<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by idayuningsih on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by idayuningsih on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@talkmorewritemore?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*nG_S6g72uT7SoIRSVyJGdQ.png</url>
            <title>Stories by idayuningsih on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 06:02:52 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@talkmorewritemore/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[510 CULT MINISTRY : Ritual Persembahan 510 Dalam Balutan Orkestra]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/510-cult-ministry-ritual-persembahan-510-dalam-balutan-orkestra-409489b8486b?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/409489b8486b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 19 Sep 2025 03:05:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-19T03:05:33.268Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3><strong>510 CULT MINISTRY : </strong>Ritual Persembahan 510 Dalam Balutan Orkestra</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/201/1*jpsHJIsTWQzXwA4IDLdXTA.jpeg" /></figure><p>“<em>Selamat Datang di Belantara, Jiwa yang Mendendam..</em>” seruan bagi kalian para penggemar 510 yang telah bergema melalui lagu teranyar mereka yang berjudul Ritual. Pernah membayangkan jika lagu Ritual dan deretan lagu 510 lainnya akan dibawakan dalam aransemen yang berbeda? Semua itu akan terwujud dalam Konser Tunggal 510 dibawah panji agung <strong>510 CULT MINISTRY</strong> hasil kerjasama Progresif Entertainment dan tentu band 510.</p><p><em>Cult</em> dalam bahasa Indonesia berarti kultus, merupakan istilah yang merujuk pada sekelompok orang yang memiliki keyakinan, ritual, pengabdian yang kuat dalam kaitannya dengan spiritual. <em>Ministry</em> dalam bahasa Indonesia berarti kementerian atau pelayanan. Dalam konteks yang lebih khusus, arti dari <em>Ministry </em>ini merujuk pada ekspresi kasih dan pelayanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.</p><p>Sehingga secara harfiah <strong>510 Cult Ministry</strong> ini dapat diartikan sebagai bentuk ritual persembahan dari 510 kepada para penggemar dan pendengarnya untuk menyuguhkan “pelayanan” terbaik dalam gelaran konser tunggal pertamanya.</p><p>Dengan menggandeng Progresif Entertainment sebagai promotor, konser tunggal ini akan mengusung konsep <em>full</em> orkestra dalam membawakan seluruh karya terbaik mereka dari album Origin dan EP terbaru mereka yaitu Ritual.</p><p>Setelah sebelumnya sukses menggelar perhelatan <em>gig intimate</em> dengan konsep <em>accoustic recital</em> yang diiringi musik orkestra dari One Orchestra pada pertengahan bulan Desember tahun 2024 lalu. Melihat animo yang besar dan apresiasi yang sangat tinggi pada konsep orkestra tersebut, 510 akhirnya kembali mengusung konsep yang sama namun dalam skala yang lebih besar dan tentu lebih megah.</p><p>Akan diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 13 September 2025 di Cornerstone Bandung, <strong>510 Cult Ministry</strong> tentu akan menyuguhkan penampilan dalam iringan musik orkestra yang megah, serta tata panggung layaknya didalam teater <em>Broadway</em> yang dipastikan akan memberikan kesan monumental di setiap penampilannya.</p><p>Dalam usaha memberikan persembahan terbaik, 510 pun akan berkolaborasi dengan nama-nama yang sudah tidak asing lagi di dunia musik terlebih di telinga para fans 510 seperti diantaranya Bimo PD, Prazz Teguh, Prince Husein, Fanny Soegi, dan Mentari Novel.</p><p><em>For the record</em>, band internasional yang sukses dan masih menjadi perbincangan hingga kini karena menampilkan konsep <em>full</em> orkestra dalam konsernya adalah band Bring Me The Horizon yang tampil memukau di Royal Albert Hall beberapa tahun silam. Di skala nasional, mungkin 510 bukan band metal pertama yang mengusung format orkestra dalam konsernya namun apa yang akan ditawarkan <strong>510 Cult Ministry </strong>tentu akan berbeda dari yang lainnya dan akan jauh lebih memukau.</p><p><strong>510 Cult Ministry </strong>bukan sekedar konser tunggal melainkan langkah berani 510 dalam menepis <em>stereotype </em>band yang monoton dan kaku dalam bermusik. Melalui <strong>510 Cult Ministry, </strong>510<strong> </strong>akan menyuguhkan kemegahan audio visual dalam mengemas deretan lagu hits mereka diatas panggung orkestra sehingga memberikan pengalaman berkesan yang tak hanya memuaskan telinga namun juga memanjakan mata.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=409489b8486b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[Review] COLLAPSE — FRAGMEN (RUANG & WAKTU) : Pengembaraan ke Antariksa dalam Misi Peremajaan…]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/review-collapse-fragmen-ruang-waktu-pengembaraan-ke-antariksa-dalam-misi-peremajaan-df16f409e36c?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/df16f409e36c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 09 Mar 2025 04:43:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-09T04:43:41.550Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3><strong>[Review] COLLAPSE — FRAGMEN (RUANG &amp; WAKTU) : </strong>Pengembaraan ke Antariksa dalam Misi Peremajaan Musik dan Pendewasaan Lirik</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/700/1*4nDWXw2HFFvmi3cNllbJMg.jpeg" /></figure><p>Sebuah karya interstellar dari super grup kenamaan asal Bandung yaitu Collapse kembali diluncurkan pada 14 Februari lalu. Collapse merupakan sebuah unit beraliran alternative rock yang kini konsist dengan 4 (empat) orang personel dengan formasi Dika pada Vokal, Mario dan Angga pada Gitar, serta Kevin pada Drum. Berjudul Fragmen (Ruang &amp; Waktu), Collapse percaya diri menggaet salah seorang vokalis band metalcore ternama yaitu Faizal Permana atau Ical dari band 510 untuk berkolaborasi.