Realistis

1 April 2021 17.00 Menghela nafas untuk sekian kalinya di hari ini. Lelah. Aku menutup pintu kamar dan meletakkan tas ku sembarangan di lantai. Langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur. Menutup mataku dengan kedua tangan. Aku tak ingin menangis hari ini, tapi aku bisa merasakan air membasahi kedua telapak tangan ku.

Umurku sudah masuk 22 tahun. Semester ini sudah menjadi targetku lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Tapi di bulan ini dosen pembimbing ku sudah berulang kali menyuruh ku untuk merevisi bagian bab yang masih kurang. Rasanya ingin menyerah. Lelah sudah menangis setiap seperti ini. Aku tau ini akan ada. Tapi bukannya harusnya sudah biasa mahasiswa akhir semester selalu stres?

Mungkin tak masalah jika ada yang menemaniku, menjadi temanku bercerita. Tapi, disini tak ada seorang pun yang bisa diajak bicara. Orang tuaku sibuk dan aku tak memiliki saudara. 1 bulan yang lalu aku masih memiliki pacar. Kami sudah pacaran selama 3 tahun mulai dari awal masuk kuliah. Aku merasa kami cocok dan akan lanjut ke dalam hubungan serius. Tapi, tidak terjadi. Ia memutuskan ku sebulan lalu dengan alasan yang tak aku mengerti sama sekali,

aku kayaknya gak pantas buat kamu, kamu pantas dapat yang jauh lebih baik daripada aku

Bukankah itu alasan klise setiap cowok yang ingin putus secara baik baik. Aku masih tak mengerti kenapa ia minta putus tiba tiba, karena aku pikir hubungan kami masih baik baik saja sebelum putus. Walaupun, kami akhirnya sepakat untuk putus baik baik dan tetap menjadi teman baik. Tapi, susah bagi ku untuk menjadi biasa saja disaat aku masih memiliki perasaan untuk dia.

Memikirkan semua ini membuatku lelah. Aku menghela nafas sekali lagi. Aku berjanji pada diriku ini yang terakhir kalinya. Aku ingin istirahat barang sejenak saja tanpa memikirkan skripsi ataupun hubungan ku. Aku mulai memejamkan mata dan memutuskan untuk tidur.


Aku mengucek mataku saat terbangun dan mendapati hari telah malam. Mataku sepertinya bengkak akibat menangis sebelum tidur tadi. Aku ingat harus merevisi skripsi ku malam ini, tapi aku memilih tidak mengerjakan hari ini, “aku bisa memulainya besok”

Tring

Suara hp terdengar keras. Menggema di dalam rumah ku yang sepi ini, hanya ada aku dan bibi di rumah. Bibi pun pasti sudah berada di kamarnya sekarang.

Dengan malas, aku meraih tasku di lantai dan mencari letak hp. Saat mendapatkan nya, sekarang jam 21.08. Sudah terlalu malam untuk mandi. Melihat ada notifikasi di grup ANIVE. Aku tersenyum lesu. Karena sibuk beberapa hari ini, aku jadi tidak sempat membuka grup fanbase ini. Kali ini A sepertinya tidak menjadi penyemangat aku di waktu waktu seperti ini.

Sudah 500 lebih chat yang belum aku baca di grup ini. Saat membaca nya ternyata Anive sedang membahas cara pikir A yang realistis di video YouTube QnA nya. Aku baru ingat aku belum menonton nya. Tapi aku sedang malas hari ini. Melihat Anive lain yang heboh, aku jadi berpikir dua kali untuk tidak menonton nya. Tangan ku ragu ragu meng klik ikon YouTube, tapi akhirnya ke klik juga. Membuka bagian subscribtion. Aku tersenyum saat mengetahui hanya Youtube Channel A yang ada disana.

Ada 2 video yang belum kutonton. QnA dan Mission. Dilihat dari cover videonya, sepertinya A melakukan game dengan keluarga nya. Jika dipikir, melihat video misi akan membuatku tertawa nantinya dan bisa sedikit melupakan masalah hari ini. Tapi aku lebih memilih menggulir layar hp ku dan memilih video yang di upload 28 Maret 2021 ini. Aku pikir jika tidak bisa curhat, lebih baik mendengar A bercerita.

Aku menyamankan diriku dengan berbaring miring sambil fokus menatap layar hp. Tampak intro videonya sudah dimulai.

