Ingatan pekat yang tak lekang
Terpaksa terdorong lari lintang pukang
Saat tempatnya yang teguh dalam korteks
Menemukan pengganti superior secara konteks
Tak ayal ku merasa, jika semesta dalam jiwa adalah pesta dansa, maka kamu adalah primadona.
Posted in wordcraft on February 9, 2012| 1 Comment »
Ingatan pekat yang tak lekang
Terpaksa terdorong lari lintang pukang
Saat tempatnya yang teguh dalam korteks
Menemukan pengganti superior secara konteks
Tak ayal ku merasa, jika semesta dalam jiwa adalah pesta dansa, maka kamu adalah primadona.
Posted in wordcraft, tagged Provocative Proactive on February 2, 2012| 31 Comments »

Ini bukan obituari. Ini bukan serenada selamat tinggal. Ini hanyalah penanda pergantian babak dalam sebuah drama.
Saat Pandji Pragiwaksono melemparkan idenya untuk membuat acara televisi bertemakan edukasi politik, saya sontak berpikir, “hell yeah”. Selain siaran sepakbola, praktis saya tak pernah menonton acara televisi Indonesia. Soal kualitas, anda bisa menilai sendiri, tapi tak satu pun yang menggerakkan keinginan saya untuk duduk terpaku di depan layar datar. Tak pernah terbersit sekali pun cita-cita untuk membuat karya yang berhubungan dengan televisi.
Yang menyebabkan saya menyambut hangat ide Pandji adalah semangat dan tema dari program TV yang sedang digagas ini. Jika Pandji datang dengan ide membuat acara komedi semata atau acara program musik pagi, sudah pasti gagasan itu akan saya tampik.
Saya tak tertarik dengan televisi meski sadar bahwa wilayah jangkauan televisi sebagai media massa relatif lebih besar dibanding media lainnya. Pendidikan politik menjadi concern saya dan saat televisi bisa dipakai sebagai saluran penyampaian ide, termasuk dengan segala keterbatasan dan banalitasnya, maka saya mengangguk setuju.
Program TV kami itu, Provocative Proactive, menyasar audiens berusia muda, sama seperti usia rata-rata anggota tim kami. Mengapa kami berpikir bahwa anak muda Indonesia pada umumnya membutuhkan pendidikan politik? Karena mayoritas dari kita dididik untuk apatis terhadap politik.
Kita dibesarkan dalam sebuah struktur di mana ketidaktahuan adalah keniscayaan. Kita dianjurkan menelan semua tanpa protes dan semakin dikit yang dipertanyakan semakin bagus. Kita dikondisikan menjadi penonton dalam sebuah teater negara di mana penonton tak bisa meminta uangnya kembali jika para pelakon bermain buruk.
Kami menolak.
Tapi kami hanya serpihan kecil dari anak muda Indonesia yang begitu banyak sehingga kami berasa bertanggungjawab untuk membangunkan rekan-rekan kami yang tertidur. Saya sadar bahwa tim kami memiliki privilege berupa terpaan media dan akses terhadap informasi yang lebih sehingga untuk menyamaratakan semua golongan anak muda sungguh tidak adil. Berangkat dari keinginan untuk berbagi itulah Provocative Proactive bergerak.
Selama 1,5 tahun program ini berjalan, masukan yang paling sering saya terima, terutama dari teman-teman yang tergolong cendekiawan, adalah betapa rendahnya tingkat kedalaman informasi dan analisa yang kami berikan, sesuatu yang tak terbantahkan. Tapi satu hal yang sering luput dari perhatian adalah betapa program ini memang diposisikan sebagai sarana pendidikan politik elementer bagi mereka yang awam sama sekali tentang politik.
Mustahil untuk mencekoki penonton televisi dengan berbagai materi politik mendalam saat mereka bahkan tidak tahu Marzuki Alie itu siapa, atau menyajikan analisa mendalam soal berbagai program legislasi DPR saat mayoritas audiens bahkan tidak ingat siapa yang mereka pilih saat Pemilu kemarin.
Dengan segala hormat bagi teman-teman cendekiawan, Provocative Proactive memang terlalu cetek untuk menjadi santapan. Kalian membaca berbagai literatur politik kelas berat, punya akses terhadap jurnal-jurnal ilmiah, dan terhubung ke berbagai saluran informasi tanpa batas. Kalian tak butuh program TV untuk memberitahu apa yang sedang terjadi di negara ini J
Tapi bayangkanlah mereka yang saluran informasi primernya adalah televisi, yang tak seberuntung itu untuk bisa mendapatkan berbagai pengayaan informasi dari sumber-sumber yang lebih mendalam. Dan jumlah mereka lebih banyak. Itulah kalangan yang ingin kami sasar.
Kami tak ingin hidup dalam menara gading, masturbasi intelektualitas setiap hari sembari menutup mata terhadap tingkat kesadaran orang-orang di sekitar. Jika kita hendak bangkit, maka kita bangkit bersama.
Objektivitas program kami kerap dipertanyakan dan biarkan saya menegaskan kali ini bahwa kami 100 % subjektif dengan agenda pendidikan yang kami usung sendiri. Meski pun begitu, program kami tidak berafiliasi pada partai dan organisasi politik mana pun, tak juga kepada lembaga politik yang identik dengan stasiun televisi tempat kami bernaung.
Kami tidak netral karena kami berpihak pada kebenaran. Mudah-mudahan apa yang menjadi acuan kebenaran bagi kami selama ini juga konsensus kebenaran yang sama bagi kebanyakan orang.
Provocative Proactive mungkin akan berhenti sebagai sebuah program TV, tapi saya meyakinkan anda bahwa ini bukan terakhir kali anda mendengar sesuautu dari kami. Provocative Proactive bukan program TV semata, ini adalah sebuah gerakan kesadaran politik. Jika TV tak lagi menjadi medium penyampaian gagasan kami, maka kami akan menemukan medium lainnya.
Untuk orang-orang yang dengannya saya bekerja keras bahu membahu dalam Provocative Proactive TV show dalam 1,5 tahun terakhir, perkenankanlah saya memberikan salam hormat bagi kawan sekalian:
Pandji Pragiwaksono, Joshua Matulessy, Ronal Surapradja, Raditya Dika, Andari Agustien, Andibachtiar Yusuf, Naufal Fileindi, Iman Sjafei, Shani Budi Pandita, Khamila Sari Mulia, Aira Syafei, Farah Nurul, Dhita Larasati, Luthfian Iriana, Syaza Luthfani Udyaputri, Disna Harvens, Muhajjir Esyaputra, Esha Mahendra, Choky Ramadhan, Larasati Septani.
Kami tak akan berhenti.