Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Image

Travel - Writing - Art - Agri sociopreneur

Kita tidak pernah tahu detil kisah tiap pribadi. Seolah panjang lebar apa yang dipaparkan, namun kita sejatinya tidak akan pernah mengerti apa yang sebetulnya ia lewati. Jadi alangkah baiknya tidak menghakimi. 

Setiap manusia sedang berjuang. Bukan berarti sibuk dan lupa, hanya saja waktu yang dimiliki tak sama. Betul. Tidak sama-sama 24 jam. 

Mungkin orang cerdik lebih memilih waktu yang panjang. Kenapa? Nanti aku jelaskan.

Lalu, mengecilkan circle bukan berarti benci atau ada masalah. Barangkali kita hanya ingin menghemat energi. 
Ini hanya dunia. Tak pernah ada yang benar-benar tahu susah berapa tabungan amal seseorang. Barangkali dalam lingkup yang lebih kecil, aku akan bilang: ini hanya dunia maya. Tak pernah ada yang benar-benar tahu apa saja yang telah dilewati seseorang.

Berapa banyak orang yang terlihat begitu romantis dengan keluarga yang harmonis di depan kamera, ternyata adalah pribadi yang suka main tangan. Kasar minta ampun. Berbanding terbalik dengan apa yang ditampakkan pada orang-orang.

Orang-orang dengan ragam prestasi, juga belum tentu sempurna di semua hal. Tentu mustahil akan sempurna. Sebab apapun itu, apalagi manusia, pasti akan senantiasa ada cela. Seolah mendukung siapapun untuk berkembang, padahal hatinya tak terima jika ada yang melebihi dirinya, misal. 

Benar. Penyakit hati bisa menghinggapi siapapun. Beragam pula bentuknya. Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Lalu, bukan berarti kita akan menjadi orang yang pandai menunjuk, mengorek-ngorek aib orang lain atau berspekulasi tentang hidup orang lain. Namun, aku hanya bilang, terutama pada diriku sendiri, untuk tak usah terlalu kagum pada manusia. Sewajarnya saja.

Tak perlu terlalu mengidolakan seseorang. Sesekali menjadikan mereka (yang tak terbatas oleh usia, ras, jenis kelamin, profesi, bahkan agama) sebagai sumber ilmu, motivasi, pengalaman hidup memang tak ada salahnya . Tapi jangan lupa, untuk dengarkan dirimu sendiri. Mendengarkan hati kecilmu. Mana yang terbaik, mana yang perlu diserap, dan mana yang perlu dipilah. Kamu berhak atas hidup yang lebih berdaulat. Untuk itu, tentu kamu membutuhkan nurani yang 'sehat'.

Memang butuh jam terbang untuk versi kamu yang lebih memahami dirimu itu. Untuk nurani yang tidak terbelenggu dosa dan bisa terdengar. Sebab terkadang dunia terlihat begitu jahat dan menyeramkan. Menghakimimu sedemikian hebat, seolah jauh lebih paham. Tapi, selama kamu benar dan senantiasa berusaha hidup menjadi orang baik, tidak mendzolimi orang lain, aku rasa tak perlu ada yang dirisaukan. Ingat kembali: Ini hanya dunia.


Kian kesini aku kian merasa, bahwa memang aku tidak mau menjadi guru yang ditakuti, disungkani. Aku ingin menjadi teman belajar, yang kemudian saling menghargai dan bisa saling belajar. Bisa saling memperoleh pelajaran, mendapatkan esensi pembelajaran dalam arti luas.

Pun, aku tidak butuh murid yang banyak. Satu saja sudah sangat cukup, yang terpenting betul-betul niat. Kalau hanya belajar bahasa Inggris, bagiku tak perlu dipaksa. Meskipun betul, ia tidak kalah penting dengan ilmu lainnya.

Sejatinya, alhamdulilah aku tidak berambisi punya murid banyak dan meraup banyak keuntungan. Dengan membuat brosur, aku tidak berekspektasi macam-macam. Harapanku bisa mengajar 1 sd 3 orang saja. Tapi betul-betul niat dari diri sendiri, sekali lagi tanpa dipaksa. Namun satu pun juga tidak masalah.

Sebab mengajar yang asal mengajar itu bisa, tapi dengan metode tertentu itu butuh latihan, dan pengalaman. Tapi aku kemudian tidak bilang, jika orang dengan murid banyak = tidak ahli. Ingat, orang itu beda-beda. Beda dalam segi memandang kehidupan, dll. Sangat kompleks.

Dulu aku sempat beberapa minggu mengajar secara GRATIS. Sampai belasan siswa. Tapi ya begitu, murid juga kadang kurang disiplin. Mungkin karena kurang ada "ikatan" dan rasa tanggung jawab. Yang satu tidak masuk yang lain akhirnya ikutan. Guru pun juga kurang ada trigger yang besar untuk betul-betul niat merancang dan berinovasi. Hehe, ini personal experience saja.

