#167 – The Second Chance Convenience Store

ImageJudul: The Second Chance Convenience Store
Penulis: Kim Ho-yeon
Penerjemah: Janet Hong
Penerbit: Harper Perennial
Halaman: 208
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Nenek Yeom, seorang janda berusia 70 tahun, memiliki toko serba ada (convenience store). Ia memiliki anak laki-laki, tetapi tidak memiliki hubungan yang terlalu baik dengan anaknya. Jadi, ia masih harus mengurus tokonya dibantu dengan tiga pegawai paruh waktu.

Suatu hari Nenek Yeom kecopetan. Tasnya ditemukan oleh seorang tunawisma. Pria tersebut bahkan rela untuk digebuki oleh para pencopet demi menolong Nenek Yeom. Terharu, Nenek Yeom menawarkan pekerjaan untuk pria tersebut yang belakangan diketahui namanya adalah Dokgo.

Lanjutkan membaca “#167 – The Second Chance Convenience Store”

#166 – Dracula

ImageJudul: Dracula
Penulis: Bram Stoker
Penerbit: Project Gutenberg (pembaharuan terbaru: 24 September 2025)
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Begitu banyak cerita bertemakan vampir, tetapi tetap yang menjadi juaranya adalah DraculaDracula adalah novel yang ditulis oleh Bram Stoker dan terbit pertama kali tahun 1897. Jika kalian mengira kalau Dracula merupakan novel pertama yang berkisah tentang vampir, maka kalian salah. Karena novel pertama tentang vampir adalah The Vampyre, yang terbit tahun 1819 dan ditulis oleh John Polidori.

Jangan salah mengira juga kalau Dracula itu sama dengan vampir. Bukan, Count Dracula adalah nama tokoh dalam cerita ini, yang kebetulan seorang vampir. Dia seorang aristokrat, keturunan bangsawan Transylvania yang entah kenapa akhirnya memutuskan untuk menjadi vampir. Yang anehnya, di sepanjang cerita dia hanya menghisap darah dari kaum para pekerja. Count Dracula seperti tidak mau memilih kaum bangsawan menjadi korbannya.

Saya bukan penggemar cerita bertemakan horor, tetapi saya cukup menikmati Dracula. Barangkali bias karena saya cukup menyukai sastra klasik. Apalagi dengan bahasa Inggris dari tulisan Bram Stoker cukup mudah dipahami dan gaya penulisan jaman Victoria cukup menyegarkan buat saya. Rasanya indah membacanya.

Lanjutkan membaca “#166 – Dracula”

#165 – Animal Farm

ImageJudul: Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka (cetakan II, 2016)
Halaman: iv + 144
ISBN: 978-602-291-283-5
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was awesome

Malam itu Major, si babi tua bijaksana di Peternakan Manor, menunggu Petani Jones untuk masuk ke dalam rumah sebelum dia mengumpulkan seluruh hewan yang ada di peternakan tersebut. Major menyalakan semangat para hewan di sana untuk bangkit melawan ketidakadilan yang mereka terima dari manusia. Bagi Major, sudah saatnya untuk revolusi.

Sayang, Major tidak bisa memimpin revolusi. Sepeninggal Major, ada trio babi yang secara aklamasi memimpin pergerakan, yaitu Napoleon, Snowball, dan Squaler. Awalnya, revolusi berjalan mulus. Namun, lambat laun tercipta kepemimpinan yang otoriter dari Napoleon.

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.

Wejangan dari Lord Acton tersebut sangat menggambarkan Napoleon yang haus kekuasaan. Kekuasaan melenakan Napoleon dan dia pun menjadi semena-mena. Dia menebar teror, melakukan propaganda, memanipulasi fakta, dan menyingkirkan orang-orang yang dianggap lawan atau yang tidak bisa diatur.  Lanjutkan membaca “#165 – Animal Farm”

#164 – Babel

ImageJudul: Babel
Penulis: R. F. Kuang
Penerjemah: Siska Nurohmah
Penerbit: Shira Media (cetakan XII, September 2025)
Halaman: xvi + 640
ISBN: 978-602-7760-81-3
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was awesome

Tahun 1828 di Kanton terjadi wabah kolera. Nyawa Robin Swift sudah di ujung ketika Profesor Richard Lovell, seorang pengajar di kampus Babel di Oxford, datang dan menyelamatkannya. Lovell datang dengan membawa batang perak dan mengucapkan dua patah kata dan perak tersebut bisa membuat Robin lolos dari maut.

