Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Luruskanlah niat yang acap kali berbelok-belok liar, terseok-seok pilu, apalagi sempat terhenti karena sifat beracun pesimisme kronis. Teguhkanlah hati yang kerap kali berbolak-balik tak tentu, memikirkan yang tak perlu, lantas membuat diri sesekali terpaku merenungkan sesuatu. Mudahkanlah langkah ringkih kami dalam mengais ilmu-ilmu yang tersebar di setiap sudut muka bumi.

---

"Luruskanlah niat yang acap kali berbelok-belok liar, terseok-seok pilu, apalagi sempat terhenti karena sifat beracun pesimisme kronis."

Niat seringkali berbelok liar, nakal. Pada awalnya niat karena Allah, lillahita'ala. Namun kadang ada saja yang mampu menggeser niat itu. Entah karena ingin dilihat, diagungkan, dibanggakan, dianggap dan sebagainya. Selalu ada saja hal yang bisa menjatuhkan diri ke dalam lembah pamrih yang begitu curam. Untuk itulah perlu senantiasa berdoa agar diberi kemudahan untuk memelihara niat yang lurus. Sebab apa yang kita dapatkan adalah berdasarkan dari apa yang kita niatkan.

Niat juga kerap terhenti karena sifat pesimis yang amat beracun. Meracuni optimisme dengan tega. Memberi bayang-bayang akan sulit tercapainya cita. Menjadikan diri kalah sebelum berperang. Bahkan sebelum ditabuhnya genderang.

Sifat pesimis ini salah satunya muncul karena merasa diri belum memahami apapun, seperti kebanyakan orang yang telah lama berpretasi tanpa ampun. Padahal, resepnya adalah andalkan Allah di setiap urusan, bukan hanya mengandalkan diri sendiri. Karena jangankan mengampu sebuah mata kuliah, belajar sebuah huruf saja kita tak akan mampu kalau bukan karena Sang Illahi. Kita perlu tahu, mengandalkan diri yang  bukan apa-apa membuat kita sukar menatap dunia. Akan selalu ada langit di atas langit. Yang kadang kala terlihat jauh lebih cerah. Sedang mengandalkan Allah, membuatkan jalan kita selebar samudera. Tak peduli lawan begitu berat dan sengit. Karena dengan-Nya segala keajaiban terjadi dengan amat mudah.

Jangan-jangan yang disebut lawan ini adalah diri sendiri. Karena seperti yang kita ketahui, lawan terberat adalah diri sendiri. Berat melawan rasa malas yang membelenggu. Malas berdoa, malas meminta pada yang memiliki segala.

---

"Teguhkanlah hati yang kerap kali berbolak-balik tak tentu, memikirkan yang tak perlu, lantas membuat diri sesekali terpaku merenungkan sesuatu."

Hal yang tak perlu disini bukan berarti memang tidak perlu. Hanya saja belum tepat waktu. Salah satu contoh, adalah perihal jodoh.
Tak bisa dipungkiri, se-fokus-fokusnya seseorang, pasti akan terbesit pertanyaan demikian. Ya, demikian. Tak perlu dijelaskan. Baiklah. Tentang siapa, bagaimana, seperti apa dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang acap kali membuat diri tiba-tiba merenung, terpaku.

Apalagi, kala cobaan datang bertubi-tubi. Silih berganti. Sering tiba-tiba mendapat perlakuan hangat. Pertanyaan-pertanyaan yang saat menjawabnya harus pandai mengalihkan. Atau chat-chat aneh seperti kiriman lagu dan lain-lain yang mampu membuat pipi merah bersemu. Meskipun pada akhirnya tidak digubris, karena takut teguhnya hati perlahan-lahan teriris.

Lantas kapan waktu yang tepat untuk memikirnya. Bisa-bisa terlewatkan dan benar-benar terlupakan.

Biarlah Allah yang menjawab. Manusia hanya mampu menguntai doa, menguntai harapan. Ingatlah sebuah ungkapan dalam novel karya Taufiqurrahman El-Azizy, bahwa jodoh itu di tangan tuhan. Sudah digariskan. Sedang ilmu dan kesuksesan tidak akan pernah diraih dengan bermalas-malasan. Perlu ada kerja keras, pengorbanan jiwa, raga bahkan nyawa. Begitu kira-kira kalimatnya.

Memang, kalau tidak ikhtiar mana mungkin. Berdoa dan terus memperbaiki diri juga bisa dikelompokkan menjadi perilaku-perilaku ikhtiar. Jadi, janganlah mudah memerihara rasa khawatir.
Karena seseorang yang baik untuk yang baik. Seseorang yang menjaga dirinya untuk yang menjaga dirinya pula. Seseorang yang tengah belajar dan terus memperbaiki diri juga untuk seseorang yang demikian. Yakinlah, laa haula wa laa quwata illaa billah.

Jangan lupa berdoa, semoga Allah senantiasa meneguhkan hati yang kerap berbolak-balik dan bergeser meski sesenti.

"Mudahkanlah langkah ringkih kami dalam mengais ilmu-ilmu yang tersebar di setiap sudut muka bumi."

Sebab kita harus selalu berpikir jika kita ini bukan apa-apa dibanding ilmu yang Allah miliki. Kita hanya melangkah ringkih demi meraih ilmu yang sedemikian luas. Kita hanya mengais, jadi mana mungkin kita patut sombong karena sejatinya kita hanya mengemis.

Dia-lah yang berkuasa untuk memudahkan langkah untuk menjemput ilmu, menyerapnya demi menghilangkan kebodohan. Setitik ilmu yang Dia berikan sudah mampu menyelamatkan kita dari kesengsaraan. Untuk itulah, senantiasa berdoa pada yang kuasa adalah hal yang tidak pernah sia-sia.

Pernah lihat acara Master Chef Indonesia? Mereka tidak asal memasak. Akan tetapi mereka juga dilatih untuk selalu mampu menjaga 'dapur' tetap rapi dan bersih sambil memasak. Sekali lagi, sambil memasak. Tak heran jika meski mereka tengah memasak, dapur akan tetap tertata rapi dan terlihat bersih.

Makanya, aku jadi lumayan tertegun kala mendapati bagian teras yang biasa kami---KKN 17---jadikan sebagai dapur selalu saja terlihat berantakan. Apalagi saat baru saja usai memasak. Padahal sudah ada piket, piket dalam arti luas. Artinya, tidak hanya memasak, tapi juga mencuci piring, menyapu halaman, merapikan dapur dan lain-lain.

Melihat pemandangan yang tidak mengenakkan ini membuat aku berpikir, jika memang seorang chef kelas atas saja tidak hanya dididik untuk memasak makanan yang enak. Namun bagaimana mereka mampu menjaga kerapian dan kebersihan. Pemikiran ini timbul karena teringat acara Master Chef Indonesia di televisi yang dulu amat ku gemari.

Kebersihan sendiri amat diperhatikan dalam Islam. Sampai-sampai, dalam sebah hadits, kebersihan dikatakan menjadi sebagian dari iman. Lantas kerapian termasuk pada keindahan. Islam juga amat menyukai keindahan.

Selain itu, mereka---para finalis Master Chef Indonesia---juga dilatih mengatur waktu alias time management kala memasak. Dalam waktu 30-60 menit mereka dituntut mampu menyelesaikan masakan yang banyaknya seringkali lebih dari satu macam. Mereka harus mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Aku sendiri, mampu memasak kuah sop, nasi, dua macam lauk, dan sambal lebih cepat dari Ibu. Seringkali seperti itu. (Tapi rasanya tetap kalah enak dengan masakan ibu sih, haha). Kala Ibu memasak sendiri, menurut perhitunganku aku lebih mampu menyelesaikan jenis masakan yang sama dengan waktu yang relatif lebih cepat. Inu karena sesekali aku belajar dari acara TV itu, menggunakan waktu memasak dengan baik. Kala tengah merebus, kita bisa sambil menghaluskan bumbu. Kala sedang menggoreng, kita bisa sembari memotong sayur. Dan sebagainya.

