Jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia nampaknya tidak ramah pejalan kaki. Tidak ada trotoar. Akibatnya orang terpaksa berjalan di bahu / pinggir jalan. Ini ngeri-ngeri sedap karena ada banyak kendaraan yang lalu lalang.
Jl. Ranggamalela di Bandung. Typical street in cities in Indonesia.
Memang ada beberapa tempat yang ada trotoarnya, tetapi ini bukan menjadi kelaziman. Nampaknya desainer kota beranggapan bahwa lebih baik berkendaraan daripada berjalan kaki. Padahal jalan kaki juga menyehatkan. (Dengan asumsi bahwa kualitas udaranya baik.) Mungkin juga bukan desainer kotanya, tetapi implementasinya dan masyarakatnya. Berarti kita semua. Jika saja kita berkorban mau untuk mengurusi jalan atau trotoar di depan rumah kita, maka semuanya menjadi indah. Apakah ini hanya impian saya saja?
Di internet semuanya ada. Mau yang bilang A yang benar, ada. Yang bilang B yang benar, juga ada. Jadi tinggal kita pilih saja. Kalau kita cenderung cocok dengan C yang benar, maka kita cari informasi yang mengatakan C itu benar. Jadi sebetulnya yang kita lakukan adalah mencari pembenaran, bukan kebenaran. Ha ha ha.
Fonts – atau lebih tepatnya typeface – Times New Roman pertama kali diperkenalkan pada edisi The Times (koran Inggris) tanggal 3 Oktober 1932 oleh perusahaan Monotype Corporation. Font ini dirancang oleh Stanley Morison bersama dengan Victor Lardent, seorang desainer dari The Times. Victor Lardent bertugas menggambar sketsa awal huruf-hurufnya dengan tangan, berdasarkan arahan Morison. Desain ini kemudian disempurnakan oleh tim Monotype untuk diadaptasi ke dalam teknologi mesin cetak logam (hot metal typesetting).
Font ini dikembangkan agar lebih mudah dibaca (estetika) dan hemat tempat dalam cetakan. Times New Roman terinspirasi oleh jenis huruf tradisional dari era Renaissance, khususnya desain tipografi abad ke-16 seperti karya Claude Garamond dan Robert Granjon.
Times New Roman mulai tersedia di komputer pada tahun 1983 dengan dirilisnya sistem operasi Microsoft Windows 1.0. Pada era 1970-an dan awal 1980-an, beberapa printer dot matrix dan printer daisy wheel juga menyediakan font berbasis Times dalam ROM mereka, meskipun dengan keterbatasan resolusi.
Microsoft memperoleh lisensi dari Monotype untuk menggunakan font ini sebagai bagian dari sistem operasinya. Sejak Windows 3.1 (1992), Times New Roman menjadi font default untuk banyak aplikasi, termasuk Microsoft Word. Sebelum itu, komputer menggunakan font bitmap atau vektor sederhana, dan font seperti Times New Roman lebih umum ditemukan di mesin cetak dan sistem typesetting.
Fonts Times New Roman masuk kategori “Serif“. (Lawannya adalah “Sans Serif“.) Selain Times New Roman masih ada banyak fonts lain yang masuk kategori serif ini dan memiliki tampilan yang mirip, seperti misalnya Georgia, Garamond, Palatino, Bookman Old Style, dan lain-lain. Banyak orang yang sering salah mengidentifikasi fonts.
Referensi.
Morison, S. (1936). A Tally of Types. Cambridge University Press. Buku ini ditulis oleh Stanley Morison, yang menjelaskan sejarah dan perkembangan berbagai jenis huruf, termasuk Times New Roman.
Halaman ini untuk mendokumentasikan kejadian jatuhnya IHSG. Kronologisnya adalah pada tanggal ? bulan Maret 2025, IHSG jatuh lebih dari 6% sehingga perdagangan saham sempat dihentikan.
Ada yang mengatakan bahwa kejatuhan ini dipengaruhi oleh ekonomi global. Namun pada saat yang sama, bursa saham di Asia tidak ada yang anjlok sebagaimana IHSG. Jadi meskipun ada pengaruh dari ekonomi global, namun kemungkinan tebesar memang spesifik Indonesia. Ada beberapa analisis alasan kenapa IHSG jatuh, antara lain:
Jatuhnya nilai mata uang Rupiah
Keberadaan Danantara
Isyu Menteri Sri Mulyani akan mengundurkan diri. Hal ini nanti dibantah (dengan mengadakan acara klarifikasi) sehingga kejatuhan IHSG terkoreksi menjadi ??? (3,* %).
