i look, i forget, i look again, i forget again, i inspect, i recite it loud, i write it down, i remember... heh!
Catatan di Bursa
Di sini saya melawat makam Osman dan Orhan Gazi di kawasan Hisar. Sebelahnya ada menara untuk melihat kebakaran di sekeliling. Juga dapat melihat stesen janakuasa nuklear jauh di sebelah bukit sana. Yeni Camii agak jauh sikit...
Nun di bawah sana, tersergam gagah (walaupun tua) Ulu Camii yang mengikut senibina Seljuk, tidak seperti yang Sinan punya. Saya sempat berborak dan minum teh dengan penjaga masjid dan muazzinnya. Layan juga walaupun bahasa Arab yang berkarat. Heh, agak lucu bila melihat pemandu yang rupanya menghafal skrip, membawa pelancong-pelancong dari Malaysia. Bila ditanya lebih-lebih, kelu lidah!
Berhampiran Ulu Camii, kelihatan pasar yang sentiasa sibuk (atau musim raya haji?). Di sinilah tempat saya membeli beberapa helai tudung yang saiznya agak kecil, walaupun ada ratusan (mungkin ribuan) corak yang menjadikan saya bingung, tak tahu nak pilih yang mana satu, apabila tokey kedai suami isteri membentangkan tudung di depan mata. Tapi takpe, kalau tak jadi tudung pun, boleh jadi lapik meja, atau pun di'frame'kan saja di dinding buat perhiasan...
Dari Bursa saya naik ke Uludag untuk berski. Terasa nyaman pabila meluncur turun, walau acapkali kemalangan. Seronoknya puluhan kali ganda berbanding di Melrose, Scotland beberapa lama dulu. Mungkin sebab segalanya halal... nak makan pun tanpa was-was.
Oh ya, Bursa juga bandar yang rasanya seimbang - tak terlalu kebaratan seperti Istanbul dan Ankara, masih punya ruh, dan moden. Konya lebih 'konservatif'... maklumlah tempat Rumi.
Catatan di Konya
Di Otogar bandar-bandar besar, ada heating dan left luggage counter. Busaras is a dwarf! Tempat tidur? Kerusi dan meja pun banyak. Oleh sebab ramai saja yang buat macam itu... jadi no hal. Juga boleh minum bercawan-cawan teh sebelum tidur!
Of course untuk perempuan carilah Ocuz Otel... lagi selamat dari tidur merata. Tak pun tidur di Mescit atau Camii, paling koman. But tak manislah.
Tidur di Otogar, banyaklah yang menegur. Japan? Korea? China? Taiwan? Haha. Jika di Tenggara, lebih mudah berbahasa Arab dari Turkı yg saya langsung tak faham. Alhamdulillah, walaupun berkarat, boleh juga faham loghat Syria...
Oh ya, tentang Konya. Quite a madness... for a sheikh who died yonks ago. Bait-bait puisinya juga lebih popular dari Shakespeare di negeri Benggali Putih (USA) - hmmm betul ke Prof Wiki?
Ince Minaret, Seyma dan juga banyak Camii yang beratus tahun tuanya - ada yang sezaman dengan Kesultanan Melayu Melaka!
Hmmm... apa-apapun agak bosan juga berjalan seorang diri. Yang selalu teman, Tuhan Manusia. Sebut juga tentang Rumi. Masuk hari ini, dah hampir 3 kali habis dah. Oh ya, teman-teman lain - OHCM & Pathology agak berat sedikit...
Ok itu sajalah. Nak pergi minum Çay sambil menelaah ayat:
Andai kota itu peradaban, rumah itu budaya, dan menurut ibu, agama itu tiang serinya.
Sedikit catatan dari Urfa
Kota ini sudah pun beratus-ratus tahun lamanya, jadi terlalu banyak 'saksi hidup' yang tinggal yang sempat saya lawati selama 40 jam di sana.
Divanyolu Caddesi - Makam Datuk, Ayah & Sultan Abdul Hamid II
Topkapi Sarayi - Banyak tour Jepun, Korea dan juga kanak-kanak Turki sekali, bising betul la... too bad the Holy Relics exhibits tak boleh masuk
Yildiz Sarayi + Camii, tempat IRICA - singgah membaca sebentar... nice hospitality, thanks to Sahidi, Harun, Delyaz dan Fatimah... they thought I am a Master or PhD student, heh... sesiapa boleh terangkan tentang Capitulatory Regime of the Ottoman Empire? Pening... huh baik baca Pathology & OHCM!
Dolmahce Sarayi - Westernised
Galata Tower - Nice view
Suleyman Camii - kilat kasut di sini, hampes kena cas YTL3
Sultanahmet Camii - solat subuh di sini, jumpa Melayu
Hagia Sophia - was a cathedral, a mosque, now a museum!
Eyup Camii, Makam Abu Ayyub Al-Ansari
Fatih Camii, Makam Al-Fateh
Rumeli Hisari - a bit to the north, but worth it
Anadolu Hisari - opposite side of Rumeli Hisari, lagi jauh...
Taksim dan Istiklal - Grafton Street, only much better!
Haydarpasa - a good old train station
Naik feri merentasi Bosphorus... sejuk dan romantik, banyaknya orang Melayu
Grand Bazaar - tudung-tudung lawa (juga orangnya) tapi mahal, baik beli di tempat lain eg. Bursa, Konya...
Sirkeci - Eastern terminus utk Orient Express
Hamam - nothing special
Nursi Studies di Eminonu
Museums, and lots of it - Press, Fine Arts, Islamic Arts, Archaelogical. Semua brief visit...
Akan bercerita lebih panjang nanti... orait nak check out dah...
Feeling yellow?
//This is for the BERSIH...
//and this... hmmm... I don't know...
//Defintitely on my must-watch list!