</p><p>Seperti pada karya-karya terdahulu, Fragmen (Ruang &amp; Waktu) muncul dengan intro yang lengang dalam interval hingga 1 menit panjangnya. Bagian yang selalu menjadi ciri khas dari Collapse seolah menjadi preparasi untuk melemparkan pendengarnya ke galaksi Bima Sakti lantas terhanyut dalam lagu ini.</p><p>Sebuah konsep kontradiksi yang kami pakai dalam menginterpretasikan karya satu ini, yaitu peremajaan musik dan pendewasan lirik. Riff gitar dan hentakkan drum yang intens di awal terkesan bagaikan semangat remaja muda yang mengitari ruang. Vokal nan prima yang menyusul dengan pelafalan untaian lirik yang menyeruakkan kedewasaan dan kematangan makna melaju dalam satuan waktu.</p><p>Fragmen (Ruang &amp; Waktu) terdengar lebih <em>dreamy</em> dibandingkan lagu-lagu Collapse terdahulu baik dari segi musikalitas maupun penulisan lirik. Menurut pengamatan pribadi, menggabungkan musik yang <em>dreamy</em> dengan lirik berbahasa Indonesia memiliki kesulitan tersendiri. Yang tidak semua musisi peka terhadap hal ini, namun Dika sebagai penulis lirik dari lagu ini mampu menyusun struktur lirik hingga terdengar sangat puitis.</p><p>Dengan penggunaan aneka majas dan diksi yang berasal dari luar angkasa dan seantero tata surya. Penggunaan diksi kosmik dan lubang hitam atau <em>blackhole</em> menjadi bukti kedewasaan yang cerdas dari Collapse dalam meramu karya terbaru mereka ini. Tanpa menyusuri makna sesungguhnya, lirik nya sudah cukup puas untuk dinikmati dalam keserasian rima nya.</p><p>Pada lini vokal, jika kita lebih akrab dengan vokal Ical dalam format 510 maka lagu ini akan menjadi sangat fresh untuk diperdengarkan. Meski hanya sebagai kolaborator, peran Ical dalam lagu ini cukup sentral karena mengemas vokal Dika menjadi sebuah harmoni. Yang menarik, sekilas kita tak sulit membedakan vibrasi suara Dika maupun Ical karena suara mereka hadir terasa begitu ramah berbaur.</p><p>Bisa jadi ini merupakan lagu perpisahan yang semestinyaa sendu, namun Collapse kemas dalam cangkang yang kokoh dan kuat sebagaimana sudut pandang lelaki dalam memaknai sebuah kesedihan dalam perpisahan. Erangan ical di detik akhir lagu menjadi <em>closure</em> bahwa Fragmen (Ruang &amp; Waktu) adalah sebuah karya yang dewasa dan matang.</p><p>Secara keseluruhan, Fragmen (Ruang &amp; Waktu) merupakan lagu yang <em>easy listening</em> dengan membangun tension yang apik dari awal lagu hingga detik terakhir. Lagu yang ramah untuk dinyanyikan bersama sembari menghentakan kaki dan kepala. Untuk fans Collapse maupun 510, lagu ini sangat bisa menjadi <em>escaping</em> karena secara komposisi sangat segar dan khas.</p><p>Akhirnya, Fragmen (Ruang &amp; Waktu) telah tersedia untuk diapresiasi dan didengarkan di berbagai layanan digital audio streaming. Seperti hal nya penggalan lirik lagu ini “<strong>Dalam misteri hal yang takkan kau ketahui..</strong>” biarlah lagu ini berkuasa di dalam kepala sebagai sebuah misteri tanpa mesti di ketahui.</p><p><strong>teks oleh idayuningsih</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=df16f409e36c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[Review] PURE WRATH — FLOWERS AND WALLS : Bunga Hipnosis yang Tumbuh di antara Belukar]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/review-pure-wrath-flowers-and-walls-bunga-hipnosis-yang-tumbuh-di-antara-belukar-ca6d3fff2e0a?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ca6d3fff2e0a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 23 Jan 2025 16:15:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-01-23T16:39:32.299Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>[Review] PURE WRATH — FLOWERS AND WALLS<strong> : </strong>Bunga Anomali yang Tumbuh di antara Belukar</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*eX3DxRm9apdGdECR3kToCg.jpeg" /></figure><p><strong>“Seumpama bunga, lagu ini adalah yang tak kami antisipasi tumbuh.”</strong> Sepenggal lirik dari lagu Bunga dan Tembok milik Fajar Merah yang diksi-nya saya modifikasi, guna merangkum kesan yang saya peroleh setelah mendengarkan lagu teranyar dari Pure Wrath yang berjudul Flowers And Walls. Flowers and Walls menurut saya adalah sebuah<strong> </strong>anomali dari deretan musik hitam sang <em>lone-wolf</em> Januaryo Hardy melalui Pure Wrath yang telah lebih dulu mengemas ingatan saya. Dengan hadirnya lagu baru ini, saya dengan senang hati merunut kembali album-album Pure Wrath terdahulu seperti Ascetic Eventide, Sempiternal Wisdom maupun Hymn to the Woeful Hearts. Direktori lagu demi lagu saya coba dengarkan kembali hingga tak saya temukan satu pun lagu yang memiliki setidaknya 40% kemiripan <em>pattern</em> dan komposisi nya dengan lagu Flowers and Walls. Yang berarti, ini adalah <em>another</em> karya jenius seorang Januaryo Hardy dalam meramu pembaharuan karya nya yang berasal dari satu sumber akar.</p><p>Sebelum lebih jauh, mari berkenalan terlebih dahulu dengan sebuah karya puisi yang konon menjadi inspirasi dari penggubahan lagu Flowers and Walls ini. Ialah puisi berjudul Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul, seorang penyair yang juga merupakan aktivis yang sangat vokal menyuarakan isu politik dan sosial kala itu. Bunga dan Tembok yang mula nya hanya sebuah karya puisi, lantas di-musikalisasi-kan menjadi sebuah lagu dengan judul yang sama yang dihantarkan oleh putra dari Wiji Thukul sendiri yaitu Fajar Merah. Selanjutnya, lagu Bunga dan Tembok ini menjadi gaung perlawanan para aktivis pada setiap aksi yang diwakili suaranya oleh Cholil dari band Efek Rumah Kaca.</p><p>Lagu Bunga dan Tembok yang dalam perjalanannya menjadi simbol dan medium perlawanan, substansi nya kini telah sampai hingga ke Pure Wrath. Melalui lagu Flowers and Walls yang juga mengadopsi lirik prelude Bunga dan Tembok yang telah di alih bahasa ke bahasa inggris sehingga terdengar menjadi “<em>if we were flowers, we’d be the flowers that you don’t wish to grow.”.