Atas ketidakdisiplinan itu sampai aku bertanya dalam hati, mungkin cara mengajarku salah, kurang tepat. Sampai ada momen, ada seorang ibu yang menyampaikan: Anaknya mau tetap les, tapi ternyata temannya tidak masuk, padahal suka caraku mengajar, katanya. Anaknya masih SD kelas dua mungkin. Ini betul-betul membuat aku yang awalnya merasa sangat rendah diri----karena level  mengajar anak kecil bagi saya yang paling sulit-----menjadi lebih percaya diri dengan apa yang disampaikan ibu tersebut. Dan pernyataan itu disampaikan anak kecil.

Semoga dijauhkan dari ujub, tapi biasanya jika yang menyampaikan hal tersebut adalah muridku yang berusia 20 tahunan ke atas, tak terlalu mengena bagiku, namun tetap ku amin-kan juga supaya menjadi doa. Intinya, aku selalu ingin kelas yang fokus. Tak usah banyak-banyak, asal niat, konsisten dan punya tekad yang besar.

Juga, alhamdulillah semenjak aku memberanikan diri untuk mengambil studi S2 dengan kocek pribadi, aku jadi kian sadar, bahwa INVESTASI LEHER KE ATAS itu sangat perlu. Sejujurnya, dari awal nominal UKT sekian per semester itu sangat murah bagiku (meskipun aku tertatih membayarnya, tapi betul-betul itu sangat murah bagiku). Alhamdulillah pikiranku jadi kian terbuka.

Aku sangat bersyukur bertemu dengan guru yang masya Allah, tidak hanya melulu materi kelas tapi pembelajaran kehidupan yang didapat juga aslinya tidak murah.Bertemu dengan teman angkatan yang luar biasa tapi humble-nya masya Allah. Sangat menginspirasi kita untuk berusaha memiliki karakter padi.

Lalu, aku juga tidak berambisi membuat anak oramg pintar dan jago bahasa Inggris. Minimal bagiku, mereka bisa dilatih untuk punya daya critical thinking sejak dini. Syukur-syukur bisa belajar mengenal Tuhannya. Sebab apapun ilmunya, aku kira muaranya selalu satu: pada Allah SWT.

Tapi again, manusia itu kompleks dan punya pilihan sendiri. Sangat tidak adil rasanya mendikte dan menyamaratakan. Yang ada, kita harus saling menghargai. Pilihan kita kalau kemudian mau mengajari anak kita sendiri, misal. Kita sudah lama merdeka. Maka hiduplah BERDAULAT. Satu lagi, tidak mau melihat orang lain bertumbuh adalah penyakit hati yang sangat penting untuk kita PERANGI. Tolong, doakan dan bilang pada diri kita untuk tidak menormalisasikannya. Semoga Allah SWT senantiasa mendamaikan, menata dan membimbing hati kita 💕


‘’Kita tak sedekat dulu’’, seakan itu yang ingin Tuhan ucapkan padamu, kala hidupmu mulai menemui banyak ujian ataupun cobaan. Wallahua’lam. Kita tidak pernah benar-benar tahu takaran kebaikan, takaran pahala, takaran kedekatan, dan takaran lainnya. Bagiku, kita sama sekali tidak pernah benar-benar mengetahuinya.

Bahkan saat kemudian kita dihadapkan untuk mengkategorikan apa-apa yang terjadi di hidup kita, kita pun tidak pernah benar-benar tahu apakah kejadian itu masuk ke dalam ujian atau cobaan. Sehingga, pada peristiwa yang dialami diri sendiri pun kita tak berani menghakimi, apalagi pada orang lain.

Namun yang pasti, penting untuk berkontemplasi, mengintrospeksi diri sendiri, bermuhasabah. Lagi, hal semacam ini tak perlu dilakukan dan mungkin diketahui orang lain. Cukup diri kita saja dan Tuhan.

Hal yang juga tak pernah benar-benar kita tahu adalah apakah kedekatan itu bisa diraih hanya cukup dengan ibadah ritual saja, atau juga spritual dan sosial. ini hanya pendapat pribadi saja, karena mungkin akan berbeda lagi ulasannya jika ditulis oleh orang yang berilmu atau orang yang kerap mengaji (baca: belajar). Namun bagiku, tetap saja akan berbeda, saat kita mampu menyempatkan diri untuk membaca al-Quran (walau hanya sedikit) setiap hari dibanding dengan yang lupa dengan kitabnya.

Akan berbeda orang yang menjaga sholat dengan yang tidak. Orang yang mau belajar memperbaiki sholat dengan yang tidak. Orang yang belajar mendisiplinkan untuk sholat sunnah dengan yang tidak. Orang yang mau menyempatkan sesekali berdzikir panjang dengan yang tidak. Orang yang berpuasa dengan yang tidak. Dan lain sebagainya. Sehingga seiring berjalannya waktu, secara spritual dan sosial pun juga bisa diimbangi.

