<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by River on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by River on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@riverken?source=rss-b9f708f5ef09------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*YfazY0MzJqLk69rpcZWEDg.jpeg</url>
            <title>Stories by River on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@riverken?source=rss-b9f708f5ef09------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 22 May 2026 05:05:59 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@riverken/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Strawberries and Cigarettes]]></title>
            <link>https://medium.com/@riverken/like-strawberries-and-cigarettes-95c95d7af6b6?source=rss-b9f708f5ef09------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/95c95d7af6b6</guid>
            <category><![CDATA[react]]></category>
            <category><![CDATA[books]]></category>
            <category><![CDATA[art]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[River]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 23 Jan 2026 04:53:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-24T09:06:00.529Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*l1KV2PqqvS1I2I_ibJ_Wng.jpeg" /><figcaption>Andai kisah ini memiliki lagunya sendiri, menurutku, mungkin ‘Strawberries and Cigarettes’ bisa menjelaskan semuanya dengan jauh lebih sederhana.</figcaption></figure><p>Sekolah Dasar. Masa di mana hidupku masih berjalan dengan cara yang paling sederhana. Berangkat sekolah untuk belajar — pulang lalu belajar. Setelah belajar, pergi bermain. Setelah bermain, kembali pulang untuk kemudian dimarahi, lalu mengulangnya lagi setiap hari.</p><p>Ayah— oh, tapi aku lebih suka memanggilnya bapak, karena itu terdengar sederhana dan tidak banyak digunakan oleh anak-anak di sekitarku. Bapak adalah penjaga gerbang sekaligus raja dalam istana keluargaku. Selain karena dia laki-laki yang memang terlahir untuk menjadi pemimpin, penampilan berwibawa dan sifatnya yang keras memang sangat cocok menjadi garda terdepan untuk melindungi kami, sekaligus menghukumku yang setiap kepulangannya selalu membawa masalah.</p><blockquote>“Jangan main terus yang kamu tahu. Jam segini baru pulang. Rupa udah enggak kaya manusia.”</blockquote><blockquote>“Masih kecil sudah nakal sekali. Mau jadi apa kamu?”</blockquote><blockquote>“Jaga tingkah! Jaga belajar! Kalau tidak, bapak titipin kamu ke panti asuhan.”</blockquote><p>Kata yang sering ia lontarkan seraya memegang sabuk; gesper yang sudah hilang kepala besinya. Sementara aku hanya mangut-mangut sambil menghirup kembali ingus yang keluar, kemudian mengusapnya dengan kerah baju yang sudah lebih dulu basah oleh air mata. Entah lah, aku lupa sudah berapa puluh kali amarah bapak menunggu di rumah, dengan jeweran dan pukulan pada pantat sebagai pembuka. Setelahnya, aku hanya bisa berdoa, berharap bapak tidak menghajarku dengan lebih gila.</p><blockquote>Akan tetapi, apakah setelah itu aku menjadi takut? Jelas.</blockquote><blockquote>Apakah aku paham? Belum tentu.</blockquote><blockquote>Kapok? Hmm… Ya nanti dulu.</blockquote><p>Aku kadang merasa aneh sampai bertanya pada diri sendiri. Bapak galak sekali. Gaya kritiknya tajam seperti Rocky Gerung. Cara intimidasinya semengerikan Soeharto. Keras bicaranya seperti Tirta Mandira Hudhi. Pukulannya juga sekuat Muhammad Ali. Akan tetapi, seperti apa pun sosok bapak, mengapa dari semua nasehat dan amarah yang ia luapkan untuk mengontrol kenalakanku, tidak ada satu pun yang benar-benar aku renungi dan sesali — Masuk telinga kanan, terpental juga di telinga yang sama. Aku selalu berkata “ampun”, tapi kemudian terus mengulangnya lagi, lagi, dan lagi.