Hi... Welcome back to Oralue World

Hello Everyone... Everytwo, Everythree, four, five, six, seven, eight. One two three four five six seven eight

Suara tawa A mengalun dalam video. Di awal video A selalu saja bercanda saat intro nya. Aku ikut terkekeh kecil mendengar A tertawa.

Okeeee... Sesuai judul hari ini, aku bakal ngelakuin QnA setelah sekian lama... Kapan ya terakhir aku QnA...

Aku ikut berpikir saat melihat A dengan raut wajah lucu sedang berpikir sambil meletakkan tangan dibawah dagu nya. Kapan ya A QnA terakhir, setelah aku pikir, A jarang buat QnA di YouTube, dia lebih sering ngelakuin live sambil QnA penggemar secara langsung.

Entahlah kayaknya aku juga lupa...

Aku ikut tertawa melihat A tertawa. QnA berlangsung baik, banyak dari pertanyaan yang menanyakan kabar A, keluarga, bagaimana sekolahnya dan apa pekerjaan yang akan A lakukan selanjutnya. Apa akan ada Film baru atau lagu baru dalam waktu dekat. Sampai setidaknya aku berpikir topik pertanyaan sudah masuk ke bagian sensitif bagi aku.

A pernah nangis gak?

Ya pernahlah, gak mungkin gak. Pas lagi sedih nangis, pas ngupas bawang nangis... Hahahaha... Aku becanda kok, jarang sih aku ngupas bawang nangis, ntah kenapa ya...

Nangis tu wajar sih, jadi bagi aku kayaknya semua orang juga pernah nangis. Walaupun sebentar, netes air mata aja...

Gak papa nangis, kalo seandainya buat keadaan kalian bisa jadi lebih baik, daripada ditahan malah bikin stres.

A pernah ngeluh gak ngerjain tugas?

Pernah, kalo otak lagi mumet banget. Gak mau diajak kompromi. Pernah kalo lagi ngerasa capek banget, pasti bawaanya ngeluh. Apalagi udah masuk semester 4 kuliah gini, makin banyak aja tugas. Padahal ya aku masuk FK juga karena kemauan aku sendiri

Aku ingat banget waktu awal awal aku dapat beasiswa kuliah, itu awal akting aku naik, ya bisa dibilang mulai terkenal lah. Aku dari awal udah sreg mau masuk FK karena tertarik dan pengen belajar tentang kedokteran, tapi Axel berulang kali ingatin aku untuk mikirin ulang mau masuk apa. Axel bilang ke aku kenapa gak fokusin belajar tentang berbau film atau musik mungkin. Kan udah terlanjur kerja di bagian itu waktu itu. Aku sempat mikir awalnya, bilang “oh iya ya”. Tapi setelah mikir sehari full, aku bilang ke Axel lagi, aku tetap bakal ada di FK, karena aku fikir kalo aku fokus belajar akting atau musik, aku jadi bosan dan bisa bisa bakal gak ngelanjutin kerja ini lagi. Sia sia di tengah jalan gitu maksudnya

Seenggaknya kalo nanti aku udah bosan akting atau nyanyi, aku bisa aja kerja jadi dokter. Tapi kalo aku masuk jurusan perfilman, aku bosan. Masa iya mau ngulang kuliah lagi. Sia sia dong. Akhirnya Axel nyerahin pilihan nya semua ke aku. Dan sampe sekarang aku bertahan di FK

Sejarah aku ngeluh di FK gak ada habisnya setiap semester, Axel aja sampe tau. Baaaanyak banget yang harus dipelajarin. Capek pasti. Ngeluh apalagi, pengen berhenti aja kuliah rasanya, tapi gak bisa.

Makanya kadang aku kalo capek, lebih milih buat istirahat aja, gak maksain buat belajar atau ngerjain tugas lagi. Karena kalo udah mumet pun dipaksa belajar tetap aja malah hasil tugasnya jadi gak bagus.

Biasanya aku bakal nutup itu buku dan jauhin buku itu dari jarak pandang aku dan mutusin buat nonton film atau dengerin lagu. Atau gak milih buat tidur. Ya sesuka kalian aja, atau mau refreshing ke luar rumah, banyak lagi. Besoknya mau gak mau kita tetap harus ngerjain tugas itu dengan pikirin, kalian sudah istirahat kemaren

Aku tersenyum. Mungkin memang itu yang perlu dilakukan. Setidaknya sekarang aku sedang istirahat bukan.

