<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Elsofaris on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Elsofaris on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@elsofaris?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*ZHuxJJiDiiesZVuA.jpg</url>
            <title>Stories by Elsofaris on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 28 Jun 2026 09:41:43 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@elsofaris/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Setelah 4 Bulan di Jakarta]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/setelah-4-bulan-di-jakarta-5a1acbb13df4?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5a1acbb13df4</guid>
            <category><![CDATA[demonstration]]></category>
            <category><![CDATA[jakarta]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 31 Aug 2025 11:46:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-08-31T12:27:13.904Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Minggu, 31 Agustus 2025</em></p><p>Jakarta makin mencekam. Setidaknya itu yang saya lihat di media sosial. Meski begitu, sepagi ini saya tetap berangkat kerja. Sudah empat bulan saya menjalani pekerjaan baru ini, saya hanya libur sehari dalam sepekan. Kemarin libur, maka hari ini kembali masuk. <br>Tetangga kos masih sering mengajukan pertanyaan heran, “minggu minggu, <em>tetep</em> kerja?!” “Namanya juga kerja di retail.” jawab saya agak membela.</p><p>Saya bekerja di toko buku yang buka setiap hari. Hari libur kami dijadwal bergilir setiap harinya.</p><p><em>Lebih takut gagal di Jakarta<br>Dibandingkan dengan ku takut masuk neraka<br>Dan makin ke sini semakin sadari<br>Neraka itu adalah kota ini, kau tak sendiri<br>Perunggu — Amalan Baik</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/590/1*UkqJhD0MJbWb5Q1REJULLg.jpeg" /></figure><p>Jalan Pejaten Raya tampak lengang. Saya berjalan kurang lebih 700 meter dari kost ke halte <em>busway</em>. Kendaraan seperti motor dan mobil, hanya lewat sesekali. Antrean lampu merah di perempatan tak sebanyak biasanya. <em>TransJakarta</em> koridor 6 ke berbagai jurusan biasanya akan datang setidaknya 3–5 menit sekali. Kali ini lebih lama dari biasanya. Saya ketinggalan bus 6U, dari arah berlawanan, saya lihat bus jurusan Pasar Minggu — Blok M itu sudah tiba, berhenti sejenak di halte, membuka pintu, lalu menutupnya lagi dengan cepat karena tak ada penumpang yang naik. <br>“Penumpangmu itu aku, bodoh!” saya membatin.</p><p>Saya naik JPO dengan agak kecewa. Sampai di tengah jembatan, mata saya memicing ke arah perempatan, memantau apakah ada bus yang akan segera tiba di halte. Bus 6U baru saja lewat, artinya saya harus menunggu lebih lama lagi. Jika sudah begitu, biasanya saya mengaktifkan rencana B dengan naik bus jurusan apa pun lalu turun di Halte Duren Tiga. Semua bus yang melintas sepanjang jalan Mampang-Ragunan pasti lewat halte itu. Tak menunggu sampai 10 menit, bus 6 Ragunan-Galunggung tampak akan datang. Setengah lari saya turun dari JPO, masuk ke halte lalu <em>standby</em> di ujung peron.</p><p>Dari dalam bus, saya melihat jalan masih lengang, laju bus listrik ini tak punya hambatan berarti. Antrean lampu merah yang tak panjang membuat bus begitu cepat tiba di setiap halte pemberhentian. Saya berhasil turun di Halte Duren Tiga setelah 4 kali pemberhentian. Dari sini, saya akan menghadang semua bus tujuan Blok M. Biasanya ada dua, 6U dan 7B. Jika dua bus orange ini tak kunjung datang, saya pakai opsi selanjutnya dengan naik 6V. Tapi yang ketiga ini saya pikir mustahil. Tujuan 6V ke Senayan, bus ini pasti tidak beroperasi mengingat daerah tujuan bus ini dikategorikan area rawan dan menjadi titik pusat aksi massa. Kalaupun ada, rutenya diperpendek, dan ketersediaan armadanya pasti jarang.</p><p>Sekitar 15 <em>menitan</em>, dari jauh terlihat bus 7B melaju ke arah Duren Tiga. Ini dia busnya batin saya. Bus ini akan mengantar saya ke Blok M lewat jalan layang. Bebas dari macet, dan blokade jalan apabila masih ada massa berkerumun di depan Mabes Polri. Saat bus semakin dekat, dari kaca penampakan dalam bus begitu sesak. Semua kursi terisi, koridor diantaranya pun penuh oleh penumpang yang berdiri. Pikir saya, mau kemana ini orang-orang?! Sialan, apa mereka bekerja di retail juga? Tokonya buka setiap setiap hari, liburnya cuma sehari per pekan, itu pun di-<em>rolling</em>. Ah, sialan!</p><p>Pintu bus terbuka, cuma empat orang yang turun. Bajingan! Saya masuk menjadi bagian penumpang yang berdesakan mencari ruang dan menahan keseimbangan agar tak mudah terhempas gravitasi akibat laju kencang bus.</p><p>Sambil berdiri, mata saya menyebar ke seisi bus. Ada lelaki seumuran saya tertidur pulas tapi kemejanya rapi, dan rambutnya yang belum benar kering usai mandi. Harusnya jam <em>segini</em> kamu masih pulas di kamar kos, mas. Semalam mungkin kamu begadang karena asyik menonton siaran langsung aksi massa. Haha, entahlah. Dalam hati saya terkekeh.</p><p>Tak jauh dari lelaki molor itu, seorang ibu memangku anaknya berusia sekitar 5 tahunan. Pandangannya lurus ke depan searah dengan sopir bus. Samar-samar terlihat kecemasan dalam pandangan perempuan berjilbab batik itu. Dalam diam, kepalanya seperti riuh. Sementara tangannya mengusap-usap kepala sang anak yang sedari tadi tampak antusias. Sambil duduk di pangkuan ibunya, kedua tangan bocah itu meraih dan berpegangan pada kursi bus di depannya. Wajahnya tampak semringah, berkali-kali ia mengajukan pertanyaan pada ibunya, namun sang ibu tak menjawab hanya tersenyum sambil memberi isyarat wajah menyuruh anaknya tidak ribut.</p><p>Sepertinya hari ini perempuan itu sedang membayar janjinya pada si bocah untuk mengajaknya jalan-jalan ke Blok M. Meski ia sadar situasi akhir-akhir ini memburuk, perempuan itu mungkin tak sampai hati membatalkan janji pada anaknya. <em>Toh </em>cuma sampai siang, lalu pulang. Barangkali begitu pikirnya.</p><p>Benar saja, ibu dan anak itu tidak turun sampai pemberhentian akhir, Terminal Blok M. Makin dekat tujuan, sang anak makin berisik. <em>Heh!</em> Dasar anak ingusan! Semoga kau panjang umur sampai 20 tahun lagi. Agar kegiranganmu hari ini kelak jadi kenangan manis saat kau sedang pusing mencari kerja, dililit hutang, putus cinta, dan berpikir bunuh diri.</p><p>Empat hari setelah demonstrasi besar dan kematian pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan, kemarahan massa belum padam — malah semakin membara. Beberapa daerah di Jakarta masih jadi titik kumpul aksi massa — utamanya di depan markas-markas kepolisian. Bentrok massa dan aparat masih terjadi. Kekacauan ini membuat situasi jadi tidak terkontrol. Fasilitas umum terbakar. Kabarnya, ada 7 halte busway yang hangus dilalap si jago merah.</p><p>Di kota-kota lain, amuk massa juga terdapat aksi pembakaran bahkan menyasar pada gedung pemerintahan. Di Bandung, gedung DPRD dibakar. Di Makassar hal yang sama terjadi sampai mengorbankan 4 nyawa. Di Jogja gedung Polda habis dicoret-coret. Di Cirebon, Tegal, Semarang, Salatiga, Medan, Lombok, massa serentak menyalurkan kemarahannya. Di Surabaya, gedung Grahadi sebagai kantor gubernur Jawa Timur juga habis dilalap api. Kata seorang kawan yang berdomisili di sana, gedung itu termasuk cagar budaya. Banyak benda bersejarah yang disimpan di dalamnya.</p><p>“Tapi mau<em> gimana</em> lagi. <em>Kadung ngamuk</em>,” katanya dalam pesan instan.</p><p>Banyak yang menyangsikan aksi pembakaran itu adalah ulah massa aksi. Di media sosial, saya menonton beberapa potongan video kesaksian pemilik akun akan kejanggalan pembakaran yang disinyalir dilakukan penyusup. Dugaannya, mereka adalah aparat yang menyamar sebagai massa aksi. Pola yang dilakukan untuk memecah-belah dan membingkai negatif aksi massa.</p><p>Amukan massa pun menyasar ke individu. Rumah tokoh-tokoh pejabat yang dituduh jadi biang keladi kemarahan massa disatroni, lalu dijarah harta bendanya.</p><p>Situasi yang semakin kacau membuat Presiden ambil sikap. Kata Kapolri, ia diperintahkan “bapak Presiden” untuk menindak <strong>keras</strong> setiap perilaku anarkis. Bak alarm, berita ini jadi pertanda bahaya akan meningkatnya keberingasan aparat terhadap massa. Akun-akun corong gerakan mengajak massa untuk mundur sejenak. Intelektual (jika tak ingin disebut <em>influencer</em>) gerakan, membuat konten <em>carousel</em>, mengajak massa segera pulang.</p><p>Banyak yang khawatir situasi akan semakin memburuk dengan diberlakukannya darurat militer. Saya tidak tahu faktor apa saja yang bisa membuatnya berlaku. Saya mencari tahu. Semoga saja tidak terjadi. Saya masih ingin lebih lama tinggal di kota ini. Meski kata Gus Dur, perdamaian tanpa keadilan hanyalah ilusi, biarlah saya hidup tenang dalam ilusi ini.<strong>[]</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5a1acbb13df4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Jambore StandupIndo 2024 dalam ingatan (part 1)]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/jambore-standupindo-2024-dalam-ingatan-part-1-7775bf079ac1?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7775bf079ac1</guid>
            <category><![CDATA[stand-up-comedy]]></category>
            <category><![CDATA[jambore-standupindo]]></category>
