Kami seluruh anggota KKN 17 memiliki panggilan dan ciri khas masing-masing. Maklumlah, namanya juga tinggal serumah. Pasti ada aja yang menjadi bahan perbincangan. Berikut uraiannya.
Tegar. Koordinator desa yang dijuluki manusia Gettas. Gettas adalah jajanan khas setempat yang terbuat dari ketan, parutan kelapa dan lain-lain yang kemudian dilumuri adonan gula yang terbuat dari bahan-bahan tertentu. Hehe. Bukan tanpa alasan ia dipanggil demikian. Ini karena Tegar amat menyukai jajanan satu itu. Pagi-pagi sekali saat Ibu-ibu penjual aneka jajanan datang, ia akan langsung diserbu oleh kami. Sementara Tegar akan langsung memborong Gettas yang ada di nampan dagangan. Sesekali kami merutukinya pura-pura sebal, "Dasar manusia gettas!"
Tegar itu orangnya berusaha untuk selalu bersikap ramah. Dan menurutku memang ramah. Sebagai kordes ia juga seringkali mendengarkan aspirasi. Tapi sayang, ia kurang bersikap tegas seperti rima pada kata jajanan favoritnya, gettas. Krik, krik duh tidak lucu. Sedang pemimpin adalah salah satu orang yang paling memiliki andil untuk membentuk karakter para anak buahnya. Akankah mereka disiplin, pekerja keras, percaya diri, pantang menyerah dan lain sebagainya. Atau hanya mendiamkan mereka ikut terlena begitu saja dari hari ke hari. Bagaimana pun, sebagai kordes ia telah berusaha. Jika beban itu ditangguhkan padaku, belum tentu aku bisa.
Syaiful. Biasanya kami panggil Sipol. Bukan Ipul apalagi Ipung. Ia kerap dijuluki lambe Mp3 oleh Mbak Nay. Lambe artinya mulut, tapi katanya bahasa yang kasar. Ia diberi label demikian karena sering sekali bernyanyi lagu apa saja. Mulai dari lagu Dangdut, Reggae, lagu Barat, dan lagu parodi Religi "Eta Terangkanlah" yang sempat booming. Bahkan, seperti adikku, ia amat lihai menyanyikan lagu Despacito. Sipol kalau sudah berbicara akan sulit dihentikan. Meski aku dengan nyaring berkata, "Tombol off, Pol," ia akan tetap bersuara. Maklumlah, seringnya menjadi pembawa acara semakin membuat ia suka berbicara. Sedang lambe kalkulator diangkat karena Sipol kerap menghitung tanpa meminta bantuan pada benda bernama kalkulator. Konon, pengalamannya bekerja di sebuah minimarket-lah yang menjadikan ia memiliki keahlian ini.
Ia gemar memakan tempe mentah-mentah yang memang aslinya sudah matang. Tempe itu dimakan begitu saja atau diberi tambahan saos pedas nan gurih.
Sipol adalah orang yang selalu berusaha kompeten dalam setiap tanggung jawabnya demi kepentingan bersama. Eh, ngomong apa sih.
Sipol kerap memberi julukan yang akhirnya viral di kalangan kami berenam belas. Julukan yang ia buat antara lain; Rimalaks, Neti (Baca: Net Ai), Fanti (Baca: Feintai), Fat (Baca: Fet), Afifa (Baca: Eifaife), dan yang paling populer adalah "Yuk yak yuk" panggilan untuk Yayuk.
Haris. Kami memanggilnya Mas Haris. Jargon yang paling pouler yang ia miliki adalah, "Mau jadi apa?". Jargon tersebut meluncur dari mulut Mas Haris saat ada dari kami yang bertingkah ada-ada saja. Akhirnya perilaku melontarkan jargon demikian diteladani banyak orang dari kami setelah tiap waktu hanya mendengarnya berkata begitu.
Mas Haris lebih banyak diam daripada banyak berpendapat. Ia lebih suka ngelucu daripada berdebat tak jemu. Beliau, haha, beliau konon mahir membuat nasi goreng lezat ala restoran karena pernah bekerja di sebuah rumah makan. Hingga kini aku belum pernah mencoba seperti apa rasanya. Hmm.
Fauzi. Aku memanggilnya Fauji. Ia seringkali melontarkan banyak istilah yang mampu membuat perut kembung. Seperti, "hukum rimba, sinar radiasi, ultraviolet, dan lain-lain". Istilah-istilah yang mampu membuat kami ngakak dan geleng-geleng kepala.