Masing-masing poin di atas perlu mendapat penjabaran yang lebih panjang lagi. Dokumen ini belum selesai dan akan diperbaharui secara berkala.
Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak manusia Indonesia, tetapi sayangnya tidak banyak yang mengajari bagaimana cara menggunakannya dengan baik dan benar. Akibatnya sering terjadi perdebatan yang tidak perlu. Berikut ini adalah panduan yang saya gunakan di media sosial.
Tidak semua komentar (tanggapan) harus dikomentari. Ketika tulisan kita diberi komentar, maka tidak semuanya harus kita tanggapi. Ini bertentangan dengan pendapat umum. Biasanya orang menanggapi kembali untuk mendapatkan engagement yang tinggi. Supaya viral. Supaya banya ditonton dan seterusnya. Namun untuk diri kita, sesungguhnya ini malah menimbulkan efek negatif. Kita menjadi ketakutan tidak dianggap. Jika memang apa yang kita sampaikan penting, maka tidak perlu kita menggunakan ukuran engagement tingga atau tidak.
Kebanyakan yang komentar adalah orang yang lewat saja. Jika komentar mereka kita tanggapi pun, mereka sudah tidak akan membaca lagi. Jadi ini orang yang lewat, beri komentar, kemudian pergi lagi. Tidak akan kembali lagi membaca tulisan kita. Namanya juga orang yang sedang lewat. Komentarnya adalah impulsif. Orang yang lewat ini biasanya menggunakan userid yang generik, misal “user001” atau sejenisnya. Bukan nama orang yang sebenarnya.
Tidak perlu menanggapi serapah. Kalau banyak yang marah-marah, biarkan saja. Tidak perlu ditanggapi. Seringkali banyak yang tidak dapat menangkap apa yang kita katakan. Kalaupun kita tanggapi akan percuma karena mereka sudah tidak akan membaca lagi. (Lihat poin sebelum ini.) Namun ini memang membutuhkan tingkat kesabaran yang cukup tinggi.
Tunggu tiga (3) hari baru menanggapi. Ini adalah saran praktis yang saya sarankan untuk digunakan. Tunda 3 hari sebelum memberikan tanggapan. Jika setelah 3 hari masih ingin memberikan tanggapan, silahkan. Biasanya setelah satu atau dua hari, maka kemarahan atau kekesalan sudah turun. Topik bahasan juga sudah tidak populer lagi sehingga sudah “kadaluwarsa”. Tidak penting lagi.
Saat ini sedang ramai (kembali) dibahas soal palsu atau tidaknya ijazah pak Jokowi. Tulisan ini tidak membahas itu, karena bagi saya itu sudah selesai. Yang ini bagaimana? Nampaknya juga masih “keleru”. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
Abraham Maslow di 1966 menulis “I suppose it is tempting, if the only tool you have is a hammer, to treat everything as if it were a nail.” Maksudnya adalah seseorang mendekati sebuah hal (kasus, isyu) dengan interpretasinya sendiri berdasarkan kemampuan dan pengalaman yang dilaluinya. Sebagai contoh bagi seorang yang sejak lahir telah menggunakan handphone dan aplikasi peta di dalamnya maka tidak mengerti bahwa dahulu peta itu berbentuk kertas (yang kadang dilipat-lipat karena saking besarnya). Jika kita menggunakan komputer, maka pikiran kita dari jaman dahulu orang menggunakan komputer. Padahal boleh jadi ada banyak hal yang dilakukan tanpa menggunakan komputer.
Kembali ke soal ijazah.
Pada jaman dahulu, teknologi komputer masih terbatas sehingga kemampuan typesetting-nya pun masih terbatas. Saya masih ingat di tahun 1980-an menggunakan komputer dengan printer dot matrix. Tulisan yang dihasilkan oleh printer dot matrix-pun kalah halus dengan laser jet (atau kalau jaman dulu printer PostScript) yang nantinya muncul. Printer dot matrix dahulu memang masih dapat digunakan untuk membuat kartu ucapan selamat (greeting cards) dalam bentuk sederhana. Ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan. Tapi sangat jauh kualitasnya dari ukuran profesional atau formal.
