Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.
Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.
“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa. Baca lebih lanjut
Lae Sinurat Yth…
DENGAN segala kerendahan hati, saya mengaku kurang sensitif, ketika mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus – atau Isa Al Masih dalam bahasa Al-Qur’an – sebagai contoh ketidaklogisan agama. Walaupun pertimbangan saya karena kisah itu sama-sama diceritakan Alkitab dan Al-Qur’an secara persis, tapi reaksi Parjalang membuktikan, hal itu bisa terasa sebagai “lebih menyerang” iman Kristen, karena posisi Yesus yang sangat, atau bahkan paling sentral di iman itu.