<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Lentera Aksara Community Indonesia on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Lentera Aksara Community Indonesia on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@lenscommunity?source=rss-5016c7335f14------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*RYjOY_MMSygn7ZJz</url>
            <title>Stories by Lentera Aksara Community Indonesia on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity?source=rss-5016c7335f14------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 05 Jul 2026 19:44:08 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@lenscommunity/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Tragedi Bekasi Timur : Detik-Detik Maut di Perlintasan Kereta]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/tragedi-bekasi-timur-detik-detik-maut-di-perlintasan-kereta-b4a68769b67c?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b4a68769b67c</guid>
            <category><![CDATA[tragedi]]></category>
            <category><![CDATA[bekasi-timur]]></category>
            <category><![CDATA[commuter]]></category>
            <category><![CDATA[kereta]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 04 May 2026 06:10:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-04T06:14:36.208Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Kronologi Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/600/1*o2UbiPzEHbDDnJd1lJ0QUw.jpeg" /><figcaption>detik.com</figcaption></figure><p>Baru-baru ini, masyarakat dikejutkan dengan peristiwa musibah kecelakaan kereta api yang menimbulkan korban dan duka mendalam. Peristiwa ini tak hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga mengingatkan kita bahwa pentingnya keselamatan dalam transportasi.</p><p>Kecelakaan kereta antara Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam.</p><p>Menurut informasi dari laman Kementrian Perhubungan (Kemenhub), berdasarkan kronologi awal, insiden kecelakaan bermula saat rangkaian kereta rel listrik (KRL) relasi Bekasi-Cikarang bertabrakan dengan mobil perlintasan sebidang JPL 85.</p><p>Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuali dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena terhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.</p><p>Dampaknya, petugas memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur. <br>Tak lama kemudian, datang kereta api Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya yang tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga terlibat insiden tabrakan dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.</p><p>Menurut keterangan Kabid humas Polda mtro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan “ada dua peristiwa yang terjadi dalam rangkaian kejadian kecelakaan kereta pada Senin malam itu.” “Pertama, kejadian bermula dari danya kendaraan taksi online yang melintas di perlintasan sebidang Jalan Ampera Bekasi Timur.” Setelah itu,, kata dia, “Kendaraan tersebut mengalammi malfungsi atau kerusakan, sehingga berhenti di rel kereta api dan mengganggu perlintasan KRL Commuter Line.”</p><p>“Inilah yang terjaid yang mengakibatkan fatalitas, kerugian, baik materi, kerugian jiwa, serta luka-luka, dimana KRL di tabrak dari belakang oleh kereta api cepat Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya Pasarturi,” ujarnya dalam Program Kompas Siang di KompasTv, Rabu (29/04/2026).</p><p>Budi juga mengatakaan perkembangan data korban akibat kecelakaan kereta tersebut, di mana tercatat ada 16 orang yang dialporkan meninggal dunia per Rabu siang.</p><p>“ Kami terima hari ini per 29April 2026 sekitar pukul 11.00 (WIB). Korban total adalah 106 orang, di mana korban luka-luka 90 orang, 44 pasien sudah pulng ke rumah, 46 pasien sedang melaksanakan observasi, meninggal dunia 16 orang,” ucapnya.</p><p>Komitmen Pemerintah dan Pihak Terkait — Presiden Prabowo Subianto telah menjenguk para korban di RSUD bekasi dan sekitarnya dan menyampikan duka cita mendalam berserta komitmen.</p><p>Pemerintah akan segera mengadakan investigasi menyeluruh atas musibah dan tragedi ini. Presiden juga menyetujui sekaligus memberikan bantuan langsunng untuk segera membangun flyover dekat stasiun Bekasi Timur demi menhindari kejadian serupa di perlintasan yanng padat.</p><p>Pemerintah berkomitmen memperbaiki sekitar 1.800 titik perlintasan sebidang peninggalan masa lalu di Pulau Jawa. Upaya ini akan dilakukan dengan membangun pos jaga atau flyover, dengan anggaran yang disiapkan mencapi Rp 4 Triliun.</p><p>Seluruh korban dipastikan akan menerima kompensasi dan santunan. PT KAI didukung pihak asuransi juga menegaskan baahwa mereka akan menanggung sepenuhnya seluruh biaya perawatan rumah sakit serta biaya pemakaman bagi korban meninggal.</p><p>Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perlunya peningkatan sistem keselamatan transportasi, terutama di perlintasan rel kereta api. Pemerintah juga menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menvegah kejadian serupa di masa depan</p><p>Musibah ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bahwa keselamatan dalam transportasi adalah tanggung jawab bersama. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, operator, dan masyarakat untuk menciptakan sistem informasi yang lebih aman.</p><p>Sumber : <br><a href="https://www.kompas.tv/amp/nasional/666016/kronologi-kecelakaan-kereta-di-stasiun-bekasi-timur-berawal-krl-tabrak-taksi-online">https://www.kompas.tv/amp/nasional/666016/kronologi-kecelakaan-kereta-di-stasiun-bekasi-timur-berawal-krl-tabrak-taksi-online</a><br><a href="https://www.detik.com/jabar/berita/d-8464846/infografis-rangkuman-kecelakaan-kereta-di-stasiun-bekasi-timur/amp">https://www.detik.com/jabar/berita/d-8464846/infografis-rangkuman-kecelakaan-kereta-di-stasiun-bekasi-timur/amp</a></p><p>Writer — Anwhy</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b4a68769b67c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sinergi Kreativitas dan Perlindungan Karya: Menelusuri Jejak Sukses “Sharing with Founder #5” di…]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/sinergi-kreativitas-dan-perlindungan-karya-menelusuri-jejak-sukses-sharing-with-founder-5-di-4fb6b881b6a3?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4fb6b881b6a3</guid>
            <category><![CDATA[sharing]]></category>
            <category><![CDATA[hak-kekayaan-intelektual]]></category>
            <category><![CDATA[ekonomi]]></category>
            <category><![CDATA[umkm]]></category>
            <category><![CDATA[cirebon]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 27 Apr 2026 05:56:43 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-27T06:26:31.254Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Sinergi Kreativitas dan Perlindungan Karya: Menelusuri Jejak Sukses “Sharing with Founder #5” di Cirebon</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*laFA4KWny7E325Gc8G39ww.jpeg" /><figcaption>Lens Community</figcaption></figure><p><strong>CIREBON</strong> — Antusiasme luar biasa menyelimuti NutriHub Cirebon pada Rabu, 22 April 2026. Puluhan pelaku kreatif, mahasiswa, hingga pegiat UMKM memadati ruangan di Jl. Arya Kemuning №. 84 untuk menghadiri diskusi inspiratif, Sharing with Founder #5.</p><p>Membawa tema besar “Lindungi, Kelola, &amp; Monetisasi Karya: Memanfaatkan Kekayaan Intelektual di Ekonomi Kreatif” , acara ini berhasil menjadi wadah strategis bagi masyarakat untuk membedah potensi besar di balik ide dan inovasi yang mereka miliki.</p><p>Acara dibuka Pemateri pertama oleh “Venggar Tri Laksono”, Founder Komparekraf, yang memaparkan visi optimis mengenai wajah ekonomi Indonesia. Menurutnya, pasca pandemi, sektor ekonomi kreatif telah bertransformasi menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi nasional yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.</p><p>“Karya itu luas, tergantung aktivitas kita masing-masing. Hasil kreativitas adalah buah dari pemikiran yang matang. Di era sekarang, ekonomi kreatif akan terus melaju pesat. Tantangannya adalah banyak orang yang masih takut untuk memulai,” ujar Venggar.</p><p>Venggar menekankan pentingnya inovasi berbasis lokalitas. Ia memberikan contoh konkret bagaimana kekayaan sejarah Cirebon, seperti cerita rakyat, dapat dikemas menjadi produk bernilai tinggi seperti film, novel, hingga buku yang memiliki daya jual industri. “Cara menginovasi karya bisa dimulai dari keseharian. Jajanan lokal atau sejarah mendalam Cirebon bisa kita beri nilai tambah agar bisa bersaing di masa depan,” tambahnya.</p><p>Sesi kedua menghadirkan “<strong>Gumay</strong>”, sosok di balik brand populer Ayam Swasta, Dengan gaya bicara yang mudah di pahami, Gumay berbagi pengalaman jatuh bangun dalam mengelola berbagai bisnis kuliner seperti Ayam Swasta, Es Krim Swasta, hingga cemilan Makaroni.</p><p>Bagi Gumay, memulai bisnis bukan sekadar soal rasa, melainkan kesiapan sistem dan regulasi. Ia membagikan tips mengenai kapan sebuah bisnis siap untuk melakukan pemasaran besar-besaran.</p><p>“Gumay mengatakan, Rasa itu penting, tapi komunikasi dan kesiapan produk jauh lebih penting. Saya pribadi selalu memastikan biaya operasional aman dan produk konsisten selama 2–3 bulan pertama. Setelah pondasinya kuat, baru saya berani menggunakan jasa “influencer” atau “endorse” Ia juga mengingatkan para peserta untuk memiliki mental baja: “Kita harus siap dengan segala skenario, entah itu sepi di awal atau tiba-tiba ramai karena fomo”.