            <category><![CDATA[festivals]]></category>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[comedy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 15 Sep 2024 16:18:51 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-15T16:41:50.917Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Saya mau cerita berdasarkan penglihatan saya selama 3 hari. Ini semacam memoar yang bakal jadi pengingat kalau saya pernah ada di antara para manusia-manusia ‘ajaib’, melihatnya dari dekat, dan mendapat banyak pemahaman berharga.</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ijqhEPt-dGYMoxWfsE9i8g.jpeg" /><figcaption>instagram/@standupindo_jgj</figcaption></figure><p>Sudah seminggu perhelatan itu berlalu. Tapi ingatannya masih jelas. Lagu September Ceria milik Vina Panduwinata masih sering terbersit saat berkendara motor, atau <em>dragging</em> pas lagi ngobrol. Saat itu, rasa merinding, kagum, takjub, terharu, dibarengi dengan nyeri betis dan sakit pinggang bercampur jadi satu.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*F4V7J4WO4cWrCwr8LY4RVQ.jpeg" /><figcaption>Instagram/@standupindonesia</figcaption></figure><p>Bisa dibilang, Jambore Standupindo adalah festival komedi terbesar di Indonesia di tahun 2024. Komunitas keren ini berhasil menggelarnya kali kedua di tempat yang sama, Hutan Pinus Mangunan, Bantul, DIY.</p><p>Sejak awal, saya memperhatikan tak mudah untuk bisa membeli tiket di acara ini. Jika kamu orang umum yang ngebet <em>pengen nonton</em>, kamu perlu memenuhi beberapa aspek seperti, punya uang banyak, waktu luang, sehat jasmani (dan rohani), serta yang paling penting: berhasil rebutan tiket secara daring.</p><p>Saya datang ke sana sebagai panitia. Cara alternatif saat kamu miskin tapi antusias. Pengen nonton konser gratisan, ya <em>nge-crew!</em> Pun di Jambore, anak-anak komunitas yang nggak mampu beli tiket, mereka harus menyediakan diri menjadi <em>LO talent</em>, kru konsumsi, keamanan yang jaga malam, kru area yang menegur Cing Abdel ngerokok, atau jadi penjaga <em>gate </em>yang mencegat pacar komika senior yang tampak tidak/belum memakai gelang tiket.</p><p>Pokoknya harus mau capek lah. Sebagai gantinya, kamu bisa nonton gratis puluhan komika idolamu, bahkan bisa melihatnya dari dekat. Bagaimana mereka ngebadanin materi, mual-mual, mengamati wajahnya yang pucat, hingga terkagum-kagum saat mereka dapat tepuk tangan berdiri dari penonton yang totalnya 1802 jiwa.</p><p>Kebetulan saya anggota komunitas Standup Jogja. Baru 2 tahun. Sebelumnya, saya berkesempatan menjadi kru beberapa pertunjukan standup comedy. Dari yang kecil-kecilan macam Final Liga Tawa Istimewa, sampai yang terbesar yakni <em>show</em> Cerita Sebelku Raditya Dika.</p><p>Entah karena alasan apa, Dewan <em>Syuro</em> Jambore 2024 (saya nggak tahu persis, tapi kalau tidak salah mereka adalah, Mas Ilmy, Mas Teguh, Mas Sanpras, Om Ilham, Mas Havid, Mas Ican), saya ditempatkan sebagai kru <em>stage</em>. Di divisi ini, saya bekerja bersama Mas El Capo dan Pangeran Barokah Subekti.</p><p>Awalnya saya mikir, tugas kru <em>stage</em> simpel. <em>Standby</em> di belakang panggung, mengondisikan para komik sebelum tampil, ngasih mic, dan menikmati aksi mereka dari belakang panggung. Setidaknya itulah yang saya tahu dan dilakukan pada event-event standup sebelumnya. Ternyata, saya terlalu meremehkan. Anjing! Jadi kru <em>stage</em> di Jambore berarti kamu menjadi turbin dari <em>event</em> ini.</p><p>Poros utama pertunjukkan ada pada panggung — dan kru di belakang panggunglah yang mengatur segala yang akan ditampilkan. Kami bertiga macam <em>gear</em> yang bertugas memacu roda acara sesuai <em>rundown</em>. Putaran roda ini dikendalikan oleh gaya tarik rantai yang tersambung dari putaran <em>gear</em> satunya yang letaknya di FOH.</p><p>Layaknya mesin yang terus berputar selama 12 jam nonstop, ada momen di mana kami hampir <em>overheat</em>. Aus! Dan itu jadi pengalaman yang masif, seru, namun agak menyebalkan.</p><p>Pengalaman ini akan saya ceritakan pada hari-hari ke depan. Kalau ada waktu senggang aja ya. Saya mau cerita berdasarkan penglihatan saya selama 3 hari. Ini semacam memoar yang bakal jadi pengingat kalau saya pernah ada di antara para manusia-manusia ‘ajaib’, melihatnya dari dekat, dan mendapat banyak pemahaman berharga.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*MxJLNBqPNoHDwjJ6LtikHA.jpeg" /><figcaption>Instagram/@standupindonesia</figcaption></figure><p>Dan lagi, tulisan ini bakal langsung saya sodorkan kalau ada orang yang coba basa-basi nanya, “gimana Jambore? Kamu panitia? Wih, itu tuh katanya ada Duta juga ya? Duta sampo lain bukan?!”</p><p>Monyet!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7775bf079ac1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Protes di Malaysia yang Berakhir Sia-sia]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/protes-di-malaysia-yang-berakhir-sia-sia-3d365867acf4?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3d365867acf4</guid>
            <category><![CDATA[resensi]]></category>
            <category><![CDATA[resensi-buku]]></category>
            <category><![CDATA[novel]]></category>
            <category><![CDATA[sastra]]></category>
            <category><![CDATA[malaysia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 22 Jul 2024 11:08:16 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-07-22T11:08:16.462Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Resensi Novel Lelaki yang Membunuh Kenangan Karya Faisal Tehrani</h4><p><em>Kritik saya pada dunia aktivisme satu: Bisa nggak sih kalo lagi berjuang melawan ketidakadilan tuh nggak usah jatuh cinta?!</em></p><p><em>Sialan!</em> Novel Lelaki yang Membunuh Kenangan ini saya baca sekali duduk. Padahal, ibarat makanan lezat nan mahal, lidah miskin saya tak mau buru-buru melahap seluruh alur cerita novel gubahan Faisal Tehrani ini.</p><p>Kalau bukan karena chat Gilang yang pendek tapi intimidatif, “GIMANA, MAS?!!”, saya mungkin akan lebih lama membaca novel ini. Saya nggak butuh honor, Lang! Kesediaan saya untuk mengisi klub buku ini semata-mata karena tujuan ingin belajar, tekun membaca buku, dan belajar menulis apik lebih dari sekadar artikel klik bait dan SEO <em>bajingan</em> itu!</p><p>Tapi di tengah kekesalan malam itu, saya iseng membuka <em>BCA Mobile</em>, “<em>Asu</em>, saldoku tinggal Rp 73.287!!!”, buru-buru ku ambil gitar (dan mulai memainkan, yhaa) novel terbitan ulang Bentang Pustaka itu, saya habiskan, lalu menulis ini untuk <em>booklet</em>.</p><p><em>Amigos! </em>Jangan lama-lama transfer honornya ya, cinta.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/382/1*GbZ5j_n2p6w1Mp2xVlR0wQ.jpeg" /><figcaption>sumber foto: goodreads.com</figcaption></figure><h3><strong>Klise: Kisah Cinta Beda Strata Sosial</strong></h3><p>Sekilas, novel ini berisi kisah cinta beda kelas. Basri seorang anak petani yang (kebetulan) masuk universitas ternama, jatuh cinta pada Tengku Valizah, perempuan putri keluarga bangsawan. Keduanya bertemu di satu organisasi pergerakan mahasiswa yang jadi corong aspirasi menentang berbagai kebijakan pemerintah Malaya.</p><p>Pertama-tama, Jika saya jadi Basri, saya pasti kaget. Lho kok saya Basri? Aneh banget! Wkwk</p><p>Begini, melihat tokoh Basri membuat saya tak ingin menjadi sosoknya. Pasalnya, Basri digambarkan sebagai sosok yang kompleks, penuh luka, namun tetap teguh pada prinsipnya. Sekali lagi, teguh pada prinsipnya! ANAK PETANI MISKIN YANG TEGUH PADA PRINSIPNYA! ANJAAAY!</p><p>Maksudku, ngapain jadi orang benar kalau meninggal, bro? Karena menurut saya yang paling penting dari hidup ini ya kehidupan itu sendiri. Betul, kita <em>nggak</em> bisa memilih takdir kita dilahirkan. Tapi kita punya kesempatan untuk mengubahnya — dan <em>nggak</em> jadi aktivis juga dong! Hey, kamu anak petani lho, Basri!</p><p>Realistis aja kita mah. Minimal kamu menaikkan status sosialmu dulu. Apalagi di negaramu yang sudah terlanjur feodal dan zalim itu, kamu malah <em>kratak-kritik-krutuk</em>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/344/1*jLT1RAFNanMRgkivhjnfTQ.jpeg" /><figcaption>Sumber foto: goodreads.com</figcaption></figure><p>Namun terlepas dari ketidaksukaan saya pada tokoh dan karakter Basri, saya kagum dengan Faisal Tehrani. Ia menulis dengan keren tentang bagaimana pergulatan batin Basri perihal cinta, idealisme, dan rasa bersalah digambarkan dengan begitu kompleks dan hidup.</p><p>Kedua, saya curiga, sepertinya ini adalah rumus template para penulis/sastrawan; Ketika ingin melakukan kritik sosial dalam karya sastranya, kisah romansa selalu jadi plot untuk dijadikan lukisan utama. Seakan keadaan sosial hanya jadi bingkai, sebenarnya hal itu justru yang ingin dibicarakan oleh si penulis. Dalam novel ini, Faisal Tehrani seperti menajamkan hal tersebut. Kayak pengen bilang, “Tuh! Jatuh cinta di negara feodal yang zalim kayak Malaysia, <em>nggak</em> enak <em>bro</em>!” gitu!</p><p>Singkatnya, kisah dalam novel ini tak asing. Ada begitu banyak kisah cinta yang berlatar konflik melawan penguasa yang bisa dikomparasikan. Misalnya, terbaru ini saya temukan pada Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.</p><p>Kritik saya pada dunia aktivisme satu: Bisa nggak sih kalo lagi berjuang melawan ketidakadilan tuh nggak usah jatuh cinta?! Contohlah klan Uchiha, yang mampu memisahkan perasaan pribadi dengan misi, agar misi bisa berhasil <em>one hundred persen! Ikuzoo!!!</em></p><h3>Realitas Masyarakat Malaysia</h3><p>Novel ini setidaknya memotret situasi sosial Malaysia pada 1970–1980an. Setelah ajeg menjadi negara serikat, hadiah kemerdekaan dari Inggris, Malaysia berjalan menjadi negara berkembang di kawasan Asia Tenggara.</p><p>Sebagaimana negara dunia ketiga yang <em>sok-sokan pengen</em> modern kayak AS dan Eropa, Malaysia juga disibukkan dengan menggenjot pembangunan, yang tujuannya tidak lain tidak bukan untuk kebutuhan industri, utamanya minyak dan gas alam.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*g1r0n_p8GmLjjqDTEAjPtA.jpeg" /><figcaption>Sumber foto: Pinterest</figcaption></figure><p>Konsekuensinya, <em>buanyak</em>. Salah duanya yang dipotret oleh Faisal yakni kesenjangan antara kaya dan miskin, serta isu rasial yang cukup memanas. Kalau tidak salah baca, di era tersebut pemerintah Malaysia bahkan memberlakukan kebijakan afirmatif yang pilih kasih terhadap ras Melayu.<br>Hal ini tentu menimbulkan kontroversi, dilanjutkan oleh gerakan resistensi di berbagai kalangan, terutama mahasiswa.</p><p>Nah, di sinilah Basri hidup. Sebagai kaum terdidik, terpelajar, satu komando satu tujuan, Basri tentu tak bisa berdiam diri melihat kenyataan. Apalagi dirinya turut terdampak. Cintanya ambrol gegara beda kasta dengan Valiza. Ketika demonstrasi ricuh, Basri pun jadi salah satu yang diburu oleh pemerintah. Ia pun harus lari dalam pengasingan. Menjadi pecundang yang kalah. Kasihan.</p><p>Andai Basri nurut, dan lulus cumlaude. Doi mungkin sudah sukses kerja ditambang minyak, naik mobil sedan, membelah padatnya jalanan Kuala Lumpur sambil <em>dengerin</em> Mencari Alasan dari Exist. Cekidot!</p><p><em>Manis di bibir memutar kata~<br>Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya ~<br></em>Syahdu!</p><h3>Kerennya, Faisal Tak Mau Hitam-Putih</h3><p>Tidak seperti kisah cinta beda kelas sosial ala FTV SCTV atau sinetron Indosiar. Novel Lelaki yang Membunuh Kenangan ini mengajak kita untuk tidak hitam-putih memandang realita sosial. Hal ini saya temukan dari segi penokohan.</p><p>Meski situasinya penuh dengan ketimpangan; secara ekonomis dan sosial. Tak selamanya para bangsawan/pemerintah itu antagonis. Tak selamanya pula rakyat jelata/aktivis baik. Ada juga kok, aktivis yang sekarang mendukung mantan penculik. Eh, itu bukan di Malaysia <em>ding, Sorry</em>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/500/1*Lqbr1YHr6h6b5I7jYHljFg.jpeg" /><figcaption>Sumber foto: Pinterest</figcaption></figure><p>Selanjutnya, saya <em>pengen</em> merangkum beberapa poin yang menurut saya patut dikagumi dari novel ini:</p><ol><li>Plot yang mencekam: Novel ini punya alur cerita yang dibangun apik, membuat saya terus penasaran. Ketegangan antara masa lalu dan masa depan, serta konflik internal tokoh utama, berhasil menciptakan atmosfer yang mencekam.</li><li>Bahasa yang puitis: Faisal Tehrani mampu merangkai kata-kata dengan indah, sehingga pembaca seolah ikut merasakan emosi yang dirasakan oleh tokoh-tokoh dalam novel. Amboi!</li><li>Kritik Sosial yang tajam: Novel ini tidak hanya sekadar kisah cinta, tetapi juga merupakan kritik sosial yang tajam terhadap sistem yang menindas dan ketidakadilan. <em>Ngerih!</em></li></ol><p>Akhir kata, novel ini saya rekomendasikan buat kamu yang ingin menikmati drama namun tidak <em>ngawang-ngawang</em>, tetapi relevan dengan situasi sosial yang sekarang, kita masih merasakan getahnya. Novel ini juga bisa menjadi cara mudah memahami situasi sosial di kawasan Asia Tenggara dan kaitannya dengan yang ada di Indonesia.</p><p><em>Keren kamu, mas Faisal! Main-main lah ke Jogja, jangan lupa mampir ke Jogja Art Book Fest. Nanti disana ketemu Dul kembar. Ditawari udud 76 madu dirimu, mas. Hahaha.</em></p><p>Tabik!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3d365867acf4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kisah Hidup Dodok: Dari Anak Jalanan, Pengamen, hingga jadi Komika di Usia Senja]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/kisah-hidup-dodok-dari-anak-jalanan-pengamen-hingga-jadi-komika-di-usia-senja-02910d293519?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/02910d293519</guid>