</em> Sangat mengagumkan ketika sebuah lagu, tak bisa benar-benar kita definisikan secara mutlak. Flowers and Walls menjadi perwujudan sebuah lagu adopsi namun secara komposisi dan aransemen merupakan lagu yang berdiri sendiri.</p><p>Memasuki paruh pertengahan lagu, kita akan disambut monolog deklamasi bait ke-5 puisi Bunga dan Tembok yang telah disadur ke bahasa inggris sehingga berbunyi “<em>around those walls we have spread our seed. one day we will grow, united in our faith.”.</em> Monolog tersebut hadir ditengah riff gitar seorang Ryo yang selalu menjadi benang merah dan <em>signature</em> dari setiap karya Pure Wrath. Sepanjang lagu ini, kita akan disuguhkan timbre suara Ryo yang lain dari biasanya. Vocal yang seolah berbisik, terdengar lebih <em>clean</em> namun juga <em>deep </em>yang mampu membuat kita mengawang merasakan <em>ambience</em> baru yang tak pernah kita dapatkan dari lagu orisinalnya maupun dari lagu-lagu Pure Wrath yang lain. Aransemen musik berikut tempo nya pun dibuat melandai lantas menanjak pada beberapa bagian lagu, guna menghadirkan nuansa hipnosis yang akan membuat kita memutar lagu ini secara berulang.</p><p>Flowers and Walls adalah sebuah bunga hipnosis yang tumbuh di antara belukar, yang dapat diartikan sebagai sebuah anomali estetika dari Pure Wrath yang tetap tumbuh meski bukan pada habitatnya. Habitat yang selama ini identik dengan imej Black Metal yang di analogikan dengan belukar, kini telah ditumbuhi bunga yang mampu menghipnotis sesiapa saja yang mendengarkan.</p><p>Seperti apa yang saya kemukakan di alinea awal, kemuculan lagu Flowers and Walls ini tidak pernah di antisipasi sebelumnya. Flowers and Walls menjadi sebuah “ancaman” baru yang tak pernah diduga kehadirannya. Sebuah antidot bagi lagu orisinal nya maupun bagi lagu-lagu Pure Wrath terdahulu. Meski unsur maupun imej Black Metal dari Pure Wrath di lagu Flowers and Walls ini masih cukup kentara, menurut saya pribadi, lagu ini akan bisa dinikmati secara luas bahkan bagi non pendengar Black Metal pun.</p><p>Flowers and Walls dari Pure Wrath sudah dirilis pada tanggal 7 Januari 2025 lalu, sehingga sudah bisa didengarkan di berbagai layanan streaming digital. Untuk lebih merasakan <em>ambience </em>secara lebih mendalam, disarankan untuk menikmati lagu ini secara audio/visual dengan menonton <em>official video</em> nya melalui kanal Youtube Pure Wrath.</p><p><strong>teks oleh idayuningsih</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ca6d3fff2e0a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[510 — Mimbar, Lagu Protagonis dengan Dinamika Yang Magis]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/510-mimbar-lagu-protagonis-dengan-dinamika-yang-magis-71f08eba589b?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/71f08eba589b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 24 Nov 2024 08:32:17 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-11-24T08:32:17.848Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>510 — Mimbar, Lagu Protagonis dengan Dinamika Yang Magis</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/225/1*ujLyhD5JeVjXDl-cB-CgTA.jpeg" /><figcaption>Artwork cr. 510</figcaption></figure><p>510 memang selalu mahir dalam memainkan emosi pendengar dalam tiap karya yang mereka ciptakan. Seperti hal nya dalam lagu tunggal teranyar mereka yang bertajuk Mimbar. Lantas pemilihan tajuk Mimbar ini menjadi sangat selaras tatkala kita memahami kedalaman makna dalam tiap untaian bait liriknya. Mimbar merupakan sebuah tempat yang ditinggikan untuk dipakai pemuka agama dalam menyampaikan khutbah. Bagaimana 510 menghantarkan khutbah dalam mimbar mereka yang membingkai ayat-ayat kultus dalam dinamika instrumen dan vokal.</p><p>“<strong>Biarkan air mata yang mengalir di wajahmu, takkan ada jawaban untuk semua deritamu</strong>”</p><p>Petikan ayat yang disampaikan sangat melankolis melalui <em>angelic voice </em>seorang Ical pada bagian mukadimah lagu. Bagian yang menjadi pengingat bahwa kesedihan adalah bagian dari olah rasa jiwa, maka “<strong>menangis lah, rasakan lah</strong>” karena kesedihan terkadang hanya titipan rasa yang tak memiliki jawaban dan tak harus dipertanggungjawabkan.</p><p>Mimbar juga merupakan simbol yang melambangkan otoritas spiritual dan menjadi penghubung antara umat dengan dimensi Tuhan nya. Maka selanjutnya, 510 menghantarkan kita ke dalam fluktuasi spiritual yang diwakili oleh distorsi gitar Pras dan hentakan pedal Wina yang secara masif mendorong kita menyelami sisi lain dari sungkawa dan duka. Diawali monolog vokal dan alunan melodi yang sangat hipnosis, kesinambungan yang sangat hingar untuk menghentakkan kepala di pertengahan, sesaat kemudian juga meluruhkan darah untuk merasakan duka cita yang mendalam. Bagaimana bisa ke-tiga sosok pemuka ini mempermainkan emosi para umatnya hanya dalam satu lagu berdurasi 4 menit 46 detik ini? Terberkatilah kita semua.</p><p>Saat mulai mendayu terhipnotis di menit pertama, elemen kejut pun hadir diawali <em>riff</em> yang garang disusul gebukan drum yang menghentak mantra. Paruh tengah menjadi prosesi penuh adrenalin dengan hentakan agresif di setiap detiknya. <em>Scream</em> dan <em>Growl </em>telah menyempurnakan keseluruhan lagu secara struktur dan komposisi. Begitu magis, akulturasi setiap elemen yang berbeda ini justru memberi kesan megah tanpa menggerus intimasi lagu.</p><p>“<strong>Ku tahu kau memikulnya, Ku rasakan hal yang sama</strong>”</p><p>Sungguh sungkawa kolektif yang dapat kita rasakan pedihnya. Paruh akhir menjadi ikhtisar bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti merasakan duka lara. Bagian paling fundamental ialah ketika terdengar ansambel paduan suara yang menciptakan harmoni seolah banyak raga yang tengah memeluk tubuh penuh luka secara bersamaan. Satu sama lain berusaha saling menyembuhkan. Sungguh haru namun juga terasa lega.</p><p>Fakta menarik tentang babak akhir lagu ini adalah bagian <em>choir </em>merupakan gabungan suara para 510Squad dari berbagai kota yang telah disambangi pada rangkaian Renegades Show. Hal ini menjadi bukti bahwa 510 adalah band yang hidup dan menghidupi para penggemarnya.