Feeds:
Posts
Comments

Sama seperti Soulnation edisi-edisi terdahulu, akan ada satu penampil yang akan membuat gue, Irfan, Andre, dan Quatromatic standby di depan panggung jauh sebelum pertunjukan dimulai. Pada Soulnation edisi perdana, Blackalicious yang menyebabkan kami berbuat demikian diikuti dengan DMC di tahun berikutnya. Tahun lalu tidak ada yang cukup menyenangkan, tapi tahun ini kami sudah mempersiapkan diri untuk pengalaman sensasional bersama Public Enemy.

Ketika pintu venue menuju area indoor Istora Senayan dibuka, kami segera berlarian menuju depan panggung sambil berteriak “naik haji hiphop!”. Kami berbaris sejajar sembari memeluk pagar pembatas agar tempat kami di depan tak tergoyahkan. Ini Public Enemy, grup hiphop paling berpengaruh dalam sejarah musik ini, yang pertama kali dengan tegas meneriakkan bahwa ini adalah perlawanan politik terhadap tekanan kekuasaan. Gue tak ingin kehilangan momen satu detik pun.

Public Enemy adalah sebuah grup hebat sampai-sampai crew mereka pun cukup untuk memanaskan suasana dengan berulang kali berinteraksi dengan penonton. Dari mulai prosedur standar seperti “yeahh!” dan “hell yeah!”, yang agak lucu seperti “aiiighttt?”, sampai koor dadakan lagu KRS-One ketika teriakan “whoooop..whooop” gue timpali dengan “that’s the sound of the police!” yang langsung disambar oleh para penonton di bagian depan. Pertunjukan bahkan sudah dimulai sebelum Public Enemy muncul di panggung.

Lalu tibalah awal dari segala kedahsyatan malam itu. Satu per satu anggota band naik ke panggung dan mengepalkan tangan ke udara dibarengi dengan bunyi sirene yang meraung-raung. DJ Lord naik ke belakang meja turntablenya dengan scarf menutupi wajahnya. Black Salute. Ini lebih mirip pembukaan rapat akbar Black Panther dibanding konser musik.

S1W lalu melakukan koreografi militer dan bumi Istora Senayan seperti terhentak ketika Chuck D dan Flava Flav muncul membawakan lagu pertamanya. Mereka berdua menegaskan bahwa penonton yang membayar tiket untuk menonton malam itu tak akan rugi karena mereka akan memberikan penampilan yang spektakuler.

Pernyataan tersebut sama sekali tidak bohong karena dari penampilan yang dijadwalkan hanya 75 menit, mereka bermain hampir 2 jam, dan selama itu pula gue melompat-lompat sambil menggoyang-goyang pagar pembatas yang sempat membuat sekuriti khawatir. Gue merasa subversif malam itu.

Semua lagu gacoan mereka mainkan malam itu, dari mulai Bring Tha Noise, Dont Believe The Hype, sampai Fight The Power yang dijadikan penutup. Tidak perlu gue ceritakan lagi bagaimana kehebatan Chuck D dalam mengolah mikrofon dan fantastisnya Flava Flav, hypeman terhebat dalam sejarah hiphop, untuk merasuki penonton.

Yang lebih memuaskan lagi, gue seperti mendapat extra show Public Enemy featuring Homicide di hampir semua lagu karena Ucok aka Morgue Vanguard berteriak bersama pas di telinga gue sambil lompat-lompat ke depan dan menunjuk-nunjuk ke panggung. Berulang kali ia menabrak orang-orang di depannya dibarengi dengan semburan saliva tak sengaja yang gue nikmati dengan antusias.

Tidak hanya muatan politis liris yang membuat mereka besar, Public Enemy juga seorang penampil yang memukau. Mereka memberi berbagai pertunjukan tambahan seperti ketika DJ Lord pamer kebolehan dengan beat juggling lagu Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana. Juga ketika mereka mengajak Abigail untuk naik ke panggung di sela-sela lagu Dont Believe The Hype.

Tapi pertunjukan ekstra yang paling seru adalah ketika Chuck D mengajak 4 penonton untuk naik ke panggung dan freestyle diiring oleh Flava Flav yang menggebuk drum. Ucok tadinya tidak mau naik ke panggung tapi setelah didorong dan setengah dipaksa oleh teman-teman sekalian, akhirnya ia naik ke panggung bersama 3 penonton lainnya

Tiga emcee yang lain melakukan tugasnya dengan baik, merapalkan rima seturut dengan beat yang dimainkan Flava Flav, tapi Ucok benar-benar membawa sesi tersebut setingkat lebih tinggi ketika ia mengajak penonton berteriak bersama “Fuck The Police!” sesuai dengan t-shirt NWA yang ia pakai. Bahkan Chuck D pun nyengir menyaksikan pemandangan itu.