Setidaknya, jika kemudian kita kian dipahamkan maksud dari ritual-ritual yang sebetulnya tak sebatas ritual itu, kita setidaknya akan meraih ketentraman jiwa. Dengan mengingat Allah SWT, hati akan menjadi tenang, begitu dalam al-Quran. Tapi, kata “setidaknya“ itulah yang kemudian membuatnya terlihat menjadi nikmat kecil, yang padahal sangat besar adanya, sangat besar dampaknya, sangat besar pengaruhnya bagi sebagian besar perubahan di hidup kita. Benar saja, karena pusat dari setiap produktivitas kita adalah jiwa dan pikiran.

Meski pengetahuan kita ama terbatas dan memang tidak pernah betul-betul tahu ganjaran atas kedekatan itu. Namun tetap saja, kedekatan itu harus dibangun, segera dibangun, atau dibangun kembali, walau tertatih-tatih. Sebab siapa lagi yang bisa menjadi sandaran di dunia ini? Keluarga, teman, bahkan dirimu sendiri adalah fana, berubah-ubah dan lemah. Jelas kamu membutuhkan dzat yang kokoh.

Karena walau ganjaran dari kedekatan itu adalah ujian, kamu akan dituntun untuk sanggup naik tingkatan. Sedang jika ganjarannya adalan cobaan, kamu akan dipapah untuk sanggup bangkit dari setiap keterpurukan. Jadi semoga, kamu mau mengindahkan kalimat ‘’Kita tak sedekat dulu’’ itu dengan ragam aksi yang sejatinya bermanfaat untuk dirimu.
Hehehe, untuk orang sepertiku, tidak ada yang namanya multitasking. Adanya switching, atau bahkan bekerja dengan banyak distraksi. 

Sebab switching justru akan mengurangi keahlian untuk fokus, ketajaman berpikir, dan daya ingat seseorang. Ini yang akhirnya membuat stuck, dalam arti luas.

Sering juga penyebabnya karena terlalu banyak yang ingin dilakukan, banyak yang ingin digenggam, akhirnya sering bias antara 'sibuk' dan 'produktif.'

Padahal, ternyata kunci supaya menghindari stuck dan bisa bertumbuh lagi, salah satunya, adalah FOKUS. Fokus disini juga barangkali maknanya tak sesmpit itu.

Yang tak kalah membuat menelan ludah kala menyimak video singkat ini adalah, stuck terjadi karena kita hanya menjadi pengumpul informasi tapi minim aksi.

Tenang, mungkin hanya bias juga. Mana yang 'stuck' dan mana 'jeda' untuk bernapas sejenak. Sebab timing tiap orang beda-beda. Hihihi.
Cinta yang kamu pahami adalah cinta dalam diam, cinta dalam doa, cinta usai menikah, cinta yang tulus. Maka tak ada di kamusmu, bahwa jalan cinta terbaik adalah dengan berpacaran. Namun anehnya, kamu juga bukan orang yang ingin menemui cinta dengan jalan ta'aruf.

Kadang hal-hal semacam itu yang membuatmu berdosa ketika jatuh cinta. Betul. Kamu merasa jadi orang paling bernoda ketika kamu mencintai seseorang. Ini tak seharusnya begini, itu seharusnya tak begitu, ucapmu.

Kamu lupa. Hati itu memang ada pada ragamu. Tapi tetap saja, kamu tidak memiliki sepenuhnya. Memiliki penuh saja tidak, apalagi menentukan akan: mencintai atau tidak. Iya, sejatinya apapun itu hanya milik Allah SWT, kan.

Dengan mengingat itu, kamu tak lagi merasa bersalah. Kamu mulai ingat lagi: Cinta adalah fitrah. Cinta adalah suci. Cinta adalah putih. Cinta adalah kejujuran. Terlebih, meski cinta adalah misteri, setelah menganalisa, kamu tahu jika pada akhirnya selalu mencintai orang karena karakter - karakternya. Sepaket dengan kekurangan yang melekat.

Tapi, kerapkali, cinta membuatmu amnesia. Karena meski hati itu memang bukan punyamu, kamu masih diberikan hak untuk mampu mengendalikannya. Iya, untuk cinta-cinta yang tidak tepat. Cinta-cinta tidak pada masa yang pas. Cinta-cinta bukan pada orang yang seharusnya. Dan lain sebagainya. Yang demikian itu masih sangat mungkin untuk dikendalikan.

Dan cara pengendalian terbaik adalah dengan doa. Keajaiban doa akan membawamu pada keajaiban berlipat. Maka tak ada yang perlu kamu risaukan bagaimana akhirnya.

Cinta memang rumit. Tak hanya buta, cinta pada manusia kerap membuat cinta pada sang pencipta tergeser. Memang ia adalah anugerah. Namun kebiasaan berdzikir dengan nama Allah, yang kemudian kamu ganti dengan namanya bukankah itu salah?

