Image
 

Perjalanan

•August 20, 2009 • 4 Comments
Che Guavera, melakukan perjalanan mengelilingi Amerika Latin untuk mengetahui kondisi bangsanya. Dengan sebuah motor cabuk ia berkelana, mengembara. Saat itu dia masih muda, sebagai seorang calon doktor yang memutuskan untuk mencari tahu secara langsung, ada apa dengan tanah airnya yang tercinta. Ia meninggalkan masa depannya yang cerah sebagai calon doktor, untuk menjemput masa depannya yang lain lagi, sebagai seorang pejuang dari Cuba. Semua hasil perjalanannya ini diabadikan dalam sebuah buku yang diberi judul The Motorcycle Diary.
Mohandas K.Gandhi, atau yang lebih kita kenali sebagai Mahatma Gandhi, juga melakukan perjalanan yang sama. Setelah ia pulang dari Afrika Selatan dengan membawa segulung sijil sebagai seorang pengacara yang cerdas, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, tanah tumpah darahnya, India. Namun ia turun dari kapal dengan jati diri yang berbeza. Pakaiannya yang dulu ala Barat ditanggalkannya. Dengan turpa, dan baju putihnya ia mengidentikkan diri. Dengan kereta api dia berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Bertemu dengan rakyat kecil, di desa-desa terpencil, di daerah ceruk pedalaman India yang ketika itu menjadi jajahan Kolonial Inggris celaka.
Lalu ia memutuskan untuk melakukan perlawanan, pada penjajah, pada kekuasaan yang telah membelenggu rakyatnya. Pada kekuasaan yang tidak adil, pada kekuasan yang zalim, dengan caranya sendiri. Tanpa kekerasan, tetapi bukan bererti zonder kekuatan. Itu semua ia lakukan, setelah Gandhi mengetahui nasib bangsanya, melalui sebuah perjalanan. Melalui sebuah pengelanaan dia mencari tahu, di mana ia seharusnya berdiri. Dan nama Mahatma, yang bermaksud “Jiwa Besar”, disematsandingkan dengan namanya. Mahatma Gandhi. Gandhi yang berjiwa besar.
Rasulullah pun melakukan perjalanan, ke Syam, ke Thaif yang berbuah darah dan berbagai perjalanan lain sebelum dan sesudah masa kenabiannya. Rasulullah mengirimkan pula para sahabat untuk melakukan perjalanan, untuk mencari tahu dan membawa kebaikan. Menyebarkannya keseluruh penjuru alam.
Teman-teman seperjuangan, tanpa berniat menyanding dan membandingkan, tokoh-tokoh besar selalu sahaja mencari tahu dengan hatinya sendiri, dengan matanya sendiri dengan fikiran dan kepalanya sendiri, bagaimana, di mana, mengapa, dan ada apa dengan nasib bangsanya. Bahkan Al-Quran yang mulia pun memerintahkan, fanthasiruu fil ardhi, menyebarlah ke permukaan bumi. Untuk apa? Untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Lalu merumuskan apa yang sebaiknya harus diperbaiki.
Memang tidak semua manusia harus memikul tanggungjawab  untuk berkelana dan melakukan perjalanan ini. Hanya para pemimpin dan orang-orang besar saja yang melakukannya. Akan tetapi kita sebagai mahasiswa juga telah diberikan peluang untuk melakukan perjalanan ini. Teman-teman baru yang melakukan perjalanan dari Malaysia ke Makassar, teman-teman yang baru menyelesaikan KKN di mana tempat KKNnya jauh dari peradaban moden, dan melanjutkan perjalanan di alam KoAss yang lebih banyak cabaran dan dugaan, dan juga  untuk KoAss yang sudah menyelesaikan tugasnya dan akan kembali ke Malaysia sebagai doktor, pergunakanlah peluang yang telah diberikan ini untuk memerhati, merasai, dan mencari tahu, di mana seharusnya kita berdiri.
Perjalanan yang telah kita tempuh ini seharusnya telah memberikan kita pelajaran, pencerahan, dan merubah pola berfikir kita yang dulunya mungkin terkongkong oleh kerajaan, agar lebih terbuka dalam melihat kebenaran dan keadilan. Tapi celakanya, para pemimpin negara yang seharusnya sudah melakukan perjalanan ini, seringkali tidak mengetahui nasibnya sendiri, meski sudah beribu-ribu batu perjalanan telah dilalui. Kerana itu pula, nasib bangsa kita tidak pernah ia perbaiki. Sebab ia tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.
Perjalanan tidak memberikan pelajaran untuknya. Perjalanan tidak memberikan pencerahan baginya. Jika sudah begitu, jangankan untuk orang lain, perjalanan itu bahkan tidak bererti untuk dirinya sendiri. Tak menambah ia bersyukur, tak membuat ia bertafakkur, dan tak membuat dia bertadabbur. Dan untuk kesekian kalinya, celakalah kita jika membiarkan orang-orang seperti ini memimpin negara. -wslm-
jauh perjalanan luas pandangan