Fight The Power adalah lagu pamungkas yang dibawakan malam itu di mana tinju-tinju terkepal untuk terakhir kalinya, tetapi pertunjukan belum selesai karena Flava Flav memanggil 2 Liaison Officer mereka dan berterima kasih di depan penonton atas bantuannya selama di Jakarta. Ini adalah pertama kali saya melihat artis memanggil LO-nya di penghujung acara.

Flava Flav lalu menutup malam itu dengan orasi politik soal rasisme dan separatisme setelah sebelumnya Chuck D menyinggung soal Troy Davis yang baru dieksekusi mati minggu lalu dan hukum imigrasi Arizona yang rasis, sekaligus menyerukan “Power to the Indonesian people!”

Malam yang luar biasa, pengalaman yang tak terlupakan.

Sekarang, siapa yang mau bawa KRS-One ke Indonesia……

Bloon Politikon

Forenote: Tulisan ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang berhati lemah, over-sensitive, dan menulis dengan hUruF B3s4r kEc1L. Anda sudah diperingatkan.

Anda kerap menjilat pantat teman/kenalan/kolega/saudara terlebih bila mereka menjilat pantat anda terlebih dahulu. Begitulah aturan baku yang sudah dirajah diam-diam di jidat semua orang. I scratch your back, you scratch mine, saya rasa terlalu halus. I lick your ass, you lick mine. That’s how you people roll.

Semua orang hanya ingin terlihat baik dan menyenangkan jika orang lain berbuat sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi mereka. Segala norma sopan santun yang menjadi alasan utama untuk berinteraksi sebagai orang yang beradab hanya selimut penutup yang mencegah warna asli berpendar dari kulit anda.

Jika saya berpapasan dengan seorang teman dan saya tidak menyapanya, maka kancing yang akan disematkan ke baju saya adalah sombong. Menurut konsensus tata krama sosial, jika saya berpapasan dengan seseorang yang saya kenal tapi tidak menegur, saya tergolong tidak beretika.

Saya tidak terbiasa menyapa orang yang dengannya saya tidak berkepentingan. Arti dari tidak berkepentingan di sini adalah saya sedang tidak berada dalam situasi partikular yang mengharuskan saya mengikutsertakan dia dalam kerangka aktivitas yang sedang saya lakukan saat itu. Kenapa? Karena hal itu membuang waktu dan tidak efisien. Jika saya harus menyapa semua orang yang saya kenal, maka hidup saya akan terbuang sia-sia dengan melontarkan salam-salam omong kosong kepada handai taulan.

Alasan lain adalah saya terlalu sering melihat bahwa tidak adanya ketulusan dalam bertegur sapa. Formalitas, keterpaksaan, sebuah prosedur standar yang harus dipatuhi untuk mendapatkan status sebagai manusia beradab (dan terpandang secara sosial, seberapa besar atau kecil pun skalanya). Motif orang dalam bertegur sapa bervariasi. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang tulus tanpa pretensi, tapi saya yakin batang-batang statistik dalam kepala menunjukkan persentase orang munafik lebih besar dari yang tidak.

Impresi yang saya dapatkan setelah mengamati tindak-tanduk orang adalah kita bertegur-sapa untuk menunjukkan tanda apresiasi, bahwa kita masih mengingat seseorang, dan keinginan untuk tetap berada dalam term ”baik-baik saja” dengan orang tersebut. Jadi, jikalau sekiranya nanti anda mempunyai kebutuhan yang memerlukan orang tersebut di dalamnya, anda akan datang dengan bekal ”term baik-baik saja” yang dipupuk dengan rentetan tegur-sapa selama ini dengan wajah memelas welas asih yang disamarkan sedemikian rupa.

Jika kebetulan anda mempunyai orang tua yang memiliki kedudukan atau strata cukup secara sosial, maka anda akan mendapati orang lain akan lebih sukarela menjilati pantat anda. Jilat pantat involunter. Benefit yang didapatkan tidak kontan, tapi lebih seperti tabungan berjangka, anda mengharapkan petikan hasil di masa depan.

Tidak, saya bukan orang yang sering dijilati karena orang tua dan saya juga tidak menjadikan orang tua sebagai garda depan bemper kehidupan sosial (anda tahu, semacam anak-anak terpandang kedudukannya karena mendompleng aset orang tuanya, entah status atau uangnya), tapi apa yang terlihat dalam pandangan mata lebih dari cukup untuk menggerakan jemari saya.

Memang, reputasi ataupun mamon yang diemban seseorang karena orang tua adalah sebuah keuntungan hereditas eksklusif yang tak bisa diganggu-gugat. Serupa bila anda mendapatkannya berkat kerja tangan anda dan kuras keringat sendiri.

Tapi hal tersebut adalah lempengan magnet luar biasa untuk menarik orang bermanis muka dan tingkah laku di hadapan anda. Karena mereka ingin dianggap baik. Karena mereka ingin menguangkan (tidak harafiah, tapi sepertinya bisa juga diartikan demikian) danareksa moral yang sudah ditanamkan sebelumnya.

