Ibu, Emak, Mama, Umi

Nur Hadi (Kompas, 30 Jul 2024)

Rasa bahasa tidak hanya mencakup perihal rasa yang ditimbulkan dari pemakaian sebuah kata, tetapi juga ketepatan makna semantik akibat dari penyusunan sintaksisnya.

Kita bisa membuat ibu kota, tetapi tidak bisa membuat mama kota. Kita bisa menyebut ibu ketua untuk sosok yang penuh wibawa, tetapi beda dengan mami ketua yang justru terkesan lucu, dan menjatuhkan wibawa.

Lanjutkan membaca “Ibu, Emak, Mama, Umi”

Genit

Anindita S. Thayf (Tempo, 28 Jul 2024)

Seorang dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung belum lama ini diduga melakukan kekerasan seksual. Dia mengakui kesalahannya, tapi membela diri dengan berdalih tindakannya sebatas “kegenitan”. Dari pembelaannya yang viral di media sosial X, tampak usahanya untuk mengonstruksi bahasa demi kepentingan kejantanannya (virilitas) melalui kata genit.

Lanjutkan membaca “Genit”

Ihwal Lengser

Saharul Hariyono (Pikiran Rakyat, 27 Juli 2024)

Dalam berbagai media massa baik cetak maupun elektronik banyak dijumpai pelbagai kejanggalan penggunaan kata lengser, misalnya pada judul berita “McCarthy Lengser, DPR AS Berkutat Mencari Ketua Baru” yang disiarkan kompas.id (04/10/23). Tanpa mengurangi dan melebih-lebihkan isi beritanya, berikut diuraikan:

“Segera setelah McCarthy lengser, anggota DPR Republikan, Patrick McHenry, ditunjuk sebagai ketua sementara. McHenry dikenal sebagai sekutu McCarthy. Kepada wartawan, anggota DPR Republikan lainnya, Kelly Armstrong, mengatakan, tugas utama McHenry sebatas memilih ketua baru. Lebih jauh dari itu, ia juga akan digulingkan.”

Lanjutkan membaca “Ihwal Lengser”

”Kak” dan ”Kamu”

Bambang Sugeng (Kompas, 23 Jul 2024)

Teman maya saya curhat besar-besar di Facebook, ”Ngecek suatu usaha. Dijawab pakai kak. Tidak masalah. Lalu koma-kamu. Langsung tidak tertarik. Kenal juga gak soalnya.”

Ada keberterimaan sekaligus ketersinggungan dalam unek-unek di atas. Penutur tidak berkeberatan dipanggil kak, tetapi tak sudi disapa kamu. Bisa dipastikan, ketidaksudian itu mewakili banyak orang sebab budaya bahasa Indonesia tidak mendemokrasikan kamu.

Lanjutkan membaca “”Kak” dan ”Kamu””

“Portmanteau”

L. Wilardjo (Kompas, 16 Jul 2024)

Salah satu cara untuk mereka cipta kata baru ialah dengan membentuk paduan (blending) dua kata: wanda (syllable) depan kata pertama dipadukan dengan wanda belakang kata kedua.

Dalam bahasa Inggris, misalnya, ada kata brunch, yang merupakan paduan antara breakfast dan lunch. Brunch ialah makan yang dilakukan sesudah lewat jam makan pagi, tetapi sebelum jam makan siang. Barangkali brunch dapat dipadankan dengan sariang, paduan antara sarapan dan makan siang.

Lanjutkan membaca ““Portmanteau””