<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by swara. on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by swara. on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@svvrla?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*CFvdMsOfWvz2CfMkVjm4bg.jpeg</url>
            <title>Stories by swara. on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@svvrla?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Mon, 29 Jun 2026 16:08:56 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@svvrla/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Jarak Kita Sejauh Gigi Susumu Tanggal]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/jarak-kita-sejauh-gigi-susumu-tanggal-7a547751fc03?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7a547751fc03</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 04 Jun 2026 20:27:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-06-04T20:27:46.502Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*9feoF9JBz6MLZZ8Kqmf3og.png" /><figcaption>satu hal yang kusimpan dari malam itu. — diabadikan oleh penulis</figcaption></figure><p>Kita berbincang lagi malam ini.</p><p>Tawamu tak ada di sini, tetapi kuharap kau tertawa sepuas-puasnya di sana, tanpa perlu merisaukan hari esok yang belum datang. Aku memang tak pandai menghitung hari, namun nyatanya aku tahu cara cemburu.</p><p><em>Aku cemburu pada ujung jarum jam yang menggantung di dinding.</em> Aku melihat bagaimana waktu mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi bagianku, lalu berjalan pergi bersamanya tanpa pernah membagi sedikit pun atau menungguku menyusul.</p><blockquote><em>“Sampai jumpa lagi.”</em></blockquote><p>Kalimat itu kita ucapkan malam itu. Bersama dalam sunyi. <strong>Dalam kata-kata yang sampai tanpa suara.</strong></p><p>Tak lagi kita menoleh ke belakang, karena sama-sama sadar bahwa sampai jumpa antara aku dan kamu bukanlah perkara besok atau lusa.</p><p>Detik dan ruang tampaknya sedang bersekongkol, berlakon bak antagonis yang terlalu menikmati perannya.</p><p>Mereka terus memperlebar celah di antara kita, mendorong perlahan, hingga akhirnya menetapkan bahwa aku dan kamu tak lagi berdiri pada halaman yang sama.</p><p><strong>Jarak antara kita sejauh tanggal gigi susumu.</strong></p><p>Sejauh lelucon-leluconmu yang dahulu hanya kunikmati dalam bentuk wajah cemberut, karena tak seorang pun sadar bahwa itulah bentuk candamu.</p><p><em>Aku merindu.</em></p><p>Sudah kutitipkan salamku kepada jangkrik yang bersyair di malam hari, kepada siput besar yang berjalan lambat di pagi hari, dan kepada angin darat yang mungkin suatu saat akan mengarungi laut lalu singgah di halaman rumah kita.</p><p>Namun rupanya waktu tidak menerima sekadar itu, ia menagih pembayaran.</p><p>Dan perlahan diambilnya, suaramu yang dahulu begitu akrab, kini mulai samar di ingatanku.</p><p>Kisah kita masih panjang. Mimpi-mimpi kita masih melesat jauh melampaui batas yang dapat dijangkau peta. Kita saling memahami dengan cara yang sulit dijelaskan kepada orang lain.</p><p>Kau mengerti aku bahkan sebelum kau sadar siapa diriku dalam hidupmu.</p><p>Dan kita sama-sama tahu satu hal</p><blockquote>Kita adalah dua orang yang paling tidak tahan menahan rindu.</blockquote><p>Maka mana mungkin aku memaksamu tampil di balik layar ponsel yang hanya mampu membawa kata-kata? Kita berdua tahu, kata-kata saja tidak pernah cukup.</p><p><strong>Tidak untuk kita.</strong></p><p>Jarak kita sejauh perubahan satu kalimat sederhana.</p><p>Dari <em>“pergilah lama-lama”</em> menjadi <em>“pulanglah cepat ke sini.”</em></p><p>Dan setelah semua itu, aku hanya mampu menjawab,</p><p><em>“Nanti ya. Kapan-kapan.”