Kadang yang tidak kamu sadari, bahwa ia juga sebuah ujian. Menguji apakah dzikirmu pada Tuhan akan lebih sering ketimbang dengan mengingat nama seseorang. Menguji apakah cinta akan mengendalikanmu atau sebaliknya, kamu yang mengendalikan cinta. 

Beruntung saat sekolah hingga sekarang kamu tidak pernah pacaran, gumammu dalam hati. Karena jangankan berpacaran, mencintai saja bagimu sudah sangat menguras waktu, fokus dan juga energi. Permasalahan hidup sudah sangat kompleks. Bagaimana mungkin kamu mampu menanggung ruwetnya nilai anjlok dengan patah hati yang sakitnya kerap diluar nalar secara bersamaan. Sementara itu kamu paham betul, bahwa tanpa impian, orang miskin akan mati.

Lalu kamu makin mengimani bahwa, meneruskan cinta bukan karena bertujuan untuk menikah adalah pekerjaan paling membuang waktu. Dan dalam hal mencintai dan memerdulikan seseorang, kamu tidak pernah main-main. Rasanya tak pernah ingin setengah-setengah dalam melakukan kebaikan, apapun itu. Pantas saja, cinta yang butuh untuk kamu pertahankan adalah cinta yang memerlukan waktu yang sangat sangat sangat tepat. Tepat dalam ukuran Tuhan.

Maka kini kamu mulai mampu meluaskan pemahamanmu. Selain 'cinta setelah menikah' kian menjadi syarat yang amat kuat, sekarang cinta yang kamu pahami adalah cinta yang membuatmu 'bebas' berkarya. Bebas belajar. Bebas dari kekhawatiran. Bebas dari pikiran buruk. Bebas dari menduakan cinta pada Sang Maha Cinta. Terdengar sangat klise, dan mustahil pemahaman seperti ini mampu menghinggapi pikiran orang yang sedang jatuh cinta. Sebab ia memang suci, tapi kadang dapat membuat penderitanya gelap hati.









Ada yang bilang, tak elok bersyukur karena membandingkan hidup kita dengan orang lain. Ada baiknya bersyukur ya bersyukur saja, tidak perlu karena berasalan melihat hidup orang lain yang lebih berkekurangan, katanya. Apalagi, pada beberapa saluran media yang kadang hanya mengambil manisnya saja. Namun memang, saat kita melihat ke bawah, rasanya hati lebih mudah tersentuh, bersyukur, dan kaki lebih menapak ke tanah. Betul, ada benarnya juga bahwa pada akhirnya kita perlu memiliki poin syukur tanpa pernah menghinakan sisi lain, atau bahkan diri kita sendiri. Aku pun masih sangat belajar, karena kerap mengesampingkan omongan baik untuk diri sendiri hanya demi ‘merendah’ dengan cara yang salah. Padahal barangkali itu akan menjelma sebuah afirmasi yang kemudian hidup dalam alam bawah sadar. Lalu mengakar.

Walau sebetulnya aku tidak ingin memberikan penilaian mutlak tentang itu. Aku hanya ingin berbagi, betapa kemarin malam, sebelum tidur, aku di bayang-bayangi rasa syukur yang tiada berhenti. Sprei tempat ku berisitirahat baru saja dipasang, usai dicuci bersih di pagi hari. Rasanya adem, dan masih wangi. Pagi itu matahari begitu cerah, air juga melimpah. Untuk mendapatkannya, tak perlu menimba atau berjalan menyusuri bukit berkilo-kilo meter untuk mencapai sumbernya. Hanya perlu menekan tombol on, lalu air bersih akan mengucur dengan deras.

Malamnya, hujan turun begitu deras. Aku suka sekali hujan. Hujan yang damai. Tanpa petir dan angin kencang. Hehe. Terlebih jika aku telah berada di rumah, maka rasanya hujan benar-benar berkah yang tiada duanya. Saat hendak terlelap, hujan telah usai. Hawa dan bau tanah usai hujan betul-betul enak dihirup, menenangkan bukan main. Bukan hanya petani yang senang, aku juga sangat menyukai momen semacam itu. Apalagi ditambah mati lampu----dengan catatan sedang tidak ada tugas----aku sangat menyukai perpaduan yang demikian. Hujan dan gelap adalah saat yang nikmat untuk kembali merenungi hidup yang amat singkat. Sebab seolah kembali ke zaman dahulu kala, saat desa belum dialiri listrik. Aku sendiri belum ada di masa itu, namun pernah merasakan bagaimana pemadaman berbulan-bulan hingga perlu menenteng obor saat hendak kemana-mana.