//Last but not least, Dapur 218...
One day at a time
Well, I just had a mouthful dinner with Omar Bhutta. A nice lad, and I hope that he will the next who's who in the community in near future. Insha Allah.
We had lengthy conversation, chiefly on local and world issues. Well, that's basically almost everything, isn't it? To be honest, it was just about how we should lead our life.
Wow, being alive is one thing. Living out of it is another. Agreeing is one thing. Agree to disagree? Wow that's kinda tough, though. Heh, seperti kata Ned Kelly yang masih teringat hingga sekarang - 'Such is life'. I guess I have to take it one day a time...
Hmmm... we're living in the times where ignorance is totally a bliss (also a bless?). The times where rhetorics are being understood as the truth. Why? Because we do not know how to be aware which one is which.
'You can't bargain with the truth, cause one day you gonna die, and goods going high... and evils going down, in the end...'
Hmmm... I need to get back to my Public Health project... because I think I see the light of it just now...
Yusuf Islam - I Think I See I The Light
I used to trust nobody, trusting even less their words,
Until I found somebody,
There was no one I preferred,
My heart was made of stone;
My eyes saw only misty grey,
Until you came into my life,
I saw everyone that way.
Until I found the one I needed at my side,
I think I would have been a blind man all my life.
I think I see the light -
I think I see the light,
I think I see the light
I used to walk alone, every step seemed the same.
This world was not my home,
So there was nothing much to gain.
Look up and see the clouds,
Look down and see the cold floor.
Until you came into my life,
I saw nothing, nothing more.
Until I found the one I needed at my side,
I think I would have been a blind man all my life.
I think I see the light -
I think I see the light, (shine, shine, shine!)
I think I see the light, (shine, shine, shine!)
I think I see the light,
So shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
I think I see the light,
coming to me, coming through me,
Giving me a second sight.
So shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine! (think I see the light)
shine, shine, shine! (think I see the light)
shine, shine, shine! (think I see the light)
Keep on shining!
I think I see the light
I think I see the light
I think I see the light
I think I see the light
Few updates...
Tarikh-tarikh exam sudah pun diumumkan di intranet. Seperti semester sudah, kita ada TOSCE (team OSCE), dan written exams. Nasib baik ada gap antara paper, kalau tak pancit jugalah. Apa-apapun, yang penting, semuanya akan berakhir pada 25 Januari nanti.
Pada waktu itu, (malah sekarang pun), fikiran dah melayang ke PMC sana... tapi buat masa ini berangan-angan ke Turki - Istanbul, Ankara, Urfa, Antalya, Konya, Ephesus, Antakya, Bursa, Kocaeli, Edirne...
Oh ya, kelmarin rumah saya menganjurkan rumah terbuka. Menu - Nasi Briyani + Kuah Dhal + Acar, Ayam Panggang Coriander, Chicken Wings, Agar-agar dan Cheesecake, untuk minum air Sarsaparila. Turnout? 250-ish, tapi mungkin kurang sedikit sebab secara purata tetamu makan 3-5 round... kerana terlampau sedapnya hidangan kami... heheh.
Kami mula masak pada tengah malam sebelumnya sampai pukul 3 lebih, kemudian berehat sampai subuh sebelum dapur kami sibuk sepanjang hari... nasib baik ketuhar itu tak rosak sebab sentiasa dinyalakan untuk panggang ayam...
Terima kasih kepada seluruh ahli 218... memang kaw kaw habis open house kali ini!
...
Weekend ini ada seminar mengenai Islam di Turki anjuran Malaysian Think Tank. Speaker? Mustafa Akyol - http://www.thewhitepath.com. Hmmm menarik juga, lagi pun aku pun nak turun ke sana...
Pada waktu malamnya pula, ada stand up comedy - Allah Made Me Funny. Hahahaha...
5 benda pada hujung minggu
2. Faham tentang "The Law of Diminishing Returns", sikit-sikit...
3. Baca tentang "Female Genital Herpes"
4. Ulangtahun 50 tahun Hartal Seluruh Tanah Melayu - terima kasih Asyhraff sebab ingatkan, aku hampir lupa daaa... penat-penat bookmark tapi lupa... kalau nak tengok silalah ke http://10tahun.blogspot.com
5. Aku teruja melihatkan Canon XM1 dan XM2... malangnya aku tidak punya cukup wang melainkan aku jual sebiji ginjal aku...
Selamat Hari Raya dari SCR Hospital

//Ahli-ahli 218 yang sangat ceria belaka. A bit overexposed...
Selamat Hari Raya Aidilfitri, Maaf Zahir dan Batin, dari kami warga South Circular Road Hospital kepada alumni sekalian... datanglah ke rumah terbuka kami - tarikh akan diumumkan nanti.
Dengan ingatan tulus ikhlas dari,
BDr. Abadi
Sky TV & Internet Unit
South Circular Road Hospital
postscriptum - BDr = bakal doktor
Wake me up when November ends
Now, where's my Lonely Planet?
Sesejuk angin pagi di Beaumont
Hmmm... 2-3 minggu ini agak penuh masa - kelas, kedatangan pelajar-pelajar baru, dan majlis Sambutan Pelajar Baru (SPB) pada hari Sabtu ini. Aku kini menumpang di rumah 218 yang semestinya meriah dengan muka-muka baru.
Oh ya, bulan Ramadan ini pula, adalah Ramadan terakhir aku di tempat orang. Masuk yang tahun ini, dah 6 kali. Maknanya 6 kali tidak beraya di kampung - sampai dah lali.