            <category><![CDATA[comedy]]></category>
            <category><![CDATA[features]]></category>
            <category><![CDATA[dodok-jogja]]></category>
            <category><![CDATA[stand-up-comedy]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 17 Jan 2024 09:39:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-01-17T11:44:20.032Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>“Saya mau terus Stand Up sampai tua, sampai mbah-mbah. Biar aku bisa bilang ke anak cucuku kalau Dodok Jogja (nama panggungnya) pernah jadi juara Liga Tawa Istimewa pertama, hahaha,” kata Dodok.</blockquote><p>Udara terasa hangat malam itu. Langit terang, tak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda akan hujan. Di sebuah kompleks sekretariat LKis di bilangan Banguntapan, Bantul, halaman depannya terdapat warung kopi yang biasa dikunjungi mahasiswa untuk mengerjakan tugas, atau sekadar nongkrong sambil menikmati kopi cangkir khas Jawa Timur-an.</p><p>Dodok biasa nongkrong dan mengobrol bersama para koleganya di tempat itu. Saya berkesempatan untuk bertemu Dodok dan mengajaknya bercerita tentang kisah hidupnya. Dari mulai masa muda yang ia habiskan di jalanan, menjadi pengamen, membentuk band, berkecimpung dalam aktivisme, sampai akhirnya menjadi seorang pelawak lewat kesenian Stand Up Comedy.</p><p>Orang bijak pernah berkata, “tidak ada kata terlambat.” Pepatah itulah yang tergambar dalam perjalan hidup seorang pria bernama Dodok. Pria 46 tahun ini punya kisah menarik tentang perjalanannya menjadi komika di usia yang terbilang senja.</p><h3>Hidup dari Jalanan</h3><p>Dodok menuturkan, bahwa ia menghabiskan masa mudanya dengan kehidupan yang bisa dibilang urakan. Dirinya sempat berhenti sekolah untuk mengamen di jalanan. Dodok juga mengaku saat SMA sering terlibat perkelahian hingga dirinya sempat diamankan polisi.</p><p>“Aku lahir di Jogja, tahun 1977. Sekolah di Jogja terus berhenti sekolah (saat SMP), terus aku ngamen itu tahun 1993 untuk mencari uang, terus tahun 1995 aku sekolah lagi (SMA) tapi baru beberapa bulan langsung ketangkap polisi, berantem. Pokoknya <em>ra keru-keruan lah</em>,” tutur Dodok memulai kisahnya, Senin (15/1).</p><p>Dodok mengaku tak merampungkan sekolahnya. Ia memilih untuk bekerja serabutan, dan kebanyakan menghabiskan waktunya di jalanan sebagai seorang pengamen.</p><p>“Setelah keluar (dari penjara), udah nggak sekolah, ya aku <em>ngapa-ngapain</em> aja pokoknya, jadi tukang batu, <em>ngamen</em>, ke Jakarta, wah pokoknya kemana-mana lah,” kata Dodok melanjutkan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/880/1*DgJvT0XGomH0wkWtwrXDiw.jpeg" /><figcaption>foto: Instagram/@dodok_jogja</figcaption></figure><p>Dari jalanan, Dodok kemudian mulai bersentuhan dengan dunia aktivisme menjelang akhir dekade 90-an. Berawal dari rasa penasarannya pada aktivitas mahasiswa yang kala itu sedang masif menuntut lengsernya rezim Orde Baru, Dodok pun akhirnya turut ikut dalam banyak aksi demostrasi di massa itu.</p><p>“Ini ngapain sih mahasiwa enak-enak belajar <em>kok</em> pakai demo segala, baliho tuntutannya besar sekali saya lihat waktu itu di IAIN Jogja (sekarang UIN Jogja) tertulis: <em>‘turunkan harga!’</em>, saya lihat<em> kok</em> tuntutannya <em>nggak</em> mahasiswa banget lho. Nah, disana aku <em>ngerasa lho</em> ternyata yang diperjuangkan ini aku,” katanya mengenang masa tersebut.</p><p>Bagai tersengat aliran listrik, Dodok pun jadi tergerak untuk menginisasi berbagai ide. Dirinya membuat organisasi pengamen, serta sebuah band bernama Spoer yang kini telah berusia 25 tahun.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/720/1*kLTOyihhF_lCMyI-2EFs8Q.jpeg" /><figcaption>foto: Instagram/@dodok_jogja</figcaption></figure><p>“Aku ngamen <em>seneng</em> lagu-lagu kritik sosial. Iwan Fals, dan beberapa juga bawain lagu Koes Plus. Biasa <em>ngamen</em> ya di IAIN itu. Kalau siang udah dapat uang, main ke tongkrongan di Malioboro. Nah, sepanjang pengalaman <em>ngamen</em> itu akhirnya muncul keresahan kalau anak jalanan sering kena razia, jadi kepikiran bikin organisasi kayak mahasiswa-mahasiswa itu. Terus juga bikin band Spoer yang sekarang usianya sudah 25 tahun,” kata Dodok.</p><p>Masuk ke era 2000-an, aktivitas Dodok pun masih terus di jalanan. Meski begitu, dirinya kini membangun jaringan dengan banyak organisasi kaum miskin kota dari banyak kota di Indonesia. Dari situ, Dodok aktif dalam berbagai kegiatan advokasi. Salah satunya membuat gerakan “Jogja Ora Di Dol”, yang merupakan respon dari maraknya pembangunan hotel yang berimbas pada fenomena kekeringan air di dusun Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.</p><p>“Seiring berkembangnya, <em>ya</em> aku beraliansi membuat jaringan kaum miskin kota se-Indonesia, aku kordinator sektor jalanan. Di Jogja sendiri aku menginisiasi Jogja Ora didol sebagai respon kekeringan di dusun tempat tinggalku di Miliran,” kata Dodok, (15/1).</p><h3><strong>Dari aktivis, malah tertarik menjadi pelawak</strong></h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*JUZHgfnvsfhtHSvEoB1GQQ.jpeg" /><figcaption>foto: Instagram/@dodok_jogja</figcaption></figure><p>Jika ada ungkapan “hidup adalah misteri”, maka ungkapan itulah yang tepat disematkan pada fase perjalanan hidup Dodok. Dari dunia anak jalanan dan aktivisme, dirinya tiba-tiba berniat untuk mencoba hal baru; dunia lawak lewat panggung kesenian komedi tunggal atau s<em>tand up comedy</em>.</p><p>Ketika ditanya alasannya, Dodok mengaku tak tahu pasti. Nalurinya saja yang mengantarkannya menuju apa yang ingin ia lakukan. Namun, Dodok mengaku sejak dulu memang sudah tertarik mencoba <em>stand up Comedy</em>.</p><p>“Aku pernah <em>nggak</em> sengaja nonton SUCI (Standup Comedy Indonesia) pas zamannya Akbar (SUCI 1) sampe Dodit Mulyanto (SUCI 4) di tv. Bukannya bermaksud menyepelekan, tapi saat itu aku mikir aku bisa nih. <em>Nggak</em> tahu kenapa punya keyakinan itu, entah dari mana,” kata Dodok.</p><p>Namun keinginannya terhalang oleh perasaan bingung harus mulai dari mana. Selain itu, Dodok masih belum mengetahui kalau ada komunitas Standup Indo di Jogja. Alhasil, hasrat itu pun harus terpendam selama bertahun-tahun.</p><p>“Sampai akhirnya aku kenalan sama Imot (Sigit Haryo Seno). Dia komika awal-awal di Jogja. Aku minta dia ngajarin aku Stand Up. Tapi dia menyarankan untuk datang saja ke agenda rutinnya komunitas Stand Up Indo Jogja,” ujar Dodok.</p><p>Keinginan untuk mencoba <em>stand up comedy</em> pun akhirnya baru terwujud di pertengahan 2023. Awalnya, ia tertarik untuk menonton pertunjukkan akhir tahun komunitas Stand Up Indo Jogja pada Desember 2022. Dari situlah niatnya menguat.</p><p>“Itu <em>show Stand Up live</em> pertama yang aku tonton. Bayar Rp70 ribu!” seru Dodok.</p><p>Sejak Mei 2023 lalu, Dodok akhirnya rutin mencoba Stand Up Comedy lewat ajang <em>open mic</em> setiap Jumat malam di cafe Tilasawa, Condongcatur. Dari agenda rutin yang diadakan komunitas Stand Up Indo Jogja inilah hasratnya mulai tersalurkan. Yang mulanya tidak lucu, mendapat tawa sedikit, hingga mampu membuat puluhan, ratusan, hingga ribuan penonton <a href="https://www.instagram.com/reel/C0D3noepMZb/?utm_source=ig_web_copy_link">tertawa</a> sekaligus terhibur akan penampilannya.</p><p>Sampai bulan September 2023, nama Dodok sebagai komika semakin melambung lewat kompetisi internal komunitas Stand Up Indo Jogja bertajuk “Liga Tawa Istimewa”. Dari 21 peserta yang bertanding setiap pekan, Dodok keluar sebagai juara.</p><p>“15 Mei 2023 pertama gabung komunitas Stand Up Indo Jogja. Setiap Jumat saya <em>open mic</em>, <em>sinau</em> membuat materi baru, atas nasehat “bapakku” Teguh Nurwantara dan “nguping” saat El Mentor Sanpras berbagi ilmu stand up comedy. Sampai akhirnya September ada Liga Tawa Istimewa pertama, saya ikut, lolos, juara!” tutur Dodok sambil menunjukkan raut muka bangga.</p><p>Gelar juara pun membuatnya dinobatkan menjadi komika Jogja terlucu 2023. Namanya mulai banyak dikenal bahkan sampai publik luar Jogja. Kesempatan naik di panggung yang lebih besar pun berdatangan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*cWOMxuoZKNzeX8948TTuSg.jpeg" /><figcaption>foto: Instagram/@dodok_jogja</figcaption></figure><p>Salah satunya adalah menjadi komika pembuka dalam rangkaian tur pertunjukkan <em>Stand Up Comedy Special</em> bertajuk “Black Camping” milik komika ternama Abdur Arsyad, 2 Desember 2023 lalu. Dodok yang tampil dihadapan penonton sekitar seribu orang, sukses membawakan materi bertema politik dan pemilu.</p><p>Puncaknya adalah penampilan Dodok di pertunjukkan akhir tahun komunitas Stand Up Indo Jogja bertajuk “Freedom Of Nggambleh Akhir Tahun (FON)”. Panggung yang turut menampilkan komika nasional macam Aly Akbar, Mamat Alkatiri, dan Bene Dion ini kembali jadi momen pembuktian Dodok tampil “sangar” dihadapan 500-an penonton.</p><p>“Di tengah liga, dikasih job stand up pertama di bulan September acara salah satu capres, 2 Desember 2023 dipilih jadi opener Abdur Arsyad di <em>spesial show</em>-nya, Black Camping, 22 Desember mendapat gelar komika terlucu Jogja 2023, 29 Desember tampil di FON 2023. Betapa semesta memberikan jauh lebih indah dibandingkan apa yang kita lakukan untuknya,” tutur Dodok semringah.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ht4fcIznTCSD1ibwf-pnzw.jpeg" /><figcaption>foto: Instagram/@dodok_jogja</figcaption></figure><p>Kesuksesan awal yang berhasil diraih sebagai komika, membuat Dodok mengaku tetap ingin menjadi Stand Up Comedian hingga usia sepuh. Terlepas dari kegiatannya di jalanan dan aktivitas organisasinya, ia kini punya sebuah bidang kesenian baru yang menjadi “jurus” barunya untuk menyalurkan keresahannya.</p><p>“Saya mau terus Stand Up sampai tua, sampai mbah-mbah. Biar aku bisa bilang ke anak cucuku kalau Dodok Jogja (nama panggungnya) pernah jadi juara Liga Tawa Istimewa pertama, hahaha,” pungkas Dodok malam itu.[]</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=02910d293519" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Spotify Camp Nou, Cara Barcelona Bertahan Hidup dan Satu Umpatan untuk Bartomeu: Asu!]]></title>