</p><p><em>Single</em> Mimbar secara resmi telah rilis di berbagai layanan<em> audio streaming</em> pada tanggal 22 November 2024 lalu, dengan terlebih dahulu meluncurkan <em>Visualizer Lyric</em> pada 18 November 2024 melalui saluran YouTube resmi 510 Music. <em>Visualizer Lyric</em> menjadi komplementer dengan suguhan visual yang memproyeksikan lagu Mimbar secara sinematik sehingga makna liriknya dapat lebih mudah dipahami.</p><p>Mimbar meupakan lagu protagonis yang dikemas dalam dinamika yang begitu magis. Mengangkat isu yang sangat dekat dengan sisi humanis menjadikan liriknya begitu akrab untuk diselami. Dari awal hingga paruh akhir lagu sungguh sajian yang menguji fluktuasi rasa dan emosi. Salah satu karya terbaik dari 510 yang sudah sepatutnya harus diapresiasi dengan sangat tinggi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=71f08eba589b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Black September — Sebuah Memorandum Perampasan Hak Yang Belum Tuntas]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/black-september-sebuah-memorandum-perampasan-hak-yang-belum-tuntas-d6348d9e38d4?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d6348d9e38d4</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 15 Sep 2024 07:27:14 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-15T07:37:29.362Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Black September — Sebuah Memorandum Perampasan Hak Yang Belum Tuntas</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*hp9RgBZZH6WqC4k2QQ6lXQ.jpeg" /></figure><p><strong>Black September</strong> bagi saya merupakan memorandum untuk terus merawat ingatan betapa ekstensifnya catatan sejarah atas perampasan hak oleh negara. Digelar di IFI Bandung pada 14 September 2024, Black September merupakan aksi kolektif hasil inisiasi Grimloc Records dan Disaster Records. Dengan agenda utama berupa diskusi yang menghadirkan narasumber dari berbagai penjuru negeri yang membagikan kisah perampasan hak yang belum selesai, sedang berlangsung, dan kemungkinan ancaman-ancaman yang sekira akan terjadi di masa mendatang.</p><p>Selain diskusi digelar pula pameran, lapakan, aksi solidaritas dan penggalangan dana pun digelar di tiap sudut selasar IFI yang menghimpun banyak rupa dan jiwa yang tentu memiliki tujuan sama yaitu “pembebasan hak”. Pada paruh akhir acara diperdengarkan kembali secara terbatas album Barisan Nisan yang merupakan mahakarya <em>living legend</em> Homicide yang sekaligus sebagai perayaan 2 dekade dirilisnya album tersebut.</p><p>Diskusi berlangsung hingga 3 sesi, menyuguhkan <em>timeline</em> dan topik berbeda di setiap sesi nya. Catatan sejarah, sudut pandang dan informasi yang disampaikan oleh narasumber mungkin saja sempat luput dari radar pengetahuan kita. Seperti hal nya pembunuhan aktivis HAM Munir, tragedi Tanjung Priok, tragedi Semanggi, peristiwa ’65, hingga yang sedang berlangsung kini ancaman proyek strategis di Pulau Rempang dan Pulau Halmahera.</p><p>Salah satu Narasumber pada sesi ke-3 diskusi yang merupakan delegasi dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), memantik ingatan saya akan komplikasi masalah yang masih berlangsung di kampung halaman saya, yaitu Sumedang. Beberapa proyek pembangunan infrastruktur nasional yang masih menyisakan problem pada sektor vital masyarakat sekitar.</p><p>Salah satu nya ialah proyek pembangunan Bendungan Jatigede. <em>Qodarullah</em>, di tahun 2017 saya sempat berdinas di Jatigede selama hampir 2 tahun. Semasa itu, saya kerap berinteraksi dan membuka dialog dengan warga sekitar yang mayoritas merupakan korban terdampak pembangunan Bendungan Jatigede. Implikasi nya begitu beragam, ada yang sudah berdamai dan terus melanjutkan hidup mereka dengan nyaman; ada yang masih berjuang karena masih menggugat hak yang belum terpenuhi; ada pula yang sengsara karena tidak mendapatkan selembar pun kompensasi.</p><p><em>Layer </em>yang sudah berdamai ialah mereka<em> </em>yang membebaskan lahan dan mendapatkan kompensasi pada saat kepemimpinan presiden Soeharto. Sebagai informasi tambahan, proyek pembangunan Bendungan Jatigede digagas pada tahun 1980-an oleh Soeharto yang kemudian berangsur hingga dieksekusi pembangunannya pada era kepemimpinan Jokowi. Untuk kelompok warga yang masih menggugat dan belum mendapatkan hak nya ialah mereka yang baru bernegosiasi pada era Jokowi. Pembebasan lahan memunculkan kompleksitas permasalahan yang pelik hingga banyak warga yang tidak mendapatkan hak penuh atas lahan yang sudah diakuisisi pemerintah. Akhirnya mereka terpaksa eksodus, terusir dari rumah mereka sendiri dengan membawa sisa-sisa harta atau bahkan tak membawa sepotong kayu pun untuk residensi baru mereka. Miris mengetahui sebagian dari mereka yang masih bertahan di Jatigede, hanya memiliki sepetak kebun yang sekaligus digunakan untuk membangun gubuk sederhana sebagai rumah,</p><p>Dampak lingkungan yang lazim ditemui disetiap proyek pembangunan dan tentu merugikan masyarakat sekitar adalah rusaknya fasilitas penyokong aktivitas seperti jalan. Peningkatan suhu pun sangat dirasakan. Rumah-rumah warga rentan rusak karena struktur tanah disekitar bendungan menjadi tidak stabil. Yang paling dikhawatirkan adalah retakan dinding bendungan hingga meluap nya debit air yang berpotensi menimbulkan bencana untuk daerah yang terletak lebih rendah dari permukaan bendungan.</p><p>Belum lagi masalah sosial ekonomi yang harus dihadapi oleh warga masyarakat Jatigede, seperti diantaranya adalah tenaga kerja asing dari tiongkok yang mengalih-kendali lapangan pekerjaan secara sistematis. Mayoritas warga Jatigede hanya diperkenankan bekerja di proyek pada sektor <em>entry level</em> sebagai buruh. Untuk jabatan yang lebih tinggi diduduki SDM dari luar Jatigede bahkan luar negeri.