<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by isenahst on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by isenahst on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@isenashtt?source=rss-b98f4df0bdb3------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*h5JsAJsokEvU-fOwIzN2Rg@2x.jpeg</url>
            <title>Stories by isenahst on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@isenashtt?source=rss-b98f4df0bdb3------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 05 Jul 2026 18:56:50 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@isenashtt/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Alkateri “Lebih Dari” Redupkan Temaram]]></title>
            <link>https://medium.com/@isenashtt/alkateri-lebih-dari-redupkan-temaram-3df49f8f56e6?source=rss-b98f4df0bdb3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3df49f8f56e6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[isenahst]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 26 May 2023 17:24:43 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-01-22T15:58:24.171Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/365/1*Qe9-EFKCP0cg9CTeurYkdA@2x.jpeg" /></figure><p>Mencoba mendengar mundur rilisan “Let me Me Begin” milik group band The Milo. sambil mendengarkan saja aku sudah bisa menerka dan merasakan bagaimana keadaan Bandung yang dingin, biru, dan tenang pada saat itu.</p><p>Hampir belasan tahun sudah lagu-lagu macam “Romantic Purple”, “Lazy “dan “Sianida” lalu – lalang di telinga ini, bisa dibilang untuk-ku tidak ada yang bisa menggantikan itu semua. Sekalipun beberapa nama baru muncul dan tenggelam.</p><p>Aku sangat yakin, mengharapkan munculnya nama baru dengan <em>vibes</em> seperti yang dibawakan The Milo pada setiap repertoar-repretoarnya adalah sebuah hal utopis. Terlebih Bandung seperti banting arah meninggalkan cerita tentang musik dengan karakteristik pop manis dan tenang, semua seakan perlahan habis digerogoti waktu.</p><p>Alkateri adalah sebuah jalan di sudut kota Bandung. Ketika kalian mendengar nama jalan itu, yang ada di pikiran kalian pasti adalah deretan kuliner legendaris seperti Kedai Kopi Purnama dan toko-toko tekstil yang sesak oleh pejalan kaki. Tetapi bagaimana jika itu dijadikan sebuah nama group band yang membawakan musik indie pop?</p><p>Tepatnya Akhir tahun lalu adalah sebuah titik perkenalan saya dengan sebuah grup asal Bandung, bernama Alkateri. Mendengar pemilihan namanya saja sudah cukup menarik, alih-alih menyusun kata berbahasa asing atau istilah-istilah dari film-film obscure, mereka memilih dengan tegas nama jalan dari sudut kota Bandung.</p><p>“Egosentris” dirilis sebagai perkenalan mereka, di tengah hiruk pikuk musik dengan distorsi bising atau apapun itu yang datang seperti tsunami di dataran tinggi kota Bandung, group ini datang sebagai gelombang kecil yang melawan arah.</p><p>Ketika mendengar “Egosentris”, aku cukup optimis dengan grup ini, sebuah repertoar yang tenang di balut lead melodius dengan modulasi delay yang repetitif. Walaupun ditulis dengan berbahasa indonesia, mereka berhasil membuat itu. terdengar samar dan memiliki tujuan. Liriknya menggambarkan kehidupan urban yang kompleks, mengingatkan bahwa hidup tidak sesantai lirik-lirik yang ditulis oleh Stephen Malkmus.</p><p>Di awal 2023 ini mereka kembali bersama “Lebih Dari” singel ini adalah nomor kedua yang mereka rilis. Sebelum mendengarkan, <em>cover</em> album yang mereka pilih malah mengingatkan saya kepada band-band <em>midwest emo</em> yang selalu menggunakan sisi fotografi dengan objek bangunan atau alam sebagai point of view.