<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by theonlyfauzn on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by theonlyfauzn on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@workshilmi?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*WhHEgZF26Hpy0MTQY938Sw.jpeg</url>
            <title>Stories by theonlyfauzn on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 27 Jun 2026 03:35:02 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@workshilmi/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[14 is my favorite number.]]></title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi/14-is-my-favorite-number-0c4d28600d86?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0c4d28600d86</guid>
            <category><![CDATA[lovestory]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[short-story]]></category>
            <category><![CDATA[teenagers]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[theonlyfauzn]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 16 Mar 2026 19:06:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-16T19:56:07.531Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>maybe it was only a number, but now…..</h4><p>Iya, dulu cuma angka kok bagi gua, 14. <br>Iya, itu tanggal lahir gua, nggak ada yang spesial dari dua digit itu <br>selain jadi alasan orang-orang setahun sekali <br>tiba-tiba inget keberadaan gue.</p><p>Tapi sekarang … <br>gue nggak bisa liat angka itu tanpa senyum yang susah gue sembunyiin.</p><p>Ceritanya nggak dimulai dengan dramatis.</p><p>Nggak ada hujan, <br>nggak ada lagu yang kebetulan cocok, <br>nggak ada momen sinematik yang bisa gue ceritain ke anak cucu dengan gaya seorang penyintas.</p><p>Satu malam, satu meja, dan satu orang yang duduk di samping gue, <br>yang pelan-pelan, tanpa minta izin, <br>bikin gue mikir: <em>oh, jadi ini toh orangnya.</em></p><p>Nomor mejanya 14.</p><p>Dia yang sadar duluan, Gue tau setelah dia nunjukkin senyuman dengan lompatan kecil dari orang pendek dan lucu itu.</p><blockquote>Seketika teriak “LIATT MEJANYA ANGKA 14!”.</blockquote><p>waktu kita udah pulang dan gua iseng foto meja makan kita.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*aRsASzo0G6R-Q05Y3JyIeA.jpeg" /><figcaption>our first table date.</figcaption></figure><p>Dan gue ketawa sendiri di kamar, karena rasanya kayak semesta lagi iseng, nyembunyiin petunjuk di tempat yang paling nggak lo sangka.</p><p>Terus kita sadar akan suatu hal.</p><p>Dia lahir di tanggal 14. <br>Gue lahir di tanggal 14. <br>Kita pertama kali duduk di meja 14. <br>Kita jalan di <em>tanggal yang hampir</em> 14 sih.</p><p>Kebetulan? Gua ga percaya akan hal itu sih.<br>Tapi gue juga bukan orang yang cukup sombong <br>untuk bilang semua ini cuma noise tanpa makna. <br>Karena ada titik di mana “kebetulan” terlalu sering <br>muncul sampai dia nggak layak lagi disebut kebetulan.</p><blockquote>Dia layak disebut <em>tanda.<br></em>Dan tanda itu nggak gue abaikan.</blockquote><p>Jadi sekarang, tiap kali gue liat angka 14.</p><p>Di struk belanjaan, di plat nomor yang lewat, di jam yang pas gue lirik tanpa sengaja, gue nggak lagi ngeliatnya sebagai tanggal lahir gue.</p><p>Gue ngeliatnya sebagai pengingat.</p><p>Bahwa ada seseorang yang semesta kayaknya udah kenalin ke gue jauh sebelum kita beneran saling kenal. <br>Bahwa ada cerita yang baru mulai ditulis, dan gue, <br>untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, <br>nggak sabar nunggu babak selanjutnya.</p><blockquote><em>Cerita ini belum selesai.<br>Dan semoga, 14 masih akan punya banyak hal lagi untuk diceritakan.</em></blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0c4d28600d86" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[i saw a pink blushed today]]></title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi/i-saw-a-pink-blushed-today-f86c50c634e7?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f86c50c634e7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[theonlyfauzn]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 09 Mar 2026 05:51:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-09T05:51:22.036Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>and she can’t handle it.</h4><p>Gue nggak tau namanya warna apa persisnya.</p><p>Bukan merah. <br>Bukan putih. <br>Tapi sesuatu di antaranya, <br>yang muncul sebentar di langit waktu matahari belum bener-bener memutuskan mau terbit atau nggak. <br>Warna yang kayak ragu-ragu. <br>Warna yang kayak <br><em>seseorang yang baru pertama kali bikin lo senyum tanpa lo minta.</em></p><p>Dan anehnya, hari ini gue ngeliat warna itu, bukan di langit.</p><p>Gue belum tau harus merasakan apa.<br>Biasanya perasaan datang dengan instruksi yang cukup jelas, <br>sedih ya nangis, <br>seneng ya ketawa, <br>kangen ya scroll Instagram jam 2 pagi. <br>Tapi yang ini datang tanpa manual. <br>Datang diam-diam, <br>duduk di sudut dada lo, dan waktu lo noleh, <br>dia udah nyengir kayak, <em>“hei, gue udah di sini dari tadi lho.”