Ingat sekali dulu saat kecil bapak sering mendengarkan kami lagu-lagu anak. Hehe, aku, adik dan kakak perempuanku. Sering juga beliau menyiapkan microfon lengkap dengan sound-nya. Jadilah kami sering 'konser' kecil-kecilan di rumah. Tak peduli suara cempreng kami memekakkan telinga seisi rumah.
Beruntung sekali, memiliki bapak yang sampai sekarang saat aku sudah tua pun beliau tidak pernah protes anaknya hobi menyanyi, rumah jadi ramai hehe. Dulu sempat berhenti saat awal-awal semester kuliah. Karena berpikir hanya buang-buang waktu. Dan kadang, jika terlalu banyak musik yang didengar, saat sholat jadi tambah tidak khusyuk, ingat ke lagunya hihi.
Tapi entah benar atau tidak, makin kesini aku makin ingat kembali, dulu saat SD, aku tidak menyukai mata pelajaran apapun, kecuali bahasa Indonesia dan seni budaya. Itu pun hanya karena ada praktik menyanyi dan menggambar. Baru kemudian kelas enam sadar suka bahasa Inggris. Bukan, bukan karena merasa gambar dan suaraku bagus. Tapi mungkin karena aku berpikir ini adalah kegiatan tanpa mikir berat. Kegiatan yang bagiku mampu mengisi waktu luang dan mengurangi stress. Ampun, deh. Masih SD sudah kenal dengan stress, ya. Tapi ternyata, kalau dilatih sebetulnya tidak hanya sebatas hiburan. Namun bisa jadi berpenghasilan dari menggambar, dan lain sebagainya.
Aku juga bersyukur punya ibu yang tidak menuntutku harus sama dengan saudaraku yang lain, untuk jago Matematika juga. Ibu benar-benar tidak ambil pusing. Atau lebih tepatnya tidak ambisius. Meskipun aku ingin mengingat lagi, bahwa tak semua ambisius itu negatif. Banyak juga sisi positifnya. Bahkan mungkin sebuah keharusan. Hanya saja, mungkin karena dari kecil aku tak biasa dididik dengan pola seperti itu, maka jadilah aku begini haha.
Dari kecil aku terbiasa melakukan apa-apa karena keinginan sendiri. Ya, mungkin banyak juga yang diarahkan seperti penentuan jurusan studi dan lain-lain. Namun secara garis besar semua betul-betul dibebaskan begitu saja. Tak sepenuhnya bebas, namun tidak diikat, atau didikte. Misal, contoh kecil, ibu tidak pernah menyuruhku beres-beres rumah. Atau memasak. Keahlian bersih-bersih memang mungkin naluriah dimiliki semua orang. Tapi ini yang akhirnya membuat aku berinisiatif sendiri, seperti mempelajarinya sendiri dengan mencontoh.
Memasak juga begitu, karena tidak pernah disuruh membantu, aku hanya belajar dengan melihat. Maka dari itu, aku terbilang telat bisa memasak dari kebanyakan teman sebayaku. Aku baru bisa memasak, meski sederhana, saat SMP. Sebab ibu tidak pernah memaksa. Aku hanya menginginkannya sendiri. Itu hanya dua contoh kecil. Banyak sekali yang akhirnya membuat aku berpikir, ternyata pola didik seperti ini bagus, sebab membuat kita tak perlu disuruh untuk belajar sesuatu. Namun kadang ada sisi negatifnya juga. Ya begitulah, selalu banyak sisi di setiap apapun itu, bukan.
Namun sebetulnya, aku hanya ingin menyampaikan, terutama untuk diriku sendiri, bahwa dengan bisa apapun dan mampu mengerjakan banyak hal, kamu tidak akan merugi. Sungguh, kamu tidak rugi sama sekali. Justru kamu jadi bisa lebih banyak latihan dan belajar. Walau tak se-multitalent Youtuber Liziqi yang bahkan bisa mengerjakan banyak pekerjaan berat lelaki, namun intinya kita tidak akan rugi dengan mencoba dan bisa banyak hal baik. Namun tentu, bahasan ini bukan ke ranah penekanan hustle culture, ya.
