philosophical Investigations. Routledge. ISBN 978-1-136-17998-3. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Verene, Donald Phillip (2008). The History of Philosophy: A Reader's Guide. Northwestern University Press. ISBN 978-0-8101-5197-0. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Vickers, John M. (2022). "Inductive Reasoning". Oxford Bibliographies. Oxford University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2023. Diakses tanggal 18 January 2023.
- Vintiadis, Elly (2020). Philosophy by Women: 22 Philosophers Reflect on Philosophy and Its Value. Routledge. ISBN 978-1-000-20324-0. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Vleet, Jacob E. Van (2011). Informal Logical Fallacies: A Brief Guide. University Press of America. ISBN 978-0-7618-5433-3. Diakses tanggal 17 July 2023.
- Waithe, Mary Ellen (1995). A History of Women Philosophers. 4: Contemporary Women Philosophers 1900 - today. Nijhoff. ISBN 978-0-7923-2808-7.
- Walsh, Richard T. G.; Teo, Thomas; Baydala, Angelina (2014). A Critical History and Philosophy of Psychology: Diversity of Context, Thought, and Practice. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-87076-4. Diakses tanggal 10 November 2023.
- Walton, Douglas (1996). "Formal and Informal Logic". Dalam Craig, Edward (ed.). Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-415-07310-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
- Wei, Wang (2020). Philosophy of Science: An Introduction to the Central Issues. Routledge. ISBN 978-1-317-54231-5. Diakses tanggal 21 July 2023.
- Wei-Ming, Tu. "Self-cultivation in Chinese Philosophy". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 August 2023. Diakses tanggal 20 August 2023.
- Weir, Ralph Stefan (2023). The Mind-Body Problem and Metaphysics: An Argument From Consciousness to Mental Substance. Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-91432-0. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Weisberg, Josh. "Hard Problem of Consciousness". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 July 2023. Diakses tanggal 19 July 2023.
- Williamson, Timothy (2020). "1. Introduction". Philosophical Method: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-184724-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
- Wiredu, Kwasi (2005). "Introduction: African Philosophy in Our Time". A Companion to African Philosophy. John Wiley & Sons. hlm. 1–27. doi:10.1002/9780470997154.ch1. ISBN 978-0-470-99715-4.
- Wolf, Michael P. (2023). "Philosophy of Language". The Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 June 2023. Diakses tanggal 13 July 2023.
- Wolff, Jonathan; Leopold, David (2021). "Karl Marx". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2020. Diakses tanggal 4 September 2023.
- Wolff, Jonathan (2006). An Introduction to Political Philosophy (Edisi Rev.). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-965801-5.
- Woollard, Fiona; Howard-Snyder, Frances (2022). "Doing vs. Allowing Harm". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 October 2023. Diakses tanggal 7 September 2023.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]| Sumber pustaka mengenai Philosophy |
- Internet Encyclopedia of Philosophy – a peer-reviewed online encyclopedia of philosophy
- Stanford Encyclopedia of Philosophy – an online encyclopedia of philosophy maintained by Stanford University
- PhilPapers – a comprehensive directory of online philosophical articles and books by academic philosophers
- Internet Philosophy Ontology Project – a model of relationships between philosophical ideas, thinkers, and journals