Selain kualitas printer masih terbatas, harga untuk membuat sebuah tulisan menjadi mahal. Misal kita ingin membuat undangan untuk sebuah acara pernikahan. Ada banyak undangan yang harus dibuat. Puluhan atau ratusan undangan. Harga satuan undangan yang terbuat dari kertas printer – mana hasilnya jelek – akan lebih mahal daripada kalau kita cetak. Ya betul, sudah ada “teknologi” percetakan. Printing press.
Kalau untuk membuat sebuah undangan, sertifikat – dan juga ijazah – yang jumlahnya banyak, maka percetakan lebih masuk akal. Apalagi jika desainnya tidak terlalu membutuhkan desain yang aneh-aneh. Banyak dokumen formal yang desainnya sudah standar. Sertifikat bentuknya standar. Undangan juga standar. Ijazah juga standar. Sampul buku tugas akhir, skripsi, thesis, disertasi juga sudah distandarkan. Maka ini akan lebih murah dan lebih bagus jika mereka dicetak. Nanti untuk personalisasi, misalnya untuk nama yang tertera pada sertifikat atau ijazah, ditulis tangan saja.
Ada juga situasi dimana kita menggabungan keduanya. Hybrid. Ini bisa kita lakukan dengan membuat dokumen skripsi, tugas akhir, atau disertasi yang isinya dicetak dengan printer dot matrix atau bahkan menggunakan mesin ketik biasa. Namun nanti sampulnya (cover-nya) dicetak menggunakan printing press. Format dari sampulnya sama hanya judul dan pengarangnya yang berbeda. Dicetak dalam jumlah sedikit, misal 5 buku, juga tidak apa-apa. Toh ini adalah buku (maha?) karya kita ketika menjadi mahasiswa. Itu yang banyak dilakukan orang. Kelihatan bagus.
Oh ya. Soal keributan ijazah yang katanya palsu karena menggunakan fontsTimes New Roman yang katanya belum ada di komputer pada waktu itu (ini juga fakta yang salah sebetulnya) salah arah. Kalau dia dicetak dengan menggunakan printing press, maka tidak ada hubungannya dengan komputer dan fonts di komputer tersebut. (Catatan: sekarang printing press sudah lebih hebat.)
Iseng-iseng, sebagian dari gambar ijazah itu – yang ada banyak tulisannya, banyak penggunaan fonts-nya – saya berikan ke beberapa mesin AI (Artificial Intelligence yang menggunakan LLM – Large Language Model yang sedang ngetop). Apakah ini dari komputer atau printing press? Berikut ini jawabannya.
Ini jawaban ChatGPT:
Dari Deepseek
Ini dari Perplexity.ai:
Ini dari Claude.ai:
Nampaknya aklamasi: printing press. Jadi kesimpulannya?
Dulu saya tidak paham seberapa hebohnya efek yang ditimbulkan oleh kode program. Saya memang suka dan bisa memprogram. Itu hobby saya. Bahkan saya tahu juga bahwa program memang dapat membuat perubahan yang signifikan, tetapi mengubah dunia? Ini mungkin terlalu bombastis. Memang benar bahwa algoritma yang kita tanamkan dalam program itu bisa melakukan sesuatu. Contohnya algoritma yang digunakan untuk menampilkan postingan di Facebook atau video di YouTube itu dapat mengubah pendapat seseorang. Mengubah kultur.
Dulu juga saya membaca bahwa hukum dapat berubah dengan adanya kode program. Code is the law. Lagi-lagi saya percaya tapi masih belum dengan sepenuh hati.
Ini saya sedang membaca bukunya Harari yang berjudul “Nexus”. Ada satu kalimat yang dia tuliskan seperti ini:
“When we write computer code, we aren’t just designing a product. We are redesigning politics, society, and culture, and so we had better have a good grasp of politics, society, and culture. We also need to take responsibility for what we are doing.”
Mak jleb! Semakin percaya saya bahwa kode program memang semakin penting.