Fauji menurut kami polos dan anak mama, barangkali lebih tepatnya anak yang patuh dan berbakti pada orang tua.
Di Masjid tempat belajar mengaji, Fauji memiliki banyak penggemar setia dan seringkali dielu-elukan. Begipula di SDN Langsar 1 dan SDN Langsar 2 tempat kami mengajar. Ia seringkali dikerubuti anak-anak. Ada yang menarik bajunya, tangannya dan lain sebagainya. Tapi ia tidak pernah keberatan. Ia lebih banyak membalas dengan senyuman.
Fauji juga terlihat ingin melakukan setiap pekerjaan yang dibebankan padanya dengan baik dan optimal.
Fajar. Ciri khasnya adalah tertawa "Hahaha" dengan cirinya. Entah bagaimana menjelaskannya pada kalian. Pokoknya itu khasnya dia. Hehe. Jadi sudah jangan banyak tanya. Fajar ini anaknya sejak awal memang periang dan mudah bergaul karena bisa nyambung saat ada orang lain yang melempar lelucon. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini ia lebih suka menyendiri atau bercerita bersama kami para wanita ketimbang bersenda gurau dengan para pria. Tapi Fajar tak kehabisan akal. Kini ada gitar yang entah miliki siapa mampu mengisi harinya. Begitu sih di mataku.
Seperti Mas Haris, Fajar tidak terlalu banyak berbicara denganku jika tidak benar-benar ada perlu. Baru saat aku diminta untuk membuat naskah dan menjadi pengisi suara di video profil desa ia lebih banyak bicara.
Tapi sejatinya, Fajar adalah orang yang baik dan suka bercanda. Hahaha. Eh.
Rima. Panggilan lucu untuknya adalah Rimalaks. Belakangan ku ketahui itu nama aku Instagram miliknya. Awal akun mengenalnya, aku kira dia amat serius orangnya. Ternyata Rima juga memiliki selera humor. Yang kusuka darinya adalah cara bicaranya yang lembut. Selain itu perhatian untuk mengingatkan makan dan lain sebagainya. Saat acara JJS, ia memintaku duet lagu Jarang Goyang. Aku tidak mengerti itu lagu apa. Ia tertawa. Ternyata Rima juga tidak hafal liriknya. Hade.
Kelebihan lain yang ia miliki ialah mampu memainkan gitar. Setelah ku tanya, ia mantan pemain band. Mmm, pantas saja. Sukses, Rim!
Fath. Kami memanggilnya Mami Fat (baca: Mami Fet). Plesetan dari bahasa Inggris kata fat yang artinya gemuk. Meski Mami Fat tidak gemuk sama sekali. Sedang Mami karena Fauji sering memanggilnya begitu. Ini bermula karena Mami Fat hobi sekali memasak. Masakannya juga seringkali terasa lezat. Akhirnya kami jadi ikut-ikutan memanggilnya Mami Fat.
Saat malam perpisahan, ia menangis sesenggukan di bahuku. Aku tidak mampu berkomentar. Ia begitu sedih dengan perpisahan kami. Aku hanya mampu menepuk-nepuk dan mengelus-elus lembut bahunya. "Cup.. Di setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan dan sebaliknya," ucapku dalam hati.
Yayuk. Kami sering menggodanya dengan memanggil Yuk..yak..yuk.. dengan nada khas godaan. Ini kita teladani dari Sipol. Yayuk seringkali gemas dengan perlakuan ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Dulu, pas awal-awal, Yayuk dikagumi oleh Mas Haris. Sebelum akhirnya Mas Haris berpaling. Hehe.
Bagiku, Yayuk itu orangnya cenderung perfeksionis, detil dan rapih saat membuat sesuatu. Baik itu prakarya, masakan dan lain-lain.
Yang membikin kami terbahak adalah saat Yayuk meminta anak-anak Desa Langsar yang tengah asyik bermain Uno untuk pulang karena sudah larut malam. Atau kala meminta mereka untuk belajar. Seketika Yayuk akan pura-pura galak dengan nada suara yang kian meninggi. Kami pun serempak terbahak.
Ana. Fajar biasa menyebutnya Laili. Akhirnya aku secara tidak sadar kadang memanggil dengan sebutan itu juga.
Dia amat polos dan jujur. Aku belajar banyak darinya. Ana juga tidak suka menggunjing. Saat bekerja, ia berusaha melakukannya dengan semaksimal mungkin. Saat bercerita, aku lebih banyak bercerita padanya karena merasa banyak memiliki pemikiran yang sama.