</em></p><p>Padahal sejak detik pertama wajahmu muncul di layar kecil itu, yang kulihat bukanlah senyum. Yang kulihat adalah sesak yang berdiam di tepi matamu. Meski begitu, senyummu tetap merekah, dan lidahmu tetap lihai merangkai celotehan panjang nan absurd seolah tak bersapanya kita adalah buah yang kau tanam dengan besar hati.</p><p>Dan seperti biasa, aku tetap menimpali.</p><p>Bukan karena aku tak merasa.</p><p>Tetapi karena rasa senangku melihatmu selalu lebih besar daripada rasa kehilangan yang sedang kita tanggung bersama.</p><p><em>Aku merindu.</em></p><p>Mungkin saat aku kembali nanti, sepatuku sudah tak lagi muat kau pakai. Mungkin tanganku harus sedikit lebih tinggi untuk mengusap kepalamu. Mungkin waktu telah membasuh kita berdua menjadi orang-orang yang berbeda dari yang kita kenal hari ini.</p><p>Namun semoga ketika hari itu tiba, kita tidak terkejut.</p><p>Semoga kita masih dapat mengenali satu sama lain di balik semua perubahan yang telah terjadi.</p><p>Semoga kapan pun hari itu datang, tak ada kata terlambat dalam lembar-lembar cerita yang pemeran utamanya adalah aku dan kamu.</p><p>Dan sampai saat itu tiba, hiduplah dengan bahagia.</p><p>Karena jika waktu terus mengambil banyak hal dariku, aku berharap ia tidak pernah mengambil tawa menggemaskanmu.</p><p><em>Hiduplah dengan bahagia. Sampai kita berjumpa lagi, </em><strong><em>adik kecilku</em></strong><em>.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7a547751fc03" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[kalau aku memang tidak sanggup, bolehkan aku pulang secepatnya walau pagi hari di hari senin]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/kalau-aku-memang-tidak-sanggup-bolehkan-aku-pulang-secepatnya-walau-pagi-hari-di-hari-senin-2b1b0cde7ffb?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2b1b0cde7ffb</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 16 May 2026 00:14:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-16T00:14:58.589Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*RrLS5NstC4PCv2Ep9XFaHA.jpeg" /><figcaption>mentari menyeruak masuk menanyakan kabar sekilas</figcaption></figure><p>senin pagi alam rasanya siap dengan minggu panjang, senin sampai jumat, hanya untuk menyambut sabtu dan minggu yang harinya lekas luruh seperti embun di punggung daun.</p><blockquote>ada kalanya aku tak tau ini hari apa.</blockquote><p>tak ayal selasa, jumat atau minggu semuanya hanya terasa bak lorong panjang tak mungkin.</p><p>oh bukan karena hidup tak memberiku bahagianya, aku justru hidup dari serpih-serpih kecil kebahagiaan itu.</p><p>aku suka embun pagi di tanaman yang ku lewati setiap lari pagi, aku suka rangkaian playlist yang terputar di telepon genggamku di sela sela waktu senggangku, akupun suka kala langit menjadi jingga lalu menghilang di sore hari. lalu jangan tanyakan kala gelap menelan seluruh cahaya dan hiruk pikuk perkotaan ini, ia adalah alunan puisi yang paling suka ku baca bait baitnya.</p><p>kala kau lihat aku tersenyum bak bunga matahari merekah mernyeruah kuning menatap mentari dengan yakin, tak usah ragu itu hanya keliru penilaian sepihakmu, aku memang seperti itu.</p><p>hanya memang aku suka bersyair dengan kematian, dan hidup ini adalah untuk bertemu malam panjang yang ku harap harap itu.</p><p>diam-diam aku jatuh cinta pada gagasan tentang pulang.</p><p>tentang sebuah malam panjang</p><p>yang tak lagi meminta siapa pun bertahan.</p><p>maka bila suatu hari aku memilih pulang dengan berita di laman pertama mesin pencarian, berkenankah kau mengamini bahwa hidupku bahagia dan aku tak ingin mengaburkan seluruh warna indah yang telah semesta titipkan padaku.