Ini masih melanjutkan eksplorasi tentang solar panel. Di tulisan sebelumnya saya melakukan eksplorasi dengan OpenMPPT. Sejak tulisan itu ada banyak eksplorasi lain yang sudah saya lakukan tapi belum saya dokumentasikan. Masih ada banyak keanehan lain. Misalnya, kenapa di malam hari statusnya adalah “charging”? Kan malam hari tidak ada cahaya matagari. Akhirnya saya terpaksa membuat “alat ukur” sendiri, yaitu rangkaian untuk memantau arus (current sensing) DC yang menuju batre. Ini untuk memastikan apakah batre disetrum (charged) atau tidak.
Rangkaian untuk mengukur arus DCMenguji rangkaian pengukur arus DC
Rangkaian tersebut saya hubungkan dengan sebuah board ESP8266 (lebih tepatnya Wemos D1 mini) yang dapat menunjukkan berapa arus yang terbaca. Data tersebut saya ambil secara berkala dan saya simpan di berkas CSV. Hasilnya kemudian saya tampilkan di layar seperti gambar di bawah ini.
Grafik dari tampilan ini lebih masuk akal buat saya. Lebih logis. Jadi arus yang menuju batre (artinya charging) positif dari jam 7:30-an pagi sampai sekitar jam 15:00-an (jam 3 sore). Artinya ketika cuaca cerah, batre disetrum (charged). Kalau malam arusnya negatif karena batre digunakan untuk memberikan daya ke dua buah Wemos D1 mini. Arusnya mendekati 200 mA. (Tinggal dikalikan dengan 5 Volt – eh atau 3,3 Volt ya? – untuk dayanya.)
Untuk siang hari, arus charging itu bahkan bisa sampai tinggi meskipun mungkin secara rata-rata(?) mendekati 200mA juga. Ini masih perlu saya hitung lagi dari data mentahnya. Berapa daya yang keluar dalam satu hari dan berapa daya yang masuk. Secara visual ini dapat dilihat dari luas (area) yang berada di bawah atau di atas garis 0 mA. Apakah secara keseluruhan sama? Balanced? Atau malah tekor (lebih banyak yang di bawah garis 0 mA)?
Arus “normal” satu siklus
Dalam penelitian seperti ini memang harus dilakukan beberapa siklus. Kali ini saya baru melakukannya dalam rentang waktu 3 hari. Memang alatnya juga baru saya rangkai 3 hari yang lalu. Sebagai catatan memang untuk melakukan pengujian (testing) itu harus dilakukan setidaknya 2 siklus proses (business process). Semakin banyak seharusnya semakin baik, tetapi setidaknya harus lebih dari satu kali. Ini masih mau saya pantau setidaknya dalam waktu 1 minggu dulu.
Salah satu masalah besar pada sistem berbasis IoT (Internet of Things) adalah energi listrik. Banyak tempat pemasangan IoT yang tidak memiliki akses ke listrik PLN, misalnya di laut dan di hutan. Untuk itu harus dicari sumber daya listrik lain. Salah satu solusinya adalah menggunakan batre (dan aki) yang kemudian diisi (di-charge) dengan menggunakan solar cell.
Ini adalah sedikit dokumentasi dari oprekan kami terkait dengan solar cell. Sistem yang digunakan untuk melakukan manajemen pengisian batre adalah dengan menggunakan OpenMPPT. Ini adalah sebuah usaha open source. (Tautan menyusul)
Sistem Solar Cell: di atas ada solar panel, di dalam box ada aki, perangkat OpenMPPT, ESP8266 (NodeMCU D1 mini), dan sensor DHT-22Isi kotak (dari kiri ke kanan): box OpenMPPT (yang berwarna hitam), rangkaian step down (yang ada LED-nya), dan aki motor (berwarna hijau)
Yang menarik dari OpenMPPT adalah adanya web server di boardnya (yang berbasis ESP32). Kita dapat melihat status dari batre. Berikut ini adalah contoh screenshot dari web servernya.
Data dari web server itu saya ambil datanya dengan menggunakan program Python. (Kode akan saya simpan di github saya. Tautan menyusul.) Dari data yang ada, kemudian saya buatkan grafik-grafiknya. Berikut ini beberapa contoh tampilannya.
