Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

            Setiap orang yang lahir ke dunia ini memang tidak pernah bisa memilih untuk lahir dari siapa. Apakah orang tua yang melahirkan dan membesarkannya nanti kaya atau tidak. Mungkin jika bisa memilih, ada orang kaya yang ingin menjadi sederhana agar ketika dia sukses, tidak ada yang menghujatnya karena dianggap tidak perlu berusaha-pun hasilnya akan demikian, sebab telah memiliki privilege sejak lahir. Padahal hakikatnya setiap orang memiliki privilege mereka masing-masing. Tinggal bagaimana kita mendefinisikan kata itu sendiri. Sama halnya dengan orang yang tidak mampu. Jika boleh memilih, mungkin mereka ingin sekali lahir dari keluarga dengan profesi yang settle bahkan kaya raya. Maka bagiku, yang bisa kita lakukan adalah bersyukur atas apapun yang kita dapatkan.

 Bersyukur jika memang kita terlahir dari keluarga yang berada, pun dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tentu bukan berarti tidak boleh mempunyai impian untuk memiliki perekonomian yang lebih baik di masa depan. Sebab barangkali dengan begitu, kita lebih mudah berbuat banyak kebaikan, seperti meng-upgrade kapasitas diri ataupun berbagi kepada banyak orang. Betul petuah yang pernah disampaikan guruku: “Orang kaya yang hebat adalah mereka yang rendah hati dan mau berbagi. Sedang orang miskin yang inspiratif adalah mereka yang bangga dengan background hidupnya dan mau bekerja keras.”  Mendengar itu aku merinding sendiri, mengingat banyak orang yang lahir dari keluarga mentereng, namun tetap mau mandiri dan tidak mau bergantung. Pun kaum papa yang berhasil membangun finansialnya dari nol dan tak malu membagikan kisah masa lalu.

Ukuran finansial yang mapan dari seseorang seringkali dikaitkan dan dilihat dari tampilan mereka. Dari apakah outfit yang mereka gunakan sudah disertai dengan sepatu dan tas-tas dengan merk ternama dan harga yang menjulang, serta kulit yang glowing, dan lain sebagainya. Padahal kita tahu, pada faktanya tidak selalu begitu. Well, memiliki penampilan yang baik---bukan untuk membuat terkesan orang lain dan mengagugkan diri---memang tidak dilarang. Agama juga sangat menganjurkan untuk memelihara kebersihan dan keindahan. Namun beda lagi jika sudah mengarah pada hal-hal yang berlebihan. Itulah mengapa, miris ketika saat ini beberapa orang berlomba-lomba untuk terlihat mapan dan mengesankan dengan menampilkan outfit yang harus senantiasa in, wajah glowing bahkan kemewahan dimiliki. Betul, betul, tidak semua orang memiliki niat pamer dan niat buruk lainnya---barangkali, sebagai pengamat, jangan-jangan kitalah yang paling perlu untuk menjaga hati---itulah kenapa aku tulis ‘beberapa orang’ saja. Yang kemudian kerap secara tidak langsung dicontoh oleh orang lain, terus berulang hingga lebih banyak lagi orang yang melihat kemudian mengadopsi.

Kenapa bisa seperti itu? Yup, panjang ceritanya.  Media juga salah satu yang dinilai sangat berperan mempromosikan hal tersebut. Ketampanan dan kecantikan kerap hanya dinilai dari tampilan: warna kulit, bentuk tubuh, outfit dan lainnya. Akhirnya konten-konten terkait yang berasal dari masyarakat pun mulai bertebaran. “Hei! Tidak masalah. Ini adalah hal positif dan bukti pemanfaatan pipa-pipa modern untuk mengasah kreativitas, menebarkan motivasi dan atau sekadar hiburan saja. Jangan terlalu serius.” Sepakat. Namun menjadi perlu berhati-hati ketika kemudian ini adalah ajang untuk berlomba-lomba terlihat baik hanya dari tampilan saja, kemudian mudah men-judge orang lain hanya karena mereka tidak sama dengan pemahaman standar kecantikan dan ketampanan yang kita miliki, yang ujung-ujungnya di buat oleh beberapa perusahaan dan media itu sendiri.

            Personally, aku tidak bisa bilang trend itu hanya “baik” atau “buruk” saja. Ada banyak sisi yang perlu diamati. Jika trend tersebut justru lebih meningkatkan kreativitas kita dalam memadu-padan-kan outfit maka sah-sah saja. Tinggal mengasahnya ke arah yang lebih baik dan luas lagi. Siapa tahu kelak bisa menjadi designer hebat di masa depan. Kemudian trend make up dan skin care yang kian menjamur, menjadikan kita konsumen yang kian cerdas dalam memilih make up yang friendly untuk kesehatan, finansial, dan lain hal. Dari situ kita jadi lebih berhati-hati memilih skin care dan tidak gampang termakan iklan dan hasil instan. Siapa tahu, karena keingintahuan yang begitu besar, kelak bisa memiliki perusahaan kecantikan kita sendiri, yang campaign-nya lebih membumi dan masuk akal. Tidak hanya menjadi budak perusahaan dan mengkotak-kotakkan definisi kecantikan. Sebab cantik itu beragam, tidak hanya dilabeli pada mereka yang berkulit putih ataupun cerah. Sehingga kulit yang harusnya didambakan ialah kulit yang bersih dan sehat. 