Dalam Islam juga begitu dianjurkan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ini dilakukan untuk semua aktivitas yang kita kerjakan. Adapun surah yang menyinggung perihal waktu adalah surah al-'Ashr dan masih banyak lagi. Ini pertanda untuk mewantu hamba-hambaNya agar senantiasa mampu memanfaatkan waktu di dunia dengan amal sholih.

"Abis acara, telat makan, pusing banget, makan beberapa suapan, metèdung, ga ikut rapat, bangun-bangun, pusing ilang, dibangunkan, rekaman, belum latian baca, suara masih dhungseng, bim salabin, well, belum packing buat besok. Tweng."

---

Acara malam perpisahan telah usai. Banyak yang menangis terharu, bahkan sampai sesenggukan. Akhirnya aku jadi tidak kuat memandang pemandangan demikian. Seolah ada beban yang membuat sungai kecil mengalir di ekor mataku, meski cepat-cepat berhasil aku hapus dan hentikan. Selain karena terbawa suasana, aku ikut menangis karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka semua, seluruh warga masyarakat Desa Langsar. Aku juga jadi terbayang hari-hari yang ku lewati dengan mereka, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik dan lain-lain yang dengan kebesaran hatinya menerima dan membantu kita dengan sukarela.

---
Kegiatan hari ini lumayan padat. Usai sarapan dan sedikit membantu PJ PDD, aku bergegas mandi dan sedikit membantu PJ Konsumsi. Kemudian, sedikit lama-lama menjadi bukit karena ternyata kami selesai masak hingga menjelang Isya' dan acara dimulai sekitar ba'dha Isya'.

Lalu aku tiba-tiba teringat pada teks pembawa acara yang belum aku rampungkan sepenuhnya. Nama-nama peserta lomba belum aku ketik, lantas print. Akhirnya aku mohon diri kepada yang tengah menghias tumpeng untuk kembali ke posko terlebih dahulu.

Suasana di posko cukup ramai. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang sholat Magrib, ada yang melakukan tahap finishing pada panggung, ada yang mengangkut air minum kemasan, dan lain-lain. Sedang aku berlari mengambil kertas dan meminjam sebuah laptop lantas memprint. Di bantu Syaiful, aku menyelesaikan teks dan berlatih sebentar, dengan Rima juga, patner MC. Kemudian aku diminta untuk bersiap-siap. Sementara Rima telah siap, aku berlari membawa perlengkapan untuk mandi. Dan yang lain berkata, "Udah, ga usah mandi. Waktunya udah mepet." katanya. Mereka beberapa juga demikian. Akhirnya aku meng-iyakan. Usai membasuh wajah, aku bersiap-siap meski sejatinya belum siap.

---

Kebisaan burukku jika terlalu dengan sibuk dengan kegiatan, aku bisa enggan untuk makan. Inilah yang membuat Ibu dan Bapak berulang kali mengingatkan saat di rumah. Sedang di kampus, aku bisa bebas, berpura-pura lupa meski seharian belum makan. Hehe. Akhirnya, kalau sudah dirasa badan mulai drop, aku akan makan lebih banyak dan lebih rajin dari biasanya. Kemudian sedikit asupan pola pikir berbunyi "Aku tidak akan sakit, aku sehat, aku tidak apa-apa" ampuh membuat tubuhku cepat kembali fit. Pun dengan hal lain, langkah awal kadangkala hanya bermula dari sebuah pola pikir. Perihal pola makanku yang kurang baik, jangan sekali-kali ditiru.

Aku kerap kali berkilah pada Ibu. Jika orang yang sering mengingat mati akan sedikit makannya, bahkan cenderung lupa dan berpuasa. Berpuasa makan amat sedikit atau hanya minum, bukan berpuasa dalam artian sebenarnya. Mereka lebih sibuk menyiapkan akhirat. Tapi Ibu selalu punya jawaban yang bikin skakmat. Akhirnya aku dengan sepenuh hati akan meninggalkan tugas kuliah, menuju dapur yang letaknya beberapa langkah dari rumah.

Akhirnya, telat makan membuat kepalaku tiba-tiba pusing. Benar-benar pusing. Kemudian setelah memakan nasi tumpeng kuning sisa acara perpisahan sebanyak tiga suapan, aku bergegas metèdung, (Pergi tidur, Red.). Aku tidak sempat membantu yang lain merapikan panggung dan lain-lain. Juga tidak mengikuti rapat evaluasi KKN Kelompok 17. Syukurlah sepertinya mereka amat mengerti, dan tidak ada yang membangunkan untuk kemudian mengikuti rapat terakhir ini. Hihi.

Saat terbangun, kira-kira tengah malam lewat beberapa menit, alhamdulillah pening di kepalaku secara ajaib menghilang. Aku sudah bangun, ketika mendengar Fajar memanggil namaku membangunkan. Duh, iya. Aku punya janji padanya untuk rekaman, untuk mengisi suara video profil desa. Dan aku lebih ingat lagi, jika aku belum latihan membaca sama sekali.

Dengan suara khas orang bangun tidur, suasana larut malam dan masih agak kurang fokus, bim salabim, aku membaca naskah meski terbata-bata. Beberapa kali merekam ulang. Banyak momen freeze, karena beberapa bagian ku buat secara spontan. Akhirnya dari beberapa enam rekaman jika tidak salah, yang dipilih adalah rekaman yang ketiga. Kita harus menerima hasil itu. Yang dibuat secara amat dadakan. Apapun hasilnya patut diterima, sekalipun pahit. Karena sejatinya, hasil memuaskan juga berasal dari latihan yang dilakukan secara konsisten dan dalam waktu yang tidak lama. Sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh juga akan memberikan hasil yang tidak akan menimbukan rasa sesal. Apapun hasilnya.

Well, rekaman akhirnya diakhiri karena dianggap telah cukup memenuhi kebutuhan video. Aku tiba-tiba teringat. Sebelum aku tertidur tadi, beberapa teman telah sibuk mem-packing barang-barang mereka di kamar. Karena besok kita akan pulang ke kampung masing-masing. Sementara aku belum melakukan packing sama sekali, seperti halnya saat kebarangkatan, pada malam hari juga, di rumah.

---

Esok harinya, kami bahu-membahu membersihkan posko. Lalu ternyata bus mini yang akan menghantarkan kami pulang datang satu jam lebih awal. Akhirnya kami kelimpungan. Memasukkan barang ke bus, merapikan posko yang di beberapa bagian masih berantakan dan berpamit-pamitan. Aku sampai lupa jika belum pake make up, bahkan meski hanya bedak tipis-tipis. Tapi aku bersyukur, aku sempat mandi. Meski momok langka air begitu lekat dengan desa ini.

Tralala tralili. Sekian curhat kali ini. Hadeee, lagi-lagi curhat. *tepok jidat*

Kami seluruh anggota KKN 17 memiliki panggilan dan ciri khas masing-masing. Maklumlah, namanya juga tinggal serumah. Pasti ada aja yang menjadi bahan perbincangan. Berikut uraiannya.