Yang pertama ini adalah tegangan di solar cell. Pada siang hari, tegangannya tinggi. Sebetunya ada perubahan dari solar panel yang saya gunakan. Pada awalnya saya hanya menggunakan solar panel yang 10 watt, kemudian diganti dengan yang 50 watt (yang lebih besar ukuran fisiknya). Ceritanya menyusul. Hasil dari solar panel yang 50 watt lebih besar tegangannya juga. Yang menarik juga adalah tegangan keluaran dari solar panel tersebut tidak menurun dengan landai sebagaimana saya pikirkan di awalnya, tetapi tiba-tiba menukik menjadi 0V. Dalam bayangan saya, seharusnya tegangannya menurun secara “analog”, landai dari katakannlah 20 Volt menjadi 0 Volt. Ternyata dia tiba-tiba langsung nol. (Ada grafik yang lebih jelas lagi.)
Grafik kedua adalah keluaran dari box OpenMPPT ini. Yang ini merupakan cerminan dari tegangan solar panel, hanya lebih kecil saja dan agak lebih “halus” sedikit. Ini nantinya yang diproses oleh box dan kemudian digunakan untuk meng-charge batre (aki). (Apakah benar demikian? Ataukah data “Temperature corrected charge end voltage” yang digunakan untuk meng-charge batre? Perlu membaca dokumentasinya lagi.)
Grafik berikutnya adalah tegangan di batre. Range tegangan di batre adalah antara 12,2 Volt sampai mendekati 12,8 Volt. Gambar grafik ini terlihat “drastis” karena range dari sumbu Y saja. Kalau dilihat dari datanya sih variasinya hanya 0,6 Volt saja.
Box OpenMPPT ini memiliki sensor yang ditempelkan ke batre sehingga dapat diukur temperatur (suhu) dari batrenya. Tegangan (daya?) yang digunakan untuk mengcharge aki. Gambar grafik di atas seharusnya menunjukkan “suhu dari batre”, tetapi dalam konfigurasi yang kami gunakan batre (aki) tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kotak (enclosure) sehingga suhu yang terukur bukan suhu batre tetapi suhu kotak ini (yang mungkin lebih panas daripada batrenya karena “terjemur”).
Gambar terakhir ini yang agak membingungkan. Ini adalah data status dari batre. Berapa persen kondisinya. Pada awal dari percobaan ini ada kondisi dimana batre yang awalnya mendekati 70% (kalau tidak salah tepatnya 66%) kemudian tiba-tiba anjlok drastis ke 22%. Ini belum diketahui sebabnya. Ada yang mengatakan bahwa kemungkinan alat konversi dari 12 Volt ke 5 Volt (step down) yang bermasalah (nyedot listirk), tetapi ini belum dapat dikonfirmasi. Alat (modul) yang sama tetap kami pakai dan hasil selanjutnya ok-ok saja. Jadi ini masih belum jelas.
Yang juga masih membingungkan adalah “charge” itu naik di malam hari juga! Awalnya saya pikir ini salah konfigurasi waktunya saja, tetapi data kemudian saya ambil secara manual di malam hari. Saya amati dan memang datanya naik. Ini masih belum jelas kenapanya. (???)
Ketika batre dalam kondisi lemah, sempat terpikirkan oleh saya untuk mengubah kodingan untuk pengambil data sensor (temperatur dan kelembaban) agar perangkan ESP8266-nya tidur (sleep) ketika tidak mengambil data. Namun sebelum ini saya laksanakan dan saya ganti solar panelnya dengan yang lebih besar, batre membaik. Jadinya saya belum melakukan modifikasi kodingan untuk mengambil data sensor.
Saya punya dua andalan gaya ketika difoto; (1) “ketawaaaaaaa”, dan (2) melihat ke kanan dan menunjuk – alias “gaya tunjuk”. Kita bahas yang kedua di tulisan ini ya. Gaya ini biasanya dilakukan kalau kita akan difoto rame-rame dan seluruh badan. Instruksi saya biasanya adalah melihat sesuatu yang sama di sebelah kanan dan boleh menunjuk atau tidak. Cara ini ternyata cukup efektif untuk membuat gaya yang natural dan juga ekspresi wajah yang cerah karena ketawa. Ha ha ha.
Ini ada beberapa contoh foto gaya tunjuk. Kebanyakan memang arahnya ke kanan, meskipun bisa juga ke kiri.