Membuat konten-konten inspiratif, menyukseskan pagelaran, teater, film dan festival budaya lewat make up juga bisa menjadi alternatif lain untuk dijadikan sebuah list dalam impian. Jadi, sisi baik yang bisa diambil adalah, mungkin trend ini tidak hanya meningkatkan kreativitas namun juga membangun karakter para pemuda yang lebih inovatif, mandiri, matang dan mempunyai pemikiran yang jauh lebih berkembang. Lebih jauh lagi bisa membanggakan dan membawa nama baik Indonesia untuk mampu bersaing di kancah internasional.

Sedang sisi buruknya terjadi jika kita hanya melihat tiga hal itu dari sudut yang begitu sempit. Mempunyai kulit cerah, outfit modis, dan make up keren hanya untuk dibanggakan kepada orang lain. Tentu seperti yang sudah kutulis, tidak semua yang pandai memadu-padankan outfit, make up dan sukses memilih skin care tidak memiliki faedah sama sekali. Lalu kemudian menuntut mereka harus mengambil ‘sisi baik’ dari tulisan ini dan menjadi ‘orang besar’, bukan sekadar orang yang biasa-biasa saja saat ini maupun di masa depan nanti. Sungguh tidak demikian. Live your life: menjahit baju untuk outfit sendiri, make up sendiri saat wisuda dan lebih memahami keberagaman definisi kecantikan dan ketampanan juga sudah merupakan kemajuan atau bahkan prestasi yang luar biasa. Sehingga setelah ini orang yang insecure hanya karena tidak memakai barang branded dan tidak berwajah ‘glowing’ dalam artian sempit akan jauh lebih berkurang. Setidaknya, itu bagiku dan harapanku. Juga reminder untuk diriku sendiri.

 

 

Aku tahu, perjuangan untuk mendapatkan beasiswa memang tidaklah mudah. Banyak rentetan persiapan yang harus dijalani. Tantangan demi tantangan harus dengan tangguh dilewati. Mulai dari sertifikat bahasa dengan biaya yang cukup menegarkan kantong. Serentetan syarat administrasi lainnya yang juga menunggu. Bahkan niat yang tulus dan optimisme yang harus senantiasa terjaga keberadaannya. Jika tidak begitu, pupus sudah harapan untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Meski sebetulnya, ini bukan satu-satunya cara.

Omong-omong, aku memang kadang merasa aneh dengan diriku. Sebab aku sangat ingin berkelana, menjadi traveller, atau back packer, namun nyatanya keluar rumah saja malas-nya minta ampun. Masa liburan lebih suka ku habiskan dengan mendekam di rumah. Jadilah tempat terjauh yang pernah ku lalui dengan motor hanyalah kampus. Namun, sebab keinginan-ku begitu tinggi untuk mendapatkan beasiswa pascasarjana, aku rela menyusuri Surabaya bermodal smartphone dengan internet yang menyala. Berkali-kali bolak balik sendiri, mengikuti tes bahasa hingga mencari tempat tes bebas narkoba termurah di sana.

Anak Madura rumahan ini pernah nyasar selama satu jam karena baterai handphone yang low-bat. Bak kehilangan kompas, ia benar-benar kehilangan arah meski sudah beberapa kali bertanya pada orang-orang di pinggir jalan raya. Lucunya, ia sampai seperti masuk ke daerah antah berantah. Beruntung terdapat sebuah warung kecil dengan pemilik yang hangat. Jadilah ia mengisi daya hand phone-nya sekitar sepuluh menit, lalu melanjutkan kembali perjalanannya.

Dulu, aku mengira hal-hal seperti itu bukan bagian dari sebuah perjuangan. Aku pikir, itu adalah sebuah keharusan dan memang sebuah kewajiban yang harus dilalui. Jadi tidak perlu diapresiasi. Namun kini aku kian belajar. Belajar untuk menghargai sekecil  apapun usaha yang sudah kita lakukan. Karena dengan begitu, itu juga berarti kita bersyukur sudah diberikan daya dan kekuatan oleh Tuhan hingga bisa melewati semuanya.