</p><p>Ini semua merupakan sebuah ironi perampasan hak yang tak hanya memperkecil ruang gerak masyarakat, mengubah struktur dan pola berkehidupan masyarakat, juga mengikis lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Jika dibiarkan, masalah yang timbul tidak akan berkesudahan dan berpotensi memunculkan masalah baru di kemudian hari.</p><p>Namun seperti hal nya kawan-kawan di Dago Elos yang berkat gerilya perjuangan, perlawanan, dan solidaritas akhirnya kini berangsur menemui titik terang. Semoga mereka dan juga kawan-kawan dari daerah lain seperti diantaranya Petani dan Nelayan Pulau Rempang dan Pulau Halmahera bisa mendapatkan hak mereka kembali secara utuh. Dan untuk para korban, keluarga korban beberapa tragedi kemanusiaan di Indonesia yang masih belum mendapatkan keadilan, segala bait doa dan dukungan kami bersama kalian. Mari tuntaskan bersama.</p><p>Oleh karena itu diperlukan perlawanan dan solidaritas dalam mempertahankan wilayah, mempertahankan hak asasi baik secara individu maupun kelompok, dan hak-hak lain yang merupakan substansi sebagai seorang warga negara.</p><p>Saya adalah warga negara, saya adalah petani, yang mungkin saja di kemudian hari hak dan lahan saya akan dirampas. Maka sedari hari ini, akan saya siarkan berita perampasan atas hak dan lahan saudara-saudara saya. Mereka dulu hidup dengan tenang dan nyaman sama seperti kita semua hari ini. Maka tidak menutup kemungkinan di masa depan sengketa perampasan akan berulang dan bergilir menjajal kita.</p><p>Saya pun adalah birokrat dalam struktur kecil, maka akan senantiasa saya suarakan dari dalam sebagaimana amanat Undang-undang untuk mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi. Meski saya hanya percikan atau anomali, namun akan terus saya gelorakan hingga menjadi bara dan nyala yang tak pernah padam.</p><p>Jika rezim masih mewariskan ketidakadilan dan perampasan, maka kita harus mewariskan pengetahuan dan perlawanan hingga konfrontasi selesai dan tuntas. Write and Destroy, LAWAN!</p><p>[<strong>ALERTA!</strong>] Seruan dari Bapak Bejo Untung untuk para pemuda, dalam momentum Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober mendatang mari rapatkan barisan untuk mengadakan kembali Kongres Rakyat dan Kongres Pemuda. Gaungkan perampasan hak yang masih belum tuntas, dan probilitas perampasan di masa yang akan datang.</p><p>Sumedang, 15 september 2024 — <strong>ideaism oleh idayuningsih</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d6348d9e38d4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[Press Release] 510 RENEGADES: HOMETOWN SHOW BANDUNG]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/press-release-510-renegades-hometown-show-bandung-5c27ae0c7ce3?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5c27ae0c7ce3</guid>
            <category><![CDATA[showcase]]></category>
            <category><![CDATA[press-release]]></category>
            <category><![CDATA[music]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 29 Jun 2024 09:15:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-29T09:15:45.040Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*i-7MLJrr5p-XyQl8ZJySEg.jpeg" /><figcaption>image cr. gladinasaska</figcaption></figure><p>Bandung menjadi tempat pulang selanjutnya bagi 510, band Alternative rock yang terbentuk pada tahun 2021 dengan mengusung konsep minimalism beranggotakan 3 (tiga) orang personel. Meski terhitung baru dalam deklarasi nama 510, namun bagi para pendengar dan fans setia, 510 selayaknya reinkarnasi dari band pemilik lagu Devil’s Need yaitu Slap It Out yang jauh lebih dulu debut. Faizal Permana alias Ical (vocal) yang juga merupakan founder dari Slap It Out menjadi stimulus dengan menggaet Pras Goldinantara untuk mengisi lini gitar, dan Winaldy Senna pada drum hingga terbentuklah 510. Album Origin yang dirilis pada bulan Juli tahun 2023 lalu menjadi sebuah <em>moment of truth </em>bagi 510 yang akan mengekspansi dan kian melanggengkan dinasti musik mereka di industri.</p><p>Setahun berselang setelah lahirnya Origin, pada bulan Mei tahun 2024 510 memulai rangkaian show yang bertajuk Renegades: Hometown Show dengan titik pertama di Mojokerto, Jawa Timur. Seperti namanya, rangkaian show ini merupakan kolaborasi antara sajian penampilan dari 510 sekaligus kepulangan tiap personel ke kota asal mereka. Mojokerto merupakan kota kelahiran dari sang Drummer yaitu Winaldy Senna atau kerap disapa Mas Wina. 510squad Mojokerto menyambut kepulangan 510 di WS Vintage yang malam itu penuh sesak dan riuh hangat.</p><p>Seperti ungkapan “Home At It Best”, rumah berikutnya yang mereka sambangi adalah Bandung. Rabu malam tanggal 26 Juni 2024 ketika manusia lain masih sibuk dengan rutinitas pekerjaannya, 510squad telah berkumpul di The Beats untuk menyambut dan merayakan kepulangan Pras Goldinantara atau Bang Pras yang telah sukses menjadi Gitaris 510 kebanggaan banyak orang. Menghantarkan malam, sederet penampilan pembuka dari PVLLETE, BLEACH, SUNBATH dan tentu yang juga ditunggu penampilan abang-abangan Pop-punk kota Bandung yaitu GLORY OF LOVE yang sukses merapatkan barisan hingga ke depan stage.</p><p>Tiba lah di puncak seremoni, dengan intro ikonik dari lagu WhereDoWeCameFrom yang hadir dengan sentuhan bebunyian etnik dari tiap daerah asal para personel. Merinding! Perasaan yang pasti semua orang rasakan kala itu. Album Origin dibawakan secara penuh, bagai oase yang melepaskan dahaga para 510squad urutan lagu yang dihantarkan membuat kami merasa berada dalam <em>rollercoaster </em>bahagia. Setelah lagu-lagu dengan tempo cepat dibawakan, kami rehat untuk terhanyut akan keindahan lagu Mama yang sekaligus membuat kami melihat <em>soft spot </em>510 dengan <em>highlight</em> sisi lain seorang Pras yang menjadi inspirasi dalam perspektif Ical saat menggubah lagu ini. Tangis haru dalam prosesi lagu Mama menjadi transisi agar segera bangkit kembali untuk merayakan <em>disorder</em> asmara melalui lagu Re-Mine. Waktu bergulir hingga tiba saat lagu Sorry yang memastikan Ical beradu ditengah-tengah para 510squad. Dunia seakan terdiam, yang terdengar hanya suara kami dan Ical dengan sayup-sayup musik sebagai latar. (p.s. Author menangis haru saat mengingat moment ini, terlalu indah). Malam keakraban ditutup dengan mega hits 510 yaitu sang Emotional Renegades sebagai klimaks guna menghabiskan energi kami yang tersisa, adrenalin dan <em>excitement</em> tumpah ruah. <em>What a wild night</em>. Dan yang paling fundamental malam itu adalah semua yang hadir dilibatkan dalam proses kreatif produksi lagu teranyar 510, dengan menyumbangkan suara lantas serentak menyanyikan penggalan lirik untuk lagu tersebut.