Sebut-sebut Ramadan, sekarang dah masuk 10 malam terakhir. Dublin Mosque dah buat qiam tiap-tiap malam, dan menghabiskan 3 juzuk.... yakni solat-solat sunat dari 2 hingga 5 pagi non-stop. Habis endurancelah, tapi aku tak pergi pun lagi. Tahun lepas adalah sikit-sikit... tapi aku cukup respek dengan seorang pakcik ini - Syed Azlan, tak pernah miss... memang pergh dot com!
postscriptum: Rasanya selepas SPB nanti, akan diupload komik yang aku buat. Saja memeriahkan... lagi pun software Comic Life & iPhoto bukan payah pun nak pakai. Bubuh saja gambar, kemudian letaklah ayat-ayat bunga sikit... siap!
Ramadan

Pantas sungguh masa berlalu... mungkin terlalu asyik memerhati dunia. Tak perasan dah habis satu pusingan rupanya...
Di kesempatan ini, ingin saya ucapkan selamat berpuasa, dan beramal ibadat. Semoga dengan kehadiran Ramadan, makin deras langkah kita meniti redha-Nya.
Jakarta oh Jakarta
“Aku orak iso ngomong Jowo…”
Tersengih ayah mendengar jawabanku apabila ditanya oleh Pakcik Samad sama ada aku fasih berbahasa Jawa atau tidak. Inilah dilemma seorang anak Jawa... darahnya 100% Jawa, tapi bahasanya... hmmm entah.
Jadi, 4 hari kelayu ayah ke Jakarta, untuk bertemu dengan sahabat lamanya sejak dari Batu Pahat High School, Pakcik Samad. Sama-sama Jawa. Supirnya pun Jawa. Jadi, semacam kelas intensif Jawa Halus jugalah adanya…
Masing-masing menceritakan jerih payahnya sewaktu di sekolah dahulu. Berjalan lebih dari 4 km sewaktu 9 tahun? Beres... Hasil berkat usaha dan doa, Pakcik Samad telah banyak berjasa di dunia akademik, dan akhirnya kini mengemudi dan mengajar di sebuah PT (Perusahaan Terhad)...
Sebagai pengenalan, di Indonesia, seboleh-bolehnya setiap rangkai kata (tempat, objek dsb.) yang ada akan diterbitkan kata singkatannya. Warung telefon – Wartel, Warung Kopi – Warkop, Telepon Selular – Ponsel, dan banyak lagi... heh menarik. Dan, banyak papan tanda yang menusuk hati, seperti yang di bawah:
//Jangan buang sampah merata-rata...
Hmmm… Jakarta, memang kota luar biasa. Yalah, 14 juta ramainya di sini. Bayangkan separuh penduduk Malaysia tinggal di Lembah Klang. Dek punyalah berketi laksa ramainya, macam-macam jenis manusia ada.
Yang kaya melarat ada – ini jenis lagak Benggali Putih hendaknya, jam tangannya saja ratusan juta rupiah, hinggalah yang fakir lagi miskin amat – hari-harinya menjadi joki kereta. Ini tidak seperti di tanah air, yang lebih ‘egalitarian’, di kampung saya, yang kerja upah berkebun pun dapat memiliki kereta, begitulah lebih kurangnya.
Apabila bila ditanyakan apa lainnya Jakarta dengan Kuala Lumpur, saya tersengih saja. Datang sini baru tahu...
Hari pertama di sini, berkesempatan menziarahi Monumen Nasional (Monas). Di situ terdapat Muzium Sejarah Nasional. Banyak mengenali tokoh-tokoh seperti Sukarnoe, Suhartoe, Pramoedya Ananta Toer, Jenderal Sudirman, Kartini, Serikat Muhamadiyah, itu belum masuk yang sezaman dengan Kesultanan Melayu Melaka.
//Monumen Nasional (Monas), gagah berdiri di tengah-tengah Jakarta
Jakarta, atau Jayakarta, maknanya kota kemenangan, dan tempat ini dinamakan sebegitu dari Sunda Kelapa, setelah angkatan tentera pimpinan Fatahillah, mengalahkan tentera Sunda... kemudian Belanda menukar lagi namanya kepada Batavia sebelum kembali kepada Jakarta.
Setelah puas di Monas, singgah sebentar di Masjid Istiqlal, yang terbesar di Asia Tenggara. Berapa ramai jemaah yang boleh dimuatkan, rasanya mencecah 100,000… hmmm Indonesia has the largest Muslim population in the world – ramainya!
Ramainya itu membawa makmur – sifirnya… ramai orang, ramai ulama; ramai ulama, banyak persantren; banyak persantren, makin ramai... dan kitar itu berulang kembali. Nama Wali Songo, terkenal dengan mengembangkan Islam – wayang kulit pun dijadikan saluran, sememangnya sinonim dengan mana-mana Muslim di sini. Dan dikhabarkan, sebelum mereka sudah ada masyarakat Muslim, yang dibawa oleh pelayar-pelayar dari Cina.
Selepas makan malam, kami dibawa ke kompleks beli-belah untuk orang kaya melarat.Fuh! Kalah Suria KLCC, yang masyhur menjual barangan yang bagi kami, hanya untuk dilihat-lihat melalui kaca tingkap saja - harganya terlalu mahal! Di sini, terjumpa baju batik yang harganya puluhan juta rupiah... dalam ribu-ribu ringgit jugalah, malah ada yang mencecah puluhan ribu. Memang untuk orang kaya melarat!
Namun, tak sampai seratus meter dari situ, kelihatan seorang tua yang kais pagi makan pagi, kasi petang makan petang - pekerjaannya menjadi penumpang kereta, yakni mencukupkan korum di dalam mobil-mobil, kerana di Jakarta terdapat kawasan yang diwajibkan berkongsi kereta (car pool), mesti lebih 3 orang dalam satu-satu mobil... tsk tsk tsk.