</p><p>Tak hanya soal bisnis dan karya intelektual, acara ini juga memberikan wawasan mengenai pentingnya perawatan diri sebagai penunjang produktivitas. “Skin Expert dari Wardah Cirebon”, hadir memberikan edukasi mengenai kesehatan kulit.</p><p>Dari team wardah menekankan, bahwa perlindungan kulit adalah investasi jangka panjang. Ia membedah teknik basic skincare yang wajib dilakukan, terutama penggunaan sunscreen.</p><p>“Paparan sinar matahari bisa berakibat fatal, mulai dari kulit kusam hingga risiko kanker kulit. Lindungi kulit dengan sunscreen yang digunakan 2–3 kali sehari, didahului dengan moisturizer untuk mengikat kadar air agar kulit tidak terhidrasi,” ungkap team wardah.</p><p>Menariknya, ia juga menegaskan bahwa skincare dari Wardah bersifat universal dan dapat digunakan oleh semua gender.</p><p>Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta terlihat sangat haus akan ilmu mengenai cara merek hingga strategi konten kreatif. Kehangatan suasana di NutriHub Cirebon sore itu membuktikan bahwa ekosistem kreatif di Kota Udang semakin solid.</p><p>Sharing with Founder, bukan sekadar diskusi formal, melainkan sebuah awal bergerak untuk menyadarkan para masyarakat bahwa karya yang dikelola dengan baik, dilindungi secara hukum (HAKI), dan dipasarkan dengan strategi yang tepat, akan menjadi aset ekonomi yang tak ternilai harganya.</p><p>Sampai jumpa di Sharing with Founder berikutnya!</p><p>Writer — Zhee</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4fb6b881b6a3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pernah Terpikir, Gimana Caranya “Ide” Bisa Jadi “Aset” yang Terus Menghasilkan?]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/pernah-terpikir-gimana-caranya-ide-bisa-jadi-aset-yang-terus-menghasilkan-1f7629fa1468?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1f7629fa1468</guid>
            <category><![CDATA[ekonomi-kreatif]]></category>
            <category><![CDATA[hak-kekayaan-intelektual]]></category>
            <category><![CDATA[events]]></category>
            <category><![CDATA[kekayaan-intelektual]]></category>
            <category><![CDATA[cirebon]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 17 Apr 2026 15:11:55 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-27T05:57:43.334Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*PLq_QkZ_Mh-j3v-wDsxzNw.jpeg" /><figcaption>Lens Community</figcaption></figure><p>Pernahkah kamu merasa sebuah ide atau karya yang kamu buat dengan sepenuh hati tiba-tiba “terinspirasi” oleh orang lain tanpa izin? Atau mungkin kamu punya segudang karya kreatif, tapi bingung bagaimana cara mengubahnya menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan?</p><p>Di era ekonomi kreatif saat ini, sebuah karya bukan lagi sekadar bentuk ekspresi diri. Entah itu desain, tulisan, produk kuliner, hingga inovasi teknologi, semuanya lahir dari kreativitas yang mahal harganya. Namun, sayangnya masih banyak dari kita yang hanya fokus pada proses “membuat” tapi lupa cara “menjaga”. Strategi pengelolaan yang kurang tepat, bisa berpotensi besar dari karya tersebut bisa hilang begitu saja.</p><p>Memahami Kekayaan Intelektual (KI) bukan hanya soal urusan hukum yang rumit, melainkan tentang bagaimana kita menghargai nilai dari kreativitas kita sendiri. Literasi mengenai KI adalah benteng agar karya kita tidak disalahgunakan, sekaligus kunci untuk membuka pintu monetisasi yang lebih luas.</p><p>Mari Belajar Strategi Mengelola Karya!</p><p>Berangkat dari kegelisahan tersebut, Lentera Aksara Community Indonesia kembali hadir dengan program diskusi inspiratif yang kali ini akan dikemas secara offline. Setelah sukses di edisi-edisi sebelumnya secara daring, kini saatnya kita bertatap muka langsung untuk berkolaborasi dan menggali ilmu dari para praktisi.</p><p>Kami mengundang tamu yang hebat untuk hadir di:</p><p><strong>Sharing with Founder #5</strong><br>“Lindungi, Kelola, dan Monetisasi Karya: Memanfaatkan Kekayaan Intelektual di Ekonomi Kreatif”</p><p>Diselenggarakan pada:<br>📅 Hari, Tanggal: Rabu, 22 April 2026<br>🕐 Waktu: 13.00–15.30 WIB<br>📍 Tempat: NutriHub Cirebon, Jl. Arya Kemuning №84</p><p>Di sesi kali ini, kita tidak hanya akan bicara teori, tapi berbagi pengalaman nyata tentang bagaimana membangun karya, menghadapi tantangan di industri, hingga strategi menjadikan kekayaan intelektual sebagai penggerak ekonomi yang berdampak.</p><p>Kenapa kamu harus ikut?<br>✅ Mendapatkan wawasan langsung dari praktisi yang sudah berpengalaman.<br>✅Memahami cara melindungi karya agar tidak rentan pelanggaran hak cipta.<br>✅Memperluas jejaring dengan sesama pegiat ekonomi kreatif di Cirebon.</p><p>Jangan lewatkan kesempatan untuk memperluas koneksi, berkolaborasi secara langsung, dan mengubah cara pandangmu terhadap karya yang kamu miliki.</p><p>Sampai jumpa di NutriHub Cirebon! Mari jadikan karyamu lebih hebat.</p><p>Writer — Zhee</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1f7629fa1468" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Jejak Cahaya Sang Baginda Sepanjang Zaman]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/jejak-cahaya-sang-baginda-sepanjang-zaman-5fd1049ac52e?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5fd1049ac52e</guid>
            <category><![CDATA[mukjizat]]></category>
            <category><![CDATA[sahabat-nabi-muhammad]]></category>
            <category><![CDATA[kisah-nabi]]></category>
            <category><![CDATA[nabi-muhammad]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Mar 2026 06:55:55 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-17T06:57:36.744Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/600/1*rjgghMssH4kRD6SwuvpDyQ.jpeg" /><figcaption>Foto: Getty Images/iStockphoto/Gogosvm</figcaption></figure><p><strong>Kelahiran Nabi Muhammad SAW</strong></p><p>Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah, yang bertepatan dengan tanggal 21 April 571 M. Beliau dilahirkan di kota Mekkah dari suku Quraisy, yaitu salah satu suku yang paling terkenal dan sangat dihormati oleh masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, sebuah keluarga yang sangat terpandang di tengah masyarakat Quraisy.</p><p>Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Namun sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, ayah beliau telah wafat ketika beliau masih berada dalam kandungan</p><p>Karena itu Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim.</p><p>Ketika Nabi lahir, kakeknya Abdul Muthalib sangat bahagia. Ia membawa bayi Muhammad ke Ka’bah lalu berdoa kepada Allah. Ia berkata dengan penuh rasa syukur,</p><p><em>“Anak ini akan memiliki kedudukan yang besar.”</em></p><p>Kemudian beliau memberi nama Muhammad, sebuah nama yang saat itu belum banyak digunakan oleh masyarakat Arab.</p><p><strong>Masa Kecil Nabi Muhammad SAW</strong></p><p>Setelah lahir, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Namun sesuai tradisi masyarakat Arab saat itu, bayi-bayi dari kota Mekkah biasanya disusukan kepada perempuan dari pedalaman agar tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan memiliki bahasa Arab yang fasih.</p><p>Nabi Muhammad kemudian disusui oleh Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad.</p><p>Awalnya Halimah tidak ingin mengambil Muhammad karena beliau adalah anak yatim yang tidak diharapkan memberikan banyak upah. Namun karena tidak ada bayi lain yang bisa ia bawa pulang, akhirnya Halimah berkata kepada suaminya,</p><p><em>“Demi Allah, aku tidak ingin pulang tanpa membawa seorang bayi. Aku akan mengambil anak yatim itu.”</em></p><p>Sejak Nabi Muhammad kecil tinggal bersama Halimah, banyak keberkahan yang terjadi. Kambing-kambing Halimah yang sebelumnya kurus menjadi gemuk, air susu yang sebelumnya sedikit menjadi melimpah, dan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.</p><p>Halimah pun berkata kepada suaminya dengan penuh keheranan,</p><p><em>“Wahai suamiku, sungguh kita telah membawa seorang anak yang penuh berkah.”</em></p><p><strong>Nabi Muhammad Menjadi Yatim Piatu</strong></p><p>Ketika Nabi Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah mengajak beliau pergi ke Madinah untuk mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang menuju Mekkah, Aminah jatuh sakit dan wafat di daerah Abwa.</p><p>Sebelum wafat, Aminah memandang anaknya dengan penuh kasih sayang. Sejak saat itu Nabi Muhammad menjadi yatim piatu.</p><p>Beliau kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Sang kakek sangat menyayangi Nabi Muhammad. Ia sering mempersilakan Muhammad kecil duduk di tempat duduknya di dekat Ka’bah, sebuah tempat yang biasanya tidak diperbolehkan untuk diduduki oleh orang lain.</p><p>Namun ketika Nabi Muhammad berusia delapan tahun, Abdul Muthalib wafat. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya Abu Thalib,</p><p><em>“Jagalah Muhammad dengan baik.”</em></p><p>Sejak saat itu Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.</p><p>Perjalanan ke Negeri Syam dan Pertemuan dengan Pendeta Buhaira</p><p>Ketika Nabi Muhammad berusia sekitar dua belas tahun, Abu Thalib mengajaknya berdagang ke negeri Syam. Dalam perjalanan tersebut rombongan mereka singgah di sebuah tempat bernama Bushra.</p><p>Di tempat itu terdapat seorang pendeta bernama Buhaira. Pendeta tersebut memperhatikan Nabi Muhammad dengan sangat seksama. Ia melihat tanda-tanda kenabian yang pernah ia pelajari dalam kitab-kitab sebelumnya.