jauh perjalanan luas pandangan

Che Guavera, melakukan perjalanan mengelilingi Amerika Latin untuk mengetahui kondisi bangsanya. Dengan sebuah motor cabuk ia berkelana, mengembara. Saat itu dia masih muda, sebagai seorang calon doktor yang memutuskan untuk mencari tahu secara langsung, ada apa dengan tanah airnya yang tercinta. Ia meninggalkan masa depannya yang cerah sebagai calon doktor, untuk menjemput masa depannya yang lain lagi, sebagai seorang pejuang dari Cuba. Semua hasil perjalanannya ini diabadikan dalam sebuah buku yang diberi judul The Motorcycle Diary.
Mohandas K.Gandhi, atau yang lebih kita kenali sebagai Mahatma Gandhi, juga melakukan perjalanan yang sama. Setelah ia pulang dari Afrika Selatan dengan membawa segulung sijil sebagai seorang pengacara yang cerdas, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, tanah tumpah darahnya, India. Namun ia turun dari kapal dengan jati diri yang berbeza. Pakaiannya yang dulu ala Barat ditanggalkannya. Dengan turpa, dan baju putihnya ia mengidentikkan diri. Dengan kereta api dia berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Bertemu dengan rakyat kecil, di desa-desa terpencil, di daerah ceruk pedalaman India yang ketika itu menjadi jajahan Kolonial Inggris celaka.
Lalu ia memutuskan untuk melakukan perlawanan, pada penjajah, pada kekuasaan yang telah membelenggu rakyatnya. Pada kekuasaan yang tidak adil, pada kekuasan yang zalim, dengan caranya sendiri. Tanpa kekerasan, tetapi bukan bererti zonder kekuatan. Itu semua ia lakukan, setelah Gandhi mengetahui nasib bangsanya, melalui sebuah perjalanan. Melalui sebuah pengelanaan dia mencari tahu, di mana ia seharusnya berdiri. Dan nama Mahatma, yang bermaksud “Jiwa Besar”, disematsandingkan dengan namanya. Mahatma Gandhi. Gandhi yang berjiwa besar.
Rasulullah pun melakukan perjalanan, ke Syam, ke Thaif yang berbuah darah dan berbagai perjalanan lain sebelum dan sesudah masa kenabiannya. Rasulullah mengirimkan pula para sahabat untuk melakukan perjalanan, untuk mencari tahu dan membawa kebaikan. Menyebarkannya keseluruh penjuru alam.
Teman-teman seperjuangan, tanpa berniat menyanding dan membandingkan, tokoh-tokoh besar selalu sahaja mencari tahu dengan hatinya sendiri, dengan matanya sendiri dengan fikiran dan kepalanya sendiri, bagaimana, di mana, mengapa, dan ada apa dengan nasib bangsanya. Bahkan Al-Quran yang mulia pun memerintahkan, fanthasiruu fil ardhi, menyebarlah ke permukaan bumi. Untuk apa? Untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Lalu merumuskan apa yang sebaiknya harus diperbaiki.
Memang tidak semua manusia harus memikul tanggungjawab  untuk berkelana dan melakukan perjalanan ini. Hanya para pemimpin dan orang-orang besar saja yang melakukannya. Akan tetapi kita sebagai mahasiswa juga telah diberikan peluang untuk melakukan perjalanan ini. Teman-teman baru yang melakukan perjalanan dari Malaysia ke Makassar, teman-teman yang baru menyelesaikan KKN di mana tempat KKNnya jauh dari peradaban moden, dan melanjutkan perjalanan di alam KoAss yang lebih banyak cabaran dan dugaan, dan juga  untuk KoAss yang sudah menyelesaikan tugasnya dan akan kembali ke Malaysia sebagai doktor, pergunakanlah peluang yang telah diberikan ini untuk memerhati, merasai, dan mencari tahu, di mana seharusnya kita berdiri.
Perjalanan yang telah kita tempuh ini seharusnya telah memberikan kita pelajaran, pencerahan, dan merubah pola berfikir kita yang dulunya mungkin terkongkong oleh kerajaan, agar lebih terbuka dalam melihat kebenaran dan keadilan. Tapi celakanya, para pemimpin negara yang seharusnya sudah melakukan perjalanan ini, seringkali tidak mengetahui nasibnya sendiri, meski sudah beribu-ribu batu perjalanan telah dilalui. Kerana itu pula, nasib bangsa kita tidak pernah ia perbaiki. Sebab ia tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.
Perjalanan tidak memberikan pelajaran untuknya. Perjalanan tidak memberikan pencerahan baginya. Jika sudah begitu, jangankan untuk orang lain, perjalanan itu bahkan tidak bererti untuk dirinya sendiri. Tak menambah ia bersyukur, tak membuat ia bertafakkur, dan tak membuat dia bertadabbur. Dan untuk kesekian kalinya, celakalah kita jika membiarkan orang-orang seperti ini memimpin negara. -wslm-

