Fate
(1/5) First Meet
Jika masalah terus datang, dan kebahagiaan tak lagi di rasakan, apa yang harus dilakukan?
“Ini serius, papi?”
“Kamu pikir papi bercanda?”
“Aku juga baru mulai masuk kuliah pi, aku kayaknya belum mampu bisa ngambil itu”
“Papi milih kamu karena papi ngerasa kamu mampu, makanya dibanding 2 kakak kamu, papi lebih milih kamu”
“Bukannya ini gak adil buat kak Alexa dan kak Xera?”
“Papi sudah ngobrol sama mereka dan mereka setuju kalo kamu yang ambil”
Axel menghela nafas dan memalingkan wajah. Ia merasa kesal tapi tak tau pada siapa. Tak tau apa lagi yang mau dikatakannya, Axel segera memilih pergi tanpa memperhatikan papi nya dan pergi ke kamarnya sendiri.
Axel menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya. Ntah sudah berapa kali Axel menghela nafas hari ini.
Seminggu ini sudah sangat panjang untuk Axel. Axel tak bisa bohong pada dirinya sendiri kalo ia sedih dan rasanya ingin menangis kencang agar seluruh beban di dada nya terangkat. Kedua orang tua nya meninggal dalam kecelakaan mobil beruntun seminggu yang lalu. Kaget, jelas. Mereka merasa kehilangan kedua orang tua mereka dalam waktu sekaligus. Bunda (adik mama Axel) dan Papi (kakak mama Axel) datang ke rumah mereka setelah mendengar berita itu.
Axel ingin menangis kencang saat itu, saat kedua orang tua yang ia sayangi pergi untuk selamanya, tapi kedua kakak dan kedua adiknya juga menangis. Jika mereka semua menangis, siapa yang akan menguatkan mereka. Papi dan bunda nya pun sibuk meladeni orang yang datang melayat.
Axel tak bisa menangis hari itu, seolah air mata nya menolak untuk keluar. Ia sibuk membantu papi dan bunda nya mengurus segala sesuatu yang berkaitan, termasuk saat polisi datang ke tempat mereka, bahkan surat wasiat juga.
Axel mengaku kaget saat tau kantor papa diwarisi ke dia, dan seluruh uang yang dimiliki papa nya dibagi rata menjadi 5. Jika Axel mendapat hak waris sebagai pemimpin di kantor papa nya, ia harus masuk ke kuliah bisnis dan perlahan mempelajari nya. Sedangkan Axel sudah sempat berniat ingin masuk ke fakultas kedokteran. Ia hanya takut tak mampu.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Axel hanya ingin tidur sekarang dan berharap di esok hari ia lebih bisa berpikir jernih untuk memutuskan sesuatu.
💞
“Udah pagi ya, cepet banget rasanya”
Axel meregangkan tubuhnya dan mulai membuka mata sepenuhnya. Ia kini sadar ia tak berada di kamar nya. Posisi nya sekarang berbaring di sofa di tengah ruangan yang mendominasi putih dan banyak foto di dinding nya. Ruangan ini lebih terasa seperti studio foto.
Ini mimpi. Axel menghela nafas berpikir ia sangat kelelahan sampai sampai ia ditarik ke alam bawah sadar nya.
Axel mulai duduk dan melirik semua foto di sana. Semua fotonya terlihat aneh, ia seperti mengenal laki laki yang ada di setiap foto. Itu seperti dirinya, tapi versi dewasa dari dia sekarang.
Ada 1 perempuan yang tak ia kenal dan ada 1 bayi laki laki di tengah mereka. Ini seperti keluarga kecil. Tapi, ia berada di rumah siapa sekarang, dan ngapain dia ada disini?
Ada juga foto wisuda ia versi dewasa dan wisuda perempuan itu. Ia melihat jelas disana ia lulusan sarjana manajemen bisnis. Axel terkekeh pelan
“Apa ini seperti petunjuk?”
Dan ada foto ia menghadiri wisuda perempuan, dan perempuan juga menghadiri wisuda nya. Siapa perempuan itu? Axel melihat ada pintu di sana, dibanding penasaran, ia memilih keluar dari pintu itu.
Diluar pintu itu dibilang terlihat lebih sederhana, tapi elegan. Nuansa rumah nya bagus dan sepertinya ia akan nyaman tinggal disini. Ini memang terasa seperti vibes rumah miliknya.