</p><p>Buhaira kemudian bertanya kepada Abu Thalib,</p><p><em>“Siapakah anak ini?”</em></p><p>Abu Thalib menjawab,</p><p><em>“Dia adalah anakku.”</em></p><p>Pendeta itu berkata,</p><p><em>“Tidak mungkin ayah anak ini masih hidup.”</em></p><p>Abu Thalib pun menjelaskan,</p><p><em>“Dia adalah keponakanku. Ayahnya telah meninggal sebelum ia lahir.”</em></p><p>Pendeta Buhaira kemudian berkata dengan penuh keyakinan,</p><p><em>“Anak ini kelak akan menjadi nabi terakhir. Jagalah dia dengan baik.”</em></p><p>Ia juga menyarankan agar Nabi Muhammad tidak melanjutkan perjalanan ke Syam karena khawatir orang-orang Yahudi akan mengenali tanda-tanda kenabian pada dirinya dan berusaha mencelakainya.</p><p>Akhirnya Abu Thalib memutuskan untuk membawa Nabi Muhammad kembali ke Mekkah.</p><p><strong>Pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah</strong></p><p>Ketika Nabi Muhammad berusia 25 tahun, beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang jujur dan terpercaya. Karena kejujurannya, masyarakat Mekkah memberi beliau gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.</p><p>Seorang wanita bangsawan dan saudagar kaya bernama Khadijah binti Khuwailid tertarik kepada akhlak Nabi Muhammad. Ia kemudian memberikan modal kepada Nabi untuk berdagang dengan sistem bagi hasil.</p><p>Setelah perjalanan dagang tersebut, Khadijah sangat terkesan dengan kejujuran Nabi Muhammad. Ia kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Nabi melalui sahabatnya Nafisah.</p><p>Nafisah berkata kepada Nabi,</p><p><em>“Muhammad, mengapa engkau belum menikah?”</em></p><p>Nabi menjawab,</p><p><em>“Aku belum memiliki kemampuan.”</em></p><p>Nafisah kemudian berkata,</p><p><em>“Bagaimana jika ada wanita yang terpandang, kaya, dan mulia yang ingin menikah denganmu?”</em></p><p>Nabi bertanya,</p><p><em>“Siapakah wanita itu?”</em></p><p>Nafisah menjawab,</p><p><em>“Khadijah.”</em></p><p>Akhirnya Nabi Muhammad SAW menikah dengan Khadijah. Pernikahan mereka menjadi rumah tangga yang penuh cinta dan saling mendukung.</p><p><strong>Keluarga Rasulullah yang Penuh Keteladanan</strong></p><p>Di balik perjuangan dakwah yang begitu besar, Rasulullah SAW juga menjalani kehidupan keluarga yang penuh kasih sayang. Istri pertama beliau adalah Khadijah binti Khuwailid, seorang perempuan mulia yang selalu menjadi penopang dan penguat hati Rasulullah pada masa-masa awal dakwah.</p><p>Setelah wafatnya Khadijah, Rasulullah menikah dengan beberapa perempuan yang kelak dikenal sebagai Ummahatul Mukminin, atau ibu bagi orang-orang beriman. Di antara mereka adalah Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwayriyah binti al-Harith, Ummu Habibah, Safiyyah binti Huyayy, Maymunah binti al-Harith, serta Zainab binti Khuzaimah.</p><p>Selain sebagai pendamping hidup Rasulullah, mereka juga berperan penting dalam menyampaikan ajaran Islam kepada generasi setelahnya.</p><p>Dari pernikahannya dengan Khadijah, Rasulullah SAW dikaruniai beberapa orang anak, yaitu Qasim bin Muhammad, Zainab binti Muhammad, Ruqayyah binti Muhammad, Ummu Kultsum binti Muhammad, Fatimah az-Zahra, serta Abdullah bin Muhammad.</p><p>Diantara mereka, Fatimah az-Zahra dikenal sebagai putri yang sangat dicintai Rasulullah, bagaikan bunga yang tumbuh dari taman akhlak beliau.</p><p><strong>Turunnya Wahyu Pertama</strong></p><p>Menjelang usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenungi keadaan masyarakat Mekkah yang dipenuhi penyembahan berhala.</p><p>Suatu malam Malaikat Jibril datang dan berkata,</p><p><em>“Iqra!”</em></p><p>Nabi menjawab,</p><p><em>“Aku tidak bisa membaca.”</em></p><p>Malaikat Jibril memeluk Nabi dengan kuat dan mengulangi perintah tersebut hingga turun wahyu pertama dari Surah Al-Alaq ayat 1–5.</p><p>Nabi pulang dengan tubuh gemetar dan berkata kepada Khadijah,</p><p><em>“Selimuti aku, selimuti aku.”</em></p><p>Khadijah menenangkan beliau dan berkata,</p><p><em>“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menolong orang lemah, dan berkata jujur.”</em></p><p><strong>Dakwah Nabi Muhammad SAW</strong></p><p>Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Orang pertama yang masuk Islam adalah Khadijah, kemudian diikuti oleh Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Ummu Aiman, dan Bilal bin Rabah.</p><p>Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah SAW tidak berjalan sendiri. Di sisinya berdiri para sahabat yang setia, yang mengorbankan tenaga, harta, bahkan hidup mereka demi menegakkan kebenaran. Di antara mereka, terdapat empat sahabat utama yang kelak dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, para pemimpin yang melanjutkan perjuangan Rasulullah setelah wafatnya beliau.</p><p>Yang pertama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah yang dikenal dengan kejujuran dan keteguhan imannya. Ia adalah orang pertama dari kalangan laki-laki dewasa yang memeluk Islam dan selalu mendampingi Rasulullah dalam berbagai keadaan, termasuk saat peristiwa hijrah ke Madinah.</p><p>Yang kedua adalah Umar bin Khattab, sosok yang dikenal dengan keberanian dan ketegasannya dalam menegakkan keadilan. Setelah memeluk Islam, kekuatan umat Islam semakin bertambah karena keteguhan dan keberanian Umar dalam membela agama.</p><p>Yang ketiga adalah Utsman bin Affan, seorang sahabat yang dikenal dengan kelembutan hati, kedermawanan, dan ketulusannya. Ia sering mengorbankan hartanya untuk membantu perjuangan Islam dan kesejahteraan umat.</p><p>Yang keempat adalah Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Sejak usia muda ia telah beriman kepada Rasulullah dan dikenal sebagai pribadi yang cerdas, pemberani, serta sangat mencintai ilmu pengetahuan.</p><p>Setelah beberapa tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan melalui firman-Nya dalam Surah Al-Hijr ayat 94:</p><p><em>“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”</em></p><p>Namun dakwah Nabi mendapat penentangan keras dari kaum Quraisy. Tokoh-tokoh seperti Abu Jahal dan Abu Lahab sering menyebarkan fitnah dan melakukan kekerasan terhadap Nabi dan para pengikutnya.</p><p><strong>Peristiwa Hijrah ke Madinah</strong></p><p>Karena tekanan yang semakin besar di Mekkah, Nabi Muhammad dan para pengikutnya akhirnya melakukan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M.</p><p>Di Madinah Nabi disambut dengan penuh kegembiraan oleh kaum Anshar. Di kota ini Nabi membangun masyarakat Islam yang kuat dan penuh persaudaraan.</p><p>Pada tahun kedua Hijriyah, kewajiban zakat mulai diberlakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.</p><p><strong>Peristiwa Isra Mi’raj</strong></p><p>Pada tahun kesebelas kenabian, Nabi Muhammad mengalami masa yang sangat berat karena wafatnya dua orang yang sangat beliau cintai, yaitu pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah. Tahun tersebut dikenal sebagai Tahun Kesedihan.</p><p>Pada masa itulah Allah menghibur Nabi dengan peristiwa Isra Mi’raj.</p><p>Dalam peristiwa ini Nabi melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah Nabi menerima perintah shalat lima waktu bagi umat Islam.</p><p><strong>Mukjizat Nabi Muhammad SAW</strong></p><p>Mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.</p><p>Selain itu terdapat mukjizat lain seperti:</p><p>Membelah bulan, Menyembuhkan sakit mata Ali bin Abi Thalib, Keberkahan yang terjadi di berbagai tempat</p><p><strong>Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah</strong></p><p>Rasulullah adalah suami yang sangat lembut. Beliau sering memanggil istrinya dengan panggilan sayang seperti <em>“Ya Humaira”</em> kepada Aisyah.</p><p>Suatu hari Rasulullah berkata kepada Aisyah,</p><p><em>“Aisyah, aku mengetahui kapan engkau sedang senang kepadaku dan kapan engkau sedang marah kepadaku.”</em></p><p>Aisyah bertanya,</p><p><em>“Bagaimana engkau mengetahuinya?”</em></p><p>Rasulullah menjawab,</p><p><em>“Jika engkau senang kepadaku, engkau berkata: Demi Tuhan Muhammad. Tetapi jika engkau marah, engkau berkata: Demi Tuhan Ibrahim.”</em></p><p>Aisyah tersenyum dan berkata,</p><p><em>“Benar wahai Rasulullah, aku hanya meninggalkan namamu dari lisanku.” (HR Bukhari dan Muslim)</em></p><p>Rasulullah juga sering membantu pekerjaan rumah. Aisyah berkata,</p><p><em>“Rasulullah membantu pekerjaan keluarganya dan menjahit pakaiannya sendiri.” (HR Bukhari)</em></p><p><strong>Rasulullah Berlomba Lari dengan Aisyah</strong></p><p>Suatu hari Rasulullah berkata,</p><p><em>“Aisyah, mari kita berlomba.”</em></p><p>Aisyah berlari dan menang.</p><p>Beberapa waktu kemudian mereka berlomba lagi. Kali ini Rasulullah menang.</p><p>Beliau tersenyum dan berkata,</p><p><em>“Ini balasan untuk yang dulu.” (HR Ahmad)</em></p><p><strong>Rasulullah Memeluk Aisyah Saat Marah</strong></p><p>Suatu hari Aisyah merasa cemburu kepada Khadijah yang sudah wafat.</p><p>Rasulullah berkata dengan lembut<em>,</em></p><p><em>“Pejamkan matamu wahai Aisyah.”</em></p><p>Aisyah menutup matanya.</p><p>Rasulullah lalu memeluknya dan berkata,</p><p><em>“Wahai Humaira, kemarahan itu telah pergi ketika aku memelukmu.” (HR Muslim)</em></p><p><strong>Rasulullah Membiarkan Aisyah Bersandar di Bahunya</strong></p><p>Suatu hari orang-orang Habasyah sedang bermain tombak di masjid.</p><p>Aisyah ingin melihatnya.</p><p>Rasulullah berkata,</p><p><em>“Apakah engkau ingin melihatnya?”</em></p><p>Aisyah menjawab,</p><p><em>“Iya.”