Pemilu 2009

•August 16, 2009 • 3 Comments
golkar tegar

golkar tegar

Kalah bukan berarti lemah,

Menang bukan tujuan megah,

Kini saatnya berbenah,

Singkirkan segala nanah,

Karena asal semua dari tanah,

Akan kembali ke alam barzakh,

Agar tercapai akhir yaitu Jannah.

(gambar manusia di atas adalah seorang pendukung Golkar sebelum pemilu, setelah pemilu presiden berakhir dukungannya beralih ke Partai Demokrat….hmmm…)

more pic from kavaleri cup training session

•May 25, 2009 • 2 Comments

massage session

massage session


warmup session

warmup session

Menjelang Kavaleri Cup 2009

•May 24, 2009 • Leave a Comment

aswan & co

Pada tahun 2009 ini MUFC akan menghantar 1 tim bola untuk bertanding dalam Kavaleri Cup yg akan dikuti oleh tim tim papan atas dari seluruh Makassar. Ini adalah Kavaleri Cup kedua yg disertai oleh MUFC setelah pada tahun lalu gagal dalam fase penyisihan (grup).

Sebagai persediaaan menjelang pertandingan yang akan ‘start ‘pada awal Jun, MUFC telah mengadakan sessi ‘training’ pada setiap pagi Sabtu dan Ahad. Dalam sessi ini para pemain akan dibekalkan dengan teori permainan bolasepak modern oleh beberapa pemain2 senior yg sarat pengalaman (cakap senang la beb haha…) seperti aku sendiri, Khabbab, Cristiano ‘Anepp’ Ronaldo (raja freekick),  Wayne ‘Jorasyid & syafik stretching‘ Rooney (penuh stamina), dan il Capitano Bang Napi (ke manager aku pun tak pasti). Byk lagi sebenarnya tapi aku dah malas nak taip.