Tegar. Koordinator desa yang dijuluki manusia Gettas. Gettas adalah jajanan khas setempat yang terbuat dari ketan, parutan kelapa dan lain-lain yang kemudian dilumuri adonan gula yang terbuat dari bahan-bahan tertentu. Hehe. Bukan tanpa alasan ia dipanggil demikian. Ini karena Tegar amat menyukai jajanan satu itu. Pagi-pagi sekali saat Ibu-ibu penjual aneka jajanan datang, ia akan langsung diserbu oleh kami. Sementara Tegar akan langsung memborong Gettas yang ada di nampan dagangan. Sesekali kami merutukinya pura-pura sebal, "Dasar manusia gettas!"
Tegar itu orangnya berusaha untuk selalu bersikap ramah. Dan menurutku memang ramah. Sebagai kordes ia juga seringkali mendengarkan aspirasi. Tapi sayang, ia kurang bersikap tegas seperti rima pada kata jajanan favoritnya, gettas. Krik, krik duh tidak lucu. Sedang pemimpin adalah salah satu orang yang paling memiliki andil untuk membentuk karakter para anak buahnya. Akankah mereka disiplin, pekerja keras, percaya diri, pantang menyerah dan lain sebagainya. Atau hanya mendiamkan mereka ikut terlena begitu saja dari hari ke hari. Bagaimana pun, sebagai kordes ia telah berusaha. Jika beban itu ditangguhkan padaku, belum tentu aku bisa.

Syaiful. Biasanya kami panggil Sipol. Bukan Ipul apalagi Ipung. Ia kerap dijuluki lambe Mp3 oleh Mbak Nay. Lambe artinya mulut, tapi katanya bahasa yang kasar. Ia diberi label demikian karena sering sekali bernyanyi lagu apa saja. Mulai dari lagu Dangdut, Reggae, lagu Barat, dan lagu parodi Religi "Eta Terangkanlah" yang sempat booming. Bahkan, seperti adikku, ia amat lihai menyanyikan lagu Despacito. Sipol kalau sudah berbicara akan sulit dihentikan. Meski aku dengan nyaring berkata, "Tombol off, Pol," ia akan tetap bersuara. Maklumlah, seringnya menjadi pembawa acara semakin membuat ia suka berbicara. Sedang lambe kalkulator diangkat karena Sipol kerap menghitung tanpa meminta bantuan pada benda bernama kalkulator. Konon, pengalamannya bekerja di sebuah minimarket-lah yang menjadikan ia memiliki keahlian ini.
Ia gemar memakan tempe mentah-mentah yang memang aslinya sudah matang. Tempe itu dimakan begitu saja atau diberi tambahan saos pedas nan gurih.
Sipol adalah orang yang selalu berusaha kompeten dalam setiap tanggung jawabnya demi kepentingan bersama. Eh, ngomong apa sih.
Sipol kerap memberi julukan yang akhirnya viral di kalangan kami berenam belas. Julukan yang ia buat antara lain; Rimalaks, Neti (Baca: Net Ai), Fanti (Baca: Feintai), Fat (Baca: Fet), Afifa (Baca: Eifaife), dan yang paling populer adalah "Yuk yak yuk" panggilan untuk Yayuk.

Haris. Kami memanggilnya Mas Haris. Jargon yang paling pouler yang ia miliki adalah, "Mau jadi apa?". Jargon tersebut meluncur dari mulut Mas Haris saat ada dari kami yang bertingkah ada-ada saja. Akhirnya perilaku melontarkan jargon demikian diteladani banyak orang dari kami setelah tiap waktu hanya mendengarnya berkata begitu.
Mas Haris lebih banyak diam daripada banyak berpendapat. Ia lebih suka ngelucu daripada berdebat tak jemu. Beliau, haha, beliau konon mahir membuat nasi goreng lezat ala restoran karena pernah bekerja di sebuah rumah makan. Hingga kini aku belum pernah mencoba seperti apa rasanya. Hmm.

Fauzi. Aku memanggilnya Fauji. Ia seringkali melontarkan banyak istilah yang mampu membuat perut kembung. Seperti, "hukum rimba, sinar radiasi, ultraviolet, dan lain-lain". Istilah-istilah yang mampu membuat kami ngakak dan geleng-geleng kepala.
Fauji menurut kami polos dan anak mama, barangkali lebih tepatnya anak yang patuh dan berbakti pada orang tua.
Di Masjid tempat belajar mengaji, Fauji memiliki banyak penggemar setia dan seringkali dielu-elukan. Begipula di SDN Langsar 1 dan SDN Langsar 2 tempat kami mengajar. Ia seringkali dikerubuti anak-anak. Ada yang menarik bajunya, tangannya dan lain sebagainya. Tapi ia tidak pernah keberatan. Ia lebih banyak membalas dengan senyuman.
Fauji juga terlihat ingin melakukan setiap pekerjaan yang dibebankan padanya dengan baik dan optimal.

Fajar. Ciri khasnya adalah tertawa "Hahaha" dengan cirinya. Entah bagaimana menjelaskannya pada kalian. Pokoknya itu khasnya dia. Hehe. Jadi sudah jangan banyak tanya. Fajar ini anaknya sejak awal memang periang dan mudah bergaul karena bisa nyambung saat ada orang lain yang melempar lelucon. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini ia lebih suka menyendiri atau bercerita bersama kami para wanita ketimbang bersenda gurau dengan para pria. Tapi Fajar tak kehabisan akal. Kini ada gitar yang entah miliki siapa mampu mengisi harinya. Begitu sih di mataku.
Seperti Mas Haris, Fajar tidak terlalu banyak berbicara denganku jika tidak benar-benar ada perlu. Baru saat aku diminta untuk membuat naskah dan menjadi pengisi suara di video profil desa ia lebih banyak bicara.
Tapi sejatinya, Fajar adalah orang yang baik dan suka bercanda. Hahaha. Eh.

Rima. Panggilan lucu untuknya adalah Rimalaks. Belakangan ku ketahui itu nama aku Instagram miliknya. Awal akun mengenalnya, aku kira dia amat serius orangnya. Ternyata Rima juga memiliki selera humor. Yang kusuka darinya adalah cara bicaranya yang lembut. Selain itu perhatian untuk mengingatkan makan dan lain sebagainya. Saat acara JJS, ia memintaku duet lagu Jarang Goyang. Aku tidak mengerti itu lagu apa. Ia tertawa. Ternyata Rima juga tidak hafal liriknya. Hade.
Kelebihan lain yang ia miliki ialah mampu memainkan gitar. Setelah ku tanya, ia mantan pemain band. Mmm, pantas saja. Sukses, Rim!

Fath. Kami memanggilnya Mami Fat (baca: Mami Fet). Plesetan dari bahasa Inggris kata fat yang artinya gemuk. Meski Mami Fat tidak gemuk sama sekali. Sedang Mami karena Fauji sering memanggilnya begitu. Ini bermula karena Mami Fat hobi sekali memasak. Masakannya juga seringkali terasa lezat. Akhirnya kami jadi ikut-ikutan memanggilnya Mami Fat.
Saat malam perpisahan, ia menangis sesenggukan di bahuku. Aku tidak mampu berkomentar. Ia begitu sedih dengan perpisahan kami. Aku hanya mampu menepuk-nepuk dan mengelus-elus lembut bahunya. "Cup.. Di setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan dan sebaliknya," ucapku dalam hati.