Sampai hari ini, terhitung baru tiga kali aku telah melamar beasiswa. Kesemuanya belum digariskan untuk ku genggam. Beda, dengan cerita-cerita orang ‘sukses’ di luar sana, atau thumbnail iklan berbayar di beragam platform sosial media yang berbunyi “Gagal Sepuluh Beasiswa, Pemuda Desa Ini Kini Diterima di Lima Universitas Ternama di Inggris”. Hehehe. Betul. Aku memang belum apa-apa dibanding mereka semua. Barangkali perjuanganku masih seujung kuku mereka. Pola belajarku juga masih berupa: belajar saat ada tes atau ujian, bukan karena keingintahuan. Namun, kadang hidup memang bukan untuk dibanding-bandingkan. Sepatu yang sama persis, tidak menjamin sama juga perasaan yang dialami pemakainya. Hasil jahitan yang tak seberapa, bukan berarti tak lebih berproses dari yang sudah bertumpuk karyanya. Maka, mungkin kali ini akhirnya aku bisa sedikit bercerita kisahku. Semoga ada manfaatnya meski hanya seujung kuku.

_______

 

Singkat cerita (yang padahal juga tidak singkat ini, hehe), usai lulus kuliah pada 2018 aku yang tidak visioner dalam hal pekerjaan, memilih untuk memikirkan bagaimana caranya bisa memperoleh beasiswa pascasarjana dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Hingga akhirnya aku dan sahabatku mencoba untuk mendaftar sebuah beasiswa belajar di Pare, namun ternyata sudah ditutup. Setelah itu, aku kembali mendapat informasi dari sahabatku itu jika ada beasiswa lain yang masih dibuka. Kami pun mendaftar dan qadarullah aku lolos. Sedang sahabatku, she deserved better. Usai lolos dari beasiswa itu, aku kemudian mempersiapkan tes bahasa (TOEFL ITP) sebagai salah satu syarat beasiswa. Juga syarat-syarat lain seperti esai dan lain sebagainya. Hingga pada 2019, setelah perjalanan yang cukup panjang, aku akhirnya dimudahkan untuk mendaftar beasiswa LPDP jalur Afirmasi – Alumni Bidikmisi. Bagi alumni bidikmisi, jatah jalur ini maksimal hanya dua tahun sejak lulus.

Sekitar enam bulan proses seleksi beasiswa tersebut kala itu. Bagi orang yang tidak begitu pintar sepertiku, lolos hingga tahap wawancara adalah sebuah pencapaian yang lumayan. Sebab aku harus menghadapi tes akademik dan kebangsaan sebelum akhirnya bisa berjuang ke tahap wawancara tersebut. Takdir berkata lain, malam itu aku tidak tahu harus berkata apa saat membaca kalimat: MOHON MAAF ANDA TIDAK LULUS SELEKSI SUBSTANSI. Yang jelas aku baru menangis beberapa jam kemudian. Karena sebenarnya selain memang Allah SWT yang memutuskan semuanya, aku memang seringkali sudah bisa mengukur diriku sendiri kala berkompetisi. Aku ingat sekali, dalam persiapan wawancara, bukannya yakin menjadi agen perubahan, aku malah seperti dibayang-bayangi pertanyaan: layakkah kamu memegang amanah itu? Dilanjutkan, “ jangan-jangan kamu memang tidak layak. Ini adalah amanah yang begitu besar.” Betul, ragu pada diri sendiri membuat aku akhirnya tidak melakukan persiapan dengan matang. Sebab aku percaya, kekuatan pikiran memang begitu dahsyat efeknya.

Tak mau berlarut-larut, aku bersiap-siap untuk mengikuti LPDP lagi di tahun berikutnya. Namun karena pandemi, LPDP tahun 2020 ditiadakan. Kala itu aku tidak kecewa. Sebab jangankan berpikir untuk kuliah lagi, diberi hidup saja sudah merupakan anugerah tak terkata. Apalagi, pandemi menjadi momen untuk merenungi kembali baik itu tujuan hidup secara umum, maupun tujuan kuliah lagi secara khusus. Pandemi adalah momen perjuangan bagi hampir semua orang. Beruntung, kala yang lain harus berjuang sebab di-PHK, aku justru mendapat berkah dengan membantu guruku. Pekerjaan tidak terikat yang dulu memang pernah aku ucap agar aku bisa sembari melamar beberapa beasiswa tanpa mendzolimi perusahaan swasta. Hingga akhirnya aku melamar beasiswa Turkiye Buslari masih pada 2020. Meski tak memerlukan sertifikat bahasa asing, perjuangan lain datang dari berkas dan esai berbahasa asing, serta isian form yang tidak sedikit jumlahnya. Meski berat meninggalkan orang tua, kala itu aku optimis lolos, bahkan masa menunggu pengumuman tahap satu yang begitu lama aku habiskan dengan sesekali belajar bahasa Turki sebagai bahasa pengantar belajarku nanti. Namun lagi-lagi aku harus menghadapi kegagalan yang juga disertai banyak pelajaran.