</p><p>tak usah khawatir jikalau hidupku di kisahkan yang lain tak ada sudut berseminya. kau yang paling tau aku.</p><p>memang akan begitu kalau seseorang memilih pulang tak dijemput. selalu tampak seperti kehilangan arah.</p><p><strong>karena kalau tak begitu akan bunga matahari pun memilih menoleh pada kematian.</strong></p><p>kalau aku hidup hari ini setelah bertemu kamu maka ketahuilah aku ingin jalan jalan lagi denganmu hari ini. kalau sebulan kemudian pun kau masih menemukanku dengan kaos kaki beda warna, kau tau aku menantikan jalan jalan berikutnya walau harus menunggu satu bulan penuh.</p><p>jadi jangan pernah sesali apapun itu atas aku.</p><p>kalau aku pulang terburu buru itu karena sabtu minggu kemarin adalah hari terbaik sehingga aku tak mau menunggu menjalani senin sampai jumat.</p><p>maaf mungkin tak akan sempat mengucap selamat tinggal, nanti aku akan terlambat karena akan menunggu sebulan lagi.</p><p>kalau aku pulang terburu buru di senin pagi taruhlah bunga daisy di tempat yang terjangaku olehmu, lalu pamitlah secepatnya sebelum bismu terlewat.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2b1b0cde7ffb" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[15–Aku ingin pergi lebih jauh]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/15-aku-ingin-pergi-lebih-jauh-b3e3c4ef7a27?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b3e3c4ef7a27</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 01 May 2026 21:28:50 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-01T21:28:50.905Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Sudah saatnya aku kembali.</p><p>Rasa sakit dan penyesalan ternyata tidak mereda seiring waktu.<br>Ia justru menghujam lebih dalam — seperti serpihan kayu kecil yang perlahan menginfeksi sekitarnya.</p><p>Aku takut.<br>Rasanya aku tidak siap menghadapi besok pagi.<br>Atau mungkin bukan pagi — aku takut pada pergerakan jarum jam, pada pergantian angka di layar ponselku.</p><p>Tapi semakin lama, aku semakin yakin</p><p>ini harus dilewati.</p><p>Bukan tanpa rasa berat, bukan tanpa rasa bersalah.<br>Semua itu akan kugenggam, kupeluk, dan kubawa bersamaku.<br>Pasti berat, tapi aku akan melakukannya.</p><p>Karena ada sesuatu di depan sana yang masih membuatku bertanya-tanya<br>itu apa?</p><p>Aku pernah merasakannya.<br>Dan aku ingin melihatnya lagi — lebih jauh, lebih luas.</p><p>Aku ingin bertemu lebih banyak.<br>Aku haus.<br>Aku ingin.<br>Dan kali ini, aku yakin aku bisa.</p><p>Mungkin ada sisi baik yang tertanam dalam diriku, tapi aku tidak sebaik itu.<br>Aku tidak sampai di sini karena kebaikan semata, aku sampai di sini karena keinginanku.<br>Karena aku menginginkan sesuatu yang besar.</p><p>Aku juga bukan orang yang sepenuhnya bertanggung jawab.<br>Rasa bersalah itu akan tetap ada — akan kututup, sambil kutebus dengan seluruh yang ku punya.</p><p>Siapa pun yang belum lunas akan kubayar sepanjang hidupku.</p><p>Tapi kali ini aku tidak akan berhenti.</p><p>Caranya akan berbeda.<br>Kali ini akan kubuat menyenangkan, untuk diriku sendiri.</p><p>Akan kukejar sampai ke ujung semesta.<br>Aku tidak akan berhenti.</p><p>Ternyata bulan malam ini indah.</p><p>Di ulang tahunku nanti, seharusnya bulannya penuh. <br>Kali ini aku akan merayakan uang tahunku dengan benar.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b3e3c4ef7a27" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cinta]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/cinta-f1f51f2c2407?