Yayuk. Kami sering menggodanya dengan memanggil Yuk..yak..yuk.. dengan nada khas godaan. Ini kita teladani dari Sipol. Yayuk seringkali gemas dengan perlakuan ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Dulu, pas awal-awal, Yayuk dikagumi oleh Mas Haris. Sebelum akhirnya Mas Haris berpaling. Hehe.
Bagiku, Yayuk itu orangnya cenderung perfeksionis, detil dan rapih saat membuat sesuatu. Baik itu prakarya, masakan dan lain-lain.
Yang membikin kami terbahak adalah saat Yayuk meminta anak-anak Desa Langsar yang tengah asyik bermain Uno untuk pulang karena sudah larut malam. Atau kala meminta mereka untuk belajar. Seketika Yayuk akan pura-pura galak dengan nada suara yang kian meninggi. Kami pun serempak terbahak.

Ana. Fajar biasa menyebutnya Laili. Akhirnya aku secara tidak sadar kadang memanggil dengan sebutan itu juga.
Dia amat polos dan jujur. Aku belajar banyak darinya. Ana juga tidak suka menggunjing. Saat bekerja, ia berusaha melakukannya dengan semaksimal mungkin. Saat bercerita, aku lebih banyak bercerita padanya karena merasa banyak memiliki pemikiran yang sama.
Ia pandai melukis. Sewaktu masih bersekolah, ia mengaku sering didelegasikan untuk mengikuti lomba melukis. Aku menyarankan padanya untuk terus berlatih. Sampai suatu saat memiliki galery seni sendiri.
Kala bercanda, ia akan tersenyum. Tapi lebih banyak merespon dengan perkataan yang menggambarkan bahwa candaan kita adalah sungguhan, bukan candaan. Akhirnya ini mengundang kami untuk tertawa dan berkata, "Ana.. Ana.."

Afifa. Panggilan untuknya begitu banyak. Ialah Madam, Pororo, Apipah dan Afifa (Baca: Eifaife). Madam adalah panggilan yang aku beri untuknya hingga akhirnya semua orang mengikuti. Sedangkan Pororo julukan dari Fauji. Panggilan Apipah, dariku karena ia seringkali memanggilku Lutpi-ah.
Dia adalah patner geje-ku. Benar-benar seolah tidak bisa berhenti tertawa aku dibuat orang satu itu. Kami memiliki beberapa kesamaan, seperti menyukai humor, puisi dan geje.
Kala berbicara, ia kerap mengubah huruf mati selain L dengan L, misal awas jatul, jangan lupa dipilil dan sebagainya. Tingkahnya ini membuat kami terbahak-bahak.
Apipah bisa dibilang jagonya perihal asmara, tapi sejago-jagonya dia, dia malah curhat perihal asmara kepadaku, orang yang sama sekali tidak jago di bidang itu.
Tapi aku bersyukur, itu artinya ia percaya. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu. Meski aku akan lebih banyak tersenyum sangat mendengarkan ceritanya, bingung harus berkomentar apa.
Madam, aku juga kerap memanggilnya begitu. Ia sespesies denganku karena kerap menyukai hal-hal yang menurut orang lain aneh di usia kami. Yang benar saja, ia menyukai burung hantu dan aku menyukai balon. Aneh, kan? Tapi kita tidak mau ambil pusing dengan komentar orang lain.
Kemarin saat JJS, dia didaulat sebagai sie kesehatan meski kejiwaannya tidak terlalu sehat, kata Sipol bercanda. Mendengar candaan itu, kami berdua tak henti-hentinya tertawa.
BTW, menceritakan tentangnya tidak akan selesai beberapa bab. Padahal jari rasanya sudah keriting karena mengetik sedari tadi. Dan baterai hape telah meraung-raung meminta untuk diisi.

Sila. Kami memanggilnya Cila. Aku kerap memanggilnya Ngil sebagai nama pena, berasal dari kata tengil. Sudah ku jelaskan padanya, ini karena ia yang acap kali seperti bocah tengil yang begitu berani pada orang dewasa. Dan ia terima-terima saja. Iya, ia tidak takut mengungkapkan apa yang ada dalam kepala yang seukuran dengan batok kelapa itu secara blak-blakan. Pendapatnya amat tengil, kritis dan bringas---Hehe, bahasa beringas kurang tepat, tapi tak apa biar alay-nya dapat---membuat aku hanya bisa tersenyum dalam diam. Betapa beraninya anak ini pikirku. Bagiku itu adalah perilaku yang baik, meski kadang ada beberapa pendapat dan perilakunya yang perlu diluruskan. Tapi bagaimana mau meluruskan, aku lebih sibuk berpikir bagaimana meluruskan diriku sendiri.
Ngil biasa memanggilku Buk, berasal dari Si Sibuk Rupa karena aku yang terlihat begitu sibuk menyelesaikan blog desa saat di posko sebagai tanggung jawabku.
Terlepas dari cara berpendapatnya yang ngejeplak, ia memiliki hati yang baik karena tidak memilih-milih dalam berteman. Ia juga digemari banyak anak kecil karena perilakunya yang begitu hangat terhadap anak-anak.
Tengil suka sekali makan tomat langsung, kebiasaan yang sama dilakukan oleh Madam. Saking langsungnya kadang tidak dicuci terlebih dahulu.

Zain. Mbak Jen adalah patnerku saat pergi ke masjid selain Ana. Dalam beberapa kesempatan ia memanggilku dengan sebutan Bunda. Katanya karena aku sering ikut bersholawat lantang seperti Mbak Rika, anak Bunda, ustazah di Masjid. Aku hanya pasrah diberi sebutan demikian.
Mbak Jen kalau makan sedikit dan lama. Pernah suatu ketika aku mengambilkan porsi makan yang banyak untuknya. Tapi malah ia kembalikan lagi. Hmm.
Ia adalah orang yang paling sering bilang ingin pulang padaku. Aku hanya mampu mengatakan padanya untuk bersabar, jalani, hayati dan nikmati. Mbak Jen pun terdiam. Aku mafhum, tidak mudah mendengarkan nasehat dari orang lain. Apalagi dari orang sepertiku.
Mbak Jen juga patner kalau beli-beli ke warung. Kami berjalan menuju warung terdekat kala terik mentari menyengat. Padahal biasanya yang lain menempuh dengan sepeda motor. Hehe.

Fanti (Baca: Feintai). Anak ini juga berperilaku begitu hangat pada anak-anak. Tak heran saat ke masjid, yang sering anak-anak tanyakan padaku adalah dia. Feintai itu suka mengawali pertanyaan atau komentar dengan kalimat: "Opo seh?" dengan nada khas. Jika belum memahami karakternya, seseorang akan mengira Feintai adalah orang yang nyinyir. Padahal dia amat baik. Dia menyebutku vlogger karena menurutnya aku seringkali ngevlog dan ngedagel (entah bagaimana tulisannya. Ngedagle? Ah, tau ah). Lagi-lagi katanya itu kata Sipol.
Feintai menghadiahiku buku Tajwid. Ah, aku sungguh terharu dan berterima kasih padanya. Hadiah itu kudapatkan setelah sebelumnya aku mengungkapkan jika aku ingin belajar membaca al-Qur'an padanya. Namun karena kami akhirnya berpisah, ia kemudian menghadiahiku buku itu.
Feintai bercerita bahwa dulu ia sempat tinggal di pesantren Tahfiz dan menghafal juz 30. Sungguh fakta yang mengesankan. Semoga berkah.