</p><p>Alkateri sekali lagi memberikan bentuk yang sudah lama hilang “Lebih Dari” adalah lagu pop yang lesu, manis, pesimis hingga melankolis dalam penulisan liriknya. Mereka bukan hanya kuat dari musikalitas tetapi juga penulisan lirik yang begitu jujur dan tidak seperti dipaksakan.</p><p><em>“Bayang terang bulan, bantu. redupkan temaram’’</em></p><p>Sial mereka bukan sekedar menjanjikan, bagi saya mereka seperti menghancurkan pikiran utopis-ku tentang Bandung dan indiepop-nya yang hampir hilang. Ini adalah warna baru dan akan terus memperpanjang catatan kota ini, yang tidak bisa dipisahkan dengan musik indie pop itu sendiri. Jika mereka adalah perpanjangan tongkat estafetnya, aku yakin mereka akan “lebih dari”</p><p>-Isenasht</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3df49f8f56e6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Membunuh Sisa Tahun yang Asu Bersama “Miasma Tahun Asu”]]></title>
            <link>https://medium.com/@isenashtt/membunuh-sisa-tahun-yang-asu-bersama-miasma-tahun-asu-d8d1dcf52e4d?source=rss-b98f4df0bdb3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d8d1dcf52e4d</guid>
            <dc:creator><![CDATA[isenahst]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 01 Dec 2022 17:58:25 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-12-01T17:58:25.479Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*NUv7iN45us02QByM1qogLQ.jpeg" /></figure><p>“Mengingat apa yang harus diingat, kerjakan apa yang harus dikerjakan.” Sepenggal percakapan bersama BAPAK. di ujung kamar sebelum membunuh hari dan terlelap untuk menyambut obituari yang muncul dengan harapan basi pada esok hari. Ingatan itu mulai mendalam, hidup makin menakutkan, membayangkan yang tak harus dibayangkan malah menjadi pilihan. Saya menoleh tembok di sisi kanan sambil berpikir apakah boleh ketika saya mati dan orang-orang di sekitar memasukkan jasad saya ke dalam liang lahat sambil diiringi album <em>Shed</em> milik Title Fight?</p><p>Sial, esokya malah makin menjadi-jadi. Saya cukup punya dendam pada situasi ini, milenial yang egois. Seharusnya saya cukup mengikuti ramuan dalgona atau ikut berkerumun dalam kolom komentar JRX, tetapi ini benar-benar melumpuhkan saya. Mulai mencari kegiatan selagi di luar urusan pekerjaan dan tetek bengek perkuliahan.</p><p>Akhirnya, saya menyutujui bahwa malam ini akan diadakan <em>gig</em> dari BAPAK. menyambut kelahiran album terbarunya <em>Miasma Tahun Asu</em>. Tentu ini tanpa persetujuan siapapun, tidak ada urusan dengan keamanan setempat atau aparat yang menyuruh bubar acara pada pukul 00.00 WIB karena tidak adanya uang pelicin, sekalipun Kareem dan teman-temanya, karena ini diadakan di kamar saya dan hanya saya yang bisa menyaksikannya. <em>There’s a party in my head</em> <em>and no one is invited.</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/700/0*Z2pq3iOVv3NqRwFM" /></figure><p>BAPAK. — <em>Miasma Tahun Asu</em></p><p>Saya yang berada di pojokan kamar, mulai memberikan tempat secara asal kepada mereka. Set panggungnya di pinggir meja kusam dengan setumpuk plat piringan hitam dan kaset-kaset koleksi pribadi. Di sisi kanan ada sedikit ruang untuk empat orang dilatari oleh poster salah satu produk budaya pop; Pulp Fiction.</p><p>Kareem meminta untuk atur <em>lighting</em> menjadi bewarna hitam putih. Saya hanya terdiam dengan pandangan kosong sembari melihat mereka sibuk dengan urusan <em>equipment set</em>-nya masing-masing, lalu mereka mulai mengamini <em>set list</em> terbarunya dari <em>Miasma Tahun Asu.</em></p><p>Dalam ruangan persegi empat ini mereka mulai memperdengarkan “<strong>Black Heron Intro”</strong><em>.