Robin lalu diasuh Lovell. Dia dijanjikan segalanya–tempat tinggal, makan, pendidikan berkualitas–oleh Lovell, tetapi dengan timbal balik bahwa Robin harus belajar sungguh-sungguh untuk menguasai bahasa Latin, Yunani Kuno, dan Mandarin. Lovell sudah menyiapkan karir untuk Robin, yaitu sebagai penerjemah. Karena dengan menjadi penerjemah Robin bisa membantu Kerajaan Inggris untuk tetap menguasai dunia dengan mengaktifkan kekuatan perak dari terjemahannya.

Lanjutkan membaca “#164 – Babel”

USD Challenge

Awal tahun ini saya mengikuti Goceng Challenge. Tantangan ini pertama kali saya ketahui dari story Instagram teman saya. Bagi yang belum tahu, goceng challenge adalah tantangan menabung Rp5.000,00 setiap kali menyelesaikan satu buku bacaan dalam satu tahun. Jika sudah akhir tahun, uangnya bisa dibelikan buku atau terserah mau dipakai apa saja.

Buat saya, ini menarik. Saya bisa jadi semangat membaca sekaligus menabung. Agar lebih menarik saya memodifikasi sedikit tantangannya dalam hal besaran jumlah uang yang ditabung. Tantangan versi saya, Rp5.000,00 per buku fiksi; Rp7.500,00 per buku nonfiksi; dan Rp10.000,00 per jurnal ilmiah yang saya baca. Tahun 2025 sudah mau berakhir dan saya bisa menabung sekitar Rp195.000,00. Lumayan. 

Hasil tabungan dari tantangan tersebut saya belikan Babel-nya R. F. Kuang.

Image

Merasa cukup berhasil dengan tantangan membaca tersebut, tahun 2026 saya akan kembali melakukannya. Namun, saya kembali memodifikasi tantangannya. 

Lanjutkan membaca “USD Challenge”

#163 – Katabasis

ImageJudul: Katabasis
Penulis: R. F. Kuang
Penerbit: HARPER Voyager (cetakan I, 2025)
Halaman: 560
ISBN: 978-0-06-345524-5
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was awesome

Alice Law tidak sengaja membunuh profesornya, Jacob Grimes, seorang penyihir analytick paling berpengaruh di Inggris. Ia sebagai seorang mahasiswi pascasarjana sangat membutuhkan rekomendasi dari Profesor Grimes jika ia ingin bertahan di dunia akademi sihir. Namun, rekomendasi itu tidak akan ia dapatkan jika Grimes mati. Oleh karena itulah, apapun akan ia lakukan, sekalipun ia harus pergi ke neraka dan membawa Grimes kembali ke dunia. Ia paham risikonya. Setengah dari sisa umurnya sudah ia relakan demi bisa membuka pintu gerbang neraka.

Rencananya diketahui oleh saingan utamanya di kampus, yaitu Peter Murdoch. Alice, yang begitu ingin membuktikan sebagai yang terbaik di dalam segala hal, menemukan rivalitas di dalam diri Peter. Ketika Peter yang tampan, jenius, dan kaya menawarkan diri untuk ikut ke neraka menemani Alice, apa sebenarnya yang menjadi motif Peter? Namun, tidak ada waktu untuk berdebat dan mempertanyakan motif Peter. Waktu terus bergerak. Semakin lama mereka menunda merapal mantra untuk membuka gerbang sihir maka akan semakin sulit untuk menemukan Grimes. Karena Grimes bisa saja terus berjalan dan memutuskan untuk moving on.

“Christ,” said Peter. “Hell is a campus.” (hal. 77)

Neraka di dunia Katabasis adalah kampus, dengan tingkatan tujuh dosa besar– yang terinspirasi dari Dante Alighieri, yaitu pridedesiregreedwrathviolencecruelty, dan tyranny–dan ditambah The Eight Court. Alice dan Peter melihat roh-roh (mereka menyebutnya sebagai shades) yang merupakan mahasiswa, dosen, dan akademisi lain. Mereka terjebak di dalam neraka karena sombong dengan ilmu yang dimiliki, marah dengan pembimbing yang kejam, mengkhianati mahasiswa bimbingannya sendiri, dan lain-lain. Alice dan Peter terus mencari Grimes. Kira-kira di neraka tingkat bagian apa Grimes harus menebus dosanya?