Saya pikir tadinya gaya seperti ini itu hanya saya saja yang kepikiran, tetapi baru-baru ini saya nonton film dokumenter the Beatles yang berjudul “1964” dan di dalamnya ada situasi yang mana mereka berpose seperti itu. Mungkin itu juga kejadiannya spontanitas saja, tanpa direncanakan, tapi hasilnya juga sama bagusnya. Jadi saya sadar bahwa ternyata gaya ini bukan hal yang baru. Ha ha ha.
Saat ini saya sedang tergila-gila degan drama Korea (drakor). Apa yang membuatnya menarik? Saya baru teringat juga kenapa saya tertarik dengan berbagai serial “sitcom” (situation comedy). Ternyata yang membuat saya menarik adalah dalam setiap episode selalu ada masalah (yang kadang disebut juga dengan situasi). Yang menarik bagi saya adalah bagaimana sang karakter merespon (atau solusi) terhadap masalah tersebut. Untuk sebuah masalah ada beberapa kemungkinan solusi. Nah apa yang akan dilakukan oleh penulis cerita tersebut? Solusi mana yang akan dipilih?
Yang membuat saya tertarik adalah bila solusinya ternyata out of the box. Berbeda dengan yang ada di kepala saya. Atau solusinya tidak terbayang di kepala saya sebelumnya. Yang tidak menarik adalah yang solusinya terlalu mengada-ada. Ini yang sering terjadi dengan cerita drama Indonesia. Jadi saya merasa dibohongi. Patronizing. Itu yang membuat saya kesel.
Hari ini adalah tanggal 1 Januari 2025. Selamat datang tahun 2025.
Ada banyak hal yang belum terselesaikan di tahun 2024. Masalah baru muncul juga di tahun 2024. Mereka menjadi pekerjaan rumah di tahun 2025. Meskipun sesungguhnya saya tidak yakin bahwa tahun 2025 masalah-masalah tersebut akan terselesaikan. Biarkanlah. Kalau tidak selesai, ya mereka akan jadi pekerjaan rumah di tahun-tahun selanjutnya. Ha ha ha. Gampang kan?
Salah satu masalah yang muncul di kepala saya saat ini adalah kehabisan disk. Di komputer yang saya gunakan untuk menuliskan artikel blog ini – Macbook – penggunaan harddisk-nya sudah mencapai 94%. Biasanya kalau sudah 90% maka saya akan upgrade disknya, tetapi Macbook yang ini disknya tidak bisa diupgrade. Sebetulnya masalah ini dapat dipecahkan dengan memindahkan banyak berkas ke disk eksternal. Hanya saja saya belum membeli disk eksternal untuk melakukan hal ini. Saya sudah menyiapkan server NAS untuk memindahkan file ke sana, tetapi disk dari NAS ini juga sangat terbatas. Ha ha ha. Padahal harga storage semakin murah. Seharusnya ini tidak menjadi masalah, tetapi tetap menjadi masalah karena tidak dieksekusi solusinya.
Sebetulnya masalah ini tidak terjadi di komputer saya saja tetapi juga di handphone saya. Sudah beberapa kali saya mendapat peringatan bahwa storage menipis. Padahal handphone saya ini memiliki storage 128GB. Apa saja sih yang tersimpan di sana?
Akar dari permasalahan ini adalah kita terlalu banyak membuat “data”. Atau lebih tepatnya kita “menyampah data”. Membuat sampah data. Lagi-lagi kalau kata orang “data adalah minyak” (yang berharga), kalau saya tetap berpendapat bahwa “data adalah sampah”. Contohnya kalau jaman dahulu untuk memotret harus mikir-mikir dulu karena “film” (klise) yang digunakan untuk merekam gambar jumlahnya terbatas sekali, misalnya hanya 24 atau 36. Jadi sebelum menjepret, mikir dulu. Kalau sekarang, jepret beberapa kali (bahkan puluhan kali) tidak menjadi masalah. Nanti kan tinggal dibuang. Dihapus. Di-delete. Tidak kejadian dihapusnya. Nanti saja dan terus menjadi nanti saja. Itulah sebabnya 128 GB terasa sedikit.
Eh, ini baru satu masalah di tahun 2024 yang belum terselesaikan ya? Masalah yang lain? Ada banyak. Menuliskannya saja sudah menjadi “masalah”. Ha ha ha.
