<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by citraa 𝜗ৎ on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by citraa 𝜗ৎ on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@ryvzdffq?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*iUP_0YBHITbj9hT4whmrTA@2x.jpeg</url>
            <title>Stories by citraa 𝜗ৎ on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@ryvzdffq?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 21 May 2026 15:48:23 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@ryvzdffq/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Nothing to Survive – Lepas]]></title>
            <link>https://medium.com/@ryvzdffq/nothing-to-survive-lepas-8633cde7cf2d?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8633cde7cf2d</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[toxic-relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[citraa ৎ]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 20 Jan 2026 00:43:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-20T00:43:49.460Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Bagian II dari Nothing to Survive, Lepas.</p><p>Aku tidak datang ke hubungan itu dengan hati yang kosong. Aku datang dengan luka lama yang tak kunjung sembuh. Seseorang yang sosoknya ku panggil ayah pergi saat aku masih terlalu kecil untuk menahan seseorang agar tidak pergi, terlalu kecil juga untuk mengerti, apa arti dari perpisahan, dimana esok dan seterusnya, akan ada ruang kosong yang akan tumbuh bersamaku juga. Ruang dimana aku akan butuh sosok lelaki untuk mengisinya.</p><p>Benar saja, aku akan selalu mencari sosok laki-laki yag bisa menyayangi, menjaga dan melindungi ku. Tapi bukan berarti karena aku lemah, tapi karena aku ingin percaya, bahwa setelah patah hati pertama ku, Tuhan akan gantikan sosoknya dengan laki-laki yang tidak akan pergi. Tumbuh tanpa sosok laki-laki yang ku sebut ayah itu, berarti ibarat aku harus siap untuk jalan di langkahku sendiri, belajar untuk mengerti dunia dan seisinya dengan kemampuanku sendiri.</p><p>Hari demi hari, waktu demi waktu, 14 tahun semenjak perpisahan itu, ada kalimat yang terus ku dengar dari ibuku</p><blockquote>“pasanganmu nanti tidak boleh menyakiti kamu seperti ayah menyakiti ibu dulu” katanya,</blockquote><p>Aku berfikir, bagaimana sakit hatinya ibuku ketika di balik diamnya aku yang selama ini lantang, ada orang lain masuk yang justru melukai diriku sama seperti ayahku melukai ibuku. Aku hanya ingin cinta yang tinggal, cinta yang tenang, dan cinta yang tidak meninggalkan trauma.</p><p>Ternyata aku salah. Dia tidak pergi seperti ayah, ia tidak meninggalkanku secara fisik, tapi ia terus membuatku bertanya apakah aku layak untuk di pertahankan. Dan disanalah aku sadar, aku sedang berada di posisi yang sama dengan ibuku. <em>Apakah ini karma?</em></p><p>Hari-hari aku menunggu dan bersabar. Entah sudah berapa kali aku memberi maaf dan kesempatan. Tiada hari tanpa meyakinkan diri sendiri kalau esok pasti akan berbeda, mungkin asal aku sabar sedikit lagi saja. Di kepala ku, selalu ada perdebatan. <em>Apakah aku bisa hidup tanpa dia? Apa aku akan baik-baik saja jika aku sendirian?</em></p><p>Aku selalu bergantung. Dia selalu aku libatkan. Bukan berarti aku manja, tapi karena aku takut di tinggalkan. Aku terlalu sering membiarkan hidupku selalu berputar di seklilingnya, sampai aku lupa caranya berjalan di kakiku sendiri tanpa berpegangan. Aku takut tidak bisa apa-apa tanpa dia. Aku takut kehilangan arah. Aku takut sendirian.</p><p>Tapi ada satu ketakutan yang lebih besar jika aku terus melanjutkan lingkaran ini. Aku terus membayangkan di masa depan, perempuan dengan luka yang sama, anak yang belajar tentang cinta dari luka ibunya. Disitulah aku mengambil langkah yang ibuku ambil, aku pergi.</p><p>Aku memilih pergi, agar anakku nanti tidak perlu menulis cerita yang sama. Agar ia tidak perlu belajar mencinta dari rasa takut. Agar luka ini cukup berhenti di aku. Lepas tidak membuatku lega, tapi membuatku kosong.