</p><p>Aku jadi teringat kalimat yang pernah diucapkan dengan penuh emosional oleh kakak perempuan pertamaku, setelah ia tahu aku kabur dan bersembunyi karena tidak mau mengaji:</p><blockquote>“Adikku yang satu ini sulit sekali untuk patuh dan mustahil untuk tidak melanggar aturan. Sepertinya memang harus menunggu di tampar Tuhan, baru mau sadar.”</blockquote><p>Saat dia mengatakan itu, aku menangis, marah, dan ingin membela diri. Beberapa kali jarinya bahkan menyentil telingaku hingga berwarna merah keunguan — wah, ingin sekali aku pukul wajahnya.</p><p>Akan tetapi setelah aku pikir-pikir, ya, apa yang dia katakan benar juga. Aku memang punya bakat alami yang membuatku suka melanggar batas — bukan karena ingin memberontak, tapi rasa penasaranku selalu lebih besar dari rasa takutku. Buatku, aturan sering kali terasa seperti garis tipis di tanah yang menggiurkan untuk diinjak. Hanya untuk tahu:</p><blockquote>Apa yang terjadi kalau aku melewatinya sedikit saja?</blockquote><p>Termasuk aturan paling ketat di rumah: berhubungan dengan lawan jenis sebelum usia legal. Tentu saja, lagi-lagi aku adalah orang pertama dan yang paling sering melanggarnya.</p><p>Saat melanggar aturan itu, aku tidak pernah benar-benar merasa sedang melakukan kesalahan besar. Yang ada justru hanya merasa seperti pemakluman, karena yang aku lakukan hanya sebatas penasaran, akan bagaimana rasanya memiliki teman perempuan dekat yang saling oper mengoper gumpalan surat saat pelajaran sedang berlangsung. Atau membelikannya beberapa aksesoris kecil sampai kemudian mendapat sorakan dari teman-teman. Aku hanya penasaran. Tidak lebih.</p><p>Sampai akhirnya, saat pertama kali aku menyandang gelar baru sebagai anak Sekolah Menengah Pertama, saat itu lah aku mulai menyesali,</p><blockquote>Kenapa aku tidak patuh saja pada aturan?!</blockquote><p>Tepat saat hari pertama masa orientasi, aku melihat seorang gadis yang entah kenapa, melihatnya saja membuatku sangat bersemangat. Dia cantik, lebih dari itu dia sangat manis dan sedikit tomboy. Akan tetapi, justru itu lah yang membuatku tertarik. Baru aku ketahui namanya setelah ia berkenalan di depan khalayak sebagai ‘Kakak Pembimbing’ siswa dan sisiwi baru selama masa orientasi.</p><blockquote>“Saya biasa dipanggil Mawar.”</blockquote><p>Begitu lah sedikitnya cara ia memperkenalkan diri tanpa rasa malu dan sungkan.</p><p>Sejak hari itu, aku pun jadi sering memperhatikannya. Memperhatikan Mawar. Dia benar-benar membuatku seperti mendapat perasaan baru yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya — perasaan yang bahkan bisa membuatku menjadi anak baik yang penurut di rumah, dan menjadi berbunga saat memikirkannya.</p><p>Merasa mungkin aku menyukainya, atau mungkin malah jatuh cinta, aku pun mendekati dia. Aku berusaha belajar apa yang ia sukai: bola voli. Aku mencari tahu seperti apa idolanya: Bruno Mossa de Rezende seorang setter ternama dari tim voli Brazil dan Yuji Nishida seorang opposite dari tim voli Jepang. Aku juga mengikuti apa yang dia ikuti: menjadi Dewan Kerja Pramuka. Sebenarnya aku benci pramuka, tapi karena dia, aku jadi menyukai dan menjadikan itu sebagai hobi baru, yang ternyata setelah dijalani rasanya tidak buruk juga.