Meski belum pernah berpengalaman menetap di kota-kota besar, namun hujan dan gelap itu membuat pikiranku bak lari dari hiruk pikuk duniawi. Layaknya menyelam ke dasar laut terdalam, ku temui ragam makhluk hidup yang aneh, yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Pikiranku lalu sesak dengan hal berbeda namun jauh ‘lebih menyenangkan’ agaknya. Atau kadang sebaliknya, momen serupa mengingatkanku pada hal bernama kematian. Gelap dan dingin, bayanganku terseret pada lubang kuburan yang sempit. Betul, lagi-lagi rasanya tidak baik berburuk sangka dengan ketetapan Allah saat kita diwafatkan kelak, namun seringkali kenyataan membawa kita pada pikiran demikian.

Baiklah, kembali kepada momen sebelum tidur yang membuat aku kembali bersyukur, tak hanya karena sprei, sinar matahari, air bersih dan hujan----hal kecil yang acapkali kita remehkan----namun nikmatnya iman dan taqwa yang masih bisa digenggam hingga sekarang adalah harta yang tidak terukur. Meski barangkali, kian kemari warnanya agaknya kian luntur. Namun paling tidak, kita sangatlah beruntung, hingga kini masih diberikan kesempatan menjadi empunya. Sebab tak semua orang menggenggamnya hingga akhir hayat. Iya, bukan kita yang mampu membolak-balikkan hati manusia, termasuk hati kita sendiri. Hal yang paling sering kita dengar, terdengar biasa, namun mengena saat kita coba memahaminya lebih dalam lagi. Karena pada akhirnya, nikmat iman yang membuat hidup terasa lebih gampang, lalu jiwa menjadi lebih tenang, hingga kita tidak menemukan alasan lain kecuali banyak-banyak bersyukur.

Saat pertama mendengar lagu Manusia Berisik dari Dere ini, aku langsung suka. Cepat-cepat ingatanku terseret pada ungkapan Umar bin Khattab yang kerap berseliweran, "Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. 

Hehehe, betul sekali. Kadang lebih baik diam, daripada membuang energi sia-sia. Berbicara yang sia-sia. Diam betul-betul bisa menjadi emas. Tapi tidak bisa dijual, hehe. Maksudku, ini tentu beda konteks-nya saat kemudian kita juga butuh speak up loh, ya.

Pernah tidak, saat kalian ada perkumpulan atau apapun namanya kemudian berbincang lama, biasanya perbincangan basa-basi, dan saat usai, pulang dan tiba di rumah, kalian lalu berpikir, "Harusnya tadi aku tidak bilang seperti itu, jangan-jangan ucapanku telah menyakiti hati orang." Dan beragam bentuk kalimat lain yang berkerumun dipikiran kalian.

Meski sebetulnya tidak semua akan mengalami itu. Bahkan ada yang bilang, orang mudah lupa, tidak usah khawatir dengan apa yang kita ucapkan. Namun ternyata benar, kadang memang lebih baik diam. Sebab apapun itu ucapan yang kita lontarkan akan dipertanggung jawabkan. 

Aarrgh, masih sangat belajar. Menjadi manusia yang tidak berisik secara negatif. Berusaha mengerem apa-apa yang barangkali tidak ada faedahnya. Beda jika kemudian bercanda, misalnya. Dalam taraf yang pas, dan korelasi yang tepat, bercanda adalah ibadah. Hihi, pakai bahasa apa sih aku ini. Ya ampun 😅

Judulnya bikin geleng-geleng kepala. Supaya seperti headline berita-berita, hehe. Padahal, ya hanya ingin bercerita. Tentang pengalamanku pagi itu. Kala mendapati sepasang suami istri yang dulunya sama-sama sehat. Tampan, gagah dan 'jelita' di usia mudanya.

Kini keduanya sudah menua. Suaminya sakit. Total tidak bisa bekerja. Memang sudah saatnya rehat. Sedang sang istri, meski tak sekuat dulu, masih bisa merawat sang suami dengan penuh cinta. Aku yang kala itu diminta ibu untuk sebuah keperluan ke kediaman beliau dibuat tertegun sejenak.

Aku lalu mulai berpikir. Betapa cepat waktu berlalu, betapa manusia bisa berubah, yang dulu sehat bisa sakit, yang dulu muda sekarang tua. Betapa---kata orang---rasa cinta juga bisa hilang. Tapi tidak dengan kasih sayang dan komitmen, katanya. Maka barangkali itu yang membuat manusia bisa berbuat baik terus, tanpa "tapi."

Berbuat baik pada anak, orang tua, suami, istri, saudara, dan lainnya. Meski aku mengerti, bahwa doanya pasti selalu sama: diberikan kesehatan sepanjang masa. Namun pada akhirnya momen itu membuat aku berpikir lagi. Bahwa, seperti apa orang yang kamu inginkan. Sungguh, kita tidak butuh yang palsu. Sebab di dunia tipu-tipu, selain Tuhan, keluarga adalah tempat untuk bertumpu.