            <link>https://medium.com/oragol/spotify-camp-nou-cara-barcelona-bertahan-hidup-dan-satu-umpatan-untuk-bartomeu-asu-9473de1bed7?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9473de1bed7</guid>
            <category><![CDATA[barcelona]]></category>
            <category><![CDATA[bartomeu]]></category>
            <category><![CDATA[catalunya]]></category>
            <category><![CDATA[spotify]]></category>
            <category><![CDATA[lionel-messi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 20 Mar 2022 09:21:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-03-20T09:21:52.852Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Bagi Barcelona, saat ini yang lebih penting dari sekadar menjaga idealisme adalah melanjutkan hidup secukupnya.</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1000/1*X7kwfiKkSRPhN3rOR2qXAA.jpeg" /><figcaption>Stadion Camp Nou milik Barcelona akan berganti nama menjadi Spotify Camp Nou pada musim 2022-2023. PEXELS/Fran Klindic.</figcaption></figure><p>Suatu hari, saya pernah dihadapkan pada suatu pertanyaan super filosofis. Apa yang paling penting dalam hidup ini?</p><p>Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari <em>cucuk</em> seorang kawan di sebuah warung kopi sekitar 4 tahunan silam. Mungkin karena saking gabutnya sebagai mahasiswa yang memasuki masa senja dalam umur akademik di kampus, pertanyaan-pertanyaan terbuka semacam itu kerap keluar.</p><p>Pertanyaan di atas kemudian memantik kami untuk berdiskusi lebih lanjut tentang apa itu hidup. <em>Nah kan</em>. Berbekal imajinasi, asumsi, apriori, dan pengalaman empiris, kami membedah hidup secara historis, kronologis, serta genealogis. Yang kalo saya pikir sekarang, kok ya <em>ndakik-ndakik, </em>najis pula! <em>wkwk</em></p><p>Namun, saya — jika tidak bisa dikatakan kami, diam-diam turut merenungi pertanyaan di atas. Dan pada tahap selanjutnya, akhirnya saya menyadari bahwa yang paling penting dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri.</p><p>Kalo kata Pangalo, “Menghidupi hidup sepenuhnya”. Karena, percuma saja kita mempunyai ketenaran, kekayaan, dan segala pernak-pernik dalam kehidupan ini jika kitanya sendiri malah mati.</p><p>Hal itu pula yang jadi pandangan FC Barcelona saat ini: Bertahan hidup lebih penting daripada terus memegang idealisme yang kadang problematik.</p><p>Kisah busuknya manajemen Barcelona tercium pada awal musim 2021–2022. Tim Catalunya ini harus menerima kenyataan bahwa saat itu sedang terperosok ke jurang kebangkrutan.</p><p>Gaya hidup hedon yang cenderung rakus menjadi penyebab utama — dan dugaan adanya korupsi pada manajemen. Sebab perilaku tersebut merupakan kelalaian terhadap diri sendiri dengan mengabaikan segala batasan.</p><p><strong>Malapetaka <em>Barcagate</em></strong></p><p>Dalam menjalani kehidupannya, Barcelona harusnya sadar bahwa dirinya hidup di bawah naungan Laliga yang mempunyai aturan dalam menentukan batas sebuah klub dalam melakukan pengeluaran dana. Namun hal itu cenderung diabaikan dalam skema jahat yang dijalankan para petinggi Barcelona dalam <em>Barcagate.</em></p><p>Adalah Joseph Maria Bartomeu (Asu!) yang merupakan presiden Barcelona kala itu yang disebut-sebut sebagai biang keladi dari permasalahan. Dalam kasus <em>Barcagate, </em>Bartomeu tampil sebagai seorang presiden yang (diduga) korup dan kerap mengambil keputusan <em>blunder</em> dalam hal keuangan Barcelona. Lebih celaka lagi, Bartomeu disokong oleh para jamaahnya yaitu CEO Oscar Grau, serta kepala legal klub, Roman Gomez Ponti dan Jaume Masferrer.</p><p>Mereka melakukan penggelapan uang, dan menyewa <em>buzzer</em> 13 Ventures untuk membangun narasi untuk melindungi reputasi mereka sebagai dewan direksi. Akibat dari aksi jahat tersebut, menurut laporan <em>El Mundo</em>, Barcelona mengalami kerugian sekitar 97 juta euro pada 2019–2020 dengan total utang 820 juta euro.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/750/1*Gljzr7FHApC7Bn3fL_riaQ.jpeg" /><figcaption>Sumber: Laporan Keuangan FC Barcelona</figcaption></figure><p>Selanjutnya, kebijakan finansial <em>ngawur</em> yang diambil turut memperburuk keadaan. Laliga lewat departemen yang mengontrol batas dana yang boleh dikeluarkan oleh setiap klub di level utama dan <em>segunda </em>(Liga tingkat 2 di Spanyol) punya sikap untuk Barcelona.</p><p>Dari laporan dari Radio Catalunya, pada musim 2019–2020, Barcelona punya batas biaya sebesar 671 juta euro. Jumlah ini kemudian menurun ke angka 347 juta euro di periode 2020–2021.</p><p>Untuk musim ini, batas biaya skuad Barcelona jatuh di kisaran 160 juta euro. Artinya, dibanding 2 periode sebelumnya, Barca hanya boleh mengeluarkan seperempatnya saja. Hal ini dikarenakan untuk mendapat restu dari Laliga untuk mengarungi kompetisi, Barca harus melakukan penghematan dana setidaknya 200 juta euro. Setara dengan nilai transfer Neymar ke PSG.</p><p>Karena itulah, Barca terancam tak bisa mendaftarkan para rekrutan anyar mereka seperti Memphis Depay, Eric Garcia, dan Kun Aguero di awal musim. Sebelum bisa melakukan registrasi pemain, Barca dituntut untuk membenahi total anggaran seperti gaji para pemain yang sangat menjulang tinggi saat itu. Sebut saja pemain macam Philippe Coutinho, Ousmane Dembele, Antoine Griezmann, dan sang mega bintang Lionel Messi.</p><p>Joan Laporta bersama koleganya Rafael Yuste, Mateu Alemany, Ramon Planes, dan Jordi Cruyff harus memutar otak menyiasati semuanya setelah kembali menjadi presiden dan dewan direksi usai rezim Bartomeu (asu!) dan kroni-kroninya lengser.</p><p>Mereka kemudian melakukan kebijakan dengan melakukan pemangkasan gaji secara massal terhadap para pemain, merentalkan beberapa pemain dengan melakukan kompensasi gaji yang turut dibayar oleh tim yang merental sang pemain. Miralem Pjanic, Philippe Coutinho, dan Francisco Trincao adalah beberapa nama yang masuk dalam siasat tersebut.</p><p>Selanjutnya Antoine Griezmann juga harus dipinjamkan ke klub lamanya Atletico Madrid. Puncaknya, Lionel Messi yang harus dilepas karena tidak mungkin melakukan perpanjangan kontrak melihat nilai kontrak beserta gajinya yang terlampau tinggi.</p><p>Meski, kabarnya Messi bersedia memotong gajinya sebanyak 50 persen, hal tersebut masih jauh dari cukup untuk budget barca yang sangat mepet. Terlebih hal itu menyalahi aturan ketenagakerjaan di Spanyol, di mana sebuah perusahaan dilarang memotong gaji pegawainya hingga 50 persen bahkan lebih.</p><p>Perpisahan antara seorang legenda dengan klub yang sudah membesarkannya akhirnya tak bisa dicegah. Momen haru itu terjadi begitu mendalam, terlebih Barcelona bukan hanya sekadar klub sepak bola yang Messi bela. Barcelona merupakan tempat bernaung Messi sejak kanak-kanak. Usai terdiagnosis penyakit yang membuat tubuhnya tak bisa tumbuh tinggi, karier dan cita-cita Messi berhasil diselamatkan oleh La Blaugrana.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/CST5GOSjOyN/?utm_source=ig_web_copy_link">https://www.instagram.com/p/CST5GOSjOyN/?utm_source=ig_web_copy_link</a></p><p>Barcelona seperti berada pada ujung napas terakhirnya setelah jajaran dewan Laporta melakukan audit pembukuan klub. CEO Barca yang baru, Ferran Reverter mengatakan FC Barcelona seharusnya sudah bubar jika saja klub ini berbentuk PT Terbuka.</p><p>“Saat kami tiba kemarin Maret, secara teknis klub bangkrut. Jika (berbentuk) Perseroan Terbatas Terbuka, pasti sudah dibubarkan,” ujar Reverter.</p><p>“Tak ada aliran uang masuk dan kami kesulitan membayar gaji. Utang dan beban kontrak berjangka mencapai 1,35 miliar euro, dan klub sangat membutuhkan pembiayaan kembali.” Ujarnya saat konferensi pers yang dilakukan di Camp Nou pada 6 Oktober tahun lalu.</p><p>Hal ini berdampak pada terseok-seoknya peforma tim di paruh awal musim. Badai cedera dialami oleh pemain penting seperti Pedri, Ansu Fati, dan Dembele. Di kompetisi domestik Barca harus tercecer di papan tengah, dan yang lebih nahas untuk pertama kalinya sejak 2003–2004 Barcelona harus tersingkir di fase grup Liga Champions dan turun kasta ke Liga Eropa.</p><p>Barcelona yang mempunyai brand sebagai tim tersohor dengan konsisten mendominasi daratan eropa harus menerima kenyataan dirinya saat itu hanyalah badut yang diperolok Bayern Munich dan Benfica.</p><p><strong>Bertahan dan Melanjutkan Hidup</strong></p><p>Siasat untuk memperbaiki keuangan terus-menerus dilakukan oleh Barcelona. Setelah melakukan langkah cuci gudang pemain, Blaugrana mengambil jalur kredit dari <em>Goldman Sachs</em> senilai 500 juta euro, yang dibayarkan dalam kurun 10 tahun dengan bunga 1,98 persen.</p><p>Terbaru, Barcelona akan menjalin kesepakatan dengan perusahaan besar dibidang layanan streaming musik, <em>Spotify</em>. Dari kesepakatan yang dicapai, <em>Spotify </em>bersedia menyuntik dana segar sebesar 280 juta euro atau sekitar 4,6 triliun rupiah. Sebuah angka yang cukup membuat tenang para penggemar setelah serentetan drama hampir mati dari tim kecintaannya ini.</p><p>Meskipun begitu, dana tersebut tidaklah diberikan secara percuma. Barcelona harus menempatkan nama <em>Spotify</em> di kostum pemain tim putra dan putri mulai mulai musim depan. Hal ini juga mengingat mereka telah resmi berpisah dengan <em>Rakuten</em> di akhir musim. Namun, ada konsekuensi lain yang harus dihadapi klub yang dihidupkan secara kolektif oleh para <em>socios</em> itu.</p><p>Dana segar yang berhasil diterima oleh Barca, sekaligus mahar untuk menggadaikan nama Stadion kebanggaannya, Camp Nou. Menjadi pertama dalam sejarah klub.</p><p><em>Spotify</em> ngebet banget menyematkan namanya di depan nama stadion Camp Nou. Sebuah hal yang tidak mudah diterima oleh para penggemar terlebih para pecinta lokal Catalunya.</p><p>Hal yang akan menjadi berbeda pada hari-hari selanjutnya adalah Barcelona yang sekarang bukanlah Barcelona yang ‘’murni” dan bebas dari terpaan modal kapital. Identitas dan idealisme ini begitu melekat dan menjadi kebanggan bangsa Catalonia dan para penggemarnya seantero dunia.</p><p>Begitulah adanya. Barcelona dan sepakbolanya yang dianggap sebagai ekspresi seni masyarakat Catalunya haruslah ditanggalkan kemurniannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Barcelona kini sudah benar-benar mempertaruhkan dirinya dalam dekapan kapital yang terkadang semu. Sebut saja nasib Chelsea yang sedang menjadi pesakitan akibat si pemilik modal harus di-paria-kan oleh otoritas setempat.</p><p>Namun, melihat semua kenyataan yang harus dihadapi saat ini, Barcelona menetapkan pandangan hidupnya. Bagi Barcelona, saat ini yang lebih penting dari sekadar menjaga idealisme adalah melanjutkan hidup.</p><p>Bentar, belum selesai. Saya ingin mengumpat: Bartomeu ASUUU!![]</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9473de1bed7" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/oragol/spotify-camp-nou-cara-barcelona-bertahan-hidup-dan-satu-umpatan-untuk-bartomeu-asu-9473de1bed7">Spotify Camp Nou, Cara Barcelona Bertahan Hidup dan Satu Umpatan untuk Bartomeu: Asu!</a> was originally published in <a href="https://medium.com/oragol">oragol</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Emang Kenapa Kalau FIFA dan UEFA Punya Standar Ganda?]]></title>