</em> Dengan mata lesu, mencoba menebak apa saya sedang mendengarkan suara petikan gitar dari Planetarium-nya Jirapah? Itu yang muncul saat telinga menangkap beberapa <em>part</em> gitar dari trek ini, sementara di akhir lagu <em>mood</em> berganti dengan <em>sound</em> ala <em>doom</em> yang tiba-tiba ditarik cepat ke atas. Saya mengambil sisa rokok di saku kanan celana dan menghisap habis dengan penuh cemas sambil menyeringai karena mulai memprediksi akan diberikan pertunjukan energik untuk delapan lagu ke depan.</p><p>Terdengar suara samar-samar perbincangan mereka sebelum memulai trek kedua. Kareem memperkenalkan “<strong>Jon Devoight</strong>” yang penuh warna <em>progressive rock</em> dari awal hingga akhir. Saya berteriak kepada mereka,</p><p>“Jika kalian ingin membakar <em>amplifier </em>dan drum pada akhir lagu ini, silahkan saja!”</p><p>Lalu “<strong>Pity Me</strong>” dimulai, saya melirik ke belakang pintu karena ada yang menyeret paksa untuk membukanya, salah satu teman datang dan meminta maaf atas keterlambatanya. Saya kembali menatap ke arah set panggung tanpa sedikitpun menggubrisnya. Kini ada dua orang dalam ruangan ini. Tujuh menit menemui akhir perjalananya, sejak awal saya hanya mendengar efek dari <em>lead</em> yang dibalut <em>ambience</em> gelap tanpa hentakan drum, mempersilahkan seisi ruangan terdiam hingga jatuh ke dalam palung lamunan.</p><p>Helaan nafas terdengar, disambut teriakan tanpa arah,</p><blockquote>“Aku muda! Aku tak berguna!”</blockquote><p>Suara bas begitu muram disambut instrumen lainya untuk sama-sama mengutuk diri sendiri. Saya melirik ke arah mereka ternyata pada trek ini, muncul <em>frontman</em> dari Rekah, yaitu Tomo Hartono, ikut bergabung dalam upacara pelapalan mantra kutukan. Dia beteriak hingga akhir, mantra terus mengalir dari congornya,</p><blockquote>“Inilah dogmaku!”</blockquote><p>Teman berbicara dengan pelan ini adalah “<strong>Dogma Milenial Provinsi Yggdrasil</strong>”.</p><p>Trek selanjutnya adalah “<strong>Hijrah (A Song for Grandmother as She Travels Beyond)</strong>”. Permainan instrumental tanpa drum kembali mereka perlihatkan hingga ujung trek ini. Saya masih sibuk berdebat dengan teman apakah “Yggdrasil” yang disematkan pada trek sebelumnya diambil dari salah satu anime bertajuk “Overload”? Entahlah.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/720/0*-QLM3ZvscRBXjsRI" /></figure><p>BAPAK. (kanan ke kiri): Kevin, Kareem, Bagas, dan Alfath.</p><p>“<strong>Orpheus LIVE From The Underworld</strong>” mengubah seisi ruangan menjadi tersadar dari kutukan amarah trek sebelumnya. Mereka tiba-tiba membawakan musik yang terdengar sangat kontras. Sekarang instrumen yang sedikit <em>jazzy </em>diperdengarkan dengan vokal begitu ngepop tetapi pada bagian akhir plot kembali dihancurkan dengan pergantiaan <em>mood</em> menjadi gitar dan drum yang ugal-ugalan. Saya kembali menyeringai sembari bergumam, mereka benar-benar liar untuk mengolah semua ini, mengumpulkan berbagai genre yang mereka sukai dan membuatnya menjadi kesatuan bernama BAPAK. yang terkesan aneh dan misterius.</p><p>Seorang perempuan dan laki-laki tiba-tiba naik ke atas set panggung dan memperkenalkan diri sebagai tamu selanjutnya setelah Tomo, mereka adalah Regina Gabriela dan Raka Soetrisno yang akan mengisi vokal dan trompet pada “<strong>An Angel at My Table I</strong>”. Ini adalah perjalanan yang begitu lembut sekaligus muram hingga akhir lagu. Sekarang saya seperti mendengarkan Learning Against The Wall milik Kings of Convenience tetapi dibumbui vokal dari seorang perempuan yang terdengar sangat melankolis.</p><p>Mereka terlihat dingin tanpa banyak basa-basi dan langsung berpindah untuk “<strong>An Angel at My Table III</strong>”<em>.