Siyal! Email singkat itu sukses berat memprovokasi aku. “Nesiaweek sudah mandul! Baca lebih lanjut
Berguru Agar Tak Buru-buru Cemburu
Katanya sih, ini pribahasa Arab. Whatever! Yg jelas, ini quote keren. “Susah menyembunyikan cinta, lebih susah lagi menyembunyikan kebencian. Dan yang paling susah menyembunyikan cemburu, karena itu adalah cinta dan kebencian sekaligus.” Baca lebih lanjut
Kekuatan Penghargaan (dan Penghinaan)
Orang boleh mengatakan bahwa dia lebih menyukai kritik, karena itu bisa membantunya memperbaiki kesalahannya. Baca lebih lanjut
Karena Cinta dan Benci Datang dari Tempat yang Sama
Batas cinta dan benci konon setipis kulit bawang. Kepada orang yang (pernah) kita cinta setengah mati, suatu saat kita bisa benci ¾ mati. Baca lebih lanjut
Cinta: Sisi Lain
Tak pernah dan tak akan ada yang sedekat itu. Tak akan ada yang mencintaimu, dengan segala ketidaksempurnaanmu yang bahkan kau sendiri tak pernah tahu. Kau tak perlu berpura-pura, memaksa diri menjadi seseorang yang lain, yang kau tak pernah bisa.
Mencintainya, hari demi hari, adalah mencintai dirimu sendiri. Adalah mencintai kekonyolan, kelatahan, serpih-serpih terdalam di dirimu, yang selama ini kausekat rapat-rapat, kaupendam dalam-dalam.
Tak siapapun, tak juga dirimu sendiri, yang sanggup memahami segala hal tentangmu. Dan memang tak perlu, pun tak cukup waktu untuk itu. Yang penting, dalam setiap momen yang ada, ekspresikan segala yang kau rasakan, proyeksikan semua yang kau impikan. Biar menyeruak, seperti pusaran debu diterbangkan angin. Bukankah salju pun membiarkan dirinya meleleh di gerbang musim semi, tanpa pernah sempat memperkenalkan dirinya pada kuncup dan kelopak bunga. Baca lebih lanjut
Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia
“Ih, cowoknya tua banget gitu? Kok dia mau sih?” Atau, “Sorry, Bro… Cewek lu yang sekarang kok jelek amat sih? Jangan tersinggung ya, tapi ngga level gitu ama elo…” Atau malah, “Gila kali ya gw mau sama dia. Udah jelek, tua, idup lagi! Mending jomblo seumur hidup deh.”
Begitu menjijikkannyakah manusia yang sudah tua, mereka yang jelek, apalagi orang yang tua dan jelek sekaligus? Mengapa menghindari yang tua, padahal kehidupan tak membawa kita semua, siapapun!, kecuali menuju penuaan dan akhirnya kematian? Seakan mereka yang merasa jijik itu, akan tetap muda selamanya…
Mengapa menyisihkan mereka yang (berwajah) jelek dari daftar orang yang layak dipertimbangkan, menjadi teman, kekasih, suami, atau istri? Sudah yakin dirimu cakep? Jangan-jangan cuma tante, mama kamu yang menganggapmu ganteng, atau si om, papa kamu, yang selalu memujimu cantik? Siapapa pula yang mengatai anaknya jelek, kecuali dia nggak yakin, itu beneran anaknya sendiri. Baca lebih lanjut
Sms dan Ungkapan Cinta yang Meluluhkan Hati (Reader Edition)
Serial SMS Cinta yang Meluluhkan Hati, harus kuakui, merupakan salah satu penyumbang hits terbesar untuk blog ini. Padahal itu cuma “proyek” iseng-iseng. 😀 Malah posting yang dikerjakan rada “seriusan” ngga sebegitunya peminatnya.
Selain hits, serial itu juga menuai banyak komen dari temen-temen yang baca, termasuk komen yang malah lebih “mengerikan” tingkat kegombalannya. Berikut ini, beberapa contohnya.
Warning: Gombal kelas berat. Pastikan Anda telah berusia 18 tahun ke samping. Baca lebih lanjut
Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part II)
Mungkin satu-satunya cara membuatmu percaya, bahwa rumah inilah tempat dirimu sepenuhnya diterima, adalah dengan membiarkanmu melanglang hingga ke tepi dunia.
Juga hanya dengan melepasmu melahap semua pesona dan gairah, kau akhirnya tahu bahwa untukmu, akulah yang terindah.
Di puncak lelah, kau pun pulang ke rumah. Tapi aku tak merasa jadi penunggu tempat sampah. Justru ini bukti keberanianku menjajal kualitas dengan siapa saja yang bisa kau temukan di luar sana.
Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru. Baca lebih lanjut
Kemeriahan dan Keceriaan tak Selalu Berhubungan
Kadang kita mengeluarkan biaya besar demi terciptanya kemeriahan. Tetapi meriah, tak selalu berarti ceria, apalagi bahagia. Sebuah pelajaran lagi, dari anak-anakku untuk kami, orang tua mereka.