Saya tidak akan pernah marah dan melabelinya sombong bila seseorang yang saya kenal lewat di depan mata tanpa menegur, sama seperti saya tidak mengharapkan mereka untuk marah bila saya berlaku demikian dan nyatanya saya memang demikian.

Hmmm…..Kelihatannya model interaksi sosial berbasis tabur-dan-tuai lebih masuk akal bila ditempatkan negatif.

ps: Anda sudah diperingatkan.

Starstruck

It’s like seeing all the Greek Gods came alive out of the mythology. I could barely believe my eyes, and worse, i didnt even know what the fuck am i doing there. This lad who basically hasnt achieved anything compared to these intellectuals was standing in front of his heroes, ushering them through the commemoration of one of the greatest human rights activist this country has ever had.

I dont know what your idea of being starstruck, but i have a defintion of my own. Ive stood beside several top-notch musicians, well-known actors, and once saw a gorgeous actress changing clothes before my eyes, but it’s all nothing compared to standing in front of these giants.

The event wasnt even started yet when the first goosebump brizzling my neck. I was sitting on one table, unceasingly glancing at the rundown, hoping it could ease the rambling whirlwind inside my head. On the next table, there were a group of old ladies in kebaya. They might be old, but they looked sharp. It turned out that they’re former political prisoners from the 1965 incident. Yes, they were members of the much-maligned Gerwani which had been demonised by the New Order regime.

One of them came to my table and offered a rengginang. I wasnt hungry and i dont even like rengginang, but hell, it was one hell of a privilege! So i took it and have it digested. It’s like being offered a Cabernet Sauvignon by Eric Cantona who made all the fuss to get to your table. No, it’s even better because Cantona doesnt have to survive prison and years of false accusations.

I was Charlie and i found myself in a Chocolate Factory. You know it’s overwhelming when your go-to guy is Usman Hamid and the likes of Asvi Warman Adam and Mochtar Pabotinggi was roaming around. You know it’s mentally unbearable when Mugiyanto giving affirmative nod to your closing discourse on human rights. “To continue Munir’s fight for human rights..” Who the hell do i think i am? You know it’s too much when they, virtually the hall-of-famers of socio-politic movements, had to listen to this young snob who spends more time tweeting than interacting with the oppressed.

I tried to cheer myself up after it ended. I told myself that i should put aside the unnecessary ill-conceived feeling and take honour on participating in this homage. Just when i started to relax and leave it behind, i saw the twitpic of Usman Hamid being strangled by the police. They’re out there, rallying for justice in front of the presidential palace, while i was in the comfort of air conditioner and all that luxury.

It made me feel this big –> .

 

 

 

 

 

Provocative Proactive, sebuah acara talkshow politik untuk anak muda yang tayang di Metro TV tiap Kamis pukul 21.30, sedang mencari tenaga baru untuk mengisi posisi Research Officer dalam tim kreatif kami.

Research Officer? Ngapain tuh kerjanya?

Research officer bertugas untuk menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan topik setiap minggunya. Karena tema utama Provocative Proactive adalah politik, maka informasi yang dibutuhkan umumnya soal dinamika politik di Indonesia. Penggalian data dan informasi bisa dilakukan lewat analisa media massa, riset buku dan literatur, wawancara dengan narasumber yang kompeten, dan berbagai sumber yang dapat memenuhi kebutuhan informasi.

Orang yang dicari yang kayak gimana?

Kami mencari anak muda yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya dari latar belakang disiplin ilmu apa pun yang tidak hanya mengikuti perkembangan politik Indonesia, tapi antusias membicarakan politik dengan level antusiasme yang sama dengan ibu-ibu arisan membicarakan artis sinetron yang baru bercerai. Kami mencari anak muda yang bergairah terhadap dinamika politik Indonesia, yang akan menyimak komentar Sutan Bathoegana dan pernyataan Priyo Budi Santoso dengan penuh perhatian. Kami mencari anak muda yang paham seluk-beluk dan isi dapur politik tanah air. Jika anda bisa menjelaskan mengapa Tragedi 27 Juli tidak dibereskan saat Megawati jadi presiden, mengapa banyak Pilkada berakhir ricuh, atau bagaimana sistem kaderisasi PKS, mungkin anda orang yang kami cari.

Menarik, gue ingin bergabung, gimana caranya?

Silakan kirim CV anda ke provocactive[at]gmail.com. Jangan lupa tuliskan 1 paragraf mengenai kenapa anda orang yang tepat untuk mengisi posisi ini.

Email anda ditunggu sampai Kamis (4/8) pukul 12.00.

Salam,

Pangeran Siahaan

Head of Creative Department

The six pointer. Short message service had never been so significant. The long-awaited Godot and a brief stay. Midas touch and all had turned gold. El Dorado. The promised land and the ungrateful,  grumbling Israelites. Coup d’etat. Coup de grace.

