Sama seperti Soulnation edisi-edisi terdahulu, akan ada satu penampil yang akan membuat gue, Irfan, Andre, dan Quatromatic standby di depan panggung jauh sebelum pertunjukan dimulai. Pada Soulnation edisi perdana, Blackalicious yang menyebabkan kami berbuat demikian diikuti dengan DMC di tahun berikutnya. Tahun lalu tidak ada yang cukup menyenangkan, tapi tahun ini kami sudah mempersiapkan diri untuk pengalaman sensasional bersama Public Enemy.
Ketika pintu venue menuju area indoor Istora Senayan dibuka, kami segera berlarian menuju depan panggung sambil berteriak “naik haji hiphop!”. Kami berbaris sejajar sembari memeluk pagar pembatas agar tempat kami di depan tak tergoyahkan. Ini Public Enemy, grup hiphop paling berpengaruh dalam sejarah musik ini, yang pertama kali dengan tegas meneriakkan bahwa ini adalah perlawanan politik terhadap tekanan kekuasaan. Gue tak ingin kehilangan momen satu detik pun.
Public Enemy adalah sebuah grup hebat sampai-sampai crew mereka pun cukup untuk memanaskan suasana dengan berulang kali berinteraksi dengan penonton. Dari mulai prosedur standar seperti “yeahh!” dan “hell yeah!”, yang agak lucu seperti “aiiighttt?”, sampai koor dadakan lagu KRS-One ketika teriakan “whoooop..whooop” gue timpali dengan “that’s the sound of the police!” yang langsung disambar oleh para penonton di bagian depan. Pertunjukan bahkan sudah dimulai sebelum Public Enemy muncul di panggung.
Lalu tibalah awal dari segala kedahsyatan malam itu. Satu per satu anggota band naik ke panggung dan mengepalkan tangan ke udara dibarengi dengan bunyi sirene yang meraung-raung. DJ Lord naik ke belakang meja turntablenya dengan scarf menutupi wajahnya. Black Salute. Ini lebih mirip pembukaan rapat akbar Black Panther dibanding konser musik.
S1W lalu melakukan koreografi militer dan bumi Istora Senayan seperti terhentak ketika Chuck D dan Flava Flav muncul membawakan lagu pertamanya. Mereka berdua menegaskan bahwa penonton yang membayar tiket untuk menonton malam itu tak akan rugi karena mereka akan memberikan penampilan yang spektakuler.
Pernyataan tersebut sama sekali tidak bohong karena dari penampilan yang dijadwalkan hanya 75 menit, mereka bermain hampir 2 jam, dan selama itu pula gue melompat-lompat sambil menggoyang-goyang pagar pembatas yang sempat membuat sekuriti khawatir. Gue merasa subversif malam itu.
Semua lagu gacoan mereka mainkan malam itu, dari mulai Bring Tha Noise, Dont Believe The Hype, sampai Fight The Power yang dijadikan penutup. Tidak perlu gue ceritakan lagi bagaimana kehebatan Chuck D dalam mengolah mikrofon dan fantastisnya Flava Flav, hypeman terhebat dalam sejarah hiphop, untuk merasuki penonton.
Yang lebih memuaskan lagi, gue seperti mendapat extra show Public Enemy featuring Homicide di hampir semua lagu karena Ucok aka Morgue Vanguard berteriak bersama pas di telinga gue sambil lompat-lompat ke depan dan menunjuk-nunjuk ke panggung. Berulang kali ia menabrak orang-orang di depannya dibarengi dengan semburan saliva tak sengaja yang gue nikmati dengan antusias.
Tidak hanya muatan politis liris yang membuat mereka besar, Public Enemy juga seorang penampil yang memukau. Mereka memberi berbagai pertunjukan tambahan seperti ketika DJ Lord pamer kebolehan dengan beat juggling lagu Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana. Juga ketika mereka mengajak Abigail untuk naik ke panggung di sela-sela lagu Dont Believe The Hype.
Tapi pertunjukan ekstra yang paling seru adalah ketika Chuck D mengajak 4 penonton untuk naik ke panggung dan freestyle diiring oleh Flava Flav yang menggebuk drum. Ucok tadinya tidak mau naik ke panggung tapi setelah didorong dan setengah dipaksa oleh teman-teman sekalian, akhirnya ia naik ke panggung bersama 3 penonton lainnya
Tiga emcee yang lain melakukan tugasnya dengan baik, merapalkan rima seturut dengan beat yang dimainkan Flava Flav, tapi Ucok benar-benar membawa sesi tersebut setingkat lebih tinggi ketika ia mengajak penonton berteriak bersama “Fuck The Police!” sesuai dengan t-shirt NWA yang ia pakai. Bahkan Chuck D pun nyengir menyaksikan pemandangan itu.
Fight The Power adalah lagu pamungkas yang dibawakan malam itu di mana tinju-tinju terkepal untuk terakhir kalinya, tetapi pertunjukan belum selesai karena Flava Flav memanggil 2 Liaison Officer mereka dan berterima kasih di depan penonton atas bantuannya selama di Jakarta. Ini adalah pertama kali saya melihat artis memanggil LO-nya di penghujung acara.
Flava Flav lalu menutup malam itu dengan orasi politik soal rasisme dan separatisme setelah sebelumnya Chuck D menyinggung soal Troy Davis yang baru dieksekusi mati minggu lalu dan hukum imigrasi Arizona yang rasis, sekaligus menyerukan “Power to the Indonesian people!”
Malam yang luar biasa, pengalaman yang tak terlupakan.
Sekarang, siapa yang mau bawa KRS-One ke Indonesia……