Ia terus berjalan lurus sampai ia melihat perempuan yang ia lihat di foto sedang membereskan sarapan di meja makan.
Cantik, tapi mungkin lebih ke manis. Senyum nya-
Perempuan itu terus menggumamkan sebuah lagu, mungkin agar tak bosan di tempat yang masih kosong itu. Sampai,
“O, sarapan kita ternyata sudah siap nih”
Versi dia dewasa ada disana. Tersenyum bahagia menghampiri perempuan itu. Perempuan itu ikut menoleh ke arah suaminya? Mungkin?
“Kamu belum siap juga Axel? Masa iya libur lagi?”
Axel? Nama laki laki itu juga sama seperti nama nya. Kenapa bisa kebetulan?
“Aduh Ein, aku baru libur 1 hari, perut aku masih gak enak nih. Hari ini tuh tanggung udah. Kata orang harpitnas, besok udah weekend, dan aku juga udah terlanjur libur”
“Bukan harpitnas, tapi meliburkan diri namanya”
“Kan aku bos nya”
“Lama lama kamu yang aku pecat”
Mereka tertawa bersama setelahnya.
💞
Di sisi lain,
“Ini kenapa ngebingungin gini sih tugasnya”
Sangking kesalnya, Ein mencoret coret kertas yang ada di depannya. Dan segera membalikkan tubuhnya hingga terbaring di tumpukan tugasnya. Ein sudah masuk kelas 3 sekarang, tapi tugasnya berasa kayak skripsi. Kalo gini aja sudah mengeluh, lama lama bisa stres saat skripsi beneran.
Capek. Apa gak bisa tugas dikasih istirahat?
Ein, bukan cuma kamu yang dapat tugas, tapi seluruh teman satu sekolah kamu dapat. Kalo seandainya aja, mereka bisa ngerjain, kamu juga harus bisa ngerjain.
“Sabar sabar, pelan pelan aja pasti bakal ketemu jawabannya, maknai satu satu soalnya dan pasti bakal ketemu, oke”
Ein meraih pena nya kembali dan berencana mengerjakan tugas nya lagi. Mengatur nafas nya pelan pelan sambil membaca petunjuk soal, agar bisa menemukan jawabannya.
15 menit kemudian,
“Ini udah hampir setengah jam, udah baca petunjuk soal tetap aja gak ngerti. Kalo gini bisa stres lama lama. Kalo gitu istirahat dulu.”
Ein butuh obrolan pengalih perhatian. Ia segera berdiri dan keluar dari kamarnya.
“Oh iya ya”
Ein terlihat kecewa saat keluar. Suasana rumahnya sangat sepi. Ia lupa tak ada orang di rumah sekarang, hanya ia sendiri. Semuanya ada keperluan di luar. Ia menghela nafas sambil berusaha tersenyum maklum. Mungkin saat kuliah nanti, ia lebih milih buat nge kost, agar setidak nya punya teman untuk diajak bicara.
Setelahnya, ia kembali ke kamar dengan senyuman hambar, kembali meraih pena nya dan berusaha menyelesaikan tugasnya. Tapi, tatapannya kosong, ia benar benar butuh pengalih perhatian sekarang.
Ia meraih hp nya, dan berusaha mencari hiburan, tapi tak ada satupun yang menarik di matanya. Ia meletakkan hp jauh dari nya, lebih memilih untuk istirahat saja sambil menutup mata nya. Mungkin tidur sebentar nggak masalah.
💞
Telinga Ein berdenging tanpa sebab. Seperti ada suara gema di telinganya. Seingatnya, ia tak memakai headset sebelum tidur tadi.
Saat membuka matanya, yang Ein lihat bukan kamarnya, tapi sebuah taman? yang luas, dan ada kolam renangnya. Sejak kapan di rumahnya ada kolam renang?
Ia tidak dalam posisi berbaring di tumpukan kertasnya, malah berdiri menyaksikan nyamannya suasana di tempatnya sekarang.
Ini mimpi. Bahagia sekali. Jika di mimpi ia bisa mendapat kebahagiaan, ia akan senang berada di mimpi terus.
Kapan lagi bisa menikmati pemandangan air di kolam renang yang sangat tenang.