</em></p><p>Excited? Iya, kayaknya. <br>Bingung? Juga iya. <br>Dua-duanya sekaligus? Mungkin bisa.</p><p>Yang paling mengganggu bukan perasaannya.</p><p>Tapi fakta bahwa warna pink blushed itu nggak pernah lama. <br>Lo tau itu. <br>Siapapun yang pernah bangun pagi dan sempet lihat langit di jam yang tepat, <br>tau bahwa warna itu cuma mampir. <br>Beberapa menit, terus langit memutuskan jadi biru biasa lagi.</p><p>Dan mungkin itu juga yang bikin lo nggak berani terlalu excited.</p><p>Karena ada bagian kecil di kepala lo yang udah bisik-bisik duluan: <br><em>jangan terlalu sering lihat ke sana. nanti kamu terbiasa. dan sesuatu yang indah akan terasa biasa kalau kamu terlalu lama menatapnya.</em></p><p>Tapi hari ini, gue lihat.</p><p>Gue lihat dan gue diam. <br>Gue nggak foto, <br>gue nggak cerita ke siapa-siapa, <br>gue nggak kasih nama ke apa yang gue rasain.</p><p>Gue cuma beridiri di sana, <br>di dalam perasaan yang belum punya label, <br>dan biarkan warna itu ada.</p><p>Karena kadang sesuatu yang indah <br>nggak butuh didefinisikan dulu buat bisa dinikmati.</p><p>Mungkin itu cukup, untuk sekarang.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f86c50c634e7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Bractea pada Antesis.]]></title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi/bractea-pada-antesis-bfe40c40b483?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bfe40c40b483</guid>
            <dc:creator><![CDATA[theonlyfauzn]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 03 Mar 2026 13:35:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-03T13:35:06.852Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang tidak pernah menjadi yang paling mencolok di ruangan.</p><p>Hanya ada. <br>di pinggiran, <br>di sela-sela, <br>di tempat yang jarang ada yang sengaja mencari.</p><p>Dan sudah terbiasa dengan itu.</p><p>Tapi kemudian seseorang datang.</p><p>Dan untuk pertama kalinya, <br>tidak keberatan menjadi latar belakang.</p><p><em>asalkan latar belakang itu miliknya.</em></p><p>Tidak ada yang besar yang dilakukan. <br>Hanya hadir, membiarkan diam itu <br>menjadi sesuatu yang tidak perlu diisi.</p><p>Tanpa siapapun tahu bahwa di dalam dirinya, <br>ada sesuatu yang sedang perlahan membuka —</p><p><em>seperti kelopak yang tidak pernah meminta izin untuk mekar.</em></p><p>Bractea tidak pernah menjadi bunga. <br>Ia hanya melindungi tempat di mana bunga itu akan tumbuh.</p><p>Dan Antesis tidak tahu apa yang membuatnya berani,<br>ia hanya tahu bahwa tiba-tiba, <br>ada tempat yang terasa aman untuk tidak lagi bersembunyi.</p><p>Mungkin begitu juga kita.</p><p>Aku menjagamu tanpa sadar. <br>Kamu mekar tanpa tahu mengapa.</p><p><em>Dua orang.</em> <em>Satu cerita.</em> <em>Yang tidak pernah saling tahu</em> <em>betapa dalam mereka</em> <em>saling mempengaruhi.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bfe40c40b483" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Antesis Hati.]]></title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi/antesis-hati-dbe7d2857853?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/dbe7d2857853</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[poem]]></category>
            <category><![CDATA[poems-on-medium]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[theonlyfauzn]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 22 Feb 2026 09:18:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-22T09:18:49.547Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Aku tidak tahu ini namanya <strong>mekar</strong>.<br>seperti itu… <br><strong>pelan, hangat, dan tanpa peringatan,</strong><br>sama seperti bunga yang tidak pernah meminta izin untuk membuka kelopaknya.</blockquote><p>Aku baru mengenalmu beberapa minggu lalu <br>atau mungkin lebih singkat dari itu, <br>aku sudah lupa cara menghitung waktu <br>sejak pertama kali kamu ada <br>di pinggiran pandanganku.</p><p>Kamu tidak melakukan sesuatu yang besar. <br>Kamu hanya duduk di seberang meja, <br>membuka buku yang judulnya tidak sempat kubaca, <br>dan sesekali mengangguk pelan <br>seolah kamu sedang berdebat <br>dengan sesuatu di dalam kepalamu sendiri.</p><p><strong>Aku memperhatikanmu lebih lama dari yang seharusnya.</strong></p><p>Kita belum terlalu sering bicara. <br>Masih di tahap <em>“eh, btw”</em> dan senyum yang belum punya nama <br>bukan senyum pertemanan, <br>bukan senyum basa-basi, <br>tapi sesuatu di antaranya yang belum aku temukan padanannya.</p><p>Tapi ada yang aneh.</p><p>Setiap obrolan yang terbentuk.<br>Setiap senyum yang dibuat.<br>Setiap kali kamu pergi,<br>ada sesuatu yang tertinggal.<br>bukan barangmu, <br>bukan senyummu, <br>dan juga bukan topik obrolan kita,<br>hanya semacam rasa yang menempel di udara <br>dan memaksaku untuk <br>diam lebih lama dari biasanya.</p><p>Aku pernah membaca tentang antesis.