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f1f51f2c2407</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 18 Jan 2026 19:45:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-18T19:45:26.981Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Cinta adalah baris puisi indah yang belum bisa ku baca dengan lantang</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f1f51f2c2407" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[14–Apa aku Boleh Baik-Baik Saja]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/13-apa-aku-boleh-baik-baik-saja-da106b2facec?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/da106b2facec</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 12 Jan 2026 21:28:14 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-18T18:25:18.428Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Aku berusaha sebaik mungkin, bangun secepat mungkin, berpura pura tidur di jam tidur, dan membalas pesan singkat setepat mungkin.</p><p>Tetapi belakangan, aku mulai merasa hidup ini bisa dijalani kembali, <br>Entah karena aku banyak tersenyum <br>atau karena hidup memang memberikan banyak senyuman di sekitarku.</p><p>Namun apakah boleh? <br>Apakah aku boleh tersenyum atas seluruh hal yang telah ku lakukan. Apakah aku boleh jalan-jalan dan makan es krim rasa coklat setelah semua yang terjadi.</p><p>Bagaimana kalau orang orang yang ku sakiti melihatku<br>Bagaimana kalau orang orang yang sudah kubebani justru semakin terbebani saat melihatku tampak baik-baik saja</p><blockquote>Apa boleh tersenyum <br>dengan kesadaran <br>yang pernah menyusahkan yang lain</blockquote><p>Aku tidak tau, tuhan hanya katakan ketika salah bertaubat dan meminta maaf. Lalu? lalu apa yang dilakukan pendosa itu? apa ia boleh membeli pakaian baru? apa ia boleh mendengarkan musik sambil bersenandung? Apa ia boleh menyapa orang orang yang telah ia sakiti ketika berjumpa dijalan.</p><p>Ah tapi siapa aku sebenarnya mempertanyakan itu, kan aku tidak sebegitu patuhnya pada Entitas Esa Itu. Saat bingung saja berkilah, mencari, membalik balik kitab dan ceramah ummatnya yang setia.</p><p>Kebingungan hanyalah kebingungan, aku dan pikiran ini kan memang selalunya seperti ini, kusut.</p><p>Mungkin ku kembalikan saja, kalau memang masih ada yang mengganggu dan tak termaafkan aku mohon pada Tuhan, walau aku tidak pantas meminta, biarkan orang orang yang telah ku susahkan mendapat bahagianya, rasa puasnya.</p><p>Dan kalau perlu,<br>tidak apa beri aku kesulitan<br>Sedikit untuk membalas perbuatanku.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=da106b2facec" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mengurung Takut dalam Batas 2025]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/mengurung-takut-dalam-batas-2025-f496c192bbf7?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f496c192bbf7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 28 Dec 2025 18:15:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-28T18:15:37.126Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Jeda antara niat dan aksi terkadang hanya sepersekian detik, namut terus saja semesta menarikku sangat dalam, membelokkan ruang dan waktu, sehingga duaniaku bergerak tanpaku dan meninggalkanku. Sesak menghujam seluruh dadaku, menjalar sampai kulit dan ujung kuku. Kepalaku terisi benang-benang saling mengikat, menyimpul,bertumpuk memenuhi seluruh isi kepala hingga tak menyisakan jeda.</p><p>Takut ini terasa kecut, pahit dan gelap. Ia membuatku menciut dan buta, tidak bisa berbuat, tidak bisa berfikir, tidak bisa melihat. Tiba-tiba semuanya terdengar lebih kencang seolah berteriak, namun tanpa tau siapa, di mana, dan mengapa suara-suara itu muncul.