Nayla. Biasanya aku memanggilnya Mbak Nay. Tapi akhirnya ikut yang lain memanggil Bundo. Kala itu ia tiba-tiba tergugu. Aku hanya menepuk lembut bahunya tanpa berani bertanya kenapa. Tapi ia langsung berkata, "Nanti aku pengin curhat ke kamu ya, Lu." "Iya," langsung ku jawab. Namun hingga kini ia belum sempat bercerita kepadaku. Ku yakin kini ia telah baik-baik saja.
Meski dipanggil Bundo, wajah Mbak Nay amat imut tidak seperti seorang Bundo, hehe. Dia pandai memasak karena sering ikut membantu usaha catering Ibunya. Sungguh fakta yang awalnya lumayan mengejutkan karena ku pikir ia tidak bisa memasak.
Saat pertama mengenalnya, kesan pertama yang kudapat tentang Bundo adalah anak yang ceria karena mudah tertawa.

Mutia. Dari sononya ia dipanggil Mumu. Dia patnerku saat belanja ke pasar. Saat pertama kali ke pasar kami kesasar. Kami tiba di pasar yang salah. Alhasil yang kami dapati adalah pasar yang sepi. Setelah menelfon dan bertanya akhirnya kami pergi ke pasar yang menjadi tujuan awal. Di sepanjang perjalanan, kami terbahak memikirkan kemahadodolan yang kami perbuat.
Di hari pertama ke pasar, aku belajar banyak dari Mumu. Salah satunya, saat membeli telur, kita harus memilih penjual telur yang memiliki timbangan. Saat membeli bahan makanan yang terkemas, jangan lupa mengecek tanggal kadaluarsa. Jangan lupa menghitung uang kembalian kembali. Meski aku tahu hal itu, aku kerap mengabaikan. Dari Mumu aku belajar untuk tidak mengabaikannya.
Mumu ahlinya bersih-bersih dan mencuci baju. Dengan Feintai ia menerima penitipan baju untuk dicuci. Biasanya yang nitip adalah para kaum adam. Mereka akan menerima dan mencucinya tanpa segan.

Aku. Feintai memanggilku Lulu. Akhirnya yang lain ikut meneladaninya. Aku bingung kalau sudah diminta untuk menceritakan tentang diri sendiri. Yang ku tahu adalah aku menyayangi mereka semua. Aseek, peres. Entah bagaimana dan seperti apa pendapat mereka terhadapku. Yang terpenting Ana pernah mengajariku bermain Uno. Krik, krik.

Sekian.

Kalau masalah perihal rumah tangga---Siah. Iya, kan kita (KKN 17) ini berumah tangga selama 26 hari, kan---semacam sebelum-sebelumnya sungguh aku tidak pernah sekalipun memelihara sakit hati apalagi benci. Ini bukan hanya karena aku tidak ikut andil dalam permasalahan atau ingin bersikap netral, namun karena aku berpikir, bagaimana pun mereka adalah keluarga. Aku juga pernah membaca, jika orang yang bisa dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang relatif tinggi adalah mereka yang lebih suka untuk menghindari masalah. Untuk itulah, orang-orang seperti ini biasanya acuh saat beberapa teman sedang menggunjingkan seseorang. Orang seperti ini juga tidak terlalu memperhatikan perilaku menyakitkan seseorang padanya karena lebih peduli dengan masa depan.

Bukan apa-apa, tapi memang apa-apa. Aku hanya ingin damai dengan menyemai senyum tulus. Ini jika perihal masalah rumah tangga. Beda lagi jika tentang program kerja yang ngadat dan menyusahkan negara. Anggap saja Desa Langsar adalah miniatur negara bagi kami dimana kami berkewajiban untuk berkontribusi. Jika perihal itu aku tidak akan netral, meski ujung-ujungnya aku hanya mampu mengingatkan sedikit saat rapat evaluasi, bukan sekelas pemberontak dan pendobrak yang berani. Inilah yang pada akhirnya hanya menjadikan pengingat itu angin yang begitu saja lewat. Tak apa, setidaknya aku telah berusaha mengingatkan mereka, terlebih lagi diriku pribadi.

Hanya sebatas mengeluarkan pendapat. Namun ampuh membuatku tidak sampai memelihara sakit hati, benci hingga timbul permusuhan. Kadang kala aku sedih sendiri melihat yang sana dan sini berseteru. Tapi aku mengerti, mereka sebenarnya lebih dari tahu. Hanya mereka terlalu keras kepala untuk menerima. Menerima perbedaan dengan lapang dada. Biarlah, suatu saat mereka juga akan mengerti. Bahwa hidup tak hanya sampai disini dan begini.

Mereka adalah keluargaku. Tak peduli isu perihal kubu-kubu. Aku akan tetap menyayangi mereka. Tak kubiarkan penyakit dalam hati tumbuh apalagi merajalela.

---

Tapi tidak sampai siang ini. Iya, siang ini. Saat aku bangun dari tidur siang. Sekitar satu jam lebih aku menghabiskan waktu untuk tidur siang. Dan ketika bangun, aku benar-benar sakit hati. Seperti ada yang menusuk dalam-dam ke sanubari. Aku sakit hati. Mengapa mereka tega sekali!

Sakit hati ini timbul saat mendengar pernyataan dari seorang teman. Teman KKN 17 juga pastinya. Ia orang yang begitu polos. Aku belajar untuk bersikap independen dan menolak membiacarakan orang lain di belakang juga darinya. Ia tidak pamrih. Karena ia membantu tanpa tebang pilih. Pun ia adalah seseoranh yang bekerja secara maksimal. Dan ia jujur. Lalu bagaimana aku tidak percaya atas apa yang dikatakannya. Memang, kita tidak lantas mudah percaya. Tapi kenyataan kali ini mengatakan demikian.

"Anak-anak pergi liburan," katanya polos. "Hah? Kamu tidak berbohong, kan?," tanyaku kaget. "Iya, aku juga tidak habis pikir," jawabnya. "Allah. Iya, sih tadi mereka berenam pamit pergi tapi pas ditanya mau kemana ga dijawab jelas." aku mengomentari. "Hmm, sudahlah. Mereka memang begitu. Aku tidak menyangka." "Aku juga," kataku dengan lesu. Hanya sebegitu percakapannya, tapi tiba-tiba saja hatiku seperti tertusuk entah oleh apa. Mengapa mereka begitu tega? Mereka sudah benar-benar kuanggap sebagai keluarga!

Beragam bayangan berputar-putar dalam benakku. Tentang komitmen dalam rapat evaluasi untuk menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Tentang aku yang sebenarnya ingin melepas lelah bersama-sama. Usai berlelah-lelah bersama-sama pula. Tentang segalanya. Tentang segalanya.

Sakit hati yang akhirnya membawa aku ikut tega membiarkan beras masih ada di toko. Tidak dibeli lantas ditanak untuk mereka.

"Sudah, gausah masak. Mereka pasti udah seneng-seneng disana. Sudah makan juga di warung kaki lima." "Tapi, kasian.." aku berkilah. "Sudahlah.."

Akhirnya aku menurut saja. Perbuatan yang benar-benar pada akhirnya ku sesali hingga kini. Aku tidak sampai hati melihat mereka yang kelelahan saat sampai di posko dan ternyata belum makan. Lalu mereka menanak nasi sendiri setelah sebelumnya mendumal sebal. Sementara aku betul-betul merasa bersalah. Maafkan aku, ya.

---

Saat menyiapkan hidangan untuk malam perpisahan, beberapa orang enggan membantu. Dan aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak mau membalas api dengan bara. Akhirnya, dengan beberap teman aku ikut membantu mereka selaku penanggung jawab hidangan. Memang amat melelahkan, karena kami memasak besar. Apalagi ancene loro ati (Sebenarnya sakit hati, Red). Tapi aku tidak ingin merasa bersalah lagi. Biarlah orang seperti apa kata Tere Liye, yang terpenting bukan kita.