Disamping itu MUFC juga telah mengadakan beberapa pertandingan persahabatan untuk mengasah skill yg terpendam dan mempraktekkan segala teori yg telah di ajarkan. Hasil pertandingan:

MUFC vs Tim Dokter Bedah          4-2

MUFC vs Tim Kavaleri                (dibelasah teruk)

MUFC vs Tim 2006          (menang sokmo)haha..

Dean in full stretch

Batch 2006 juga memutuskan untuk menghantar 1 team untuk mengikuti Kavaleri Cup ni.

Kamal dok siksa Shanaz

MUFC juga sering melakukan training setiap petang di depan UPF dengan bdk2 Malaysia yang lain.

anip & man

training bawa solo..

org2 bentong

Anip 'Ronaldo' raja goreng

Anip 'Ronaldo' raja goreng

Senarai player MUFC :

1. Zul (GK), 2.Kalis (GK), 3.Napi (B), 4.Barack (B), 5.Sapek (B), 6.Botak (B), 7.Tauhid (B), 8.Lan (B), 9.Aku (M), 10.Halim (M), 11.Rasyid (M), 12.Ilman (M), 13,Anepp (M), 14.Khabbab (S), 15.Jo (S), 16.Paan (S)

setakat yg aku tau byk tu la, kalau ada nama yg tak tersenarai salah aku la tak berapa nak ingat sangat.

Kegiatan KoKurikulum bdk2 medik Makassar

•May 24, 2009 • 3 Comments

volleyballSetelah lama menghilangkan diri, akhirnya aku berjaya me”rajinkan” diri aku yg malas untuk mengupdate blog ni.

Pada 23 Mei hingga 24 Mei puak-puak PKPMI telah sukses mengadakan program Hari Sukan (x tau la sempena apa).

Nak upload gambaq connection internet cam siput…

Akhirnya berjaya gak upload beberapa gambar..

dah nampak dah lubuk..man behind the ball

Selain voli ada juga badminton, ping-pong, yg agak mengecewakan sepak takraw tak jadi dipertandingkan.Mungkin kerana panitia tak cukup org nak handle semua game2 ni.

Tahniah diucapkan pada pihak panitia yg telah menganjurkan kegiatan2 yg bermanfaat ni dan diharapkan pada masa kedepan dapat meneruskan aktiviti macam ni.(bkn senang nak atur budak2 ‘genius‘ ni)

Sekuler Fundamentalis

•February 18, 2009 • 5 Comments
lawan tetap lawan

lawan tetap lawan

Dari sebuah idea dan gerakan pemikiran, menuju infiltrasi di persatuan. Sepertinya inilah strategi “baru” yang dijalankan oleh kaum sekuler liberal. Setelah belajar tentang pahit getirnya berhadapan dengan umat di lapangan, umat yang mahu menjaga ke Islamannya, mereka mulai sadar, tidak akan mudah menjajakan pemikiran dan gagasan. Hanya sekadar isu murahan saja, mereka nyaris tidak bisa tidur tenang.

Sauh pun diangkat, dan haluan kapal diarahkan pada tujuan yang berlainan. Sejak dari awal, mereka bukan tak sedar betapa strategisnya menguasai pusat kebijakan. Tapi sejak awal pula mereka sedar, bahawa membangun nama harus terlebih dahulu dilakukan, sebelum mereka akan mula dilirik sebagai pemikir bayaran.

Pelan tapi pasti, kepentingan mereka bertemu dengan kebutuhan persatuan, yang semestinya menjadi semakin sekuler setiap harinya. Kerana itu, nama-nama tertentu diangkat sebagai anggota dewan pertimbangan persatuan. Dan tentu saja, nasihat-nasihat yang diberikan untuk jadi bahan pertimbangan akan berwarna sekuler dan liberal.