Atau aku balik kalimatnya. Apakah kamu bisa menjadi orang yang tidak palsu? Menjadi sosok yang baik walau waktu terus berlalu. Sebab orang tidak butuh yang palsu. Ini yang kemudian mengingatkanmu juga, bahwa kerap kamu lupa: keluarga yang menerima kamu apa adanya. Maka selain bersyukur, banyak-banyaklah belajar darinya. Hmm.

Hehe, hari kedua belajar. Hebat banget, semangat banget mereka. Masya Allah, tabarakallah. Sampai-sampai hampir selalu datang lebih awal. Haha.

Selalu, terinspirasi itu kadang bukan dari orang dewasa. Tapi dari anak-anak kecil. Super duper masih polos, dengan jiwa-jiwa yang masih bersih.

Nah, mereka belum saya minta menghafal. Yang penting merasa nyaman dulu dengan bahasa asing ini. Supaya berkenalan dulu, seperti tema materinya. Hihi.

Tapi Alhamdulillah, otak manusia memang Allah ciptakan dengan sangat luar biasa. Tanpa menghafal pun manusia sudah bisa cepat sekali menangkap informasi baru, ya.

Tetap semangat. Memang tak harus selalu semangat. Tapi paling tidak usaha. Jangan riweuhkan masalah hasil. Yang penting prosesnya ya, Nak 💕

Ingat sekali dulu saat kecil bapak sering mendengarkan kami lagu-lagu anak. Hehe, aku, adik dan kakak perempuanku. Sering juga beliau menyiapkan microfon lengkap dengan sound-nya. Jadilah kami sering 'konser' kecil-kecilan di rumah. Tak peduli suara cempreng kami memekakkan telinga seisi rumah.

Beruntung sekali, memiliki bapak yang sampai sekarang saat aku sudah tua pun beliau tidak pernah protes anaknya hobi menyanyi, rumah jadi ramai hehe. Dulu sempat berhenti saat awal-awal semester kuliah. Karena berpikir hanya buang-buang waktu. Dan kadang, jika terlalu banyak musik yang didengar, saat sholat jadi tambah tidak khusyuk, ingat ke lagunya hihi.

Tapi entah benar atau tidak, makin kesini aku makin ingat kembali, dulu saat SD, aku tidak menyukai mata pelajaran apapun, kecuali bahasa Indonesia dan seni budaya. Itu pun hanya karena ada praktik menyanyi dan menggambar. Baru kemudian kelas enam sadar suka bahasa Inggris. Bukan, bukan karena merasa gambar dan suaraku bagus. Tapi mungkin karena aku berpikir ini adalah kegiatan tanpa mikir berat. Kegiatan yang bagiku mampu mengisi waktu luang dan mengurangi stress. Ampun, deh. Masih SD sudah kenal dengan stress, ya. Tapi ternyata, kalau dilatih sebetulnya tidak hanya sebatas hiburan. Namun bisa jadi berpenghasilan dari menggambar, dan lain sebagainya.

Aku juga bersyukur punya ibu yang tidak menuntutku harus sama dengan saudaraku yang lain, untuk jago Matematika juga. Ibu benar-benar tidak ambil pusing. Atau lebih tepatnya tidak ambisius. Meskipun aku ingin mengingat lagi, bahwa tak semua ambisius itu negatif. Banyak juga sisi positifnya. Bahkan mungkin sebuah keharusan. Hanya saja, mungkin karena dari kecil aku tak biasa dididik dengan pola seperti itu, maka jadilah aku begini haha.

Dari kecil aku terbiasa melakukan apa-apa karena keinginan sendiri. Ya, mungkin banyak juga yang diarahkan seperti penentuan jurusan studi dan lain-lain. Namun secara garis besar semua betul-betul dibebaskan begitu saja. Tak sepenuhnya bebas, namun tidak diikat, atau didikte. Misal, contoh kecil, ibu tidak pernah menyuruhku beres-beres rumah. Atau memasak. Keahlian bersih-bersih memang mungkin naluriah dimiliki semua orang. Tapi ini yang akhirnya membuat aku berinisiatif sendiri, seperti mempelajarinya sendiri dengan mencontoh.

Memasak juga begitu, karena tidak pernah disuruh membantu, aku hanya belajar dengan melihat. Maka dari itu, aku terbilang telat bisa memasak dari kebanyakan teman sebayaku. Aku baru bisa memasak, meski sederhana, saat SMP. Sebab ibu tidak pernah memaksa. Aku hanya menginginkannya sendiri. Itu hanya dua contoh kecil. Banyak sekali yang akhirnya membuat aku berpikir, ternyata pola didik seperti ini bagus, sebab membuat kita tak perlu disuruh untuk belajar sesuatu. Namun kadang ada sisi negatifnya juga. Ya begitulah, selalu banyak sisi di setiap apapun itu, bukan.