</p><blockquote>Tanpa sadar, aku benar-benar menyukai dan menekuni semua yang dia suka dan ikuti.</blockquote><p>Tak hanya itu. Setelah aku berhasil mendekat dan kemudian kedetakan kami menjadi lebih intens, sering kali aku memberinya hal-hal kecil seperti godaan, candaan, menyisihkan sebagian uang saku untuk membelikannya beberapa jajan murah di kantin, memberi hadiah kecil di setiap ulang tahunnya atau ketika ia baru saja mengikuti lomba. Bahkan sering kali aku sengaja bangun lebih pagi agar bisa menghampirinya ke rumah untuk berangkat sekolah bersama, dan pulang lebih telat hanya untuk bisa pulang bersama.</p><p>Itu benar-benar menjadi kali pertamanya aku mendekati seorang wanita dengan sungguh-sungguh. Tanpa menyadari bahwa semuanya itu akan menjadi petaka yang membuatku amat sangat terluka.</p><p>Setahun berlalu kurang lebihnya. Saat aku naik tingkat menjadi kelas 8 dan dia kelas 9, kedekatan kami menjadi jauh lebih dekat dari sebelumnya. Aku semakin mengenalnya, pun sebaliknya dengan dia yang semakin mengenalku. Aku merasa sangat cocok dengan kepribadian dan sifatnya. Aku banyak belajar darinya. Aku banyak berkembang dan berubah demi dipandang keren olehnya. Usahaku mendekati dan ingin memilikinya sungguh semakin menggila untuk setiap harinya. Hingga aku merasa bahwa,</p><blockquote>Ini lah saatnya…</blockquote><p>Saat tengah beristirahat setelah sparing voli dengan sekolah lain untuk persiapan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA), aku menghampirinya — menyuruh semua teman di sekitarnya pergi sebentar, kemudian tanpa basa-basi aku menyatakan langsung perasaanku padanya. Mengatakan kalau aku menyukainya, lebih dari seorang teman. Aku juga mengatakan kalau sejak awal aku mendekatinya bukan lah untuk berteman, melainkan untuk mendapatkan hatinya.</p><p>Saat dan setelah mengatakan itu, jantungku rasanya sungguh panas, perut pun ikut mual dan mulas. Jangan tanyakan raut wajahku, aku tidak bisa melihatnya, dan sejujurnya pun aku tidak ingin melihat wajahku di saat seperti itu, karena pasti sangat memalukan.</p><p>Akan tetapi, berbanding balik denganku, dia justru tertawa nyaring dan memukul-mukul punggungku. Aku masih ingat sekali kata-kata yang ia ucapkan setelahnya:</p><blockquote>“Jangan bercanda! Kamu tau sendiri kalau aku enggak bisa pacaran. Lagi pula kita itu temen, masa pacaran. Aneh banget.”</blockquote><p>Setelah mendengar itu, semua rasa-rasa yang aku rasakan sebelumnya tiba-tiba saja hilang dan berganti dengan perasaan tak karuan, yang bahkan sampai sekarang aku sendiri pun masih bingung bagaimana cara mendeskripsikan semua yang aku rasakan waktu itu. Aku tidak tahu apakah itu sebuah penolakan atau sekedar memastikan bahwa aku tidak sedang bergurau. Akan tetapi, setelah bersumpah bahwa aku serius dengan ucapanku, dia tetap mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.</p><blockquote>Pada akhirnya, aku pun menganggap bahwa dia memang menolak.</blockquote><p>Apakah aku menyerah setelahnya? Oh, tentu tidak. Sebagai anak yang sering melanggar aturan, itu justru membuatku sangat tertantang. Aku masih mendekatinya. Percayalah! Bahkan esok harinya setelah aku mengungkapkan perasaan, kami tetap berinteraksi seperti biasa; seperti tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami berdua. (Ya walaupun aku sendiri diam-diam merasa agak ngenes juga sih, hahaha). Tapi tidak apa.