</em></p><p>Rasulullah berdiri dan Aisyah bersandar di bahu beliau untuk menyaksikan permainan tersebut.</p><p>Beberapa waktu kemudian Rasulullah bertanya,</p><p><em>“Apakah engkau sudah puas?”</em></p><p>Aisyah menjawab,</p><p><em>“Belum.”</em></p><p>Rasulullah tetap berdiri hingga Aisyah benar-benar puas.</p><p><em>(HR Bukhari dan Muslim)</em></p><p><strong>Rasulullah Tidur di Pangkuan Aisyah</strong></p><p><em>Aisyah meriwayatkan,</em></p><p><em>“Rasulullah pernah tidur di pangkuanku, lalu turun wahyu kepada beliau.” (HR Bukhari dan Muslim)</em></p><p><strong>Rasulullah Mengantar Istrinya Pulang</strong></p><p>Suatu malam ketika Rasulullah sedang i’tikaf, istrinya Shafiyah datang mengunjunginya.</p><p>Setelah berbincang, Rasulullah berkata,</p><p><em>“Tunggulah, aku akan mengantarmu pulang.” (HR Bukhari dan Muslim)</em></p><p><strong>Rasulullah Memanggil Aisyah dengan Panggilan Sayang</strong></p><p>Rasulullah sering berkata,</p><p><em>“Ya Humaira…”</em></p><p>yang berarti wanita yang pipinya kemerahan.</p><p><strong>Rasulullah Menghapus Air Mata Istrinya</strong></p><p>Dalam sebuah perjalanan, Shafiyah binti Huyay merasa sedih karena unta yang ia tunggangi berjalan lambat.</p><p>Ia pun menangis.</p><p>Rasulullah mendekatinya dan berkata dengan lembut,</p><p><em>“Jangan bersedih wahai Shafiyah.”</em></p><p>Beliau kemudian mengusap air mata Shafiyah dengan tangannya.</p><p><em>(HR An-Nasa’i)</em></p><p><strong>Wafatnya Nabi Muhammad SAW</strong></p><p>Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW mulai merasakan sakit yang cukup berat. Dalam keadaan sakit itu, beliau tetap memikirkan umatnya. Berkali-kali beliau berpesan kepada para sahabat untuk menjaga shalat dan memperlakukan sesama dengan baik.</p><p>Pada hari-hari terakhirnya, Rasulullah berada di rumah Aisyah ra. Suatu ketika beliau berkata dengan suara yang lemah,</p><p><em>“Di mana aku besok? Di mana aku besok?”</em></p><p>Para istri beliau memahami bahwa Rasulullah ingin berada di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkan beliau untuk dirawat di sana.</p><p>Pada suatu hari, ketika sakitnya semakin berat, Rasulullah SAW keluar menuju masjid dengan dipapah oleh Ali bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib. Para sahabat yang melihat beliau segera berdiri dengan penuh haru. Rasulullah kemudian memberi isyarat agar mereka tetap duduk.</p><p>Beliau memandang para sahabatnya yang begitu beliau cintai. Di wajah mereka terlihat kekhawatiran dan kesedihan yang mendalam.</p><p>Pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah, Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun di pangkuan Aisyah ra. Saat itu dunia seakan berhenti sejenak bagi kaum muslimin.</p><p>Kabar wafatnya Rasulullah menyebar dengan cepat. Banyak sahabat yang tidak mampu menahan kesedihan mereka. Umar bin Khattab bahkan berdiri dengan penuh emosi dan berkata,</p><p><em>“Barang siapa mengatakan bahwa Muhammad telah wafat, maka aku akan memenggal lehernya! Sesungguhnya beliau hanya pergi menemui Tuhannya seperti Nabi Musa.”</em></p><p>Kemudian Abu Bakar datang. Ia masuk ke rumah Aisyah, mendekati jasad Rasulullah SAW, lalu mencium kening beliau sambil berkata dengan penuh haru,</p><p><em>“Wahai Rasulullah, engkau tetap mulia ketika hidup dan ketika wafat.”</em></p><p>Abu Bakar kemudian keluar menemui kaum muslimin dan berkata,</p><p><em>“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tetapi barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”</em></p><p>Kemudian ia membaca firman Allah SWT:</p><p><em>“Sesungguhnya engkau akan mati dan mereka pun akan mati.” (QS Az-Zumar: 30)</em></p><p>Ketika ayat itu dibacakan, para sahabat seakan baru tersadar bahwa Rasulullah benar-benar telah wafat.</p><p>Kesedihan menyelimuti seluruh Madinah.</p><p>Salah satu kisah yang paling mengharukan adalah kisah Bilal bin Rabah. Sejak wafatnya Rasulullah SAW, Bilal merasa sangat berat untuk mengumandangkan adzan di Madinah, karena setiap kali sampai pada kalimat:</p><p><em>“Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…”</em></p><p>suara Bilal selalu terhenti oleh tangis.</p><p>Akhirnya Bilal memutuskan untuk tidak lagi menjadi muadzin di Madinah. Ia berkata bahwa ia tidak sanggup mengumandangkan adzan di kota yang setiap sudutnya mengingatkannya pada Rasulullah.</p><p>Beberapa waktu kemudian Bilal pergi meninggalkan Madinah menuju Syam.</p><p>Namun suatu hari, ketika ia kembali berkunjung ke Madinah, para sahabat dan cucu Rasulullah, Hasan dan Husain, memintanya untuk mengumandangkan adzan sekali lagi. Bilal pun berdiri dan mulai mengumandangkan adzan.</p><p>Ketika suara adzan itu terdengar kembali di Madinah, seluruh kota dipenuhi tangisan. Orang-orang keluar dari rumah mereka, seolah-olah mereka kembali merasakan kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka.</p><p>Madinah hari itu dipenuhi kenangan.</p><p>Tidak ada hari yang lebih menyedihkan bagi kaum muslimin selain hari wafatnya Rasulullah SAW.</p><p><strong>Setitik Pelajaran dari Samudra Teladan Rasulullah SAW</strong></p><p>Barangkali tulisan ini tidak lebih dari selembar catatan kecil di tengah luasnya samudra kisah kehidupan Rasulullah SAW. Begitu banyak peristiwa, teladan, dan kebijaksanaan beliau yang belum sempat tersentuh oleh kata-kata dalam tulisan ini. Kehidupan beliau laksana cahaya yang tak pernah padammenerangi perjalanan manusia dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi.</p><p>Apa yang tertulis di sini hanyalah serpihan kecil, mungkin bahkan hanya setitik debu dari luasnya teladan yang beliau tinggalkan. Namun jika dari serpihan kecil ini tumbuh rasa cinta, kekaguman, dan keinginan untuk meneladani akhlak beliau, maka tulisan sederhana ini telah menemukan maknanya.</p><p>Sebab pada akhirnya, kisah Rasulullah SAW bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin bagi kehidupan kita hari ini tentang bagaimana bersikap dengan lembut, berlaku adil, mencintai dengan tulus, dan hidup dengan penuh kemuliaan akhlak.</p><p>Semoga dari membaca kisah-kisah ini, hati kita semakin dekat kepada Rasulullah SAW, langkah kita semakin mengikuti jejaknya, dan kelak kita dipertemukan dengan beliau di telaga Al-Kautsar.</p><p>Aamiin ya Rabbal ‘alamin.</p><p>Referensi</p><p>· Sahih Bukhari №240, 3856</p><p>· Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam</p><p>· Ar-Raheeq Al-Makhtum — Shafiur Rahman al-Mubarakpuri</p><p>Writer — Ardiva.terra</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5fd1049ac52e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Dari Bara Menjadi Cahaya]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/dari-bara-menjadi-cahaya-0dab2eac1375?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0dab2eac1375</guid>
            <category><![CDATA[nabi-ibrahim]]></category>
            <category><![CDATA[kisah-nabi]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <category><![CDATA[kisah-nabi-ibrahim]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 10 Mar 2026 12:47:16 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-10T12:49:48.622Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/640/1*YRDzvF-qA51hpsrTldyO2A.jpeg" /><figcaption><em>Foto: Dok. pinterest.com</em></figcaption></figure><p><strong>Api yang Menjadi Sejuk, Hati yang Tak Pernah Padam</strong></p><p>Di tanah Babilonia yang megah namun gelap oleh kesyirikan, lahirlah seorang anak yang kelak mengguncang langit keimanan manusia. Ia adalah Nabi Ibrahim bin Azar. Di masa kekuasaan raja zalim, Namrud, manusia sujud kepada batu, dan kebenaran terasa asing.</p><p>Namun Allah telah memilih Ibrahim.</p><p><strong>Pencarian yang Menggetarkan Langit</strong></p><p>Ibrahim tumbuh dengan jiwa yang tak mau tunduk pada kebiasaan tanpa makna. Pada suatu malam, ia memandang bintang yang berkilau.</p><p><strong><em>“Hādzā rabbī.”</em></strong></p><p><strong><em>“Inilah Tuhanku.”</em></strong></p><p>Namun ketika bintang itu tenggelam, ia berkata:</p><p><strong><em>“Lā uḥibbul-āfilīn.”</em></strong></p><p><strong><em>“Aku tidak menyukai yang tenggelam.” (QS. Al-An’am: 76)</em></strong></p><p>Bulan terbit, lebih besar, lebih bercahaya.</p><p><strong><em>“Inilah Tuhanku.”</em></strong></p><p>Tetapi bulan pun menghilang.</p><p><strong><em>“La’in lam yahdinī rabbī la-akūnanna minal-qaumidh-dhāllīn.”</em></strong></p><p><strong><em>“Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat.”</em></strong></p><p>Matahari pun terbit, agung dan menyilaukan.</p><p><strong><em>“Inilah yang lebih besar.”</em></strong></p><p>Namun ketika ia tenggelam di ufuk barat, Ibrahim berdiri dengan ketegasan seorang pencari kebenaran:</p><p><strong><em>“Yā qaumi innī barī’un mimmā tusyrikūn.”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”</em></strong></p><p><strong><em>“Innī wajjahtu wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfā.”</em></strong></p><p><strong><em>“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi.” (QS. Al-An’am: 78–79)</em></strong></p><p>Sejak malam itu, tauhid menyala dalam dadanya seperti matahari yang tak pernah tenggelam.</p><p><strong>Dialog Cinta dan Luka dengan Sang Ayah</strong></p><p>Dengan hati lembut, Ibrahim mendekati ayahnya.</p><p><strong><em>“Yā abati, lima ta’budu mā lā yasma’u wa lā yubṣiru wa lā yughni ‘anka syai’ā?”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (QS. Maryam: 42)</em></strong></p><p>Ia tidak membentak. Ia tidak merendahkan.