Kelak, tahu-tahu persatuan ini akan menjadi persatuan yang sekuler. Memang, kita belum pernah menjadi persatuan agama. Tapi setidaknya, tingkat akomodasi umat beragama di persatuan ini cukup signifikan. Dan ketika persatuan ini menjadi sekuler, maka ia akan menjadi sekuler yang fundamentalis. Lalu, persatuan ini bukan lagi untuk semua umat, tapi hanya untuk mereka yang sekuler saja.

Mungkin ada di antara kita dianggap Islam fundamentalis, yang bisa saja menjadi ancaman bagi persatuan, yang boleh menimbulkan perpecahan. Tetapi ingatlah teman-teman, kaum sekuler fundamentalis memiliki ancaman yang lebih dahsyat daya hancurnya.

Namun, kita kelak akan hanya bisa terperanjat dan terperangah.Sebabnya, hari ini kita hanya sibuk mengubati dan menyelesaikan masalah yang hanya bersifat gejala. Kelak kita hanya mampu mengeleng-gelengkan kepala. Sebab semuanya telah tersekulerkan. Pengelolaan ekonomi, kewangan, sumber daya manusia dan segala jawatan, diserahkan pada mekanisme yg menjadikan setan sebagai panutan. Lalu gaya hidup, akan semakin liberal.

Syahdan, kepala persatuan memiliki kewajiban melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Tapi ketika fahaman sekuler fundamentalis yang memenangkan pertarungan, jangankan kewajiban, kepala kesatuan seolah-olah tidak memiliki hak untuk menyelamatkan anak buahnya sendiri. Keselamatan dan kesejahteraan, bukan saja pada hitungan jasad wadag, tapi juga jiwa, terpenting akidah umat di persatuan.

Jangan sampai ketakutan kita menjadi ketakutan yang terlambat. Jangan pula kekhawatiran kita menjadi kekhawatiran yang bantat. Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan persatuan ini dari bahaya sekuler fundamentalis. Dan mohon diingat, setiap pemimpin persatuan ini,baik yang sedang memimpin atau sudah menjadi mantan, akan ditanya, apa yang sudah mereka lakukan untuk melindungi jiwa dan raga, termasuk akidah anak-anak buah mereka,di depan Tuhan yang Maha Memiliki Catatan. -musab-

MENULIS DENGAN GAYA MEMOTRET

•February 18, 2009 • 8 Comments

21641-fullsizeTajuk ini aku pilih sebagai tajuk pertama di blog sebab untuk penulisan seterusnya aku mungkin akan mengadopsi gaya penulisan ini. Mungkin setelah ini, aku akan di’bantai’ oleh ahli-ahli IPEM yang sememangnya ahli dalam bidang penulisan sastera, walaupun aku mendapat backing dari presiden IPEM sendiri (jgn berharap sgt), saudara Yazid yang mempunyai bakat alami dalam bidang penulisan, dan berbakat juga dalam bidang fotografi di mana foto-foto dari Nikon D80 milik saudara Yazid ini boleh dikatakan hampir setara dengan foto jepretan HCB dan A.Adam (bodek jgn tak bodek).

Teknik menulis sesebuah cerpen atau cerita, penulisan di blog, biar yang takhyul, ceritera dongeng, atau kisah benar menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah penulisan. Dalam teknik potret, pengarang menempatkan dirinya sebagai seorang pengamat. Jadi sudut pandang yang digunakan adalah dia atau mereka, bukan aku. Di sinilah uniknya teknik potret, pengarang tidak terlibat dalam cerita tersebut. Jadi pengarang lebih leluasa untuk melukiskan semua detil-detil penting, membuka kebobrokan tokoh dari cerita tersebut, latar, dan peristiwa-peristiwa yang berlaku tanpa terlibat secara langsung dalam cerita tersebut. Mungkin sudah banyak blog-blog yang menceritakan tentang kehidupan harian penulis blog tersebut, mulai dia bangun dari tidur, sehingga dia tidur, hingga pembaca blog pun tertidur kebosanan. Ini juga merupakan salah satu teknik penulisan kreatif, yang melibatkan diri penulis dalam cerita tersebut, cuma aku sendiri yang kurang berminat membaca kisah hidup orang lain (malas membaca sebenarnya).