</em> Saya kembali disuguhkan warna baru pada album ini<em>,</em> saat mendegarkannya saya sesaat melintas ingatan tentang trek “Midnight 01 (Deep Sea Driver)” kepunyaan King Krule, menyeret dengan lembut setiap pendengar lewat instrumennya, perbedaanya pada akhir trek ini kita dipaksa untuk sekali lagi memasuki lubang gelap penuh kebisingan, diikuti dengan raungan distorsi di dalamnya.</p><p>Pada awalnya hanya ketukan drum yang konstan lalu semua instrumen bercampur. Keadaan di ruangan semakin tidak waras. Walau saya sudah sedikit mengira plotnya, tetapi ini adalah pemikiran yang cukup gila, seperti melihat Archy Marshall dan Thurston Moore pada satu set panggung.</p><p>Akhirnya mereka meninggalkan set panggung bersama “<strong>White Heron Outro</strong>” dengan suara perbincangan yang saya kira adalah Kareem dan seorang wanita yang adalah ibunya. Sedikit pertanyaan dilemparkan oleh Kareem perihal pandemi dari kacamata sang ibu yang perlahan terseret oleh <em>noise </em>secara sengaja.</p><p>Pertunjukan berakhir, Kareem, Bagas, Alfath, Kevin dan yang lainnya meninggalkan ruangan ini. Saya masih terpenjara lamunan sendiri sembari berpikir bahwasanya ini merupakan hal gila yang muncul di tengah kacaunya situasi. Eksistensi BAPAK. dengan <em>experimental rock</em>, <em>jazz</em>, <em>punk</em>, <em>hardcore</em> dan <em>progressive rock</em> yang terdengar bias bergantiaan dalam trek-treknya, terlihat jelas otak dari semua ini adalah Kareem, karena tiap tahunnya selalu saja ada eksperimen sinting melalui musiknya.</p><p>Seketika ruangan ini terasa sepi, menyisakan saya dan teman yang ternyata itu adalah diri saya sendiri. BAPAK. yang hadir tadi mungkin cuma hasil kerja imajinasi malam ini, tetapi semuanya belum usai, besok saya masih harus tetap sibuk dengan lamunan-lamunan lainya, terus berusaha memunguti sisa-sisa kewarasan di ampas tahun ini. ASU!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d8d1dcf52e4d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tuhan Bersemayam di Permukaan Danau Utica, Indiana]]></title>
            <link>https://medium.com/@isenashtt/tuhan-bersemayam-di-permukaan-danau-utica-indiana-65b24bd0c7ae?source=rss-b98f4df0bdb3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/65b24bd0c7ae</guid>
            <category><![CDATA[slint]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[isenahst]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 01 Dec 2022 17:54:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-12-01T17:54:49.459Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*YYpb19a1pvl2su1D9Du5_w.jpeg" /><figcaption>Foto : Guardian</figcaption></figure><p>Tentang sekumpulan orang yang menyeberangi koridor dan batasan-batasan yang tercipta, tentang mereka yang memilih bersembunyi di ruang bawah tanah dengan rasa cemas dan tingkah terlalu serius hingga terkadang membungkam diri sendiri. Ini adalah sebuah tulisan tentang Slint, dedikasi penuh terhadap mereka yang tidak akan pernah besar tetapi memberikan pengaruh cukup besar di ranahnya.</p><p>Pada tahun 1991 band dengan umur terbilang cukup belia, Slint merekam album penuh kedua mereka <em>Spiderland</em>, sebuah rekaman yang menemukan <em>post-rock</em> dan mempengaruhi satu generasi musisi setelahnya. Apa yang menginspirasi sekelompok anak yang suka lelucon ini untuk membuat sebuah mahakarya yang gelap dan kuat?</p><p>Mereka dibentuk di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat pada tahun 1986. berisikan Brian McMahan (gitar dan vokal), David Pajo (gitar), Britt Walford (drum dan vokal), dan Ethan Buckler (bass). Walford dan McMahan bertemu saat masih di bangku sekolah menengah pertama, Brown School, Louisville yang didirikan dengan pedagogi pembelajaran mandiri.