</p><p>Secara teknis, pemilihan The Beats sebagai venue dirasa sangat tepat. The Beats membuat showcase terasa sangat intimate dan tentu bagi 510squad perempuan pun bisa merasa aman dan nyaman. Bisa dikatakan terdapat <em>Ladies Zone</em> yang berada tepat berhadapan dengan stage dengan platform berupa tangga yang lebih tinggi. Para <em>ladies </em>berkumpul di sudut tersebut dan sangat menikmati show, bernyanyi dan ikut berjingkrak tanpa harus takut berdesakan dan terhimpit oleh kerumunan para lelaki. <em>To 510 and all crew, you own our highest respect. Good job.</em></p><p>Dari band penampil pembuka hingga tiba giliran 510 on stage, sound terdengar sangat konstan dalam hingar bingar terbaiknya. Dan yang tak kalah harus diapresiasi selain ambience sound yang megah, tetapi juga visual yang ditampilkan dalam setiap pergantian lagu sangat mewakili sekaligus memanjakan mata.</p><p>Dan Bandung bukan hanya sekedar kampung halaman bagi seorang Pras, melainkan tempat kelahiran bagi 510. Sehingga tak heran jika Bandung menjadi saksi luapan emosional bukan hanya bagi personel 510, tapi bagi para crew, keluarga terdekat, sahabat, dan tentu para 510squad. Semua yang hadir menjadi saksi bahwa ikatan telah terjalin diantara kami semua. Doa-doa kami langitkan untuk orang-orang terkasih yang lebih dulu mendahului. Dan rasa syukur kami panjatkan atas apa yang masih kami miliki saat ini. Sekali lagi, Long life 510!</p><p>Tentu Renegades: Hometown Show bukan sekadar perihal kepulangan individu, melainkan sebagai pengingat bahwa sejauh mana kita melangkah kita harus selalu ingat pulang. Dan ketika kita pulang selalu ada yang bisa kita bawa seperti diantaranya “<strong>Keluarga Baru</strong>”.</p><p>Nah.. Kota mana lagi yang akan menjadi tempat pulang bagi 510? Apakah somewhere in Jakarta? Atau somewhere in Palangkaraya? Mari tunggu saja. All hail 510squad, brace yourself.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5c27ae0c7ce3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[Press Release] noireve — The Journey: Persona]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/press-release-noireve-the-journey-persona-687b493844eb?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/687b493844eb</guid>
            <category><![CDATA[music]]></category>
            <category><![CDATA[hip-hop]]></category>
            <category><![CDATA[press-release]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 18 Jun 2024 09:13:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-18T09:13:38.971Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>[Press Release] noireve — The Journey: Persona</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tbdcVeNPDKFMKJGZtbUJ1Q.jpeg" /></figure><p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=BuWgGaEIIEI">https://www.youtube.com/watch?v=BuWgGaEIIEI</a></p><p>Noireve merupakan alter ego dari seorang ida yuningsih, penulis sekaligus <em>co-founder</em> beberapa <em>collective movement</em> di kota Sumedang. Noireve hadir sebagai media konversi dari risalah kata yang ditulis Ida menjadi sesuatu yang lebih kultus dan universal yaitu karya musik. Dalam deklarasi debutnya, Ia melepas sebuah single yang bertajuk The Journey: Persona secara digital dalam format audio dan audio visual.</p><p>Diproduksi secara D.I.Y, The Journey: Persona merupakan track yang menggabungkan beats Chill Hip Hop gubahan Neez dengan <em>rapline </em>intens minim repetisi yang ditulis sendiri oleh Ida. Lirik The Journey: Persona terbentuk dari fragmen ingatan dan imajinasi yang menjadikan lagu ini akan membawamu ikut masuk ke semesta yang Noireve ciptakan. Mengisahkan sebuah perjalanan panjang, pengembaraan bersama seseorang yang tepat didalam hidup yang akan membawamu sampai ke tujuan. Lalui lautan, daratan, dan awan, segala rona keindahan dinarasikan dengan apik merajut bpm yang konstan melaju hingga akhir lagu. Pesan mendalam pun berusaha disampaikan dalam lagu ini, ihwal segala aral lintang dan penghalang akan mudah dijelang ketika tetap bersama dan saling menguatkan.</p><p>Mengadopsi musik dari sederet musisi Hip Hop old school tahun 2000-an yaitu Forth Minor, Far East Movement, B.O.B, dan juga Oddisee. Kiblatnya dalam menulis lirik pun tak lepas dari pengaruh musisi-musisi besar tersebut yang mana kebanyakan dari lagunya mengangkat tema kehidupan, petualangan, isu pribadi, dan hal-hal yang lebih dekat dengan sisi humanis.</p><p>Selain itu ketertarikan nya terhadap musik Hip Hop dipengaruhi oleh tayangan program MTV yang menjadi tontonan semasa kecilnya yaitu Pimp My Ride dan Cribs yang kala itu kental dengan kultur American Hip Hop.</p><p>Leburan elemen inspirasi tersebut menjadikan musik yang dihadirkan Noireve terdengar <em>raw</em> khas Hip-Hop medio 2005 dengan tentu menyajikan lirik yang terasa begitu dekat dan humanis. Melalui single debutnya ini, Ia pun ingin mempresentasikan sisi lain dari Hip Hop yang menyuguhkan kedalaman makna dan keindahan suara yang berasal dari eksplorasi diksi dan rima.</p><p>Akhirnya, The Journey: Persona telah diluncurkan secara digital dalam format audio visual berupa Video Lirik pada platform YouTube, streaming audio pada Soundcloud dan Reverbnation, serta berbagi file audio secara gratis pada 4shared. Platform diatas dipilih bertujuan untuk mengembalikan memori nostaljik masa kecil seorang Ida yang kala itu menjadi opsi paling mudah dalam mengakses musik.