            <link>https://medium.com/oragol/emang-kenapa-kalau-fifa-dan-uefa-punya-standar-ganda-a731b1c519fd?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a731b1c519fd</guid>
            <category><![CDATA[rusia]]></category>
            <category><![CDATA[fifa]]></category>
            <category><![CDATA[football]]></category>
            <category><![CDATA[ukraine]]></category>
            <category><![CDATA[politics]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 06 Mar 2022 11:20:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-03-06T11:20:09.525Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Tatanan dunia sudah ada yang mengatur hingga akhirnya membuat kita mau tak mau, suka tidak suka, terbawa dalam konstruk yang dicanangkan oleh FIFA.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*JO9riBWWGfYv8g9owmEIJw.jpeg" /><figcaption>Ilustrasi fans Timnas Rusia di Piala Dunia 2018. PIXABAY/xusenru</figcaption></figure><p>Sudah 9 hari sejak invasi yang dilakukan ke Ukraina, Rusia mendapatkan berbagai macam sanksi. Rusia lewat federasi sepak bolanya mendapatkan sanksi dari lembaga tertinggi olahraga paling populer sejagat raya ini, FIFA. Digandeng oleh UEFA, sanksi tersebut berupa larangan seluruh elemen sepak bola Rusia baik timnas maupun klub untuk bertanding di kompetisi yang berada dibawah naungan 2 federasi tersebut.</p><p>Hal tersebut otomatis membuat tim Spartak Moskow misalnya, harus gugur tanpa tanding dari fase 16 besar kompetisi Europa League. Lawannya RB Leipzig melenggang ke babak selanjutnya karena sudah dianggap menang WO 3–0.</p><p>Orang-orang yang dianggap mempunyai hubungan terhadap Sang pemimpin Invasi, Vladimir Putin juga mendapat desakan untuk hengkang dari dunia sepak bola.</p><p>Terbaru, pemilik Chelsea, Roman Abramovich harus rela melepas hak kepemilikannya terhadap Chelsea. Taipan yang menjadi pemilik <em>the blues</em> sejak 2003 tersebut didesak oleh otoritas Inggris yang cenderung memutuskan semua hubungan dengan Rusia.</p><p>Selain itu timnas Polandia, bersikap menolak bertanding dalam play off kualifikasi piala dunia 2022 yang diselenggarakan di Rusia bulan Maret ini. Swedia, Ceko, dilanjutkan oleh timnas Inggris juga menolak melawan timnas Rusia di berbagai ajang. UEFA juga menghentikan kerjasama mereka dengan Gazprom sebagai salah satu sponsor mereka.</p><p>Di sisi yang berseberangan, dukungan terus-menerus mengalir dan berkumandang kepada Ukraina karena dianggap sebagai korban invasi oleh Rusia. Media siaran, panitia pertandingan, pandit, komentator, bahu-membahu memberikan dukungannya kepada para penyintas dalam sepakbola macam Oleksandr Zinchenko yang bermain di klub Manchester City.</p><p>Singkatnya, mayoritas orang-orang di sepak bola hari ini mengerahkan solidaritasnya untuk menyeru dihentikannya agresi militer Rusia di Ukraina.</p><p>Namun, di tengah keriuhan tersebut tiba-tiba ada sekelompok orang yang memainkan jurus <em>whataboutism</em> dalam rangka melakukan serangan balik terhadap situasi diatas. Banyak yang membandingkan hal tersebut dengan sikap mereka yang cenderung acuh terhadap tragedi peperangan di belahan negara yang lain. Perang Israel-Palestina yang paling banyak digunakan dalam jurus <em>whataboutism</em> tersebut.</p><p>Dengan jurusnya, mereka menuding FIFA dan UEFA mempunyai standar ganda. Berbagai media sepakbola pun turut mempertanyakan hal itu. Apakah FIFA dan UEFA memang hipokrit? Atau membandingkan invasi Rusia-Ukraina dengan peperangan di tempat lain merupakan hal yang kurang relevan?</p><p>Jika kita lihat, akibat sikap politik Rusia, begitu banyak konsekuensi yang harus mereka tanggung. Konsekuensi tersebut bahkan harus pula ditanggung oleh mereka yang tak punya kesamaan sikap politik dengan negaranya. Artem Dzyuba misalnya, bersikap anti perang namun tetap mengkritik keputusan yang menimpanya, timnas, dan klub yang ia bela. Baginya keputusan ini tidak adil dan sangat merugikan.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/Cao-UHmv2UP/?utm_source=ig_web_copy_link">https://www.instagram.com/p/Cao-UHmv2UP/?utm_source=ig_web_copy_link</a></p><p>Di sisi lain, semua sanksi yang menimpa Rusia merupakan serangan secara tidak langsung untuk membuat negara bekas Uni Soviet itu segera menghentikan kekacauan yang mereka perbuat. Bagaimanapun, perang selalu menciptakan ketidakstabilan terutama dari segi ekonomi. Dan sepak bola dalam sudut pandang industri haruslah mengambil sikap agar ketidakstabilan itu segera berakhir. Karena semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula potensi kerugian yang akan diterima oleh sepakbola.</p><p>Terlebih, Piala Dunia sudah di depan mata dan persiapan di segala sisi harus segera dimatangkan. Kejadian perang antara Israel-Palestina mungkin tak mempunyai potensi ketidakstabilan dalam sepakbola sehingga FIFA alih-alih bersikap serupa malah memberikan sanksi kepada pihak yang melakukan solidaritas.</p><p>Jadi semuanya masalah untung rugi? Sudah tentu.</p><p>Politis? Memang.</p><p>FIFA dan UEFA hipokrit? Bisa jadi.</p><p>Dalam <em>space </em>yang diadakan panditfootball.com Kamis lalu, 3 Maret 2022, Yusuf Arifin sebagai pembicara menyampaikan bahwa sepakbola memang bebas dari politik. Namun dalam penyelenggaraannya sangatlah politis. Hal ini juga dikuatkan lagi oleh Zen RS bahwa FIFA sejakberdiri sudah punya intensi melakukan civilisasi terhadap kehidupan dunia, dalam hal ini permainan sepakbola.</p><p>Jadi sebagai penikmat sepakbola terlebih yang berdomisili di timur jauh hendaknya kita menyadari kenyataan ini. Tatanan dunia sudah ada yang mengatur yang akhirnya membuat kita mau tak mau, suka tidak suka terbawa dalam konstruk yang dicanangkan oleh FIFA.</p><p>Karena, berteriak mencaci FIFA dan UEFA sebagai sarang mafia di setiap kolom komentar media sosial tapi tetap rela begadang menyaksikan Liga Champions di layanan streaming berbayar tak beda dengan aktivis mahasiswa yang <em>longmarch</em> berdemo anti-kapitalisme dengan mengenakan sepatu <em>AirJordan </em>dan kemeja <em>Uniqlo</em>.</p><p>Tapi jika ingin tetap berteriak menyuarakan ketidakadilan, silahkan saja. Tak ada yang melarang juga. FIFA dan UEFA bagi saya seperti pandit arogan ataupun komedian dark jokes, jika tak suka silahkan block![]</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a731b1c519fd" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/oragol/emang-kenapa-kalau-fifa-dan-uefa-punya-standar-ganda-a731b1c519fd">Emang Kenapa Kalau FIFA dan UEFA Punya Standar Ganda?</a> was originally published in <a href="https://medium.com/oragol">oragol</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[The English Game: Ketika Sepakbola Mulai Jadi Opsi Mencari Nafkah]]></title>
            <link>https://medium.com/oragol/the-english-game-ketika-sepakbola-mulai-jadi-opsi-mencari-nafkah-b22a86b1e04b?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b22a86b1e04b</guid>
            <category><![CDATA[fergus-suter]]></category>
            <category><![CDATA[sepakbola]]></category>
            <category><![CDATA[esai]]></category>
            <category><![CDATA[netflix]]></category>
            <category><![CDATA[the-english-game]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 11 Apr 2021 07:20:50 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-04-11T08:22:14.698Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Tentang pengabdian yang bertransformasi menjadi komoditas pendatang cuan~</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/700/1*cLAycaXAQeH3Sehv3Z-_CA.png" /><figcaption>Pekerja versus bangsawan di salah satu pertandingan sepakbola (sumber: Netflix) | A. Arfrian</figcaption></figure><p>MARET tahun lalu, ketika pandemi baru saja merebak di dunia, berbagai kebijakan mengenai pembatasan mobilitas dan pengumpulan masyarakat mulai diberlakukan. Tak terkecuali dalam gelaran liga-liga sepakbola di Eropa. Kompetisi terpaksa dihentikan sementara, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di benua biru itu. Seluruh penikmat sepakbola pun dipaksa untuk berpuasa sejenak. Hadir di waktu yang tepat, 14 hari setelah kita berpuasa, Netflix memberi kita cara untuk menikmati sepakbola dengan bentuk lain, yakni film serial berjudul “The English Game”.</p><p>Mini serial berjumlah 6 episode tersebut menceritakan tentang awal mula sepakbola profesional berkembang di negeri Elizabeth, Inggris. Tak sekedar itu, “The English Game” justru saya tangkap sebagai fenomena dari bagaimana suatu objek yang awalnya bebas dari kepentingan ekonomi, bertransformasi menjadi suatu objek yang mulai bersentuhan dengan kepentingan ekonomi, dan hari ini telah menjadi suatu ekosistem industri modern yang telah berprinsip untuk terus mengeruk cuan.</p><p>***</p><p>Suatu hari pada pertengahan 2010, saya pernah dimarahi ibu akibat terlalu sering menghabiskan waktu bermain di rental playstasion dan warnet. Ibu saya acapkali mengomel sebab saya terus menghabiskan uang jajan untuk hal yang dia anggap tak berguna.</p><p>“Ngapain sih kamu kerjanya cuma <em>ngegame </em>dan<em> </em>cuma nontonin video Youtube sampai sore di warnet?,” tanya ibu sambil mengancam pengurangan uang jajan saya.