</p><p>Para anggota band mulai memainkan musik bersama pada usia dini, membentuk Languid dan Flaccid serta Ned Oldham saat masih di sekolah menengah. Di masa remaja mereka, Walford dan McMahan bermain bersama di sebuah band <em>punk </em>Louisville bernama Squirrel Bait. Walford meninggalkan band setelah sesi rekaman pertama mereka, sementara McMahan melanjutkan tur dan merekam dua album Squirrel Bait sebelum band bubar.</p><p>Slint dibentuk pada musim panas 1986. Walford dan Pajo bergabung dengan Buckler yang sedikit lebih tua (saat itu berusia 18 tahun) untuk sebuah pertunjukan di sebuah kongregasi Unitarian pada tanggal 2 November di tahun itu. Tampil dengan nama Small Tight Dirty Tufts of Hair, sebagian besar jemaat pergi setelah dua lagu pertama mereka diperdengarkan. Mereka segera bergabung dengan McMahan dan menamai diri mereka Slint setelah salah satu ikan peliharaan Walford mengeluarkan gas dan dijadikan sebuah lelucon oleh mereka.</p><p>Album pertama dari Slint, <em>Tweez</em> direkam oleh Steve Albini pada tahun 1987 dan dirilis secara tidak jelas pada label Jennifer Hartman Records di tahun 1989. Setelah rekaman album pertama mereka <em>Tweez</em> dianggap medioker, pada Maret 1991, Melody Maker mencetak <em>review </em>album yang ditulis oleh Steve Albini yang saat itu paling dikenal sebagai mantan pentolan trio <em>noise</em> Chicago Big Black. Ini tentang ulasan album yang di rekam oleh Slint bertajuk <em>Spiderland.</em></p><p>Dalam ulasanya Albini begitu tegas tentang <em>Spiderland</em>, ia berkata,</p><blockquote>“It’s an amazing record, he wrote, and no one still capable of being moved by rock music should miss it. In 10 years’ time, it will be a landmark and you’ll have to scramble to buy a copy then. Beat the rush.”</blockquote><p>Tetapi jauh sebelum Albini memberikan opini itu, bos dari Touch and Go Records Corey Rusk tersadarkan terlebih dahulu, ia benar-benar percaya pada rekaman itu dan ingin semua orang mendengarnya. Slint dianggap benar-benar memberikan kemurnian pada amunisinya, meski begitu, kenyataanya mereka telah membeku di puncak yang mereka capai.</p><p>Faktanya, meskipun terjual kurang dari 5.000 eksemplar pada saat itu, <em>Spiderland</em> benar-benar menjadi tengara, mereka menciptakan genre <em>post-rock</em> dan mempengaruhi generasi setelahnya. Lalu tumbuh dengan kagum bersama lanskapnya yang telah berubah menjadi narasi menyeramkan dan tidak berwujud, kekuatan gelap dan sentuhan tidak nyaman pada musikalitasnya, merubah Slint menjadi bentuk lain dari Velvet Underground versi lebih arogan yang tiba-tiba terbangun di kota kecil bernama Louisville.</p><p>Banyak perubahan terjadi di album penuh kedua mereka ini, Todd Brashear masuk menggantikan posisi Buckler pada departemen bass, lalu posisi produser dipercayakan kepada Brian Paulson yang terkenal karena rekaman suara “<em>live</em>”. Secara keseluruhan <em>Spiderland</em> melalui proses rekaman di studio River North Records yang berada di Chicago.</p><p><em>Spiderland </em>muncul dengan beberapa rumor yang memberikan bumbu magis bagi para pendengarnya, ini adalah album penuh tidak bertuan, karena album ini di rilis pasca bubarnya band. Dorongan dari proses rekaman mengedarkan rumor salah satu personel masuk ke rumah sakit jiwa, dalam salah satu film dokumenter bertajuk <em>“Breadcrumb Trail”</em> yang disutradarai oleh Lance Bangs menjelaskan tentang ambiguitas yang tersebar tentang band. Salah satu personel memang memeriksakan dirinya setelah malamnya melakukan rekaman, McMahan didiagnosa mengidap depresi, dan itu yang membawa dia pergi dari band.</p><p>Dalam <em>interview</em> dengan salah satu media Stuart Braithwaite dari Mogwai mengatakan,</p><blockquote>“They cultivated this sort of psychic playing, It’s way above other bands and is really emotional. When I heard Spiderland, it was unlike anything I’d heard before. I still don’t know if I’ve heard anything else like it, now.”