Ternyata mencari roh di neraka jauh lebih sulit dari yang Alice dan Peter bayangkan. Mereka tidak punya buku panduan tur neraka yang bisa mengarahkan mereka. Tidak pula memiliki kenalan warga lokal yang mau berbaik hati mengantarkan. Sepanjang pengembaraan, mereka menemui banyak rintangan dan ancaman. Semua itu membuat saya bertanya-tanya apakah sebuah surat rekomendasi dari profesor yang jahat dan perisak sangat layak untuk didapatkan dengan pengorbanan semua ini?

Lanjutkan membaca “#163 – Katabasis”

#162 – Bisnis Perbudakan Seksual

ImageJudul: Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-Anak Internasional
Judul asli: Esclavas del Poder
Penulis: Lydia Cacho
Penerjemah: Fransiskus Pascaries
Penerbit: Marjin Kiri (cetakan I, Februari 2021)
Halaman: x + 315
ISBN: 978–602–0788–11–1
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was awesome

Tidak mudah bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Apalagi menuliskan ulasannya. Karena dari judulnya saja sudah… tidak nyaman. Dan saat membacanya membuat saya terbelah antara bersyukur dan marah. Bersyukur saya dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang melindungi dan menyayangi saya, tetapi saya juga marah karena begitu banyak perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia dan perbudakan dan tidak ada yang bisa saya lakukan.

Lydia Cacho adalah seorang jurnalis investigasi, penulis, feminis, dan aktivis hak asasi manusia dari Meksiko. Bukunya yang berjudul The Demons of Eden, tentang praktik bisnis pornografi dan prostitusi anak-anak yang menyeret tokoh-tokoh besar di Meksiko, membuatnya dijebloskan ke penjara, dilecehkan, nyaris diperkosa, bahkan nyaris terbunuh. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya gentar dan kapok untuk terus menginvestigasi dan melaporkan kepada dunia tentang kejahatan bisnis perbudakan seksual.

Buku ini terdiri dari 14 bab. Enam bab pertama Cacho menyampaikan hasil investigasinya di delapan negara, yaitu Turki, Israel, Palestina, Jepang, Kamboja, Birma, Argentina, dan Meksiko.

Investigasi itu sangat tidak mudah dilakukan, terutama bagi seorang perempuan. Ia harus masuk ke sarang mafia yang terkenal kejam dan tidak segan-segan untuk menyiksa, memerkosa, ataupun membunuhnya. Dalam mencari narasumber pun, Cacho harus pintar dan berhati-hati karena ia tidak tahu apakah narasumbernya ini nanti akan mengkhianatinya. Ia juga harus pandai mengambil hati dan membuat percaya para korban agar mau terbuka dan berbicara kepadanya. Cacho menulis karena ia seorang perempuan bahaya yang mengancamnya berkali-kali lipat dibandingkan jika ia seorang laki-laki. Karena seandainya ia laki-laki, ia cukup berpura-pura membayar jasa, lalu ia bisa mengajak perempuan korban perdagangan untuk berbicara di kamar hotel yang sudah ia sewa.

Dari enam bab tersebut, Cacho banyak menceritakan kisah-kisah korban perdagangan manusia dan bisnis prostitusi. Semuanya tidak enak dibaca. Sungguh.

Lanjutkan membaca “#162 – Bisnis Perbudakan Seksual”

#161 – Sejarah Islam yang Hilang

ImageJudul: Sejarah Islam yang Hilang
Judul asli: Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from the Past
Penulis: Firas Alkhateeb
Penerjemah: Mursyid Wijanarko
Penerbit: Bentang (Maret 2016)
Halaman: 261
ISBN: 978–602–291–150–0
Rating: 5 dari 5

Pengetahuan saya akan sejarah Islam hanya dari pelajaran agama yang dulu saya dapatkan di sekolah. Sangat terbatas. Tidak lebih dari zaman pra-Islam di Mekah, masa kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan masa-masa tidak lama setelah Sang Nabi wafat. Juga tambahan sejarah singkat para nabi.

Saya lupa bagaimana tepatnya saya bisa menemukan buku ini di Google Play Books. Berhubung harganya saat itu terjangkau, ya sudah saya beli. Namun, saya baru sempat membacanya bertahun-tahun kemudian. Ini adalah permasalahan klasik bagi orang yang suka menimbun buku, tetapi dibacanya kapan-kapan kalau ingat.