Namun sebetulnya, aku hanya ingin menyampaikan, terutama untuk diriku sendiri, bahwa dengan bisa apapun dan mampu mengerjakan banyak hal, kamu tidak akan merugi. Sungguh, kamu tidak rugi sama sekali. Justru kamu jadi bisa lebih banyak latihan dan belajar. Walau tak se-multitalent Youtuber Liziqi yang bahkan bisa mengerjakan banyak pekerjaan berat lelaki, namun intinya kita tidak akan rugi dengan mencoba dan bisa banyak hal baik. Namun tentu, bahasan ini bukan ke ranah penekanan hustle culture, ya.

Dengan konsep bahwa kita tidak akan merugi, maka kita kemudian tidak akan mengomel, jika misal hanya kita yang diminta mengecat rumah sementara saudara kita yang lain tidak (ini hanya permisalan loh 😂). Sebab kita paham, yang akan lebih pintar dan terlatih disini adalah kita. Bukankah pintar dan cerdas itu definisinya amat luas, bukan melulu jago mapel di kelas. Setidaknya ada delapan jenis kecerdasan anak berdasarkan teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner, antara lain; bahasa, musikal, matematika, antar pribadi, spasial, jasmani, intrapersonal dan naturalis. Untuk tiap penjelasannya bisa di-search sendiri ya, supaya tidak panjang-panjang tulisannya.

Dengan konsep ini juga kita kemudian mampu berusaha melakukan sesuatu karena dan untuk diri kita. Bukan untuk orang lain. Walau memang perlu dilatih. Apalagi saat kadang kita malah dianggap 'cari muka' di sebuah organisasi karena ingin melakukan yang terbaik. Padahal kita hanya ingin belajar, atau bahkan barangkali berkontribusi. Tak apa, kembali ke konsep dan prinsip yang kita bangun. Kita melakukan apapun bukan karena ingin dilihat orang lain, kan.

Kita belajar masak, menyanyi, qira'ah, banyak bahasa asing, membuat software, coding dll bukan karena orang lain. Melainkan karena yang untung kita sendiri. Alhamdulillah kalau kemudian suatu saat bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Hal itu juga mengingatkan kita juga, bahwa jangan sampai juga salah kaprah. Mampu mengerjakan ini-itu bukan berarti kita bisa dengan mudah dimanfaatkan orang. Ingat, bermanfaat dan dimanfaatkan itu berbeda, ya. Maka kita juga perlu belajar mengetahui porsinya. Hehe, pandai sekali jika hanya menulis, praktiknya susah bukan bualan. Sebab bisa jadi kita adalah orang yang sungkan untuk menolak. Namun selama kita berusaha memiliki niat yang tulus, jangan khawatir, setelah banyak kerikil, kita akan sampai juga akhirnya di jalan yang mulus.

________

BTW lagu ini ternyata karya anak 2000-an. Suka sekali yang judulnya Berisik, tapi entah kenapa malah nyoba ini hehe. Memang anak jaman now tidak bisa diragukan, ya kreativitasnya. Kata Pak Gita Wirjawan, jadilah divergent. Pasti akan ada buah manis yang kelak bisa dipetik. Lalu bagiku, walau tak mudah----apalagi semakin dewasa ternyata waktu terasa semakin sempit dan berharga-----tetap optimis, setiap orang punya porsinya masing-masing.

Satu lagi, dengan aku bercerita kebaikan tentang orang tua, bukan berarti aku ingin membandingkan dengan mereka yang (maaf) barangkali di luaran sana 'broken home'. Maaf, sekali lagi aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi dan lagi, ini hanya soal porsi yang berbeda. Dan tak semua porsi yang kita lihat artinya begitu. Tak semua cerita yang hadir berarti telah diceritakan, hehe.

________

*note: abaikan amatir ini, hehe. Just for fun. Entah kenapa kalau nyanyi ngegas wkwk. Bagian "hmm" susah ternyata. Ternyata pendapat saat SD dulu bahwa menyanyi itu tak mikir, ternyata tak benar ya. Perlu latihan, perenungan, dll untuk kemudian biasa membuat lagu yang bagus dan bermanfaat apalagi menyanyikannya. Hehe, kalau saya mohon maklum, baru dengar lagunya beberapa kali, beda jam terbang juga, beda suara, beda porsi, porsi makan kali ah 😂
Dulu aku benar-benar mempertanyakan, benarkah ada cinta yang tulus?
Sebab biasanya, cinta yang seperti itu tidak mengenal kata "tapi" apalagi akal bulus.
Ia datang dari Yang Maha Suci. Maka ia betul-betul putih. 

Apapun alasannya, harusnya tidak dinodai. Sebab paham, bahwa sumbernya amatlah agung dan barangkali bahan untuk menguji. Betul, anak, istri, suami dan lain sebagainya pada akhirnya hanyalah tipuan dan ujian. Begitu kira-kira kalau kita ingat-ingat kembali.

Dulu aku juga berpikir, bahwa pertanyaan “Sudah makan?” hanyalah bentuk basa-basi.
Bukti kalau tidak ada kreativitas untuk merangkai pertanyaan yang lebih baik dan bervariasi.
Tapi kini aku benar-benar menyadari, bahwa itu adalah pertanyaan paling menyentuh di muka bumi, yang mencakup segala sendi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah bosan melontarkannya padaku, bahkan lebih dari tiga kali sehari.
Ibu paham, barangkali dengan makan, salah satunya, kita bisa memperoleh energi.
Lalu kemudian dapat beraktivitas dengan baik, jangan sampai jatuh sakit.

Dulu aku pun berpikir, bahwa pertanyaan “Lagi ngapain?” adalah pertanyaan paling mainstream.
Bagiku, apa pentingnya tahu urusan orang lain? Kenapa tidak fokus pada kesibukan sendiri saja.
Tapi ternyata itu bukan sekadar pertanyaan penasaran saja, melainkan bentuk kepedulian yang amat tinggi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah absen menanyakan itu hampir saban hari di ponsel, seolah mengintrogasi kakak perempuanku.
Atau bertanya padaku saat aku berada jauh darinya, di Kediri dulu.
Beliau benar-benar ingin tahu apa saja kegiatan anaknya sampai begitu lama tidak memberi kabar, hingga lupa waktu.

Omong - omong tentang kabar, pertanyaan "Bagaimana kabarnya?" juga terbaca super duper aneh bagiku. Maksudku, jawabannya seringkali tidak menjamin kejujuran. Bisa jadi dijawab "Sehat" padahal sedang "Sakit". Jadi bagiku yang sebetulnya tidak suka basa basi, ada baiknya bertanya kabar dengan silaturahmi. Atau jika tidak sempat, doakan saja. Semoga kesehatan selalu menyertai.

Namun ternyata, menanyakan kabar memang bentuk perhatian tak ternilai. Karena penanya mengerti bahwa nikmat sehat adalah kunci yang begitu berharga. Kenikmatan yang sering terlupa, namun tiada duanya.

Begitulah sedikit bahasa cinta yang aku pelajari. Banyak sekali yang tidak bisa aku tuliskan. Seperti, "Sudah kamu capek, biar ibu saja." Dan lain sebagainya. Walau kadang bisa ditujukkan dengan bahasa sebaliknya, aku benar-benar belajar cinta yang begitu tulus dari ibu. Yang tidak mengenal alasan sama sekali. Yang tetap mencintai saat aku busuk atau pun dikala aku wangi.

Ibu tidak pernah pergi. Dia selalu ada. Doanya selalu membersamai. Senyumnya senantiasa menyejukkan sanubari. Tampa pamrih, beliau tak perlu dipaksa untuk menyayangi. Tuhan memang betul-betul hebat, memberikan kita sosok dengan jiwa sepertinya.

Lalu, usai belajar, semoga kelak aku bisa memilki cinta setulus ibu. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berdoa. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berusaha. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu percaya pada takdir-Nya.
Saya kemarin dibuat sangat terharu dengan sikap seorang murid yang selepas pembelajaran datang menghampiri saya. Awalnya saya mengira dia ingin pamitan karena jam sekolah sudah usai.

Dia bilang: "Makasih ya, Miss. Sudah sabar dengan teman (sebangku) saya." Sambil melirik temennya yang dengan air muka gembira tengah berbincang-bincang dengan yang lain. 

Dia kemudian melanjutkan, "Dia kan spesial, Miss. Berbeda dengan kita." Mendengar itu saya langsung sedikit kaget. Sebab saya sama sekali tidak menyadari itu. Menyadari bahwa beliau (maaf) berkebutuhan khusus.

Akhirnya saya bilang dengan suara yang saya kecilkan: "So sorry, I don't know about that. Soalnya dia hebat dan menjawab seperti biasa, loh. Makanya saya ngga tahu. Meskipun jawabannya dengan bahasa Indonesia, tapi kan itu artinya dia mengerti. Maaf, ya."

"Iya, Miss. Dia berbeda. Tapi ngga, kok. Miss sudah sabar banget tadi. Makasih, Miss." tambahnya lagi. Tapi sebetulnya yang membuat saya terharu adalah betapa temannya ini 'nganggep' banget sampai bela-belain ke depan dan menyampaikan terima kasih. Lalu bagi saya, beliau tidak berbeda. Beliau sama seperti kita. Bahkan sangat menginspirasi.

Sedangkan untuk saya, mungkin ke depan saya harus belajar lebih peka lagi. Lalu saya jadi merenung: Kita yang sudah Allah anugerahi "segalanya" apa tidak malu jika harus berasalan tidak percaya diri, tidak semangat, masih banyak kekurangan, dll. Hehe *fomaself 😅
Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Image
    Selamat Bertunangan

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates

Advertisement