</p><p><strong><em>“Yā abati, innī qad jā’anī minal-‘ilmi mā lam ya’tika, fattabi’nī ahdika ṣirāṭan sawiyyā.”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai ayahku, sungguh telah datang kepadaku ilmu yang tidak datang kepadamu. Ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 43)</em></strong></p><p>Namun jawaban ayahnya tajam seperti batu yang ia pahat sendiri:</p><p><strong><em>“Arāghibun anta ‘an ālihatī yā Ibrāhīm? La’in lam tantahi la-arjumannaka.”</em></strong></p><p><strong><em>“Apakah engkau membenci tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, sungguh aku akan merajammu.” (QS. Maryam: 46)</em></strong></p><p>Ibrahim menundukkan kepala, bukan karena kalah, tapi karena hormat.</p><p><strong><em>“Salāmun ‘alaik, sa-astaghfiru laka rabbī.”</em></strong></p><p><strong><em>“Semoga keselamatan atasmu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku.” (QS. Maryam: 47)</em></strong></p><p><strong>Berhala yang Hancur, Kesombongan yang Membara</strong></p><p>Saat kaumnya pergi berpesta, Ibrahim memasuki kuil berhala.</p><p>Ia melihat sesaji terhidang.</p><p><strong><em>“Alā ta’kulūn? Mā lakum lā tanṭiqūn?”</em></strong></p><p><strong><em>“Mengapa kalian tidak makan? Mengapa kalian tidak berbicara?” (QS. Ash-Shaffat: 91–92)</em></strong></p><p>Tak ada jawaban.</p><p>Maka kapak pun berbicara. Berhala-berhala kecil hancur berkeping-keping. Hanya satu yang dibiarkan berdiri.</p><p>Ketika kaumnya bertanya:</p><p><strong><em>“A’anta fa’alta hādzā bi-ālihatinā yā Ibrāhīm?”</em></strong></p><p><strong><em>“Apakah engkau yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami?”</em></strong></p><p>Ibrahim menjawab:</p><p><strong><em>“Bal fa’alahu kabīruhum hādzā fas’alūhum in kānū yanṭiqūn.”</em></strong></p><p><strong><em>“Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya: 63)</em></strong></p><p>Mereka terdiam. Tetapi kesombongan menutup hati.</p><p><strong>Api yang Tunduk pada Perintah Tuhan</strong></p><p>Api dinyalakan. Kobaran membumbung tinggi.</p><p>Dalam sunyi, Ibrahim berbisik:</p><p><strong><em>“Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl.”</em></strong></p><p><strong><em>“Cukuplah Allah menjadi penolongku.”</em></strong></p><p>Lalu turunlah perintah Ilahi:</p><p><strong><em>“Yā nāru kūnī bardan wa salāman ‘alā Ibrāhīm.”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 69)</em></strong></p><p>Api berubah menjadi taman kesejukan.</p><p>Bara menjadi rahmat.</p><p>Dan dunia belajar bahwa kuasa Allah melampaui logika manusia.</p><p><strong>Ujian Cinta: Penyembelihan Putra Tercinta</strong></p><p>Bertahun-tahun kemudian, Ibrahim dikaruniai putra: Nabi Ismail.</p><p>Ketika Ismail tumbuh dewasa, datanglah mimpi yang mengguncang hati.</p><p><strong><em>“Yā bunayya innī arā fil-manām annī adzbaḥuk.”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)</em></strong></p><p>Jawaban sang anak menggetarkan langit:</p><p><strong><em>“Yā abati if‘al mā tu’mar, satajidunī insyāAllāhu minas-ṣābirīn.”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”</em></strong></p><p>Ketika pisau didekatkan, Allah berfirman:</p><p><strong><em>“Yā Ibrāhīm, qad ṣaddaqtar-ru’yā.”</em></strong></p><p><strong><em>“Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” (QS. Ash-Shaffat: 104–105)</em></strong></p><p>Ismail diganti dengan sembelihan agung.</p><p>Air mata berubah menjadi takbir.</p><p><strong>Pelajaran yang Menghidupkan Hati</strong></p><p>Kita belajar bahwa iman perlu keberanian berpikir.</p><p>Bahwa menyampaikan kebenaran harus dengan akhlak.</p><p>Bahwa berdiri sendirian dalam kebenaran lebih mulia daripada bersama kebatilan.</p><p>Bahwa ujian terbesar sering datang dari hal yang paling kita cintai.</p><p>Dan bahwa tawakal adalah kekuatan yang tak terlihat, namun tak terkalahkan.</p><p>Kisah Ibrahim bukan sekadar sejarah suci, tetapi cermin kehidupan.</p><p>Ibrahim dibenci kaumnya, diancam ayahnya, dibakar rajanya, diuji dengan putranya.</p><p>Namun hatinya tak pernah padam.</p><p>Karena bagi Ibrahim, Tuhan bukan sekadar nama.</p><p>Tuhan adalah satu-satunya tempat bersandar.</p><p>Dan hingga hari ini, namanya disebut dalam setiap shalat:</p><p>“Allāhumma ṣalli ‘alā Muhammad wa ‘alā āli Muhammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm…”</p><p>Api mungkin padam.</p><p>Zaman mungkin berubah.</p><p>Namun cahaya tauhid yang diwariskan Ibrahim akan selalu hidup</p><p>di hati orang-orang yang berani mencari, berani taat, dan berani berserah.</p><p>Referensi:</p><p>· QS. Al-An’am: 76–79</p><p>· QS. Maryam: 42–47</p><p>· QS. Al-Anbiya: 51–70</p><p>· QS. Ash-Shaffat: 83–113</p><p>· Ibnu Katsir. (1999). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.</p><p>· M. Quraish Shihab. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.</p><p>· Al-Tabari. (2001). Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.</p><p>Writer — Ardiva.terra</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0dab2eac1375" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Lens Community: Ruang Aman Literasi dan Budaya bagi Generasi Muda]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/lens-community-ruang-aman-literasi-dan-budaya-bagi-generasi-muda-9e904995dc7a?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9e904995dc7a</guid>
            <category><![CDATA[community]]></category>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[lentera]]></category>
            <category><![CDATA[aksara]]></category>
            <category><![CDATA[lens-community]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 03 Mar 2026 23:16:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-03T23:16:30.141Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ns8HsINgWupn3OoyZypmzw.jpeg" /><figcaption>Foto: Indorelawan Awards</figcaption></figure><p>Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan literasi tak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Generasi muda hari ini dihadapkan pada kebutuhan untuk memahami informasi secara kritis, reflektif, dan berkesadaran sosial. Dari kegelisahan itulah Lentera Aksara Community Indonesia hadir sebagai komunitas yang bergerak di bidang literasi, sosial, dan budaya.</p><p>Lentera Aksara Community Indonesia, yang lebih dikenal sebagai <em>Lens Community </em>resmi berdiri pada 2 Desember 2024 sebagai ruang tumbuh bersama bagi generasi muda untuk mengembangkan kapasitas diri, meningkatkan kesadaran sosial, serta menjaga dan merawat nilai-nilai budaya di tengah dinamika zaman.</p><p>Lens Community hadir sebagai ruang aman dan inspiratif bagi anak muda untuk belajar, berdialog, dan berkolaborasi. Melalui pendekatan edukatif, reflektif, dan partisipatif, Lens mendorong generasi muda untuk berani bersuara, berpikir kritis, serta berperan aktif sebagai agen perubahan di lingkungannya masing-masing.</p><p>Meskipun Indonesia telah mencapai tingkat melek huruf yang tinggi di kalangan usia 15–24 tahun, tantangan literasi masih nyata dalam praktik budaya membaca, pemahaman kritis terhadap informasi, serta kemampuan merefleksikan isu sosial secara mendalam. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus dorongan bagi Lens Community untuk memperkuat budaya literasi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kontekstual dan bermakna.</p><p><strong>Program Berbasis Partisipasi dan Media Digital</strong></p><p>Sebagai komunitas yang tumbuh bersama generasi digital, Lens Community mengembangkan berbagai program yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan anak muda. Program-program ini dirancang untuk mendorong partisipasi aktif, memperluas jangkauan literasi, serta membangun budaya berpikir kritis melalui media digital.</p><p>Salah satu program unggulan adalah <strong><em>Campaign</em></strong><em>,</em> yaitu kegiatan berbasis media dan partisipasi publik yang bertujuan menumbuhkan kesadaran literasi, minat baca, serta budaya berpikir kritis. Program ini dikemas melalui konten kreatif, tantangan menulis, dan narasi reflektif yang mendorong audiens terlibat aktif serta menyebarkan nilai literasi secara luas.</p><p>Program ini mencatat <em>1.171</em> pendaftar volunteer campaign, dengan <em>966</em> volunteer terlibat aktif dan <em>143</em> konten terpilih sebagai Best Post of the Day, dengan jangkauan wilayah Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, Kepulauan Bangka Belitung, hingga partisipasi internasional dari Kuala Lumpur, Malaysia.</p><p>Selain itu, <em>Webinar Literasi</em> menjadi forum diskusi daring yang menghadirkan narasumber kompeten untuk membahas isu literasi, sosial, dan budaya. Program ini telah diikuti oleh <em>1.202</em> peserta dengan jangkauan wilayah Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT, Papua Barat Daya, serta partisipasi internasional dari Filipina.</p><p><strong>Ruang Dialog, Refleksi, dan Pertukaran Gagasan</strong></p><p>Lens Community juga menghadirkan berbagai program dialog interaktif sebagai ruang bertukar gagasan dan pengalaman. <em>Talkshow Bersama Lens </em>mempertemukan generasi muda dengan tokoh, praktisi, dan pegiat literasi melalui format yang komunikatif dan partisipatif, sehingga mendorong kesadaran kolektif terhadap isu sosial dan budaya.</p><p><em>Bedah Buku</em> menjadi ruang diskusi terarah yang membahas gagasan dan nilai dari karya literatur, sekaligus mengaitkannya dengan konteks kehidupan sosial dan budaya yang relevan. Program ini mendorong peserta untuk membaca secara kritis dan reflektif.