Kala membantu itu sebetulnya masih ada secuil perasaan sakit hati usai berusaha ku hapus dari kemarin hari. Aku tidak percaya. Aku seperti sakitnya orang yang dikhianati. Entah seperti apa. Entah perasaan apa ini. Benarkah aku sampai sesakit hati itu? Entahlah. Yang jelas, berkatNya, kini sakit hati itu telah berhasil aku buang jauh-jauh. Karena aku selalu percaya, jika segalanya sudah ada yang Maha Mengatur. Allah saja Maha Pemaaf, bagaimana dengan hambanya. Lagipula, siapa yang menjamin kalau ternyata kita juga memiliki kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja. Wallahua'lam.

"Sudahlah, gausah dipikirkan. Masak kita terus yang ngambilin. Mereka tinggal makan."

---

Berbuat baiklah setinggi gunung Himalaya. Jika tidak dilakukan dengan ikhlas dan masih menggerutu, maka tiadalah berguna.

Memasak setiap hari, membersihkan posko dan lain sebagainya jika tidak disertai keikhlasan maka hanya akan menjadi amalan yang sia-sia. Lebih baik diam dan tak usah mengerjakan macam macam.

Kata Buya Hamka, kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau hidup sekadar untuk makan, mereka juga demikian!

Kalimat diatas sungguh membuat hatiku teriris meski aku tidak dimaksud dalam bagian kata "mereka". Aku hanya berpikir, mereka kan juga tidak pernah meminta untuk diambilkan. Kenapa jadi kita yang bersitegang. Perihal apapun itu, sungguh sudah ada yang Maha Mengatur.

Aku juga heran kenapa mereka sampai hati berbicara di belakang, lantas tersenyum manis di depan. Tidak hanya mereka, tapi siapapun itu. Aku mungkin juga pernah begitu. Aduhai, tidakkah jadi beban? Beban, karena hidup tidak dijalani dengan ketulusan.

Huh! Kalau sudah begini, ingin rasanya segera pulang. Bertemu kembali dengan orang-orang yang sejalan. Tapi artinya aku kalah sebelum berperang. Untuk itulah aku berusaha bertahan.

Ingat, untuk apa senantiasa mengawinkan alis. Dalam hidup, kebajikanlah yang perlu dilukis.

Hari ini adalah hari kedua kami mengadakan lomba anak untuk memperingati HUT RI ke-72. Seru sekali. Kemarin lomba lari kelereng, lomba makan kerupuk dan lomba mencari koin dalam tepung. Kali ini lomba memasukkan benag ke dalam jarum, lomba joget balon, dan lomba memukul air dalam keadaan mata tertutup. Para anak-anak kecil Langsar begitu antusias mengikuti perlombaan.

Aku ikut membantu PJ lomba untuk menyiapkan keperluan dan melancarkan jalannya acara. Senang sekali bisa mengingatkan generasi muda akan hari kemerdekaan negaranya dengan beragam perlombaan yang dapat melatih keaktifan, percaya diri, fokus, sportif dan lain sebagainya.

Hari ini juga hari kedua puluh dua kuliah kerja nyata yang kami jalani di desa ini. Pun sekali lagi, hari kedua perlombaan anak berlangsung. Dari hari pertama dan kedua perlombaan, ada dua kejadian yang membuat aku berulangkali merenung.

Kejadian pertama saat lomba memakan kerupuk. Seorang anak perempuan berperawakan berisi begitu bersemangat mengikuti lomba ini, begitu pula yang lain. Pada detik-detik terakhir sekalipun ia tetap berusaha menghabiskan kerupuknya, meski setelah melirik cepat pesaingnya telah lebih sedikit kerupuknya. Tapi ia tidak mau berhenti disitu. Anak itu tetap berjuang hingga detik akhir, meski tetap tidak memenangkan lomba.

Pada kloter kedua lebih menarik lagi. Seorang anak kecil, laki-laki. Ia juga tidak kalah perjuangannya. Seperti seorang anak perempuan di kloter sebelumnya. Awalnya nampak bahwa ia akan dikalahkan oleh yang lain. Tapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kami perkirakan. Ia malah memenangkan kloter kedua ini.

Kedua anak tersebut mengajarkan padaku tentang betapa pentingnya sikap pantang menyerah. Kadangkala, kita sudah merasa lelah saat telah berjuang dan menurut kita sudah terlampau lama. Padahal, barangkali saat kita memutuskan untuk berhenti berjuang dan bermimpi ternyata kita sedikit lagi akan tiba di garis finish. Memang, hasilnya tidak akan selalu sesuai keinginan seperti kemenangan yang diraih anak kecil laki-laki itu. Tapi, tak ada yang percuma bagi kita yang mau berusaha. Anak kecil perempuan yang telah berjuang itu barang kali tidak pernah peduli dengan hasilnya. Bisa jadi ia hanya ingin berusaha sampai pada titik akhir. Agar tidak ada penyelesan yang membelenggu di kemudian waktu. Perihal hasil yang tidak sesuai keinginan, sebenarnya telah Tuhan siapkan dengan sesuatu yang lebih indah.

---

Kejadian kedua, ialah saat perlombaan memukul air dalam keadaan mata tertutup. Aku memperhatikan seorang anak kecil dari jarak beberapa meter sambil membantu mengikat bungkusan air untuk perlombaan. Ia tengah dibantu panitia lomba untuk menutup matanya dengan sebuah kerudung tipis yang kemudian dilipat-lipat. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu, mengikuti lomba, setelah dari tadi menunggu namanya dipanggil. Lantas aku bertanya-tanya dari kejauhan saat setelah sepersekian detik panitia menutup mata anak itu, ia segera membuka penutup mata dengan paksa. Akhirnya dengan dibantu panitia lomba pula penutup itu terbuka. Matanya pun terbuka. Cairan bening menyeruak keluar.

Aku bertanya, apa yang membuatnya menangis. Kudapatkan jawaban, ternyata anak itu memang takut kegelapan, phobia. Duh, Gusti. Sungguh kejadian itu benar-benar membuatku merenung lama. Anak laki-laki itu paham betul dengan kelemahannya tapi ia tidak takut untuk mencoba. Bulu kudukku seolah berdiri kala bayangan kejadian itu lewat dalam benakku. Betapa ia telah mengajari kita, bahwa kelemahan lantas tidak menjadikan kita takut untuk mencoba. Wallahua'lam.

Menurut beberapa sumber, Nyadhâr adalah tradisi masyarakat petani garam desa pinggir papas. Nyadhâr dilakukan di kompleks makam leluhur yang biasa disebut Asta dan Bhûjuk Ghûbâng. Tradisi yang dilakukan tiap tahun ini  berlokasi di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.  Semua warga akan sibuk memasak dalam jumlah besar dan nantinya akan dijadikan sebagai sesajen dalam perhelatan Nyadhâr. Perhelatan ini puncaknya pada siang hingga sore hari. Sedangkan malamnya, masih tetap ramai dengan berupa orang berjualan jajanan dan beranekaragam kebutuhan ataupun pernak pernik kehidupan.

Begitu sih sekelumit informasi yang aku dapatkan dari beberapa orang kala itu. Belakangan ku cari di beberapa sumber di internet yang menceritakan tradisi ini lebih detil lagi. Ternyata memang menarik sekali. Kalian bisa mencarinya sendiri. Hihihi.