</p><blockquote>Untuk berhasil menemukan satu lampu pijar yang mampu bertahan lama, Thomas Alva Edison harus lebih dulu mengalami seribu kali kegagalan. Sementara kegagalanku baru satu kali. Maka masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali kesempatan bagiku untuk berhasil.</blockquote><p>Namun, setiap harapan pasti selalu ada celah untuk kegagalan. Kenyataan yang terjadi tidak lah seperti yang aku bayangkan, dan itu benar-benar menghantamku.</p><blockquote>Cinta tidak bekerja seperti sains.</blockquote><blockquote>Dalam sains, kegagalan adalah data berharga.</blockquote><blockquote>Dalam cinta, kegagalan adalah luka.</blockquote><p>Pada akhirnya, aku sudah lebih dulu kalah oleh rasa lelah saat percobaanku masih sebatas belasan kali. Ya, belasan kali aku mengungkapkan perasaanku padanya, akan tetapi semuanya tetap berakhir pada jawaban yang sama seperti sebelumnya.</p><p>Penolakan yang terus menerus itu kemudian membuatku menyadari bahwa Aku bukanlah Thomas Alva Edison, serta cinta yang aku kejar bukanlah sebuah lampu pijar yang dapat dinyalakan dengan logika, ketekunan, atau sekedar keyakinan bahwa kegagalan akan selalu berujung terang.</p><p>Cinta adalah cinta. Jika lampu pijar bisa dinyalakan dengan pemikiran, maka cinta tidak demikian. Ia hanya bisa dinyalakan dengan hati yang sudah dituntun oleh tangan Tuhan. Walau sekeras apapun aku berusaha, sekencang apapun aku mengejarnya, tapi jika bukan aku yang diinginkannya, dan jika Tuhan memang tidak ingin aku bersamanya, lantas aku bisa apa?</p><blockquote>Akan tetapi, tunggu! Aku ingin melanggar batas perasaanku sekali lagi. Hanya sekali saja. Untuk yang terakhir kalinya.</blockquote><p>Hari kelulusan pun datang. Sebagai Dewan Kerja Pramuka angkatan baru, aku jelas diminta ikut andil dalam acara tersebut, untuk sekedar menjadi salah satu panitia yang membantu menertibkan para tamu undangan saja.</p><blockquote>Itulah kesempatanku. Aku ingin mencobanya sekali lagi. Hanya sekali saja. Untuk yang terakhir kalinya.</blockquote><p>Aku melihatnya datang bersama ayah, ibu, dan adik perempuannya. Ya, hari itu adalah hari kelulusannya. Dia terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya — ah, tidak, dia selalu cantik untuk setiap harinya. Hanya saja hari itu sisi perempuannya benar-benar mengaburkan sisi darinya yang seperti laki-laki.</p><p>Akan tetapi, aku bisa menebak jika sepertinya ia sangat membenci pakaian dan riasannya hari itu. Sesuatu yang sangat tidak cocok untuk dirinya yang lebih suka memakai celana daripada rok. Lebih suka bermain di bawah terik daripada merias diri di tempat yang teduh. Itu semua terlihat dari wajahnya yang kusut hingga alisnya hampir bertaut. Beberapa kali ia bahkan terlihat menjinjing rok jariknya tinggi-tinggi hanya demi bisa berjalan dengan langkah yang lebar atau sekedar duduk dengan kaki yang leluasa terbuka. Melihatnya seperti itu benar-benar membuatku tertawa dan meldeknya diam-diam.</p><blockquote>Aku sampai berkhayal, andai dia menjadi milikku, pasti akan sangat lucu.</blockquote><blockquote>Ya, andai saja.</blockquote><blockquote>Akan tetapi, lagi-lagi kenyataan kembali menghantam. Andai-andaiku mungkin akan selamanya menjadi ‘andai’.</blockquote><p>Setelah acara selesai, aku melihatnya sedang berkumpul dengan teman-temannya. Dengan agak canggung, aku kemudian menghampirinya. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin membuat kenangan dengan kamera, mungkin juga berbincang tentang pendidikan yang akan mereka tempuh setelahnya, atau hal yang entahlah.