I always had time for your monkey business.

I bumped into an old Facebook photo not so long ago. I began to browse another old photos soon after and suddenly I was reminded of my good friends, each appeared in their own respective images. I’d love to write something as a humble token of gratitude. What’s better than writing about ones that might have influenced your life in any eloquent way? Friends, brothers, mates, this column is dedicated to you.

Sometimes you think that you’re peerless in the sense that nobody beats the same humdrum in your league. You feel that you’re the only book-smart braggado in the bucket of commoners. That’s the way i felt until some unknown guy sent a Friendster message with a serious intention to drag me into a debate. The topic is communism and marxism, and he thought that i was another commie-wannabe who just heard of Das Kapital not so long ago. He tried to bring me down (via Friendster, how revolutionary) and of course he failed, but we’ve remained friends since then.

Irfan Handeputra is your typical party-pooper slash obnoxious intellectual bully. He’s the @hotradero long before the much-praised Twitter prophet came to surface. I firstly noticed his existence from the renowned Hiphopindo.net messageboard which i once moderated. Before that fateful day on Friendster, he liked buggering people in numerous forum threads, mostly making fun out of people’s ignorance on hiphop culture. It was fun, at least to me who enjoyed watching the online massacre, but for most users, he’s a pest.

We turned out to share similar odd view and interest on numerous things. Being eccletic, if you may. We talked a lot about politics in raw level – he doesnt know much about politic affairs, but we could discuss all night long on ideology and political foundations. He claimed himself as a mock-anarcho while i fancy socialism (i consider myself a quasi-Trotskyist to date). As cool as the discussion might seemed, we obviously looked like moronic utopians.

Novice political talk wasnt the only mutual interest between us because we also shared the love of sample-based hiphop. Boombap, as we prefer to call it. So we decided to hold ourselves together and formed a hiphop group. I aptly named it, Manifestone, because we ought to deliver our manifesto within our musical tones. Utter ambitious.

Going by the moniker Serenada Iblis (or Lexicon Devil or Dancing Diablo), Irfan was responsible for creating the music beats. I was supposed to be Slug and he’s Ant, but we were inadequate to rock the stage by our own. So we added another rapper, the talented Andre Rugebregt who raps under the psedonym, Black Impala.

The three of us made it to several underground gigs and carved our names as the next big thing. With such fire power, we looked promising. We looked like we’re going to follow the path of the greats like Homicide et al. Well, if we ever going to be like Homicide, we should have a record, something that we failed to produce. Not even a demo. Fucking epic. Nevermind Homicide, even Thoriq had an album with KFC.

Sharing the love of jeep beats was not the only thing connected me and Irfan since it turned out that her then-girlfriend was a friend of the woman i was dating. It took our friendship a little bit further because actually doing Bro Talk was the last thing i wanted to do with him. With such circumstance, it was inevitable. So our discussion topic slowly switched from Anarcho-Syndicalism into How To Make Your Girlfriend Happy.

The four of us were unique in our own respective ways. We could be easily seen by those who didnt know us well as nerds or hipsters (depends on the size of your spectacles). That made us odd couples. It’s a pity the so-called double-date (double barrelled!) only took place once.

It’s not always rainbows between me and Irfan. Things went sour after something that remains unknown to me. We stopped talking and started trashing each other, mostly beefing via Facebook status and Tweets. I think that’s the lowest point in our friendship.

Irfan can be really annoying sometimes, especially when he let out his uber-witty persona on purpose. Things were still unfixed between us when he wrote a long-ass Facebook message, complaining about me to my then-lady which made her, who excels in English, pissed a lot not because the substance but because he wrote in Old English! It’s more like a citation from King James’ Bible than a complaint.

His arrogance is way over the Cartzens Pyramid, but it’s hard to be humble when you are as enlightened as he is. Then came the time when bad fortune happened to him and he was shocked as i could tell. As a friend, i was obliged to be, at least, all ears. We’ve cleared the air since then and amended our friendship.

He’s one of the most knowledgeable chaps i know yet he’s not the most articulate person in the world. He could easily get misunderstood since his genius antics are R-rated, clearly not for everybody. He challenge the common concept of religion and god, and once asked why he couldnt find Holy Bible in fiction section in Aksara.

Sometimes there’s a turning point that alters your perspective and the way you behave. As he confessed to me, Irfan had his moment of truth not so long ago. He shocked all the dead and bearded philosophers when he stepped into corporate worlds and be a tarhawker. There was a public outcry to scrutiny his motives, but he made it clear that he just wanted to seize all the possible chances to learn.

I always joked that he could contact me anytime when he’s done digging on the otherside. I never thought it would come so soon when on one evening he said he’s giving up his seat on the company. He said that he couldnt bear the moral dillemma of seeing labours getting underpaid with massive workloads on their shoulders. I couldnt believe it, it almost looked like a fabricated chapter from Lenin’s biography, but at the end he assured me that it’s true.