Langgeng ya sama Axel, kuncinya apa?

Semua orang yang langgeng pasti bakal bilang kuncinya komunikasi, saling jujur, dan percaya satu sama lain. Dari aku itu sih, kalian tau aku open minded banget sama Axel, apa apa diceritain, aku hari ini makan apa pun diceritain... Hahahaha.. saking pengen memperlama waktu nelpon

Ribet gak sih ngejalanin hubungan sama Axel?

Pertanyaan yang diberikan sudah berkaitan dengan hubungan semua. Aku menjadi lesu. Mengetahui hubungan ku pun sudah putus di tengah jalan. Aku berharap hubungan A dan Axel selalu baik baik saja dan langgeng sampe nikah nanti.

Dibilang ribet gimana ya.... Gak juga sih, mungkin pengaruh udah kenal dari kecil juga kayaknya. Tapi ya diliat liat sebenarnya Axel tu bukan tipe aku... Ada lah yang sama, tapi ada juga yang bedanya

Kalo dilihat dari sudut pandang lain, aku gak menampik kalo perempuan yang udah kerja kayak aku ini, apalagi punya penghasilan sendiri yang sudah dibilang mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus dinafkahi, aku sih lebih pilih cari cowok yang kerjanya biasa aja. Tapi tetap rajin kerja, gak kita juga yang keluar uang

Soalnya ngeliat aku yang udah sibuk kayak gini, aku pengen cari cowok yang bisa sewaktu waktu buat dia jadi rumah aku dan buat aku bosan dengan pekerjaan aku sekarang, jadiin dia prioritas utama. Tapi dengan dia yang jadwal kerja nya dibilang wajar juga

Kalo kalian tau, Axel sekarang udah jadi CEO, harusnya kalo dilihat, dia sibuk banget, sering lembur, dan jarang ada waktu buat ketemu aku, tapi kebetulan aja Axel milih sistem kerja yang bisa kerja lewat rumah dan lebih santai pastinya. Dan masa masa sekarang ini hubungan kami tetap aman dengan sistem gitu

Kadang aku kalo senggang nemenin Axel ke kantor, kadang juga aku harus keluar negeri buat syuting, biasanya dia nyempetin nemenin aku juga ke sana beberapa hari ngeliat kerjaan aku. Ya aku suka aja, kayak kami saling punya waktu buat satu sama lain. Kayak kerjaan tuh sekarang gak ganggu waktu ketemu atau nyantai kami

Kalo udah nikah nanti, aku bisa berhenti kerja. Kalo Axel berhenti kerja, ya gimana kami

Banyak orang mikir kalo perempuan yang derajat sosialnya tinggi, kaya lah ya bisa dibilang, sejenis CEO atau artis terkenal, pasangannya tuh harus sejenis itu juga, mereka mikirnya masa mau sih sama yang biasa aja

Deg. Perkataan A membuat aku tertohok. Aku mem pause video A. Segera duduk dan menyandarkan punggung di kepala tempat tidur. Kalo dipikir aku termasuk keturunan orang mampu. Sedangkan pacar aku bisa dibilang sederhana aja. Mungkin penjelasan A bisa membuat aku mengerti tentang mengapa kami putus. Aku memutuskan memutar lagi videonya dan fokus mendengarkan.

Aku agak kasar sih ngomongnya, tapi anggap aja perumpamaan ya. Kalo cowok kaya sama cewek biasa aja, itu udah biasa kita dengernya, walaupun nanti ada dibilang matre lah, tapi kalo ngomongin realistis, bukannya memang nanti pihak cowok juga yang nafkahin kita. Tapi kalo cewek kaya sama cowok biasa aja, emang ada sih pasti. Banyak juga kayaknya. Tapi untuk beberapa cowok yang hatinya tuh tulus sayang sama kita, kadang agak minder gitu sama ceweknya

Dia mungkin berulang kali ngerasa gak pantas tapi gak ada dibawa komunikasi. Contohnya aja semenjak aku kerja ini aja penghasilan aku kan udah dibilang lumayan, mampu lah untuk menuhin semua kebutuhan aku, Axel aja yang tipenya ngomong sama aku, bilang berulang kali ke aku untuk gak kerja terlalu keras. Axel yang kerjanya CEO aja dia bilang ke aku kalo dia ngerasa gak nyaman dengan itu, dia jadi ngerasa aku gak butuh dia lagi nantinya karena udah ada uang sendiri. Kayak Axel tuh mikirnya kok cewek kita lebih keras lagi kerjanya dari kita yang cowok. Makanya makin aku kerja, menurut dia, dia harus kerja 2 kali lebih keras dari aku biar seenggaknya penghasilan dia masih di atas aku. Beberapa cowok bakal mikir gitu. Tapi, ada juga mungkin yang biasa aja tentang itu. Ada juga yang cowok mikirnya ya biasalah zaman sekarang kan cewek kan bisa berkarir juga.