</p><p>Saya cuman diam dan sesekali meminta maaf kepada ibu saya. Hanya itu yang bisa saya lakukan agar duit jajan tak terpotong. Namun dalam hati, saya bertanya-tanya soal kenapa sampai sebegitunya ibu saya tidak suka dengan kegiatan yang saya lakukan? Sebagai seorang remaja, tentu wajar dibenak saya hanyalah bermain dan bermain. Yaa, ini sebagai cara untuk melampiaskan kepenatan setelah bosan berkegiatan di sekolah.</p><p>Apalagi situasinya begini; saya hidup di sebuah daerah di mana tanah lapang tempat kami bermain sepakbola semakin sempit akibat pembangunan, beberapa permainan tatap muka yang mulai ditinggalkan — dan tampak membosankan. Di lain pihak, perkembangan teknologi digital masuk dalam kehidupan kami dan tampak lebih mengasyikkan. Sementara kami sendiri perlu medium lain untuk menyaluran energi kami yang terlampau melimpah di fase umur kami saat itu.</p><p>Singkatnya, tanah lapang makin sempit, teknologi digital mulai berkembang. Dan, terjadi transformasi di berbagai aspek kehidupan termasuk wahana bermain remaja yang mulai merambah ke digital. Jangan salahkan kami! Kami hanya tergiring menjadi bagian dari bagaimana dunia ini bekerja. Andai saja argument seperti demikian bisa saya sampaikan untuk menangkis omelan ibu saya dulu, pasti ongkos jajan saya akan tetap dipotong. Huft!</p><p>***</p><p>Dalam serial “The English Game”, ada satu dialog bernuansa idealis-naif yang menurut saya cukup menarik:</p><p>“Seorang yang bermain (sepakbola) untuk uang, tidak akan sebaik seorang yang bermain demi kecintaan pada permainan sepakbola.”</p><p>Namun, dialog ini hadir bukan dari ruang hampa. Selain sebagai hiburan, baik kelas pekerja ataupun bangsawan menganggap sepakbola sebagai ajang pertarungan kelas. Maka, tiap pertandingan diselenggarakan atas dasar kebanggaan kelas antar keduanya.</p><p>Menjadi pemain sepakbola di era itu bak pahlawan atau punggawa yang mempertaruhkan nama baik identitas kelas mereka, buruh vs bangsawan. Mereka bermain dengan loyalitas tanpa pamrih. Adapun mendapat upah darinya adalah suatu yang di luar kewajaran bahkan dianggap kontroversi kala itu.</p><p>Namun, adalah Fergus Suter yang menabrak nilai-nilai prinsipil itu dengan pindah dari klub lamanya di Skotlandia menuju Lancashire, Inggris untuk bergabung dengan Darwen FC. Dia dibayar untuk bermain di sana. Dia bisa dikatakan sebagai pesepakbola profesional pertama.</p><p>Suter lantas mendapat kecaman dari berbagai pihak, kelas bangsawan maupun pekerja, terutama para petinggi FA (PSSI-nya Inggris) yang notabene adalah kelas bangsawan. Suter dituduh menerima suap untuk bermain bersama Darwen. Kecaman pun bertambah ketika dirinya memutuskan pindah ke Blackburn Rovers dengan alasan bayaran yang lebih mahal. Suter yang semula menjadi idola bagi pendukung Darwen akhirnya dianggap sebagai pengkhianat atau ‘Judas’ karena bermain bola hanya untuk uang. Namun dalam dialog yang lain, Suter punya bantahan begini:</p><p>“Aku tidak disuap, aku dibayar untuk menghibur orang banyak yang membayar mahal untuk melihatku.”</p><p>Pernyataan Suter itu kemudian dianggap sebagai titik di mana pandangan orang-orang terhadap sepakbola perlahan bergeser ke arah profesionalitas. Bakat, skill, serta kerja keras seorang pemain sepakbola perlu dihargai serupa upah seorang buruh yang bekerja berjam-jam dalam pabrik. Sepakbola yang semula hanyalah permainan dan sarana hiburan pun kemudian ikut bergeser sebagai sebuah tontonan berbayar seiring dengan semakin bertambahnya orang-orang yang tertarik menonton pertandingan.</p><p>Dari sini kemudian proses komodifikasi berjalan. Suatu barang, gagasan, jasa yang berupa skill menjadi objek dagang. Di dalamnya terjadi transaksi antara si pemilik jasa dan penikmat jasa. Pemilik jasa dalam hal ini adalah pemain sepakbola macam Fergus Suter, sedangkan penikmat jasanya adalah pemilik klub dan seluruh penonton yang menyaksikan kepiawaian Suter dalam lapangan.</p><p>***</p><p>Nyatanya, hari ini orang-orang mulai menyadari bahwa kegiatan masa kecil yang kami lakukan, sedekade yang lalu; bermain playstation, menonton dan mengunggah video ke youtube, telah mengalami komodifikasi dari yang hanya objek hiburan menjadi objek mencari penghidupan. Sekarang kita tahu kan kalo seorang yutuber bisa lho beli Ferrari. Sebuah fenomena yang sama sekali tidak disadari oleh sebagian besar dari kita, sedekade lalu.</p><p>Saya penasaran sih kalo orang-orang sezaman Fergus Suter masih hidup, bagaimana reaksi mereka saat tahu pelepasan klausul <a href="https://medium.com/oragol/tabir-gelap-qatar-2022-9346b5e74f41">Harling Haaland</a> dan/atau upah <a href="https://medium.com/oragol/setelah-laporta-comeback-c56b0ccbce1a">Lionel Messi</a> yang bisa sebegitu tinggi, melebihi upah PNS di Inggris.</p><p>Hari ini kita hidup pada situasi di mana pekerjaan seseorang sudah menjadi begitu beragam. Anak-anak yang hidup di zaman ini pun punya opsi cita-cita yang lebih beragam pula. Sepuluh tahun yang lalu, seorang anak tak mungkin punya cita-cita menjadi <em>youtuber</em> — kalaupun ada, pasti akan ditertawakan. Namun, sekarang berbeda. Si anak yang pingin jadi bak Atta Halilintar akan di dukung oleh orang tua maupun lingkungan sekitarnya.</p><p>Proses ini juga secara luas terjadi di kehidupan kita hari ini. Berlimpahnya tenaga produktif dan minimnya ketersediaan lapangan kerja, tak memungkinkan semua terserap dalam pekerjaan formal atau pekerjaan yang diidamkan oleh mertua boomer. Orang-orang kemudian berpikir keras untuk melakukan komodifikasi objek menjadi sesuatu yang menghasilkan cuan.</p><p>Lantas, menjadi <em>gamers, youtuber, </em><a href="https://podcasts.google.com/feed/aHR0cHM6Ly9hbmNob3IuZm0vcy8zZDVmNjBlNC9wb2RjYXN0L3Jzcw?sa=X&amp;ved=0CAMQ4aUDahcKEwiA7qKv2_XvAhUAAAAAHQAAAAAQAQ&amp;hl=en-ID"><em>podcaster</em></a>, atau hanya sekadar tukang cicip makanan bisa jadi beberapa contohnya. Ya gitu sih![]</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b22a86b1e04b" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/oragol/the-english-game-ketika-sepakbola-mulai-jadi-opsi-mencari-nafkah-b22a86b1e04b">The English Game: Ketika Sepakbola Mulai Jadi Opsi Mencari Nafkah</a> was originally published in <a href="https://medium.com/oragol">oragol</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Film ‘Bebas’ Membuat Saya Sadar; Masa Muda Saya Tidak Bebas Cenderung Membosankan]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/film-bebas-membuat-saya-sadar-masa-muda-saya-tidak-bebas-cenderung-membosankan-42eb35fb9879?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/42eb35fb9879</guid>
            <category><![CDATA[pelajar]]></category>
            <category><![CDATA[review-film-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[bebas-bayar]]></category>
            <category><![CDATA[film]]></category>
            <category><![CDATA[human-rights]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 19 Jun 2020 18:08:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2020-06-20T06:28:32.360Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Jadi, di dunia macam apa lantas kita ini hidup? hah?</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/720/1*GMmbCXewBzj1cCcKMXlqxA.jpeg" /><figcaption>Bocah Gila</figcaption></figure><p>Ah, tak seharusnya saya mengajukan pertanyaan sok filosofis itu. Pertanyaan seperti itulah yang justru membuat banyak orang (termasuk saya) bisa jadi kesulitan menikmati gemerlapnya hidup di masa muda. Jika anda melontarkan pertanyaan semacam itu, jawabannya pasti ngalor-ngidul. Belum tentu bisa dimengerti dalam sekejap. Lebih menyedihkan lagi, jika pertanyaan ini keluar dari mulut bocah muda yang semasa SD-nya menghabiskan waktu di kampung yang pra sejahtera, kering literasi, dan menyantap terlalu banyak budaya pop melayu rendahan. Kemudian di SMP sampai lulus SMA, bocah tersebut terkurung dalam pendidikan karantina yang fokus untuk memahami doktrin. Tak boleh melawan, tak ada celah mempertanyakan, dilarang berekspresi berlebihan.</p><p>Lalu tiba-tiba bocah itu mendadak dungu dengan melepas begitu saja deretan kata menjadi kalimat yang dibunyikan, “Di dunia macam apa kita hidup?” tet tot teeeeeeeeet lengkap sudah hidup bocah tersebut menjadi sangat menjemukan. Bocah itu pasti menjadi bahan tertawaan anak-anak lulusan SMA negeri unggulan.</p><p>Belum lama, saya menonton film berjudul <em>Bebas</em> garapan Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sutradara dan produser. Film yang tayang Oktober tahun lalu ini saya temukan tidak sengaja di salah satu situs streaming film. Alasan terbesar saya akhirnya mengklik film tersebut dan mencoba menontonnya adalah pembuat film tersebut adalah Riri Riza. Saya bukan fans Riri Riza, tapi entah kenapa saya selalu tertarik dengan setiap film yang digarap olehnya.</p><p>Benar saja, film <em>Bebas</em> mengalur dengan nilai-nilai ke-<em>Bebas-</em>an. Sebenarnya cerita dalam film tersebut sangat umum dengan fenomena kita di dunia nyata. Film tersebut berkisah tentang Vina Panduwinata, ibu-ibu dari kalangan menengah keatas, berumur 40 tahunan yang berusaha menemukan teman-teman satu gengnya dulu semasa SMA.</p><p>Kisah dalam film tersebut kemudian diberi bumbu flashback Vina mengingat kenangan bersama teman-teman satu gengnya dulu. Menariknya, latar Vina ketika SMA ada pada tahun 1995, dimana masa itu adalah tahun-tahun terakhir menjelang runtuhnya rezim ototoritarian di Indonesia. Anak-anak muda Jakarta yang hidup di masa itu terlihat sangat memimpikan keBebasan. Budaya gangster dan tawuran antar pelajar, percintaan remaja, request lagu sembari kirim-kirim salam melalui siaran radio, turut menghiasi alur flashback yang dialami Vina dan teman-temannya. Dan lagi, yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menonton film ini sampai selesai adalah, dialog dalam film tersebut yang sangat menggelitik.</p><p>Ada satu tokoh yang menurut saya lucu. Dia adalah kakak Vina yang diceritakan dalam film tersebut sebagai mahasiswa yang <em>ngaktivis</em>. Mempunyai idealisme yang anti-kapitalis, sangat yakin bahwa rezim akan segera runtuh dan Indonesia akan mengalami revolusi. Saya jadi teringat diri saya saat semester 3. Najis sekali! Wkwkwk</p><p>Yang perlu dicatat, walaupun film tersebut bertema persahabatan, film ini tak melepaskan situasi objektif yang ada pada masa 1995. Keadaan sosial-politik tidak dihilangkan begitu saja dalam menggambarkan latar film. Menurut saya penggambaran itu dimunculkan begitu halus melalui dialog-dialog yang diucapkan oleh beberapa tokoh dalam film itu. Saya pun terkejut karena berhasil menangkapnya.