<br>Fase ketika bunga benar-benar mekar, <br>bukan sebelumnya, <br>bukan sesudahnya, <br>tepat di titik itu, <br>di mana semua kelopak <br>memilih untuk tidak lagi bersembunyi.</p><p>Aku tidak menyangka <br>akan mengerti artinya <br>hanya dari cara kamu<br>menyeduh teh di sudut cafe itu <br>sambil menatap hujan di luar jendela.</p><p>Ini masih awal. <br>Aku bahkan belum tahu <br>warna favoritmu, <br>atau apakah kamu suka hujan <br>atau hanya kebetulan memandanginya tadi.</p><p>Tapi hatiku, <br>hatiku yang sudah lama <br>terbiasa dengan pintunya sendiri.</p><p>perlahan, <br>tanpa izin, <br>tanpa peringatan,</p><p>mulai membuka.</p><p><strong><em>Dan aku belum tahu harus senang atau takut.</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=dbe7d2857853" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Babak 0.]]></title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi/babak-0-e28b69cff63c?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e28b69cff63c</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[lovestory]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[theonlyfauzn]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Feb 2026 16:19:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-18T16:20:45.768Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>ada pertanyaan yang datang terlambat<br>bukan karena orangnya yang telat nanya, tapi karena jawabannya udah gue selesaikan dari pertanyaan itu lahir.</p><blockquote>“Kok lo segampang itu ya move on? <br>Lo bener-bener cinta ga sih sama orang itu?”</blockquote><p>Gue diem sebentar. Bukan karena bingung mau jawab apa, tapi karena gue lagi nyari cara buat jelasin sesuatu yang sebenernya nggak ada padanan katanya di percakapan biasa.</p><p>Gimana gue jelasin bahwa gue udah nangis duluan, waktu semuanya masih terlihat baik-baik aja?</p><p>Orang — orang mungkin mikir cerita cinta itu punya struktur yang rapi.<br>Harus ada babak satu, dua, tiga. <br>Ada konflik, ada klimaks, ada ending yang bisa dikasih label?</p><p>Putus..<br>Move on….<br>Selesai………</p><blockquote><strong>Dan mereka ngukur seberapa dalam kita mencintai seseorang dari seberapa lama kita terpuruk di babak — babak itu.</strong></blockquote><p>Tapi yang mereka ga tau, ada babak yang pernah masuk hitungan.</p><p>Babak 0.</p><blockquote>Babak di mana gua udah ngerasain semuanya, tapi belum ada <br>yang resmi terjadi.</blockquote><p>Gua masih jalan bareng dia, masih balas chat dia, masih ketawa di tempat yang sama, tapi gua udah tau.</p><p><strong>Ada sesuatu yang retak.</strong></p><p>Dan gua diam, bukan karena gua nggak sadar, tapi karena belum ada kata-kata yang cukup untuk menamai apa yang gua rasain.</p><p>Di babak itu, gua nggak bisa minta validasi dari siapapun. <br>Karena dari luar, semuanya masih kelihatan utuh.</p><p>Jadi, gua berduka diam — diam.</p><p>Gua berduka dengan kondisi masih pegang tangannya. <br>Gua berduka sambil masih bilang “iya nanti ketemu lagi ya.” <br>Gua berduka di kamar mandi kampus, lima menit, terus cuci muka, terus balik lagi ke kelas.</p><p>Dan waktu semuanya beneran selesai, gua udah kelelahan. Bukan karena gua nggak cinta.</p><p><strong>Tapi karena gua udah menyelesaikan bagian yang paling berat itu sendirian, jauh sebelum orang lain sempat jadi saksi.</strong></p><p>Makanya waktu teman gue nanya, <em>“kok lo segampang itu?”</em> —</p><blockquote><strong>Gue cuma bisa jawab pelan: <em>“Gue nggak gampang. Gue cuma duluan.”</em></strong></blockquote><p>Mereka ngira gue udah di babak tiga. Padahal gue baru aja nutup babak yang bahkan nggak pernah mereka tau ada.</p><p>Indramayu 18 Feb 2026 (Kamar Saudariku).</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e28b69cff63c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[whispered word from a man]]></title>
            <link>https://medium.com/@workshilmi/whispered-word-from-a-man-5f1fd3f23698?source=rss-d5edbecdae07------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5f1fd3f23698</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[death]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[love-letters]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[theonlyfauzn]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 21 Nov 2025 13:16:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-21T13:16:52.379Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>hi, thank you for the flowers.</p><p>you still remember my favorite one,</p><p>a white rose.</p><p>btw, thank you for telling your stories again here.</p><p>sorry, i just can listened to you.</p><p>sorry, you have to cried when u telling all of ur stories.</p><p>but thanks.</p><p>thanks for telling me anything.</p><p>my favorite film.</p><p>my mom.</p><p>our friends.</p><p>and, your life.</p><p>thank you, i saw you again in this place</p><p>thank you, for still surviving.</p><p>even though,</p><p>i only can hear you down here,</p><p>in my tombstone.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5f1fd3f23698" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>