Tapi Axel tipenya yang agak minder tentang itu, makanya awal awal dia agak cemberut gitu ngeliat aku udah mulai terkenal di entertain, tapi yang aku suka dia ngomong sama aku, biar aku pun gak salah paham. Axel loh yang CEO, dia aja gitu.

Akhirnya aku tanya Axel enaknya gimana, biar gak miscom kan, Axel abis itu bilang ke aku ya gak papa, itu mimpi aku juga kan yak. Axel cuma bilang kerjanya jangan terlalu keras aja, sesuai yang Axel bilang dia maunya nanti abis nikah, uang yang aku hasilin sekarang simpan rapat rapat dan uang yang dipake cuma uangnya dia aja. Yaudah aku setuju, karena aku mikirnya biar Axel ngejalanin tugasnya ngenafkahin aku, berusaha ngehargai Axel sebagai kepala keluarga sama suami

Aku sama Axel enak karena posisi nya disini kami udah kenal lama, dari kecil yang masih sekolah, udah tau gimana awal awal kerja nya, bisa dibilang dari nol. Jadi komunikasi kami jalan sejauh ini. Kalo yang posisinya mereka baru kenal pas udah sama sama kerja kan agak bingung

Contoh aja nih ya Xera punya hubungan sama Kivo. Xera nih orang kan taunya dia CEO kan, kalo Kivo dia manajer aku. Banyak yang bilang kok Xera mau sama Kivo, kenapa gak cari yang sama sama CEO juga. Tapi dalam posisi ini mereka pure punya perasaan tulus satu sama lain. Mereka sadar posisi satu sama lain. Gak bisa disalahin memang kalo Kivo mikir pantas gak ya dia bareng sama Xera atau nanti bisa aja gak pas sudah nikah Xera nyesel punya pasangan kayak dia

Bagi aku ini tugasnya Xera lagi, resiko dia milih ngejalin hubungan dengan orang yang posisi nya gak sama dengan dia, dia yang harus coba ajak Kivo komunikasi tentang hubungan itu, ngeyakinin Kivo dia memang mau ngejalanin hubungan ini serius tanpa status sosial yang berarti. Biar Kivo bisa mutusin mau ikut perjuangin atau milih berhenti.

Beberapa cewek nganggap mereka bagian nunggu aja cowok perjuangin mereka abis itu kalo lanjut, bakal sama sama berjuang. Tapi kalo posisi Xera kayak gini, dari awal mau ngejalin hubungan bukan Kivo nya aja yang berjuang, tapi dua duanya sama sama coba. Kalo gak Kivo nya bisa mutusin buat mundur duluan.

Gak ada salahnya sih sebenarnya. Banyak juga kok sekarang cewek yang mulai ambil langkah duluan, mungkin nyapa cowok yang dia suka duluan atau dengan hal lain. Apalagi posisi Xera sebagai CEO menguntungkan bagi dia, mana ada CEO yang pemalu. Dia lebih mudah lagi ambil langkah dengan alasan pekerjaan mungkin. Gak ada pake malu malu, bahkan dia bisa pake cara nya sendiri.

Kalo menurut kalian sebagai cewek, cowok itu bisa buat kalian bahagia dengan cara mereka yang sederhana, bagi aku cowok itu pantas di perjuangin. Gak ada salahnya kan, belum tentu kita dapat lagi yang kayak dia. Apalagi bisa dibilang walaupun ada, kesempatan kedua jarang ada. Karena bahagia gak tentang uang aja.