</blockquote><p>Album ini dipenuhi dengan <em>riff-riff </em>gitar yang asing, cukup jelas terdengar pada trek semisal <em>“</em><strong>Good Morning, Captain</strong><em>”</em><strong><em> </em></strong>, ketika kalian mendengarkan secara keseluruhan, kesan yang kalian dapatkan adalah terancam lalu berpindah kepada fase mengerikan selanjutnya, dan kalian akan mulai terbiasa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka seperti menyusun sebuah <em>puzzle</em> secara acak, tidak sesuai tempat tetapi menghasilkan pandangan lain yang lebih sempurna dan otentik.</p><p>Narasi di dalam trek-trek albumnya dipenuhi dengan rasa cemas, terkadang kita tidak akan mengerti apa yang mereka katakan. Itu semua terasa sangat personal. McMahan dan Walford banyak menyelipkan perasaan personal yang bias pada setiap narasi treknya. Hal sederhana bisa terdengar begitu kompleks dan begitu pun sebaliknya. Ini terlihat jelas pada trek semisal <strong>“Nosferatu Man”.</strong></p><p>Pengaruh <em>Spiderland</em> telah menjadi fakta yang diterima dalam sejarah musik <em>rock</em>. Band-band semisal Black Midi, Black Country, New Road, dan Squid mencoba mengulas kejayaan dari karya McMahan dan kawan-kawan tersebut.</p><p>Beberapa repertoar Black Midi dan Black Country, New Road serta Squid yang secara gamblang terdengar menjadi hasil sebuah adaptasi formulasi Slint. Menggunakan petikan gitar yang lirih lalu menempatkan vokal lembut yang perlahan menjadi arogan dan mengancam. Itu terlihat pada “<strong>Near DT, MI” </strong>milik Black Midi dan “<strong>Science Fair</strong>” milik Black Country, New Road.</p><p>Dalam salah satu<em> interview </em>David Pajo pernah mengingat apa yang dikatakan Albini saat ia mengunjungi kediamannya,</p><blockquote>“I don’t think you guys will ever get big, but you’ll be really influential. I was thinking, You’re fucking crazy.”</blockquote><p>Apa yang dikatakan Albini memang menjadi realita yang terjadi pada saat ini, Slint tidak pernah menjadi besar tetapi apa yang mereka lakukan telah memberi banyak pengaruh terhadap ranah yang mereka isi sebelumnya.</p><p>Sudah 30 tahun Tuhan bersemayam pada danau tambang terpencil di Utica, Indiana. Mereka tidak akan pernah tenggelam, mengambang dengan tidak tenang, berteriak dengan lirih, dan akan selalu terdengar hingga surutnya danau membawa mereka pergi kembali ke dalam tanah tempat awal mereka lahir.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=65b24bd0c7ae" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Black Country, New Road: For The First Time, Narasi Membingungkan yang Ambisius]]></title>
            <link>https://medium.com/@isenashtt/black-country-new-road-for-the-first-time-narasi-membingungkan-yang-ambisius-8d12e1fdf76?source=rss-b98f4df0bdb3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8d12e1fdf76</guid>
            <category><![CDATA[black-midi]]></category>
            <category><![CDATA[music]]></category>
            <category><![CDATA[black-country-new-road]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[isenahst]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 01 Dec 2022 17:51:44 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-12-01T17:51:44.464Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*oKauP-voLh3ZRBfGX2sLAQ.jpeg" /><figcaption>Foto : DIY MAGAZINE</figcaption></figure><p>Mungkin tidak ada yang meramalkan bahwa salah satu album terbaik tahun 2021 akan menggabungkan musik <em>post-rock</em> band kultus awal ‘90-an Slint dengan musik klezmer dari tradisi Yahudi yang ditambah referensi mengerikan seperti Bruce Springsteen dan NutriBullet. Belum genap 2 bulan, Black Country, New Road, band asal London mengeluarkan amunisi album debutnya yang berisikan enam trek bertajuk<em> For The First Time</em>.