</p><p>Sementara itu, <em>Sharing with Founder</em> menghadirkan sesi berbagi bersama para pendiri komunitas dan inisiatif sosial. Program ini memberikan wawasan tentang kepemimpinan, pengelolaan komunitas, serta proses membangun gerakan yang berdampak dan berkelanjutan.</p><p>Untuk penguatan internal, Mentoring Session dirancang sebagai program pendampingan yang bertujuan mengembangkan kapasitas diri, keterampilan literasi, serta potensi kepemimpinan tim secara terarah dan berkelanjutan.</p><p><strong>Literasi yang Dekat dengan Kehidupan Anak Muda</strong></p><p>Melalui media sosial, Lens Community menghadirkan Dialog Kata, sebuah program Live Instagram yang berfokus pada diskusi reflektif bersama narasumber dari berbagai latar belakang. Program ini membuka ruang dialog terbuka dan mendorong generasi muda untuk berpikir kritis terhadap isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.</p><p>Di bulan Ramadan, Lens Community menyelenggarakan <em>Lentera Ramadan dan NgabubuRead</em>, dua program Live Instagram yang memadukan literasi, refleksi spiritual, dan diskusi buku. Program ini mengajak generasi muda memaknai Ramadan secara lebih sadar, produktif, dan berdampak.</p><p><strong>Jangkauan Volunteer dan Dampak Gerakan</strong></p><p>Dalam satu tahun perjalanannya, Lens Community telah melibatkan <em>204</em> pendaftar volunteer, dengan <em>79</em> volunteer terpilih yang aktif berkontribusi dalam berbagai program. Jangkauan volunteer dan peserta Lens Community meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, Kepulauan Bangka Belitung, hingga Batam, serta partisipasi internasional dari China.</p><p>Secara keseluruhan, keterlibatan ini menunjukkan bahwa Lens Community telah menjangkau audiens dari Sabang hingga Merauke, serta mulai memperluas dampaknya ke tingkat internasional.</p><p><strong>Kolaborasi dan Apresiasi</strong></p><p>Dalam perjalanannya, Lens Community aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya Baraja Amphitheater, MNC Sekuritas, berbagai komunitas, serta stakeholder lainnya sebagai bagian dari upaya memperluas dampak gerakan literasi. Lens Community juga memperoleh apresiasi melalui Indorelawan Awards sebagai organisasi terpilih, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi nyata dalam gerakan sosial dan literasi.</p><p><strong>Menyalakan Lentera Perubahan</strong></p><p>Bagi Lens Community, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan alat untuk membangun kesadaran, empati, dan keberanian berpikir. Dengan mengusung semangat kolaborasi, refleksi, dan kearifan lokal, serta tagline “Satu Lensa, Banyak Cerita”, Lens Community terus menyalakan lentera perubahan dimulai dari ruang-ruang kecil, percakapan sederhana, dan keterlibatan anak muda yang konsisten.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9e904995dc7a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Perjalanan Iman Nabi Musa: Dari Sungai Nil hingga Laut Terbelah]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/perjalanan-iman-nabi-musa-dari-sungai-nil-hingga-laut-terbelah-5d8965980e9b?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5d8965980e9b</guid>
            <category><![CDATA[nabi-musa]]></category>
            <category><![CDATA[kisah-islami]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <category><![CDATA[islamic]]></category>
            <category><![CDATA[kisah-nabi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 27 Feb 2026 04:56:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-27T04:56:45.909Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*fb5G62zr-RZ6J0zYCwAZfA.jpeg" /><figcaption>hajinews.co.id<strong> — Mas Ruhi</strong></figcaption></figure><p><strong>Lahir di Tengah Ancaman</strong></p><p>Musa ‘alaihissalam lahir bukan di masa damai. Ia lahir di bawah bayang-bayang pedang.</p><p>Firaun saat itu memerintahkan agar setiap bayi laki-laki Bani Israil dibunuh. Ia takut pada ramalan tentang seorang anak yang kelak akan meruntuhkan tahtanya. Ketakutan membuatnya kejam.</p><p>Di rumah sederhana itulah Musa dilahirkan. Seorang ibu memeluk bayinya dengan cemas antara cinta dan rasa takut.</p><p>Lalu Allah memberi ilham kepadanya:</p><p><strong><em>“Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir maka hanyutkanlah dia ke sungai. Janganlah engkau takut dan jangan bersedih; sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya seorang rasul.” (QS. Al-Qashash: 7)</em></strong></p><p>Secara manusia, itu perintah yang terasa mustahil.</p><p>Menghanyutkan bayi ke sungai?</p><p>Tapi iman kadang meminta kita melepas, agar Allah yang menjaga.</p><p>Dan sungai itu tidak menjadi kuburannya. Ia justru menjadi jalan menuju takdir.</p><p><strong>Diselamatkan di Rumah Musuh</strong></p><p>Bayi itu ditemukan oleh keluarga Firaun. Ironisnya calon penghancur kekuasaan justru dibesarkan di dalam istana.</p><p>Ketika Firaun ingin membunuhnya, istrinya berkata:</p><p><strong><em>“Ia penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya.” (QS. Al-Qashash: 9)</em></strong></p><p>Allah membolak-balikkan hati manusia.</p><p>Musa tumbuh di rumah orang yang mengaku sebagai tuhan. Ia melihat kekuasaan, kemewahan, dan kesombongan dari jarak dekat. Tapi Allah menjaga hatinya.</p><p>Dan ketika Musa menolak semua perempuan yang hendak menyusuinya, Allah mempertemukannya kembali dengan ibunya sendiri <strong><em>(QS. Al-Qashash: 12–13).</em></strong></p><p><strong>Kesalahan yang Mengubah Arah Hidup</strong></p><p>Suatu hari, Musa melihat seorang Bani Israil dipukul oleh lelaki Mesir. Musa menolongnya dan pukulannya membuat lelaki itu meninggal.</p><p>Ia terdiam. Ia sadar.</p><p>Dengan hati yang gemetar ia berdoa:</p><p><strong><em>“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” (QS. Al-Qashash: 16)</em></strong></p><p>Allah mengampuninya.</p><p>Tapi situasi tidak lagi aman. Musa harus pergi. Ia meninggalkan Mesir, berjalan sendirian menuju Madyan.</p><p>Di sana, ia membantu dua perempuan mengambil air. Lalu ia berdoa dengan lirih:</p><p><strong><em>“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)</em></strong></p><p>Doa itu sederhana. Tidak panjang. Tidak rumit.</p><p>Tapi dari doa itu, Allah memberinya tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarga.</p><p>Kadang Allah membentuk hamba-Nya dalam kesunyian sebelum memberinya panggung besar.</p><p><strong>Panggilan di Bukit Thursina</strong></p><p>Dalam perjalanan kembali ke Mesir, Musa melihat cahaya api di Bukit Thursina. Ia mendekat.</p><p>Tiba-tiba terdengar panggilan:</p><p><strong><em>“Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu…” (QS. Thaha: 11–12)</em></strong></p><p>Di tempat sunyi itu, Allah berbicara kepadanya.</p><p>Musa dipilih menjadi rasul. Ia diberi mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular, tangan yang bercahaya.</p><p>Namun Musa tetap manusia. Ia merasa takut. Ia berkata:</p><p><strong><em>“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25–28)</em></strong></p><p>Dan ia meminta agar saudaranya, Harun, menjadi pendampingnya.</p><p>Allah mengabulkan.</p><p>Musa kembali ke istana, bukan sebagai anak angkat, tapi sebagai utusan Allah.</p><p>Ia berkata:</p><p><strong><em>“Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam. Lepaskanlah Bani Israil bersama kami.” (QS. Asy-Syu’ara: 16–17)</em></strong></p><p>Firaun bertanya dengan nada meremehkan:</p><p><strong><em>“Siapakah Tuhanmu itu, wahai Musa?” (QS. Thaha: 49)</em></strong></p><p>Musa menjawab dengan tenang:</p><p><strong><em>“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuknya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 50)</em></strong></p><p>Jawaban yang sederhana, tapi menghancurkan kesombongan logika manusia.</p><p>Namun Firaun menolak. Bahkan ia berkata:</p><p><strong><em>“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)</em></strong></p><p>Kesombongan telah menutup hatinya.</p><p><strong>Mukjizat yang Menggetarkan</strong></p><p>Firaun mengumpulkan para penyihir. Mereka melemparkan tali-tali mereka, dan tampak seperti ular-ular yang bergerak.</p><p>Musa sempat merasa gentar.</p><p>Lalu Allah berfirman:</p><p><strong><em>“Janganlah engkau takut, sesungguhnya engkaulah yang paling unggul.” (QS. Thaha: 68)</em></strong></p><p>Musa melemparkan tongkatnya. Tongkat itu berubah menjadi ular besar yang menelan semua tipuan mereka.</p><p>Para penyihir langsung sujud.</p><p><strong><em>“Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.” (QS. Al-A’raf: 122)</em></strong></p><p>Ancaman tidak lagi berarti bagi hati yang sudah mengenal kebenaran.</p><p><strong>Laut yang Terbelah</strong></p><p>Malam itu Musa membawa Bani Israil pergi. Firaun mengejar.</p><p>Di depan mereka laut.</p><p>Di belakang mereka pasukan bersenjata.</p><p>Kaumnya panik:</p><p><strong><em>“Sesungguhnya kita pasti tersusul!” (QS. Asy-Syu’ara: 61)</em></strong></p><p>Musa menjawab dengan keyakinan yang tak tergoyahkan:</p><p><strong><em>“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”</em></strong></p><p><strong><em>(QS. Asy-Syu’ara: 62)</em></strong></p><p>Allah memerintahkan Musa memukul laut dengan tongkatnya.</p><p>Dan laut pun terbelah.</p><p>Air menjulang seperti dinding. Jalan terbuka di tengahnya.</p><p>Yang tertindas berjalan selamat.</p><p>Yang sombong tenggelam.</p><p><strong>Bersama-Nya, Selalu Ada Jalan</strong></p><p>Beliau tidak tumbuh di rumah para nabi,</p><p>melainkan di lorong istana seorang tiran yang mengaku tuhan.