</p><p>Setidaknya, lingkaran trauma ini tidak perlu di lanjutkan untuk anak yang bahkan tidak pernah memilih untuk di lahirkan, apalagi yang tak pernah memilih lahir dari rahim siapa. Rasa bersalah akan terus menghantui ku, jika anakku nanti harus merasakan apa yang aku dan ibuku rasakan. Mereka tidak memilih untuk di lahirkan, maka berdosalah aku jika membiarkan mereka menderita di kehidupan yang bahkan mereka tidak tau bahwa mereka akan hadir.</p><p>Aku tidak menyelamatkan siapapun hari itu. Jika aku tidak berhenti saat itu, luka ini juga tidak akan berhenti. Dan kalau harus ada satu orang yang menanggung sakitnya, biarlah aku saja. Asal anakku nanti tidak perlu mewarisi ini, asal cerita ibuku berhenti di aku, dan asal trauma ini tidak punya generasi berikutnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8633cde7cf2d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Nothing to Survive  — Luka]]></title>
            <link>https://medium.com/@ryvzdffq/nothing-to-survive-luka-8e6848ffd4f1?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8e6848ffd4f1</guid>
            <category><![CDATA[toxic-relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[citraa ৎ]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 20 Jan 2026 00:28:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-20T00:28:08.857Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>THEN HE CAME — LUKA</h3><p>Ada dimana aku hidup hanya untuk sekedar melanjutkannya, hanya dengan mengatur nafas yang aku ulang tiap harinya, hari demi hari, seolah esok semuanya akan biasa saja. Padahal, untuk membayangkan apa aku masih ada di hari esok saja, tidak pernah terpikirkan. <em>“Hari ini aku jalani saja dulu”</em> kataku.</p><p>Aku pernah mencintai jiwa yang salah dengan cara yang salah juga. Bodoh? bisa jadi. Kupikir, jika aku memberikan segalanya, balasan yang ku dapat adalah tenang. Nyatanya <em>tidak semua orang tumbuh dengan keberanian menjaga perasaan yang mereka sentuh</em>.</p><p>Dan entah kenapa, aku selalu terjebak dengan orang yang selalu memperlakukanku dengan buruk, kalaupun tadinya baik, yang sudah pasti nanti adalah aku yang kalah lagi. Padahal sedari awal, aku akan selalu berjuang dengan cintaku yang murni. Dengan mentalku yang rapuh pula, segalanya akan aku buktikan kalau memang semua yang kuberi selalu tulus.</p><p>Senyum mereka palsu, kebaikan mereka, kisah kasihnya juga hanyalah rekayasa belaka. Mereka tidak menyembuhkan bagian dari diriku yang memang sudah rusak, tapi diam-diam mereka membuat lukanya lebih dalam. Senyumnya manis sekali, cukup manis sampai aku tidak sadar tusukkan pisau yang mereka genggam mulai menusukku perlahan.</p><p>Bantuan professional ku gunakan, bukan untuk menyalahkan pihak yang tidak bertanggung jawab pada tubuhku yang sudah rapuh ini, namun untuk mengulang pertanyaan yang sama, <em>“atau memang aku berhak untuk dapatkan semua ini”</em> lirihku.</p><p>Sampai dimana aku memilih untuk berhenti, bukan karena aku menyerah pada cinta, tapi karena aku ingin memilih diriku sendiri saat itu. Karena cinta bukan sesuatu yang kamu usahakan untuk kamu dapatkan. Cinta seharusnya datang tanpa kamu memaksa, tanpa kamu harus menjadi lebih, tanpa kamu harus bertanya-bertanya, apa yang kamu dapatkan selama ini adalah cinta? karena cinta membawa tenang bukan? bukan trauma.</p><p>Aku bertemu dia di saat aku percaya bahwa perhatian adalah bukti cinta, janji dan ucapan yang sangat manis membuatku percaya dan bertahan. Tidak ada tanda bahaya di awal, tangannya pernah terangkat, namun tidak pernah memukul. Tapi entah bagaimana, mengenalnya. sama saja aku berhenti mengenal diriku sendiri. Tidak kusadari perlahan, aku menurunkan standar ku sendiri. Aku mulai memaklumi bahwa teriakan adalah bahasa cinta, manipulative adalah cara dimana kau bisa menundukkan lawanmu di tengah sebuah argument.</p><p>Yang paling menyedihkan adalah caranya membuatku membenci setiap inci dari tubuhku, ucapannya seolah aku adalah yang tercantik, namun matanya selalu tertuju pada wanita lain. Berdiri di depan cermin kala itu bukan lagi untuk memastikan apakah aku sudah cukup cantik hari ini, tapi untuk mencari kesalahan yang ada pada diriku. Aku mulai membenci bahu ku yang lebar ini, pinggangku yang tak ramping, kulitku yang tak putih, senyum dan tawaku bahkan terlihat menjijikan.