</p><p>Tidak sulit untuk mendapatkan reputasi sebagai band pendatang baru paling misterius, penuh teka-teki, menarik, bahkan terbaik di ranahnya . Secara organik mereka sudah melakukannya dengan angkuh. Jika tidak ada yang mengakui itu, biarkan saya berlutut hingga akhir tulisan ini kepada mereka, kalian tidak perlu menunggu hingga paragraf terakhir untuk menemukan kalimat sanjungan seperti “tanpa kalian harus menunggu tahun ini selesai, <em>For The First Time</em> adalah rilisan terbaik di tahun ini”.</p><p>Septet ini dibentuk pada tahun 2018 di London, referensi yang luas serta narasi dengan mengikutsertakan banyak isu budaya populer di dalamnya dan pengiriman lisan dari sang narator Isaac Wood adalah hal yang paling dibanjiri pujian. Tidak perlu waktu lama untuk mereka mendapatkan perhatian penuh sebagai band yang digembar-gemborkan oleh kritikus musik, menyandang predikat sebagai “sekumpulan orang yang harus ditonton” ataupun “hal terbaik di kancah ‘<em>post-punk</em>‘ Inggris.”</p><p>Permainan <em>live</em>-nya selalu menjadi pembicaraan akhir-akhir ini. Interaksi gitar Wood dan Luke Mark, dipasangkan dengan basis Tyler Hyde dan bagian ritme dinamis drummer Charlie Wayne, secara samar-samar memunculkan <em>emo Midwestern</em> tahun 1990-an. Pemain saksofon Lewis Evans, pemain biola Georgia Ellery, dan kibordis May Kershaw mengirimkan suara band ke dimensi yang berbeda sepenuhnya, terjun ke dalam kebisingan <em>post-rock</em> di atas permainan<em> jazz</em> bebas dan elemen referensi musik lainya yang tidak terhitung. Mengantarkan Black Country, New Road sebagai nama yang cukup kentara di ranahnya pada saat ini.</p><p>Mereka selalu berbagi peran ketika berada di atas panggung pertunjukan, Issac memang berada di bawah sorotan lampu, tetapi kontribusi dari setiap anggota selalu menyertai renungan Issac yang sering kali <em>absurd</em> namun terdengar bersemangat.</p><p>Band yang membawakan formulasi seperti mereka memang cukup menjamur di daratan Britania Raya empat tahun kebelakang ini, sebut saja Dry Cleaning, Squid, Black Midi hingga yang paling teranyar mereka ini, 7 anak muda sinting asal Cambridge. Gaya musik <em>post-punk</em> dan bentuk pengantaran vokal “<em>sprechgesang”</em> yang secara harfiah, “nyanyian lisan” berkembang sebagai alat ekspresi, alasannya mungkin karena itu ideal untuk menyampaikan cemoohan, sarkasme, dan rasa jijik. Hal yang juga dilakukan oleh artis seperti John Lydon dan Mark E Smith, mereka lebih terdengar seperti berbicara daripada bernyanyi.</p><p>Gelombang “<em>sprechgesang</em>” yang tumbuh pesat di Inggris memiliki karakteristik yang serupa di antaranya penulisan narasi yang membingungkan dan pembawaan panggung yang misterius. Mereka seperti pembicara sinis di atas panggung dan menggunakan <em>post-rock,</em> sebagai iring-iringan yang riuh untuk menusuk pandangan terhadap dunia dengan mencurigakan,</p><p>Maret sudah menemui ujungnya. <em>For The First Time</em> belum genap menginjak 62 hari, selama dua bulan kurang saya mencoba mendekatkan diri kepada sudut pandang musikalitas dan narasi mereka. cara pandang mereka terhadap sesuatu memang otentik, contohnya entah ini kesengajaan atau tidak, ketika band lain berlomba-lomba mengambil foto dengan serius atau menggunakan jasa desainer untuk sebuah sampul album yang super ambisius, mereka hanya mengambil sebuah foto yang berasal dari Unsplash untuk dijadikan sampul album mereka.