Saya tidak memiliki harapan apa-apa sebelum membaca buku ini. Hanya saja saya berpikir barangkali isinya juga termasuk membahas masa keemasan ilmuwan Muslim dan saya tidak salah. Alkhateeb memasukkan satu bab khusus mengenai masa kegemilangan intelektual di dunia Islam.

Sejarah Islam yang Hilang terdiri dari sebelas bab. Isinya terentang dari tahun 600an Masehi hingga tahun 1920an. Dari masa pra-Islam hingga lahirnya negara Turki. Ditambah dengan satu bab membahas menurunnya kejayaan Islam. Menariknya, untuk buku dengan materi sebanyak ini tebal buku hanya 261 halaman. Meski terkesan tipis untuk ukuran buku bertemakan sejarah, tetapi isinya sangat padat.

Lanjutkan membaca “#161 – Sejarah Islam yang Hilang”

#160 – Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are?

ImageJudul buku: Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are?
Penulis: Frans de Waal
Penerbit: W. W. Norton & Company (2017)
Halaman: 423
ISBN: 9780393353662
Rating: 4 dari 5 ⭐

Apakah hewan memiliki kapasitas kognitif untuk membuat rencana, bisa menggunakan peralatan, memiliki empati, menjalin kerja sama, membangun aliansi, atau yang lainnya yang selama ini kita kira merupakan kemampuan atau karakteristik khusus yang hanya dimiliki oleh manusia? Buat mereka yang skeptis akan berpendapat bahwa itu tidak mungkin. Hewan tidak memiliki kemampuan mental seperti itu.

Ngomong-ngomong, kenapa manusia seperti meremehkan inteligensi hewan ya? Kita sering kali menafikan kemungkinan bahwa hewan-hewan juga memiliki kemampuan yang sama seperti kita. Bahwa tidak mungkin seekor simpanse membangun sarang yang hangat untuk menyambut musim dingin. Karena cuma manusia kan yang bisa membuat rencana? Iya, kan?

Kenyataannya, tidak. Dari buku ini kita bisa melihat bahwa hewan juga membuat rencana. Tidak hanya itu, Frans de Waal juga memberikan bukti-bukti dari berbagai riset mengenai kecerdasan hewan, yang setelah membacanya akan membuat kamu menjadi lebih rendah hati untuk mengakui bahwa manusia itu tidak sespesial yang kamu kira. Setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Lanjutkan membaca “#160 – Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are?”

#159 – Jalan Kaki Sampai Mati

ImageJudul buku: The Long Walk: Jalan Kaki Sampai Mati
Penulis: Stephen King
Alih bahasa: Lulu Wijaya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2018)
Halaman: 432
eISBN: 978–602–03–8329–3
Rating: 4 dari 5.

Setiap tahun pada tanggal 1 Mei, seratus remaja terpilih untuk mengikuti kompetisi “The Long Walk”. “The Long Walk” adalah sebuah kompetisi berjalan kaki dengan kecepatan minimum yang telah ditentukan dan pemenangnya adalah satu orang terakhir yang mampu bertahan. Tidak ada garis akhir. Tidak ada batasan waktu.

Peserta tidak diperkenankan beristirahat berlama-lama karena peserta akan mendapatkan peringatan. Jika mendapat tiga kali peringatan, maka dia akan mendapatkan tiket. Jika sudah mendapatkan tiket, maka sudah pasti dia akan ditembak. Seandainya pun peserta beruntung tidak ditembak, masih ada dehidrasi, kejang otot, kram, kelelahan luar biasa, halusinasi, hingga paru-paru basah yang mengancam nyawa mereka.

Ray Garraty baru berusia 16 tahun ketika mendapat telepon bahwa dia menjadi satu dari seratus peserta. Dia tahu semua peraturannya dan dia tahu risikonya. Akan tetapi, dia tetap mengikuti “The Long Walk” meski sudah diberi kesempatan diperbolehkan untuk mundur. Dia sendiri pun tidak tahu pasti alasannya mengapa. Dan apa sebenarnya alasan 99 peserta lainnya yang mau mengikuti kompetisi ini?

Lanjutkan membaca “#159 – Jalan Kaki Sampai Mati”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai