STFXPOKA Indonesia: Rumah Formasi, Pendidikan, dan Pelayanan Pastoral

Loading

STFXPOKA Indonesia

STFXPOKA Indonesia dikenal sebagai sebutan ringkas yang merujuk pada Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius yang berlokasi di Poka–Rumah Tiga, Ambon, Maluku. Dalam konteks Gereja Katolik, seminari tinggi adalah lembaga formasi yang menyiapkan calon imam melalui proses pembinaan yang terstruktur, berjenjang, dan berorientasi pada pelayanan. Karena itu, STFXPOKA bukan sekadar tempat kuliah atau asrama, melainkan “rumah pembentukan” yang menata seluruh aspek kehidupan formandi (frater/calon imam) agar bertumbuh menjadi pelayan yang dewasa, berintegritas, dan siap diutus.

Sebagai lembaga formasi, STFXPOKA hadir untuk menjawab kebutuhan Gereja akan tenaga pelayan pastoral yang memiliki keutuhan hidup: matang secara pribadi, kuat dalam iman, mumpuni dalam pengetahuan, serta terlatih menghadapi realitas pelayanan di tengah umat. Dalam perjalanan pembinaannya, STFXPOKA juga menjadi ruang pembelajaran yang menekankan hidup berkomunitas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat persaudaraan. Nilai-nilai ini tidak hanya mendukung proses pendidikan, tetapi juga membentuk karakter seorang calon imam yang kelak diharapkan mampu memimpin umat dengan teladan.

Identitas dan Makna Nama STFXPOKA

Istilah “STFXPOKA” merupakan gabungan identitas pelindung dan lokasi. “STFX” mengacu pada St. Fransiskus Xaverius, seorang tokoh misionaris besar dalam tradisi Gereja Katolik yang identik dengan semangat pewartaan dan perutusan. Sementara “Poka” merujuk pada lokasi seminari di Ambon. Kombinasi ini kemudian menjadi identitas yang mudah dikenal, digunakan dalam komunikasi internal, publikasi kegiatan, serta pengenalan lembaga kepada masyarakat luas.

Peran Utama STFXPOKA di Indonesia Timur

Keberadaan seminari tinggi di Ambon memiliki makna strategis, terutama bagi wilayah Maluku dan kawasan Indonesia Timur. Kondisi sosial-budaya yang beragam, dinamika kemasyarakatan, serta kebutuhan pendampingan umat di wilayah kepulauan menuntut pelayan pastoral yang tidak hanya paham teori, tetapi juga punya daya tahan mental, kemampuan berelasi, dan kepekaan konteks. STFXPOKA berperan menyiapkan formandi agar mampu menjawab tantangan itu melalui pembinaan yang menyentuh empat dimensi penting: manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral.

Selain membina calon imam untuk Keuskupan setempat, STFXPOKA juga dikenal sebagai tempat formasi yang dapat menampung pembinaan dari lebih dari satu wilayah gerejawi sesuai kerja sama yang berlaku. Hal ini memperkaya kehidupan komunitas karena para frater dibentuk dalam suasana lintas latar belakang, sehingga sejak awal mereka belajar menghargai perbedaan, menguatkan persaudaraan, dan membangun semangat pelayanan yang inklusif.

Visi Pembinaan: Membentuk Pelayan yang Utuh

Pada dasarnya, STFXPOKA menempatkan pembinaan sebagai proses yang menyentuh keseluruhan diri formandi. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi membentuk calon imam yang utuh dan seimbang. Karena itu, kehidupan formandi diarahkan untuk:

  1. Memiliki kedewasaan pribadi dan karakter yang stabil.

  2. Menumbuhkan kehidupan rohani yang kuat dan terarah.

  3. Mengembangkan kemampuan intelektual, khususnya dalam filsafat dan teologi.

  4. Mengasah keterampilan pastoral agar siap melayani umat.

Keutuhan ini penting karena pelayanan Gereja menuntut konsistensi: seorang pelayan harus mampu menghadapi situasi sulit, mengambil keputusan dengan bijak, mengelola emosi, serta tetap setia pada panggilan dan tanggung jawabnya.

Kegiatan Pembinaan Harian dan Mingguan

Kehidupan di STFXPOKA umumnya disusun dalam ritme yang teratur. Jadwal komunitas membantu formandi membangun kebiasaan baik, disiplin waktu, dan keseimbangan hidup. Kegiatan yang biasanya menjadi bagian dari hidup seminari antara lain:

1) Kegiatan Rohani

Kegiatan rohani menjadi jantung pembinaan: doa bersama, perayaan Ekaristi, ibadat, serta latihan refleksi. Selain itu, ada pendampingan rohani pribadi yang membantu formandi mengenali perkembangan iman, motivasi panggilan, serta dinamika batin yang perlu dikelola secara dewasa.

2) Kegiatan Akademik

STFXPOKA menjalankan proses pendidikan melalui perkuliahan, diskusi, seminar, presentasi, penulisan makalah, dan evaluasi akademik. Pembentukan intelektual diarahkan bukan hanya untuk menguasai materi, tetapi juga melatih cara berpikir kritis, jernih, dan bertanggung jawab, karena kelak seorang imam sering menjadi rujukan umat dalam hal pengajaran iman maupun pendampingan moral.

3) Kegiatan Komunitas dan Kerja Bersama

Hidup seminari juga identik dengan kerja komunitas: pembagian tugas harian, kebersihan, pelayanan liturgi, dan pengelolaan fasilitas bersama. Pola ini melatih rasa memiliki, kerendahan hati, dan kemampuan melayani tanpa memilih pekerjaan.

4) Kegiatan Pastoral

Latihan pastoral dilakukan melalui penugasan di paroki/stasi atau karya pelayanan tertentu. Formandi belajar berjumpa umat, mendampingi kegiatan kategorial, terlibat dalam katekese, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan empati. Pengalaman lapangan ini menjadi ruang nyata untuk menguji pembelajaran di kelas dan pembinaan rohani dalam situasi kehidupan umat yang sesungguhnya.

5) Kegiatan Sosial dan Kepedulian Lingkungan

Kegiatan sosial membantu formandi membangun kepekaan terhadap penderitaan dan kebutuhan sekitar. Bentuknya bisa berupa aksi solidaritas, pendampingan masyarakat, bakti sosial, dan kegiatan peduli lingkungan. Melalui ini, pelayanan dipahami bukan sebagai posisi, tetapi sebagai keberpihakan pada kemanusiaan.

6) Pengembangan Minat dan Bakat

Seni, musik liturgi, olahraga, dan kegiatan kreatif komunitas biasanya juga hadir sebagai bagian dari keseimbangan hidup. Bakat-bakat ini mendukung pelayanan, misalnya musik untuk liturgi, atau olahraga untuk membangun kesehatan fisik dan kerja sama.

Struktur dan Tata Kelola

Dalam tata kelola seminari, STFXPOKA umumnya memiliki pimpinan utama (rektor) yang dibantu dewan formator. Ada bidang akademik, pastoral, serta unit administrasi dan kerumahtanggaan yang memastikan kehidupan komunitas berjalan tertib. Di sisi lain, formandi juga biasanya memiliki organisasi internal (pengurus frater) untuk membantu koordinasi tugas harian, kegiatan komunitas, dan komunikasi internal.

Tata kelola seperti ini penting karena seminari bukan lembaga yang “berjalan sendiri”, melainkan komunitas pembinaan yang menuntut keteraturan. Disiplin yang diterapkan bukan untuk membatasi, tetapi untuk menata kebiasaan hidup yang kelak sangat dibutuhkan dalam pelayanan.

Hak dan Kewajiban: Budaya Tanggung Jawab

Dalam semangat pembinaan, STFXPOKA menekankan keseimbangan antara hak dan kewajiban formandi. Hak berkaitan dengan mendapatkan pembinaan yang layak, pendampingan, akses fasilitas, dan evaluasi yang adil. Sementara kewajiban mencakup kepatuhan pada tata tertib, kesetiaan pada jadwal doa dan studi, tanggung jawab atas tugas komunitas, menjaga etika, serta menghormati formator dan sesama frater.

Budaya ini menanamkan prinsip bahwa pelayanan tidak lahir dari kemampuan berbicara semata, melainkan dari kebiasaan hidup yang tertib, jujur, dan konsisten.

Kontribusi untuk Gereja dan Masyarakat

Keberadaan STFXPOKA membawa kontribusi ganda. Bagi Gereja, STFXPOKA menjadi salah satu sumber kader pelayan pastoral yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan umat. Bagi masyarakat, STFXPOKA menghadirkan teladan komunitas pendidikan yang menekankan nilai disiplin, solidaritas, dan kepedulian sosial. Banyak kegiatan pastoral dan sosial yang bersentuhan langsung dengan warga, sehingga seminari bukan institusi yang terpisah dari masyarakat, melainkan hadir sebagai bagian dari realitas sosial di sekitarnya.

Lebih dari itu, pembinaan yang menekankan dialog, penghargaan terhadap budaya, serta kemampuan berelasi lintas latar belakang memberi dampak positif dalam membangun semangat persaudaraan dan kedamaian. Di wilayah yang kaya keberagaman seperti Maluku, nilai ini menjadi sangat penting.