</p><p>Takut ini sebenarnya melindungiku dari kecewa. Jarak antara harapan dan kenyataan menjelma jurang tajam penuh penghakiman. Takut ini melindungiku dari salah, dari ceroboh, dari kekecewaan. Takut, ia benci kesalahan dan kekeliruan, ia tak ingin aku bersentuhan dengan semua itu.</p><p>Maka ia menghitung ulang, mengkalkulasi dari awal, menahanku sebentar, yang tidak pernah sebentar. Ia menahanku sampai seluruh salah terasa bisa ditoleransi, sampai melakukan sesuatu dianggap cukup aman dibanding melakukannya dengan benar.</p><p>Aku belum siap untuk bergerak. Aku belum tahu caranya melakukan semuanya dengan benar. Dalam semua yang pertama kali ini, aku takut, sehingga yang kutahu hanya diam.</p><p>Aku menutup luka ini dengan kesadaran akan apa yang menahanku, dan itu cukup untuk saat ini.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f496c192bbf7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Merancang Penutup 2025]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/merancang-penutup-2025-7847f5cf7a34?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7847f5cf7a34</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 28 Dec 2025 17:37:19 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-28T17:37:19.368Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>tulisan ini bukan seperti yang biasanya. bukan tulisan hasil keluh kesah yang mengubur kusut pikiranku di kode kode berbentuk website.</p><p>tulisan ini adalah tulisan di malam tenang dengan jiwa dan raga yang sedang kabur sebentar untuk mencoba bembaca satu tahun penuh dalam satu malam.</p><p>haha. mungkin lebh jauh lagi, mencoba membaca 20 tahun dalam satu malam.</p><p>oh ku tanya gpt dulu saja apa saja yang harus ku lakukan supaya penguraian ini jadi efektif.</p><p>sebentar</p><p>oh… judul baru saja, jangan pernah buka dapur kotormu pada orang orang ;)</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7847f5cf7a34" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[12 — Porsi BuburAyam Hari Ini Terlalu Besar]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/12-porsi-buburayam-hari-ini-terlalu-besar-65d9a863f2e4?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/65d9a863f2e4</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Dec 2025 17:20:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-18T18:24:57.164Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>13 — Porsi BuburAyam Hari Ini Terlalu Besar</h3><p>Hari ini setelah setahun penuh aku ngga makan bubur ayam aku akhirnya bersentuhan indra perasa dengan makanan nomor satu di dunia di list ‘Makanan Favorit Ara’.</p><p>Hari ini, aku mengulang kenangan makan bubur ayam dalam seluruh hidupku, “Oh, sudah lama ya aku tidak makan ini”.</p><p>Aneh.<br>bukankah ini makanan favoritku?</p><p>Jalan pagi makan bubur ayam, <br>Sakit makan bubur ayam, <br>Ada pencapaian sedikit makan bubur ayam, <br>Belanja pagi makan bubur ayam.</p><p>Aneh.</p><p>Aku tidak mungkin tahan tanpa makanan dengan cita rasa luar biasa ini.<br>Tapi… setelah kumakan, rasanya biasa saja.<br>Masih enak, iya.<br>Tapi… biasa saja.</p><p>Aneh.</p><p>OH, <br>TERNYATA AKU TIDAK PERNAH MAKAN MAKANA INI TANPA MAMA.</p><blockquote>oh… ternyata aku tidak pernah makan ini tanpa mama…</blockquote><p>Air mataku menetes, makanan ini tak enak.</p><p>Rasanya seperti semua makanan di dunia, ngga enak kalau tanpa mama.</p><p>Ternyata yang ku sukai bukan bubur ayam ini, yang ku sukai adalah waktu dengan mama. Dengan perempuan hangat itu, bukan bubur hangat ini.</p><p>Aku mau lagi.</p><p>bukan bubur, tapi waktu dengan mama.</p><p>Aku ngga mau lagi.</p><p>Ngga mau makan ini tanpa mama.