Once a red always a red, perhaps? He responded with saying that the black flag and circle-A originated from white collar environment.

Image

I bumped into an old Facebook photo not so long ago. I began to browse another old photos soon after and suddenly I was reminded of my good friends, each appeared in their own respective images. I’m pushing 24 by the end of the month and I’d love to write something as a humble token of gratitude. What’s better than writing about ones that might have influenced your life in any eloquent way? Friends, brothers, mates, this column is dedicated to you.

You might find it funny that im befriending a servant of God, but I knew Pastor Rafael Polimpung since I was 5. We went to the same kindergarten and Rafael was one of the tough boys. If the existence of kindergarten bully boys is to be believed, then Rafael was the prime mover. I remember his attire for his 6th birthday party: bare-chested with jumper jeans and roller-skates. So much for his swashbuckling attitude.

He liked to physically intimidate people for no reason. I, certainly, was his usual victim, and more often than not we found ourselves in the middle of a fight, not to mention he once pushed me and we smashed the window glass with our bare hands. Im not sure if there’s any honorable merit for students who smashed most windows, but if there was, Rafael would be the main contender as he shattered the glass one more time after treating it as percussions. Dag-dug-dag-dug-pranggg!

There are two sides of most people and as bullying as he was, he maintained impressive academic records. He excelled in math and to this day, I don’t think I will ever be better than him in calculating world. Matter of fact, we were among the academic front-runners in elementary.

Along with Daniel Lukas, we formed an alliance called “Tiga Serangkai”, after the famous political trio in Indonesian history. For a person who has “Marvelous” as his middle name (no joke, ask his dad!), Daniel was elected to be “Ki Hajar Dewantara”. Rafael opted to be Douwes Dekker because he believed that he has Dutch ancestry from his mother –  a bollock I’d rather not to believe until now. That left me without much option than taking the role of Dr. Cipto Mangunkusumo. “At least your mom is a medical doctor,” he reasoned. Bloody hell, pastor!

The weirdest thing about this rough neck-cum-math whizz was his dream. We shook our heads in disbelief when he said he’s aspiring to be a pastor. We thought it’s merely a joke from our Chuck Norris-ish gangster. But he kept saying it everytime people asked him what he wanted to be. After 2-3 years, we began to believe that there’s a God’s miracle in the making.

Half of our batch in elementary reunited again in junior high and Rafael didn’t go anywhere. We enhanced our love/hate friendship even more in blue shorts. We clicked because we considered ourselves on the same level academically. We also shared mutual interest from music to sports. The future-reverend was an avid listener of hip metal and he memorised almost every Limpbizkit song. WWE Smackdown was getting popular among Indonesian kids and it’s no brainer to see Rafael practising pro-wrestling moves in school – I was on the receiving end, of course as I remember he threw an elbow drop to me. He didn’t seem like a future-pastor, really.

An educational fluke caused me to go to the same highschool as him. We shared another interest in gospel singing so we formed an acapella quartet, herardly named Good News. I sang second tenor, he took the bass part as we performed in several church events. He kept saying that he’s bound to be a pastor. At this level, I finally believed that he really meant it.

My first year in senior high was our final year together as I moved to another school on the second, but we maintained our friendship and sang a couple of times together. Our meeting frequency had significantly diminished, but he’s still a person to talk to in special occasion, if not for having fun.

The long-awaited fate for our hooligan/math whizz/bass gospel singer/WWE re-enactor was finally disclosed after he enrolled in theology major after graduation. God does work in a mysterious way. As mysterious as the night when we had Sabbath School discussion on nightclub’s parking lot at 3 in the morning.

He graduated last year and has been assigned to spread the Words of God in remote places. He got married last January and placed in Denpasar since then. I paid him a visit last month and he seemed happy with his surroundings. As any new wed tend to be, his tummy looks like a travesty to his once-athletic physique. But it’s just a proof that anyone who lives in God will be prosperous.

Ini artikel yang ditulis tahun lalu menjelang Piala Dunia. Kemarin seorang teman menanyakan mengapa saya tergila-gila pada sepakbola. Jawabannya panjang, tapi tulisan ini akan menjelaskan bagaimana semua ini bermulai.

Ayah tidak henti-hentinya membicarakan kemenangan Denmark di final Piala Eropa 1992 kepada anak sulungnya yang masih berusia 5 tahun. Dua gol dari John Jensen dan Kim Vilfort membawa Danish Dynamite menaklukkan Jerman padahal Denmark berstatus sebagai tim pengganti di kejuaraan itu. Yugoslavia dijatuhi sanksi tak boleh bermain karena perang yang berkecamuk di negara Balkan tersebut.