Dengan konsep bahwa kita tidak akan merugi, maka kita kemudian tidak akan mengomel, jika misal hanya kita yang diminta mengecat rumah sementara saudara kita yang lain tidak (ini hanya permisalan loh 😂). Sebab kita paham, yang akan lebih pintar dan terlatih disini adalah kita. Bukankah pintar dan cerdas itu definisinya amat luas, bukan melulu jago mapel di kelas. Setidaknya ada delapan jenis kecerdasan anak berdasarkan teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner, antara lain; bahasa, musikal, matematika, antar pribadi, spasial, jasmani, intrapersonal dan naturalis. Untuk tiap penjelasannya bisa di-search sendiri ya, supaya tidak panjang-panjang tulisannya.
Dengan konsep ini juga kita kemudian mampu berusaha melakukan sesuatu karena dan untuk diri kita. Bukan untuk orang lain. Walau memang perlu dilatih. Apalagi saat kadang kita malah dianggap 'cari muka' di sebuah organisasi karena ingin melakukan yang terbaik. Padahal kita hanya ingin belajar, atau bahkan barangkali berkontribusi. Tak apa, kembali ke konsep dan prinsip yang kita bangun. Kita melakukan apapun bukan karena ingin dilihat orang lain, kan.
Kita belajar masak, menyanyi, qira'ah, banyak bahasa asing, membuat software, coding dll bukan karena orang lain. Melainkan karena yang untung kita sendiri. Alhamdulillah kalau kemudian suatu saat bisa bermanfaat untuk banyak orang.
Hal itu juga mengingatkan kita juga, bahwa jangan sampai juga salah kaprah. Mampu mengerjakan ini-itu bukan berarti kita bisa dengan mudah dimanfaatkan orang. Ingat, bermanfaat dan dimanfaatkan itu berbeda, ya. Maka kita juga perlu belajar mengetahui porsinya. Hehe, pandai sekali jika hanya menulis, praktiknya susah bukan bualan. Sebab bisa jadi kita adalah orang yang sungkan untuk menolak. Namun selama kita berusaha memiliki niat yang tulus, jangan khawatir, setelah banyak kerikil, kita akan sampai juga akhirnya di jalan yang mulus.
________
BTW lagu ini ternyata karya anak 2000-an. Suka sekali yang judulnya Berisik, tapi entah kenapa malah nyoba ini hehe. Memang anak jaman now tidak bisa diragukan, ya kreativitasnya. Kata Pak Gita Wirjawan, jadilah divergent. Pasti akan ada buah manis yang kelak bisa dipetik. Lalu bagiku, walau tak mudah----apalagi semakin dewasa ternyata waktu terasa semakin sempit dan berharga-----tetap optimis, setiap orang punya porsinya masing-masing.
Satu lagi, dengan aku bercerita kebaikan tentang orang tua, bukan berarti aku ingin membandingkan dengan mereka yang (maaf) barangkali di luaran sana 'broken home'. Maaf, sekali lagi aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi dan lagi, ini hanya soal porsi yang berbeda. Dan tak semua porsi yang kita lihat artinya begitu. Tak semua cerita yang hadir berarti telah diceritakan, hehe.
________
*note: abaikan amatir ini, hehe. Just for fun. Entah kenapa kalau nyanyi ngegas wkwk. Bagian "hmm" susah ternyata. Ternyata pendapat saat SD dulu bahwa menyanyi itu tak mikir, ternyata tak benar ya. Perlu latihan, perenungan, dll untuk kemudian biasa membuat lagu yang bagus dan bermanfaat apalagi menyanyikannya. Hehe, kalau saya mohon maklum, baru dengar lagunya beberapa kali, beda jam terbang juga, beda suara, beda porsi, porsi makan kali ah 😂