Xera yang notabennya udah kerja keras dari awal 5 tahun tanpa berhenti. Sekarang dia pasti kalo memang pengen serius sama cowok pasti nyari cowok yang sayang sama dia dan bisa buat dia bahagia. Kalo cuma semerta merta pengen punya anak, nikah di umur 28, 29 bisa, abis tu punya anak. Kita sibuk ngurus anak kita, abis itu suami kita sibuk kerja lembur, mungkin kita gak peduli. Kalo kita bahagia dengan pernikahan itu, saling sayang, seenggaknya kita mengeluh kenapa dia sibuk kerja

Aku kalo seandainya sampe sekarang masih single pun, mungkin nyari cowok yang selalu ada buat aku

Aku juga udah bicara sama Axel, gimana pengennya aku abis nikah, gimana pengennya dia abis nikah. Kalo ada yang bertentangan tapi masih bisa ditoleransi kami masih bisa bicara lagi, tapi kalo udah mulai gak bisa, ya aku sudah sepakat sama Axel mungkin kalo pacaran kita bisa lanjut, tapi kalo naik ke jenjang lebih lagi, kemungkinan nya sulit karena apalagi nanti tinggalnya barengan kan, kalo gak ngerti satu sama lain ya susah. Gak jalan pasti. Walaupun masa pacarannya cocok

Ngerti menurut aku tuh ngerti nya tuh di komunikasiin, bukan yang misalnya cowok nya bilang aku lembur ya hari ini, ceweknya bilang iya, tapi dalam hati kayak kenapa sih lembur terus. Itu menurut aku belum bisa dibilang ngerti. Ngerti menurut aku, ya yang kalo kita kurang sreg sama lembur nya dia, langsung ngomong dan cowok itu seenggaknya tau posisi kita yang gak nyaman dengan itu. Jadi berusaha tau apa yang nyaman sama gak nyaman di kita. Itu baru ngerti bagi aku.

Ya mungkin kalian punya sudut pandang lain yang kalian aja yang tau. Kalo emang gak nyaman bisa aja kasih space di antara hubungan itu sedikit. Kayak aku sama Axel ngasih space dibagian kerjaan. Axel gak boleh ganggu kerjaan aku, Axel oke. Aku gak boleh ganggu kerjaan dia, aku oke. Kerjaan kita privasi masing masing. Yang mungkin bisa jadi rahasia juga untuk orang lain. Ya istilahnya bilang yang gak nyaman, jadi kita sama sama tau batasan satu sama lain. Wajar aja sih setiap pasangan walaupun suami istri juga ada batasan sedikit

Aku aja dulu yang sebelum kerja pernah berada di posisi aku ngerasa gak pantas buat Axel. Mikir kayaknya nanti gimana ya pandangan klien Axel pas tau pasangannya itu aku. Setara gak ya aku sama Axel. Pantas gak ya... Berulang kali ngomong gitu terus. Akhirnya aku komunikasiin sama Axel, awal awal Axel marah sama aku

Siapa pula mereka yang nentuin pantas gak nya hubungan kita, yang ngejalanin kan bukan mereka. Aku ngerti posisi di sana. Axel ngejelasin ke aku satu persatu dan berusaha yakinin aku kenapa aku yang dia pilih, jawabannya sederhana dan aku akhirnya mutusin buat gak perlu lagi mikir tentang itu dan jalanin hubungan semampu kami

Aku bahagia sama kamu, dengan cara kamu yang sederhana, tawa kamu, ngeliat kamu bahagia itu juga kebahagiaan aku, dan kamu selalu jadi prioritas utama aku

Baru baru ini di posisi yang sekarang di depan dia aku pernah mikir beda ya dengan dulu, apa aku bisa dibilang pantas sekarang. Dan Axel nyadar pas itu, dia cuma senyum maklumin aku. Tapi malamnya dia ngobrol sama aku. Aku kaget deh ternyata dia tau. Dia berusaha lagi yakinin aku untuk hubungan ini.

Ya intinya komunikasi, kalo marah bilang marah, kalo gak nyaman bilang, kalo nyaman gini bilang, jangan jaim aja kalo mau hubungan jalan terus, keluarin aja sifat asli kita, manja kita, jadi dia pun bisa prepare nanti pas sudah nikah, tau lah sifat asli kita

Jangan salah loh, Axel tu bukan CEO yang dingin atau tiba tiba romantis, dia tuh manja banget kalo lagi caper capernya sama gak romantis juga. Tapi, bisa dibilang kami seimbang sih. Dengan cara kami sendiri, senyaman nya kami. Yang gak perlu ngasih bunga, yang gak perlu kalo makan malam harus ada lilinnya. Makan kami itu ya makan aja... Hahahaha

Axel tuh ego nya tinggi, tapi kalo sama aku kalo lagi marah bertengkar juga kami, udah mulai gak bisa kekontrol, aku pernah tiba tiba nyelonong pergi aja. Nenangin diri. Prinsip kami boleh marah, boleh diam. Bentar aja tapi, abis tu diskusiin, jangan utamain siapa yang salah, diskusiin dulu kenapa kita banggain pendapat kita yang sempat beda. Bicarain mana yang lebih banyak resiko baik nya. Dapat hasilnya yaudah sama sama minta maaf aja. Jadi lebih plong gitu.