Aku hanya ingin bercerita perihal aku yang pada mulanya kebingungan dengan tujuan anak-anak malam ini. Saat aku bertanya, mereka menjawab seolah sekenanya; "Mau naik kapal". Dan aku tidak serta merta percaya. Masak iya malam-malam seperti ini? Akhirnya aku terus saja mendesak bertanya, satu persatu pada mereka. Jawaban yang kudapatkan adalah sama. Kami bersepuluh berangkat dengan aku yang masih kebingungan akan tempat yang hendak dituju. Padahal hukum Islam mengatakan, seorang muslim wajib menolak jika diajak ke suatu tempat yang belum jelas dimana, mengapa dan untuk apa. Tapi lihatlah, aku malah menurut saja, ikut bersama mereka.

Akhirnya kita tiba di sebuah desa. Usai memarkirkan kendaraan kita berjalan  menuju keramaian. Belum mencapai lokasi, tapi memang sudah begitu ramai. Di jalan-jalan sempit, di rumah-rumah, semua disesaki berupa-rupa manusia. Di pinggiran gang sempit, banyak sekali orang berjualan jajanan khas setempat. Iya, desa ini lebih mirip perumahan daripada pedesaan karena rumah-rumah yang terlihat berdempetan.

Mataku makin terkesiap dan sedikit makin bingung melihat orang yang semakin banyak. Aku terus berjalan mengikuti teman yang berada di paling depan. Sesekali melihat kanan-kiri. Ku dapati di beberapa rumah, ibu-ibu tengah memasak besar di halaman mereka. Tungku api terlihat begitu merah menyala. Sedang aku terus berjalan, masih kebingungan.

Dan, kita tiba di antara banyaknya orang yang berjualan beraneka ragam barang. Hmm, tempat ini lebih persis pasar malam. Benar-benar ramai. Aduh, mereka harusnya tahu, aku sering kali tidak suka keramaian seperti ini.

Kita tak berhenti disitu. Kita terus berjalan. Lalu melewati bangunan tua, katanya itulah pemakaman leluhur yang dijadikan lokasi untuk Nyadhâr. Benar, terlihat tempat-tempat sesajen masih banyak tersisa disana. Oh, ini rupanya. Lantas mana kapalnya, tanyaku dalam kalbu.

---

Langkah kita terhenti. Antrian. Wow. Kapal! Ternyata benar, kita akan naik kapal. Hehe, dasar dodol! Terus saja sebut getek itu kapal. Eh, entah apa namanya. Aku lebih suka menyebutnya kapal. Bentuknya seperti di film-film barat tentang hiu dan buaya. Jika tidak salah judulnya Shark Night 3D. Belum lagi air sungai yang berwarna coklat, menambah kemiripan dengan latar yang dalam film. Sedikit menyeramkan untuk orang awam.

Beberapa dari kami ketakutan. Aku juga demikian. Karena tak ada penerangan di sungai selain sebuah lampu yang ada di dalam kapal, eh getek. Tapi aku benar-benar penasaran. Setelah membujuk beberapa orang yang enggan, akhirnya kami semua ikut menaikinya.

Senangnya! Ini seperti mimpi masa kecilku. Saat ingin menjadi reporter seperti dalam acara Jejak Petualang di Trans 7 dan acara sejenis lainnya. Kemudian sesekali terpejam. Menikmati angin yang menghebus pelan. Menepuk-nepuk kulit wajahku dengan lembut. Wuth.. Wuth..

Ramainya suara mesin kapal tidak mengurungkan yang lain untuk sibuk berselfie. Meski kapal seperti akan oleng ke kanan atau ke kiri. Juga tidak mengurungkanku yang dari tadi cerewet sekali bertanya pada Bapak paruh baya yang mengemudikan kapal. Untunglah, beliau begitu ramah dan menjawab dengan sabar.

Di sela-sela pertanyaan, aku isi dengan memandang sungai yang temaram. Di pinggiran sungai terlihat pohon yang berjejer rapat, seolah begitu dekat. Ku lihat air sungai coklat, terkena lampu kapal, jadi begitu terlihat. Aku bergidik membayangkan sewaktu-waktu atas kuasaNya kapal ini terbalik. Lantas aku mulai berimajinasi perihal sungai yang pastinya memiliki beragam isi. Namun ingatan seram mengenai film Shark Night 3D tidak mampu mengalahkan senangnya reporter Jejak Petualang KW. Sungguh, aku teramat senang!

Lalu aku mulai berpikir tentang para pelaut yang dulu menentukan arah dengan membaca bintang gemintang. Mereka amat tangguh menyusuri lautan. Menghabiskan hari-hari di lautan yang bisa amat ganas. Melewati segala bala rintangan di laut lepas. Sungguh mengagumkan. Membayangkan mereka hidup dalam ketangguhan.

---

Tak terasa waktu kami telah usai. Sebelumnya kami telah mengumpulkan nominal uang sebagai tarif wisata singkat ini. Aku memekikkan kata terima kasih pada nahkoda dengan riang. Beliau juga membalas dengan rona demikian.

Ah, kesempatan ini benar-benar tidak akan ku lupakan. Pengalaman yang mampu dijadikan bahan perenungan. Tentang dunia yang amat luas untuk dijelajah, tentang kita yang bukan apa-apa dan bisa terhempas kapan saja, tentang alam menakjubkan yang di anugerahkan Tuhan, dan tentang lain-lain.

Kata Ibnu Batutah: travelling, it leaves you speechless then turns you into a storytellers.

Dulu, aku ingin sekali menjadi pembawa acara baik itu formal maupun non formal. Keinginan yang sudah tumbuh sejak lama. Aku lupa kapan kata 'lama' itu bisa dikonversikan dalam bentuk kuantitatif. Yang jelas, waktu SMA keinginan itu masih ada. Hanya berupa keinginan, bukan tindakan yang mengantarku mengikuti eskul Pidato dan MC. Tapi keinginan kadang kala mampu menjadi doa karena terlantun pelan dalam kalbu manusia.

Mungkin itu yang mengantarkanku pada kesempatan pagi ini. Melunasi keinginan untuk menjadi MC. Atau mungkin belum lunas, karena ini baru awal dari sebuah keinginan. Buah dari keyakinan akan selalu datangnya sebuah kesempatan.

Diluar aku yang masih sangat belajar menjadi MC, aku di beberapa hari sebelumnya selalu kepikiran dengan acara ini, Jalan-jalan Sehat demi memeriahkan HUT RI ke-72. Selaku sie acara yang masih amat tertatih belajar, aku takut acaranya akan berantakan. Tapi syukurlah, semua pada akhirnya berjalan sebagaimana mestinya.

Ini karena aku dibantu oleh seorang teman yang tidak pelit berbagi ilmu. Meskipun sebelum hari H JJS (Jalan-jalan Sehat) dia sempat menyebalkan karena menolak ditunjuk sebagai MC non formal. Tapi setelah ku pikir, aku jadi paham, ia masih banyak pekerjaan.

Perkataan yang paling ku senangi darinya antara lain; kan belajar dulu, ga pa-pa, pasti bisa, aku bantu, dan lain-lain. Sebenarnya bukan hanya darinya. Aku mengenal beberapa orang dengan tipikal omongan seperti itu. Bagiku kalimat-kalimat itu amat menenangkan. Membuatku pada orang lain juga berperilaku demikian. Tapi bukan dia orang yang pertama kali mengajariku perilaku seperti itu. Melainkan Ibu.