</p><p>Selesai nonton film <em>Bebas</em>, saya refleksi.</p><p>Pertama, dari film ini saya jadi membayangkan anak-anak sebaya Vina dan kawan-kawannya di tahun tersebut. Jika mereka yang berasal dari kalangan menengah keatas bisa <em>Bebas</em> bertingkah sebagaimana cerita di film, apa kabar dengan mereka yang berasal dari kalangan pra-sejahtera?</p><p>Ibu saya yang punya pengalaman SMA di masa orde baru mengaku bahwa saat itu dirinya hanya bisa pasrah pada keadaan. Remaja seperti dirinya saat itu harus belajar tidak neko-neko dalam hidup, banyak menabung, dan rajin belajar tentunya. Dirinya yang berasal dari keluarga kurang mampu sudah tentu tak mudah untuk diterima dalam pergaulan teman-temannya yang beken dan hypebeast. Satu-satunya cara untuk bisa bergabung dalam cyrcle mereka adalah menjadi pintar dikelas. Lalu, menjadi ‘guru les’ bagi teman-temannya yang malas belajar apalagi untuk mengerjakan PR. Ibu saya akan senang hati mengerjakan tumpukkan PR mereka.</p><p>Sebagai imbalannya, Ia akan mendapat tambahan uang saku dari mereka. Dan lagi, dirinya mengaku mendapat akses leluasa untuk meminjam buku-buku pelajaran milik teman-temannya. Hal itu cukup menjadi alternatif di saat minat membaca Ibu yang tinggi, tapi tidak diimbangi dengan kemampuan keuangan yang cukup. Sebagai siswa pas-pasan, ibu saya bahkan tak mampu membeli buku-buku modul untuk berbagai pelajaran sekolah. “Bisa bayar spp sekolah saja sudah syukur,” Kenangnya. Berkebalikan dengan teman-temannya yang tak terlalu punya minat untuk belajar pelajaran sekolah namun terlanjur dibelikan banyak buku pelajaran oleh orang tuanya. Saya tak paham, apakah keadaan timpang semacam itu masih terjadi sampai hari ini? Silahkan lihat.</p><p>Kedua, film <em>Bebas</em> sama sekali tidak relate dengan kehidupan ABG saya. Saya iri dengan Vina dan geng <em>Bebas</em>-nya yang punya kenangan yang begitu manis sebagaimana terpapar dalam film. Saya jadi semakin berimajinasi masa remaja yang begitu <em>Bebas</em> dalam berekspresi. Saya merasa mereka yang punya masa remaja se-dinamis itu lebih pantas melontarkan pertanyaan yang saya tuliskan di atas.</p><p>Entahlah, semacam Sinetron Reply 1988 misalnya, yang begitu memperlihatkan masa remaja Sung Deok-sun dkk yang sangat mengasyikkan. Saya membandingkan dengan masa remaja saya yang membosankan untuk dikenang. Masa itu, saya hanya menerima asupan doktrin teologis yang sangat kuat, ditambah karakter saya yang mudah terbuai oleh retorika dengan kalimat-kalimat indah, saya menjelma pribadi yang sama sekali tak asik saat itu.</p><p>Sebenarnya tak sepenuhnya menjemukan, namun saya hanya merasa diri saya tertinggal pada masa itu. Walalupun tak bisa dipungkiri saya pun punya teman-teman yang cukup seru di masa tersebut, cerita dalam film itu bisa saya jadikan perbandingan, buka cocok-cocokkan.</p><p>Ah tapi tak apa. Setidaknya di masa remaja saya dekat dengan Tuhan dengan penuh keharuan. Rajin beribadah dan fanatik! Yeah mantap, bukan? Emangnya elo, jauh dari Tuhan, nyet!</p><p>Ger.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=42eb35fb9879" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kemalasan yang Berengsek]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/kemalasan-yang-berengsek-1a2fdeadb6ba?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1a2fdeadb6ba</guid>
            <category><![CDATA[pandemi]]></category>
            <category><![CDATA[anjing]]></category>
            <category><![CDATA[alma]]></category>
            <category><![CDATA[lazy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 15 Jun 2020 16:51:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2020-06-20T06:44:30.455Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Bisa dibilang, ini menyebalkan. Kembali menulis setelah hampir setahun tak pernah meracau dalam deretan huruf, kata dan kalimat.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*51VFRqQ3_d6CPEJp" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@kennyzhang29?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Zhang Kenny</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Terlalu banyak kemelut yang berbau privasi dalam kepala ini yang mengahalangi keresahan saya soal fenomena sehari-hari yang sejatinya menggelitik untuk dikomentari. Paling <em>banter</em>, hanya <em>caption</em> singkat dalam sosial media, khas netizen julid yang sok tahu banyak hal dan sok peduli tanpa punya (setidaknya) logika berfikir yang tergagas dalam 5–7 paragraf.</p><p>Bisa dibilang, hari ini pengetahuan terhadap tren populer di linimasa meningkat pesat. Intensitas membuka sosial media jadi penyebab utamanya. Sialnya, pengetahuan akan tren populer yang begitu aktual harus dibayar dengan kualitas membaca yang buruk. Terporsirnya waktu didepan layar gawai membuat seakan tak ada celah menyisihkan waktu untuk membaca buku. Gawai pintar yang menyediakan banyak hal untuk memuaskan indra pendengaran dan penglihatan sungguh membuat dua indra tersebut memonopoli hak bagian tubuh yang lain. Mungkin saat ini juga telingan dan mata akan melakukan pembelaan,</p><blockquote>“Hey, bodoh! bukankah yang kami lihat dan dengar segera kami transmisikan ke otak dan kelaminmu? Jangan berlaku tidak adil dengan hanya menjadikan kami kambinghitam, tolol!”</blockquote><p>Ya, oke. Saya bisa menerima itu sebagai pembelaan kalian wahai Kuping, dan kau Mata. Kalian punya kontribusi besar atas semua yang sudah terjadi pada diri ini, yaaa setidaknya 2 tahun terakhir. Tak usah terlalu jauh…. J</p><p>Kalau begitu, sebaiknya saya mengaku saja.</p><p>Yak, betul. Saya malas! Di usia yang sudah melewati 2 dekade ini, kemalasan saya meningkat pesat untuk melakukan banyak hal yang produktif. Setidaknya untuk kebaikan diri sendiri, bukan orang lain, itupun malasnya minta ampun. Situasi itu semakin menjadi-jadi setelah saya turun dari kepengurusan organisasi, umur akademik yang semakin lanjut, dan kisah asmara yang kandas. Entahlah, faktanya tak ada kegiatan begitu berarti dalam setahun belakangan. Hanya KKN dua bulan, menjadi kordinator lapangan dalam gerakan aksi demonstrasi, datang sharing materi di komunitas standup comedy. Hanya itu.</p><p>Sisanya, yang saya kerjakan hanyalah delusi!</p><p>Kenapa malas bisa ada dan tercipta? Datang dan hinggap dalam tubuh manusia. Bahkan tak jarang Ia menjadi benalu. Kalau Ia berupa makhluk atau setidaknya sebuah zat, aku penasaran seperti apa bentuknya?</p><p>Apakah kemalasan dibudidayakan? Jika iya, siapa orang brengsek yang melakukannya? Ia ditanam, dan saat panen dibiarkan begitu saja liar. Terbang terbawa arah hembusan angin dan hinggap sebagai hama dalam kehidupan setiap manusia.</p><p>Inilah pandemi yang pertama kali mendera kehidupan umat manusia sehingga sejak virus pandemi ini lahir, manusia harus dipaksa untuk melakukan berbagai macam protokol agar terhindar dari virus kemalasan ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan dengan pesat. Setidaknya kemajuan sains dan teknologi berhasil meredam kemalasan dalam konteksnya masing-masing. Pada akhirnya, semuanya kemajuan peradaban ini hanya berhasil meredam tanpa bisa menghilangkan virus ini.</p><p>Heh! Jangan senang dulu kau, corona berengsek. Hormatlah sedikit pada virus kawakan ini!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1a2fdeadb6ba" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Catatan Singkat untuk Rhetor]]></title>
            <link>https://medium.com/@elsofaris/catatan-singkat-untuk-rhetor-6b36b45cb530?source=rss-48c994b98a4c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6b36b45cb530</guid>
            <category><![CDATA[students]]></category>
            <category><![CDATA[pers]]></category>
            <category><![CDATA[pers-mahasiswa]]></category>
            <category><![CDATA[personal-development]]></category>
            <category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Elsofaris]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 04 Mar 2020 20:25:36 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2020-06-20T06:27:01.450Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Singkatnya, di Rhetor saya hanya ingin bersenang-senang.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*A5LtpOmP3IX_GUFMdns2VA.jpeg" /></figure><p>Ramadhan, 5 tahun yang lalu. Selepas ibadah sholat tarawih saya <em>nongkrong</em> di sebuah warkop kecil di jalan Malabar, tepat belakang sebuah rumah sakit besar di kota Bogor. Saya <em>nongkrong</em> bersama kawan satu angkatan saya semasa SMA (juga di pesantren), Reza. Malam itu, tidak biasanya saya memilih tempat tongkrongan yang cukup jauh. 3 jam dari rumah, 2 jam dari pesantren tempat saya saat itu mengabdi (menjadi tenaga pengajar pesantren sebagai syarat pengambilan ijazah). Merasa terlalu penat oleh kehidupan monoton di komplek pesantren, dan pulang ke rumah bukanlah pilihan tepat untuk diambil saat liburan baru dimulai (kebetulan pesantren dan semua kegiatannya baru saja libur menyambut hari raya Idul Fitri), tak salah jika akhirnya saya berpikir untuk memilih berkunjung ke tempat seorang kawan terlebih dahulu.</p><p>Di sebuah warung kopi yang lebih mirip warmindo tersebut, saya dan kawan saya, Reza, juga menghubungi kawan seangkatan kami yang lain untuk bergabung, namanya Arif. Kawan saya yang satu ini sudah lebih dulu kuliah selepas kami lulus dari SMA. Arif berkuliah di salah satu perguruan tinggi islam negeri di kota Bandung. Bagi saya, pertemuan saya dan Arif jadi semacam reuni kecil setelah hampir satu tahun tak bertemu pasca kelulusan. Walau kami tak bisa dibilang sangat akrab, antara kami berdua saling menaruh respect satu sama lain.</p><p>Sekitar pukul 8, Arif baru sampai. Ia datang bersama kawan satu jurusan di perkuliahannya. Kami menyambutnya dengan kelakar dan basa-basi khas seorang kawan yang sudah lama tak berjumpa. Menjemukkan tapi begitulah SOP yang sudah membudaya di kehidupan kita. Banyak yang berubah dari penampilan Arif. Salah satu yang paling mencolok adalah rambutnya yang terurai sampai melewati bahu. Padahal, semasa di pesantren, panjang rambutnya tak pernah lebih dari 5 cm. Maklum, dia termasuk santri yang berlangganan mendapat hukuman gundul lantaran kerap melanggar aturan pesantren.</p><p>Kami bercengkerama sambil sesekali menyesap kopi dan menghisap batangan rokok filter. Sepanjang percakapan, saya lebih tertarik mendengarkan cerita-cerita Arif yang sudah lebih dulu menjadi mahasiswa. Walaupun sesekali Arif berganti menanyakan kepada saya dan Reza bagaimana keadaan pesantren dan pengalaman kami menjadi pengabdian, pertanyaan saya akan pengalamannya diawal menjadi mahasiswa, mengenal dunia luar, lebih dominan saya ajukan. Dari paparan ceritanya, saya mengetahui Arif mengambil jurusan Jurnalistik. Selain itu, Ia bergabung di salah satu pers mahasiswa ekstra kampus yang cukup intens menyoroti isu-isu lokal di kota Bandung maupun isu nasional.