Pengarang yang menulis bebas tentang tokoh di dalam ceritanya cenderung untuk menggambarkan sifat tokohnya berdasarkan peristiwa dan kejadian yang berlaku dalam cerita tersebut tanpa bukti-bukti yang jelas. Untuk mempertahankan logika penulisan agar tidak terkesan seperti fitnah, dan pembaca tidak merasa dibodohi, maka pengarang harus mempunyai daya pengamatan dan wawasan yang luas, hasil dari pengamatan secara langsung atau tidak langsung di lapangan, dan mungkin saja dari buku-buku yang dibaca. Bertuturlah menggunakan istilah-istilah yang dapat menyembunyikan keaiban tokoh tanpa harus menjelaskan istilah-istilah yang sedang kita pakai. Anggap saja pembaca sudah mengetahui apa yang dimaksudkan pengarang tanpa harus menjelaskan dengan panjang lebar pada audiens pembaca penulisannya.

Penulis harus menganggap audiens pembaca yang ia bidik sudah mengerti tentang istilah yang ia gunakan karena menjelaskan secara rinci justeru akan membuat pembaca merasa dibodohi, bahkan bisa sebaliknya, justeru pembaca melihat betapa bodohnya penulis.

Tapi, bukan bererti sebagai penulis tidak mempertimbangkan siapa sasaran pembacanya. Sebelum menulis lagi penulis sudah harus bisa membayangkan siapa yang akan menjadi target bahan penulisan/artikelnya. Justeru sukses atau tidaknya sebuah karya tulis, adalah dengan mengetahui dengan tepat target pembacanya.

Logiknya, jika kita menulis artikel atau cerita yang berhubungan dengan masalah agama (Islam), dan di post ke group PKPMI, tentu ada beberapa dari ahli grup PKPMI akan bingung atau mungkin sahaja tersinggung karena bukan semua ahli grup PKPMI beragama Islam(mengerti Islam) atau mungkin juga ada yang Muslim tetapi saja buat-buat tak paham. Mungkin ada yang menganggap jika artikel atau cerita begini di post di grup PKPMI, target audiensnya akan lebih luas dibandingkan jika artikel ini di post di grup IMAM yang ahlinya cuma 30-an orang itu. Akan tetapi, dengan konsekuensi yang mungkin timbul akibat kesalahfahaman/kebebalan pembaca (perpecahan), akan menjadikan artikel atau cerita ini kurang sukses dan berkesan kerana tidak tepat mencari sasaran pembaca dan lari dari tujuan sebenar cerita/artikel tersebut ditulis.

Sebagai seorang penulis kita memang wajib meluaskan wawasan kita, bukan meluaskan sasaran pembaca (bukan bererti kita tidak boleh mencari ‘market’ baru), kerana seorang penulis yang mahu membuat suatu mahakarya seyogyanya harus membekali diri dengan segala perangkat ilmu dan wawasan. Berbekal wawasan yang luas, barulah penulis bisa dengan leluasa menulis idea-ideanya.

Sebenarnya menurut aku tidak ada idea baru dalam dunia tulis-menulis ni(Yazid,tolong backing aku ;-p ), yang ada cuma kemasan yang baru dan untungnya, siapa yang lebih kreatif membuat kemasannya menjadi lebih unik, tulisannyalah yang akan dibaca dan dicari. -musab-

 
Design a site like this with WordPress.com
Get started