Hari kedua saya ke Bandung, melihat gunung berapi Tangkuban Perahu. Namanya begitu kerana jika diamati dari Bandung, bentuknya seperti perahu/sampan yang diterbalikkan. Hawanya dingin bercampur bau belerang/sulfur/telur busuk. Hmmm... Kami mendengar penerangan berbayar dari jurupandu pemerintah yang boleh bertutur Indonesia, Jawa dan Belanda. Sepanjangan penerangan, terdapat penjaja yang membuntuti dari awal hingga akhir, memujuk agar dibeli barangan cenderamata yang dijual... Fuh! Macam-macam stail mengayat... nasib baik pria belaka...
Akhirnya saya beli juga cenderamata - rantai kunci dan pena. Wargh! Seratus ribu rupiah...
Hari ketiga, saya ke TMII - Taman Mini Indonesia Indah, dan ke Lubang Buaya, tempat berlakunya peristiwa berdarah Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (singkatannya G30S/PKI). TMII untuk lihat-lihat sepintas lalu seni dan budaya rakyat dari seluruh pelusuk Indonesia, dari Nanggroe Aceh Darussalam, hinggalah ke Irian Jaya. Unik semuanya...
//Acheh berperang dengan Belanda lebih 40 tahun lamanya, paling kental!
Di Lubang Buaya, sempat menonton diorama rampasan kuasa G30S/PKI. Suharto menjadi hero rakyat sewaktu itu, walaupun akhirnya beliau menjadi menguasai Indonesia selama 32 tahun, sebelum diturunkan secara paksa oleh rakyat yang berdemo. Itu pun, mahasiswa Trisakti perlu menjadi korban terlebih dahulu...
//Jika di Malaysia, Peristiwa Bukit Kepong. Di Indonesia, Lubang Buaya...
//Selepas G30S/PKI dipatahkan oleh Suharto, seluruh pelusuk Indonesia mengisytihar perang ke atas PKI...
//Antara yang terkenal dalam Masyumi... Pak Natsir
Pada malam terakhir, sempat juga menonton saluran Q-TV, di mana panel-panel yang terdiri dari cendiakawan berbicara mengenai pelbagai isu. Ada yang memuji dan ada yang mengkritik terang-terangan. Sewaktu zaman Suharto dahulu, si pengkritik akan lenyap keesokannya - dek diberkas polis malam itu juga. Di sini?
Keesokan harinya kami kembali ke LCCT... dengan bas terbang Air Asia. Jakarta, akan aku kembali ke sana suatu hari nanti... Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi...
Akhirul kalam, terima kasih kepada tuan rumah, Pakcik Samad, dan supir Katmiti atas layanan... ada rezeki kita bertemu lagi nanti.
Merdeka!
Hmmm... Sesudah 50 tahun (menurut buku teks), syukur negara kita masih merdeka, namun apabila melihatkan gelagat anak-anak muda pasca 'countdown' tengah malam sudah, hmmm... risau.
Banyak pihak telah berjuang untuk kemerdekaan, dan yang sudah berjerih payah mengisi kemerdekaan - ini termasuklah rakyat Indonesia, India, Pakistan, Burma, Vietnam, Nepal dan lain-lain negara yang banyak membina bangunan...
...
Tahniah kepada En Faka & Kak Wan, dan Dr Khamizi & Dr Nadwah. Mereka sudah 'merdeka' dari zaman bujang...
Ini ada sedikit foto dari Walimah Dr Khamizi & Dr Nadwah:
//Meor dan Hafyz menjadi pemegang bunga manggar... ambil berkat sikit :-)
//Tersenyum pengantin lelaki diusik sewaktu di plaza tol yang pertama...
//Antara yang hadir...
3 walimah dan jalan-jalan di Singapura
1. Haikal & Hidayah

//Pasukan Kompang Sri Tambak dari Bukit Katil

//Potong stim betullah pakcik jurukamera...

//Haikal & Hidayah bersama Cikgu Sulaiman, Kak Zu dan sekeluarga...

//Bersama rakan-rakan SMAPK. Ada yang dah berubah rupa... aku pun dah tak kenal...
2. Farid & Shuhaila

//Farid dan Shuhaila... dulu mereka berdua sama-sama menuntut di Perth
3. Reza & Marliana

//Reza dan Marliana dengan Nya'ie Suparni dan kaum kerabat keluarga sepupu ibu...

//Papan tanda iklan menarik di Changi Road, berhadapan dengan Masjid Kassim

//Masjid Kassim... siap ada Wisma Indah lagi...
Perjalanan ke Singapura dengan Senandung Malam memang membosankan. Taubat lahum saya nak ke sana lagi pada malam hari. Lain kali, lebih elok ke sana pada siang hari, sebab boleh lihat pemandangan... taklah gelap semata-mata...
Pagi-pagi lagi sudah tiba di Woodlands... sememangnya banyak lagi pokok-pokok... sejuk mata memandang. Semoga terus hijau bumi Singapura, walaupun tergolong dalam negara maju... di sini, pantang ada tanah kosong (juga berpokok-pokok), ada saja pembangunan yang tak terancang mendatang, walaupun tanah itu sekangkang kera - tapi masih boleh bina 3-4 biji banglo! Kok ye pun buatlah taman... inilah Malaysiaku yang cemerlang, gemilang dan terbilang...
Setibanya saya di Tanjong Pagar, terasa suasana kolonial - bangunan stesen yang lama (juga ada cat-cat yang terkupas), dan juga mural yang menggambarkan kegiatan ekonomi di Tanah Melayu dan Singapura... tidak lupa kedai mamak Hasan yang menambahkan lagi suasana pekan koboi...
Dengan menaiki MRT (dari Tanjong Pagar ke Paya Lebar), terus saya ke Pasar Geylang untuk bersarapan. Dapatlah juga makan Mi Goreng yang ditambah pewarna - ya amat pelik sekali... warnanya sedikit keoren-orenan, tapi pelik-pelik pun, lazat juga...