Axel tu bukannya gak pernah nangis, didepan keluarga aku, Abang aku boleh dia bersikap semuanya baik baik aja, tapi kalo didepan aku biasanya dia nangis sih, itu yang pengen aku harapin sebenarnya. Prinsip aku kalo pengen percaya sama orang, bukan aku aja yang butuh sandaran tapi aku pengen jadiin diri aku tempat sandaran juga, jadi ya saling melengkapi, bukan bilang baik baik aja tapi sebenarnya gak baik. Berarti dia belum percaya sepenuhnya sama kita. Itu nilai min bagi aku dalam hubungan.

Itu aja sih dari aku. Tapi ya balik lagi ke pandangan kalian masing masing, aku berusaha bersikap se realistis mungkin menurut pandangan aku. Kalo kalian punya pandangan sendiri, ya it's ok. Selama itu baik juga buat kalian. Jangan sekali kali egois aja dalam jalanin hubungan. Coba buat dengerin penjelasan pasangan sebelum ambil keputusan.

Aku sih gitu, kalo seandainya nih ya, tapi amit amit sih, Axel ketahuan selingkuh sama aku, aku gak bakal nunggu dia ngomong sama aku. Tapi aku langsung nanya ke dia kamu siang tadi jalan sama cewek lain ya, kalo bohong warning sudah hubungan kita, tapi kalo jujur aku bakal coba dengerin penjelasan dia dulu. Ya intinya gitu lah

Tapi sekali lagi, ini balik ke kalian ya. Aku cuma sharing pengalaman dari aku aja nih. Karena hubungan masing masing pasangan kan beda ngejalaninnya.

Okeeee... Yang ini kayaknya panjang banget jawabannya. Oke next pertanyaan lain deh kayaknya... Gimana kalo kita ngomongin project baru... Kalian berharap apa nih, film baru atau musik baru... Hehehehe... Gak bakal aku bocorin juga sih... Hahahaha...

Live itu akhirnya ku tonton sampai akhir. Aku tersenyum puas sekarang. Aku ngerti sekarang jawabannya. Kenapa hubungan aku berhenti tengah jalan. Setelah dipikir, aku baru sadar aku pernah menemukan kondisi pacar aku sendiri gak nyaman saat berada dalam acara keluarga aku. Aku mengerti jawabannya. Aku menepuk pelan bagian kepalaku

“Aku ini sebenarnya Anive beneran atau gak sih”

A akan selalu menjadi penyemangat aku disaat aku ada di titik terendah gini

Ralat yang awal, untung aja gak ada yang tau... Hehehe...

Aku tersenyum sangat lebar dan meletakkan hp di atas kasur dan berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi bersiap untuk tidur.

“Kayaknya ada yang lupa deh...”

Aku berpikir apa yang aku lupakan, tapi ya sudahlah, kalo ingat nanti juga bakal tau lagi.

22.51 Aku menaikkan selimut sampai batas dada dan tersenyum. Setidaknya pikiran ku tenang hari ini. Sudah selesai istirahat hari ini, besok bakal ngelanjutin skripsi dan berpikir apa yang dilakukan selanjutnya untuk hubungan ini.

Aku ingin berjuang. Dia laki laki yang baik. Bahkan diawal bertemu dia sangat menghormati ku sebagai perempuan, selalu menanyakan apa yang tidak nyaman bagi aku. Harusnya aku juga melakukan hal yang sama. Mari kita lakukan besok.

Setelah 5 menit memejamkan mata, akhirnya aku sadar apa yang aku lupakan

“Oh iya, aku kan tadi mau nonton video A yang Mission”

“Besok aja deh ya A... Aku mau istirahat hari ini... Jangan ngambek ya... Thank you hari ini...”

Dari Kani

Ini cuma cerita fiksi, khayalan penulisnya ya readers...

A, Axel, Xera, Kivo, sama Anive itu cuma nama buatan dari penulis ya...

Jika hari ini buruk bagi kalian, berharaplah hari esok akan lebih baik- Dari Kani