</p><p>Melihat aku datang dengan membawa goodie back dan boneka Winnie the Pooh yang sudah aku persiapkan sebelumnya, tanpa diminta, teman-temannya menjauh dengan sendirinya seraya melempar tawa dan ejekan menggoda. Teman-temannya tahu kalau aku adalah orang yang selalu mengejarnya. Dan nyatanya, kedekatanku dengannya selama kurang lebih dua tahun itu memang cukup dikenal di lingkungan sekolah. Hampir semua orang mengetahuinya. Bahkan ibu-ibu kantin yang jualannya sering aku beli untuk aku beri padanya, sesekali pun ikut menggoda dan menjadi Mak Comblang.</p><blockquote>“Mau nembak lagi ya?!”</blockquote><p>Itu lah kalimat pertama yang ia lontarkan, bahkan sebelum aku siap untuk berbicara. Mendengar itu pun aku hanya tersenyum kikuk, hingga kemudian menjadi sungkan saat aku melihat raut wajahnya yang entah kenapa aku tidak menyukainya.</p><blockquote>Dia terlihat jengah. Menghela nafas pula.</blockquote><blockquote>Mati lah aku.</blockquote><p>Tanpa menunggu jawabanku, dia menyuruhku mengikutinya, dan di dalam kelasnya kami berhenti untuk duduk dan berbicara berdua. Walau ada beberapa anak di dalam kelas, tapi suasana saat itu sungguh canggung. Aku sampai merasa hari itu kami berdua terlihat seperti orang asing. Dia bahkan enggan melihatku. Saat itu, baginya, lantai, meja, dan dinding mungkin jauh lebih menarik daripada aku, hingga membuatnya terus membuang muka.</p><blockquote>Entah kenapa itu membuatku sakit sekali.</blockquote><p>Aku berusaha menahan semua, mencoba mengalihkannya dengan dengan bertanya, “kamu kenapa?” akan tetapi jawaban yang terus ia lontarkan hanya, “tidak apa-apa.”</p><p>Aku tahu dia berbohong, tapi aku tidak mau memaksanya untuk berkata jujur. Selain takut membuatnya marah, aku lebih takut kalau jawaban yang ia berikan persis seperti yang aku khawatirkan.</p><blockquote>Namun, sesuatu yang telah digariskan, suatu saat pasti akan digariskan. Dan hari itu, garisnya mulai tergambar dengan samar.</blockquote><p>Setelah saling diam untuk waktu yang cukup lama, dia akhirnya membuka suara. Aku senang dia mau berbicara, tapi aku tidak senang dengan apa yang ia lontarkan. Aku bahkan sampai tidak bisa mengingat semuanya saking aku tidak menyukainya. Yang aku ingat hanyalah kata-kata:</p><blockquote>“Berapa kali aku bilang, aku enggak mau sama kamu.”</blockquote><blockquote>“Enggak jelas banget kamu tuh. Capek aku.”</blockquote><p>Sungguh anak belia. Bahkan mungkin terlalu belia untuk merasakan yang namanya patah hati karena cinta. Terlalu belia untuk merasakan yang namanya ‘dianggap tidak jelas’ setelah melakukan banyak hal untuk membuat semuanya menjadi jelas.</p><p>Dia tahu aku menyukainya, dia tahu aku selalu mengejarmya, dia juga selalu mengambil hadiah dariku, menerima semua perhatian dariku, membuka diri untuk menampung semua usahaku, tapi tidak sekali pun dia menerima aku lebih dari yang aku inginkan sebagai seorang laki-laki yang mencintainya. Bahkan untuk kesempatan terakhir yang aku gunakan di hari itu pun, dia tetap enggan menerima dan memilih pergi tanpa banyak penjelasan.</p><blockquote>Aku menyesal.</blockquote><blockquote>Sungguh menyesal.</blockquote><blockquote>Bukan menyesal karena aku telah mencintainya, melainkan menyesal karena aku terlalu mengejar dan berambisi mendapatkannya hingga membuatnya menjadi benci.</blockquote><p>Ya. Sejak hari itu, kami menjadi renggang. Bahkan ketika aku menghubunginya untuk meminta maaf dan ingin kembali berteman saja, dia sama sekali tidak membalasnya. Membaca pun tidak. Dia menghilang dariku begitu saja. Benar-benar menghilang.