Ia pandai melukis. Sewaktu masih bersekolah, ia mengaku sering didelegasikan untuk mengikuti lomba melukis. Aku menyarankan padanya untuk terus berlatih. Sampai suatu saat memiliki galery seni sendiri.
Kala bercanda, ia akan tersenyum. Tapi lebih banyak merespon dengan perkataan yang menggambarkan bahwa candaan kita adalah sungguhan, bukan candaan. Akhirnya ini mengundang kami untuk tertawa dan berkata, "Ana.. Ana.."
Afifa. Panggilan untuknya begitu banyak. Ialah Madam, Pororo, Apipah dan Afifa (Baca: Eifaife). Madam adalah panggilan yang aku beri untuknya hingga akhirnya semua orang mengikuti. Sedangkan Pororo julukan dari Fauji. Panggilan Apipah, dariku karena ia seringkali memanggilku Lutpi-ah.
Dia adalah patner geje-ku. Benar-benar seolah tidak bisa berhenti tertawa aku dibuat orang satu itu. Kami memiliki beberapa kesamaan, seperti menyukai humor, puisi dan geje.
Kala berbicara, ia kerap mengubah huruf mati selain L dengan L, misal awas jatul, jangan lupa dipilil dan sebagainya. Tingkahnya ini membuat kami terbahak-bahak.
Apipah bisa dibilang jagonya perihal asmara, tapi sejago-jagonya dia, dia malah curhat perihal asmara kepadaku, orang yang sama sekali tidak jago di bidang itu.
Tapi aku bersyukur, itu artinya ia percaya. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu. Meski aku akan lebih banyak tersenyum sangat mendengarkan ceritanya, bingung harus berkomentar apa.
Madam, aku juga kerap memanggilnya begitu. Ia sespesies denganku karena kerap menyukai hal-hal yang menurut orang lain aneh di usia kami. Yang benar saja, ia menyukai burung hantu dan aku menyukai balon. Aneh, kan? Tapi kita tidak mau ambil pusing dengan komentar orang lain.
Kemarin saat JJS, dia didaulat sebagai sie kesehatan meski kejiwaannya tidak terlalu sehat, kata Sipol bercanda. Mendengar candaan itu, kami berdua tak henti-hentinya tertawa.
BTW, menceritakan tentangnya tidak akan selesai beberapa bab. Padahal jari rasanya sudah keriting karena mengetik sedari tadi. Dan baterai hape telah meraung-raung meminta untuk diisi.
Sila. Kami memanggilnya Cila. Aku kerap memanggilnya Ngil sebagai nama pena, berasal dari kata tengil. Sudah ku jelaskan padanya, ini karena ia yang acap kali seperti bocah tengil yang begitu berani pada orang dewasa. Dan ia terima-terima saja. Iya, ia tidak takut mengungkapkan apa yang ada dalam kepala yang seukuran dengan batok kelapa itu secara blak-blakan. Pendapatnya amat tengil, kritis dan bringas---Hehe, bahasa beringas kurang tepat, tapi tak apa biar alay-nya dapat---membuat aku hanya bisa tersenyum dalam diam. Betapa beraninya anak ini pikirku. Bagiku itu adalah perilaku yang baik, meski kadang ada beberapa pendapat dan perilakunya yang perlu diluruskan. Tapi bagaimana mau meluruskan, aku lebih sibuk berpikir bagaimana meluruskan diriku sendiri.
Ngil biasa memanggilku Buk, berasal dari Si Sibuk Rupa karena aku yang terlihat begitu sibuk menyelesaikan blog desa saat di posko sebagai tanggung jawabku.
Terlepas dari cara berpendapatnya yang ngejeplak, ia memiliki hati yang baik karena tidak memilih-milih dalam berteman. Ia juga digemari banyak anak kecil karena perilakunya yang begitu hangat terhadap anak-anak.
Tengil suka sekali makan tomat langsung, kebiasaan yang sama dilakukan oleh Madam. Saking langsungnya kadang tidak dicuci terlebih dahulu.
Zain. Mbak Jen adalah patnerku saat pergi ke masjid selain Ana. Dalam beberapa kesempatan ia memanggilku dengan sebutan Bunda. Katanya karena aku sering ikut bersholawat lantang seperti Mbak Rika, anak Bunda, ustazah di Masjid. Aku hanya pasrah diberi sebutan demikian.