Setelah mengisi perut, sempat juga jalan keliling pasar, sebelum bergegas ke Tampines (banyak orang Tampin ke?), untuk walimah dua pupu saya. Pasukan kompangnya didatangkan khas dari Panji. Silat pun ada... memang meriah...
Petangnya, saya kembali ke Pasar Geylang - ya, untuk makan lagi. Ingatkan nak beli emping berlada, rupanya salah faham... terborong emping mentah. Laaaa, di kampung saya ada benda alah emping ini...
Hajat di hati ingin ke Wardah Books, atau paling kurang ke Masjid Aleem Siddique... tapi tersalah tren dan masjid pula. Maka bersolatlah saya di Masjid Kassim di Kembangan. Dapatlah juga lihat kedai Pustaka Nasional, dan menketedarah Maggie Goreng dan Roti Prata di kedai makan mamak seberang jalan sana. Aisemen. Tapi takpe, lain kali boleh ke Singapura lagi...
Malam itu juga saya bertolak pulang ke Kuala Lumpur dengan Senandung Malam. Jejaklah kaki saya di KL Sentral yang sesak (sebab banyak sangat gerai yang dibuka) pada pagi Isnin...
What it means to be patriotic?
Oh ya, dapat email ini dari Yahoogroup PPIMI, Hafyz yang postkan. Baca ya?
OpinionHeh, itulah dia patriotisme. Sekarang, yang dikempenkan, taat kepada negara bererti taat kepada parti... dan jadilah sifir, parti = kerajaan, sampai habis pening marhaen nak bezakan yang mana satu... maka jadilah wargaparti eh silap, warganegara...
Wednesday August 15, 2007
What it means to be patriotic
I REFER to ‘Ong: Don’t question patriotism’ (The Star,
Aug 13). We must understand patriotism, before we can
question it.
As we near the 50th anniversary of independence, the
word patriotism is being bandied about flippantly. It
is regularly highlighted in the mass media and in
political speeches as one of the main ingredients of a
united Malaysia.
Patriotism originates from the Greek word, patrida
meaning fatherland and equates with love and loyalty
to one’s country. The antonym of patriotism is
treachery.
There is a distinct difference between country and
government. Confusion arises when loyalty to country
is mistakenly equated with loyalty to the government.
Thus any dissent or criticism of the workings of the
government is mistakenly interpreted as lack of
patriotism.
Love of the country is not the same as love for the
government. Governments come and go but the country
remains.
The oath of allegiance is a duty a citizen
acknowledges to the country and sovereign only. This
is ingrained in our Rukunegara, Kesetiaan Kepada Raja
dan Negara i.e. Loyalty to King and Country.
Former USA President Theodore Roosevelt once said,
“Patriotism means to stand by the country and not by
the President or any other public official. It is
patriotic to support him insofar as he efficiently
serves the country.
It is unpatriotic not to oppose him to the extent that
by inefficiency or otherwise he fails in his duty to
stand by the country.”
As patriotism is nebulous in definition and comes in
many guises, what kind of patriotism are we seeking to
instil in Malaysians?
Blind patriotism calls for unconditional loyalty, is
rigid and inflexible, intolerant of criticisms and
adherents, and will support the country at whatever
cost.
Symbolic patriotism relies heavily on ceremonial
content, mass rallies, singing of patriotic songs and
flying of flags and other ways of proclaiming
allegiance to the nation.
Constructive patriotism believes that the best way to
love one’s country is with constructive criticism,
enhanced transparency and good governance.
The motive for this is a sincere desire for positive
change. To stand up and speak your mind is not a
challenge to patriotism but the heart and soul of it.
Often, these forms of patriotism overlap.
No matter how hard we try, there is no ‘Patriotism
Index’ to gauge a citizen’s loyalty to his country.
Patriotism is in the individual’s heart and is an
ongoing process.
It starts at home, continues in the institutions of
education and religion, the work place, daily living
and ultimately to our graves.
DR F.S. MALHI,
Ipoh, Perak.
Atau dalam riwayat yang lain - "Anda tidak patriotik jika anda tidak sokong/undi BN."
postscriptum: Some ministers/decision makers come and go, but civil servants are here to stay...
...
Alhamdulillah tamat sudah elektif. Bak kata PokNik, "Habis kidney lah kau..." - intonasi berlainan boleh membawa maksud lain ya?
Buku Meja Kopi
Hmmm... dalam RM85 harganya, amat berpatutan!
Malaysia: A Pictorial History 1400-2004
Author: Wendy Khadijah Moore
Publisher: Archipelago Press
Review by Elizabeth Ng
THE next time you snap a picture with your ultra-slim, ultra-light, multifunctional digital camera, take a moment to remember how things were like for a 19th century photographer.
Back then, photographers in Malaya had to carry an entire laboratory with them so they could develop their photos on the spot. Everywhere they went, they lugged about flasks of chemicals, a darkroom tent, basins, glass plates, distilled water, tripod and camera, which in itself weighed about 10 kilograms!
Also, if you've noticed, pictures from that period are usually of eerily empty streets and portraits where the subjects pose rather stiffly. There's a technical reason for that. The cameras then had long exposure times (of about several seconds) and any moving objects would appear either blurred or invisible.
The interesting facts above are part and parcel of this wonderful book entitled Malaysia: A Pictorial History 1400-2004. Apart from its concise history on Malaysia and photography, the book is packed with over 1,200 images of our country as we journey from the 15th to the 21st century.
The images are made up of faded pencil sketches, subtle watercolours, engravings and photographs from artists and photographers alike. It includes the first views of Malaysia produced by 19th century professional photographers, studio portraits, experiments of early amateurs as well as unpublished rarities.