Sampai 2 tahun berikutnya ayah masih sering menggumamkan prestasi mengejutkan Denmark itu hingga Piala Dunia 1994 tiba. Si tim kejutan di Swedia 1992, Denmark, tidak lolos ke Piala Dunia 1994 dan ayah mengatakan bagaimana menjadi juara Eropa tidak berarti lolos ke Piala Dunia. Perkenalan pertama saya dengan dogma “Bola itu bundar”.

Hari itu hari Minggu, ayah membawa saya ke Gramedia. Ia membelikan buku panduan Piala Dunia, entah siapa penerbitnya, tapi kala itu buku panduan Piala Dunia masih bisa dihitung jari, tidak berserak seperti sekarang. Sampulnya berwarna dominan biru tua dengan merah di tepian, warna yang sangat Amerika, tuan rumah kejuaraan akbar tahun 1994 itu.

Tidak jelas mengapa ayah bersemangat sekali membeli buku panduan tersebut. Mungkin ia ingin mendidik saya untuk menggemari sepakbola, olahraga yang menjadi tontonan favoritnya sejak SMA. Tidak ada siaran langsung Piala Dunia di Pematang Siantar, tempatnya sekolah. Ia baru bisa menyaksikan aksi Johan Cryuff di Piala Dunia 1974 2 bulan sesudah turnamen itu digelar. Itu pun menontonnya di bioskop karena rupanya rekaman pertandingan sepakbola laku diputar sebagai tontonan meski tidak aktual.

Saya tidak ingat berapa lama waktu yang diperlukan, tapi saya ingat betul buku panduan tersebut habis saya baca di hari pertama saya memilikinya. Saya tergila-gila dengan sejarah sejak kecil dan berkenalan dengan sejarah sepakbola adalah pengalaman baru yang menyenangkan. Saya berkenalan dengan nama-nama asing yang terlihat begitu menawan dalam buku tersebut. Ayah sudah pernah berkisah tentang Maradona, Pele, Zico, Schillaci, dan Lineker sebelumnya, tapi saya baru bertemu dengan Puskas, Garrincha, Fontaine, Masopust.

Pada hari pertama Piala Dunia, ayah pulang dan membawa album stiker Piala Dunia terbitan Panini. Sebagai seorang bocah yang dijejali dengan tontonan Amerika sejak kecil, secara naluriah saya bersimpati pada tim Amerika. Apalagi saat saya tahu bahwa orang Amerika tidak bisa main sepakbola dan secara umum adalah kaum paria dalam olahraga ini.

Ayah duduk di sebelah saya saat Amerika Serikat menjamu Swiss dalam partai perdana Piala Dunia 1994. Saya bersorak-sorai saat Eric Wynalda mencetak gol yang menyamakan kedudukan 1-1. Sejak saya melihatnya di album stiker Panini tersebut, saya langsung tertarik pada Wynalda untuk alasan yang tidak jelas. Mungkin karena wajahnya mirip dengan aktor pria ganteng yang sering saya saksikan dalam serial TV Amerika. Saya masih ingat bagaimana saya dan ayah beserta adik mengejek wajah kiper Swiss, Marco Pascolo, karena terlihat seperti orang kurang tidur, ngantuk. Padahal wajahnya memang begitu.

Makhluk yang paling membuat saya penasaran di Piala Dunia 1994 adalah Diego Maradona. Ayah memujanya setinggi langit. Ia mengisahkan dengan semangat bagaimana Maradona menari-nari melewati pemain Inggris tahun 1986. Tak lupa juga ia ceritakan bagaimana Si Boncel mendorong bola dengan tangan pada pertandingan yang sama. Ayah tidak lupa menambahkan, ”Ia berdosa saat bilang itu tangan Tuhan”.

Saya hanya sekali menyaksikan Maradona kala itu dan sejujurnya tidak begitu terkesan. Mungkin ia sudah lewat masa jaya. Si Tangan Tuhan akhirnya dipulangkan dari turnamen karena terbukti mengonsumsi obat.

Sebagai seorang anak kecil yang mudah tertarik secara visual, saya menikmati sekali menonton Nigeria. Yang paling saya tunggu adalah selebrasi gol karena biasanya Daniel Amokachi akan melakukan salto di penjuru lapangan.

Ayah mengatakan bahwa Rumania dan Gheorghe Hagi adalah fenomena di Piala Dunia tersebut. Hagi sang maestro memimpin negaranya hingga perempat-final, termasuk mengalahkan Argentina pada babak sebelumnya. Saya masih terlalu kecil untuk memahami bahwa seorang playmaker seperti Hagi adalah aset berharga. Saya masih terlalu belia untuk mengapresiasi umpan terukur. Yang ingin saya lihat hanyalah orang-orang yang jumpalitan usai mencetak gol.

Jagoan saya, Amerika Serikat, tersingkir dari turnamen karena kalah dari Brazil. Saya tertawa geli melihat selebrasi tarian menggendong bayi dari Bebeto, si Manusia Angin. Selama 3 hari ke depan saya tak hentinya menirukan tarian tersebut. Lucunya, baru esok harinya saya tahu arti dari selebrasi tersebut. Saya kira Bebeto hanya bertingkah jenaka dengan meniru gerakan pemain kabaret.