</p><p>Kehilangan yang tiba-tiba itu menimbulkan rasa sakit yang bahkan jauh lebih luar biasa daripada pukulan bapak. Menimbulkan rasa sakit yang bahkan membuatku menjadi anak pendiam dan tidak lagi membuat onar. Bahkan saat melihatku tampak berubah, kakak perempuan pertamaku kembali berkata:</p><blockquote>“Sepertinya dia sudah ditampar Tuhan, jadi belakangan ini dia diam saja.”</blockquote><p>Mengingat itu, aku tersenyum kecut. Benar katanya waktu itu. Aku hanya perlu menunggu ditampar Tuhan untuk membuatku sadar. Dan hari itu aku sudah mendapatkannya dengan amat sangat menyakitian hingga membuatku lebih dari sekedar sadar.</p><p>Sadar akan kenekatanku untuk masuk ke dalam sebuah hubungan yang tidak pernah benar-benar bernama. Tidak ada status yang jelas, tidak ada kepastian arah, hanya kebiasaan aneh yang terus berjalan. Aku menyebutnya cinta, padahal yang terjadi adalah ketertarikan dan keterikatan yang tidak sehat. Aku menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan. Aku berharap dan mempertaruhkan semuanya pada hal yang tidak pernah benar-benar jelas.</p><blockquote>Aku seperti berjudi dengan perasaan sendiri. Karena itu mungkin Tuhan marah padaku, hingga ia menampar dengan keras sekali.</blockquote><p>Akan tetapi, sungguh, saat itu aku bertahan bukan karena aku suka dengan ketidakpastian atau sengaja ingin menyakiti diri sendiri, tetapi karena aku sudah terlalu lama di sana dan tidak benar-benar bisa pergi. Aku terjebak pada keyakinan bahwa ketulusan dan usaha yang konsisten akan menemukan jalannya sendiri. Aku terjebak pada keyakinan bahwa selama aku berjuang, selama aku tidak menyerah, semua akan berubah.</p><p>Namun kenyataannya, saat waktu terus berjalan, yang berubah hanyalah kelelahan di hati. Lelah yang membuatku sadar jika aku telah mengorbankan banyak hal: waktu, perasaan, dan kesempatan untuk merasa dicintai. Aku juga lupa bahwa tidak semua usaha yang mati-matian aku lakukan akan selalu membuahkan hasil yang adil. Pada akhirnya, yang aku dapatkan dari kisah ini hanya lah sebuah penyesalan.</p><blockquote>Andai sejak awal aku patuh pada aturan, pasti tidak akan terjadi hal menyakitkan seperti ini.</blockquote><p>Beberapa waktu berlalu. Belum genap aku menyelesaikan semester satu sebagai anak kelas sembilan, tanpa sengaja aku mendapat kabar yang membuatku semakin sakit.</p><p>Hendri, dia adalah mantan Dewan Kerja Pramuka senior yang kebetulan satu sekolah dengan dia — iya, dia; Mawar, di SMA Negeri 1 Surakarta. Kami tidak sengaja bertemu saat setelah aku pulang dari les wajib. Katanya dia hanya mampir untuk beli jajan kaki lima di depan sekolah.</p><p>Saat itu, awalnya kami berdua hanya saling menanyai kabar pribadi dan kabar organisasi, hingga kemudian topik kami berkembang menjadi membahas seorang gadis, dan gadis itu adalah dia — iya, dia; Mawar.</p><p>Hendri tahu betul aku sangat menyukai gadis itu. Oleh karenanya ia mengatakan semua yang ia tahu tentangnya padaku. Hendri mengatakan bahwa gadis itu sudah berpacaran dengan teman satu sekolahnya. Dia bahkan menunjukkan instagram baru milik gadis itu yang tak pernah aku ketahui, yang beberapa postingannya adalah foto bersama pacarnya. Foto yang sangat mesra dan bahagia. Bahkan mungkin terlihat jauh lebih bahagia daripada saat bersamaku sebelumnya.