</p><p>Sampai akhirnya aku duduk disana, datang berkali kali di ruangan yang sama dengan suara yang gemetar, aku selalu menanyakan apa yang kurang dari diriku ini. Apa yang salah, kenapa aku berhak semua ini, atau apa yang aku berikan selama ini kurang cukup. Aku tidak ingin mati kala itu, tapi mentalku yang selalu berusaha di matikan.</p><p>Aku akhiri semua dengan penutupan yang layak. Bahkan ketika mentalku di tikam mati-matian, aku masih berfikir bahwa mungkin luka yang ia beri hanya semata karena dia belum bisa untuk mencintai seseorang dengan tenang. Namun, tidak pernah ada permintaan maaf dari dia yang utuh. Hanya ada penyesalan sesaat, dan perasaan bahwa aku sudah memberikan terlalu banyak kepada seseorang yang bahkan tidak benar-benar berniat untuk menjaga.</p><p>Sejak itu, banyak bagian dari diriku yang berubah. Aku semakin rapuh, aku jadi lebih waspada, tangisanku bisu, aku tak lagi hidup. Lukanya tidak berdarah-darah, tapi disitulah traumaku tumbuh, <em>aku mati.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8e6848ffd4f1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[i was found by his light]]></title>
            <link>https://medium.com/@ryvzdffq/i-was-found-by-his-light-eac52cf01089?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eac52cf01089</guid>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[lovestory]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[citraa ৎ]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 12 Jan 2026 04:56:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-12T07:41:26.532Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>‘the world was black and white, until i saw your light’ — alex warron</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/934/1*7k9wqq-hJK1xYhzV7warpg@2x.jpeg" /></figure><p>“<em>Kenapa yakin sekali, kalau jawaban mu selama ini adalah dia?</em>” kata mereka,</p><p>Di titik terendah kami saat itu, tidak ada di antara kami yang tidak butuh di selamatkan. Tapi dengan senyum yang sesekali pudar, ada kalimat yang sering di ulang,</p><blockquote>“aku di sini, jangan takut” katanya,</blockquote><p>Padahal, ia pun berharap ada ucapan yang sama, yang dia butuh dengar dari orang lain untuk jiwa nya yang lemah saat itu.</p><p>Ketika trauma lama rasanya kembali lagi memakanku hidup-hidup, dia tidak bertanya mengapa, namun tangannya akan langsung meraih tanganku dan mengusapnya pelan. Matanya bertemu dengan mataku sesekali, hanya dengan itu aku tau kalau semesta hentikan sejenak waktu hanya untuk aku bernafas.</p><p>Jiwa kami sama-sama butuh di rangkul, tapi ia lebih dulu merentangkan tangannya. Bukan karena dia ingin membuktikan kalau dia yang paling kuat , melainkan melihatku runtuh terasa lebih menyakitkan daripada dunia yang tidak berpihak kepadanya saat itu.</p><blockquote>“ yang lebih sakit itu kalo kamu lagi ngrasa ga baik baik aja tapi kamu harus pura pura baik baik aja justru aku gasuka. satu hal lagi, mau kamu tusuk aku sekarang juga sampe berdarah juga, aku yang minta maaf karna darahku kena bajumu” katanya,</blockquote><p>Ia juga meyembuhkan bagian dari diriku yang bahkan bukan ia penyebabnya. Mengobati dan menata semua yang rusak dari dalam diriku oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seolah semua menjadi kewajibannya.</p><blockquote>“berat banget buat ikhlas sama rasa sakitnya, tapi aku yang bakal bayar sakitmu itu. kalo kamu ngrasa seluruh tubuh kamu ancur, rusak, berantakan, aku ini bagian dari diri kamu yang bakal berusaha perbaikin bagian tubuhmu yang rusak itu, citra” tegasnya sekali lagi,</blockquote><p>Banyak orang bilang, kita harus merasakan ketidak adilan dan sakit yang teramat sebelum kita berada di tangan yang tepat. Dan setiap kali aku menceritakan ketenangan dalam caranya dia mencinta, mereka mengangguk, seolah mengerti bahwa jawaban yang selama ini kutunggu, adalah <strong><em>dia</em></strong>.</p><p>Aku tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk di pertemukan dengan orang yang baik, karena pasti kebaikan akan datang dalam banyak rupa. Namun, Tuhan tau apa yang selama ini aku pikul diam-diam, tahun-tahun dimana aku bertahan, trauma yang ku peluk sendiri dan banyak nya proses mengikhlaskan yang tidak pernah ku ceritakan.</p><p>Maka ketika ia hadir, dia adalah jawaban dari diamku yang selama ini lantang. Dan untuk pertama kalinya, jiwaku terasa aman. <strong><em>Aku berakhir di tangan yang tepat.</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eac52cf01089" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[one more time]]></title>