</p><p><em>For The First Time</em> diawali dengan trek “<strong>Instrumental</strong>” mereka memperdengarkan bagaimana musik ala Yahudi klezmer terdengar di abad ini. Pembukaan yang cukup menarik untuk 7 orang anggota <em>orchestra punk. </em>BC, NR mempertegas cakupan referensi mereka sebagai orang-orang yang baru menginjak umur kepala dua. Mereka tidak sedangkal seperti media kira soal referensi yang selalu terpaku pada Slint dan Talking Heads.</p><p>Dalam “<strong>Athens, France</strong>” kekuatan narasi dari Issac terdengar untuk pertama kalinya bagaimana ia mengambil salah satu bait dari lirik lagu milik Phoebe Bridgers dalam trek “<strong>Motion Sickness</strong>” untuk direkonstruksi ulang sebagai pengantar penyesalan romantisme yang membingungkan miliknya,</p><blockquote>“Why don’t you sing with English accent?</blockquote><blockquote>Well, i guess it’s to late change it now”</blockquote><p>Itu bukan untuk kesenangan belaka, tetapi karena deskripsi Phoebe tentang hubungannya dengan Ryan Adams beresonansi dengan pengalaman Isaac yang sangat mirip diceritakan dalam trek tersebut.</p><p>Dalam trek-trek lainya mereka terus menggunakan penulisan lirik sebagai hal paling kuat yang mereka punya. Seperti dalam trek “<strong>Science Fair</strong>” yang secara tidak langsung menyentil keadaan para jurnalis musik pada saat melakukan liputan untuk band, cenderung berfokus pada kemiripan mereka dengan band-band semisal pada kancah musik yang sedang berkembang di Inggris.</p><p>Trek penuh kemarahan ini banyak sekali membahas tentang beban referensi yang mereka pikul, sindiran satir seperti bentuk penghormatan kepada Slint sebagai band terbaik nomor “dua” , atau berbicara tentang negeri hitam di luar inggris yang akan mereka tuju dengan menyematkan Cirque du Soleil sebagai gambaran biasnya. Serta pada trek “<strong>Track X”</strong> dengan membawa band Black Midi yang selalu disandingkan dengan mereka kepada lirik yang cukup terdengar romantis seperti:</p><blockquote>“I told you I loved you in front of Black Midi”</blockquote><p>Terkadang kita tidak akan pernah benar-benar paham apa yang ingin mereka sampaikan, tetapi <em>puzzle</em> yang mereka susun acapkali memberikan sebuah kode yang secara bias bisa kita terka dan pahami.</p><p>“<strong>Sunglasses</strong>” tidak kalah membingungkan, Issac sebagai narator berkhayal sedang berada di dapur pacarnya yang kaya raya, merenungkan masa depan cemerlang bersama-sama:</p><blockquote>“I become her father</blockquote><blockquote>And complain of mediocre theatre in the daytime</blockquote><blockquote>And ice in single malt whiskey at night</blockquote><blockquote>Of rising skirt hems and lowering IQs</blockquote><blockquote>And things just aren’t built like they used to be</blockquote><blockquote>The absolute pinnacle of british engineering”</blockquote><p>Kompleksitas dan sudut pandang lain yang diberikan terhadap narasi bertele-tele, halus dan kurang penting malah menjadikan kesan orisinil untuk mereka. Permainan kata yang meliputi latar waktu, realita yang terjadi dan khayalan bersatu dengan kuat serta membingungkan. Mungkin saja BC, NR ditenun pada kain yang sama dengan Slint, ia bisa memainkan dua peran dalam satu treknya, berteriak lirih di tengah kesenangan dan menyeringai di tengah kepedihan narasinya.</p><p>Referensi mereka terlalu penuh dan luas, apa yang mereka lakukan lebih banyak memberikan pertanyaan daripada jawaban, meski begitu <em>For The First Time </em>benar-benar terlihat ambisius, pemilihan persona terlihat sangat disengaja dan bermakna. Ini bukan grup yang memainkan musik atas nama bersenang-senang, setiap langkah yang mereka pilih adalah renungan penuh perhitungan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8d12e1fdf76" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>