Saya kecewa karena aksi salto tidak bisa lagi saya saksikan setelah Nigeria disingkirkan Italia. Hal ini membuat saya tidak lagi punya gacoan padahal turnamen baru sampai babak perempat-final. Ayah lalu bercerita tentang kehebatan Hristo Stoichkov dan Emil Kostadinov, dua nama yang saya lihat hilir mudik di surat kabar saat itu, tapi tidak begitu saya perhatikan. Saya tidak begitu peduli pada orang-orang yang namanya sulit saya lafalkan.

Saya tahu Jerman adalah tim kuat yang berstatus juara bertahan maka saya tidak begitu antusias saat ayah mengajak saya menonton Tim Panser melawan Bulgaria di babak 8 besar. Yang terjadi adalah sebaliknya. Satu gol Stoichkov dan satu sundulan mematikan dari pemain botak, Yordan Letchkov menjungkirbalikkan prediksi. Sang unggulan pun rontok. Lagi-lagi saya belajar tentang kehebatan orang-orang underdog, mereka yang tidak dianggap, mereka yang diremehkan.

Karena alasan yang tidak bisa diingat, saya luput menonton babak semifinal. Tapi saya sempat menonton perebutan tempat ketiga antara Swedia melawan Bulgaria yang dimenangkan negara Skandinavia 4-0. Ayah gemar sekali dengan striker Swedia, Tomas Brolin, sedangkan saya tidak. Alasan saya sangat konyol, saya tidak suka bentuk hidung Brolin.

Final Piala Dunia 1994 digelar pada hari pertama tahun ajaran baru. Saya baru naik kelas 2 SD. Final digelar subuh waktu Jakarta dan saya memaksa diri bangun untuk menonton. Saya ingat ayah tidak bersama saya kala itu, nampaknya ia sedang dinas keluar kota. Untuk ukuran anak kecil sekalipun saya bisa merasakan bahwa final tersebut membosankan. Saya menjagokan Italia tanpa alasan spesifik. Saya lebih suka warna biru dibanding kuning, lagipula semua orang nampaknya mendukung Brazil, biarlah saya mendukung mereka yang tidak didukung.

Tidak ada gol yang tercipta selama 120 menit sehingga pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti. Saya terdiam sejenak sambil menganga usai tendangan penalti Roberto Baggio yang terbang sampai Meksiko itu. Brazil memenangi Piala Dunia yang pertama saya tonton. Saya sama sekali tidak tertarik menyaksikan selebrasi mereka meski mereka menari-nari dengan irama yang belakangan saya ketahui bernama Samba. Bagi saya orang-orang berkulit legam dengan lompatan akrobatik seperti Nigeria lebih menarik.

Itu adalah awal perkenalan saya dengan sepakbola, saat ayah membaptis saya dengan Piala Dunia. Hingga saat ini kami selalu berseberangan dalam banyak hal dan perspektif kami tidak selalu sama. Tapi kami dapat duduk bersebelahan menonton sepakbola.

Lazimnya anak kecil, komik adalah bacaan wajib. Ayah menentangnya dan tidak mau membelikan dengan alasan tidak mencerdaskan. Ayah menginginkan saya membaca buku-buku sains. Ayah juga menentang saya menonton serial-serial TV dengan alasan serupa. Tapi hingga saat ini tidak pernah mengusik jika saya hendak menonton sepakbola.

Akhir-akhir ini ayah tidak begitu sering menonton siaran sepakbola meskipun ia memasang TV berlangganan di rumah. Ia lebih memilih tidur agar dapat bangun pagi dengan segar.

Masalah timbul karena siaran langsung Piala Dunia tidak bisa dinikmati lewat TV berlangganan. Saya mengutarakannya pada ayah.

Kemarin, sehari menjelang Piala Dunia, ia pulang dari kantor dengan menenteng antena terestrial……

Image

Image

Dear kakanda Husni Mubarak,

Salam hangat dalam kasih Machiavelli.

Hari ini adinda menerima kabar yang tidak menyenangkan dari tepian Sungai Nil bahwa kakanda Mubarak telah mengundurkan diri sebagai presiden Mesir. Adinda merasa sangat sedih karena kediktatoran kakanda telah menjadi panutan bagi adinda dalam memimpin rezim totaliter di PSSI ini. Adinda mengerti segala tekanan yang kakanda terima dalam beberapa bulan terakhir ini, adinda tak menyangka kakanda yang begitu tegar akhirnya tumbang juga.