The book is divided into six chapters, each highlighting a significant period in Malaysia's history such as the birth of the Malacca Sultanate; the arrival of the Colonial era; the Japanese Occupation and surrender; Independence and the creation of Malaysia; and the nation's emergence from the end of the Emergency to what it is today.
This wealth of material brings Malaysia's history vividly to life, making this one of the more engaging books on history. Although the text isn't comprehensive, it is informative enough and nicely complements the images - which are, after all, the heart and main thrust of the book.
The changing times are noted through changes in the images' tone, colour and type. Early engravings give way to sketches and watercolour pieces of the idyllic and pristine beauty of our country.
Later, sepia-toned and black & white images of a simpler and less cluttered past come to life before they are replaced with the rich hues of modern-day photography.
The book inspires a sense of wonder and appreciation for our nation's rich culture and society.
It doesn't matter whether you're reading it for the nuggets on the development of photography or the history of Malaysia because both topics are beautifully tied together by the glossy images, making Malaysia: A Pictorial History 1400-2004 a good choice to have sitting on your bookshelf.
Apa ertinya mengikut ward round?
"Err... I have no idea..." (huh, tak pernah aku dengar...)
Rupa-rupanya catamenial adalah 'yang berkaitan dengan haid', yakni menstrual-related.
Mengikuti ward round memang menguji crystallised memory. Kadang-kala, eh rasanya macam pernah dengar istilah tersebut, tapi di mana ya? Kena pula bahagian yang masih belum dipelajari, iaitu Nephrology. Tak dapat den nak tolong. Erkk... berpeluh meneran!
SLE, IgA Nephropathy GN, FSGS, Crescentic GN, ESRD, PD, HD dan AVF, Kidney Transplant Protocol, Steven-Johnson, Hoffman's sign... adeh adeh adeh... cukup... dah pening dah ni...
Adapun mengikut ward round mulanya bosan sebab tiadalah saya dapat menangkap apa-apa yang diperbincangkan bila kali pertama. Bila kedua, ketiga dan seterusnya, bolehlah make sense, dengan syarat mesti telaah fail pesakit terlebih dahulu.
Dek kena telaah fail yang sama hari-hari, dan wad yang sama hari-hari, maka kenal akan pesakit-pesakit. Hmmm... dapatlah juga faham mengapa mereka di sana. Nun di sana ada yang menunggu untuk pembedahan pemindahan ginjal, di sebelah sini ada yang itu, ada yang ini...
Dan, hari ini, dalam saya menyaksikan seorang pesakit dalam keadaan nazak, dan akhirnya meninggal dunia. Inna Lillah.
Apa-apapun, sekurang-kurangnya dimanfaatkan juga masa cuti musim panas ini. Tahun depan, barulah realiti bermula... terima kasih kepada guru-guru atas tunjuk ajar (dan buat): Dr Rashidi, Dr Osama, Dr Thanuja, Dr Suliana, Pau, dan para jururawat (ramai betul).
...
//Macam biasa, angle buku program. Same old, same old...
//Hmmm, sahabat dari UTP, yang bertanyakan mengenai kebangkitan pengaruh Neo-Liberalisma kepada Prof Dr Mohd Ariff Karim (MIER) dan Justin Leong (Genting Group Berhad)
//Foto Mustaza dan Faizah. Kami 'tuang' sesi petang... terlepas nak jumpa 'The Raslans'.
//Karam Singh Walia dan Wan Mohd Firdaus. KSW masih lagi mengenali saya... lantas bertanyakan tentang kebajikan dan situasi pelajar-pelajar di Dublin. Hmmm... susah sikit nak jawab...
//Yang ini, DYTM Raja Dr Nazrin Shah menyentuh tentang proses pembinaan negara...
//Dari kiri - Datuk Rafiah Salim (yang diboo), dan Prof. Dato' Khoo Kay Kim. Persoalan AUKU dan kesatuan 3 kaum dirungkai juga...
//Datuk Mustapa Mohamed. Kenalan saya sewaktu di Perth dahulu bertanyakan soalan cepumas - Mengapa mahasiswa-mahasiswa di luar negara digalakkan untuk menyertai Kelab UMNO, dan dilarang menghadiri majlis bersama tokoh-tokoh tertentu seperti Anwar Ibrahim? Hmmm musykil...
//Prof Dato' Dr Shamsul Amri Baharudin mengajak peserta-peserta supaya berfikir tentang NEP - New Economic Policy, National Economic Policy, New Development Policy, Never Ending Policy dan Never Ending Polemic...
//Sahabat-sahabat PMC menyuruh saya ambil foto ini...
//Syafiq Idris tetap ceria...
//Berita baik - Majlis Fatwa Kebangsaan telah meluluskan cadangan Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR) untuk menggunakan dakwat sewaktu mengundi nanti bagi mengelakkan penipuan...
//Hmmm siapa ya sebenarnya yang dimaksudkan seperti dalam slaid yang dipaparkan? Go figure...
Input Hari Minggu

Oh ya, klik untuk melihat foto yang lebih besar.
Persidangan Pimpinan Mahasiswa Malaysia Pertama 2007. Input yang pelbagai. Cuma, bila disentuh tentang artikel 8 dan 153, terus saya terfikir artikel 152... hmmm...
Semoga apa-apa yang diperolehi boleh disampaikan kepada orang ramai...
postscriptum: saban melihat pelbagai jenis kamera digital SLR yang dipakai oleh jurugambar professional... ishhh... rasa gatal tangan nak merasa kamera yang baru... heh nampaknya 6.1 megapiksel sudah menjadi dinosaur!
Geleng-geleng kepala dibuatnya...
Okay ini adalah 3 kisah yang membuatkan saya geleng-geleng kepala.
Kisah I
"Rumahnya seminggu ada telefon, seminggu tiada..."
"Loh... kok begitu?"