            <link>https://medium.com/@ryvzdffq/one-more-time-ae997acc539b?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ae997acc539b</guid>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[love-letters]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[lovestory]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[citraa ৎ]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 09 Jan 2026 12:54:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-09T12:54:46.393Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*KfVL2-41QsXcsDUjkaELmA@2x.jpeg" /></figure><p>i chose to try, one more time. i climbed into the high walls i built so no one could get in, yet the moment i finally stepped out, the world greeted me with <strong><em>him</em></strong>.</p><p>his hands didn’t claim me, they <strong>shielded</strong> me. as if protection wasn’t about controlling someone you loves, but about the presence. as if his body could be both barrier against the world, and the place i return to when i’m too tired to stand.</p><p>he didn’t arrive to remove my past, but he reminded me that it no longer owns me. he didn’t arrive to rewrite the nights that taught me how to survive alone, but he stood beside it, close enough that i could feel warmth, far enough that i still owned my breath.</p><p>there were no declarations. no saving hands reaching in. only the way he stayed close without asking me to become smaller, or softer, or easier to love.</p><p>i didn’t feel healed, i felt <strong><em>present</em></strong>. like my pulse finally matched the moment instead of racing to outrun it.</p><p>so i try. not because i believe in endings this time, but because for once, <strong><em>being alive doesn’t feel like a risk.</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ae997acc539b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[so, i can breathe now?]]></title>
            <link>https://medium.com/@ryvzdffq/so-i-can-breathe-now-7375b6a57427?source=rss-ae951cfff5e2------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7375b6a57427</guid>
            <category><![CDATA[love-letters]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[citraa ৎ]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 08 Jan 2026 17:06:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-08T17:06:45.788Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>the way his presence says like “<strong><em>you can breathe now</em></strong>”, the way his gentleness touches my soul without him even trying, the way his voice steadies me everytime mine breaks while i speak of a past that still aches, and when everything turns its back on me, his presence says, “<strong><em>stand behind me</em></strong>”.</p><p>he never asks for explanations, why and what happened, never demands courage on my worst days, he understand that survival already took enough strength from me.</p><blockquote>“aku mau kita secure bareng bareng. aku mau kamu bisa clear sama dendam kamu, clear sama semua masalah kamu sebelumnya. dengan kata lain kamu mau minta apapun dari aku, aku bakal kasih karna <strong>kamu udah bagian dari diri aku</strong>” he says,</blockquote><p>with him, nothing in demanded in exchange for being held, no version of me that needs fixing. he doesn’t turn my pain into a story, doesn’t romanticize the scars i learned to live with. <strong>he protects me from the world, but the way he never uses the world to prove his strength</strong>. and for the first time,<strong><em> i can finally breathe</em></strong>.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/414/1*WLo8tA4oZX_-XewugSTH4w@2x.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7375b6a57427" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>