</p><p>Hendri juga mengatakan, bahwa hubungan mereka terjalin karena gadis itu sendiri yang mengejar dan menghendakinya, sekalipun sebelumnya pacarnya itu bersikap acuh padanya, dan hanya bertindak santai sambil menunggu hatinya sendiri menjadi luluh untuk kemudian bisa mencintai dan menerima gadis yang sangat aku inginkan itu.</p><p>Jangan bertanya bagaimana rasa sakitnya setelah mendengar itu. Saat ini; saat menulis ini pun, aku merasa ada bagian dari diriku yang masih perih.</p><blockquote>Namun lagi-lagi aku teringat. Cinta tidak lah bisa dipaksa. Walau sekeras apapun aku berusaha, sekencang apapun aku mengejarnya, tapi jika bukan aku yang diinginkannya dan jika Tuhan memang tidak ingin aku bersamanya, lantas aku bisa apa?</blockquote><p>Setelah merenung berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu, aku pun melupakannya — ah, tidak, aku hanya berusaha melupakannya. Aku menghipnotis diri sendiri dengan mengatakan bahwa aku masih terlalu muda untuk tenggelam di antara luka. Aku terlalu berharga untuk disakiti oleh perasaan tak jelas ini. Aku harus melupakannya. Harus!</p><blockquote>Namun lagi-lagi, semakin keras aku berusaha melupakannya, bayang-bayangnya justru terlihat semakin jelas.</blockquote><blockquote>Ketika tahun-tahun berlalu, bukannya memudar, namanya justru masih melekat erat di sudut hati yang paling spesial.</blockquote><blockquote>Ketika waktu bergerak maju, aku justru terjebak di antara mundur atau menetap di tempat yang sama. Membuatku terus menolak, bahkan mengusir orang-orang yang mencoba datang mengetuk dan mencintaiku dengan penuh. Bukan karena mereka tak layak, melainkan karena hatiku belum benar-benar kosong.</blockquote><blockquote>Sungguh sial. Mendapatkannya aku tak mampu, melupakannya pun sama saja. Aku benar-benar seperti anjing setia yang kemudian dibuang dengan sengaja dan menjadi luntang-lantung di jalanan. Aku marah. Sangat marah. Namun dalam lubuk hati yang terdalam, anjing setia ini masih selalu berharap suatu saat akan dijemput kembali oleh Sang Tuan.</blockquote><blockquote>Ya walaupun harapan tinggal harapan.</blockquote><blockquote>Sampai berkali-kali merasa lelah karena menunggu, ia tak pernah datang menjemput.</blockquote><p>Akan tetapi tak apa. Yang lalu biar lah berlalu. Kini aku sudah sepenuhnya sembuh. Gadis itu pun sudah bahagia dengan pasangan barunya. Ya , bertahun-tahun berlalu, pada akhirnya dia menikah dengan lelaki pilihannya — yang lucunya, ternyata adalah mantan kekasih dari sahabat sekaligus saudaraku, yang aku pun juga sempat berhubungan dekat degannya karena kami satu angkatan saat menjadi Dewan Kerja Ranting di Komandan Rayon Militer (Koramil) yang sama saat aku SMA. Belakangan, aku ketahui kabarnya bahwa ia juga baru saja menjadi seorang ibu. Aku turut bahagia mendengarnya. Semoga Tuhan memberkahi dia dan keluarga kecilnya.</p><blockquote>Aamiin.</blockquote><p>Oh, aku lupa menceritakan bagaimana hubunganku dengan gadis itu sekarang. Kami sudah baik-baik saja. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah di pasar malam beberapa tahun lalu, saat aku sedang mencoba membuang sedih setelah aku putus dengan kekasihku. Kami tak sengaja bertemu. Pertemuan kami pun hanya sekedar berjabat tangan, saling menanyai kabar, kemudian sama-sama meminta maaf untuk semua hal yang pernah terjadi di masa lalu. Setelah itu, kami berpisah untuk kembali bersenang-senang. Hanya sekedar itu, dan setelahnya kami tak pernah bertemu lagi.</p><blockquote>Kami benar-benar kembali menjadi asing.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=95c95d7af6b6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>