"Kabelnya asyik dicuri orang saja..."
Masih terngiang-ngiang perbualan tadi dengan pakcik sewaktu di kampung beberapa minggu sudah. Rumahnya seringkali keputusan talian telefon, dek kabel yang sentiasa dicuri. Seminggu ada, seminggu tiada. Memang macam biskut. Kabel telefon yang dicuri, diekstrak tembaganya kemudian dijual di pasaran gelap. Tambahnya lagi, yang mencurinya orang kampung di situ juga, kerja menagih...
Geleng-geleng kepala saya dibuatnya...
Kisah II
Pada waktu tengah hari buta 2 minggu lepas pula, semasa saya tidur-tidur ayam, tiba-tiba kedengaran suara perempuan menjerit-jerit meminta tolong di luar sana. Kemudian diiringi bunyi motorsikal menderu laju, seolah-olah dipulas sampai habis pemegangnya sebab mahu memecut laju. Bila saya bergegas keluar meninjau keadaan, kelihatan seorang makcik tercungap-cungap bagai tak cukup nafas dan menggigil ketakutan.
Rupanya dia diragut orang. Patutlah trauma semacam. Mukanya pucat, kalau toreh pun tak berdarah! Kesian. Alhamdulillah... dia tidak diapa-apakan. Yalah, orang meragut, sebab terdesak sangat, boleh saja jadi pendek akal. Silap-silap ditikamnya dengan pisau!
Geleng-geleng kepala saya dibuatnya...
Kisah III
Kemudian, sewaktu saya beriya-iya menceritakan tentang kenduri-kendara yang telah saya pergi, sempat juga ibu mencelah lagi dengan kisah benar yang menggerunkan: "2 buah rumah di'rompak' ketika mengadakan majlis perkahwinan"
Fuh... di kala semuanya tersenyum gembira... tiba-tiba dirundung duka pula... cobaan...
Rumah yang pertama, kehilangan wang tunai puluhan ribu ringgit. Saya ulang, puluhan ribu ringgit. Kalau puluhan ringgit tiadalah terkedu dan terkesima sangat. Ini puluhan ribu ringgit... Memang Pergh Dot Com!
Mungkin kerana kesibukan kenduri, tiada siapa yang perasan sangat orang keluar masuk rumah kita. Yalah, masa sibuk-sibuk kenduri, ramai tetamu yang hadir dan malangnya salah seorang tetamu kita itu hadir dengan 'hajat yang besar'.
Ada riwayat mengatakan seorang wanita berlakon sarat mengandung senyap-senyap masuk ke dalam bilik pengantin dan menjalankan kerja terkutuk itu. Agaknya disumbatkan barang curian ke dalam 'perut'nya, sebelum cepat-cepat angkat kaki. Yalah, siapa perasan?
Rumah yang kedua, barang kemas serta barang-barang berharga lain seperti telefon bimbit, dompet, dan beg tangan. Juga sewaktu sibuknya keluarga menerima tetamu dalam kemeriahan kenduri perkahwinan.
Yang ini pula, pencurinya pandai dan licik. Diambilnya beg tangan, dikaut isinya, dan diletakkan kembali ke tempat asal. Cermat sungguh cara kerjanya. Bila tuan punya membelek-belek kembali, haaa sudah....
Geleng-geleng kepala saya dibuatnya...
postscriptum : Alih-alih, ayah pun turut menambah - "Lain kali, kalau nak buat kenduri, buat di dewan orang ramai saja... yalah, entah siapa-siapa yang keluar masuk rumah kita nanti..."
Melawat kembali KRIM Eco Camp
Maka, sepanjang program bertugas sebagai pemandu, jurugambar dan runner tetap, siap ada tag nama lagi.
Baiklah, ini ada foto-foto 2 tahun lepas. Rata-ratanya, peserta yang hadir telah pun berada dalam tahun ke 2 pengajian di IPT-IPT... ada yang setempat dengan saya (Dublin), ada yang entah di mana-mana...
Foto-foto ini telah pun 'diproses' dalam iPhoto, kali ini kita buat semuanya nampak 'antik' sedikit. Yalah, asyik-asyik foto hitam dan putih saja...
//Sesi pengenalan bersama Abang Aizan (rasanya beliau kini di Bintulu sebagai jurutera PETRONAS)
//Foto ini mungkin membawa konotasi yang berlainan, sebab macam jadi DJ di kelab-kelab malam seperti yang dipaparkan dalam akhbar The Star. Walhal, Abang Kimin sedang menyelia sesi perkenalan...
//4 sekawan yang mengambil bidang perakaunan...
//Berehat setika setelah ralit menghabiskan air liur...
//Penceramah utamanya bernama Hasrizal (www.saifulislam.com)... beliau dah merantau ke sana dan ke sini - 'been there, done that'
//Nampaknya ini seperti taklimat ke apa...
//Eh, itu Mufaz ke?
//Sewaktu aktiviti riadah - "Lari lari... kita lari... sampai mati..."
//Yang ini pula, Dr Hamdi. Hmmm... tak pernah jumpa beliau semenjak tamatnya program.
//Alih-alih, hanya foto kumpulan-kumpulan perempuan saja yang diambil... laki-laki tak... aisemen!
Iqbal oh Iqbal
Bicara Ilmu yang lepas-lepas membincangkan tentang Ali Shariati, Pramoedya Ananta Toer (Pak Pram), dan Syed Naquib Al-Attas. Yang akhir sekali, beliau adalah tokoh di tanah air kita, mashyur... yalah, beliau dulu kan di ISTAC?