</p><p>Di tengah kemewahan yang angkuh, Allah menjaga hatinya tetap tunduk.</p><p>Beliau pernah tergelincir dalam kesalahan, namun tidak membiarkan dosanya menjadi tempat tinggal.</p><p>Ia kembali, memohon ampun, dan bangkit lebih kuat.</p><p>Di tepi laut itu, ketika ombak berdiri seperti dinding</p><p>dan pasukan mengejar tanpa jeda,</p><p>segala arah tampak tertutup.</p><p>Laut terbelah bukan hanya untuk menyelamatkan Bani Israil.</p><p>Ia menjadi simbol bahwa ketika iman berdiri tegak, batas yang tampak mustahil pun bisa runtuh.</p><p>Karena bagi hati yang yakin,</p><p>kebuntuan hanyalah jeda sebelum keajaiban.</p><p>Kadang dalam hidup, kita juga berdiri di “tepi laut” kita sendiri</p><p>masalah di depan, tekanan di belakang, dan jalan terasa tertutup.</p><p>Namun selama kita masih bisa berkata,</p><p><strong><em>“Sesungguhnya Tuhanku bersamaku.”</em></strong></p><p>Maka selalu ada jalan, meski belum terlihat.</p><p>Selalu ada pertolongan, meski belum terasa.</p><p>Dan selalu ada rencana Allah yang lebih besar dari rasa takut kita.</p><p>Karena pada akhirnya, bukan lautnya yang menentukan keselamatan,</p><p>melainkan kepada siapa hati itu bersandar.</p><p>Referensi:</p><p>· Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Qashash, Thaha, Al-A’raf, Asy-Syu’ara, Yunus, An-Nazi’at.</p><p>· Ibnu Katsir, Qashash Al-Anbiya’.</p><p>· Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk.</p><p>Writer — Ardiva.terra</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5d8965980e9b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Di Antara Bahtera dan Gunung]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/di-antara-bahtera-dan-gunung-8440334223ad?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8440334223ad</guid>
            <category><![CDATA[kisah-nabi]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <category><![CDATA[nabi-nuh]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah-islam]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 23 Feb 2026 23:08:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-24T12:58:19.989Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/768/1*kxQTRg5FKx9-K_e6IGQ4eg.jpeg" /><figcaption>hajinews.co.id<strong> — Mas Ruhi</strong></figcaption></figure><p><strong>Seruan Tauhid Nabi Nuh dan Tragisnya Pembangkangan Kaumnya</strong></p><p>Ada masa ketika manusia mulai lupa.</p><p>Bukan lupa cara hidup.</p><p>Bukan lupa membangun peradaban.</p><p>Tetapi lupa kepada Tuhannya.</p><p>Di tengah mereka, dahulu pernah hidup orang-orang saleh.</p><p>Mereka dicintai karena ketaatan.</p><p>Dihormati karena kebajikan.</p><p>Nama-nama itu adalah:</p><p>Wudd, Suwa’, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.</p><p>Al-Qur’an mengabadikannya:</p><p><strong>“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula kamu meninggalkan Wudd, Suwa’, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.’” (QS. Nuh: 23)</strong></p><p>Awalnya hanya kenangan.</p><p>Lalu dibuatlah patung sebagai simbol penghormatan.</p><p>Agar generasi setelahnya mengingat kebaikan mereka.</p><p>Namun waktu mengikis niat.</p><p>Generasi berganti.</p><p>Makna berubah.</p><p>Yang tadinya simbol, menjadi perantara.</p><p>Lalu berubah menjadi sesembahan</p><p>Dan di tengah dunia yang bergeser dari tauhid, Allah mengutus seorang hamba pilihan-Nya.</p><p>Nabi Nuh ‘alaihissalam.</p><p>Beliau adalah nabi ke-3 dalam sejarah kenabian.</p><p>Rasul pertama yang diutus kepada kaum yang telah menyimpang.</p><p>Termasuk golongan Ulul Uzmi yang dikenal karena keteguhan luar biasa.</p><p>Beliau tidak membawa pedang.</p><p>Beliau membawa satu kalimat.</p><p><strong>“Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia.” (QS. Al-A‘raf: 59)</strong></p><p>Kalimat itu sederhana.</p><p>Namun berat bagi hati yang telah nyaman dalam kesalahan.</p><p><strong>950 Tahun yang Sunyi</strong></p><p>Dakwah Nabi Nuh bukan kisah singkat.</p><p>Allah mengabadikannya:</p><p><strong>“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)</strong></p><p>950 tahun.</p><p>Generasi pertama menolak.</p><p>Mereka wafat.</p><p>Anak-anak mereka tumbuh.</p><p>Mereka pun menolak.</p><p>Nabi Nuh tetap berdiri di tempat yang sama.</p><p>Dengan kalimat yang sama.</p><p>Siang dan malam beliau menyeru.</p><p><strong>“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.” (QS. Nuh: 5)</strong></p><p>Terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.</p><p>Lembut dan tegas.</p><p>Tanpa lelah.</p><p>Pengikutnya hanya segelintir.</p><p>Di mata dunia, itu mungkin terlihat kecil.</p><p>Namun dalam timbangan langit, itu adalah kesetiaan.</p><p><strong>Telinga yang Ditutup, Hati yang Dikunci</strong></p><p>Al-Qur’an menggambarkan dengan begitu manusiawi:</p><p><strong>“…mereka memasukkan jari-jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya…” (QS. Nuh: 7)</strong></p><p>Mereka tidak ingin mendengar.</p><p>Karena mendengar berarti berpikir.</p><p>Berpikir berarti berubah.</p><p>Dan berubah berarti meninggalkan kenyamanan lama.</p><p>Mereka menertawakan Nabi Nuh.</p><p>Mereka meremehkannya.</p><p>Mereka mempertahankan berhala-berhala mereka.</p><p>Kesombongan membuat mereka merasa aman.</p><p>Padahal yang mereka peluk adalah kehancuran.</p><p><strong>Bahtera di Atas Bukit</strong></p><p>Ketika penolakan mencapai puncaknya,</p><p>Allah memerintahkan sesuatu yang terasa mustahil.</p><p><strong>“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami…” (QS. Hud: 37)</strong></p><p>Sebuah kapal.</p><p>Dibangun di atas bukit.</p><p>Di tanah yang kering.</p><p>Bayangkan tangan seorang nabi yang telah berdakwah 950 tahun, kini memahat kayu.</p><p>Papan demi papan.</p><p>Kayu demi kayu.</p><p>Kaumnya melewati beliau sambil tertawa.</p><p>Namun Nabi Nuh tetap bekerja.</p><p>Karena iman bukan soal terlihat masuk akal, tetapi soal percaya kepada Yang Maha Mengetahui.</p><p><strong>Ketika Langit dan Bumi Bersatu</strong></p><p>Hari itu datang.</p><p><strong>“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah.” (QS. Al-Qamar: 11)</strong></p><p>Langit tidak lagi sekadar menaungi. Ia mencurahkan.</p><p>Bumi tidak lagi sekadar dipijak. Ia memancarkan.</p><p>Air turun dari atas. Air naik dari bawah.</p><p>Gelombang meninggi. Daratan menghilang.</p><p>Di antara gemuruh hujan dan derasnya arus, bahtera itu bergerak.</p><p>Yang selamat hanyalah mereka yang beriman.</p><p><strong>Antara Seorang Ayah dan Seorang Anak</strong></p><p>Di tengah gelombang yang mengamuk, ada satu panggilan yang mengiris sejarah.</p><p>Nabi Nuh melihat putranya.</p><p>Beliau memanggil:</p><p><strong>“Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)</strong></p><p>Itu bukan hanya seruan seorang nabi.</p><p>Itu adalah suara seorang ayah.</p><p>Namun sang anak menjawab:</p><p><strong>“Aku akan berlindung ke gunung yang dapat melindungiku dari air.” (QS. Hud: 43)</strong></p><p>Ia percaya pada ketinggian.</p><p>Bukan pada keimanan.</p><p>Gelombang datang.</p><p>Dan memisahkan keduanya.</p><p>Seorang nabi tidak mampu menyelamatkan anaknya tanpa iman.</p><p>Di titik itu kita belajar:</p><p>hubungan darah tidak pernah lebih kuat dari hubungan dengan Allah.</p><p><strong>Setelah Semua Sunyi</strong></p><p><strong>“Wahai bumi, telanlah airmu; dan wahai langit, berhentilah…” (QS. Hud: 44)</strong></p><p>Air surut.</p><p>Langit kembali terang.</p><p>Bahtera berlabuh di Gunung Judi.</p><p>Dunia lama telah tenggelam.</p><p>Dunia baru dimulai dari orang-orang yang setia.</p><p><strong>Sebelum Air Itu Benar-Benar Datang</strong></p><p>Barangkali hari ini tidak ada hujan deras yang mengguncang bumi.</p><p>Tidak ada bahtera yang sedang dibangun di atas bukit.</p><p>Tidak ada gelombang yang terlihat mengancam.</p><p>Namun bukan berarti kita aman.</p><p>Karena setiap zaman punya “banjir”-nya sendiri.</p><p>Banjir ambisi.</p><p>Banjir kesibukan.</p><p>Banjir validasi.</p><p>Banjir kesombongan yang terasa wajar.</p><p>Kita sering berkata,</p><p>“Aku baik-baik saja.”</p><p>“Aku masih punya waktu.”</p><p>Bukankah itu yang diyakini anak Nabi Nuh? Ia merasa cukup dengan gunungnya.</p><p>Padahal keselamatan bukan soal tinggi tempat berdiri, tetapi siapa yang kita percaya.</p><p>Dan ketika seruan tauhid itu datang kepada kita hari ini, pertanyaannya tetap sama.</p><p>Apakah kita akan naik ke bahtera ketaatan?</p><p>Atau tetap berdiri di kaki gunung yang suatu hari bisa runtuh bersama kesombongan kita?</p><p>Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukan kecerdasan, bukan kekuatan, bukan keturunan.</p><p>Tetapi iman.</p><p>Dan iman itu selalu dimulai dari satu kalimat:</p><p><strong><em>Laa ilaaha illallah.</em></strong></p><p>Referensi:</p><p>· Al-Qur’an Al-Karim (QS. Al-A‘raf: 59 ; QS. Nuh: 5–7, 23 ; QS. Al-‘Ankabut: 14 ; QS. Hud: 37, 42–44 ; QS. Al-Qamar: 11).</p><p>· Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam).</p><p>· Ibnu Katsir, Qashash al-Anbiya’.</p><p>Writer — Ardiva.terra</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8440334223ad" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Nabi Adam dan Siti Hawa: Dari Surga, Ujian, Hingga Rindu Pertama di Bumi]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/nabi-adam-dan-siti-hawa-dari-surga-ujian-hingga-rindu-pertama-di-bumi-b101b2a78f5a?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b101b2a78f5a</guid>
            <category><![CDATA[kisah-nabi]]></category>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <category><![CDATA[adam-dan-hawa]]></category>