</p><p>NOW GODSPEED! Mari berkelana bersama Noireve from San Francisco to Tennessee.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=687b493844eb" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[Beyond SIMPATI] SEMAWAR — Program Strategis Pemerintah Kecamatan Tanjungsari dalam Menekan Angka…]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/beyond-simpati-semawar-program-strategis-pemerintah-kecamatan-tanjungsari-dalam-menekan-angka-d111cd6689a2?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d111cd6689a2</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 18 Nov 2023 04:56:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-11-18T04:56:07.127Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>[Beyond SIMPATI] SEMAWAR — Program Strategis Pemerintah Kecamatan Tanjungsari dalam Menekan Angka Kemiskinan</h3><p>Kemiskinan merupakan sebuah kondisi dimana terjadi ketidakmampuan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum dengan memenuhi kebutuhan dasar, seperti sandang, pangan, dan papan. Menurut Hari Susanto (2006) dalam menentukan apakah seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat tersebut miskin atau tidak, umumnya dapat dipantau menggunakan <em>instrument</em> yang menilai ukuran peningkatan pendapatan atau tingkat konsumsi seseorang atau sekelompok orang. Di era modern saat ini, faktor kemiskinan dapat menimbulkan beragam masalah sosial lain seperti tindak kriminal, pengangguran, kesehatan terganggu, dan masih banyak lagi.</p><p>Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia per Maret 2023, jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebanyak 25,90 juta orang atau sekitar 9,36 persen. Adapun sebaran jumlah penduduk miskin terdiri dari penduduk miskin perkotaan sebanyak 11,74 juta orang atau sekitar 7,29 persen dan penduduk miskin perdesaan sebanyak 14,16 juta orang atau sebesar 12,22 persen. Dalam Berita Resmi Statistik yang dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada 17 Juli 2023, tercatat setiap tahun angka kemiskinan di Indonesia semakin menurun, hal ini menunjukan kinerja Pemerintah Indonesia yang berorientasi mengembangkan Indonesia menjadi negara maju dan mapan dari segi ekonomi. Pemerintah Indonesia menganggap kemiskinan adalah masalah mutlak yang harus segera di selesaikan bersama disamping mengatasi masalah lain yang menyertai faktor kemiskinan lainnya.</p><p>Sebagai wilayah dengan latar belakang penduduk yang heterogen tersebar di perkotaan dan perdesaan, tingkat kemiskinan di Kabupaten Sumedang pada tahun 2022 sekitar 10,14 persen mengalami penurunan sebesar 0,57 persen dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2021 yang semula di angka 10,71 persen. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang terus berkomitmen menekan angka kemiskinan di Kabupaten Sumedang dengan berbagai program yang diimplementasikan melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), tingkat Kecamatan, hingga Kelurahan dan Desa. Sebagaimana telah tertuang dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) Kabupaten Sumedang yang salah satu indikator nya ialah mengatasi kemiskinan ekstrim di Kabupaten Sumedang.</p><p>Kecamatan Tanjungsari mempunyai tugas untuk melaksanakan sebagian urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah yang dilimpahkan oleh Bupati, sesuai dengan Peraturan Bupati Sumedang Nomor 38 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Perangkat Daerah. Sesuai hal tersebut diantaranya melaksanakan program dan kegiatan yang akan mendukung tercapainya indikator pada Indikator Kinerja Utama (IKU) Kabupaten Sumedang. Salah satu upaya yang ditempuh oleh Pemerintah Kecamatan Tanjungsari ialah menciptakan sebuah program yang dirancang untuk menurunkan angka kemiskinan secara sistematis dan tepat sasaran. Adapun program yang dimaksud dikenal dengan istilah SEMAWAR. SEMAWAR merupakan singkatan dari Semalam Bersama Warga, adalah sebuah solusi untuk menurunkan angka kemiskinan yang cukup tinggi di Kecamatan Tanjungsari. Berdasarkan data hasil verifikasi terbaru tahun 2023 berjumlah 8.242 KK Miskin dengan desa kategori KK miskin terbanyak di Desa Cinanjung sebanyak 1.194 KK dan untuk data KK miskin terendah di Desa Jatisari sebanyak 278 KK.</p><p>SEMAWAR merupakan program kerjasama antara Aparatur Sipil Negara (ASN) Kecamatan Tanjungsari dengan Aparatur Desa yang berada di Wilayah Kecamatan Tanjungsari. Program SEMAWAR ini adalah sebagai bentuk kepedulian Aparatur Sipil Negara (ASN) beserta Aparatur Desa se- Kecamatan Tanjungsari terhadap warga masyarakat yang dinilai kurang mampu dan perlu uluran bantuan dari sesama. SEMAWAR memiliki skema yang terdiri dari beberapa aktivitas yaitu diantaranya dengan bersilaturahmi bersama warga kurang mampu dan berbagi rezeki berupa paket sembako dan makan malam bersama. Selain itu kegiatan SEMAWAR senantiasa dilanjutkan dengan sholat maghrib berjama’ah dan mengaji di Mesjid atau Mushola terdekat. SEMAWAR dilaksanakan secara rutin setiap minggu pada hari Kamis sore dengan mengunjungi kediaman warga di tiap desa secara bergiliran di Kecamatan Tanjungsari.</p><p>Dalam hal ini program SEMAWAR berdampak pada berkurangnya beban pengeluaran warga masyarakat kurang mampu. Program SEMAWAR ini sudah berjalan terhitung dari mulai bulan Juli, 2 (dua) bulan berjalan kegiatan ini telah memberikan dampak dalam membantu meringankan beban ekonomi warga kurang mampu di Kecamatan tanjungsari. Hingga bulan November tahun 2023 ini, KK yang telah dikunjungi dalam rangka SEMAWAR ini berjumlah 8 (tujuh) KK dari 7 Desa dengan diawali Desa Cijambu sebagai titik awal pelaksanaan SEMAWAR. Desa ke-2 (dua) yang disambangi ialah Desa Pasigaran, diikuti desa-desa berikutnya yaitu Desa Kadakajaya, Desa Gudang, Desa Tanjungsari, Desa Margajaya. Adapun di Desa Cinanjung, KK yang telah dikunjungi sebanyak 2 (dua) KK yang termasuk kedalam kategori Janda Lansia Miskin yang merupakan salah satu sasaran prioritas dari program SEMAWAR ini. Kemudian untuk beberapa desa yang belum dikunjungi yaitu Desa Margaluyu, Desa Kutamandiri, Desa Jatisari, Desa Gunung Manik, dan Desa Raharja diagendakan akan dikunjungi secara berurutan sebelum berakhirnya tahun 2023.