Tokoh terpilih kali ini adalah Muhammad Iqbal. Dipanggil Allama Iqbal - 'allama' merujuk kepada cendiakawan yang faqih dalam pelbagai lapangan. Siapakah beliau? Jeng jeng jeng... beliau adalah cendekiawan yang mengambil sastera sebagai jalan untuk menyampaikan hujah-hujah dan idea-ideanya, yang menjadi inspirasi pejuang-pejuang untuk mendirikan Pakistan... kira besar sungguhlah jasa beliau, sebaris dengan tokoh-tokoh penubuhan Pakistan seperti Muhammad Ali Jinnah dan Abu 'Ala Al Maududi... hmmm banyak lagi yang perlu ditekuni... mesti ramai lagi teman seperjuangan mereka, kan?
Hmmm... langkah-langkah ke arah mengenali Muhamamad Iqbal telah pun dibentangkan. Tinggal nak atau tak nak sahaja. Ok boleh mula dengan Wikipedia dulu... ok kita click click click sikit... lepas itu boleh pergi keluar menuntut...
Aku pulang dengan buku Bicara Tanpa Suara (antologi cerpen dan puisi, semuanya nukilan peserta-peserta dari setiap negeri, anjuran KEKKWA) sebagai ole-ole. Terima kasih Pak Rahimidin Zahari... maka bertambahlah lagi bahan bacaan yang perlu dihabiskan sebelum tamat cuti soifi ini. Alahai... itu belum dicampurkan dengan karya Kumar dan Clark serta rakan taulannya lagi...
postscriptum - nota kupasan-kupasan Abang Zakir, Pak Rahimidin Dahari, dan Dr Hanafi Ibrahim akan ditelaah kembali... hmmm.... analogi besi dan api sebagai penerangan konsep individualiti dan ketuhanan perlu didalami dan dikaji... juga hujah-hujah Ibn Arabi, Nietzshe, Rumi, Goethe, Waliyullah Dehlawi, Bateson, Naquib Al-Attas... apo kobondonyo? Hmmm aku juga harus mencari Nur... Nur oh Nur... ya Bediuzzaman Nursi... bukannya Siti NURhaliza!
1000km
Kuala Lumpur > Kuantan > Kuala Terengganu > Sekayu > Kuala Berang > Kota Bharu > Pasir Mas > Machang > Rantau Panjang > Kota Bharu > Kuala Krai > Bukit Bunga > Georgetown > Alor Setar > Merbok > Ipoh > Klang > Kuala Lumpur
Anggaran jarak yang dilalui, melebihi 1000km. Jarak sebenar tak dapat dikira sebab tripmeter kereta rosak, dah usang sangat kereta...
Antara foto yang menarik sepanjang 'road trip' (termasuklah yang dulu-dulu punya):
Negeri Sembilan
//Sempena nak menyambut 50 tuanya negara kita... ini dia... Dato' Dol Said
//Papan info yang dipacakkan bersebelahan Makam Dol Said
//Makam Dol Said. Yang kecil di belakang, tak berapa pasti siapa tuan empunya...
Selepas 50 merdeka, hmmm... macam-macam ragam betul. Sah Malaysia memerlukan hero seperti Kaber Hero Kaber Zero... heh.
Kelantan
Dek ralit sangat, tak sempat ambil gambar. Rasa seronok pula duduk di Kelantan, sebab kos sara hidupnya rendah. Hmmm... kena belajar speaking Kelantan nampaknya.
//Tugu Peringatan Jalanraya Timur Barat...
//Tugu dan jalan menghala ke Jeli. Jalannya memang berliku-liku... kalau tak berwaspada boleh masuk gaung!
Pulau Pinang
Rupa-rupanya ada Jom Heboh di Pulau Pinang. Patutlah Jambatan Pulau Pinang sesak bukan main. Nampak ramai Melayu saja yang pergi... apa da...
//Masjid Kapitan Keling, Georgetown, Pulau Pinang - Nik Farhan (tengah) dan Hazim (kanan)
//Ini curi-curi ambil... maklumlah dalam masjid
//Makan malam di Restoran Line Clear bersama kawan-kawan PMC... nasi berlaukkan ayam goreng dan segala jenis kuah yang ada... hasilnya? Sedap tapi tak boleh nak kata rasa apa...
Yang ini pula, di Alor Setar, Kedah. Negeri Jelapang Padi, dan juga menurut sumber rasmi, negeri paling banyak hutang (no pun intended). Apa-apa pun, tomyam di sini lebih menyelerakan dari tempat-tempat lain... heh baru makan sekali je pun.
//Masjid tempat ibadat, bukan tempat tidur...
//A la Mezquita...
//Saja ambil foto gerbang, nampak lawa dan klasik. Heh, syiar...
//Yang ini tak boleh dalam B & W, spoil nanti.
//Menara Alor Setar
//Haa... baca notis ini betul-betul!
Ok ini sedikit foto dari Kem Motivasi Sek Men Sains Machang... memang cara betul budak-budak Sains Machang...

//Macam biasa, foto beramai-ramai... semoga kita berjumpa kembali nanti...
//Abe Kimi jadi bos...
//Kapten Kamal mengerahkan peserta-peserta bersenam hingga sihat...
//Tarian hujan yang diajar oleh Kapten Kamal, a la tarian hakka dari kaum Maori di New Zealand
//Tersenyum bangga memegang panji-panji kumpulan
//Encik Afiq (MC) dan Cho (Tok Penghulu)...
//Cik Penghuluwati (tak tahu nama), dengar-dengar beliau adalah seorang pendebat handal...
//Abang Zul melayan adik-adik peserta...
//Taklimat dari Mat Boot sebelum memulakan aktiviti riadah
//Abang Aslam, satu-satunya fasilitator yang sedang menuntut kejuruteraan (yang lain semuanya perubatan belaka) tekun menyuntik inspirasi dan semangat...
//Bos Besar Ariff dan Yang Berbahagia Ustaz Shamsuddin, Penolong Kanan (HEM) SMACH