Tiba tiba suara dari dalam memecah konsentrasi nya. Ada suara seperti sendok jatuh. Berarti ada orang di dalam. Jelas sih ada orang, ini kan bukan rumahnya.
Tapi kan ini mimpi. Dibanding penasaran, Ein lebih memilih menggeser pintu untuk masuk ke dalam rumah. Ia berjalan masuk dengan ragu ragu sampai ia melihat perempuan sedang sibuk membereskan meja makan.
Tapi, yang aneh, perempuan itu terlihat seperti dia. Apa cuma kebetulan mirip. Versi dewasa nya sibuk mondar mandir dari arah dapur ke meja makan untuk menata sarapan, sepertinya. Kelihatan anggun, itu bukan dirinya sekali. Iya berarti cuma mirip.
Perempuan itu mulai menggumamkan lagu. Seperti dia memang, ia sangat menyukai seperti itu juga saat suasana kosong, agar tidak terasa terlalu sendirian.
Ia salah fokus melihat laki laki yang keluar dari sebuah ruangan, kamar mungkin? berjalan ke arah perempuan itu sambil tersenyum lebar.
“O, sarapan kita ternyata sudah siap nih”
Perempuan itu menoleh ke arah laki laki itu.
“Kamu belum siap juga Axel? Masa iya libur lagi?”
Nama laki laki itu Axel ternyata.
“Aduh Ein, aku baru libur 1 hari, perut aku masih gak enak nih. Hari ini tuh tanggung udah. Kata orang harpitnas, besok udah weekend, dan aku juga udah terlanjur libur”
Ein? Namanya disebut disana, tapi Axel itu malah menoleh ke arah perempuan itu. Namanya juga Ein. Kok bisa?
Apa ia masuk ke dunia lain? Terlalu banyak membaca cerita fiksi buat Ein suka berpikir tidak tidak. Apa mungkin ini masa depan?
“Bukan harpitnas, tapi meliburkan diri namanya”
“Kan aku bos nya”
“Lama lama kamu yang aku pecat”
Mereka tertawa bersama setelahnya.
Gak mungkin masa depan, kehidupan sebahagia ini, apa mungkin bisa ia dapatin. Iya ini kayaknya imajinasi mimpi karena Ein terlalu berharap dapat kebahagiaan. Atau mungkin kehidupan ia di dunia lain seperti ini? Bahagia sekali. Beruntung Ein di dunia ini.
“Eits, mana ada sih dunia lain di kehidupan nyata. Ya cuma khayalan. Khayalan Ein”
Pintu depan terbuka dan anak kecil mungkin kisaran umur 3 tahun berlari ke arah pasangan itu.
“Ayah Bunda”
Axel itu langsung meraih anak itu.
“Sudah punya anak juga lagi, mungkin umur mereka berdua udah 20 an kali ya, udah mau kepala 3 mungkin”
“Anak aybun udah pulang nih, dari mana tadi?”
Ada perempuan juga menyusul dibelakang anak kecil itu, Ein sama sekali tak kenal.
“Sama Aunty Xera tadi, diajak keliling sama jajan”
“Udah kenyang dong berarti, gak bisa makan sarapan bunda dong?”
“Kalo sarapan bunda masih bisa diterima, perutnya Dave masih ada yang kosong buat sarapan bunda”
Mereka semua tertawa melihat kelucuan anak itu. Namanya Dave. Lucu banget.
Axel memberikan Dave ke Ein, lalu berbicara ke Xera?
“Diajak Mulu keponakannya jajan”
“Yaudah sih, pake uang kakak juga, gak minta uang kamu tuh”
“Nikah makanya sana!”
“Kamu ini Axel, kakaknya digodain Mulu, ayo kak sarapan bareng”
Mereka berempat berkumpul di satu meja makan sambil berceloteh ria menanggapi Dave yang sangat aktif berbicara.
Ein menghela nafas. Jika kehidupan seindah itu, ia mau berada didalamnya seenggaknya untuk 1 hari. Itu aja udah cukup.
Saat pikirannya sudah lebih leluasa, Ein sadar ada orang yang memperhatikan nya dari arah samping kiri. Ia awalnya ragu, tapi perlahan menoleh kan kepalanya ke arah kiri.
Ein membulatkan matanya kaget. Itu seperti Axel dalam versi masih muda. Yang juga melihatnya dengan tatapan terkejut.
💞
TBC