</p><p>Berjalannya program SEMAWAR ini tak lepas dari dukungan penerapan digitalisasi oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang. fasilitas <em>e-office </em>yang telah disediakan dipergunakan sebagai media koordinasi antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa yang berwenang yang akan dikunjungi. Selain itu, dengan memanfaatkan dan memaksimalkan fasilitas sosial media sebagai sarana publikasi kepada masyarakat dengan menginformasikan bahwa program SEMAWAR sedang dijalankan oleh Pemerintah Kecamatan Tanjungsari.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d111cd6689a2" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[Press Release] Tarik Dugul, Berkendara Ria Bersama Alunan Ska]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/press-release-tarik-dugul-berkendara-ria-bersama-alunan-ska-1874edbb8065?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1874edbb8065</guid>
            <category><![CDATA[music]]></category>
            <category><![CDATA[press-release]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 18 Nov 2023 04:38:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-11-18T04:38:46.705Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/463/1*GqEYfP3lR0kJbCGvko3Irw.jpeg" /></figure><p>“Enjin On!”<strong> </strong>pekikan suara Mang Ben (Vocal) yang menyerukan agar deru mesin The Makmoors segera dijalankan. Diawali petikan solo gitar elektrik pada intro, mampu menghantarkan siapapun yang mendengar, secara sukarela menggerakan kepala dan larut dalam kemakmuran lagu teranyar dari group band veteran Ska Punk ini.</p><p><strong>Tarik Dugul</strong>, begitu lah nama single bungsu dari The Makmoors yang lahir bertepatan dengan Hari Pahlawan di tanggal 10 November 2023 lalu. Bercerita tentang kehidupan yang <em>enjoy </em>aman selaras dengan slogan “berkendara untuk hidup”, Tarik Dugul memberikan suplai semangat dan kesegaran dalam lagu berdurasi 3 menit lebih 2 detik ini. Laksana sedang mengendarai Suzuki TS 125 yang melaju di bentangan jalan pinggiran kota dengan segala halang rintangnya, siapa sangka semakin jauh lagu ini berkendara kita akan dibuai bahagia untuk menjejakan kaki dan tubuh untuk melenggok pada lantai dansa.</p><p>Tarik Dugul menjadi salah satu eksplorasi musik yang luwes dari The Makmoors. Duet vocal Ben dan Bagus pada lagu ini memberikan corak khas yang mengingatkan pada <em>scene</em> Ska klasik Jepang. Lirik yang sederhana dikemas apik dengan balutan musik sehingga mudah diterima telinga, bahkan untuk telinga para penggemar non Ska atau awam sekalipun. Aransemen musik yang dihadirkan seakan candu sehingga kita terlepas dari rasa jenuh meski lagu diputar berulang. Beberapa elemen kejutan dihadirkan di bagian pertengahan lagu membuat pesta berkendara seolah tak ingin dipungkas.</p><p>The Makmoors, group band jenaka dengan beranggotakan duo Ben dan Bagus (Vocal), Anyah (Bass), Mo’o (Gitar), Sam (Gitar), dan Ibo (Drum) yang sudah menginvasi ranah musik dengan mengibarkan Panji Ska Punk sejak tahun 2010. Terlahir di Tanjungsari, Jawa Barat yang merupakan wilayah pinggiran kota yang masyarakat nya secara umum masih hidup dalam konsep kesederhanaan atau <em>slow living</em>. Hal tersebut berpengaruh terhadap karya-karya yang diciptakan The Makmoors, yang mayoritas mengangkat realitas kehidupan yang isunya dapat kita rasakan bersama. Tarik Dugul menjadi salah satu dari deretan judul lagu The Makmoors yang mengangkat isu kesederhanaan tersebut.</p><p>Adapun pesan subliminal yang tersembunyi dari lagu Tarik Dugul ini ialah memvalidasi ungkapan “lebih baik minta maaf daripada minta izin ke istri”, tidak untuk ditiru, tapi sejauh ini metode yang paling ampuh. Sekian dan selamat mendengarkan.</p><p>*teks oleh<strong> idayuningsih.</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1874edbb8065" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[POV — It Won’t Be Like This Forever by Neck Deep]]></title>
            <link>https://medium.com/@talkmorewritemore/pov-it-wont-be-like-this-forever-by-neck-deep-5fbfd0ceeb7c?source=rss-aac88d956d0c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5fbfd0ceeb7c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[idayuningsih]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 Oct 2023 09:46:35 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-10-08T09:46:35.638Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>POV — It Won’t Be Like This Forever by Neck Deep</h3><p><em>“You know it won’t be like this.. It won’t be like this forever.. <br> Only your kiss could stop the loneliness from sinking in, yeah..”</em></p><p>Introduksi lirik dan vokal yang manis Benis Barlow menghantarkan telinga kita menjelajah <em>single</em> teranyar Neck Deep yang bertajuk It Won’t Be Like This Forever.</p><p>Tak berselang lama setelah pungkasnya tour Australia — Asia mereka dengan titik terakhir di Manila(Phi), Neck Deep me-<em>release </em>lagu yang secara pribadi memberikan kesan sebagai <em>reward</em> bagi mereka sekaligus <em>gift </em>bagi fans atas suksesnya tour yang telah mereka gelar. <em>Youth spirit </em>nan <em>bubbly</em> begitu mendominasi suasana yang dihantarkan dalam lagu ini, sejenak mengingatkan lagu terdahulu mereka yaitu “In Bloom” namun “It Won’t Be Like This Forever” terasa lebih menggebu layaknya <em>freshman</em> yang sedang kasmaran.</p><p>(not finished yet hehehe tar yaa)</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5fbfd0ceeb7c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>