Seminggu lebih setelah kepergian ibu saya, Zaid anak kedua saya tepat 5 tahun. Ultah sendiri atau nyonyah bolehlah luput (atau bahkan lupa andai gak ada situs2 jejaring sosial itu, ketika wall tiba2 penuh dengan ucapan selamat, entah dari belahan dunia mana). Tapi ultah anak? Ngutang dana ke tetangga pun jadi.
Dalam sidang paripurna keluarga, lengkap dengan 5 fraksi, saya dan istri selaku pimpinan sidang, dan ketiga “produk” kami itu sebagai anggota, saya menyampaikan usul, acara sebaiknya di rumah saja.
Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan
Jika (sekadar) dijalani, hidup terdengar seperti sebuah tugas, dan yang namanya tugas, tak selalu (atau malah jarang) terasa menyenangkan, kecuali bila Anda seseorang yang sangat ingin dapat promosi dari bos. Tapi jika (juga) dirayakan, hidup akan terasa seperti sebuah kesempatan (untuk berbahagia), a party time. Dan tentang kesempatan, orang biasanya bilang, “Jangan sampai dilewatkan!”
Apakah menganggap hidup sebagai tugas atau sebuah kesempatan akan mengubah hidup itu? “Itu kan anggapan doang, label thok. Hidup ya tetap gini-gini aja, gitu-gitu doang.” Nah, itulah yang mau kita bicarakan. 😀
Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati
Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?
BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji. 😉 Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.
Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang. Baca lebih lanjut
Hidup Hanya Menunda Kekalahan
Untuk Ibunda tercinta, dan semua saudaraku yang tengah dicabik bencana
Di depan pintu ruang ICU itu, saya benar-benar dihadapkan pada kenyataan, betapa ringkihnya nyawa, betapa rapuh kehidupan. Betapa hidup memang hanya menunda kekalahan.
Di dalam, ibu saya, wanita agung yang melahirkan dan membesarkanku dengan segala cinta, berbaring tanpa kesadaran. Matanya membuka, tapi ia sudah tak melihat apa-apa, termasuk tetes air mata anaknya.
Bermacam selang dan kabel terhubung ke tubuhnya. Monitor jantung terus berbunyi, nadanya datar, seperti menghitung langkah maut, yang menjadi semakin akrab.
Diabetes telah melumpuhkan ginjalnya. “Kita upayakan tidak harus cuci darah. Kita kasih insulin dosis tinggi, perlahan-lahan gulanya kita turunkan. Mohon Anda terus berdo’a,” kata dokter spesialis yang menanganinya. Itu pada hari kedua di ruang ICU. Baca lebih lanjut
Mencintaimu, tanpa Mengambil Satu Hal pun Darimu
Jika aku bisa menghentikan denyut waktu, ku ingin menaruhmu ke dalam sebuah bingkai, menangkap cahaya di sekitarmu, mengagungkanmu dengan gita dan puja, memajang mengusungmu sebagaimana kau mestinya terlihat, lepas pisah dari noda dan pesona pada permukaan keseharian…
Kemudian aku akan berlutut, di sini di tengah jalanan, mengambil gambarmu. Tapi siapa yang akan percaya? Apakah hanya aku yang bisa melihatnya? Aku hanya ingin memandang, sebelum sesaat kemudian kau menghilang.
Aku hanya ingin mencintaimu, tanpa harus merenggut satu hal pun, dari dirimu… Baca lebih lanjut
Kama Rabbayani Saghira…
Pater Noster, atau Doa Bapa Kami, barangkali merupakan doa yang paling terkenal dalam agama Kristen. Perhaps the best-known prayer in Christianity, kata Wikipedia. Dalam Islam, “padanannya” barangkali Al Fatiha, surat (chapter) pembuka Al-Qur’an.
(Dan memang, substansi bahkan struktur keduanya mirip loh: pengakuan dan pemujaan, penyerahan diri, permohonan akan kebutuhan hidup, petunjuk dan pengampunan, dan terakhir perlindungan dari kesesatan. Tapi ngga usah bahas itu ya… Ntar jadi forum “holy war” lagi deh).
Nah, salah satu bagian dari Pater Noster tadi berbunyi: “Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Baca lebih lanjut
For Everything Will Come To An End…
Saya lebih memilih satu tarikan napas merasakan aroma rambutnya, satu kecupan saja dari bibirnya, satu genggaman pada jemarinya, daripada keabadian tapi tanpa itu semua…
Kalau sudah nonton City of Angels, dan menyimaknya tentu saja–bukannya malah membuat “suting pilem” sendiri di keremangan bioskop itu–Anda pasti ingat quote itu, dari sang “malaikat” yang diperankan Nicolas Cage.
Ketika harus memilih, antara keabadian yang hampa, an empty eternity, atau sebuah momen yang penuh tapi akan berlalu meluruh, manakah yang akan Anda ambil? Baca lebih lanjut
Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria
Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.
Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. Baca lebih lanjut