Adinda menyayangkan keputusan kakanda yang dirasa terlalu terburu-buru, padahal harusnya kakanda bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Adinda terkenang bagaimana kakanda Mubarak mengajari adinda teknik memecah suara oposan dengan mengorganisasi demonstran bayaran. Adinda telah mempraktekkan dengan begitu sempurna di Indonesia. Spanduk-spanduk yang menguntungkan status quo telah adinda gelar di sepanjang jalanan Jakarta, persis seperti yang kakanda ajarkan dulu.

Belum hilang dari ingatan bagaimana kakanda menasehati adinda untuk menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaan. Adinda mengimplementasikannya dengan sangat baik di sini. Adinda telah mengatur agar terpilih lagi dalam Kongres PSSI yang akan digelar tak lama lagi. Semua yang memiliki hak suara telah adinda kantungi sehingga mereka dipastikan akan memilih adinda kembali sebagai penguasa PSSI.

Sangat dimengerti bahwa sekarang kakanda Mubarak sangat keki terhadap angkatan bersenjata yang memalingkan wajah mereka sehingga kakanda kehilangan dukungan. Adinda pun merasakan hal yang sama karena seorang jenderal militer berani-beraninya menggoyang kursi adinda pada pemilihan nanti. Keterlaluan, seharusnya tentara tetap tinggal di barak saja, tidak perlu mengurus hal-hal sipil.

Sulit bagi adinda menerima kenyataan bahwa kakanda Mubarak tak lagi berada di puncak kekuasaan. Dulu kita saling mengingatkan bahwa kata ”turun” adalah haram dan ”mundur” adalah sebuah tindakan tak ksatria nan pengecut. Lupakah kakanda Mubarak akan hal tersebut? Adinda benar-benar mencamkan seluruh wejangan kakanda, terlebih kalimat abadi yang tak pernah gagal itu, ”Jikalau seluruh rakyat menghendaki, maka saya akan mencalonkan diri lagi…”. Indah sekali.

Sekarang masa-masa itu telah usai. Adinda harap kakanda Mubarak bisa menjaga diri agar tetap selamat. Jikalau kakanda merasa tidak aman di luar sana, silakan datang ke Jakarta. Kakanda Mubarak bisa tinggal di apartemen Epicentrum Kuningan, Jakarta. Adinda kenal pemiliknya dan ia akan senang sekali menerima kehadiran kakanda Mubarak.

Jangan berkecil hati kakanda, 30 tahun sebagai pucuk pimpinan adalah prestasi fenomenal. Adinda akan berusaha sekuat tenaga menyamai prestasi itu.

Kiranya kasih karunia Machiavelli selalu menyertai kita.

Salam,

Nurdin Halid.

Image

What’s the odds of befriending and meeting somebody you know from anonymous instant messenger website like Omegle? When hanging up the conversation is just a click away, it’s sort of miracle for me to maintain this 21st century penpal relationship with Azielia Anne, an intelligent yet quirky young lady from Subang Jaya, Malaysia.

I have heard endless stories of how people making friends online – I even know someone in person who met her spouse via internet matchmaking website (they’re still together now after 2 years, God bless them), yet to make one out of Omegle is one hell of a story. It’s not uncommon to get virtually close with someone through internet message boards or – during its heyday, mIRC. What uncommon is hearing your school mate just get acquainted with a random girl from Stockholm via Omegle and they agreed to be friends, exchanging MSN ID and start talking like normal people. By normal, I mean casual, unpretentious, porn-less. Have to admit, the internet is full with abnormal perverts (is there any normal pervert? Gotta be me).

I wrote a piece dedicated to this Malayan kiddo last year. It’s interesting how our conversation topics have grown since then. We barely talk these days (the existence of Blackberry makes traditional instant messenger unnecessary), but I remember our recent chats including “questioning your religion and belief” and “why Malaysian people suck”.

She told me about her amusement towards Jakartan slang and how cool it was to say “gue-elo” (courtesy of Indonesian sinetrons). I doubt if she would admit it, but she once told me her favourite Indonesian actrees is Nia Ramadhani. Interesting choice, we don’t even consider Nia Ramadhani as an actrees here. She thinks that Indonesians are cooler than her own people and wants to visit Jakarta some day.

Before she had the chance to come to Big Durian, it’s me who set my feet first in Kuala Lumpur. I went to the Malaysian capital to watch the AFF Cup final between my country and hers. She doesn’t fancy football, so we had to arrange a meeting before I took the flight home. She made a short trip from Subang Jaya to KL and we met at this mall called Town Square. The mall seemed unimpressive so we walked to another mall called Pavilion. It was not a short distance by Jakarta’s standard of walking, but we exchanged banter on our way there. KL is friendlier to pedestrians than Jakarta, so it was a comfortable walk.

I think our meeting didn’t last more than an hour, but it was a pleasure to finally meet someone you knew from lawless area like Omegle.

Next on my to-do list: Making friends out of Chatroulette.

Where’s my webcam?

ps: Spoiled brat, I wrote this in English so you can read. Your people are so lame, btw 😛

Image

Design a site like this with WordPress.com
Get started