---

Benar, dia begitu cekatan membantu. Sampai-sampai pada sebuah kejadian lucu. Saat aku salah membaca aba-aba darinya. Kala itu ku kira pita JJS telah dipotong dan saatnya menutup acara dengan doa keberangkatan. Ternyata aku salah, itu aba-aba untuk mempersilahkan pemotongan pita. Alhasil dia yang tadinya berada jauh di depan panggung, di gerbang dimana pita di pasang---kini ia secara ajaib telah menaiki panggung, berada di sampingku. Lalu ia mengambil alih microfon dan mulai berbicara. Para peserta JJS akhirnya berangkat melewati rute yang telah ditentukan. Hanya kita, beberapa panitia yang tinggal. Aku berulang kali merutuki diri yang ceroboh membaca aba-aba. Dia lalu berkata: "Ga pa-pa. Kan baru pertama kali." Aku tidak menggubris perkataannya, aku tetap saja merutuki diri. Lalu aku sempat sebal, dia tidak pernah bilang sebelumnya jika akan mengaba-aba. Hehehe.

Kini saatnya menjadi MC non formal. Dan kata patnerku hanya ada satu microfon. Aku bersorak riang: "Ya udah kamu aja ya, Cil." pada patner MC non formalku itu. "Beh, janganlah. Tetap kita berdua. Nanti mic gampang." Namun ternyata aku tidak juga dipanggil, biarlah patnerku itu yang berkreasi. Lebih-lebih aku bersyukur kala itu karena tidak paham MC non formal sama sekali. Hehehe. Meski sebenarnya siapa saja boleh belajar. Hanya saja menunggu waktu dan kesempatan tergelar.

Usai acara, ku tanyai teman panitia satu-satu. Ternyata tidak ada yang ngeh dengan kesalahanku. Tidak terlihat. Hahaha. Syukurlah.

---

Saat malam inagurasi lagi-lagi aku ditunjuk menjadi pembawa acara. Kali ini bersama Rima. Dia yang dulu membantu saat JJS, berjanji akan membantu pula kali ini. Aku kadang tersenyum sendiri seperti orang gila karena melihatnya serupa orang kebakaran jenggot, meski dia tidak memiliki jenggot. Lihatlah, ia pontang panting kesana kemari memastikan kami menghandel acara dengan benar. Aku benar-benar menahan tawa kala melihat ia tiba-tiba muncul hanya bagian kepala, tangannya menyibak tirai dari belakang panggung. Lantas berbicara cepat, aku hanya menggangguk menahan tawa, sesekali berkata iya.

Malam ini aku salah menyebut kata tiga dengan dua kala memanggil pemenang lomba agustusan anak. Jadi aku berkata begini: Juara pertama dimenangkan oleh ananda bla bla bla, juara kedua dimenangkan oleh ananda bla bla bla dan juara "kedua" diraih oleh bla bla bla. Hahaha, langsung saja aku ralat: "Maaf, maksud saya juara ketiga..dst.."

Huaaa, ternyata menjadi pembawa acara tidak semudah yang aku kira. Perlu banyak latihan dan juga pengalaman. Padahal selama ini aku hanya pandai mengomentari. Tanpa berkaca dulu pada diri sendiri.

Tapi sungguh, aku bersyukur karena Allah telah mengijinkan aku merasakan pengalaman ini. Pengalaman yang bisa menjadi guru terbaik. Aku juga berterima kasih pada dia yang telah menjadi guruku kala itu. Tiada merugi orang yang senantiasa berbaik hati membagi ilmu.
Orang-orang yang mampu menorehkan kejadian yang kapan saja akan ku rindu.

Terima kasih.

Note: Kek apa gitu ya, dia-dia tok. Oke, gue jelasin. Jadi di cerita ini ada empat orang. Gue, Cila patner MC non formal tapi gue gajadi ngeMC, Rima patner MC formal gue pas inagurasi dan Sipol yang ngajarin kita ngeMC. Oke, clear kan, ya? Hehehe.

Hade, kenapa selalu gue yang disuruh ngajar. Hmm. Gue cuma mikirin kalo kesempatan ngajar itu kudu dirasain semua anggota. Jadi kek bergilir gitu. Biar semua sama-sama dapet pengalaman. Pun kalo pas ngomong, gue pengennya semua bisa gantian di beberapa kesempatan. Jadi semua bisa belajar ngomong, meskipun kadang kesempatan buat setiap orang ga selalu dateng bersamaan. Dan Alhamduliilah, opsi ini diterima sama PJ-nya. Jadi kesemua anggota ngerasain ngajar bocah-bocah yang terlampau menggemaskan. Hehehe.

---

Berdasarkan pengalaman gue ngisi kelas di SDN Langsar 1 dan SDN Langsar 2, gue bisa sedikit nyimpulin kalo umumnya murid-murid di dua sekolah itu punya perbedaan yang mencolok. Anak-anak di SDN Langsar 1 teramat sangat aktif sekali banget. Kalo di SDN Langsar 2, anak-anaknya kalem-kalem. Sampe kadang garuk-garuk kepala yang ga gatel kalo pas disuruh maju ke depan kelas tapi kekeuh ga mau. Kalo uda kek gitu, akhirnya mikir cara biar mereka bisa sama-sama belajar buat percaya diri. Tapi, mikir lagi, apapun dan bagaimanapun, mereka sama-sama istiqomah *eh maksud gue istimewa. Potensi emang wajib digali sejak dini, tapi kita sebaiknya ga maksain buat 'ngeledakinnya' sekarang, semau kita. Biarlah waktu yang ngejawab sembari berusaha.

---

Ba'dha Isya' ceritanya kami rapat panitia JJS bersama Bu Kades. Ternyata oh ternyata rapatnya ga sampe 15 menit, sedang dengerin ceritanya ampe sejaman ato bahkan lebih. Pengalaman Bu Kades yang apa adanya itu bikin deretan gigi gue kering karena terus saja dipamerkan. Butuh make up yang akhirnya mampu menghilangkan kerutan dan nyegah penuaan karena sedari tadi memicingkan mata dan menyunggingkan senyum. Duh. Hehe. Eh, tapi bagi gue, kadangkala pendengar yang baik jauh lebih unggul daripada pembicara yang baik. Beberapa orang lebih seneng kalo ceritanya didengerin daripada terus dikomentarin sampe yang cerita berenti, balik dengerin komentar yang bisa jadi lebih panjang, padahal yang cerita belum selese. Karena seringkali tujuan seseorang nyeritain pengalaman pribadi itu buat nyalurin emosi bukan buat dikasih komen atau solusi.

Adapun di setiap pengalaman akan selalu terselip pelajaran. Penyampaian Bu Kades yang sederhana tidak sedikit pun mengurangi makna cerita, salah satunya tentang; Keajaiban dari Tuhan. Kiamat kecil yang terjadi seketika di masa lalu ternyata telah membuka pintu kesempatan yang bahkan tidak pernah beliau impikan. Ia tidak pernah berpikir jika orang sepertinya---yang dulunya 'kalem' banget kalo di kelas---akan diberikan kesempatan yang sedemikian besar. Kira-kira begitu kalimatnya setelah mendengar ulasan yang terdengar tawaddu' itu. Beliau hingga saat ini masih saja takjub dengan kesempatan yang dilimpahkan padanya pada saat itu, saat yang teramat tepat. Apalagi beliau merasa telah diberi daya, kekuatan dan kemudahan untuk melahap kesempatan itu. Yah, wallahua'lam.

Gue jadi inget sama kalimat: "Pergunakanlah kesempatan dengan baik, karena ia seperti awan yang berlalu."

---

Kawan lihatlah, dua toples camilan sebagai hadiah para pendengar yang baik diminta untuk dibawa pulang, hehehe. Sekarang, Iya, sekarang. Saatnya gue menuntaskan beberapa tugas, barangkali mereka adalah kunci-kunci yang mampu membuka pintu-pintu kesempatan. Siaah, alay😒

Sumenep, 2017

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Image
    Selamat Bertunangan

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates

Advertisement