Mbak Jen kalau makan sedikit dan lama. Pernah suatu ketika aku mengambilkan porsi makan yang banyak untuknya. Tapi malah ia kembalikan lagi. Hmm.
Ia adalah orang yang paling sering bilang ingin pulang padaku. Aku hanya mampu mengatakan padanya untuk bersabar, jalani, hayati dan nikmati. Mbak Jen pun terdiam. Aku mafhum, tidak mudah mendengarkan nasehat dari orang lain. Apalagi dari orang sepertiku.
Mbak Jen juga patner kalau beli-beli ke warung. Kami berjalan menuju warung terdekat kala terik mentari menyengat. Padahal biasanya yang lain menempuh dengan sepeda motor. Hehe.
Fanti (Baca: Feintai). Anak ini juga berperilaku begitu hangat pada anak-anak. Tak heran saat ke masjid, yang sering anak-anak tanyakan padaku adalah dia. Feintai itu suka mengawali pertanyaan atau komentar dengan kalimat: "Opo seh?" dengan nada khas. Jika belum memahami karakternya, seseorang akan mengira Feintai adalah orang yang nyinyir. Padahal dia amat baik. Dia menyebutku vlogger karena menurutnya aku seringkali ngevlog dan ngedagel (entah bagaimana tulisannya. Ngedagle? Ah, tau ah). Lagi-lagi katanya itu kata Sipol.
Feintai menghadiahiku buku Tajwid. Ah, aku sungguh terharu dan berterima kasih padanya. Hadiah itu kudapatkan setelah sebelumnya aku mengungkapkan jika aku ingin belajar membaca al-Qur'an padanya. Namun karena kami akhirnya berpisah, ia kemudian menghadiahiku buku itu.
Feintai bercerita bahwa dulu ia sempat tinggal di pesantren Tahfiz dan menghafal juz 30. Sungguh fakta yang mengesankan. Semoga berkah.
Nayla. Biasanya aku memanggilnya Mbak Nay. Tapi akhirnya ikut yang lain memanggil Bundo. Kala itu ia tiba-tiba tergugu. Aku hanya menepuk lembut bahunya tanpa berani bertanya kenapa. Tapi ia langsung berkata, "Nanti aku pengin curhat ke kamu ya, Lu." "Iya," langsung ku jawab. Namun hingga kini ia belum sempat bercerita kepadaku. Ku yakin kini ia telah baik-baik saja.
Meski dipanggil Bundo, wajah Mbak Nay amat imut tidak seperti seorang Bundo, hehe. Dia pandai memasak karena sering ikut membantu usaha catering Ibunya. Sungguh fakta yang awalnya lumayan mengejutkan karena ku pikir ia tidak bisa memasak.
Saat pertama mengenalnya, kesan pertama yang kudapat tentang Bundo adalah anak yang ceria karena mudah tertawa.
Mutia. Dari sononya ia dipanggil Mumu. Dia patnerku saat belanja ke pasar. Saat pertama kali ke pasar kami kesasar. Kami tiba di pasar yang salah. Alhasil yang kami dapati adalah pasar yang sepi. Setelah menelfon dan bertanya akhirnya kami pergi ke pasar yang menjadi tujuan awal. Di sepanjang perjalanan, kami terbahak memikirkan kemahadodolan yang kami perbuat.
Di hari pertama ke pasar, aku belajar banyak dari Mumu. Salah satunya, saat membeli telur, kita harus memilih penjual telur yang memiliki timbangan. Saat membeli bahan makanan yang terkemas, jangan lupa mengecek tanggal kadaluarsa. Jangan lupa menghitung uang kembalian kembali. Meski aku tahu hal itu, aku kerap mengabaikan. Dari Mumu aku belajar untuk tidak mengabaikannya.
Mumu ahlinya bersih-bersih dan mencuci baju. Dengan Feintai ia menerima penitipan baju untuk dicuci. Biasanya yang nitip adalah para kaum adam. Mereka akan menerima dan mencucinya tanpa segan.
Aku. Feintai memanggilku Lulu. Akhirnya yang lain ikut meneladaninya. Aku bingung kalau sudah diminta untuk menceritakan tentang diri sendiri. Yang ku tahu adalah aku menyayangi mereka semua. Aseek, peres. Entah bagaimana dan seperti apa pendapat mereka terhadapku. Yang terpenting Ana pernah mengajariku bermain Uno. Krik, krik.
Sekian.