Sebetulnya dari Drakor (6) ke Drakor (7) ini ada beberapa seri Drama Korea yang sempat saya tonton tetapi lupa saya catatkan. Jadinya ini yang saya ingat saja ya. Kalau menunggu film-film yang lain untuk dituliskan dalam satu postingan, jangan-jangan kelupaan lagi. Jadinya kali ini saya hanya menuliskan satu film saja.
Sebetulnya seri “I am not a Robot” ini sudah bolak balik muncul di lini-masa saya. Hanya saja saya awalnya tidak terlalu tertarik. Saya menonton ini hanya sebagai distraction dari tontonan yang lainnya, tetapi akhirnya malah menyukai ini.
Secara cerita, film ini tidak terlalu hebat, yaitu menceritakan sebuah robot yang terbuat dari AI. Hanya saja ceritanya agak sedikit melenceng karena sebelum robot ini selesai, sudah ada kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan dia. Maka diambillah seseorang yang mirip dengan robot tersebut untuk pura-pura menjadi robot. Dia dibutuhkan karena perusahaan pembuat robot itu mau dibubarkan. Jadi ini urusan hidup-mati perusahaan. Tipu-tipu sedikitlah. Demikian pemikiran mereka.
Pada saat yang sama, salah satu pemilik saham dari perusahaan tersebut (yang terbesar malahan) sebetulnya punya penyakit alergi terhadap sentuhan manusia. Nah ini yang agak ngarang, menurut saya. Tapi okelah saya terima sebagai bagian yang aneh tapi nyata. Ha ha ha. Supaya dapat menikmati film ini. Nah dia bisa menerima robot di rumahnya karena robot kan bukan manusia – tanpa dia menyadari bahwa robot yang dikirim ke rumahnya sebetulnya manusia. Mulai dari sana ceritanya menjadi semakin “seru”. (Sebetulnya ada cerita lain soal interaksi kedua tokoh itu tetapi lebih baik tidak saya ceritakan.)
Jadi ini adalah tontonan “ringan” yang banyak tidak masuk akalnya. Saat ini setidaknya. Dengan perkembangan AI yang eksponensial saat ini, mungkin cerita ini menjadi masuk akal.
Yang menyenangkan buat saya adalah lawakannya cocok. Jadi saya suka dengan film ini. Nilai saya? 10/10. Ha ha ha. Tidak masuk akal ya? Justru itu. Cocok dengan cerita di film itu yang tidak masuk akal. Untuk menikmati film ini memang harus banyak “open minded”. ha ha ha.
Ini sebetulnya bukan review buku, tetapi cerita tentang saya membaca buku ini. Jadi ini buku karangan Neal Stephenson yang kedua yang saya coba baca. Buku pertama yang saya coba baca, Cryptonomicon, tidak selesai saya baca dan entah dimana sekarang bukunya. Itu buku fisik yang sangat tebal. Masalahnya, susah membacanya.
Buku Snow Crash ini saya baca dan sempat terhenti sejenak. Kemudian ketika jamannya kata “Metaverse” naik daun – ingat perusahaan Facebook pun sampai mengubah namanya menjadi META – saya baru teringat bahwa kata itu dikoinkan oleh Neal Stephenson dalam buku Snow Crash ini. Jadilah saya “terpaksa” membaca buku ini.
Ini adalah buku science fiction yang sangat sulit dibaca. Bukan karena terminologi teknisnya – kalau yang itu saya tidak masalah karena latar belakang teknis saya – tetapi gaya bahasanya dan pemilihan kata (diksi) yang tidak saya pahami. Bahasa Inggris saya ternyata belum mampu untuk mencerna kata-kata yang digunakan dalam buku itu. Mungkin ini masalah pop culture saya yang belum paham. Maklum, saya dibesarkan di Indonesia dengan lingkungan kultur Indonesia. Eh, mungkin juga orang di Amerika dan di Inggris pun belum tentu paham dengan tulisan dari Neal Stephenson ini. Memang harus menjadi cult follower baru bisa menyukai tulisannya(?).
Setelah berjuang keras, akhirnya buku ini dapat saya selesaikan. Dapat saya katakan bahwa di akhir-akhir baru saya dapat mengerti atau sedikit menyukai (saya katakan sedikit) gaya tulisan dari Neal Stephenson ini. Ceritanya juga mulai dapat saya mengerti. Saya juga mulai memahami apa yang dimaksudkan dengan istilah “metaverse” menurut dia. Oh ya, dia juga beranggapan bahwa dia yang menemukan istilah “avatar” meskipun nantinya dia baru sadar bahwa dia bukan orang pertama yang menggunakan istilah itu.