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=65d9a863f2e4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[11 — Aku Takut dengan Hidup]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/11-aku-takut-dengan-hidup-4fce9e33b548?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4fce9e33b548</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 06 Nov 2025 12:53:19 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-06T12:53:42.793Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>12 — Aku Takut dengan Hidup</h3><p>aku mendamba kematian lebih haus dari apa yang ku pikirkan selama ini.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4fce9e33b548" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[11 — Lampuku Remang-remang]]></title>
            <link>https://medium.com/@svvrla/11-lampuku-remang-remang-dc3a4048e966?source=rss-0d36e28dbaac------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/dc3a4048e966</guid>
            <dc:creator><![CDATA[swara.]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 03 Nov 2025 16:58:21 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-03T16:58:21.951Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>11 — Lampuku Remang-remang</h3><blockquote>Tidakkah lampu selalu terang?<br>Namun aneh,<br>mengapa lampuku tidak?</blockquote><blockquote>Kilatnya aneh.<br>Tak bisa kukata putih,<br>tapi tidak pula hitam.</blockquote><blockquote>Awalnya aku tidak tahu,<br>hingga kubuka buku<br>ternyata, lampuku remang-remang.</blockquote><p>Seorang anak kecil hidup disinari lampu remang-remang.<br>Ia tidak pernah tahu bahwa lampu bisa lebih binar dari itu.<br>Hidupnya di bawah cahaya remang terasa menyenangkan.</p><p><em>“Tentu saja, karena ia tak pernah tumbuh di bawah lampu lain.”</em></p><p>Ada lampu sorot,<br>yang hanya menyinari satu orang<br>hingga yang lain tampak gelap gulita.</p><p>Ada lampu disko warna-warni,<br>hingga tak ada yang peduli lagi warna pakaian orang lain.</p><p>Ada pula lampu putih terang benderang,<br>yang membuatmu bisa membaca seribu buku<br>tanpa terasa lelah.</p><p>Di antara semua itu,<br>lampunya hanya… remang-remang.<br>Lampu yang hidup segan, mati tak mau.</p><p>Katanya, “Semakin terang cahayanya,<br>semakin gelap bayangannya.”<br>Kalimat keren yang dulu dianggap si anak<br>hanya ocehan orang sok puitis<br>tidak ada artinya.</p><p>Kenapa?<br>Karena di tempatnya,<br>bayangan dan tidak bayangan… sama saja.<br>Lampunya kan remang-remang.</p><p>Katanya semua orang memang unik.<br>Anak ini pun begitu.<br>Bagaimana tidak, di tengah remang-remangnya lampu,ia suka membaca.</p><p>Walau akhirnya matanya semakin buram.<br>Sebenarnya salah satu buku yang ia baca sudah pernahberkata,<br>“Jangan membaca di bawah lampu remang.”<br>Tapi mau bagaimana?<br>Ia tak bisa mengganti lampunya.<br>Sedang ia juga tak mau melepas bukunya.</p><p><strong>Sialnya,<br>ia bahkan tidak sadar bahwa lampunya memang remang.</strong></p><p>Dahulu, sesekali waktu,<br>ia pernah tak sengaja melihat cahaya terang.<br>Namun sayang ia menutup matanya.<br>Kaget.<br>Tak terbiasa.</p><p>Oh, tapi memang semua orang pada akhirnya akan menemukan tempatnya.<br>Seperti tangan dan genggamannya.</p><p>Ia melangkah,<br>pelan tapi pasti,<br>menuju tempat yang lebih terang.</p><p>Oh, ternyata lebih nyaman.<br>Oh, buku yang dibaca bisa lebih banyak.<br>Oh, bayangan memang lebih terlihat.<br>Dan banyak “oh ternyata” lainnya.</p><p>Sayang seribu sayang,<br>matanya sudah terlanjur buram.<br>Ia terpatri dengan cermin persegi itu<br>dan seumur hidup,<br>ia tak pernah bisa menatap cahaya terangnya dengan benar.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=dc3a4048e966" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>