</p><p>Arif memberikan kepada saya salah satu produk majalah edisi terbaru pers mahasiswa tempatnya bergabung. Dia menjadi reporter dalam majalah tersebut. Menulis salah satu berita. Saat itu saya begitu kagum melihatnya. Saya baca tulisannya dengan seksama, seakan tak percaya itu adalah tulisan Arif yang saat ini berhadapan satu meja dengan saya. Saya perhatikan tiap diksi yang Ia tulis. Saya tak percaya. Ia menulis suatu informasi kepada publik, dan diakhir tulisan, terpampang nama disertai bio singkat si penulis. Keren! Benak saya kala itu bergumam keras sekali tanpa didengar oleh siapapun.</p><p>Diam-diam, saya kagum sekaligus iri dengan pencapaian kawan saya satu ini. Diam-diam pula, saya terinspirasi untuk menjadi sepertinya. Bukan persis seperti yang apa yang Ia lakukan. Tapi lebih menjadi seorang yang mempunyai karya yang banyak dibaca dan diketahui banyak orang. Menjadi seorang pemain, bukan penonton. Ya! Saya harus menjadi orang yang seperti itu. Rasanya, sudah cukup menjadi manusia eksklusif dalam kungkungan tembok pesantren. Dan lagi, akan monoton jika semua yang telah saya pelajari semasa di pesantren tidak berhasil ditumbuh-kembangkan menjadi hal yang riil dalam kehidupan sehari-hari.</p><p>***</p><p>Perjalanan saya di Rhetor dimulai sejak pertengahan 2015. Waktu itu, saya baru saja menjadi mahasiswa dan mulai berpikir untuk memulai hal yang serba baru. Lingkungan tempat tinggal baru, orang-orang baru, dan tentu saja jati diri yang baru. Ya, saya ingin memulai semuanya dengan identitas yang baru. Identitas yang hanya dikenalkan Jogja. Maksud saya, bukan mengarang atau menjadi pribadi yang fiksi. Saya hanya ingin memulai semuanya sebagai individu yang berbeda. Sejak dulu, saya bukanlah individu yang mudah bersosialisasi, mudah berteman, atau mempunyai teman yang banyak. Maka itu, saya berkeinginan untuk merubah semuanya. “Saya harus punya teman yang banyak!” ujar saya dalam hati setiap kali melangsungkan aktivitas di hari-hari pertama saya sebagai mahasiswa.</p><p>Saya mendaftar Rhetor setelah diajak kawan sekelas saya di perkuliahan. Setelah keluar kelas perkuliahan kedua, saya diajaknya mengunjungi <em>stand</em> <em>open recruitment </em>LPM Rhetor diujung fakultas. Sesampainya disana, saya melihat wajah-wajah tak asing. Yak, mereka adalah senior-senior yang tempo hari saat ospek menjadi fasilitator. Tanpa banyak berpikir, dan berkat bujukan kawan saya, diisinya formulir pendaftaran lengkap dengan menyandingkan nomor whatsapp dalam buku pendaftaran. Saya menolak untuk langsung membayar uang pendaftaran. Alasan saya, saya tak lagi punya uang selain uang sepuluh ribu dikantong saya saat itu.</p><p>Ketika menulis tulisan ini, saya kembali mengingat tentang motivasi saya bergabung bersama Rhetor. Saat ditanya satu-persatu, sebagian besar calon anggota baru Rhetor mempunyai motivasi yang hampir sama. Hampir semuanya mempunyai motivasi ingin menjadi penulis, jurnalis, atau mungkin sekedar ingin belajar diskusi. Saya tak bisa memastikan satu-persatu, yang saya tahu, setidaknya mereka mempunyai kesamaan hobi yang sama dengan orientasi Rhetor sebagai pers mahasiswa. Senang membaca dan menulis. Berbeda dengan motivasi yang saya miliki waktu itu. Motivasi saya cukup sederhana, ingin mempunyai banyak teman. Kalaupun bisa menulis, berwawasan luas, atau pandai berorganisasi, itu hanyalah bonus saja.</p><p>Perjalanan saya di Rhetor diawali dengan mengikuti pelatihan khas anak pers mahasiswa. Tak ada yang spesial saat pelatihan. Penyampaian materi seputar jurnalistik untuk pemula, <em>ice breaking</em>, sampai bangun tidur ketika dini hari untuk melakukan semacam renungan bersama, bagi saya bukanlah hal yang mengejutkan. Biasa. Justru, hal yang tidak biasa adalah pengalaman selanjutnya ketika semakin aktif sebagai anggota Rhetor. Ketika saya semakin tenggelam dalam pikiran dan tindakan kumpulan mahasiswa <em>nyentrik</em> yang menjadi buah bibir tak sedap di lingkungan kampus.</p><p>Pasca mengikuti pelatihan, saya masuk program magang di Rhetor. Sebuah program yang dikonsep sebagai masa pengayaan yang penataran seorang anggota baru untuk lebih dalam mempelajari beberapa bidang sebelum benar-benar mengerjakan tugasnya sebagai awak pers mahasiswa. Disana, saya cukup aktif dengan kegiatan yang dijadwal 2 kali pertemuan selama seminggu. Hari Senin kami dikumpulkan untuk belajar media dan jurnalisme, setelah itu kami akan dikumpulkan lagi pada hari Jum’at untuk belajar berbagai wacana sosial. Tanpa banyak gugatan, sekonyongnya saya mengikuti semua rangkaian program yang dicanangkan oleh para pengurus. Penyebabnya, bukan karena saya hanya ikut-ikutan khas mahasiswa baru yang lugu dan mudah dipengaruhi, saya punya alasan untuk itu.</p><p>Begini, soal misi saya diawal ketika menjadi mahasiswa. Saya yang tak pandai bergaul, mencoba ingin merubah diri menjadi orang yang-seakan-akan-mudah bergaul. Dengan semua orang! Saya mencoba membuat persona diri saya sendiri untuk <em>vocal</em> di setiap obrolan baik dalam forum, <em>tongkrongan</em> di warung kopi, atau bahkan grup chatting di whatsapp. Dari awal perkenalan antara anggota baru dan pengurus, serta rangkaian kegiatan selama pelatihan, saya selalu berusaha menjadi orang yang banyak bicara. Entah benar atau salah, saya tidak peduli. Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana bisa jadi pusat perhatian, minimal bagi sesama anggota baru, <em>syukur-syukur</em> oleh para pengurus. Alasannya? Saya pikir, percuma ketika bergabung dengan lingkaran pertemanan yang baru dan asing, dan kita hanya menjadi partisipan di dalamnya. Lalu kenapa Rhetor yang saya pilih? Padahal begitu banyak organisasi, UKM, komunitas yang terdapat di kampus. Saya tak pernah tahu pasti mengapa saya memilih Rhetor. Yang saya tahu, 2 organisasi yang saya masukki selain Rhetor, tidak terlalu mendukung keinginan saya untuk jadi dominan.</p><p>Apakah Rhetor mendukung saya? Jelas! Rhetor menggunakan pendekatan diksusi multi-arah dalam konsep pendidikan anggotanya. Format diksusi semi-formal yang sangat egaliter. Disana, kita bisa bicara sesuka kita, seadanya yang ada dalam pikiran kita. Hal yang biasa dilakukan oleh sekumpulan geng, ataupun anak <em>tongkrongan</em> yang sedang ngobrol <em>ngalor-ngidul</em>. Ada yang melempar permasalahan, lalu ada yang menanggapi seadanya. Tak perlu takut salah, bukan?</p><p>Singkatnya, saya <em>setting</em> persona saya sebagai si-banyak bicara selama saya menjadi anggota, partner pengurus, apalagi menjadi pimpinan umum selama di Rhetor. Untuk melekatkan persona, saya harus sesering mungkin datang ke Rhetor. Di sekre maupun di tongkrongan warung kopi. Saking menjiwainya, saya sampai tak sadar sedang <em>menyetting</em> itu semua. Saya menjadi hanyut dalam “agenda-agenda besar” Rhetor. Mulai muncul berbagai keresahan-keresahan dalam benak saya. Soal media, soal jurnalisme, tentang kenyataan dunia ini, tentang bagaimana dunia ini bekerja! <em>Ya Rabbi.</em></p><p>Saya merasakan hentakan-hentakan yang sama sekali saya tak menduga itu akan terjadi pada saat bergabung di pers mahasiswa. Pikir saya waktu itu, dengan batalnya saya bergabung di organisasi ekstra terbesar di kampus, akan menjauhkan saya dari segala macam pikiran-pikiran <em>njlimet </em>yang sama sekali sedari awal saya kurang tertarik.</p><p>Bak orang yang <em>kadung </em>tercebur kedalam kolam, mau-tak-mau harus berenang jua ke tepian.</p><p>4 tahun saya menjalani proses sebagai anggota. Bagi saya, Rhetor bukan sekadar tempat belajar soft skill di bidang kepenulisan atau tempat untuk mengasah kemampuan berdebat. Disana, lewat idealisme yang dikembangkan, para anggotanya memiliki kebebasan untuk berekspresi. Kebebasan untuk mengenal dirinya lebih dalam. Tentang <em>passion</em> yang dimiliki, tentang mengenal karakter diri sebagai individu dalam organisasi, serta bagaimana mendamaikan keduanya. Jika FC Barcelona saja mempunyai slogan “bukan sekadar klub (bola),” maka Rhetor pun berhak mempunyai julukan, “bukan sekadar pers mahasiswa.” Setidaknya itu yang saya rasakan selama berproses di Rhetor.</p><p>Saya selalu yakin, dalam kehidupan setiap manusia, ada dua fase kelahiran. Pertama, Kelahirannya sebagai makhluk ciptaan tuhan dimuka bumi, kedua, kelahirannya sebagai manusia utuh sebagai pikiran yang bertindak (Saya meminjam tiga kata terakhir dari kalimat sebelumnya dari manifesto politik salah satu organisasi pergerakkan yang sedang terpuruk satu dekade ini). Bagi saya, Rhetor adalah bidan yang tepat untuk melangsungkan kelahiran fase kedua tersebut.</p><p>Dan lagi-terinspirasi dari gagasan Hegel, dunia ini terus berjalan ke arah mapan. Hegel menyebutnya sebagai roh. Perjalanannya selalu diiringi dengan tanda-tanda yang-terkadang jika kita tak seksama melihatnya, kita akan terpelanting jauh dari gerbong dunia. Butuh mental, dan kematangan pola pikir sebagai tiket dari perjalanan panjang ini. Berproses di Rhetor bagi saya adalah ongkos untuk bisa mendapatkan tiket tersebut.</p><p>Terakhir, saya tak menyangka akan sebegitunya menjiwai persona saya sebagai individu yang banyak bicara. Orang-orang di Rhetor bahkan tak ada satupun menyadarinya. Tak ada yang mencoba menggali lebih dalam mengenai saya kenapa begitu arogan, sombong, frontal, dan tolol ini. Lebih tolol lagi, saya tak segera merubahnya. <em>Kepalang tanggung</em>, pikir saya. Persona ini sudah melekat pada diri saya selama bertahun-tahun di Rhetor. Bukannya mendapatkan <em>respect, </em>saya justru menjelma menjadi pribadi yang menyebalkan bagi sebagian besar anggota Rhetor. Belakangan, saya mengetahui tak sedikit bahkan yang tak suka dengan pribadi saya. Dari sini saya belajar, tak selamanya dominan itu pemenang. Tak selamanya menjadi dominan lantas mengecilkan mereka yang minor. Ketika anda berusaha dominan, anda tidak sadar sedang mengecilkan peran orang-orang sekitar anda. Menjadi dominan akhirnya justru jadi hal yang memuakkan. Saya jadi belajar bahwa saling menghargai dan menghormati adalah hal yang penting dalam kehidupan. Karena sadar ataupun tidak, kehidupan ini berjalan maju berkat penghargaan dan penghormatan akan setiap individu manapun dimuka bumi ini.</p><p>Selesai: Posko KKN Gunungkidul, 16 Agustus 2019, 03.00 WIB</p><p>Diedit kembali: Gowok, 16 Februari 2020, 5.00 WIB</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6b36b45cb530" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>