Secara keseluruhan, buku ini termasuk biasa saja menurut saya. Maklum saya pemula dalam dunia science fiction yang beraliran Neal Stephenson ini. Sesuatu yang harus dibaca? Tidak juga. Tapi jika Anda tertarik dengan asal kata “metaverse”, misalnya, mungkin ada baiknya membaca buku ini. Atau, cari artinya sajalah. Menghemat waktu. Ha ha ha. Buat saya, ini adalah sebuah pencapaian baru. Dapat bintang lah.
Kalau dahulu, belajar itu harus dari buku. Sebelumnya lagi, belajar harus langsung ke gurunya. Saat ini dengan adanya teknologi, maka belajar itu bisa dari video. Sekarang memungkinkan karena kecepatan jaringan komputer sudah memungkinkan dan biayanya sudah murah (affordable). Kualitas materi yang ditayangkan di video saat ini juga sudah semakin bagus. Akibatnya, saya juga sudah mulai belajar menggunakan video juga.
Ada banyak video yang asyik untuk ditonton dari isinya. Saya suka belajar. Jadi video yang saya tonton juga yang bisa saya pelajari. Materinya bervariasi mulai dari yang teknis sampai yang non-teknis dan berkesan hiburan semata bagi banyak orang tetapi pelajaran bagi saya. Video dokumenter musik, misalnya. Ada banyak pelajaran di sana. Setidaknya, pelajaran sejarah (musik, tentunya).
Sudah banyak tempat yang dapat digunakan untuk berbagi informasi mengenai buku yang dibaca, tetapi masih kurang tempat untuk berbagi video yang ditonton. Beberapa waktu yang lalu, rekan saya yang namanya mas Helmi mengusulkan saya mengirimkan daftar video-video yang saya tonton. Hmmm. Ide yang menarik ya. Kalau begitu saya mulai saja dengan membuat daftar video yang saya tonton.
Hari ini ada beberapa video menarik yang saya tonton. Yang pertama adalah video dari YoutTube. Di bawah ini adalah tautannya. Saya tidak ingat darimana saya mendapatkan tautan video ini. Seingat saya dari Facebook.
Video ini judulnya tentang orang yang paling cerdas di dunia. IQ-nya paling tinggi. Saya sebetulnya tidak tertarik dengan topik itu tetapi yang menarik bagi saya adalah bahasan soal kesadaran (consiousness). Di era AI (Artificial Intelligence) ini ada pertanyaan apakah mesin (AI) dapat memiliki kesadaran? Meskipun video itu tidak membahas spesifik tentang hal itu, tapi saya menjadi tertarik juga dengan bahasannya. Eh, ternyata … susah dimengerti. Maksudnya bukan bahasanya yang susah dimengerti tetapi ada banyak konsep yang perlu saya pelajari lebih dahulu. Ha ha ha.
Video kedua yang saya tonton adalah dokumenter tentang “Yacht Rock“. Apa itu “yacht rock”? Nah itu dia. Genre musik ini termasuk yang saya sukai tanpa perlu mendefinisikannya. (Nanti kapan-kapan saya bahas tentang hal ini. Tapi tidak janji ya. Ha ha ha.) Video ini saya tonton secara online karena hanya ada di jaringan HBO. Jadi tidak dapat saya bagikan tautannya di sini. Ini jenis pembelajaran yang saya suka. Ada banyak hal yang baru saya ketahui dari film dokumenter ini. Apa saja? Menyusul.
Video ketiga yang saya tonton tetapi belum selesai adalah “Beatles ’64“. Yang ini ada di Disney+ Hotstar. Ini adalah dokumenter tentang kunjungan the Beatles ke Amerika di tahun 1964. Karena baru memulai, saya belum bisa menjabarkannya. Hanya saja karena saya merupakan salah satu penggemar the Beatles, maka film dokumenter ini tentunya sangat menarik. Nanti saya akan coba ceritakan hal-hal menariknya (yang bukan umum).
Untuk sementara ini dulu. Lumayan. Tiga video yang menurut saya pantas untuk ditonton.