            <category><![CDATA[surga]]></category>
            <category><![CDATA[nabi-adam]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 07:06:16 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-20T07:38:40.513Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/850/1*3P60vCCof9uPvchCe1-LVg.jpeg" /><figcaption>Foto/Ilustrasi : Getty Images</figcaption></figure><p>Ramadhan adalah bulan kembali.</p><p>Dan kisah tentang “kembali” pertama dalam sejarah manusia dimulai dari Nabi Adam‘alaihissalam.</p><p>Beliau adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Dari tanah, Allah membentuknya dengan sempurna, lalu meniupkan ruh ke dalamnya. Allah mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu sebagai tanda kemuliaan ilmu yang diberikan kepada manusia.</p><p>Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan. Semua malaikat taat.</p><p>Namun Iblis menolak.</p><p>Ia berkata: <strong>“Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”</strong></p><p>Karena kesombongannya, Iblis diusir dari rahmat Allah. Sejak saat itu ia bersumpah akan menyesatkan Adam dan keturunannya.</p><p><strong>Kehadiran Siti Hawa: Awal Ketenteraman</strong></p><p>Setelah Iblis dikeluarkan dari surga, Nabi Adam tinggal seorang diri. Dalam riwayat yang disebutkan oleh para sahabat, Adam berjalan-jalan di surga tanpa pasangan yang dapat menenteramkannya.</p><p>Lalu Allah menciptakan Siti Hawa dari salah satu tulang rusuknya.</p><p>Ketika Adam bangun dari tidurnya, ia melihat seorang wanita di dekatnya.</p><p><strong>“Siapa engkau?” </strong>tanya Adam. <strong>“Aku seorang wanita,” </strong>jawabnya. <strong>“Untuk apa engkau diciptakan?”</strong></p><p><strong>“Agar engkau merasa tenteram bersamaku.”</strong></p><p>Para malaikat bertanya, <strong>“Siapa namanya wahai Adam?”</strong></p><p>Adam menjawab, <strong>“Hawa.” “Mengapa disebut Hawa?”</strong></p><p><strong>“Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.”</strong></p><p>Sejak saat itu, Adam tidak lagi sendiri. Allah berfirman:</p><p><strong>“Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah berbagai makanan dengan nikmat yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35)</strong></p><p>Cinta pertama dalam sejarah manusia dimulai dari ketenangan. Namun cinta juga diuji.</p><p><strong>Godaan Pohon Khuldi</strong></p><p>Allah telah memperingatkan bahwa Iblis adalah musuh bagi Adam dan Hawa:</p><p><strong>“Wahai Adam! Sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga…” (QS. Thaha: 117)</strong></p><p>Namun Iblis datang dengan tipu daya.</p><p><strong>“Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon kekekalan dan kerajaan yang</strong></p><p><strong>tidak akan binasa?” (QS. Thaha: 120)</strong></p><p>Ia bahkan bersumpah atas nama Allah. Karena tidak pernah terbayang ada makhluk yang berani bersumpah dusta dengan nama-Nya, Adam dan Hawa pun terbujuk.</p><p>Mereka memakan buah dari pohon tersebut.</p><p>Saat itu juga aurat mereka terbuka. Mereka merasa malu, sedih, dan segera menutupi diri dengan daun-daun surga.</p><p>Allah berfirman:</p><p><strong>“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan bahwa</strong></p><p><strong>setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf: 22)</strong></p><p><strong>Taubat yang Diterima</strong></p><p>Berbeda dengan Iblis yang menyombongkan diri, Adam dan Hawa justru merendahkan diri. Mereka berdoa:</p><p><strong>“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang- orang yang rugi.”(QS. Al-A’raf: 23)</strong></p><p>Allah menerima taubat mereka. Karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba yang kembali.</p><p>Namun ketetapan Allah berlaku.</p><p><strong>“Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 36)</strong></p><p><strong>Diturunkan Terpisah: Awal Sebuah Rindu</strong></p><p>Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ketika diturunkan ke bumi, Nabi Adam dan Siti</p><p>Hawa tidak berada di tempat yang sama.</p><p>Adam diturunkan di satu tempat. Hawa di tempat yang lain.</p><p>Untuk pertama kalinya, mereka terpisah.</p><p>Dari sanalah lahir sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya di bumi: rindu. Rindu karena kehilangan.</p><p>Rindu karena pernah bersama.</p><p>Rindu karena pernah merasakan ketenangan.</p><p>Adam mencari Hawa. Hawa pun mencari Adam.</p><p>Hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka kembali di bumi. Rindu itu bukan sekadar perasaan.</p><p>Ia menjadi bukti bahwa manusia diciptakan untuk saling melengkapi, namun tetap bergantung sepenuhnya kepada Allah.</p><p><strong>Manusia Asalnya dari Surga</strong></p><p>Hakikatnya, manusia adalah penduduk surga. Kita pernah berasal dari tempat yang suci.</p><p>Dunia hanyalah tempat ujian. Tempat membuktikan ketaatan. Tempat menahan diri dari godaan.</p><p>Nabi Adam mengajarkan kepada keturunannya bahwa hidup di dunia adalah ujian. Ia mengajarkan tauhid, memperingatkan bahaya syirik, dan mengingatkan bahwa setan adalah musuh nyata.</p><p>Hingga akhir hayatnya, beliau tetap menjadi pembimbing bagi manusia.</p><p><strong>Pelajaran Besar untuk Kita</strong></p><p>Dari kisah Nabi Adam dan Siti Hawa, kita belajar:</p><p>- Kesombongan menghancurkan (seperti Iblis).</p><p>- Kesalahan bukan akhir segalanya.</p><p>- Taubat mengangkat derajat manusia.</p><p>- Rindu mengingatkan bahwa kita pernah bersama dan akan kembali.</p><p>Sebesar apa pun dosa kita, mintalah ampun.</p><p>Karena Allah Maha Mengampuni dosa hamba-Nya.</p><p>Manusia asalnya dari surga.</p><p>Maka jangan salah arah dalam perjalanan pulang.</p><p>Ramadhan adalah waktu terbaik untuk kembali. Kembali seperti Adam.</p><p>Dengan taubat yang tulus.</p><p>Wallahu a’lam.</p><p>Sumber dan Referensi:</p><p>Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah: 30–39; QS. Al-A’raf: 11–27; QS. Thaha: 115–123.</p><p>Qashash al‑Anbiya (Kisah Para Nabi) karya Ibnu Katsir.</p><p>Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia</p><p>Artikel ilmiah: Ahmad Fadli, “Penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan Makna Khalifah dalam QS. Al-Baqarah: 30”, Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Vol. 12 №1 (2020).</p><p>Writer - Ardiva.terra</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b101b2a78f5a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[International Sign Language Day]]></title>
            <link>https://medium.com/@lenscommunity/international-sign-language-day-3d9351de8e87?source=rss-5016c7335f14------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3d9351de8e87</guid>
            <category><![CDATA[language]]></category>
            <category><![CDATA[international]]></category>
            <category><![CDATA[sign-language]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Lentera Aksara Community Indonesia]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 23 Sep 2025 03:29:44 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-23T03:44:32.582Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*v9g21-8GOscSX-3N0kPpHg.jpeg" /><figcaption><strong>faktajember.com — Achmad Syaifuddin</strong></figcaption></figure><p>Hari Bahasa Isyarat Internasional diperingati setiap 23 September. Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2017, melalui resolusi A/RES/72/161.</p><p>Tanggal ini dipilih untuk menghormati hari berdirinya World Federation of the Deaf (WFD) pada tahun 1951, sebuah organisasi global yang memperjuangkan hak-hak komunitas Tuli di seluruh dunia.</p><p>Hari Bahasa Isyarat Internasional menjadi pengingat bahwa sign language is a vital part of human rights and cultural diversity. Melalui peringatan ini, dunia diajak untuk mengakui bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas, budaya, dan ekspresi diri komunitas Tuli.</p><p>PBB menegaskan bahwa setiap orang berhak atas equal access to information. Karena itu, International Sign Language Day menjadi momentum untuk mendorong awareness, inclusivity, and accessibility di berbagai bidang.</p><p>Dengan semangat ini, Hari Bahasa Internasional menjadi simbol perjuangan menuju dunia yang lebih adil dan setara, di mana setiap suara baik terdengar maupun terlihat punya arti yang sama.</p><p>FUN FACTS</p><ul><li>United Nations recognizes sign languages as equal to spoken languages artinya bahasa isyarat diakui punya kedudukan yang sama pentingnya dengan bahasa lisan.</li><li>Ada lebih dari 300 different sign languages yang digunakan di seluruh dunia.</li><li>Bahasa isyarat juga punya dialek lokal di beberapa negara, termasuk Indonesia dengan variasi BISINDO di tiap daerah.</li><li>Emoji 🤟 (I love you in sign language) jadi simbol yang sering dipakai untuk merayakan Hari Bahasa Isyarat.</li></ul><p>Referensi</p><p>United Nations. <em>International Day of Sign Languages. </em>Diakses dari <a href="https://www.un.org/en/">https://www.un.org/en/</a>observances/sign-languages-day</p><p>nited Nations. <em>International Day of Sign Languages — Department of Economic and Social Affairs. </em>Diakses dari <a href="https://www.un.org/development/desa/disabilities/news/dspd/international-day-sign-languages.html?utm_source=chatgpt.com">https://www.un.org/development/desa/disabilities/news/dspd/international-day-sign-languages.html</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3d9351de8e87" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>