Setiap orang yang lahir ke dunia ini memang tidak pernah bisa memilih untuk lahir dari siapa. Apakah orang tua yang melahirkan dan membesarkannya nanti kaya atau tidak. Mungkin jika bisa memilih, ada orang kaya yang ingin menjadi sederhana agar ketika dia sukses, tidak ada yang menghujatnya karena dianggap tidak perlu berusaha-pun hasilnya akan demikian, sebab telah memiliki privilege sejak lahir. Padahal hakikatnya setiap orang memiliki privilege mereka masing-masing. Tinggal bagaimana kita mendefinisikan kata itu sendiri. Sama halnya dengan orang yang tidak mampu. Jika boleh memilih, mungkin mereka ingin sekali lahir dari keluarga dengan profesi yang settle bahkan kaya raya. Maka bagiku, yang bisa kita lakukan adalah bersyukur atas apapun yang kita dapatkan.
Bersyukur jika memang kita terlahir dari keluarga yang berada, pun dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tentu bukan berarti tidak boleh mempunyai impian untuk memiliki perekonomian yang lebih baik di masa depan. Sebab barangkali dengan begitu, kita lebih mudah berbuat banyak kebaikan, seperti meng-upgrade kapasitas diri ataupun berbagi kepada banyak orang. Betul petuah yang pernah disampaikan guruku: “Orang kaya yang hebat adalah mereka yang rendah hati dan mau berbagi. Sedang orang miskin yang inspiratif adalah mereka yang bangga dengan background hidupnya dan mau bekerja keras.” Mendengar itu aku merinding sendiri, mengingat banyak orang yang lahir dari keluarga mentereng, namun tetap mau mandiri dan tidak mau bergantung. Pun kaum papa yang berhasil membangun finansialnya dari nol dan tak malu membagikan kisah masa lalu.
Ukuran
finansial yang mapan dari seseorang seringkali dikaitkan dan dilihat dari
tampilan mereka. Dari apakah outfit yang mereka gunakan sudah disertai dengan sepatu
dan tas-tas dengan merk ternama dan harga yang menjulang, serta kulit yang glowing,
dan lain sebagainya. Padahal kita tahu, pada faktanya tidak selalu begitu. Well, memiliki penampilan yang baik---bukan
untuk membuat terkesan orang lain dan mengagugkan diri---memang tidak
dilarang. Agama juga sangat menganjurkan untuk memelihara kebersihan dan
keindahan. Namun beda lagi jika sudah mengarah pada hal-hal yang berlebihan. Itulah
mengapa, miris ketika saat ini beberapa orang berlomba-lomba untuk terlihat mapan
dan mengesankan dengan menampilkan outfit yang harus senantiasa in, wajah glowing bahkan kemewahan dimiliki.
Betul, betul, tidak semua orang memiliki niat pamer dan niat buruk lainnya---barangkali, sebagai pengamat, jangan-jangan kitalah yang paling perlu untuk
menjaga hati---itulah kenapa aku tulis ‘beberapa orang’ saja. Yang kemudian
kerap secara tidak langsung dicontoh oleh orang lain, terus berulang hingga lebih
banyak lagi orang yang melihat kemudian mengadopsi.
Kenapa
bisa seperti itu? Yup, panjang ceritanya. Media juga salah satu yang dinilai sangat berperan
mempromosikan hal tersebut. Ketampanan dan kecantikan kerap hanya dinilai dari
tampilan: warna kulit, bentuk tubuh, outfit
dan lainnya. Akhirnya konten-konten terkait yang berasal dari
masyarakat pun mulai bertebaran. “Hei! Tidak
masalah. Ini adalah hal positif dan bukti pemanfaatan pipa-pipa modern untuk mengasah
kreativitas, menebarkan motivasi dan atau sekadar hiburan saja. Jangan terlalu
serius.” Sepakat. Namun menjadi perlu berhati-hati ketika kemudian ini
adalah ajang untuk berlomba-lomba terlihat baik hanya dari tampilan saja, kemudian mudah men-judge orang lain hanya
karena mereka tidak sama dengan pemahaman standar kecantikan dan ketampanan
yang kita miliki, yang ujung-ujungnya di buat oleh beberapa perusahaan dan media itu sendiri.
Personally, aku tidak bisa bilang trend itu hanya “baik” atau “buruk” saja. Ada banyak sisi yang perlu diamati. Jika trend tersebut justru lebih meningkatkan kreativitas kita dalam memadu-padan-kan outfit maka sah-sah saja. Tinggal mengasahnya ke arah yang lebih baik dan luas lagi. Siapa tahu kelak bisa menjadi designer hebat di masa depan. Kemudian trend make up dan skin care yang kian menjamur, menjadikan kita konsumen yang kian cerdas dalam memilih make up yang friendly untuk kesehatan, finansial, dan lain hal. Dari situ kita jadi lebih berhati-hati memilih skin care dan tidak gampang termakan iklan dan hasil instan. Siapa tahu, karena keingintahuan yang begitu besar, kelak bisa memiliki perusahaan kecantikan kita sendiri, yang campaign-nya lebih membumi dan masuk akal. Tidak hanya menjadi budak perusahaan dan mengkotak-kotakkan definisi kecantikan. Sebab cantik itu beragam, tidak hanya dilabeli pada mereka yang berkulit putih ataupun cerah. Sehingga kulit yang harusnya didambakan ialah kulit yang bersih dan sehat.
Membuat konten-konten inspiratif, menyukseskan pagelaran,
teater, film dan festival budaya lewat make
up juga bisa menjadi alternatif lain untuk dijadikan sebuah list dalam impian.
Jadi, sisi baik yang bisa diambil adalah, mungkin trend ini tidak hanya
meningkatkan kreativitas namun juga membangun karakter para pemuda yang lebih inovatif,
mandiri, matang dan mempunyai pemikiran yang jauh lebih berkembang. Lebih jauh
lagi bisa membanggakan dan membawa nama baik Indonesia untuk mampu bersaing di
kancah internasional.
Sedang sisi buruknya terjadi jika kita
hanya melihat tiga hal itu dari sudut yang begitu sempit. Mempunyai kulit
cerah, outfit modis, dan make up keren hanya untuk dibanggakan
kepada orang lain. Tentu seperti yang
sudah kutulis, tidak semua yang pandai memadu-padankan outfit, make up dan sukses memilih skin care tidak memiliki faedah sama sekali. Lalu kemudian
menuntut mereka harus mengambil ‘sisi baik’ dari tulisan ini dan menjadi ‘orang
besar’, bukan sekadar orang yang biasa-biasa saja saat ini maupun di masa depan
nanti. Sungguh tidak demikian. Live your life: menjahit baju untuk outfit sendiri, make up sendiri saat wisuda dan lebih memahami keberagaman definisi
kecantikan dan ketampanan juga sudah merupakan kemajuan atau bahkan
prestasi yang luar biasa. Sehingga setelah ini orang yang insecure hanya karena tidak memakai barang branded dan tidak berwajah ‘glowing’ dalam artian sempit akan jauh
lebih berkurang. Setidaknya, itu bagiku
dan harapanku. Juga reminder untuk
diriku sendiri.