Jumat, 24 September 2021, aku membaca tulisan: SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI ADMINISTRASI. Allah SWT, padahal H-2 pengumuman aku membaca esai-ku dan mendapati masih banyak memerlukan perbaikan. Namun akhirnya aku sangat bersyukur bisa sampai di tahap itu. Diberikan kelancaran yang sangat luar biasa hingga bisa lolos di tahap pertama seleksi LPDP 2021 Jalur Reguler (Jalur seleksinya relatif lebih ketat dari Afirmasi) meski tak seuforia dulu. Maksudku, bukan karena tidak bersyukur secara menyeluruh tapi kegagalan demi kegagalan membuatku berpikir bahwa apapun yang sudah menjadi rezeki kita tidak akan pernah meleset barang sejengkal.

Selasa, 19 Oktober 2021, pengumuman hasil seleksi substansi sudah bisa dilihat. Kali ini, terpampang lagi kalimat dengan huruf-huruf besar itu: MOHON MAAF ANDA TIDAK LULUS SELEKSI SUBSTANSI. Aku tak bisa berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak menangis, sebab air mataku sudah kering usai tes akademik dan kebangsaan pada 13 Oktober lalu. Bagaimana tidak, aku sudah yakin tidak lolos passing grade, meski passing grade tiap jalur masih menjadi misteri. Selain karena tingkat kesulitan soal yang lumayan lebih tinggi, aku juga dihadapkan dengan aplikasi yang error berkali-kali. Bahkan aku kehilangan sekitar 30 menit waktu ujian pada bagian yang krusial, yakni part kuantitatif---karena aplikasi ujian yang kurang bersahabat. Semua sudah takdir dari-Nya. Namun mungkin kesalahan yang menjadi pelajaran bagiku adalah tidak men-setting alat ujian jauh-jauh hari. Walaupun sebetulnya aku memang sudah melakukannya, walau hanya 3 hari sebelum hari H, sebab panduan tes dikirim H-5. Namun aku tidak menyalahkan semua itu. Aku sangat yakin, rezeki tidak akan lari kemana. Hanya saja, yang membuatku bersedih kala itu adalah bayangan orang-orang yang sudah membantuku. Bayangan orang-orang yang sudah mendoakanku. Bayangan orang-orang yang sudah mendukungku. Tapi bantuan, doa dan dukungan mereka semua tidak akan pernah sia-sia. Sama halnya seperti perjuangan yang sudah aku lakukan, meski hanya sebesar biji zarrah. Insya Allah.

Mungkin pesanku untuk adik-adik yang juga sedang atau ingin memperjuangkan beasiswa, insya Allah lillahita’ala, jangan ragukan dirimu. Sebab siapapun boleh memperoleh akses pendidikan dan berhak serta bertanggung jawab untuk berkontribusi pada negeri ini tanpa memandang warna kulit, suku maupun ras. Juga, jangan patah semangat untuk mempersiapkan dengan sangat matang. Bagiku, keyakinan berasal dari doa yang deras dan usaha  yang keras. Iya, dua pesan tadi juga dihaturkan pada diriku saat ini dan nanti terlebih dahulu. Lalu yang pasti, jangan berkecil hati dengan apapun hasilnya. Allah SWT Maha Mengetahui.

Anyways, dulu, jika ada orang yang tahu (kecuali keluarga dan sahabat-sahabat terdekat) bahwa aku tengah melamar beasiswa atau berproses, aku malu karena khawatir akan sombong dan dikira sosok yang pintar. Akhirnya, saat beberapa mulai mengetahuinya, aku jarang menimpali mereka dengan serius, padahal itu bisa menjadi momen untuk minta didoakan hasil yang terbaik. Karena kadang dengan banyak orang yang tahu bisa menjadi jalan untuk memperoleh doa sehingga harapannya akan ada lebih banyak doa, dari siapapun itu. Sama seperti menceritakan kegagalan. Selain sebuah healing kata Ibu Teti, ini adalah cara lain untuk menuai doa-doa terbaik. Iya, berbagi kisah ini adalah saran dari beliau. Terima kasih banyak nggih, Bu.

Salam sungkem dan terima kasih yang sangat mendalam juga saya sampaikan kepada guru-guru saya yang lain. Ibu dan bapak dosen saya di kampus yang telah banyak membantu, mendukung dan mendoakan saya. Bapak Dekan, Bapak Andrie, Ibu Teti dan Ibu Ratna yang sudah berulang kali memberikan surat rekomendasi dan me-review esai saya di sela-sela jadwal beliau-beliau yang sangat padat. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan limpahan kebahagian kepada beliau semua beserta keluarga. Juga pada kita sekalian. Aamin allahumma amin.

 

 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Image
    Selamat Bertunangan

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates

Advertisement